Anda di halaman 1dari 5

PEMUAIAN ZAT CAIR DAN ANOMALI AIR

Abdurrohman (140310130008)
Program Studi FISIKA FMIPA Universitas Padjadjaran
Rabu, 19 November 2014
Asisten : Sinthia Rahmanita

Abstrak
Pemuaian adalah perubahan suatu benda yang dapat bertambah panjang, lebar, luas atau volumenya
karena terkena panas, Percobaan Pemuaian zat cair dan anomali air ini bertujuan untuk mengetahui cara
pengukuran volume zat cair dan untuk memahami sifat anomali air. Suatu benda atau zat akan mengalami
penyusutan jika didinginkan dan mengalami pemuaian jika dipanaskan, tetapi tidak bagi air saat berada di
selang suhu 00 40C dimana pada rentang suhu ini volume air menyusut ketika pemuaian sehingga
koefisien muai volume dari air menjadi negatif dan rapat massa air mencapai maksimum zat cair tersebut
mengalami sifat ketidakteraturan yang disebut dengan sifat anomali air. Di dalam percobaan ini akan
dilihat ketinggian air saat penaikan maupun penurunan temperature, yang kemudian akan dihitung
koefisien muai volumenya dengan rumus

V
h

V T h T .

Kata Kunci : Pemuaian, anomali air, dan koefisien muai volume

I.

Pendahuluan

Sebagian besar zat akan memuai jika


dipanaskan(menerima energi kalor) dan
menyusut jika didinginkan (melepas energi
kalor). Pemuaian zat adalah peristiwa
meregangnya partikel-partikel penyusun
yang ada pada suatu zat yang menyebabkan
berubahnya bentuk fisis dari zat tersebut.
Saat pemuaian besarnya perubahan substansi
suatu zat sebanding deengan kenaikan suhu
dari zat tersebut.Hal tersebut juga berlaku
pada air, namun ketika pada interval suhu 04 oC, terjadi keanehan pada air dimana pada
rentang ini volume air menyusut dan rapat
massanya mencapai maksimum. Pada
percobaan ini bertujuan untuk memahami
cara pengukuran volume zat cair dan untuk
memahami sifat anomali air.
II.
Teori Dasar
1. Pengertian Suhu (temperature)
Suhu merupakan suatu istilah yang
dipakai untuk membedakan panas
dinginnya suatu benda. Misalnya
benda panas dikatakan mempunyai
suhu tinggi dan benda dingin
mempunyai suhu dingin. Skala yang
digunakan
dalam
pengukuran

temperature adalah kelvin, celcius,


reamur dan fahrenheit.[1]
2. Pemuaian zat
Pemuaian
merupakan
peristiwa merenggangnya partikelpartikel penyusun yang berada di
dalam
suatu
benda
yang
menyebabkan berubahnya bentuk
fisis benda tersebut. Pemuaian ini
berlaku untuk setiap benda yang
mendapatkan energi atau transfer
energi dari luar. Jika suatu benda
dipanaskan maka molekul-molekul
itu bergetar semakin cepat. Getaran
antar molekul molekul itu bergetar
semakin cepat. Getaran antar
molekul tersebut menyebabkan antar
molekul saling dorong dan jarak
antar moekul semakin lebar sehingga
memerlukan ruang yang lebih besar.
Dalam hal ini benda dikatakan
memuai. Sebaliknya jika suatu
didinginkan
maka
getaran
molekulnya lebih lambat. Akibatnya,
gaya tarik antarmolekulnya lebih
besar
sehingga
jarak
antarmolekulnya menjadi kecil.
Dalam keadaan seperti itu benda
cenderung menjadi menyusut.
Setiap zat akan mengalami
perubahan fisis jika zat tersebut

diberikan energi kalor ( dipanaskan),


besarnya perubahan substansi atau
materi dari zat tersebut sebanding
dengan kenaikan suhu dari zat
tersebut. Jika ada sebuah batang
dengan panjang L0 dan suhu awal T0 .
ketika dipanaskan, panjang dari
batang tersebut akan mengalami
perubahan dari panjang semula.

L = L0 (1+T)
Peningkatan temperatur juga dapat
menimbulkan pemuaian volume,
baik pada zat padat maupun cair.
Seperti halnya pada pemuaian linier
(panjang), kenaikan volume dari zat
tersebut sebanding dengan kenaikan
temperatur zat.
V = V0 T
dimana
dan

gambar diatas menerangkan panjang


awal batang adalah L0, dan suhu awal
batang T0. Ketika dipanaskan
panjang batang tersebut berubah dan
memiliki panjang L dan suhu T.
Penambahan panjang dari dari
sebelumnya yaitu L dan perubahan
suhu yaitu T, secara matematis
dapat dituliskan:
dan

Dimana merupakan konstanta,


yang nilainya berbeda-beda pada
setiap zaat dan dinamakan koefisien
ekspansi volume (coefficient of
volume expansion).[2]
3. Anomali air
Anomali air merupakan peristiwa
penyimpangan
pemuaian
atau
penyusutan yang terjadi pada air
pada rentang suhu 0-4 oC. Dimana
pada rentang suhu ini volume air
menyusut ketika pemuaian sehingga
koefisien muai volume dari air
menjadi negatif dan rapat massa air
mencapai maksimum. Peristiwa
inilah yang menyebabkan dimana air
danau
lebih
dulu
membeku
dipermukaan daripada air yang ada
dibawah permukaan.[3]

L = L - L0
T = T - T0

Sehingga
didapatkan
L = L0 T

1 L
X
L T

Dimana
adalah
konstanta, yang nilainya berbedabeda pada setiap materi dan
dinamakan koefisien ekspansi linier
(coefficient of linier expansion).
Koefisien dapat ditulis:

Dan kita dapat pula menghitung


panjang akhir setelah pemuaian

V = V - V0
T = T - T0

III.

Percobaan

Metode eksperimen

Menyusun peralatan anomali air


seperti gambar di atas kemudian
tabung diisi air hingga penuh
melalui
corong,
dan
kunci
buretnya, nyalakan temperatur
digitalnya dan isi kotak pendingin
dengan es, temperature akan turun
hingga 170C, setelah itu catat
ketinggian airnya setiap penurunan
suhu 0,20C. setelah itu keluarkan es
yang ada di dalam kotak pendingin
dan keringkan kotak tersebut, catat
suhu awal dan ketinggian awal
percobaan
kedua
tersebut
kemudian
catat
perubahan
ketinggian setiap penaikan suhu
0,20C.
IV.

Data dan Analisa

Data hasil percobaan


Penaikan suhu
Penurunan suhu

Grafik Percobaan

Analisa
Dari
percobaan
ini
didapat
beberapa data berupa perubahan
suhu dan ketinggian air, kemudian
menghitung koefisien muai volume
setiap kenaikan atau penurunan
suhu untuk mengetahui pemuaian
volume zat cair. Dari harga
koefisien yang didapat dapat kita
lihat
bahwa
harga
koefisien
bergantung pada perubahan suhu,
ketinggian awal dan perubahan
ketinggian air sehingga didapat
harga koefisien yang berbeda-beda
setiap perubahan suhunya baik
saat penaikan ataupun penurunan

suhu.
Saat
proses
pendinginan/penurunan
suhu
ketinggian
air
mengalami
penyusutan akan tetapi saat di
selang 4oC mengalami pemuaian
hal tersebut dinamakan dengan
peristiwa anomaly air, sedangkan
saat percobaan penaikan suhu
tidak terjadi peristiwa anomali air
karena suhu awalnya dimulai dari
4oC, yang seharusnya saat proses
pemanasan/penaikan suhu akan
mengalami pemuaian kecuali saat
di suhu 0 4oC air akan mengalami
penyusutan. Selain itu kita juga
menghitung massa air yang dipakai
dengan berbagai data massa jenis
dan ketinggian air.
Sementara dari grafik yang
diperoleh, grafik ketinggian air
terhadap suhu dapat dilihat bahwa
pada saat penurunan suhu kurva grafik
mula-mula fluktuatif, kemudian mengalami
penurunan ketinggian seiring dengan
penurunan suhunya. Sehingga dapat
dikatakan bahwa perubahan suhu dan
perubahan tinggi adalah sebanding. Hal ini
karena pada fase ini laju gerak partikelpartikel bertambah besar sehingga terjadi
penyusutan. Kemudian pada kisaran suhu 40
C ketinggian kolom airnya naik hal ini
dikarenakan pada fase ini air akan memasuki
fase anomali air. Tetapi peristiwa anomali air
pada percobaan ini terjadi di suhu 4,6oC
karena faktor lingkungan, keterbatasan suhu
ddan keterbatasan alat sehingga suhu
anomali air tidak tepat di 4oC. Sedangkan
pada grafik penaikan suhu maka terjadi hal
sebaliknya, kurva grafik akan mengalami
kenaikan seiring dengan kenaikan suhu. Hal
ini karena pada fase ini runtuhnya/ lepasnya
kristal struktur terbuka. Dan satu hal
mengapa dalam grafik kita menggunakan
perbandingan
perubahan
suhu
dan

perubahan tinggi (tidak menggunakan


perubahan volum), karena pada percobaan
perubahan volume yang terjadi sangat kecil,
maka yang diamati adalah perubahan
ketinggian kolom airnya.
V.

Simpulan

Dari hasil percobaan tersebut


dapat disimpulkan bahwa koefisien
muai volume(ketinggian) air dapat
dihitung dan nilainya bergantung
pada perubahan suhu, dan volume
awal
menyebabkan
nilainya
berbeda-beda setiap perubahan
suhu. Sedangkan sifat anomali air
dapat dipahami dalam percobaan
ini, anomali air pada penurunan
suhu
ditandai
dengan
terjadi
peningkatan
ketinggian
air

(pemuaian)
bukannya
terjadi
pnsutan.
Anomali
air
pada
percobaan ini terjadi di suhu 4,6 oC
krena
faktor
lingkungan
dan
keterbatasan alat sehigga tidak
tepat di 4oC.
Daftar Pustaka
[1] Surya, Yohannes.1988. Fisika 1
edisi kedua.Klaten : PT Intan
[2] Resnick, H. 1985. Fisika Jilid 1
edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
[3] Sears dan Zeamansky. 1982.
Fisika untuk Universitas. Bandung :
Rinacipta