Anda di halaman 1dari 30

BAHAN AJAR

DISEMINASI DAN SOSIALISASI KETEKNIKAN


BIDANG PLP SEKTOR PERSAMPAHAN

MODUL 05
PERENCANAAN FASILITAS 3R
ATAU BANK SAMPAH

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN

C I P T A

U M U M
K A R Y A

LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................................. i


DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ......................................................................................................................... ii
1. PARADIGMA PENGELOLAAN SAMPAH .............................................................. 273
2. PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU DENGAN 3R ............................................ 275
2.1. Perencanaan Penerapan 3R Skala Rumah Tangga ................................................ 277
2.2. Perencanaan Penerapan 3R Skala Kawasan .......................................................... 281
2.3. Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R ................................................................ 283
3. BANK SAMPAH ......................................................................................................... 291
3.1. Sistem Pengelolaan Sampah dengan Bank Sampah .......................................... 291
3.2. Integrasi Bank Sampah dengan Gerakan 3R ..................................................... 295
3.3. Kondisi Eksisting Bank Sampah di Indonesia .................................................. 296
3.4. Peran Stakeholder.............................................................................................. 297

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. 1 Paradigma lama pengelolaan sampah ................................................................... 274
Gambar 1. 2 Paradigma baru pengelolaan sampah ................................................................... 275
Gambar 2. 1 Penerapan 3R skala rumah tangga ........................................................................ 278
Gambar 2. 2 Kompos produksi skala rumah tangga ................................................................. 279
Gambar 2. 3 Gentong tempat pengomposan ............................................................................. 280
Gambar 2. 4 Keranjang takakura............................................................................................... 280
Gambar 2. 5 Kompos yang diaplikasikan pada tanaman .......................................................... 281
Gambar 2. 6 Penerapan 3R skala kawasan ................................................................................ 282
Gambar 2. 7 Sistem pengolahan sampah 3R dengan sampah tercampur .................................. 285
Gambar 2. 8 Sistem pengolahan sampah 3R dengan sampah terpilah ...................................... 286
Gambar 3. 1 Sistem bank sampah ............................................................................................. 292
Gambar 3. 2 Mekanisme menabung sampah di bank sampah secara individual ..................... 293
Gambar 3. 3 Mekanisme menabung sampah di bank sampah secara komunal ........................ 293
Gambar 3. 4 Kerangka kerja integrasi bank sampah dengan gerakan 3R ................................. 296
Gambar 3. 5 Bank sampah keliling ........................................................................................... 297

DAFTAR TABEL
Tabel 2. 2 Biaya investasi ......................................................................................................... 290
Tabel 2. 3 Perkiraan biaya operasi per tahun ........................................................................... 290

ii

PERENCANAAN FASILITAS 3R DAN BANK SAMPAH


1.
PARADIGMA PENGELOLAAN SAMPAH
Sampai saat ini, sampah kerap kali menjadi masalah di Indonesia.Tak jarang ditemui adanya
penumpukan sampah di beberapa daerah yang diakibatkan minimnya fasilitas pengelolaan
sampah yang ada. Munculnya permasalahan mengenai persampahan tersebut dikarenakan
hampir semua pemerintah daerah di Indonesia, masih menganut paradigma lama dalam
pengelolaan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan
akhir. TPA dengan sistem lahan urug saniter (sanitary landfill) yang ramah lingkungan, ternyata
tidak ramah dalam aspek pembiayaan, karena membutuhkan biaya yang tinggi untuk investasi,
konstruksi, operasi dan pemeliharaan.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, sudah saatnya pemerintah daerah mau
merubah pola pikir yang lebih bernuansa lingkungan.Konsep pengelolaan sampah yang terpadu
sudah waktunya diterapkan, yaitu dengan meminimasi sampah serta maksimasi kegiatan daurulang dan pengomposan disertai dengan TPA yang ramah lingkungan.Paradigma baru yang
diharapkan dapat mulai dilaksanakan adalah dari orientasi pembuangan sampah ke orientasi
daur-ulang dan pengomposan. Melalui paradigma baru ini pengelolaan sampah tidak lagi
merupakan satu rangkaian yang hanya berakhir di TPA (one-way street), tetapi lebih merupakan
satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Energi baru yang dihasilkan dari hasil
penguraian sampah maupun proses daur-ulang lainnya tidak hilang percuma. Berdasarkan
perhitungan Direktorat Bintek-Dept. PU (1999), bila konsep pengelolaan sampah terpadu
dengan strategi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dilaksanakan, maka sampah yang akan masuk ke
TPA berupa residu hanya sebesar 15%. Sampah yang dapat dikomposkan 40%, didaur-ulang
(20%), dan dibakar dengan menggunakan insinerator 25%. Gambar 1.1 di bawah ini
menunjukkan paradigma lama pengelolaan sampah.

273

Gambar 1. 1 Paradigma lama pengelolaan sampah


Keberhasilan penerapan paradigma baru ini dapat tercapai tentu melalui koordinasi yang baik
dengan instansi terkait seperti Dinas Pertamanan, Dinas Pasar, Bapedalda, Kelurahan, dsb.
Masyarakat tentu saja harus terlibat aktif, misalnya dalam kegiatan pemilahan dan pengumpulan
sampah di sumber.

274

Pemrosesan Akhir
Gambar 1. 2 Paradigma baru pengelolaan sampah
2.
PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU DENGAN 3R
Konsep 3R adalah paradigma baru dalam pola konsumsi dan produksi disemua tingkatan
dengan memberikan prioritas tertinggi pada pengelolaan limbah yang berorientasi pada
pencegahan timbulan sampah, minimisasi limbah dengan mendorong barang yang dapat
digunakan lagi dan barang yang dapat didekomposisi secara biologi (biodegradable) dan
penerapan pembuangan limbah yang ramah lingkungan. Pelaksanaan 3R tidak hanya
menyangkut masalah sosial dalam rangka mendorong perubahan sikap dan pola pikir menuju
terwujudnya masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tetapi juga menyangkut
pengaturan (manajemen) yang tepat dalam pelaksanaannya.
Prinsip pertama Reduce adalah segala aktivitas yang mampu mengurangi dan mencegah
timbulan sampah. Prinsip kedua Reuse adalah kegiatan penggunaan kembali sampah yang

275

layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. Prinsip ketiga Recyle adalah kegiatan
mengelola sampah untuk dijadikan produk baru.
Untuk mewujudkan konsep 3R salah satu cara penerapannya adalah melalui pengelolaan
sampah terpadu 3R berbasis masyarakat, yang diarahkan kepada daur ulang sampah (recycle).
Hal ini dipertimbangkan sebagai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya, karena
adanya potensi pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku kompos dan komponen non
organik sebagai bahan sekunder kegiatan industri seperti plastik, kertas, logam, gelas,dan lainlain.
Sesuai dengan Permen PU 21/PRT/M/2006 tentang kebijakan dan strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan, diperlukan suatu perubahan paradigma yang
lebih mengedepankan proses pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, yaitu dengan
melakukan upaya pengurangan dan pemanfaatan sampah sebelum akhirnya sampah dibuang ke
TPA (target 20% pada tahun 2014).
Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai pengertian dari 3R, sebagai berikut:
a. Reduce (R1)
Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya untuk mengurangi timbulan sampah di
lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum sampah dihasilkan, setiap
sumber dapat melakukan upaya reduksi sampah dengan cara merubah pola hidup
konsumtif, yaitu perubahan kebiasaan dari yang boros dan menghasilkan banyak sampah
menjadi hemat/efisien dan sedikit sampah, namun diperlukan kesadaran dan kemauan
masyarakat untuk merubah perilaku tersebut.
b. Reuse (R2)
Reuse berarti mengunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah (tanpa
melalui proses pengelolaan) seperti menggunakan kertas bolak-balik, mengunakan kembali
botol bekas minuman untuk tempat air, mengisi kaleng susu dengan susu refill dan lainlain.
c. Recycle (R3)
Recycle berarti mendaur ulang suatu bahan yang sudah tidak berguna (sampah) menjadi
bahan lain setelah melalui proses pengolahan seperti mengolah sisa kain perca menjadi
selimut, kain lap, keset kaki, dsb atau mengolah botol/plastik bekas menjadi biji plastik
untuk dicetak kembali menjadi ember, hanger, pot, dan sebagainya atau mengolah kertas
bekas menjadi bubur kertas dan kembali dicetak menjadi kertas dengan kualitas sedikit
lebih rendah dan lain-lain.

276

Untuk menerapkan pengelolaan sampah terpadu dengan 3R di kawasan permukiman, perlu


memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Komposisi dan karakteristik sampah, untuk memperkirakan jumlah sampah yang dapat
dikurangi dan dimanfaatkan.
Karakteristik lokasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, untuk
mengidentifikasi sumber sampah dan pola penanganan sampah 3R yang sesuai dengan
kemampuan masyarakat setempat.
Metode penanganan sampah 3R untuk mendapatkan formula teknis dan prasarana dan
sarana 3R yang tepat dengan kondisi masyarakat setempat.
Proses pemberdayaan masyarakat, untuk menyiapkan masyarakat dalam perubahan pola
penanganan sampah dari proses konvensional kumpul - angkut - buang menjadi 3R.
Misalnya : penghijauan dulu kebersihan buang sampah ditempatnya pemilahan
daur ulang.
Uji coba pengelolaan, sebagai ajang pelatihan bagi masyarakat dalam melaksanakan
berbagai metode 3R.
Keberlanjutan pengelolaan, untuk menjamin kesinambungan poses pengelola sampah yang
dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.
Minimisasi sampah hendaknya dilakukan sejak sampah belum terbentuk yaitu dengan
menghemat penggunaan bahan, mambatasi konsumsi sesuai dengan kebutuhan, memilih
bahan yang mengandung sedikit sampah dsb.
Upaya memanfaatkan sampah dilakukan dengan mengunakan kembali sampah sesuai
fungsinya seperti halnya pada penggunaan botol minuman atau kemasan lainnya.
Upaya mendaur ulang sampah dapat dilakukan dengan memilah sampah menurut jenisnya
baik yang memiliki nilai ekonomi sebagai material daur ulang (kertas, plastik, gelas/logam,
dll) maupun sampah B3 rumah tangga yang memerlukan penanganan khusus (baterai,
lampu neon, kaleng, sisa insektisida, dll) dan sampah bekas kemasan (bungkus mie instant,
plastik kemasan minyak, dll)
Pengomposan sampah diharapkan dapat diterapkan di sumber (rumah tangga, kantor,
sekolah, dll) yang akan secara signifikan mengurangi sampah pada tahap berikutnya.
Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai perencanaan penerapan 3R skala rumah tangga
dan kawasan.
2.1.
Perencanaan Penerapan 3R Skala Rumah Tangga
Pada perencanaan penerapan 3R skala rumah tangga hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:

277

Penanganan sampah hendaknya tidak lagi hanya bertumpu pada aktivitas pengumpulan,
pangangkutan dan pembuangan sampah.
Penanganan sampah skala rumah tangga diharapkan dapat menerapkan upaya minimisasi
yaitu dengan cara mengurangi, memanfaatkan kembali dan mendaur ulang sampah yang
dihasilkan.

Gambar 2. 1 Penerapan 3R skala rumah tangga


Terdapat beberapa skenario yang perlu dilakukan agar 3R dapat diterapkan pada rumah tangga,
di antaranya sebagai berikut:
a. Skenario Pemilahan Sampah Non Organik.
Skenario pemilahan sampah non organik di kawasan permukiman perlu dilakukan, yaitu
dengan cara memilah sampah kertas, plastik, dan logam/kaca di masing-masing sumber
dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat, misalnya mengunakan
kantong plastik besar atau karung kecil.
Khusus untuk sampah B3 rumah tangga, diperlukan wadah khusus yang pengumpulannya
dapat dilakukan sebulan sekali atau sesuai kebutuhan. Hasil pemilahan sampah di sumber
pada umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan apabila pemilahan
sampah dilakukan di TPA.

278

b. Skenario Pengolahan Sampah Organik (Pembuatan Kompos)


Pada skenario ini, dibedakan antara sampah organik dari kebun (daun-daunan) dan sampah
organik dari dapur (nasi, daging, dll).
- Skenario pembuatan kompos secara individu di sumber harus dilakukan dengan cara
sederhana dan dapat mengacu pada best practice yang telah ada.

Gambar 2. 2 Kompos produksi skala rumah tangga


-

Pembuatan kompos di sumber dapat dilakukan misalnya seperti di Banjarsari dan


Rawajati dengan metode lubang (hanya dapat dilakukan untuk daerah yang tingkat
kepadatan penduduknya masih rendah), gentong, bin takakura atau metode lain sebagai
composter.
Dengan komposter gentong (alasnya di lubangi dan di isi kerikil serta sekam,
merupakan cara sederhana karena seluruh sampah organik dapat dimasukan dalam
gentong).

279

Gambar 2. 3 Gentong tempat pengomposan


-

Dengan bin Takakura (keranjang yang dilapisi kertas karton, sekam padi dan kompos
matang), memerlukan sedikit kesabaran karena dibutuhkan sampah organik terseleksi
dan pencacahan untuk mempercepat proses pematangan kompos. Komposter takakura
dapat ditempatkan didalam rumah (tidak menimbulkan bau).

Gambar 2. 4 Keranjang takakura


-

280

Produk kompos dapat digunakanuntuk program penghijauan dan penanaman bibit.

Gambar 2. 5 Kompos yang diaplikasikan pada tanaman


c. Skenario Daur Ulang
Daur ulang di sumber dilakukan mulai dengan melakukan pemilahan sampah, sebaiknya
dilakukan dengan cara yang sederhana agar mudah dilakukan oleh masyarakat. Pemilahan
sampah dapat dimulai dengan memisahkan sampah menjadi sampah basah (organik) dan
sampah kering (non organik) atau langsung menjadi beberapa jenis (sampah organik, kertas,
plastik, kaleng, sampah B3 rumah tangga).
2.2.
Perencanaan Penerapan 3R Skala Kawasan
Pada perencanaan penerapan 3R skala rumah tangga hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
Perlu dibedakan tipe kawasan seperti kawasan komplek perumahan teratur (cakupan
pelayanan 1000- 2000 unit rumah), kawasan perumahan semi teratur/non komplek
(cakupan pelayanan 1 RW) dan kawasan perumahan tidak teratur/kumuh atau perumahan di
bantaran sungai
Diperlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pengurangan volumedan pemilahan
sampah.
Diperlukan keterpaduan operasional pengelolaan sampah mulai dari sumber,
pengangkutan/pengumpulan, pemilah sampah, pihak penerima bahan daur ulang (lapak) dan
pengangkutan residu ke TPA
Diperlukan area kerja pengelolaan sampah terpadu skala kawasan yang disebut TPS3R
(tempat pengolahan sampah terpadu), yaitu area pembongkaran muatan gerobak, pemilahan,
perajangan sampah, pengomposan, tempat/container sampah residu, penyimpanan barang
lapak, dan pencucian.

281

Kegiatan pengelolaan sampah di TPS3R meliputi pemilahan sampah, pembuatan kompos,


pengepakan bahan daur ulang, dll
Pemisahan sampah di TPS3R dilakukan untuk beberapa jenis sampah seperti sampah B3
Rumah tangga (selanjutnya akan dikelola sesuai dengan ketentuan), sampah kertas, plastik,
logam/kaca (akan digunakan sebagai bahan daur ulang) dan sampah organik (akan
digunakan sebagai bahan baku kompos)
Pembuatan kompos di TPS3R dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain Open
Windrow.
Incinerator skala kecil tidak direkomendasikan karena incinerator kecil hanya
direkomendasikan untuk sampah rumah sakit dan sampah khusus.
Sampah residu dilarang untuk dibakar di tempat, tetapi dibuang ke TPA.

Gambar 2. 6 Penerapan 3R skala kawasan


Usaha daur ulang dan pengomposan sampah merupakan salah satu penerapan 3R. Sarana dan
prasarana yang harus dimiliki untuk dapat menerapkan usaha daur ulang dan pengomposan
adalah sebagai berikut:
a. Perlengkapan kerja
- Helm kerja
- Sepatu kedap air (boot)

282

- Kaus tangan plastik


- Pakaian kerja
- Masker kain
- Perlengkapan P3K
b. Peralatan produksi
- Cangkrang
- Terowongan bambu
- Alat tulis dan kantor
- Termometer alkohol
- Selang air
- Sekop
- Timbangan
- Plastik sealer (untuk pengemasan)
- Keranjang loak
- Papan, cat, dan kuas untuk menandai tumpukan
- Ayakan kawat dengan beberapa ukuran
c. Sarana produksi
- Pompa air
- Tempat pemilahan
- Tempat residu
- Ruang penumpukan kompos
- Ruang pematangan kompos
- Ruang penyaringan
- Ruang pengemasan
- Kantor
- Kamar mandi
- Drainase
- Kebun uji coba
2.3.
Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
Dalam melaksanakan penyelenggaraan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R berbasis
masyarakat di kawasan permukiman diperlukan perencanaan secara menyeluruh dari mulai
persiapan sampai bagaimana mengembangkan dan mereplikasi program tersebut. Pengelolaan
sampah dengan 3R untuk skala kawasan merupakan pengelolaan yang dilakukan untuk
melayani suatu kelompok masyarakat di satu kawasan dengan tujuan mengurangi jumlah
sampah yang harus diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.

283

Jadwal pengumpulan sampah non organik yang sudah terpilah, seperti kertas, plastik,
logam/kaca dapat dilakukan seminggu sekali, sedangkan untuk sampah yang masih tercampur
harus dilakukan minimal seminggu 2 kali tergantung kapasitas pelayanan dan tipe
kawasan.
Kriteria Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
a. Lokasi
Luas Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R bervariasi. Untuk kawasan perumahan
baru (cakupan pelayanan 2000 rumah) diperlukan TPS 3R dengan luas 1000 m2.
Sedangkan untuk cakupan pelayanan skala RW (200 rumah), diperlukan Tempat
Pengelolaan Sampah (TPS) 3R dengan luas 200 - 500 m2.
Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R dengan luas 1000 m2 dapat menampung sampah
dengan atau tanpa proses pemilahan sampah di sumber.
Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R dengan luas < 500 m2 hanya dapat menampung
sampah dalam keadaan terpilah (50%) dan sampah campur 50 %.
Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R dengan luas < 200 m2 sebaiknya hanya
menampung sampah tercampur 20 %, sedangkan sampah yang sudah terpilah 80 %.
b. Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
Fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R meliputi wadah komunal, areal pemilahan
dan areal composting serta dilengkapi juga dengan fasilitas penunjang lain seperti saluran
drainase, tangki air bersih, septic tank, listrik, barier (pagar tanaman hidup), gudang
penyimpan bahan daur ulang maupun produk kompos, ruang kantor dan toilet.
c. Daur Ulang
Sampah yang didaur ulang minimal adalah kertas, plastik dan logam yang memiliki
nilai ekonomi tinggi. Untuk mendapatkan kualitas bahan daur ulang yang baik,
pemilahan sebaiknya dilakukan sejak di sumber.
Pemasaran produk daur ulang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lapak
atau langsung dengan industri pemakai.
Sampah B3 Rumah tangga (terutama batu baterai dan lampu neon) dikumpulkan untuk
diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku (PP 18 / 1999
tentang pengelolaan sampah B3).
Daur ulang kemasan plastik (air mineral, minuman dalam kemasan, mie instan dan lainlain) sebaiknya dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan atau bahan baku lain.
d. Pembuatan Kompos
Sampah yang digunakan sebagai bahan baku kompos adalah sampah dapur (terseleksi)
dan daun-daun potongan tanaman.
Metode pembuatan kompos dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan
open windrow dan caspary.

284

Perlu dilakukan analisa kualitas terhadap produk kompos secara acak dengan parameter
warna, C/N rasio, kadar N,P,K dan logam berat. Dalam pengecekan analisa kualitas
produk kompos, bisa bekerja sama dengan laboratorium tanah yang ada di universitas
atau milik instansi pemerintah setempat.
Pemasaran produk kompos dapat bekerja sama dengan pihak koperasi dan dinas terkait
(Kebersihan, Pertamanan, Pertanian dan lain-lain).
Pengolahan sampah dengan 3R dilakukan dengan 2 metode, yaitu:
1. Tanpa pemilihan dari rumah

Gambar 2. 7 Sistem pengolahan sampah 3R dengan sampah tercampur


Proses Kegiatan sistem ini adalah:
- Sampah dari rumah dalam kondisi belum terpilah (tercampur), sampah selanjutnya
dibawa ke Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) dengan gerobak sampah atau motor
sampah.
- Di TPS sampah akan dipilah menurut jenisnya yaitu sampah organik, sampah nonorganik dan sampah residu.
- Sampah non-organik akan selanjutnya dikumpulkan dan dijual.
285

Sampah organik yang telah dipilah selanjutnya dilakukan proses pengomposan.


Sampah residu ditampung dan diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

2. Dengan pemilahan dari rumah

Gambar 2. 8 Sistem pengolahan sampah 3R dengan sampah terpilah


Proses Kegiatan sistem ini adalah:
- Sampah dari rumah dalam kondisi sudah terpilah antara sampah organik dan sampah
non-organik, sampah selanjutnya dibawa ke Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) dengan
gerobak sampah atau motor sampah yang sudah disekat.
- Di TPS sampah yang sudah dipilah akan langsung diproses berdasarkan jenisnya yaitu
sampah organik, sampah non-organik dan sampah residu.
- Sampah non-organik akan selanjutnya dikumpulkan dan dijual

286

Sampah organik yang sudah terpilah selanjutnya dilakukan proses pengomposan.


Sampah residu ditampung dan diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Keberhasilan Penyelenggaraan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat


dapat tercapai jika:
1. Kriteria kabupaten/kota yang akan memperoleh bantuan program penyelenggaraan
Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat adalah sebagai berikut:
Kabupaten/Kota sudah mencantumkan usulan TPS 3R dalam Strategi Sanitasi Kota
(SSK) dan RPIJM.
Walikota / Bupati atau Pejabat yang berwenang berminat untuk implementasi
penyelenggaraan pelaksanaan TPS 3R berbasis masyarakat dengan membuat surat
minat yang ditujukan kepada Direktur PPLP, Kementerian Pekerjaan Umum dengan
tembusan ke Kepala Satker PPLP Provinsi dilengkapi dengan persetujuan alokasi lahan
TPS 3R minimal 200 m2 per lokasi dan kesediaan mengalokasikan dana untuk
mendukung penyelenggaraan dan operasional TPS 3R.
Memiliki Dinas atau UPT yang bertanggung jawab dalam bidang kebersihan sebagai
Dinas penanggung jawab.
Sebaiknya sudah pernah melakukan kegiatan berbasis masyarakat.
Pemerintah Daerah bersedia menerima TPS 3R berbasis masyarakat dan menyerahkan
kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai pengelola.
Pemerintah Daerah bersedia melakukan pembinaan yang berkelanjutan terhadap TPS
3R berbasis masyarakat terbangun.
2. Kriteria Lokasi, untuk menentukan lokasi yang tepat digunakan kriteria sebagai berikut:
a. Kriteria Utama :
Batasan administrasi lahan TPS 3R dalam batas administrasi yang sama dengan
area pelayanan TPS 3R berbasis masyarakat
Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya yang dibuktikan dengan
Akte/Surat Pernyataan Hibah untuk pembangunan prasarana dan sarana TPS 3R
berbasis masyarakat.
Ukuran minimal lahan yang harus disediakan 200 m2.
Mempunyai program lingkungan berbasis masyarakat.
b. Kriteria Pendukung Utama
Berada didalam wilayah permukiman penduduk, bebas banjir, ada jalan masuk,
sebaiknya tidak terlalu jauh dengan jalan raya.
Cakupan pelayanan minimal 200 KK atau minimal mengolah sampah 3 m3/hari.
Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai wawasan lingkungan yang
kuat.

287

Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program 3R merupakan kesadaran


masyarakat secara spontan.
Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan sampah.
Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperti PKK, kelompok/forumforum
kepedulian terhadap lingkungan, karang taruna, remaja mesjid, klub jantung sehat,
klub manula, pengelola kebersihan/sampah atau KSM (Kelompok Swadaya
Masyarakat) yang sudah terbentuk.

3. Agar perencanaan 3R dapat dilaksanakan dengan baik maka diperlukan Fasilitator yang
akan mendampingi Satker PPLP provinsi dan dinas terkait dalam hal:
Seleksi Lokasi
Pembentukan KSM
Social Mapping
Survey Komposisi Sampah
Penentuan Teknologi
Penyusunan RKM
Pembuatan DED dan RAB
Pengoperasional TPS 3R
Fasilitator terdiri dari fasilitator teknik dan fasilitator pemberdayaan. Kriteria umum
fasilitator adalah :
a. Pendidikan minimal D3/sederajat dalam bidang sosial untuk fasilitator
pemberdayaan dan dalam bidang teknik untuk fasilitator teknis pengoperasian
b. Penduduk setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat
setempat
c. Sehat jasmani dan rohani
d. Pernah terlibat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan atau dalam bidang
persampahan minimal 5 tahun pengalaman
2.3.1. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat memiliki peranan penting dalam keberhasilan penerapan 3R karena tanpa
adanya partisipasi masyarakat penghasil sampah, semua program pengelolaan sampah yang
direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu
program pemerintah dalam kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada
tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program tersebut. Hal ini antara lain meliputi
(Damanhuri, 2008):
1. Bagaimana merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib dan
teratur
2. Faktor-faktor sosial, struktur, dan budaya setempat
288

3. Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini


Apabila partisipasi masyarakat sudah terbangun dengan baik dalam penerapan konsep 3R, maka
timbulan sampah yang harus dibawa dan dikelola di TPA akan mengalami penurunan. Oleh
karena itu, sangat penting bagi setiap individu untuk memahami peran mereka dalam
pengelolaan sampah dan berkerjasama dengan pemerintah setempat.
Adapun masalah-masalah yang terjadi terkait dengan partisipasi masyarakat antara lain
(Damanhuri, 2008):
1. Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata
2. Belum melembaganya keinginan dalam masyarakat untuk menjaga lingkungan
3. Belum adanya pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman
pelaksanaan
4. Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan dalam
programnya
5. Kekhawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan konsep
pengelolaan yang ada
Sebagai pembanding, dalam pengelolaan sampah berbasis 3R di Jepang, masyarakat memiliki
peranan utama untuk:
1. Memahami dampak akibat sampah yang dihasilkan
2. Mempertimbangkan ulang pola hidupnya
3. Memilih barang dan pelayanan yang berwawasan lingkungan
4. Berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah, misalnya pemilahan sampah
5. Berpartisipasi dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis 3R
2.3.2. Pembiayaan dan Insentif
Pembiayaan yang diperlukan dalam penyelenggaraan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R
berbasis masyarakat, meliputi:
Kebutuhan biaya investasi prasarana dan sarana.
Kebutuhan biaya operasi pengumpulan sampah dari sumber serta operasional
penyelenggaraan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat dan
pemeliharaan prasarana/sarananya.
Kebutuhan biaya investasi dan operasi tersebut sebaiknya dapat dipenuhi dengan
perhitungan iuran warga perbulan yang besarnya dimusyawarahkan.
Insentif yang didapat berupa hasil penjualan material daur ulang dan produk kompos
serta penjualan bibit tanaman yang dapat digunakan untuk kepentingan sosial warga
atau untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.

289

Biaya pelaksanaan kegiatan pemilahan, pengomposan dan daur ulang disediakan oleh
masyarakat bersama pengelola TPS. Penerimaan dari penjualan bahan daur ulang dan kompos
dapat diperhitungkan dalam biaya pengelolaan kegiatan tersebut. Dana yang dibutuhkan untuk
investasi dan operasi pemeliharaan sangat tergantung dari proses pengomposan dan kapasitas
pengomposan. Dari pengalaman yang sudah dilakukan, untuk pengomposan skala kawasan
skala satu Rukun Warga (200 KK) dibutuhkan setidaknya 5 orang pegawai yang diperlukan
untuk pemilahan sampah, pembuatan tumpukan, pembalikan dan penyiraman serta pengayakan
dan pengemasan.
Tabel 2. 1 Biaya investasi
Keterangan
Peralatan
Compos Screening
Gerobak Dorong
timbangan duduk
Alat bantu pembalikan heap
Pakaian lapangan
Pompa air dan instalasinya
Instalasi listrik
Ruangan beratap terbuka
Ruang sortasi
Ruang pengomposan
Ruang pendadaran
Ruangan tertutup
Ruang gudang
Ruang alat
kantor
Biaya Instalasi

Keterangan
Biaya personil
Manajer instalasi
Pekerja lapangan
Biaya langsung
Listrik
Lain-lain
Biaya

290

Unit
1
1
1
1
20
1
1

Satuan

Harga/Unit

Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Unit

5.000.000,00
500.000,00
3.000.000,00
2.000.000,00
200.000,00
5.000.000,00
1.000.000,00

Harga (Rp)
5.000.000,00
500.000,00
3.000.000,00
2.000.000,00
4.000.000,00
5.000.000,00
1.000.000,00

248.000.000,00
20
132.00
30

m2
m2
m2

1.000.000,00 20.000.000,00
1.500.000,00 198.000.000,00
1.000.000,00 30.000.000,00

20
20
20

m2
m2
m2

1.000.000,00
1.000.000,00
1.000.000,00

60.000.000,00
20.000.000,00
20.000.000,00
20.000.000,00
328.500.000,00

Tabel 2. 2 Perkiraan biaya operasi per tahun


Unit
Satuan Harga/Unit
Harga (Rp)
1
4

Total (Rp)
20.500.000,00

12
12

tahun
tahun

Total (Rp)
53.400.000,00

1.250.000,00 15.000.000,00
800.000,00 38.400.000,00
24.000.000,00

1
1

12
12

tahun

1.000.000,00 12.000.000,00
1.000.000,00 12.000.000,00
77.400.000,00

Keterangan
Unit
Satuan Harga/Unit
Harga (Rp)
Total (Rp)
Operasional
Biaya spesifik
Rp/ton
282.739,73
*Perkiraan biaya diperhitungkan untuk tahun 2011 di wilayah Jakarta dan belum termasuk pajakpajak yang berlaku
3. BANK SAMPAH
Menurut Prihtiyani dikutip Suwerda (2010), bank sampah adalah suatu tempat dimana terjadi
kegiatan pelayanan terhadap penabung sampah yang dilakukan oleh teller bank sampah. Kata
bank berkonotasi positif dan identik dengan ruangan yang bersih dan pelayanan yang ramah,
sementara kata sampah mempunyai konotasi negatif yang identik dengan segala hal yang harus
segera dilenyapkan karena berbau, menjijikan, tidak sedap dipandang mata dan mencemari
sehingga penyatuan kedua kata tersebut secara tidak langsung mengangkat harkat dan martabat
sampah (Suwerda,2010).
Bank sampah adalah salah satu strategi penerapan 3R dalam pengelolaan sampah di tingkat
masyarakat. Pelaksanaan bank sampah pada prinsipnya adalah satu rekayasa sosial untuk
mengajak masyarakat memilah sampah. Melalui bank sampah, akhirnya ditemukan satu solusi
inovatif untuk memaksa masyarakat memilah sampah.Dengan menyamakan sampah serupa
uang atau barang berharga yang dapat ditabung, masyarakat akhirnya terdidik untuk menghargai
sampah sesuai jenis dan nilainya sehingga mereka mau memilah sampah.Pembangunan bank
sampah ini harus menjadi momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk
memulai memilah, mendaur-ulang, dan memanfaatkan sampah, kapan pun dan dimana pun agar
pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan menjadi budaya baru Indonesia.
3.1. Sistem Pengelolaan Sampah dengan Bank Sampah
Menurut Suwerda (2010), terdapat tiga komponen yang ada dalam sistem tabungan sampah di
bank sampah, yaitu penabung baik individual maupun komunal (kelompok masyarakat), petugas
bank sampah / teller, dan pengepul. Dalam menjalankan organisasi di bank sampah terdapat
struktur pengelola bank sampah yaitu direktur bank sampah, teller, sekretaris, dan bendahara
yang semuanya berasal dari masyarakat (Suwerda, 2010). Dalam buku Panduan Bank
Sampahku yang diterbitkan oleh Unilever (2012), sistem bank sampah didefinisikan sebagai
manajemen / alur pengelolaan sampah, khususnya anorganik, sejak dari sumbernya (rumah
tangga), dikelola secara kolektif dan sistematis, hingga manfaat kembali pada sumbernya dan
bisa tercatat hasilnya (Kg dan Rp). Sistem bank sampah ini dapat dilihat pada Gambar 3.1.

291

Gambar 3. 1 Sistem bank sampah (sumber: Unilever, 2012)


Guna melaksanakan bank sampah dibutuhkan sarana dasar minimum berupa:
1. Bangunan khusus yang permanen atau semi permanen yang dilengkapi ruang tamu,
ruang kerja, gudang, dan toilet;
2. Furnitur berupa kursi dan meja tamu, meja dan kursi teller serta pekerja lainnya;
3. Alat kerja berupa alat tulis, alat timbang, kalkulator, tali, dan karung;
4. Alat angkut
3.2.
Mekanisme Tabungan di Bank Sampah
Mekanisme dalam menabung sampah di bank sampah ada dua, yaitu menabung sampah secara
komunal (Suwerda, 2010). Mekanisme menabung sampah secara individual dapat dilihat pada
Gambar 3.2 dan mekanisme menabung sampah secara komunal dapat dilihat pada Gambar 3.3.

292

Gambar 3. 2 Mekanisme menabung sampah di bank sampah secara individual (sumber:


Suwerda, 2010)

Gambar 3. 3 Mekanisme menabung sampah di bank sampah secara komunal (sumber:


Suwerda, 2010)
JAM KERJA. Jumlah hari kerja bank sampah dalam seminggu pun tergantung, bisa 2 hari, 3
hari, 5 hari, atau 7 hari. Sebagai contoh, Bank Sampah Rejeki di Surabaya buka Jumat dan
Sabtu pukul 15.00-17.00 dan Ahad pukul 09.00-17.00.

293

PELANGGAN. Semua orang dapat menabung sampah di bank sampah. Setiap sampah yang
ditabung akan ditimbang dan dihargai sesuai harga pasaran. Uangnya dapat langsung diambil
pelanggan atau dicatat dalam buku rekening yang dipersiapkan oleh bank. NILAI. Setiap
sampah yang ditabung, ditimbang, dan dihargai sesuai harga pasaran sampah kemudian dicatat
dalam buku rekening (buku tabungan) sebagai bukti tertulis jumlah sampah dan jumlah uang
yang dimiliki setiap pelanggan. Dalam setiap buku rekening tercantum kolom kredit, debit, dan
balans yang mencatat setiap transaksi yang pernah dilakukan.
JENIS TABUNGAN. Dalam prakteknya, pengelola bank sampah dapat melaksanakan dua jenis
tabungan, tabungan individu dan tabungan kolektif. Tabungan individu terdiri dari: tabungan
biasa, tabungan pendidikan, tabungan lebaran, dan tabungan sosial. Tabungan kolektif biasanya
ditujukan untuk keperluan kelompok seperti kegiatan arisan, pengajian, dan pengurus
masjid/musholla.
JENIS SAMPAH. Jenis sampah yang dapat ditabung di bank sampah dikelompokkan menjadi 3
besar: kertas, plastik, dan logam. Sampah kertas antara lain koran, majalah, kardus, dan dupleks.
Plastik antara lain plastik bening, botol plastik, dan plastik keras lainnya. Sedangkan logam
terdiri dari besi, aluminium, dan timah. Penggolongan jenis sampah tersebut tergantung
sepenuhnya pada pengelolan bank sampah.
STANDAR HARGA. Terdapat standar harga setiap jenis sampah yang merupakan kesepakatan
pengurus bank sampah. Untuk orang secara perorangan yang menjual langsung sampah dan
mengharapkan uang kas, harga fluktuatif sesuai harga pasar. Namun apabila pelanggan menjual
secara kolektif dan sengaja untuk ditabung, harga yang diberikan adalah stabil tidak tergantung
pasar dan biasanya di atas harga pasar.
BAGI HASIL. Sistem bagi hasil dilaksanakan di hampir semua bank sampah yang besaran
proporsinya tergantung hasil rapat pengurus bank sampah. Besaran bagi hasil yang umum
digunakan saat ini adalah 85:15, 85 persen untuk pelanggan dan 15 persen untuk pengelola bank
sampah.
NILAI TAMBAH. Bank sampah dapat memperoleh nilai tambah dari penjualan plastik dalam
bentuk bijih plastik karena harga plastik dalam bentuk bijih 3 kali lebih tinggi dibanding dalam
bentuk botol atau gelas utuh.
Guna mengukur keberhasilan pelaksanaan bank sampah, terdapat 3 indikator yang dapat
digunakan, yaitu:
1. Meningkatnya kebersihan lingkungan;

294

2.
3.
4.
5.

Meningkatnya kesehatan masyarakat;


Mendatangkan penghasilan tambahan bagi masyarakat;
Menciptakan lapangan pekerjaan (pro job);
Mengentaskan kemiskinan (pro poor)

3.2. Integrasi Bank Sampah dengan Gerakan 3R


Prinsip 3R dalam pengelolaan sampah erat kaitannya dengan prinsip pembangunan
berkelanjutan (sustainable development), khususnya dalam pelaksanaan penghematan sumber
daya (resource efficiency) dan penghematan energi (energy efficiency). Dengan menjalankan
prinsip 3R maka terjadi upaya pengurangan ekstraksi sumber daya karena sebagian bahan baku
dapat terpenuhi dari sampah yang didaur-ulang dan sampah yang diguna-ulang. Penggunaan
bahan baku daur ulang untuk menghasilkan suatu produk telah terbukti menggunakan lebih
sedikit energi dibandingkan menggunakan bahan baku alami (virgin material) (Kementrian
Lingkungan Hidup, 2011).
Bank sampah adalah salah satu strategi penerapan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dalam
pengelolaan sampah pada sumbernya di tingkat masyarakat. Pelaksanaan bank sampah pada
prinsipnya adalah satu rekayasa sosial (social engineering) untuk mengajak masyarakat
memilah sampah. Dengan menukarkan sampah dengan uang atau barang berharga yang dapat
ditabung, masyarakat akhirnya terdidik untuk menghargai sampah sehingga mereka mau
memilah sampah (Kementrian Lingkungan Hidup, 2011).
Selain itu, pelaksanaan bank sampah juga memiliki potensi ekonomi kerakyatan yang cukup
besar. Pelaksanaan bank sampah dapat memberikan output nyata bagi masyarakat berupa
kesempatan kerja dalam melaksanakan manajemen operasi bank sampah dan investasi dalam
bentuk tabungan (Kementrian Lingkungan Hidup, 2011). Munculnya bank sampah dapat
menjadi momentum awal dalam membina kesadaran masyarakat. Pembangunan bank sampah
sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri tetapi harus disertai integrasi dengan gerakan 3R secara
menyeluruh di kalangan masyarakat seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3.4. Hal ini perlu
dilakukan agar manfaat langsung yang dirasakan masyarakat tidak hanya kuatnya ekonomi
kerakyatan tetapi juga pembangunan lingkungan yang hijau dan bersih sehingga dapat
menciptakan masyarakat yang sehat (Kementrian Lingkungan Hidup, 2011).

295

Gambar 3. 4 Kerangka kerja integrasi bank sampah dengan gerakan 3R


3.3. Kondisi Eksisting Bank Sampah di Indonesia
Jumlah bank sampah di Indonesia hingga April 2012 kurang lebih telah mencapai 495 bank
sampah. Bank sampah ini terdapat disepuluh kota, yaitu Surabaya, Jakarta, DI Yogyakarta,
Makassar, Banjarmasin, Medan, Bandung, Balikpapan, Denpasar dan Manado.
Salah satu contoh bank sampah yang berhasil di Indonesia adalah Bank Sampah Bina Mandiri
(BSBM) yang berada di Kota Surabaya. Bank sampah ini telah memiliki omzet usaha sebesar
Rp80 juta 100 juta per bulan dan sudah bisa memberdayakan sebelas orang warga setempat
sebagai pekerja. Hingga bulan Mei 2012, BSBM telah memiliki 417 nasabah individu dan 91
bank sampah binaan dari tingkat RT, RW, sekolah, dan perkantoran (Bank Sampah Bina
Mandiri, 2012). Total sampah yang berhasil diolah adalah sebesar 399 ton dengan total transaksi
Rp648.000.000 (kolektif-individu) (Bank Sampah Bina Mandiri, 2012).
BSBM di Kota Surabaya ini berdiri pada tanggal 11 Oktober 2010 untuk membantu mengatasi
permasalahan sampah di Kota Surabaya. Adapun proses sosialisasi kepada masyarakat
dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan yang ada di masyarakat agar dapat menyisipkan
materi sosialisasi bank sampah.
Dalam pelaksanaannya,proses penyetoran sampah dibagi menjadi dua yaitu sampah diambil
oleh petugas dari BSBM menggunakan Bankeling (bank sampah keliling) seperti pada gambar
3.5 dan sampah disetorkan sendiri oleh nasabah.

296

Gambar 3. 5 Bank sampah keliling


Adapun faktorr yang membuat bank sampah ini dapat berjalan hingga sekarang adalah
konsistensi pengurus dan nasabah serta adanya program-program
program program yang membuat masyarakat
tertarik seperti pahlawan lingkungan.
ngkungan. Pahlawan lingkungan merupakan
rupakan salah satu program yang
bertujuan untuk memberikan penghargaan bagi para fasilitator lingkungan yang sudah berperan
bagi pengelolaan lingkungan terutama
teruta sampah di tempat tinggalnya.
Contoh bank sampah lain yang juga tergolong berhasil adalah Bank Sampah Malang (BSM)
yang mulai beroperasi pada 1 Oktober 2011. Dalam pelaksanaannya, BSM mengusung konsep
sosial tetapi tetap menjalankan sistemnya secara profesional untuk menjaga keberlanjutan bank
sampah. Oleh karena itu, BSM memiliki jam kerja dan menyusun tim manajemen dengan
pembagian porsi pekerjaan yang jelas untuk setiap posisi jabatannya. Selain itu, BSM juga
menyediakan fasilitas penjemputan sampah untuk nasabah kelompoknya yang dibagi menjadi
tiga grade sesuai dengan jumlah sampah yang dapat dikumpulkan.
Saat ini, BSM masih terfokus untuk menangani sampah anorganik karena keterbatasan lahan
dan sumber daya. Sampah yang sudah masuk ke BSM sampai bulan Februari 2012 adalah
sebesar 73,157 ton dengan jumlah nasabah mencapai 13.000 orang. Nasabah terdiri dari 141
kelompok SD (Sekolah Dasar), satu kelompok SMP (Sekolah Menengah Pertama), satu
kelompok SMA (Sekolah Menengah Atas), 114 kelompok RT/RW dan nasabah individu.
Pengurus BSM menyadari bahwa sisi bisnis dan profesionalisme
profesionalisme perlu diperhatikan agar
kesejahteraan anggota meningkat dan dapat bertahan di dalam bisnis sampah yang sudah
terlebih dahulu dikuasai oleh sektor informal.
3.4. Peran Stakeholder
Dalam memaksimalkan potensi kinerja bank sampah diperlukan partisipasi
partisipasi berbagai pihak
seperti pemerintah, masyarakat, pihak swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan
sektor informal pengelola sampah (pemulung, lapak dan bandar) (Permanasari, 2012).

297

Pemerintah memiliki peran yang cukup signifikan dalam perkembangan bank sampah terutama
dalam membentuk pencitraan bank sampah di mata masyarakat dan juga kebijakan terkait
pengelolaan sampah dengan bank sampah. Bank Sampah Malang adalah salah satu contoh
pengelolaan sampah yang didukung oleh pemerintah kotanya secara langsung. Akibat adanya
dukungan dari pemerintah, Bank Sampah Malang dapat memiliki nasabah sebanyak 13.000
orang dalam waktu kurang lebih lima bulan. Dengan adanya dukungan dari pemerintah, Bank
Sampah Malang dapat memiliki sarana dan prasarana dan juga pencitraan yang baik di mata
masyarakat sehingga lebih mudah diterima di berbagai golongan masyarakat.
Selain itu, keberlanjutan bank sampah juga dipengaruhi oleh sektor swasta. Pihak swasta dapat
berperan sebagai sponsor untuk bank sampah dengan membantu pendanaan operasional
sekaligus pengembangan bank sampah melalui program CSR (Corporate Social Responsibility).
Hal ini sudah dilakukan oleh PT Unilever melalui program Green and Clean dan PLN
(Perusahaan Listrik Negara) yang menjadi sponsor Bank Sampah Malang dan Bank Sampah
Bina Mandiri. Swasta juga dapat berperan sebagai rekan kerja bank sampah khususnya terkait
program EPR.Perusahaan-perusahaan swasta khususnya perusahaan dengan produk yang
menghasilkan sampah rumah tangga seperti produk makanan, elektronik, dan kebutuhan rumah
tangga lainnya juga dapat dilibatkan untuk membeli sampah produk yang mereka hasilkan
sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap sampah produknya.
Keberjalanan bank sampah juga tidak terlepas dari peran sektor informal pengelola sampah
seperti lapak, bandar, dan pemulung.Sektor informal berpotensi untuk dijadikan sebagai rekan
kerja yang dapat menerima sampah dari bank sampah ataupun sebagai nasabah bank
sampah.Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terutama yang bergerak di bidang lingkungan
juga memiliki peran dalam keberjalanan bank sampah.LSM dapat menjadi penghubung antara
masyarakat dengan bank sampah, swasta, dan pemerintah.
Faktor paling utama yang berperan dalam keberlanjutan bank sampah adalah masyarakat.Bank
sampah sebagai salah satu metode pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat tentunya
harus didukung oleh masyarakat.Masyarakat merupakan subjek dan objek utama pengelolaan
sampah dengan bank sampah.Peran masyarakat yang paling penting adalah peran aktif sebagai
nasabah baik itu sebagai nasabah individu maupun nasabah kelompok.
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keberhasilan atau kegagalan bank
sampah dipengaruhi oleh banyak hal seperti sosialisasi,dukungan pemerintah, dan partisipasi
berbagai pihak terutama masyarakat.Konsistensi serta inovasi dari pihak pengurus dalam
menjalankan usaha ini juga sangat penting karena dapat mempengaruhi tingkat ketertarikan
masyarakat dan jumlah nasabah yang ditangani.

298

Anda mungkin juga menyukai