Anda di halaman 1dari 8

sistem reproduksi pada ikan

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan
sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Tidak setiap
individu menghasilkan keturunan, tetapi setidaknya reproduksi akan
berlangsung pada sebagian besar individu yang hidup dipermukaan bumi ini.
Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung
kondisi lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau kondisi
tertentu setiap tahun.
Ikan memiliki variasi yang luas dalam strategi reproduksi agar
keturunannya mampu bertahan hidup. ada tiga strategi reproduksi yang
menonjol: 1). Memijah hanya bilamana energi cukup tersedia; 2). Memijah
dalam proporsi ketersediaan energi; 3). Memijah dengan mengorbankan
semua fungsi yang lain, jika sesudah itu individu tersebut mati. Oleh karena
itu fisiologi reproduksi sangat penting untuk diketahui karena menghasilkan
banyak faedah yang baik bagi masnyarakat, mahasiswa, maupun instansiinstansi yang terkait dengan pembudidayaan ikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.

B.

Sexualitas
Sebagian besar ikan adalah gonokoristik (dioceous), dimana sepanjang
hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama. Gonokoristik terdiri dari dua
kelompok: 1) Kelompok yang tidak berdiferensiasi artinya pada waktu
juvenile, jaringan gonad dalam keadaan belum dapat diidentifikasi (apakah
jantan atau betina) selanjutnya akan berkembang menjadi ovary atau testis;
2) Kelompok yang berdiferensiasi artinya sejak juvenil sudah Nampak jelas
jenis kelaminnya (jantan atau betina).
Hermaprodit adalah dalam tubuh individu ditemukan dua jenis gonad.
Bila kedua jenis gonad berkembang secara serentak dan mampu berfungsi,
keduanya dapat matang bersamaan atau bergantian maka jenis hermaprodit
ini disebut hermaprodit sirkoni. Hermaprodit potandri, bila pada awalnya
ikan-ikan tersebut berkelamin jantan namun semakin tua akan berubah
kelamin menjadi betina. Juga dikenal dengan istilah hermaprodit protogini
yaitu bila awalnya berkelamin betina namun semakin tua akan berubah
menjadi kelamin jantan. Hermaproditisme ini diatur oleh faktor genetic dan
lingkungan.
Perkembangan Gamet Alat Kelamin Jantan

Alat kelamin jantan meliputi kelenjar kelamin dan saluran


kelamin.Kelenjar kelamin jantan disebut testis. Pembungkus testicular yang
mengelilingi testis, secara luas menghubungkan jaringan-jaringan testis,
membentuk batasan-batasan tabung dari bagian-bagian yang tidak
beraturan dan diameter (lobules) yang mengelilingi germinal epithelium.
Spermatozoa dihasilkan dalam cyste seminiferus yang terletak dalam
tubulus-tubulus pada testis. Cystes seminiferus dikelilingi oleh sel-sel sertoli
yang mempunyai fungsi nutritive, sedangkan pada bagian luar terdapat sel
ledyg yang mempunyai fungsi endokrin yaitu menghasilkan testosterone.
Spermatogenesis
Awal
spermatogenesis
ditandai
dengan
berkembangbiaknya
spermatogonia beberapa kali melalui pembelahan mitosis, untuk memasuki
tahap spermatosit primer. Selanjutnya terjadi pembelahan meiosis, dimulai
dengan kromoson berpasangan, yang diikuti dengan duplikasi membentuk
tetraploid (4n). Satu spermatosis primer tetraploid membentuk dua
spermatosit sekunder yang diploid (2n). satu spermatosit sekonder diploid
membelah diri menjadi dua spermatid haploid (n). selanjutnya terjadi
pematangan spermatid menjadi spermatozoa. Proses dari spermatogonium
sampai menjadi spermaid disebut spermatogenesis selanjutnya mengalami
metamorfosa menjadi sperma. Proses ini disebut spermiogenesis.
Pada akhir spermiogenesis, spermatozoa dilepaskan dari cyste dan
masuk kedalam lumen lobular. Terbentuknya lumen terjadi lebih awal
sehingga masih dijumpai spermatid didalam lumen. Akhirnya lumen akan
berkembang dan diisi oleh spermatozoa, disini tidak ada lagi tahap-tahap
perkembangan sel-sel benih. Spermatozoa berada dalam lobule kira-kira satu
bulan dan beberapa spermatozoa akan mengalami pematangan.
Spermiasi
Proses spermiasi berhubungan dengan pelepasan spermatozoa dari
lumen lobulus masuk ke dalam saluran sperma. Hal ini mungkin disebabkan
karena terjadinya kenaikan tekanan hydrostatic di dalam lobule untuk
mengeluarkan cairan-cairan oleh sel-sel sertoli dibawah rangsangan
gonadotropin. Spermatozoa kemudian didorong ke dalam system
pengeluaran, disini akan bercampur dengan cairan sperma (milt).
Saluran sperma terdiri dari dua bagian: bagian ertama bebatasan
dengan testis, berguna untuk membuka lobule (juxtatesticular part) dan
yang lainnya adalah saluran yang sederhana dimana berhubungan dengan
bagian posterior dari testis ke genital papilla.
Produksi sperma
Pada beberapa ikan, termasuk rainbow trout terdapat siklus
spermatogenesis, dimana semua spermatozoa di dalam testis dihasilkan
dalam satu musim, hal ini berhubungan dengan produksi sperma selama
setahun. Kosentrasi spermatozoa di dalam testis adalah 5.8 x 10 10 per gram
testis, dimana gonado somato indeks (GSI) biasanya berkisar 6-8% atau
kadang-kadang 10% (Billard dkk., 1971 dalam Billard, 1992). Dengan
demikian jumlah spermatozoa bervariasi dari 3.5 4.5 x 10 12 per kg berat

C.

badan.pada ikan atlantik salmon, konsentrasi spermatozoa di dalam testis


adalah 5.5 x 1010 per gram (Kasakov, 1981 dalam Billard, 1992).
Spermatozoa bersifat immotile dalam cairan plasmanya, dan akan
bergerak apabila bercampur dengan air. Pergerakan spermatozoa jarang
berupa garis lurus, biasanya mereka berenang menikung atau mengarah
berbentuk spiral. Gerak progresif secara berkesinambungan hanya terjadi 1
menit setelah bersentuhan dengan air dan hanya 50% yang masih dapat
berenang setelah 3 menit. Sebagian besar spermatozoa ikan air tawar dapat
motil tidak lebih dari 2-3 menit setelah bersentuhan dengan air. Sedangkan
spermatozoa ikan air laut dapat motil lebih lama bahkan ada yang lebih dari
60 menit.
Lamanya spermatozoa motil dipengaruhi oleh umur dan kematangan
spermatozoa, temperature dan factor-faktor lingkungan lain seperti ion-ion,
pH dan osmolalitas. Sedangkan kecepatan bergeraknya tergantung species.
Kemampuan bergerak spermatozoa ditunjang oleh bentuknya yang
terdiri dari kepala, bagian tengah dan ekor. Rata-rata panjang total
spermatozoa ikan teleostei adalah 40-60 dengan panjang kepala hanya 2-3
.
Irama (rytme) pergerakan ekor spermatozoa ikan diatur oleh aktivitas
acetilcholin yang terdapat dalam kepala spermatozoa, sedangkan energy
untuk bergerak diperoleh dari mitochondria yang terdapat pada pangkal
ekor. Pangkal ekor kaya akan plasmalogen, suatu bahan yang mengandung
asam lemak. Asam lemak ini dapat dioksidir sehingga menghasilkan energy.
Tidak seperti spermatozoa mamalia yang berenang mengikuti arus
(aliran), spermatozoa ikan berenang ke arh telur. Arah ini dapat diketahui
karena telur mengeluaran suatu zat yang disebut fertilizin yang befungsi
menarik sperma.
Perkembangan Gamet Alat Kelamin Betina
Gonad ikan betina disebut ovarium. Di dalam ovarium sel telur dibentuk
hasil dari diferensiasi sel-sel germ primordial yang terdapat dalam
epithelium luminal ovary. Perkembangan telur ini disebut oogenesis.
Pertumbuhan oosit adalah proses yang kompleks, secara keseluruhan
merupakan pengumpulan kuning telur. Pertumbuhan awal adalah terjadinya
pelepas hormon gonadotropin (GtH-independent) dan dicirikan dengan
bertambahnya ukuran nucleus, bertambahnya jumlah nucleus dan akumulasi
yang kompleks oleh DNA untuk berbagai struktur dan penimpanan partikelpartikel yang bertanggung jawab untuk pembentukan sel-sel basopil oleh
sitoplasma. Jumlah yang besar dari RNA (5s RNA dan transfer RNA) disimpan
didalam sitoplasma oosit, oleh karena itu embrio akan mempunyai
kemampuan untuk menghasilkan protein dari dirinya sendiri sebagai
cadangan.
Pada tahap vesicle diperkirakan sebagai awal tahap ketergantungan
terhadap hormone gonadotropin (GtA-dependent). Tahap ini dicirikan dengan
terbentuknya vesicle yang akhirnya akan membentuk cortical alveoli, yang
meliputi reaksi kortex dan menyebabkan kejukan osmotic pada fertilisasi.
Vesicle ini tidak mengandung kuning telur yang sebenarnya sehingga istilah

yolk vesicle tidaklah dianjurkan. Tahap ini juga dicirikan dengan dimulainya
pembentukan zona radiate, perkembangan ekstra cellular, dan bakal korion
sel-sel granolosa menjadi coboidal dan sel-sel theca kembali diratakan.
Gonad ikan betina disebut ovarium. Di dalam ovarium sel telur dibentuk
dari hasil diverensiasi sel-sel germ primordial yang terdapat pada epitalium
luminal ovary. Pertumbuhan oosit adalah proses yang kompleks, secara
keseluruhan merupakan pengumpulan kuning telur. Perkembangan telur ikan
secara umum meliputi empat tahap : (1) awal pertumbuhan, (2) tahap
vesicle yolk (3) tahap vitelogenesis dan (4) tahap pematangan.
Tahap pertumbuhan adalah terjadinya pelepasan hormone gonado tropin
dan dicirikan dengan bertambahnya ukuran nucleus, bertambahnya jumlah
nucleus dan akumulasi yang kompleks oleh DNA untuk berbagai struktur dan
penyimpanan partikel-partikel yang bertanggung jawab untuk pembentukan
sel-sel basopil oleh sitoplasma. Pada tahap vesicle diperkirakan sebagai awal
tahap ketergantungan terhadap hormone gonado tropin. Tahap ini dicirikan
dengan terbentuknya pesicle yang akhirnya akan membentuk cortical
alveoli, yang meliputi reaksi korteks dan menyebabkan kejutan osmotic pada
waktu fertilisasi. Vitelogenesis, dicirikan oleh bertambah banyaknya volume
sitoplasma yang berasal dari eksogeneously yang dibentuk dari kuning telur
yang disebut vitelogenin. Vitelogenen disentesis oleh hati dalam
bentuk lipophosphoprotein calcsium kompleks dan hasil mobilisasi lipid dari
lemak visceral. Selama prose vitelogonosis terjadi penambahan pada zona
radiata, perkemabangan endoplasmic yang kurang merata dalam sel-sel
granulosa dan thescha.
Pada tahap akhir dari perkembangan telur adalah tahap pematangan
yaitu tahap peergerakan germinal vesikel ketepi da akhirnya melebur
selanjutnya membentuk pronuklei dan polar bodi II.
Fekunditas
Fekunditas (jumlah folikel yang matang atau telur yang diovulasi)
berbeda-beda tergantung ukuran ikan dan dinyatakan per kg berat badan.
Pada rainbow trout, fekunditas relative untuk ikan ukuran 500 g adalah 400
telur per kg sedangkan yang memiliki ukuran 3 kg memilki fekunditas
2000/kg. fekunditas dapat dipengaruhi factor genetic dan faktor-faktor
lingkunagan termasuk kondisi pemijahan.

D.

Pemijahan dan Pembuahan


Pemijahan di alam dipengaruhi oleh kondisi lungkungan (eksternal)
misalnya : hujan, habitat, oksigen terlarut, daya hantar listrik, cahaya, suhu,
kimia fisika air, waktu (malam hari) dll. Kondisi lingkungan ini akan
mempengaruhi control endokrin untuk menghasilkan hormone-hormon
yangf mendukung proses perkembangan gonad dan pemijahan.
Berdasarkan daerah pemijahan, dikenal dengan adanya ikan : 1)
anadromus, yakni ikan yang hidup diperairan laut da melakuka pemijahan di

daerah hulu sungai,;2) katadromus, yakni ikan yang hidup di sungai dan
melakukan pemijahan di samudra (laut); 3) protodromus, yakni ikan yang
hidup diperairan tawar dan melakukan pemijahan di perairan tawar; 4)
oceanodromus, ikan yang hidup di perairan laut dan memijah di perairan
yang sama.
Sebagian ikan mengeluarkan telur yang lebih berat dari air, sehingga
telur akan tenggelam, akan tetapi banyak juga ikan yang mengeluarkan telur
yang bersifat planktonik. Telur-tekur pada sebagian spesies ikan ada yang
hanyut, bebas dan adapula yang melekat diantara satu dengan yang lainnya,
atau melekat pada tumbuh-tumbuhan , batu, pasir, dan kayu yang terapung.
Berdasarkan melekatnya telur maka di bagi : 1) pelagophyl, yakni telurtelur ikan hanyut dengan bebas dan melekat pada batuan; 2) litipelagophyl,
telur yang dilekatkan di atas batu-batuan; 3) litophyl, telur disimpan di atas
batuan dan larva ditinggalkan di atas perairan; fitolitophyl , telur yang
dilekatkan pada tumbuh-tumbuhan, kayu-kayuan, dan bahan lain yang
terapung dan tenggelam di dasar perairan; dan 5) psamophyl, telur-telur
yang dilekatkan di atas pasir.
Perangsangan pemijahan secara buatan dewasa ini banyak di lakukan,
yaitu dengan menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai dengan kondisi di
alam sebagai persyaratan untuk pemijahan. Untuk merangsang pemijahan
walaupun denga kondisi yang kurang tepat maka dapat diupayakan dengan
menyuntikannya dengan ekstrak hipofisa atau HCG. 1 kg ikan resiplen betina
membutuhksn ikan donor 2 kg, bila menggunakan tepung hipofisa dibutuhkn
24 mg/kg induk (jantan) dan 28 mg/kg induk (betina).
Telur-telur yang kelewat matang akibat pemijahan tertunda karena kondisi
lingkungan yang kurang mendukung yang mengakibatkan protein telur
mengalami denaturasi sehingga walaupu akhirnya dikeluarkan, telur-telur
tersebut biasanya gagal untuk berkembang. Pembuahan adalah bersatunya
oosit (telur) dengan sperma membentuk sigot. Fase pembuahan tersebut
dapat di bagi menjadi dua tahap yaitu : 1) fase primer, terjadinya kontak
antara sperma dan telur,; 2) fase sekunder, yakni proses terjadinya antara
gamet jantan dan telur.
Proses pembuahan pada ikan bersifat monospermik. Yakni hanya satu
spermatozoa yang membuahi sel telur. Pada pembuahan ini terjadi
percampuran inti sel telur dan inti sperma. Kedua inti ini masing-masing
mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu sel (haploid).
Ada beberapa hal yang mendukung berlangsungnya pembuaha dengan
baik yaitu spermatozoa yang tadinya tidak bergerak dalam cairan
plasmanya, akan bergerak setelah bersentuhan dengan air dan dengan
bantuan ekornya dia akan bergerak kea rah telur. Perbedaan tekanan air
osmosa air lingkungan dengan cairan fisiologi sperma dalam tubuh akan
merangsang spermatozoa akan bergerak dan zat gymnogamon 1 atau
fertilizin yang dihasilkan oleh sel telur akan menarik spermatozoa bergerak
menuju sel telur tersebut.
Berjuta-juta spermatozoa dikeluarkan pada saat pemijahan dan
menempel pada sel telur tetapi hanya satu yang dapat melewati mikrofil,

satu-satunya lubang yang masuk spermatozoapada sel telur. Kepala


spermatozoa menerobos mikrofit dan bersatu dengan inti sel telur,
sedangkan ekornya tertinggal pada saluran mikrofit tersebut, dan berfungsi
sebagai sumbat untuk mencegah spermatozoa yang lain masuk. Cara lain
yang digunakan sel telur untuk mencegah sperma lain masuk adalah
terjadinya reaksi kortikal sehingga mikrofit menjadi lebih sempit.
Spermatozoa lain yang berlumpuk pada saluran ikrofit aka didorong
keluar oleh reaksi korteks, demikian juga halnya spermatozoa yang melekat
pada permukaan korion harus disingkirka karena akan mengganggu proses
pernapasan. Sebelum dikeluarkan , selaput pembungkus telur (korin) kurang
tegang dan terdiri dari kantong-kantong orteks. Sesuadah dikeluarkan dan
menyentuh air maka terbentuklah ruang perifitelin yaitu celah antara lapisan
korion dan lapisan vitelin yang diakibatkan oleh masuknya air yang berfungsi
memudahkan sperma masuk. Selanjutnya terjadi reaksi kortikal, yaitu
kantung-kantung korteks pecah dan butiran-butiran korteks meloncat keluar
dan mendorong sperma yang melekat pada permukaan korion.

E. Perkembagan Embrio
Pembelahan Sel Zigot (Cleavage)
Sesaat setelah terjadinya pembuahan, sel zigot akan melakukan
pembelahan mitosis terus menerus secara cepat, sehingga terbentuk
blastomer yang berbentuk morula. Pembelahan sel zigot pada ikan
umumnya adalah tipe meroblastik (partial), walaupun ada juga holoblastik
(total). Kedua tipe tersebut ditentukan oleh banyaknya kunig telur dan
penyebarannya.
Pada pembelahan holoblastik ada dua tipe pembelahan yaitu pembelahan
sempurna(equal) dan pembelahan yang tidak sempurna (unequal). Pada
pmbelaha sempurna sel-sel anak yang terbentuk relative sama besar,
sedangkan pada pembelahan yang tidak sempurna, sel-sel anak yang
dihasilkan pada kutub anuimal berukuran lebih kecil dari pada yang disekitar
kutub vegetatif, dimana terdapat banyak kuning telur.
Blastulasi
Proses pembentukan blastula disebut blastulasi, dimana kelompok sel-sel
anak hasil pembelahan benrbentuk benda yang relatif bulat dan ditengahnya
terdapat rongga. Pada blastula sudah terdapat daerah yang akan
berdiferensiasi membentuk organ-organ tertentu seperti sel-sel saluran
pencernaan, notochorda, syaraf, epidem,ectoderm, mesoderm, dan
endoderm.
Gastrulasi
Gastrulasi adalah proses pembentukan tiga daun kecambah yaitu
ectoderm, mesoderm, dan endoderm. Proses ini umumnya sama bagi ikan
yang pembelahan telurnya meroblastik. Gastrulasi ini erat hubungannya
dengan pembentukan system sayaraf (neurolasi) sehingga merupakan
periode kritis. Pada proses gastrulasi, terjadi pergerakan masssa sel, yakni

epiboli dan emboli. Epiboli meliputi pergerakan sepanjang sumbu anteroposterior dan meluas ke tepi (divergensi). Sedangkan geraka epiboli
disebelah luar, diikuti oleh gerakan disebelah dalam embrio (gerakan
eksistensi).
Gastrulasi pada ikan teleostei akan berakhir pada saat masa kuning telur
telah terbungkus seluruhnya. Selama proses ini beberapa jaringan
mesoderm yang berada sepanjang kedua sisi notokorda disusun menjadi
segmen-segmen yang disebut somit sampai akhirnya terbentuk badan
hewan bertulang punggung yang primitif.
Organogenesis
Organogenesis adalah proses pembentukan alat-alat tubuh mahluk yang
sedang berkembang. System organ tubuh berasal dari 3 daun kecambah
yakni ektoderm akan terbentuk system saraf dan epidermis kulit, entoderm
akan terbentuk saluran pencernaan beserta kelenjar-kelenjar pencernaan
dan alat pernafasan sedangka dari mesoderm akan terbentuk rangka, otot,
system peredaran darah, ekskresi, alat reproduksi dan korium kulit.
Mesodermal badan segera terbagi menjadi dorsal, intermediate dan
lateral. Mesoderm dorsal terbagi menjadi kelompok-kelompok somit. Tiap
somit terbagi menjadi 3 bagian yaitu skelerotom, myotom, dan mermatom.
Skelerotom membentuk rangka axial, myotom berkembang menjadi otot
tubuh, rangka apendicular, sirip dan otot-ototnya. Dermatom berkembang
menjadi jaringan-jaringan ikat dermis kulit dan derivat-derivat kulit.
F.

Penetasan
Penetasan adalah suatu proses perubahan dalam siklus hidup suatu
hewan dari bentuk intracapsular menjadi bentuk hidup yang bebas.
Mekanisme penetasan ini secara umum terbagi dua tipe yaitu secara
mekanik dan enzimatik. Pada hewan-hewan akuatik, selain melalui proses
mekanik yaitu melalui gerakan ekor embrio, juga dibantu oleh adanya
partisipasi enzim yang berfungsi melunakkan karion. Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya penetasan yaitu keberadaan oksigen,
temperatur dan cahaya.
Beberapa percobaan menunjukkan bahwa akibat kekurangan oksigen
mampu menstimulasi aktivitas pernapasan dari embrio, dan nampaknya ada
keterkaitan antara aktivitas pernapasan embrio dan penetasan. Temperature
juga merupakan faktor lingkungan yang penting dalam proses penetasan.
Peningkatan temperature juga dapat menstimulasi sekresi enzim penetasan.
Sekali enzim diekskresi, maka pencernaan karion menjadi lebih cepat pada
temperatur tinggi dibandingkan temperatur rendah, menyebabkan
penetasan lebih cepat. Faktor lingkungan lain yag diduga mempengaruhi
penetasan ialah cahaya. Pada faktor ini Nampak bahwa sekresi enzim
penetasan dikontrol oleh stimulasi fotoreseptor (mata dan atau kelenjar
pineal), mungkin melalui system saraf pusat.
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi sekresi enzim penetasan
pada ikan. Efinefrin dan MS-222 dengan konsentrasi rendah mampu
mempercepat sekresi enzim penetasan pada embrio fundulus sedangkan

tubocurarine, atropine, dan MS-222 dengan konsentrasi tinggi mampu


menghambat sekresi.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan telur ikan secara umum meliputi empat tahap : (1) awal
pertumbuhan, (2) tahap vesicle yolk (3) tahap vitelogenesis dan (4) tahap
pematangan.
DAFTAR PUSTAKA
http://fpik.bunghatta.ac.id/files/downloads/E-book/Sistem%20Organ
%20Ikan/bab_4_sistem__rangka.pdf
http://ekahariani.blogspot.com/2010/10/sitem-rangka.html
http://www.scribd.com/doc/50797871/Sistem-Rangka-Ikan14
Diposkan 27th April 2013 oleh achil vansolang