Anda di halaman 1dari 6

NAMA

: K.M. IDRIS B.S


NIM
: 03121403063
KELOMPOK : 3

TITANIUM DIOXIDE
Kristal padat, tidak berwarna/putih/hitam, tidak berbau, tidak berasa;
Rumus molekul TiO2; Berat molekul 79,88; Titik didih 4532 54320F (250030000C); Titik lebur 3317 33620F (1825-18500C); Berat jenis (air=1) 3,84 4,26; Tidak larut dalam air; Larut dalam asam sulfat pekat panas, asam hidro
fluorida, alkali; Tidak larut dalam asam hidroklorida, asam nitrat, asam sulfat
encer, air dingin, pelarut organik.
Komponen enamel porselen dan glasir, sebagai opacifier (5); sebagai
pigmen putih pada cat, karet-plastik, dll; sebagai bahan kosmetika, dekontaminasi
radioaktif kulit, penutup / pelindung lantai, barang pecah belah dan keramik, tintatinta pencetak, mematri batangan-batangan / balok.
Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Dapat berbahaya jika
tertelan. Penelanan dalam jumlah besar dapat menyebabkan rasa sakit, sembelit
atau diare. Dapat menyebabkan ataksia (kegagalan koordinasi otot), meningkatkan
tekanan darah, halusinasi, hipermotilitas, kontraksi otot / spastisitas, kelelahan,
psikosis, dan tremor.
Titanium dioksida: Telah dilaporkan terjadinya beberapa kasus fibrosis
ringan tanpa disertai cedera dari paparan bahan selama bekerja. Pada tikus yang
terpapar bahan dengan konsentrasi 10-328 juta partikel/kaki3 secara berulang
selama 13 bulan menunjukkan emfisema kecil yang disebabkan oleh deposit debu.
Tikus yang terpapar bahan dengan konsentrasi 10, 50 dan 250 mg/m3 selama 6
jam/hari, 5 hari/minggu selama 2 tahun tidak menunjukkan tanda-tanda klinis
yang abnormal, perubahan berat badan, atau tingkat kematian yang tidak wajar
dalam setiap kelompok paparan. Peningkatan dosis dapat meningkatkan kejadian
pneumonia, trakeitis, dan rinitis dengan metaplasia skuamosa di rongga hidung
anterior. Pada konsentrasi 10 mg/m3, terjadi respon paru akibat gangguan debu.
Adenoma bronkioalveolar dan karsinoma skuamosa kistik keratinizing sel terjadi
pada tingkat 250 mg/m3 atau 25 kali lipat nilai ambang batas. Tumor paru-paru
yang terjadi berbeda dari kanker paru-paru manusia pada umumnya dalam hal
jenis tumor, lokasi, dan tumorigenesis, dan tumor ini tidak mengalami metastasis.
Penggunaan unsur Titanium semakin lama semakin aplikatif. Seperti
penggunaan logam Titanium pada pesawat ulang alik, bidang olahraga, bahkan

pengobatan ; faktanya, lebih dari 96% total penggunaan logam ini di dunia dalam
bentuk oksida, TiO2 (Titanium Oksida), yang menyebabkan senyawa ini
menyebabkan peningkatan permintaan. Bagian terpenting dari komponen cat
adalah titanium dioksida, zat tak tembus cahaya yang memberikan kilap dan
kedalaman warna pada cat. TiO2 juga menggantikan logam berbahaya timbal
dalam penggunaannya untuk cat. TiO2 telah digunakan selama bertahun tahun
dalam pewarna kosmetik, krayon, dan perlindungan terhadap UV serta produkproduk lain yang kita pergunakan sehari hari.
Karena industri industri pun pasti mengeluarkan zat buang (limbah) yang
dapat merusak lingkungan. Semakin lama, lingkungan kita semakin tercemar.
Mulai dari pencemaran udara, tanah, suara, bahkan air. Bila tidak ada revitalisasi
dan pencegahan yang intensif, maka berakhirlah zaman untuk generasi generasi
mendatang. Untuk itu, seiring perkembangan zaman, sudah seharusnya manusia
mempelajari dan menerapkan cara untuk mengurangi dampak pencemaran. Salah
satunya

dengan

senyawa-senyawa

kimia

yang

membantu

menangani

permasalahan limbah, terutama limbah cair. Salah satu senyawa yang bisa
membantu mengurangi dampak pencemaran adalah TiO2. Seperti reduksi
fotokatalitik terhadap limbah logam berat cair Chromium (VI) dengan
fotokatalisis TiO2. Upaya pengurangan limbah harus dilakukan secara beriringan,
tidak hanya pada pengolahan (waste treatment) tapi juga kepada peminimalan
limbah (waste minimization) dan cara yang baik pembuangan limbah (waste
disposal).
Oksida TiO2 merupakan padatan berwarna putih, mempunyai berat
molekul 79,90; densitas 4,26 gcm-3; tidak larut dalam HCl, HNO3 dan aquaregia,
tetapi

larut dalam asam sulfat pekat membentuk titanium sulfat (TiSO4)

(Cotton,et. al., 1988: 811). TiO2 tidak menyerap cahaya tampak tetapi mampu
menyerap radiasi UV sehingga dapat menyebabkan terjadinya radikal hidroksil
pada pigmen sebagai fotokatalis. Reaktivitas TiO2 terhadap asam tergantung
temperatur saat dipanaskan. TiO2 yang baru mengendap larut dalam asam klorida
pekat, namun bila TiO2 dipanaskan pada 9000C hampir semua tidak larut
dalam asam kecuali larutan sulfur panas, yang kelarutannya meningkat dengan
penambahan ammonium sulfat untuk menaikkan titik didih asam dan HF. Secara

kimiawi TiO2 murni dibuat dari TiCl4 yang telah dimurnikan secara destilasi
bertingkat. Tetraklorida ini dihidrolisis dalam larutan encer hingga diperoleh
endapan berupa titanium dioksida terhidrat yang selanjutnya dikalsinasi pada
8000 C,
Partikel

TiO2

telah

cukup

lama

digunakan

sebagai

fotokatalis

pendegradasi berbagai senyawa organik. TiO2 merupakan semikonduktor


yang memiliki fotoaktivitas dan stabilitas kimia tinggi serta tahan terhadap
fotokorosi dalam semua kondisi larutan kecuali pada larutan yang sangat
asam atau mengandung fluoride. TiO2 juga bersifat nontoksik, memiliki sifat
redoks, yaitu mampu mengoksidasi polutan organik dan mereduksi sejumlah ion
logam dalam laruatan. Selain murah, TiO2 tersedia secara komersial dan
preparasinya

mudah

dilakukan di laboratorium. Sifatnya yang anorganik

menjadikannya tidak mudah cepat rusak, sehingga proses yang diinginkan dapat
lebih lama (Brown, 1992: 432).
Oksida logam titanium (TiO2 ) banyak dilaporkan sebagai material
semikonduktor yang aktif sebagai fotokatalis. Penelitian tentang fenomena
fotokatalitik pada permukaan TiO2 berkembang pesat meliputi aspek fundamental
maupun aspek aplikasi sejak publikasi Fujisima dan Honda tentang fotolisis
elektrokimia air pada elektroda semikonduktor TiO2. Berbagai usaha diarahkan
untuk mendapatkan fotokatalis yang dapat bekerja pada daerah energi yang
lebih rendah dan mempunyai efisiensi tinggi. Fotokatalis adalah proses dimana
suatu material bereaksi terhadap materi lain karena bantuan energi dari sinar UV.
Mengambil manfaat dari reaksi yang terjadi itu, titanium dioksida yang dilibatkan
dalam sistem fotokatalisis, memunculkan enzim aktif (gambar 1 : serbuk padatan
TiO2) guna memecahkan atau menghantam bakteri, bau ataupun menjatuhkan
terhadap kemungkinan terjadinya noda akibat oksidasi yang terbentuk secara
alamiah. Diantara beberapa logam fotokatalis, oksida Ti dilaporkan memiliki
aktivitas yang cukup besar dan efektif selain murah dan non toksik. Dalam reaksi
fotokatalis dengan TiO2 dalam bentuk kristal anatase TiO2 dilaporkan sebagai
komponen aktif sedangkan dalam bentuk rutile kurang menunjukkan aktifitasnya.
TiO2 dengan bentuk kristal anatase dan rutile jika dikenai suatu sinar UV dengan
< 385 nm untuk anatase dan = 405 nm untuk rutile, akan menghasilkan

spesies. Pada proses fotokatalitik, ketika semikonduktor mengadsorbsi cahaya


yang berenergi sama atau lebih besar dari energi celah pitanya maka akan
terjadi pemisahan muatan atau fotoeksitasi dalam semikonduktor.
Berdasarkan kemampuannya menghantarkan listrik, zat padat dapat
diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu: konduktor, semikonduktor dan isolator.
Semikonduktor memiliki konduktifitas listrik antara 105 dan 10-7 Sm1(siemen/meter),nilai ini ada di antara konduktifitas konduktor (hingga 109 Sm-1)
dan isolator (hingga 10-15 Sm-1) (Seeger, 1988: 425).
Dalam teori pita padatan, elektron-elektron tersusun pada tingkat
energi yang dapat diperlakukan sebagai pita energi. Tingkat energi atau pita
yang ada terbagi menjadi dua macam yaitu pita valensi (Valence Band, VB)
dan pita konduksi (Conduction Band, CB). Elektron-elektron sangat terpaku
erat pada tingkat VB, tetapi mempunyai kebebasan yang tinggi pada tingkat CB.
Di antara dua pita ini adalah suatu luangan energi (Energi Band Gap, Eg) dimana
tidak ada
orbital elektron sama sekali. Apabila elektron berada pada VB maka suatu padatan
akan bersifat isolator, sedangkan jika elektron menempati CB maka padatan akan
bersifat konduktor. Padatan semikonduktor mempunyai luangan energi antara VB
dan CB yang sangat tipis. Oleh karena itu dengan hanya sedikit penambahan atau
pengurangan energi, elektron dapat dengan mudah berpindah dari VB ke
CB.
(www.hyperphysics.phy-astr.com)
Energy Band Gap terjadi karena adanya overlaping orbital atom yang akan
memberikan pelebaran dan penyempitan pita. Hal ini menjadikan bahan
tersebut dapat menyerap energi radiasi sebesar Eg yang dimiliki sehingga
dapat meningkatkan kepekaan reaksi oksidasi reduksi yang diinduksi oleh
cahaya, apabila terjadi penyerapan cahaya oleh Eg di antara kedua pita tersebut.
Pada saat
terjadi eksitasi yang melewati Eg diperlukan waktu tenggang dalam skala
nanosekon untuk menghasilkan pasangan elektron-hole sebagai hasil eksitasi
elektron dari pita valensi ke pita konduksi (Nedeljkovic et al., 1993: 135)
Di daerah VB orbital tertinggi yang ditempati elektron pada suhu
nol absolute disebut tingkat Fermi, yang terletak di sekitar tengah-tengah

band. Apabila temperatur naik atau dengan adanya eksitasi optik (cahaya)
dengan energi yang melebihi energi dari Eg, elektron akan naik ke CB
meninggalkan VB, maka terjadilah hole atau muatan positif pada VB. Pada TiO2
luangan band-nya sebanding dengan radiasi cahaya 388 nm (3,23 eV) yaitu pada
daerah UV dekat (Noqueira et al,1993: 862).
Beberapa semikonduktor oksida yang mempunyai Eg pada daerah
energi cahaya UV-Vis adalah TiO2, SrTiO3, ZnO dan Fe2O3. Di antara
semikonduktor tersebut TiO2 telah terbukti paling baik untuk mengatasi masalah
lingkungan dan aman untuk lingkungan (Brown, 1992: 429).
Elektron (e) akan tereksitasi ke pita konduksi meninggalkan lubang
positif (h+) pada pita valensi. Lubang positif ini memiliki afinitas yang
tinggi

terhadap

oksigen

dalam molekul

H2O

yang

teradsorbsi

pada

permukaan semikonduktor, sehingga akan bereaksi menjadi OH- dan H+.


Radikal hidroksil merupakan spesi yang sangat reaktif menyerang molekulmolekul organik dan mendegradasinya menjadi CO2 dan H2O dan ion
halida, jika molekul organik mengandung atom halogen. Oksidasi terhadap
molekul organik ini bersifat tidak selektif. Pada

proses

fotokatalitik

konvensional, digunakan titanium dioksida serbuk untuk mendegradasi polutan


organik, tetapi penggunaannya memberikan dua hambatan yang cukup serius.
Pertama, diperlukannya tahap pemisahan TiO2 dari suspensi. Pemisahan ini
memerlukan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Dalam sistim suspensi,
penetrasi sinar UV menjadi terbatas karena absorbsi yang kuat dari TiO2. Oleh
karena itu untuk mengatasi masalah ini digunakan TiO2 yang diimobilisasi pada
suatu zat pendukung, biasanya pada logam atau silika. Beberapa peneliti, telah
melakukan imobilisasi

TiO2/karbon aktif untuk proses fotodekomposisi

propizamida, didapatkan bahwa laju fotodekomposisi semakin besar dengan


adanya karbon aktif pada film fotokatalis hingga mencapai jumlah optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Abrasive Blasting (en.wikipedia.org/wiki/Abrasive_blasting, diakses
pada 22 maret 2015)
Anonim. Bernat Cage (en.wikipedia.org/wiki/Bernat_Cage, diakses pada 22 maret
2015)
Anonim. TiO2 (en.wikipedia.org/wiki/TiO2, diakses pada 22 maret 2015)
Fachry, H.A.Rasyid. 2007. Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia II.
Indralaya : Laboratorium Proses dan Operasi Teknik Kimia Jurusan Teknik
Kimia Universitas Sriwijaya
Rahayu, S.S. 2009. Titanium Dioksida (www.chem -is-try.org/ materi_k
imia/proses safonifikasi/ titanium
2015)

dioksida/, Diakses pada 22 maret