Anda di halaman 1dari 7

Contoh 16.

3
Sebuah evaporator sirkulasi paksa akan diumpani dengan 6.000 lb/jam
(27.215 kg/jam) larutan soda kauskatik 10% pada suhu 180oF (82,2oC). Cairan pekat
yang dikehendaki ialah NaOH 50%. Evaporator itu menggunakan uap jenuh pada 50
lbf/m2 (3,43 atm) abs, dan suhu kondensasi uap dari efek ketiga ialah 100 oF (37,8 oC).
urutan pengumpanan ialah II,III,I. radiasi dan pendingin lanjut kondensat dapat
diabaikan. Koefien menyeluruh setelah dikoreksi dengan kenaikan titik didih yang
diberikan pada tabel 16-2. Hitunglah :
a.

Permukaan pemanasan yang diperlukan dalam setiap efek, andaikan


permukaan masing-msing efek sama.

b.

Komsumsi uap

c.

Ekonomi uap

Penyelesaian :
Laju evaporasi total dapat dihitung dari neraca bahkan menyeluruh, andaikan
tidak ada zat padat yang hilang paa waktu melalui evaporator (tabel 16-3)
Gambar 16-2 menunjukkan diagram alir dari evaporator ini. Efek pertama,
kedua, dan ketiga ditandai dengan I,II, dan III. Untuk membuat neraca bahan dan
neraca kalor. Umpankan
m

= laju aliran uap

T1, T2, T3

= suhu didih dalam I, II, dan III

Q1, Q2, Q3

= laju perpindahan kalor dalam I,II, dan III

C1, C2, C3

= konsentrasi, fraksi bobot zat padat yang terlarut dalam


cairan, dalam I, II, dan III

= suhu kondensasi uap dari I,II, dan III

Untuk menafsir konsentrasi, dan juga kenaikan titik didih, kita andaikan, pada
permulaan, bahwa laju evaporasi pada setiap efek sama, yaitu 48,000/3 = 16.000.

Tabel 16-2
Koefisien menyeluruh
efek

Btu/ft3jamoF

W/m2 - oC

700

3,970

II

1000

5,680

III

800

4,540

Tabel 16-3
Laju aliran lb/jam
bahan

total

Zat padat

air

Larutan umpan

60.000

6.000

54.000

Cairan pekat

12.000

6.000

6.000

Air dievaporasi

48.000

lb/ jam. Konsentrasi antara, oleh karena itu , adalah


C1

6.000
=0,136
60.00016.000

C3

6.000
=0,214
60.00032.000

Kenaikan titik didih menurut taksiran, dari gambar 16-4 adalah :

48.0000

Efek

II

III

Kenaikan titik didih, oF

76

13

Sebagai pedoman dalam upaya pertama untuk menyebarkan penurunan suhu


antara ketiga eek itu, kita manfaatkan prinsip berikut ini.
Sebagaiman dibahas sebelumnya pada penurunan suhu dari setiap efek
berbanding terbalik dengan koefisien perpindahan-kalor menyeluruh. Demikian
pula, setiap efek yang mempunyai beban tambahan memerlukan jatah beda-suhu
yang lebih besar dari yang lain. Dalam soal ini kita, suhu uap pemanas, ari lampiran
8, adalah 281 oF. penurunan suhu total ialah 281-100 = 181 oF, tetapi penurunan suhu
neto hanyalah 181- (76+7+13) = 85oF. penurunan suhu sebesar inilah yang harus
disebarkan. Penurunan suhu pada efek kedua akan lebih rendah karena koefisiennya
disini tinggi, dan kaerena umpannya panas, beda suhu pada efek pertama akan
sedikit lebih besar dari beda suhu pada efek ketiga, disebabkan adanya perbedaan
koefisien itu. Dari pertimbangan diatas sebagai pengandaian pertama.
Gambar 16-12

T1

= 33oF

T2

= 23 oF

T3

= 29oF

Suhu larutan dalam I (sama dengan suhu uap-cairan panas lanjut yang keluar
dari suhu ) ialah :
T1

= 281 33 = 248oF

Suhu jenuh uap ini ialah T


T2

= 172 23 = 149oF

T2

= 149 7 = 142oF

T3

= 142 29 = 113oF

T3

= 113 13 = 100oF

= 248-76 = 172 oF. dengan cara yang sama

Entalpi dari berbagai arur itu dapat diperkirakan dari gambar 16-8 untuk
larutan, dan dari lampiran 8 untuk uap jenuh. Entalpi uap panas lanjut dapat
diperkirakan dari tabel uap atau dengan mengoreksi entalpi jenuh dengan
mengandaikan kalor spesifik uap sebesar 0.47 btu/lb- oF. uap cairan dari efek yang
satu akan menjadi uap pemanas pada efek berikutnya. Sekarang kitaa dapat
membuat neraca entlpi untuk menghitung luas permukaan yang diperlukan.
Umpamakan laju evaporasi sebenarnya dalam I ialah x, dan II y, dan dalam III
48,000 (x+y). jadi, suhu, entalpi dan laju alirn adalah sebagai dinyatakan dalam tabel
16-4.
Nerca entalpi:
Pada II :
117x- (60.000)(135) = 1126y + 102(60.000-y) + 140x
x- 0,993y

= -1.920

Tabel 16-4
arus

Suhu oF

Suhu jenuh
o
F

Uap
pemanas
Umpan ke I

281

281

Uap hasil
dari I
Kondensat
dari I
Zat cair dari
I
Umpan ke
II
Uap hasil
dari II
Zat cair dari
II
Kondensat
dari II
Uap hasil
dari III
Kondensat
dari III

248

113

Konsentrasi
, fraksi
bobot

0,214
172

281

Entalpi,
Btu/lb

Laju aliran,
lb/jam

1174

67

12.000+x

1171

249

m1

248

0,50

250

12.000

180

0,10

135

60.000

1126

102

60.000-y

140

1111

48.000-x-y

110

149

142

149

0,136

172
113

100

142

Pada III :
1126y + (102)(60.000-y) = 1111(48.000-x-y) + (12.000 + x) 67 + 110y
x + 1,940y
juga,
x-0,993y = -1.920
2,933y = 47.920

= 46.000

y= 16.340 lb/jam
x = 14.300 lb/jam
Laju penguapan dalam III ialah :
48.000 14.300 16.340 = 17.360/jam
Beban kalor :
Q1

(14.300)(1171)+(250)(12.000)-(67)(12.00)+(14.300)=17.983.000
Btu/jam.

Q2

(14.300)(1171-140) = 14.743.000 Btu/jam.

Q3

(16.340)(1126-110) = 16.601.000 Btu/jam.

Luas permukaan ialah :

17,983,000
=778
ft2
700 x 33

A2

14,743,00
=640
ft2
100 x 23

A3

16,601,000
=720
ft2
29 x 800

A1

Luas rata rata = 712 ft2


Oleh karena luas permukan tidak sama, padahal seharusnya sama, maka
konsentrasi penrunn suhu, dan etalpi harus dikoreksi, dan laju evaporasi, beban kalor,
dan luas permukaan perpindahan-kalor harus dihitung lagi sampai didapatkan luas
permukan yang cukup berdektn nilainy satu sama lain. Hasil perhitungan itu terlihat
pada tabel 16-5.
Sehingga :
a.

luas permukaan per efek ialah : 719 ft2 (66.8 m2)

b.

komsumsi uap :

m
=

c.

ekonomi :

17.9220 .000
lb
kg
=19.370
(8.786
)
1174249
jam
jam

48.000
=2,48
19.370

Tabel 16-5 :

arus

Suhu oF

Suhu jenuh
o
F

Uap
pemanas
Umpan ke I

281

281

Uap hasil
dari I
Kondensat
dari I
Zat cair dari
I
Umpan ke
II
Uap hasil
dari II
Zat cair dari
II
Kondensat
dari II
Uap hasil
dari III
Kondensat
dari III

245

113

Konsentrasi
, fraksi
bobot

0,228
170

281

Entalpi,
Btu/lb

Laju aliran,
lb/jam

1174

68

12.000+x

1171

249

246

0,50

250

12.000

180

0,10

135

60.000

1126

102

60.000-y

140

1111

48.000-x-y

110

149

142

149

0,137

170
114
142

100