Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ada orang yang ingin tahu dan berusaha memuaskan keinginannya itu
lebih mendalam. Ia ingin tahu akan hal yang dihadapinya dalam
keseluruhannya, tidak hanya memperhatikan gunanya saja, bahkan sekiranya
tidak berguna, masih diselidikinya juga. Jaman dulu orang cukup bias hidup
dengan pengetahuan langsung atau pengetahuan sehari hari. Sekarang
dan masa yang akan dating, manusia hanya akan bias hidup dan
mengembangkan kehidupannya dengan ilmu pengetahuan praktis yang
mampi menciptakan teknologi mutakhir yang tepat guna (dengan tanpa
meninggalkan prinsip prinsip yang terkandung dalan ilmu pengetahuan
teoritis murni dan filsafat). Dengan demikian ilmu pengetahuan praktis
semakin memberikan sifat khusus kepada manusia dewasa ini.
Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan ilmu ?
2. Apakah tujuan dan fungsi dari ilmu ?
3. Apa saja obyek ilmu itu ?
4. Bagaimana wilayah penyelidikan ilmu ?
5. Apa saja kriteria dalam ilmu ?

BAB II
PEMBAHASAN
I.

PENGERTIAN ILMU
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu adalah pengetahuan
tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode
tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang
(pengetahuan) itu. Ilmu merupakan buah pemikiran manusia dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang
terdapat dalam kehidupan manusia. Manusia tentu tidak hanya membutuhkan
ilmu, akan tetapi hal lain yang terkait dalam kehidupan yaitu falsafah, seni,
dan agamanya. Sejalan dengan yang dikemukakan Enstein ilmu tanpa
agama adalah buta sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai
kebenaran ilmiah tentang obyek tertentu, yang diperoleh melalui pendekatan
atau cara pandang (approach), metode (method), dan sistem tertentu.

II.

TUJUAN DAN FUNGSI ILMU


Lahirnya dan berkembangnya Ilmu Pengetahuan telah banyak
membawa perubahan dalam kehidupan manusia, terlebih lagi dengan makin
intensnya penerapan Ilmu dalam bentuk Teknologi yang telah menjadikan
manusia lebih mampu memahami berbagai gejala serta mengatur Kehidupan
secara lebih efektif dan efisien. Hal itu berarti bahwa ilmu mempunyai dampak
yang besar bagi kehidupan manusia, dan ini tidak terlepas dari fungsi dan
tujuan ilmu itu sendiri.
Kerlinger dalam melihat fungsi ilmu, terlebih dahulu mengelompokan
dua

sudut

pandang

tentang

ilmu

yaitu

pandangan statis dan

pandangan dinamis. Dalam pandangan statis, ilmu merupakan aktivitas yang


memberi sumbangan bagi sistimatisasi informasi bagi dunia, tugas ilmuwan
adalah menemukan fakta baru dan menambahkannya pada kumpulan
informasi yang sudah ada, oleh karena itu ilmu dianggap sebagai sekumpulan
fakta,

serta

merupakan

suatu

cara

menjelaskan

gejala-gejala

yang

diobservasi, berarti bahwa dalam pandangan ini penekanannya terletak pada


keadaan pengetahuan/ilmu yang ada sekarang serta upaya penambahannya
baik hukum, prinsip ataupun teori-teori. Dalam pandangan ini, fungsi ilmu
2

lebih bersifat praktis yakni sebagai disiplin atau aktivitas untuk memperbaiki
sesuatu,

membuat

kemajuan,

mempelajari

fakta

serta

memajukan

pengetahuan untuk memperbaiki sesuatu (bidang-bidang kehidupan).


Pandangan ke dua tentang ilmu adalah pandangan dinamis atau
pandangan heuristik (arti heuristik adalah menemukan), dalam pandangan ini
ilmu dilihat lebih dari sekedar aktivitas, penekanannya terutama pada teori
dan skema konseptual yang saling berkaitan yang sangat penting bagi
penelitian. Dalam pandangan ini fungsi ilmu adalah untuk membentuk hukumhukum umum yang melingkupi prilaku dari kejadian-kejadian empiris atau
objek empiris yang menjadi perhatiannya sehingga memberikan kemampuan
menghubungkan berbagai kejadian yang terpisah-pisah serta dapat secara
tepat memprediksi kejadian-kejadian masa datang, seperti dikemukakan
oleh Braithwaite dalam bukunya Scientific Explanation bahwa the function of
science is to establish general laws covering the behaviour of the empirical
events or objects with which the science in question is concerned, and
thereby to enable us to connect together our knowledge of the separately
known events, and to make reliable predictions of events as yet unknown.
Dengan

memperhatikan

penjelasan

di

atas

nampaknya

ilmu

mempunyai fungsi yang amat penting bagi kehidupan manusia, Ilmu dapat
membantu untuk memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi
berbagai kejadian baik yang bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi
dalam kehidupan manusia. Setiap masalah yang dihadapi manusia selalu
diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami, dan setelah itu manusia
menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi (sampai batas
tertentu)

kemungkinan-kemungkinan

yang

akan

terjadi

berdasarkan

pemahaman yang dimilikinya, dan dengan kemampuan prediksi tersebut


maka perkiraan masa depan dapat didesain dengan baik meskipun hal itu
bersifat probabilistik, mengingat dalam kenyataannya sering terjadi hal-hal
yang bersifat unpredictable.
Dengan dasar fungsi tersebut, maka dapatlah difahami tentang tujuan
dari ilmu, apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh ilmu. Sheldon G.
Levy menyatakan bahwa science has three primary goals. The first is to be
able to understand what is observed in the world. The second is to be able to

predict the events and relationships of the real world. The third is to control
aspects of the real world, sementara itu Kerlinger menyatakan bahwa the
basic aim of science is theory.dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa
tujuan dari ilmu adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur
berbagai aspek kejadian di dunia, disamping untuk menemukan atau
memformulasikan teori, dan teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu
penjelasan tentang sesuatu sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan
dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dengan
probabilitas

yang

cukup

tinggi,

asalkan

teori

tersebut

telah

teruji

kebenarannya
III.

OBYEK ILMU
Obyek ilmu pengetahuan itu ada yang berupa materi (obyek materi)
dan ada yang berupa bentuk (obyek forma). Obyek materi adalah sasaran
material suatu penyelidikan, pemikiran, atau penelitian keilmuan, bias berupa
benda benda material maupun non material, bias pula berupa hal- hal,
masalah masalah, ide ide dan konsep konsep. Sedangkan obyek forma
atau cara pandang adalah pendekatan pendekatan secara cermat dan
bertahap menurut segi segi yang dimiliki obyek materi itu dan tentu saja
menurut kemampuan seseorang.
Menurut obyek formanya, ilmu pengetahuan itu berbeda beda dn
banyak jenis serta sifatnya. Ada yang tergolong ilmu pengethuan fisis (ilmu
pengetahuan alam), ilmu pengetahuan non fisis (ilmu pengetahuan social dan
humaniora serta ilmu pengetahuan Ketuhanan) yang bersifat karena
pendekatannya menurut segi kejiwaan. Ilmu pengetahuan fisis termasuk ilmu
pengetahuan yang bersifat kuantitatif, sementara ilmu pengetahuan non
fisis merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kualitatif.
Ilmu pengetahuan diciptakan manusia karena didorong oleh rasa ingin
tahu manusia yang tidak berkesudahan terhadap obyek, pikiran, atau akal
budi yang menyangsikan kesaksian indra, karena indra dianggap sering
menipu. Kesangsian akal budi ini lalu diikuti pertanyaan pertanyaan :
mengapa sesuatu itu ada, bagaimana keberadaannya dan apa tujuan
keberadaannya ? Masing masing pertanyaan itu akan menghasilkan :
Ilmu pengetahuan filosofis yang mempersoalkan hakikat atau
esensi sesuatu (pengetahuan universal)
4

Ilmu pengetahuan kausalistik, artinya selalu mencari sebab


musabab keberadaannya (pengetahuan umum bagi suatu jenis

benda)
Ilmu pengetahuan yang bersifat deskriptif analitik, yaitu
mecoba menjelaskan sifat sifat umum yang dimiliki oleh suatu

jenis obyek
Ilmu pengetahuan yang bersifat normative, yaitu mencoba
memahami norma suatu obyek yang dari sana akan tergambar
tujuan dan manfaat dari obyek tersebut.

IV.

WILAYAH PENYELIDIKAN ILMU


ONTOLOGI
Di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno adalah
Ontologi sebab persoalan paling awal dalam permulaan pemikiran Yunani
adalah pemikiran di bidang Ontologi. Pemikiran paling tua dalam kaitannya
dengan Ontologi adalah pemikiran Thales atas air yang adalah merupakan
substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Kata Ontologi berasal dari perkataan Yunani : On = being, dan logos =
logic. Jadi Ontologi adalah the theory of being qua being (theori tentang
keberadaan sebagai keberadaan) atau sebagaimana disebutkan oleh Louis
O. Kattsoff dalam Element of Filosophy menyatakan bahwa, Ontologi itu
mencari ultimate reality sebagaimana yang dilakukan oleh Thales yang
menyatakan bahwa, asal mula semua benda hanya satu saja yaitu air.
Pendapat lain menyebutkan bahwa Ontologi berasal dari kata Ontos yang
artinya adalah sesuatu yang berwujud dan logos adalah ilmu. Jadi Ontologi
adalah ilmu tentang yang ada.
Sesungguhnya berbicara tentang Ontologi adalah berbicara tentang
hakikat ataupun kenyataan (realita) sesuatu yang ada, baik yang jasmani
maupun yang

rohani. Hanya

saja yang

menjadi persoalan adalah

pembicaraan tentang hakikat ataupun kenyataan (realita) sesuatu sangatlah


luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah
realitas; realitas adalah ke-real-an. Riil artinya kenyataan yang sebenarnya.
Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya tentang sesuatu, bukan kenyataan
sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Dari pembahasan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa obyek
formal dari Ontologi adalah hakikat selurh realita. Untuk melihat hakikat
5

realitas, Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir menyatkan bahwa ada dua pendekatan
yang dilakukan oleh para Filoshop, yaitu dengan :
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan Kuantitatif ini realitas tampil dalam kuantitas atau
jumlah. Dalam hal ini telaahnya akan menjadi telaah sebagai
berikut :
a. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh
kenyataan itu adalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah
satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa
materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat
masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah
satunya

merupakan

sumber

yang

pokok

dan

dominan

menentukan perkembangan yang lainnya


b. Paralelisme/Dualisme
Paham ini adalah merupakan kebalikan dari paham monoisme.
Kalau paham monoisme menyatakan bahwa hakikat yang ada
itu adalah satu, maka paham paralelisme/dualisme menyatkan
bahwa hakikat yang ada itu ada dua. Aliran ini berpendapat
bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal
sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan
ruh, dan ruh bukan muncul dari benda, sama-sama hakikat.
Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri
sendiri, sama-sama asal dan abadi. Hubungan keduanya
menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling
jelas tentang adanya kerjasama kedua hakikat ini ialah dalam
diri manusia. Tokoh dari paham ini adalah Descartes (15961650 M) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat modern. Ia
menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran
(ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Descartes terkenal
dengan

teorinya

Descartes/Cartesian

Cogito
Doubt).

Descartes
Selain

(metode
Descartes,

keraguan
ada

juga

Benedictus De Spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm


Von Leibniz (1646-1716 M).
c. Pluralisme

Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk


merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan
mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion
dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan
alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua
entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah
Anaxagoras

dan

Empedocles

yang

menyatakan

bahwa

substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri atas 4 unsur, yaitu
tanah, air, api dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William
James (1842-1910 M), kelahiran New York dan terkenal sebagai
seorang pshikolog dan filosof Amerika. James mengatakan
bahwa, tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang
bersifat tetap, yang sendiri-sendiri, lepas dari akal yang
mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus, dan segala
yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu
senantiasa berubah, karena dalam prakteknya apa yang kita
anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
Oleh karena itu, tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah
kebenaran-kebenaran,

yaitu

apa

yang

benar

dalam

pengaalaman-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat


diubah oleh pengalaman berikutnya.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan ini, realitas akan tampil tidak dalam bentuk jumlah,
tetapi dalam bentuk kualitas. Pendekatan ini melahirkan aliranaliran sebagai berikut :
a. Materialisme
b. Idealisme
c. Naturalisme
d. Hylomorphisme
EPISTEMOLOGI
Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir menyatakan bahwa Ontologi berupaya
mencari secara reflektif tentang yang ada, sedangkan epistemologi
membahas tentang terjadinya dan kesahinan atau kebenaran ilmu. Hal
yang hampir sama dikemukakan oleh Amsal Bakhtiar yang menyatakan
7

bahwa Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang


berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaianpengandaian, dan dasar - dasarnya serta pertanggung jawaban atas
pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Yang menjadi persoalan
sekarang adalah bagaimana cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
itu dan bagaimana melakukan pembenaran terhadapnya. Ada dua teori
pembenaran tradisional ilmu pengetahuan sebagaimana dikemukakan
oleh Noeng Muhadjir. Pembenaran pertama ialah teori koherentisisme dan
yang kedua adalah teori foundationalisme.
Para penganut teori foundationalisme klasik berpendapat bahwa
semua pengetahuan dan pembenaran yang diyakini itu sepenuhnya
berlandaskan pada pengetahuan dan pembenaran noninferensial.
AKSIOLOGI
Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai
dan logos yang berarti teori. Jadi Aksiologi adalah teori tentang nilai.2.
Sedangkan arti Aksiologi yang terdapat dalam bukunya Jujun S.
Suriasumantri, Filsafat Ilimu Sebuah Pengantar Populer, bahwa
aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan
dari pengetahuan yang diperoleh.3. Menurut Bramel, aksiologi terbagi
dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral,
bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kedua, esthetic
exepression,

yaitu

ekspresi

keindahan.

Bidang

ini

melahirkan

keindahan. Ketiga, sosio political life, yaitu kehidupan sosial politik,


yang akan melahirkan filsafat sosial politik. Aksiologi disamakan
dengan Value dan Valuation yang artinya Nilai baik sebagai kata benda
abstrak, kata benda konkrit maupun kata kerja. Dari beberapa definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa

aksiologi itu permasalahan

sesungguhnya adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah


sesuatu

yang

dimiliki

manusia

untuk

melakukan

berbagai

pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam
filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.

peran agama sangatlah diperlukan dalam pengembangan ilmu


pengetahuan dan tekhnologi sebab agama akan memberikan arah dan
tujuan yang jelas dan bemanfaat bagi manusia dan alam sekitar.
Dalam pandaangan agama Islam sebagaimana sering disampaikan
oleh para pemikir muslim komtemporer, Islamisasi ilmu pengetahuan
dan tekhnologi mutlak diperlukan.
V.

KRITERIA ILMU
Kriteria Kebenaran
Kebenaran merupakan

suatu

hubungan

tertentu

antara

suatu

kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih diluar kepercayaan. Bila


hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat
dapat

disebut

banar

atau

salah,

meskipun

tak

seorang

pun

mempercayainnya, asalkan jika kalimat itu dipercaya, banar atau salahnya


kepercayaan itu terletak pada masalahnya.
Ada dua cara berfikir yang dapat kita gunakan untuk mendaptkan
pengetahuan baru yang benar, yaitu melalui metode induksi dan metode
deduksi .
Induksi adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat
umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini dimulai dari
kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas diakhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum.
Cara penalaran ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, kita dapat
berfikir secara ekonomis. Meskipun eksperimen terbatas pada beberapa
kasus individual, kita dapt bisa mendapat pengetahuan yang lebih umum
tidak sekedar kasus yang menjadi dasar pemikiran kita. Kedua, pernyataan
yang di hasilkan melalui cara berfikir induksi tadi memungkinkan proses
penalaran selanjutnya, baik secar induktiv maupun deduktif.
Deduksi merupakan kegiatan berfikir merupakan kebalikan dari
penalaran induksi. Deduksi adalah cara berfikir dari pernyataan yang bersifat
umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus.
Usaha untuk mendefinisikan atau memberi batasan kebenaran
mengalami banyak kesulitan misalnya sukar untuk menghindari proyeksi
posisi seorang filsuf kedalam suatu definisi prasangka seorang filsuf dapt
dilekkan pencerminan marilah kita sepakati bersama bahwa kebenaran
adalah suatu pertimbangan yang sesuai dengan realitas kebenaran adalah

suatu pertimbangan yang sesuai dengan realitas, bahwa pengetahuan kita


mengenai realitas dan kenyataan sejajar secara harmonis, sehingga sistemsistem pendapat yang diintegrasikan dalam benak kita secara terperinci tepat
dengan dunia realitas.
Kepercayaan tentang apa yang tidak perhan dialami, tidaklah berkenan
Manuasia selalu dirangsan tentang kebenaran tidaklah berkenan dengan
individu yang tidak pernah mengalami, tetapi berkenaan dengan kelas dimana
tidak seorangpun dari anggotanya pernah dialami. Suatu kepercayaan harus
selalu sanggup untuk dianalisis dan ke dalam unsur-unsur dimana
pengalaman membuatnya dapat dipaham, tetapi bila suatu kepercayaan
diuraikan dalam bentuk logis ia sering membaawa kita pada analisis yang
berbeda, yang agaknya akan menyangkut komponen-komponen yang tidak
diketahui dari pengalman. Bila analisis psikologis yang menyesatkan
dihindari,kita dapat mengatakan secara umum bahwa setiap kepercayaan
yang

tidak

semata-mata

merupakan

dorongan

untukbertindak

pada

hakikatnya merupakan gambaran digabung dengan suatu perasaan yang


mengiyakan atau meniadakan , dimana dalam perasaan yang mengiyakan
hal ini adalah benar bila terdapat fakta yang menggambarkan kesamaan
dengan yang diberikan sebuah prototipe terhadap bayangan, sedangkan
dalam perasaan yang meniadakan, ia adalah benar bila tak terdapat fakta
seperti itu. Suatu kepercayaaan yang tidak benar disebut salah. Inilah suatu
definisi tentang kebenaran.
Manusia selalu dirangsang berbagai masalah tentang kebenaran. Dan
berusaha merumuskan definisi tentang kebenaran. Tiga penafsiran utama
telah timbul, yaitu:
1. Kebenaran sebagai sesuatu yang mutlak
2. Sebenaran sebagai sesuatu yang subyektif, sebagai masalah
pendapat pribadi
3. Kebenaran sebagai seuatu kesatuan yang tidak bisa dicapai,
sesuatu yang tidak mungkin (ketidak mungkinan).
Kebenaran-kebenaran

tersebut

didukung

oleh

argumentasi-

argumentasi yang terkandung pada sifat kebenaran itu sendiri. Kebenaran


yang mutlak dituntut untuk dapat dieterima secara umum dengan dukungan
data dan argumentasi ilmiah yang kuat. Sifat kenbenaran mutlak ini
menuntutb syarat-syarat yang lebih berat, sedangkan yang subyektif tentunya
10

agak

dibatasi

oleh

pengalaman

subyek

tertentu

dalam

lingkungan

pergaulannya, dan kebenaran yang tisak bisa dicapai adalah pencapaian


kebenaran atau kenyataan bahwa sesuatu tidak mungkin terjadi. Kebenaran
pada hakikatnya adalah tujuan dari aktivitas ilmu pengetahuan yang selalu
berkembang, jadi mencari kebenaran sebagaimana telah dikemukakan
adalah tujuan ilmu pengetahuan.
Kriteria Ilmu Pengetahuan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Logis
Obyektif
Metode
Sistematis
Berlaku untuk umum
Komulatif, berkembang dan tentative

11

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Melalui sifat manusia yang selalu ingin tau, maka membuahkan
sebuah ilmu pengetahuan. Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha
manusia untuk memperadab dirinya, Ilmu dapat di anggap sebagai suatu
sistem yang menghasilkan kebenaran. Dan seperti itu juga sistem- sistem
yang lainnya mempunyai komponen- komponen yang berhubungan satu
sama lainnya. Dan ilmu itu dikaji dengan pengujian empiris. Agar diketahui
kebenarannya supaya menjadi teori hukum, kaidah, asas dan sebagainya.
Walaupun kadang kita dibatasi oleh pancaindra yang terbatas dan tidak
sempurna. Karena itu pengetahuan yang diketahui saat ini bersifat kebenaran
semu, bukan kebenaran mutlak.
SARAN
Makalah ini dibuat oleh penulis dengan segala kemampuan dan
keterbatasan, maka dari itu, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan-kekurangan

sehingga

untuk

mencapai

kesempurnaan

itu

diharapkan agar pembaca dapat memberi saran dan kritik untuk membangun
dan lebih sempurnanya makalah ini.
Dengan sepenuh hati, penulis memohon kepada Allah semoga makalah
ini bisa bermanfaat buat sang pembaca serta penulis bahkan kepada
khalayak umum.amin
Akhirnya saya ucapkan terima kasih banyak atas saran dan kritikannya,
semoga makalah ini bisa bermanfaat.
Amin ya robbal alamin.

12

DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal, Dr., MA., Filsafat Ilmu, (Jakarta : PT. Raja Grafindo).Harun Hadiwijoyo,
Seri Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta : Kanisius, 2002).Muhadjir, Noeng, Prof. Dr. H.,
Filsafat Ilmu Positivisme, Post Positivisme, dan Post Medernisme, Edisi II, ( Yogyakarta :
Reksadana, 2001).Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan, 1990). Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta : Gramedia,
1985).
www.scribd.com

13