Anda di halaman 1dari 9

gigi geligi itu ada 2 tahapan..

1. geligi sulung
2. geligi tetap
nah diantara 2 masa itu ada geligi pergantian yakni pada usia 5-6 tahun...
saat itu erupsi gigi tetap pertama gigi molar/geraham 1, nah biasa ada beberapa keadaan neutroklusi
(normal), distoklusi (gigitan tonggos) atau malah mesoklusi (gigtan terbalik rahang bawah lebih maju
dari rahang atas), pada kasus ponakan gw rahang bawahnya lebihmaju untuk encegah itu sedari dini
dilakukan perawatan memakai alat ortodontia (kawat gigi) yang lepasan..bukan cekat... jadi jangan
salah kaprah ya.. lagian semakin dini kelainan rahang bawah yang lebih maju lebih cepat diatasi...

Penegakan molar bawah mengginakan teknik straight...


Halaman 2 dari 3
Studi yang dilakukan oleh Robets dkk memberikan contoh dengan kawat TMA .017 x .025. Pemindahan tekukan "V" 1mm dari
tengah akan menghasilkan gaya vertikal 55 g dan perubahan momen yang semula 980 gmm bilateral menjadi 1600 gmm pada
braket yang terdekat dengan tekukan "V" dan 450 gmm pada sisi lainnya.
sistem gaya yang di kembangkan pada tekukkan "V" dapat di terapkan pada tekukkan yang di kombinasikan dengan loop seperti
T-loop spring yang di kembangkan oleh tuncay (1980).
Banyak cara penegakan molar lain yang di tulis,seperti capelluto dan lauweryns (1997) yang menyelesaikan penegakkan molar
dalam waktu 4 bulan menggunakan molar uprighting simple technique (must) 1 & 2 dengan kawat copper NiTi tanpa ekstrusi
molar yang berarti, dan cara lain.
Pada penegakan molar, tentunya analis biomekanik pada daerah mesial molar, yaitu regio premolar, tidak dapat diabaikan.
Diasumsikan premolar dapat dipakai sebagai penjangkar dengan penguatan penjangkaran baik melalui pengikatan alat cekat
seluruh lengkung gigi bawah, atau menggunakan lingual bar, dan alat penguat lain. Ada juga yang menambahkan button lingual
pada molar dan premolar yang dihubungkan elastic chain pasif untuk mencegah pergerakan ke distal dan rotasi gigi molar yang
tidak diinginkan.
Laporan Khusus
Seorang wanita, usia 22 tahun 8 bulan, datang ke klinik orthodonti FKG UI, dengan keluhan gigi-gigi depan terlihat jarangjarang. Penderita merupakan anak terbesar dari 3 bersaudara dan kedua saudaranya tidak menderita kelainan yang sama.
Profil dari jaringan lunak lurus. Keadaan umum baik dan kebersihan mulut sedang. Dari pemeriksaan intraoral terlihat gigi yang
masih ada dalam keadaan baik, namun banyak gigi yang hilang. Penderita maupun orangtuanya tidak mengetahui pasti penyebab
kehilangan giginya. Kehilangan gigi 16,15,35 dan 45 diduga karena kerusakan dan dicabut, sedangkan tidak ada gigi 12,18, dan
22,28 serta 38,48 karena tidak ada benih (agenesis). Kehilangan banyak gigi inilah yang menjadi kemungkinan penyebab terlihat
gigi jarang. Kehilangan gigi tersebut menyebabkan gigi-gigi dimesial dan distalnya bergerak ke ruang gigi yang hilang.
kehilangan dini gigi 35 dan 45 menyebabkan gigi 36,37 dan 46,47 bergerak ke mesial dan anggulasi gigi 36 dan 46 terlihat
miring sekali ke mesial.

Klasifikasi maloklusi kasusu ini adalah Klas I tipe 5. Hubungan gigi geligi jurusan transversal maupun vertikal telihat normal.
Dalam arah sagital hubungan gigi kaninus kanan dan kiri Klas II dan hubungan molar satu kiri Klas III. Pada regio anterior
terlihat diastemal multipel termasuk diastema sentral, dengan overjet dan overbite kecil (overjet + 1 mm, overbite + 2 mm).
Dari analisis sefalometri disimpulkan bahwa hubungan skeletal orthognati dengan bimaxilary retrognatism, inklinasi insisif atas
retrusif dan insisif terhadap garis E, tetapi profile jaringan lunak yang lurus secara keseluruhan terlihat cukup baik (accepteble).
Analisis perhitungan dengan kesling set up mengindikasikan perawatan tanpa pencabutan karena kelebihan ruang. Analisis
perhitungan lain tidak dapat dilakukan karena banyak kehilangan gigi. Sehingga dari analisis perhitungan disimpulkan untuk
tidak dilakukan pencabutan dan kelebihan ruang diatasi dengan menutup ruang yang memungkinkan ditutup secara orthodontik
maupunmenggukan prostesis.
Dalam rencana perawatannya,kasus ini akan di rawat dengan menggunakan alat cekat teknik Edgewise dengan bracket
preadjusted (pretorqued dan preangulated), atau yang disebut Andrew sebagai tehnik straight wire. (6,7) pillihan tehnik ini
dengan pertimbangan kemungkinan kemudahan perbaikan angulasi gigi molar bawah serta perbaikan inklinasi dan angulasi gigi
geligi suluruhnya.
Perawatan dibagi 3 tahapan, yaitu tahap aligning dan leveling dengan penegakan gigi dan perbaikan rotasi, kemudian tahap
penutupan diastema dengan mesialisasi gigi, serta recontouring gigi 13,14 dan 23,24,occlusal adjustment dan pembuatan gigi
tiruan 15,16.
Agenesi gigi 12dan 22 di atasi dengan memposisikan gigi 13 dan 23 pada posisi 12 dan 22. posisi 13 dan 23 diisi oleh gigi 14
dan 24. karena itu dibutuhkan penyesuian bentuk dan penyesuian oklusal. sisa ruang yang terlalu besar di distal 14 akan diisi gigi
tiruan 15 dan 16. Retensi lepasan akan digunakan setelah dicapai penutupan diastema, overjet dan overbite baik dan inter digitasi
yang baik.
Perawatan dimulai dengan menggunakan alat cekat tehnik edgewise mekanisme Straight Wire dengan Roth prescription slot.018,
merek Dyna Lock, Unitek. Untuk membawa gigi geligi kedalam satu lengkung tidak ada kesulitan yang berarti. Tetapi untuk
membawa gigi geligi pada satu bidang datar terdapat kesulitan terutama pada penegakan gigi molar bawah.
Dengan derajat kemiringan gigi 36 dan 46 sebesar 45 derajat, mula-mula digunakan busur kawat Nikel Titanium berdiameter .
014 pada rahang bawah. Sedangkan pada rahang atas dengan defleksi kawat interbracket tidak terlalu besar mula-mula
digunakan busur kawat Nikel Titanium berdiameter .016. Setelah 2 bulan terlihat lebih tegaknya gigi molar dengan deflaksi yang
lebih kecil, sehingga busur kawat bawah diganti dengan NiTi .016. Busur kawat rahang atas diganti NiTi .018.
Untuk memperlihatkan perbaikan estetika, mulai dilakukan penutupan diastema anterior atas. Gigi 11 dan 21 ditarik ke mesial
menggunakan power chain, kemudian gigi 13 dan 23 dirapatkan ke mesial dengan 11 dan 21 sebagai pejangkar. Dua bulan
kemudian busur kawat rahang atas deganti dengan NiTi .016 x .016 sambil menarik gigi-gigi ke mesial. Pada rahang bawah
busur kawat diganti dengan NiTi .018 dengan melakukan pengikatan bracket 36 dan 34, juga 44 dan 46 dengan mahkota tidak
bergerak menjauhi diastema, tetapi akar diharapkan bergerak mendekati diastema.

Rntgen atau Roentgen (disimbolkan dengan R) adalah sebuah satuan pengukuran radiasi ion di
udara (berupa sinar X atau sinar gamma), yang dinamai sesuai dengan nama fisikawan Jerman

Wilhelm Rntgen. Rntgen adalah jumlah radiasi yang dibutuhkan untuk menghantarkan muatan
positif dan negatif dari 1 satuan elektrostatik muatan listrik dalam 1 cm udara pada suhu dan tekanan
standar. Ini setara dengan upaya untuk menghasilkan sekitar 2.08109 pasang ion.
Dalam sistem SI, 1 R = 2.5810-4 C/kg. Dosis 500 R dalam 5 jam berbahaya bagi manusia. Dalam
keadaan atmosfer standar (kepadatan udara ~1.293 kg/m) dan menggunakan energi ionisasi udara
36.16 J/C, akan didapat 1 R 9.330 mGy, atau 1 Gy 107.2 R.
Selama ini, untuk mengetahui adanya kelainan dalam organ tubuh, kita sering memanfaatkan rontgen.
Dengan teknologi tersebut berbagai kelainan seperti retak dan patah tulang hingga wajah calon anak
dalam rahim pun bisa terlihat dengan jelas. Karena itu, teknologi ini dianggap sebagai satu penemuan
yang mampu membantu banyak orang, terutama untuk menganalisis dan mendiagnosis suatu kondisi
demi penyembuhan suatu penyakit.
Tapi, ternyata radiasi yang ditimbulkan dalam proses penyinaran rontgen, disinyalir mengandung
kekuatan radioaktif yang bisa berbahaya. Karena itu, sinar X yang "ditembakkan" untuk memotret
bagian dalam organ tubuh harusnya benar-benar dalam komposisi yang tepat. Sebab, jika tidak,
teknologi ini justru bisa memicu kanker.
Hal ini dikuatkan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Wake Forest University
di Carolina Utara. Mereka meneliti sebuah rumah sakit di Amerika Serikat yang menangani pasien
trauma. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa pemberian dosis radiasi sangat memengaruhi risiko
munculnya kanker. James Winslow dari tim peneliti tersebut menyebutkan bahwa rata-rata orang yang
tinggal di AS mendapatkan sinar radiasi sebanyak 3 millisievert. Sedangkan pasien trauma
mendapatkan sinar radiasi sebanyak 40 millisievert. Dan, hal inilah yang meningkatkan risiko kanker
pada pasien-pasien itu. Karena itu, ia menganjurkan, "Para dokter seharusnya memikirkan risiko
jangka panjang dan keuntungan memeriksa pasien dengan menggunakan radiasi pada level tinggi baik
untuk memeriksa kepala, leher, dada, rongga perut dan tulang panggul."
Untuk meminimalisir risiko, James Winslow dan tim peneliti menyebut agar para dokter mengurangi
dosis radiasi saat mengambil gambar atau menggunakan metode pengambilan gambar lainnya, seperti
ultrasound (dengan gelombang suara) dan resonansi magnetik

Stop Kebiasaan Menghisap Jempol!


Mother And Baby Sat, 06 Sep 2003 10:21:00 WIB
Saat masih bayi, menghisap jempol merupakan kebiasaan yang wajar. Namun bila kebiasaan ini berlanjut hingga balita, bisa
menimbulkan akibat buruk pada struktur gigi dan bibirnya. Menghisap jempol bagi seorang bayi, merupakan hal yang normal.
Selain 'kebiasaan' ini memang telah ada sejak bayi masih di dalam kandungan, kegiatan tersebut merupakan efek dari reflek

menghisap yang dimiliki oleh setiap bayi yang baru lahir.


Menghisap jempol atau empeng/dot, juga salah satu cara bayi usia 2-4 tahun untuk menenangkan dirinya. Beberapa penelitian
yang dilakukan di Amerika menunjukkan, kebanyakan balita menghisap jari, terutama jempolnya, secara spontan sambil
melakukan aktivitas lain, misalnya, mempermainkan rambut atau selimutnya.
Normal Hingga Usia 5 Tahun
Beberapa kajian menunjukkan, hampir setengah jumlah anak-anak di dunia ini pernah menghisap ibu jari semasa bayi.
Puncaknya adalah saat anak berusia 18-21 bulan. Memang, ada beberapa yang sudah berhenti pada usia ini. Yang jelas, 80%
anak-anak meninggalkan kebiasaan ini pada usia 5 tahun, dan 95% berhenti pada usia 6 tahun dengan sendirinya.
Menurut psikolog Ike R. Anggraika, Psi., pada bayi kebiasaan ini tergolong sehat dan normal. "Menghisap jempol saat bayi
merasa lelah, stres dan lapar merupakan hal yang normal. Hal ini membuatnya mendapatkan rasa aman dengan lingkungan
sekitarnya. "Biasanya kebiasaan ini akan hilang sendiri saat memasuki usia 4-5 tahun," terang psikolog dari Klinik Anakku,
Cinere ini.
Namun, sebelum anak berusia 6 tahun , ada baiknya orangtua mulai mencoba menghentikan kebiasaannya menghisap jempol.
Menurut Drg. Magdalena Lesmana, Sp.Ort., kebiasaan menghisap jempol akan mengganggu perkembangan giginya. "Kebiasaan
menghisap jempol, bisa mengakibatkan gigi anak menjadi over bite atau tonggos," ungkapnya.
Tipe Aktif dan Pasif
Biasanya saat memasuki usia 6 tahun, gigi susu si kecil akan mulai tanggal dan digantikan dengan gigi tetap. Di usia ini juga,
bila ada kelainan saat pertumbuhan giginya, akan bersifat permanen dan sulit diperbaiki. Nah, kebiasaan menghisap jempol akan
menyebabkan gigi dan rahang atasnya tertekan. Ini akan menyebabkan gigi terlalu keluar dan tidak rata dengan rahang dan gigi
bawahnya.
Menurut Dr. McIlwain, MD., dokter gigi dari American Academy of Cosmetic Dentistry (AACD), ada dua tipe kebiasaan
menghisap jempol (Thumb Sucking) pada anak, yaitu tipe aktif dan tipe pasif. Tipe yang pasif, biasanya hanya menempatkan
jempol di dalam mulut dan membiarkannya begitu saja tanpa adanya tekanan menghisap dan tidak menyebabkan kelainan pada
tulang rahang maupun gigi.
Sedangkan tipe aktif, merupakan tipe yang menghisap jempol dengan cara mendesak dan melakukan tekanan yang beruntun ke
gigi. Bila kebiasaan ini berlanjut hingga waktu yang lama, akan berefek negatif pada posisi gigi permanen nantinya, begitu juga
dengan keseimbangan letak rahangnya kelak.
"Tekanan yang terus menerus ini akan menyebabkan gigi keluar dari posisi yang seharusnya, dan mempersempit lengkung gigi,
yang menyebabkan gigi atas terlalu rapat sehingga anak akan mengalami Open Bite (kedua lingkaran gigi atas dan bawah, tidak
sejajar dan menyebabkan mulut tidak dapat menutup dengan sempurna) dan kesulitan pengucapan.

Kelainan Rahang, Gigi dan Pengucapan


Posisi lingkaran gigi yang tidak sama (open bite) ini, menurut McIlwain, akan mengganggu keindahan wajah si kecil kelak.
Open bite muncul saat Si Kecil memasukkan tangan ataupun jempolnya ke dalam mulut. Hal yang sama juga bisa terjadi, bila ia
suka menekan lidahnya ke gigi atas dan bawahnya saat menelan, yang mengakibatkan gigi keluar dari posisi normalnya.
Balita yang meneruskan kebiasaan ini, juga mempunyai kecenderungan berbicara cadel. Keadaan ini disebabkan akibat kondisi
tekanan lidah. "Efek menghisap akan menyebabkan kondisi lidah terdorong ke atas, yang menyebabkan lidah memberikan
tekanan pada gigi atas, menimbulkan gigi terdorong dari posisi normal dan menyebabkan distorsi pada bunyi yang diucapkan,"
terang Sabine Hack, M.D, dokter gigi dari AACD ini.
Efek permanen yang ditimbulkan akibat kebiasaan menghisap jempol, adalah menyempitnya rahang atas dan merenggangnya
gigi bawah yang akan menyebabkan penghambatan atau berubahnya susunan gigi saat anak memasuki usia 6 tahun. Efek
lainnya, gigi depan atas juga bisa mencuat keluar (tonggos), gigi tumbuh menyilang (Crossbite) dan kelainan tulang wajah.
Di lain pihak, kebiasaan menghisap jempol juga bisa menyebabkan masalah belajar menelan pada si kecil. "Untuk anak-anak
yang tidak suka menghisap jempol atau jari lainnya, mereka mampu meletakkan lidahnya di langit-langit mulut saat menelan,"
terang Hack. Pada anak yang suka menghisap jempol, mereka sulit menelan karena lidah mereka berada di depan diantara gigi
depan. "Keadaan ini menyebabkan kesulitan saat menelan, sehingga membutuhkan latihan untuk memperbaiki gerakan lidah
tersebut."
Deteksi Dini dan Cegah Kelainan
Untuk menghindari kelainan-kelainan yang disebabkan oleh kebiasaan anak menghisap jempol, Hack menyarankan orangtua
untuk mulai mendeteksi masalah-masalah potensial yang mungkin terjadi pada buah hatinya sedini mungkin. "Bukan saja untuk
mengantisipasi struktur perkembangan giginya, tapi juga perkembangan emosionalnya."
Kelainan tulang yang bisa terjadi, juga bisa mengakibatkan dampak buruk dan menjadi masalah kepercayaan diri, terutama pada
anak-anak. Perasaan minder akan mengganggu penyesuaian sosial anak. Psikologi Ike S. Anggraini menyatakan, "Karena
kelainan yang dialami, anak bisa diejek ataupun diolok-olok oleh temannya, sehingga menjadi rendah diri dan menarik diri dari
pergaulan."
Oleh karena itu, kelainan itu harus di cegah dan dikoreksi sepenuhnya sedini mungkin, baik yang akan berdampak pada masalah
fisik maupun psikologi anak. "Tanggapan lingkungan ini bisa berpengaruh positif. Positif jika si kecil jadi termotivasi untuk
meninggalkan kebiasaannya. Tapi banyak juga yang tetap tak bisa berhenti menghisap jempol, sebab kepuasan yang dirasakan
anak lebih besar. Ini membutuhkan intervensi, bantuan dari orangtua," tegas Ike.
Diakui Ike dan Hack, mengajarkan anak meninggalkan kebiasaan menghisap jempol bukan hal yang mudah. Semua ini
membutuhkan dukungan, kesabaran, dan tekenunan orangtua. "Kalau ingin lebih mudah, biasakan anak mengenal alat minum
dan makan sejak dini dan secara bertahap," ujar Ike.

Hari pertama mencegahnya untuk tidak menghisap jempol, biasanya adalah hari yang teramat sulit baginya. "Hampir terjadi pada
semua kebiasaan, keinginan untuk menghilangkan kebiasaan tersebut akan terasa berjalan sangat lambat, tapi lama kelamaan
akan menjadi mudah baginya," jelas Hack. "Akan ada beberapa rintangan, sebelum kebiasaan ini bisa benar-benar dilupakan
olehnya."
Pada saat proses pembelajaran, Ike dan Hack menyarankan agar orangtua banyak menunjukkan sikap toleransi agar anak merasa
nyaman dan aman. Misalnya, tidak ngomel saat anak menumpahkan susu, atau tidak marah jika gelasnya terjatuh. Dukungan dan
toleransi membuat anak merasa aman dan percaya bahwa ia bisa melakukannya.
Menghilangkan Kebiasaan Menghisap Jempol
Sudah telanjur punya kebiasaan menghisap jempol bukan berarti tak bisa berubah, lho. Bisa kok asal Anda sabar, sabar dan
sabar....

Sering tunjukkan dan katakan bahwa teman-temannya sudah tak ngempong lagi. "Hanya anak bayi lho yang masih ngempong.
Kakak anak bayi atau sudah besar ya?"
Perlihatkan gambar-gambar gigi. "Lihat, kalau sering ngempeng nanti lama-lama giginya rusak. Terus tumbuhnya tak bagus
seperti ini. Kalau anak Mama yang cakep ini jadi jelek, bagaimana?"
Beri dukungan dan pujian setiap kali anak tidak menghisap jempolnya. Senyum manis, belaian sayang, pelukan dan kecupan
sangat berharga bagi anak.
Untuk anak yang telanjur rendah diri karena ejekan teman-temannya, bangkitkan kembali semangatnya dengan menunjukkan
kelebihan dirinya. Sesekali undanglah teman-temannya ke rumah, untuk bermain bersama.
(Rahmi Hastari/Berbagai sumber)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Pencegahan timbulnya ketidak teraturan gigi anak


Perawatan ortodontik yang bisa dialkukan untuk mencegah timbulnya
kelainan susunan gigi anak adalah :
Pada saat ibu menyusui bayi sebaiknya dilakukan dengan memangku bayi.
Jika dilakukan sambil tiduran, lakukan dengan posisi yang bervariasi

Jika memberikan susu tambahan dengan botol, pilihlah dot yang tepat, yaitu
dot yang didesaian sesuai dengan anatomi rahang

Jika gigi susu mulai tumbuh perhatikan susunannya, apakah gigi atas sudah
tumbuh diluar lengkung gigi bawah ? Jika tampak ada gigi yang gigitannya
terbalik segera periksakan ke dokter gigi ahli ortodonsi

Cegah dari sejak awal jika anak mempunyai kebiasaan ngemut jempol.

Jika ada keluarga dari bapak, ibu yang giginya nyakil, dagunya panjang atau
gigitannya terbalik, waspadalah jika anak menampakkan gejala yang mirip
dan periksakan sedini mungkin.

Awal pergantian gigi susu ke gigi permanen ditandai dengan goyangnya


gigi seri bawah :
Kontrol segera kedokter gigi supaya pencabutan gigi susu yang akan tanggal
Dapat dilakukan pada waktu yang tepat
Jangan sekali-kali menakut-nakuti anak dengan ancaman giginya akan dicabut
oleh dokter tanamkan kesan kedokter gigi itu bukan suatu hal yang menakutkan.
Jika gigi permanen mulai tumbuh, perhatikan apakah tempat tumbuhnya sesak?.
Apakah tumbuhnya muntir, berjejal atau gigitannya terbalik ? Jika didapatkan
keadaan demikian segera diperiksakan ke dokter gigi.
Pada anak dibawah 6 tahun biasanya belum bisa memakai alat lepasan, tetapi
jika didapatkan gigitannya terbalik (crossbite) perlu dipasangi dataran gigitan
Miring sesegera mungkin sebelum rahangnya terpengaruh.
Jika terlambat, rahang sudah mengalami kelainan, perawatan ortodontik dengan
mengatur letak gigi tidak akan memberikan hasil yang baik.
Jika kelainan rahang sudah terlalu parah, kadang-kadang diperlukan operasi
pemotongan rahang

.
Pada anak usia 6 -12 tahun jika didapatkan keadaan :
Rahangnya sempit dengan gigi depan maju biasanya di pasangi plat ekspansi
lepasan,untuk melebarkan rahang dan mengundurkan gigi depan yang maju
Rahangnya sempit gigi depan berdesakan biasanya dipasangi plat ekspansi
yang dilengkapi pir-pir ortodontik untuk melebarkan rahang dan mengatur gigi
depan yang berjejal.
Rahangnya normal, tetapi susunan giginya maju atau berjejal biasanya
dipasangi plat aktif yang dilengkapi dengan pir-pir untuk mengatur ke posisi
normalnya
Usia 13-17 tahun adalah usia yang paling ideal untuk dilakukan perawatan
ortodontik dengan alat cekat karena .
Hampir semua gigi permanen sudah tumbuh
Rahang masih dalam masa pertumbuhan, sehingga masih mudah untuk diolah
Anak sudah merasa membutuhkan giginya tampak rapi, sehingga lebih
kooperatif
Sudah mampu menjaga kebersihan giginya.

Diatas usia 17 tahun biasanya pertumbuhan rahang sudah berhenti, keadaan


kelainan gigi sudah bersifat permanen. Tulang rahang sudah tidak bisa diolah
lagi, koreksi pada tulang rahang hanya dapat dilakukan dengan cara pembedahan.
Pada keadaan ini bukan berarti perawatan ortodontik tidak bisa dilakukan lagi.
Perawatan ortodontik masih dapat dilakukan dengan :
Mengatur letak gigi pada rahang ke posisi normalnya, tanpa merubah keadaan rahang
Mengkompensasi kelainan rahang dengan overkoreksi susunan gigi geligi
Mengkombinasikan pengaturan letak gigi dengan tindakan bedah ortodontik

Karena pasien sudah dewasa, aktifitas sel-sel pembentuk tulang sudah tidak
seaktif masa muda, sehingga penggeseran letak gigi akan :
Membutuhkan penggunaan kekuatan yang ekstra hati-hati supaya tidak terjadi
kerusakan pada tulang penyangga gigi.
Proses recoveri (penyembuhan kembali} jaringan tulang penyangga gigi yang
telah dikoreksi membutuhkan waktu yang lebih lama

Perubahan Hormon Juga Berpengaruh

PERUBAHAN hormonal saat pubertas membuat remaja mengeluh gusinya terganggu.


Gusinya bengkak, meradang, dan terjadi perdarahan. Kondisi itu tentu tidak
menyenangkan.
''Perdarahan bisa spontan atau akibat rangsangan mekanis,'' kata drg Ruddy M. Comentas.
Dikatakan perdarahan spontan bila terjadi tiba-tiba. Satu lagi, perdarahan akibat rangsangan mekanis. Misalnya, sekadar menyikat gigi mengakibatkan gusi berdarah.
Mungkin juga, karena makan sesuatu yang tajam atau pemilihan sikat gigi yang kurang
benar. ''Terapinya, menghilangkan faktor lokal penyebab gigi dan gusi sakit, bila ada.
Serta, meningkatkan oral hygiene,'' jelas dokter gigi dari Klinik Kecantikan Gigi D-Arts
itu.
Masalah eruption gingivitis juga sering dialami remaja. Itu merupakan radang gusi akibat
gigi tak bisa keluar (erupsi). Keluhannya, hampir sama. Gusi meradang dan tampak
kemerahan. ''Ini bisa terjadi karena penumpukan plak,'' ujar Ruddy. Biasanya, pasien merasa kesakitan. ''Jika teramat sakit, dokter memberikan pereda nyeri. Kemudian, dilakukan perawatan gusi sehingga gigi bisa erupsi,'' tambahnya.
Keluhan lain, ketidakseimbangan ukuran tulang rahang dan gigi. Kadang-kadang, ukuran
tulang rahang lebih besar daripada gigi. Begitu sebaliknya. Ruddy mengatakan, bila
ukuran gigi besar dan tulang rahang kecil, gigi terlihat berdesakan. ''Bisa kok dirapikan.
Bisa datang ke dokter gigi spesialis orthodontist,'' tuturnya.
Sebaliknya, bila ukuran gigi kecil dan tulang rahang besar, terlihat susunan gigi
renggang. Kondisi begini, ungkap Ruddy, juga bisa diperbaiki. Salah satunya, menggunakan kawat gigi.
Ketidakseimbangan tulang rahang dan gigi bisa terjadi karena faktor keturunan.
Misalnya, ayah terlahir dengan rahang besar. Sedangkan ibu, giginya kecil-kecil. ''Bisa
jadi, anak-anaknya merupakan perpaduan dari kondisi gigi dan mulut ayah-ibunya,''
jelasnya. (ai/nda)