Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN OBSERVASI

JENIS KEANEKARAGAMAN FLORA DAN FAUNA


DI KAB. TEGAL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keanekaragaman Hayati
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Achmad Munandar, M.Pd

Oleh:
Bayu Wijayanto
1402083

PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta alam
semesta, manusia, dan kehidupan beserta seperangkat aturan-Nya, karena
berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan observasi dengan judul Jenis
Keanekaragaman Hayati di Kab. Tegal.
Maksud dan tujuan dari penulis laporan ini tidaklah lain untuk
memenuhi salah satu dari sekian kewajiban mata kuliah Keanekaragaman
Hayati serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab saya pada tugas
yang di berikan.
Pada kesempatan ini, saya juga menyampaikan ucapan terimakasih
kepada teman-teman dan juga semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan laporan ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat saya sampaikan dimana penulis pun
sadar bahwasanya penulis hanyalah manusia yang tidak luput dari kesalahan
dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanyalah milik Tuhan Azza
Wajala hingga dalam penulisan dan penyusunan masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan sarannya agar dapat terciptanya
perubahan yang lebih baik.
Semoga laporan yang penulis buat dapat bermanfaat atau hikmah bagi
saya, pembaca terutama bagi seluruh mahasiswa mahasiswi Universitas
Pendidikan Indonesia.
Bandung, 19 November 2014

Penulis,

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

ABSTRAK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keanekaragaman hayati merupakan salah satu potensi kekayaan
sumberdaya alam hayati yang pada saat ini menjadi masalah yang sangat
menarik. Hal ini dikarenakan potensi keanekaragaman hayati merupakan salah
satu pendorong bagi berkembangnya bioteknologi. Kekayaan sumberdaya alam
hayati ini tergolong yang dapat diperbaharui (Renewable Resources) sehingga
dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara terus menerus sebagai salah satu
komponen aset pembangunan suatu negara. Namun banyak negara belum melihat
potensi yang patut dikembangkan ini sebagai aset yang bermanfaat dan berguna
bagi peningkatan ekonomi suatu negara. Karena diabaikannya dalam
keikutsertaan sebagai bagian dari konsep pembangunan nasional di banyak
negara, tingkat penurunan dan perusakan keanekaragaman hayati meningkat
tajam. Di lain pihak, beberapa negara sudah mulai memanfaatkan
keanekaragaman hayati ini. Tapi hanya sebagian kecil saja yang berhasil karena
keterbatasan kemampuan yang dimilikinya seperti keterbatasan riset, teknologi
yang belum memadai, dana yang belum diprioritaskan dan beberapa masalah
lainnya. Keadaan ini menimbulkan keinginan negara-negara di dunia untuk
meningkatkan kerjasama internasional. Tujuan kerjasama ini tidak hanya untuk
memanfaatkan serta mengembangkan keanekaragaman hayati sebagai suatu
kekayaan dunia, akan tetapi juga melakukan tindakan konservasi agar tidak
mengalami degradasi yang cepat. Dan hal yang terpenting adalah diterapkannya
konsep sustainable use yaitu penggunaan berkelanjutan terhadap sumber genetika
keanekaragaman hayati ini yang akan diwariskan pada generasi mendatang.
Keanekaragaman hayati (Biodiversity) dapat dikatakan sebagai suatu
variasi atau perbedaan yang ada pada organisme-organisme hidup dan
lingkungan ekologi. Karena adanya variasi maka sering dikatakan sebagai jumlah
jenis yang ada. Maka makin besar jumlah jenis, makin tinggi tingkat
keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati juga dapat dikatakan sebagai
suatu istilah yang menekankan pada semua jenis spesies tumbuhan, hewan dan

mikroorganisme juga dengan ekosistimnya dimana mereka merupakan bagian


yang tak terpisahkan, termasuk jumlah dan frekuensi ekosistem, spesies dan gen
yang saling berkaitan.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di antara dua benua
(Asia dan Australia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia), dikaruniai
keanekaragaman hayati yang amat kaya dan khas. Dalam menilai potensi
keanekaragaman hayati , seringkali yang lebih banyak menjadi pusat perhatian
adalah keanekaragaman jenis (spesies) karena paling mudah teramati. Sekitar 10
% dari semua jenis makhluk hidup yang pada saat ini hidup dan menghuni bumi
ini terkandung pada kawasan negara Indonesia, yang luas daratannya tidak
sampai sepertujuh puluh lima dari luas daratan muka bumi.
Kabupaten Tegal yang terletak di Provinsi Jawa Tengah adalah kabupaten
yang memiliki karakteristik sebagai daerah potensial. Karakteristik ini didukung
oleh kekayaan hayati baik flora dan faunanya, memiliki obyek-obyek wisata agro
yang baik dan bisa dikembangkan menjadi agrowisata yang tidak hanya untuk
wisatawan domestik tapi bisa diarahkan untuk menjadi kawasan wisata nasioanl
yang potensial dengan dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan
pemerintah. Kota Tegal menyimpan banyak potensi sumberdaya alam
diantaranya adalah Pantai Alam Indah, Objek Wisata Gunung Guci yang sejuk
dan budaya pertanian yang baik.
Oleh karena itu mengingat betapa pentingnya pengetahuan tentang kondisi
kabupaten Tegal yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini maka perlu dikaji dan
diteliti lebih jauh tentang kekayaan hayati flora dan faunanya melalui penelitian
lapangan.

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan
1.4 Manfaat

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1

Landasan Teoritis
Indonesia memiliki keragaman flora dan fauna (keanekaragaman hayati)

yang sangat besar. Bahkan, keanekaragaman hayati Indonesia termasuk tiga besar
di dunia bersama-sama dengan Brazil di Amerika Selatan dan Zaire di Afrika.
Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan, pada tahun 1999
jumlah spesies tumbuhan di Indonesia mencapai 8.000 spesies yang sudah
teridentifikasi dan jumlah spesies hewan mencapai 2.215 spesies. Spesies hewan
terdiri atas 515 mamalia, 60 reptil, 1.519 burung, dan 121 kupu-kupu.Besarnya
keanekaragaman hayati di Indonesia berkaitan erat dengan kondisi iklim dan
kondisi fisik wilayah. Suhu dan curah hujan yang besar memungkinkan
tumbuhnya beragam jenis tumbuhan. Tumbuhan memerlukan air dan suhu yang
sesuai. Makin banyak air tersedia makin banyak tumbuhan yang dapat tumbuh
dan karena itu makin banyak hewan yang dapat hidup di daerah tersebut.

2.1.1. Persebaran Flora (dunia tumbuhan) di Indonesia


Tumbuh-tumbuhan yang hidup di suatu tempat ada yang tumbuh secara
alami dan ada juga yang dibudidayakan oleh manusia. Flora atau dunia tumbuhan
di berbagai tempat di dunia pasti berbeda-beda, Hal ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain sebagai berikut :

Iklim

Jenis tanah

Relief atau tinggi rendah permukaan bumi

Biotik (pengaruh makhluk hidup).


Adanya faktor-faktor tesebut, Indonesia memeliki keanekara- gaman jenis

tumbuh-tumbuhan. Iklim memiliki pengaruh yang sangat besar terutama suhu


udara dan curah hujan. Daerah yang curah hujannya tinggi memiliki hutan yang
lebat dan jenis tanaman lebih bervariasi, misalnya: di Pulau Sumatera dan
Kalimantan .Sedangkan daerah yang curah hujannya relatif kurang tidak memiliki
hutan yang lebat seperti di Nusa Tenggara. Daerah ini banyak di tum- buhi semak
belukar dengan padang rumput yang luas. Suhu udara juga mempengaruhi
tanaman yang dapat hidup di suatu tempat. Junghuhn telah membuat zonasi
(pembatasan wilayah) tumbuh- tumbuhan di Indonesia sebagai berikut :

Daerah panas (0 650 meter), tumbuhan yang cocok di daerah ini adalah
kelapa, padi, jagung, tebu, karet.

Daerah sedang ( 650 1500 meter), tumbuhan yang cocok di daerah ini
adalah kopi, tembakau, teh, sayuran.

Daerah sejuk ( 1500 2500 meter), tumbuhan yang cocok di daerah ini
adalah teh, sayuran, kina, pinus.

Daerah dingin (di atas 2500 meter) tidak ada tanaman budidaya

Flora di Indonesia ternyata dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar,


yaitu Indo-Malayan dan Indo-Australian. Kelompok Indo-Malayan meliputi
kawasan Indonesia Barat. Pulau-pulau yang masuk ke dalam kelompok ini adalah
Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Kelompok Indo-Australian meliputi
tumbuhan yang ada kawasan Indonesia Timur. Pulau-pulau yang termasuk dalam
kawasan ini adalah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Perbandingan
karakteristik flora yang ada di Indonesia Barat dan Indonesia Timur adalah
sebagai berikut.

Beberapa jenis flora di Indonesia yang dipengaruhi oleh iklim antara lain sebagai
berikut :

Hutan Musim, terdapat di daerah Indonesia yang memiliki suhu udara


tinggi dan memiliki perbedaan kondisi tumbuhan di musim hujan dan
musim kemarau. Pada musim kemarau pohonnya akan meranggas dan
pada musim hujan akan tumbuh hijau kembali. Contoh hutan musim ialah
hutan jati dan kapuk randu. Hutan musim banyak terdapat di Jawa Tengah
dan Jawa Timur.

Hutan Hujan Tropis, terdapat di daerah yang curah hujannya tinggi.


Indonesia beriklim tropis dan dilalui garis khatulistiwa sehing- ga
Indonesia banyak memperoleh sinar matahari sepanjang tahun, curah
hujan tinggi dan temperatur udara tinggi. Di Indonesia hutan hujan tropis
terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Sabana, terdapat di daerah yang curah hujannya sedikit. Sabana berupa

padang rumput yang diselingi pepohonan yang bergerombol. Sabana


terdapat di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Steppa, adalah padang rumput yang sangat luas. Stepa terdapat di daerah

yang curah hujannya sangat sedikit atau rendah. Stepa terda- dapat di Nusa
Tenggara Timur, baik untuk peternakan.
Hutan Bakau atau Mangrove, adalah hutan yang tumbuh di pantai yang

berlumpur. Hutan bakau banyak terdapat di pantai Papua, Sumatera bagian


timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

(a). Hutan Hujan Tropis, (b). Sabana, (c). Steppa, (d). Hutan Mangrove
Berbagai jenis flora tersebut telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia, baik sebagai bahan furniture, bahan bangunan, bahan makanan, dan lainlain. Sebagai contoh, rotan banyak dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan
kursi, meja, dan perabotan rumah tangga lainnya. Berbagai jenis kerajinan
dihasilkan dengan memanfaatkan bahan dari rotan. Sentra penghasil produk
kerajinan tersebut banyak berkembang di daerah-daerah tertentu, misalnya di
Cirebon dan daerah lainnya di Pulau Jawa.
2.1.2.

Persebaran Fauna (dunia hewa) di Indonesia


Fauna Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga corak yang berbeda,
yaitu fauna bagian barat, tengah, dan timur. Garis yang memisahkan fauna
Indonesia bagian Barat dan Tengah dinamakan garis Wallace, sedangkan garis
yang memisahkan fauna Indonesia bagian Tengah dan Timur dinamakan Garis

Weber.

1. Fauna tipe Asiatis, Fauna Indonesia bagian Barat atau tipe asiatis
mencakup wilayah Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Mamalia
berukuran besar banyak ditemui di wilayah ini seperti gajah, macan, tapir,
badak bercula satu, banteng, kerbau, rusa, babi hutan, orang utan, monyet,
bekantan, dan lain-lain. Selain mamalia, di wilayah ini banyak pula
ditemui reptil seperti ular, buaya, tokek, kadal, tokek, biawak, bunglon,
kura-kura, dan trenggiling. Berbagai jenis burung yang dapat ditemui di
antaranya burung hantu, gagak, jalak, elang, merak, kutilang, dan berbagai
macam unggas. Berbagai macam ikan air tawar seperti pesut (sejenis
lumba-lumba di Sungai Mahakam) dapat ditemui di wilayah ini.
2. Fauna tipe Australis, Fauna Indonesia bagian Timur atau disebut tipe
australic tersebar di wilayah Papua, Halmahera, dan Kepulauan Aru. Fauna
berupa mamalia yang menghuni wilayah ini antara lain kangguru, beruang,
walabi, landak irian (nokdiak), kuskus, pemanjat berkantung (oposum
layang), kangguru pohon, dan kelelawar. Di wilayah ini, tidak ditemukan
kera. Di samping mamalia tersebut, terdapat pula reptil seperti biawak,
buaya, ular, kadal. Berbagai jenis burung ditemui di wilayah ini di
antaranya burung cenderawasih, nuri, raja udang, kasuari, dan namudur.
Jenis ikan air tawar yang ada di relatif sedikit.
3. Fauna Peralihan dan asli, Fauna Indonesia Tengah merupakan tipe
peralihan atau Austral Asiatic. Wilayah fauna Indonesia Tengah disebut
pula wilayah fauna kepulauan Wallace, mencakup Sulawesi,
Maluku, Timor, dan Nusa Tenggara serta sejumlah pulau kecil di sekitar
pulau-pulau tersebut. Fauna yang menghuni wilayah ini antara lain babi

rusa, anoa, ikan duyung, kuskus, monyet hitam, kuda, sapi, monyet saba,
beruang, tarsius, sapi, dan banteng. Selain itu terdapat pula reptil, amfibi,
dan berbagai jenis burung. Reptil yang terdapat di daerah ini di antaranya
biawak, komodo, buaya, dan ular. Berbagai macam burung yang terdapat
di wilayah ini di antaranya maleo, burung dewata, mandar, raja udang,
rangkong, dan kakatua nuri. Berikut ini gambar contoh fauna Indonesia
bagian Tengah.
2.1.3. Karakteristik Daerah Penelitian

2.2 Penelitian Relevan

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat Penelitian
3.2 Waktu Penelitian
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Observasi

3.3.2 Studi Pustaka

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Umum
Keanekaragaman hayati berperan penting sebagai pemenuhan kebutuhan
dasar masyarakat seperti sandang, pangan, papan, obat-batan, dan bahan bakar.
Pemanfaatan keanekaragaman hayati tidak terbatas pada hal tersebut di atas, tetapi
lebih luas lagi yaitu berperan dalam pengaturan kondisi lingkungan seperti
kesuburan tanah, hidrologi, suhu, kelembaban dan pengendalian pencemaran
udara, namun potensi yang sangat besar belum dimanfaatkan dengan baik, bahkan
pada tahun-tahun terakhir ini terjadi kemrosotan keanekaragaman hayati akibat
dari eksploitasi yang berlebihan dan dapat menyebabkan penurunan dalam hal
jenis serta populasinya bahkan kepunahan.

4.2

Jenis Flora dan Fauna di Kab. Tegal


Kabupaten Tegal yang termasuk salah satu wilayah Kabupaten di Provinsi

Jawa Tengah memiliki daftar flora atau fauna dengan status dilindung, namun
belum dilakukan inventarisasi secara mendetail terhadap kekayaan
keanekaragaman hayati yang ada di Kabupaten Tegal, sehingga Instansi terkait
dalam hal ini Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal terus berusaha
meningkatkan pemantauan terhadap populasi maupun kelestarian flora fauna
yang dilindungi.
4.2.1. Flora
1. Pohon Palem

Suku pinang-pinangan atau Arecaceae merupakan sekelompok tumbuhan


berbunga yang banyak anggotanya memiliki nilai penting dalam kehidupan
manusia. Kelapa dikenal seluruh penduduk kepulauan tropika sebagai tumbuhan
serba guna. Demikian pula enau dan pinang. Pemanfaatannya mencakup hampir
semua bagian tumbuhan, namun terutama adalah buahnya. Suku ini dulu dikenal
sebagai Palmae dan mencakup semua tumbuhan yang biasa disebut palma atau
palem. Tabel 1. Macam Pohon Palem
No
1

Nama ilmiah
Caryota no

Nama daerah
Palem raja/Indonesia

Gambar 1. Palem raja/ Indonesia


2

Ceratolobus glaucescens

Palem jawa

Gambar 2. Palem jawa

Pinanga javana

Pinang Jawa

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pohon Palem

Penjelasan: Daun majemuk dan


tersusun menyirip tunggal yang
khas dan menjadi tanda pengenal
yang paling mudah. Pada beberapa
kelompok ditumbuhi duri. Tangkai
daun dilengkapi pelepah daun yang

membungkus batang.

Gambar 4. Daun Palm

Penjelasan:
Akar Palem tumbuh dari pangkal
batang, berbentuk silinder, kurang
bercabang tetapi biasanya tumbuh
banyak dan masif (padat). Akar
palem biasanya menghunjam dalam
ke tanah, sehingga mampu
menopang batang yang tumbuh
menjulang tinggi (hingga 20m atau
bahkan lebih).

Penjelasan:
Batangnya beruas-ruas dan tidak
memiliki kambium sejati. Bila diiris
melintang, batangnya
memperlihatkan saluran pembuluh
yang menyebar di bagian dalamnya.
Luka batang ini cenderung tidak
tertutup kembali, justru malah
membesar atau malah membusuk.

Penjelasan:
Bunga tersusun dalam karangan
yang bila masih muda terlindung
oleh seludang bunga. Karangan
bunga palem ini disebut mayang.
Tangkai mayang ini bila dilukai
akan mengeluarkan cairan manis
yang disebut nira. Dalam karangan
bunga ini terdapat bunga betina
dan/atau bunga jantan. Jika
keduanya ditemukan bunga betina
terletak di bagian lebih pangkal.
Orang Jawa menyebut bunga betina
sebagai bluluk. Penyerbukan
dilakukan oleh serangga atau
burung.

Penjelasan:
Buah Palem biasanya memiliki
kulit luar yang relatif tebal,
yang menutupi bagian dalam
(mesokarpium) yang berair atau
berserat. Biji dilindungi oleh
lapisan

buah

bagian

dalam

(endokarpium) yang keras dan


berkayu. Pada kelapa, lapisan
ini disebut sebagai batok. Serat
buah

dikenal

juga

sebagai

sabut. Di dalam batok terdapat


biji yang ketika buah masih
muda relatif cair dan berangsurangsur

membentuk

endapan

yang semakin lama mengeras.


Endapan

ini

biasanya

mengandung banyak lemak dan


protein. Beberapa jenis masih
menyisakan cairan di dalamnya.
Cairan

ini

dapat

diminum

sebagai

minuman

penyegar

(seperti

pada

kelapa

dan

siwalan).

2. Akasia / Accacia auriculiformis


Akasia adalah genus dari semak-semak dan pohon yang termasuk dalam
subfamili Mimosoideae dari familia Fabaceae, pertama kali diidentifikasi di
Afrika oleh ahli botani Swedia Carl Linnaeus tahun 1773. Banyak spesies Akasia
non-Australia yang cenderung berduri, sedangkan mayoritas Akasia Australia
tidak. Akasia adalah tumbuhan polong, dengan getah dan daunnya biasanya
mempunyai bantalan tannin dalam jumlah besar. Nama umum ini berasal dari
(akakia), nama yang diberikan oleh dokter-ahli botani Yunani awal
Pedanius Dioscorides (sekitar 40-90 Masehi) untuk pohon obat A. nilotica dalam
bukunya Materia Medica. Nama ini berasal dari kata bahasa Yunani karena
karakteristik tanaman Akasia yang berduri, (akis, "duri"). Nama spesies
nilotica diberikan oleh Linnaeus dari jajaran pohon Akasia yang paling terkenal di
sepanjang sungai Nil.

Akasia juga dikenal sebagai pohon duri, dalam bahasa Inggris disebut
whistling thorns ("duri bersiul ") atau Wattles,atau yellow-fever acacia ("akasia
demam kuning") dan umbrella acacias ("akasia payung").
Tabel 2. Hasil Pengamatan tanaman Akasia

Penjelasan:
Pohon dengan tinggi hingga
Gambar 4. Daun Palm

mencapai 30 m, bergaris tengah 50


cm.

Penjelasan:
Perbungan aksiler berbentuk bulir
dengan panjang 7-10 cm yang selalu
berpasangan; panjang tangkai bunga
5-8 mm; bunga terdiri dari 5 helai
daun mahkota yang berukuran 1,7 2 mm, biseksual, kecil, berwarna
kuning emas, dan wangi; daun
kelopak bunga berbentuk bulat
berukuran 0.7-1 mm; benang sari
banyak, dengan ukuran 3 mm; ruang
bakal buah diselaputi banyak
rambut-rambut pendek dan halus.
Buah kering, panjangnya 6.5 cm dan
1-2.5 cm, berkayu, berwarna coklat,
tepinya bergelombang, awalnya
lurus namun ketika buahnya
semakin tua akan terpuntir
berbentuk spiral yang tidak teratur.

Penjelasan:
Biji berbentuk bulat telur hingga
elips, berukuran panjang 4-6 mm

dan lebar 3-4 mm, berwarna hitam


mengkilap, keras, tangkai biji
panjang berwarna kuning atau
merah.

Penjelasan:
Bentuk daun seperti bulat sabit
dengan panjang 10-16 cm dan lebar
1-3 cm, permukaan daun halus
berwarna hijau keabuan dengan 3 4 tulang daun longitudinal yang
jelas.

Penjelasan:
Batang Akasia berbentuk bulat
lurus

bercabang

banyak

(simpodial), berkulit tebal agak


kasar, dan kadang beralur kecil
dengan warna cokelat muda.

3.

Bakung / Crinum asiaticum


Crinum adalah genus dari sekitar 180 spesies tanaman berbunga dari suku
Amaryllidaceae. Tanaman ini memiliki bunga yang besar dan menarik di
atas batang tidak berdaun yang tumbuh dari umbi. Tanaman ini banyak
ditemukan di tepi sungai dan danau di daerah-daerah tropis dan subtropis di
seluruh dunia, termasuk Afrika Selatan. Disebut juga bunga lili rawa,
tumbuhan ini dikembangbiakkan sebagai tanaman hias.

Penjelasan:
Gambar 4.

Batang semu, diameter 10 cm,


tegak, lunak, Putih kehijauan

Penjelasan:

Daun Tunggal,lanset,panjang 32120 cm, Iebar 310 cm, tebal, bertepi


rata, ujung meruncing, pangkal
tumpul, bila dipotong melintang
nampak lubang-lubang, hijau.

Penjelasan:
Bunga majemuk, bentuk payung,
tangkai pipih, tebal, panjang 35-120
cm, pangkal mahkota berlekatan,
bentuk corong, putih, pulik panjang
16 cm, ungu, benang sari
melengkung keluar, tangkai sari
panjang 5-10 cm, kepala sari warna
jingga, bakal buah berbentuk elips,
panjang 1,5 cm, putih keunguan.

Penjelasan:
Akar Bakung berbentuk serabut,
silindris, putih

Penjelasan:
Buah dari Tumbuhan bakung
berbentuk kotak, bulat telur, tiap
kotak terdapat 1 biji yang keras,
bentuk ginjal panjang 5 cm dan
berwarna hitam.

4.

Bambu Kuning/ (Bambusa vulgaris)


Bambu kuning (Bambusa vulgaris) adalah salah satu tanaman dari kelompok
bambu. Bambu jenis ini memiliki ciri batang yang beruas-ruas, tinggi, dan
batangnya berwarna kuning. Biasanya, bambu jenis ini hidup di lingkungan
tropis. Di kawasan Asia Tenggara, bambu jenis ini banyak dibudidayakan.
Bambu kuning sering dijumpai di desa-desa, di pinggir-pinggir sungai, dan
sebagai tanaman hiasan di perkotaan.

Penjelasan:
Gambar 4.

Batang dari pohon bambu kuning


yaitu berkayu, bulat, berlubang,
beruas-ruas, kuning, bergaris hijau
rnembujur

Penjelasan:
Berdaun tunggal, berseting,
berpelepah, lanset, ujung
rneruncing, tepi rata, pangkal
membulat, panjang 15-27 cm, lebar
2-3 cm, pertulangan sejajar, hijau.

Penjelasan:
Bunga: majemuk, bentuk malai, batang,

ungu kehitaman..

Penjelasan:
Akar serabut, kotor.

5.

Jambu mete
Jambu mede atau jambu monyet (Anacardium occidentale) adalah sejenis
tanaman dari suku Anacardiaceae yang berasal dari Brasil dan memiliki
"buah" yang dapat dimakan. Yang lebih terkenal dari jambu mede adalah
kacang mede, kacang mete atau kacang mente; bijinya yang biasa
dikeringkan dan digoreng untuk dijadikan berbagai macam penganan.
Secara botani, tumbuhan ini sama sekali bukan anggota jambu-jambuan
(Myrtaceae) maupun kacang-kacangan (Fabaceae), melainkan malah lebih
dekat kekerabatannya dengan mangga (suku Anacardiaceae).

Penjelasan:
Pohon berukuran sedang, tinggi
sampai dengan 12 m, dengan tajuk
melebar, sangat bercabang-cabang,
dan selalu hijau. Tajuk bisa jadi
tinggi dan menyempit, atau rendah
dan melebar, bergantung pada
kondisi lingkungannya.

Penjelasan:
Daun-daun terletak pada ujung
ranting. Helai daun bertangkai,
bundar telur terbalik, kebanyakan
dengan pangkal meruncing dan
ujung membundar, melekuk ke
dalam, gundul, 822 513 cm.

Penjelasan:
Bunga berumah satu (monoesis),
bunga-bunga berkelamin campuran,
terkumpul dalam sebuah malai rata
berambut halus, lebar 1525 cm.
Kelopak berambut, 45 mm.
Mahkota runcing, lk 1 cm, putih
kemudian merah, berambut.

Penjelasan:
Buah geluk berwarna coklat tua,
membengkok, tinggi lk 3 cm.

6.

Sambiloto / Andrographis paniculata


Sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna
tegak yang tingginya bisa mencapai 90 sentimeter. Asalnya diduga dari Asia
tropika. Penyebarannya dari India meluas ke selatan sampai di Siam, ke
timur sampai semenanjung Malaya, kemudian ditemukan Jawa. Tumbuh
baik di dataran rendah sampai ketinggian 700 meter dari permukaan laut.
Sambiloto dapat tumbuh baik pada curah hujan 2000-3000 mm/tahun dan
suhu udara 25-32 derajat Celcius. Kelembaban yang dibutuhkan termasuk
sedang, yaitu 70-90% dengan penyinaran agak lama. Nama daerah untuk
sambiloto antara lain: sambilata (Melayu); ampadu tanah (Sumatera Barat);
sambiloto, ki pait, bidara, andiloto (Jawa Tengah); ki oray (Sunda); pepaitan
(Madura), sedangkan nama asingnya Chuan xin lien (Cina).

Penjelasan:
Daun bersilang berhadapan,
umumnya terlepas dari
batang,bentuk lanset sampai bentuk

lidah tombak, panjang 2 cm sampai


7 cm, lebar 1 cm sampai 3 cm,
rapuh tipis, tidak berambut,
pangkal daun runcing, ujung
meruncing, tepi daun rata.
Permukaan berwarna hijau tua atau
hijau kecoklatan, permukaan
bawah berwarna hijau pucat.
Tangkai daun pendek.

Penjelasan:
Batang tak berambut, tebal 2 mm
sampai 6 mm, berbentuk persegi
empat, batang bagian atas
seringkali dengan sudut agak
berusuk.

Penjelasan:
Buah berbentuk
panjang,ujungruncing,tengah
beralur,masih
mudahijausetelahtuacoklat.

Penjelasan:
Kelopak bunga terdiri dari 5 helai
daun kelopak, panjang 3 mm
sampai 4 mm, dan berambut. Daun
mahkota berwarna putih sampai
keunguan. Buah berbentuk jorong,
pangkal dan ujung tajam, panjang
2 cm, lebar 4 mm, kadang
kadang pecah secara membujur
menjadi 4 keping.permukaan luar
kulit buah berwarna hijau tua
sampai hijau kecoklatan,

permukaan dalam berwarna putih


atau putih kelabu.
Biji agak keras, panjang 1,5 mm
sampai 3 mm, lebar 2 mm.
Permukaan luar berwarna coklat
muda bertonjol tonjol. Pada
penampang melintang biji terlihat
endosperm berwarna kuning
kecoklatan, lembaga berwarna
putih kekuningan.

7.

Serai
Serai atau sereh adalah tumbuhan anggota suku rumput-rumputan yang
dimanfaatkan sebagai bumbu dapur untuk mengharumkan makanan. Minyak
serai adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan jalan menyuling bagian
atas tumbuhan tersebut. Minyak serai dapat digunakan sebagai pengusir
(repelen) nyamuk, baik berupa tanaman ataupun berupa minyaknya.
Kandungan serai antara lain adalah sitronela, yang tidak disukai oleh
nyamuk. Maka dari itu, serai dapat dibuat menjadi obat nyamuk dan
serangga lainnya.

Penjelasan:
Batang : tegak atau condong,
membentuk rumpun, pendek, masif,
bulat (silindris), gundul seringkali di
bawah buku-bukunya berlilin,
penampang lintang batang berwarna
merah.

Penjelasan:
Daun : tunggal, lengkap, pelepah
daun silindris, gundul, seringkali

bagian permukaan dalam berwarna


merah, ujung berlidah (ligula),
helaian; lebih dari separuh
menggantung, remasan berbau
aromatik.

Penjelasan:
Bunga : susunan malai atau bulir
majemuk, bertangkai atau duduk,
berdaun pelindung nyata, biasanya
berwarna sama, umumnya putih.

Penjelasan:
Akar Tanaman sereh memiliki akar
yang besar. Akarnya merupakan
jenis akar serabut yang berimpang
pendek

8.

Srikaya / Annona squamosal


Srikaya atau buah nona (Annona squamosa), adalah tanaman
yang tergolong ke dalam genus Annona yang berasal dari daerah tropis.
Buah srikaya berbentuk bulat dengan kulit bermata banyak (serupa sirsak).
Daging buahnya berwarna putih.

Penjelasan:
Termasuk semak semi-hijau abadi
atau pohon yang meranggas
mencapai 8 m tingginya.

Penjelasan:
Daunnya berselang, sederhana,
lembing membujur, 7-12 cm
panjangnya, dan berlebar 3-4 cm.

Penjelasan:
Bunganya muncul dalam tandan
sebanyak 3-4, tiap bunga berlebar 23 cm, dengan enam daun
bunga/kelopak, kuning-hijau
berbintik ungu di dasarnya.
Penjelasan:
Buahnya bundar atau mirip kerucut
cemara, berdiameter 6-10 cm,
dengan kulit berbenjol dan bersisik.
Daging buahnya putih, menyerupai
dan memiliki rasa seperti podeng.

9.

Jamur Kuping
Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan salah satu kelompok jelly
fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota dan mempunyai tekstur
jelly yang unik. Fungi yang masuk ke dalam kelas ini umumnya
makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang. Miseliumnya
bersekat dan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: miselium primer
(miselium yang sel-selnya berinti satu, umumnya berasal dari perkembangan
basidiospora) dan miselium sekunder (miselium yang sel penyusunnya
berinti dua, miselium ini merupakan hasil konjugasi dua miselium primer
atau persatuan dua basidiospora).
Karakteristik dari jamur kuping ini adalah memiliki tubuh buah yang
kenyal (mirip gelatin) jika dalam keadaan segar. Namun, pada keadaan
kering, tubuh buah dari jamur kuping ini akan menjadi keras seperti tulang.
Bagian tubuh buah dari jamur kuping berbentuk seperti mangkuk atau
kadang dengan cuping seperti kuping, memiliki diameter 2-15 cm, tipis
berdaging, dan kenyal.

Warna tubuh buah jamur ini pada umumnya hitam atau coklat kehitaman
akan tetapi adapula yang memiliki warna coklat tua. Jenis jamur kuping
yang paling memiliki nilai bisnis yang tinggi adalah yang memiliki warna
coklat pada bagian atas tubuh buah dan warna hitam pada bagian bawah
tubuh buah, serta ukuran tubuh buah kecil. Jamur kuping merupakan salah

satu jamur konsumsi yang umum dikeringkan terlebih dahulu, kemudian


direndam dengan air dalam waktu relatif singkat sehingga jamur ini akan
10.

kembali seperti bentuk dan ukuran segarnya.


Kecubung / Datura metel
Kecubung adalah tumbuhan penghasil bahan obat-obatan yang
telah dikenal sejak ribuan tahun. Sebagai anggota suku Solanaceae,
tumbuhan ini masih sekerabat dengan datura, tumbuhan hias dengan bunga
berbentuk terompet yang besar. Kecubung biasanya berbunga putih dan atau
ungu, namun hibridanya berbunga aneka warna. Diperkirakan tanaman ini
pertama kali dipakai sebagai obat-obat pada abad kesepuluh. Kecubung ada
yang berasal dari Asia Tenggara, namun ada juga yang berasal dari Benua
Amerika. Kecubung tumbuh di tempat yang beriklim panas dan
dibudidayakan di seluruh belahan dunia karena khasiat yang dikandungnya
dan juga untuk tanaman hias. Pertama kali diperkenalkan oleh Linnaeus
pada tahun 1753, tapi secara botani masih belum tepat mengenai gambaran
dan penjelasan tentang kecubung. Wilayah asal yang menjadi sumber
tanaman ini tidak dapat diketahui secara pasti. Bagian-bagian kecubung,
tetapi terutama bijinya, mengandung alkaloid yang berefek halusinogen.

Penjelasan:
Cabang banyak dan mengembang ke
kanan dan ke kiri sehingga
membentuk ruang yang lebar. Tinggi
dari tumbuhan kecubung 0,5-2 m.

Penjelasan:
Daun berbentuk bulat telur,
tunggal, tipis, dan pada bagian
tepinya berlekuk lekuk tajam dan
letaknya berhadap-hadapan. Serta
ujung dan pangkal meruncing dan
pertulangannya menyirip. Daun
Kecubung berwarna hijau.

Penjelasan:
Bunga Kecubung tunggal
menyerupai terompet dan berwarna
putih atau lembayung. Mahkotanya
berwarna ungu. Panjang bunga lebih
kurang 12-18 cm. Bunga bergerigi
5-6 dan pendek. Tangkai bunga
sekitar 1-3 cm. Kelopak bunga
bertaju 5 dengan taju runcing.
Tabung mahkota berbentuk corong,
rusuk kuat, dan tepian bertaju 5.
Taju dimahkotai oleh suatu
runcingan. Benang sari tertancap
pada ujung dari tabung mahkota dan
sebagai bingkai berambut mengecil
ke bawah. Bunga mekar di malam
hari. Bunga membuka mnjelang
matahari tenggelam dan menutup
sore berikutnya..
Penjelasan:
Buah Kecubung hampir bulat yang
salah satu ujungnya didukung oleh
tangkai tandan yang pendek dan
melekat kuat. Buah Kecubung
bagian luarnya dihiasi duri-duri
pendek dan dalamnya berisi biji-biji
kecil warna kuning kecoklatan.

11. Gembili/ Dioscorea aculeata


Gembili (Dioscorea esculenta L.), suku gadung-gadungan atau
Dioscoreaceae merupakan tanaman umbi-umbian yang sekarang sudah sulit
dijumpai di pasar. Penanamannya masih cukup luas di pedesaan walaupun
juga semakin terancam kelestariannya. Gembili menghasilkan umbi yang
dapat dimakan. Umbi biasanya direbus dan bertekstur kenyal. Umbi gembili
serupa dengan umbi gembolo, namun berukuran lebih kecil. Tumbuhan
gembili merambat dan rambatannya berputar ke arah kanan (searah jarum
jam jika dilihat dari atas). Batangnya agak berduri. Gembili dianggap
sebagai tumbuhan berpotensi besar pada masa depan. Berbagai penelitian
untuk melestarikan keragaman hayati dan pengolahan umbinya (dibuat
menjadi etanol atau minuman beralkohol) telah dilakukan.

12. Eceng gondok / Eichhornia crassipes


Eceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah
salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama
eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai
nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di

Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama


Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.

Penjelasan:
Eceng gondok hidup mengapung di
air dan kadang-kadang berakar
dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 0,8 meter. Tidak mempunyai batang.

Penjelasan:
Daunnya tunggal dan berbentuk
oval. Ujung dan pangkalnya
meruncing, pangkal tangkai daun
menggelembung. Permukaan
daunnya licin dan berwarna hijau.

Penjelasan:
Bunganya termasuk bunga
majemuk, berbentuk bulir,
kelopaknya berbentuk tabung.
Bijinya berbentuk bulat dan
berwarna hitam.

Penjelasan:
Buahnya kotak beruang tiga dan
berwarna hijau.

Penjelasan:
Akarnya merupakan akar serabut.

13.

Dalam satu flora, ada 5 foto.


Bikin sekitar 15-20 flora.
4.6 Jenis fauna di kab. Tegal
(basa basi busuk dulu riii.) kasih kata2 pengantar gitu.
1. Kerbau
Kerbau merupakan..
Jenis kerbau: 123
Tabel 21. Hasil pengamatan kerbau
(Foto Kerbau)
Gambar 21. Kerbau
(foto )

Penjelasan:
Penjelasan:

Gambar 22.
(foto )
Gambar 23.
(foto )
Gambar 24.

Penjelasan:
Penjelasan:

Kalo yang hewan aku ga tau ri harus diklasifikasiin kea pa aja,,,


Km kan anak ipa, pasti tau lah apa aja yg harus ditulis,,,
Apa itu berdasarkan jenis makanannya(herbivora, karnivora,
dll)
Apa berdasarkan jenis hewannya (vertebrata, avertebrata, dll)
Aku percaya ari lebih kreatif dari aku :*
4.7 Cara Pembelajaran Keanekaragaman Flora dan Fauna
4.7.1 Kebun Percobaan
Kebun percobaan merupakan

..
pembelajaran dengan kebun percobaan.. .
.. .. .. . . . . . . . . . .. . . . .. .
. . . .. . .. .. . . . .. . . . .. .
langkah-langkah pembelajaran dengan membuat kebun
percobaan

4.7.2 Studi Lapangan
Studi lapangan merupakan

..
pembelajaran studi lapangan di .. . ..
.. .. . . . . . . . . . .. . . . .. . . . . .. .
.. .. . . . .. . . . .. .

4.7.3 Dokumentasi
Membawa foto2 flora dan fauna ke dalam kelas

..
Langkah dalam pembelajaranannya .. . ..
.. .. . . . . . . . . . .. . . . .. . . . . .. .
Strategi, model, dan metode dalam
pembelajarannya .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. . .. .
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Rekomendasi

http://www.proseanet.org/prohati4/browser.php?docsid=332