Anda di halaman 1dari 4

Soal Ujian Akhir Semester

Ekonomi Mikro Islam


Fakultas Ilmu Agama Islam
Universitas Islam Indonesia

A. Jawablah Pertanyaan Berikut Ini:
1. Jelaskan perbedaan produksi dalam ekonomi konvensional dan ekonomi Islam
disertai pandangan ilmuwan muslim? Faktor apa saja yang mempengaruhi
produksi dalam Islam? 15
a. produksi diartikan sebagai penggunaan atau pemanfaatan sumber daya untuk
mengubah suatu komoditi menjadi komoditi lain yang berbeda, baik dalam
pengertian apa, dimana atau kapan komoditi-komoditi itu dialokasikan, maupun
dalam pengertian apa yang dapat dikerjakan oleh konsumen terhadap komoditi.
b. Produksi dalam Islam berkaitan erat dengan bekerja, yaitu satu aktivitas yang
dilakukan seseorang secara bersungguh-sungguh dengan mengeluarkan seluruh
potensinya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam mendefinisikan produksi Dr.
M. Rawwas Qalahji memberikan padanan kata produksi dalam bahasa Arab
dengan kata: al-intaj secara esoteris dimaknai dengan ijadu silatin
(mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu muayyanatin bi
istikhdami muzayyajin min anashiril intaji dhamina itharu zamanin muhaddadin
(pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsurunsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas. Dr. Abdurrahman
Yusri Ahmad dalam bukunya: Muqaddimah Fi Ilmi al-Iqtishad al-Islami.
Abdurrahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi
yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari
hasil produksi tersebut.
c. tingkat produksi suatu barang tergantung kepada jumlah modal, jumlah tenaga,
jumlah kekayaan alam, dan tingkat teknologi yang digunakan
2. Tabel dibawah menunjukkan gambaran secara umum mengenai produksi suatu
barang pertanian di atas sebidang tanah yang jumlahnya diasumsikan tetap,
tetapi jumlah tenaga kerjanya yang semakin berkurang. Hitunglah Produksi

marjinal dan Produksi rata-rata yang dicapai oleh produsen? dan buatlah kurva
dari table tersebut? 25
Tenaga
Kerja
(Orang)
(2)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tanah
(Hektar)
(1)`
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Produksi
Total
(unit)
(3)
200
450
860
1150
1310
1460
1525
1540
1420
1200

Produksi
Marjinal
(4)
200
250
410
290
160
150
65
15
-120
-220

Produksi
rata-rata
(unit)
(5)
200
225
286.667
287.5
262
243.33
217.85
192.5
157.778
120

Tahap
(unit)
(6)
PERTAMA

KEDUA

KETIGA

3. Bagaimana ekonom muslim memandang mekanisme pasar yang Islami? dan


bagaimana intervensi harga dalam perspektif ekonomi mikro Islam? 20
a. Terkait dengan mekanisme pasar, Abu Yusuf memperhatikan peningkatan dan
penurunan produksi dalam kaitannya dengan perubahan harga. Yang menjadi
fenomena adalah ketika terjadi kelangkaan barang, harga cenderung naik dan
sebaliknya. Hal ini terkait dengan hubungan harga dan kuantitas barang yang
hanya memperhatikan kurva demand.1 Menurut Abu Yusuf, dapat saja harga tetap
mahal

ketika persediaan barang melimpah, sementara harga akan murah

meskipun persediaan barang berkurang, karena dalam kenyataannya, harga tidak


hanya bergantung pada permintaan saja, tetapi juga bergantung pada kekuatan
penawaran.
Al-Ghazali dengan tegas menyebutkan bahwa keuntungan bisnis yang ingin
dicapai seorang pedagang adalah keuntungan dunia akhirat, bukan keuntungan
dunia

saja,

yang

dimaksud

dengan

keuntungan

akhirat

agaknya

adalah, Pertama, harga yang dipatok si penjual tidak boleh berlipat ganda dari
modal, sehingga memberatkan konsumen, Kedua, berdagang adalah bagian dari
realisasi taawun (tolong menolong) yang dianjurkan Islam. Pedagang mendapat
untung sedangkan konsumen mendapatkan kebutuhan yang dihajatkannya. Ketiga,

1 Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: Pustaka Asatruss, 2005, h. 85

berdagang dengan mematuhi etika ekonomi Islami, merupakan aplikasi syari`ah,


maka ia dinilai sebagai ibadah.
Ibnu Taimiyah : Harga yang adil, Pasar yang adil, Laba yang adil, Upah yang adil.
b. dalam situasi-situasi tertentu ia bahkan mewajibkan pemerintah mengeluarkan
kebijakan intervensi harga. Situasi-situasi itu, yaitu:
a) Menyangkut kepentingan masyarakat dalam arti luas, yaitu melindungi
penjual dalam hal keuntungan (profit margin) dan konsumen dalam hal daya
beli (purchasing power). Dalam pandangan Islam penjual berhak mendapatkan
keuntungan yang wajar, sementara pembeli berhak membeli dengan harga
yang setara dengan manfaat yang diperolehnya.
b) Bila tidak dilakukan price intervention maka diperkirakan pejual akan
menaikkan harga dengan cara ikhtikar atau ghaban faahisy. Dalam hal ini
berarti penjual merugikan (menzalimi) konsumen, sebab konsumen harus
membeli di atas harga pasar.
c) Pembeli biasanya merupakan kelompok masyarakat yang lebih luas
dibandingkan dengan penjual, sehingga price intervention berarti pula
melindungi kepentingan masyarakat.
d) Alasan Ibnu Qudamah yang terakhir, yaitu untuk melindungi kepentingan
masyarakat yang lebih luas sebagaimana juga dianjurkan oleh Al Ghazali
(Jalaluddin, 1991).

4. Jelaskan perbedaan monopoli dan ikhtikar dalam Islam? dan bagaimana peran
pemerintah dalam pasar monopoli? 20
Pada dasarnya dalam ekonomi Islam, monopoli tidak dilarang, siapapun boleh
berusaha/berbisnis tanpa peduli apakah dia satu-satunya penjual (monopoli) atau ada
penjual lain, asalkan tidak melanggar nilai-nilai Islam. Dalam hal ini yang dilarang
berkaitan dengan monopoli adalah ikhtikar, yaitu kegiatan menjual lebih sedikit
barang dari yang seharusnya sehingga harga menjadi naik untuk mendapatkan
keuntungan di atas keuntungan normal, di dalam istilah ekonomi kegiatan ini disebut
sebagai monopolys rent seeking behaviour.
Karena dalam monopoli kekuasaan produsen tunggal pada suatu pasar dapat menjadi
semakin besar, maka pemerintah ikut campur dalam sector yang dikuasai oleh monopolis
tersebut untuk mencegah jangan sampai besarnya kekuasaan tersebut disalahgunakan. Ada
beberapa pengaturan atau campur tangan pemerintah, antara lain:

1. Pemerintah dapat membuat undang-undang yang melarang adanya monopoli dan


kolusi diantara para pengusaha yang mempunyai akibat yang sama dengan monopoli.
2. Pemerintah dapat mengusahakan sendiri bidang usaha ini. Misalnya pos, telepon, air,
listrik dan sebagainya ditempatkan dalam penguasaan pemerintah, agar kepentingan
masyarakat banyak selalu diperhatikan.
3. Pemerintah dapat menerapkan pajak progresif atas dasar kecilnya pangsa pasar yang
dimiliki oleh suatu perusahaan. Seorang monopolis murni akan mendapat beban
tertinggi karena pangsa pasar yang dikuasainya adalah seratus persen.

5. Bagaimana peran ZISWAF dalam pengembangan ekonomi ummat? Jelaskan!


20