Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

I. Latar Belakang
Kurangnya pengetahuan pasien mengenai perawatannya dapat menyebabkan kecemasan.
Pasien mayoritas diberikan antibiotik sebagai premedikasi dan anestesi sebelum dilakukan
operasi. Berbagai hal tersebut memacu sensasi mual pasca operasi. Berdasarkan hasil
pengamatan mahasiswa, 2 dari 4 orang pasien yang menerima tindakan operasi mengeluh
mual pasca operasi.
Mual yang tidak ditangani dapat menyebabkan muntah. Selain itu pasien dapat
mengalami penurunan nafsu makan sehingga intake makanan tidak adekuat. Oleh karena itu
pasien dan keluarga pasien perlu diedukasi penanganan mual pasca operasi sehingga sensasi
mual dapat terkontrol.
II. Tujuan
A. Umum
Setelah mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan ini diharapkan keluarga menjadi
mampu merawat anggota keluarga yang mual setelah operasi.
B. Khusus
Keluarga dapat menyebutkan penanganan mual.
III. Sasaran dan Target
Sasaran dalam kegiatan ini adalah keluarga pasien di Ruang Tunggu Kamar Operasi RSUP
Dr.Sardjito.
IV. Strategi Pelaksanaan
A. Metode
Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab.
B. Isi/Materi Penyuluhan
(terlampir)

C. Waktu dan Tempat


Tanggal
: Kamis, 19 Maret 2015
Waktu
: Pukul 10.00 WIB
Tempat
: Ruang Tunggu Kamar Operasi RSUP Dr.Sadjito Yogyakarta
D. Media
Media yang digunakan adalah LCD dan leaflet.
E. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi persiapan

- Persiapan materi
- Persiapan undangan
- Persiapan alat
2. Evaluasi proses
- Jumlah peserta yang hadir
- Waktu pelaksanaan
- Proses pemberian materi
- Proses tanya jawab
3. Evaluasi hasil
Apakah klien dapat menjawab:
- Bagaimana cara menangani mual?
F. Susunan Acara
No Yang dilakukan mahasiswa
Yang dilakukan Keluarga
1
Pembukaan
Membuka dengan salam
Menjawab salam
Apersepsi
pengetahuan Menjawab pertanyaan
2

keluarga pasien tentang mual


Menyampaikan isi
Memberi materi
Memberikan

kesempatan

Waktu (menit)
5

20
Mendengar dan menyimak
Mengajukan pertanyaan

pada keluarga untuk bertanya Menyimak


Menjawab
pertanyaan
3

keluarga
Penutup
Merangkum

dengan Berpartisipasi, mendengar,

melibatkan keluarga
Menutup dengan salam
G. Pengorganisasian
1. Moderator dan evaluator
2. Notulensi dan Evaluasi
3. Penyuluh
4. Fasilitator dan humas

dan menyimak
Menjawab salam
: Avin Maria
: Isni Syarefatu Zulfa
: Tania Yasmin
: Rida Anita Yunikawati
Yenny Tangkelayuk

V. Referensi
Bulechek, G., Butcher, H.K., dan Dochterman, J.M, 2008. Nursing Intervention
Classification 5th edition. USA: Mosby.

Christian CA. Post operative Nausea and Vomiting. In: Miller DR, Eriksson LI, Fleisher
LA, Kronish JPW, Young WL, editors. Miller's Anesthesia. Seventh Edition. Volume
Two. San Fransisco: Elsevier; 2010. P 2729-51.
Guyton AC, Hall JE. Fisiologi Gangguan Gastrointestinal. Dalam: Yanuar L, Hartanto H,
Novriati A, Wulandari N, editor. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 9. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008. P865-6.
Herdman, T. H., 2011. NANDA Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 20092011. Philadelphia: NANDA International.
Hinchliff, S., 1999. Kamus Keperawatan, Edisi 17. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Postanesthesia Care. In: Clinical Anesthesiology.
Fourth Edition. USA: McGraw-Hill Companies; 2006. P1005-8.
McCracken G, Houston P, Lefebvre G. Guideline for the Management of Postoperative
Nausea and Vomiting. J O G C Juillet. July 2008; 209: 600 - 7.
Perry, A.G., dan Potter, P., 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4, Vol.2.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Pierre S, Benais H, Pouymayou J. Apfel's simplified score may favourably predict the risk
of postoperative nausea and vomiting. Can J Anesth. 2002; 49 (3): 237 - 42.

Lampiran
PENANGANAN MUAL PASCA OPERASI
A.

Definisi
Mual adalah sensasi seperti gelombang di belakang tenggorok atau perut yang bersifat
subjektif tidak menyenangkan, yang menyebabkan dorongan atau keinginan untuk muntah.
Mual dan muntah pasca operasi atau post operative nausea and vomiting (PONV) dapat
disebabkan oleh beberapa jalur yaitu sistem saraf perifer, dan reseptor dari sistem saraf pusat,
meskipun penyebab pastinya belum diketahui. Mual muntah pasca operasi atau Post
operative nausea and vomiting (PONV) adalah efek samping yang sering terjadi setelah
tindakan anestesi.
Mual dan muntah pasca operasi menunjukkan 20 - 30 % angka kejadian pada pasien.
Angka kejadiannya lebih kurang 1/3 dari seluruh pasien yang menjalani operasi atau terjadi
pada 30% pasien rawat inap dan sampai 70% pada pasien rawat inap yang timbul dalam 24
jam pertama.
Ada beberapa golongan obat yang biasa digunakan untuk menangani mual dan muntah
pasca operasi, seperti dopamine antagonis, histamin antagonis, antikolinergik, serotonin
antagonis, dexametason, dan neurokinin antagonis. Namun ondansetron adalah antogonis
serotonin pertama, dan merupakan pilihan untuk keluhan mual dan muntah. Dan memiliki
efek samping yang lebih sedikit. Pemberian dexametason juga berperan efektif dalam
meningkatkan penurunan terjadinya PONV dengan dosis 4 - 10 mg.

B.

Penyebab
Etiologi muntah pada PONV merupakan multifaktorial. Faktor - faktornya bisa
diklasifikasi berdasarkan sikuensi keterpaparan pasien yaitu :
1. Faktor - faktor pasien1
a. Umur : insidensi PONV 5% pada bayi, 25% pada usia dibawah 5 tahun, 42 - 51% pada
umur 6 - 16 tahun dan 14 - 40% pada dewasa.
b. Gender : wanita dewasa akan mengalami PONV 2 - 4 kali lebih mungkin dibandingkan
laki - laki, kemungkinan karena hormon perempuan.
c. Obesitas : dilaporkan bahwa pada pasien tersebut lebih mudah terjadi PONV baik
karena adipos yang berlebihan sehingga penyimpanan obat - obat anestesi atau produksi
estrogen yang berlebihan oleh jaringan adipos.
d. Motion sickness : pasien yang mengalami motion sickness lebih mungkin terkena
PONV

e. Perpanjangan waktu pengosongan lambung : pasien dengan kondisi ini akan menambah
resiko terjadinya PONV
f. Perokok : merokok mempengaruhi angka kejadian PONV, pada pasien dengan status
bukan perokok akan lebih cenderung mengalami PONV
2. Faktor - faktor preoperatif1
a. Makanan : waktu puasa yang panjang atau baru saja makan akan meningkatkan insiden
PONV
b. Ansietas : stess dan ansietas bisa menyebabkan muntah
c. Penyebab operasi : operasi dengan peningkatan tekanan intra kranial, obstruksi saluran
pencernaan, kehamilan, aborsi atau pasien dengan kemoterapi.
d. Pre medikasi : atropine memperpanjang pengosongan lambung dan mengurangi tonus
esofageal, opioid meningkatkan sekresi gaster, dan menurunkan motilitas pencernaan.
Hal ini menstimulasi CTZ dan menambah keluarnya 5-HT dari sel - sel chromaffin dan
terlepasnya ADH.
3. Faktor - faktor intraoperatif1
a. Faktor anestesi:
Intubasi : stimulasi mekanoreseptor faringeal bisa menyebabkan muntah
Anestetik : kedalaman anestesi atau inflasi gaster pada saat ventilasi dengan masker
bisa menyebabkan muntah
Anestesia : perubahan posisi kepala setelah bangun akan merangsang vestibular
Obat - obat anestesi : opioid adalah opat penting yang berhubungan dengan PONV.
Etomidate dan methohexital juga berhubungan dengan kejadian PONV yang tinggi.
Agen inhalasi : eter dan cyclopropane menyebabkan insiden PONV yang tinggi karena
katekolamin. Pada sevoflurane, enflurane, desflurane dan halothane dijumpai angka
kejadian PONV yang lebih rendah. N2O mempunyai peranan yang dalam terjadinya
PONV. Mekanisme terjadinya muntah karena N2O karena kerjanya pada reseptor
opioid pusat, perubahan pada tekanan telinga tengah, stimulasi saraf simpatis dan
distensi gaster.
b. Teknik anestesi: Insiden PONV diprediksi lebih rendah dengan spinal anestesi bila
dibandingkan dengan general anestesi. Pada regional anestesi dijumpai insiden yang
lebih rendah pada emesis intra dan postoperatif.
c. Faktor pembedahan :

Kejadian PONV juga berhubungan dengan tingginya insiden dan keparahan PONV.
Seperti pada laparaskopi, bedah payudara, laparatomi, bedah plastik, bedah optalmik,
bedah THT, bedah ginekologi.
Durasi operasi (setiap 30 menit penambahan waktu resiko PONV meningkat sampai
60%).
4. Faktor - faktor post operatif 1
Nyeri, pusing, ambulasi, makan yang terlalu cepat.
C. Penanganan Mual
1. Membuat tubuh menjadi relaks
Cara membuat tubuh relaks:
a. Dengan posisi duduk
1) Duduk dengan seluruh pinggang bersandar pada kursi
2) Letakkan kaki datar pada lantai
3) Letakkan kaki terpisah satu sama lain
4) Gantungkan lengan pada sisi atau letakkan pada lengan kursi
5) Pertahankan kepala sejajar dengan tulang belakang
b. Dengan posisi berbaring
1) Letakkan kaki terpisah satu sama lain dengan jari-jari kaki agak meregang lurus ke arah
luar
2) Letakkan lengan pada sisi tanpa menyentuh sisi tubuh
3) Pertahankan kepala sejajar dengan tulang belakang
4) Gunakan bantal yang tipis dan kecil dibawah kepala
2. Melakukan teknik distraksi
Teknik distraksi adalah suatu teknik pengalihan. Tindakan yang dapat dilakukan antaralain
dengan mendengarkan musik yang disukai.
3. Menggunakan aroma terapi
Aroma terapi merupakan salah satu terapi memberikan minyak esensial dengan menghirup
atau memijat agar relaks dan nyaman. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan aroma
terapi adalah menyesuaikan bau-bauan yang akan digunakan sesuai dengan aroma yang
disukai pasien. Apabila terdapat kemerahan dan gatal-gatal di daerah yang diolesi minyak
esensial menandakan adanya alergi.
4. Mengkonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat dan rendah lemak, misalnya putih telur,
nasi, jagung, sayuran hijau, buah (contoh apel, pisang), dll.
5. Mengkonsumsi makanan yang dingin, tidak berbau, dan makanan yang tidak mengandung zat
perwarna.
6. Menggunakan obat anti mual sesuai dengan resep dokter.

SATUAN ACARA PENYULUHAN


PENANGANAN MUAL PASCA OPERASI

Disusun Oleh:
1. Avin Maria

13/362197/KU/16925

2. Tania Yasmin

13/359219/KU/16542

3. Risma Isnaini

13359172/KU/16495

4. Puri Pinaremas

13/359220/KU/16543

5. Brigitta Ayu Dwi S.

13/359178/KU/16501

6. Chairunnisa Rahmatina

13/359206/KU/16529

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015