Anda di halaman 1dari 12

TUGAS KHUSUS

THEORY OF DISEASE
Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
menyababkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang
dipengaruhinya. Penyakit bersifat objektif, sedangkan rasa sakit bersifat subjektif.
Seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasa sakit, sebaliknya tidak
jarang ditemukan seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasa sakit,
sebaliknya tidak jarang ditemukan seseorang yang mengeluh sakit padahal tidka
ditemukan penyakit apapun pada dirinya.
Sakit juga dapat diartikan sebagai kegagalan dari mekanisme adaptasi suatu
organisme untuk bereaksi secara tepat terhadap rangsangan dan tekanan sehingga
timbul pada gangguan pada sistem dan fungsi dari tubuh. Definisi sakit sendiri
senantiasa mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan dan perkembangan
zaman serta IPTEK.
Pengertian penyebab penyakit dalam epidemiologi brkembang dari rantai
sebab akibat ke suatu proses kejadian penyakit, yakni proses interaksi antara
manusia (pejamu) dengan berbagai sifatnya, (biologis, fisiologis, psikologis,
sosiologis, dan antropologis) dengan penyabab (agent) serta dengan lingkungan
(environment). Pengertian penyebab penyakit dalam epidemiologi berkembang
dari rantai sebab akibat ke suatu proses kejadian penyakit, yakni proses interaksi
antara
1. manusia (pejamu) dengan berbagai sifatnya (biologis, fisiologis, psikologis,
sosiologis, antropologis) dengan penyebab (agent) serta dengan lingkungan
(environment).
2. Agen: Suatu faktor yang harus hadir untuk suatu penyakit agar penyakit itu
terjadi, contoh: Virus influensa adalah agen influenza.
3. Keadaan lingkungan (environment) juga menentukan apakah transmisi efektif
penyakit dapat terjadi dalam situasi tertentu.
Dalam teori keseimbangan, maka interaksi ketiga unsur tersebut harus
dipertahankan

keadaan

keseimbangannya,

dan

bila

terjadi

gangguan

keseimbangan antara ketiganya akan menyebabkan timbulnya penyakit tertentu.


1. Teori Terjadinya Penyakit

1.1. Teori Contagion


Menurut teori ini penyakit terjadi karena proses kontak atau bersinggungan
dengan sumber penyakit. Pada masa ini telah ada pemikiran konsep penularan
yang berawal dari pengamatan terhadap penyakit kusta di Mesir.Teori ini tentu
dikembangkan berdasarkan situasi penyakit pada masa itu di mana penyakit yang
melanda kebanyakan adalah penyakit menular yang terjadi karena adanya kontak
langsung. Konsep itu dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553).
Teorinya menyatakan bahwa penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain
melalui zat penular (transference) yang disebut kontagion. Fracastoro
membedakan tiga jenis kontagion, yaitu:
1. Jenis kontagion yang dapat menular melalui kontak langsung, misalnya
bersentuhan, berciuman, hubungan seksual
2. Jenis kontagion yang menular melalui benda-benda perantara (benda
tersebut tidak tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian
menularkan pada orang lain) misalnya melalui pakaian, handuk, sapu
tangan.
3. Jenis kontagion yang dapat menularkan pada jarak jauh
Pada mulanya teori kontagion ini belum dinyatakan sebagai jasad renik atau
mikroorganisme yang baru karena pada saat itu teori tersebut tidak dapat diterima
dan tidak berkembang. Tapi penemunya, Fracastoro, tetap dianggap sebagai salah
satu perintis dalam bidang epidemiologi meskipun baru beberapa abad kemudian
mulai terungkap bahwa teori kontagion sebagai jasad renik. Karantina dan
kegiatan - kegiatan epidemik lainnya merupakan tindakan yang diperkenalkan
pada zaman itu setelah efektivitasnya dikonfirmasikan melalui pengalaman
praktek.
1.2. Teori Hipocrates
Hipocrates berpendapat bahwa sakit bukan disebabkan oleh hal-hal yang
bersifat supranatural tetapi ada kaitannya dengan elemen-elemen bumi, api, udara,
air yang dapat menyababkan kondisi dingin, kering, panas dan lembab. Kondisi
ini dapat berpengaruh pada cairan tubuh, darah, cairan empedu kuning dan
empedu hitam. Pada zaman ini hipocrates telah menghubungkan antara kejadian

sakit dengan faktor lingkungan. Ia mengemukakan teori tentang sebab musabab


penyakit, yaitu bahwa.
1. Penyakit terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup, dan
2. Penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang.
Teori itu dimuat dalam karyanya berjudul On Airs, Waters and Places.
Hippocrates juga merujuk dan memasukkan ke dalam teorinya apa yang
sekarang disebut sebagai teori atom, yaitu segala sesuatu yang berasal dari
partikel yang sangat kecil. Teori ini kemudian dianggap tidak benar oleh
kedokteran modern. Menurut teorinya, tipe atom terdiri dari empat jenis; atom
tanah (solid dan dingin), atom udara (kering), atom api (panas), atom air (basah).
Selain itu ia yakin bahwa tubuh tersusun dari empat zat: flegma (atom tanah dan
air), empedu kuning (atom api dan udara), darah (atom api dan air) dan empedu
hitam

(atom

tanah

dan

udara).

Penyakit

dianggap

terjadi

akibat

ketidakseimbangan cairan sementara demam dianggap terlalu banyak darah.


Teori ini mampu menjawab masalah penyakit yang ada pada waktu itu dan
dipakai hingga tahun 1800-an. Kemudian ternyata teori ini tidak mampu
menjawab tantangan berbagai penyakit infeksi lainnya yang mempunyai rantai
penularan yang lebih berbelit-belit. Hipocrates (460-377 SM), yang dianggap
sebagai Bapak Kedokteran Modern, telah berhasil membebaskan hambatanhambatan filosofis pada zaman itu yang bersifat spekulatif dan superstitif
(tahayul) dalam memahami kejadian penyakit.
Teori Hipocrates menyatakan bahwa sebuah penyakit terjadi karena faktor
lingkungan seperti udara, tanah, cuaca dan air. Bapak kedokteran dunia,
Hipocrates berhasil membebaskan hambatan filosofis yang bersifat spekulatif
superstitif (tahayul) dalam mengartikan terjadinya penyakit pada zamannya.
Hipocrates menyebutkan 2 teori asal terjadinya penyakit yaitu, pertama, penyakit
terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup, dan kedua, penyakit berkaitan
dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang.
Hipocrates merupakan orang yang sama sekali tidak mempercayai hal-hal
yang berbau tahayul, ia meyakini bahwa penyakit terjadi karena proses alamiah
belaka. Hippocrates mengatakan bahwa penyakit timbul karena pengaruh

Iingkungan terutama: air, udara, tanah, cuaca (tidak dijelaskan kedudukan


manusia dalam Iingkungan).
Yang melatarbelakangi timbulnya pernyataan tersebut yaitu karena di Yunani
pada saat itu terjadi banyak penyakit menular dan menjadi epidemik dan saat
menyaksikan pasiennya meninggal, ia sangat frustasi dan putus asa sebagai
seorang dokter. Kemudian ia pun melakukan observasi tentang penyebab dan
penyebaran penyakit di populasi. Hippocrates belajar mengenai penyakit
menggunakan tiga metode ; Observe, Record, dan Reflect.
Hippocrates melakukan pendekatan deskriptif sehingga ia benar-benar
mengetahui kondisi lingkungannya. Ia kemudian mempelajari tentang istilah
prepatogenesis, yaitu faktor yang mempengaruhi seseorang yang sehat sehingga
bisa menjadi sakit. Metode yang digunakan Hippocrates adalah metode induktif,
artinya data yang sekian banyak ia dapatkan, ia kumpulkan dan diolah menjadi
informasi. Informasi ini kemudian dikembangkan menjadi hipotesis.
Penyakit dianggap terjadi akibat ketidakseimbangan cairan sementara
demam dianggap terlalu banyak darah. Hipocrates sudah dikenal sebagai orang
yang tidak pernah percaya dengan tahayul atau keajaiban tentang terjadinya
penyakit pada manusia dan proses penyembuhannya. Dia mengatakan bahwa
masalah lingkungan dan perilaku hidup penduduk dapat mempengaruhi
tersebarnya penyakit dalam masyarakat. Yang dianggap paling mengesankan dari
faham atau ajaran Hipocrates ialah bahwa dia telah meninggalkan cara-cara
berfikir mistis-magis dan melihat segala peristiwa atau kejadian penyakit sematamata sebagai proses atau mekanisme yang alamiah belaka. Contoh kasus dari teori
ini adalah perubahan cuaca dan lingkungan yang merupakan biang keladi
terjadinya penyakit.
1.3. Teori Humoral
Dikenal dalam kehidupan masyarakat China yang beranggapan bahwa
penyakit disebabkan oleh gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Dikatakan
bahwa dalam tubuh manusia terdapat empat macam cairan yaitu putih, kuning,
merah dan hitam. Bila terjadi ketidakseimbangan akan menyebabkan penyakit,
tergantung dari jenis cairan yang dominan.

1.4. Teori Miasma


Kira-kira pada awal abad ke-18 mulai muncul konsep miasma sebagai dasar
pemikiran

untuk

menjelaskan

timbulnya

wabah

penyakit.

Konsep

ini

dikemukakan oleh Hippocrates. Miasma atau miasmata berasal dari kata Yunani
yang berarti something dirty (sesuatu yang kotor) atau bad air (udara buruk).
Miasma dipercaya sebagai uap yang dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup yang
mengalami pembusukan, barang yang membusuk atau dari buangan limbah yang
tergenang, sehingga mengotori udara, yang dipercaya berperan dalam penyebaran
penyakit. Contoh pengaruh teori miasma adalah timbulnya penyakit malaria.
Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang artinya udara yang busuk.
Pada masa yang lalu malaria dianggap sebagai akibat sisa-sisa pembusukan
binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim di
dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk
tersebut.
Pada waktu itu dipercaya bahwa bila seseorang menghirup miasma, maka ia
akan terjangkit penyakit. Tindakan pencegahan yang banyak dilakukan adalah
menutup rumah rapat-rapat terutama di malam hari karena orang percaya udara
malam cenderung membawa miasma. Selain itu orang memandang kebersihan
lingkungan hidup sebagai salah satu upaya untuk terhindar dari miasma tadi.
Walaupun konsep miasma pada masa kini dianggap tidak masuk akal, namun
dasar-dasar sanitasi yang ada telah menunjukkan hasil yang cukup efektif dalam
menurunkan tingkat kematian.
Dua puluh tiga abad kemudian, berkat penemuan mikroskop oleh Anthony
van Leuwenhoek, Louis Pasteur menemukan bahwa materi yang disebut miasma
tersebut sesungguhnya merupakan mikroba, sebuah kata Yunani yang artinya
kehidupan mikro (small living) Penyakit timbul karena sisa dari mahluk hidup
yang mati membusuk, meninggalkan pengotoran udara dan lingkungan. Pada
zaman itu orang percaya bila seseorang menghirup miasma atau uap busuk tadi
maka ia akan terjangkit penyakit.
Sebagai pencegahannya rumah-rumah dianjurkan ditutup rapat terutama
pada malam hari dan tidak banyak keluar malam karena dipercaya miasma
muncul terutama pada waktu malam. Selain itu masyarakat juga percaya bahwa

miasma dapat dihalau atau diatasi dengan jalan membakar ramuan/ kemenyan
(dupa) dan bisa juga diusir dengan bunyi-bunyian keras seperti bel gereja, bedug,
petasan, dan lain - lain. Pada zamannya teori miasma lebih dipercaya dan dapat
diterima daripada teori contagion yang dicetuskan oleh Fracastoro karena uap
busuk lebih bisa diamati dan tercium baunya.
1.5. Teori Jasad Renik (Germ Theory)
Penemuan-penemuan di bidang mikrobiologi dan parasitologi oleh Louis
Pasteur (1822-1895), Robert Koch (1843-1910), Ilya Mechnikov (1845-1916) dan
para pengikutnya merupakan era keemasan teori kuman. Para ilmuwan tersebut
mengemukakan bahwa mikroba merupakan etiologi penyakit. Louis Pasteur
pertama kali mengamati proses fermentasi dalam pembuatan anggur. Jika anggur
terkontaminasi kuman maka jamur mestinya berperan dalam proses fermentasi
akan mati terdesak oleh kuman, akibatnya proses fermentasi gagal. Proses
pasteurisasi yang ia temukan adalah cara memanasi cairan anggur sampai
temperatur tertentu hingga kuman yang tidak diinginkan mati tapi cairan anggur
tidak rusak.
Temuan yang paling mengesankan adalah keberhasilannya mendeteksi virus
rabies dalam organ saraf anjing, dan kemudian berhasil membuat vaksin anti
rabies. Atas rintisan temuan-temuannya memasuki era bakteriologi tersebut, Louis
Pasteur dikenal sebagai Bapak dari Teori Kuman. Robert Koch juga merupakan
tokoh penting dalam teori kuman. Temuannya yang paling terkenal dibidang
mikrobiologi adalah Postulat Koch yang terdiri dari:
1. Kuman harus dapat ditemukan pada semua hewan yang sakit, tidak pada
yang sehat,
2. Kuman dapat diisolasi dan dibuat biakannya,
3. Kuman yang dibiakkan dapat ditularkansecara sengaja pada hewan yang
sehat dan menyebabkan penyakit yang sama
4. Kuman tersebut harus dapat diisolasi ulang dari hewan yang diinfeksi
Jasad renik (germ) dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit yang
berkembang setelah ditemukannya mikroskop. Suatu kuman ( mikroorganisme)
ditunjuk sebagai kausa penyakit.Teori ini sejalan dengan kemajuan di bidang
teknologi kedokteran,ditemukannya mikroskop yang mampu mengidentifikasi

mikroorganisme. Kuman dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit.Namun


selanjutnya ternyata teori ini mendapat tantangan karena sulit diterapkan pada
berbagai

penyakit

kronik,misalnya

penyakit

jantung

dan

kanker,yang

penyebabnya bukan kuman.


1.6. Teori Multiklausa
Disebut juga sebagai konsep multifaktorial di mana teori ini menekankan
bahwa

suatu

penyakit

terjadi

sebagai

hasil

dari

interaksi

berbagai

faktor.Misalnya,faktor interaksi lingkungan yang berupa faktor biologis,kimiawi


dan sosial memegang peranan dalam terjadinya penyakit. Sebagai contoh, infeksi
tubekulosis paru yang disebabkan oleh invasi mycobacterium tuberkulosis pada
jaringan paru, tidak dianggap sebagai penyebab tunggal terjadinya TBC.
Disini TBC tidak hanya terjadi sebagai akibat keterpaparan dengan kuman
TBC semata, akan tetapi secara multifaktorial berkaitan dengan faktor
genetik,malnutrisi,kepadatan penduduk dan derajat kemiskinan.Demikian pula
halnya dengan kolera yang disebabkan oleh tertelannya vibrio kolera ditambah
dengan beberapa (multi) faktor risiko lainnya. Kepekaan penjamu meningkat oleh
keterpaparan berbagai faktor: malnutrisi, perubahan padat, kemiskinan,dan
genetik. Dalam kondisi demikian seorang menelan Vibrio cholera selama terpapar
dengan air tidak bersih,yang dilanjutkan dengan pengeluaran toksin. Kolera yang
meracuni lambung sehingga terjadilah diare.
1.7.
1.7.1. Model Gordon

Teori Ekologi Lingkungan

Teori yang dikembangkan oleh John Gordon ini menggambarkan hubungan


3 komponen penyebab penyakit yaitu host, agen dan lingkungan (dibentuk
segitiga). Agen merupakan entitas yang diperlukan untuk mengakibatkan penyakit
pada host yang rentan. Agen dapat bersifat biologis (parasit, bakteri, virus), juga
dapat bersifat bahan kimia (racun, alkohol, asap), fisik (trauma, radiasi,
kebakaran), atau gizi (defisiensi, kelebihan). Agen memiliki sifat, pertama,
infektivitas yaitu kemampuan agen untuk mengakibatkan infeksi pada host yang
rentan, kedua, patogenitas yaitu kemampuan agen untuk menyebabkan penyakit

pada host, dan ketiga virulensi yaitu kemampuan agen untuk menimbulkan berat
ringan suatu penyakit pada host.
Host merupakan manusia atau organisme yang rentan oleh adanya agen.
Faktor internal host meliputi umur, jenis kelamin, ras, agama, adat pekerjaan dan
profil genetik. Lingkungan adalah kondisi atau faktor berpengaruh yang bukan
bagian dari agen atau host, tetapi dapat mendukung masuknya agen ke dalam host
dan menimbulkan penyakit. Dalam pandangan epidemiologi klasik dikenal
segitiga epidemiologi Konsep ini bermula dari upaya untuk menjelaskan proses
timbulnya penyakit menular dengan unsur-unsur mikrobiologi yang infeksius
sebagai agen, namun selanjutnya dapat pula digunakan untuk menjelaskan proses
timbulnya penyakit tidak menular dengan memperluas pengertian agen.
Manusia berinteraksi dengan berbagai faktor penyebab dalam lingkungan
tertentu. Pada keadaan tertentu akan menimbulkan penyakit. Teori ini secara lebih
luas membahas tentang penyebab penyakit yang menghubungkan antara sumber
penyakit, penderita dan lingkungannya. Model tradisional epidemiologi atau
segitiga epidemiologi dikemukakan oleh Gordon dan La Richt, menyebutkan
bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia dipengaruhi oleh tiga faktor
utama yaitu host, agent, dan environment. Gordon berpendapat bahwa ada tiga
penyebab terjadinya penyakit, yaitu.
1. Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan
manusia (host)
2. Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan karakteristik
agent dan host (baik individu maupun kelompok)
3. Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi
tersebut akan berhubungan langsung pada keadaan alami dari lingkungan
(lingkungan sosial, fisik, ekonomi, dan biologis).
Interaksi di antara tiga elemen tadi akan terlaksana karena adanya faktor
penentu pada setiap elemen. Model ini mengatakan bahwa apabila pengungkit tadi
berada dalam keseimbangan, maka dikatakan bahwa masyarakat berada dalam
keadaan sehat. Sebaliknya, apabila resultan daripada interaksi ketiga unsur tadi
menghasilkan keadaan tidak seimbang, maka didapat keadaan yang tidak tidak
sehat atau sakit. Model Gordon ini selain memberikan gambaran yang umum

tentang penyakit yang ada di masyarakat, dapat pula digunakan untuk melakukan
analisis, dan mencari solusi terhadap permasalahan yang ada

Gambar 1. Segitiga epidemiologik pada model Gordon


(Sumber : Blogspot, 2014)

1.7.2. The Wheel of Causation (Teori Roda)


Model ini menggambarkan hubungan manusia dan lingkungannya sebagai
roda. Roda tersebut terdiri atas manusia dengan substansi genetik pada bagian
intinya dan komponen lingkungan biologi, sosial, fisik mengelilingi pejamu.
Ukuran komponem roda bersifat relatif, tergantung problem spesifik penyakit
yang bersangkutan. Contoh pada penyakit herediter tentunya proporsi inti genetik
relatif besar, sedang penyakit campak status imunitas pejamu dan biologik lebih
penting daripada faktor genetik. Peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang
lainnya dalam hal stres mental, sebaliknya pada penyakit malaria peran
lingkungan biologis lebih besar.
Seperti halnya dengan model jaring-jaring sebab akibat, model roda
memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya
penyakit dengan tidak begitu menekankan pentingnya agen. Di sini dipentingkan
hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari
masing-masing lingkungan bergantung pada penyakit yang bersangkutan.
Teori ini merupakan pendekatan lain untuk menjelaskan hubungan antara
manusia dan lingkungan. Roda terdiri daripada satu pusat (pejamu atau manusia)
yang memiliki susunan genetik sebagai intinya. Disekitar pejamu terdapat
lingkungan yang dibagi secara skematis ke dalam 3 sektor yaitu lingkungan
biologi, sosial dan fisik.

Besarnya komponen-kompenen dari roda tergantung kepada masalah


penyakit tertentu yang menjadi perhatian kita. Untuk penyakit-peyakit bawaan
(herediter) inti genetik relatif lebih besar. Untuk kondisi tertentu seperti campak,
inti genetik relatif kurang penting oleh karena keadaan kekebalan dan sektor
biologi lingkungan yang paling berperanan. Pada model roda, mendorong
pemisahan perincian faktor pejamu dan lingkungan, yaitu suatu perbedaan yang
berguna untuk analisa epidemiologi.

Gambar 2. Model Roda


(Sumber : Blogspot, 2015)

1.7.3. The Web of Causation (Jaring-jaring Sebab Akibat)


Teori jaring-jaring sebab akibat ini ditemukan oleh Mac Mohan dan Pugh
(1970). Teori ini sering disebut juga sebagai konsep multi factorial. Dimana teori
ini menekankan bahwa suatu penyakit terjadi dari hasil interaksi berbagai faktor.
Misalnya faktor interaksi lingkungan yang berupa faktor biologis, kimiawi dan
sosial memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit.
Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah
keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya
penyakit yang bersangkutan. Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung
pada satu sebab yang berdiri sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian
proses sebab dan akibat. Dengan demikian maka timbulnya penyakit dapat
dicegah atau dihentikan dengan memotong mata rantai pada berbagai titik.
Model ini cocok untuk mencari penyakit yang disebabkan oleh perilaku
dan gaya hidup individu. Contoh: Jaringan sebab akibat yang mendasari penyakit
jantung koroner (PJK) dimana banyak faktor yang merupakan menghambat atau
meningkatkan perkembangan penyakit. Beberapa dari faktor ini instrinsik pada

pejamu dan tetap (umpama LDL genotip), yang lain seperti komponen makanan,
perokok, inaktifasi fisik, gaya hidup dapat dimanipulasi.

Gambar 3. Contoh Web of Causation


(Sumber : Blogspot, 2014)

DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Hana Fitria. 2014. Teori teori Penyebab Terjadinya Penyakit.
https://coretankecilhanfiz.wordpress.com/2014/03/24/teori-teori-penye
bab-terjadinya-penyakit/. (Diakses pada tanggal 20 Maret 2015)
Khafidzoh, Anisatul. 2013. Teori Terjadinya Penyakit. http://anis094.blogspot.
com/2013/03/teori-terjadinya-penyakit.html. (Diakses pada tanggal 20
Maret 2015)
Napitupulo, Santa Helena. 2013. Teori Penyebab Terjadinya Penyakit.
http://santahelenanapitupulu.blogspot.com/2013/03/teori-penyebabterjadinya-penyakit.html. (Diakses pada tanggal 20 Maret 2015)
Prima,

Agustina.

2014.

Perkembangan

Teori

Terjadinya

Penyakit.

http://agustinaprimafkmundip.blogspot.com/2014/03/perkembangan-teoriteori-terjadinya.html. (Diakses pada tanggal 20 Maret 2015)


Yuniatun, Tuti. 2014. Teori teori Terjadinya Penyakit. https://bloguntuknegeri.
wordpress.com/2014/03/22/teori-teori-terjadinya-penyakit/. (Diakses pada
tanggal 20 Maret 2015)