Anda di halaman 1dari 8

Lemak Kasar

Khairul(2009) menyatakan bahwa lemak kasar yang dihasilkan dari


penentuan lemak kasar adalah ekstraksi dari klorofil,xanthofil,dan karoten. Bahan
yang mengandung banyak lemak kasar adalah tepung kedele.Ini dikarenakan
tepung kedele merupakan sumber lemak nabati. Cherney (2000) melaporkan bahwa
lemak kasar terdiri dari lemak dan pigmen. Zat-zat nutrien yang bersifat larut dalam
lemak seperti vitamin A, D, E dan K diduga terhitung sebagai lemak kasar. Pigmen
yang sering terekstrak pada analisa lemak kasar seperti klorofil atau xanthophil.
Analisa lemak kasar pada umumnya menggunakan senyawa eter sebagai bahan
pelarutnya, maka dari itu analisa lemak kasar juga sering disebut sebagai ether
extract .
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu
proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari
analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter
juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter
untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Penetapan kandungan
lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk
mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning
menjadi jernih (Mahmudi, 1997).
Anggorodi. R. 2005. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal

Manajemen

Pendidikan

Dasar

dan

Menengah,

Departemen

Pendidikan

Nasional,

Jakarta.

http//:Wikipedia.com/nutrisi.
Mahmudi, M. 1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Fosfat Menggunakan Cara Ekstraksi Cair-Cair dengan
Solven

Campuran

Isopropanol

dan

n-Heksan.

Semarang:

Universitas

Diponegoro.

Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah
Mada,

Yogyakarta.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak
Dasar.
Winarno.
Hafes.

Gadjah
2004.
E.

Mada

Kimia
S.

Pangan

E.2000.

dan
Metode

University
Gizi.

Jakarta:

Analisis

Press,
PT.

Proksimat.

Karra , 2003. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta.

Gramedia
Jakarta

Yogyakarta.
Pustaka
:

Utama
Erlangga.

Yunus (2008) yang mengatakan bahwa kandungan yang ada pada


lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan
campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil
dan karoten.
Khairul (2009) menyatakan bahwa lemak kasar yang dihasilkan dari
penentuan lemak kasar adalah ekstraksi dari klorofil, xanthofil, dan
karoten.
Khairul.2009 . Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa.
Bandung.

Metode Soxhlet
Metode Soxhlet termasuk jenis ekstraksi menggunakan pelarut semikontinu.
Ekstraksi dengan pelarut semikontinu memenuhi ruang ekstraksi selama 5 sampai
dengan 10 menit dan secara menyeluruh memenuhi sampel kemudian kembali ke
tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur melalui berat yang hilang dari contoh
atau berat lemak yang dipindahkan. Metode ini menggunakan efek perendaman
contoh dan tidak menyebabkan penyaluran. Walaupun begiru, metode ini
memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode kontinu (Nielsen 1998).
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan
adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still
pot (wadah penyuling, bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon
arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling
water in, dan cooling water out (Darmasih 1997).
Menurut Lehninger (1982) lemak merupakan bagian dari lipid yangmengandung asam
lemak jenuh bersifat padat. Lemak merupakan senyawa organik yang terdapat di
alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya
dietil eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena, hexana dan hidrokarbon lainnya.
Lemak dapat larut dalam pelarut tersebut karena lemak mempunyai polaritas yang
sama dengan pelarut (Herlina 2002).

Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang


termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik
yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi
larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil
eter, Kloroform, benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak
dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di
atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang
sama dengan pelaut tersebut. Lemak dan minyak
merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol. Jadi
lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester.
Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam
karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat ini juga disebut
asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang
panjang dan tidak bercabang. Dalam pembentukannya,
trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu
molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya
ketiga asam lemak tersebut berbeda beda), yang
membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air
(Nett, 2002).

Analisa lemak dan minyak yang umum dilakukan


dapat dibedakan menjadi tiga kelompok
berdasarkan tujuan analisa, yaituPenentuan
kuantitatif, yaitu penentuan kadar lemak dan
minyak yang terdapat dalam bahan mkanan atau
bahan pertanian, Penentuan kualitas minyak
sebagai bahan makanan, yang berkaitan dengan
proses ekstraksinyac atau ada pemurnian lanjutan,

misalnya penjernihan (refining), penghilanganbau


(deodorizing), penghilangan warna (bleaching).
Penentuan tingkat kemurnian minyak ini sangat
erat kaitannya dengan daya tahannya selama
penyimpanan,sifat gorengnuya,baunya maupun
rasanya.tolak ukur kualitas ini adalah angka asam
lemak bebasnya (free fatty acid atau FFA), angka
peroksida ,tingkat ketengikan dan kadar air (Netti,
2002).
Tabel 1. Perbedaan minyak dengan lemak
Jenis

Lemak

Minyak

Ikatan rangkap

Sedikit

Banyak

Titik leleh

Tinggi

Rendah

Wujud

Padat

Cair

Sumber

Umumnya dari hewani

Umumnya dari tumbuhan

Reaktifitas

Tidak mudah tengik

Mudah tengik

Salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk


mengisolasi lemak dari suatu bahan sekaligus
menentukan kadar lemaknya adalah dengan metode
ekstraksi soxhlet. Metode soxhlet merupakan metode
ekstraksi yang bersifat semi kontinu. Prinsip soxhlet ialah
ekstraksi menggunakan peralatan labu lemak yang
disambung dengan alat destilasi soxhlet atau kondesor
ataupun ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru
yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan
jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik.
Soklet terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping,
still pot (wadah penyuling), bypass sidearm, thimble
selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm

outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling


water in, dancooling water out. Metode soxhlet ini dipilih
umumnya karena pelarut yang digunakan lebih sedikit
(efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui
sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang
digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan
meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih
cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan
harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk
ekstraksi senyawa yang tahan panas (Candra, 2010).
Ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih
tinggi karena pada cara ini digunakan pemanasan yang diduga
memperbaiki kelarutan ekstrak. Dibandingkan dengan cara
maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang
lebih tinggi. Makin polar pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan
tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi (Whitaker 1915).
Whitaker, M.C. 1915. The Journal of Industrial and Engineering Chemistry. Easton:
Eschenbach Printing Company

Kedelai adalah biji-bijian yang tertinggi kandungan proteinnya


yaitu sekitar 42%. Sewaktu panen biji kedelai masih cukup tinggi
kandungan kadar airnya. Oleh karena itu perlu diturunkan lagi
kadar airnya menjadi sekitar 15% agar dapat lama disimpan. Bila
digunakan sebagai pakan perlu digiling terlebih dahulu agar
mudah dicampur. Bagi ternak non ruminansia ( babi muda dan
unggas ) perlu adanay pemansan 1150C selama 10 menit
sehingga tidak mengganggu proses pencernaan. -kadar air
2% calsium 0,4% , protein kasar: 46% , fospor : 0,8%, serat kasa :
6,5 %, aflatonin : 50 (ppg) abu : 7%, lemak kasar : 3,7%.
(Parning, 2000).

Alamsyah, R. 2002. Pengolahan Pakan Ayam Secara Modern. Erlangga. Jakarta.


Anggordi. 2006. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: PT Gramedia.
Eszra.Y.2004. Analisa Makanan.Erlangga. Jakarta.
Handaka. 2008. Nutrisi Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Lubis. 2007. Ilmu Makanan Ternak Umum. Erlangga. Jakarta.
Maynard dan Loossi. 2001. Makanan Ternak Unggas. BPFE : Yogyakarta.
Prawiradiputra,dkk. 2001. Manfaat Pakan Bagi Ternak. Bhratara Karya Aksara : Jakarta.
Praworo .2003. Bahan Kuliah Bahan Pakan. Fakultas Peternakan : Universitas
Jakarta.
Santoso. 2003. Teknik Formulasi Ransum. Erlangga.Yogjakarta
Sinurat. 2000. Analisa Hasil Pangan . Erlangga. Jakarta.
Sarmono. 2007. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta.
Smith. 2000. Penuntun Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Yudistira. Jakarta.
Suprapto. 2002. Pembuatan Pakan Ternak Unggas . Depdikbud. Jakarta.
Tilman. 2003. Formulasi Bahan Pakan. PT PWI. Jakarta.
Triaz.2008.Bahan Makanan Ternak.Erlannga:Jakarta
Zardian. 2001. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.

Kadar Lemak kasar (% LK)


Kadar Lemak kasar yang didapat dari tabel diatas merupakan hasil dari pengamatan
terhadap bahan pakan diatas. Walaupun lemak yang diperoleh bukan lemak murni karena
campuran beberapa zat-zat diantaranya klorofil,santofil, dan karoten. Lemak kasar ini ditentukan
menggunakan alat soxhlet. Lemak kasar ini juga adalah zat yang tidak dapat larut dalam air akan
tetapi dapat larut pada pelarut lemak seperti eter,kloroform, dan benzene.Pembahasan dan hasil
diatas sesuia dengan pernyataan yang disampaikan oleh Yunus, (2008) yang mengatakan bahwa
kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan
campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya
sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin
balik. Soxhlet merupakan alat yang terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot
(wadah penyuling) bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon
arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out.
Penetapan kadar lemak dengan metode soxhlet ini dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak
dari bahan dengan pelarut anhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang benar-benar
bebas air. Hal tersebut bertujuan supaya bahan-bahan yang larut air tidak terekstrak dan
terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut tidak berkurang. Pelarut yang biasa
digunakan adalah pelarut hexane (Darmasih 1997).
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang dan kemudian dibungkus dengan kertas
saring atau ditempatkan dalam thimble (selongsong tempat sampel), di atas sample ditutup
dengan kapas. Kertas saring ini berfungsi untuk menjaga tidak tercampurnya bahan dengan
pelarut lemak secara langsung. Pelarut dan bahan tidak dibiarkan tercampur secara langsung
agar bahan-bahan lain seperti fosfolipid, sterol,asam lemak bebas,pigmen karotenoid, klorofil
dan lain-lain tidak ikut terekstrak sebagai lemak. Hal ini dilakukan agar hasil akhir dari
penentuan kadar lemak ini lebih akurat. Selanjutnya labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi
batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan
pelarut anhydrous (Lucas 1949).
Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan)
dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang
digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang
digunakan lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah
menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas (Harper 1979).

Anonim. 2008. Penetapan kadar lemak kasar. www.whale.wheelock.edu/bwcontaminants/analysis . [14


November 2011]
[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2007.

Kategori Pangan tentang

acuhan label gizi. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia: Jakarta
Buckle K A. 1987. Ilmu Pangan. Cetakan pertama. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal 13-14.
Buckle KA , Edwards RA , Fleet GH dan Wootton M. (1987). Ilmu Pangan. Terjemahan H. Purnomo.
Universitas Indonesia: Jakarta

Darmasih. 1997. Prinsip Soxhlet. peternakan.litbang.deptan.go.id/user/ptek97-24.pdf. [28 Maret 2010]


[Depkes]. 1995. Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Departemen Kesehatan RI. Direktora
Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Departemen
Kesehatan: Jakarta.
Dewan Standardisasi Nasional. 1992. SNI 01-2973-1992; Biskuit. Dewan
Standardisasi Nasional
Harper VW Rodwell, PA Mayes. 1979. Biokimia. Jakarta: Penerbit EGC.
Ilyas. 2003. Formulasi biskuit dengan penambahan tepung ikan lele
dumbohttp://fema.ipb.ac.id/index.php/ [12 November 2011]
Jakson G. 2008. Cadiovasculer Update, Insight in to Heart Disease. England: Update
Publications.
Lucas, Howard J, David Pressman. 1949. Principles and Practice In Organic Chemistry. New York:
John Wiley and Sons, Inc.
Moljanto. 1982. Tepung ikan. www.fema.ipb.ac.id/index.php/ [12 November 2011]
Muhilal ; JIdrus ; Husaini ; Dj. Fasli dan Ig. Tarwotjo. 1998. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan dalam
Risalah Widyakarya Pangan dan Gizi VI. Jakarta.
Poedji A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Cetakan pertama. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal
51-381.
Risti. 2011. Produk inovatif biskuit-lele-olahan http://ciputraentrepreneurship.com [12 November 2011]
Sudarmadji A. 1994. Analisa Bahan Makanan dan Pertania. Jakarta: Liberty. Hal 93-105
Sudha ML. 2007. Fat replacement in soft dough biscuits. Journal of Food Engineering 80 hal 922-930