Anda di halaman 1dari 37

AdolescentIdiopathicScoliosis

Supervisor Pembimbing:
dr. Pranajaya Dharma Kadar, Sp.OT(K)

Anatomi Tulang Vertebrae

DEFINISI
Skoliosis adalah deformitas tulang
belakang yang menggambarkan deviasi
vertebra kearah lateral dan rotasional.
Skoliosis merupakan kelainan tulang
belakang dimana tulang belakang
mengalami pembengkokan ke arah
samping (lateral curvature) membentuk
huruf S atau C.

ETIOLOGI & FAKTOR RESIKO


Faktor genetik
Faktor hormonal
Perkembangan Spinal dan Teori
Biomekanik
Abnormalitas Jaringan
Jenis kelamin
Usia
Sudut kurva
Lokasi

KLASIFIKASI
Tipe Skoliosis:
Skoliosis Struktural
Skoliosis Non-Struktural
Jenis Kurva:
Kurva C
Kurva S

derajat kurva scoliosis :


a.
Skoliosis ringan
b.
Skoliosis sedang
c.
Skoliosis berat
Periode:
Infantile ( anak - anak )
Juvenile ( remaja )
Adolescent ( dewasa )

PATOFISIOLOGI
Penelitian terhadap anak kembar telah
menunjukkan faktor yang paling penting adalah
genetik.
Menurut analisis 13-meta menunjukkan bahwa
tidak hanya merupakan risiko untuk skoliosis
lebih besar pada kembar monozygotic
daripada kembar dizygotic dimana laju
perkembangan kurva hamper sama antara
kembar yang mengalami berbagai pengaruh
lingkungan.

Teori saat ini percaya bahwa skoliosis


adalah suatu kondisi multigene dominan
dengan ekspresi fenotipik variable.

GAMBARAN KLINIS
Pada Skoliosis jarang yang mengeluh tidak
nyaman atau nyeri, tetapi pada skoliosis
yang berat (dengan kelengkungan yang lebih
besar dari 60) bisa menyebabkan gangguan
pernafasan karena menurunkan kapasitas
paru-paru.
Sakit punggung
Sakit pinggang
Radang tulang belakang degeneratif
Gangguan sendi
Kesulitan jalan

Lokasi terjadinya skoliosis pada umumnya


di daerah sekitar rongga dada atau pada
rongga dada hingga daerah pinggang.

DIAGNOSIS

1. Anamnesis

- Perlu ditanyakan riwayat keluarga akan skoliosis atau suatu


catatan mengenai beberapa kelainan selama kehamilan atau
persalinan.
- Secara umum, anamnesis harus menyingkirkan penyebab
potensial scoliosis yang lain dan dapat memperkirakan derajat
kematangan skeletal. - Perlu ditanyakan adanya riwayat skoliosis
dalam keluarga penderita karena tendensi untuk menderita adalah
20 kali lebih besar.

- Biasanya penderita.skoliosis akan lebih cepat


lelah/ pegal bila terlalu lama duduk atau berdiri.
- Pada kurva yang lebih besar kadang-kadang
disertai dengan keluhan nyeri dan sesak.
-Pada pasien dengan deformitas lanjut, biasanya
sudah akan mengeluh adanya deformitas,
bentuk badan yang asimetris dan keluhan
kosmetis lainnya.

2. Pemeriksaan Fisik

Berdiri tegak, untuk melihat adanya:


- Asimetri bahu, leher, tulang iga, pinggul,
skapula
- Plum line (kesegarisan antara leher dan
pinggul)
- Body arm distance (jarak antar lengan
dengan badan)

Membungkuk, untuk melihat adanya:


- Rotasi (perputaran dari tulang punggung)
- Derajat pembungkukan (kifosis)
- Mengukur perbedaan panjang tungkai
bawah (leg length discrepancy)

Mencari :
- Kelenturan sendi
- Sinus-sinus pada kulit
- Hairy patches
- Palpable midline defect

3. Pemeriksaan Khusus
a. Dilihat dari belakang:
- Asimetri bahu pada penderita yang belum kompensasi
akan terlihat bahu pada sisi cembung akan lebih tinggi.
- Penonjolan scapula.
- Pembengkokan tulang belakang terlihat jelas dengan
memberi tanda pada masing-masing processus spinalis.
- Penonjolan ribs pada sisi cembung, terutama pada apex
di atas C7, karena scapula ikut terdorong.

- Garis pinggang atau tinggi pinggul tak sama.


Pinggang pada sisi cembung rata, terlihat penuh
dan lekuk pinggang hilang. Pada scoliosis
lumbal terdapat penonjolan paravertebra pada
sisi cembung kurva pinggang.
- Dilihat adanya deviasi kepala dan leher terhadap
celah lekuk pantat.
- Pelvic obliquity
- Kedua tungkai dinilai apakah sama panjang.

b. Dilihat dari depan:


Dapat dilihat asimetris pada bahu dan
payudara. Pada bagian yang
cembung, akan terlihat payudara lebih
menonjol.

4. Pemeriksaan Neurologik
Harus juga diperiksa terhadap gangguan
neorologik, seperti pemeriksaan refleks, sensasi,
fungsi motorik.

SCOLIOMETER
Skoliometer

adalah

sebuah

alat

untuk

mengukur sudut kurvatura. Cara pengukuran


dengan skoliometer dilakukan pada pasien
dengan

posisi

membungkuk,

kemudian

atur posisi pasien karena posisi ini akan


berubah-ubah
kurvatura

tergantung

pada

lokasi

5. Pemeriksaan Tambahan

Pemeriksaan dasar yang penting adalah foto


polos (roentgen) tulang punggung yang
meliputi:
- Foto AP dan lateral ada posisi berdiri: foto ini
bertujuan

untuk menentukan

derajat pembengkokan skoliosis


- Foto AP telungkup

- Foto force bending R and L: foto ini bertujuan


untuk
menentukan
derajat pembengkokan
setelah dilakukan bending
- Foto pelvik AP
Pada keadaan tertentu seperti adanya defisit
neurologis, kekakuan pada leher, atau sakit
kepala, dapat dilakukan pemeriksaan MRI.

DIAGNOSA BANDING
- Kiposis/ Kyphosis
Kiposis adalah suatu gangguan pada tulang
belakang di mana tulang belakang melengkung
kedepan yang mengakibatkan penderita menjadi
terlihat bongkok.
- Lordosis
Lordosis adalah suatu gangguan pada tulang
belakang di mana tulang belakang melengkung
kebelakang yang mengakibatkan penderita menjadi
terlihat bongkok ke belakang.

- Sublubrikasi
Sublubrikasi adalah kelainan pada tulang
belakang

pada

bagian

leher

yang

menyebabkan kepala penderita gangguan


tersebut berubah arah ke kiri atau ke
kanan.
- Spinal muskulas arthropy
- Cerebral palsy
- Muscular dystrophis

PENATALAKSANAAN

Observasi
Bracing
Pembedahan

Sistem grading Risser sering digunakan untuk


menentukan maturasi dari tulang kerangka seorang
anak (berapa banyak pertumbuhan yang tersisa) pada
panggul dan berkorelasi dengan berapa banyak
pertumbuhan tulang belakang yang tersisa.
Sistem ini berdasarkan dari maturasi dari tulang
kerangka anak dalam skala 0 hingga 5.
Pasien dengan grade Risser 0-1 menunjukkan
pertumbuhan yang berkembang cepat sedangkan
pasien dengan grade risser 4 dan 5 telah berhenti
pertumbuhannya.

Gambar A: Risser Grading System- seperti apophysis (area


pertumbuhan) bergerak dari luar ke dalam, anak tersebut telah
mendekati
maturasi
skeletal.

OBSERVASI
Observasi ini umumnya untuk pasien yang kurva
kurang dari 25-30 yaitu yang masih bertumbuh
atau untuk kurva yang kurang dari 45 pada
pasien yang sudah selesai pertumbuhannya.
Ahli bedah skoliosis sering melakukan berharap
untuk mengamati skoliosis setiap beberapa tahun
setalah pasien telah mengalami pertumbuhan
yang lengkap sebagai kepastian bahwa hal itu
tidak berkembang sehingga masa dewasa.

BRACING
Bracing dianjurkan untuk pasien yang kurva
berukuran antara 25-40 selama pertumbuhan
mereka.
Tujuaannya adalah untuk mencegah kurva
menjadi semakin besar. Hal ini dicapai dengan
memperbaiki kurva sementara pasien memakai
brace sehingga kurva tidak berkembang dengan
waktu

Gambar B: X-ray dan brace dari seorang perempuan muda


dengan skoliosis. Selalunya baju dipakai diatas brace.

Gambar C: X-ray sebelum dan sesudah pemakaian brace


yang menunjukkan koreksi dari kurva torakal dan lumbal.

PEMBEDAHAN
Penatalaksanaan
secara
pmbedahan
direkomendasikan
untuk
pasien
yang
mempunyai kurva lebih dari 45 yang masih
dalam
masa
pertumbuhan
atau
terus
berkembang lebih dari 45 apabila masa
pertumbuhan telah berhenti.
Tujuan dari pembedahan adalah mencegah
berkembangan kurva dan mendapatkan koreksi
dari kurva.

Gambar 1: A) Depan dan sebelah x-ray dari pasien adolescent idiopathic


scoliosis pada torakal. B) Post operasi koreksi melalui pendekatan
posterior dengan menggunakan 2 batang dan skrew pedikel.

Gambar 2: A) Depan dan samping x-ray dari pasien dengan


adolescent idiopathic scoliosis torakal dan lumbal. B) Post operasi
x-rays menunjukkan instrument diletakkan melalui pendekatan
anterior.

TERIMA KASIH