Anda di halaman 1dari 22

TUGAS RADIOFARMASI

APLIKASI RADIOFARMASI DALAM BIDANG KESEHATAN

Disusun oleh :
Nurul Husnah
(1343050099)

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA


2015

BAB I
PENDAHULUAN

Radiofarmasi adalah adalah penggunaan senyawa radioaktif dalam pengobatan


penyakit.
Radiasi adalah pemancaran/pengeluaran dan perambatan energy menembus ruang
atau sebuah substansi dalam bentuk gelombang atau partikel. Partikel radiasi terdiri dari
atom atau subatom dimana mempunyai massa dan bergerak, menyebar dengan kecepatan
tinggi menggunakan energi kinetik. Beberapa contoh dari partikel radiasi adalah electron,
beta, alpha, photon & neutron.
Sumber radiasi dapat terjadi secara alamiah maupun buatan. Sumber radiasi
alamiah contohnya radiasi dari sinar kosmis, radiasi dari unsur-unsur kimia yang terdapat
pada lapisan kerak bumi, radiasi yang terjadi pada atsmosfir akibat terjadinya pergeseran
lintasan perputaran bola bumi. Sedangan sumber radiasi buatan contohnya radiasi sinar x,
radiasi sinar alfa, radiasi sinar beta , radiasi sinar gamma.
Sinar x ditemukan oleh Wilhem Conrad Roentgen, seorang professor fisika dari
Universitas Wurzburg, Jerman. Saat itu ia melihat timbulnya sinar fluoresensi yang berasal
dari Kristal barium platinosianida dalam tabung Crookes-Hittorf yang dialiri listrik. Pada
tahun 1901 mendapat hadiah nobel atas penemuan tersebut. Akhir Desember 1895 dan
awal Januari 1896 Dr Otto Walkhoff (dokter gigi) dari Jerman adalah orang pertama yang
menggunakan sinar x pada foto gigi ( premolar bawah) dengan waktu penyinaran 25 menit,
selanjutnya seorang ahli fisika Walter Koenig menjadikan waktu penyinaran 9 menit dan
sekarang waktu penyinaran menjadi 1/10 second (6 impulses).
William Rollins adalah orang yang mengerjakan intraoral radiograf pada tahun 1896
mengalami cedera disebabkan efek pekerjaan yaitu kulit tangannya terbakar sehingga
direkomendasikanlah

pemakaian

tabir/pelindung

antara

tabung,

pasien

maupun

radiographer. Korban lain dr Max Hermann Knoch orang Belanda yang bekerja sebagai ahli
radiologi di Indonesia. Ia bekerja tanpa menggunakan pelindung tahun 1904 dr Knoch
menderita kelainan yang cukup berat luka yang tak kunjung sembuh pada kedua belah
tangannya. Lama kelamaan tangan kiri dan kanan jadi nekrosis dan lama diamputasi yang
akhirnya meninggal karena sudah metastase ke paru.

Penggunaan prinsip dan cara-cara farmasi dan radiokimia untuk membuat obat yang
mengandung atom radioaktif (radiofarmaka) bagi keperluan diagnosa dan penyembuhan
(terapi) penyakit yang diidap oleh pasien. Senyawa kimia atau obat, yang salah satu atom
penyusun

strukturnya

adalah

nuklida

radioaktif,

untuk

keperluan

diagnosa

atau

penyembuhan (terapi) suatu penyakit dan dapat diberikan ke pasien secara oral, parenteral,
dan inhalasi disebut sebagai radiofarmaka. Sedangkan untuk bidang keahlian (specialist)
kedokteran yang berhubungan dengan penggunaan bahan radioaktif (radiofarmaka) untuk
tujuan diagnosa dan terapi suatu penyakit disebut kedokteran nuklir.

Radiofarmaka diformulasikan dalam berbagai wujud kimia dan fisika untuk


mengarahkan (targeted) keradioaktifan ke bagian-bagian tertentu dari tubuh dengan
harapan bahwa Radiasi- yang dipancarkan dari radiofarmaka diagnosa dengan mudah
akan keluar dari tubuh sehingga memungkinkan deteksi dan pengukuran dilakukan di luar
tubuh (eksternal).
Terapi Radiofarmaka akan memancarkan radiasi dalam bentuk partikel bermuatan,
misalnya b atau a, yang mendepositkan energi kedalam organ yang sedang disembuhkan
dari penyakit.
Aplikasi teknologi nuklir dalam bidang farmasi saat ini sudah sangat maju dan hal ini
erat kaitannya dengan bidang kedokteran nuklir. Radioisotop yang digunakan dalam bidang
farmasi dari tahun ke tahun terus bertambah.
Sampai saat ini jumlah radioisotop yang digunakan dalam sediaan radiofarmaka
kurang lebih sebanyak 200 macam. Sediaan radiofarmaka sebanyak itusudah hampir
mendekati titik jenuh karena pemakaiannya dalam bidang kedokteran nuklir sudah banyak
sekali dan sediaan radiofarmaka tersebut akan bertambah manakala didapat penemuan
baru aplikasi teknologi nuklir dalam bidang farmasi atau kedokteran nuklir.

BAB II
PEMBAHASAN
Sediaan radiofarmaka adalah istilah yang digunakan pada zat radioaktif yang
digunakan dalam bidang farmasi dan juga kedokteran nuklir. Sediaan radiofarmaka adalah
istilah yang digunakan pada zat radioaktif yang digunakan dalam farmasi dan juga
kedokteran nuklir.
Istilah sediaan radiofarmaka tidak termasuk zat radioaktif yang digunakan dalam
bidang radiologi. Pengertian lebih lanjut dari sediaan radiofarmaka adalah zat radioaktif yang
dimasukkan ke dalam tubuh manusia baik secara langsung ( Oral / Diminum ) atau secara
parental / Disuntik, serta tidak berada dalam wadah yang tertutup ( sealed source ). Sediaan
radiofarmaka yang masuk ke dalam tubuh manusia akan ikut mengalami perubahan
metabolisme yang terjadi di dalam tubuh.
Selain hal tersebut di atas, pengertian sediaan radiofarmaka akan lebih lengkap bila
disertai keterangan lain yang disyaratkan dalam pembuatan sediaan farmasi pada
umumnya, seperti bagaimana pengaruh serta tingkat toksisitasnya di dalam tubuh manusia.
Bagaimana pengaruh sterilitas sediaan radiofarmaka dan lain sebagainya, juga perlu
ditambahkan sebagai keterangan tambahan pada sediaan radiofarmaka. Mengingat bahwa
sediaan radiofarmaka akan dimasukkan kedalam tubuh manusia
Beberapa hal yang harus diperhatikan demi keselamatan dalam pemakaiannya,
antara lain :
a. Dosis radiasi maksimum yang diijinkan ( Maximum Permissible Dose ( MPD ) ).
b. Waktu optimum yang diperlukan untuk memulai penatahan / pengukuran.
c. Dosis pemakaian ( administered dose ) yang tepat dari setiap sediaan radiofarmaka
berdasarkan waktu dan MPD
d. Ketepatan pemilihan sediaan radiofarmaka yang akan digunakan berdasarkan
pertimbangan biologis, peluruhan fisika ( physical decay ), dan kementakan /
Kebolehjadian keberhasilan pema-kaian sediaan radiofarmaka secara statistik.

e. Pertimbangan medis antara pemakaian sediaan radiofarmaka dan penanganan


medis.
f.

Masalah-masalah lain yang mungkin timbul dari pemakaian sediaan radiofarmaka.


Contoh sediaan radiofarmaka dapat dilihat pada penjelasan aplikasi teknologi nuklir

dalam bidang kedokteran yang telah dibahas di muka. Namun demikian, sebenarnya
sediaan radiofarmaka secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi :

A. Sediaan radiofarmaka isotop primer, Contoh :


1.

I-131 dalam bentuk larutan NaI131

2.

P-32 dalam bentuk larutan H3P32O4 atau NaH2P32O4

3. S-35 dalam bentuk larutan H2S35O4

B. Sediaan radiofarmaka senyawa bertanda, contoh :


1. Hipuran I-131
2. Emas koloid Au-198
3. Rose bengal I-131
4. RISHA I-131
5.

Asam oleat I-131

6. Tc-99m dan derivatnya

Dengan adanya sediaan radiofarmaka maka banyak sekali persoalan dalam bidang
kedokteran yang tidak bisa diatasi dengan cara konvensional, tapi saat ini bisa diatasi
dengan metode kedokteran nuklir yang menggunakan sediaan radiofarmaka. Contoh
persoalan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

A. Uji Fungsi Ginjal


Sebelum dikenal aplikasi teknologi nuklir dalam bidang kedokteran melalui
kedokteran nuklir yang memanfaatkan sediaan radiofarmaka, keadaan ginjal hanya bisa
dilihat berdasarkan hasil foto (rountgen) radiologi terhadap ginjal. Berdasarkan foto
rountgen ginjal bisa diketahui kalau ada penyumbatan karena batu ginjal.
Akan tetapi bagaimana fungsi ginjal tidak bisa diketahui melalui foto rountgen
tersebut. Fungsi ginjal hanya bisa diketahui melalui radiofarmaka Hipuran I-131 yang
dimasukkan ke dalam tubuh manusia, hasil pencacahan radiasi yang dipancarkan dari ginjal
kiri dan ginjal kanan kemudian direkam. Hasiil rekaman ginjal kiri dan ginjal kanan dapat
digunakan untuk menganalisis fungsi Ginjal.

B. Uji Fungsi Kelenjar Gondok ( Thyroid Uptake )


Kelenjar gondok ( gland thyroid ) yang sangat berperan pada pertumbuhan dan
perkembangan organ tubuh dan otak manusia selama ini hanya bisa diketahui keadaan
fisiknya dengan peradaban dari luar saja.

Kelenjar gondok ( gland thyroid ) yang tidak normal biasanya akan berusaha
sebisanya untuk menangkap iodium yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga akan tumbuh
membesar. Keadaan kelenjar gondok yang membesar ini dapat dilihat dan diraba dari luar.
Bila kelenjar gondok sudah membesar , berarti fungsi untuk menangkap iodium tidak
berfungsi lagi. Untuk melihat apakah kelenjar gondok berfungsi baik atau tidak ( sebelum
membesar ), dapat dilakukan dengan memasukkan radiofarmaka I-131 ke dalam tubuh
manusia.
Setelah beberapa saat dilakukan pencacahan radiasi di sekitar kelenjar gondok
(gland thyroid). Rekaman hasil pencacahan. Untuk melihat betapa luas dan pentingnya
pemakaian radiofarmaka dalam bidang kedokteran berikut ini dapat dilihat betapa macam
sediaan radiofarmaka dan pemakaiannya.

No.

Sediaan Radiofarmaka
Serum Albumin

Pemakaiannya
Penulusuran hati

Dosis, Ci
300-1000

Macroagregat I131
Natrium fosfat P32

Natrium kromat Cr51

Penelusuran limpa
Menentukan tumor pada mata
Sel darah merah

300-1000
250-500
25-100

Natrium Flouride

Natrium Pertachnetat Tc99m

Penelusuran limpa
Penelusuran tulang
Penelusuran Otak

150-300
2000-4000
5000-15000

Asam Oleat I131

Rose Benganl I131

Penelusuran thyroid
Absorbsi pada ternak
Uji fungsi hati

1000-3000
225-50
10-25

Selenometheonin Se75
Stronium
klorida atau

Penelusuran hati
Penelusuran pada pankreas

100-150
250

Penelusuran tulang

50-100

Mempelajari kanker tulang


Penelusuran pool darah jantung

20-10
2000-5000

Penelusuran plasenta

500-1000

Penelusuran pari-paru

1000-3000

Penelusuran hati dan paru-paru

1000-3000

Mempelajari pulmonari
Pengobatan efusi peritoneal

3000-5000
9-12

Pengobatan efusi peural


Pengobatan efusi peural

6-9

9
10

Nitrat Sr85
Strotium sitrat Cr87

11

Serum Albumin Tc99m

12
13

Serum

albumin

agregat

Tc99m
Technitium-S-Serum

14

Albumin Tc99m koloidal


Xenon Xe133

15

Krom fosfat koloidal P32

16

Emas koloidal Au198

17

18

Natrium Iodida I131+

Natrium Fosfat

Pengobatan efusi peritoneal

35-75
50-150

Hyperthyroidisme

2-10

Penyakit jantung

25-50

Kanker thyroid
Policitemia vera

100-150
3-8

Leukimia kronis

1-2

Kanker tulang metastase

10-15

APLIKASI RADIOLOGI DALAM KESEHATAN


Sinar x adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan
gelombang listrik, radio, inframerah panas, cahaya, sinar gamma , sinar kosmik dan sinar
ultraviolet tetapi dengan panjang gelombang yang sangat pendek. Penggunaan sinar x
adalah sesuatu yang penting untuk diagnosa gigi geligi serta jaringan sekitarnya dan
pemakaian yang paling banyak pada diagnostic imagingsystem. Perbedaan antara sinar

dengan sinar elektromagnetik lainnya terletak pada panjang gelombang dimana panjang
gelombang pada sinar x lebih pendek yaitu :
1 A = 1/100.000.000 cm = 10-8 cm.
Lebih pendek panjang gelombang dan lebih besar fekwensinya maka energi yang
berikan lebih banyak. Energi pada sinar x memberikan kemampuan untuk penetrasi
khususnya gigi, tulang dan jaringan disekitar gigi. Efek dari radiasi elektromagnetik dalam
kehidupan, bervariasi tergantung panjang gelombang, Gelombang TV dan radio dimana
berada di atsmosfir tidak mempunyai efek pada jaringan manusia. Microwave dengan energi
radiasi yang rendah dapat menghasilkan energi panas dalam jaringan organik yang juga
bekerja pada microwave ovens.
Elektromagnetik dengan energi yang sangat rendah dapat menyebabkan ionisasi
seperti yang ada pada MRI (magnetic resonance imaging) untuk diagnostik. Kemampuan
sinar x menghasilkan gambar mengindikasikan sinar x dapat menembus kulit, jaringan dan
tulang.
Sinar x mempunyai beberapa sifat fisik yaitu daya tembus, pertebaran, penyerapan,
efek fotografik, fluoresensi, ionisasi dan efek biologik, selain itu, sinar x tidak dapat dilihat
dengan mata, bergerak lurus yang mana kecepatannya sama dengan kecepatan cahaya,
tidak dapat difraksikan dengan lensa atau prisma tetapi dapat difraksikan dengan kisi kristal.
Dapat diserap oleh timah hitam, dapat dibelokkan setelah menembus logam atau benda
padat, mempunyai frekuensi gelombang yang tinggi.
a. Daya tembus
Sinar x dapat menembus bahan atau massa yang padat dengan daya tembus yang
sangat besar seperti tulang dan gigi. Makin tinggi tegangan tabung (besarnya KV) yang
digunakan, makin besar daya tembusnya. Makin rendah berat atom atau kepadatan suatu
benda, makin besar daya tembusnya.
b. Pertebaran
Apabila berkas sinar x melalui suatu bahan atau suatu zat, maka berkas sinar
tersebut akan bertebaran keseluruh arah, menimbulkan radiasi sekunder (radiasi hambur)
pada bahan atau zat yang dilalui. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gambar radiograf
dan pada film akan tampak pengaburan kelabu secara menyeluruh. Untuk mengurangi
akibat radiasi hambur ini maka diantara subjek dengan diletakkan timah hitam (grid) yang
tipis.
c. Penyerapan

Sinar x dalam radiografi diserap oleh bahan atau zat sesuai dengan berat atom atau
kepadatan bahan atau zat tersebut. Makin tinggi kepadatannya atau berat atomnya makin
besar penyerapannya.
d. Fluoresensi
Sinar x menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti kalsium tungstat atau zink sulfide
memendarkan cahaya (luminisensi). Luminisensi ada 2 jenis yaitu :
1.
2.

Fluoresensi, yaitu memendarkan cahaya sewaktu ada radiasi sinar x saja.


Fosforisensi, pemendaran cahaya akan berlangsung beberapa saat walaupun
radiasi sinar x sudah dimatikan (after glow).

e. Ionisasi
Efek primer dari sinar x apabila mengenai suatu bahan atau zat dapat menimbulkan
ionisasi partikel-partikel atau zat tersebut.
f. Efek biologi
Sinar x akan menimbulkan perubahan-perubahan biologi pada jaringan. Efek biologi
ini yang dipergunakan dalam pengobatan radioterapi.
Untuk pembuatan sinar X diperlukan sebuah tabung rontgen hampa udara di mana
terdapat elektron elektron yang diarahkan dengan kecepatan tinggi pada suatu sasaran
(target). Dari proses tersebut di atas terjadi suatu keadaan di mana energi elektron sebagian
besar di rubah menjadi panas ( 99% ) dan sebagian kecil (1 %) menjadi sinar x.
Suatu tabung pesawat rontgen mempunyai beberapa persyaratan yaiatu:
1. Mempunyai sumber electron
2. Gaya yang mempercepat gaya electron
3. Lintasan elektron yang bebas dalam ruang hampa udara
4. Alat pemusat berkas electron ( focusing cup )
5. Penghenti gerakan electron
Tabung sinar x terdiri dari tabung gelas hampa udara, elektroda positif disebut anoda
dan elektroda positif disebut katoda. Katoda dibalut dengan filament, bila diberi arus
beberapa mA bisa melepaskan elektron. Dengan memberi tegangan tinggi antara anoda
dan katoda maka elektron katoda ditarik ke anoda. Arus elektron ini dikonsentrasikan dalam
satu berkas dengan bantuan sebuah silinder (focusing cup). Antikatoda menempel pada
anoda dibuat dari logam dengan titik permukaan lebih tinggi, berbentuk cekungan seperti

mangkuk. Waktu elektron dengan kecepatan tinggi di dalam berkas tersebut menumbuk
antikatoda, terjadilah sinar x.
Makin tinggi nomor atom katoda maka makin tinggi kecepatan elektron, akan makin
besar daya tembus sinar x yang terjadi. Antikatoda umumnya dibuat dari tungsten, sebab
elemen ini nomor atomnya tinggi dan titik leburnya juga tinggi (34000C) hanya sebagian kecil
energi elektron yang berubah menjadi sinar x kurang dari 1% pada tegangan 100 kV dan
sebagian besar berubah menjadi panas waktu menumbuk antikatoda. Panas yang tinggi
pada tabung didinginkan dengan menggunakan pendingin minyak emersi / air.
Prosedur penggunaan radiofarmaka di dalam kedokteran nuklir dapat dibagi dalam
tiga kategori:
1.

Prosedur imaging atau pencitraan

2.

Kajian fungsi in vivo

3.

Prosedur terapi
Prosedur imaging memberikan informasi diagnosa atas dasar pola distribusi
keradioaktifan di dalam tubuh. Dua kajian utama dalam pemberian informasi imaging dalam
tubuh dari radiofarmaka adalah:
a. Kajian dinamik memberikan informasi fungsional melalui pengukuran laju akumulasi
dan laju keluarnya radiofarmaka oleh organ.
b. Kajian statik memberikan informasi morfologi berkenaan dengan ukuran, bentuk, dan
letak organ atau adanya lesi yang menempati ruang, dan dalam beberapa kasus
mengenai fungsi relatif. Pola distribusi radiofarmaka dalam suatu organ bervariasi
dan tergantung organ yang diamati dan ada atau tidak adanya penyakit.
Adapun tiga jenis pengamatan yang dilakukan melalui imaging atau pencitraan
adalah:
1.

Citra (image) dalam bentuk hot spots atau adanya keradioaktifan


yang merata (uniform) disebabkan radiofarmaka terkonsentrasi dengan mudah di dalam
organ yang sehat atau normal, sedangkan jaringan berpenyakit menolak atau
mengeluarkan radiofarmaka tersebut dan lesion muncul dalam bentuk citra yang cold
spots. Misalnya, pada penatahan (scanning) liver dengan partikel koloid bertanda
radioaktif ; setelah partikel koloid tersebut diinjeksikan, partikel berakumulasi pada selsel phagocytosis yang terdapat di liver. Bila tumor atau lesi lain berada di dalam liver,
maka sel-sel yang melokalisasi koloid radioaktif akan digantikannya.

2.

Citra (image) dalam bentuk hot spots atau adanya keradioaktifan


yang merata (uniform) disebabkan radiofarmaka terkonsentrasi dengan mudah di dalam
organ berpenyakit atau lesion, sedangkan jaringan yang sehat atau normal menolak
atau mengeluarkan radiofarmaka tersebut sehingga citra muncul sebagai cold
spots. Misalnya, penatahan otak dengan menggunakan radiofarmaka yang ditolak oleh
`blood-brain-barrier`. Bila otak tersebut berpenyakit sehingga `blood-brain-barrier`
menjadi rusak, maka radiofarmaka dapat meninggalkan ruang vascular dan selanjutnya
terlokalisasi didalam lesi.
Organ normal bisa mengakumulasikan radiofarmaka, tetapi jaringan berpenyakit

mampu mengakumulasikannya baik pada tingkat yang lebih tinggi lagi bila fungsi organ
berlebihan atau meningkat, maupun pada tingkat yang lebih rendah dari pada organ normal
apabila fungsi organ menurun. Misalnya, dalam pencitraan kelenjar thyroid (thyroid gland)
dengan menggunakan iodium radioaktif. Kelenjar thyroid dengan mudah mengakumulasikan
radiofarmaka iodium-131 melalui fungsi normal, tetapi kelenjar yang sakit dengan jaringan
thyroid yang hyperfunction atau hypofunction akan menunjukkan konsentrasi radioiodium131 yang meningkat atau menurun.
Mengukur fungsi suatu organ atau system didasarkan atas absorpsi, pengenceran
(dilution), pemekatan, atau ekskresi keradioaktifan setelah pemberian radiofarmaka ini yang
disebut dengan telaah radiofarmasi secara in vivo. Radiofarmaka sendiri harus tidak
mempengaruhi, dalam cara apapun, fungsi sistim organ yang sedang diukur. Cara ini tidak
memerlukan pencitraan, tetapi analisis dan interpretasi didasarkan atas pencacahan
keradioaktifan yang muncul baik secara langsung dari organ-organ yang berada di dalam
tubuh atau dari cuplikan darah atau urin yang dicacah secara in vitro.
Beberapa contoh telaah secara in vivo yakni Telaah uptake iodium radioaktif untuk
mengkaji fungsi kelenjar thyroid sebagaimana ditentukan dengan pengukuran eksternal
prosentase dosis radioidium yang diambil oleh kelenjar vs. waktu. Dapat juga dengan
penentuan volum darah keseluruhan dengan mengukur pengenceran dari sejumlah tertentu
sel darah merah bertanda 51Cr yang diinjeksikan secara intravena dalam suatu volum sel
merah. Ataupun pengkajian tak langsung absorpsi vitamin B 12 dari gastrointestinal tract
dengan mengukur fraksi vitamin B12 bertanda 57Co yang diberikan secara oral yang
diekskresikan di dalam urin dalam perioda waktu tertentu (Schilling test).
Dua faktor utama berkaitan dengan pengukuran radiasi:
1. Ionisasi materi oleh radiasi
2. Energi radiasi yang diserap (absorbsi) oleh materi

Kedua hal tersebut berhubungan langsung dengan konsekuensi biologis akibat


interaksi radiasi dengan tubuh manusia. Tetapi berat ringannya paparan radiasi tergantung
dari berapa banyak energi diserap, makin banyak energy yang terserap maka semakin
berbahaya paparan radiasi tersebut dan bagamana energi terdistribusi di dalam bahan
penyerap. Jenis radiasi berbeda bisa mendepositkan jumlah energi yang sama di dalam
jaringan yang sama, tetapi pola distribusinya bisa berbeda.
Kerusakan radiasi akan lebih besar terhadap sel-sel jaringan jika energi radiasi 100
erg yang diserap terkosentrasi dibagian terkecil dari 1 gram jaringan dari pada jika 100 erg
energi didepositkan secara merata di seluruh 1 gram jaringan. RBE (Relative Biologic
Effectiveness) merupakan ukuran yang digunakan untuk menjelaskan derajat efek biologis
yang dihasilkan oleh jenis radiasi yang berbeda dengan dosis terserap yang sama. RBE
adalah dosis radiasi sinar x dan g dalam Rad yang diperlukan untuk menghasilkan efek
biologis tertentu dibagi dengan dosis radiasi dalam Rad setiap radiasi pengionisasi yang
diperlukan untuk menghasilkan efek biologis yang sama.
RBE tergantung dari besarnya LET (Linear Energy Transfer) radiasi tertentu. Lebih
besar LET makin tinggi efek biologis dari radiasi tertentu yang diserap. Energi yang diserap
dalam jarak yang pendek akan menyebakan lebih banyak injury yang diterima bila
dibandingkan dengan energi yang diserap dalam jarak yang jauh.
Beberapa radiasi bisa menghasilkan lebih banyak ionisasi per panjang lintasan yang
dilalui. Radiasi demikian dikatakan memiliki ionisasi spesifik yang tinggi dan karena itu akan
mendepositkan energi yang lebih banyak dalam panjang lintasan yang sama, artinya radiasi.
memiliki LET yang tinggi. Misalnya, 0.05 rad radiasi a di dalam jaringan menghasilkan efek
biologis yang sama seperti yang ditunjukkan oleh 1 rad radiasi sinar-x atau g, maka RBE
radiasi a adalah 20.
Bila 1 rad radiasi b menghasilkan efek biologis yang sama dengan 1 rad radiasi
sinar-x atau g, maka RBE radiasi b adalah 1.
Dalam proteksi radiasi akan memudahkan untuk menjumlahkan kontribusi dosis dari
tipe radiasi berbeda, kemudian digunakan suatu `modifier` sebagai faktor kualitas radiasi (Q)
yang berhubungan dengan tipe dan energi radiasi serta LET nya.

Dalam radiofarmasi dan kedokteran nuklir, paparan radiasi eksternal (external


exposure) yang menjadi perhatian utama adalah yang berkaitan dengan pemancaran sinarg dan sinar-x, karena kemampuannya untuk menembus jaringan dan menyebabkan ionisasi.
Lain halnya dengan radiasi partikel, paparan eksternalnya terhadap tubuh sedikit
memberikan efek berbahaya, karena partikel b dan a mudah diserap oleh udara atau oleh
beberapa mm lapisan kulit. Meskipun demikian, beberapa pemancar b energi tinggi,
seperti 32P (1.7 MeV), 90Y (2.28 MeV), dan 89Sr (1.46 MeV) dapat memiliki ancaman
eksternal karena jangkauannya (range) di udara maupun jaringan cukup tinggi.
PROTEKSI RADIASI
Sumber potensial paparan radiasi internal (internal radiation exposure) adalah
ingestion makanan atau air terkontaminasi dan inhalation radionuklida yang ada diudara.
Tiga hal yang sangat penting perlu diperhatikan untuk proteksi radiasi dari paparan esternal
radiasi-g adalah:
1.

Waktu
Lebih singkat waktu paparan, lebih rendah dosis radiasi yang harus diterima. Ini

artinya bahwa bekerja dengan bahan radioaktif harus direncanakan dengan baik dan
dilaksanakan secepat mungkin, terutama bila bekerja dengan sumber radiasi tanpa
dilengkapi perisai
2.

Jarak
Mempertahankan jarak sepraktis mungkin dari suatu sumber radiasi merupakan

suatu metoda yang efektif untuk mengurangi paparan radiasi berdasarkan `hukum kuadrat
terbalik`. Hukum ini hanya berlaku untuk radiasi- dan radiasi sinar-x, yang menyatakan
bahwa jumlah radiasi dari suatu sumber titik berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari
sumber. Secara sederhana, dengan melipat-gandakan jarak dari suatu sumber radiasi akan
mengurang paparan sampai seperempatnya. Prinsip pengurangan paparan ini hanya
terpenuhi jika ukuran fisis sumber relatif kecil bila dibandingkan dengan ukuran tubuh yang
dipapar.
3.

Perisai (shielding)
Keefektifan bahan perisai tergantung dari nomor atom, kerapatan, dan ketebalan

bahan perisai. Bahan yang memiliki kerapatan dan nomor atom yang tinggi artinya memiliki
banyak atom (elektron) yang terkemas dalam volum kecil sehingga menghasilkan `stopping
power` yang tinggi. Karena itu bila energi foton gamma semakin tinggi, maka dibutuhkan
perisai yang semakin tebal untuk menghentikan foton gamma tersebut. Hubungan antara

intensitas radiasi semula (I0 ) dan intensitas setelah melalui perisai (I) dinyatakan dalam
persamaan berikut:
I = I0 e-mx dengan m adalah koefisien attenuasi linier (mm-1)
Penting dan perlu mengetahui dengan jelas berapa dosis radiasi yang diterima tubuh
keseluruhan (whole body) dan yang diterima organ individual bila radiofarmaka diberikan
kepada pasien. Hal ini dikarenakan Jumlah radiasi yang diabsorbsi harus diketahui untuk
tujuan mengkaji risiko radiasi terhadap pasien. Serta Informasi dosis radiasi menentukan
berapa jumlah maksimum keradioaktifan yang perlu diberikan untuk suatu prosedur
kedokteran nuklir.
SIFAT IDEAL RADIOFARMAKA IMAGING
Beberapa sifat-sifat radiofarmaka diagnostik imaging yang ideal adalah sebagai
berikut:
1.

Pemancar gamma murni


Meluruh melalui electron capture atau isomeric transition. Radiasi yang mempunyai

daya tembus rendah, seperti partikel alfa dan beta tidak diinginkan, karena: linear energy
transfer (LET) tinggi, fraksi energi yang didepositkan per cm jarak tempuh sangat tinggi,
yang mengakibatkan absorpsi kuantitatif di dalam tubuh ataupun sedikit partikel yang
sampai ke detektor, sehingga partikel alfa dan beta tidak memberikan citra. Partikel dengan
LET yang tinggi mengakibatkan dosis radiasi sangat significant terhadap pasien.
2.

100 keV < energi gamma < 250 keV


Umumnya peralatan imaging (kamera gamma) didisain untuk berfungsi dengan

baik, memberikan kualitas citra (image) optimal, di daerah rentang energi ini.
Radionuklida tertentu dengan energi sinar gamma dibawah 100 keV: misalnya 201 Tl
dan 133 Xe dengan energi gamma kira-kira 70-80 keV, atau diatas 250 keV: seperti 67Ga
dan 131I dengan energi gamma masing-masing 300 dan 364.5 keV, telah umum digunakan
secara klinis. Radionuklida energi tinggi jenis ini memerlukan kolimasi lebih tinggi untuk
mendapatkan kualitas citra yang lebih baik, tetapi akibatnya akan menurunkan sensitivitas
dan resolusi.
3.

Waktu paruh efektif = 1.5 x lamanya pemeriksaan.


Batasan waktu ini memberikan kesesuaian antara kenginan meminimalkan dosis

yang diterima pasien dan memaksimalkan dosis yang diinjeksikan agar statistik pencacahan
dan kualitas citra memberikan hasil yang optimal.
untuk ventilation study merupakan perkecualian.

133

Xe atau gas mulia lain yg digunakan

Radiofarmaka harus bisa dikeluarkan dari tubuh secara kuantitatif dalam beberapa menit
setelah diagnosa selesai. Kebanyakan radiofarmaka menunjukkan pola clearance
eksponensial sehingga waktu paruh efektifnya cukup panjang (dalam hitungan jam atau
hari bukan detik atau menit).
4.

Target to non-target ratio tinggi.


Jika ratio tidak cukup tinggi (5:1 minimum untuk planar imaging, kira-kira 2:1 for

SPECT imaging), hasil scan menunjukkan adanya nondiagnostic scan dan ini menyulitkan
atau tidak memungkinkan untuk membedakan organ berpenyakit (pathology) dari latarbelakang. Misalnya, untuk thyroid scan, idealnya semua radioaktivitas berada di dalam
thyroid dan tidak ada tempat lain di daerah sekitar leher.
Kepentingan dosimetri, liver uptake dari radioiodida tidak diinginkan sama sekali,
disamping tentunya tidak mempunyai dampak di dalam proses penyidikan (imaging) yang
sesungguhnya karena tidak berada dalam daerah etapi untuk pandang. Rendahnya ratio
juga menimbulkan radiasi yang tidak perlu yang diterima pasien.
5.

Dosimetri Radiasi Internal


Dosimetri radiasi terhadap pasien maupun petugas kedokteran nuklir harus

memerlukan perhatian khusus, terutama dalam memenuhi persyaratan sesuai dengan


panduan ALARA (As Low As Reasonably Achievable).
Konsep ALARA didasarkan terhadap upaya mempertahankan dosis radiasi serendah
mungkin yang dapat dicapai. Dengan konsep ini telah dapat diimplementasikan
pengurangan menyeluruh dosis terhadap pekerja radiasi. Tentunya meskipun dosis radiasi
yang diinjeksikan ke pasien harus sekecil mungkin, tetapi harus konsisten memberikan
kualitas citra yang baik.
Untuk pekerja radiasi Maximum Permissible Dose (MPD) untuk keseluruhan tubuh
adalah 1 Rem per tahun untuk tiap tahun umur pekerja radiasi tersebut. Misal: jika pekerja
berumur 30 tahun, maka MPD adalah 30 R.
6.

Keselamatan pasien
Radiofarmaka harus memperlihatkan tidak adanya toksisitas terhadap pasien.

Misalnya, mengapa kita tidak pernah mempersoalkan

201

Tl dalam bentuk thallous klorida,

TlCl, yang dewasa ini diinjeksikan secara rutin ke pasien untuk sidik atau diagnosa kelainan
jantung? Telah diketahui umum bahwa ion thallous (Tl+) merupakan kardiotoksin yang
potent. Hal ini bisa diterima dalam praktek sehari-hari, karena keaktifan jenis (specific
activity), 201Tl yang bebas pengemban adalah sangat tinggi dan jumlah Tl-201 yang
terkandung di dalam sediaan dengan aktivitas 3 mCi hanya sekitar 42 ng, suatu jumlah yang

sangat kecil dan berada di bawah tingkat yang signifikan untuk dapat memberikan respon
fisiologis dari pasien.
7.

Reaktivitas kimia
Harus tersedia substrate atau tempat didalam molekul dimana memungkinkan reaksi

penandaan dengan atom radioaktif dapat dilakukan. Tidak setiap senyawa dapat ditandai
dengan setiap isotop. Dalam kenyataannya penandaan sering memerlukan suatu posisi
yang selektif di dalam molekul atau senyawa.
Senyawa yang menunjukkan biodistribusi yang dapat diterima, sering menjadi tidak
berguna bila telah ditandai logam radioaktif atau telah mengalami iodinasi. Bahkan
perubahan sedikit saja dilakukan terhadap struktur molekul sering akan menyebabkan
perubahan biodistribusi yang drastis. Karena itu penelitian ekstensif perlu dilakukan untuk
menentukan

struktur

molekul

optimal

agar

penandaan

menggunakan isotop spesifik. Misalnya, salah satu ciri khas

99m

dapat

dilakukan

dengan

Tc sebagai radioisotop yang

ideal untuk sidik diagnosa adalah kemampuannya untuk terikat dengan mudah terhadap
berbagai jenis senyawa dalam kondisi fisiologis, mulai dari molekul yang sederhana, seperti
pyrophosphate, sampai sejenis gula, seperti glucoheptonat; dari peptida sampai antibodi;
dari koloid yang tidak larut sampai dan makroaggregat sampai dengan antibiotik dan
molekul komplek yang lain.
8.

Tidak mahal dan tersedia dengan mudah.


Radiofarmaka harus stabil baik sebelum dan sesudah proses penandaan (pre- and

post-reconstitution). Apabila suatu senyawa tertentu memperlihatkan kinerja yang baik untuk
suatu prosedur tertentu, dan hanya tersedia di suatu rumah sakit besar, maka
penggunaanya dengan jelas akan sangat terbatas. Karena itu dengan melihat kondisi
ekonomi dewasa ini, maka radiofarmaka yang sangat mahal tentu penggunaanya akan
terbatas dan tidak populer, apalagi bila ada metoda alternatif yang lebih murah.
9.

Penyiapan serta kendali kualitasnya sederhana jika dibuat ditempat (rumah

sakit).
Penyiapan suatu obat tentu harus sederhana dengan tahapan pengerjaan yang
relatif sedikit. Prosedur dengan tahapan lebih dari tifa tahap umumnya tidak memenhui
persyaratan inin. Disamping itu tidak diperlukan suatu peralatan yang rumit dan tidak ada
tahap dengan waktu pengerjaan yang lama. Jika radiofarmaka dibuat ditempat (in-house),
maka sangatlah penting kendali kualitas (quality control) dilaksanakan untuk setiap batch

yang disiapkan dalam upaya menjamin bahwa tiap-tiap sediaan akan memberikan citra
(image) kualitas tinggi sementara bisa meminimalkan dosis radiasi terhadap pasien.

Radioimunoterapi adalah metode penanganan kanker denganmemanfaatkan reaksi


spesifik antigen dan antibodi. Radioisotop dengan jenisradiasi yang mematikan sel
ditumpangkan ke antibodi yang bereaksi secaraspesifik dengan tumor-associated antigen.
Setelah dimasukkan ke dalam tubuh,antibodi akan terikat ke dalam antigen yang ada di sel
kanker dan sel tersebutakan dimatikan oleh radiasi yang dipancarkan radioisotop.
Sampai saat ini, radioimunoterapi telah digunakan untuk pengobatanbeberapa jenis
kanker, antara lain pengobatan limfoma, kanker prostat, danmelanoma. Adabeberapa jenis
radioantibodi yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat danMakanan Amerika Serikat
(FDA, Food and Drug Administration), diantaranya adalahZevalin dan Bexxar. Zevalin
adalah antibodi monoklonal anti-CD20 yang kedalamnya telah diikatkan radioisotop
pemancar beta Yttrium-90. Sedangkan Bexxaradalah antibodi monoklonal anti-CD20 yang
ke dalamnya telah dimuati denganradioisotop Iodium-131. Kedua radioantibodi ini
digunakan untuk penanganankanker limfoma.
Penggunaan radioimunoterapi pada pengobatan limfoma atauleukima adalah
dengan menginjeksikan antiCD20 yang dilabel dengan radioaktif.Mula-mula pasien
dipersiapkan sedemikian rupa, yaitu dengan diberi infusantibodi yang tidak dilabel radioaktif.
Kemudian pasien akan menerima antibodiyang dilabel radioaktif dalam dosis yang rendah.
Antibodi yang berlabelradioaktif ini akan beredar di dalam tubuh dan akan menghampiri sel
limfoma Bdan limfosit B normal. Antibodi membawa radioaktif pada sel limfoma dan
terjadipembunuhan sel kanker yang terlokalisasi serta sedikit limfosit B normal.
Penggunaan radioimunoterapi pada pengobatan kanker prostatadalah dengan
melabel antibodi monoklonal dari kanker prostat. Antibodimonoklonal pada kanker prostat
disebut anti-PSMA (Prostat-Specific MembranAntigen) mAb. J591 adalah anti-PSMA mAb
yang belum dilabel denganradioaktif. Radioaktif yang digunakanuntuk melabel J591 adalah
177Lu dan 90Y. Dalam jurnal penelitian, pasien kankerprostat dibagi dalam beberapa
kelompok lalu diberi 177Lu-J591 dan 90Y-J591berbagai dosis selama 2-4 bulan. Hasilnya,
pemberian berulang 177Lu-J591 (30-60mCi/m2) atau 90Y-J591 (17.5 mCi/m2) dapat
ditoleransi pasien dengan trombocitopenia.Meskipun pemberian tunggal dosis besar
dipertimbangkan dapat membunuh selkanker dalam fraksi besar.
Radioimunoterapi yang digunakan dalam pengobatan melanomamenggunakan
antibodi monoklonal 6D2. Pada melanoma yang menjadi targetradioimunoterapi adalah

melanin. Penelitian yang dilakukan pada mencit,menggunakan 6D2 mAb yang dilabel
188Re. untuk mengetahui efikasinya 188Re-6D2mAb dibandingkan dengan kemoterapi
yang menggunakan dacarbazine. Hasilpenelitian tersebut menunjukkan 188Re-6D2 mAb
lebih efektif dalam menghambatpertumbuhan tumor pada mencit. Selain itu, pengobatan
melanoma dengandacarbazine yang diikuti radioimunoterapi lebih efektif daripada
terapitunggal.
Di beberapa negara, pemanfaatan nuklir di bidang kesehatanterus berkembang
pesat. Skala ekonominya telah mencapai angka yang menjanjikan.Di Amerika Serikat
dilaporkan telah mencapai 49 milyar dollar AS per tahun padatahun 1998, atau sekitar 5%
dari total belanja kesehatan nasional negaratersebut yang sebesar 987 milyar dollar
AS. Sedang di Jepang, pemanfaatan radiasi nuklir memiliki skala ekonomi 12milyar dollar
AS per tahun, atau setara dengan 4,3% dari total belanjakesehatan yang sebesar 279 milyar
dollar AS. Potensi ekonomi yang tersimpan didalam layanan kesehatan berbasis teknologi
nuklir ini diprediksi akanmendoorong berbagai pihak untuk mengembangkannya di tanah air.
Dunia medis erat kaitannya dengan diagnosis dan pengobatan(terapi) suatu
penyakit. Untuk mengetahui jenis dan adanya penyakit, dilakukan dengan cara
mendiagnosis penyakit yang diderita seseorang. Bila sudah diketahui penyakitnya,
pengobatan pun bisa dilakukan dengan tepat dan lebih cepat.
Berbagai cara dan teknologi diterapkan untuk melakukan keduanya. Adayang
menggunakan obat-obatan herbal, kimia, hingga ke sinar dari radioaktif.Untuk masalah pada
tulang, selama ini teknologi yang umum digunakan adalah Sinar X untuk rontgen. Namun,
kini ada teknologi diagnosis dan terapi untuktulang dengan menggunakan sinar gama dan
materi bermuatan (alfa dan beta). Penggunaannya melalui aliran darah, baik dengan oral,
injeksi, maupun diisap.
Penggunaan radioaktif melalui aliran darah disebut radiofarmasi. Dalam terapi ini,
obat dimasukkan ke dalam atau sirkulasi darah. "Obat itu menggunakan molekul atom
radioaktif. Atom yang membentuknyaadalah radioaktif," ujar Kepala Pusat Radioisotop dan
Radiofarmaka BadanTenaga Atom Nasional (Batan), Abdul Mutalib, beberapa waktu lalu
diJakarta.Molekul atom radioaktif yang digunakan untuk terapi tulang memancarkansinar
gama. Sinar ini berdaya tembus tinggi, bahkan bisa tembus ke luarjaringan. Untuk
mendeteksi letak sinar gama yang berkumpul di dalamtulang,digunakan kamera gama.
Tahap diagnosis
Radioaktif gama dalam teknologi radiofarmasi adalah untukdiagnosis.Adadua sinar
gama yang digunakan untuk diagnosis. Yakni, single photon emisiencomputerized
tomography (gmisi dari photon tunggal yang dapat ditelusurikomputer). Yang terbaru disebut
PET-positron emission tomography (radioaktifyang memancarkan positron).

Teknologi ini digunakan agar sinar gama yang masuk ke dalamaliran darah bisa
menembus sasaran. Setelah mencapai sasaran, dalam kurun waktutertentu bisa ditelusuri
dengan kamera gama atau komputer. Menurut Mutalib,waktu yang dibutuhkan sekitar
beberapa jam lamanya. Setelah menembus sasaran,elektronnya hilang. Dalam diagnosis,
digunakan penelusuran dengan pencitraan.Sinar gama ini bisa masuk ke tingkat sel dan
pencitraannya mampu menggambarkanhingga tingkat molekul (molecular imaging).
"Pencitraannya sudah detail. Kalau CT-Scan atau MagnetikResonance Imaging (MEI) itu
hanya anatomi, juga Ultrasonography (USG) hanyapada fi-siologi. Tapi, tak bisa melihat
sampai tingkat molekul. Kalau ini,sampai tingkat sel. Jadi, diagnosisnya jauh lebih akurat,"
ujarMutalib.Terapi dengan radioaktif, kata Mutalib, berbeda dengan obat (farmasi)biasa.
Produk industri farmasi, peng-obatannya hanya untuk terapi, bukan untukdiagnosis.Untuk
terapi, radioaktif ini diminum, diinjeksi, juga diisap."Apa pun caranya,yang penting aman
bagipenderita, dan bisa masuk kesaluran darah. Semua akan masuk ke aliran darah,"
ujarnya.
Terapi radioaktif ini, sambungnya, didesain untuk mengikutialiran darah hingga ke target
yang dituju sesuai fungsinya, misalkan ke otak,tulang, dan lain-lain. Untuk itu, tiap-tiap terapi
organ tertentu, jenisnyajuga berbeda. Karena itu, jenisnya pun beragam.Bila sudah
mencapai sasaran,radioaktif itu akan memancarkan radiasi yang bisa ditangkap oleh
kamera

gama.Maka

itu,

di

kamera

itu

akan

tampak

bentuk

jantung,

otak,

ataupuntulangnyadengan warna terang berpen-dar. "Dari situ, kita bisa melihat kelainan
selatau organ," ujarnya.
Langkah ini, kata Mutalib, sangat berbeda dengan kemoterapi.Kemoterapi digunakan
untuk membunuh sel kanker atau penyakit dengan bahankimia. Senyawa kimia
ditembakkan ke sel sasaran, tetapi seringkali sel-selsehat di sekitarnya juga mati.
"Radiofarmasi terapinya di tingkat seluleryang abnormal dan lebih spesifik kinerjanya.
Sasaran yang dikenai pun sangatterbatas pada yang dituju saja," ujarnya.
Efeknonfarmakologis
Penggunaan radiofarmasi untuk terapi mungkin membuat orangawam khawatir pada
efek sampingnya. Namun, Mutalib menjelaskan, jumlahradioaktif gama yang dimasukkan ke
aliran darah itu sangat kecil danradi-asinya akan hilang seiring selesainya ia bertugas. Masa
paruh radioaktifuntuk terapi itu sekitar dua hari. Sedangkan untuk diagnosis, waktu
paruhnyasekitar dua hingga enam jam.
Sistem ini sudah dirancang sedemikian rupa sehingga takmemberikan efek farmakologis
di tubuh. Ini berbeda dengan obat yang memberikanefek samping. "Toksisitasnya ada pada
tingkat aman untuk terapiradiofarmasi, dan sudah kita uji toksisitas. Tingkatnya adalah di
bawah LD(lethal dosis) 50," ujar Mutalib.

Selaim tak ada efek farmakologis, radiofarmaka juga memiliki efek fisiologis. Jika
dengan kemoterapi, pasien akan mengalami efek fisiologis seperti mual, rambut rontok, kulit
menghitam, dan lain-lain. Sedangkan radiofarmaka, menurut Mutalib tak memberikan efek
seperti kemoterapi dan pengaruhnya sangat minimal. Bila menjalani radiofarmasi, pasien tak
perlu dibius karena radiasimya yang kecil. alat deteksinya pun sangat sensitif sehingga
radioaktif yang digunakan pun tidak hanya dalam jumlah sedikit.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dunia medis erat kaitannya dengan diagnosis dan pengobatan (terapi) suatu
penyakit. Untuk mengetahui jenis dan adanya penyakit, dilakukan dengan cara
mendiagnosis penyakit yang diderita seseorang. Bila sudah diketahui penyakitnya,
pengobatan pun bisa dilakukan dengan tepat dan lebih cepat.
Berbagai cara dan teknologi diterapkan untuk melakukan keduanya. Ada yang
menggunakan obat-obatan herbal, kimia, hingga ke sinar dari radioaktif.
Penggunaan sinarX dalam rotgen merupakan salah satu contoh pemanfaatan
radiofarmasi dalam bidang ksehetan. Selain untuk mendiagnosa, radiofarmasi saat ini juga
digunakan untuk terapi penyakit, seperti contoh radioimunoterapi untuk pengobatan kanker
dan penggunaan zat-zat radiofarmaka yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk mengobati
berbagai macam penyakit. Selain hal tersebut masih banyak peranan yang lain dari
radiofarmasi dalam bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Leswara ND. 2008. Buku Ajar Radiofarmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Saha, GB. 2004. Fundamentals of Nuclear Pharmacy 5th ed. New York: Springer
International Atomic Energy Agency. 2006. Nuclear Medicine ResourcesManual. Austria:
IAEA

Vallabhajosula, S., Stanley J. G., Lale K., Mathew I.M., David M.N. dan Neil H.B. 2005.
Radioimmunotherapy of Prostate Cancer Using 90Y- and177Lu-Labeled J591 Monoklonal
Antibodies: Effect of Multiple Treatments on Myelotoxicity. Clinical Cancer Research,
doi: 10.1158/1078-0432.CCR-1004-0023

Revskaya, E., Artemio M.J.,Rani S.S., Robertha C.H.,Wade K., Allan J.G.,Joshua
D.N., Arturo C., dan Ekaterina D. 2009. Radioimmunotherapy of Experimental Human
Metastatic Melanoma with Melanin-Binding Antibodies and in Combination with Dacarbazine.
Clinical Cancer Research, doi:10.1158/1078-0432.CCR-08-2376