Anda di halaman 1dari 9

DAMPAK SOSIOEMOSI PERUBAHAN PERAN KELUARGA

TERHADAP REMAJA
(STUDI KASUS KELUARGA TKW KEC GEMUH KAB. KENDAL)

Keluarga merupakan suatu komunitas sosial yang kecil terdiri dari


Ayah, Ibu dan beberapa anak. Setiap anggota keluarga mempunyai peran
penting dalam keluarga. Ayah merupakan kepala keluarga, memimpin dan
melindungi serta mencari nafkah dan keperluan yang lainnya untuk anak dan
isterinya. Mendidik dan menyelamatkan keduanya dari gangguan lahir batin
serta dapat menjadi suri tauladan bagi anak isterinya. Bahkan hal ini tertuang
pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 31 ayat (3) tentang
Perkawinan, suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga. Pada
Pasal 34 ayat (1) suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala
sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Dan
ayat (2) isteri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.
(Sudarsono, 2010:15)
Budaya pernikahan dan aturan yang berlaku pada suatu masyarakat
yang berlaku didaerah tertentutidak terlepas dari pengaruh budaya dan
lingkungan masyarakat sekitarnya. Di Indonesia mayoritas masyarakat yang
menganut budaya patriaki. Menurut (Mariska,2014) menyatakan bahwa sistem
patriaki meletakkan posisi dan kekuasaan yang dominan dibandingkan

perempuan. Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dianggap


sebagai pembentukan patriaki. Hal ini yang menjadikan posisi ayah
mempunyai tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan yaitu mencari nafkah
sedangkan ibu sebaliknya.
Pembagian peran suami-isteri dalam keluarga, dimana suami sebagai
kepala keluarga dan isteri sebagai ibu rumah tangga sudah berlangsung
berabad-abad lamanya. Namun hal ini berubah seiring dengan pergeseran
zaman yang modern, menuntut wanita untuk bekerja sehingga membentuk para
isteri untuk menggerakan kesetaraan dan keadilan gender, dimana mereka
menuntut persamaan hak setara dengan laki-laki. Perempuan bebas memilih
mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah
tangga.
Hal itu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada anak
mereka. Beberapa masalah-masalah yang terjadi pada remaja, salah satu faktor
yang menyebabkan yaitu kurangnya perhatian dari orangtua yang dikarenakan
orangtua sama-sama sibuk bekerja. Dari fenomena tersebut, salah satu dari
pasangan tersebut harus mau mengalahkan egosentris-nya. Keputusankeputusan yang diambil harus diambil dari pertimbangan-pertimbangan yang
sudah diskusikan sebelumnya dan mereka harus mau menerima resiko hasil
dari keputusan tersebut .
Pada saat ini peran dalam keluarga mengalami perubahan seiring dengan
adanya emansipasi wanita (Padila, 2012: 28). Hal itu memunculkan fenomena

mengenai pertukaran

peran suami dan isteri. Peran ayah sebagai pencari

nafkah mulai bertukar dengan peran istri yang mengurusi urusan domestik.
Salah satu penyebab terjadinya pertukaran

peran suami istri yaitu belum

tercukupinya kebutuhan rumah tangga, sehingga membuat istri bergerak


mencari atau menggantikan posisi pencari nafkah dan suami mengalah
bergantian untuk mengurusi perkembangana anak.
Ayah yang biasanya berurusan di ranah publik (pencari nafkah)
berpindah mengurusi urusan rumah tangga, sepeti mencuci pakaian, memasak,
dan bahkan mengasuh anak-anaknya. Hal ini merupakan suatu hal yang
menggeser suatu struktur sosial yang ada di masyarakat pada umumnya
terutama di Indonesia. Budaya Indonesia memandang bahwa seorang ayah
menjadi breadwinner (kepala keluarga), mencari nafkah untuk memenuhi
kebutuhan setiap anggota keluarganya. Hal ini merupakan suatu hal yang
bertolak belakang tehadap budaya indonesia, sehingga hal ini menimbulkan
permasalahan tersendiri di dalam masyarakat.
Perubahan peran dalam keluarga akan menyebabkan terhadap hilangnya
salah satu unsur keluarga (ibu maupun ayah), hal ini menimbulkan dampak
ketidakseimbangan di dalam keluarga. Keseimbangan keluarga sendiri terjadi
jika keharmonisan hubungan (interaksi) antara ayah dan ibu antara ayah dan
anak, dan antara anak dengan ibu, terjadi. (Djamarah, 2002: 18) dalam Inayah.
Ketidakseimbangan tersebut di dalam keluarga akan menimbulkan suatu
permasalahan baru yang dikarenakan terjadi perubahan peran keluarga yang
semula utuh menjadi kehilangan satu peran ibu.

Fenomena pertukaran peran suami dan isteri terjadi pada keluarga


dengan wanita karir seperti TKW, Baby sister, buruh pabrik dll. Dengan
menjadi wanita karir akan membantu

meningkatkan perekonomian dan

kesejahteraan keluarga. Peluang wanita untuk wanita juga semakin


meningkatkan dikarenakan

Hal itu mendorong para wanita rela untuk

meninggalkan keluarganya (suami dan anak-anak) untuk meningkatkan


kesejahteraan keluarganya.
Perpisahan antara ibu dan anak dalam jangka waktu yang relatif lama
dapat merenggangkan bonding antara anak dan ibu sehingga menyebabkan
tidak terbangunnya basic trust dan menimbulkan kesulitan-kesulitan tingkah
laku dalam perkembangan kepribadian anak selanjutnya (Gunarsa, 2008). Hal
tersebut juga dirasakan oleh remaja, dimana masa remaja merupakan masa
storm dan stress. Masa storm dan stress yang dimaksud adalah masa-masa
mulai muncul permasalahan baik secara psikis maupun non psikis .
Masa Remaja awal (sekitar usia 11 atau 12 sampai 14 tahun), transisi
keluar dari masa kanak-kanak, menawarkan untuk tumbuh bukan hanya dalam
dimensi fisik, tetapi juga dalam kompetensi kogitif, sosial, emosional (Papalia,
2008:535). Masa ini merupakan masa yang beresiko, sebagian remaja
mengalami kesulitan dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam dirinya
sehingga mereka membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dalam
memasuki periode ini. Banyak Remaja yang mengalami kegagalan dalam tahap
ini, seperti yang dikutip (Mazida,2014) bahwa tahun 2012 mencatat bahwa
62% remaja di Indonesia mengalami perilaku kekerasan yang dilakukan terjadi

di rumah atau dalam lingkungan keluarga. Hal itu dikarenakan kurang adanya
pengawasan dari kedua orangtua . Hal tersebut juga dikemukakan dalam
penelitian Inayah :.
Keadaan anakanak yang tidak di dampingi ibu ataupun ayah dalam
keluarga biasanya akan berpengaruh pada pergaulan/sosialisasi anak
yang mengarah pada pergaulan bebas tak terkendali, seperti mabukmabukan, narkoba, pergaulan bebas dan sebagainya. Perilaku
tersebut merupakan suatu alasan anak-anak untuk diperhatikan oleh
orangtuanya.
Maka dari itu masa ini membutuhkan peranan kedua orang itu baik itu ayah
maupun ibu. Allen (dalam Santrock, 2011) menyebutkan orangtua memainkan
peranan penting dalam perkembangan remaja. Apabila ketidakhadiran salah
satu orangtua (ayah ataupun ibu), seringkali menimbulkan berbagai
permasalahan terutama psikologis seperti rasa malu, Emosionalitas, kurang
percaya diri merasa cemas, merasa tidak aman, merasa takut dan frustasi. Hal
tersebut jika dibiarkan akan mengakibatkan arah kriminalitas.
Banyak

sebab

yang

membuat

remaja

terjerat

oleh

berbagai

permasalahan psikologi seperti dukungan dalam memasuki dunia baru dari


masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Selain itu menurut (Ade Benih,
2011: 28) remaja juga membutuhkan dalam pemenuhan fisik dan psikis.
Pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan ,minum, olah raga dll. Sedangakan

kebutuhan psikis seperti rasa kasih sayang, rasa aman penghargaan (pujian),
rasa diterima oleh keluarga atau kelompok lain.
Fenomena tersebut terjadi pada sebagian keluarga TKW, dimana
terdapat pengaruh ketidakhadiran peran ibu pada perkembangan masa remaja.
Remaja membutuhkan bimbingan dalam mencari identitas diri sebenarnya,
karena pada masa ini ketidakmatangan dalam dirinya akan mudah dipengaruhi
oleh orang lain. Kepergian ibu keluar negeri untuk mencari nafkah,
menimbulkan suatu permasalahan bagi remaja teruma psikis.
Hal ini juga diperkuat melalui penelitian beberapa peneliti Universitas
gajahmada dan Kampus lain dengan judul Children health and Migrant
Parents in Southeast Asia (CHAMPSEA) atau dampak migrasi internasional
terhadap keluarga dan anak migran menyatakan bahwa Dampak negatif itu
dirasakan khususnya terhadap kesehatan psikologis anak. Hal ini terlihat dalam
lebih tingginya masalah yang menyangkut emotional symptom, conduct
problems, dan hyperactifpada keluarga migran (TKW) dibandingkan dengan
nonmigran. Artinya adalah hilangnya peran salah satu, ibu atau ayah, atau
bahkan kedua-duanya telah memunculkan masalah tersendiri bagi anak.
(www.ugm.ac.id)
Di Kabupaten Kendal terutama di kecamatan Gemuh merupakan salah
satu daerah di Indonesia yang mengirim tenaga kerja wanita (TKW) ke luar
negeri seperti Hongkong, malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Malaysia dll. Selama
ibu (TKW) bekerja di luar negeri, anaknya diasuh ayah atau suami, sehingga

kondisi ini membuat adanya pertukaran antara fungsi orang tua. Ayah berperan
sendiri dalam pengasuhan anak dikarenakan ibu harus pergi ke luar negeri
untuk mencari nafkah. Ayah sebagai laki-laki tentu sangat sulit untuk
memerankan peran perempuan. Karena secara biologis sudah sangat berbeda.
Parker dan Parker (Suadah, 2003: 194-196) menyatakan bahwa laki-laki
mempunyai tingkat agresi yang lebih tinggi dan cenderung kasar, mengancam
dan unggul sedangkan wanita lebih lembut dan memiliki kedekatan emosional
yang tinggi dengan anak.

Karakter ayah dan ibu yang berbeda tersebut

sebenarnya tidak bisa digantikan, karena hal tersebut akan mempengaruhi


perkembangan anak, sehingga menimbulkan dampak psikologi bagi remaja.
Hal itu juga diungkapkan ( dalam Wardiyah,2013 ) menyatakan bahwa
Anak-anak dari keluarga migran cenderung mengalami gejala depresif dan
memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah, mereka juga
berperilaku destrukftif (Laz-zari, 2000; Barnett & Gareis, 2006; Cripps
&Zyromski, 2009), seperti melakukan kekerasan di sekolah, putus sekolah,
perilaku membolos, kebut-kebutan, merokok, penyalahgunaan narkoba,
mengkonsumsi minuman keras, seks bebas (Dacey & Kenny, 1997; Lazarry,
2000),hingga menarik diri dari lingkungan (Feldman2009; Buist et al., 2004).
Hal ini diperkuat melalui studi pendahuluan dengan Kepala Madrasah
salah MA di kecamatan Gemuh, beliau menyatakan bahwa :
kurangnya perhatian dari orangtua terutama ibu yang menjadi
migran ke luar negeri, menimbulkan kenakalan remaja. Namun

kenakalan remaja masih dianggap wajar seperti membolos,


berbohong, merokok, tidak mengerjakan PR dll. Hal ini
dikarenakan juga diberikan uang saku yang berlebihan.
Kepergian ibu ke luar negeri untuk menjadi TKW , tidak selamanya
berdampak negatif terhadap anak remaja. Terdapat juga dampak positif bagi
sebagian remaja , yaitu menjadi mandiri dan lebih dewasa.

Dengan

ditinggalnya ibu, remaja belajar untuk mengurusi segala keperluannya sendiri


seperti menyiapkan makanan sendiri, mencuci dan menyetrikan bajunya
sendiri. Selain itu bagi sebagian remaja putri, ia menggantikan figur ibu bagi
adik dan ayah dengan membantu segala keperluan keluarga yang biasanya
disiapkan ibu.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian nova indra 2013, yang
menyatakan bahwa narasumber utama mengajari anak untuk lebih mandiri
seperti memakai benik baju sendiri dan makan sediri . Dengan mengajari anak
menjadi mandiri akan membantu meringan beban dia (ayah). Selain itu dapat
meringankan beban orangtua , hal tersebut baik untuk perkembangan
sosioemosional pada anak sehingga menjadikan anak lebih matang .
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik meneliti lebih dalam
mengenai Dampak psikologi Pertukaran peran orangtua pada remaja .