Anda di halaman 1dari 6

MANFAAT DAN KHASIAT DAUN BELIMBING WULUH

Nama Lokal

: Belimbing Wuluh

Nama Latin

: Averrhoa bilimbi

Taksonomi Tanaman
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Geraniales

Famili

: Oxalidaceae

Genus

: Averrhoa

Spesies

: Averrhoa bilimbi (Linn.)

Morfologi Tanaman
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) adalah sejenis pohon kecil yang
diperkirakan berasal dari Kepulauan Maluku (Indonesia), tetapi dari sumber lain
juga mengatakan buah ini berasal dari Amerika tropis. Buahnya memiliki rasa
asam dan sering digunakan sebagai penyegar sirup, penyedap masakan,

membersihkan noda pada kain dan barang yang terbuat dari kuningan,
membersihkan tangan yang kotor dan sebagai bahan obat tradisional.
Tanaman ini dapat mencapai tinggi 5-10 m dengan batang yang tidak
begitu besar dan diameternya hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah,
kadang tumbuh liar dan ditemukan dari dataran rendah sampai 500 m di atas
permukaan laut. Batangnya bergelombang kasar, pendek dan cabangnya sedikit.
Daunnya membentuk kelompok menyirip bergantian, panjangnya 30-60 cm dan
berkelompok pada akhir cabang.
Pada setiap daun terdapat 11-45 pasang daun oval. Bunganya kecil,
muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga berbulu. Mahkota bunganya
berjumlah lima, berwarna putih, kuning atau ungu. Buah berbentuk elips seperti
torpedo dengan panjang 4 -10cm. Warnanya hijau ketika muda dengan kelopak
yang tersisa menempel di ujung. Buah masak berwarna kuning atau pucat. Daging
buah berair dengan rasa yang sangat masam hingga manis. Kulit buahnya
mengkilap dan tipis. Bijinya kecil, datar, cokelat, dan ditutupi dengan lendir.
Senyawa Aktif yang Terdapat Dalam Daun Belimbing Wuluh
1. Tanin
2. Flavonoid
3. Saponin
4. Steroid dan Triterpenoid
5. Phytol
6. Dietil Phtalat
7. Minyak Atsiri
8. Asam Ferulat
9. Asam Miristat
10. Etil Palmitat
11. 6, 10, 14-trimetilpentadekanon-2
12. Kalium Oksalat
13. Pektin
14. Asam Galat

15. Asam Format


16. Sulfur
Efek Farmakologi
1. Antihipertensi
Dietil phtalat dan phytol dari ekstrak kasar maupun ekstrak yang
telah dimurnikan dari daun belimbing wuluh di duga dapat menurunkan
efek hipotensif atau efek menurunkan tekanan darah secara signifikan pada
pasien hipertensi.
2. Antiinflamasi
Senyawa flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun belimbing
wuluh mempunyai aktivitas antiinflamasi karena dapat menghambat
beberapa

enzim

seperti

aldose

reduktase,

xanthine

oxidase,

phosphodiesterase, Ca2+A Tpase, lipooxygenase dan cyclooxygenase.


3. Antibakteri
Senyawa metabolit sekunder yang terkandung didalam ekstrak
etanol daun belimbing wuluh yaitu senyawa flavonoid, tanin, dan saponin
bersifat bakteriostatik yang memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan
bakteri seperti bakteri Staphylococcus aureus.
4. Antioksidan
Senyawa flavonoid dalam simplisia daun belimbing wuluh dapat
memberikan khasiat antioksidan yang mampu melumpuhkan serta
menghambat kerusakan oleh radikal bebas yang dapat menyerang sel-sel
tubuh dan menyebabkan kerusakan permanen.
5. Astringent
Senyawa tanin yang terkandung dalam ekstrak daun belimbing
wuluh bersifat astrigent yang dapat menghambat pelekatan S. Mutans,
yang merupakan salah satu jenis bakteri yang menempel pada gigi tiruan.
Hasil Penelitian Terdahulu
1. Antihipertensi

Hasil penelitian Hernani, dkk. (2009), menunjukkan bahwa kedua


ekstrak daun belimbing wuluh memiliki efek hipotensif atau efek
menurunkan tekanan darah pada kucing hipertensi. Perlakuan dosis
ekstrak yang diuji ternyata secara statistik berbeda nyata. Adanya
peningkatan dosis ekstrak yang disuntikkan ternyata akan terjadi juga
peningkatan efek hipotensif. Ekstrak kasar memiliki efek hipotensif yang
signifikan lebih rendah dari pada ekstrak murni. Dosis dengan efek
hipotensif tertinggi yaitu dosis 33 mg/kg bb. Pemberian ekstrak kasar
belum mampu menurunkan tekanan darah hewan uji yang hipertensi ke
tekanan darah normal, karena hanya mampu menurunkan tekanan darah
46,5 mmHg, sehingga tekanan darah hewan uji setelah diberikan ekstrak
masih 130,5 mmHg. Pemberian ekstrak murni dengan dosis 33 mg/kg bb
mampu menurunkan tekanan darah 54,5 mmHg.
2. Antiinflamasi
Hasil penelitian Sri Utami (2014), menunjukkan bahwa pemberian
rendaman ekstrak rebusan daun belimbing wuluh dengan frekuensi
pemberian 2 kali/hari dan 3 kali/hari tidak ditemukan adanya perbedaan
secara statistik, namun secara inspeksi menunjukkan pemberian rendaman
ekstrak rebusan daun belimbing wuluh dengan frekuensi 3 kali/hari lebih
mampu meningkatkan ketebalan reepitelisasi (kesembuhan) jaringan
perineum. Terdapat peningkatan ketebalan reepitelisasi (kesembuhan)
jaringan perineum pada kelompok rendaman ekstrak rebusan daun
belimbing wuluh 3 kali/hari dibandingkan dengan kelompok pengobatan
amoxicillin 500 mg dan antalgin 500 mg. Dengan telah dibuktikannya
melalui hasil eksperimen maka ibu pasca persalinan menemukan satu
alternatif penyembuhan pada jahitan tempat jalan keluar bayi, yang relatif
aman dan murah.
3. Antibakteri
Hasil penelitian Siti (2012), menunjukkan bahwa hasil pengamatan
terhadap bakteri Staphylococcus aureus didapatkan rata-rata diameter zona
hambat ekstrak etanol daun belimbing wuluh konsentrasi 1 mg/sumuran

sebesar 9,2 mm, 2 mg/sumuran sebesar 10,3 mm, 4 mg/sumuran sebesar


11,3

mm.

Sedangkan

hasil

uji

aktivitas

antibakteri

terhadap

Staphylococcus epidermidis didapatkan diameter zona hambat untuk


ekstrak etanol daun belimbing wuluh 1 mg/sumuran sebesar 7,6 mm, 2
mg/sumuran sebesar 8,5 mm, 4 mg/sumuran sebesar 10,2 mm. Dari hasil
dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka
diameter zona hambatannya juga semakin besar.
4. Antioksidan
Hasil penelitian Ira, menunjukkan bahwa menunjukan bahwa
kandungan senyawa daun belimbing wuluh yang di maksud bermanfaat
sebagai antioksidan. Dalam simplisia daun belimbing wuluh yaitu golongan
senyawa yang diduga sebagai antioksidan yaitu flavonoid pada fraksi etil
asetat pada ekstrak etanol yang menunjukkan bercak kuning dengan latar
belakang ungu pada plat silika Gel 254 yang telah di semprot dengan penampak
bercak DPPH.
5. Astringent
Hasil penelitian Fathrony (2001), menunjukkan bahwa nilai ratarata daya hambat ekstrak daun Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L)
terhadap pertumbuhan S. Mutans, dengan cara merendam plat akrilik
dalam ekstrak daun Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) dengan
konsentrasi 4%, 8%, 16% masing-masing selama 15 menit, 30 menit, 1
jam dan 8 jam menunjukkan pertumbuhan S.mutans menurun sesuai
dengan meningkatnya konsentrasi. Penambahan waktu perendaman dalam
ekstrak daun Belimbing wuluh dengan konsentrasi 4%, 8%, 16% selama
15 menit, 30 menit, 1 jam dan 8 jam juga menyebabkan penurunan
pertumbuahan S. Mutans (nilai rata-rata pertumbuhan S.mutans pada plat
akrilik yang direndam dalam ekstrak daun Belimbing wuluh dengan
konsentrasi 4% selama 15 menit adalah 18,3 A, sedangkan nilai rata-rata
pertumbuhan S.mutans pada plat akrilik yang direndam dalam ekstrak
daun Belimbing wuluh dengan konsentrasi 16% selama 8 jam adalah 3,38
A).

Referensi
1. Hernani, dkk. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Belimbing Wuluh
Terhadap Penurunan Tekanan Darah Hewan Uji. Jurnal Pascapanen 6(1):
54-61.
2. Utami, Sri. 2014. Ibu Pasca Persalinan dan Daun Belimbing Wuluh.
Jurnal Parallela 1(1): 1-88.
3. Uthama, Fathrony. 2001. Komposisi Ekstrak Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa bilimbi L.) dan Penggunaannya.
4. Utomo, Ira Ferdian. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun
Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan Metode DPPH.
5. Yulianingsih, Siti Nur Aida. 2012. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol
Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Terhadap Staphylococcus
aureus dan Staphylococcus epidermis. Naskah Publikasi. 27 Juni: 1-15.