Anda di halaman 1dari 188

NOTA PEMBELAAN

(PLEIDOOI)
Atas nama Terdakwa:
ANAS URBANINGRUM
Perkara Pidana No.__/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST
Diajukan oleh Tim Penasihat Hukum:
Prof. DR. Adnan Buyung Nasution
Pia A.R. Akbar-Nasution, S.H., LL.M.
M Sadly Hasibuan, S.H.
Indra Nathan Kusnadi, S.H.,M.H.
Marlon E. Tobing, S.H.
Aryo Herwibowo,S.T., S.H., MMSI.
_________
_________
_________
_________
_________
Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta

-1-

-2-

Jakarta, 18
September 2014
Majelis Hakim yang mulia, dan
Penuntut Umum yang kami hormati.
Pertama-tama, kami tim Pembela ingin menyampaikan ucapan
terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada Majelis
Hakim yang telah memimpin persidangan dan memeriksa
Perkara ini dengan arif bijaksana, adil, objektif, serta bebas
dan independen sesuai dengan asas free and impartial
tribunal yang merupakan bagian tak terpisahkan dari prinsip
Negara Hukum (The Rule of Law/Rechtsstaat). Majelis Hakim
juga telah berkenan memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada para pihak untuk melakukan tanya jawab secara
leluasa kepada Saksi, Ahli maupun Terdakwa. Bahkan Majelis
Hakim pun secara aktif dan kritis mengajukan berbagai
pertanyaan kepada Saksi, Ahli maupun Terdakwa, guna
mencari dan menemukan kebenaran materiil yang menjadi
tujuan dari persidangan perkara ini sehingga dapat dicapai
keadilan.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Penuntut Umum
yang telah menjalankan tugasnya secara wajar dan kooperatif,
sehingga persidangan ini dapat berjalan dengan lancar, tanpa
ada ketegangan yang berpotensi merusak suasana dan
jalannya proses persidangan perkara ini.
Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada
panitera pengganti yang telah bekerja sama dengan kami
dalam setiap persiapan pelaksanaan persidangan maupun
membuat notulensi persidangan secara baik dan lengkap. Dan
tidak lupa terima kasih kepada rekan-rekan pers, baik media
cetak,media online dan media elektronik yang selalu setia
meliput proses persidangan ini sejak pagi hari dan tidak
jarang hingga dini hari. Begitu pula dengan masyarakat yang
setia, tekun, dan tertib menghadiri persidangan perkara ini,
sehingga turut membantu kelancaran dan ketenteraman
jalannya proses persidangan perkara ini.
Kini sampailah kita pada agenda persidangan yaitu
pembacaan Nota Pembelaan (Pleidooi), yang pada dasarnya
mengekspresikan pendapat dan kesimpulan kami terhadap
seluruh proses persidangan, baik yang menyangkut faktafakta (question of facts) maupun yang terkait analisa hukum

-3-

terhadap fakta-fakta tersebut (question of law),


selengkapnya akan termuat dalam nota pembelaan ini.

yang

Majelis Hakim yang mulia, dan


Penuntut Umum yang kami hormati.
Bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum
melakukan tindak pidana sebagaimana tersebut dalam Surat
Dakwaan yang disusun secara kumulatif, yaitu:
DAKWAAN KESATU PRIMAIR
Melanggar: Pasal 12 huruf a jo. Pasal 18 Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20
tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU Tipikor)
DAKWAAN KESATU SUBSIDAIR
Melanggar: Pasal 11 jo. Pasal 18 UU Tipikor jo. Pasal 64 ayat
(1) KUHP.
DAKWAAN KEDUA
Melanggar: Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP
DAKWAAN KETIGA
Melanggar: Pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2003 tentang
Perubahan Atas Undang-undang No.15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang (selanjutnya disebut UU
TPPU)
Bahwa pada tanggal 11 September 2014, Penuntut Umum
telah membacakan Tuntutan Pidana (Requisitoir) setebal
1.791 halaman, yang pada intinya Penuntut Umum menuntut
Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah
-4-

melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dan


diancam pidana dalam Pasal 12 guruf a jo. Pasal 18 UU
Tipikor jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, sebagaimana tersebut
dalam Dakwaan Kesatu Primair. Terhadap hal tersebut,
Penuntut Umum pada pokoknya meminta kepada Majelis
Hakim yang terhormat memutuskan:
(i). Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa selama
15 (lima belas) tahun dan ditambah dengan pidana denda
sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah)
subsidair selama 5 (lima) bulan kurungan;
(ii). Menghukum Terdakwa membayar uang pengganti
kerugian Negara yang jumlahnya sebanyak-banyaknya
sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak
pidana korupsi in casu sebsar Rp. 94.180.050.000,(Sembilan puluh empat milyar seratus delapan puluh juta
lima puluh ribu Rupiah), dengan ketentuan apabila
Terdakwa tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1
(satu) bulan sesudah putusan pengadilan memperoleh
kekuatan hokum tetap, maka harta bendanya akan disita
oleh Jaksa Penuntut Umum dan dapat dilelang untuk
menutupi uang pengganti tersebut dan dalam hal tidak
mempunyai harta benda yang mencukupi untuk
membayar uang pengganti tersebut, maka dipidana
dengan Pidana Penjara selama 4 (empat) tahun.
(iii). Menjatuhkan hukuman tambahan kepada Terdakwa
berupa pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan
public.
(iv) Menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan Ijin
Usaha Pertambangan (IUP) atas nama PT Arina Kota Jaya
berdasarkan Keputusan Bupati Kutai Timur Nomor:
540.1/K.237/HK/III/2010 tentang Persetujuan Izin Usaha
Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT Arina Kota
Jaya tanggal 26 Maret 2010.
Bahwa terhadap Dakwaan dan Tuntutan Penuntut Umum
tersebut,
kami
selaku
Penasihat
Hukum
Terdakwa
menyatakan MENOLAKseluruh dalil-dalil Penuntut Umum
dan oleh karenanya kami akan membacakan Nota Pembelaan
(Pleidooi) yang akan menguraikan dan menjelaskan secara
terang benderang mengenai alasan penolakan kami tersebut.
Oleh karena itu, sistematika Nota Pembelaan (Pleidooi) ini
kami susun sebagai berikut:

-5-

I.
II.
III.
IV.

Pendahuluan;
Fakta-fakta Persidangan dan Analisa Fakta;
Analisa Yuridis Terhadap Tuntutan Penuntut Umum
Kesimpulan dan Permohonan.

I. PENDAHULUAN
TABIR HAMBALANG TERSINGKAP:
Pembelaan Bagi Seorang Mantan Ketua Umum Partai
Terbesar Di Indonesia
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan-rekan pers yang kami hormati
PLEDOI ini kami mulai dengan sebuah harapan kepada
majelis hakim yang mulia agar memutuskan perkara ini
dengan penuh kebijaksanaan, kearifan dan senantiasa
berkiblat kepada rasa keadilan dan hati nurani
kemanusiaan. Kami berharap pula, majelis hakim secara
teliti mempelajari mengkaji dan mempertimbangkan
semua fakta-fakta persidangan berikut keteranganketerangan saksi-saksi, ahli-ahli dan alat bukti yang ada,
dan melihat semuanya dalam kerangka berpikir bahwa
putusan yang dibuat nantinya adalah putusan yang
memenuhi rasa keadilan, karena amanat yang Maha Kuasa
kepada para hakim adalah melahirkan putusan yang adil,
karena hakim adalah juru bicara keadilan, lebih daripada
juru bicara hukum.
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan-rekan pers yang kami hormati
Dihukumnya seseorang yang tak bersalah merupakan
urusan semua orang yang berpikir. Begitu kata Filsuf
Prancis, La Bruyerre. Kita memang harus berpikir
mengapa di era demokratis yang menjunjung tinggi rule of
law dan supremasi hukum, masih kita temui seseorang
yang harus diadili untuk kejahatan yang tidak
dilakukannya. Kita juga masih menemukan pengadilan
politik dengan bungkus hukum.
Intervensi politik dalam kasus hukum memiliki sejarah
panjang di negeri ini. Sejak masa penjajahan, politisasi
-6-

kasus dan pemenjaraan politisi yang tidak disukai oleh


penguasa jamak terjadi. Lewat tangan hukum, penguasa
yang
merasa
terancam
kepemimpinan
ataupun
pemerintahannya
membuat
lawan-lawan
politiknya
berhadapan dengan hukum, dengan cara rekayasa dan
manipulasi. Kasus hukum menjadi cara paling ampuh
untuk membungkam, menyingkirkan lawan politik bahkan
mematikan karier politiknya.
Dalam sejarah politik Indonesia, pengadilan seringkali
menjadi instrumen politik. Kolonial Belanda, Orde Lama,
Orde Baru terbukti kerap menggunakan hukum untuk
melawan kritik dan para pengritiknya. Itu terjadi karena
hukum dan pengadilan seringkali tunduk pada kehendak
penguasa. Politisasi hukum dilakukan secara sangat
terencana untuk membungkam, menghambat, sampai
mematikan perjuangan atau karier politik seseorang yang
dianggap
dapat
mengancam
eksistensi
penguasa.
Kepolisian, kejaksaan, pengadilan, rumah tahanan
kerapkali menjadi instrumen bagi penguasa untuk
melanggengkan kekuasaan politiknya.
Apakah KPK juga bisa jadi instrumen kekuasaan politik?
Bisa ya dan bisa juga tidak. Tapi yang paling bisa
membuktikannya adalah sejarah. Lewat sejarah nanti kita
akan tahu apakah penegak hukum di dalam KPK bebas
dari kepentingan dan intervensi politik, atau mereka
sesungguhnya memainkan misi-misi politik tertentu sesuai
pesanan penguasa. Atau terlalu dini jika menyebut
kekuasaan politik saat ini tak bisa menjangkau KPK.
Marilah kita tunda sementara ambisi mengatakan dengan
dada membusung bahwa KPK independen dan tak
tersentuh politik kekuasaan. Biarkan sejarah berjalan dan
dari situ kita akan peroleh jawaban yang sesungguhnya.
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan-rekan pers yang kami hormati
Kami ingin mengajak sejenak kembali ke suatu masa. Ke
momen-momen krusial yang mengantarkan kami berdiri di
sini mendampingi klien kami Anas Urbaningrum.
Momen pertama adalah hari-hari dramatis di bulan Juli
2011. Seorang politisi sekaligus pengusaha muncul lewat
skype dalam pelariannya di luar negeri. Nazaruddin, nama
politisi itu, menyebut nama klien kami, Anas Urbaningrum,
-7-

dalam sejumlah kasus korupsi. Beberapa nama lain


disebutnya. Tapi ia siapkan bombardir khusus untuk
menyerang Anas Urbaningrum lewat ucapan-ucapannya
yang penuh amarah dan dendam yang kami tidak pernah
paham mengapa ia bersikap begitu.
Nazaruddin menuding Anas Urbaningrum melakukan
politik uang, memakai dana dari APBN untuk pemenangan
Kongres Partai Demokrat di Bandung pada tahun 2010.
Lalu
nama
Anas
Urbaningrum
dikaitkan
dalam
penyelidikan proyek pembangunan sarana olahraga di
Hambalang, Bogor. Tuduhan ini yang kemudian terus
direproduksi untuk menjerat klien kami. Dan seperti sering
terjadi, tanpa verifikasi dan investigasi lebih lanjut, hampir
tiap hari nama klien kami, bahkan istrinya, disebut-sebut
melakukan korupsi, yang mana berulang kali klien kami
tegaskan: tak serupiah pun Anas mengkorupsi dana
Hambalang.
Peristiwa kedua adalah bocornya surat perintah penyidikan
(sprindik) atas nama klien kami, Anas Urbningrum.
Peristiwa
itu
terjadi
pada
tanggal
8 Februari 2013. Komite Etik KPK telah mengumumkan
bahwa pelaku pembocoran sprindik adalah Sekretaris
Pribadi (Sespri) Ketua KPK Abraham Samad, bernama
Wiwin Suwandi. Komite Etik memutuskan Ketua KPK
Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja
terbukti bersalah melakukan pelanggaran kode etik.
Kronologi bocornya sprindik itu juga penuh drama. Pada
tanggal
7 Februari 2013 tiga pimpinan KPK Zulkarnain, Abraham
Samad dan Adnan Pandu Praja menandatangani sprindik
atas nama klien kami, Anas Urbanigrum dalam kasus
Hambalang. Oleh Wiwin Suwandi sprindik itu kemudian di
fotocopy di ruangannya di Gedung KPK.
Esok harinya, tanggal 8 Februari 2013, Adnan Pandu Praja
mencabut
paraf
persetujuan
atas
sprindik
yang
sebelumnya telah disetujuinya. Tetapi Wiwin Suwandi
justru mengabarkan status tersangka klien kami kepada
seorang pakar hukum tata negara sembari mengutip katakata Abraham Samad: "Jangan sebut namaku dulu soalnya
kami yang ambil alih kasus ini supaya bisa jalan, kami
pakai kekerasan sedikit, makanya kami tidak mau tambah
runyam."
Tak
berhenti
disitu,
Wiwin
kemudian

-8-

membocorkan sprindik itu kepada reporter TvOne, serta


menyebarkan foto dokumen sprindik itu ke wartawan
Tempo dan Media Indonesia.
Seperti drama tiga babak, bocornya sprindik itu diikuti
oleh drama lainnya. Di Jeddah, Arab Saudi, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dalam kapasitas sebagai Ketua
Dewan Pembina Partai Demokrat mengeluhkan tentang
status
hukum
beberapa
kader
Demokrat
yang
menggantung, sehingga mempengaruhi kepercayaan
publik terhadap partai. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono minta KPK segera memperjelas status hukum
klien kami yang waktu itu masih sebagai Ketua Umum
Partai Demokrat.
Ini tentu saja bias dan tidak bijak karena Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono hanya berbicara satu kasus saja dari
sekian banyak kasus yang menjerat kader partainya
ataupun pejabat dalam kabinetnya. Susilo Bambang
Yudhoyono mestinya memposisikan dirinya sebagai kepala
negara ketika berbicara soal kasus korupsi. Tidak elok
didengar dan dilihat dalam kapasitas sebagai kepala
negara berbicara soal kasus yang menimpa klien kami,
yang saat itu menjabat Ketua Umum Partai Demokrat.
Kalau pun bicara sebagai presiden, ia tidak bisa bicara
khusus. Sebab, ketika ia membahas Anas secara khusus,
tentu secara langsung maupun tidak langsung sama saja
memberi tekanan terhadap KPK, sebuah intervensi
terhadap KPK.
Drama itu berakhir dengan penyampaian delapan solusi
yang disebut sebagai langkah penyelamatan partai oleh
Ketua Dewan Pembina yang juga Ketua Majelis Tinggi
Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Delapan
solusi tersebut dihasilkan dalam rapat Majelis Tinggi yang
dihadiri pula oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR
dan menteri-menteri yang berasal dari Partai Demokrat.
Di antara isi delapan solusi Majelis Tinggi itu adalah
pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat dari
tangan Anas Urbaningrum, klien kami. Kemudian, Susilo
Bambang Yudhoyono minta Anas Urbaningrum fokus
menghadapi masalah dugaan hukum di KPK dengan dalih
menyelamatkan Partai Demokrat. Seolah-olah Anas
Urbaningrum telah menghancurkan dan menenggelamkan
Partai Demokrat. Padahal saat itu Anas Urbaningrum
belum berstatus tersangka.

-9-

Peristiwa ketiga adalah penetapan klien kami sebagai


tersangka kasus dugaan pemberian dan janji dalam kaitan
proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya. Hal ini
terjadi pada tanggal 22 Februari 2013. Dalam surat
penyidikan, Anas Urbaningrum disebut melanggar pasal 12
a dan b atau pasal 11 Undang-undang No. 31 tahun 1999
tentang tindak pidana korupsi.
KPK menyimpulkan bahwa klien kami diduga menerima
sesuatu berkaitan dengan janji yang berkaitan dengan
tugas dan wewenang kala menjabat sebagai anggota DPR.
Surat perintah penyidikan ditandatangani oleh satu dari
lima pimpinan KPK, yaitu Bambang Widjojanto.
Kami berkeyakinan, berdasarkan apa yang kami lihat,
dengar, dan analisis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
secara langsung atau tidak langsung punya peran untuk
mentransmisikan masalah politik internal Partai Demokrat
menjadi masalah hukum di KPK. Pidato politik dan hukum
yang dilakukan di Jeddah, Arab Saudi, jelas merupakan
tekanan dan intervensi dalam proses hukum klien kami.
Proses pengambilalihan kewenangan Anas Urbaningrum
sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan perintahnya
agar Anas Urbaningrum berkonsentrasi menghadapi
masalah hukum adalah penggiringan politik yang nyata
bersamaan dengan saat-saat krusial penetapan Anas
Urbaningrum menjadi tersangka. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan para pembantunya tidak bisa membantah
fakta-fakta itu. Pernyataan dan analisis dapat dibantah,
tapi apakah fakta bisa dibantah dan disembunyikan?
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan rekan pers yang kami hormati.
Kami berkomitmen sejak awal untuk menjaga agar kasus
ini tak melenceng dari hukum dan sesuai dengan hak asasi
manusia. Karena kami merasakan dan menganalisis bahwa
kasus yang melibatkan klien kami ini sarat dengan
kepentingan politik. Politisasi kasus ini sudah terlihat dari
pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jeddah
yang meminta KPK untuk segera memperjelas status Anas
Urbaningrum lantaran namanya kerap disebut terlibat
korupsi. KPK, demi independensinya mestinya menolak
- 10 -

perintah-perintah
sekalipun.

seperti

itu,

meski

dari

Presiden

Aroma politik memang tercium pekat dalam kasus


Hambalang ini. Bocornya dokumen yang diduga sebagai
surat perintah penyidikan (sprindik) atas nama Anas
Urbaningrum milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
ke publik membuktikan dengan jelas bau politik dalam
kasus klien kami ini.
Kebocoran draft sprindik tersebut menjadi catatan hitam
bagi KPK sebab untuk pertama kalinya dokumen resmi
KPK bocor dan beredar luas. Terlebih, kebocoran sprindik
itu seolah menegaskan ada kongkalikong oknum di dalam
KPK dengan pihak lain (mungkin jurnalis, politisi, atau
pejabat negara) untuk membocorkan informasi-informasi
yang selayaknya belum menjadi konsumsi publik.
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan-rekan pers yang kami hormati.
Selanjutnya, dibawah ini akan kami uraikan berbagai
anomali ataupun kejanggalan-kejanggalan untuk tidak
dikatakan kesalahan-kesalahan dalam penuntutan Perkara
ini, yang sekaligus sebagai tanggapan terhadap uraian
Penuntut Umum pada bagian Pendahuluan, halaman 1-11
Surat Tuntutannya.
1. Manipulasi

hukum: frasa proyek-proyek lain


pada surat panggilan dan surat penahanan kepada
Terdakwa merupakan pelanggaran serius terhadap
asas due process of law dan hak asasi Terdakwa
Bahwa isi Surat Panggilan dan Surat Perintah
Penahanan
mengandung
frasa
proyek-proyek
lainnya, sehingga mengandung pengertian yang
sangat luas, abstrak dan akibatnya tidak dapat
dimengerti oleh Terdakwa. Surat Panggilan dan Surat
Perintah Penahanan tersebut melanggar ketentuan
hukum yang dimuat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana (KUHAP), dengan penjelasan
sebagai berikut:
Bahwa penetapan seseorang menjadi tersangka tidak
dapat dipisahkan dari 2 (dua) proses hukum sebelum
dan sesudah yang bersangkutan ditetapkan sebagai

- 11 -

tersangka, yakni :
1. Proses penyelidikan sebelum seseorang ditetapkan
menjadi tersangka (vide Pasal 1 angka 5 jo. Pasal
102 KUHAP); dan
2. Proses
pemeriksaan
dipersidangan
dimana
tersangka dituntut, diperiksa dan diadili di sidang
pengadilan (vide Pasal 1 angka 14 jo. Pasal 1 angka
15 KUHAP) dengan menjamin hak tersangka untuk
diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang
dimengerti
olehnya
tentang
apa
yang
disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan
dimulai (vide Pasal 51 huruf a KUHAP).
a.

Bahwa KUHAP amat tegas memberikan definisi


tersangka. Dalam Pasal 1 angka 14 KUHAP
dinyatakan tersangka adalah seseorang yang
karena
perbuatannya
atau
keadaannya
berdasarkan bukti permulaan patut diduga
sebagai pelaku tindak pidana. Bukti permulaan
dalam pengertian ini merujuk pada proses
penyelidikan dengan tujuan mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai
tindak pidana.

b. Bahwa dicantumkannya frasa dan atau dan


proyek-proyek lainnya menunjukkan adanya
keragu-raguan
KPK,
sehingga
terkesan
memaksakan agar Klien kami dapat dijerat
secara pidana.
Tindakan ini jelas merupakan pelangaran terhadap asas
due process of law, kepastian hukum dan hak asasi
manusia.
2. Metode klarifikasi saksi oleh Penuntut Umum
telah melanggar asas due process of law
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 3 Surat
Tuntutannya pada pokoknya mengkritisi metode
klarifikasi keterangan saksi-saksi yang dilakukan
Penasihat Hukum dan Terdakwa. Menurut Penuntut
Umum, Terdakwa dan Penasihat Hukum bertanya
kepada saksi dengan terlebih dahulu memberikan
deskripsi atas keterangan saksi dalam BAP yang belum
dihadirkan sebagai saksi di persidangan dan Terdakwa
- 12 -

beserta
Penasihat Hukum membangun model
klarifikasi dengan pertanyaan yang sudah pernah
diajukan oleh Penuntut Umum, Majelis Hakim bahkan
oleh Terdakwa maupun Penasihat Hukum lainnya. Lebih
lanjut, Penuntut Umum memandang model klarifikasi
yang dilakukan oleh Terdakwa dan Penasihat Hukum
sebagai sebuah penyesatan fakta.
Bahwa baik Penasihat Hukum maupun Terdakwa sama
sekali tidak berupaya untuk menyesatkan fakta.
Penasihat Hukum maupun Terdakwa justru mencari
kebenaran materiil dari keterangan saksi tersebut.
Apabila Penasihat Hukum dan Terdakwa menggunakan
keterangan saksi lain dalam BAP yang belum
dihadirkan sebagai saksi, upaya tersebut guna
klarifikasi
atau
mendapatkan
kebenaran
atas
keterangan-keterangan
saksi
dalam
BAP
yang
menyebut nama saksi yang sedang dihadirkan dalam
persidangan. Seingat Penasihat Hukum keterangan
saksi dalam BAP yang belum dihadirkan tetapi
diklarifikasi kepada saksi yang sedang dihadirkan
dalam
persidangan
adalah
hanya
keterangan
Muhammad Nazaruddin. Dalam BAPnya, Muhammad
Nazaruddin telah banyak menyebutkan nama-nama
saksi-saksi lain mengenai suatu peristiwa atau
perbuatan yang harus diklarifikasi atau dicari
kebenarannya
dari
saksi-saksi
yang
namanya
disebutkan tersebut. Selanjutnya apabila Penasihat
Hukum dan Terdakwa dikatakan membangun metode
bertanya yang mengulang-ngulang, hal tersebut
semata-mata dikarenakan Penasihat Hukum dan
Terdakwa mempunyai sudut pandang yang berbeda
dengan Penuntut Umum maupun Majelis Hakim. Hal
demikian tidaklah dapat disimpulkan sebagai suatu
upaya untuk menyesatkan fakta.
Bahwa upaya untuk menyesatkan fakta justru kerap kali
dilakukan oleh Penuntut Umum dalam melakukan
metode klarifikasi kepada saksi-saksi, antara lain:
Penuntut Umum kerap kali meminta klarifikasi saksi
atas pendapat atau jalan pikiran Penuntut Umum
sendiri atau setidak-tidaknya memberikan pertanyaan
mengenai pendapat kepada saksi fakta. Di samping itu
Penuntut Umum kerap kali memberikan pertanyaan
terhadap suatu hal yang tidak dialami, dirasa dan
didengar langsung oleh saksi yang bersangkutan (hear
say), khususnya keterangan-keterangan yang hanya

- 13 -

didengar saksi dari Muhammad Nazaruddin. Tentunya


Penuntut Umum tidak lupa atas beberapa keberatan
Penasihat Hukum maupun teguran dari Majelis Hakim
mengenai hal tersebut. Cara atau metode yang
dilakukan Penuntut Umum sudah barang tentu
merugikan Terdakwa maupun Penasihat Hukum dan
merupakan pelanggaran terhadap asas due process of
law.
3. Surat Tuntutan Penuntut Umum justru dibentuk
melalui persepsi dan asumsi belaka
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 4 Surat
Tuntutannya pada pokoknya menyatakan Penasihat
Hukum
dan
Terdakwa
terjebak
dalam
upaya
membangun persepsi daripada upaya membangun
keyakinan.
Bukankah yang terjadi justru sebaliknya? Penuntut
Umum telah membangun Surat Tuntutan bukan dari
fakta-fakta persidangan, melainkan hanya bersumber
dari keterangan Muhammad Nazaruddin, yang justru
dalam persidangan telah dibantah oleh seluruh saksisaksi yang lain. Di samping itu, keterangan saksi-saksi
lain hanya digunakan secara sepotong-potong, atau
dengan
kata lain
Penuntut Umum memotong
keterangan
saksi-saksi
tersebut
dan
hanya
menggunakan potongan keterangan tertentu yang
menguntungkan dakwaan Penuntut Umum kepada
Terdakwa.
Bahwa berdasarkan pemeriksaan dalam persidangan,
telah terlihat begitu banyaknya keterangan saksi-saksi
yang telah membantah dalil-dalil Penuntut Umum yang
diuraikan dalam Surat Dakwaan (selengkapnya akan
kami uraikan pada bagian analisa fakta). Hal ini
memunculkan pertanyaan dalam benak kami, dari mana
Penuntut Umum memperoleh keyakinan, sementara
saksi-saksi atau sebagian besar saksi (apabila tidak
dapat disebutkan seluruhnya) justru telah membantah
dalil-dalil Penuntut Umum. Apalagi Penuntut Umum
dalam Surat Tuntutannya tetap mempertahankan dalildalilnya dalam Surat Dakwaan dan selanjutnya
menuntut Terdakwa dengan tuntutan yang bombastis.
Apabila demikian, tidak perlu lagi ada persidangan dan
seluruh waktu dan kesempatan yang telah dibuka
seluas-luasnya oleh Majelis Hakim untuk mencari
- 14 -

kebenaran materiil menjadi sia-sia.


Sekali lagi tindakan Penuntut Umum menunjukkan
suatu pelanggaran terhadap asas due process of law.
4. Surat Tuntutan Penuntut Umum disusun hanya
berdasarkan keterangan Muhammad Nazaruddin
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 5 Surat
Tuntutannya pada pokoknya menguraikan secara
panjang
lebar
mengenai
kualitas
keterangan
Muhammad Nazaruddin. Menurut Penuntut Umum,
keterangan Muhammad Nazaruddin telah terbukti
beberapa kali membangun keyakinan hakim untuk
menjatuhkan putusannya, antara lain dalam perkara
Angelina Patricia Pinkan Sondakh, Mindo Rosalina
Manullang, Wafid Muharam, Teuku Bagus Muhammad
Noor dan Andi Malaranggeng.
Bahwa Penasihat Hukum menolak argumentasi
Penuntut Umum tersebut di atas. Bahwa kualitas
keterangan Muhammad Nazaruddin tidak dapat
disamaratakan dengan perkara-perkara lain yang
disebutkan di atas, karena bukan perkara yang sama.
Perkara Angelina Patricia Pinkan Sondakh adalah
perkara mengenai Wisma Atlit, dimana dalam perkara
tersebut sama sekali tidak ada keterlibatan atau peran
Terdakwa. Sedangkan perkara
Mindo Rosalina
Manullang , Wafid Muharam, Teuku Bagus Muhammad
Noor dan Andi Malaranggeng adalah perkara proyek
Hambalang, dimana dalam persidangan aquo telah
terungkap fakta bahwa Terdakwa sama sekali tidak
mempunyai peran apapun maupun keterlibatan dalam
korupsi proyek Hambalang (selengkapnya akan kami
uraikan lebih lanjut pada bagian analisa fakta). Yang
didakwakan kepada Terdakwa dalam perkara aquo
adalah penerimaan dana-dana dan mobil Toyota Harrier
yang menurut Surat Dakwaan dan Surat Tuntutan
diterima oleh Terdakwa -quod non-. Perkara aquo
sudah barang tentu berbeda dengan perkara korupsi
proyek Hambalang.
Bahwa seperti telah kami uraikan pada butir 3 di atas,
keterangan Muhammad Nazaruddin telah dibantah
dalam persidangan oleh saksi-saksi lain yang
dihadirkan dalam persidangan. Terlebih dalil Penuntut
Umum pada halaman 6 Surat Tuntutan, yang
- 15 -

menyatakan berdasarkan fakta persidangan justru


terungkap bahwa pelariannya ke luar negeri adalah
atas perintah dari Terdakwa Anas Urbaningrum. Dalil
tersebut telah menggambarkan secara jelas bagaimana
Penuntut Umum hanya menggunakan keterangan
Muhammad Nazaruddin saja dan mengabaikan
keterangan saksi-saksi lain yang telah memberikan
keterangan yang membantah keterangan tersebut
dalam persidangan. Dalam persidangan, saksi Nuril
Anwar, Yulianis, Oktarina Furi, Mindo Rosalina
Manulang, Eva Ompita Soraya, Wahyudi Utomo alias
Iwan, Clara Maureen telah secara tegas membantah
keterangan Nazaruddin yang menyatakan pelariannya
ke luar negeri merupakan perintah Terdakwa.
Begitu pula dengan argumentasi Penuntut Umum
mengenai bahasa simbol. Bagaimana mungkin
Penuntut
Umum
menyimpulkan
Muhammad
Nazaruddin sebagai orang terdekat Terdakwa yang
dapat membahasakan bahasa simbol yang disampaikan
Terdakwa. Apalagi dikaitkan dengan pembagian
prosentase fee dan jatah partai sehubungan dengan
proyek-proyek yang bersumber dari dana optimalisasi
Kementerian Pendidikan Nasional. Saksi Angelina
Pinkan Sondakh dalam persidangan pada tanggal 14
Agustus 2014 benar menguraikan fakta prosentase fee
dan pembagian jatah partai, namun ia sama sekali tidak
pernah menjelaskan adanya bahasa simbol yang
disampaikan
Terdakwa
dan
dibahasakan
oleh
Muhammad Nazaruddin. Penuntut Umum dalam hal ini
telah membuat fakta baru yang menyesatkan.
5. Dalil Penuntut Umum mengenai Keterikatan
Psikologis Saksi dan Terdakwa merupakan dalil
yang mengada-ngada
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 8 Surat
Tuntutannya pada pokoknya menyatakan tidak sedikit
saksi yang memiliki keterikatan psikologis dengan
Terdakwa sehingga validitas keterangannya diragukan.
Bahwa Dalil Penuntut Umum tersebut di atas sekali lagi
menggambarkan
begitu
besarnya
semangat
menghukum Penunut Umum dalam perkara aquo
dibandingkan dengan semangat untuk mencari
kebenaran. Namun demikian, Penunut Umum sama
sekali tidak menyebutkan saksi-saksi manakah yang
- 16 -

diragukan
validitas
keterangannya.
Hal
ini
menunjukkan Penuntut Umum sama sekali tidak dapat
membuktikan pernyataan atau keraguan atas validitas
keterangan saksi-saksi tersebut.
Namun demikian perlu diingat bahwa dalam perkara
aquo sebagian besar saksi-saksi merupakan saksi a
charge (saksi memberatkan) yang telah dimintai
keterangannya dalam BAP oleh Penyidik KPK dan
dihadirkan oleh Penuntut Umum untuk membuktikan
dakwaannya. Di samping itu, sebelum saksi dimintakan
keterangannya dalam persidangan, Penuntut Umum
selalu memulai dengan pertanyaan: apakah saksi telah
memberikan
keterangan
dalam
BAP,
apakah
keterangan dalam BAP tersebut sudah benar dan
apakah saksi dipaksa atau ditekan dalam memberikan
keterangan. Namun setelah keterangan saksi dalam
persidangan ternyata justru membantah dalil dakwaan
Penuntut Umum, sungguh tidak adil dan bertentangan
dengan asas due process of law apabila Penuntut
Umum menyatakan meragukan keterangan saksi-saksi
tersebut dan selanjutnya mengesampingkannya dalam
mebuat
Surat
Tuntutan.
Terjadinya
hal
ini
memunculkan pertanyaan dalam benak Penasihat
Hukum, untuk apa persidangan ini dilakukan kalau
keterangan saksi-saksi yang tidak menguntungkan
dakwaan Penuntut Umum kemudian diragukan dan
dikesampingkan dalam Surat Tuntutan, bukankah
tujuan persidangan adalah untuk mencari kebenaran
materiil.
Di samping itu pernyataan Penuntut Umum yang
meragukan validitas keterangan saksi karena adanya
kedekatan psikologis, sama sekali tidak disertai buktibukti. Dengan kata lain Penuntut Umum
hanya
membuat asumsi belaka.
6. Manipulasi

hukum
dan
tebang
pilih
dalam
Penyidikan dan Penuntutan Perkara yang melanggar
asas The Due Process of Law dan Negara Hukum

Selain masalah politik dan latar belakang bocornya


sprindik penyidikan perkara klien kami, kami juga
mencium adanya aroma tebang pilih dan spirit
menghukum yang sangat besar dalam perkara ini.
Sebagaimana kita ketahui, dalam dakwaan dan
tuntutannya Penuntut Umum telah mendalilkan adanya

- 17 -

uang yang mengalir kepada para anggota kongres


Ketua Umum Partai Demokrat di Bandung pada Tahun
2010, namun demikian seolah Penuntut Umum
menutup mata bahwa ada 3 (tiga) kandidat yang
mencalonkan diri dalam kongres pemilihan Ketua
Umum Partai Demokrat tersebut. Kami berkeyakinan
sejak awal penyidik KPK sudah mengetahui tentang hal
tersebut, namun bagaimana mungkin kedua calon
lainnya bisa tidak dijerat dengan permasalahan hukum
yang sama?
Dalam persidangan ini, para peserta kongres yang
hadir
saat
itu
menyampaikan
bahwa
mereka
memperoleh aliran dana dari tim sukses kandidat Ketua
Umum lainnya, bahkan untuk mendapatkan keuntungan
pribadi ada saksi yang menerangkan mereka pun
mendapatkan aliran dana dari seluruh tim sukses
kandidat Ketua Umum Partai Demokrat yang ada saat
itu. Dalam permasalahan hukum yang menjerat mantan
Menpora Andi Malarangeng, dirinya sama sekali tidak
dihubungkan dengan permasalahan dana yang mengalir
dalam kongres tersebut. Bahkan kandidat Ketua Umum
Partai Demokrat saat itu, Marzuki Ali, sama sekali tidak
tersentuh
permasalahan
hukum.
Lalu
timbul
pertanyaan, mengapa Anas Urbaningrum saja yang
dihadapkan kemuka hukum dengan tuduhan adanya
aliran dana kepada para anggota kongres partai
Demokrat? Pada titik ini lah kami merasakan ada
nuansa tebang pilih dalam penegakan hukum.
Selain itu, untuk dapat mendudukkan klien kami
menjadi tersangka dalam perkara ini, penyidik KPK
telah mengumpulkan 280 lebih orang saksi. Merupakan
hal yang sangat luar biasa dalam upaya pengungkapan
peristiwa pidana dengan saksi yang begitu banyak.
Secara hukum, seseorang dapat dijadikan tersangka
atas adanya dugaan tindak pidana, cukup dengan
adanya 2 alat bukti permulaan yang cukup. Begitu pula
untuk menghukum seseorang, Majelis Hakim cukup
mendasarkan pada 2 alat bukti yang saling mendukung
satu dengan yang lainnya, yang membuktikan adanya
suatu tindak pidana.
Dengan begitu banyak saksi dalam berkas perkara,
maka timbul pertanyaan dibenak kami. Apakah begitu
sulit untuk membuktikan kesalahan klien kami? Atau
memang tidak ada kesalahan sehingga perlu dicari

- 18 -

cari saksi untuk mendapatkan kesalahan? Setelah


menjalani persidangan perkara ini dalam 4 ( empat)
bulan, maka kami-pun dapat merasakan adanya hal
yang dicari-cari dalam perkara ini. Hal itu dapat kami
simpulkan dari keterangan saksi-saksi yang dihadirkan
dalam persidangan. Keterangan saksi satu dengan yang
lainnya tidak sinkron bahkan bertentangan. Ibaratkan
sebuah puzzle, banyak bagian yang hilang dan terputusputus untuk dapat membuktikan suatu peristiwa hukum
ataupun suatu cerita karangan. Hal yang paling
menyentuh adalah tidak sedikit saksi yang mengakui
dimuka persidangan bahwa dirinya merasa takut pada
saat diperiksa oleh KPK, karena diancam Muhammad
Nazaruddin sehingga memberikan keterangan yang
berbeda pada saat dimuka persidangan.
Apakah kemudian berdasarkan fakta-fakta yang telah
berubah dan fakta-fakta yang tidak lengkap tersebut
dapat membuktikan kesalahan Terdakwa? Momen
pembacaan tuntutan Penuntut Umum menjawab
segalanya. Surat tuntutan sebanyak 1.791 halaman
yang dibacakan dengan lantang dimuka persidangan
membuat kami tercengang. Dalam tuntutannya seolah
Penuntut Umum menutup mata atas fakta-fakta
persidangan. Sempat terbersit dibenak kami, untuk apa
kita bersidang apabila Penuntut Umum dengan
kacamata kuda berpaku pada Berita Acara Pemeriksaan
dan surat dakwaan. Berdasarkan fakta ini lah kami
menilai
Penuntut
Umum
mempunyai
semangat
menghukum yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan
tuntutan 15 tahun dan pembayaran sejumlah uang yang
jumlahnya sangat bombastis. Apakah ini yang
dinamakan semangat pemberantasan korupsi dengan
mengedepankan rasa keadilan?
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan-rekan pers yang kami hormati.
Kita tahu bahwa di negeri ini fitnah dan gosip politik
mudah sekali tersebar. Kebenaran kerapkali sengaja
disembunyikan. Media massa lebih senang fokus pada
bombastisnya berita, dan lantas menyebarluaskannya. Tak
banyak yang mau sungguh-sungguh mencari tahu
kebenaran berita itu.
Kemanusiaan seseorang mestinya terganggu ketika fitnah
- 19 -

yang tak punya bukti kuat disebarluaskan secara massif


dan sistematis. Fitnah seperti itu ampuh membunuh
karakter, mematikan karier serta masa depan seseorang.
Dan yang lebih penting lagi, fitnah itu menghancurkan
kehidupan keluarga dan anak-anak orang yang difitnahnya.
Ironis jika banyak yang tidak mau tahu dan acuh saja pada
itu semua.
Klien kami memang bukan orang suci. Lazimnya manusia
lainnya, ia juga punya salah dan khilaf. Tapi klien kami
tidak akan diam pada fitnah yang memang tak pernah
diperbuatnya.
II. FAKTA PERSIDANGAN DAN ANALISA FAKTA
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Penuntut Umum yang kami hormati,
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat kami
hargai
II.1.

Fakta Persidangan

Bahwa sesuai dengan ketentuan pasal 184 KUHAP,


alat bukti yang sah terdiri dari: (i) keterangan saksi;
(ii)
keterangan
ahli;
(iii)surat;
(iv) petunjuk; dan (v) keterangan terdakwa.
a.

Alat Bukti Keterangan saksi


Pasal 1 angka (27) KUHAP menyatakan bahwa :
Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti
dalam perkara pidana yang berupa keterangan
dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang
ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami
sendiri
dengan
menyebut
alasan
dari
pengetahuannya.
Bahwa selama persidangan perkara ini, telah
dihadirkan sebanyak 93 (Sembilan puluh tiga
orang saksi a charge (saksi memberatkan) dan 6
(enam) orang saksi a de charge (saksi
meringankan), yang semuanya telah didengar
kesaksiannyadimuka persidangan perkara ini, baik
saksia chargeyang dihadirkan oleh Penuntut
Umummaupun saksi a de charge yang dihadirkan
oleh Penasihat Hukum. Keterangan saksi-saksi

- 20 -

tersebut kami lampirkan pada bagian akhir Nota


Pembelaan ini (Lampiran-1 dan Lampiran-2).
Sedangkan keterangan-keterangan saksi a charge
yang terdapat dalam berkas perkara sebanyak
_____ orang, namun tidak dihadirkan Penuntut
Umum dalam persidangan, maka keterangan yang
terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan saksisaksi tersebut tidak dapat dipergunakan dalam
proses pembuktian perkara dengan dasar hukum
sebagai berikut:

berdasarkan ketentuan Pasal 185 (1) KUHAP


disebutkan Keterangan saksi sebagai alat
bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang
Pengadilan

M. Karjadi dan R. Soesilo dalam bukunya yang


berjudul Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana
dengan
Penjelasan
Resmi
dan
Komentar,
halaman
164,
memberikan
komentar terhadap ketentuan Pasal 185 ayat
(1) KUHAP, sebagai berikut: alat bukti
keterangan saksi merupakan alat bukti yang
terpenting. Keterangan yang diucapkan di
muka polisi itu bukanlah kesaksian, lain
halnya apabila keterangan itu diberikan pada
pemeriksaan pendahuluan dengan disumpah
terlebih dahulu, ditetapkan dalam berita
acara yang dibacakan di muka sidang, oleh
karena orangnya tidak datang;

Demikian juga pendapat ahli hukum yaitu M.


Yahya
Harahap,
S.H.,
dalam
bukunya
Pembahasan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP
Pemeriksaan
Sidang
Pengadilan,
Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Edisi
Kedua, halaman 286, menyatakan: ...... alat
bukti keterangan saksi merupakan alat
bukti yang paling utama dalam perkara
pidana......

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dikarenakan


saksi-saksi tersebut tidak pernah dihadirkan dan
disumpah
di
muka
persidangan
maupun
keterangan yang diberikan dalam BAP tidak
- 21 -

pernah dibacakan dimuka sidang, kami mohon


kepada Majelis Hakim yang kami muliakan agar
tidak mempergunakan sebagai alat bukti dan
mengesampingkan seluruh keterangan saksi-saksi
dalam BAP yang tidak dihadirkan Penuntut Umum
dalam persidangan.
b.

Alat Bukti Keterangan Ahli


Sesuai dengan ketentuan pasal 1 angka (28)
KUHAP, keterangan Ahli adalah keterangan yang
diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk
membuat terang suatu perkara guna kepentingan
pemeriksaan.
Bahwa dalam proses persidangan perkara ini telah
dihadirkan 7 (tujuh) orang ahli yang bernama
Prof. Dr. Siti Ismiyati Jenie, S.H., CN sebagai ahli
hukum Perdata, Prof. Dr. Edward Omar Sharif
Hiariej, S.H., M. Hum sebagai ahli hukum Pidana
dan Dr. Yunus Husein, S.H., LLM sebagai ahli
Tindak Pidana Pencucian Uang yang dihadirkan
oleh Penuntut Umum. Ahli yang dihadirkan oleh
Penasihat Hukum bernama Prof. Dr. Yusril Ihza
Mahendra, S.H., M.Sc. sebagai ahli hukum Tata
Negara, Prof. Erman Rajagukguk. S.H., LL.M.,
Ph.D sebagai ahli hukum Perusahaan, Dr. Chairul
Huda, S.H., M.H sebagai ahli hukum Pidana, dan
Dr. Chusnul Mariyah sebagai ahli bidang ilmu
Politk. . Keterangan Ahli bertujuan untuk
membuat terang ataupun memperjelas tindak
pidana yang telah didakwakan dan dituntut
kepada Terdakwa.
Bahwa keterangan ahli-ahli tersebut di atas,
selengkapnya kami lampirkan pada bagian akhir
Nota Pembelaan ini (Lampiran-3).

c.

Alat Bukti Surat


Bahwa sebagaimana ketentuan pasal 186 KUHAP,
alat bukti surat sebagaimana yang ditentukan
dalam pasal 184 ayat (1) huruf c, adalah surat
yang dibuat di atas sumpah atau dilakukan dengan
sumpah yaitu:

- 22 -

i.

berita acara dan surat lain dalam bentuk


resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat di hadapannya,
yang memuat keterangan tentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang
dialaminya sendiri, disertai dengan alasan
yang jelas dan tegas tentang keterangannya
itu;

ii.

surat yang dibuat menurut ketentuan


perundang-undangan atau surat yang dibuat
oleh pejabat mengenai hal yang termasuk
dalam tata laksana yang menjadi tanggung
jawabnya dan yang diperuntukkan bagi
pembuktian
sesuatu
hal
atau
sesuatu
keadaan;

iii. surat keterangan dari seorang ahli yang


memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan
yang diminta secara resmi dari padanya;
iv.

surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada


hubungannya dengan isi dari alat pembuktian
yang lain.

Bahwa Penuntut Umum dalam perkara a quo


mengajukan ______ alat bukti surat, sedangkan
Terdakwa mengajukan _______ bukti surat dalam
persidangan a quo.
d. Alat Bukti Petunjuk
Bahwa sebagaimana ketentuan pasal 188 ayat (1)
KUHAP, yang dimaksud dengan petunjuk adalah
perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena
persesuaiannya, baik antara yang satu dengan
yang lain, maupun dengan tindak pidana itu
sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu
tindak pidana dan siapa pelakunya.
Dalam suatu perkara pidana, petunjuk tersebut
hanya dapat diperoleh dari (i) keterangan saksi;
(ii)surat; dan (iii) keterangan Terdakwa (vide pasal
188 ayat (2) KUHAP).

- 23 -

[berikan sedikit analisa apa yang nantinya


dipergunakan Penuntut Umum sebagai petunjuk
dan dihubungkan dengan alat bukti yang mana
petunjuk tersebut]
Berkenaan dengan hal tersebut, Penuntut Umum
dalam Tuntutannya telah menjelaskan mengenai
teori-teori alat bukti petunjuk menurut Hukum
Acara Pidana. Namun demikian Penuntut Umum
tidak menjelaskan secara lebih konkrit alat bukti
petunjuk apa yang digunakan oleh Penuntut
Umum
dan
dari
mana
Penuntut
Umum
mendapatkan alat bukti petunjuk tersebut untuk
membuktikan unsur-unsur dalam dakwaan.
Bahwa Alat Bukti Petunjuk Penuntut Umum ini
akan kami uraikan berdasarkan analisa dan
pemahaman yuridis kami selaku Penasihat Hukum
Terdakwa, sebagaimana dituangkan dalam Bagian
III mengenai Analisa Yuridis Terhadap Tuntutan
Penuntut Umum.
e.

Alat Bukti Keterangan Terdakwa


Bahwa berdasarkan Pasal 189 ayat (1) KUHAP,
yang dimaksud dengan keterangan terdakwa
adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang
tentang perbuatan yang ia lakukan atau ia ketahui
sendiri atau alami sendiri.
Bahwa
selengkapnya
keterangan
Terdakwa
tersebut kami lampirkan pada bagian akhir Nota
Pembelaan ini (Lampiran ...).

II.2.

Analisa Fakta Persidangan

Majelis Hakim Yang Kami Muliakan,


Penuntut Umum yang kami hormati,
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat
kami hargai
Berdasarkan seluruh uraian keterangan Saksi-Saksi,
Ahli dan Terdakwa serta bukti-bukti surat dan
petunjuk yang diajukan selama pemeriksaan di
- 24 -

persidangan, apabila dianalisa dengan menghubungan


alat bukti yang satu dengan yang lainnya, maka akan
terungkap fakta-fakta persidangan yang semakin
menjelaskan bahwa Surat Tuntutan Penuntut Umum
tidak terbukti.
Bahwa berdasarkan analisa kami, fakta-fakta hukum
yang terungkap dalam persidangan yang selengkapnya
adalah sebagai berikut:
A. Terkait Dakwaan Kesatu
1.

Fakta bantahan terhadap dalil Penuntut


Umum mengenai keinginan Terdakwa
tampil
menjadi
Presiden
R.I.
dan
penghimpunan kantong-kantong dana
a.

Terdakwa bukan pemilik Anugrah Group


yang kemudian berubah nama menjadi
Permai Group
Fakta Kepemilikan dari PT Anugerah
Nusantara
Bahwa dalam Dakwaan Penuntut Umum
halaman 4, yang mendalilkan bahwa untuk
menghimpun dana guna menyiapkan
logistik, Terdakwa dan saksi Muhammad
Nazarudin bergabung dalam Anugrah
Group yang kemudian berubah nama
menjadi Permai Group.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak
benar. Berdasarkan fakta persidangan
telah
terungkap
fakta-fakta
sebagai
berikut:
(i)

- 25 -

Fakta persidangan tanggal 7 Juli


2014,
saksi
Clara
Mauren
menerangkan tidak pernah ada
Anugrah
Group.
Penamaan
Anugrah Group dan Permai Group
berawal dari pemberitaan media
seputaran perkara Hambalang dan
lainnya
maka
fakta
yang
sebenarnya adalah PT Anugrah
Nusantara bukan Anugrah Group.

(ii)

Bahwa
saksi
Clara
Mauren
menerangkan pernah menjabat
sebagai manager marketing di PT
Anugerah Nusantara, kemudian
saksi Clara Mauren memberikan
keterangan bahwa saksi tidak
pernah
melihat
Terdakwa
berkantor di PT Anugerah Group.
Saksi Clara Mauren juga tidak
melihat
adanya
ruang
kerja
Terdakwa di PT Anugrah Group
maupun setelah berubah nama
menjadi Permai Group. Saksi tidak
pernah
melihat
Terdakwa
mengikuti atau memimpin rapat
perusahan di Anugrah Group
maupun di Permai Group. Bahkan
saksi menerangkan bahwa saksi
mengetahui
pemilik
Anugrah
Group dan Permai Group adalah
saksi Muhammad Nazaruddin.

(ii) Fakta persidangan tanggal 14 dan 18


Agustus 2014, saksi Mindo Rosalina
Manulang
mantan
Direktur
Marketing Permai
Group,
saksi
memberikan
keterangan
bahwa
pimpinan dari Anugrah Group yaitu,
saksi Muhammad Nazaruddin, saksi
Neneng Sri Wahyuni, Nasir dan
Hasyim. Saksi menjelaskan bahwa
yang mempunyai wewenang untuk
mengatur
peruntukkan
atau
penggunaan terkait dana-dana yang
dikelola oleh Permai Group atau
Anugerah Nusantara adalah saksi
Muhamad
Nazarudin
dan
saksi
Neneng
Sri
Wahyuni.
Saksi
menjelaskan bahwa yang mempunyai
wewenang atau otoritas dalam hal
penerimaan karyawan, menentukan
karier karyawan, jabatan karyawan
dalam perusahaan, dan menentukan
gaji karyawan adalah saksi Muhamad
Nazarudin dan saksi Neneng Sri
Wahyuni.

- 26 -

(iii) Fakta Persidangan tanggal 18


Agustus 2014, saksi Dadiono mantan
kurir
di
PT
Anugrah
Group,
menegaskan bahwa pimpinan dari
Anugrah
Group
adalah
saksi
Muhamad Nazarudin.
(iv) Fakta persidangan tanggal 14 dan
18 Agustus 2014, saksi Yulianis
mantan wakil Direktur Keuangan
Anugrah Group, menegaskan bahwa
pimpinan Anugrah Group adalah
saksi Muhammad Nazaruddin. Saksi
juga menjelaskan bahwa otoritas
penggunaan
keuangan
Anugrah
Group harus disetujui oleh saksi
Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni
dan saksi Muhammad Nazaruddin.
(v) Fakta
persidangan
tanggal
14
Agustus 2014, saksi Oktarina Furi
menjelaskan
bahwa
otoritas
penggunaan keuanganan Anugrah
Group harus disetujui oleh saksi
Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni
dan saksi Muhamad Nazarudin.
(vi) Fakta persidangan
tanggal
1
September 2014, saksi Syarifah
menerangkan bahwa Pimpinan dari
PT Anugrah Group adalah saksi
Muhammad Nazaruddin, saksi juga
tidak pernah melihat Terdakwa
datang di PT Permai Group.

Berdasarkan uraian fakta tersebut di atas,


maka telah terungkap bahwa Terdakwa
bukan sebagai pemilik maupun pimpinan
dari PT Anugrah Group yang beralamat di
Jl. KH Abdullah Syafii No 9, Tebet, Jakarta
Selatan yang kemudian berubah nama
menjadi
PT Permai Group setelah pindah kantor ke
Tower Permai di Jl. Warung Buncit Raya
No 27, Mampang Prapatan, Jakarta
Selatan. Bahwa Pemilik dan sekaligus
Pimpinan dari PT Anugrah Group yang
- 27 -

kemudian berubah nama menjadi PT


Permai Group adalah saksi Muhammad
Nazaruddin,
hal
ini
sebagaimana
diterangkan
oleh
mantan
karyawankaryawan Muhamad Nazarudin dalam
fakta persidangan, bahkan saksi Clara
Mauren
menerangkan
bahwa
saksi
Muhammad Nazaruddin ketika ditahan,
masih
bisa
memimpin
rapat-rapat
perusahan dari dalam tahanan di Mako
Brimob, lapas Cipinang bahkan lapas
Sukamiskin di Bandung.
Fakta
tentang
kepengurusan
Anugerah Nusantara

PT

Bahwa
berdasarkan
dokumen
dan
informasi yang diperoleh Penasihat Hukum
tentang
struktur
kepemilikan
dan
kepengurusan dari PT. Anugrah Nusantara
dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia, terungkap secara jelas bahwa
Terdakwa bukanlah sebagai Pemilik dan
bukan juga sebagai Pengurus dari PT
Anugrah Nusantara. Hal ini berdasarkan
data
pada
Subdit
Badan
Hukum,
Direktorat Perdata, Direktorat Jenderal
Administrasi
Hukum
Umum
pada
Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia, sebagaimana diuraikan dibawah
ini :
1.Pendirian PT Anugrah Nusantara
a. Nomor dan tanggal akta : 75; 25
Januari 1999
b. Notaris : H.Asman Yunus,SH
berkedudukan di Pekanbaru

SpN

c. Nomor dan Tanggal SK :


C-12644
HT.01.01.TH.2001
tanggal
7
November 2001
d. Kedudukan : Pekanbaru
e. Jangka waktu : 75 tahun

- 28 -

f. Maksud dan tujuan : Perdagangan,


Pembangunan, Pengangkutan Darat,
Perindustrian, Perbengkelan, Jasa,
Pertanian, Pertambangan, dan
Percetakan.
g. Modal Perseroan:
Modal Dasar : Rp. 2.000.000.000
terbagi atas 2000 saham, masingmasing saham bernilai Rp.
1.000.000.
Modal Ditempatkan : 600 saham
atau Rp. 600.000.000
Modal disetor : Rp. 600.000.000
Susunan Pemegang Saham :
Muhammad Nazarudin
:
saham
Drs. Ayub Khan
:
saham
Muhammad Nasir
:
saham
Muhammad Ali
:
saham
Muhammad Yunus Rasyid, SH :
saham

330
90
60
60
60

Susunan Pengurus :
Direktur Utama
: Muhammad
Nazarudin
Direktur
: Muhammad Nasir
Komisaris Utama : Drs. Ayub Khan
Komisaris
: Muhammad Ali
Komisaris
: Muhammad
Yunus Rasyid, SH
2. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan Tanggal Akta : 1; tanggal 1
Februari 2006
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH, SpN
berkedudukan di Pekanbaru

- 29 -

c. Nomor dan Tanggal SK : C-11264


HT.01.04.TH.2006 tanggal 20 April
2006
d. Modal Perseroan
- Modal Dasar : Rp.100.000.000.000
terbagi atas 100.000 saham, masingmasing saham bernilai Rp. 1.000.000
- Modal ditempatkan : 25.000 saham
atau Rp. 25.000.000.000
- Modal disetor : Rp. 25.000.000.000
e. Susunan Pemegang Saham:
Muhammad Ali : 20.000 saham
Rizal Ahmad : 2.500 saham
Muhammad Yunus Rasyid, SH : 2.500
saham
3. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan Tanggal Akta : 38; tanggal
30 Desember 2006
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN
berkedudukan di Pekanbaru
c. Nomor dan tanggal akta : C-00423
HT.01.04.TH.2007 tanggal 8 Oktober
2007
d. Susunan Pemegang saham
Muhammad Nazarudin : 20.000
saham
Rizal Ahmad : 2.500 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH :2.500
saham
e. Susunan Pengurus
Direktur
Direktur
Direktur
Direktur
Direktur
Direktur

- 30 -

Utama : Rizal Ahmad


: Widhya Mulya
: Mardianto
: Amin Andoko
: Drs. Ahmad Darsono
: Muhammad Ali

Komisaris Utama : Muhammad


Nazarudin
Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,
SH
4.Perubahan anggaran dasar dalam
rangka penyesuaian dengan UndangUndang Nomor 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas
a. Nomor dan tanggal akta : 2; tanggal 1
April 2008
b. Notaris : H. Asman Yunus,SH,SpN
berkedudukan di Kota Pekanbaru
c. Nomor dan tanggal SK : AHU39823.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal
10 Juli 2008
d. Kedudukan : Kota Pekanbaru
e. Jangka waktu : tidak terbatas
f. Maksud dan Tujuan: Perdagangan,
Pembangunan, Telekomunikasi,
Pengangkutan, Perindustrian,
Perbengkelan, Jasa, Pertanian,
Pertambangan, dan Percetakan
g. Modal Perseroan
- Modal Dasar: Rp. 100.000.000.000
terbagi atas 100.000 saham, masingmasing saham bernilai Rp. 1.000.000
- Modal ditempatkan/disetor : 25.000
saham atau Rp. 25.000.000.000
h. Susunan Pemegang Saham
Muhammad Nazarudin : 20.000 saham
Rizal Ahmad : 2.500 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH : 2.500
saham
i. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad
Direktur : Widhya Mulya
Direktur : Mardianto

- 31 -

Direktur : Amin Handoko


Direktur : Drs. Ahmad Darsono
Direktur : Muhammad Ali
Komisaris Utama : Muhammad
Nazarudin
Komisaris : Muhammad Yunus
Rasyid,SH
5. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan tanggal akta : 50; tanggal
31 Januari 2009
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN
berkedudukan di Kota Pekanbaru
c. Nomor dan tanggal SK : AHU25305.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal
19 Mei 2010

d. Modal Perseroan
- Modal Dasar : Rp. 500.000.000.000
terbagi atas 500.000 saham, masingmasing saham bernilai Rp. 1.000.000
- Modal ditempatkan/disetor
200.000 saham atau Rp.
200.000.000.000

e. Susunan Pemegang Saham


Muhammad Nazarudin : 190.000
saham
Rizal Ahmad : 5.000 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH : 5.000
saham
6. Perubahan data perseroan
a. Nomor dan tanggal akta : 36 tanggal
28 februari 2009
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN
berkedudukan di Kota Pekanbaru
c. Nomor dan tanggal surat : AHUAH.01.10-13125 tanggal 27 Mei 2010

- 32 -

d. Susunan pemegang saham


Muhajidin Nur Hasim : 160.000 saham
Rizal Ahmad : 20.000 saham
Muhammad Yunus Rasyid,SH : 20.000
saham
e. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad
Direktur I
: Wasis Ginanjar
Direkrut II
: Amin Handoko
Direktur III : Drs. Achmad Darsono
Direktur IV
: Muhammad Ali
Direktur V
: Muhammad Fajar
Kurnia
Komisaris
Utama
: Mujahidin
Nur Hasim
Komisaris
: Muhammad Yunus
Rasyid, SH
7. Perubahan Data Perseroan
Nomor dan tanggal Angka : 57, tanggal
30 Mei 2009
Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN
berkedudukan di Kota Pekanbaru
Nomor dan tanggal surat : AHUAH.01.10-14335 tanggal 10 Juli 2010
Susunan Pengurus
Direktur Utama : Rizal Ahmad
Direktur I : Amin Handoko
Direktur II : Saimun Sinaga
Direktur III : Drs. Ahmad Dharsono
Direktur IV : Muhammad Fajarkurnia
Direktur V: Muhammad Hasan Utoyo
Komisaris Utama : Mujahidin Nur
Hashim
Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,
SH, M.Hum
8. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan tanggal Akta : 1; tanggal 1
September 2009
b. Notaris: H. Asman Yunus, SH,SpN
berkedudukan di Kota Pekanbaru

- 33 -

c. Nomor dan tanggal surat : AHUAH.01.10.15668 tanggal 23 Juni 2010


d. Susunan Pemegang Saham:
Amin Handoko : 120.000 saham
Saimun Sinaga : 60.000 saham
Muhammad Yunus Rasyid, SH,Mhum :
20.000 saham
e. Susunan Pengurus :
Direktur Utama : Amin Handoko
Direktur I
: Muhammad
FajarKurnia
Direktur II
: Muhammad Hasan
Utoyo
Komisaris Utama : Saimun Sinaga
Komisaris : Muhammad Yunus Rasyid,
SH,M.Hum
Komisaris : Drs. Achmad Dharsono
9. Perubahan Anggaran Dasar
a. Nomor dan Tanggal Akta : 48 tanggal
31 Desember 2010
b. Notaris : H. Asman Yunus, SH,SpN
berkedudukan di Kota Pekanbaru
c. Nomor dan tanggal SK : AHU13055.AH.01.02.tahun 2011 tanggal
15 Maret 2011
d. Nomor dan tanggal surat : AHUAH.01.10-11817 tanggal 20 April 2011
e. Nomor dan tanggal surat
: AHUAH.01.10-11818 tanggal 20 April 2011
f. Modal Perseroan
- Modal Dasar : Rp. 100.000.000.000
terbagi atas 100.000 saham, masingmasing saham bernilai Rp. 1.000.000
- Modal ditempatkan/disetor : 25.000
saham atau Rp. 25.000.000.000
g. Susunan pemegang saham
Amin Andoko : 17.500 saham
Saimun Sinaga : 7.500 saham
- 34 -

h. Susunan Pengurus
Direktur Utama : Amin Andoko
Direktur : Muhammad Fajarkurnia
Komisaris Utama : Saimun Sinaga
Komisaris : Drs. Achmad Dharsono
Berdasarkan uraian data diatas, maka
telah terungkap secara jelas :
Bahwa sejak tahun 1999 hingga tahun
2010 tidak tercantum nama Terdakwa
baik sebagai Pemilik, atau sebagai
pemegang saham, maupun sebagai
pengurus pada PT Anugrah Nusantara.
Bahwa Pemilik dan Pengurus dari PT
Anugrah
Nusantara
adalah
saksi
Muhammad Nazaruddin dan Keluarganya.
b.

Terdakwa tidak penah membentuk


kantong-kantong
dana
yang
bersumber dari proyek pemerintah dan
BUMN
Bahwa Penuntut Umum dalam Dakwaan
halaman 4 dan dalam Tuntutan Penuntut
Umum halaman 1238 yang mendalilkan
bahwa dalam rangka membentuk logistik
Terdakwa membentuk kantong-kantong dana
yang bersumber dari proyek pemerintah dan
BUMN.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak
benar dan telah dibantah oleh saksi-saksi
yang namanya justru disebut dalam Surat
Dakwaan, yaitu saksi Angelina Patricia
Sondakh, saksi Mindo Rosalina Manulang,
saksi Yulianis, saksi Mirwan Amir, saksi
Pasha Ismaya Sukardi, dan saksi Muhammad
Rahmat.
Fakta
terkait
Kemendiknas yang
Patricia Sondakh

- 35 -

proyek-proyek
dikelola Angelina

Bahwa menurut keterangan saksi Angelina


Patricia Sondakh dipersidangan tanggal 14
Agustus 2014, saksi menjelaskan mendapat
arahan dari pimpinan komisi yaitu Prof
Mahyudin, bahwa untuk penganggaran
pembagiannya sesuai kursi yang ada di DPR.
Partai Demokrat mendapat 20%, karena 20%
itu sesuai kursi Partai Demokrat di DPR.
Setelah Prof Mahyudin menyatakan hal
tersebut, saksi kemudian memberitahukan
kepada Muhammad Nazaruddin, bahwa jatah
partai demokrat ada 20%, Muhammad
Nazaruddin mengatakan ya sudah itu diisi
oleh Rosa, karena itu jatah partai nanti yang
1%-nya buat teman-teman di komisi nanti
diselesaikan Rosa, untuk pimpinan banggar
1%-nya untuk fraksi biar saya sendiri yang
menyelesaikan.
Saksi menerangkan bahwa Terdakwa tidak
pernah memberikan perintah kepada saksi
untuk mengurus proyek yang berkaitan
dengan Hambalang dan juga proyek-proyek
yang lain, saksi menjelaskan bahwa saksi
Muhammad Nazaruddin yang memberikan
perintah kepada saksi, serta mengatur saksi
untuk
mengurus
proyek-proyek
di
Kemendiknas, dimana jatah yang berasal
dari proyek Kemendiknas saksi serahkan
kepada saksi Muhammad Nazaruddin.
Dari keterangan saksi Angelina Patricia
Sondakh, maka fakta yang terungkap adalah
bahwa yang mengatur dan mengurus
pembagian fee proyek Kemendiknas adalah
Muhammad
Nazaruddin
dan
bukan
Terdakwa. Saksi juga menerangkan bahwa
Terdakwa tidak pernah ikut campur dalam
pengurusan proyek-proyek, karena yang
memerintahkan langsung terkait pengurusan
proyek adalah Muhammad Nazarudin.
Fakta terkait proyek-proyek Kemenpora
Saksi Angelina Patricia Sondakh dalam
persidangan
tanggal
14 Agustus 2014 menjelaskan, bahwa
- 36 -

Muhammad Nazarudin yang mengatur dan


mengurus proyek-proyek di Kemenpora,
Muhammad Nazaruddin mengatakan kepada
saksi agar saksi menjalankan perintah
Nazarudin mbak angie harus menuruti
kata2 saya, mbak angie duduk aja dikomisi X
jalankan perintah saya nanti saya akan
mengupayakan mas Adji jadi ketua komisi V,
dan saya menginginkan mas Adji juga jadi
ketua komisi V. saya menjalankan apa yang
pak Nazar perintahkan kepada saya,
sehingga pak Nazar mengatakan kamu
hanya menjalankan saja rumusannya adalah
demikian, pokoknya kalau untuk komisi X
kamu tidak usah mengerjakan yang lain lain,
kamu tidak usah mengerjakan Kemenpora
kamu
juga
tidak
perlu
mengerjakan
Kemenbudpar, apalagi Kemenbudpar dan
Kemenpora dua duanya adalah menteri dari
partai demokrat, jadi tidak usah dikritisi
programnya hanya diperjuangkan saja
Bahwa dalam persidangan tanggal 14
Agustus
2014
Saksi
Mindo
Rosalina
Manulang
telah
menegaskan
bahwa
Terdakwa tidak pernah ikut pertemuanpertemuan
yang
membahas
proyek
Hambalang pada Kementrian Pemuda dan
Olahraga.
Selanjutnya
saksi
juga
menegaskan bahwa Terdakwa sama sekali
tidak memiliki peranan dalam pengurusan
proyek Hambalang.
Bahwa dalam persidangan tanggal 2 Juli
2014
Saksi
Wafid
Muharam
mantan
Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahrga
(Sesmenpora) telah menegaskan bahwa
selama
kegiatan
proyek
Hambalang
berlangsung, saksi tidak pernah mendengar
nama Terdakwa, dan setiap pertemuan atau
rapat-rapat di Kementrian Pemuda dan
Olahraga saksi Wafid Muharam tidak pernah
bertemu dengan Terdakwa, dan tidak pernah
membicarakan proyek-proyek Kementrian
Pemuda dan Olahraga dengan Terdakwa.
Dalam persidangan tanggal 3 Juli 2014, saksi

- 37 -

Paul Nelwan yang merupakan mantan


anggota
tim
asistensi
proyek
pusat
pendidikan
olahraga
di
Hambalang,
menjelaskan bahwa saksi tidak mengenal
dan tidak pernah bertemu Terdakwa. Saksi
juga menyatakan tidak pernah mendengar
nama Terdakwa disebut-sebut dalam proyek
Hambalang di Kementrian Pemuda dan
Olahraga.
Bahwa
berdasarkan
uraian
di
atas,
terungkap dengan jelas, Terdakwa tidak
terkait dan sama sekali tidak memiliki peran
dalam mengurus serta mengatur proyekproyek yang ada di Kementrian Pemuda dan
Olahrga.
Kantong Dana yang dikelola saksi
Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya
Sukardi, saksi Muhammad Rahmad
Dalam persidangan tanggal 7 Agustus 2014,
saksi Mirwan Amir, saksi Pasha Ismaya
Sukardi,
saksi
Muhammad
Rahmad,
menjelaskan bahwa para saksi tidak pernah
tahu dan tidak pernah mendengar Terdakwa
mengurus proyek-proyek pemerintah yang
bersumber dari APBN. Para Saksi juga
menjelaskan proyek-proyek pemerintah yang
bersumber dari ABPN itu tidak dipengaruhi
oleh ketua bidang politik Partai Demokrat.
Para Saksi membantah pernah mengurus
baik itu proyek APBN, BUMN atau proyek
lainnya, adapun hal-hal yang dibantah Para
Saksi:
(i) Saksi Mirwan Amir menerangkan:
-

- 38 -

Saksi tidak mengurus proyek-proyek


pemerintah yang bersumber dari APBN;
Saksi tidak pernah mengelola anggaran
sebesar Rp. 2.000.000.000.000,- (dua
triliun
Rupiah)
bersama
adiknya
melalui PT. Hotel Kualatripa, Tripa
Bangun Pratama, PT. Tripa Wisata Tour,
dan
CV.
Nasita,
namun
saksi

menegaskan bahwa yang disebutkan itu


adalah bisnis dari orang tua saksi,
sehingga
tidak
ada
hubungannya
dengan APBN.
Saksi tidak pernah memberikan uang
sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar
Rupiah) kepada saksi Muhammad
Nazaruddin di bulan April 2010;
Saksi tidak pernah menerima uang
sebesar Rp.5.000.000.000,- (lima milyar
Rupiah) dari saksi Mafud Suroso.
Saksi juga mengatakan tidak pernah
memberikan
uang
sebesar
Rp.25.00.000.000 (dua puluh lima
milyar Rupiah) kepada Terdakwa.

(ii) Saksi Muhammad Rahmad


-

Saksi tidak pernah mengelola dana


milik
Terdakwa
sebesar
Rp2.500.000.000.000,- (dua trilyun lima
ratus milyar Rupiah), bahkan saksi
mengatakan di depan Majelis Hakim
bahwa saksi telah difitnah luar biasa.

Saksi membantah mengelola uang milik


Terdakwa sebesar Rp.250.000.000,(dua ratus lima puluh juta Rupiah).

Saksi tidak pernah mengelola dana


Terdakwa sebesar Rp.2.500.000.000,(dua milyar lima ratus juta Rupiah),
bahkan saksi menerangkan sejak saksi
bersama dengan Terdakwa di DPR-RI,
uang
sejumlah
Rp.10.000.000,(sepuluh juta rupiah) pun Terdakwa
belum pernah diberikan kepada Saksi.

(iii) Saksi Pasha Ismaya Sukardi

- 39 -

Saksi bukan kantong dana dan katong


bisnis dari Terdakwa.

Saksi tidak memiliki usaha dibidang


impor gula.

Saksi tidak pernah memiliki kamar


bisnis yang difasilitasi dananya secara
politik oleh Terdakwa ataupun pihak
lain.

Bahwa berdasarkan uraian-uraian diatas


maka telah terungkap secara jelas, Terdakwa
tidak memiliki kantong-kantong dana yang
bersumber dari proyek Pemerintah dan
APBN
sebagaimana
dalam
Dakwaan
Penuntut Umum halaman 4, dan Tuntutan
halaman 1238 bahwa dari kesaksian saksi
Angelina Patricia Sondakh, saksi Mirwan
Amir, saksi Pasha Ismaya Sukardi, saksi
Muhammad Rahmad, saksi Mindo Rosalina
Manulang, dan saksi Yulianis juga terungkap
bahwa tidak ada peran dari Terdakwa dalam
urusan-urusan proyek yang bersumber dari
APBN.
Terdakwa juga tidak pernah mengikuti rapatrapat atau pertemuan untuk membahas
proyek-proyek di Pemerintah dan APBN di
Kementrian
Pendidikan
Nasional
(Kemendiknas) dan Kementrian Pemuda dan
Olahraga (Kemenpora), bahwa saksi-saksi
juga menegaskan mereka tidak pernah
mengelola dan membentuk kantong-kantong
dana untuk kepentingan Terdakwa
Bahwa Penuntut Umum dalam Surat
Dakwaan halaman 4 dan Surat Tuntutan
halaman 1238 yang
pada pokoknya
menguraikan
dalil
bahwa
Terdakwa
membentuk kantong-kantong dana yang
bersumber dari proyek BUMN adalah tidak
benar dan tidak berdasar.
c.

Fakta bantahan dalil Penuntut Umum


mengenai fee pengurusan proyek yang
dilakukan Terdakwa sebesar 7% sanpai
dengan 22%.
Penuntut umum dalam surat tuntutannya,

- 40 -

halaman
1238
yang
pada
pokoknya
menyebutkan bahwa dalam pengurusan
proyek yang dilakukan Terdakwa melalui
Permai Group, Terdakwa mendapatkan fee
antara 7% (tujuh persen) sampai dengan
22% (dua puluh dua persen) yang disimpan
di brankas Permai Group.
Fakta bahwa Terdakwa tidak pernah
melakukan pengurusan proyek proyek
yang bersumber dari APBN
Bahwa saksi M Arif Taufikurahman dalam
persidangaan
tanggal
26
Juni
2014,
menyatakan
tidak
pernah
melakukan
pembicaraan mengenai proyek dengan
Terdakwa, kesaksian saksi
M Arif
Taufikurahman juga didukung dengan saksi
Abdul Ali Fauzi, saksi Sir Maharani Siregar
dan saksi Yuli Nurwanto bahwa tidak pernah
ada
pembicaraan
dengan
Terdakwa
mengenai proyek-proyek yang dikerjakan
oleh PT. Adhi Karya.
Bahwa saksi Teuku Bagus dalam persidangan
tanggal 30 Juni 2014 menyatakan, pada akhir
tahun 2010 saksi pernah bertemu dengan
saksi Dedy Kusdinar dan saksi Lisa L Isa,
dalam pertemuan tersebut saksi Lisa L Isa
atas perintah Sesmenpora menyampaikan
kepada saksi mengenai kewajiban fee
sebesar 18% dari kontrak yang akan
ditandatangani PT Adhi Karya terkait proyek
Hambalang. Saksi Teuku Bagus secara jelas
menyatakan tidak ada keterlibatan Terdakwa
mengenai permintaan fee sebesar 18%, saksi
juga menyatakan tidak mengenal Terdakwa
dan tidak pernah bertemu dengan Terdakwa,
hanya mengetahui dari pemberitaan media.
Bahwa saksi Wafid Muharam, menyatakan
tidak mengetahui mengenai permintaan fee
sebesar 18%, saksi dalam persidangan
menyatakan bahwa tidak ada pertemuan
dengan Terdakwa di chatter box di Plaza
senayan yang dihadiri saksi, Terdakwa, saksi
Muhammad
Nazararuddin
dan
saksi
- 41 -

Machfud Suroso yang membahas P3SON


Hambalang. Saksi sangat meyakini tidak ada
pertemuan tersebut. Kesaksian saksi Wafid
Muharam juga didukung oleh saksi Mindo
Rosalina Manulang yang menyatakan tidak
pernah ada peran Terdakwa, ketika saksi
Mindo
Rosalina
Manulang
melakukan
pengurusan proyek Hambalang dengan saksi
Wafid Muharam.
Bahwa saksi Angelina Patricia Sondakh,
menyatakan terkait permintaan fee sebesar
5% di proyek Kemendiknas adalah atas
perintah
langsung
saksi
Muhammad
Nazaruddin,
saksi
menyatakan
bahwa
Terdakwa tidak pernah ikut campur dalam
proyek-proyek Kemendiknas.
Bahwa saksi Yulianis dalam persidangan
menyatakan, tugas saksi dalam mengelola
dan penggunaan fee-fee proyek, pembayaran
dari BUMN setelah ada kesepakatan dan
harus dengan persetujuan saksi Muhammad
Nazaruddin. Saksi Yulianis sebagai wakil dari
saksi Neneng Sri Wahyuni yang menjabat
Direktur Keuangan PT Anugrah, menyatakan
tidak ada keterlibatan Terdakwa dalam
pengelolaan
keuangan
PT
Anugrah.
Keterangan ini juga didukung oleh saksi
Oktarina Furi yang menyatakan bahwa
otoritas pengelolaan uang yang berlaku di PT
Anugrah harus dengan persetujuan saksi
Yulianis, saksi Neneng Sri Wahyuni dan saksi
Muhammad Nazaruddin.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian di atas,
maka telah terungkap fakta Terdakwa sama
sekali tidak berperan dalam pengurusan dan
permintaan fee-fee antara 7% (tujuh persen)
sampai dengan 22% (dua puluh dua persen)
yang disimpan di brankas Permai terkait
proyek Hambalang, proyek Kemendiknas
maupun proyek-proyek lainnya.
d.Pengurusan proyek P3SON Hambalang
(1) Fakta penerbitan Surat Keputusan
- 42 -

Kepala Badan Pertanahan Nasional


Republik
Indonesia
Nomor:
1/HP/BPN
RI/2010
tentang
Pemberian Hak Pakai Atas Nama
Kementrian Negara Pemuda dan
Olahraga Indonesia Atas Tanah di
Kabupaten Bogor Jawa Barat (SK
BPN Tanah Hambalang)
Penuntut Umum dalam Surat Dakwaan,
halaman
____
pada
pokoknya
mendalilkan bahwa Terdakwa meminta
Ignatius Mulyono untuk menanyakan
proses pengurusan sertifikat tanah
terkait
dengan
Proyek
P3SON
Hambalang kepada BPN RI.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut
tidak benar dan telah dibantah oleh
saksi-saksi yang namanya justru disebut
dalam Surat Dakwaan, yaitu: saksi Joyo
Winoto, Managam Manurung, Ignatius
Mulyono, Wafid Muharam dan Mindo
Rosalina Manullang.
Fakta pengurusan SK BPN Tanah
Hambalang
oleh
Muhammad
Nazaruddin
melalui
Ignatius
Mulyono
Dalam persidangan pada tanggal 14 Juli
2014, saksi Joyo Winoto yang pada saat
itu menjabat sebagai kepala BPN R.I.,
menyatakan tidak pernah dihubungi
pihak manapun, dalam hal ini termasuk
M.
Nazaruddin,
Mindo
Rosalina
Manulang maupun Ignatius Mulyono
terkait penerbitan SK BPN Tanah
Hambalang, kecuali dihubungi oleh
Menpora Adhayaksa Dault pada tahun
2006. Bahkan saksi Joyo Winoto sama
sekali
tidak
mengetahui
adanya
permintaan bantuan dari saksi Ignatius
Mulyono
kepada
saksi
Managam
Manurung.
Dalam persidangan pada tanggal 14 Juli
- 43 -

2014, walaupun saksi Ignatius Mulyono


mengaku mendapat perintah mengurus
SK BPN Tanah Hambalang, namun
menurut saksi Ignatius Mulyono yang
memberi
perintah
adalah
saksi
Muhammad
Nazaruddin.
Sedangkan
peran Terdakwa terkait pengurusan SK
BPN Tanah Hambalang semata-mata
merupakan penilaian saksi Ignatius
Mulyono
sendiri,
karena
perintah
pengurusan SK BPN Tanah Hambalang
kepada
saksi
Ignatius
Mulyono
disampaikan oleh saksi Muhammad
Nazaruddin pada saat saksi Ignatius
Mulyono dipanggil ke ruang ketua
fraksi/Terdakwa oleh saksi Muhammad
Nazaruddin dimana pada saat itu ada
Terdakwa. Perintah saksi Muhammad
Nazaruddin ditindaklanjuti oleh saksi
Ignatius Mulyono dengan mendatangi
kantor
BPN
R.I.
menemui
saksi
Managam Manurung.
Dalam persidangan tanggal 14 Juli 2014,
saksi
Managam
Manurung
membenarkan pernah dihubungi oleh
saksi Ignatius Mulyono, namun demikian
saksi menyatakan karena kesibukannya,
saksi tidak melakukan hal apapun untuk
menindaklanjuti
permintaan
saksi
Ignatius Mulyono. Selanjutnya Saksi
Managam Manurung yang pada saat itu
menjabat sebagai Plt Deputi Bidang Hak
Tanah
dan
Pendaftaran
Tanah,
menegaskan tidak pernah dihubungi
oleh saksi Muhammad Nazaruddin, saksi
Mindo Rosalina atau saksi Wafid
Muharam terkait dengan pengurusan SK
BPN Tanah Hambalang.
Bahwa baik saksi Joyo Winoto maupun
saksi Managam Manurung menyatakan
bahwa SK BPN Tanah Hambalang telah
selesai karena memang sudah saatnya
selesai. Dengan kata lain, penerbitan SK
BPN Tanah Hambalang pada tanggal 6
Januari 2010 bukan karena diurus oleh

- 44 -

Terdakwa
maupun
M.
Nazaruddin
melalui
Ignatius
Mulyono, namun karena memang BPN
telah saatnya menerbitkan SK BPN
Tanah Hambalang tersebut.
Bahwa SK BPN Tanah Hambalang yang
telah diterbitkan tersebut selanjutnya
diambil oleh saksi Ignatius Mulyono dan
diserahkan
kepada
Muhammad
Nazaruddin di ruang lantai 9, Gedung
DPR RI
Fakta pengurusan SK BPN Tanah
Hambalang
oleh
Muhammad
Nazaruddin melalui Mindo Rosalina
Manulang
Bahwa menurut keterangan saksi Mindo
Rosalina Manulang pada persidangan
tanggal
14
Agustus
2014,
Wafid
Muharam pernah meminta saksi untuk
menyampaikan
kepada
Muhammad
Nazaruddin agar membantu pengurusan
sertifikat
proyek
Hambalang.
Dari
keterangan saksi ini diketahui bahwa
pihak yang membantu pengurusan
sertifikat proyek Hambalang adalah
Muhammad
Nazaruddin,
bukan
Terdakwa atau setidak-tidaknya pihak
yang diminta bantuannya oleh Wafid
Muharam
adalah
Muhammad
Nazaruddin, bukan Terdakwa.
Setelah saksi Mindo Rosalina Manulang
menyampaikan pesan Wafid Muharam
kepada saksi Muhammad Nazaruddin,
saksi diperintahkan saksi Muhammad
Nazaruddin untuk menghubungi saksi
Joyo Winoto. Selanjutnya saksi beberapa
kali menelpon saksi Joyo Winoto, tetapi
tidak diangkat dan sms tidak dibalas
sehingga
kemudian
saksi
melapor
kepada saksi Muhammad Nazaruddin.
Menindaklanjuti laporan saksi Mindo
Rosalina Manulang, saksi Muhammad
Nazaruddin menghubungi seseorang,
- 45 -

yang
tidak
diketahui
saksi
siapa
orangnya. Saat itu saksi Muhammad
Nazaruddin berkata: Pak Joyo sudah
ditelepon Rosa tetapi tidak diangkat
mas, di-sms juga tidak dibalas. Setelah
menelpon orang tadi, akhirnya saksi
Muhammad Nazaruddin memerintahkan
kembali saksi Mindo Rosalina Manulang
untuk menghubungi saksi Joyo Winoto,
yang dibalas melalui SMS: ke sekertaris
saya saja.
Setelah mendapat SMS dari saksi Joyo
Winoto tersebut di atas, saksi Mindo
Rosalina Manulang mendatangi kantor
BPN R.I.. Kedatangan saksi ditemui oleh
sekertaris Joyo Winoto dan menyerahkan
bungkusan dokumen dengan amplop
warna coklat. Bungkusan dokumen
tersebut kemudian diserahkan saksi
Mindo Rosalina Manulang kepada saksi
Muhammad Nazaruddin di ______.
Terkait pembicaraan pertelepon antara
Muhammad
Nazaruddin
dengan
seseorang, saksi Mindo Rosalina dalam
persidangan
memberi
klarifikasi
keterangannya pada butir 19 BAP
tertanggal
1
Maret
2013,
yang
menyatakan: Pak Nazar menghubungi
Pak
Anas
Urbaningrum.
Dalam
keterangannya di persidangan, Saksi
Mindo
Rosalina
menyatakan
tidak
mengetahui siapa orang yang dihubungi
saksi Muhammad Nazaruddin tersebut
dan penyebutan nama Anas dalam BAP
tertanggal 1 Maret 2013 semata-mata
merupakan asumsi saksi Mindo Rosalina
Manulang, karena istilah mas biasanya
merupakan panggilan saksi Muhammad
Nazaruddin kepada Terdakwa. Bahwa
terkait dengan asumsi saksi Mindo
Rosalina Manullang tersebut, Terdakwa
dalam persidangan yang sama telah
memberikan
tanggapan
yang
membantah asumsi tersebut. Terdakwa
tidak pernah melakukan pembicaraan

- 46 -

apapun dengan Muhammad Nazaruddin,


termasuk melalui telepon perihal SK
BPN Tanah Hambalang.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian di
atas, maka telah terungkap fakta,
sebagai berikut:
(i)

pengurusan
SK
BPN
Tanah
Hambalang atau sertifikat tanah
proyek
Hambalang
merupakan
inisiatif dan/atau perintah dari saksi
Muhammad Nazaruddin, yaitu baik
kepada saksi Ignatius Mulyojo
maupun
kepada
saksi
Mindo
Rosalina Manulang;
(ii) Dokumen berupa SK BPN Tanah
Hambalang yang telah diterbitkan
oleh saksi Joyo Winoto selaku kepala
BPN R.I. diserahkan kepada saksi
Muhammad
Nazaruddin
karena
proses SK BPN tersebut selesai; dan
(iii) Terdakwa terbukti sama sekali tidak
mempunyai inisiatif atau berperan
dalam
pengurusan
SK BPN Tanah Hambalang tersebut.
(2) Fakta bantahan peran Terdakwa
dalam pengurusan Proyek P3SON
Bahwa Penuntut Umum dalam Surat
Dakwaan halaman _____ dan Surat
Tuntutan
halaman
_______
pada
pokoknya menguraikan dalil bahwa
Terdakwa berperan dalam pengurusan
proyek P3SON, antara lain membantu
penerbitan SK BPN Tanah Hambalang,
sebagaimana
telah
terbantahkan
berdasarkan
uraian
di
atas
dan
menghadiri pertemuan-pertemuan yang
membicarakan proyek Hambalang.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut
bertentangan dengan fakta persidangan,
karena:
a. Saksi

- 47 -

Wafid

Muharam

pada

persidangan tanggal 2 Juli 2014 telah


menegaskan bahwa selama kegiatan
proyek
Hambalang
berlangsung,
saksi tidak pernah mendengar nama
Terdakwa. Justru saksi mendengar
dari Prof. Mahyudin, saksi Angelina
Sondakh yang selalu berkata bahwa
yang mengurus proyek Hambalang
adalah
Muhammad
Nazaruddin.
Ditambahkan juga oleh Saksi Wafid
Muharam
bahwa
Saksi
Wafid
Muharam tidak pernah bertemu
dengan
Terdakwa
membicarakan
proyek Hambalang.
b. Saksi Mindo Rosalina Manulang pada
persidangan tanggal 14 Agustus 2014
telah menegaskan bahwa Terdakwa
tidak
pernah
ikut
pertemuanpertemuan yang membahas proyek
Hambalang.
Selanjutnya
saksi
menegaskan bahwa Terdakwa sama
sekali tidak memiliki peranan dalam
pengurusan proyek Hambalang.
c. Saksi
Machfud
Suroso
pada
persidangan tanggal 30 Agustus 2014
telah menegaskan bahwa Terdakwa
sama sekali tidak memiliki peranan
dalam
pengurusan
proyek
Hambalang yang dimenangkan oleh
PT
Adhi
Karya.
Saksi
juga
menegaskan Terdakwa sama sekali
tidak pernah ikut dalam pertemuanpertemuan yang membahas proyek
Hambalang.
d. Saksi Teuku Bagus Noor pada
persidangan tanggal 30 Juni 2014
bahkan secara tegas mengatakan
tidak
pernah
bertemu
dengan
Terdakwa.
e. Dalam keterangan Terdakwa pun
dalam persidangan pada tanggal 4
September 2014 telah membantah
membantu
PT
Adhi
Karya

- 48 -

memperoleh
proyek
Hambalang
maupun
mengikuti
pertemuanpertemuan yang membahas proyek
Hambalang.
Bahwa berdasarkan uraian-uraian di
atas, maka telah terungkap fakta
Terdakwa sama sekali tidak berperan
dalam pengurusan proyek Hambalang
maupun memenangkan PT Adhi Karya
untuk mengerjakan proyek Hambalang.
Terdakwa juga terbukti tidak pernah
mengikuti pertemuan-pertemuan yang
membahas proyek Hambalang.

b.

Campur tangan agar PT DGI mundur dari


proyek P3 SON Hambalang dan PT Adhi
Karya yang maju.
Bahwa dalil Penuntut Umum tidak sesuai
dengan fakta-fakta yang terungkap dalam
persidangan. Adapun fakta persidangan
telah mengungkapkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Fakta pertemuan bulan puasa;
Bahwa saksi M. Arif Taufikurrahman
tidak pernah melihat secara langsung
pertemuan secara khusus antara saksi
Machfud Suroso, saksi Muhammad
Nazaruddin dan Terdakwa pada saat
acara buka puasa bersama tahun 2010
di rumah Terdakwa. Saksi menyatakan
hanya mendengar cerita tersebut dari
saksi Machfud Suroso.
Saksi
Machfud
Suroso
dalam
keterangan
di
persidangan
telah
membantah adanya pertemuan khusus
antara dirinya dengan saksi Muhammad
Nazaruddin dan Terdakwa. Terdakwa
ketika
memberikan
tanggapan
di
persidangan juga membantah adanya

- 49 -

pertemuan tersebut, pertemuan khusus


tersebut tidak mungkin terjadi karena
pada saat acara buka puasa bersama
tahun 2010 tersebut seluruh rumah
sangat penuh oleh tamu undangan.
2. Fakta tentang sudah dikeluarkannya
biaya oleh PT DGI untuk proyek
Hambalang;
Bahwa Saksi Wafid Muharam dalam
persidangan
menyatakan
pernah
mendengar bahwa Mindo Rosalina
Manulang
telah mengeluarkan uang
untuk mendapatkan proyek Hambalang,
Saksi menyatakan bahwa terkait biaya
yang telah dikeluarkan oleh saksi
Mindo Rosalina Manulang tersebut,
saksi Wafid Muharam diminta untuk
menggaantkian
uang
yang
sudah
dkeluarkan sebesar Rp 21 Milyar.
Saksi Wafid Muharam menyatakan
tidak mengetahui alasan kenapa saksi
Mindo Rosalina Manulang meminta
uang penggantian tersebut kepada
saksi. Saksi Wafid Muharam kemudian
meminta saksi Paul Nelwan dan saksi
Lisa L Isa untuk menyelesaikan urusan
dengan
saksi
Mindo
Rosalina
Manulang.
Saksi
Wafid
Muharam
menyatakan tidak mengetahui proses
pengembalian uang tersebut kepada
saksi Mindo Rosalina Manulang.
3. Fakta adanya pengembalian dana dari
PT Adhi Karya kepada PT DGI melalui
saksi Lisa L Isa;
Bahwa saksi Lisa L Isa dalam
persidangan
menyatakan
pernah
memberikan berkas kepada saksi
Mindo
Rosalina
Manulang
atas
permintaan dari saksi Wafid Muharam.
Saksi
Lisa
L
Isa
menyatakan
penyerahan berkas tersebut ada 2
(dua) tahap. Saksi Lisa L Isa tidak

- 50 -

mengetahui isi berkas tersebut, baru


mengetahui bahwa isi berkas adalah
uang ketika saksi diperiksa oleh KPK.
Saksi menyatakan tidak mengetahui
keterkaitan
penyerahan
berkas
tersebut dengan mundurnya PT DGI
dari proyek P3SON Hambalang. Saksi
juga
menyatakan tidak mengetahui
keterkaitan
antara
penyerahan
berkas tersebut dengan Terdakwa.
Bahwa
fakta
yang
menunjukkan
mundurnya PT DGI dari proyek P3SON
Hambalang
adalah
bukan
karena
perintah Terdakwa juga didukung oleh
kesaksian saksi Paul Nelwan pada saat
persidangan yang menegaskan, bahwa
PT.DGI tidak lulus prakualifikasi, bukan
disebutkan
PT.DGI
mundur
dari
kompetisi
karena
disuruh
oleh
Terdakwa.
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
maka telah terungkap fakta dalam
persidangan bahwa mundurnya PT DGI
yang dibawa oleh Mindo Rosalina
Manulang
dari
proyek
P3SON
Hambalang, tidak ada campur tangan
atau bahkan perintah dari Terdakwa.
Fakta yang terungkap bahwa PT.DGI
tidak lulus prakualifikasi dalam proses
pelelangan proyek P3SON Hambalang.
(i)

Fakta bantahan terhadap dalil Penuntut


Umum mengenai penerimaan-pemerimaan
oleh Terdakwa terkait dengan proyek-proyek
di Kemendiknas dan Kemenpora yang
dikerjakan oleh AK
a. Fakta mengenai Penerimaan Dana
sebesar
Rp 2.010.000.000,00 (dua milyar sepuluh
juta Rupiah) dari PT Adhikarya.
Bahwa Penuntut Umum dalam Surat
Tuntutannya halaman 1304, menyatakan
Terdakwa menerima uang sebesar Rp

- 51 -

2.010.000.000,00 (dua milyar sepuluh


juta Rupiah) dari PT Adhi Karya.
Bahwa dalil Penuntut Umum tidak benar
karena
tidak
sesuai
dengan
fakta
persidangan.
Bahwa
Terdakwa
tidak
pernah
menerima uang dari PT Adhi Karya,
baik itu sebesar Rp 2.010.000.000,00
(dua milyar sepuluh juta Rupiah)
(sebagaimana tertera pada halaman
1304 Surat Tuntutan) maupun Rp.
2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus
lima juta lima ratus ribu Rupiah) dan
Terdakwa tidak pernah mengetahui
adanya sumbangan dari PT Adhi Karya.
Bahwa berdasarkan keterangan saksi
Teuku Bagus Mokhamad Noor pada
tanggal 30 Juni 2014, dimana saksi tidak
kenal dan tidak pernah bertemu dengan
Terdakwa. Kemudian saksi Teuku Bagus
Mokhamad Noor menerangkan pernah
melakukan pengeluaran uang secara
bertahap berdasarkan permintaan dari
saksi Munadi Herlambang dan saksi
Indrajaja Manopol dan Pak Muchayat yang
diperuntukkan untuk Terdakwa sebesar
Rp. 2.210.000.000,- (dua milyar dua ratus
sepuluh juta Rupiah).
Adapun pengeluarannya adalah sebagai
berikut:
Tanggal 19 April 2010, diberikan
sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus
juta
Rupiah)
melalui
Indrajaja
Manopol;
(ii) Sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus
juta Rupiah) melalui Ketut Darmawan
atas perintah dari Pak Muchayat; dan
(iii) Sebesar Rp. 1.510.000.000,- (satu
milyar lima ratus sepuluh juta Rupiah),
dengan rincian sebagai berikut:
(i)

- 52 -

tanggal 31 Maret 2010, sebesar Rp.


500.000.000,- (lima ratus juta
Rupiah)
yang diberikan kepada
Munadi Herlambang;
tanggal 15 April 2010 sebesar Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta
Rupiah) yang diberikan kepada
Munadi Herlambang;
tanggal 1 Juni 2010, sebesar Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta
Rupiah) diberikan kepada Munadi
Herlambang;
tanggal 6 Desember 2010, sebesar
Rp. 10.000.000,-. (sepuluh juta
Rupiah) diberikan kepada Munadi
Herlambang
untuk
biaya
entertaiment Terdakwa.

Bahwa saksi Teuku Bagus Mokhamad Noor


menyatakan tidak pernah mengetahui
apakah uang-uang tersebut di atas sampai
kepada Terdakwa atau tidak dan saksi
Teuku Bagus Mokhamad Noor tidak
pernah bertanya tentang hal tersebut.
Bahwa keterangan yang disampaikan di
atas
dibantah
oleh
saksi
Munadi
Herlambang menyatakan tidak pernah
menerima uang dari saksi Teuku Bagus
Mokhamad Noor yang peruntukkan untuk
kepentingan Terdakwa dalam rangka
Kongres Partai Demokrat di Bandung.
Demikian juga dengan saksi Indrajaja
Manopol yang menyatakan hal yang sama
tidak pernah menerima uang dari saksi
Teuku Bagus Mokhamad Noor.
Bahwa penjelasan di atas menunjukkan
Penuntut Umum tidak menguraikan analisa
faktanya yang utuh sesuai dengan fakta
sidang.
Bahwa
lebih
lanjut
berdasarkan
keterangan saksi Munadi Herlambang
tentang sumber dana pembayaran hotelhotel di Bandung adalah dari saksi Pasya
Ismaya Sukardi yang diberikannya dalam

- 53 -

bentuk cash, kemudian dibayarkan oleh


saksi Munadi Herlambang kepada PT
Bandung Tour and Travel (pimpinan saksi
Pujiningtyas) dalam 3 (tiga) tahap melalui
transfer rekening PT Bandung Excellent
Tours & Travel Nomor 0113129971 BNI
Cabang Asia Afrika. Adapun transfertransfer tersebut sebagai berikut:
(1) Tanggal 21 April 2010, Pengirim:
Munadi
Herlambang
sebesar
Rp.400.000.000,00 (empat ratus juta
rupiah).
(2) Transfer dari Bank Mandiri tanggal 26
April 2010, Pengirim: Chairunnisa
(istri Munadi Herlambang), sebesar
Rp. 423.120.000,00 (empat ratus dua
puluh tiga juta seratus dua puluh ribu
rupiah).
(3) Transaksi tanggal 26 April 2010.
Pengirim: Chairunnisa (istri Munadi
Herlambang)
sebesar
Rp.423.120.000,00 (empat ratus dua
puluh tiga juta seratus dua puluh ribu
rupiah).
Bahwa
saksi
Munadi
Herlambang
menerangkan
pembayaran-pembayaran
yang dilakukan oleh dirinya (saksi Munadi
Herlambang) tidak pernah diinformasikan
kepada Terdakwa.
Bahwa
berdasarkan
fakta-fakta
persidangan sebagaimana tersebut di atas,
terbukti bahwa Terdakwa tidak pernah
menerima uang dari PT. Adhikarya.
b. Fakta mengenai Penerimaan Uang dari
Muhammad
Nazaruddin
Rp
84.515.650.000,00
(delapan
puluh
empat milar lima ratus lima belas juta
enam ratus lima puluh ribu Rupiah)
untuk Keperluan Pencalonan Ketua
Umum Partai Demokrat.

- 54 -

Bahwa Penuntut Umum dalam Surat


Tuntutannya
halaman
1350-1351,
menyatakan Terdakwa menerima uang
sebesar Rp 84.515.650.000,00 (delapan
puluh empat milar lima ratus lima belas
juta enam ratus lima uluh ribu Rupiah) dan
USD 36,070 (tiga puluh enam ribu tujuh
puluh Dollar Amerika Serikat). Bahwa
Terdakwa tidak pernah menerima uang
dari
Muhammad
Nazaruddin
Rp
84.515.650.000,00 (delapan puluh empat
milar lima ratus lima belas juta enam ratus
lima puluh ribu Rupiah) baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut di
atas keliru dan tidak tepat karena
Penuntut Umum tidak menguraikan fakta
sidang secara utuh.
(i)

Apartment Senayan City disewa


untuk kepentingan Muhammad
Nazaruddin
Bahwa pada persidangan tanggal ____
saksi
Eva
Ompita
Soraya
menerangkan
tujuan
disewanya
apartment Senayan City adalah untuk
kepentingan
bisnis
Muhammad
Nazaruddin bukan untuk Posko I Tim
Pemenangan Terdakwa. Hal tersebut
disampaikan
karena
saksi
Eva
Ompita
Soraya
pernah
melihat
Muhammad
Nazaruddin
rapat
dengan rekan bisnisnya dan rapat
dengan
anggota
Kepolisian.
Keterangan yang kurang lebih sama
juga disampaikan oleh Terdakwa
dimana Apartment Senayan City
bukan Posko pemenangan Terdawa
melainkan tempat yang disewa oleh
Muhammad Nazaruddin.

(ii)

- 55 -

Tidak ada pertemuan pada bulan


Januari
2010
di
Apartment
Senayan City

Bahwa
berdasarkan
keterangan
Terdakwa
yang
didukung
oleh
keterangan
saksi
Muhammad
Rahmad,
saksi
Ruhut
Poltak
Sitompul,
saksi
Prof
Achmad
Mubarok, saksi Saan Mustofa, saksi
Pasha Ismaya Sukardi, saksi Sudewo,
saksi Mirwan Amir, saksi Umar Arsal
tidak ada pertemuan 513 DPC di
bulan Januari 2010 yang tujuannya
untuk
membahas
pencalonan
Terdakwa
sebagai
Ketua
Partai
Demokrat. Fakta lain terungkap
bahwa jumlah DPC Partai Demokrat
hanya 490 bukan 513 tetap tidak
dapat
menampung
jumlah
keseluruhan para DPC-DPC.
Bahwa di bulan Januari 2010
sebagian anggota Partai Demokrat
disibukkan dengan kegiatan Pansus
Bank Century yang cukup menyita
waktu. Bahwa saat itu Terdakwa
sebagai
Ketua
Fraksi
Partai
Demokrat diminta khusus oleh Ketua
Dewan Pembina (yaitu Bapak SBY)
agar menjaga jalannya Pansus Bank
Century tersebut, sehingga tidak
mungkin
bagi
Terdakwa
untuk
memikirkan hal-hal lain diluar dari
Pansus Bank Century.
Bahwa saksi Eva Ompita Soraya dan
Muhamad Rahmad-pun membantah
penah membagi uang kepada DPC
sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh
juta rupiah) dan koordinator wilayah
sebesar Rp25.000.000,00 (dua puluh
lima juta rupiah) serta entertainment
sebesar Rp20.000.000,00 (dua puluh
juta rupiah) yang keseluruhannya
berjumlah Rp7.000.000.000,00 (tujuh
milyar rupiah) di Apartment Senayan
City.
Oleh karena itu berdasarkan faktafakta yang diuraikan di atas maka

- 56 -

tidak banar ada pertemuan di


Apartment
Senayan
City
untuk
membahas
pencalonan
Terdakwa
sebagai
Ketua
Umum
Partai
Demokrat.
(iii) Tidak ada pertemuan di bulan
Februari
2010
di
Apartment
Senayan City
Bahwa
sama
halnya
dengan
keterangan Penasihat Hukum pada
poin
sebelumnya,
berdasarkan
keterangan Terdakwa yang didukung
oleh keterangan saksi Muhammad
Rahmad,
saksi
Ruhut
Poltak
Sitompul,
saksi
Prof
Achmad
Mubarok, saksi Saan Mustofa, saksi
Pasha Ismaya Sukardi, saksi Sudewo,
saksi Mirwan Amir, saksi Umar Arsal
selaku Tim Relawan Pemenangan
Terdakwa tidak ada pertemuan pada
bulan Februari 2010 yang tujuannya
untuk
membahas
pencalonan
Terdakwa
sebagai
Ketua
Partai
Demokrat.
Bahwa pada bulan Februari 2010
Terdakwa
masih
berkonsentrasi
memimpin tim Pansus Bank Century
di DPR RI dalam rangka menggalang
dukungan
(atau
berkoordinasi)
dengan fraksi koalisi pemerintahan.
kegiatan Pansus Century sendiri
berakhir pada bulan Maret 2010.
Bahwa saksi Eva Ompita Soraya dan
Muhamad Rahmad-pun menyatakan
tidak pernah membagi uang kepada
DPC
sebesar
Rp10.000.000,00
(sepuluh juta rupiah) dan koordinator
wilayah sebesar Rp25.000.000,00
(dua puluh lima juta rupiah) serta
entertainment
sebesar
Rp20.000.000,00 (dua puluh juta
rupiah)
yang
keseluruhannya

- 57 -

berjumlah Rp7.000.000.000,00 (tujuh


milyar rupiah).
Oleh karena itu berdasarkan faktafakta yang disuraikan di atas maka
tidak pernah ada pertemuan di
Apartment
Senayan
City
untuk
membahas
pencalonan
Terdakwa
sebagai
Ketua
Umum
Partai
Demokrat.
Bahwa berdasarkan kedua penjelasan
Penasihat Hukum Terdakwa di atas, maka
biaya sewa apartemen Senayan City lantai
7 senilai USD 30,900 (tiga puluh ribu
Sembilan ratus Dollar Amerika Serikat)
menjadi tidak relevan dan tidak berdasar.
(iv) Tidak
ada
pertemuan
di
Apartment Ritz Carlton Pacific
Place
Bahwa berdasarkan keterangan dari
Muhammad Rahmad, saksi Ruhut
Poltak Sitompul, saksi Prof Achmad
Mubarok, saksi Saan Mustofa, saksi
Pasha Ismaya Sukardi, saksi Sudewo,
saksi Mirwan Amir dan saksi Umar
Arsal
menerangkan
bahwa
tim
relawan tidak pernah mengadakan
pertemuan di Apartment Ritz Carlton
Pacific Place. Oleh karenanya biaya
sewa apartemen Ritz Carlton, Jakarta
sebesar 5,170 (lima ribu seratus
tujuh puluh Dollar Amerika Serikat)
menjadi tidak relevan atau tidak
terbukti telah diterima Terdakwa.
(v)

Pertemuan informal dengan kader


Partai
Demokrat
tanggal
28
Maret 2010
Bahwa Terdakwa menegaskan tidak
pernah mengadakan acara tandingan
Andi Alfian Malarangeng. Bahwa
tanggal 27 Maret 2010, Partai
Demokrat
mengadakan
acara
Rakernas
Partai
Demokrat
di

- 58 -

Kemayoran,
berupa
konsolidasi
nasional yang dipimpin oleh Ketua
Dewan Pembina dan Ketua Umum
pasca kekalahan voting Pansus Bank
Century.
Bahwa sebagai bentuk silaturahmi
Terdakwa
kepada
kader
Partai
Demokrat dalam rangka pencalonan
sebagai Ketua Partai Demokrat maka
pada tanggal 27-28 Maret 2010
Terdakwa berserta tim relawan
mengadakan acara silatuhrahmi di
Hotel Sultan. Bahwa fakta sidang
juga menerangkan bukan hanya
terdakwa yang mengadakan acara di
tanggal 28 Maret 2010 namun Bapak
Andi
Malarangeng
dan
Bapak
Marzukie Ali.
Bahwa selanjutnya tim relawan yang
terdiri dari saksi Ruhut Poltak
Sitompul,
saksi
Prof
Achmad
Mubarok, saksi Saan Mustofa, saksi
Pasha Ismaya Sukardi, saksi Sudewo,
saksi Mirwan Amir dan saksi Umar
Arsal tidak dapat memastikan jumlah
kehadiran DPC, sehingga mustahil
apabila
Penuntut
Umum
dapat
memastikan peserta yang hadir
sebanyak 446 DPC ditambah 138
DPC.
Bahwa saksi Eva Ompita Soraya dan
Muhamad Rahmad-pun membantah
membagikan
uang
sebesar
Rp.10.000.000,(sepuluh
juta)
kepada masing-masing DPC dan
menerima Rp.25.000.000,- (dua puluh
lima juta Rupiah) untuk koordinator
Wilayah dan Rp. 20.000.000,- (dua
puluh
juta
Rupiah)
untuk
entertainment.
(vi) Tidak pernah ada kegiatan road
show secara khusus dalam rangka

- 59 -

pencalonan sebagai Ketua Umum


Partai Demokrat
Bahwa berdasarkan keterangan saksi
Ruhut Poltak Sitompul, saksi Prof
Achmad
Mubarok,
saksi
Saan
Mustofa, saksi Pasha Ismaya Sukardi,
saksi Sudewo, saksi Mirwan Amir
menerangkan tidak pernah kegiatan
khusus berupa roadshow, melainkan
hanya acara silatuhrahmi Terdakwa.
Apabila
merujuk
pada
fakta
persidangan
Terdakwa
pernah
mengunjungi
Sumatra
Utara,
Jogjakarta
dan
Makasar
secara
khusus untuk bersilatuhrahmi dalam
rangka pencalonan Terdakwa sebagai
ketua Partai Demokrat.
(vii) Tidak ada pembagian uang pada
acara deklarasi Terdakwa sebagai
calon
Ketua
Umum
Partai
Demokrat
Bahwa tanggal 15 April 2010 adalah
acara deklarasi Terdakwa sebagai
calon Ketua Umum Partai Demokrat
di
Hotel
Sultan.
Berdasarkan
keterangan dari saksi, Prof. Dr.
Ahmad Mubarok, MA., Saan Mustofa,
Ruhut Poltak Sitompul, Mirwan Amir,
Pasha Ismaya Sukardi, Herlas Juniar,
Muhammad
Rahmad,
Sudewo,
Angelina Patricia Pinkan Sondakh
dan Umar Arsal tidak ada pembagian
uang pada acara Deklarasi tersebut.
Hal tersebut juga ditegaska oleh Hal
ini juga ditegaskan oleh saksi Eva
Ompita dan Muhammad Rachmad
yang
menyatakan
tidak
pernah
menyerahkan uang-uang tersebut
kepada para DPC.
Oleh karenanya tidak ada pembagian
uang sebesar Rp. 20.000.000,- (dua
puluh juta) kepada masing-masing
- 60 -

DPC dan Rp. 50.000.000,- (lima puluh


juta
Rupiah)
untuk
koordinator
Wilayah dan Rp. 25.000.000,- (dua
puluh lima juta Rupiah) untuk
entertainment tiap koordinator.
(viii) Tidak ada acara live Televisi saat
Deklarasi Terdakwa sebagai Ketua
Partai Demokrat
Bahwa tidak ada siaran live di Metro
TV dengan biaya sebesar Rp.
2.000.000.000,- (dua milyar Rupiah),
biaya siaran TV one dan RCTI
sebesar Rp. 4.500.000.000,- (empat
milyar lima ratus juta Rupiah).
Karena hal tersebut dengan tegas
dibantah oleh saksi Aldasni dari
Metro TV, bahkan saksi Aldasni
menyatakan tidak pernah ada siaran
TV live Metro TV untuk Terdakwa
melainkan hanya slot iklan dan untuk
slot iklan Metro TV tidak pernah
menerima pembayaran sebesar Rp.
2.000.000.000,- (dua milyar Rupiah).

c. Fakta
mengenai
Penerimaan
dari
Muhammad Nazaruddin Uang Sebesar
Rp 30.000.000.000,00 (tiga puluh
milyar Rupiah) dan USD 5.225.000
(lima juta dua ratus dua puluh lima
Rupiah) untuk Keperluan Pelaksanaan
Pemilihan
Ketua
Umum
Partai
Demokrat.
Bahwa
saksi
Rio
Abdul
Rachman
memberikan
keterangan
mengenai
pembagian Blackberry adalah pekerjaan
tambahan, pekerjaan sebenarnya adalah
sebagai LO untuk mengawal orang-orang.
Kemudian tiba tiba ada instruksi untuk
mendistribusikan
blackberry
kepada
peserta (yang mana disinyalir uang
pembelian blackberry tersebut diberikan
dari Permai Group). Namun demikian tidak

- 61 -

ada instruksi dari


Terdakwa untuk
pembagian Blackberry. Dengan demikian
mengenai adanya pembelian dan pembagian Blacberry
tersebut tidak atas sepengetahuan Terdakwa. (kalau
tidak salahNuril juga ada kesaksian ttg BB!!! tambahkan)

Bahwa saksi Oktarina Furi memberikan


keterangan, ikut membantu persiapan
uang dari Permai Group yang dibawa ke
kongres Partai Demokrat di Bandung. Pada
waktu itu saksi diinformasikan oleh saksi
Yulianis dan saksi Neneng Sriwahyuni
untuk
menyiapkan
uang
Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh milyar
Rupiah) dan USD 2.000.000,00 (dua juta
US Dollar) dari brangkas kantor. Saksi
membenarkan keterangan saksi Yulianis
bahwa
dana
tersebut
berasal
dari
sumbangan dan ada yang dari Permai
Group sendiri,
jumlahnya adalah
Rp 30.000.000.000,00 (tiga puluh milyar
Rupiah) dan USD 2.000.000 (dua juta US
Dollar) dari kas kantor dan USD 3.000.000
(tiga juta US Dollar) dari sumbangan.
Bahwa saksi Oktarina Furi menerangkan,
mengenai adanya uang ke kongres
pemilihan ketua umum Partai Demokrat,
adalah atas perintah saksi Neneng
Sriwahyuni
dan
saksi
Muhammad
Nazaruddin,
bukan
atas
perintah
Terdakwa.
Bahwa saksi Eva Ompita menerangkan,
mengenai
pengembalian
sisa
uang
kongres,
seingat
saksi,
diberikan
Rp.1.000.000.000,- (satu milyar Rupiah),
disuruh kembalikan ke kantor, kemudian
saksi berikan kepada saksi Iwan, kemudian
saksi melaporkan kepada saksi Muhammad
Nazaruddin jika uang sudah diberikan
kepada saksi Iwan.
Bahwa selain itu saksi Eva Ompita
menerangkan,
sehubungan
dengan
kongres pemilihan ketua umum partai
Demokrat, saksi pernah membagikan uang

- 62 -

transport kepada DPC-DPC. Uang yang


dibagikan ke DPC ini saksi kurang tahu
apakah untuk yang mendukung Terdakwa,
tetapi yang jelas saksi bagikan sesuai
dengan
perintah
saksi
Muhammad
Nazaruddin, kepada DPC yang hadir .
Proses pembagiannya: saksi di BBM oleh
Muhammad Nazaruddin untuk ambil uang
dari saksi Yulianis di hotel Aston,
kemudian saksi ambil dari saksi Yulianis,
itu sudah dipacking, ada beberapa yang
saksi berikan ke Muhammad Nazaruddin
langsung dan ada beberapa yang disuruh
diberikan ke DPC, karena perintah
langsung
dari
saksi
Muhammad
Nazaruddin, saksi berikan ke DPC.
Dijelaskan pula oleh saksi Eva Ompita,
selama di kongres di Bandung saksi tidak pernah
komunikasi dengan Terdakwa dan saksi tidak pernah
melapor hal-hal yang telah dikerjakannya kepada
Terdakwa.

Bahwa dari keterangan saksi Eva Ompita


jelas membuktikan Terdakwa tidak pernah
memegang uang dari Permai Group untuk
kepentingan kongres pemilihan ketua
umum partai Demokrat di Bandung,
demikian juga dengan pembagian uang
terhadap DPC-DPC yang hadir dalam
kongres
pemilihan
ketua
umum
di
Bandung adalah berdasarkan perintah
saksi Muhammad Nazaruddin dan bukan
atas perintah Terdakwa. Demikian juga
faktanya uang sisa kongres tersebut
dibawa oleh saksi Muhammad Nazaruddin
dan tidak diberikan kepada Terdakwa,
artinya uang tersebut dipegang oleh saksi
Muhammad
Nazaruddin
tanpa
sepengetahuan dan seijin Terdakwa.
Bahwa saksi Carel Ticualu menerangkan,
sehubungan dengan kongres, tidak pernah
memberikan
uang
atau
menjanjikan
sesuatu kepada para DPC Kalteng dan
Kalbar untuk memilih Anas Urbaningrum
saat Kongres Partai Demokrat tahun 2010
di Bandung. Saksi juga menerangkan,

- 63 -

tidak pernah diminta oleh Terdakwa untuk


memberikan uang transport kepada para
DPC-DPC. Pemberian uang transport
merupakan inisiatif saksi sendiri.
Bahwa
saksi
Munadi
Herlambang
menerangkan, tidak pernah diminta oleh
Terdakwa untuk mengumpulkan uang
terkait dengan Kongres, untuk urusan
penyewaan kamar hotel, penyewaan mobil
dan pembelian Blackberry. Saksi tidak
pernah berhubungan dengan Terdakwa
terkait dengan Kongres.
Bahwa
saksi
Munadi
Herlambang
menerangkan,
saksi
Muhammad
Nazaruddin pernah bercerita kepada saksi,
untuk main 3 kaki sudah kasih dana Rp
5.000.000.000,- (lima milyar Rupiah)
kepada
Andi
Malarangeng,
Rp
5.000.000.000,- (lima milyar Rupiah)
kepada
Marzuki
Ali;
dan
Rp.
2.000.000.000,(dua
milyar
Rupiah)
kepada Ibas. Saksi menjelaskan, agar
siapapun yg terpilih menjadi ketua umum
partai
Demokrat,
saksi
Muhammad
Nazaruddin menjadi bendahara umum.
Bahwa dari keterangan saksi Munadi
Herlambang dan juga saksi Carel Ticualu,
dapat diperoleh fakta bahwa Terdakwa
tidak pernah sama sekali memerintahkan
untuk membagikan uang sehubungan
dengan pemenangan dirinya. Kemudian
juga diperoleh fakta saksi Muhammad
Nazaruddin lah yang berinisiatif untuk
bermain di tiga kaki dan memberikan dana
ke Marzuki Ali, Andi Mallarangeng dan
Ibas, fakta ini bersesuaian dengan
keterangan dari saksi Nuril Anwar. Dari
fakta ini terlihat jelas saksi Muhammad
Nazaruddin lah yang berperan besar
sehubungan adanya lingkaran uang
dalam kongres Partai Demokrat. Dengan
demikian mengenai uang-uang ini tidak
ada sangkut pautnya dengan Terdakwa

- 64 -

Bahwa saksi Ilham Idli menerangkan,


diminta oleh saksi Muhammad Nazaruddin
untuk membeli Blackberry sebanyak 400
unit dengan harga per unit Rp. 2.200.000,dengan
total
harga
sebesar
Rp.
1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah).
Uang untuk pembayaran Blacberry diambil
dari kantor Permai di Jalan Bucit Raya.
Untuk selanjutnya saksi selalu melakukan
kordinasi
dengan
saksi
Muhammad
Nazaruddin sampai dengan pelaksanaan
kongres partai Demokrat di Bandung.
Bahwa dengan demikian dari keterangan
saksi Ilham Idli diperoleh keterangan
bahwa saksi Muhammad Nazaruddin yang
berperan dalam pemberian Blackberry
dalam kongres di Bandung.
Bahwa
saksi
Yulianis
menerangkan,
sehubungan dengan kongres, saksi pernah
disuruh Muhammad Nazaruddin untuk
menyiapkan
Rp.30.000.000.000,(tiga
puluh
milyar
Rupiah)
dan
USD2.000.000.000,- (dua juta US Dollar)
uang kantor. Uang itu sumbernya dari
brankas dari bank. Uang itu bukan dari
fee-fee proyek pemerintah. Pada tahun
2009 fee-fee proyek pemerintah belum
begitu banyak. Uang itu sumbernya dari
proyek APBN (APBNP biasanya kalau saksi
Muhammad
Nazaruddin
yang
mengerjakan), bukan fee tapi kita yang
kerjakan proyek itu, jadi ada pembayaran
dari KPPN masuk ke rekening tiap-tiap
perusahaan, itulah yang ditarik. Seminggu
sebelum berangkat ke kongres uang
Rp.30.500.000.000 (tiga puluh milyar lima
ratus juta Rupiah) ditarik dari bank melalui
cek, yang mengatur adalah saksi dan
Oktarina Furi dengan koordinasi kepada
saksi Neneng Sriwahyuni.
Saksi kemudian menjelaskan bahwa uang
sekitar USD2,000,000 (dua juta US Dollar)
saksi
beli
di
logamindo
dengan
menggunakan
cek.
Dalam
proses

- 65 -

mempersiapkan uang tersebut, semua


orang
keuangan
membantu,
uang
dimasukkan dalam dus-dus besar. Uang
kantor sebesar Rp.30.000.000.000 (tiga
puluh milyar Rupiah) disiapkan sekitar 4
hari sebelum berangkat ke Bandung.
Sedangkan
uang
sumbangan
dikolek/dikumpulkan sejak tanggal 16
April, saksi peroleh dari saksi Aan dan
saksi Iwan. Sumbangan itu dicatat
berdasarkan atas nama bentuk tas yang
dibawa oleh saksi Aan. Jumlah secara
keseluruhan sekitar USD3,000,000 (tiga
juta US Dollar). Saksi tidak menulis asal
sumbernya, saksi menulis bentuk tas yang
dibawa oleh saksi Aan.
Yulianis menerangkan, mengenai uang
menuju Bandung/kongres, awalnya saksi
disuruh oleh Nazar untuk membawa
dengan mobil box, saksi disuruh membawa
20 milyar dulu dengan mobil box.
Kemudian uang sumbangan, saksi tidak
langsung terima berupa uang US dollar
tapi bercampur antara rupiah dan dollar,
kemudian oleh Nazar uang rupiah disuruh
tukarkan dengan dollar. Totalnya menjadi 3
juta dollar. Uang sumbangan saksi terima
secara berangsur-angsur dengan jumlah
total 3 juta dollar sekitar 30 milyar rupiah,
tidak benar yang dikatakan Nazar bahwa
saksi menerima langsung uang sumbangan
sebesar 50 milyar rupiah. Sisa uang
tersebut
saksi berikan kepada M
Nazaruddin dan Neneng.
Bahwa dari keterangan saksi Yulianis
diperoleh fakta jika uang tersebut didapat
dari sumbangan dan dari jasa pelaksanaan
proyek
APBN
(bukan
fee
proyek).
Kemudian sumbangan dan pengumpulan
uang untuk kemudian dibawa ke kongres
adalah atas perintah dari M Nazaruddin
bukan dari Anas Urbaningrum (saksi sama
sekali tidak pernah kontak dengan Anas
Urbaningrum, bahkan malah tidak kenal
sama sekali). Ada sisa uang kemudian

- 66 -

saksi serahkan kembali ke M Nazaruddin


dan Neneng.
Bahwa saksi Riyadi menerangkan, saksi
tidak pernah bertemu dan menerima
apapun dari Herry di Soto Pak Sadi di
Jalan Woltermonginsidi.
Bahwa saksi Riyadi menerangkan , saksi
tidak
pernah
menerima
bungkusan
ataupun uang dari Aan Ikhyaudin, untuk
Anas Urbaningrum.
Bahwa saksi Wahyudi Utomo alias Iwan
(ajudan dari M Nazaruddin) menerangkan,
tidak pernah mendengar Herry pernah
mengantar
uang
kepada
Anas
Urbaningrum
melalui
sopirnya
yang
bernama Riyadi alias Yadi di Soto Pak Sadi.
Bahwa saksi Wahyudi Utomo alias Iwan
(ajudan dari M Nazaruddin) menerangkan,
tidak pernah mendengar
dari Aan
Ikhyaudin (sopir M Nazaruddin) mengenai
penyerahan/pengantaran
uang
kepada
Anas Urbaningrum.
Bahwa saksi Wahyudi Utomo alias Iwan
menerangkan, tidak pernah mendengar N
Nazaruddin memberikan uang ke Anas
Urbaningrum.
Bahwa saksi Wahyudi Utomo alias iwan,
sehubungan dengan pemberangkatan ke
kongres Bandung menerangkan, saksi
berangkat ke Bandung satu mobil dengan
Jony Allen dan M Nazaruddin (ketika itu
menggunakan mobil M Nazaruddin).
Posisinya, saksi duduk di belakang Jony
Allen dan M Nazaruddin, ada Aan juga.
Ketika itu tidak satu mobil dengan Anas
Urbaningrum.
Tidak
ada
Anas
Urbaningrum dalam mobil tersebut.
Bahwa keterangan saksi Wahyudi Utomo
alias Iwan ini memperlihatkan jika
keterangan Aan patut diragukan karena
berbeda sekali dengan kerangan saksi

- 67 -

tersebut.
Kemudian
ada
kesesuaian
keterangan saksi Wahyudi Utomo dengan
keterangan saksi riyadi bahwa tidak ada
pengiriman
uang
kepada
Anas
Urbaningrum baik penyerahan itu di Soto
Pak Sadi maupun di tempat lain . Perlu
menjadi catatan bahwa keterangan saksi
Wahyudi Utomo ini patut memiliki nilai
pembuktian dengan mengingat posisi saksi
sebagai ajudan dari M Nazaruddin dan
bukan merupakan
orang dekat dari
terdakwa Anas Urbaningrum.

(ii) Fakta Terkait Mobil Harrier Nomor Polisi


B 15 AUD
Penuntut Umum dalam Surat Tuntutan
halaman 1468 pada pokoknya menguraikan
dalil
bahwa
Terdakwa
menerima
1 (satu) unit mobil Toyota Harrier No. Pol. B 15
AUD seharga Rp. 670.000.000,- (enam ratus
tujuh puluh juta Rupiah) yang sumber dananya
berasal dari tanda jadi proyek Hambalang.
Bahwa dalil Penuntut Umum tidak sesuai
dengan fakta-fakta yang terungkap dalam
persidangan dan telah dibantah oleh saksi
Teuku Bagus Mokhamad Noor, saksi Machfud
Suroso, dan saksi Munadi Herlambang yang
namanya justru disebut dalam Surat Dakwaan
dan Surat Tuntutan. Adapun fakta persidangan
telah mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
Fakta wacana
Harrier

pembelian

mobil

Toyota

- Bahwa Penuntut Umum mendalilkan adanya


pertemuan pada bulan September 2009 di
restoran Cina Pacific Place di lobby Mall
depan Apartemen Capital, yang dihadiri
oleh
Terdakwa,
saksi
Muhammad
Nazaruddin, saksi Teuku Bagus Mokhamad
Noor, saksi Machfud Suroso dan saksi
Munadi Herlambang. Dalam petemuan
bulan September 2009 tersebut pada

- 68 -

pokoknya didalilkan oleh Penuntut Umum


telah ada wacana pemberian mobil baru
kepada Terdakwa, yang sumber uangnya
berasal dari tanda jadi proyek Hambalang.
Bahwa dalam persidangan, saksi Teuku
Bagus Mokhamad Noor, saksi Machfud
Suroso dan saksi Munadi Herlambang,
masing-masing
telah
membantah
adanya
pertemuan
pada
bulan
September
2009
tersebut
apalagi
pembicaraan wacana pembelian mobil.
Pertemuan bulan September 2009 tersebut
juga telah dibantah oleh Terdakwa.
Bahwa saksi Teuku Bagus Mokhamad Noor
pun dalam persidangan pada tanggal 30
Juni
telah
menegaskan
PT Adhi Karya maupun saksi sendiri tidak
pernah memberikan mobil Toyota Harrier
kepada Terdakwa.
Fakta
mobil
Toyota
Harrier
bukan
merupakan penerimaan oleh Terdakwa.
- Bahwa berdasarkan keterangan Terdakwa,
mobil Toyota Harrier bukan pemberian
kepada Terdakwa, melainkan dibeli sendiri
oleh Terdakwa, dimana Terdakwa meminta
bantuan saksi Mohammad Nazaruddin
untuk mengurusnya. Uang muka pembelian
mobil
Toyota
Harrier
sebesar
Rp.
200.000.000,- (dua ratus juta Rupiah)
diserahkan
Terdakwa
kepada
saksi
Mohammad Nazaruddin di restoran Chatter
Box, Plaza Senayan pada akhir bulan
Agustus 2009. Penyerahan uang muka
tersebut disaksikan oleh saksi Saan Mustofa
yang
membenarkan
adanya
peristiwa
tersebut pada persidangan tanggal 7
Agustus 2014. Selanjutnya berdasarkan
keterangan saksi M. Rahmad dan Terdakwa,
pada sekitar Februari 2010, Terdakwa telah
melakukan pembayaran sebagian cicilan
sebesar Rp. 75.000.000,- (tujuh puluh lima
juta Rupiah) kepada saksi Muhammad
Nazaruddin di ruang Ketua Fraksi dengan
meminta saksi . M. Rahmad untuk
- 69 -

mengambil di lemari.
- Bahwa telah menjadi fakta persidangan
berdasarkan keterangan Terdakwa bahwa
uang Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta
Rupiah) yang dipergunakan Terdakwa untuk
pembayaran uang muka pembelian mobil
Toyota Harrier merupakan pemberian dari
Bapak SBY karena telah berhasil menjadi
tim sukses Bapak SBY pada saat Pilpres
2009.
Fakta pemesanan mobil Toyota Harrier
oleh Muhammad Nazaruddin, pengiriman
mobil Toyota Harrier oleh Duta Motor dan
waktu diterimanya mobil Toyota Harrier
oleh Terdakwa
- Bahwa setelah penyerahan uang muka
sebesar
Rp.200.000.000,- (dua ratus juta Rupiah),
selanjutnya mobil Toyota Harrier tersebut
dipesan oleh saksi Muhammad Nazaruddin
dengan cara mendatangi showroom Duta
Motor pada tanggal 12 September 2009.
Menurut
keterangan
saksi
Jimmy
Hermawan
yang
merupakan
Direktur
showroom Duta Motor dan saksi Frans
Guna Wijaya, sales di showroom Duta
Motor, mobil Toyota Harrier tersebut
langsung diantar oleh saksi Frans Guna
Wijaya pada hari yang sama (yaitu tanggal
12 September 2009) ke kantor saksi
Muhammad Nazaruddin di Tebet.
- Setelah sampai di kantor saksi Muhammad
Nazaruddin di Tebet untuk mengantarkan
mobil Toyota Harrier tersebut, saksi Frans
Guna Wijaya bertemu dengan saksi Neneng
Sri Wahyuni dan menerima pembayaran.
Saksi Neneng Sri Wahyuni melakukan
pembayaran dengan uang tunai sebesar
Rp.150.000.000,- (seratus lima puluh juta
Rupiah) dan cek dengan tanggal mundur
pada
17
September
2009
sebesar
Rp.520.000.000,- (lima ratus dua puluh juta
Rupiah).
- 70 -

- Bahwa
berdasarkan
keterangan
saksi
Nurachmad Rusdam, mobil Toyota Harrier
tersebut pada hari yang sama (12
September
2009)
atas
permintaan
Terdakwa diambil oleh saksi dan dibawa ke
rumah Terdakwa. Keterangan ini ditegaskan
oleh saksi Riyadi yang menyatakan melihat
mobil Toyota Harrier tersebut telah
terparkir di rumah Terdakwa pada tanggal
12 September 2009 malam dan beberapa
hari kemudian telah digunakan saksi untuk
mengantar aktivitas Terdakwa.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka
telah terungkap fakta dalam persidangan
bahwa mobil Toyota Harrier tersebut dibeli
oleh Terdakwa sendiri, bukan merupakan
penerimaan dan waktu pemesanan, pengiriman
sampai mobil Toyota Harrier tersebut diterima
oleh Terdakwa terjadi pada tanggal 12
September 2009.
Fakta asal uang pembelian Toyota Harrier
bukan dari proyek Hambalang
- Bahwa cek dengan tanggal mundur pada 17
September 2009 terbukti merupakan cek
yang
dikeluarkan
oleh
PT
Pacific
Putra
Metropolitan
dan
ditandatangani oleh saksi Clara Maureen
selaku Direktur Utama. Dalam persidangan
pada tanggal 30 Juni 2014, saksi Clara
Maureen membenarkan tanda tangan yang
tertera pada cek tersebut merupakan
tandatangan miliknya. Keterangan yang
sama juga disampaikan oleh saksi Neneng
Sri Wahyuni tentang tandatangannya dari
saksi Clara Mauren. Namun Clara Mauren
menyatakan baru mengetahui penggunaan
cek tersebut untuk pembelian mobil Toyota
Harrier, ketika saksi dipanggil oleh saksi
Muhammad Nazaruddin di rutan Mako
Brimob.
Pada
saat bertemu
dengan
Muhammad Nazaruddin di Mako Brimob
tersebut, Saksi Clara Maureen mengaku
- 71 -

dipaksa Muhammad Nazaruddin untuk


menyatakan kepada penyidik KPK bahwa
uang dari cek Rp. 520.00.000 tersebut
berasal dari PT Adhi Karya atau proyek
Hambalang.
- Bahwa menurut keterangan saksi Mindo
Rosalina Manulang dan saksi Yulianis, uang
pembelian Toyota Harrier bukan berasal
dari PT Adhi Karya atau proyek Hambalang,
karena faktanya PT Duta Graha Indah
(DGI), salah satu perusahaan milik saksi
Muhammad Nazaruddin tidak mendapatkan
proyek
Hambalang
dari
Kemenpora.
Menurut keterangan saksi Yulianis, sumber
uang pembelian mobil Toyota Harrier
sebesar
Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta
Rupiah) berasal dari brankas besar yang
dipegang oleh saksi Neneng Sri Wahyuni
dan uang sebesar Rp. 520.000.000,- (lima
ratus dua puluh juta Rupiah) merupakan
cek yang diterbitkan PT Pacific Putra
Metropolitan. Tulisan pada cek tersebut
merupakan tulisan saksi Neneng Sri
Wahyuni. Keterangan saksi Yulianis tersebut
dibenarkan oleh saksi Neneng Sri Wahyuni.
Terkait dengan cek yang dipergunakan oleh
saksi Neneng Sri Wahyuni, saksi Clara
Mauren menerangkan bahwa ia adalah
direktur dari PT Pacific Putra Metropolitan
dimana
selaku
direktur
telah
menandatangani buku cek yang masih
kosong, yang sudah biasa dilakukan.
- Bahwa
keterangan
di
atas
sejalan/terkonfirmasi dengan keterangan
saksi Teuku Bagus Mokhammad Noor yang
menyatakan bahwa baik PT Adhi Karya
ataupun saksi Teuku Bagus Mokhammad
Noor tidak pernah mengeluarkan uang
sebesar Rp 700.000.000,- (tujuh ratus
juta
Rupiah)
atau
setidak-tidaknya
mengeluarkan kas bon di PT Adhi Karya
yang ditujukan untuk pembelian 1 (satu)
unit mobil Toyota Harrier untuk Terdakwa.

- 72 -

Fakta
pengambilan/pengucapan
Sumpah
Terdakwa sebagai anggota DPR-RI Periode
2009 2014 pada tanggal 1 Oktober 2009

- Bahwa Terdakwa merupakan anngota


Dewan
Perwakilan
Rakyat
Republik
Indonesia (DPR-RI) masa jabatan tahun
2009-2014 berdasarkan Keputusan Presiden
Nomor 70/P tahun 2009, tanggal 15
September
2009.
Terdakwa
dilantik
berdasarkan
Berita
Acara
Pengambilan/Pengucapan Sumpah sebagai
anggota DPR-RI pada tanggal 1 Oktober
2009;
- fakta di atas ditegaskan dengan keterangan
saksi Winantuningtyastiti selaku Sekertaris
Jenderal
DPR-RI,
yang
menyatakan,
.pengambilan sumpah para anggta DPRRI periode 2009 2014 adalah tanggal 1
Oktober
2009....,
selanjutnya
saksi
Winantuningtyastiti menyatakan, maka
hak dan kewajiban anggota DPR-RI melekat
sesaat
setelah
pengucapan
sumpah
tersebut. Dengan demikian, Terdakwa
secara definitif menjadi anggota DPR-RI
periode 2009-2014 terhitung sejak tanggal
Terdakwa mengucapkan sumpah pada
tanggal 1 Oktober 2009.
- Selanjutnya
saksi
Winantuningtyastiti
menjelaskan bahwa anggota DPR-RI baru
mendapatkan hak-nya yaitu berupa gaji
dan
tunjangan-tunjangan
lainnya
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
No. 27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD
dan DPRD yang selanjutnya dijabarkan
dalam Peraturan DPR RI No. 01 tahun 2011
tentang Kode Etik Anggota DPR terhitung
sejak
tanggal
pengucapan/pengambilan
sumpah
tersebut.
Keterangan
saksi
Winantuningtyastiti tersebut sesuai dengan
dalil Penuntut Umum sebagaimana tertuang
dalam Surat Dakwaan halaman 48 dan
Surat Tuntutan halaman 1512 yang
menyatakan: .sejak dilantik 1 Oktober

- 73 -

2009 sampai dengan tanggal 21 Agustus


2010 telah menerima gaji .
Keterangan
Ahli
menegaskan
kapan
seseorang
dapat
dikatakan
sebagai
penyelenggara Negara
Bahwa berdasarkan keterangan Ahli (i) Prof.
DR. Yusril Izha Mahendra; dan (ii) DR. Chairul
Huda, S.H., M.H. (vide Lampiran __) pada
pokoknya menerangkan:
-

seseorang dikatakan penyelenggara


Negara sejak mengucapkan sumpah
dimana sejak saat melekat hak dan
kewajibannya sebagai penyelenggara
Negara;

sementara di dalam Undang-Undang


Nomor
28
Tahun
1999
tentang
Penyelenggaraan Negara Yang Bersih
dan
Bebas
Korupsi,
Kolusi
dan
Nepotisme disebutkan penyelenggara
negara itu orang yang menjalankan
fungsi
legislative,
eksekutif
dan
yudikatif;

arti kata menjalankan fungsi adalah


sesaat setelah mengucapkan sumpah.

Berdasarkan keterangan ahli di atas, maka


seseorang resmi menjadi penyelenggara
Negara sejak pengucapan sumpahnya,
karena setelah itu baru melekat hak dan
kewajiban penyelenggara Negara tersebut
dalam menjalankan fungsinya.
Fakta mobil Toyota Harrier telah dijual
dan uang penjualannya telah dikembalikan
kepada Muhammad Nazaruddin
Bahwa setelah konggres Partai Demokrat di
Bandung, Terdakwa mendengar rumor bahwa
Terdakwa dibelikan mobil Toyota Harrier dari
Muhammad Nazaruddin. Atas rumor tersebut,
maka Terdakwa memutuskan untuk menjual
mobil Toyota Harrier tersebut dan uang hasil
- 74 -

penjualannya
akan
dikembalikan
Muhammad Nazaruddin.

kepada

Selanjutnya berdasarkan keterangan saksi


Nurachmat
Rusdam
dalam
persidangan
tanggal 18 Agustus 2014, atas permintaan
Terdakwa, saksi membantu Terdakwa menjual
mobil Toyota Harrier tersebut dan terjual
dengan harga Rp. 500.000.000,- (lima ratus
juta Rupiah). Hasil penjualan sebesar
Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah)
tersebut selanjutnya saksi kembalikan kepada
saksi Muhammad Nazaruddin melalui saksi
Wahyudi Utomo (Iwan) di Plaza Senayan. Fakta
ini dibenarkan oleh saksi Wahyudi Utomo
dalam persidangan pada tanggal 29 Agustus
2014 dan ditegaskan juga oleh saksi Riyadi
dalam persidangan pada tanggal 29 Agustus
2014 yang ikut dengan saksi Nurahmad
Rusdam mengantarkan uang hasil penjualan di
mobil Toyota Harrier kepada saksi Muhammad
Nazaruddin.
Bahwa
Terdakwa
dalam
keterangannya
juga
menyatakan
telah
mengembalikan seluruh uang yang dikeluarkan
saksi Muhammad Nazaruddin untuk membantu
Terdakwa membeli Toyota Harier, yaitu dengan
cara menjual Toyota Harier tersebut sebesar
Rp.500.000.000 (lima ratus juta Rupiah). Uang
Rp.500.000.000 (lima ratus juta Rupiah)
diserahkan oleh saksi
Riyadi dan saksi
Nurahmad Rusdam kepada saksi Wahyudi
Utomo (atau Iwan) di Plaza Senayan.
Terhadap pengembalian uang hasil penjualan
mobil Toyota Harrier tersebut telah dibuatkan
tanda terima yang ditandatangani oleh saksi
Wahyudi Utomo.
(iii) Fakta
Lain

Terkait

Penerimaan-Penerimaan

a. Fakta
Terkait
Kegiatan
Survey
Pemenangan Anas Urbaningrum
Penuntut Umum mendalilkan dalam Surat
Tuntutan-nya
halaman
1489
bahwa
Terdakwa menerima fasilitas survey PT
- 75 -

Lingkaran Survey Indonesia (LSI) senilai


Rp. 478.632.230,- (empat ratus tujuh puluh
delapan juta enam ratus tiga puluh dua ribu
dua ratus tiga puluh Rupiah), tidak sesuai dengan
keterangan saki-saksi yang telah diperiksa dalam
persidangan. Berikut adalah fakta yang terungkap
dipersidangan:

Fakta Terdakwa tidak menjanjikan


kepada LSI akan memberikan pekerjaan
survey untuk calon Bupati/Walikota dari
Partai Demokrat

- 76 -

Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya halaman 1489 menyatakan bahwa


survey
oleh
LSI
senilai
Rp. 478.632.230,- (empat ratus tujuh
puluh delapan juta enam ratus tiga
puluh dua ribu dua ratus tiga puluh
Rupiah) tidak semata-mata dilakukan
oleh
PT
LSI
karena
Terdakwa
menjanjikan pekerjaan survey untuk
calon
bupati/walikota
dari
Partai
Demokrat;

Dalam persidangan pada tanggal 7


Agustus
2014
saksi
Denny
JA
menyatakan bahwa PT LSI bersedia
membantu Terdakwa karena saksi Denny
JA merasa tertantang dengan saingan
Terdakwa di kongres Partai Demokrat,
yaitu Andy Malarangeng yang didukung
oleh adiknya Choel Malarangeng. Choel
Malarangeng merupakan pimpinan Fox
Indonesia. Atas dasar hal tersebut, saksi
Denny JA menyatakan kesediaannya
untuk membantu Terdakwa karena ingin
berkompetisi dengan Fox Indonesia
sebagai salah satu pesaing LSI;

Bahwa metode yang dipergunakan saksi


Denny JA untuk membantu Terdakwa
memenangkan kongres Partai Demokrat
adalah dengan membentuk opini publik
atau membangun image Terdakwa di
mata pemilik suara (yaitu DPD dan DPC
Partai
Demokrat)
yaitu
dengan

menghubungi melalui telephone.


-

Bahwa Saksi Denny JA menerangkan


biaya yang dikeluarkan oleh LSI dalam
melakukan
survey
sebesar
Rp.
20.000.000,- (dua puluh juta Rupiah) dan
___ dikeluarkan untuk pemasangan iklan
sebelum
dan
sesudah
Terdakwa
memenangkan kongres Partai Demokrat;

Bahwa
berdasarkan
fakta
yang
terungkap
dipersidangan
dari
keterangan
saksi
Denny
JA
dan
Terdakwa, Terdakwa tidak pernah
berjanji akan memberikan pekerjaan
survey untuk calon Bupati/Walikota
dari Partai Demokrat, namun yang
diminta oleh saksi Denny JA agar
Partai Demokrat tidak menghalangi
LSI untuk menjadi salah satu
rekanan Partai Demokrat;

LSI
tidak
pernah
menerima
pembayaran
Rp. 1.400.000.000,- (satu milyar empat
ratus juta Rupiah)
-

Bahwa saksi Denny JA menerangkan


untuk
kegiatan
survey
terhadap
Terdakwa, saksi Denny JA tidak
meminta bayaran apapun, melainkan
justru saksi Denny JA mengeluarkan
biaya
sendiri
dalam
membantu
Terdakwa;

Bahwa tujuan saksi Denny JA membantu


Terdakwa
adalah
dalam
rangka
marketing bagi LSI sebagai salah satu
lembaga survey yang kredible dan
bermutu.

b. Terkait Pemberian Fasilitas Berupa


Mobil Toyota Vellfire Nomor Polisi B 69
AUD
Bahwa Penuntut Umum mendalilkan dalam
- 77 -

Surat
Tuntutannya
halaman
1496,
Terdakwa menerima fasilitas 1 (satu) unit
mobil Toyota Vellfire Nomor Polisi B 69 AUD
berikut dengan aksesorisnya dengan total
harga Rp. 735.000.000,- (tujuh ratus tiga
puluh lima juta Rupiah), dengan rincian
harga mobil Toyota Vellfire sebesar Rp.
700.000.000,- (tujuh ratus juta Rupiah),
kemudian mobil Toyota Vellfire dilengkapi
dengan kamera dan monitor, jok beludru
warna hitam serta audio pada mobil Toyota
Vellfire
tersebut
senilai
Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta
Rupiah).
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak
sesuai dengan keterangan saki-saksi dalam
persidangan. Fakta yang terungkap dalam
persidangan:
Pembelian
mobil
Toyota
Vellfire
ditujukan untuk kepentingan internal
PT Atrindo Internasional
-

- 78 -

Bahwa Penuntut Umum menyatakan


bahwa pemberian 1 (satu) unit mobil
Toyota Vellfire kepada Terdakwa adalah
pemberian
fasilitas.
Bahwa
fakta
persidangan tidak menyatakan demikian.
Saksi Wasith Suady dan saksi Nunung
Krisbianto dalam persidangan pada
tanggal 30 Juni 2014 menyatakan
PT Atrindo Internasional/PT AA Pialang
Asuransi pada tahun 2010 berencana
memenuhi
kebutuhan
internal
perusahaan
dengan
cara
membeli
beberapa unit mobil sebagai kendaraan
operasional Direksi dan Komisaris. Akan
tetapi mobil yang dimanfaatkan hanya 2
(dua) unit mobil saja (yaitu untuk saksi
Wasith Suady dan saksi Nunung
Krisbianto), sementara 1 (satu) mobil
Toyota Vellfire yang sedianya untuk
bapak Wawan Juanta selaku Komisaris
PT
Atrindo
Internasional
tidak
digunakan. Oleh karena terdapat
1 (satu) unit mobil Toyota Vellfire yang

tidak
terpakai,
berdasarkan
rapat
bulanan PT Artindo Internasional, saksi
Wasith Suady dan saksi Nunung
Krisbianto
berencana
untuk
meminjamkan mobil Toyota Vellfire
kepada Terdakwa.
-

Selanjutnya berdasarkan keterangan


saksi Wasith Suady dan saksi Nunung
Krisbianto, latar belakang peminjaman
mobil tersebut adalah persahabatan dan
silaturahmi. Saksi Wasith Suady dan
saksi Nunung Krisbianto tidak memiliki
tendensi/tujuan apapun, selain karena
ada sisa 1 (satu) kendaraan yang idle
(atau tidak terpakai) untuk dipinjamkan
kepada Terdakwa.

Tidak
ada
penambahan
aksesoris
terhadap 1 (satu) unit mobil Toyota
Vellfire
-

Bahwa berdasarkan keterangan saksi


Wasith Suady, saat pembelian mobil
tersebut
tidak
ada
penambahan
aksesoris seperti kamera dan monitor,
jok beludru warna hitam serta audio
senilai Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima
juta Rupiah). Aksesoris tersebut bukan
penambahan melainkan bonus dari
dealer karena saat pembelian, dealer
Ayun Jaya Motor tidak memberikan
potongan harga.

1 (satu) unit mobil Toyota Vellfire


dipinjamkan saat Terdakwa tidak lagi
sebagai penyelenggara negara
-

- 79 -

Bahwa saksi Wasith Suady menyatakan


bahwa 1 (satu) unit mobil Toyota Vellfire
awalnya diantarkan sekitar bulan Juli
2010. Namun berselang 1 (satu) hari,
Terdakwa
melalui
supirnya
mengembalikan mobil tersebut dengan
alasan belum membutuhkan. Selanjutnya
saksi Wasith Suady meminta mobil
tersebut diantarkan ke PT Atrindo

Internasional. Bahwa setelah itu saksi


Wasith Suady mengirimkan kembali 1
(satu) unit mobil Toyota Vellfire (mobil
yang sama) di bulan puasa tahun 2010
(sekitar bulan September 2010).
-

Keterangan saksi Wasith Suady sejalan


dengan keterangan Terdakwa, dimana
Terdakwa menyatakan pertama kali
memakai mobil Toyota Vellfire saat
Terdakwa menghadiri ada acara melepas
mudik bersama Partai Demokrat di
Kemayoran pada tahun 2010. Pada saat
itu Terdakwa sudah tidak menjabat
sebagai anggota DPR-RI.

Terdakwa secara resmi mengajukan


surat pengunduran diri pada tanggal 26
Juli 2010, sesaat setelah terpilih menjadi
Ketua
Partai
Demokrat.
Terdakwa
mendapatkan konfirmasi pengunduran
dirinya berdasarkan Surat Keputusan
Presiden nomor 94/P tahun 2010 tanggal
21 Agustus 2010.

Bahwa Terdakwa menggunakan 1 (satu)


unit mobil Toyota Vellfire selama kurang
lebih 1 2 tahun, yang kemudian mobil
Toyota Vellfire diganti dengan Nissan
Elgrand.

B. Terkait Dakwaan Kedua


(i) Fakta bantahan terhadap dalil Penuntut
Umum mengenai sisa kantong-kantong
dana yang oleh Terdakwa dipergunakan
untuk membeli asset
Bahwa penuntut umum telah mendalilkan
dalam dakwaan kedua halaman 48 dan
tuntutan halaman 1518 tentang sisa dana
Kongres Partai Demokrat di Bandung sejumlah
USD 1.300.000 (satu juta tiga ratus ribu dollar
Amerika Serikat) dan Rp. 700.000.000,- (Tujuh
Ratus Juta Rupiah) disimpan di Permai Group
dan oleh saksi Yulianis dimasukkan di brankas
- 80 -

operasional serta dijadikan satu dengan dana


yang diperoleh dari fee-fee proyek APBN
Bahwa
dalil
penutut
umum
tersebut
bertentangan dengan kesaksian saksi Yulianis
dan saksi Oktarina Furi yang menyatakan
bahwa uang yang dibawa ke Bandung adalah
Rp. 30.000.000.000,- (tiga puluh milyar
Rupiah) yang ditarik dari bank melalui cek,
USD 2,000,000 (dua juta dollar Amerika
Serikat Serikat) yang oleh saksi Yulianis mata
uang dollar amerika serikat tersebut dibeli dari
Logamindo berupa cek dan USD 3,000,000
(tiga juta dollar Amerika Serikat) yang berasal
dari sumbangan. Berdasarkan kesaksian saksi
Yulianis, dari uang-uang tersebut masih tersisa
sebagai berikut:
Uang sejumlah Rp. 30.000.000.000,(tiga puluh milyar Rupiah) hanya
terpakai Rp. 700.000.000,- (tujuh ratus
juta Rupiah) jadi sisanya sekitar Rp.
29.000.000.000 (dua puluh sembilan
milyar Rupiah) lebih tersebut oleh
saksi Yulianis disetor kembali ke bank
sejumlah Rp. 25.500.000.000,- (dua
puluh lima milyar lima ratus juta
Rupiah)
dan
yang
sekitar
Rp.
4.000.000.000 (empat milyar Rupiah)
dikembalikan oleh saksi Yulianis ke
brankas operasional;
2. Uang sejumlah USD 2,000,000 (dua
juta dollar Amerika Serikat) kembali
utuh dan diserahkan oleh saksi
Yulianis
ke
saksi
Muhammad
Nazaruddin dan oleh saksi Muhammad
Nazaruddin diserahkan ke isterinya,
saksi Neneng Sri Wahyuni;
3. Uang USD 3,000,000 (dua juta dollar
Amerika Serikat) masih tersisa uang
USD 1,200,000 (satu juta dua ratus
ribu dollar Amerika Serikat) yang
dimasukkan
ke
dalam
brankas.
Beberapa hari kemudian, dari uang
sebesar USD 1,200,000 (satu juta dua
ratus ribu dollar Amerika Serikat)
tersebut diambil oleh saksi Neneng Sri
1.

- 81 -

Wahyuni sebesar USD 700,000 (tujuh


ratus ribu dollar Amerika Serikat)
sehingga uang sumbangan masih sisa
USD 500.000 (lima ratus ribu dollar
Amerika Serikat);
Bahwa dari kesaksian Yulianis dan Oktarina
Furi tersebut, diperoleh fakta hukum bahwa
sisa dana kongres yang disimpan oleh saksi
Yulianis di brankas operasional hanya USD
500,000 (lima ratus ribu dollar Amerika
Serikat) dan uang sebesar itu tidak pernah
diberikan kepada Terdakwa dan juga tidak
pernah digunakan untuk membeli aset
Terdakwa;
Bahwa berdasarkan keterangan saksi Makmur,
saksi pernah dititipkan oleh Yulianis sebuah
kardus seukuran kardus mie instant yang
dibungkus kertas kado bermotif batik. Yulianis
berpesan bahwa kardus tersebut akan diambil
oleh ajudan M Nazaruddin. Kesaksian makmur
ini juga dibenarkan oleh saksi Wahyudi Utomo
alias Iwan sebagai ajudan M Nazaruddin,
bahwa dirinya yang mengambil kardus
tersebut.
Saksi
Wahyudi
Utomo
dalam
persidangan
menegaskan
bahwa
kardus
tersebut tidak diberikan kepada Terdakwa
ataupun melalui supir Terdakwa.
Bahwa saksi Riyadi juga membenarkan
keterangan saksi Wahyudi Utomo, saksi tidak
pernah menerima kardus seukuran kardus mie
instant yang dibungkus kertas kado bermotif
batik dari saksi Wahyudi Utomo. Saksi Riyadi
juga menyatakan tidak pernah menerima
apapun dari saksi Aan Ikhyaudin.
Bahwa dari kesaksian saksi Yulianis, saksi
Oktarina Furi, saksi Makmur, saksi Wahyudi
Utomo, saksi Riyadi dan keterangan Terdakwa,
diperoleh fakta persidangan bahwa sisa dana
kongres yang disimpan oleh saksi Yulianis di
brankas operasional hanya USD 500,000 (lima
ratus ribu dollar Amerika Serikat) dan uang
sebesar itu tidak pernah diberikan kepada
Terdakwa dan juga tidak pernah digunakan
- 82 -

untuk membeli aset Terdakwa.


(ii) Fakta mengenai pembelian sebidang tanah
dan bangunan seluas 639M2 di Jl. Teluk
Semangka Blok C9 No. 1 Duren Sawit
Jakarta Timur
Bahwa saksi Reny Kurniasih menerangkan
sebidang tanah dan bangunan seluas 639 m2 di
Jl. Teluk Semangka Blok C9 No. 1 Duren Sawit
Jakarta Timur milik saksi dibeli oleh Terdakwa
dengan harga yang telah disepakati setelah
proses tawar menawar adalah sebesar Rp.
3.300.000.000,- (tiga milyar Tiga ratus juta
Rupiah) bukan Rp. 3.500.000.000,- (tiga
milyar lima ratus juta Rupiah) sebagaimana
didalilkan dalam dakwaan dan tuntutan
penuntut umum.
Bahwa TIDAK BENAR uang untuk membeli
tanah dan bangunan tersebut berasal dari sisa
dana Kongres Partai Demokrat sebagaimana
didalilkan
penuntut
umum
dikarenakan
berdasarkan keterangan saksi Carrel Ticualu,
saksi Nurachmad Rusdam dan keterangan
Terdakwa diperoleh fakta hukum bahwa uang
untuk membeli tanah dan bangunan tersebut
berasal dari sumbangan (alm.) Ayung, seorang
pengusaha pemilik PT Sanex Steel.
Bahwa saksi Carrel Ticualu menerangkan
(alm.) Ayung menyumbang kepada Terdakwa
pada bulan Oktober, November, dan Desember
2010 atau setelah Terdakwa mundur dari
jabatan sebagai anggota DPR-RI.
Bahwa
berdasarkan
keterangan
saksi
Nurachmad Rusdam dan saksi Harizantos, SH
diperoleh fakta hukum bahwa pembelian tanah
dan bangunan tersebut dicatatkan dalam Akta
Jual Beli tertanggal 16 November 2010.
(iii) Fakta mengenai pembelian sebidang tanah
di Jl. Selat Makasar Perkav AL Blok C9
RT.006/017 No. 22 Duren Sawit Jakarta
Timur
- 83 -

Bahwa keterangan saksi-saksi a charge


dipersidangan yaitu saksi Nurachmad Rusdam,
saksi Nurkasanah, saksi Atabik Ali dan saksi
Harizantos, SH, dan berdasarkan keterangan
Terdakwa,
telah
membuktikan
bahwa
Terdakwa tidak membeli sebidang tanah milik
Nurkasanah yang terletak di Jl. Selat Makasar
Perkav AL Blok C9 RT.006/017 No. 22 Duren
Sawit Jakarta Timur dengan Sertifikat Hak
Milik Nomor 6251;
Bahwa saksi Nurachmad Rusdam, saksi Atabik
Ali dan saksi Harizantos, SH, menerangkan
bahwa sebidang tanah milik saksi Nurkasanah
yang
terletak
di
Jl. Selat Makasar Perkav AL Blok C9
RT.006/017 No. 22 Duren Sawit Jakarta Timur
dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 6251
tersebut dibeli oleh saksi Atabik Ali melalui
saksi Nurachmad Rusdam;
Bahwa
berdasarkan
keterangan
saksi
Nurachmad Rusdam dan saksi Atabik Ali
didapat petunjuk bahwa saksi Atabik Ali di
rumah kediamannya di Krapyak Kulon Rt 007
Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta
menyerahkan uang tunai sejumlah
Rp.
1.000.000.000,- (satu milyar Rupiah) kepada
saksi Nurachmad Rusdam guna membayar
pembelian sebidang tanah milik Nurkasanah
yang terletak di Jl. Selat Makasar Perkav AL
Blok C9 RT.006/017 No. 22 Duren Sawit,
Jakarta Timur dengan Sertifikat Hak Milik
Nomor 6251. Bangunan yang berada di atas
tanah tersebut dipergunakan untuk tempat
kumpul alumni-alumni Pondok Pesantren
Krapyak
Yogyakarta,
di
mana
dalam
persidangan ini juga terungkap bahwa saksi
Atabik Ali adalah pengasuh Pondok Pesantren
Krapyak tersebut;
(iv) Fakta mengenai pembelian 2 (dua) bidang
tanah milik Etty Mulianingsih (i) SHM No.
542/Mantrijeron;
dan
(ii)
SHM
No.
541/Mantrijeron
- 84 -

- 85 -

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi


a charge, yaitu saksi Etty Mulianingsih,
saksi Arry Ligias Baskoro, saksi Atabik Ali
dan
saksi
Muhammad
Yusuf,
dan
berdasarkan keterangan Terdakwa, telah
membuktikan
bahwa
Terdakwa
tidak
membeli 2 (dua) bidang tanah atas nama
saksi Etty Mulianingsih, yaitu tanah seluas
200 m2 yang terletak di Jl. DI Panjaitan No.
57
Mantrijeron
Yogyakarta
dengan
Sertifikat Hak Milik Nomor 542 dan tanah
seluas 7.670 m2 Jl. DI Panjaitan No. 139
Mantrijeron Yogyakarta dengan Sertifikat
Hak Milik Nomor 541;

Bahwa berdasarkan keterangan saksi Arry


Ligias Baskoro didapat petunjuk bahwa
sejak sebelum tahun 1997, saksi telah
mendapatkan
informasi
bahwa
pihak
Pondok Pesantren Krapyak, yang dipimpin
oleh saksi Atabik Ali, bermaksud untuk
membeli 2 (dua) bidang tanah tersebut.
Kesaksian saksi Arry Ligias Baskoro ini
diperkuat oleh kesaksian saksi Muhammad
Yusuf yang menerangkan bahwa pimpinan
Pondok Pesantren Krapyak sebelum saksi
Atabik Ali yaitu KH. Ali Maksum (wafat
tahun 1989) telah berniat membeli 2 (dua)
bidang tanah tersebut karena lokasinya
yang berdekatan dengan Pondok Pesantren
Krapyak

Bahwa
saksi
Asat
Said
Ali,
saksi
Muhammad Yusuf, dan saksi Atabik Ali
menyatakan
bahwa
pondok
Pesantren
Krapyak didirikan dan dipimpin pertama kali
oleh kakek kandung saksi Atabik Ali (saksi
Atabik Ali menerangkan bahwa pondok
pesantren Krapyak telah didirikan sejak
tahun 1911);

Bahwa
saksi
Asat
Said
Ali,
saksi
Muhammad Yusuf, saksi Atabik Ali dan saksi
a de charge Afif Muhammad menyatakan
bahwa setelah KH. Ali Maksum wafat (pada
tahun 1989), maka saksi Atabik Ali yang

menjadi pimpinan/pengasuh di pondok


pesantren Krapyak sampai sekarang;

- 86 -

Bahwa saksi a charge saksi Muhammad


Yusuf dan saksi a de charge Afif Muhammad
menyatakan santri-santri yang tinggal di
pondok pesantren Krapyak setiap bulannya
membayar sejumlah uang (saksi Afif
Muhammad menyatakan saat ini para santri
membayar Rp. 600.000 (enam ratus ribu
Rupiah)
perbulan
untuk
pembayaran
syahriyah (SPP);

Bahwa saksi a charge Asat Said Ali, saksi


Atabik Ali dan saksi a de charge Afif
Muhammad menyatakan bahwa alumni
pondok pesantren Krapyak sampai sekarang
mencapai puluhan ribu alumni;

Bahwa saksi Etty Mulianingsih, saksi Arry


Ligias Baskoro, saksi Atabik Ali dan saksi
Muhammad Yusuf menerangkan bahwa 2
(dua) bidang tanah milik Etty Mulianingsih,
yaitu tanah seluas 200 m2 yang terletak di
Jl. DI Panjaitan No. 57 Mantrijeron
Yogyakarta dengan Sertifikat Hak Milik
Nomor 542 dan tanah seluas 7.670 m2 Jl. DI
Panjaitan No. 139 Mantrijeron Yogyakarta
dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 541
tersebut dibeli oleh saksi Atabik Ali seharga
Rp. 15.740.000.000,- (lima belas milyar
tujuh ratus empat puluh juta Rupiah) pada
bulan Juli 2011;

Bahwa berdasarkan keterangan saksi Etty


Mulianingsih, saksi Arry Ligias Baskoro,
saksi Atabik Ali dan saksi Muhammad Yusuf
didapat petunjuk bahwa pembayaran 2
(dua) bidang tanah tersebut diselesaikan
dalam 3 (tiga) tahap pembayaran, yang dari
harga tanah Rp. 15.740.000.000,- (lima
belas milyar tujuh ratus empat puluh juta
Rupiah), sebesar Rp. 132.150.000,- (seratus
tiga puluh dua juta seratus lima puluh ribu
Rupiah), USD 184.000 (seratus delapan
puluh empat ribu US Dollar), USD
1.109.100 (satu juta seratus sembilan ribu

seratus US Dollar), dan USD 290.000 (dua


ratus sembilan puluh ribu US Dollar)
dibayar tunai dengan sedangkan sisanya
dibayar
dengan
logam
mulia
(emas
batangan) sejumlah 2000 (dua ribu) gram
senilai Rp. 896.000.000,- (delapan ratus
sembilan puluh enam juta Rupiah) dan 2
(dua
bidang
tanah)
senilai
Rp.
1.069.000.000,- (satu milyar enam puluh
sembilan
juta
Rupiah)
dan
Rp.
170.000.000,- (seratus tujuh puluh juta
Rupiah) yang 3 (tiga) tahap pembayaran
tersebut dilakukan oleh saksi Atabik Ali
selaku
pembeli
kepada
saksi
Etty
Mulianingsih selaku penjual di hadapan
notaris/PPAT saksi Muhammad Yusuf dan
disaksikan oleh saksi Arry Ligias Baskoro;

- 87 -

Bahwa
berdasarkan
keterangan
saksi
Atabik Ali, saksi Etty Mulianingsih, saksi
Arry Ligias Baskoro, didapat petunjuk
bahwa
uang
tunai
sejumlah
Rp.
132.150.000,- (seratus tiga puluh dua juta
seratus lima puluh ribu Rupiah), USD
184.000 (seratus delapan puluh empat ribu
US Dollar), USD 1.109.100 (satu juta
seratus sembilan ribu seratus US Dollar),
dan USD 290.000 (dua ratus sembilan puluh
ribu US Dollar) yang dipergunakan untuk
membayar 2 (dua) bidang tanah seharga
Rp. 15.740.000.000,- (lima belas milyar
tujuh ratus empat puluh juta Rupiah)
tersebut adalah milik saksi Atabik Ali yang
diperoleh oleh saksi Atabik Ali dari hasil
penjualan kamus Arab-Indonesia, kamus
Indonesia-Arab, kamus Inggris-IndonesiaArab, dan kamus Inggris-Indonesia-Arab
edisi lengkap yang ditulis, diterbitkan dan
dicetak oleh saksi Atabik Ali;

Bahwa saksi Asat Said Ali, saksi Atabik Ali,


saksi Dina Zad, dan saksi Sujinah dan saksi
Afif Muhammad menerangkan bahwa kamus
Arab-Indonesia,
kamus
Indonesia-Arab,
kamus Inggris-Indonesia-Arab, dan kamus
Inggris-Indonesia-Arab
edisi
lengkap
tersebut ditulis, diterbitkan dan dicetak

oleh saksi Atabik Ali;

- 88 -

Bahwa saksi Asat Said Ali, saksi Atabik Ali


dan saksi Dina Zad menerangkan bahwa
pada tahun 2003 Badan Intelijen Negara
(BIN) Indonesia melalui saksi Asat Said Ali
pernah membeli dari saksi Atabik Ali
kurang lebih 6000 (enam ribu) paket/set
kamus Arab-Indonesia, kamus IndonesiaArab, kamus Inggris-Indonesia-Arab, dan
kamus Inggris-Indonesia-Arab edisi lengkap
yang pada halaman depan setiap kamus
tersebut terdapat foto Hendropriyono
(Ketua BIN pada waktu itu), dengan harga
kurang lebih Rp. 500.000 (lima ratus ribu
Rupiah) per paket/set harga Rp. 500.000,(lima ratus ribu Rupiah) tersebut bukan
harga per kamus sebagaimana tertulis
dalam analisa fakta poin. pada tuntutan
JPU- dengan jumlah total kurang lebih Rp.
3.000.000.000,- (tiga milyar Rupiah) yang
dibayar secara tunai yang kemudian paket
kamus
tersebut
didistribusikan
ke
pesantren-pesantren di Indonesia.

Kesaksian saksi Asat Said Ali, saksi Atabik


Ali dan saksi Dina Zad diperkuat dengan
ditunjukkannya barang bukti oleh JPU
berupa 2 (dua) kamus yaitu kamus ArabIndonesia dan kamus . Yang di
dalamnya terdapat foto Hendropriyono
(Kepala BIN pada waktu itu) dan saksi Dina
Zad juga menunjukkan satu bendel daftar
nama
pesantren
se-Indonesia
yang
memperoleh kamus dari BIN tersebut. Saksi
Sujiningsih juga memberikan keterangan
bahwa sebagai karyawan pada percetakan
milik saksi Atabik Ali, saksi Sujiningsih
pernah melekatkan foto Hendropriyono
pada halaman depan kamus Arab-Indonesia,
kamus Indonesia-Arab, kamus InggrisIndonesia-Arab,
dan
kamus
InggrisIndonesia-Arab edisi lengkap sejumlah
kurang lebih 23.000 (dua puluh tiga ribu)
kamus;

Bahwa

berdasarkan

keterangan

saksi

Sujiningsih didapat petunjuk bahwa saksi


yang sejak tahun 2003 bekerja sebagai
karyawan secara borongan dalam proses
pencetakan kamus Arab-Indonesia, kamus
Indonesia-Arab, kamus Inggris-IndonesiaArab, dan kamus Inggris-Indonesia-Arab
edisi lengkap tersebut menerangkan bahwa
terhitung sejak tahun 2003 2012 telah
tercetak sejumlah 117.000 (seratus tujuh
belas ribu) kamus. Kesaksian saksi tersebut
diperkuat dengan ditunjukkannya foto
proses finishing kamus-kamus tersebut oleh
beberapa karyawan saksi Atabik Ali;

- 89 -

Bahwa saksi Atabik Ali dan saksi Zulfa


Kamil dan saksi Ikromurrofiq menerangkan
bahwa saksi Zulfa Kamil selaku pimpinan
Toko Buku Menara Kudus yang beralamat di
Jl. Kramat 2 No.54A Kwitang Jakarta sejak
tahun 1989 telah mendistribusikan atau
menjualkan kamus al-Munawwir yang dibeli
dari saksi Atabik Ali dan sejak tahun 1996
mendistribusikan atau menjualkan kamus
Arab-Indonesia,
kamus
Indonesia-Arab,
kamus Inggris-Indonesia-Arab, dan kamus
Inggris-Indonesia-Arab
edisi
lengkap
tersebut yang juga dibeli dari saksi Atabik
Ali dan bahwa hasil penjualan kamus ArabIndonesia saja (belum termasuk hitungan
penjualan 3 (tiga) kamus lainnya) terhitung
sejak tahun 1996-2011 itu mencapai Rp.
13.622.400,- (tiga belas milyar enam ratus
dua puluh dua ribu empat ratus Rupiah).
Kesaksian saksi Zulfa Kamil dan saksi
Ikromurrofiq
dieperkuat
dengan
ditunjukkannya oleh saksi Ikromurrofiq
berupa
beberapa
bukti
pengiriman
(ekspedisi) kamus dari saksi Atabik Ali
kepada Toko Buku Menara Kudus dan salah
satu bukti tanda terima pembayaran kamus
yang ditandatangani oleh Athiyah Laila
mewakili saksi Atabik Ali dan uang
pembayaran kamus diberikan secara TUNAI
oleh pihak Menara Kudus kepada Athiyah
Laila ;

Bahwa saksi a charge Atabik Ali, saksi

Dinazad dan saksi a de charge Zulfa Kamil


dan saksi Ikromurrofiq menerangkan bahwa
sampai sekarang yaitu bulan September
tahun 2014, Toko Buku Menara Kudus
masih
mendistribusikan
dan
atau
menjualkan kamus Arab-Indonesia milik
saksi Atabik Ali pada sebanyak 25 koli
dengan 2 (dua) kali pengiriman atau sama
dengan 50 koli (1 koli = 12 kamus, jadi 50
koli = 600 kamus);

- 90 -

Bahwa
saksi
a
charge
Atabik
Ali
menerangkan bahwa emas batangan yang
digunakan untuk membayar 2 (dua) bidang
tanah tersebut diperoleh dari warisan dari
bapak kandung saksi (bapak kandung saksi
meninggal dunia pada tahun 1989).
Kesaksian saksi Atabik Ali ini diperkuat
dengan ditunjukkannya oleh saksi Dinazad
berupa bukti catatan asli tulisan tangan
bapak kandung saksi Atabik Ali dalam
tulisan Arab pegon (huruf Arab dengan
bacaan bahasa Jawa) yang tertulis bahwa
saksi selaku salah satu ahli waris
mendapatkan
emas
batangan
London
senilai Rp. 3.000.000,- (tiga juta Rupiah);

Bahwa saksi a charge Muhammad Yusuf


selaku notaris/PPAT pernah mencatatkan
akta jual beli tanah yang dalam hal ini saksi
Atabik Ali menjual tanahnya seluas kurang
lebih 880 m2 dan 458 m2 yang terletak di
Kelurahan Suryodiningratan Kecamatan
Mantrijeron Yogyakarta kepada dr. Abdul
Kadir, dr. Oga Indrajaya dan dr. M. Junaidy
Heriyanto senilai Rp. 900.000/m2 (sembilan
ratus ribu Rupiah per meter persegi) atau
total senilai hampir Rp. 2.000.000.000,(dua milyar Rupiah) dan uang hasil
penjualan 3 (tiga) bidang tanah dimaksud
digunakan oleh saksi Atabik Ali untuk
membayar pembelian 2 (dua) bidang tanah
tersebut;

Bahwa berdasarkan saksi Atabik Ali,


diperoleh keterangan bahwa penghasilan
saksi Atabik Ali di luar penjualan kamus-

kamus tersebut adalah dari pensiunan dan


hasil sewa kontrakan 4 (empat) rumah/ruko
sejumlah
Rp. 303.000.000,- (tiga ratus tiga juta
Rupiah) per tahun;

- 91 -

Bahwa berdasarkan saksi a charge Atabik


Ali, saksi Dinazad dan saksi a de charge Afif
Muhammad didapat petunjuk bahwa saksi
Atabik
Ali
selaku
pengasuh
Pondok
Pesantren Krapyak sering mendapatkan
sumbangan atau salam tempel (tradisi
pesantren) dari tamu-tamu yang berkunjung
dari pesantren. Kesaksian a charge Atabik
Ali, saksi Dinazad dan saksi a de charge Afif
Muhammad
diperkuat
dengan
ditunjukkannya oleh saksi Dinazad berupa
foto-foto
tamu-tamu
yang
pernah
berkunjung dan memberi salam tempel
kepada saksi Atabik Ali, yaitu foto
kunjungan pangeran Charles, Siti Hadiyanti
Rukmana, Megawati, (alm.) Soeharto yang
pernah memberi Rp. 1.000.000.000,- (satu
milyar Rupiah), Jimly As-Shiddiqi, Dubes
Palestina;

Bahwa berdasarkan keterangan saksi Asat


Ali, saksi Arry Ligias, dan saksi Muhammad
Yusuf diperoleh petunjuk bahwa saksi
Atabik Ali mempunyai kemampuan finansial
untuk membeli 2 (dua) bidang tanah
tersebut;

Bahwa
berdasarkan
keterangan
saksi
Muhammad Yusuf, saksi Zulfa Kamil, dan
saksi Ikromurrofiq diperoleh petunjuk
bahwa di dalam melakukan transaksi jual
beli tanah sebelum dan sesudah pembelian
2 (dua) bidang tanah tersebut dan
penjualan kamus kepada Toko Buku Menara
Kudus sejak tahun 1989, saksi Atabik Ali
seringkali menggunakan transaksi secara
tunai;

Bahwa saksi Atabik Ali menerangkan bahwa


2 (dua) bidang tanah tersebut akan dibagi
3, yang 1/3 untuk penambahan fasilitas

pondok pesantren Krapyak, 1/3 untuk wakaf


produktif, dan 1/3 untuk waris. Keterangan
saksi ini sesuai dengan keterangan saksi
Arry Ligias Baskoro yang menjelaskan
bahwa pembelian 2 (dua) bidang tanah oleh
saksi Atabik Ali sebagai pimpinan pesantren
Krapyak dikarenakan lokasinya yang dekat
bahkan nyambung atau gandeng dengan
lokasi Pondok Pesantren Krapyak;
(v) Fakta mengenai pembelian sebidang tanah
seluas 280M2 di Desa Panggungharjo,
Kecamatan Sewon, Bantul, Yogyakarta

- 92 -

Bahwa keterangan saksi-saksi yang telah


diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dan
yang telah memberikan kesaksiannya di
bawah sumpah di persidangan, yaitu saksi
Palupi Hadiyati, saksi Dina Zad, saksi Atabik
Ali dan saksi Magdawati Hadisuwito, dan
keterangan Terdakwa, telah membuktikan
bahwa Terdakwa tidak membeli sebidang
tanah milik saksi Palupi Hadiyati seluas 280
m2 di Desa Panggungharjo, Kecamatan
Sewon,
Bantul,
Yogyakarta
dengan
Sertifikat Hak Milik Nomor 11983;

Bahwa saksi Dina Zad, saksi Atabik Ali,


saksi Palupi Hadiyati dan saksi Magdawati
Hadisuwito menerangkan bahwa sebidang
tanah milik saksi Palupi Hadiyati seluas 280
m2 di Desa Panggungharjo, Kecamatan
Sewon,
Bantul,
Yogyakarta
dengan
Sertifikat Hak Milik Nomor 11983 tersebut
dibeli oleh saksi Atabik Ali yang kemudian
kepemilikannya
diatasnamakan
saksi
Dinazad selaku anak kandung dari saksi
Atabik Ali dikarenakan saksi Atabik Ali
sudah dalam kondisi sakit stroke;

Bahwa saksi Palupi Hadiyati menerangkan


bahwa
setelah
terjadi
penawaran,
disepakati harga sebidang tanah tersebut
adalah Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta
Rupiah);

- 93 -

Bahwa saksi Dinazad, saksi Atabik Ali, saksi


Palupi Hadiyati dan saksi Magdawati
Hadisuwito menerangkan bahwa proses
awal jual beli tanah SHM Nomor 11983
dilakukan oleh saksi Atabik Ali dan saksi
Palupi
Hadiyati,
akan
tetapi
proses
pelunasan pembayaran tanah seharga
sekitar Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta
Rupiah) tersebut dilakukan secara tunai
oleh saksi Dina Zad pada tanggal 29
Februari 2012 dikarenakan saksi Atabik Ali
pada saat itu dalam kondisi sakit. Kesaksian
saksi Dina Zad, saksi Atabik Ali, saksi Palupi
Hadiyati dan saksi Magdawati Hadisuwito
tersebut diperkuat dengan ditunjukkannya
oleh saksi Dina Zad berupa 4 (empat)
lembar asli tanda terima atau kwitansi yang
ditandatangani oleh Dodi Sutikno, suami
dari saksi Palupi Hadiyati, yang berisi
transaksi hutang piutang antara Dodi
Sutikno dan saksi Atabik Ali di mana Dodi
Sutikno meminjam uang dari saksi Atabik
Ali sejumlah Rp. 42.500.000,- (empat puluh
dua juta lima ratus ribu Rupiah) untuk
keperluan pologoro (biaya pengurusan
tanah di desa yang diatur secara legal) dan
pembayaran
atas
hutang
tersebut
dikurangkan dari pembayaran sebidang
tanah tersebut;

Bahwa berdasarkan saksi Magdawati selaku


Notaris/PPAT didapat petunjuk bahwa
merupakan hal yang biasa terjadi orang tua
membeli
tanah
yang
diatasnamakan
anaknya dan kebiasaan ini tidak melanggar
undang-undang karena yang terpenting
kedua belah pihak (pembeli dan penjual)
sepakat dan tidak keberatan;

Bahwa
berdasarkan
saksi
Magdawati
diperoleh petunjuk bahwa Undang-Undang
Pertanahan
&
Agraria
mensyaratkan
pembayaran jual beli tanah secara tunai di
hadapan PPAT;

Bahwa saksi Palupi Hadiyati dan saksi Dina


Zad menerangkan bahwa alasan pembelian

sebidang tanah seluas 280 m2 oleh saksi


Atabik Ali dari saksi Palupi Hadiyati
tersebut dikarenakan lokasi tanahnya yang
terletak di antara 2 (dua) bidang tanah yang
digunakan untuk kepentingan Pondok
Pesantren Krapyak dan saat ini di atas
tanah tersebut telah berdiri sebuah
bangunan yang digunakan untuk asrama
santri Pondok Pesantren Krapyak;

- 94 -

Bahwa berdasarkan keterangan saksi Palupi


Hadiyati bahwa saksi Atabik Ali sebelum
tahun 2006 pernah membeli sebidang tanah
milik paman dari saksi Palupi Hadiyati yang
lokasi tanah milik paman saksi Palupi
Hadiyati tersebut berada tepat di belakang
tanah seluas 280 m2 milik saksi Palupi
Hadiyati yang pada tahun 2012 telah dibeli
oleh saksi Atabik Ali tersebut dan tanah
milik paman saksi Palupi Hadiyati tersebut
juga dimanfaatkan untuk Pondok Pesantren
Krapyak. Kesaksian saksi Palupi Hadiyati ini
juga diperkuat oleh keterangan saksi Dina
Zad yang menjelaskan bahwa sebelum
tahun 2006 saksi Atabik Ali pernah membeli
tanah yang terletak di belakang tanah
seluas 280 m2 milik saksi Palupi Hadiyati
tersebut;

Bahwa berdasarkan keterangan saksi Palupi


Hadiyati dan saksi Dinazad bahwa saksi
Atabik Ali pada tahun 2007-2008 pernah
membeli sebidang tanah milik ayah dari
saksi Palupi Hadiyati seluas 111 m2 dan
baru dicatatkan pada tahun 2012 dan yang
menandatangani transaksi adalah antara
Rosilah (ibu kandung saksi Palupi Hadiyati)
selaku penjual dan saksi Dina Zad selaku
pembeli. Rosilah yang menandatangani
transaksi tersebut dikarenakan suaminya
sebagai pemilik asal tanah 111 m2 tersebut
sudah meninggal dunia sedangkan dari
pihak penjual ditandatangani oleh saksi
Dina Zad dikarenakan saksi Atabik Ali
sudah dalam kondisi sakit stroke sehingga
tanah tersebut diatasnamakan saksi Dina
Zad. Kesaksian saksi Palupi Hadiyati dan

saksi Dina Zad tersebut diperkuat dengan


kesaksian Magdawati Hadisuwito bahwa
saksi pada tahun 2012 pernah melakukan
pencatatan jual beli antara Rosilah dan Dina
Zad;
(vi) Fakta mengenai pembelian sebidang tanah
seluas 389M2 di Desa Panggungharjo,
Kecamatan Sewon, Bantul, Yogyakarta
- Bahwa keterangan saksi-saksi, yaitu saksi
Junella Ari Saptanto, saksi Dinazad, dan
saksi
Atabik
Ali
dan
berdasarkan
keterangan Terdakwa, telah membuktikan
bahwa Terdakwa tidak membeli sebidang
tanah
seluas
389
m2
di
Desa
Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul,
Yogyakarta dengan Sertifikat Hak Milik
Nomor 05193;
- Bahwa saksi Junella Ari Saptanto, saksi
Dinazad, dan saksi Atabik Ali menerangkan
bahwa sebidang tanah milik Gatot Sukotjo
seluas 389 m2 di Desa Panggungharjo,
Kecamatan Sewon, Bantul, Yogyakarta
dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 05193
dibeli oleh saksi Atabik Ali dari ahli waris
Gatot
Sukotjo
yang
kemudian
kepemilikannya diatasnamakan saksi Dina
Zad selaku anak kandung dari saksi Atabik
Ali;
C. Terkait Dakwaan Ketiga
1.

Fakta mengenai pengurusan


nama PT Arina Kota Jaya

IUP

atas

Bahwa dalam surat tuntutan Penuntut


Umum halaman 1578, disebutkan pada awal
tahun 2010 diadakan pertemuan di Hotel
Sultan antara Terdakwa, Isran Noor selaku
Bupati Kutai Timur, Khalilur R. Abdullah
Sahlawiy
alias
Lilur,
Muhammad
Nazaruddin dan Gunawan Wahyu Budiarto
alias Toto Gunawan untuk membicarakan
pengurusan
ijin
usaha
pertambangan
- 95 -

(IUP) atas nama PT Arina Kota Jaya seluas


kurang lebih 5000 -10.000 Ha yang berada
di 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan
Bengalon
dan
Kecamatan
Kongbeng
kabupaten
Kutai
Timur
yang
akan
digunakan untuk perusahaan Terdakwa.
Bahwa dalil Penuntut Umum tidak sesuai
dengan fakta-fakta yang terungkap dalam
persidangan dan telah dibantah oleh saksisaksi Isran Noor, saksi Khalilur R. Abdullah
Sahlawiy, saksi Wijaya Rahman, saksi
Syarifah, saksi Bertha Herawati, saksi
Yulianis yang namanya justru disebut dalam
Surat Dakwaan dan Surat Tuntutan. Adapun
fakta persidangan telah mengungkapkan
hal-hal sebagai berikut:
Bahwa saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
dan saksi Isran Noor dalam persidangan
menyatakan tidak pernah mengadakan
pertemuan di Hotel Sultan dengan saksi
Muhammad Nazaruddin, Terdakwa dan
Gunawan
Wahyu
Budiarto
untuk
membicarakan pengurusan IUP.
Bahwa saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
dalam persidangan menyatakan mengenai
keinginan
dari
saksi
Muhammad
Nazaruddin untuk memiliki tambang batu
bara di kutai timur. Saksi menerangkan
pernah beberapa kali melakukan pertemuan
dengan saksi Muhammad Nazaruddin di
kantor Permai terkait pembahasan rencana
pengajuan 10 IUP. Saksi menyatakan tidak
pernah melakukan pertemuan bersama
Terdakwa dalam pengurusan IUP.
Bahwa untuk pengajuan 10 IUP tersebut
kemudian saksi Muhammad Nazaruddin
menyiapkan 10 perusahaan, termasuk salah
satunya PT Arina Kota. Keterangan ini
didukung oleh saksi Bertha Herawati
sebagai notaris yang membantu saksi
Muhammad
Nazaruddin
menyiapkan
perusahaan-perusahaan tersebut.

- 96 -

Saksi Berta Herawati menyatakan bahwa


yang dijadikan pengurus PT Arina Kota Jaya
adalah saksi Syarifah dan Nur Fauziah yang
keduanya
merupakan
karyawan
PT
Anugrah.
Saksi Syarifah menyatakan
bahwa saksi mau menjadi direkturnya,
karena saat itu saksi tidak bisa menolak
perintah saksi Muhammad Nazaruddin
sebagai pimpinan saksi dan KTP saksi
diambil dari bagian HRD.
Saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
menjelaskan bahwa dirinya mengajukan 10
(sepuluh)
IUP
dengan
10
(sepuluh)
perusahaan yang berbeda di Kab. Kutai
Timur tersebut luasnya lebih dari 100.000
Ha. Saksi Wijaya Rahman membenarkan
keterangan mengenai pengurusan IUP
tersebut.
Bahwa Saksi Yulianis menyatakan pernah
diperintahkan
oleh
saksi
Muhammad
Nazaruddin
untuk
menyiapkan
dana
sebesar Rp. 3.000.000.000 (tiga milyar
Rupiah) untuk keperluan pengurusan IUP,
dengan menerbitkan beberapa lembar cek
yaitu :
- 1 (satu) lembar Cek Bank Mandiri
Nomor ER 582701 senilai Rp.
2.000.000.000 (dua milyar Rupiah).
- 1 (satu) lembar Cek Bank Mandiri
Nomor ER 582705 senilai Rp.
500.000.000 (lima ratus juta Rupiah)
atas
nama
PT
Berkah
Alam
Berlimpah.
- 1 (satu) lembar Cek Bank Mandiri
Nomor ER 582706 senilai Rp.
500.000.000 (lima ratus juta Rupiah).
Saksi Yulianis menyatakan bahwa cek
tersebut
diserahkan
kepada
saksi
Muhammad Nazaruddin.
Saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy dalam
keterangan
dipersidangan
membantah
dirinya menerima uang sebesar Rp.
3.000.000.000
(tiga
milyar
Rupiah),

- 97 -

faktanya bahwa cek yang diberikan


hanyalah sejumlah Rp 2.500.000.000 (dua
milyar lima ratus juta Rupiah) untuk
operasional, dan dana dari cek tersebut
yang bisa dicairkan hanya Rp 1.000.000.000
(satu milyar Rupiah). Saksi Yulianis dalam
keterangannya
pernah
diperintahkan
Muhammad Nazaruddin untuk membuat
laporan kehilangan atas cek tersebut,
sehingga dananya tidak bisa dicairkan.
Saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy juga
menyatakan
dijanjikan
uang
Rp.
10.000.000.000 (sepuluh milyar Rupiah)
untuk jaminan investasi, tetapi yang cair
hanya sebesar Rp. 2.000.000.000 (dua
milyar Rupiah).
Saksi Wijaya Rahman pernah menerima cek
sebesar Rp. 500.000.000 (lima ratus juta
Rupiah) dari saksi Khalilur R. Abdullah
Sahlawiy untuk bantuan biaya survey
lapangan, namun cek tersebut tidak dapat
dicairkan.
Saksi Wijaya Rahman menyatakan bahwa
dari 10 perusahaan yang diajukan oleh saksi
Khalilur R. Abdullah Sahlawiy hanya 1
(satu) perusahaan yang memenuhi syarat
yaitu PT Arina Kota Jaya. Lokasi yang
diijinkan adalah Kecamatan Konpeng dan
Bengawan Kabupaten Kutai Timur. Saksi
juga
menyatakan
terkait
dengan
pengurusan IUP PT Arina Kota Jaya,
Terdakwa tidak pernah datang menemui
saksi di Kab. Kutai Timur dan saksi juga
tidak
pernah
berkomunikasi
dengan
Terdakwa.
Bahwa saksi Wijaya Rahman menyatakan,
permohonan IUP lainya ( 9 permohonan)
tidak diterbitkan karena ada masalah
diantaranya tumpang tindih dengan wilayah
perkebunan, dengan wilayah tambang
batubara Perusahaan lain serta masuk
dalam kawasan hutan lindung.

- 98 -

Saksi Isran Noor juga menyatakan tidak


mengetahui pemilik PT Arina Kota Jaya,
saksi menyatakan bahwa yang melakukan
pengurusan IUP tersebut hanya saksi
Khalilur R. Abdullah Sahlawiy yang bertemu
saksi di kantor Bupati Kutai Timur. Saksi
menegaskan bahwa IUP PT Arina Kota Jaya
diterbitkan oleh Bupati Kutai Timur karena
di nilai memenuhi syarat yang ditentukan
dalam perundang undangan (administrasi,
Lokasi dan Kelayakan) pada tanggal 3
maret 2010, bukan karena di minta oleh
Terdakwa.
Saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
menyatakan tidak mengetahui keluarnya
IUP PT Arina Kota Jaya, karena ketika cek
yang akan dicairkan kosong, saksi merasa
dibohongi dan kemudian marah kepada
saksi Muhammad Nazaruddin. Setelah
kejadian tersebut, saksi tidak melanjutkan
kerjasama lagi dengan saksi Muhammad
Nazaruddin.
Dalam melakukan pengurusan IUP di Kab.
Kutai Timur tersebut, saksi Khalilur R.
Abdullah Sahlawiy tidak pernah melibatkan
Terdakwa. Keterangan ini didukung oleh
keterangan saksi Wijaya Rahman dan saksi
Isran Noor.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka
telah terungkap fakta dalam persidangan
bahwa Terdakwa jelas tidak terkait dengan
pengurusan IUP atas nama PT Arina Kota
Jaya.
Bahwa
dalam
tuntutan
juga
disebutkan PT Arina Kota Jaya sebagai milik
Terdakwa
adalah
tidak
benar,
fakta
persidangan sudah jelas bahwa pengurus
PT Arina Kota Jaya adalah Syarifah dan Nur
Fauziah.
Fakta persidangan menunjukkan bahwa, PT
Arina Kota Jaya adalah kerjasama bisnis
antara
saksi
Muhammad
Nazaruddin
dengan saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy

- 99 -

untuk memiliki tambang batu bara di Kutai


Timur.
Bahwa hal ini yang secara materiel
membuktikan bahwa Terdakwa bukan
pemilik IUP tambang batubara PT Arina
Kota Jaya di Kabupaten Kutai Timur.

1. Kesimpulan Terhadap Fakta


Terungkap Dalam Persidangan

Hukum

Yang

Bahwa dari fakta-fakta yang terungkap dalam


persidangan sebagaimana telah kami uraikan di
atas, maka kami dapat menarik kesimpulan fakta
hukum sebagai berikut yang berkaitan dengan
Terdakwa:

III.

1.

Terkait Dakwaan Kesatu


Jangan mengulang analisa di atas, namun
benar-benar intisarinya saja yang terkait
dengan tuntutan JPU

2.

Terkait Dakwaan Kedua


Jangan mengulang analisa di atas, namun
benar-benar intisarinya saja yang terkait
dengan tuntutan JPU

3.

Terkait Dakwaan Ketiga


Jangan mengulang analisa di atas, namun
benar-benar intisarinya saja yang terkait
dengan tuntutan JPU

ANALISA
YURIDIS
PENUNTUT UMUM

PASAL

YANG

DITUNTUT

Majelis hakim yang kami muliakan,


Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat kami
hargai
Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya telah menuntut
Terdakwa dengan Dakwaan Kumulatif yaitu:
Sesuai dengan pasal yang dituntut dalam surat tuntutan.
- 100 -

DAKWAAN KESATU PRIMAIR


Melanggar: Pasal 12 huruf a jo. Pasal 18 Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor
20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya
disebut UU Tipikor)
DAKWAAN KESATU SUBSIDAIR
Melanggar: Pasal 11 jo. Pasal 18 UU Tipikor jo. Pasal 64
ayat (1) KUHP.
DAKWAAN KEDUA
Melanggar: Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal
65 ayat (1) KUHP
DAKWAAN KETIGA
Melanggar: Pasal 3 ayat (1) huruf c Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25
Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Undang-undang
No.15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
(selanjutnya disebut UU TPPU)
Bahwa karena Penuntut Umum menyusun Surat Tuntutan
berdasarkan dakwaan secara kumulatif, maka dengan ini
kami akan menguraikan dalil-dalil Pembelaan kami dalam
Dakwaan Kesatu terlebih dahulu dan selanjutnya akan
diikuti oleh dalil-dalil Pembelaan kami dalam Dakwan
Kedua dan Dakwaan Ketiga.
I. Dakwaan Kesatu
Dari Dakwaan Kesatu yang didakwakan dan dituntut
oleh Penuntut Umum di atas, maka dapat kami uraikan
- 101 -

unsur-unsur tindak pidana-nya adalah sebagai berikut:


(i)
(ii)
(iii)

1.

pegawai negeri atau penyelenggara Negara;


menerima hadiah atau janji;
padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakkan agar melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya;

Analisa
Unsur
Pegawai
Penyelenggara Negara

Negeri

atau

Majelis Hakim yang mulia,


Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan rekan pers yang kami hormati.
Bahwa Penasihat Hukum menolak dalil Penuntut
Umum pada Surat Tuntutan halaman 1599, yang
pada pokoknya menyatakan Terdakwa Anas
Urbaningrum telah memenuhi sebagai subyek
hukum yang mempunyai kualitas/kedudukan baik
sebagai Pegawai Negeri atau Penyelenggara
Negara. Adapun dalil tersebut meurut Penuntut
Umum didasarkan pada fakta-fakta persidangan,
sebagai berikut:
1. Bahwa
Terdakwa
Anas
Urbaningrum
membenarkan seluruh identitasnya di
persidangan sesuai dengan surat dakwaan
Penuntut Umum;
2. Bahwa Terdakwa Anas Urbaningrum dalam
keadaan sehat jasmani dan rohani selama
proses persidangan;
3. Bahwa Terdakwa Anas Urbaningrum selaku
Anggota
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Republik Indonesia (DPR-RI) masa jabatan
tahun 2009 2014 berdasarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 70/P
Tahun 2009 tanggal 15 September 2009,
yang selanjutnya ditempatkan pada Komisi
X DPR-RI sebagai Ketua Fraksi dari Fraksi
Partai Demokrat DPR-RI.
Bahwa dalil Penuntut Umum sebagaimana kami
uraikan di atas, merupakan dalil yang tidak benar,
- 102 -

karena tidak mempertimbangkan keterangan saksi


maupun
ahli
yang
telah
didengar
dalam
persidangan yang terbuka, sehingga analisa
Penuntut Umum menjadi keliru dan terkesan
dipaksakan. Adapun kesalahan Penuntut Umum
dapat kami uraikan, sebagai berikut:
a. Bahwa pembuktian subyek hukum harus
dilihat
dari
apakah
perbuatan
yang
memenuhi unsur tindak pidana itu memang
benar dilakukan oleh Terdakwa atau pihak
lain. Hal tersebut dikarenakan berdasarkan
prinsip hukum pidana, seseorang tidak
dapat dipidana atas suatu perbuatan pidana
yang tidak dilakukannya.
Dalam hukum pidana, tidaklah diperkenankan
menindak secara hukum seseorang secara
serampangan karena dianggap telah melakukan
suatu perbuatan yang unsur-unsurnya dianggap
telah terpenuhi berdasarkan suatu ketentuan
hukum pidana. Penuntut Umum terlebih dahulu
harus membuktikan bahwa perbuatan tersebut
merupakan suatu perbuatan pidana atau bukan.
Kemudian, Penuntut Umum harus membuktikan
bahwa Terdakwa memang merupakan pelaku
dari perbuatan yang diduga tersebut, bukan
dilakukan oleh pihak lain. Setelah Penuntut
Umum mampu membuktikan bahwa perbuatan
tersebut memang perbuatan pidana, dimana
Terdakwa adalah benar merupakan pelaku dari
perbuatan pidana tersebut, maka Penuntut
Umum harus dapat membuktikan bahwa
Terdakwa
memang
dapat
dimintakan
pertanggungjawaban pidana atas perbuatan
pidana yang telah dilakukannya. Masing-masing
hal tersebut jangan dicampur-adukkan, sebab
masing-masing sifatnya berlainan1.
Dengan demikian, untuk membuktikan subyek
hukum sebagai pelaku pidana, harus dibuktikan,
yaitu:
i. Apakah
perbuatan
tersebut
merupakan tindak pidana?

memang

Prof. Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipete, jakarta,


2008, hal. 10-11.
1

- 103 -

ii. Apakah subyek hukum memang pelaku yang


melakukan perbuatan tersebut?
sedangkan apakah subyek hukum tersebut
dapat dipidana, maka harus dibuktikan:
iii. Apakah subyek hukum tersebut memenuhi
syarat
untuk
dapat
dimintakan
pertanggungjawaban pidana atas perbuatan
tersebut?
b. Sasaran Norma atau adresart norm Pasal 12
huruf a UU Tipikor adalah Pegawai Negeri
dan Penyelenggara Negara
Bahwa sasaran norma atau adresart norm
adalah batasan mengenai siapa saja yang dapat
menjadi subyek hukum dalam suatu ketentuan
peraturan perundang-undangan. Pasal 12 huruf
(a) UU Tipikor telah secara tegas mengatur
bahwa sasaran norma atau adresart normnya
adalah terbatas hanya pada orang-orang yang
mempunyai kualitas atau kedudukan sebagai
pegawai negeri dan penyelenggara negara. Hal
ini berbeda dengan unsur setiap orang,
dimana sasaran norma atau adresart nornya
tidak dibatasi meliputi siapa saja individunya.
Dengan demikian, sebelum Penuntut Umum
menyatakan bahwa Terdakwa telah memenuhi
sebagai subyek hukum yang mempunyai
kualitas/kedudukan baik sebagai Pegawai Negeri
atau Penyelenggara Negara, maka Penuntut
Umum harus membuktikan terlebih dahulu,
kapan perbuatan yang didakwakan itu dilakukan
Terdakwa
dan
apakah
perbuatan
yang
didakwakan tersebut dilakukan pada saat
Terdakwa memiliki kualitas atau kedudukan
sebagai pegawai negeri atau penyelenggara
Negara.
c. Terdakwa resmi dilantik menjadi anggota
DPR R.I. pada tanggal 1 Oktober 2009 dan
mengundurkan diri pada tanggal _________
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 1599
- 104 -

menguraikan
bahwa:
Terdakwa
Anas
Urbaningrum
selaku
Anggota
Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
(DPR-RI) masa jabatan tahun 2009 2014
berdasarkan Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 70/P Tahun 2009 tanggal
15 September 2009, yang selanjutnya
ditempatkan pada Komisi X DPR-RI sebagai
Ketua Fraksi dari Fraksi Partai Demokrat
DPR-RI.
Bahwa fakta yang diuraikan Penuntut Umum
tersebut di atas merupakan fakta baru yang
menyesatkan. Bahwa sebagaimana identitas
Terdakwa yang tercantum pada halaman 1 Surat
Tuntutan, Terdakwa adalah mantan anggota DPR
R.I.
Bahwa Terdakwa berfungsi sebagai anggota DPR
R.I. periode 2009 2014 terhitung sejak tanggal
Terdakwa dilantik dan mengucapkan sumpah
jabatan pada tanggal 1 Oktober 2009. Hal ini
telah
ditegaskan
berdasarkan
Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 70/P Tahun
2009 tanggal 15 September 2009 (Keputusan
Presiden No. 70/2009), dimana salah satu
diktumnya menyatakan surat keputusan ini
dinyatakan berlaku sejak dilakukan pelantikan
dan pengambilan sumpah jabatan.
Terdakwa telah mengundurkan diri sebagai
anggota DPR R.I. melalui surat pengunduran diri
tertanggal __________. Selanjutnya berdasarkan
Keputusan Presiden Republik Indonesia No.
________, tertanggal ________ , pengunduran diri
Terdakwa ditegaskan dan diangkat orang lain
menggantikan kedudukan Terdakwa sebagai
anggota DPR R.I. dari fraksi Partai Demokrat.
Dengan pengunduran diri Terdakwa tersebut,
maka sejak tanggal pengunduran diri, Terdakwa
tidak lagi berfungsi atau memiliki kewenangan
dan kekuasaan sebagai anggota DPR R.I. dan
karenanya Terdakwa tidak lagi masuk sebagai
sasaran norma atau adresart norm ketentuan
Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor.
d. Terdakwa
- 105 -

hanya

menjadi

bagian

dari

sasaran norma atau adresart norm Pasal 12


huruf (a) UU Tipikor selama Terdakwa
menjabat sebagai anggota DPR R.I.
Bahwa saksi Winantuningtyastiti (selaku Sekejn
DPR-RI) pada persidangan pada tanggal ________
menyatakan, maka hak dan kewajiban
anggota
DPR-RI melekat sesaat
setelah
pengucapan sumpah tersebut, sehingga
Terdakwa baru mendapat gaji dan segala
fasilitasnya setelah mengucapkan sumpah
menjadi anggota DPR-RI. Selanjutnya saksi
Winantuningtyastiti menjelaskan bahwa anggota
DPR R.I. periode 2004-2009 baru akan berakhir
kedudukannya sebagai anggota DPR R.I. pada
tanggal 30 September 2009, oleh karenanya
calon terpilih anggota DPR R.I. periode 20092014 baru akan mulai menjalankan fungsinya
setelah
yang
bersangkutan
dilantik
dan
mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 1
Oktober 2009. Dengan demikian calon terpilih
belum menjalankan fungsinya sebagai anggota
DPR R.I., karena tidak mungkin ada 2 (dua)
orang sekaligus menjabat sebagai anggota DPRRI dalam waktu yang bersamaan.
Bahwa
sejalan
dengan
pendapat
saksi
Winantuningtyastiti Ahli Prof Yusril Ihza
Mahendra dalam persidangan pada tangal
________ pada pokoknya menyatakan: Kalau
kembali ke istilah klasik Belanda, jabatan anggota
DPR adalah ambtsdrager. Ambtsdrager itu harus
dilantik dengan surat keputusan. Dalam sistem
hukum kita, yang menyatakan seseorang itu terpilih
sebagai
anggota
DPR,
seluruhnya
adalah
kewenangan KPU yang mandiri dan independen,
tetapi sejak kapan orang itu boleh dikatakan
sebagai anggota DPR, adalah sejak ada surat
keputusan presiden, yang mengangkat orang yang
bersangkutan
sebagai
anggota
DPR.
Tetapi
Keputusan
Presiden
itupun
tidak
otomatis
menyebabkan seseorang itu adalah penyelenggara
negara atau pejabat negara. Hal ini tergantung
pada diktum di dalam surat keputusan Presiden itu
sendiri. Misalnya presiden mengeluarkan Surat
Keputusan pengesahan seseorang menjadi anggota
DPR pada tanggal 30 September 2014. Lalu
dikatakan dalam diktumnya, surat keputusan ini

- 106 -

dinyatakan berlaku sejak dilakukan pelantikan dan


pengambilan
sumpah
jabatan.
Dilantik
dan
mengucapkan sumpah jabatan itu dibuktikan
dengan berita acara pelantikan dan pengambilan
sumpah jabatan. Jadi dia tidak dapat minta hak,
dapat gaji, tunjangan, fasilitas, dan juga tidak dapat
bertindak sebagaimana layaknya seorang anggota
DPR sebelum dilantik dan mengucapkan sumpah
jabatan..
Bahwa argumentasi hukum yang diterangkan di atas sejalan
dengan Ahli hukum DR. Chairul Huda, yang menyatakan:

Undang Undang 28 tahun 1999 tentang


Pemerintahan Yang Bersih dan Bebas KKN,
disebutkan bahwa penyelenggara negara
adalah
orang
yang
menjalankan
fungsi
legislative, eksekutif dan yudikatif. Bagaimana
orang yang belum dilantik sudah menjalankan
fungsi? Tidak mungkin dan tidak masuk
akal orang itu sudah bisa menjalankan
fungsi kalau dia belum dilantik. Oleh
karenanya dari tataran hukum normatif saja
yang bersangkutan belum dikualifikasi sebagai
penyelenggara Negara.
Bahwa dari pendapat kedua ahli tersebut di atas
dihubungkan dengan fakta pada perkara aquo,
maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut:
(i) Bahwa berdasarkan Keputusan Presiden
No. 70/2009, tertanngal 15 September
2009, Terdakwa mengucapkan sumpah
pada tanggal 1 Oktober 2009;
(ii) Bahwa Terdakwa baru resmi menjalankan
fungsi
dan
wewenang
sebagai
penyelenggara Negara sejak Terdakwa
mengucapkan sumpah pada tanggal 1
Oktober 2009.
Bahwa selain dari hal-hal yang telah
dijelaskan di atas, Pasal 1 butir (1) UndangUndang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan
Bebas Dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
(UU No. 8/1999), menyatakan:

- 107 -

Penyelenggara
Negara
adalah
Pejabat
Negara yang menjalankan fungsi eksekutif,
legislatif, atau yudikatif, dan pejabat lain yang
fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan
penyelenggaraan negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Sementara itu, Pasal 5 ayat (1) UU No.
8/1999, menyatakan:
Setiap
Penyelenggara
berkewajiban untuk:

Negara

1. Mengucapkan
sumpah
atau
janji
sesuai dengan agamanya sebelum
memangku jabatannya;
Bahwa kata kunci dari Pasal 1 butir (1) UU
No8/2009
adalah
menjalankan
fungsi,
sementara frasa kata menjalankan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu
melakukan (tugas, kewajiban, pekerjaan),
sehingga arti kata menjalankan fungsi
dalam konteks Bahasa Indonesia seseorang
yang melakukan tugas/kewajiban untuk suatu
pekerjaan tertentu.
Lebih lanjut, berdasarkan Pasal 5 ayat (1) UU
No. 8/1999 setiap penyelenggara Negara
wajib
mengucapkan
sumpah
sebelum
memangku
jabatan,
dengan
demikian
sebelum penyelenggara Negara tersebut
mengucapkan sumpah, maka ia belum dapat
menjalankan
fungsinya
sebagai
penyelenggara Negara (vide Pasal 1 ayat (1)
UU No. 8/1999). Hal ini juga sesuai dengan
bunyi diktum pada Keputusan Presiden No.
70/2009, tertanngal 15 September 2009.
e. Penuntut Umum dalam mempertimbangkan
perbuatan
Terdakwa
sama
sekali
mempertimbangkan fakta kapan Terdakwa
menjalankan fungsi sebagai anggota DPR
R.I.
Bahwa
- 108 -

Penuntut

Umum

dalam

Surat

Tuntutannya,
pada
pokoknya
Terdakwa
telah
melakukan
perbuatan:

mendalilkan
perbuatan-

menerima uang sebesar Rp. 2.305.500.000,(dua milyar tiga ratus lima juta lima ratus ribu
Rupiah) dari PT Adhi Karya;

menerima
dari
Muhammad
Nazaruddin
(Permai
Group)
uang
sebesar
Rp.
84.515.650.000 (delapan puluh empat milyar
lima ratus lima belas juta enam ratus lima
puluh ribu Rupiah) dan USD 36,070 (tiga
puluh enam ribu tujuh puluh Dollar Amerika
Serikat);

menerima
dari
Muhammad
Nazaruddin
(Permai
Group)
uang
sebesar
Rp.
30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah)
dan USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua
puluh lima ribu Dollar Amerika Serikat);

menerima
Harrier;

menerima fasilitas survey dari PT Lingkaran


Survey
Indonesia
senilai
sekitar
Rp.
478.632.230 (empat ratus tujuh puluh delapan
juta enam ratus tiga puluh dua ribu dua ratus
tiga puluh Rupiah); dan

menerima fasilitas berupa 1 (satu) unit mobil


Toyota Velvire senilai Rp. 735.000.000,- (tujuh
ratus tiga puluh lima juta Rupiah);

hadiah

berupa

mobil

Toyota

namun Penuntut Umum sama sekali tidak


mempertimbangkan apakah Terdakwa dalam
melakukan
perbuatan-perbuatan
yang
didakwakan
tersebut
berkualitas
dan
berkapasitas sebagai pegawai negeri atau
penyelenggara negara.
Bahwa Terdakwa memperoleh mobil Toyota
Harrier pada tanggal 12 september 2009
sebelum Terdakwa dilantik dan mengucapkan
sumpah jabatan sebagai anggota DPR R.I.

- 109 -

periode 2009-2014 pada tanggal 1 Oktober


2009. Dengan demikian Terdakwa belum
menjalankan fungsi sebagai penyelenggara
negara dan karenanya kapasitas Terdakwa tidak
memenuhi sasaran norma atau adresart norm
sebagai penyelenggara negara pada ketentuan
Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor.
Begitu
juga
saat
Terdakwa
memperoleh
pinjaman mobil Toyota Velfire pada bulan
Nopember 2009. Pada saat itu, Terdakwa telah
resmi mengundurkan diri sebagai anggota DPR
R.I. periode 2009-2014 berdasarkan surat
pengunduran diri tertanggal ______ yang
ditegaskan berdasarkan Keputusan Presiden No.
________. Dengan demikian, pada saat Terdakwa
memperoleh pinjaman Toyota Velfire tersebut,
Terdakwa sudah tidak lagi menjalankan fungsi
sebagai anggota DPR R.I atau penyelenggara
negara dan karenanya kapasitas Terdakwa tidak
memenuhi sasaran norma atau adresart norm
sebagai penyelenggara negara pada ketentuan
Pasal 12 huruf (a) UU Tipikor.
Berdasarkan uraian Penasihat Hukum di atas,
maka dalil Penuntut Umum yang menyatakan
Terdakwa Anas Urbaningrum telah memenuhi
sebagai subyek hukum yang mempunyai
kualitas/kedudukan baik sebagai Pegawai Negeri
atau Penyelenggara Negara, terbukti tidak benar
dan karenanya harus ditolak.
2.

Analisa Unsur Menerima hadiah atau janji


Majelis Hakim yang kami muliakan,
Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat
kami hargai.
Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya halaman
1599 -1600 menyatakan pada pokoknya bahwa UU
Tipikor tidak memberikan penjelasan yang spesifik
tentang apa yang dimaksud dengan menerima
hadiah, maka perlu penelusuran lebih lanjut
menurut
beberapa
sumber
hukum
untuk

- 110 -

memberikan
pengertian
tentang
apa
yang
dimaksud dengan menerima dan hadiah atau
janji.
Bahwa benar UU Tipikor sama sekali tidak
memberikan penjelasan yang spesifik megenai
pengertian menerima dan hadiah atau janji,
oleh karenanya Penasihat Hukum setuju dengan
pendapat Penuntut Umum bahwa maksud dan
pengertian dari kata menerima dan kata hadiah
atau janji harus digali berdasarkan sumber
hukum yang telah ada.
Ad a) Mengenai pengertian kata menerima
Bahwa Penasihat Hukum setuju dengan pengertian
kata menerima yang oleh Penuntut Umum
diperoleh dari Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI). Namun demikian Penasihat Hukum
menolak
dalil
Penuntut
Umum
selanjutnya
mengenai pengertian kata menerima berupa
kebendaan berwujud, yang diartikan dalam 2 (dua)
hal, yaitu (i) menerima secara fisik; dan (ii)
menerima secara yuridis. Begitu pula dalil Penuntut
Umum mengenai cara menerima yang menurut
Penuntut Umum dapat dilakukan dengan 2 (dua)
cara, yaitu: (i) menerima secara langsung dan (ii)
menerima secara tidak langsung.
Bahwa dalil Penuntut Umum mengenai pengertian
kata menerima dan cara menerima merupakan
pendapat atau pengertian yang disusun oleh
Penuntut Umum sendiri. Pendapat atau pengertian
yang disusun sendiri oleh Penuntut Umum tersebut
belum pernah diuji ataupun disusun melalui
metodologi
yang
bersifat
ilmiah,
sehingga
keberadaannya tidak dapat diakui sebagai suatu
teori, apalagi sebagai teori hukum. Oleh karena itu
kami mohon kepada Majelis Hakim yang Mulia
untuk mengesampingkan uraian Penuntut Umum
mengenai pengertian kata menerima dan cara
menerima pada halaman 1600-1601 Surat
Tuntutannya,
karena
pengertian
tersebut
merupakan pendapat sepihak Penuntut Umum,
bukan pengertian yang diperoleh dari sumber
hukum yang telah ada.

- 111 -

Bahwa
sumber
hukum
belum
memberikan
penjelasan maksud atau pengertian dari kata
menerima.
Yang
ada
adalah
pengertian
penyerahan yang telah diatur berdasarkan
sumber hukum perdata, yaitu: Pasal 612, Pasal 613
dan 615 KUH Perdata. Hal ini telah diuraikan oleh
Ahli Hukum Perdata, Prof. Dr. Siti Ismijati Jenie,
S.H., Cn. Pada persidangan pada tanggal 28
Agustus 2014. Menurut Prof. Dr. Siti Ismijati Jenie,
S.H., Cn., penyerahan atau yang dikenal dengan
istilah levering secara singkat terdiri dari
penyerahan untuk benda bergerak berwujud
melalui penyerahan nyata (Pasal 612 KUH Perdata),
penyerahan benda bergerak tidak berwujud melalui
cessie untuk benda bergerak tidak berwujud atas
nama dan melalui penyerahan nyata untuk benda
bergerak tidak berwujud tidak atas nama.
Bahwa Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan,
S.H.2 memberikan pendapat mengenai pengertian
penyerahan menurut hukum Perdata, sebagai
berikut: Menurut Hukum Perdata yang dimaksud
dengan penyerahan itu: penyerahan suatu benda
oleh pemilik atau atas namanya kepada orang lain,
sehingga orang lain ini memperoleh hak milik atas
benda itu. Dengan kata lain penyerahan
merupakan cara atau maksud agar orang lain
menerima suatu benda. Paling tidak, uraian di atas
sedikit banyak menjelaskan pengertian menerima
menurut sumber hukum yang berlaku, yaitu
pendekatan melalui hukum perdata.
Ad b) Mengenai pengertian kata hadiah
Bahwa Penasihat Hukum sependapat dengan
pendapat
Ahli
Drs.
Adami
Chazwi,
S.H.,
sebagaimana dikutip oleh Penuntut Umum pada
halaman
1602
Surat
Tuntutannya,
yang
menyatakan bahwa pengertian hadiah menurut
tata bahasa, lebih mengacu pada pengertian benda
atau kebendaan yang bernilai uang, perbuatan
menerima sesuatu berupa benda / hadiah yang
baru dianggap perbuatan menerima hadiah
selesai, kalau nyata-nyata benda itu telah
diterima
oleh
yang
menerima,
yakni
2

Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, S.H., Hukum Perdata: Hukum
Benda, Penerbit: Liberty, Yogyakarta, 2000, halaman 67.
- 112 -

diperlukan syarat telah beralihnya kekuasaan


atas benda itu ke tangan orang yang
menerima. Sebelum kekuasaan atas benda itu
beralih ke dalam kekuasaan si penerima, maka
perbuatan menerima belumlah dianggap terwujud
secara sempurna
Dengan demikian pendapat Adami Chazwi, S.H.
tersebut akan kami pergunakan sebagai salah satu
sumber hukum untuk menilai apakah perbuatan
Terdakwa
telah
memenuhi
unsur-unsur
sebagaimana Dakwaan Kesatu, yang selengkapnya
akan kami uraikan di bawah ini.
Ad c) Mengenai pengertian kata janji
Bahwa Penasihat Hukum juga sependapat dengan
pendapat
Ahli
Drs.
Adami
Chazwi,
S.H.,
sebagaimana dikutip oleh Penuntut Umum pada
halaman
1603
Surat
Tuntutannya,
yang
menyatakan bahwa menerima janji dapat
dianggap telah selesai dengan sempurna
manakala telah ada keadaan-keadaan sebagai
pertanda/indicator bahwa mengenai isi apa
yang dijanjikan telah diterima oleh pegawai
negeri tersebut, misalnya anggukan kepala atau
keluar ucapan atau kata-kata yang karena sifatnya
dapat dinilai atau dianggap menerima, misalnya
mengucapkan
kata
iya,
baik,
terimakasih,
alhamdulilah, yes, oke dan sebagainya.
Dengan demikian pendapat Adami Chazwi, S.H.
tersebut akan kami pergunakan sebagai salah satu
sumber hukum untuk menilai apakah perbuatan
Terdakwa
telah
memenuhi
unsur-unsur
sebagaimana Dakwaan Kesatu, yang selengkapnya
akan kami uraikan di bawah ini.
Selanjutnya berdasarkan sumber-sumber hukum
yang berlaku, Penasihat Hukum akan memberikan
analisa juridis apakah benar berdasarkan faktafakta persidangan, perbuatan Terdakwa telah
memenuhi unsur menerima hadiah atau janji dan
sekaligus Penasihat Hukum akan menguraikan
bantahan terhadap dalil-dalil Penuntut Umum yang
tidak benar, tidak didasarkan fakta persidangan
dan menyesatkan.
- 113 -

1. Terdakwa
tidak
terbukti
mempunyai
keinginan untuk tampil menjadi pemimpin
nasional, yaitu Presiden R.I.
Bahwa Penasihat Hukum menolak seluruh dalil
maupun uraian panjang lebar Penuntut Umum
pada butir 1 dan 2 halaman 1604 s/d 1606 Surat
Tuntutan, yang pada pokoknya menyatakan
keinginan Terdakwa tampil sebagai pemimpin
nasional, yaitu Presiden R.I. dapat dibuktikan
melalui adanya fakta hukum rapat yang dihadiri
oleh Bertha Herawati, Muhammad Nazaruddin,
Yulianis, Subiakto Priosoedarso dan stafnya dan
adanya beberapa orang yang mengirimkan
ucapan dukungan Terdakwa sebagai calon
Presiden 2014, sebagimana bukti sms.
Bahwa dalil dakwaan Penuntut Umum yang
menyatakan Terdakwa berkeinginan tampil
sebagai pimpinan nasional, yaitu Presiden R.I
tahun 2014 telah dibantah oleh banyak saksisaksi yang dihadirkan dalam persidangan, yaitu:
Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA., Saan Mustofa,
Ruhut Poltak Sitompul, Mirwan Amir, Pasha
Ismaya Sukardi, Herlas Juniar, Muhammad
Rahmad, Sudewo, Angelina Patricia Pinkan
Sondakh dan Umar Arsal. Seluruh saksi-saksi
tersebut menyatakan tidak pernah mendengar
atau membicarakan wacana keinginan Terdakwa
untuk tampil sebagai Presiden R.I. pada tahun
2014. Dalil dakwaan Penuntut Umum ini pun
telah dibantah oleh Terdakwa sendiri pada
persidangan pada tanggal 4 September 2014..
Bahwa tidak benar dalil Penuntut Umum yang
menyatakan keinginan Terdakwa tampil sebagai
pemimpin
nasional
yaitu
Presiden
R.I.,
berkesesuaian dengan keterangan saksi Ruhut
Poltak Sitompul. Justru dalam persidangan pada
tanggal 7 Agustus 2014 saksi Ruhut Poltak
Sitompul menjelaskan bahwa di suatu tempat di
bawah pohon ia (Ruhut Poltak Sitompul) pernah
mendorong Terdakwa menjadi Presiden R.I.,
saksi menyampaikan kepada Terdakwa Nas,
baik-baik kamu Nas, saya gagal untuk bung
Akbar jadi Presiden tapi saya doakan semoga
- 114 -

kamu nanti. Saat itu terdakwa menanggapi


dengan mengatakan Ah Abang ada saja, kita
bekerja sajalah dulu. Pernyataan saksi Ruhut
Poltak Sitompul tersebut tidak ditanggapi
secara serius oleh Terdakwa. Dalam hal ini,
Penuntut Umum telah memutarbalikkan fakta
persidangan.
Bahwa terkait bergabunganya Terdakwa ke
Partai Demokrat, menurut keterangan saksi
Prof. Dr. Ahmad Mubarok M.A., adalah karena
Terdakwa diajak bergabung oleh Sdr. Sudi
Silalahi. Hal ini dibenarkan oleh Terdakwa,
bahkan selain Sdr. Sudi Silalahi, Terdakwa juga
diminta oleh Sdr. Hadi Utomo untuk bergabung
ke Partai Demokrat pada tahun 2005. Bahwa
Terdakwa juga tidak pernah mengajukan diri
untuk menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat
(DPP)
Bidang
Politik
Partai
Demokrat,
melainkan Terdakwa dipilih melalui prosedur
yang berlaku di Partai Demokrat menjadi Ketua
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Bidang Politik
Partai Demokrat tersebut. Sehubungan dengan
fakta ini, dalam persidangan tidak ada satupun
saksi yang memberikan keterangan mengenai
keinginan Terdakwa menjadi Ketua Dewan
Pimpinan Pusat (DPP) Bidang Politik Partai
Demokrat sebagai tahap awal sebelum menjadi
Ketua Umum Partai Demokrat.
Bahwa selanjutnya fakta Terdakwa terpilih
menjadi Ketua Umum Partai Demokrat terbukti
dari fakta persidangan, yaitu berdasarkan
keterangan saksi Prof. Dr. Ahmad Mubarok,
MA., Saan Mustofa, Ruhut Poltak Sitompul,
Mirwan Amir, Pasha Ismaya Sukardi, Herlas
Juniar, Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh dan Umar Arsal, bukan
merupakan keinginan Terdakwa. Terdakwa maju
menjadi salah satu calon Ketua Umum Partai
Demokrat awalnya didorong oleh Saan Mustofa,
bukan keinginan Terdakwa. Pada saat itu
Terdakwa
tidak
langsung
mengiyakan
permintaan Saan Mustofa tersebut, karena
Terdakwa masih ingin berkonsentrasi di Pansus
Century. Setelah Pansus Century selesai pada
awal bulan Maret 2009, Terdakwa pun belum

- 115 -

langsung mengiyakan dorongan Saan Mustofa


teman-teman untuk maju menjadi salah satu
calon Ketua Umum, melainkan Terdakwa
bertanya terlebih dahulu apakah Ibu Ani atau
Ibas mencalonkan sebagai Ketua Umum dan
agar teman-teman melakukan cek sound
terlebih dahulu kepada DPC-DPC.
Bahwa keterangan saksi Bertha Herawati yang
pada
pokoknya
menyatakan
Terdakwa
mendorong Bertha Herawati menjadi Ketua
PDRI karena membutuhkan orang yang masih
energik untuk mendukung Terdakwa sebagai
Capres 2014, dalam persidangan hari yang
sama telah dibantah sendiri oleh saksi Bertha
Herawati. Saksi Bertha Herawati menyatakan
saksi menagis dan sakit hati dengan Terdakwa
karena
dalam
sebuah
rapat
Terdakwa
mendorong peserta rapat untuk memilih Ibu
Budi sebagai Ketua PDRI. Dan pada akhirnya
Ibu Budi tersebut yang terpilih menjadi ketua
PDRI. Dengan demikian keterangan saksi
Bertha
Herawati
yang
dijadikan
fakta
persidangan oleh Penuntut Umum tidak lagi
relevan, karena faktanya Ketua PDRI bukan
saksi Bertha Herawati, sehingga maksud dari
terpilihnya saksi Bertha Herawati agar dapat
mendukung Terdakwa sebagai Capres 2014
menjadi tidak lagi relevan.
Begitu pula dalil Penuntut Umum yang pada
pokoknya menyatakan wacana akuisisi Hotline
Advertising milik Sdr. Subiakto Priosoedarso,
sebagai langkah persiapan Terdakwa menjadi
Presiden
R.I.
Wacana
akuisisi
Hotline
Advertising maupun pertemuan-pertemuan
yang dilakukan oleh Muhammad Nazaruddin,
Neneng Sri Wahyuni, Yulianis dan Sdr. Subiakto
Priosoedarso sama sekali tidak relevan dan
tidak dapat dijadikan bukti sebagai langkah
awal persiapan Terdakwa sebagai Presiden R.I.,
karena Terdakwa terbukti sama sekali tidak
pernah turut berperan serta, menghadiri
pertemuan-pertemuan
bahkan
mengetahui
wacana akuisisi Hotline Advertising tersebut.
Bahwa SMS yang dijadikan salah satu bukti oleh

- 116 -

Penuntut Umum juga tidak relevan dan tidak


dapat
membuktikan
bahwa
Terdakwa
berkeinginan untuk tampil menjadi Presiden R.I.
Justru bunyi dari SMS tersebut membuktikan
sebaliknya,
yaitu
bukan
Terdakwa
yang
berkeinginan menjadi Presiden R.I., tetapi justru
orang-orang yang mengirimkan SMS tesebut
yang ingin agar Terdakwa menjadi Presiden R.I.
Hal ini terungkap dari terjemahan tidak resmi
oleh Penuntut Umum terhadap bahasa Jawa
yang digunakan dalam SMS tersebut, yaitu: (i)
SMS dari No. 621328057648 pada tanggal 8
Februari 2011, yang menyatakan: semoga mas
Anas jadi Presiden dan (ii) SMS dari No.
085228858557 pada tanggal 4 September 2012
menyatakan: niat kami ingin menjadikan mas
Anas jadi RI-1. Sungguh tidak masuk logika
berfikir
apabila
ada
orang-orang
yang
menyatakan
keinginannya
agar
Terdakwa
menjadi Presiden R.I kemudian ditafsirkan oleh
Penuntut Umum bahwa keinginan tersebut
merupakan keinginan dari Terdakwa.
Bahwa dengan demikian dalil Penuntut Umum
yang menyatakan Terdakwa berkeinginan untuk
tampil menjadi Presiden R.I hanya didasarkan
oleh keterangan Muhammad Nazaruddin dan
Neneng Sriwahyuni, dimana keterangan itu pun
terbukti telah terbantahkan oleh keterangan
dari lebih banyak saksi-saksi yang telah
dihadirkan dalam persidangan.
Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan jelas telah membuktikan: (i) tidak
ada keinginan Terdakwa untuk tampil menjadi
pemimpin nasional, yaitu Presiden R.I., karena
keterangan saksi-saksi telah membantah dalil
tersebut (ii) Terdakwa tidak pernah mengajukan
diri atau meminta agar Terdakwa dapat
bergabung di Partai Demokrat dan ditunjuk
sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Bidang
Politik Partai Demokrat, (iii) wacana akuisisi
Hotline Advertising sama sekali tidak relevan
dan tidak dapat membuktikan sebagai langkah
awal Terdakwa menjadi Presiden R.I.;dan (iv)
bukti SMS menurut logika berfikir justru telah
membuktikan sebaliknya.

- 117 -

2. Terdakwa bukan pemilik PT Anugerah


Group dan tidak menghimpun dana-dana
melalui PT Anugerah Group maupun PT
Dutasari Citra Laras
Bahwa Penasihat Hukum menolak seluruh dalil
maupun uraian Penuntut Umum pada butir 3
halaman 1606 s/d 1612 Surat Tuntutan, yang
pada pokoknya menyatakan untuk menghimpun
dana-dana,
Terdakwa
dan
Muhammad
Nazaruddin bergabung dalam Anugerah Group.
Dalil Penuntut Umum bahwa Terdakwa dan
Muhammad Nazaruddin bergabung di Anugerah
Group tidak benar dan justru telah terbantahkan
oleh banyak keterangan saksi-saksi yang
dihadirkan dalam persidangan, antara lain
saksi-saksi yang merupakan karyawan Anugerah
Group, yaitu: Yulianis, Oktarina Furi, Mindo
Rosalina Manullang, Aan Ikhyaudin, Herry
Sunandar dan saksi-saksi lain, yaitu Eva Ompita
dan Nuril Anwar. Seluruh saksi-saksi yang
disebutkan di atas menyatakan bahwa Anugerah
Group
merupakan
milik
Muhammad
Nazaruddin. Di samping itu saksi-saksi yang
merupakan
karyawan
Anugerah
Group
seluruhnya
menyatakan
bahwa
pimpinan
Anugerah Group adalah Muhammad Nazaruddin
dan Neneng Sri Wahyuni.
Bahwa Terdakwa tidak pernah memimpin atau
mengikuti pertemuan-pertemuan yang dihadiri
oleh
karyawan
Anugerah
Group
untuk
membicarakan
bisnis
atau
proyek-proyek
Anugerah Group. Selain itu Terdakwa tidak
terbukti memiliki ruangan khusus di kantor
Anugerah Group di Jl. K.H. Abdullah Syafii No.
9, Tebet Jakarta Selatan maupun kantor di
Tower Permai, Jl. Warung Buncit Raya No. 27,
Mampang Prapatan.
Bahwa tidak benar dalil Penuntut Umum yang
menyatakan fakta bahwa Terdakwa dan
Muhammad Nazaruddin bergabung dalam
Anugerah Group untuk menghimpun dana-dana
telah berkesesuaian dengan keterangan saksi
- 118 -

Yulianis dan Mindo Rosalina Manulang. Bahwa


justru sebaliknya Yulianis dan Mindo Rosalina
Manulang telah membantah kebenaran fakta
tersebut sebagaimana uraian kami di atas.
Dalam hal ini sekali lagi Penuntut Umum telah
memutarbalikkan fakta persidangan. Bahwa
dalil
Penuntut
Umum
bahwa
Terdakwa
bergabung bersama Muhammad Nazaruddin di
Anugerah
Group,
semata-mata
hanya
didasarkan
keterangan
dari
Muhammad
Nazaruddin dan Neneng Sri Wahyuni; yang
justru telah dibantah kebenarannya oleh saksisaksi lainnya yang disebutkan di atas.
Bahwa bukti Terdakwa telah menandatangani
Akta Jual Beli 30% saham PT Anugerah
Nusantara, tidak serta merta membuktikan
bahwa Terdakwa sebagai pemilik PT Anugerah
Nusantara atau bergabung dengan Muhammad
Nazaruddin
di
Anugerah
Group.
Bahwa
pembelian saham tersebut telah dibatalkan
sebagaimana
dapat
dibuktikan
bahwa
kepemilikan saham PT Anugerah Nusantara
yang dikelola oleh Kementerian hukum dan
HAM R.I. tidak pernah mencatat nama
Terdakwa sebagai salah satu pemegang saham
PT Anugerah Nusantara (vide Bukti PH- ___).
Andaikata
pembelian
30%
saham
PT Anugerah Nusantara tersebut jadi terlaksana
quod non- tentunya secara hukum (hukum
Korporasi) nama Terdakwa harus dilaporkan
kepada Kementerian hukum dan HAM R.I.
sebagai salah satu pemegang saham dan
dicatatkan pada Daftar Pemegang Saham (DPS)
PT Anugerah Nusantara.
Bahwa keterangan Terdakwa yang menyatakan
Terdakwa tidak mengetahui PT Anugerah
Nusantara merupakan hal yang wajar, karena
Terdakwa memang bukan pemilik saham PT
Anugerah Nusantara dan tidak pernah sama
sekali aktif baik dalam pengurusan maupun
bekerja pada PT Anugerah Nusantara. Penuntut
Umum tidak dapat serta merta berdasarkan
akta jual beli saham tersebut menyimpulkan
bahwa Terdakwa sebagai pemilik PT Anugerah
Nusantara atau setidak-tidaknya mengetahui PT
- 119 -

Anugerah Nusantara, karena seluruh saksi-saksi


yang merupakan karyawan Anugerah Group
telah
membantah
dalil
Penuntut
Umum
tersebut. Tentunya Penuntut Umum sangat
paham bahwa dalam hal pembuktian hukum
pidana, yang dicari adalah kebenaran materiil,
bukan kebenaran formil melalui bukti tertulis.
Bahwa fakta Terdakwa mendapatkan gaji dari
PT Anugerah Nusantara pada bulan November
Desember 2008 dan bulan Januari April 2009
tidak juga serta merta dapat disimpulkan bahwa
bahwa Terdakwa sebagai pemilik PT Anugerah
Nusantara atau bergabung dengan Muhammad
Nazaruddin
di
Anugerah
Group.
Bahwa
Terdakwa telah membantah menerima gaji dari
PT Anugerah Nusantara. Terdakwa dalam
persidangan telah menjelaskan bahwa uang
yang diterima Terdakwa dari PT Anugerah
Nusantara tersebut merupakan honor sebagai
konsultan politik Muhammad Nazaruddin dan
kawan-kawan lainnya di Partai Demokrat, yaitu
Saan Mustofa dan Pasha Ismaya Sukardi. Bahwa
setelah Terdakwa mengetahui bahwa honornya
sebagai konsultan politik dicatat sebagai gaji
dari PT Anugerah Nusantara, maka terhitung
bulan April 2009 Terdakwa tidak lagi mau
menerima honor tersebut. Honor Terdakwa
pada bulan April 2009 tersebut selanjutnya
dikembalikan Terdakwa kepada PT Anugerah
Nusantara.
Hal
ini
telah
ditegaskan
kebenarannya oleh saksi Yulianis dan Oktarina
Furi dalam persidangan pada tanggal 14
Agustus 2014. Dengan demikian, berdasarkan
fakta persidangan telah terungkap Terdakwa
tidak
pernah
menerima
gaji
dari
PT Anugerah Nusantara, kecuali honor sebagai
konsultan politik.
Kalaupun Terdakwa pernah menerima uang dari
PT Anugerah Nusantara, apakah sebagai gaji
quod non- atau honor konsultan politik, apapun
namanya, fakta tersebut tidak begitu saja dapat
membuktikan atau dapat disimpulkan bahwa
Terdakwa benar bergabung dengan Muhammad
Nazaruddin
di
Anugerah
Group
untuk
menghimpun dana-dana. Kalaupun berdasarkan
- 120 -

keterangan Muhammad Nazaruddin bahwa


pendirian perusahaan-perusahaan di Anugerah
Group adalah untuk keperluan menampung
proyek-proyek, berdasarkan keterangan saksi
Mindo Rosalina Manulang dan saksi Yulianis,
perusahaan
tersebut
adalah
milik
saksi
Muhammad Nazaruddin. Sekali lagi dalil
dakwaan maupun tuntutan tersebut didasarkan
pada keterangan saksi Muhammad Nazaruddin
dan telah dibantah oleh banyak saksi-saksi
lainnya yang dihadirkan dalam persidangan.
Begitu pula dengan adanya bukti tertulis
mengenai
pengeluaran-pengeluaran
PT
Anugerah Nusantara untuk Terdakwa. Buktibukti tersebut tidak serta merta dapat
membuktikan atau dapat disimpulkan bahwa
Terdakwa benar bergabung dengan saksi
Muhammad Nazaruddin di Anugerah Group
untuk menghimpun dana-dana, karena dalil
Penuntut Umum telah terbantahkan oleh banyak
saksi-saksi lainnya yang dihadirkan dalam
persidangan. Di samping itu, tentunya Penuntut
Umum sangat paham bahwa dalam hal
pembuktian hukum pidana, yang dicari adalah
kebenaran materiil; bukan kebenaran formil
melalui bukti tertulis.
Bahwa terkait Pakta Integritas agar tidak
membocorkan
rahasia
perusahaan,
fakta
tersebut tidak relevan. Yang terjadi justru
Terdakwa telah mendengar bahwa saksi
Muhammad Nazaruddin sering menjual nama
Terdakwa, Ibu Ani Yudhoyono dan Edhie
Baskoro untuk mendapatkan proyek-proyek dari
pemerintah. Hal ini dibenarkan berdasarkan
keterangan saksi Yulianis dan saksii Mindo
Rosalina Manulang. Perbuatan saksi Muhammad
Nazarudin menjual nama Terdakwa untuk
mendapatkan proyek, salah satunya menjadi
penyebab memburuknya hubungan Terdakwa
dan saksi Muhammad Nazaruddin, terutama
setelah konggres Partai Demokrat tahun 2010.
Bahwa Penasihat Hukum menolak dengan keras
dalil Penuntut Umum mengenai folder yang
bertuliskan AU dalam laptop milik saksi Yulianis,

- 121 -

sebagaimana butir f, halaman 1611 Surat


Tuntutan. Bahwa adanya folder bertuliskan AU
yang kemudian disimpulkan oleh Penuntut
Umum bahwa Terdakwa ikut dalam kepemilikan
PT Anugerah Nusantara atau Anugerah Group
merupakan
suatu
pemutarbalikan
fakta
persidangan, dimana Penuntut Umum hanya
mengutip salah satu potongan keterangan saksi
Yulianis. Bahwa seharusnya Penuntut Umum
mengutip seluruh keterangan Yulianis, yang
oleh Penuntut Umum telah diuraikan dari
halaman 519 s/d 520 Surat Tuntutan. Apabila
dibaca secara lengkap, maka keterangan saksi
Yulianis dalam persidangan pada pokoknya
menjelaskan sebagai berikut:
Bahwa folder bertuliskan AU benar dibuat
saksi pada saat keadaan mulai keos
Pada saat kondisi keos, saksi mencari
Terdakwa dikarenakan Sdr. Muhammad
Nazaruddin
pernah
berbicara
melalui
telephon khusus pada saksi Pak Anas pun
tidak akan bisa menolong saya. Sedangkan
link saksi kepada Terdakwa hanyalah Pak
Azis yang memang juga bekerja di Anugerah
Group sebagai staf administrasi, akan tetapi
untuk meyakinkan orang-orang Terdakwa
untuk bertemu saksi, tentu sangat sulit buat
Pak Azis. Karena sepengetahuan saksi, Sdr.
Muhammad Nazaruddin selalu bilang kepada
semua orang bahwa perusahaan itu adalah
50% sahamnya milik saksi sehingga saksilah
yang membuat semua kebijakan atas
Terdakwa sedangkan saksi sendiri tidak
kenal dengan Terdakwa. Kalau tidak salah
Yulianis masu memberikan flashdisk kepada
AU yang berisi file pada folder AU tersebut
yang kemudian file itu beredar di Komisi 3
DPR RI. Tambahkan!
Bahwa
apabila
membaca
secara
detil
keterangan Yulianis tersebut di atas, tentunya
dapat dimengerti hal-hal sebagai berikut:
(i) bahwa folder AU baru dibuat Yulianis pada
saat
keadaan
mulai
keos
untuk
diperlihatkan kepada Terdakwa; jadi bukan
- 122 -

seolah-olah dihususkan sebagai laporan


kepada Terdakwa sebagaimana jalan pikiran
Penuntut Umum;
(ii) bahwa Yulianis ingin bertemu dengan
Terdakwa menyerahkan folder tersebut
untuk mendapatkan perlindungan, karena
saksi Yulianis merasa terancam akibat telah
difitnah sebagai pemilik perusahaan (PT
Anugerah
Nusantara)
dan
membuat
kebijakan atas Terdakwa.
Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka
sungguh telah terjadi pemutar balikkan fakta
persidangaan yang sedemikian rupa oleh
Penuntut Umum, dengan maksud untuk
mendukung dalil Penuntut Umum bahwa
Terdakwa benar bergabung dengan Muhammad
Nazaruddin di PT Anugerah Nusantara untuk
menghimpun dana-dana. Hal mana telah
terbantahkan berdasarkan keterangan Yulianis
tersebut di atas maupun keterangan saksi-saksi
lainnya
yang
telah
dihadirkan
dalam
persidangan, sebagaimana telah kami uraikan
sebelumnya.
Bahwa terkait dalil Penuntut Umum bahwa
Terdakwa pernah memerintahkan Muhammad
Nazaruddin agar tidak usah pulang dulu ke
Indonesia, dalil tersebut tidak benar, karena
telah dibantah oleh saksi Nuril Anwar, Yulianis
dan Oktarina Furi. Sedangkan keterangan
Neneng Sri Wahyuni dan Clara Maureen
ternyata merupakan keterangan yang didengar
dari cerita Muhammad Nazaruddin atau dengan
kata lain Neneng Sri Wahyuni dan Clara
Maureen tidak mendengar langsung, melainkan
mendengar cerita tersebut dari Muhammad
Nazaruddin (saksi de auditu).
Bahwa selanjutnya kepemilikan saham oleh
Atiyah Laila (istri Terdakwa) pada PT Dutasari
Citra Selaras bersama-sama dengan Munadi
Herlambangn dan Machfud Suroso, juga tidak
dapat serta merta disimpulkan bahwa PT
Dutasari Citra Laras merupakan salah satu
kantong dana milik Terdakwa. Bahwa dalil
Penuntut Umum tersebut telah dibantah oleh

- 123 -

keterangan saksi Machfud Suroso, Munadi


Herlambang dan Roni Wijaya. Bahwa saksi
Machfud Suroso dan Roni Wijaya telah
menyatakan dalam persidangan pada tanggal
_______ bahwa baik Terdakwa maupun Attiyah
Laila tidak pernah mendapat pembagian
keuntungan dari usaha PT Dutasari Citra
Selaras. Bahwa Attiyah Laila pun tidak pernah
aktif ataupun datang ke kantor PT Dutasari
Citra laras. Bahwa pemberian saham kepada
Attiyah Laila pada awalnya dimaksudkan untuk
bersama-sama membeli usaha hotel di Bantul
yang merupakan milik kenalan dari Bapak
Attabik
Ali.
Bagitu
pula
saksi
Munadi
Herlambang telah membantah bahwa ia sebagai
salah satu kantong dana Terdakwa. Berdasarkan
keterangan-keterangan saksi tersebut di atas,
maka terbukti PT Dutasari Citra Laras maupun
Munadi Herlambang bukan kantong-kantong
dana milik Terdakwa.
Bahwa keterangan saksi Yanto Sutrisno yang
menyatakan Terdakwa beberapa kali menerima
uang dari Mahfud Suroso dalam tas kresek
hitam patut ditolak karena keterangannya telah
dibantah oleh saksi Mahfud Suroso dan Riyadi.
Saksi Riyadi membantah keterangan Yanto
Sutrisno yang menyatakan mengantarkan uang
kepada Terdakwa dalam tas kresek hitam
melalui saksi Riyadi.
Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan jelas telah membuktikan: (i)
Terdakwa
bukan
pemilik
PT
Anugerah
Nusantara
ataupun
bergabung
bersama
Muhammad Nazaruddin di Anugerah Group
untuk menghimpun dana-dana; dan (ii) PT
Dutasari Citra Laras dan Munadi Herlambang
bukan salah satu kantong dana milik Terdakwa.
3. Terdakwa
tidak
membentuk
kantongkantong dana yang bersumber dari proyek
pemerintah dan BUMN
Bahwa Penasihat Hukum menolak dalil Penuntut
Umum pada butir 4, 5 dan 6, halaman 1612 s/d
1613 Surat Tuntutan, yang pada pokoknya
- 124 -

menyatakan Terdakwa membentuk kantong


dana melalui proyek pemerintah dan BUMN.
Bahwa Terdakwa tidak membentuk kantong
dana
melalui
Proyek
Kemendiknas
dan
Kemenpora yang diurus Mindo Rosalina
Manullang dan Angelina Patricia Pinkan
Sondakh, dimana Permai Group mendapat fee
7% sampai dengan 22%. Bahwa dalil Penuntut
Umum
tersebut
hanya
didasarkan
pada
keterangan Muhammad Nazaruddin dan justru
telah dibantah sendiri oleh saksi Mindo Rosalina
Manullang, Angelina Patricia Pinkan Sondakh
dan Yulianis yang menyatakan Terdakwa tidak
pernah terlibat atau berperan mempengaruhi
proyek-proyek Kemendiknas dan Kemenpora. Di
samping itu, sebagaimana uraian di atas,
Terdakwa bukan pemilik dan tidak pernah
bergabung dengan Muhammad Nazaruddin di
PT Anugerah Nusantara atau Anugerah Group.
Pemilik Anugerah Group atau Permai Group
adalah Muhammad Nazaruddin dan pimpinan
tertinggi
yang
berwenang
memberikan
keputusan terkait pengeluaran dana dari
Anugerah Group adalah Muhammad Nazaruddin
dan Neneng Sri Wahyuni.
Bahwa Terdakwa tidak membentuk kantong
dana melalui proyek Pemerintah bidang
kontruksi dan BUMN yang diurus oleh Munadi
Herlambang
dan
terkumpul
sebesar
Rp.2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus lima
puluh juta lima ratus ribu Rupiah). Dalil
Penuntut Umum tersebut telah dibantah oleh
keterangan saksi Munadi Herlambang sendiri
pada persidangan pada tanggal _________. Hal
ini hanya didasarkan Penuntut Umum dari
keterangan Muhammad Nazaruddin.
Bahwa Terdakwa tidak membentuk kantong
dana melalui proyek Hambalang, Gedung pajak
dan Depag yang diurus oleh saksi Machfud
Suroso. Dalil Penuntut Umum ini telah dibantah
berdasarkan keterangan saksi Machfud Suroso
dan Roni Wijaya dalam persidangan pada
tanggal ____________. Adapun saksi Machfud
Suroso dan Roni Wijaya menyatakan Terdakwa

- 125 -

tidak pernah membantu mengurus agar PT


Dutasari Citra Laras mendapatkan proyek
Hambalang,
Gedung
pajak
dan
Depag.
Terdakwa juga tidak pernah terlibat atau
berperan dalam pengurusan proyek Hambalang,
Gedung pajak dan Depag tersebut. Untuk
kesekian kalinya, hal ini hanya didasarkan
Penuntut Umum dari keterangan Muhammad
Nazaruddin.
Begitu pula dengan dalil Penuntut Umum pada
butir 5 Surat Tuntutan yang pada pokoknya
menyatakan bahwa setelah Terdakwa terpilih
menjadi Anggota DPR-RI untuk masa jabatan
tahun 2009-2014, Terdakwa secara formil keluar
dari Permai Group. Bahwa dalil Penuntut Umum
tersebut tidak benar, karena faktanya Terdakwa
tidak pernah bergabung di Permai Group,
bahkan Permai Group sebenarnya tidak ada,
melainkan
hanya
penyebutan
karyawankaryawan Muhammad Nazaruddin terhadap
group perusahaan-perusaahan milik Muhammad
Nazaruddin setelah kantornya pindah ke gedung
Permai Tower. Terdakwa hanya pernah duduk
sebagai pemegang saham dan komisaris di PT
Panahatan dan sejak Terdakwa terpilih menjadi
Anggota DPR-RI untuk masa jabatan tahun
2009-2014, Terdakwa telah mengundurkan diri.
Bahwa
saksi
Yulianis,
Mindo
Rosalina
Manullang,
Wafid
Muharam,
Munadi
Herlambang, Roni Wijaya dan Angelina Patricia
Pinkan
Sondakh
bahkan
tidak
pernah
menjelaskan
dalam
persidangan
bahwa
Terdakwa pernah bergabung dengan Permai
group dan setelah terpilih menjadi anggota
DPR-RI secara formil keluar dari Permai Group.
Dalil Penuntut Umum ini hanya bersumber dari
keterangan
Muhammad
Nazaruddin
dan
kembali lagi Penuntut Umum merekayasa fakta
persidangan dengan mengatakan keterangan
Muhammad
Nazaruddin
tersebut
telah
berkesesuaian dengan saksi Yulianis, Mindo
Rosalina Manullang, Wafid Muharam, Munadi
Herlambang, Roni Wijaya dan Angelina Patricia
Pinkan Sondakh.
Bahwa Terdakwa selaku Ketua Fraksi Partai

- 126 -

Demokrat tidak pernah berkoordinasi dengan


Muhammad Nazaruddin, Mahyudin selaku ketua
Komisi X DPR-RI dan Angelina Patricia Pinkan
Sondakh selaku Koordinator Banggar untuk
mengurus proyek-proyek Kemendiknas dan
Kemenpora. Hal ini telah dibantah oleh Angelina
Patricia Pinkan Sondakh. Di samping itu saksi
Angelina Patricia Pinkan Sondakh dan Mindo
Rosalina Manullang juga telah menjelaskan
bahwa Terdakwa tidak pernah ikut serta
pertemuan-pertemuan maupun berperan dalam
pengurusan proyek-proyek Kemendiknas dan
Kemenpora tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan jelas telah membuktikan: (i)
Terdakwa tidak pernah membentuk kantongkantong dana dari proyek-proyek Kemendiknas
dan Kemenpora, dari Munadi Herlambang dan
proyek Hambalang, Gedung pajak dan Depag (ii)
Terdakwa tidak pernah bergabung ataupun
secara formil keluar dari Permai Group dan (ii)
Terdakwa tidak pernah berkoordinasi dengan
Muhammad Nazaruddin, Mahyudin selaku ketua
Komisi X DPR-RI dan Angelina Patricia Pinkan
Sondakh selaku Koordinator Banggar untuk
mengurus proyek-proyek Kemendiknas dan
Kemenpora.
4. Terdakwa tidak menerima uang sebesar
Rp. 2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus
lima juta lima ratus ribu Rupiah) dari PT
Adhi Karya
Bahwa Penasihat Hukum menolak dalil Penuntut
Umum pada butir 7.1, halaman 1613 s/d 1615
Surat
Tuntutan,
yang
pada
pokoknya
menyatakan Terdakwa menerima uang dari PT
Adhi Karya Rp. 2.305.500.000,- (dua milyar tiga
ratus lima juta lima ratus ribu Rupiah) untuk
membantu pencalonan sebagai Ketua Umum
dalam Kongres Partai Demokrat tahun 2010,
dengan perincian sebagai berikut:

- 127 -

sebesar Rp.500.000.000,- (lima ratus juta


Rupiah) melalui Indrajaya Manopol; dan
sebesar Rp.1.805.500.000,- (satu milyar

delapan ratus lima juta lima ratus ribu


Rupiah) melalui Munadi Herlambang.
Selanjutnya Penuntut Umum mendalilkan bahwa
uang
tersebut
diserahkan
Teuku
Bagus
Mokhamad Noor melalui Munadi Herlambang,
Indrajaya Manopol dan Ketut Darmawan atas
permintaan Muchayat.
Bahwa uraian fakta yang disusun Penuntut
Umum di atas tidak logis dan sama sekali tidak
membuktikan bahwa benar uang sebesar
Rp.2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus lima
juta lima ratus ribu Rupiah) telah diterima
Terdakwa. Bahwa banyak mata rantai fakta
yang tidak dapat dibuktikan Penuntut Umum,
yang seharusnya dibuktikan agar dalil Penuntut
Umum menjadi logis. Adapun mata rantai
fakta yang tidak dapat dibuktikan, antara lain:

- 128 -

Penuntut Umum sama sekali tidak dapat


membuktikan fakta, apakah uang yang
diserahkan oleh Teuku Bagus Mokhamad
Noor
melalui
Munadi
Herlambang,
Indrajdaja Manopol dan Ketut Darmawan
tersebut, telah diterima atau belum oleh
Terdakwa. Faktanya Teuku Bagus Mokhamad
Noor tidak mengetahui apakah uang tersebut
diterima atau tidak oleh Terdakwa;

Penuntut Umum juga sama sekali tidak dapat


membuktikan fakta, dalam kapasitas apa
Munadi Herlambang, Indradjaja Manopol
dan Ketut Darmawan menerima uang dari
Teuku Bagus Mokhamad Noor, apakah
ketiganya merupakan suruhan Terdakwa
atau adakah perintah dari Terdakwa kepada
ketiganya untuk menerima uang tersebut;
dan

Penuntut
umum
juga
tidak
dapat
membuktikan fakta dalam hubungan dan
kapasitas apa, sehingga Muchayat meminta
agar uang tersebut diserahkan kepada
Terdakwa, apakah Muchayat merupakan
suruhan Terdakwa atau adakah perintah dari

Terdakwa kepada Muchayat untuk meminta


uang tersebut
Dengan
tidak
dibuktikannya
fakta-fakta
tersebut, maka dakwaan Penuntut Umum bahwa
Terdakwa telah menerima uang sebesar Rp.
2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus lima juta
lima ratus ribu Rupiah) dari PT Adhi Karya,
menjadi tidak logis, yaitu bagaimana mungkin
Terdakwa didalilkan menerima uang tersebut,
apabila
dalam
rangkaian
fakta-faktanya,
Terdakwa sama sekali tidak berperan atau
dengan kata lain Terdakwa sama sekali tidak
berbuat apapun terkait penerimaan uang
tersebut.
Bahwa Dalil Penuntut Umum juga tidak
berkesesuaian karena uang yang diterima
Munadi
Herlambang
sebesar
Rp.
1.805.500.000,- (satu milyar delapan ratus
lima juta lima ratus ribu Rupiah) ternyata
tidak sesuai dengan yang digunakan
Munadi Herlambang untuk membayar
hotel-hotel tempat menginap pendukung
Terdakwa, yaitu sebesar Rp. 1.007.400.000,(satu milyar tujuh juta empat ratus ribu
Rupiah)
Bahwa dari dalil Penuntut Umum tersebut,
maka
uang
PT
Adhi
Karya
sebesar
Rp.1.805.500.000,- (satu milyar delapan ratus
lima juta lima ratus ribu Rupiah) yang
diserahkan
melalui
Munadi
Herlambang,
apabila dikurangi dengan Rp.1.007.400.000,(satu milyar tujuh juta empat ratus ribu Rupiah)
yang digunakan Munadi Herlambang untuk
membayar biaya kamar dan fasilitas hotel,
masih bersisa sebesar Rp.798.100.000,- (tujuh
ratus sembilan puluh delapan juta seratus ribu
Rupiah).
Yang menjadi tanda tanya besar Penuntut
Umum tidak membuktikan sama sekali tidak
menguraikan dimana keberadaan sisa uang
sebesar Rp.798.100.000,- (tujuh ratus sembilan
puluh delapan juta
seratus ribu Rupiah)
tersebut. Hal ini setidaknya telah dengan
- 129 -

sendirinya mematahkan dalil Penuntut Umum


yang menyatakan bahwa Terdakwa telah
menerima uang sebesar Rp.1.805.500.000,(satu milyar delapan ratus lima juta lima ratus
ribu Rupiah) dari PT Adhi Karya melalui Munadi
Herlambang.
Bahwa Penuntut Umum ternyata juga salah
melakukan penjumlahan berapa uang dari PT
Adhi
Karya
yang
digunakan
Munadi
Herlambang untuk membayar hotel-hotel untuk
pendukung Terdakwa. Bahwa pada halaman
1614-1615 Surat Tuntutan, Penuntut Umum
menyatakan:
Biaya penggunaan kamar-kamar dan fasilitas
lainnya di hotel-hotel tersebut berjumlah
Rp.1.283.073.342,00 (satu milyar dua ratus
delapan puluh tiga juta tujuh puluh tiga ribu
tiga ratus empat puluh dua rupiah) kemudian
dibayar sebagian oleh MUNADI HERLAMBANG
sebesar Rp. 1.007.400.000,00 (satu milyar
tujuh juta empat ratus ribu rupiah) yang
diterima dari TEUKU BAGUS MUKHAMAD
NOOR dan dibayarkan secara bertahap melalui
transfer rekening PT Bandung Excellent Tours
& Travel Nomor 0113129971 BNI Cabang Asia
Afrika
setelah
sebelumnya
MUNADI
HERLAMBANG
menelepon
PUJININGTYAS,
adapun transfer-transfer tersebut sebagai
berikut:
(4) Transaksi tanggal 21 April 2010, Pengirim:
MUNADI
HERLAMBANG
sebesar
Rp.400.000.000,00
(empat
ratus
juta
rupiah).
(5) Transfer dari Bank Mandiri tanggal 26 April
2010, Pengirim: CHAIRUNNISA (istri
MUNADI HERLAMBANG), sebesar Rp.
423.120.000,00 (empat ratus dua puluh tiga
juta seratus dua puluh ribu rupiah).
(6) Transaksi tanggal 26 April 2010. Pengirim:
CHAIRUNNISA
(istri
MUNADI
HERLAMBANG) sebesar Rp.423.120.000,00
(empat ratus dua puluh tiga juta seratus
dua puluh ribu rupiah)

- 130 -

Dari uraian fakta oleh Penuntut Umum dalam


Surat Tuntutannya tersebut, maka apabila
dijumlahkan transfer-transfer tersebut:
transaksi tanggal 21 April Rp. 400.000.000,
2010
transaksi tanggal 26 April Rp. 423.120.000
2010
transaksi tanggal 26 April Rp. 423.120.000
2010
Total Rp.
1.246.240.000
Jumlah transfer-transfer tersebut ternyata tidak
sama dengan jumlah yang didalilkan Penuntut
Umum,
sebesar
Rp.1.007.400.000,00 (satu milyar tujuh juta
empat ratus ribu rupiah), yang menurut
Penuntut Umum telah dibayarkan oleh Munadi
Herlambang dari uang PT Adhi Karya untuk
sebagian pembayaran kamar-kamar dan fasilitas
lainnya di hotel-hotel untuk DPC pendukung
Terdakwa. Hal ini semakin membuktikan
bagaimana buruknya kualitas dalil Penuntut
Umum dalam Surat Tuntutan.
Bahwa terlepas dari uraian kami tersebut di
atas, dalil Penuntut Umum telah dibantah oleh
saksi Munadi Herlambang maupun oleh saksi
Indrajaya Manopol dalam persidangan pada
tanggal
_________.
Kedua
saksi
tersebut
menyatakan sama sekali tidak pernah menerima
uang dari PT Adhi Karya untuk kepentingan
Terdakwa.
5. Terdakwa tidak pernah menerima dari
Muhammad Nazaruddin (Permai Group)
uang
sebesar
Rp. 84.515.650.000 (delapan puluh empat
milyar lima ratus lima belas juta enam
ratus lima puluh ribu Rupiah) dan USD
36,070 (tiga puluh enam ribu tujuh puluh
Dollar Amerika Serikat)
Penasihat Hukum menolak dengan tegas
seluruh dalil Penuntut Umum pada halaman
1615 s/d 1619 Surat Tuntutannya. Adapun

- 131 -

fakta-fakta persidangan telah membantah dalildalil Penuntut Umum tersebut di atas, yaitu:

- 132 -

Bahwa keterangan saksi Prof. Dr. Ahmad


Mubarok, MA., Saan Mustofa, Ruhut Poltak
Sitompul, Mirwan Amir, Pasha Ismaya
Sukardi, Herlas Juniar, Muhammad Rahmad,
Sudewo, Angelina Patricia Pinkan Sondakh,
Umar Arsal, Nuril Anwar, eva Ompita
menyatakan tidak ada posko tim relawan
pemenangan Anas Urbaningrum di Posko I di
Apartemen Senayan City lantai 7 dan Posko
II di Ritz Carlton. Bahwa Apartemen Senayan
City
lantai
7
merupakan
apartemen
Muhammad Nazaruddin yang disewa dengan
menggunakan nama Aan Ikhayaudin. Fakta
ini dibenarkan oleh saksi Aan Ikhayaudin.
Pertemuan-pertemuan Tim relawan Anas
Urbaningrum tidak hanya dilakukan di
Apartemen Senayan City lantai 7 tersebut,
tetapi dilakukan juga di ruangan-ruangan
fraksi, restoran dan sebagainya. Bahkan
berdasarkan keterangan saksi-saksi tersebut,
pertemuan tidak penah dilaksanakan di
apartemen Ritz Carlton, Jakarta. Dengan
demikian, biaya sewa apartemen Senayan
City lantai 7 sebesar USD 30,900 (tiga puluh
ribu Sembilan ratus Dollar Amerika Serikat)
dan biaya sewa apartemen Ritz Carlton,
Jakarta sebesar 5,170 (lima ribu seratus
tujuh puluh Dollar Amerika Serikat) menjadi
tidak relevan atau tidak terbukti telah
diterima Terdakwa.

Bahwa pertemuan 513 DPC pada sekitar


bulan Januari 2010 di Apartemen Senayan
City telah dibantah berdasarkan keterangan
saksi Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA., Saan
Mustofa, Ruhut Poltak Sitompul, Mirwan
Amir, Pasha Ismaya Sukardi, Herlas Juniar,
Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh, Umar Arsal. Pada
Januari
2010
belum
ada
pertemuanpertemuan tim relawan Anas Urbaningrum,
karena Terdakwa masih sibuk dalam Pansus
Century yang baru berakhir pada bulan
Maret 2010. Di samping itu jumlah DPC

Partai Demokrat tidak mencapai jumlah 513.


Dari
keterangan
saksi-saksi
tersebut,
seluruhnya membantah membagikan uang
sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta)
kepada masing-masing DPC dan menerima
Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta
Rupiah) untuk coordinator Wilayah dan Rp.
20.000.000,- (dua puluh juta Rupiah) untuk
entertainment,
sehingga
keseluruhan
berjumlah 7.000.000.000,- (tujuh milyar
Rupiah). Hal ini juga ditegaskan oleh saksisaksi Eva Ompita dan Muhammad Rachmad
yang menyatakan tidak pernah menyerahkan
uang-uang tersebut.

Bahwa pertemuan 430 DPC pada sekitar


bulan akhir bulan Februari 2010 di
Apartemen Senayan City juga telah dibantah
berdasarkan keterangan saksi Prof. Dr.
Ahmad Mubarok, MA., Saan Mustofa, Ruhut
Poltak Sitompul, Mirwan Amir, Pasha Ismaya
Sukardi, Herlas Juniar, Muhammad Rahmad,
Sudewo, Angelina Patricia Pinkan Sondakh,
Umar Arsal. Pada Februari 2010 belum ada
pertemuan-pertemuan tim relawan Anas
Urbaningrum, karena Terdakwa masih sibuk
dalam Pansus Century yang baru berakhir
pada bulan Maret 2010. Dari keterangan
saksi-saksi tersebut, seluruhnya membantah
membagikan uang sebesar Rp.10.000.000,(sepuluh juta) kepada masing-masing DPC
dan menerima Rp.25.000.000,- (dua puluh
lima juta Rupiah) untuk koordinator Wilayah
dan
Rp.20.000.000,- (dua puluh juta Rupiah)
untuk entertainment, sehingga keseluruhan
berjumlah Rp.7.000.000.000,- (tujuh milyar
Rupiah). Hal ini juga ditegaskan oleh saksisaksi Eva Ompita dan Muhammad Rachmad
yang menyatakan tidak pernah menyerahkan
uang-uang tersebut.
Di samping itu, apabila diperhatikan uraian
Penuntut Umum kembali tidak benar, dalam
hal ini bagaimana mungkin jumlah total
biaya yang dikeluarkan untuk pertemuan
pada Januari 2010 yang dihadiri oleh 513

- 133 -

DPC dan pertemuan pada bulan Februari


2010 yang dihadiri oleh 430 DPC, sama
sebesar Rp.7.000.000.000,- (tujuh milyar
Rupiah); sedangkan jumlah yang diberikan
baik
kepada
masing-masing
DPC,
Koordinator dan untuk entertainment sama.

- 134 -

Bahwa pertemuan tandingan pada saat


deklarasi Andi Alfian Malangeng sebagai
calon Ketua Umum Partai Demokrat di Ball
Room Hotel Sultan pada 28 Maret 2010 juga
telah dibantah berdasarkan keterangan saksi
Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA., Saan
Mustofa, Ruhut Poltak Sitompul, Mirwan
Amir, Pasha Ismaya Sukardi, Herlas Juniar,
Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh, Umar Arsal. Bahwa
tidak ada satupun saksi-saksi yang dapat
memastikan berapa jumlah DPC yang hadir
pada saat itu, apalagi dikatakan sebanyak
446 ditambah 138 DPC. Keterangan saksisaksi tersebut juga membantah membagikan
uang sebesar Rp.10.000.000,- (sepuluh juta)
kepada masing-masing DPC dan menerima
Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta Rupiah)
untuk
koordinator
Wilayah
dan
Rp.
20.000.000,- (dua puluh juta Rupiah) untuk
entertainment. Hal ini juga ditegaskan oleh
saksi-saksi Eva Ompita dan Muhammad
Rachmad yang menyatakan tidak pernah
menyerahkan
uang-uang
tersebut.
Di
samping itu jumlah DPC Partai Demokrat
tidak mencapai 446 + 138 DPC. Hal ini
sebenarnya dapat dilihat dari berapa
sebenarnya jumlah suara dalam Konggres
Partai Demokrat.

Biaya-biaya Roadshow, dimana oleh Penuntut


Umum dikatakan telah dikeluarkan uang
sebesar Rp.20.000.000,- (dua puluh juta)
kepada masing-masing DPC dan menerima
Rp.50.000.000,- (lima puluh juta Rupiah)
untuk
koordinator
Wilayah
dan
Rp.20.000.000,- (dua puluh juta Rupiah)
untuk
entertainment
tiap
koordinator,
semuanya
telah
dibantah
berdasarkan
keterangan saksi, Saan Mustofa, Ruhut

Poltak Sitompul, Mirwan Amir, Pasha Ismaya


Sukardi, Herlas Juniar, Muhammad Rahmad,
Sudewo, Angelina Patricia Pinkan Sondakh
dan Umar Arsal. Hal ini juga ditegaskan oleh
saksi-saksi Eva Ompita dan Muhammad
Rachmad yang menyatakan tidak pernah
menyerahkan uang-uang tersebut.

Biaya deklarasi Terdakwa sebagai calon


Ketua Umum Partai Demokrat di Hotel
Sultan pada tanggal 15 April 2010, dimana
oleh Penuntut Umum dikatakan telah
dikeluarkan uang sebesar Rp. 20.000.000,(dua puluh juta) kepada masing-masing DPC
dan menerima Rp. 50.000.000,- (lima puluh
juta Rupiah) untuk koordinator Wilayah dan
Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta
Rupiah)
untuk
entertainment
tiap
coordinator,
semuanya
telah
dibantah
berdasarkan keterangan saksi, Prof. Dr.
Ahmad Mubarok, MA., Saan Mustofa, Ruhut
Poltak Sitompul, Mirwan Amir, Pasha Ismaya
Sukardi, Herlas Juniar, Muhammad Rahmad,
Sudewo, Angelina Patricia Pinkan Sondakh
dan Umar Arsal. Hal ini juga ditegaskan oleh
saksi-saksi Eva Ompita dan Muhammad
Rachmad yang menyatakan tidak pernah
menyerahkan
uang-uang
tersebut.
Di
samping itu tidak ada satupun saksi-saksi
yang dapat memastikan berapa jumlah DPC
yang hadir pada saat itu, apalagi dikatakan
sebanyak 460 DPC.

Siaran TV live Metro TV sebesar Rp.


2.000.000.000,- (dua milyar Rupiah), biaya
siaran TV one dan RCTI sebesar Rp.
4.500.000.000,- (empat milyar lima ratus juta
Rupiah) telah dibantah oleh saksi Aldasni
dari Metro TV, bahkan saksi Aldasni
menyatakan tidak pernah ada Siaran TV live
Metro TV untuk Terdakwa melainkan hanya
siaran rekaman, terlebih lagi saksi Aldasni
menegaskan
Metro
TV
tidak
pernah
menerima
pembayaran
sebesar
Rp.
2.000.000.000,- (dua milyar Rupiah).

Bahwa
- 135 -

dalil-dalil

Penuntut

Umum

di

atas

seluruhnya telah dibantah oleh saksi-saksi yang


dihadirkan dalam persidangan. Hal tersebut
juga dibantah oleh saksi Yulianis dan Oktarina
Furi sebagai bagian Keuangan Anugerah Group,
yang menyatakan Anugerah Group tidak pernah
mengeluarkan uang tersebut. Bahwa Penasihat
Hukum sangat tidak mengerti dimana akal dan
logika Penuntut Umum sehingga lebih meyakini
keterangan
Muhammad
Nazaruddin
dibandingkan keterangan saksi-saksi yang telah
dihadirkan tersebut (vide halaman 1619 Surat
Tuntutan). Hal ini justru membuktikan Penuntut
Umum telah membuat Surat Tuntutan tidak
berdasarkan fakta-fakta persidangan, melaikan
berdasarkan pesanan atau ambisi menghukum
pihak tertentu atau Penuntut Umum.
Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan jelas telah membuktikan Terdakwa
tidak pernah menerima dari Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) uang sebesar
Rp. 84.515.650.000 (delapan puluh empat
milyar lima ratus lima belas juta enam ratus
lima puluh ribu Rupiah) dan USD 36,070 (tiga
puluh enam ribu tujuh puluh Dollar Amerika
Serikat. Apalagi dalam persidangan terbukti
Terdakwa sama sekali tidak menerima fisik uang
tersebut dari Muhammad Nazaruddin bahkan
tidak mengetahui adanya pembagian uang
tersebut oleh Muhammad Nazaruddin kepada
DPC.
6. Terdakwa tidak pernah menerima dari
Muhammad Nazaruddin (Permai Group)
uang
sebesar
Rp.30.000.000.000
(tiga
puluh
milyar
Rupiah)
dan
USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua
puluh lima ribu Dollar Amerika Serikat)
Bahwa tidak benar untuk keperluan Kongres
Partai Demokrat tahun 2010 di Banding,
Anugerah Group atau Muhammad Nazaruddin
telah
mengeluarkan
uang
sebesar
Rp.30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah)
dan
USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua puluh
- 136 -

lima ribu Dollar Amerika Serikat). Hal ini telah


dijelaskan oleh saksi Yulianis dan Oktarina Furi
dalam persidangan pada tanggal ________.
Bahwa saksi Yulianis dan
menjalaskan, sebagai berikut:

Oktarina

Furi

Uang yang dibawa ke Konggres Partai


Demokrat di Bandung adalah sebesar
Rp.30.000.000.000
(tiga
puluh
milyar
Rupiah) dan USD 5,000,000 (lima juta Dollar
Amerika
Serikat).
Uang
sebesar
Rp.
30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah)
dan USD 2,000,000,- (dua juta Dollar
Amerika Serikat) ditarik dari bank yang
merupakan pendapatan Anugerah Group dari
pengerjaan proyek-proyek yang dibiayai
APBN. Sedangkan uang sebesar USD
3,000,000,- (tiga juta Dollar Amerika Serikat)
merupakan uang sumbangan-sumbangan
dari pihak-pihak luar. Uang sumbangan
tersebut diterima saksi Yulianis secara
bertahap melalui saksi Aan Ikhayaudin dan
Iwan dalam amplop-amplop. Jumlahnya
mencapai Rp. 30.500.000.000,- (tiga puluh
milyar lima ratus juta Rupiah) yang
kemudian saksi tukarkan ke dalam dollar
Amerika Serikat, sehingga diperoleh USD
3,000,000 (tiga juta Dollar Amerika Serikat).
Bahwa dari uang sebesar Rp. 30.000.000.000
(tiga puluh milyar Rupiah) yang terpakai
pada konggres Partai Demokrat hanya
Rp.700.000.000,- (tujuh ratus juta Rupiah).
Sisa uang tersebut kemudian disetrokan
kembali
ke
rekening-rekening
milik
Anugerah Group. Saksi Yulianis selanjutnya
menegaskan
bukti
setornya
telah
disampaikan kepada penyidik KPK.
Bahwa uang USD 5,000,000 (lima juta Dollar
Amerika Serikat), yang terdiri dari USD
2,000,000 (dua juta Dollar Amerika Serikat)
tidak terpakai dan kembali utuh; sedangkan
USD 3,000,000,- (tiga juta Dolar Amerika
Serikat) hanya terpakai kurang lebih USD
1,700,000 (satu juta tujuh ratus ribu Dollar
- 137 -

Amerika Serikat), sehingga sebesar USD


1,300,000 (satu juta tiga ratus ribu Dollar
Amerika Serikat) kembali ke Anugerah
Group dan langsung disimpan oleh Neneng
Sri Wahyuni.
Bahwa dari keterangan saksi Eva Ompita
terungkap fakta bahwa uang-uang yang telah
dibungkus oleh Yulianis dan Oktarina Furi
diserahkan oleh saksi kepada Muhammad
Nazaruddin.
Selanjutnya
Muhammad
Nazaruddin
yang
membagikan
uang-uang
tersebut kepada masing-masing DPC. Bahwa
saksi Eva Ompita sama sekali tidak melakukan
pembagian uang-uang tersebut kepada DPC
karena tidak kenal dengan masing-masing DPC
Partai Demokrat.
Bahwa keterangan Nuril Anwar menyatakan
bahwa
Muhammad
Nazaruddin
tidak
membagikan uang-uang tersebut hanya kepada
DPC-DPC pendukung Terdakwa, melainkan
DPC-DPC pendukung kandidat lainnya juga
diberikan uang-uang tersebut oleh Muhammad
Nazaruddin. Menurut Nuril Anwar, pada
prinsipnya Muhammad Nazaruddin bermain di
tiga kaki agar nanti siapapun ketua umumnya,
Muhammad Nazaruddin adalah Bendahara
Umumnya. Hal ini ditegaskan oleh saksi
Wahyudi Utomo (Iwan).
Bahwa terkait dengan pemberian Blackberry
kepada DPC pendukung Terdakwa, hal tersebut
tidak diketahui dan tidak pernah dilaporkan
kepada Terdakwa. Hal ini terungkap dari fakta
persidangan bahwa saksi-saksi yang merupakan
anggota Tim Relawan Pemenangan Anas
Urbaningrum, yaitu saksi
Saan Mustofa,
Mirwan
Amir,
Pasha
Ismaya
Sukardi,
Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina Patricia
Pinkan Sondakh dan Umar Arsal sama sekali
tidak mengetahui adanya pembagian BB
tersebut kepada para DPC. Di samping itu bukti
BB yang disita oleh KPK, setelah dilakukan
pembukaan data secara forensik oleh KPK,
ternyata sama sekali tidak memuat instruksi
dari Terdakwa agar DPC-DPC memilik Terdakwa

- 138 -

pada Kongres Partai Demokrat 2010 tersebut.


Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan jelas telah membuktikan Terdakwa
tidak pernah menerima dari Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) uang sebesar
Rp.30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah)
dan
USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua puluh
lima ribu Dollar Amerika Serikat). Di samping
itu Terdakwa juga tidak pernah menerima
secara fisik uang-uang yang dikeluarkan oleh
Muhammad Nazaruddin kepada DPC-DPC
bahkan mengetahui adanya pembagian uang
tersebut.
Bahwa Barang Bukti Elektronik (BBE) berupa
Blackberry yang dikuasai Terdakwa dengan
profile
Wisanggeni,
sama
sekali
tidak
membuktikan dalil Penuntut Umum bahwa
Terdakwa
menerima
dari
Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) uang sebesar Rp.
30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah) dan
USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua puluh
lima ribu Dollar Amerika Serikat). Penuntut
Umum
dalam
persidangan
tidak
dapat
menyebutkan
tanggal
isi/konten
dalam
Blackberry tersebut dibuat oleh Wisanggeni
tersebut, mengingat isi/konten Blackeberry
tersebut bukan percakapan 2 arah, melainkan
hanya berupa pernyataan 1 arah yang tidak
jelas dibuat oleh siapa. Sedangkan isi / konten
percakapan antara Wisanggeni dengan saksi
Khalilur sama sekali tidak membuktikan dalil
Penuntut Umum.
7. Terdakwa tidak menerima hadiah berupa
mobil Toyota Harrier
Bahwa
dalil
Penuntut
Umum
mengenai
pertemuan pada bulan September 2009 di
restoran Cina Pacific Place di lobby Mall depan
Apartemen
Capital,
yang
dihadiri
oleh
Terdakwa, saksi Muhammad Nazaruddin, saksi
Teuku saksi Bagus Mokhamad Noor, saksi
Machfud Suroso dan saksi Munadi Herlambang
(vide halaman 1626 Surat Tuntutan), terbukti
- 139 -

tidak benar. Bahwa dalam persidangan, saksi


Teuku Bagus Mokhamad Noor, saksi Machfud
Suroso dan saksi Munadi Herlambang, masingmasing telah membantah adanya pertemuan
pada bulan September 2009 tersebut apalagi
pembicaraan
wacana
pembelian
mobil.
Pertemuan bulan September 2009 tersebut juga
telah dibantah oleh Terdakwa. Di samping itu
saksi Teuku Bagus Mokhamad Noor pun dalam
persidangan pada tanggal 30 Juni 2014 telah
menegaskan PT Adhi Karya maupun saksi
sendiri tidak pernah memberikan mobil Toyota
Harrier kepada Terdakwa.
Bahwa mobil Toyota Harrier bukan pemberian
kepada Terdakwa, melainkan dibeli sendiri oleh
Terdakwa, dimana Terdakwa meminta bantuan
saksi
Mohammad
Nazaruddin
untuk
mengurusnya. Uang muka pembelian mobil
Toyota Harrier sebesar Rp. 200.000.000,- (dua
ratus juta Rupiah) diserahkan Terdakwa kepada
saksi Mohammad Nazaruddin di restoran
Chatter Box, Plaza Senayan pada tanggal
_________. Penyerahan uang muka tersebut
disaksikan oleh saksi Saan Mustofa yang
membenarkan adanya peristiwa tersebut pada
persidangan tanggal __________. Selanjutnya
berdasarkan
keterangan
saksi
M. Rahmad dan Terdakwa, pada sekitar
________,
Terdakwa
telah
melakukan
pembayaran sebagian cicilan sebesar Rp.
75.000.000,- (tujuh puluh lima juta Rupiah)
kepada saksi Muhammad Nazaruddin di _______.
Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan jelas telah membuktikan bahwa
Terdakwa bukan menerima mobil Toyota
Harrier, melainkan Terdakwa membeli sendiri
mobil Toyota Harrier tersebut.
8. Terdakwa tidak menerima fasilitas survey
dari
PT Lingkaran Survey Indonesia senilai
sekitar Rp. 478.632.230 (empat ratus tujuh
puluh delapan juta enam ratus tiga puluh
dua ribu dua ratus tiga puluh Rupiah).

- 140 -

Bahwa tidak benar terdakwa menerima fasilitas


survey tersebut dari PT Lingkaran Survey
Indonesia (PT LSI) agar apabila Terdakwa
terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat,
PT
LSI
dijanjikan
pekerjaan
survey
bupati/walikota dari Partai Demokrat. Survey
dan bantuan dari PT LSI agar Terdakwa menang
sebagai Ketua Umum Partai Demokrat diberikan
dalam rangka kegiatan Partai Demokrat dan
dalam kapasitas Terdakwa sebagai anggota
Partai Demokrat. Pemberian bantuan tersebut
tidak ada kaitannya dengan pengurusan proyekproyek maupun kapasitas Terdakwa sebagai
anggota DPR R.I.
Bahwa dalam persidangan pada tanggal ________
saksi Denny JA menyatakan bahwa PT LSI
bersedia membantu Terdakwa karena saksi
Denny JA merasa tertantang dengan saingan
Terdakwa di kongres Partai Demokrat, yaitu
Andy Malarangeng yang didukung oleh adiknya
Choel
Malarangeng.
Choel
Malarangeng
merupakan pimpinan Fox Indonesia. Atas dasar
hal tersebut, saksi Denny JA menyatakan
kesediaannya
untuk
membantu
Terdakwa
karena ingin berkompetisi dengan Fox Indonesia
sebagai salah satu pesaing LSI;
Bahwa berdasarkan fakta yang terungkap
dipersidangan dari keterangan saksi Denny JA
dan Terdakwa, maka Terdakwa tidak pernah
berjanji akan memberikan pekerjaan survey
untuk calon Bupati/Walikota dari Partai
Demokrat, namun yang diminta oleh saksi
Denny JA agar Partai Demokrat tidak
menghalangi LSI untuk menjadi salah satu
rekanan Partai Demokrat. Hal ini tentunya
telah membuktikan survey dan bantuan PT LSI
kepada
Terdakwa
sama
sekali
tidak
dimaksudkan untuk menggerakkan Terdakwa
melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang
bertentangan dengan kewajibannya sebagai
anggota DPR R.I. melainkan berhubungan
dengan Partai Demokrat;
9. Terdakwa selama menjabat penyelenggara
Negara tidak menerima fasilitas berupa 1
- 141 -

(satu) unit mobil Toyota Velvire senilai Rp.


735.000.000,- (tujuh ratus tiga puluh lima
juta Rupiah)
Bahwa fakta persidangan membuktikan bahwa
fasilitas berupa peminjaman 1 (satu) unit mobil
Toyota Vellfire diberikan pada saat Terdakwa
tidak lagi sebagai penyelenggara negara. Fakta
ini dibuktikan berdasarkan keterangan saksi
Wasith Suady yang menyatakan peminjaman 1
(satu) unit mobil Toyota Vellfire terjadi di bulan
puasa tahun 2010 (sekitar bulan ___). Bahwa
sebelumnya pada bulan Juli 2010 Terdakwa
pernah meminjamkan mobil Toyota Velvire
tersebut, namun dikembalikan Terdakwa karena
belum membutuhkannya.
Keterangan saksi Wasith Suady ditegaskan oleh
Terdakwa, dimana Terdakwa yang menyatakan
pertama kali memakai mobil Toyota Vellfire saat
Terdakwa menghadiri ada acara melepas mudik
bersama Partai Demokrat di Kemayoran pada
bulan ______ 2010. Pada saat itu Terdakwa
sudah tidak menjabat sebagai anggota DPR-RI.
Terdakwa secara resmi mengajukan surat
pengunduran diri pada tanggal 26 Juli 2010,
sesaat setelah terpilih menjadi Ketua Partai
Demokrat. Terdakwa mendapatkan konfirmasi
pengunduran
dirinya
berdasarkan
Surat
Keputusan Presiden nomor 94/P tahun 2010
tanggal 21 Agustus 2010.
Berdasarkan uraian di atas, maka fakta
persidangan
tidak
membuktikan
selama
Terdakwa menjabat sebagai Penyelenggara
Negara telah menerima fasilitas peminjaman
mobil Toyota Harrier sebesar 735.000.000,(tujuh ratus tiga puluh lima juta Rupiah).
Bahwa berdasarkan uraian-uraian pada butir 1 9
tersebut di atas yang merupakan rangkaian faktafakta yang terungkap dalam persidangan dan
apabila dianalisa berdasarkan sumber-sumber
hukum yang berlaku, maka dapat disimpulkan
bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan telah melakukan perbuatan yang
- 142 -

memenuhi unsur menerima hadiah atau janji.


Adapun alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Bahwa pendapat Ahli Drs. Adami Chazwi, S.H.,
sebagaimana dikutip oleh Penuntut Umum pada
halaman 1602 Surat Tuntutannya, menyatakan
bahwa pengertian hadiah menurut tata
bahasa, lebih mengacu pada pengertian benda
atau kebendaan yang bernilai uang, perbuatan
menerima sesuatu berupa benda / hadiah
yang baru dianggap perbuatan menerima
hadiah selesai, kalau nyata-nyata benda itu
telah diterima oleh yang menerima, yakni
diperlukan
syarat
telah
beralihnya
kekuasaan atas benda itu ke tangan orang
yang menerima. Sebelum kekuasaan atas
benda itu beralih ke dalam kekuasaan si
penerima, maka perbuatan menerima belumlah
dianggap terwujud secara sempurna (garis
bawah dan huruf tebal oleh Penasihat Hukum).
2. Bahwa Ahli Dr. Chairul Huda, S.H., M.H., yang
telah memberikan keterangan ahli dalam
persidangan pada tanggal 4 September 2014,
menjelaskan perihal bilamana suatu perbuatan
pidana menerima hadiah atau janji (suap) dapat
dikatakan selesai (atau volooid delict), sebagai
berikut:
Bahwa perbuatan dilarang pada tindak pidana
suap yang dirumuskan dalam Pasal 12 huruf (a)
dan huruf (b) UU Tipikor, adalah perbuatan
menerima hadiah atau janji atau sesuatu,
dimana persyaratan pertamanya yang menerima
hadiah atau janji itu adalah pegawai negeri atau
penyelenggara negara. Persyaratan kedua,
pegawai negeri atau penyelenggara negara ini
menerima hadiah atau janji tersebut dalam
kerangka tertentu, dalam sebuah tujuan
tertentu, yaitu untuk berbuat atau tidak bebuat
sesuatu
yang
bertentangan
dengan
kewajibannya dalam jabatannya. Jadi kalau
pertanyaan kapan voltooid? atau kapan delik ini
terjadi secara sempurna, pada dasarnya ada
beberapa indikator, yaitu:
Pertama adalah bertemunya kesepahaman
seseorang
pemberi
dengan
penerima
- 143 -

tentang
maksud
pemberian
itu
dan
penangkapan si penerima atas pemberian
tersebut.
Kedua adalah bahwa pemberian itu harus
berhubungan dengan yang bersangkutan (si
penerima) melakukan atau tidak melakukan
sesuatu
dalam
jabatannya
yang
bertentangan dengan kewajibannya.

Artinya, Kalau pasal 12 huruf (a), maka


pemberian
itu
untuk
membuat
yang
bersangkutan (si penerima) berbuat atau tidak
berbuat sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya; sedangkan
kalau Pasal 12 huruf (b), maka pemberian itu
baru diberikan setelah yang bersangkutan
berbuat atau tidak berbuat dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
Jadi yang sangat penting sebenarnya adalah
adanya kesepahaman (meeting of mind)
antara pemberi suap dengan penerima suap
tentang maksud pemberian itu dihubungkan
dengan apa wewenang yang merupakan
kewajiban yang dapat dilakukan oleh yang
bersangkutan, si penerima. Jadi bisa saja tidak
ada kesepahaman antara maksud pemberian itu
dari si pemberi dengan apa yang ditangkap oleh
penerima dari pemberian tersebut, yaitu
misalnya dihubungkan dengan Pasal 11 UU
Tipikor.
Dengan demikian, pada perbuatan menerima
hadiah atau janji menurut Pasal 12 huruf (a) dan
12 (b), maka harus ada kesepahaman atau
meeting of mind, yang dengan kesepahaman
tersebut
menyebabkan
kemudian
yang
bersangkutan (si penerima) bisa dikatakan telah
sempurna melakukan atau telah voltooid
melakukan perbuatan menerima hadiah atau
janji.
Selanjutnya Ahli Dr. Chairul Huda, S.H., M.H.
dalam persidangan pada tanggal 4 September
2014 menjelaskan juga hal atas pertanyaan
Penasihat Hukum, yaitu: apakah penerimaan
barang
dan
fasilitas
untuk
kepentingan
- 144 -

pemilihan ketua umum partai dapat dikatakan


memenuhi unsur perbuatan penerimaan hadiah
atau janji sebagaimana Pasal 12 huruf a dan
huruf b UU Tipikor.
Atas pertanyaan tersebut Ahli Dr. Chairul Huda,
S.H., M.H. menjelaskan:
Salah satu unsur dari pasal 12 huruf (a) dan
huruf (b) UU Tipikor adalah pemberian hadiah
atau janji tersebut ditujukan agar pegawai
negeri atau penyelegara negara itu berbuat
atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
Dalam hal ini artinya harus ada hubungan
langsung antara pemberian tersebut dengan
apa yang akan/dapat atau telah dilakukan oleh
pegawai negeri atau penyelenggara negara
tersebut sehubungan dengan jabatannya.
Dengan demikian, apabila pemberian itu tidak
berkaitan dengan harapan dari si pemberi agar
si penerima berbuat atau tidak berbuat sesuatu
dalam jabatannya, maka pemberian itu bukan
diturunkan
(diberikan)
kepada
yang
bersangkutan sebagai pegawai negeri atau
penyelenggara negara. Karena dalam Pasal 12
huruf (a) dan huruf (b) UU Tipikor ditegaskan
sasaran normanya (subjeknya) adalah pegawai
negeri atau penyelenggara Negara. Jadi
pemberian itu harus terkait dengan kedudukan
yang bersangkutan sebagai pegawai negeri atau
penyelenggara negara, bahkan tidak cukup
hanya terkait saja, tetapi harus berkonsekuensi
langsung,
berhubungan
langsung
dengan
perbuatan yang dapat dia lakukan atau telah dia
lakukan dalam kapasitasnya tersebut.
Kadangkala ada orang yang berpendapat bahwa
perbuatan orang itu tidak bisa dipisah-pisahkan
antara kapasitas yang satu dengan kapasitas
yang lain. Itu omongan orang awam bukan
sarjana hukum. Karena, kalau sarjana hukum,
kita menilai perbuatan itu, mana perbuatan
yang mempunyai konsekuensi yuridis, maka
tidak bisa disamakan antara perbuatan orang
dalam kapasitas ketua partai dengan perbuatan
orang dalam kapasitas sebagai penyelegara

- 145 -

negara, harus dibedakan. Secara tingkah laku


jasmaniah, apa yang disebut dengan ajaran feit
materieel itu memang melihat perbuatan dalam
tingkah laku jasmaniah, tetapi ajaran itu sudah
ditinggalkan satu-dua abad yang lalu. Sehingga
dapat dikatakan bahwa dalam pasal 12 huruf (a)
dan (b) menjelaskan kapasitas seseorang
sebagai penyelegara negara. Di luar itu, tidak
dilarang oleh undang undang.
3. Bahwa berdasarkan pendapat-pendapat para
Ahli Hukum pidana tersebut di atas, maka
Terdakwa tidak dapat disimpulkan telah
melakukan perbuatan atau vooltoid delict yang
memenuhi unsur menerima hadiah atau janji,
yaitu:

Terdakwa tidak dapat disimpulkan telah


menerima pemberian Rp. 2.305.500.000,(dua milyar tiga ratus lima juta lima ratus
ribu Rupiah) dari PT Adhi Karya melalui
Indrajaya Manopol dan Munadi Herlambanga
atas permintaan Muchayat. Dalam hal ini
selain tidak ada bukti peranan Terdakwa
atau perintah Terdakwa kepada Indrajaya
Manopol, Munadi Herlambang dan Muchayat
maupun fakta-fakta hukum lainnya yang
tidak terbukti sebagaimana telah kami
uraikan di atas, tidak ada juga pertemuan
kesepahaman atau meeting of mind antara si
pemberi PT Adhi Karya dan Terdakwa, yang
ditujukan agar Terdakwa melakukan atau
tidak melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan kewajiban dalam jabatannya.
Dengan demikian, dalil Penuntut Umum
bahwa Terdakwa telah menerima secara
tidak langsung menerima pemberian Rp
2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus lima
juta lima ratus ribu Rupiah) dari PT Adhi
Karya, merupakan dalil yang tidak benar dan
harus ditolak.

- 146 -

Terdakwa tidak dapat disimpulkan telah


menerima
pemberian
dari
Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp.
84.515.650.000,- (delapan puluh empat

milyar lima ratus lima belas juta enam ratus


lima puluh ribu Rupiah) dan USD 36,070,(tiga puluh enam ribu tujuh puluh Dollar
Amerika Serikat). Dalam hal ini, selain tidak
terbukti kebenaran jumlah uang yang
dikeluarkan Muhammad Nazaruddin untuk
kepentingan pencalonan Terdakwa sebagai
Ketua Umum Partai Demokrat, tidak terbukti
juga adanya pertemuan kesepahaman atau
meeting of mind antara si pemberi
Muhammad Nazaruddin dan Terdakwa, yang
ditujukan agar Terdakwa melakukan atau
tidak melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan kewajiban dalam jabatannya.
Dalil Penuntut Umum yang menyatakan
Terdakwa telah menerima secara tidak
langsung
dana-dana
tersebut
dari
Muhammad Nazaruddin sebagai fee karena
Permai Group telah mendapatkan proyekproyek di Kemendiknas dan proyek-proyek
lain yang dibiayai APBN, merupakan dalil
yang tidak benar dan harus ditolak. Dalam
persidangan sama sekali tidak ada bukti
yang
membuktikan
Terdakwa
telah
melakukan atau mempunyai peran untuk
mengurus proyek-proyek di Kemendiknas
dan proyek-proyek lain yang dibiayai APBN
tersebut.

- 147 -

Terdakwa juga tidak dapat disimpulkan telah


menerima
pemberian
dari
Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp.
30.000.000.000,- (tiga puluh milyar Rupiah)
dan USD 5,225,000,- (lima juta dua ratus dua
puluh lima ribu Dollar Amerika Serikat).
Dalam hal ini, selain tidak terbukti
kebenaran jumlah uang yang dikeluarkan
Muhammad Nazaruddin agar Terdakwa
terpilih
sebagai
Ketua
Umum
Partai
Demokrat di Konggres Partai Demokrat
tahun 2010, tidak terbukti juga adanya
pertemuan kesepahaman atau meeting of
mind
antara
si
pemberi
Muhammad
Nazaruddin dan Terdakwa, yang ditujukan
agar Terdakwa melakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang bertentangan

dengan kewajiban dalam jabatannya.


Dalil Penuntut Umum yang menyatakan
Terdakwa telah menerima secara tidak
langsung
dana-dana
tersebut
dari
Muhammad Nazaruddin sebagai fee karena
Permai Group telah mendapatkan proyekproyek di Kemendiknas dan proyek-proyek
lain yang dibiayai APBN, merupakan dalil
yang tidak benar dan harus ditolak. Dalam
persidangan sama sekali tidak ada bukti
yang
membuktikan
Terdakwa
telah
melakukan atau mempunyai peran untuk
mengurus proyek-proyek di Kemendiknas
dan proyek-proyek lain yang dibiayai APBN
tersebut.

Terdakwa tidak dapat disimpulkan telah


menerima pemberian berupa mobil Toyota
Harrier, karena selain telah dibuktikan
bahwa mobil Toyota Harrier tersebut
merupakan
pembelian
oleh
Terdakwa
sendiri, terbukti juga bahwa mobil Toyota
Harrier
tersebut
telah
diterima
dan
dipergunakan oleh Terdakwa sejak tanggal
12 September 2009, yaitu sebelum Terdakwa
berfungsi sebagai anggota DPR-RI.
Bahwa dalil Penuntut Umum yang pada
pokoknya menyatakan Terdakwa dianggap
telah menerima mobil Toyota Harrier
tersebut pada tanggal 12 November 2009,
setelah pengurusan STNK dan BPKB
berdasarkan pendapat Prof. Dr. Siti Ismijati
Jenie, S.H.,C.N., merupakan dalil yang tidak
benar dan harus ditolak. Bahwa persidangan
pidana ditujukan untuk mencari kebenaran
materiil; bukan kebenaran formil, yaitu
berdasarkan administrasi seperti tanggal
dikeluarkannya BPKB dan STNK. Hal ini
telah ditegaskan berdasarkan pendapat Ahli
Hukum Pidana, Prof. Dr. Edward Oemar
Syarif
Hiariej,
S.H.,
M.Hum.
pada
persidangan tanggal 28 Agustus 2014, yang
menyatakan: dalam hukum pidana, yang
dicari adalah kebenaran materiil. Persoalan
BPKB, STNK dan segala tetek bengek tidak

- 148 -

dipersoalkan dalam hukum pidana (vide


halam 957 Surat Tuntutan).
Selanjutnya dalil Penuntut Umum pada
halaman 1631 Surat Tuntutan, yang pada
pokoknya mendasarkan pada pendapat Prof.
Dr.
Edward
Omar
Syarif
Hiariej,
S.H.,M.Hum.,
bahwa
meskipun
dia
(Terdakwa) belum dilantik, lalu dia menerima
sesuatu dan ternnyata kemudian dia dilantik
dalam suatu jabatan publik, maka dia
termasuk dalam rumusan pasal yang
dimaksud dalam pasal 12a, 12b maupun
Pasal 11 dalam konteks dia sebagai
Penyelenggara Negara. Dalil ini tidak benar
dan oleh Dr. Chairul Huda, S.H., M.H. telah
dijelaskan sebagai berikut: merujuk pada
sasaran
normanya
(subjeknya)
adalah
pegawai negeri atau penyelenggara Negara,
maka orang yang belum dilantik belum
menjalankan fungsi sebagai penyelenggara
Negara. Karena menerima saat belum
menjalankan fungsi, bilamana si Penerima
sebelumnya menjanjikan bahwa bila terpilih
si pemberi akan diberikan proyek, maka
perbuatan
tersebut
merupakan
tindak
pidana penipuan.

Terdakwa
tidak
dapat
disimpulkan
menerima survey dan bantuan dari PT LSI
sekitar Rp. 478.632.230 (empat ratus tujuh
puluh delapan juta enam ratus tiga puluh
dua ribu dua ratus tiga puluh Rupiah),
karena bantuan PT LSI tersebut diberikan
dalam rangka konggres Partai Demokrat dan
dalam kapasitas Terdakwa sebagai anggota
Partai Demokrat.

Terdakwa tidak dapat disimpulkan telah


menerima fasilitas peminjaman mobil Toyota
Velvire, karena pinjaman tersebut diberikan
kepada Terdakwa setelah Terdakwa tidak
lagi menjabat sebagai anggota DPR R.I.
Bahwa dalil Penuntut Umum pada halaman
1636 Surat Tuntutan, yang menyatakan
sesungguhnya mobil Toyota Velfire tersebut

- 149 -

telah diterima Terdakwa sejak bulan Juli


2010, ketika Terdakwa masih menjabat
sebagai anggota DPR R.I. namun baru
digunakan pada bulan September 2010,
merupakan
dalil
yang
tidak
benar,
menyesatkan
dan
tidak
sesuai
fakta
persidangan.
Dalam fakta persidangan telah terungkap
fakta dari keterangan saksi Wasith Suady
yang menyatakan peminjaman 1 (satu) unit
mobil Toyota Vellfire terjadi di bulan puasa
tahun 2010 (sekitar bulan ___). Bahwa
sebelumnya pada bulan Juli 2010 Terdakwa
pernah meminjamkan mobil Toyota Velvire
tersebut, namun dikembalikan Terdakwa
karena belum membutuhkannya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka Terdakwa
tidak terbukti telah memenuhi unsur menerima
hadiah atau janji.
3.

Analisa Unsur padahal diketahui atau patut


diduga bahwa hadiah atau janji tersebut
diberikan
untuk
menggerakkan
agar
melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dalam jabatannya yang bertentangan dengan
kewajibannya
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat
kami hargai
Bahwa Penasihat Hukum setuju dengan dalil
Penuntut Umum pada halaman 1638 Surat Tuntutan,
yang menyatakan: Bahwa unsur diketahui
adalah istilah yang berkenaan dengan kesengajaan
(dolus) dari pelaku tindak pidana korupsi, istilah ini
juga banyak digunakan dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana untuk menyatakan kesengajaan,
seperti pasal 110, 220, 250,n275 dan 419.
Bahwa sehubungan dengan kesengajaan (dolus)
dalam suatu tindak pidana, di bawah ini kami
uraikan beberapa pendapat ahli ataupun literatur,

- 150 -

sebagai berikut:
(i) Memorie Van Toelichting
Sewaktu
Menteri
Kehakiman
mengajukan
Wetboek van Strafrecht pada tahun 1881 (yang
menjadi
KUHP
Indonesia
tahun
1925),
dinyatakan bahwa kesengajaan itu adalah
dengan sadar berkehendak untuk melakukan
suatu kejahatan tertentu.
Mengenai Memorie Van Toelichting tersebut,
Prof. Satochid mengutarakan bahwa yang
dimaksud dengan opzet willens en wetens
(dikehendaki dan diketahui) adalah seseorang
yang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja
harus menghendaki (willens) perbuatan itu serta
harus menginsafi atau mengerti (wetens) akan
akibat dari perbuatan itu.
(ii) Prof. Moeljatno, S.H., Drs. Lamintang, S.H.,

dan Drs. H.A.K. Moch. Anwar, S.H.


Prof. Muljatno, S.H., dalam bukunya Azas-azas
Hukum Pidana, Penerbit: PT Bina Aksara,
Jakarta 1985, halaman 172-183, Drs. Lamintang,
S.H., dalam bukunya Dasar-dasar Hukum Pidana
Indonesia, Penerbit: Sinar Baru, Bandung, 1984,
halaman 301-310 dan Drs. H.A.K. Moch. Anwar,
S.H., dalam bukunya Hukum Pidana Khusus
Jilid I dan Jilid II, Penerbit: alumni, Bandung,
1989,
dalam
halaman-halaman
yang
menguraikan unsur-unsur subyektif dari pasalpasal
KUHP
Indonesia,
pada
pokoknya
menjelaskan pendapat mereka berdasarkan
pendapat dari ahli-ahli, yang antara lain
dijelaskan sebagai berikut:
Menurut doktrin, pada umumnya dalam rumusan
delik
yang
mengandung
unsur
dengan
sengaja, berarti bahwa Pelaku harus lebih
dahulu mengetahui, menghendaki, dan sadar,
sehingga ia dapat dipertanggungjawabkan
atas perbuatannya secara pidana.
Mengenai pengertian dengan sengaja, mulamula dikenal ada 2 (dua) teori, yaitu:
- 151 -

a.Teori kehendak yang dianut oleh Von Hipple


dari Jerman dan Simons dari Belanda; dan
b.Teori pengetahuan yang diajarkan oleh
Frank dari Jerman dan diikuti oleh Von Listiz
dan Van Hamel dari Belanda.
Menurut Teori kehendak, suatu kesengajaan
adalah kehendak yang diarahkan pada
terwujudnya perbuatan seperti dirumuskan
dalam Undang-Undang. Sedangkan, menurut
Teori pengetahuan, suatu kesengajaan
adalah kehendak untuk berbuat dengan
mengetahui
unsur-unsur
yang
diperlukan
menurut rumusan Undang-Undang.
Menurut
Prof.
Muljatno,
S.H.,
Teori
pengetahuan lebih memuaskan, sebab untuk
menghendaki sesuatu, orang lain terlebih
dahulu
sudah
harus
mempunyai
pengetahuan (gambaran) tentang sesuatu
itu.
Lebih lanjut, menurut Prof. Muljatno, S.H, untuk
menentukan bahwa sesuatu perbuatan adalah
benar dikehendaki oleh seorang Terdakwa, maka
yang harus dipenuhi adalah: (i) harus dibuktikan
bahwa perbuatan itu sesuai dengan motifnya
untuk berbuat dan tujuan yang hendak dicapai;
(ii) bahwa antara motif, perbuatan, dan tujuan
harus ada hubungan kausal dalam batin
Terdakwa. Berdasarkan hal tersebut, maka
Kesengajaan sebagai suatu pengetahuan, yaitu
adanya hubungan antara pikiran atau
intelektual Terdakwa dengan perbuatan
yang dilakukannya.
(iii)

S.R. Sianturi, S.H.


Tentang
Kesengajaan
Terbentuknya

Dari

Sudut

S.R. Sianturi menyatakan bahwa untuk


terciptanya
suatu
tindak
pidana
yang
kemudian dilaksanakan tindakan tersebut
sesuai dengan kehendaknya, sehingga dalam
mewujudakan kehendaknya tersebut, ada tiga
- 152 -

tingkatan yang harus dilalui, yaitu:


-

adanya perangsang;
adanya kehendak; dan
adanya tindakan

dari uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa


kesengajaan
adalah
suatu
kehendak
(keinginan)
untuk
melaksanakan
suatu
tindakan yang didorong oleh pemenuhan
nafsu. Dengan kata lain kesengajaan itu
ditujukan terhadap suatu tindakan.

Tentang Gradasi Kesengajaan


Mengenai hal tingkatan
atau
kadar
kesengajaan yang dinyatakan oleh para ahli
tersebut, selanjutnya dengan cara yang lebih
mudah dimengerti oleh S.R. Sianturi, SH
dalam bukuAzas-azas Pidana di Indonesia
dan Penerapannya, halaman 170-178, secara
garis besarnya menjelaskan sebagai berikut:
Pertama: Kesengajaan sebagai maksud
(Oogmerk), berarti suatu tindakan dengan
akibat tertentu (yang sesuai dengan rumusan
delik), adalah betul-betul sebagai perwujudan
dari maksud atau tujuan dan pengetahuan
dari si pelaku; adalah sesuatu yang
terkandung dalam batin atau jiwa si pelaku.
Kedua: Kesengajaan dengan kesadaran
pasti (zekerheid), yang menjadi sandarannya
adalah seberapa jauh pengetahuan atau
kesadaran si pelaku tentang tindakan dan
akibat yang merupakan salah satu unsur dari
suatu delik yang terjadi.
Ketiga: Kesengajaan dengan menyadari
kemungkinan
(mogelijkheid)
atau
kesengajaan dengan persyaratan atau Dolus
Eventualis, yang menjadi sandaran adalah
sejauh mana pengetahuan atau kesadaran si
pelaku.

Berdasarkan teori-teori dan ajaran-ajaran di atas,


maka yang perlu dibuktikan oleh Penuntut Umum
- 153 -

sepatutnya adalah:
-

Adanya suatu perbuatan Terdakwa sebagai


pelaku, dalam perkara aquo apakah benar
Terdakwa
telah
melakukan
perbuatan
menerima hadiah atau janji;
Ada kesengajaan dari Terdakwa untuk
menerima hadiah atau janji tersebut;
Bahwa akibat dari perbuatan Terdakwa,
hadiah yang diberikan telah berada di
kekuasaan Terdakwa atau janji yang diberikan
telah diiyakan oleh Terdakwa;
Bahwa perbuatan Terdakwa dengan akibatnya
itu memang sesuai dengan motif Terdakwa
untuk berbuat dan merupakan tujuan yang
hendak dicapai oleh Terdakwa, dalam hal ini
benar
Terdakwa
menghendaki
untuk
mendapatkan hadiah yang diberikan tersebut.

Bahwa
berdasarkan
fakta-fakta
yang
telah
terungkap
dalam
persidangan,
baik
melalui
keterangan saksi maupun alat bukti lainnya,
Terdakwa sama sekali tidak terbukti telah memenuhi
unsur kesengajaan (dolus), yaitu Terdakwa
mengetahui bahwa hadiah atau janji tersebut
diberikan untuk menggerakkan agar melakukan
atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya. Adapun
alasan-alasan yang mendasari kesimpulan di atas,
dapat kami uraikan, sebagai berikut:
1. Terdakwa
sama
menerima hadiah

sekali

tidak

terbukti

Berdasarkan
fakta-fakta
persidangan
sebagaimana telah kami uraikan pada bagian
analisa yuridis terhadap unsur menerima hadiah
atau janji, Terdakwa sama sekali tidak terbukti
telah
menerima
hadiah-hadiah,
sebagai
berikut:

- 154 -

Tidak
menerima
uang
sebesar
Rp.
2.305.500.000,- (dua milyar tiga ratus lima
juta lima ratus ribu Rupiah) dari PT Adhi
Karya;

Tidak menerima dari Muhammad Nazaruddin

(Permai
Group)
uang
sebesar
Rp.
84.515.650.000 (delapan puluh empat milyar
lima ratus lima belas juta enam ratus lima
puluh ribu Rupiah) dan USD 36,070 (tiga
puluh enam ribu tujuh puluh Dollar Amerika
Serikat);

Tidak pernah menerima dari Muhammad


Nazaruddin (Permai Group) uang sebesar Rp.
30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah)
dan USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua
puluh lima ribu Dollar Amerika Serikat);

Tidak menerima hadiah berupa mobil Toyota


Harrier;

Tidak menerima fasilitas survey dari PT


Lingkaran Survey Indonesia senilai sekitar
Rp. 478.632.230 (empat ratus tujuh puluh
delapan juta enam ratus tiga puluh dua ribu
dua ratus tiga puluh Rupiah); dan

Selama menjabat sebagai penyelenggara


Negara tidak menerima fasilitas berupa 1
(satu) unit mobil Toyota Velvire senilai Rp.
735.000.000,- (tujuh ratus tiga puluh lima juta
Rupiah);

2. Tidak ada kesepahaman (meeting of mind)


antara si pemberi hadiah dengan Terdakwa
Bahwa perbuatan menerima hadiah oleh pegawai
negeri atau penyelenggara negara sebagaimana
diatur dalam ketentuan Pasal 12 (a) dan 12 (b)
UU Tipikor telah terpenuhi (vooltoid) apabila ada
pertemuan kesepahaman (meeting of mind)
antara seseorang pemberi dengan penerima
tentang maksud pemberian itu dan penangkapan
si penerima atas pemberian tersebut dan
hadiahnya telah beralih penguasaanya kepada si
penerima (pendapat Drs. Adami Chazwi, S.H.,
sebagaimana telah kami uraikan di atas)
Hal ini telah dijelaskan oleh Ahli Dr. Chairul
Huda, S.H., M.H., yang telah memberikan
keterangan ahli dalam persidangan pada tanggal
4 September 2014, sebagai berikut:
- 155 -

Bahwa perbuatan dilarang pada tindak pidana


suap yang dirumuskan dalam Pasal 12 huruf (a)
dan huruf (b) UU Tipikor, adalah perbuatan
menerima hadiah atau janji atau sesuatu,
dimana persyaratan pertamanya yang menerima
hadiah atau janji itu adalah pegawai negeri atau
penyelenggara negara. Persyaratan kedua,
pegawai negeri atau penyelenggara negara ini
menerima hadiah atau janji tersebut dalam
kerangka tertentu, dalam sebuah tujuan
tertentu, yaitu untuk berbuat atau tidak bebuat
sesuatu
yang
bertentangan
dengan
kewajibannya dalam jabatannya. Jadi kalau
pertanyaan kapan voltooid? atau kapan delik ini
terjadi secara sempurna, pada dasarnya ada
beberapa indikator, yaitu:

Pertama adalah bertemunya kesepahaman


seseorang
pemberi
dengan
penerima
tentang
maksud
pemberian
itu
dan
penangkapan si penerima atas pemberian
tersebut.

Kedua adalah bahwa pemberian itu harus


berhubungan dengan yang bersangkutan (si
penerima) melakukan atau tidak melakukan
sesuatu
dalam
jabatannya
yang
bertentangan dengan kewajibannya.
Artinya, Kalau pasal 12 huruf (a), maka
pemberian
itu
untuk
membuat
yang
bersangkutan (si penerima) berbuat atau tidak
berbuat sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya; sedangkan
kalau Pasal 12 huruf (b), maka pemberian itu
baru diberikan setelah yang bersangkutan
berbuat atau tidak berbuat dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
Jadi yang sangat penting sebenarnya adalah
adanya kesepahaman (meeting of mind)
antara pemberi suap dengan penerima suap
tentang maksud pemberian itu dihubungkan
dengan apa wewenang yang merupakan
kewajiban yang dapat dilakukan oleh yang
bersangkutan, si penerima. Jadi bisa saja tidak
ada kesepahaman antara maksud pemberian itu
dari si pemberi dengan apa yang ditangkap oleh
- 156 -

penerima dari pemberian tersebut, yaitu


misalnya dihubungkan dengan Pasal 11 UU
Tipikor.
Dengan demikian, pada perbuatan menerima
hadiah atau janji menurut Pasal 12 huruf (a) dan
12 (b), maka harus ada kesepahaman atau
meeting of mind, yang dengan kesepahaman
tersebut
menyebabkan
kemudian
yang
bersangkutan (si penerima) bisa dikatakan telah
sempurna melakukan atau telah voltooid
melakukan perbuatan menerima hadiah atau
janji.
Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap
dalam persidangan telah terbukti tidak adaya
pertemuan kesepahaman (meeting of mind)
tersebut antara orang-orang yang menurut
Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya telah
memberikan hadiah kepada Terdakwa. Adapun
hal tersebut, kami uraikan, sebagai berikut:
a. Kalaupun benar Munadi Herlambang telah
menerima uang sebesar Rp. 1.805.500.000,(satu milyar delapan ratus lima juta lima
ratus ribu Rupiah) dari PT Adhi Karya
melalui Munadi Herlambang dan selanjutnya
digunakan oleh Munadi Herlambang sebesar
Rp. 1.007.400.000,00 (satu milyar tujuh juta
empat ratus ribu rupiah) untuk membayar
hotel-hotel untuk DPC-DPC pendukung
Terdakwa quod non-, Terdakwa sama
sekali tidak akan mengetahui adanya
pemberian tersebut.
Bahwa
bagaimana
Terdakwa
dapat
mengetahui adanya pemberian tersebut, bila
sebagaimana dalil Penuntut Umum uang Rp.
1.805.500.000,- (satu milyar delapan ratus
lima juta lima ratus ribu Rupiah) dari PT
Adhi Karya tersebut diterima oleh Munadi
Herlambang atas permintaan Muchayat.
Terdakwa
sama
sekali
tidak
pernah
memberikan perintah, baik kepada Munadi
Herlambang maupun kepada Muchayat
untuk menerima uang Rp. 1.805.500.000,(satu milyar delapan ratus lima juta lima
- 157 -

ratus
ribu
Rupiah)
tersebut,
bahkan
Terdakwa sama sekali tidak berperan
berkaitan dengan hal tersebut.
Karena Terdakwa tidak mengetahui adanya
Rp. 1.805.500.000,- (satu milyar delapan
ratus lima juta lima ratus ribu Rupiah) dari
PT Adhi Karya tersebut, maka tentunya tidak
aka nada pertemuan kesepahaman atau
meeting of mind antara si pemberi, yaitu: PT
Adhi Karya dan Terdakwa. Dengan demikian
unsur mengetahui atau patut diduga
sehubungan dengan Rp. 1.805.500.000,(satu milyar delapan ratus lima juta lima
ratus ribu Rupiah) tidak terbukti.
b. Terdakwa sama sekali tidak mengetahui
adanya pengeluaran Muhammad Nazaruddin
(Permai Group) sebesar Rp. 84.515.650.000
(delapan puluh empat milyar lima ratus lima
belas juta enam ratus lima puluh ribu
Rupiah) dan USD 36,070 (tiga puluh enam
ribu tujuh puluh Dollar Amerika Serikat)
yang menurut Penuntut Umum ditujukan
untuk persiapan pencalonan Terdakwa
sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Fakta
ini dapat dibuktikan berdasarkan hal-hal,
sebagai berikut:
adanya
pengeluaran
uang
oleh
Muhammad Nazaruddin (Permai Group)
sebesar Rp. 84.515.650.000 (delapan
puluh empat milyar lima ratus lima belas
juta enam ratus lima puluh ribu Rupiah)
dan USD 36,070 (tiga puluh enam ribu
tujuh puluh Dollar Amerika Serikat) untuk
kepentingan
persiapan
pencalonan
Terdakwa sebagai Ketua Umum Partai
Demokrat, telah dibantah berdasarkan
keterangan saksi Prof. Dr. Ahmad
Mubarok, MA., Saan Mustofa, Ruhut
Poltak Sitompul, Mirwan Amir, Pasha
Ismaya
Sukardi,
Herlas
Juniar,
Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh, Umar Arsal,
Nuril Anwar, eva Ompita. Bahkan Saksi
Yulianis dan Oktarina Furi pada pokoknya
- 158 -

menyatakan
segala
pengeluaranpengeluaran Anugerah Group atau Permai
Group selalu dicatat dan Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp.
84.515.650.000 (delapan puluh empat
milyar lima ratus lima belas juta enam
ratus lima puluh ribu Rupiah) dan USD
36,070 (tiga puluh enam ribu tujuh puluh
Dollar Amerika Serikat) tidak pernah ada
dalam catatan yang dibuat saksi Yulianis.
Dalam
persidangan
telah
terbukti,
kalaupun ada pengeluaran dana oleh Tim
relawan Anas Urbaningrum, pengeluaanpengeluaran
tersebut
tidak
pernah
diberitahukan atau dilaporkan baik siapa
yang mengeluarkan dana, jumlah maupun
tujuan
pengeluarannya,
sehingga
Terdakwa benar tidak mengetahui jumlah
maupun
untuk
apa
keprluan
saja
pengeluaran tersebut (vide keterangan
saksi Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA.,
Saan Mustofa, Mirwan Amir, Pasha
Ismaya Sukardi, Muhammad Rahmad,
Sudewo, dan Umar Arsal). Terdakwa
sebagai calon Ketua Umum Partai
Demokrat adalah pengantin yang tidak
mengurus teknis, melainkan hanya visi
dan misi (vide keterangan Prof. Dr.
Ahmad Mubarok, MA.)
Karena Terdakwa tidak mengetahui teknis
siapa yang mengeluarkan dana, jumlah
maupun tujuan pengeluaran dana untuk
kepentingan
pencalonan
Terdakwa
sebagai Ketua umum Partai Demokrat,
maka tentunya tidak akan ada pertemuan
kesepahaman atau meeting of mind
antara si pemberi, yaitu: orang-orang
yang telah mengeluarkan dana tersebut
dengan Terdakwa. Dengan demikian
unsur mengetahui atau patut diduga
sehubungan
dengan
pengeluaran
Muhammad Nazaruddin (Permai Group)
sebesar Rp. 84.515.650.000 (delapan
puluh empat milyar lima ratus lima belas
juta enam ratus lima puluh ribu Rupiah)
- 159 -

dan USD 36,070 (tiga puluh enam ribu


tujuh puluh Dollar Amerika Serikat) tidak
terbukti.
c. Terdakwa sama sekali tidak mengetahui
adanya
pengeluaran
oleh
Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) uang sebesar Rp.
30.000.000.000 (tiga puluh milyar Rupiah)
dan USD 5,225,000 (lima juta dua ratus dua
puluh lima ribu Dollar Amerika Serikat)
dalam Konggres Partai Demokrat tahun
2010.
Fakta
ini
dapat
dibuktikan
berdasarkan hal-hal, sebagai berikut:

- 160 -

Bahwa
tidak
benar
Muhammad
Nazaruddin
(Permai
Group)
telah
mengeluarkan
uang
sebesar
Rp.
30.000.000.000
(tiga
puluh
milyar
Rupiah) dan USD 5,225,000 (lima juta
dua ratus dua puluh lima ribu Dollar
Amerika Serikat). Menurut saksi Yulianis
dan Oktarina Furi, dari uang sebesar Rp.
30.000.000.000
(tiga
puluh
milyar
Rupiah) yang terpakai pada konggres
Partai Demokrat hanya Rp. 700.000.000,(tujuh ratus juta Rupiah). Sisa uang
tersebut kemudian disetrokan kembali ke
rekening-rekening milik Anugerah Group.
Saksi Yulianis selanjutnya menegaskan
bukti setornya telah disampaikan kepada
penyidik KPK. Selanjutnya dari uang USD
5,000,000 (lima juta Dollar Amerika
Serikat), yang terdiri dari USD 2,000,000
(dua juta Dollar Amerika Serikat) tidak
terpakai dan kembali utuh; sedangkan
USD 3,000,000,- (tiga juta Dolar Amerika
Serikat) hanya terpakai kurang lebih USD
1,700,000 (satu juta tujuh ratus ribu
Dollar Amerika Serikat), sehingga sebesar
USD 1,300,000 (satu juta tiga ratus ribu
Dollar Amerika Serikat) kembali ke
Anugerah Group dan langsung disimpan
oleh Neneng Sri Wahyuni.

Bahwa di samping itu tidak benar kalau


uang-uang tersebut hanya semata-mata
dikeluarkan oleh Muhammad Nazaruddin

(Permai
Group)
untuk
keperluan
Terdakwa. Dari keterangan Nuril Anwar
terungkap fakta bahwa Muhammad
Nazaruddin tidak membagikan uang-uang
tersebut
hanya
kepada
DPC-DPC
pendukung Terdakwa, melainkan DPCDPC pendukung kandidat lainnya juga
diberikan
uang-uang
tersebut
oleh
Muhammad Nazaruddin. Menurut Nuril
Anwar, pada prinsipnya Muhammad
Nazaruddin bermain di tiga kaki agar
nanti
siapapun
ketua
umumnya,
Muhammad
Nazaruddin
adalah
Bendahara Umumnya. Hal ini ditegaskan
oleh saksi Wahyudi Utomo (Iwan).

Bahwa Terdakwa sama sekali tidak


mengetahui
adanya
pengeluaranpengeluaran oleh Muhammad Nazaruddin
(Permai Group) tersebut, karena dari
keterangan saksi Prof. Dr. Ahmad
Mubarok, MA., Saan Mustofa, Ruhut
Poltak Sitompul, Mirwan Amir, Pasha
Ismaya
Sukardi,
Herlas
Juniar,
Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh dan Umar Arsal,
Terdakwa tidak pernah memberi perintah
kepada Muhammad Nazarudin (Permai
Group)
untuk
membawa
atau
mengeluarkan
uang
sebesar
Rp.
30.000.000.000
(tiga
puluh
milyar
Rupiah) dan USD 5,225,000 (lima juta
dua ratus dua puluh lima ribu Dollar
Amerika Serikat). Dari keterangan Prof.
Dr. Ahmad Mubarok, MA., Saan Mustofa,
Ruhut Poltak Sitompul, Mirwan Amir,
Pasha Ismaya Sukardi, Herlas Juniar,
Muhammad Rahmad, Sudewo, Angelina
Patricia Pinkan Sondakh, Umar Arsal,
terbukti
dalam
setiap
pertemuanpertemuan
Tim
relawan
Anas
Urbaningrum,
Terdakwa
selalu
mengingatkan tim agar tidak melakukan
money politic atau beli suara DPC-DPC.

Karena
adanya
- 161 -

Terdakwa tidak
pengeluaran oleh

mengetahui
Muhammad

Nazaruddin (Permai Group) sebesar Rp.


30.000.000.000
(tiga
puluh
milyar
Rupiah) dan USD 5,225,000 (lima juta
dua ratus dua puluh lima ribu Dollar
Amerika Serikat) dalam pelaksanaan
Konggres
Partai
Demokrat,
maka
tentunya tidak akan ada pertemuan
kesepahaman atau meeting of mind
antara si pemberi, yaitu: Muhammad
Nazaruddin (Permai Group) dengan
Terdakwa.
Dengan
demikian
unsur
mengetahui
atau
patut
diduga
sehubungan
dengan
pengeluaran
Muhammad Nazaruddin (Permai Group)
sebesar Rp. 30.000.000.000 (tiga puluh
milyar Rupiah) dan USD 5,225,000 (lima
juta dua ratus dua puluh lima ribu Dollar
Amerika Serikat) tidak terbukti.
d. Bahwa
mobil
Toyota
Harrier
bukan
pemberian kepada Terdakwa, melainkan
dibeli sendiri oleh Terdakwa, dimana
Terdakwa
meminta
bantuan
saksi
Mohammad Nazaruddin untuk mengurusnya.
Uang muka pembelian mobil Toyota Harrier
sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta
Rupiah) diserahkan Terdakwa kepada saksi
Mohammad Nazaruddin di restoran Chatter
Box, Plaza Senayan pada tanggal _________.
Penyerahan uang muka tersebut disaksikan
oleh saksi Saan Mustofa yang membenarkan
adanya peristiwa tersebut pada persidangan
tanggal __________. Selanjutnya berdasarkan
keterangan
saksi
M. Rahmad dan Terdakwa, pada sekitar
________,
Terdakwa
telah
melakukan
pembayaran sebagian cicilan sebesar Rp.
75.000.000,- (tujuh puluh lima juta Rupiah)
kepada saksi Muhammad Nazaruddin di
_______.
Dengan
demikian,
dari
fakta-fakta
persidangan jelas telah membuktikan bahwa
Terdakwa bukan menerima mobil Toyota
Harrier,
melainkan
Terdakwa
membeli
sendiri mobil Toyota Harrier tersebut.

- 162 -

Kalaupun Terdakwa dianggap menerima


pemberian mobil Toyota Harrier, karena
uang pembayaran mobil Toyota Harrier
tersebut diurus oleh Muhammad Nazaruddin
dengan cara membayar secara tunai Rp.
150.000.000,- (seratus lima puluh juta
Rupiah) dan cek sebesar Rp. 520.000.000,(lima ratus dua puluh juta Rupiah) yang
diterbitkan
oleh
PT
Pacific
Putra
Metropolitan quod non-, Terdakwa pada
faktanya telah menerima mobil Toyota
Harrier tersebut sejak tanggal 12 September
2009, yaitu pada saat Terdakwa belum
menjabat sebagai anggota DPR R.I. tahun
2009-2014.
Karena pada tanggal 12 September 2009
tersebut, Terdakwa belum mempunyai fungsi
berupa wewenang dan kekuasaan sebagai
anggota DPR R.I., maka tentunya tidak akan
ada pertemuan kesepahaman atau meeting
of mind antara si pemberi, yaitu: Muhammad
Nazaruddin (PT Pacific Putra Metropolitan)
dengan
Terdakwa.
Dalam
hal
ini
kesepahaman maksud pemberian itu dan
penangkapan si penerima atas pemberian
tersebut dihubungkan dengan agar (si
penerima) melakukan atau tidak melakukan
sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan
dengan kewajibannya. Hal ini didasarkan
atas pendapat Ahli Hukum Pidana Dr. Chairul
Huda, S.H., M.H., yang menyatakan: Pasal
12 huruf (a) dan huruf (b)
UU Tipikor
ditegaskan sasaran normanya (subjeknya)
adalah pegawai negeri atau penyelenggara
Negara. Jadi pemberian itu harus terkait
dengan kedudukan yang bersangkutan
sebagai pegawai negeri atau penyelenggara
negara, bahkan tidak cukup hanya terkait
saja, tetapi harus berkonsekuensi langsung,
berhubungan langsung dengan perbuatan
yang dapat dia lakukan atau telah dia
lakukan dalam kapasitasnya tersebut.
e. Bahwa tidak ada pertemuan kesepahaman
atau meeting of mind terkait dengan fasilitas
survey dari PT Lingkaran Survey Indonesia
- 163 -

senilai sekitar Rp. 478.632.230 (empat ratus


tujuh puluh delapan juta enam ratus tiga
puluh dua ribu dua ratus tiga puluh Rupiah),
karena:
Bahwa berdasarkan keterangan saksi
Denny JA dari PT LSI, survey dan
bantuan kepada Terdakwa dimaksudkan
agar Terdakwa dapat memenangkan
kongres Partai Demokrat. Cara yang
dilakukan PT LSI untuk memenangkan
Terdakwa adalah dengan membentuk
opini publik atau membangun image
Terdakwa di mata pemilik suara (yaitu
DPD
dan
DPC
Partai
Demokrat);
sedangkan survey dilakukan dengan
menghubungi
DPC-DPC
melalui
telephone.
Bahwa Saksi Denny JA menerangkan
biaya yang dikeluarkan oleh LSI untuk
melakukan survey adalah sebesar Rp.
20.000.000,- (dua puluh juta Rupiah) dan
___ dikeluarkan untuk pemasangan iklan
sebelum
dan
sesudah
Terdakwa
memenangkan kongres Partai Demokrat;
Bahwa
survey
dan
bantuan
agar
Terdakwa menang sebagai Ketua Umum
Partai Demokrat diberikan dalam rangka
kegiatan Partai Demokrat dan dalam
kapasitas Terdakwa sebagai anggota
Partai Demokrat. Survey dan bantuan itu
tidak diberikan PT LSI dalam kapasitas
Terdakwa sebagai anggota DPR R.I. dan
sama sekali tidak ada hubungannya
dengan
pengurusan
proyek-proyek,
karena PT LSI memang tidak main
proyek. PT LSI bersedia membantu
Terdakwa karena saksi Denny JA merasa
tertantang dengan saingan Terdakwa di
kongres Partai Demokrat, yaitu Andy
Malarangeng yang didukung oleh adiknya
Choel Malarangeng. Choel Malarangeng
merupakan pimpinan Fox Indonesia. Atas
dasar hal tersebut, saksi Denny JA
menyatakan
kesediaannya
untuk
- 164 -

membantu
Terdakwa
karena
ingin
berkompetisi dengan Fox Indonesia
sebagai salah satu pesaing PT LSI.
Dengan demikian tidak benar dalil
Penuntut Umum pada halaman 1647
Surat Tuntutan, yang pada pokoknya
menyatakan atas peran Terdakwa selaku
anggota DPR-RI dalam pengurusan
proyek-proyek
pemerintah,
Terdakwa
telah menerima hadiah, baik beruipa
barang, uang maupun fasilitas, salah
satunya disebutkan: fasilitas survey dari
PT Lingkaran Survey Indonesia senilai
sekitar Rp. 478.632.230 (empat ratus
tujuh puluh delapan juta enam ratus tiga
puluh dua ribu dua ratus tiga puluh
Rupiah).
Sehubungan dengan kapasitas Terdakwa
saat menerima survey dan bantuan PT
LSI agar Terdakwa dapat menang
sebagai Ketua Umum Partai Demokrat,
Ahli Dr. Chairul Huda, S.H.,M.H. pada
persidangan pada tanggal 4 September
2014, menjelaskan, sebagai berikut:
Kadangkala ada orang yang berpendapat
bahwa perbuatan orang itu tidak bisa
dipisah-pisahkan antara kapasitas yang
satu dengan kapasitas yang lain. Itu
omongan orang awam bukan sarjana
hukum. Karena, kalau sarjana hukum,
kita
menilai
perbuatan
itu,
mana
perbuatan yang mempunyai konsekuensi
yuridis, maka tidak bisa disamakan
antara perbuatan orang dalam kapasitas
ketua partai dengan perbuatan orang
dalam kapasitas sebagai penyelegara
negara, harus dibedakan. Secara tingkah
laku jasmaniah, apa yang disebut dengan
ajaran feit materieel itu memang melihat
perbuatan dalam tingkah laku jasmaniah,
tetapi ajaran itu sudah ditinggalkan satudua abad yang lalu. Sehingga dapat
dikatakan bahwa dalam pasal 12 huruf (a)
dan (b) menjelaskan kapasitas seseorang
sebagai penyelegara negara. Di luar itu,
- 165 -

tidak dilarang oleh undang undang.


Salah satu unsur dari pasal 12 huruf (a)
dan huruf (b) UU Tipikor adalah
pemberian hadiah atau janji tersebut
ditujukan agar pegawai negeri atau
penyelegara negara itu berbuat atau
tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya.
Dalam hal ini artinya harus ada hubungan
langsung antara pemberian tersebut
dengan apa yang akan/dapat atau telah
dilakukan oleh pegawai negeri atau
penyelenggara
negara
tersebut
sehubungan dengan jabatannya.
Dengan demikian, apabila pemberian itu
tidak berkaitan dengan harapan dari si
pemberi agar si penerima berbuat atau
tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya,
maka pemberian itu bukan diturunkan
(diberikan) kepada yang bersangkutan
sebagai
pegawai
negeri
atau
penyelenggara negara. Karena dalam
Pasal 12 huruf (a) dan huruf (b) UU
Tipikor ditegaskan sasaran normanya
(subjeknya) adalah pegawai negeri atau
penyelenggara Negara. Jadi pemberian
itu harus terkait dengan kedudukan yang
bersangkutan sebagai pegawai negeri
atau penyelenggara negara, bahkan tidak
cukup hanya terkait saja, tetapi harus
berkonsekuensi langsung, berhubungan
langsung dengan perbuatan yang dapat
dia lakukan atau telah dia lakukan dalam
kapasitasnya tersebut.
Berdasarkan penjelasan Ahli Dr. Chairul
Huda, S.H.,M.H. tersebut, maka dapat
disimpulkan antara PT LSI dengan
Terdakwa
tidak
ada
pertemuan
kesepahaman atau meeting of mind
sehubungan
dengan
bantuan
yang
diberikan PT LSI kepada Terdakwa,
karena: (i) bantuan tersebut diberikan PT
LSI dalam rangka kegiatan Partai
Demokrat dan dalam kapasitas Terdakwa
- 166 -

sebagai anggota Partai Demokrat; bukan


dalam rangka pengurusan proyek-proyek
pemerintahan
dan
dalam
kapasitas
Terdakwa sebagai anggota DPR R.I., (ii)
bidang usaha PT LSI adalah konsultan
politik;
bukan
bermain
proyek
pemerintahan dan (iii) karenanya atas
bantuan LSI tersebut, sama sekali tidak
akan menggerakkan Terdakwa untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan kewajibannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka survey dan
bantuan PT LSI kepada Terdakwa tidak dapat
disimpulkan memenuhi unsur
padahal
diketahui atau patut diduga bahwa hadiah
atau
janji
tersebut
diberikan
untuk
menggerakkan agar melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya.
f. Kalaupun Terdakwa dianggap menerima
pemberian mobil Toyota Harrier, karena
uang pembayaran mobil Toyota Harrier
tersebut diurus oleh Muhammad Nazaruddin
dengan cara membayar secara tunai Rp.
150.000.000,- (seratus lima puluh juta
Rupiah) dan cek sebesar Rp. 520.000.000,(lima ratus dua puluh juta Rupiah) yang
diterbitkan
oleh
PT
Pacific
Putra
Metropolitan quod non-, Terdakwa pada
faktanya telah menerima mobil Toyota
Harrier tersebut sejak tanggal 12 September
2009, yaitu pada saat Terdakwa belum
menjabat sebagai anggota DPR R.I. tahun
2009-2014.
Karena pada tanggal 12 September 2009
tersebut, Terdakwa belum mempunyai fungsi
berupa wewenang dan kekuasaan sebagai
anggota DPR R.I., maka tentunya tidak akan
ada pertemuan kesepahaman atau meeting
of mind antara si pemberi, yaitu: Muhammad
Nazaruddin (PT Pacific Putra Metropolitan)
dengan
Terdakwa.
Dalam
hal
ini
kesepahaman maksud pemberian itu dan
penangkapan si penerima atas pemberian
- 167 -

tersebut dihubungkan dengan agar (si


penerima) melakukan atau tidak melakukan
sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan
dengan kewajibannya. Hal ini didasarkan
atas pendapat Ahli Hukum Pidana Dr. Chairul
Huda, S.H., M.H., yang menyatakan: Pasal
12 huruf (a) dan huruf (b)
UU Tipikor
ditegaskan sasaran normanya (subjeknya)
adalah pegawai negeri atau penyelenggara
Negara. Jadi pemberian itu harus terkait
dengan kedudukan yang bersangkutan
sebagai pegawai negeri atau penyelenggara
negara, bahkan tidak cukup hanya terkait
saja, tetapi harus berkonsekuensi langsung,
berhubungan langsung dengan perbuatan
yang dapat dia lakukan atau telah dia
lakukan dalam kapasitasnya tersebut.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka Terdakwa


tidak terbukti telah memenuhi unsur padahal
diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji
tersebut diberikan untuk menggerakkan agar
melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya
yang
bertentangan
dengan
kewajibannya.
4.

Analisa Unsur --------


Majelis Hakim yang kami muliakan,
Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat
kami hargai
,

5. Analisa Unsur --------


Majelis Hakim yang mulia,
Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat
kami hargai
,

- 168 -

II. Terkait Dakwaan Kedua


1. Analisa Unsur Setiap Orang
2. Analisa Unsur -----------
3. Analisa unsur ----------

III.

Analisa Yuridis Dakwaan Ketiga

Majelis Hakim yang mulia,


Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan rekan pers yang kami hormati.
Bahwa Dakwaan Ketiga yang didakwakan dan dituntut oleh
Penuntut Umum di atas terdiri dari unsur-unsur tindak
pidana, sebagai berikut:
(i)
(ii)

(iii)

setiap orang;
yang
dengan
sengaja
membayarkan
atau
membelanjakan harta kekayaan yang diketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana,
baik perbuatan itu atas namanya sendiri maupun atas
nama pihak lain;
dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan
asal usul harta kekayaan.

Bahwa sebelum kami masuk pada pembahasan analisa


yuridis unsur-unsur pasal yang dituntut pada Dakwaan
Ketiga, perkenankan kami menguraikan terlebih dahulu
hal mengenai apakah KPK berwenang menuntut tindak
pidana TPPU berdasarkan UU No. 15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 (UU TPPU
Lama)
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 95, Undang-undang
No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan Dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU Baru),
Penuntut Umum telah mendakwa dan menuntut Terdakwa
dengan menggunakan UU TPPU Lama. Adapun Pasal 95
UU TPPU Lama menyatakan sebagai berikut:

- 169 -

Tindak Pidana Pencucuian Uang yang dilakukan sebelum


berlakunya Undang-Undang ini, diperiksa dan diputus
dengan Undang-Undang No 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang.
Bahwa pada faktanya dengan dikeluarkannya UU TPPU
Baru, UU TPPU Lama telah dinyatakan dicabut dan tidak
berlaku berdasarkan ketentuan Pasal 99 UU TPPU Baru.
Bahwa sehubungan dengan hal tersebut, kami berharap
Majelis Hakim, berkenan mempertimbangkan keterangan
ahli dalam persidangan yaitu:
a. Bahwa Ahli
persidangan
menjelaskan:

Prof.
pada

Yusril Isha
tanggal 3

Mahendara
September

dalam
2014,

Hanya
persoalannya
adalah
proses
penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan, bisa saja melewati waktu
berlakunya UU TPPU baru. Jadi orang sudah disidik, sudah
dilakukan penyidikan dan dilimpahkan ke pengadilan,
namun kemudian UUnya berubah, mana yang mau dipakai?
Sementara perbuatannya dilakukan sebelum berlakunya UU
TPPU baru. Dalam hal ini, tentu tergantung pada
pertimbangan majelis hakim, akan memberlakukan yang
mana? Prinsip dalam hukum pidana itu berlaku bahwa yang
berlaku adalah yang menguntungkan bagi si terdakwa. Hal
ini, berkaitan dengan hukum materil, misalnya apabila UU
TPPU baru menyatakan ancaman pidana selama-lamanya 5
tahun, sedangkan UU TPPU lama menyatakan ancaman
pidana selama-lamanya 7 tahun, maka hakim memilih
menggunakan UU TPPU baru, karena lebih menguntungkan
Terdakwa.

b. Bahwa Ahli Dr. Chairul Huda, S.H.,M.H.,


persidangan pada tanggal 4 September
menjelaskan:

dalam
2014,

Berkenaan dengan UndangUndang mana yang


berlaku untuk mengadili perbuatan? Asasnya lex
temporis delicti, yaitu undang undang yang menjadi
dasar untuk mengadili seseorang adalah undang
undang yang berlaku pada saat orang tersebut berbuat.
Yang menjadi persoalan kalau ada perubahan
perundang
-undangan,
maka
aturan
yang

- 170 -

menguntungkan Terdakwa yang diberlakukan. Jadi


tidak perlu diperdebatkan aturan mana yang akan
dipakai.
Yang
dipakai
adalah
aturan
yang
mengutungkan terdakwa.
Berdasarkan keterangan-keterangan ahli tersebut di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan pidana sebelum
lahirnya UU TPPU Baru dapat diperiksa dengan
menggunakan UU TPPU Lama, sepanjang hal tersebut
lebih menguntungkan Terdakwa. Namun demikian, apakah
KPK memiliki kewenangan menuntut berdasarkan Pasal 74
UU No. 8 Tahun 2010. Dalam hal ini UU TPPU Lama sama
sekali tidak memberikan kewenangan menuntut kepada
KPK.
Bahwa sehubungan dengan hal tersebut, kami berharap
Majelis Hakim, berkenan mempertimbangkan keterangan
ahli dalam persidangan yaitu:
a. Bahwa Ahli
persidangan
menjelaskan:

Prof.
pada

Yusril Isha
tanggal 3

Mahendara
September

dalam
2014,

Terkait dengan UU TPPU No. 8/2010 apa yang


dimaksud dengan wewenang dan sumber wewenang
pejabat Negara, yaitu kekuasaan untuk melakukan
sesuatu yang bersifat ototritatif karena diatur aturan
perundang-undangan atau hukum positif yang berlaku.
Jadi kalau tidak ada kewenangan yang diberikan
peraturan perundang-undangan, maka dia tidak dapat
bertindak.
b. Bahwa Ahli
persidangan
menjelaskan:

Dr. Chairul Huda, S.H.,M.H.


pada tanggal 4 September

dalam
2014,

Bahwa berkenaan dengan kewenangan KPK


melakukan penyidikan atas perbuatan TPPU
sebelum berlakunya UU TPPU baru berdasarkan
ketentuan Pasal 74, ada dua persoalan mendasar disitu:

Pertama berkenaan dengan aturan peralihan dari


satu undang-undang yang lama ke undang-undang
yang baru, jelas-jelas hanya merujuk tentang
deliknya, lex temporis delicti yaitu berkenaan
dengan tindak pidananya, rumusan deliknya bukan
berkenaan dengan kewenangan penegak hukum

- 171 -

yang melakukan penegakkan hukum dalam delik itu.


Jadi jelas disitu jika satu instansi penegak hukum
tidak berwenang menyidik suatu tindak pidana yang
disebut dalam undang-undang yang lama tetapi
berwenang melakukan penyidikan yang sama dalam
undang-undang yang baru, maka dia tidak boleh
menggunakan undang-undang yang lama karena dia
tidak berwenang. Yang boleh beralih adalah aturan
mengenai hukum materiilnya, tidak mengenai
hukum
formilnya,
tidak
berkenaan
dengan
kewenangannya;

Kedua tadi sudah dibacakan Penasihat Hukum


tentang limitasi yang diberikan oleh pembentuk
undang-undang tentang siapa yang menjadi
penyidik tindak pidana tersebut, yaitu penyidik
tindak pidana asal. Dalam penjelasannya disebutkan
bukan :seperti tapi yaitu a,b,c,d, maka di luar
a,b,c,d tidak berwenang melakukan penyidikan
terhadap tindak pidana itu. Katakanlah kita
kesampingkan,
karena
tidak
boleh
sebuah
penjelasan undang-undang membuat norma baru
karena jelas norma nya dalam batang tubuh
pasalnya adalah penyidik tindak pidana asal. Maka
siapa yang diberi wewenang untuk melakukan
penyidikan tindak pidana asal itu saja yang
kemudian berwenang melakukan penyidikan TPPU;
Masalah
kedua
adalah
berkenaan
dengan
kewenangan penuntutan, jadi jelas sekali berbeda
antara
tindakan
menyidik
dengan
tindakan
menuntut. Pandangan saya karena KUHAP sudah
membatasi
peradilan
pidana
itu
dijalankan
berdasarkan undang-undang, maka kewenangan itu
hanya
dalam
kewenangan
atributif
atau
kewenangan yang diberikan undang-undang, tidak
bisa kewenangan yang tidak diberikan undangundang, yurisprudensi bukan undang-undang.
Kewenangan untuk menuntut ditentukan siapa yang
mempunyai
wewenang
untuk
menentukan
kelengkapan berkas perkara (P-21), membuat surat
dakwaan dan melimpahkan perkara di pengadilan,
itulah
yang
mempunyai
kewenangan
untuk
menuntut sebagaimana disebutkan dalam undangundang baik KUHAP atau UU Kejaksaan. Penuntut
di sini adalah Penuntut Umum pada Kejaksaan, jadi

- 172 -

tidak ada kewenangannya, baik berdasarkan


tafsiran dihubungkan dengan penjelasan Pasal 74
dimaksud maupun berdasarkan norma yang ada di
dalam pasal 74 itu sendiri.
Bahwa peradilan cepat, biaya murah adalah asas
yang menjadi pedoman bagi aparatur peradilan
untuk melaksanakan kewenangannya. Jadi bukan
asas yang melahirkan kewenangan. Jadi kalau sudah
punya wewenang dia menjalankan kewenangannya
itu dengan memperhatikan asas sederhana, biaya
ringan. Dalam literatur manapun tidak ada asas
yang melahirkan kewenangan. Kewenangan di
dalam penegakan hukum itu adalah kewenangan
yang diberikan undang-undang.
Berdasarkan uraian Ahli Dr. Chairul Huda, S.H.,M.H.
tersebut, maka dapat diuraikan hal-hal, sebagai berikut:
a. Bahwa kewenangan penyidikan dan penuntutan adalah
kewenangan
atributif,
yaitu
kewenangan
yang
diberikan hanya berdasarkan peraturan perundangundangan.
b. Bahwa UU TPPU Lama sama sekali tidak memberikan
kewenangan kepada KPK untuk melakukan penyidikan
dan penuntutan. Pasal 30 UU TPPU Lama menyatakan:
Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang
pengadilan terhadap tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang ini, dilakukan
berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana,
kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.
b. KPK tidak diperkenankan menyidik tindak pidana yang

terjadi sebelum berlakunya UU TPPU Baru dengan


menerapkan ketentuan Pasal 74 UU TPPU Baru, karena
berdasarkan pendapat ahli, yang boleh beralih adalah
aturan mengenai hukum materiilnya, tidak mengenai
hukum formilnya (mengenai kewenangan).
c. Bahwa

UU TPPU Baru tidak memberikan KPK


kewenangan untuk melakukan penuntutan. UU TPPU
Baru hanya memberikan KPK kewenangan melakukan
penyidikan. Hal ini ditegaskan berdasarkan Pasal 74 UU
TPPU Baru, yang berbunyi: Peyidikan tindak pidana
Pencucian Uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana
asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan

- 173 -

ketentuan peraturan perundang-undangan,


ditentukan lain menurut undang-undang ini.

kecuali

d. Sedangkan asas peradilan cepat sederhana dan biaya


ringan tidak melahirkan kewenangan, melainkan
apabila kewenangan sudah ada, baru asas peradilan
cepat, sederhana dan biaya ringan ini harus diterapkan.
Sekali lagi kewenangan penuntutan adalah kewenangan
atributif, yang diberikan hanya berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Berdasarkan uraian di atas, maka KPK tidak berwenang
menuntut perkara TPPU dan karenanya kami mohon agar
Majelis Hakim menyatakan Dakwaan Ketiga ini tidak dapat
diterima.
Majelis Hakim yang mulia,
Saudara penuntut umum yang terhormat, dan
Rekan rekan pers yang kami hormati.
Bahwa selanjutnya kami akan menguraikan analisa juridis
kami untuk membuktikan bahwa Terdakwa tidak
memenuhi unsur-unsur pasal yang didakwakan dan
dituntut kepada Terdakwa, yaitu Pasal 3 ayat (1) huruf c
Undang Undang R.I. Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
Undang Undang Nomor 25 tentang Perubahan Undang
Undang R.I. Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang.
1. Analisa unsur Setiap orang
Mengenai unsur setiap orang pada pasal ini, kami
mengambil alih seluruh uraian dan penjelasan
kami pada dakwaan kedua tersebut di atas.
2. Analisa
unsur
Yang
dengan
sengaja
membayarkan atau membelanjakan harta yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan
hasil hasil tindak pidana, baik perbuatan itu atas
namanya sendiri atau atas nama orang lain
Berdasarkan teori-teori dan ajaran-ajaran mengenai
unsur sengaja (dolus) yang telah kami uraikan pada
analisa yuridis pada Dakwaan Kesatu sebelumnya,

- 174 -

maka yang perlu dibuktikan oleh Penuntut Umum pada


Dakwaan Ketiga ini sepatutnya adalah:
-

Adanya suatu perbuatan Terdakwa sebagai pelaku,


dalam perkara aquo apakah benar Terdakwa telah
melakukan
perbuatan
membayarkan
atau
membelanjakan harta kekayaan yang diketahui atau
patut diduganya merupakan hasil tindak pidana;
Ada kesengajaan dari Terdakwa sebagai maksud
untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal
usul harta kekayaan tersebut;
Bahwa perbuatan Terdakwa itu memang sesuai
dengan motif/maksud Terdakwa untuk berbuat dan
merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh
Terdakwa,
dalam
hal
ini
benar
Terdakwa
menghendaki untuk untuk menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul harta kekayaannya.

Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang telah terungkap


dalam persidangan, baik melalui keterangan saksi
maupun alat bukti lainnya, Terdakwa sama sekali tidak
terbukti telah memenuhi unsur kesengajaan (dolus)
melakukan
perbuatan
membayarkan
atau
membelanjakan harta kekayaan yang diketahui atau
patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.
Adapun alasan-alasan yang mendasari kesimpulan di
atas, dapat kami uraikan, sebagai berikut:
1. predicate crime yang merupakan asal usul
harta kekayaan tidak
diuraikan Penuntut
Umum dalam Surat Tuntutannya.
Bahwa setelah kami memeriksa dengan seksama
seluruh uraian Penuntut Umum dalam Surat
Tuntutannya, ternyata Penuntut Umum sama sekali
tidak sedikitpun menguraikan predicate crime atau
dari tindak pidana yang mana asal usul harta
kekayaan tersebut diperoleh.
Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya pada
pokoknya hanya menguraikan bahwa pembayaran
uang Rp.3.000.000.000,- (tiga milyar Rupiah) yang
digunakan untuk membayar keperluan penerbitan
IUP melalui Permai Group tersebut diperoleh dari
fee proyek-proyek yang dibiayai APBN yang didapat
Permai Group (vide halaman 1695 Surat Tuntutan).
- 175 -

Bahwa uraian Penuntut Umum tersebut sama sekali


tidak dapat menunjukkan atau menjelaskan: (i) feefee dari proyek-proyek manakah yang dimaksud
Penuntut Umum; dan (ii) apakah fee-fee Proyek
tersebut benar merupakan tindak pidana korupsi.
Kalau hal ini tidak ada, apakah artinya Penuntut
Umum mengeneralisir bahwa seluruh uang yang
diperoleh Permai Group merupakan hasil tindak
pidana korupsi? Pemikiran seperti itu tentunya tidak
benar. Apalagi Penuntut Umum sebagai seorang ahli
hukum tentunya sangat memahami asas praduga
bersalah dalam sistem hukum pidana yang berlaku
di Indonesia.
Bahwa seluruh ahli-ahli pidana yang dihadirkan
dalam persidangan telah memberikan pendapat
hukumnya mengenai pentingnya predicate crime
dalam suatu dakwaan TPPU. Pendapat-pendapat
tersebut dapat kami uraikan, sebagai berikut:
a. Ahli Dr. Yunus Husen, S.H.,LL.M. dalam
persidangan pada tanggal 28 Agustus 2014,
menjelaskan:
Sehubungan dengan pembuktian predicate
crime, ada 2 pendekatan yang dipakai, yaitu:
(i) didakwakan tindak pidana korupsi dan TPPU.
Karena didakwakan, maka harus dibuktikan.
(ii) Tetapi bisa juga tidak didakwakan tindak
pidana asalnya, hanya diuraikan fakta-fakta,
perbuatan-perbuatan dari Terdakwa yang
melanggar
undang-undang
korupsi
dan
kemudian hasilnya ada pencucian uangnya.
Kenapa harus diuraikan? Karena menyangkut
kewenangan pengadilan itu sendiri. Jika tidak
diuraikan berasal dari korupsi, maka pengadilan
tipikor tidak berwenang karena pengadilan ini
hanya berwenang mengadili yang berasal dari
tipikor saja.
b. Ahli Chairul Huda, S.H.,M.H. dalam persidangan
pada tanggal 4 September 2014, menjelaskan:
Di dalam unsur tindak pidana pencucian uang,
harta kekayaan yang ditransaksikan tersebut

- 176 -

harus merupakan harta kekayaan yang diketahui


atau patut diduganya berasal dari tindak pidana
sebagaimana disebut dalam Pasal 2 ayat (1). Jadi
ini sudah menjadi unsur dalam TPPU bahwa
harta kekayaan yang ditransaksikan (transfer,
membayarkan, membelanjakan) adalah harta
kekayan yang diketahui atau patut diduga
sebagai hasil tindak pidana. Kalau dia menjadi
bagian unsur, mestinya tidak perlu dipertanyakan
lagi perlu dibuktikan atau tidak, karena kalau itu
tidak dibuktikan, maka tidak terbuktilah tindak
pidana pencucian uangnya.
Kalau dikaitkan dengan ketentuan lain dalam
TPPU yang dimaksud dalam Pasal 68, bahwa
tindak pidana asal tidak perlu dibuktikan terlebih
dahulu, artinya adalah tidak perlu adanya
putusan pengadilan terlebih dahulu yang
membuktikan tentang tindak pidana predicate
crimenya itu. Tetapi ketika diterapkan ketentuan
tentang
TPPU,
sekurang-kurangnya
dalam
penguraian berkenaan dengan unsur-unsur
dalam TPPU ada tindak pidana asal yang harus
dibuktikan dalam unsur itu, yaitu tindak pidana
sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat 1. Syukursyukur sudah dibuktikan di dalam putusan
perkara lain atau dakwaan yang lain. Jadi kalau
ditanyakan harus dibuktikan ya harus dibuktikan
kalau tidak, maka tidak terbukti TPPU-nya
Mengambil isitlah Prof. Dr. Andi Hamzah, S.H.
beliau menyatakan: bagaimana mungkin mencuci
baju, kalau bajunya belum dibeli.
c. Ahli Prof. Dr. Edward Omar Syarif Hiariej,
S.H.,M.Hum. dalam persidangan pada tanggal 28
Agustus 2014, menjelaskan:
Terkait pencucian uang, menurut ahli kejahatan
asal harus dibuktikan dahulu atau setidaktidaknya kejahatan asal dibuktikan bersamaan
dengan pencucian uang itu. Seandainya saya
didakwa melakukan pencucian uang sebanyak
Rp. 5.000 tetapi uang Rp. 5.000 ini tidak bisa
dibuktikan apakah uang hasil kejahatan atau
bukan hasil kejahatan, maka saya tidak dapat
dikatakan melakukan pencucian uang

- 177 -

Berdasarkan keterangan-keterangan ahli tersebut,


maka predicate crime atau tindak pidana asal harus
dibuktikan
terlebih
dahulu
atau
dibuktikan
bersamaan ataupun setidak-tidaknya tindak pidana
asal diuraikan dalam dakwaan. Tindak pidana asal
merupakan unsur yang harus dibuktikan dalam
TPPU. Dalam hal ini ketentuan Pasal 3 ayat (1)
huruf c UU TPPU Lama, mencantumkan unsur
tindak pidana asal melalui kata Harta Kekayaan,
dimana yang dimaksud Harta Kekayaan adalah harta
kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 ayat (1) UU
TPPU Lama. Dengan demikian, kalau tidak ada
tindak pidana asal, maka tidak ada tindak pidana
pencucian uang.

2. Terdakwa bukan pemilik, pengurus Permai


Group dan Terdakwa tidak mempunyai kaitan
apapun dengan Permai Group
Bahwa hal ini telah kami buktikan secara lengkap
pada uraian analisa yuridis pada Dakwaan Kesatu di
atas (Vide halaman __ s/d __ Nota Pembelaan).
3. Bahwa Terdakwa tidak pernah sekalipun mengikuti
pertemuan-pertemuan
antara
Muhammad
Nazaruddin dan Khalilur R. Abdullah Sahlawiy alias
Lilur atau pertemuan-pertemuan lain, khususnya
pada awal tahun 2010 yang dilakukan di Senayan
City, Nipon Kan Hotel Sultan, Hotel Mulia, Ritz
Carlton Pacific, Ritz Carlton Kuningan dan di Permai
Group, yang membicarakan tentang pengurusan Izin
Usaha Pertambangan (IUP) untuk PT Arina Kota
Jaya. Hal ini telah ditegaskan berdasarkan
keterangan Khalilur R. Abdullah Sahlawiy alias Lilur,
saksi Isran Noor, saksi Bertha Herawaty dan saksi
Wijaya Rahman. Bukan saja tidak pernah mengikuti
pertemuan-pertemuan tersebut, bahkan Terdakwa
tidak pernah mengetahui adanya pertemuanpertemuan tersebut.
Bahwa Penuntut Umum pada halaman 1694 Surat
Tuntutan
menyatakan:
Bahwa
atas
fakta
persidangan tersebut Terdakwa menyatakan tidak
- 178 -

mengetahui dan pengurusan IUP tersebut tidak ada


kaitannya dengan Terdakwa. Namun demikian dari
fakta persidangan terungkap bahwa Khalilur R.
Abdullah Sahlawiy selain memiliki keterikatan
historis sebagai sesama HMI, juga mendirikan PT
Parama Nusantara yang bergerak di bidang
pertambangan dst.
Dengan demikian menjadi jelas kiranya bahwa
mengapa pengurusan IUP PT Arina Kota Jaya
dilakukan oleh Khalilur R. Abdullah Sahlawiy karena
memang memiliki keterikatan historis organisasi
kemahasiswaan dan jenis usaha di bidang
pertambangan dst
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut merupakan
dalil yang mengada-ngada dan tidak benar. Dalil
tersebut tidak dibangun melalui bukti-bukti yang
ditunjukkan dalam proses persidangan, melainkan
dibangun berdasarkan asumsi. Dengan kata lain,
karena Terdakwa mempunyai keterikatan historis
dengan Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, yaitu samasama di HMI dan sama-sama sebagai pemegang
saham PT Parama Nusantara yang bergerak di
bidang pertambangan, maka Penuntut Umum
membuat asumsi atau membentuk opini sepihak
bahwa pasti Terdakwa terlibat dalam pengurusan
IUP PT Arina Kota Jaya melalui Khalilur R. Abdullah
Sahlawiy.
Bahwa dalil Penuntut Umum di atas membuktikan
bahwa
Penuntut
Umum
sama
sekali
tidak
mempunyai bukti apapun atau sama sekali tidak
dapat membuktikan peran dan dimana keterkaitan
Terdakwa dalam pengurusan IUP PT Arina Kota
Jaya. Karena Penuntut Umum tidak mempunyai
bukti apapun tentang keterkaitan Terdakwa dengan
pengurusan IUP PT Arina Kota Jaya, selanjutnya
dengan semangat menghukum dan semangat
mencari-cari
kesalahan,
Penuntut
Umum
memaksakan terbuktinya Dakwaan Ketiga ini
melalui asumsi atau opini sepihak Penuntut Umum
sendiri.
Begitu
pula
usaha
Penuntut
Umum
untuk
mengkaitkan Terdakwa dalam pemenuhan unsur
Dakwaan Ketiga ini melalui SMS antara BBM

- 179 -

Wisanggeni dengan Khalilur R. Abdullah Sahlawiy.


Konten percakapan BBM tersebut ternyata sama
sekali tidak ada kaitannya dengan pengurusan IUP
PT Arina Kota Jaya. Dengan demikian isi/konten
percakapan dalam BBM tersebut bukan alat bukti
yang membuktikan keterkaitan Terdakwa dengan
pengurusan
IUP
PT Arina Kota Jaya.
Uraian ini menunjukkan betapa dipaksakannya
pembuktian unsur-unsur Dakwaan Ketiga oleh
Penuntut Umum. Oleh karenanya, kami mohon agar
Majelis Hakim menolak dalil Penuntut Umum ini.
4. Bahwa Terdakwa bukanlah pemilik pengurus atau
mempunyai keterkaitan dengan PT Arina Kota Jaya
maupun pemilik atau pengurus dari 9 perusahaan
lainnya yang mengajukan IUP tambang batubara di
kabupaten Kutai Timur. Pemilik dari PT Arina Kota
Jaya berdasarkan keterangan saksi Yulianis, saksi
Sharifah, saksi Khalilur R. Abdullah Sahlawiy adalah
Muhammad Nazaruddin. Begitu pula dengan 9
perusahaan lainnya adalah milik Muhammad
Nazaruddin.
5. Bahwa Terdakwa juga tidak mengetahui sama sekali
asal usul harta kekayaan berupa uang yang
dibayarkan
untuk
pengurusan
IUP
PT Arina Kota Jaya. Seluruh pembayaran dilakukan
melalui perusahaan-perusahaan milik Muhammad
Nazaruddin
dan
atas
perintah
Muhammad
Nazaruddin. Hal ini sesuai dengan dalil Penuntut
Umum pada butir 3, halaman 1693 1694 Surat
Tuntutan, yang menguraikan fakta sebagai berikut:
Bahwa benar, untuk keperluan pengurusan IUP
tersebut,
saksi
MUHAMMAD
NAZARUDIN
memerintahkan saksi YULIANIS selaku Wakil
Direktur
Keuangan
Permai
Group
untuk
mengeluarkan
dana
sebesar
Rp.
3.000.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah) dengan
menerbitkan
beberapa
lembar
cek
melalui
KHALILUR R. ABDULLAH SAHLAWIY Alias LILUR
yaitu:
a. 1 (satu) lembar Cek Bank Mandiri Nomor ER
582701
senilai
Rp. 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah)

- 180 -

b. 1 (satu) lembar Cek Bank Mandiri Nomor ER


582705
senilai
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atas
nama PT Berkah Alam Melimpah
c. 1 (satu) lembar Cek Bank Mandiri Nomor ER
582706
senilai
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Bahwa di samping itu dalam persidangan juga
terungkap fakta-fakta sebagai berikut:

Muhammad Nazaruddin yang menyuruh saksi


Berta
Herawati
untuk
mencari
dan
mempersiapkan 10 (sepuluh) perusahaan yang
akan digunakan untuk mengajukan permohonan
IUP di Kutai Timur;
Bahwa setelah perusahaan perusahaan itu di beli
oleh
Muhammad
Nazaruddin,
Muhammad
Nazaruddin menyuruh karyawan-karyawannya
untuk menjadi pengurus dan pemegang saham,
antara lain saksi Syarifah dan saksi Nor
Kashanah
sebagai
pemegang
saham
dan
Pengurus PT Arina Kota jaya (vide keterangan
saksi Syarifah);
Muhammad Nazaruddin yang menyuruh saksi
Yulianis untuk menyiapkan surat permohonan 10
IUP tambang batubara dari 10 perusahaan,
termasuk di dalamnya PT Arina Kota Jaya;
Bahwa dari 3 (tiga) lembar cek yang diberikan
kepada Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, hanya 1
(satu) lembar Cek Bank Mandiri Nomor ER
582705 senilai Rp. 500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah) atas nama PT Berkah Alam
Melimpah yang dapat dicairkan. Sedangkan cekcek lainnya, saksi Muhammad Nazaruddin
memerintahkan saksi Yulianis untuk membuat
laporan kehilangan sehingga cek-cek tersebut
tidak bias dicairkan oleh saksi Khalilur R.
Abdullah Sahlawiy.

Bahwa dari fakta-fakta tersebut di atas, maka


terbukti seluruh pengurusan IUP PT Arina Kota Jaya
dilakukan oleh atau atas perintah Muhammad
Nazaruddin.

- 181 -

Pertanyaan yang sangat mendasar, mengapa


Terdakwa yang didakwa dan dituntut oleh Penunut
Umum?
Kalaupun
Penuntut
Umum
mau
mengenaralisir bahwa seluruh uang yang diperoleh
Permai Group merupakan hasil tindak pidana
korupsi,
mengapa
bukan
saksi
Muhammad
Nazaruddin selaku pemilik Permai Group yang
didakwa dan dituntut. Atau setidak-tidaknya saksi
Muhammad Nazaruddin didakwa dan dituntut
terlebih dahulu sebelum Penuntut Umum mendakwa
dan menuntut Terdakwa. Bukankah fakta-fakta telah
begitu terang benderangnya menguraikan peranan
besar dan perintah-perintah Muhammad Nazaruddin
sehubungan dengan pengurusan IUP PT Arina Kota
Jaya. Fakta tersebut justru berbanding terbalik
dengan
keterkaitan
Terdakwa
dalam
proses
pengurusan
IUP
PT Arina Kota Jaya, namun justru Terdakwalah yang
didakwa dan dituntut.
6. Bahwa dalil Penuntut Umum pada halaman 1695
Surat
Tuntutan,
yang
menyatakan:
Bahwa
berdasarkan ketentuan Pasal 35, Terdakwa wajib
membuktikan bahwa Harta Kekayaannya bukan
merupakan hasil tindak pidana, namun Terdakwa
tidak dapat membuktikan asal usul harta kekayaan
yang berupa uang tersebut, sehingga patut diduga
sebagai hasil dari tindak pidana korupsi berkaitan
dengan pelaksanaan tugas dan wewenang Terdakwa
sebagai anggota DPR R.I.
Bahwa dalil Penuntut Umum tersebut tidak benar,
karena terkait beban pembuktian dalam tindak
pidana pencucian uang, Ahli Dr. Chairul Huda,
S.H.,M.H. telah memberikan penjelasan, sebagai
berikut:
Dalam tindak pidana pencucian uang tidak
menganut pembuktian terbalik murni. Kewajiban
pembuktian tetap ada pada penuntut umum.
Mengapa? Karena tidak diatur mekanisme apa yang
harus diputuskan oleh hakim, ketika terdakwa tidak
bisa membuktikan bahwa asal usul dari harta
kekayaannya bukan berasal dari tindak pidana.
Terdakwa
tidak
mutatis
mutandis
bersalah
melakukan pencucian uang. Penuntut tetap harus
membuktikan itu. Kalau dalam UU menyatakan
- 182 -

bahwa jika tidak bisa dibuktikan maka itu


merupakan tindak pidana, maka barulah dapat
dikatakan pembuktian terbalik. Kalau tidak seperti
itu, berarti bukan pembuktian terbalik dan karenaya
harus dibuktikan oleh penuntut umum. Ini
merupakan pembuktian terbalik terbatas. Kalau
penuntut
umum
tidak
mempunyai
beban
pembuktian maka akan terjadi kesewenang
wenangan.
Bahwa Pasal 35 UU TPPU Lama berbunyi sebagai berikut: Untuk
kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan, Terdakwa wajib
membuktikan bahwa Harta Kekayaannya bukan merupakan hasil tindak
pidana. Berdasarkan pendapat Dr. Chairul Huda, S.H.,M.H., tersebut di
atas, maka Pasal 35 UU TPPU Lama tersebut jelas tidak menerapkan
pembuktian terbalik secara murni, karena pasal tersebut hanya
menyatakan untuk kepentingan pembuktian dan tidak sama sekali
menyatakan jika tidak bisa dibuktikan, maka Terdakwa

terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang.


Dengan demikian Penuntut Umum tetap harus
membuktikan terbuktinya tindak pidana.
Dalil Penuntut Umum tersebut jelas menunjukkan kesewenangwenangan Penuntut Umum dalam menerapkan pembuktian terbalik.

Bahwa di samping itu dalil ini membuktikan adanya


dalil Penuntut Umum yang saling bertentangan,
yaitu antara:

Dalil Penuntut Umum paragraf 2 halaman 1695


yang
menyatakan
membayar
keperluan
penerbitan IUP melalui Permai Group tersebut
diperoleh dari fee proyek-proyek yang dibiayai
APBN yang didapat Permai Group;

Dalil tersebut bertentang dengan dalil Penuntut


Umum

Dalil Penunut Umum paragraf 4 halaman 1695,


yang menyatakan: sehingga patut diduga
sebagai hasil dari tindak pidana korupsi
berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan
wewenang Terdakwa sebagai Anggota DPR R..I.

Dengan kata lain predicate crime atau tindak pidana


asal yang didakwakan kepada Terdakwa terbukti
tidak jelas dan saling bertentangan, apakah tindak
pidana korupsi berupa fee proyek-proyek atau tindak
- 183 -

pidana korupsi yang berkaitan dengan pelaksanaan


tugas dan wewenang Terdakwa sebagai Anggota
DPR R.I.
Bahwa adapun keterangan Muhammad Nazarudin
bahwa PT Arina Kota Jaya merupakan milik Terdakwa,
merupakan
keterangan
sepihak
yang
bersifat
tuduhan, tidak berkesesuaian dan tidak didukung oleh
bukti lain baik saksi atau bukti surat, sebagaimana
diatur dalam KUHAP. Bahwa perlu diketahui bahwa
status
Muhammad
Nazarudin
ternyata
sebagai
Tersangka dalam kasus TPPU di KPK terkait transaksi
semua asset dari keuangan Permai Group sejak
Februari 2012. Adapun pasal yang disangkakan adalah
pasal 3 jo. 4 jo. 6 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010
tentang pemberantasan tindak pidana pencucian Uang.
Dengan
demikian
dapat
dipahami
keterangan
Muhammad Nazarudin tidak dapat dipercaya, karena
saat ini justru Muhammad Nazaruddin berusaha
membangun fakta-fakta untuk menjauhkan keterkaitan
dengan asset Permai Group, termasuk PT Arina Kota
Jaya dengan melempar tuduhan kepada pihak-pihak lain
guna kepentingan pembelaan terhadap dirinya.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka tidak
ada satupun bukti yang saling berkesesuaian yang
membuktikan Terdakwa telah melakukan perbuatan
yang memenuhi unsur Yang dengan sengaja
membayarkan atau membelanjakan harta yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan
hasil hasil tindak pidana, baik perbuatan itu atas
namanya sendiri atau atas nama orang lain,
dengan demikian unsur tersebut tidak terbukti.
3. Analisa Unsur dengan maksud menyembunyikan
atau menyamarkan asal usul harta kekayaan
Bahwa unsur ini merupakan unsur yang menjelaskan
adanya sengaja, dalam hal ini sengaja (dolus) sebagai
maksud. Berdasarkan fakta-fakta yang telah terungkap
dalam persidangan, baik melalui keterangan saksi
maupun alat bukti lainnya, Terdakwa sama sekali tidak
terbukti telah memenuhi unsur dengan maksud
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta
kekayaan. Adapun alasan-alasan yang mendasari
kesimpulan di atas, dapat kami uraikan, sebagai
- 184 -

berikut:
1. Bahwa seluruh dalil-dalil Penuntut Umum pada
bagian analisa yuridis unsur ini, semuanya telah
kami bantah pada analisa yuridis kami pada unsur
sebelumnya, maka bantahan kami pada unsur
sebelumnya mutatis muitandis berlaku untuk
membantah seluruh dalil-dalil Penuntut Umum pada
bagian ini.
2. Bahwa karena tidak ada satupun bukti yang saling
berkesesuaian yang membuktikan Terdakwa telah
melakukan perbuatan yang memenuhi unsur
dengan
sengaja
membayarkan
atau
membelanjakan harta yang diketahuinya atau
patut diduganya merupakan hasil hasil tindak
pidana, baik perbuatan itu atas namanya
sendiri atau atas nama orang lain, sebagaimana
telah kami uraikan di atas, maka Terdakwa sama
sekali
tidak
mempunyai
maksud
untuk
menyembunyikan atau menyamaran asal usul
kekayaan.
4. Bahwa dalil Penuntut Umum pada butir 4 halaman
1698 Surat Tuntutan, yang menyatakan: Bahwa
untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal
usul Harta Kekayaan Terdakwa tersebut, Terdakwa
melakukan pengurusan IUP PT Arina Kota Jaya
melalui Khalilur R. Abdullah Sahlawiy yang
bergerak
di
bidang
pertambangan
dengan
mengeluarkan biaya sebesar Rp. 3.000.000.000,(tiga milyar Rupiah) melalui saksi Muhammad
Nazaruddin dari Group Permai, merupakan dalil
yang tidak benar dan tidak berkesuaian dengan
bukti-bukti
yang
telah
ditunjukkan
dalam
persidangan.
5. Begitu pula dengan dalil Penuntut Umum pada halaman 1698 Surat
Tuntutan, yang menyatakan: Meskipun Terdakwa menyatakan tidak
mengetahui dan tidak ada kaitannya dengan IUP PT Arina Kota Jaya,
namun demikian dari persidangan terungkap bahwa pengurusan IUP
PT Arina Kota Jaya merupakan bentuk transaksi dengan maksud untuk
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan
Terdakwa Anas Urbaningrum, merupakan dalil yang tidak benar dan
menyesatkan.

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi yang


dihadirkan dalam persidangan, telah dibuktikan bahwa
- 185 -

Terdakwa bukan pemilik, pengurus maupun mempunyai


keterkaitan dengan Permai Group maupun PT Arina
Kota Jaya. Dalil Penuntut Umum dengan demikian tidak
didukung bukti, kecuali hanya didasarkan pada
keterangan saksi Muhammad Nazaruddin yang
notabene tidak berkesuaian dengan keterangan saksisaksi lainnya. Di samping itu, sebagaimana uraian kami
sebelumnya, Penuntut Umum hanya membangun
asumsi atau opini sepihak bahwa karena ada
keterkaitan historis antara Terdakwa dengan Khalilur
R. Abdullah Sahlawiy, maka Terdakwa dianggap benar
mempunyai
maksud
menyembunyikan
dan
menyamarkan harta kekayaannya (yang notabene juga
bukan harta kekayaan miliknya) melalui Khalilur R.
Abdullah Sahlawiy tersebut.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka tidak
ada satupun bukti yang saling berkesesuaian yang
membuktikan Terdakwa telah melakukan perbuatan
yang
memenuhi
unsur
dengan
maksud
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul
harta kekayaan, dengan demikian unsur tersebut
tidak terbukti.

IV.

KESIMPULAN DAN PERMOHONAN


Majelis Hakim yang kami muliakan,
Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Rekan-rekan pers dan masyarakat luas yang sangat kami
hargai
.
Dengan mendasarkan pada pembahasan yang telah kami
uraikan di atas, kami sangat berharap bahwa Majelis
Hakim sependapat dengan hal-hal berikut ini:
A.

Kesimpulan
1.

- 186 -

Dakwaan Kesatu

2.

Dakwaan Kedua

3.

Dakwaan Ketiga

B. Permohonan
Majelis Hakim yang kami muliakan,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,
Berdasarkan penjelasan yang telah kami sampaikan
di atas dimana kami telah berusaha se-obyektif
mungkin sesuai dengan hukum dan nilai-nilai
keadilaan,
perkenankanlah
kami
mengajukan
permohonan kepada Majelis Hakim yang kami
muliakan, agar sudilah kiranya demi keadilan
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menjatuhkan
putusan sebagai berikut:
1.

Menyatakan Terdakwa ------- tidak terbukti secara


sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam:

Pasal; dan

Pasal

2.

Membebaskan
Terdakwa
--------dari
segala
tuntutan hukum (vrijspraak) atau setidaktidaknya melepaskan Terdakwa dari segala
tuntutan
hukum
(ontslag
van
alle
rechtsvervolging);

3.

Mengeluarkan Terdakwa dari tahanan Rumah


Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi;

4.

Mengembalikan Barang
kepada Terdakwa ------;

5.

Merehabilitasi harkat, martabat dan nama baik


Terdakwa ------;

6.

Membebankan biaya perkara kepada Negara;


ATAU

- 187 -

Bukti

Nomor

-------

Sekiranya Majelis Hakim berpendapat lain, kami


mohon clemency atau keringanan hukuman.
ATAU
Jika Majelis Hakim lagi-lagi berpendapat lain, kami
mohon agar diberikan putusan yang seadil-adilnya
(ex aequo et bono), demi tegaknya keadilan
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Hormat kami,
Tim Penasihat Hukum ------

Prof. Adnan Buyung


Nasution, S.H.

Pia A.R. Akbar-Nasution,


S.H., LL.M.

M. Sadly Hasibuan, S.H.

Indra Nathan Kusnadi, S.H.,


M.H.

Marlon E. Tobing, S.H.

Aryo Herwibowo, S.T., S.H.,


MMSI.

_____________________

__________________________

_____________________

__________________________

_____________________

__________________________

- 188 -