Anda di halaman 1dari 20

Hadis

Pemahaman terhadap hadis secara umum


terbagi menjadi dua. Yaitu, pemahaman secara
tekstual dan kontekstual. Hal ini sudah terjadi
sejak zaman Rasulullah sendiri. Kasus larangan Nabi
shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani
Quraidlah dipahami oleh para Sahabat secara
beragam. Sebagian sehabat memahami secara
tekstual sehingga mereka tidak melaksanakan
shalat Ashar kecuali diperkampungan Bani
Quraidlah, walaupun waktu telah lewat.
Sementara, yang lain memahami secara kontekstual
dalam pengertian perintah untuk bergerak secara
cepat menu keperkampungan mereka, sehingga
tidaklah salah jika dalam perjalanan itu diselingi
shalat Ashar, kemudian melanjutkan gerak cepat
tersebut.

Asbab

al-Wurud:

Media Pengembangan Pemahaman Hadis


Oleh Zuhad*

Kata Kunci: tekstual, kontekstual, asbab al-wurud, asbab al-nuzul, khusus


al-sabab, maslahah al-mursalah.

Pendahuluan
Secara garis besar, tipologi pemahaman ulama dan umat Islam
terhadap hadis diklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama, adalah
tipologi pemahaman yang mempercayai hadis sebagai sumber dari pada
ajaran Islam tanpa memperdulikan proses sejarah pengumpulan hadis
dan proses pembentukan ajaran ortodokst. Barangkali tipe
pemikirannya yang oleh ilmuwan sosial dikategorikan sebagai tipe
pemikiran yang ahistoris (tidak mengenal sejarah timbulnva hadis dari
sunnah yang hidup pada saat itu). Tipe ini bisa juga disebut tekstualis.
Kedua, adalah golongan yang mempercayai hadis sebagai sumber ajaran
kedua dari pada ajaran agama Islam, tetapi dengan kritis historis
melihat dan mempertimbangkan asal-usul (asbab al-wurud) hadis tersebut.
Mereka memahami hadis secara kontekstual.1 Tipe pemahaman yang
kedua ini tidak begitu populer karena pemahaman ini tenggelam
dalam pelukan kekuatan Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah yang lebih suka
memahami hadis secara tekstual. Pemahaman secara tekstual ini

Asbab al-Wurud... Zuhad

diperlukan oleh Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah karena dorongan untuk


menjaga dan mempertahankan ekuilibrium kekuatan ajaran ortodok.2
Para pemerhati sejarah agama Islam sangat memahami kedudukan
sentral Nabi Muhammad sebagai makhluk historis (yamsyuna fi alaswaq) (QS. al-Furqan: 25-20) yang selalu berhadapan dengan beberapa
pilihan tata nilai yang bersifat pluralistik. Bahkan jika ditilik secara lebih
tajam, ayat-ayat al-Quran yang mengilhami manusia muslim untuk
berperilaku dan bertindak di muka bumi, menurut Prof. Arkoun, adalah
bersifat zamkaniy (zaman dan makan), yakni selalu melibatkan dimensi
historisitas ruang dan waktu.3 Asbab al-wurud al-hadis tidak lain dan
tidak bukan adalah dimensi historis hadis, di mana fundamental values selalu
ada dibelakangnya. Demikian juga dengan Asbab al-Nuzul al--Quran
merupakan dimensi hisroris al-Quran. Untuk faktor keteladanan yang
bersifat historis empiris dalam diskursus keberagamaan Islam pada
khususnya memang lebih diutamakan dari pada konsepsi teo-filosofis yang
transendental.
Konsep asbab al-nuzul dan asbab al-wurud mempunya kaitan erat dengan
konsep lain yang juga amat penting, nasikh mansukh, berkenaan dengan
sumber-sumber pengambilan ajaran agama, baik al-Quran maupun alsunnah. Dalam konsep asbab al-nuzul, asbab al-wurud dan nasikh mansukh
terkandung adanya kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. Adalah
kesadaran historis ini menurut Hodgson, yang menjadi salah satu tumpuan
harapan bahwa Islam akan memapu lebih baik dalam menjawab tantangan
zaman di masa depan. Kata Hodgson:
Tetapi barangkali modalpotensialterbesarIslamyangpalinghebat ialah kesadaran
historisnya yangjelas,yangsejakdarisemulamempunyai tempat begitubesardalam
dialognya.Sebabkesediaanmengikutidengansungguh-sungguhbahwatradisiagama
terbentuk dalam waktu dan selalu mempunyai dimensi historis, membuat agama
itu mampu menampung ilham baru apapun keadaan realita dari warisan bdan
dari titik tolak mulanya yang kreatif yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah
atau pengalaman rohani baru.4

Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran


agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk
pengalaman sejarah belaka. Tetapi hendak mencari pemahaman yang
benar atas sebuah teks yang hadir pada kita. Persoalannya adalah
bagaimana menangkap makna/pesan yang universal itu, yang tidak
tergantung kepada konteks, juga tidak kepada sebab khusus dari
asbab al-nuzul/asbab al-wurud munculnya suatu ajaran atau hukum.

134

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

MaknaAsbabal-Wurud
Asbab al-wurud al-hadis didefinisikan sebagai keadaan-keadaan dan
hal ihwal yang menjadi sebab datangnya hadis Nabi Saw.5 Dengan
membandingkan pada pembahasan ulama tafsir, mereka memperkenalkan
dua macam asbab al-nuzul, yaitu:
a. Asbab al-nuzul al-khas, yaitu peristiwa yang terjadi menjelang turunnya
suatu ayat.6
b. Asbab al-Nuzul al-Am, yaitu semua peristiwa yang dapat dicakup hukum
atau kandungannya oleh ayat al-Quran, baik peristiwa tersebut
terjadi sebelum maupun sesudah turunnya ayat itu.7 Pengertian yang
kedua ini dapat diperluas sehingga mencakup kondisi sosial pada
masa turunnya al-Quran (setting sosial).8
Dengan analogi pada Asbab al-Nuzul, maka Asbab al-Wurud juga bisa
dibagi menjadi dua macam, yaitu Asbab al-Wurud al-Khash dan Asbab
al-Wurud al-Am dengan pengertian sebagaimana dinyatakan diatas.
Dalam Asbab al-Wurud tercakup tiga hal pokok yang tidak dapat
diabaikan, yaitu : (1) peristiwa, (2) pelaku dan (3) waktu, yang masingmasing mempunyai kontribusi untuk memberi makna sebuah teks hadis.

Kaidah Keumuman Lafal Sebagai Pedoman


PemahamanTeks
Dalam kaitannya dengan teks (Al-Quran dan al-Hadis) yang lahir
karena sebab-sebab tertentu, mayoritas Ulama mengemukakan kaidah: alibrah bi umum al-lafdzi la bi khusus al-sababi (yang menjadi patokan dalam
memahami teks adalah keumuman lafal, bukan sebab khususnya).
Dengan berpijak pada kaidah ini, pandangan menyangkut Asbab alWurud dan pemahaman hadis seringkali hanya menekankan kepada
peristiwanya dan mengabaikan waktu terjadinya serta pelaku kejadian
tersebut. Dengan menggunakan kaidah itu, maka teks yang bersifat
umum (am) yang muncul atas sebab tertentu mencakup individu yang
mempunyai sebab itu dan lain-lainnya. Dan tidak boleh dipahami bahwa
lafal am itu hanya dihadapkan kepada orang-orang tertentu saja. Ibn
Taimiyah berkata bahwa para Ulama walaupun berbeda pendapat
dalam menghadapi lafal umum yang datang lantaran sesuatu sebab,
apakah khusus bagi sebab itu, namun tak ada seorangpun yang
menyatakan bahwasanya keumuman Al-Quran dan al-Sunnah khusus
dengan orang-oarang tertentu. Hanya saja paling jauh dikatakan
bahwa keumuman lafal itu tertentu dengan orang-orang yang semacam
itu lalu ia mencakup orang-orang yang menyerupainya. Dan tidaklah
keumuman padanya menurut lafal. Ayat yang mempunyai sebab yang

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

135

Asbab al-Wurud... Zuhad

tertentu jika merupakan perintah atau larangan, maka ia mencakup


oranga-orang itu dan selainnya, yang sama keadaannya/kedudukannya.9
Lafal am dalam sebuah teks walaupun munculnya karena dilatarbelakangi
oleh sebab-sebab khusus, ia mencakup seluruh individu yang bisa
ditampung oleh teks itu, tidak tertentu dan terbatas berlakunya hanya
kepada individu yang menjadi sebab khusus iahimya teks.
1. Hadis tentang urusan dunia
Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan sebuah hadis dari Anas10
sbb:
Rasulullah Saw. mendengar suara-suara, lalu bertanya, suara apa ini?
Orang-orang menjawab: mereka sedang mengawinkan kurma, lalu sabdanya:
sekiranya mereka meninggalkannyasaja,kemudianmerekatidakmengawinkannya
lagi, kemudian hasilnya jelek. Kemudian Nabi berkata, ada apa denganmu
sekalian, mereka menjawab para petani meninggalkan(perkawinankurma)karena
saranmu wahai Nabi. Lalu sabda Nabi saw.: jika sesuatu itu menyangkut urusan
duniamu, maka kalian lebih tahu persoalannya, dan jika menyangkut urusan
agamamu, maka harus dikembalikan padaku.

Hadis tersebut diatas mempunyai asbab al-wurud, yaitu peristiwa


yang mendahului diucapkannya hadis. Pada suatu saat, Nabi saw. lewat
dihadapan para petani yang sedang mengawinkan serbuk kurma
pejantan keputik kurma betina. Nabi berkomentar, sekiranya kamu
sekalian tidak melakukan hal itu, niscaya kurmamu akan baik.
Mendengar komentar itu, para petani lalu tidak lagi mengawinkan
kurma mereka. Setelah beberapa lama, Nabi lewat kembali ketempat
itu dan menegur para petani, mengapa pohon kurma itu? Para petani
lalu melaporkan apa yang telah dialami oleh kurma mereka, yakni
banyak yang tidak jadi. Mendengar keterangan mereka itu, Nabi lalu
bersabda, Kamu sekalian lebih tahu tentang urusan duniamu.11
Banyak kalangan yang memahami hadis tersebut secara tekstual.
Mereka menyatakan bahwa Nabi saw. tidak mengetahui banyak tentang
urusan dunia dan menyerahkan urusan dunia itu kepada para Sahabat
(umat Islam), ada pula yang berpendapat bahwa berdasarkan petunjuk
hadis itu, maka Islam membagi kegiatan hidup secara dikotomi, yakni
kegiatan dunia dan kegiatan agama. Paham yang demikian itu lalu
bermuara kepada keharusan sikap hidup yang sekuler.12 Pemahaman
semacam ini timbul karena Asbab al-Wurud dari hadis itu tidak
diperhatikan, padahal pengetahuan tentang Asbab al-Wurud itu sangat
membantu pemahaman yang benar atas sebuah teks.

136

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

Dengan menerapkan kaidah yang menjadi pedoman dalam


memahami teks adalah keumuman lafal, bukan sebab khususnya, maka
isi yang terdapat dalam hadis diatas berlaku secara umum kepada
semua orang yang mempunyai kedudukan sama dengan pelaku peristiwa
yang menjadi sebab timbulnya hadis, tidak hanya kepada pelaku
peristiwa saja. Hanya saja keumumannya terbatas kepada orang-orang
yang mempunyai kedudukan sama dengan si pelaku yang bisa dicakup
oleh teks.
Pernyataan Nabi Kamu sekalian lebih tahu urusan duniamu
sesungguhnya tidaklah menyatakan bahwa Nabi sama sekali buta
terhadap urusan dunia. Dalam sejarah Nabi telah berkali-kali memimpin
peperangan dan menang. Perang yang dilakukan oleh Nabi dan para
Sahabat itu adalah urusan dunia dan kegiatan dunia, disamping
sebagai kegiatan agama. Sebelum diangkat sebagai rasulullah, beliau
pernah sukses dalam melakukan kegiatan dagang. Berdagang adalah salah
satu kegiatan dunia. Ia juga kepala negara yang berhasil. Kegiatan
menjadi kepala negara selain banyak berhubungan dengan urusan
dunia, juga banyak berhubungan dengan urusan agama. Pernyataan
Nabi Kamu lebih tahu urusan duniamu bisa dipahami dalam arti
sebagai profesi atau bidang keahlian. Dengan demikian, maksud hadis
itu ialah bahwa Nabi tidak memiliki keahlian sebagai petani. Oleh
karena itu, para petani lebih mengetahui tentang dunia pertanian dari
pada Nabi.13 Sementara itu Rasyid Ridla mengatakan bahwa persoalan
keagamaan harus bertumpu pada nash-nash agama, sedangkan
persoalan keduniaan, maka dasarnya adalah kebiasaan yang berlaku
alam asyarakat dan kerelaan.14
2.HadistantangMandiJumat
Imam Bukhari dan Muslim meriwayat -an hadis dari A dullah Ibn
Umar sebagai berikut : Apabila salah seorang di antara kamu sekalian
mendatangi shalat jumat, maka hendaklah mandi (terlebih dahulu).15 Hadis
ini dinyatakan oleh Rasulullah karena ada sebab khusus. Pada zaman
Nabi saw. ekonomi para Sahabat pada umumnya masih dalam keadaan
sulit. Mereka memakai baju wol dan bekerja di perkebunan kurma,
memikul air di atas punggung mereka untuk melakukan penyiraman.
Setelah bekerja diperkebunan, banyak diantara mereka yang langsung
pergi ke masjid untuk shalat Jumat. Pada suatu hari Jumat Nabi saw.
pergi ke masjid dalam udara yang panas. Nabi menyampatkan khutbah
Jumat di atas mimbar yang pendek, kemudian mereka berkeringat
dalam keadaan pakai pakaian wol. Bau keringat dan baju wol mereka
menyebar diruangan masjid dan jamaah merasa terganggu. Bahkan
bau mereka juga sampai ke mimbar Rasulullah saw. dan kemudian

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

137

Asbab al-Wurud... Zuhad

Nabi bersabda: Wahai sekalian manusia, jika kalian melaksanakan shalat


jumat, hendaklah mandi terlebih dahulu dan pakai minyak wangi terbaik
yangada padanya!16
Jumhur ulama mengatakan bahwa kewajiban mandi pada hari
Jumat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain cuaca panas yang
menyebabkan berkeringat, pakaian wol yang menyimpan bau, kondisi
masjid yang sempit dan lain-lain. Jika jamaah tidak mandi, maka akan
menimbulkan gangguan dan mengurangi ketenangan di dalam masjid.
Hadis itu berlaku dan wajib dilaksanakan dalam kondisi demikian.
Ketika keadaan umat Islam sudah makmur, masjid-masjid sudah luas
dan pakaian mereka terbuat dan kain, maka ada kelonggaran dan
kemurahan untuk tidak mandi ketika hendak pergi ke shalat Jumat,
sebab hal itu tidak akan menimbulkan adanya gangguan pada
jamaah.17
Jika diamati, maka kelihatan jelas bahwa pendapat Jumhur ulama
di atas dalam memahami hadis dengan menggunakan kaidah: alibrat bi umum al-lafz la bi khushus al-sabab. Hadis Nabi yang menyatakan
Siapa saja yang mendatangi shalat jumat supaya mandi terlebih
dahulu lahir karena adanya sebab khusus, yaitu adanya jamaah yang
kehadirannya menimbulkan gangguan berupa bau tidak sedap yang
ditimbulkannya di dalam ruangan masjid yang sempit. Dengan
menerapkan kaidah diatas, maka hadis itu berlaku bagi siapa saja
yang kondisinya sama dengan pelaku peristiwa yang menyebabkan
munculnya hadis tersebut. Isi hadis tersebut tidak mengikat kepada mereka
yang kondisinya berbeda dengan pelaku peristiwa dan dalam suasana yang
berbeda pula. Hanya saja jika perintah dalam hadis itu dilaksanakan,
maka hukumnya lebih baik bagi yang bersangkutan. Jika pemahaman
hadis tersebut dilepaskan dari konteks asbab al-wurudnya, maka disimpulkan
bahwa hukum mandi pada han Jumat adalah wajib, sebagaimana
pendapat Daud al-Dhahiri. Pendapat semacam ini semata-mata
memahami hadis secara tekstual, tanpa mempertimbangkan konteks yang
menyertainya.

PengembanganPemahamanHadis
Dalam kaitannya dengan Asbab al-Nuzul/Asbab al-Wurud sebagian
kecil ulama mengemukakan kaidah: al-ibrah bi khusus al-sabab la bi
umum al-lafz (yang menjadi patokan dalam memahami teks adalah sebab
khusus, bukan keumuman teksnya). Setiap Asbab al-Nuzul / Asbab alWurud mencakup tiga hal pokok, yaitu: (a) peristiwa, (b) pelaku dan (c)
waktu. Tidak mungkin benak akan mampu menggambarkan adanya
sesuatu peristiwa yang tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu dan
tanpa pelaku.18

138

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

Para penganut paham bi khushush al-sabab menekankan perlunya


analogi (qiyas) untuk menarik makna dari ayat-ayat yang memiliki
latar belakang Asbab al-Nuzul tetapi dengan catatan apabila analogi
tersebut memenuhi syarat-syaratnya. 19 Demikian juga hal ini
diberlakukan terhadap hadis-hadis yang mempunyai latar belakang
Asbab al-Wurud. Pandangan mereka ini hendaknya dapat diterapkan
tetapi dengan memperhatikan faktor waktu, karena kalau tidak, ia
menjadi tidak relevan untuk dianalogikan.20 Sebab Al-Quran dan
hadis tidak lahir dalam masyarakat hampa budaya dan bahwa
kenyataan mendahului/bersamaan dengn munculnya teks tersebut.
Analogi yang dilakukan hendaknya tidak terbatas kepada analogi
yang dipengaruhi oleh logika formal, tetapi analogi yang lebih luas dari
itu, yang meletakkan dipelupuk mata al-mashalih al-mursalah dan yang
mengantar kepada kemudahan pemahaman agama sebagaimana halnya
pada masa Rasul dan sahabatnya.21 Analogi yang selama ini dilakukan
adalah berdasarkan rumusan imam al-Syafii, yaitu menyamakan cabang
dengan pokok karena adanya kesatuan illat yang pada hakekatnya tidak
merupakan upaya untuk mengantisipasi masa depan, tetapi sekedar
membahas fakta yang ada untuk diberi jawaban agama terhadapnya
dengan membandingkan fakta itu dengan apa yang pernah ada.22
Meminjatn teori Faziur Rahman, penafsiran al-Quran (teks
keagamaan) terdiri dan dua gerakan ganda, dari situasi sekarang ke
masa al-Quran diturunkan dan kembali lagi kemasa kini. Al-Quran
adalah respon Ilahi melalui ingatan dan pikiran Nabi kepada situasi
moral-sosial Arab pada masa Nabi, khususnya kepada masalah-masalah
masyarakat dagang makkah pada masanya. Yang pertama dari dua
gerakan di atas terdiri dari dua langkah; pertama: orang harus
memahami arti atau makna dari sesuatu pernyataan dengan mengkaji
situasi atau problem historis dimana pernyataan al-Quran tersebut merupakan
jawabannya. Sebetum mengkaji ayat-ayat spesifik dalam sinaran situasi
makro dalam batasan-batasan masyarakat, agama, adat istiadat,
lembaga-lembaga, bahkan kehidupan secara menyeluruh di Arabia
pada saat kehadiran Islam dan khususnya disekitar Makkah harus
dilakukan. Kedua, adalah menggeneralisasikan jawaban-jawaban
spesifik tersebut dan menyatakannya sebagai pernyataan-pemyataan yang
memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum yang dapat disaring dari ayatayat spesifik dalam sinaran latar belakang sosio--historis dan rationes
logis yang sering dinyatakan. Gerakan yang kedua, harus dilakukan dari
pandangan umum ini kepandangan spesifik yang harus dirumuskan
dan direalisasi sekarang. Artinya ajaran-ajaran yang bersifat umum
harus ditubuhkan (embodied) dalam konteks sosio-historis yang kongkrit
di masa sekarang. Ini memerlukan kajian yang cermat atas situasi

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

139

Asbab al-Wurud... Zuhad

sekarang dan analisis berbagai unsur-unsur komponennya, sehingga kita


bisa menilai situasi sekarang dan mengubah kondisi sekarang sejauh
yang diperlukan dan menentukan prioritas-prioritas baru untuk bisa
mengimplementasikan nilai-nilai al-Quran secara baru pula. 23
Demikian pula halnya dengan hadis.
Yang menjadi persoalan juga adalah bagaimana kita mempersepsi suatu
ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generalisasi tinggi dari
makna immediatenya ke makna universalnya. Berkaitan dengan ini,
penting sekali memahami penegasan dalam Kitab suci hahwa Allah tidak
mengutus seorang rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya (QS.
Ibrahim/14: 4). Bahasa termasuk kategori historis dan kesadaran
kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis.24
Masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya
kepada segi linguistiknya semata, tetapi juga kulturalnya.
Peinikiran keagamaan pada dataran low tradition, yakni pada dataran
realitas historis yang kongkrit, sangat terikat dan langsung bersentuhan
dengan berbagai bentuk permikiran yang lain. Sebutlah pemikiran politik,
pemikiran ekonomi, pemikiran sosial budaya, pemikiran strategi
pertahanan dan keamanan dan seterusnya. Pemikiran keagamaan pada
wilayah high tradition, yakni pada dataran konsep, teori-teori yang bersifat
cognitif skematif, barangkali memang agak herbeda cari corak pemikiranpemikiran manusia yang lain, semata-mata karena adanya kategori
sakralitas yang dikaitkan dengan keberadaan Kitab Suci.
Jika kita memahami pemikiran keislaman pada dataran low tradition
bukan pada dataran high tradition maka sesungguhnya ia sama saja
seperti corak pemikran pemikiran manusia yang lain. Ia tidak bisa terlepas
sama sekali dari keterkaitannya dengan bahasa dan sejarah. Bahasa
terkait dengan konvensi, kontrak sosial, adat-istiadat dan akar budaya
setempat yang secara berkesinambungan telah bertajan berabad-abat;
sedangkan sejarah terkait dengan persoalan kapan, di mana dan siapa (kapan
terjadi, abad berapa, di mana terjadi, dalam situasi politik dan sosial yang
seperti apa, standar ekonomi yang bagaimana, tingkat kemajuan ilmu
dan teknologi sejauh mana, serta siapa para pelaku dan aktornya dan
seterusnya.25
Pemikiran keagamaan dan keislaman khususnya lebih-lebih pada
dataran low tradition ternyata tidak begitu saja jatuh dari langit dan
tidak pula muncul dalam ruang hampa kebudayaan dan kekosongan dari
berabagai peristiwa sejarah yang melingkarinya. Pemikiran keagamaan pada
umumnya dan pemikiran keislaman pada khususnya berkembang beserta
pandangan dunia (nadhariya al-alam) yang hidup mengitarinya. Sedangkan
pandangan dunia suatu komunitas atau suatu bangsa itu sendiri juga
selalu terkait dengan gerak perubahan sejarah dan budaya (prahistoris,

140

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

historis, agraris, industrial dan post-industrial). Setiap tahapan


perkembangan budaya ternyata berpengarauh pada corak pemikiran
keagamaan dan pemikiran keislaman yang berkembang disuatu tempat
tertentu. Sebagai produk sejarah manusia biasa, ia tidak lepas dari
gerak perubahan sejarah sosial budaya yang mengitarinya. Disini lalu
muncul persoalan relevansi yang selalu mengintip dari belakang tabir
percaturan pemikiran keagamaan dan pemikiran keislaman kontemporer.26
Dengan memahami sebaik dan secermat mungkin keterkaitan
antara ketiga komponen eksistensi manusia, yakni keterpautan antara
bahasa, pemikiran dan sejarah, sekaligus dalam hubungannya dengan
nilai-nilai etis yang hendak diraih, maka akan dimungkinkan
pengembangan pemikiran Islam. Keterputusan hubungan antara
ketiganya, yakni putusnya hubungan antara pemikiran (keislaman),
budaya dan sejarah, yang melatarbelakanginya (sejarah panatapan
hukum-hukum agama, sejarah terbentuknya pranata sosial Islam,
bahkan sejarah sosial-politik dan perkembangan kontemporer
pemikiran Islam dan sebagainya) hampir-hampir dapat dipastikan akan
terbentuk proses pensakralan pemikiran keagamaan. Pemikiran keislaman
yang terlepas dari historisitasnya menjadi tidak boleh diperdebatkan ulang,
tidak boleh dirubah atau diperbaiki.

PenerapanKaidahKhushushal-SababDalamHadis
1. Hadis tentang Ghanimah
Abdullah Ibn Umar meriwayatkan dari Rasulullah sbb: Bahwasanya
Rasulullah membagi ghanimah untuk penunggang kuda dua bagian, dan
untuk pejalan kaki satu bagian.27
Abu Huairah meriwayatkan dari Rasuluilah sbb: Desa/kota mana
sajayangkamu sekalian datangi dan kamu bertempat tinggal di sana, maka
saham (bagian) kamu ada disana, dan desa/kota mana saja yangmelakukan
perbuatan maksiyat (melawan) Allah dan Rasul-Nya (kemudian kamu
kalahkan), maka seperlima bagian untuk Allah dan Rasul-Nya, dan sisanya
menjadi bagian kamu sekalian.28
Kedua riwayat hadis di atas menegaskan bahwa ghanimah (rampasan
perang yang didapat kaum muslimin baik harta bergerak maupun tetap
menjadi hak Allah, Rasul--Nya dan kaum muslimin yang ikut serta
dalam peperangan. Dalam praktek yang dilakukan oleh Rasulullah,
sejarah antara lain mencatat sebagai berikut:
a. Pada tahun ke-4 Hijriyah Rasulullah mengalahkan Yahudi Bani alNadzir dan mengusir mereka dari sekeliling Madinah. Mereka
meninggalkan banyak harta kekayaan, baik barupa harta tak

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

141

Asbab al-Wurud... Zuhad

bergerak seperti rumah, kebun dan lain-lainnya; seperti senjata


berupa 50 baju besi, 340 bilah pedang dan lain-iainnya. Harta benda
yang mereka tinggalkan menjadi rampasan perang kaum muslimin.
Tetapi tanah ini tidak dapat dianggap sebagai rampasan perang
(ghanimah), tetapi fai (harta yang dirampas tanpa melalui perang).
Oleh karenanya tak dapat dibagi-bagikan kepada kaum muslimin,
tetapi khusus ditangan Rasulullah yang nantinya akan ditentukan
sendiri menurut kebijakannya sesuai ayat 6-7 surat al-Hasyr/59: 6-7.
Dan tanah itu kemudian dibagi-bagikan kepada golongan muhajirin
yang pertama di luar golongan anshar, setelah dikeluarkan bagianbagian khusus yang hasilnya akan menjadi hak fakir miskin. Dengan
demikian kaum muhajinn itu tidak perlu lagi harus menerima bantuan
kaum anshar, dan ini pun sudah menjadi harta kekayaan mereka.29
b. Setelah kaum muslimin mengalahkan Bani Quraidlah, Rasulullah saw
kemudian membagikan rampasan perang yang berupa wanita, anak-anak
dan harta benda kepada kaum muslimin, setelah dikeluarkan
seperlimanya. Setiap orang dari pasukan berkuda mendapat dua
pucuk panah, dan untuk kudanya sepucuk panah. Prajurit yang
berjalan kaki mendapat sepucuk panah. Jumlah kuda dalam
peperangan ini sebayak 36 kuda.30
c. Setelah Rasulallah membebaskan Khaibar, beliau lalu membagikan
ghanimah (rampasan perang) kepada anggota pesukan kaum muslimin.
Dan penggarapan atas tanah dan kebun di Khaibar diserahkan oleh
Rasul kepada penduduk Yahudi yang tetap tinggal di sana. Lalu dibuat
perjanjian, separuh/setengah basil tanah dan kebun diserahkan
kepada Rasulullah, dan setengah untuk mereka.31
Ghanimah dan fai merupakan dua hal yang dihalalkan oleh Allah
bagi umat Islam, karena musuh-musuh Islam sendiri telah bersekutu,
bersekongkol dan berkhianat terhadap umat Islam. Mereka musuh-musuh
Islam selalu menghianati perjanjian mereka dengan Nabi.
Rasulullah membagi-bagikan ghanimah kepada anggota pasukan atas
pertimbangan dan berdasarkan jasa-jasa mereka kepada Islam, dan
memang mereka layak menerimanya. Sebagian dari mereka, kaum
muhajirin, telah meninggalkan kampung halaman mereka karena
ditindas dan dianiaya oleh kaum musyrikin Makkah. Mereka telah
mengikhlaskan diri untuk mengorbankan jiwa raga dan harta mereka
semata-mata demi menegakkan Islam. Dan mereka setia kepada
Rasulullah walaupun harus menanggung penderitaan sejak
disiarkannya Islam dari Makkah. Sementara kaum Anshar juga telah
berjasa kepada Rasululah, dengan memberikan sambutan hangat saat
kedatangannya di Madinah sewaktu hijrah, pada saat orang Makkah
membenci, memusuhi dan menentangnya, mereka membela Rasul dan para

142

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

Sahabat muhajirin, menyediakan tempat tinggal, dan menyediakan


kekayaan mereka untuk keperluan perjuangan membela Islam.32
Sahabat Umar ibn al-Khaththab ketika menjabat sebagai khalifah
kedua, membuat kebijakan-kebijakan baru dalam soal ghanimah yang secara
harfiah tidak sejalan dengan Al-Quran dan percontohan Nabi. Ia tidak
membagi-bagikan tanah-tanah pertamanan di Syria dan Iraq yang baru
dibebaskan kepada tentara Muslim bersangkutan, tetapi justru kepada
para petani kecil setempat, sekalipun mereka ini belum atau tidak
muslim.33 Umar membiarkan ghanimah yang berupa benda-benda tak
bergerak (tanah dan ladang) untuk digarap oleh penduduknya.
Kebijakan lain yang diambilnya ialah mendaftar para pejuang dan
tentara yang telah berjasa kepada Islam; mendahulukan keluarga Rasul,
sahabat Muhajirin dan Anshar; menarik sebagian hasil garapan untuk
bait al-mal (kas negara); dan setiap tahun memberi para pejuang dan
tentara sebagian dari dana bait al-mal.34
Tindakan-tindakan Sahabat Umar jika dilihat dari kaidah al-ibrat
bi khushush al-sabab la bi umum al-lafz tampak sejalan dan konsisten
menerapkannya. Ia memahami dengan baik kaitan antara teks, yaitu
ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi tentang pembagian ghanimah, dengan
konteks munculnya teks-teks tersebut. Ia kemudian menarik benang
merah relevansi antara konteks munculnya teks itu di masa Nabi
dengan konteks yang ia hadapi pada masa pemerintahannya. Dengan analogi
antara masa Nabi dan masanya memerintah ia menarik pesan moral/ide
dan semangat dari teks, untuk diterapkan. Ada bayak pertimbangan
dan dasar pemikiran yang dikemukakan dalam rangka melakukan
inovasi tersebut, antara lain
1. Jika semua sisa ghanimah dibagi-bagikan kepada semua anggota
pasukan, maka dana untuk pembangunan negara tidak ada.
2. Para anggota pasukan bukanlah ahli pertanian, karena itu hasil yang
didapat dikhawatirkan berkurang.
3. Para anggota pasukan, bila telah menguasai tanah tersebut
dikhawatirkan akan berjiwa borjuis.
4. Jika tanah dan ladang diserahkan kepada para anggota pasukan, maka
penduduk asli akan kehilangan haknya.
5. Bila timbul saling monopoli tanah, maka generasi mendatang tidak
akan lagi mendapatkan apa-apa.
6. Biaya peperangan pada saat itu diambil dari bait a1-mal.35
Dengan ide-ide kreatif dan langkah-langkah inovatifnya itu,
Ijtihad Umar dipandang tepat, dan essensi Hadis/Sunnah dan AlQuran terlaksana dengan tertib, aman dan adil serta sesuai
kemaslahatan umum.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

143

Asbab al-Wurud... Zuhad

2. Hadis tentang Ucapan Salam kepada Non-Muslim


Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah sebagai berikut:
Janganlah kamu sekalian memulai ucapan salam kepada orang Yahudi dan
Nasrani, dan jika kamu sekalian bertemu mereka di jalan, hendaklah kamu
desak kepinggir.36

Sementara Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisah sebagai berikut:


Aisyah berkata, datang serombongan orang Yahudi kepada Rasullullah saw.
lalu berkata kematian bagimu. Kemudian saya (Aisyah) memahami ucapan
mereka, lalu saya berkata bagimu kematian dan laknat. Rasulullah bersabda,
pelan-pelan wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelembutan budi
dalam segala persoalan. Lalu saya berkata, wahai Rasulullah apakah engkau
tidak mendengar yang mereka ucapkan, lalu Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya saya telah mengatakan (menjawab) atas kamu semua
(kematian) itu.37

Ibn Hajar berkomentar bahwa sesungguhnya secara normatif tidak


ada larangan menjawab salam Ahl al-Dzimmah berdasarkan ayat AlQuran yang memerintahkan untuk menjawab salam dengan cara yang
lebih baik, atau paling tidak sama dengan ucapan salam orang yang
memberi salam tersebut (QS. al-Nisa/4: 86). Sedangkan sebagian ulama
mengatakan bahwa menjawab salam Ahl al-Dzimmah hukumnya wajid
atas dasar keumuman ayat di atas. Ibn Abbas berkata, siapa saja yang
mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah walaupun dari orang
Majusi. Atha berkata bahwa ayat di atas hanyra khusus berlaku bagi orangorang Islam, maka salam orang kafir tidak perlu dijawab secara mutlak.
Sementara Imam Malik dan mayoritas ulama juga menolak menjawab
salam orang-orang non--muslim.38 Ibn Umar berkata bahwa hal itu
terjadi karena di antara orang-orang non-muslim dengan orang-orang
Islam tidak terdapat hubungan yang harmonis dan bersahabat.39
Setelah Muhammad diangkat menjadi rasul Allah dan mulai
mendakwahkan agamanya kepada masyarakat musynk Makkah, maka
sejak saat itu pula muncul sikap per musuharr iuereka kepadanya. Para
tokoh, bangsawan, dan hartawan-hartawan terkemuka Quraisy mulai
merasakan bahwa ajaran Nabi Muhammad merupakau artcaniarr dan
bahaya besar bagi kedudul arr tuereka. Mula-mula mereka menyerang
Nabi dengan cara mendiskreditkannya dan mendustakan ajaran yang
dibawanya. Makin hari Nabi dan para pengikutnya mendapat tekanan,
siksaan, dan pemboikotan sampai kepada rencana pembunuhan atas dini
Nabi. Pada akhirnya Rasulullah memutuskan untuk berhijrah ke
Madinnah.40

144

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, kota itu didiami oleh banyak
komponen masyarakat, antara lain suku-suku Arab (yang terdiri dari
suku Aus dan Khazraj), dan beberapa koloni Yahudi, seperti bani
Qainuqa, bani Nadzir, bani Quraidzah dan Yahudi Khaibar.41 Diantara
mereka terjadi persaingan, konflik dan pertempuran dalam
memperebutkan berbagai kepentingan. Keadaan seperti itu yang justru
memungkinkan penerimaan mereka terhadap kehadiran Nabi dan
kesediaan menerima Islam.
Golongan musyrik dari sisa-sisa Aus dan Khazraj akibat peperangan
di antara mereka di masa lampau merasa lemah sekali di tengahtengah kaum muslimin dan Yahudi. Mereka mencari jalan supaya
antara keduanya itu timbul insiden. Golongan Yahudi dengan tiada
ragu-ragu menyambut baik kedatangan Nabi dengan dugaan bahwa
mereka akan dapat membujuknya dan sekaligus merangkulnya ke
pihak mereka, serta dapat pula diminta bantuannya membentuk sebuah
jazirah Arab.42
Tidak lama setelah menetap di Madinah, Nabi secara kongkrit
meletakkan dasar-dasar masyarakat yang kuat, dengan bersama-sama
semua unsur penduduk Madinah menggariskan ketentuan hidup
bersama dalam surat dokumen yang dikenal dengan Piagam Madinah,
atas dasar (landasan) kebebasan, terutama bidang agama dan ekonomi
serta tanggungjawab sosial politik, khususnya pertahanan.43
Dalam perjalanan sejarah, orang-orang Yahudi tidak mentaati
perjanjian yang disepakati bersama Nabi, sebaliknya mereka
melanggarnya. Mereka tidak saja mengabaikan tugas-tugas yang
ditetapkan dalam dokumen, tetapi juga menjadi agresif. Itulah
sebabnya mengapa kemudian mereka diusir dari Madinah, berturut-turut
mulai dari bani Qainuqa, lalu bani Nadzir, kemudian bani Quraidzah,
dan terakhir Yahudi Khaibar.
Yahudi bani Qainuqa memperlihatkan kemarahan dan kedengkian
ketika kaum muslimin memperoleh kemenangan gemilang pada perang
Badar. Bahkan kemarahan itu sampai kepada permusuhan terbuka.
Pada waktu Nabi mengumpulkan dan menasehati mereka di sebuah
pasar bani Qainu1a, mereka justru menentang secara terbuka dengan
menyombongkan diri. Dalam kasus lain, ada kelompok orang-orang
Yahudi bani Qainuqa yang melakukan pelecehan dan penghinaan
kepada seorang wanita Arab. Hal ini menimbulkan terjadinya
pembunuhan di antara kedua belah pihak.
Setelah Yahudi bani Qainuqa membatalkan perjanjiannya dengan
Nabi, mereka lalu dikepung selama 15 hari. Nabi kemudian
memerintahkan supaya mereka diusir dari Madinah.44

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

145

Asbab al-Wurud... Zuhad

Sedangkan Yahudi bani Nadzir melakukan pelanggaran,


penghianatan dan usaha membunuh Nabi ketika beliau berada di
perkampungan mereka untuk membicarakan suatu urusan, yaitu
permintaan kepada mereka untuk membantu pembayaran diyat orang
yang terbunuh tanpa sengaja. Nabi mendapat inspirasi wahyu atas
tipu muslihat mereka dan berhasil menyelamatkan diri. Nabi kemudian
memerintahkan pengepungan kepada mereka. Setelah pengepungan
beriangsung 6 hari, mereka setuju terhadap perjanjian damai dengan
satu persyaratan mereka diperbolehkan membawa apa saja yang dapat
dibawa yaitu unta--unta mereka, kecuali senjata. Mereka kemudian pergi
ke Khaibar dan atau ke Syam.45
Perang dengan bani Quraidzah terjadi karena pelanggaran mereka
terhadap perjanjian dengan Nabi. Mereka membatalkan perjanjian
pada saat kaum muslimin ada dalam situasi yang cukup kritis, yaitu
menghadapi pengepungan aliansi tentara bersenjata dari berbagai suku di
bawah pimpinan Abu Sufyan dalam perang Khandaq/perang Ahzab.
Setelah tentara Ahzab porak poranda, Nabi diperintahkan untuk
memerangi bani Quraidzah. Pada saat pengepungan makin insentif,
mereka bermaksud menyerah dan menerima apa saja yang menjadi
keputusan Nabi. Putusan yang diambil terhadap bani Quraidzah adalah
bala tentara dibunuh, dan harta mereka dirampas.46
Para pemimpin terkemuka barn Nadzir yang diusir dari Madinah
kemudian menetap di Khaibar, seperti Salam ibn Abu al-Haqaiq,
Kinanah ibn Abi al-Haqiq, dan Huyaiy ibn Akhthab. Kepemimpinan
mereka diterima oleh penduduk Khaibar. Pada akhirnya kepemimpinan
mereka menyeret Yahudi Khaibar kepada konflik balas dendam kepada
kaum muslimin. Mereka dikendalikan oleh kebencian dan kemauan
keras untuk kembali ke kampung halaman mereka di Madinah.47
Gerakan pertama Yahudi Khaibar melawan kaum muslimin terjadi
saat perang Khandaq yaitu dengan cara menghasut Quraisy dan Arab
pedalaman untuk melawan kaum muslimin. Mereka juga menghasut
bani Quraidzah untuk menghianati kaum muslimin dan bergabung dengan
musuh-musuh mereka.48
Yahudi Khaibar dikenal memiliki benteng pertahanan yang amat
kuat. Disamping itu mereka juga dikenal dengan perlengkapan
persenjataannya yang baik dan pasukan perang yang sangat pemberani.
Dengan perjuangan yang sangat gigih dan tak kenal menyerah, pasukan
Islam berhasil menaklukkan Yahudi Khaibar.49
Dan rentetan peristiwa sejarah sejak masa Rasuiullah tersebut, dapat
diidentifikasi bentuk-bentuk permusuhan non-muslim terhadap Islam
meliputi hal-hal berikut:

146

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

1. Penghasutan kepada musuh-musuh Islam untuk melakukan


periawanan, tantangan dan ancaman
2. Menimbulkan instabilitas dalam masyarakat
3. Persekongkolan dengan pihak musuh untuk melawan Islam
4. Agresi terhadap kaum muslimin
5. Penyerangan secara terbuka
6. Usaha pembunuhan terhadap Nabi Saw.
7. Ejekan dan cacian terhadap Nabi, ajaran dan pengikutnya
8. Penghianatan terhadap kesepakatan bersama
9. Kedengkian dan pemberontakan
10. Pembatalan perjanjian damai.
Dengan melihat konteks dan mempertimbangkan asbab al-wurud
dan hadis tentang salam kepada non-muslim bisa dipahami bahwa
larangan tersebut bersifat temporal, yaitu pada saat hubungan antara
muslim dan non-muslim tidak harmonis. Hadis tersebut berlaku elastis
dan fleksibel, dengan melihat kondisi spesifik yang melatarbelakangi
hubungan antara kedua komunitas masyarakat tersebut apakah dalam situasi
perang ataukah damai.

Penutup
Pemahaman terhadap hadis secara umum terbagi menjadi dua
kelompok, yaitu pemahaman secara tekstual dan pemahaman secara
kontekstual. Hal ini sudah terjadi sejak zaman Rasulullah sendiri.
Kasus larangan Nabi shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani
Quraidlah dipahami oleh para Sahabat secara beragam. Sebagian
sehabat memahami secara tekstual sehingga mereka tidak
melaksanakan shalat Ashar kecuali diperkampungan Bani Quraidlah,
walaupun waktu telah lewat. Sementara sebagian yang lain memahami
secara kontekstual dalam pengertian perintah untuk bergerak secara
cepat menu keperkampungan mereka, sehingga. tidaklah salah jika
dalam perjalanan itu diselin shalat Ashar, kemudian melanjutkan
gerak cepat tersebut.
Salah satu media yang dapat dipakai untuk pengembangan
pemahaman hadis adaiah pengetahuan tentang ilmu Asbab al-Wurud.
Dani sini lahir dua macam kaidah yang dipakai sebagai pedoman
memahami makna sebuah teks. Kaidah pertama Umum al--Lafdl
lebih menekankan kepada keumuman lafal dalam memahami teks;
dan kaidah kedua Khushush al-Sabab lebih memfokuskan kepada
kekhususan sabab, yang penerapannya dilakukan dengan cara analogi
(qiyas). Penerapan kaidah khushush al-sabab melibatkan kajian pada
bidang-bidang lain yang terkait, seperti bahasa, sejarah sosial dan
budaya pada masa kehidupan Rasul dan masa kini.

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

147

Asbab al-Wurud... Zuhad

Dengan berpijak kepada Asbab al-Wurud, maka pembaharuan atau


pengembangan pemahaman hadis kelihatan menjadi sebuah kaniscayaan
yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini sejaian dengan ungkapan
ulama klasik bahwa Islam itu cocok untuk segala tempat dan zaman.
Adalagi ungkapan lain yang relevan adalah bahwa perubahan fatwa
atau hukum dipegaruhi oleh banyak faktor, antara lain perbedaan
tempat, perubahan waku, perbedaan kultural dan perbedaan motivasi
pelaku.

Catatan Akhir:
*Penulis adalah dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang
1
M. Quraish Shihab, Kata Pengantar dalam Muhammad alGhazali, Studi Kritis Atas Hadis Antara Pemahaman Tekstual dan
Kontekstual (Bandung: Mizan, t.th.), h. 8-9.
2
Amin Abdullah, Studi Agama, Normativitas atau Historisitas
(Yogyakarta: Pustaka Pelaiar, 1996), h. 315
3
M. Arkoun, Al-Fikr al-Islami Qiraatun ;ilmiyyatun, dikutip dalam Amin
Abdullah, ibid., h. 64
4
Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam, dalam Nurcholish
Madjid, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina,
1994), h. 35-36
5
Muhammad Usman al-Khusyat, Mafatih ulum al-hadis (Kairo:
Maktabah al-Quran, t.th.), h. 126
6
Manna al-Qaththan, Mabahis fi Ulu al-Quran (Al-Riyat: Mansyurat
al-Ashr al-Hadis, t.th.), 78
7
M. Quraish Shihab, Tafsir Surat-surat Pendek (Jakarta: Pustaka
Hidayah, 1997), h. 694
8
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan, 1992),
h. 90
9
A1-Zaraani, Manahil al-Irfan Fi Ulum AI-Ouran (Dar Ihya al-Kutub
al .Arabiyyah, tt.), h. 19.
10
Ahmad Ibn Hambal, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, jus III,
(Beirut: Dar al-Fikr, tt.), h. 152.
11
Lihat Imam Muslim, Shahih Muslim, Jus IV (Mesir: Isa al-Babi alMalabi, tt.), h. 1836.
12
Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang tekstual dan Kontekstual (Jakarta,
Bulan Bintang, 1994), h. 57
13
Ibid.
14
Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir at Manar, Jus VI (Mesir: Muhammad
Ali shabih, 1953), h. 123

148

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Ju. I (Jakarta: Wijaya, 1992), h. 260.;


Muslim, Shahih Muslim, Juz. 3 (Kairo: Mushthafa al-Babi al-Hlalabi, t.t),
h. 2.
16
Ibn Hamzah al-Husaini, al-Bayan wa al-Tarif fi Asbab Wurud alHadis al-Syarif (Bairut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah, juz I, tt.) h. 145-6.
17
Al-Shanani, Subul al-Salam, juz I, (Kairo: Dar al-Ulum, 1960), h.
87.
18
M. Quraish Shihab, Membumikan, op. cit., h. 89
19
Al-Zarqani, op. cit., h. 120
20
M. Quraish Shihab, Membumikan, op. cit., h. 89
21
Yusuf Kamil, al-Ashriyun Mutazila al-Yaum, dikutip oleh M. Quraish
Shihab dalam, op. cit., h. 89.
22
Ridlwan al-Savvid, al-Islam al- Muashir Nazat fi al-Hadlir wa alMustagbal, diikuti dalam ibid., h. 90.
23
FaziurRahman,Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual
(Bandung: Pustaka, 1985), h. 7-8.
24
Nurcholish Madjid, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah
(Jakarta: Paramadina, 1994), h. 37
25
M. Amin Abdullah, Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran
Keislaman dalam Hamim Ilyas dan M. Azhari (ed), Pengembangan
Pemikiran Keislaman Muhammadiyah Purifikasi dan Dinamisasi(Yogyakarta:
LPPI, 2000), h. 4-5
26
Ibid., h. 5
27
Imam Muslim, Shahih Muslim, al-Thiba al-Amirah, 1331, bab Hukum
al-Fai, h. 150
28
Muslim, ibid., h. 151
29
Muhammad Husain Haekal, SeiarahHidupMuhammad,Jilid 2(Jakarta:
Tintamas, 1973), h. 12
30
Ibid., h. 56
31
Ibid., h. 126. Lihat, Zainal Abidin, Problematika Ijtihad, dalam
Jalaluddin Rahmad, (editor), Ijtihad Dalam Sorotan (Bandung: Mizan,
1988), h. 87.
32
I. Zainal Abidin, ibid., h. 88
33
Nurcholis Madjid, Khazanah IntelektualIslam (Jakarta: Bulan Bintang,
1984), h. 5.
34
I. Zainal Abidin, op. cit., h. 88
35
Ibid., h. 88
36
Al-Shanani, Subul al-Salam: Syarh Bulugh al-Maram, juz. IV
(Singapura-Jeddah:, al-Maramain, 1960), h. 155.
37
Ibn Hajar, al Asgalani, Fath al-Bar: Syarh Shahih alBukhuri, juz Xl
(Bairut: Dar al-Kutub al-Illmiyyah, 2000), h. 50.
38
Ibid., h. 50
15

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

149

Asbab al-Wurud... Zuhad

Al-Shanani, op. cit., h. 156


Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad (Jakarta: Rute
Mas, 1973), h. 161
41
Akram Dhiyauddin Umari, Mawarakat Madani (Jakarta: Gema
Insani, 1999), h. 63-67.
42
Muhammad Husain Haikal, op.cit., vol. 1, h. 211.
43
Ibid, Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik Islam Era Reformasi
(Jakarta: Paramadma, 1999), h. 64-65
44
Ibn al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418),
vol. II, h. 33-34.
45
Ibid., h. 64-65
46
Ibid., h. 75-77
47
Akram Dhiyauddin Umari, op. cit., h. 155
48
Ibid., h. 155
49
Ibn al-Atsir, op.cit., h. 99-104; Haikal, op.cit., vol. II, h. 120-126.
39

40

DAFTAR PUSTAKA
Al-Zaraqni, Manahil al-Irfan Fi Ulum AI-Ouran, Dar Ihya al-Kutub al
Arabiyyah, tt.
Ahmad Ibn Hambal, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, jus III, Beirut:
Dar al-Fikr, tt.
Akram Dhiyauddin Umari, Mawarakat Madani, Jakarta: Gema Insani,
1999.
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Ju. I, Jakarta: Wijaya, 1992
Al-Shanani, Subul al-Salam, juz I, Kairo: Dar al-Ulum, 1960
Amin Abdullah, Studi Agama, Normativitas atau Historisitas, Yogyakarta:
Pustaka Pelaiar, 1996
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual,
Bandung: Pustaka, 1985.
Hamim Ilyas dan M. Azhari (ed), Pengembangan Pemikiran Keislaman
Muhammadiyah Purifikasi dan Dinamisasi, Yogyakarta: LPPI, 2000.
Ibn al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418.
Ibn Hajar, al Asgalani, Fath al-Bar: Syarh Shahih alBukhuri, juz Xl,
Bairut: Dar al-Kutub al-Illmiyyah, 2000.

150

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Asbab al-Wurud... Zuhad

Ibn Hamzah al-Husaini, al-Bayan wa al-Tarif fi Asbab Wurud al-Hadis alSyarif, Bairut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah, juz I, tt.
Imam Muslim, Shahih Muslim, Jus IV, Mesir: Isa al-Babi al-Malabi, tt.
Jalaluddin Rahmad, (editor), Ijtihad Dalam Sorotan, Bandung: Mizan,
1988.
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan, 1992
M. Quraish Shihab, Tafsir Surat-surat Pendek, Jakarta: Pustaka Hidayah,
1997
Manna al-Qaththan, Mabahis fi Ulu al-Quran, Al-Riyat: Mansyurat alAshr al-Hadis, t.th.
Muhammad al-Ghazali, Studi Kritis Atas Hadis Antara Pemahaman
Tekstual dan Kontekstual, Bandung: Mizan, t.th.
Muhammad Husain Haekal, Seiarah Hidup Muhammad, Jilid 2, Jakarta:
Tintamas, 1973.
Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir at Manar, Jus VI, Mesir: Muhammad
Ali shabih, 1953
Muhammad Usman al-Khusyat, Mafatih ulum al-Hadis, Kairo: Maktabah
al-Quran, t.th.
Muslim, Shahih Muslim, Juz. 3, Kairo: Mushthafa al-Babi al-Hlalabi, t.t
Nurcholis Madjid, Khazanah IntelektualIslam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik Islam Era Reformasi (Jakarta:
Paramadina, 1999.
Nurcholish Madjid, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta:
Paramadina, 1994
Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang tekstual dan Kontekstual, Jakarta, Bulan
Bintang, 1994

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

151

Asbab al-Wurud... Zuhad

152

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005