Anda di halaman 1dari 11

ABSTRAK Ulasan kali ini akan membahas mengenai efek piranti fungsional pada struktur dentofacial pada perawatan maloklusi kelas II . Disamping munculnya pertanyaan baru mengenai efektivitas perawatan sejak dini, adanya penggunaan modifikasi pertumbuhan dapat menjadi pertimbangan dalam ilmu ortodontik modern. Tujuan dari ulasan kali ini adalah untuk mempelajari modifikasi pertumbuhan mandibula dengan menggunakan 2 piranti fungsional yaitu: aktivator meliputi mekanisme kerja, desain, efek pada struktur dentofasial dan fungsional regulator (Frankl). Terlepas dari piranti fungsional yang digunakan, masing-masing individu memilik variasi respon tersendiri terhadap perawatan yang diberikan. Perawatan lanjutan yang dapat digunakan dengan alat cekat diperlukan dalam kebanyakan kasus untuk memastikan keselarasan dan interdigitasi gigi-geligi. Terlepas dari alat yang digunakan, keberhasilan pengobatan tergantung pada kerjasama pasien. Kata kunci: Activator, Fungsional regulator (Frankel), piranti myofungsional.

PENDAHULUAN "Piranti fungsional" merupakan variasi dari berbagai piranti cekat dan lepasan yang dirancang untuk mengubah susunan dari berbagai kelompok otot yang mempengaruhi fungsi dan posisi rahang bawah untuk mengirimkan tekanan/dorongan pada gigi dan tulang basal. Biasanya, kekuatan-kekuatan otot yang dihasilkan dapat mengubah posisi mandibula dalam dimensi sagital dan vertikal, sehingga perubahan secara ortodontik dan ortopedi dapat tercapai. Piranti fungsional telah digunakan sejak tahun 1930. Disamping sejarahnya yang amat panjang, penggunaan piranti fungsional masih banyak menimbulkan kontroversi yang berkaitan dengan penggunaannya, metode, dan efektivitas. Meskipun ada sejumlah peralatan fungsional yang digunakan oleh dokter, ulasan ini hanya akan memaparkan mengenai aktivatoR dan fungsional regulator sebagai perawatan pada kasus maloklusi kelas II. Aktivator

Gambar 1. Activator.

aktivatoR dan fungsional regulator sebagai perawatan pada kasus maloklusi kelas II. Aktivator Gambar 1. Activator.

Mekanisme kerja dan desain Monoblok pertama kali dirancang oleh Robin pada tahun 1902. Monoblok merupakan piranti ortodontik lepasan yang merupakan suatu kesatuan. Andresen dan Haupl yang memperkenalkan penggunaan aktivator, meyakini bahwa pengulangan pola penutupan mandibula dapat menginduksi adanya adaptasi pada muskuloskeletal dan mengadaptasi ulang otot-otot wajah. Aktivator dirancang dengan bentuk longgar dan dibutuhkan keaaktifan pasien untuk selalu menggunakannya dengan benar, hal ini sering digambarkan sebagai piranti untuk latihan. Aktivator kini telah menggunakan akrilik meskipun sebelum-sebelumnya menggunakan karet. Kekuatan otot yang dihasilkan dengan cara memposisikan mandibula ke depan disalurkan ke gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah melalui basis akrilik dan busur labial yang berkontak dengan gigi seri rahang atas. Secara teori kekuatan-kekuatan tersebut disalurkan melalui gigi menuju periosteum dan tulang, di mana mereka menghasilkan efek menahan pada pertumbuhan rahang atas ke depan dengan cara merangsang pertumbuhan mandibula sehingga menyebabkan adaptasi dentoalveolar maksila-mandibula. Panduan akrilik interoklusal digunakan untuk mengarahkan adaptasi dentoalveolar menuju arah yang diinginkan. Untuk koreksi Maloklusi Kelas II, segmen posterior mandibula diarahkan untuk erupsi lebih ke vertikal dan mesial, sedangkan gigi rahang atas diarahkan untuk erupsi lebih ke distal dan bukal. Erupsi gigi rahang atas dalam dimensi vertikal dapat dihambat oleh adanya akrilik oklusal stop dan tekanan yang dihasilkan oleh piranti. Acrylic Incisal Coveraga dimaksudkan untuk menghambat erupsi gigi-gigi anterior rahang atas dan rahang bawah yang mana dapat mengakibatkan terhambatnya erupsi gigi anterior rahang bawah. Erupsi gigi insisivus yang tidak terkontrol dapat mempercepat koreksi overjet yang mana dapat meminimalkan efek ortopedik dari piranti pada rahang atas dan rahang bawah. Kebanyakan aktivator saat ini adalah modifikasi dari alat Andresen-Haupl, yang dirancang untuk digunakan pada malam hari. Construction bite. Aspek yang dapat dirubah dari suatu piranti alat adalah dimensi vertikal dari construction bite, efek langsung dari perawatan dapat dievaluasi atas dasar ini. Construction bite menentukan displacement arah sagital dan vertikal dari mandibula sehingga menentukan derajat dan arah aktivasi alat. Piranti andresen dapat menambah dimensi vertikal dari geraham sekitar 3-4 mm. Piranti harvold menggunakan construction bite yang dapat menambah dimensi vertikal ±5-6 mm jauh di luar rata-rata 4-5 mm dari posisi istirahat. Piranti Harvold dapat meningkatkan displacement arah horizontal dari mandibula untuk menjadi relasi molar

kelas I dengan cara yang sama yang digunakan Piranti Andresen untuk merubah relasi edge-to-edge pada insisivus

Fungsional regulator

relasi edge-to-edge pada insisivus Fungsional regulator Gambar 2. regulator Fungsional. Mekanisme kerja dan desain

Gambar 2. regulator Fungsional.

Mekanisme kerja dan desain Frankel meyakini bahwa kebiasaan otot orofasial yang buruk merupakan etiologi utama dalam Maloklusi Kelas II. Frankl meyakini juga bahwa koreksi untuk maloklusi kelas II dapat dicapai dengan memajukan posisi mandibula secara permanen melalui latihan otot. Fungsional regulator dapat memfasilitasi pergerakan otot secara aktif karena fungsional regulator merupakan penyangga jaringan lunak yang baik. Fungsional Regulator juga dapat memperkuat mandibula dengan gerakan memajukan mandibula secara lambat dan bertahap dalam jangka waktu yang panjang. Frankl menganjurkan juga untuk memajukan mandibula 2-3 mm selama 4-5 bulan. Kemajuan yang bertahap dari mandibula ini dapat diperoleh dengan cara penggunakan vestibular shields yang dipecah pada bagian bukalnya yang memungkinkan lip pads pada bagian labial rahang bawah dan lingual shield pada rahang bawah untuk maju. Posisi mandibula dapat diatur dengan menggunakan perisai akrilik (Acrylic shield) yang terdapat pada bagian lingual yang berkontak dengan bagian lingual mukosa alveolar gigi insisivus rahang bawah. Saat mandibula mencoba untuk kembali ke posisi posteriornya, shields akan memberikan tekanan pada prosesus alveolaris hal ini yang akan memberikan respon proprioseptif yang akan mereposisi rahang bawah ke depan. Otot-otot akan dengan mudah beradaptasi dengan setiap posisi baru yang diaplikasikan ke rahang bawah. Hal ini untuk mencegah otot-otot menjadi overactivated atau overstrectched yang dapat menyebabkan kelelahan

otot yang tidak diinginkan karena akan mengakibatkan kontak antara lingual shields

dengan permukaan lingual dari procesus alveolus anterior yang menyebabkan gigi

insisivus rahang bawah melebar. Frankel berpendapat bahwa dengan penambahan 2-3

mm akan mengurangi risiko kelelahan otot dan bahwa setiap posisi mendorong rahang

bawah ke depan akan menghasilkan stimulasi pertumbuhan condyle setiap harinya. Keuntungan lain dari FR (Fungsional regulator) adalah kemampuannya untuk mengekspansi lengkung rahang atas. Ekspansi merupakan hasil dari dua mekanisme: 1. bukal dan labial shields menyebabkan adanya tekanan otot pada gigi sehingga mahkota akan cenderung bergerak tipping menuju bukal ; 2. Bukal shields diposisikan dengan kedalaman maksimum pada vestibulum, sehingga jaringan periosteal akan tertarik keluar.

Gaya ini disalurkan melalui serabut-serabut otot dan jaringan ikat menuju tulang alveolar di mana gaya tersebut akan menginduksi gerakan lateral pada alveolus. Gerakan ini seharusnya ditujukan untuk melawan arah gerakan lingual akar sehingga pergerakan gigi menuju bukal secara bodily dapat terpenuhi. Disarankan bahwa untuk melakukan ekspansi ini diharuskan dengan cara stabil dan perawatan harus dimulai sejak fase geligi campuran. Meskipun FR merupakan penyangga jaringan mukosa, FR dirancang untuk memiliki kawat yang dapat melekat pada molar rahang atas dan kaninus untuk memastikan penjangkaran rahang atas yang adekuat. Telah dikemukakan bahwa penyebab paling umum dari kegagalan adalah kehilangan penjangkaran pada maksila. Tanpa adanya penjangkaran ini, piranti akan cenderung bergerak tipping ke lingual, berkontak dengan gigi insisivus bawah sehingga menyebabkan abrasi pada bagian labial

dari gingiva. FR juga memiliki kawat yang terletak pada labial yang dapat menghasilkan

kekuatan untuk menekan pada bagian lingual pada lengkung rahang atas jika berkontak dengan gigi. Piranti ini dipakai setiap waktu/setiap hari. Pengaruh berbagai peralatan pada struktur dentofacial A. Efek terapi aktivator 1. Efek pada mandibula. Birkebaek, Melsen, dan Terp dalam studi yang menampilkan laminographs dari sendi temporomandibular, menyimpulkan bahwa efek nyata dari perawatan adalah jumlah pertambahan pertumbuhan condylar dan remodelling dari artikular fossa. Kombinasi dari efek ini mengakibatkan displacement anterior yang permanen pada bagian mandibula. Menerapkan teori superimposisi pada sefalometrik, mereka memutuskan bahwa piranti tidak memiliki efek menghambat dalam proses pertumbuhan rahang atas nambun cenderung untuk menyebabkan rahang atas dan rahang bawah untuk tumbuh ke arah bawah dan ke posterior. Mereka juga mengemukakan bahwa perawatan yang dilakukan dapat mengakibatkan perpindahan

sedikit ke anterior dari pada fossa glenoid dibandingkan dengan fase kontrol dimana terjadi perpindahan yang minima. Selain ketinggian wajah anterior meningkat 1,1 mm dan sudut bidang mandibula(Mandibular plane angle) meningkat sebesar 2,5 derajat. Sudut bidang mandibula sedikit menurun di kontrol. Peneliti lain juga menemukan 1,0-2,0 mm terjadi peningkatan pertumbuhan mandibula setelah penggunaan aktivator. Pancherz mengevaluasi 30 kasus Maloklusi Kelas II Divisi 1 pada anak dalam fase gigi campuran

yang berhasil dirawat dengan menggunakan aktivator. Variabel kontrol nya adalah orang- orang dari jenis kelamin yang sama dan usia yang sama dengan kondisi oklusi yang sangat baik. Aktivator dipakai di malam hari untuk selama ± 32 bulan. Pancherz menemukan bahwa pertumbuhan mandibula meningkat sebesar 0,3 mm per tahun, tapi hasil ini tidak begitu signifikan dalam statistik. Dia menyimpulkan bahwa besarnya pertumbuhan mandibula tidak dipengaruhi oleh aktivator.

2. Efek pada rahang atas. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa ada kemungkinan

untuk mengubah arah pertumbuhan rahang atas Williams dan Melsens menunjukkan

bahwa peningkatan ketinggian vertikal rahang atas posterior mengakibatkan rotasi ke arah posterior dari mandibula dan pogonion. Forerg dan Odenrick mencatat penurunan yang signifikan dari sudut SNA. Vargervik dan Harvold menemukan bahwa aktivator menghambat pertumbuhan horizontal rahang atas sebanyak 2 mm; Pancherz menemukan terhambat sebanyak 1,7 mm.

3. Efek pada gigi-geligi. Bjork, Pancherz dan Wieslander dan Lagerstom, mengamati

perubahan dentoalveolar secara signifikan. Sebuah Maloklusi Kelas I dapat tercapai dengan gerakan tipping menuju distal dan mesial dari gigi rahang atas dan suatu gerakan vertikal dari gigi rahang bawah. Harvold dan Vargervik mengamati bahwa piranti juga menyebabkan tipping nya gigi insisivus rahang atas sebanyak 1.4 mm dan 0,5 mm dari gigi insisivus rahang bawah dengan arah tipping ke labial. Mereka menyimpulkan bahwa alat mencapai Kelas I oklusi dengan menghambat pembangunan vertikal dentoalveolar rahang atas, sementara mendorong pengembangan mesial dan vertikal dentoalveolar mandibula. Pancherz menemukan bahwa lebih dari 70% dari overjet yang dikoreksi oleh

gigi seri tipping. Sekitar 50% (2,5 mm) dari overjet yang berkurang gerakan lingual gigi insisivus rahang atas, sedangkan 22% (1,1 mm) berkurang insisivus pembakaran.

4. Efek pada jaringan lunak. Forsberg dan Odenrick [20] mengamati bahwa bibir retrusi

atas secara signifikan lebih umum di kelompok kelas II yang dirawat daripada kelompok kontrol. Hidung menunjukkan pertumbuhan ke depan yang sama pada kedua kelompok, tetapi pogonion jaringan lunak secara signifikan lebih anterior pada kelompok perlakuan.

Pengaruh regulator fungsional pada struktur dentofacial

1. Efek pada mandibula. Frankel dan Reiss melaporkan perpindahan maju pogonion dan

anak-anak berusia-pointBatarateof4mmperyearin6-to9 tahun-dan 6 mm per tahun pada anak-anak 9 sampai 13 tahun. McNamara menemukan bahwa FR menghasilkan

peningkatan rata-rata 1,2 mm per tahun dalam pertumbuhan mandibula. Righellis [22] juga menemukan bahwa FR meningkat panjang mandibula 1,8 mm per tahun.

2. Efek pada rahang atas. Righellis menemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap

horisontal maksila pada pasien yang diobati dengan FR dibandingkan dengan kelas yang tidak diobati II mata pelajaran.

3. Efek pada gigi-geligi. Frankel menunjukkan bahwa FR tidak dapat menyebabkan

pembakaran dari gigi seri rahang bawah karena alat tidak menghubungi mereka. Penegasan ini didukung oleh Nielsen yang menemukan bahwa FR tidak menginduksi proklinasi insisivus rahang bawah relatif terhadap basis kranial. Namun, peneliti lain menyimpulkan bahwa FR disebabkan sejumlah besar gigi seri proklinasi. McNamara, Bookstein, dan Shaughnessy percaya bahwa penempatan yang tidak tepat dari bantalan

labial bawah terlalu jauh oklusal atau labial akan menghasilkan efek bibir bumper daripada pembatasan aktivitas mentalis. Penempatan yang salah ini akan berkontribusi pada proklinasi tambahan yang ditemukan. Meskipun ada ketidaksepakatan tentang pengaruh FR pada gigi seri rahang bawah, ada kesepakatan yang lebih besar, dalam literatur, untuk efeknya pada gigi seri rahang atas. Mereka berujung lingual rata-rata 2,3-2,7 mm. Menurut McNamara, kegagalan untuk takik gigi rahang atas memungkinkan alat untuk batu posterior dan inferior, menyebabkan tip lingual gigi-geligi rahang dan rotasi ke bawah dan ke belakang rahang atas.

4. Efek pada profil jaringan lunak. Nielsen diperiksa Kelas II, Divisi 1 pasien yang diobati

dengan FR. Walaupun semua pasien menunjukkan per- baikan dalam profil jaringan lunak mereka karena posisi bibir ditingkatkan, tujuh dari sepuluh menunjukkan tidak ada perubahan dalam konveksitas wajah.

5. Pengaruh lebar lengkung. Sebuah jumlah yang signifikan ekspansi lebar lengkung

diamati oleh McDougall, McNamara dan Dierkes selama perlakuan dengan FR. Kurang ekspansi tercatat pada lengkung bawah dan dikaitkan dengan meluruskan gigi atas. Stabilitas jangka panjang dari ekspansi lengkung gigi setelah semua peralatan retensi telah dihapus belum cukup didokumentasikan. Singkatnya, dengan regulator fungsional, koreksi overjet dicapai melalui tipping gigi (63%) dan perubahan ortopedi tulang (37%).

Perbandingan efek peralatan fungsional dan metode pengobatan lain

Activator vs terapi alat cekat Kelas II maloklusi berhasil diobati dengan baik aktivator atau traksi ekstraoral dibandingkan dengan kontrol yang tidak diobati oleh Baumrind dan rekan [25,26]. Mereka menemukan bahwa panjang mandibula, diukur dari kondilus ke pogonion, meningkat sebesar 2,8 mm pada kelompok aktivator dan 2,7 mm pada kelompok tutup kepala, sementara kontrol meningkat sebesar 2,1 mm. Mereka juga menyimpulkan bahwa aktivator tidak secara signifikan mempengaruhi sudut bidang mandibula atau ketinggian wajah anterior.

Meacha cephalometrically dibandingkan 76 Kelas II, Divisi 1 pasien yang diobati dengan kekuatan ekstraoral dan aktivator dan menemukan bahwa aktivator positif mempengaruhi profil tulang dengan memposisikan pogonion dalam arah yang relatif lebih maju. Regulator fungsional vs terapi alat cekat

1. Efek pada rahang atas. Creekmore dan Radney membandingkan hasil pengobatan

yang diperoleh FR dengan yang diperoleh dengan perawatan edgewise standar dan traksi ekstraoral. Kedua kelompok juga dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diobati. Mereka mengamati bahwa kedua modalitas pengobatan yang efektif dalam koreksi Kelas II maloklusi. Meskipun kedua modalitas pengobatan secara signifikan mengurangi pertumbuhan anterior rahang atas, terapi alat cekat dengan pasukan ekstraoral menghambat pertumbuhan ke depan rahang atas dengan tambahan 1 mm.

Peralatan tetap juga dikaitkan dengan gerakan lingual 1.1 mm lebih besar dari gigi seri rahang atas.

2. Efek pada gigi-geligi. Perbedaan besarnya tip labial gigi insisivus rahang bawah

bergantung pada apakah Kelas II elastis digunakan selama terapi alat cekat. FR menyebabkan 0,8 mm kurang insisivus pembakaran dari peralatan tetap dan Kelas II

elastis. Di sisi lain, FR berkobar gigi seri 3.7 mm lebih ketika Kelas II elastis tidak digunakan selama terapi alat cekat. Dibandingkan dengan peralatan tetap, FR biasanya disebabkan 1,4 mm gerakan mesial tambahan geraham rahang bawah. Remmer dan rekan menemukan bahwa peralatan tetap menghasilkan lebih retraksi tubuh gigi-geligi rahang, relatif terhadap tindakan bahasa tip dominan dihasilkan oleh FR.

3. Efek pada mandibula. Gianelly, Arena, dan Bernstein [28] membandingkan efek dari

perawatan non-ekstraksi pada Kelas II, Divisi 1 maloklusi baik menggunakan mekanik edgewise dan tutup kepala, mekanik Begg dengan Kelas II elastis, atau FR. Kelompok FR terdiri dari 16 kasus yang paling berhasil diobati dari sampel 53. Gigi rahang atas yang

berlekuk seperti yang dianjurkan oleh Frankel. The cephalogram pasien FR diambil sehubungan sentris dengan menggunakan alat ukur daun. Gianelly dan rekan menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara peralatan sehubungan dengan perubahan tulang dan gigi yang terjadi untuk mencapai hasil yang sukses. Selain itu, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah pertumbuhan mandibula antara tiga modalitas. Mereka menyimpulkan bahwa koreksi Kelas II dicapai melalui kombinasi efek ortodontik dan ortopedi, dengan perubahan dominan menjadi efek dentoalveolar. Mereka percaya bahwa semua modalitas pengobatan ini mungkin akan mempengaruhi wajah tumbuh rata-rata dengan cara yang sama. Dalam studi lain yang dirancang untuk mengevaluasi kemampuan FR untuk meningkatkan pertumbuhan mandibula, Gianelly dan rekan meneliti 10 Kelas II, Divisi 1 pasien yang diobati selama 1 tahun dengan FR. Pasien-pasien ini dibandingkan dengan 15 pasien dengan Kelas II Divisi 1 maloklusi yang dirawat dengan serviks tarik tutup kepala dan edgewise mekanik. Sebuah pengukur daun digunakan untuk memastikan posisi hubungan sentris pada kedua kelompok. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pertumbuhan mandibula yang diukur dari articulare ke gnathion ditemukan antara kelompok selama tahun pertama pengobatan. Meskipun kedua kelompok menunjukkan pertumbuhan mandibula rata-rata 2,4 mm, ada sejumlah besar variasi individu. Pertumbuhan bular Mandi- berkisar 0,8-3,5 mm pada kelompok FR dan 0,8-4,1 mm pada kelompok edgewise. Para peneliti menekankan bahwa kebanyakan studi yang mengevaluasi peralatan fungsional tidak menjamin bahwa posisi hubungan sentris benar diperoleh. Oleh karena itu mereka percaya bahwa banyak dari pertumbuhan mandibula tambahan diklaim benar-benar bisa menjadi sikap ke depan mandibula. 4. Perubahan yang efektif di pogonion. Creekmore dan Radney [29] tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam perpindahan ke depan pogonion dengan FR. Karena tambahan 1,2 mm pertumbuhan mandibula diungkapkan terutama vertikal dan horizontal tidak, mereka menyimpulkan bahwa pengobatan dengan FR menghasilkan wajah yang lebih panjang, dengan minimal (0,5 mm) perpindahan anterior tambahan pogonion dibandingkan dengan kontrol yang tidak diobati. Kesimpulan yang sama ditemukan oleh McNamara, Bookstein, dan Shaughnessy [23]. Mereka mengamati bahwa pada anak-anak yang lebih tua dari 10% tahun, meskipun 3,6 mm meningkatkan panjang mandibula, hanya 1,3 mm diungkapkan horizontal. Pada anak-anak yang lebih muda (2 usia = 8,8 tahun), panjang mandibula meningkat sebesar 2,4 mm, namun menghasilkan hanya perpindahan 0,7 mm anterior pogonion. Hasil utama dari pengobatan dengan FR adalah peningkatan tinggi wajah anterior rendah dari 2,1 mm pada kelompok yang lebih tua dan

3,1 mm pada kelompok yang lebih muda. Mereka menyimpulkan bahwa karena panjang mandibula meningkat mengakibatkan terjemahan vertikal mandibula, sedikit perbaikan dalam profil dicapai. Indikasi dan keuntungan dari peralatan fungsional Meskipun peralatan fungsional telah dirancang untuk mengobati semua jenis maloklusi, namun piranti fungsional ini paling efektif untuk mengobati kasus untuk maloklusi dental dan skeletal kelas II terutama kasus-kasus dengan kurangnya pertumbuhan mandibula. Indikasi lain dari terapi piranti fungsional adalah untuk terapi pada pasien dengan kebiasaan buruk seperti menghisap bibir, bernafas melalui mulut, menghisap jempol.

Keterbatasan 'peralatan fungsional

1. Peralatan fungsional biasanya berhubungan dengan kasus rahang atas dan bawah yang ekstrusi. Meskipun hal ini membantu dalam menghilangkan overbite yang dalam, hal ini juga dapat menyebabkan peningkatan tinggi wajah anterior yang dapat merugikan, yang menjelaskan mengapa setiap pertumbuhan mandibula akan lebih banyak ke arah vertikal dari pada horizontal. Oleh karena itu, peralatan fungsional adalah kontraindikasi pada Rotator mandibula ke belakang dengan overbite minimal.

2. Gerakan gigi secara Individu sulit dengan peralatan fungsional. Oleh karena itu, tahap

akhir dari terapi alat cekat harus dipertimbangkan untuk mencapai tubuh dan gerakan gigi rotasi dan oklusi fungsional yang optimal.

3. Hasil pengobatan yang benar-benar tergantung pada kerjasama pasien.

4. Peralatan ini digunakan sangat terbatas dalam koreksi perbedaan anteroposterior dalam tidak ada orang yang berkembang

Waktu pengobatan Usia di mana terapi alat fungsional amat penting untuk dipertimbangkan supaya terjadi koreksi Maloklusi kelas 2 yang sempurna. Perawatan dengan menggunakan alat fungsional harus bertepatan dengan periode pertumbuhan aktif. Banyak mengakui bahwa waktu tersebut dimulai dari fase awal-akhir dari fase geligi campuran.

KESIMPULAN

1. Setiap piranti ini hanya alat yang tersedia untuk dokter. Piranti fungsional adalah salah

satu alat yang efektif untuk digunakan pada perawatan orang dengan kasus maloklusi kelas II.

2. Ada tempat untuk peralatan fungsional dalam armamentarium kami. Jenis kasus yang

ideal untuk perawatan ini seperti Kasus maloklusi Kelas II Divisi 1 disertai berdesakan anterior, gigi seri rahang bawah tipping ke lingual, deepbite, dan mandibula yang retrognati.

3. Keberhasilan pengobatan benar-benar tergantung pada kerjasama pasien dan waktu

perawatan selama periode pertumbuhan.

4. Alat harus dipakai untuk jangka waktu panjang, biasanya 1,5 sampai 2 tahun untuk

memastikan condylar dapat dengan cepat beradaptasi dari posisi awalnya. Potensi gigitan ganda memerlukan evaluasi yang cermat. Sebuah pengukur khusus harus digunakan untuk menentukan posisi mandibula sehingga kemungkinan terjadinya relaps dapat dihindari.

5. Terlepas dari jenis alat fungsional yang digunakan, koreksi maloklusi umumnya dapat

dicapai dengan cara-yaitu, (1) Mengoptimalkan pertumbuhan mandibula, (2) pengalihan pertumbuhan rahang atas, (3) Gerakan tipping pada gigi insisivus rahang atas. (4)

gerakan tipping pada gigi insisivus rahang bawah (5) Erupsi ke arah mesial dan vertikal dari gigi molar pada mandibula, dan (6) penghambatan gerakan mesial molar rahang atas. Kombinasi ortodontik (60% sampai 70%) dan ortopedi (30% sampai 40%) dapat memberikan koreksi yang sangat diperlukan untuk perawatan yang berhasil. Pilihan alat harus didasarkan pada diagnosis yang tepat dari aspek yang berbeda dari maloklusi dan bukan karena alat tertentu diyakini memiliki pengaruh lebih besar pada pertumbuhan mandibula. Dokter harus benar-benar akrab dengan peralatan yang mereka gunakan, termasuk potensi keuntungan dan keterbatasan. Dokter juga harus menyadari efek peralatan tersebut pada struktur dentofacial saat merumuskan rencana perawatan untuk semua pasien.

6. Terlepas dari alat yang digunakan, ada sejumlah variasi dalam respon pasien terhadap

pengobatan individu. Sebuah tahap kedua pengobatan dengan alat cekat diperlukan

dalam kebanyakan kasus untuk memastikan keselarasan dan interdigitasi gigi-geligi.

7. Penyelidikan lebih lanjut mengenai efek dari penggunaan kombinasi dengan kekuatan

ekstraoral dengan peralatan fungsional khususnya high-pull traction sangatdiperlukan. Efek gabungan dengan high-pull traction dapat mengakibatkan peningkatan pertumbuhan

secara vertikal pada rahang atas, yang kemudian dapat meningkatkan pertumbuhan mandibula secara horisontal. 8. Stabilitas jangka panjang dari ekspansi lengkung gigi dengan menggunakan terapi alat fungsional masih perlu dievaluasi.