Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH KIMIA ANALISA

IDENTIFIKASI KATION GOLONGAN II


DOSEN PEMBIMBING : Lina Elfita, M.Si., Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Nama Kelompok
Farmasi A 2014
1.
2.
3.
4.

Anis Fitriani
Ridho Faiqyl Layali
Novita Sari
M. Sunnihaq Al-Faaz

11141020000001
11141020000002
11141020000003
11141020000004

5. Nelly Nailul Hikmah


6. Zakiyyah Hamida Hasibuan
7. ST. Ramdiyah Akil
8. Khairul Fadli Akbar
9. Khoirun Nisa
10.
Putri Nuzulia Matany
11141020000010
11.
Amajida Hasyyati
12.
Ayu Rahmawati
13.
Nurjihan Fahira
14.
Risyda Afdhilati
15.
Muhammad Firmansyah
11141020000017
16.
Suhelmi
17.
Deki Yanto
18.
Fauziah Aziriani
19.
Anis Khoirunnisa
20.
Nehta Estania Zahra
11141020000034
21.
Tengku Maulana Ramzi

11141020000005
11141020000006
11141020000007
11141020000008
11141020000009

11141020000011
11141020000014
11141020000015
11141020000016

11141020000018
11141020000019
11141020000020
11141020000021

1114102000008

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Segala puji dan syukur kami haturkan kepada Allah S.W.T yang telah
memberi rahmat dan hidayah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Identifikasi Kation Golongan II dengan tepat waktu.
Pada makalah ini akan dijabarkan beberapa hal mengenai kation sub
golongan II yang terbagi menjadi tembaga dan arsenik, dan juga reaksi
umum maupun spesifik dari kation golongan II. Kami berharap dengan
dibuatnya makalah ini dapat menjadi salah satu sarana untuk
mempermudah mempelajari kimia analisa.
Kami mengucapkan terimakasih kepada dosen kami ibu Lina Elfita,
M.Si., Apt yang telah memberi arahan dan membimbing kami dalam proses
belajar mengajar. Kami juga berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu kami dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran agar kami dapat menyusun
makalah yang selanjutnya dengan lebih baik lagi. Semoga dari makalah ini
kita mendapat hikmah dan makalah ini akan bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin
Wassalamualaikum Wr.Wb

Tangerang, 16 Maret 2015


Tim Penyusun

DAFTAR ISI
3

Kata Pengantar ....3


Daftar Isi .....4
BAB I PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3

Latar belakang..5
Rumusan Masalah .,.5
Tujuan Penulisan .5

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Kation Sub Golongan II bagian Tembaga ..6


2.1.1 Merkurium (II) ..6
2.1.2 Bismut ...7
2.1.3 Tembaga 9
2.1.4 Kadmium .16

2.2

Kation subgolongan II arsenic ..18


2.2.1 Arsenik (III) .19
2.2.2 Arsenik (V) ..21
2.2.3 Stibium (III) .24
2..2.4 Stibium (V) .25
2.2.5 Timah (II) 28
2.2.6 Timah (IV) ..28

2.3

Tabel Reaksi Umum dan Spesifik Kation Golongan II29

BAB III PENUTUP


Kesimpulan .........35
DAFTAR PUSTAKA......36

BAB I
PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
Kimia analisa merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari pemisahan,
identifikasi senyawa kimia baik secara kualitatif maupun kuantitatif secara eksperimental.
Kimia analisa merupakan studi yang penting dalam ilmu farmasi. Obat-obatan tidak lepas
dengan bahan kimia, karena bahan kimia dicampur dengan komposisi yang tepat
menjadikan obat yang berkhasiat menyembuhkan penyakit. Kimia analisa dibutuhkan
dalam ilmu farmasi untuk menganalisa suatu komposisi yang terkandung pada obatobatan untuk membuktikan suatu obat itu benar mengandung komposisi yang tepat dan
benar. Banyak obat-obatan palsu yang beredar di pasaran, ahli farmasi yang berperan
untuk menganalisa obat-obatan untuk mencegah terjadinya kesalahan. Tidak hanya obatobatan, makanan seperti bakso, mie yang mengandung bahan kimia harus diidentifikasi
supaya terhindar dari bahan kimia yang tidak aman dikonsumsi.
Dengan daripada itu diatas, makalah ini membahas analisis kualitatif zat kususnya
untuk kation golongan II. Untuk kation golongan II dibagi menjadi dua subgolongan,
yaitu subgolongan tembaga dan subgolongan arsenic. Dalam membedakanya akan
diterakan reaksi spesifik umum untuk membedakan golongan dengan reaksi spesifik
untuk jenis kationya.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengetahui kation golongan II beserta reaksi spesifiknya.
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui kation golongan II beserta reaksi spesifiknya

BAB II
PEMBAHASAN
5

Berdasarkan kelarutannya di dalam amonium polisulfida, golongan kation ke


dua dibagi menjadi dua sub golongan, tembaga dan arsenic. Tembaga tidak
larut dalam amonium polisulfida sedangkan subgolongan arsenic larut

2.1 KATION SUB GOLONGAN II BAGIAN TEMBAGA


2.1.1

MERKURIUM II

Reaksi ion merkuri (II) dapat dipelajari dengan larutan merkurium (II) nitrat encer 0,05M
1. Hidrogen sulfida : Akan ada endapan putih merkurium (II) klorosulfida karena adanya
HCl encer.
3Hg2+ +2Cl- +2H2S Hg3S2Cl2 + 4H+
Apabila ditambahkan H2S akan membentuk endapan hitam merkuri (II) sulfida
Hg3S2Cl2 + H2S 3HgS + 2H+ +2Cl2. Larutan amonia : endapan putih dengan komposisi tercampur. Garam yang tercipta akan
bersublimasi pada tekanan atmosfer seperti garam merkuri lainnya.
2Hg2+ +NO3- + 4NH3 +H2O HgO.Hg(NH2)NO3 +3NH4+
3. Natrium hidroksida bila ditambahkan dalam jumlah sedikit: endapan merah-kecoklatan
dengan komposisi yang berbeda. Tetapi jika ditambahkan dalam jumlah yang
stoikiometris endapan akan berubah menjadi kuning.
Hg2+ + 2OH- HgO + H2O
(endapan kuning)
4. Kalium iodida bila ditambahkan perlahan pada larutan : endapan merah merkuri (II)
iodida
Hg2+ + 2I- HgI2
(endapan merah)
5. Kalium sianida (RACUN) : Tak menimbulkan perubahan dalam larutan encer
6. Timah (II) Klorida : endapan putih seperti sutera apabila ditambahkan dalam jumlah
sedang.
2Hg2+ +Sn2+ + 2Cl- Hg2Cl2 +Sn4+
Apabila ditambahkan dalam jumlah yang lebih banyak maka Hg2Cl2akan direduksi lebih
lanjut dan terbentuk endapan hitam merkurium
Hg2Cl2 + Sn2+ 2Hg

+ Sn4+ +2Cl-

Uji bercak dengan adanya anilina : teteskan larutan uji diatas kertas saring lalu
ditambahkan setetes larutan timah (II) klorida dan setetes anilina maka akan terbentuk
noda coklat atau hitam dari logam merkuri. Anilina akan menyesuaikan pH yang sesuai.
7. Lembaran atau uang tembaga mereduksi ion merkurium (II) menjadi logamnya.
Cu + Hg2+ Cu2+ + Hg
caranya dengan meneteskan merkurium (I) nitrat diatas permukaan tembaga yang
mengkilap. Lalu membilasnya dan menggosok-gosokan dengan kain kering. Kita akan
mendapatkan bercak keperak-perakan yang mengkilap. Dengan memanaskannya lagi
bercak itu dalam nyala bunsen, merkurium menguap dan permukaan tembaga yang merah
nampak lagi.

2.1.2 BISMUT
Bismut adalah logam putih yang kemerahan, kristalin, dan getas. Titik leburnya mencapai
271,5OC
1. Hidrogen Sulfida membentuk endapan hitam
2Bi3+ + 3 H2S Bi2S3

+ 6 H+

2. Larutan Amonia membentuk garam basa putih


Bi3+ + NO3- + 2 NH3 + 2 H2O Bi(OH)2 NO3 + 2 NH4+
3. Natrium Hidroksida membentuk endapan putih Bismut (III) hidroksida
Bi3+ + 3OH- Bi(OH)3
4. Kalium Iodida membentuk endapan hitam Bismut (III) Iodida
Bi3+ + 3I- BiI3
5. Kaliumsianida (RACUN): endapan putih, bismuth hidroksida. Reaksi ini adalah
suatu hidrolisisa
Bi3+ + 3H2O + 3CN- Bi
Endapan tak larut dalam reagensia berlebihan (perbedaan pada ion kadmium)

6. Natriumtetrahidroksostanat(II)
Dalam larutan dingin, ia mereduksi ion bismuth(III) menjadi logam bismuth yang
memisah dalam bentuk endapan hitam. Mula-mula natrium hidroksida yang ada dalam reagensia,

bereaksi dengan ion bismuth(III) (a, lihatreaksi 3), lalu bismuth(III) hidroksida ini direduksi oleh
ion tetrahidroksostanat(II), dimana terbentuk logam bismuth dan ion heksahidroksostanat(II) (b)
3++3 OH Bi (OH )
Bi

(a)

2
2

2Bi(OH) +3[Sn(OH )] 2Bi + 3[Sn (OH ) ]


Reagensia harus baru saja dibuat, dan uji

(b)

ini dilaksanakan dalam keadaan dingin.

Reagensia perlahan-lahan teruarai oleh disproporsionasi, dimana logam timah terbentuk sebagai
endapan hitam:
2[Sn(OH)] Sn + [Sn(OH)] + 2OH
7. Air
Bila suatu bismuth dituang kedalam air yang banyak, akan dihasilkan suatu endapan
putih garam basa yang bersangkutan, yang larut dalam asam mineral encer, tetapi tak larut dalam
asam tartarat (perbedaan dari stibium) dan dalam hidroksida alkali (perbedaan dari timah)
8. Dinatrium hydrogen fosfat
Endapan hanya sedikit larut dalam asam mineral encer (perbedaan dari ion-ion
merkurium(II), timbel(II), tembaga(II) dankadmium). Dinatrium hydrogen arsenat bereaksi
secara analog; hasilnya adalah endapan bismuth arsenat yang putih:
2
+
3++ HPO BiAsO + H
Bi
9. Reagensiapirogalol
Bila ditambahkan dengan sedikit berlebihan kepada larutan ion bismuth yang sedikit
asam dan panas; endapan kuning bismuth pirogalat:

Bi + CH(OH) BiAsO +

+
H

10. Reagensia sinkonina-kalium iodide (1%): pewarnaan atau endapan merah-jingga dalam
larutan asam encer (cinchonine)
Uji diatas kertas saring: basahkan selembar kertas reaksi-tetesdengan reagensia dan bubuhkan
setetes larutan uji yang sedikitasamitu di atasnya. Dan diperoleh bercak merah-jingga..
11. Tiourea (10%)
Kompleks

dengan

ion

bismuth(III)

yang

berwarnakuningkuat,

denganadanyaasamnitratencer. Ujiinibolehdilakukan di ataskertasreaksi-tetes, di ataslempengbercak, ataudalamtabung-ujimikro.


3+
Kepekaan: 6 g Bi . bataskonsentrasi: 1 dalam 3 x 10. Ion-ion merkurium(I), perak(I),
stibium(III), besi(III) dankromatmengganggudankarenanyatakbolehada.
12. 8-hidroksikuinolina (5%) dan kalium iodide (6M) dalam suasana asam
Endapan merah8-hidroksikuinolina-tetraiodobismutat
3+
C H ON .

+
Bi
C H ON +4 I HBiI
Jika ion halide yang lain takada, reaksi ini adalah khas untuk bismuth.

2.1.3

TEMBAGA

Tembaga Cu(Ar=63,54) adalah logam merah muda yang lunak, dapat di tempa,dan
liat.tembaga melebur pada 1038oc. Karena potensial elektrode standarnya positif,(+0,34V
untuk pasangan Cu+/Cu2+), tembaga tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat
encer,meskipun dengan adanya oksigen tembaga bisa larut sedikit. Asam nitrat yang
pekatnya (8M) dengan mudah melarutkan tembaga:
3Cu + 8HNO3 3Cu2+ + 6NO3- +2NO +4H2O (reaksi tembaga dengan asam nitrat)
9

Asam sulfat pekat panas juga melarutkan tembaga:


Cu +2H2SO4Cu2+ +SO42- +SO2 +2H2O
Ada 2 deret senyawa tembaga . senyawa-senyawa tembaga (I) diturunkan dari
tembaga(I) oksida Cu2O yang merah,dan mengandung ion tembaga(I),Cu+. Senyawasenyawa ini tak berwarna,kebanyakan garam tembaga (I) tak larut dalam air,prilakunya
mirip perilaku senyawa perak (I).mereka mudah di oksidakan menjadi senyawa
tembaga(II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida,CuO, hitam. Garam-garam
tembaga(II) umumnya berwarna biru,baik dalam betuk hidrat,padat,maupun dalam
larutan air.
Dalam praktek,hanya ion tembaga (II) yang penting,maka hanya reaksi ion
tembaga(II) akan di uraikan disini
Reaksi-reaksi ion tembaga (II) Reaksi-reaksi ini dapat dipelajari dengan memakai
larutan tembaga (II) sulfat.
1. Hidrogen sulfida (bentuk gas atau larutan air jenuh)
Terbentuk endapan hitam, tembaga (II) sulfida:
Cu2+ + H2S CuS + 2H+
Larutan harus asam (1M dalam asam klorida) untuk memperoleh endapan kristalin
yang udah disaring. Tanpa adanya asam, atau dalam larutan yang hanya sedikit sekali
asam,diperoleh endapan koloid yang hitam kecoklatan.
Endapan tak larut dalam asam sulfat encer (1M) mendidih (perbedaan dari
kadmium), dalam natrium hidroksida,natrium sulfida,amonium sulfida, dan hanya sedikit
sekali larut dalam polisulfida.
Asam nitrat pekat, panas, melarutkan tembaga (II) sulfida, dengan meninggalkan
belerang sebagai endapan putih:
3CuS +8HNO33 Cu2+ +6NO-3 + 3S +2NO +2H2O
Bila di didihkan lebih lama, belerang akan dioksidasikan menjadi asam sulfat dan
kita memperoleh larutan yang jernih dan berearna biru:
S +2HNO3 2H+ + SO2-4 + 2NO
Kalium sianida (RACUN) melarutkan endapan,pada mana terbentuk ion
tetrasianokuprat(I) yang tak berwarna dan terbentuk ion disulfida:
2CuS + 8CN- 2[Cu(CN)4)3- + S2210

Bila dalam keadaan basah dibiarkan terkena udara, tembaga (II) sulfida cenderung
teroksidasi menjadi tembaga (II) sulfat:
CuS + 2O2 CuSO4
2. Larutan Amonia
Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit: endapan biru
suatu garam basa (tembaga sulfat basa):
2Cu2+ + SO42- + 2NH3 + 2H2O Cu(OH)2.CuSO4 + 2NH4+
larut dalam reagensia berlebihan, dimana terjadi warna biru tua yang disebabkan
karena terbentuknya ion kompleks tetraaminokuprat(II) :
Cu(OH)2.CuSO4 + 8NH3 2[Cu(NH3)4]2+ + SO42- + 2OHJika larutan tersebut mengandung garam amonium (larutan tersebut sangat asam
dan amonia yang dipakai untuk menetralkannya sangat banyak), pengendapan tidak akan
terjadi sama sekali, tetapi warna biru pada larutan tersebut langsung terbentuk. Reaksi ini
adalah ciri khas ion tembaga(II), dengan tidak adanya nikel.
3. Natrium Hidroksida
Natrium hidroksida dalam larutan dingin:endapan biru tembaga(II) hidroksida:
Cu2+ + 2OH- Cu(OH)2
Endapan tidak akan larut pada reagensia yang berlebihan.
Bila dipanaskan, endapan akan diubah menjadi tembaga(II) oksida hitam oleh
dehidratasi:
Cu(OH)2 CuO + H2O
Dengan adanya asam tartarat atau asam sitrat di dalam larutan tersebut, tembaga(II)
hidroksida tidak diendapkan oleh larutan basa alkali, tetapi larutan tersebut berubah
warna menjadi berwarna biru. Jika larutan basa diolah dengan zat-zat pereduksi tertentu,
seperti hidroksilamina, hidrazina, glukosa, dan asetaldehida, maka tembaga(I) hidroksida
11

yang kuning mengendap dari larutan yang hangat, kemudian diubah menjadi tembaga(I)
oksida merah, Cu2O dengan pendidihan. Larutan garam tembaga(II) yang bersifat basa,
yang mengandung asam tartarat, biasa dikenal sebagai larutan Fehling; larutan tersebut
mengandung ion kompleks [Cu(COO.CHO)]2-

4. Kalium Iodida
Kalium iodida: mengendapkan tembaga(I) iodida yang putih, tetapi larutannya
berwarna coklat tua karena terbentuknya ion-ion tri-iodida (iod):
2Cu2+ + 5I- 2Cui + I3Dengan menambahkan natrium tiosulfat berlebihan pada larutan, ion tri-iodida
direduksi menjadi ion iodida yang tidak berwarna, dan warna yang putih dari endapan
menjadi terlihat. Reduksi dengan tiosulfat menghasilkan ion tetrationat:
I3- + S2O32- 3I- + S4O62Reaksi ini biasa dipakai dalam analisis kuantitatif untuk penentuan tembaga secara
iodometri.
5. Kalium Sianida
Kalium sianida (Racun): apabila ditambahkan dengan sedikit sekali, mula-mula
akan terbentuk endapan kuning tembaga(II) sianida:
Cu2+ + 2CN- Cu(CN)2
Endapan tersebut akan dengan cepat terurai dan menjadi tembaga(I) sianida putih
dan sianogen (Gas yang sangat beracun)
2Cu(CN)2 2CuCN + (CN)2
Dalam reagensia yang berlebih, endapan akan telarut dan membentuk kompleks
tetrasianokuparat(I) yang tidak berwarna:
CuCN + 3CN- [Cu(CN)4]312

Kompleks tetrasianokuparata(I) ini begitu stabil (konsentrasi ion tembaga(I) begitu


rendah) sehingga hidrogen sulfida tidak dapat mengendapkan tembaga(I) sulfida dari
larutan ini.

6. Kalium heksasianoferat (II)


Kalium heksasianoferat(II): terbentuk endapan coklat-kemerahan, yaitu tembaga
heksasianoferat(II) dalam suasana netral atau asam:
2Cu2+ + [Fe(CN)6]4- Cu2[Fe(CN)6]
Endapan yang larut dalam larutan amonia, akan membentuk ion tembaga tetraamina
berwarna biru tua:
Cu2[Fe(CN)6] + 8NH3 2[Cu(NH3)4]2- + [Fe(CN)6]4Natrium hidroksida akan menguraikan endapan, dan membentuk endapan
tembaga(II) hidroksida yang biru:
Cu[Fe(CN)6] + 4OH- 2Cu(OH)2 + [Fe(CN)6]47. Kalium tiosianat
Kalium tiosianat: membentuk endapan hitam tembaga(II) tiosianat:
Cu2+ + 2SCN- Cu(SCN)2
Endapan akan terurai secara perlahan, kemudian membentuk tembaga(I) tiosianat
putih, dan terbentuk tiosianogen:
2Cu(SCN)2 2CuSCN + (SCN)2
Tiosianogen ini akan terturai dengan cepat bila berada dalam larutan air.
Tembaga(II) tiosianat dapat segera diubah menjadi tembaga(I) tiosianat dengan
menambahkan zat pereduksi yang sesuai. Larutan jenuh belerang dioksida merupakan
reagensia yang paling sesuai:
13

2Cu(SCN)2 + SO2 + 2H2O 2CuSCN + 2SCN- + SO42- + 4H+

8. Besi
Jika sepotong paku besi bersih atau mata pisu lipat dicelupkan ke dalam larutan
suatu garam tembaga, maka kita akan memperoleh endapan berwana merah dari tembaga
pada benda tersebut:
Cu2+ + Fe Fe2+ + Cu
Dan sejumlah besi yang ekuivalen akan melarut.
Potensial

elektrode

tembaga

(sistem

tembaga-tembaga(II))

lebih

positif

dibandingkan potensial elektrode besi (sistem besi-besi(II)).


9. -Benzoinoksima (Kupron, 5% dalam alkohol)
C6H5.CHOH.C(=NOH)C6H5
Jika direaksikan maka akan terbentuk endapan hijau Tembaga (II) benzoinoksima
(Cu(C14H11O2N) yang tidak larut dalam ammonia encer. Pengendapatan tersebut dapat
dicegah dengan menambahkan natrium kalium tartrat (10%).
Garam ammonium yang berjumlah banyak mengganggu dan harus dihilangkan
dengan menguapkan dan memanaskannya sampai berwarna merah-pijar.residu ini
dilarutkan dalam asam klorida encer.
10. Salisilaldoksima (1%)
Jika

direaksikan

akan

membentuk

endapan

kuning-kehijauan

tembaga

salisiladoksima Cu(C7H6O2N)2 dalam larutan asam asetat. Namun dari reaksi tersebut
juga menghasilkan paladium Pd(C7H6O2N)2 dan logam emas dalam larutan asam asetat,
zat-zat ini tidak boleh ada.

14

Letakkan setetes larutan uji yang telah di netralkan, kemudian asamkan dengan
asam asetat dalam tabung uji mikrob dan tambahkan satu tetes reagensia.

11. Asam rubeanat (ditio-oksamida)


Jika direaksikan akan terbentuk endapan hitam tembaga rubeanat Cu[C(=NH)S] 2
dari larutan amoniakal atau yang sedikit asam. Pada kondisi yang serupa, ion nikel dan
kobalt menghasilkan masing-masing endapan biru dan coklat. Tembaga bisa di deteksi
dengan metode pemisahan secara kapiler diatas kertas saring. Tidak boleh mengandung
merkurium (I)karena memberi noda hitam dengan ammonia.
Taruh setetes larutan uji yang netral diatas kertas reaksi-tetes, pegang diatas uap
ammonia dan tambah setetes reagensia.
12. Amonium tetratiosianatomerkurat (II)
{(NH4)2[Hg(SCN)4]}
Jika direaksikan akan terbentuk endapan Kristal berwarna lembayung-tua dengan
adanya ion zink atau cadmium. Kobalt dan nikel mengganggu karena menghasilkan
endapan-endapan hijau atau biru dari tetratiosianatomerkurat(II) yang bersangkutan.
Gangguan dari besi (III) dapat dicegah dengan melakukan pengendapan ini disertai alkali
fluoride atau oksalat.
13. Uji Katalitik
Garam besi (III) bereaksi dengan tiosulfat menurut persamaan berikut:
a.Fe3+ + 2S2O32- [Fe(S2O3)2]b. [Fe(S2O3)2]- + Fe3+ 2Fe2+ + S4O62-

15

Reaksi a cukup cepat, reaksi b lambat, tetapi sangat dipercepat oleh runutan
tembaga. Reaksi boleh dipakai untuk mendeteksi ion tembaga yang jumlahnya ssangat
sedikit.
Taruh larutan uji dan setetes air suling. Tambahkan masing-masing 1 tetes besi (III)
tiosianat (0,05M) dan 3 tetes natrium tiosulfat (0,5M). Warna dari larutan yang bebas
tembaga itu hilang sempurna dalam 1,5-2 menit.

14. Uji Kering


a. Uji Pipa-tiup
Bila senyawa tembaga dipanaskan dengan karbonat alkali di atas arang, logam
tembaga akan diperoleh warna merah tetapi tidak terlihat oksida
b. Uji Manik Boraks
Menghasilkan warna hijau selagi panas dan biru ketika dingin sehabis dipanaskan
dalam nyala oksidasi, merah dalam nyala reduksi
c. Uji Nyala
Menghasilkan warna hijau terutama pada halida, misalnya dengan membasahkan
dengan asam klorida pekat sebelum dipanaskan.

2.1.4

KADMIUM(II)
Kadmium adalah logam putih keperakan yang dapat ditempa dan
liat. Kadmium membentuk ion bivalen yang tidak berwarna. Dapat
melarut dengan lambat jika dilarutkan dalam asam encer dan
melepaskan gas hidrogen:
Cd + 2H+Cd2+ + H2

Reaksi ion Kadmium(II)

16

Dapat dipelajari dengan mudah dalam dalam senyawa Kadmium


sulfat( CdSO4)
1.
Dengan hidrogen sulfida (gas atau air dalam larutan)
akan membentuk endapan berwarna kuning kadmium sulfida:
Cd2+ + H2S CdS + 2H+
Reaksi diatas dapat balik jika menggunakan asam dengan
konsentrasi diatas 0,5M, sehingga pengendapan tidak berjalan
sempurna. Yang membedakan ion kadmium dengan tembaga adalah
endapan ini tidak larut dalam kalium sianida(KCN).
2.
Dengan larutan amonia tetes demi tetes akan
membentuk endapan putih kadmium(II)hidroksida:
Cd2+ + 2NH3 + 2H2O Cd(OH)2 + 2NH4+
Apabila reagensia ini ditambahkan berlebih maka endapan akan
larut dan menjadi kompleks yang tidak berwarna.
3.
Dengan Natrium hidroksida akan terbantuk endapan
berwarna putih kadmiun(II)hidroksida:
Cd2++ 2OH- Cd(OH)2
Endapan ini tidak larut dalam reagensia yang berlebihan akan
tetapi akan larut dengan asan encer sehingga menggeser
kesetimbangan kekiri
4.
Dengan
Kalium
sianida(racun)
akan
membentuk
endapan putih kadmium sianida dalam penambahan yang perlahanlahan, karena jika reagensia ini ditambahkan berlebihan maka endapan
akan larut:
Cd2+ + 2CN- Cd(CN)2
5.
Dengan
kalium
tiosianattidak
akan
terbentuk
endapan(yang membedakan dengan ion tembaga).
6.
Dengan kalium iodidatidak membentuk endapan
(perbadaan dari ion tembaga).
7.
Dengan Dinitro-p-difenil karbazida (0,1%) akan
membentuk produk yang berwarna coklat dengan tambahan kadmium
hidroksida, akan berubah menjadi biru kehijauan jika ditambahkan
formaldehida.
8.
4-Nitronaftalena-diazoamino-azo-benzena
dengan
larutan uji kadmium hidroksida akan membentuk zat berwarna
merah.
9.
Uji kering
a. Uji pipa tiup, semua senyawa kadmium bila dipanaskan dengan alkali
karbonat diatas arang akan menghasilkan kerak berwarna
coklatkadmium oksida CdO.

17

b. Uji pipa, garam kadmium direduksi dengan natrium oksalat menjadi


unsurnya yang biasanya diperoleh sebagai cermin logam, dikelilingi
sedikit kadmium oksida coklat.

2.2 Kation Sub Golongan II bagian ARSENIK


2.2.1 ARSENIK (III)
Arsenik adalah zat padat yang berwarna abu-abu seperti baja, getas dan memiliki
kilap logam. Saat dipanaskan arsenik bersublimasi dan menimbulkan bau seperti bawang
putih, ketika dipanaskan dalam aliran udara yang bebas arsenik terbakar dengan nyala
biru menghasilkan asap putih arsenik (III) oksida, As

O6 semua senyawa arsenik

beracun. Arsenik tidak larut dalam asam klorida , dan asam sulfat encer tapi larut dengan
mudah dalam asam nitrat encer , menghasilkan ion arsenit. Didalam asam nitrat pekat
atau dalam larutan natrium hipoklorit membentuk arsenat.
As + 4H+ + NO3-

As3+ + NO + 2H2O

3As + 5HNO3(pekat) + 2H2O

3AsO43- + 5NO + 9H+

2As + 5Ocl- + 3H2O

2AsO43- + 5Cl- + 6H+

Reaksi-reaksi ion Arsenik (III)


1.
Hidrogen sulfida : endapan kuning arsenik (III) sulfida :
3+
2As + 3H2S
As2S3
+ 6H+
Larutan harus sangat bersifat asam, jka tak terdapat cukup asam, hanya akan terlihat
larutan berwarna kuning. Karena terbentuknya koloid As2O3. Endapan tidak larut dalam
asam klorida pekat, tetapi larut dalam asam nitrat pekat panas:
3As2S3 + 26HNO3 + 8H2O 6AsO43- + 9SO42- + 42H+ + 26NO
Endapan juga larut dengan mudah dalam larutan hidroksida alkali dan amonia:
As2S3 + 6OH-
AsO33- + AsS33- + 3H2O
Amonium sulfida juga melarutkan endapan:
As2S3 + 3S2- 2AsS332.
Perak nitrat: endapan kuning perak arsenit dalam larutan netral
18

AsO33- + 3Ag+ Ag3AsO

Endapan larut baik dalam asam nitrat (a) maupun amonia (b) :
Ag3AsO3 + 3H+ H3AsO3 + 3Ag+
(a)
+
3g3AsO3 + 6 NH3 3{Ag(NH3)2} + AsO 3
(b)
3. Campuran magnesia (larutan yang mengandung MgCl 2, NH4Cl, dan sedikit
NH3). Tidak ada endapan . Hasil serupa akan diperoleh dengan reagensia magnesium
nitrat (larutan yang mengandung Mg(NO3)2, NH4NO3, dan sedikit NH3).
4. Larutan tembaga sulfat: endapan hijau tembaga arsenit (hijau Scheele), yang
dirumuskan berbeda-beda sebagai CuHAsO3 dan Cu3(AsO3)2. xH2O, dari larutan netral.
Endapan larut dalam asam, dan juga dalam larutan amonia yang membentuk larutan biru.
Endapan larut dalam larutan natrium hidroksida, ketika dididihkan , tembaga (I) oksida
mengendap.
5. Kalium tri-iodida (larutan iod dalam kalium iodida): mengoksidasikan ion
arsenit sambil kehilangan warna :
AsO33- + I-3 + H2O AsO3-4 + 3I- + 2H+
Reaksi ini dapat balik,dan akan mencapai kesetimbangan.
6. Larutan timah (II) klorida dan asam klorida pekat (uji bettendorff). Beberapa
tetes larutan arsenit ditambahkan pada 2 ml asam klorida pekat dan 0,5 ml larutan timah
(II) klorida jenuh, dan larutan dipanaskan perlahan-lahan larutan menjadi coklat tua dan
akhirnya hitam,disebabkan oleh memisahnya arsenik unsur :
2As3+ + 3Sn2+
2As
3Sn4+

2.2.2 ARSENIK (V)


Reaksi-reaksi ion arsenat Larutan dinatrium hydrogen arsenat Na2HAsO4.7H2,
0,1 M dapat dipakai untuk mempelajari reaksi-reaksi ini. Larutan harus mengandung
sedikit asam klorida encer.
1.

Hidrogen sulfida : tak terjadi endapan segera dengan adanya asam klorida

encer. Jika aliran gas diteruskan, campuran arsenic (III) sulfida, As2S3,dan belerang
mengendap dengan lambat. Pengendapan akan lebih cepat dalam larutan panas.
AsO3-4 + H2s AsO33- + S
+ H2O
2AsO3-3 + 3H2S + 6H+ As2S3 6H2O
2. Larutan perak nitrat : endapan merah-kecoklatan,perak arsenat Ag3AsO4,dari
larutan netral (perbedaan dari arsenit dan fosfat,yang menghasilkan endapan-endapan

19

kuning). Endapan larut dalam asam dan dalam larutan amonia, tetapi tak larutan dalam
asam asetat.
AsO3-4 + 3Ag+ Ag3AsO4
Reaksi ini dapat sebagai uji yang peka terhadap Arsenik secara berikut:
Uji ini hanya dapat dipakai, bila tak ada ion-ion kromat, heksa sianoferat (II) dan
(III), yang juga member garam-garam perak yang berwarna tak larut dalam asam asetat.
3. Campuran Magnesia: endapan kristalin putih Magnesium amonium arsenat
Mg (NH4)AsO4.6H2O, dari larutan netral atau amoniakal (perbedaan dari arsenik):
AsO43- + Mg2+ + NH+4 MgNH4AsO4
Untuk beberaoa tujuan (misalnya mendeteksi arsenat dengan adanya fosfat),lebih
baik dipakai reagenensia magnesium nitrat (larutan yang mengandung
Mg(NO3)2,NH4Cl,dan sedikit NH3).
Ketika endapan putih ini diolah dengan larutan perak nitrat yang mengandung
beberapa tetes asam asetat,terbentuknya perak arsenat merah (perbedaan dari fosfat) :
MgNH4AsO4
+ 3 Ag+ Ag3AsO4 + Mg2+ + NH+4
4. Larutan amonium molibdat: bila reagensia ini dan asam nitrat ditambahkan
dengan sangat berlebihan kepada larutan suatu arsenat, kita memperoleh endapan
kristalin berwarna kuning, yaitu amonium arsenomolibdat, (NH4)3 AsMo12O40, dengan
mendidihkan (perbedaan dari arsenit, yang tak memberi endapan, dan dengan fosfat yang
menghasilkan endapan dalam keadaan dingin atau dengan memanaskan perlahan-lahan).
5. Larutan Kalium Iodida: jika ada serta asam klorida pekat, iod akan
diendapkan. Dengan mengocok campuran dengan 1-2 ml kloroform atau karbon
tertraklorida, zat yang terakhir ini akan diwarnai ungu oleh iod. Reaksi ini dapat dipakai
untuk mendeteksi arsenat dengan adanya arsenit: zat-zat pengoksid tidak boleh ada :
AsO3-4 + 2H+ + 2I- AsO3-3 + I2
H2O
6. Larutan uranil asetat : endapan seperti gelatin berwarna kuning muda, uranil
amonium arsenat UO2(NH4)AsO4.xH2O, dengan adanya ammonium asetat berlebih.
Endapan larut dalam asam mineral, tetapi tak larut dalam asam asetat. Bila pengendapan
dilakukan dari larutan suatu arsenat yang panas, endapan akan diperoleh dalam bentuk
granul (butiran kasar).
AsO3-4 + UO2+2 + NH+2
2.2.3

UO2NH4AsO4

STIBIUM III

20

Stibium adalah logam putih keperakan yang mengkilap, dan melebur pada 630oC.
Stibium tak larut dalam asam klorida, dan dalam asam sulfat encer. Dalam asam sulfat pekat
yang panas ia melarut perlahan-lahan dengan membentuk ion stibium(III):
2Sb + 3H2SO4 + 6H+ 2Sb3+ + 3SO2 + 6H2O
Air raja melarutkan stibium, pada mana terbentuk ion stibium(III):
Sb + HNO3 + 3HCl Sb 3+ + 3Cl- + NO + 2H2O
Senyawa-senyawa stibium(III) mudah dilarutkan dalam asam, pada mana ion Sb3+
adalah yang stabil. Jika larutan dijadikan basa, atau konsentrasi ion hidrogen dikurangi dengan
pengenceran, terjadilah hidrolisis pada mana ion-ion antimonil, SbO+ terbentuk:
Sb3+ + H2O SbO+ + 2H+
Senyawa-senyawa stibium (V) mengandung ion antimonat, SbO43-. Ciri-ciri khasnya
adalah serupa dengan senyawa-senyawa arsenik padanannya.
Reaksi-reaksi ion stibium (III). Larutan 0,2M stibium(III) klorida, SbCl3, dapat dipakai umtuk
mempelajari reaksi-reaksi ini. Larutan ini dapat dibuat dengan melarutkan stibium (III) klorida
padat atau stibium (III) oksida, Sb2)3, dalam asam klorida encer.

1. Hidrogen sulfida: endapan merah jingga stibium trisulfida, Sb2S3, dari larutan-larutan yang
terlalu asam. Endapan larut dalam asam klorida pekat panas (perbedaan dan metode pemisahan
dari arsenik(III) sulfida dan merkurium(II) sulfida), dalam amonium polisulfida (membentuk
tioantimenat), dan dalam larutan hidroksida alkali (membentuk antimonit dantiontimenit).
2Sb3+ + 3H2S Sb2S5 6H+
Sb2S3 +6HCl 2Sb3++6Cl- + 3H2S
Sb2S3+ 4S22- 2SbS43- + S322Sb2S3 + 4OH- SbO2- + 3SbS2- + 2H2O
Dengan mengasamkan larutan tioantimonat dengan asam klorida,mula-mula stibium pentasulfida
diendapkan,tetapi biasanya terurai sebagian menjadi sulfida dan belerang:
2SbS43- + 6H+ Sb2S5 + 3H2S

21

Sb2S5 Sb2S3 + 2S
Pengasaman campuran antimonit-tioantimonit menghasilkan endapan trisulfida:
SbO2- +3SbS2- + 4H+ 2Sb2S3 + 2H2O
2. Air: bila larutan dituangkan ke dalam air, terbentuk endapan putih antimonil klorida, SbOCl,
yang larut dalam asam klorida dan dalam larutan tartrat (perbedaan dari bismut). Dengan air
yang berlebihan dihasilkan oksida terhidrasi Sb2O3.xH2O.
3.larutan natrium hidroksida atau amonia: endapan putih stibium(III) oksida terhidrasi
Sb2O3.xH2O, yang larut dalam larutan basa alkali yang pekat (5M) membentuk antimonit.
2Sb3+ + 6OH- Sb2O3 + 3H2O
Sb2O3 + 2OH- 2SbO2- + H2O
4. zink: dihasilkan endapan hitam,yaitu stibium.jika larutam stibium kloridaitu dituang di atas
lembaran tipis platinum dan sekeping logam zinkditaruh diatas lembaran itu., terbentuk noda
hitam stibium di atas platinum ; noda (atau endapan ) itu harus dilarutkan dalam sedikit asam
nitrat encer panas, dan hydrogen sulfide dialirkan ke dalam lautan setelah diencerkan; maka kita
akan memperoleh endapan jingga, stibium trisulfida.
2Sb3+ + 3Zn 2Sb + 3Zn2+
Sedikitstibuna SbH3,mungkin dilepaskan, bilazink yang dipakai; makalebihbaikdipakaitimah.
2Sb3+ + 3Sn 2Sb + 3Sn2+

22

5. Kawat besi: endapan hitam stibium. Ini dapat dipastikan dengan cara yang diuraikan pada
reaksi zink
2Sb3+ + 3Fe 2Sb + 3 Fe2+
6. Larutan kalium iodida: warna menjadi merah karena pembentukan garam kompleks.
Sb3+ + 6I- [Sb6]37. reagensi aradomina-B (atau tetraetilrodamina)
Pewarna lembayung atau biru dengan stibium kuinkuevalen (bervalensi 5). Stibium tervalentak
memberi respons terhadap uji ini, maka harus dioksidakan dengan kalium atau natrium nitrit
dengan disertai asam klorida pekat. Dalam golongan IIB, SbCl 3 selalu membentuk bersama-sama
SnCl4,,bila endapan diolah dengan asam klorida: dengan mengoksidasikan Sb (III) menjadi Sb
(V) dengan sedikit nitrat padat, kita dapat menemukan suatu cara yang baik untuk menguji Sb,
meskipun ada Sn dalam jumlah yang jauh lebih banyak . merkurium, emas, talium, molibdat,
vanadate, dan tungstate dalam larutan memberi reaksi-reaksi warna yang serupa.
8. Reagensia asam fosfomolibdat (H3[PMo12O40]):
Biru molybdenum dihasilkan oleh garam-garam stibium(III). Dari ion-ion dalam golongan II,
hanya timah (II) yang mengganggup ada uji ini. Larutan uji boleh terdiri dari lrutann yang telah
disaring, yang diperoleh dengan mengolah endapan golongan IIB dengan asam klorida: disini
stibium terdapat sebagai Sb3+dan timah sebagai Sn4+, yang tak mempunyai pengaruh terhadap
reagensia.

23

2.2.4

STIBIUM V

Ion stibium(V) diturunkan dari oksida atmosfer Sb 2O5. Dalam asam, oksida ini akan melarut
dengan membentuk kation stibium(V), Sb5+:
Sb2O5 + 10H 2Sb5+ + 5H2O
Jadi dalam larutan asam, ion yang terdapat di dalamnya adalah ion Sb5+.
Di lain pihak, dalam alkali-alkali, ion antimonat SbO43- yang terbentuk adalah:
Sb2O5 + 3OH- 2SbO43- + 3H+
Jadi, dalam suasana basa yang terdapat dalam larutan tersebut adalah SbO 43-. SbO43- adalah
rumus yang telah disederhanakan dari komposisi ion antimonat; sebenarnya ia berada dalam
bentuk terhidrasi, yang dinamakan heksahidroksoantimonat(V). Pembentukannya dari Sb2O5
dengan alkali dapat digambarkan dengan reaksi:
Sb2O5 + 2OH- + 5H2O 2[Sb(OH)6]Untuk mempelajari reaksi-reaksi ini, suatu larutan kalium heksahidroksoantimonat
K[Sb(OH)6] 0,2M, dapat digunakan. Sebagai alternatif, stibium pentoksida Sb2O5 dapat
dilarutkan kedalam asam klorida pekat.

1. Hidrogen sulfida:membentuk endapan merah-jingga stibium pentasulfida, Sb2S3, dalam


larutan dengan kadar keasaman sedang. Endapan ini akan larut dalam larutan amonium
sulfida (menghasilkan tioantimonat), dalam larutan hidroksida alkali, dan asam klorida
pekat dengan pembentukan stibium triklorida dan pemisahan belerang. Garam-tio ini
terurai oleh asam, dimana pentasulfida diendapkan.
2Sb5+ + 5H2S Sb2S5 + 10H+
Sb2S5 + 3S2- 2SbS43Sb2S5 + 6OH- SbSO33- + SbS43- + 3H2O
Sb2S5 + 6H+ 2Sb3+ + 2S + 3H2S
2SbS43- + 6H+ Sb2S5 + 3H2S
3SbSO3 + SbS43- + 6H+ Sb2S5 + 3H2O
Perhatikan bahwa ion tioantimonat SbSO33- adalah turunan dari ion antimonat SbO43- (tidak ada
hubungan apapun dengan ion sulfit SO32-).
2. Air: membentuk endapan putih garam-garam basa dengan komposisi yang bermacammacam; hingga akhirnya membentuk asam antimonat:
Sb5+ + 4H2O H3SbO4 + 5H+
Endapan melarut dalam asam maupun basa-basa alkali (tetapi tidak dalam karbonatkarbonat logam alkali).
24

H3SbO4 + 5H+ Sb5+ + 4H2O


H3SbO4 + 3OH- SbO43- + 3H2O
3. Larutan kalium iodida: dalam larutan yang bersifat asam, iod akan memisah:
Sb5+ + 2I- Sb3+ + I2
Jika ion Sb5+ terdapat berlebihan dalam larutan, kristal-kristal iod akan memisah dan mengapung
di atas permukaan larutan tersebut. Bila dipanaskan, maka muncul uap lembayung iod yang khas.
Jika reagensia yang ditambahkan berlebihan, maka akan terbentuk ion-ion tri-iodida coklat,
yang menapis warna kuning dari ion heksaiodoantimonat(III):
Sb5+ + 2I- [SbI6]3- + I34. Zink atau timah: membentuk endapan hitam stibium denga adanya asam klorida:
2Sb5+ + 5Zn 2Sb + 5Zn2+
2Sb5+ + 5Sn 2Sb + 5Sn2+
Sedikit stibina (SbH3) ikut dihasilkan dengan zink.
5. Reagensia Rodamida-B: dapat dilihat senyawa-senyawa stibium(III) pada bagian III.15,
reaksi 7. Dalam hal ini tidak diperlukan oksidasi pendahuluan.

2.2.5

TIMAH (II)
Timah adalah logam putih perak, yang dapat ditempa dan liat pada suhu biasa,
tetapi pada suhu rendah menjadi getas karena berubah meja disuatu modifikasi alotropi
yang berlainan. Yang dapat meleleh pada suhu 231,8oC. Logam ini larut dalam asam
klorida encer dan asam sulfat encer, dengan membentuk garam-garam timah (II) (stano):
Sn + 2H+

Sn2+ + H2

Asam nitrat encer melarutkan timah dengan lambat tanpa pelepesan gas apapun,
dan terbentuk ion-ion imah (II) dan amonium:
4Sn + 10H+ + NO3-

4Sn2+ + NH4+ + 3H2O

Timah dapat bivalen dan tetravalent dalam senyawa-senyawanya. Senyawa


timah(II), atau stano, biasanya tak berwarna. Dalam larutan asam, ion-ion timah(II) Sn +
yang terdapat, sedangkan dalam larutan basa, kita dapatkan ion-ion
tetrahidroksostanat(II) atau ion stanit [Sn(OH)4]2-. Kedua ion ini mudah berubah satu
sama lain.
25

Sn4+ + 4OH-

[Sn(OH)4]2-.

Ion timah(II) merupakan zat periduksi yang kuat.


Senyawa-senyawa timah(IV) adalah stabil. Dalam larutan airnya, senyawa-senyawa
ini bisa terdapat sebagai ion timah (IV), Sn4+, atau sebagai ion heksahidroksostanat(IV)
atau sederhana nya stanat [Sn(OH)6]2. Ion ion ini juga membentuk system
kesetimbangan:
Sn4+ + 6OH-

[Sn(OH)6]2

Dalam larutan asam, kesetimbangan bergeser kearah kiri, sedang dalam suasana
basa keetimangan bergeser kekanan.

Reaksi-reaksi ion timah(II) larutan timah(II) klorida, SnCl2,2H2O, 0,25M dipakai untuk
mempelajari rekasi-reaksi ini. Larutan harus mengandung sedikitnya 4 persen asam
klorida bebas (10 ml HCL pekat per liter)
1.

Hydrogen sulfida. Endapan coklat timah (II) sulfide, SnS, dan larutan yang tak terlalu
asam. Endapan larut dalam asam klorida pekat (perbedaan dari arsenic (III) sulfide dan
merkurium (II) sulfide); juga larut dalam [9NH 4)2SX] kuning, tetapi tidak dalam larutan
ammonium-sulfida [9NH4)2S] yang tak berwarna, dengan membentuk tiostanat. Jika
larutan ammonium tiostanat ini diolah dengan asam akan menghasilkan endapan kuning
timah (IV) sulfide, SnS2
Sn2+ + H2S
SnS + 2H+
2SnS + S2
SnS33-
SnS32-+ 2H SnS2 + H2S
Timah (II) sulfide tak larut alam larutan basa alkali; maka jika larutan kalium hidroksida
yang digunakan untuk memisahkan GolonganIIA dan Golongan IIB, timah harus
dioksidasikan ke keadaan kuadrivalennya dulu dengan hydrogen peroksida, sebelum
diendapkan dengan hydrogen sulfide.

2.

Larutan Natrium Hidroksida


Terbentuk Endapan putih Timah (II) Hidroksida
Sn2+ + 2OH- Sn(OH)2

3.

Larutan Merkuri (II) Klorida


Terbentuk Endapan putih Merkuri (I) Klorida atau Kalomel
Sn2+ + Hg2Cl2 Hg2Cl2+ Sn4+ + 2Cl-
26

4.

Larutan Bismut Nitrat dan natrium hidroksida


Terbentuk Endapan hitam logam bismut
2Bi(OH)3+ 3[Sn(OH)4]2- 2Bi + 3[Sn(OH)6]2-

5.

Zink Logam
Timah mirip karet busa yang mengendap dan menempel pada zink.
2Sb3+ +3Sn 2Sb + 3Sn2+

6.

Uji dimetilglioksima-besi (III) klorida


Jika ada sedikit saja besi (II) yang dihasilkan dari reduksi ion timah (II) akan terjadi
warna merah tua yang ditimbulkan oleh kompleks besi (II) dimetilglioksima.

7.

Reagensia kakotilena (cacotheline, turunan nitro dari brusina, C12H21O7N3


Pewarnaan lembayung dengan garam-garam stano. Larutan untuk menguji haruslah asam
(HCL 2M), timah harus direduksi apabila sebelumnya dalam keadaan kuadrivalen dengan
Al atau Mg lalu disaring. Reaksi ini tidak selektif tetapi cukup peka. Reaksi ini dapat
dapat dipakai dalam analisis endapan Gol II, karena ion besi (II) tidak memiliki pengaruh
dalam reaksi ini.
Jenuhi beberapa kertas reaksi-tetes dengan reagenesia lalu tambahkan setetes larutan uji
sebelum kertas tersebut kering. Sebuah bercak lembayung, yang dikelilingi oleh suatu
zona yang kurang begitu kuat warnanya, muncul diatas kertas yang kuning tersebut.

8. Ragensia hijau diaziana (zat warna yang terbentuk oleh reaksi kopling antara safranina
terazotisasi dengan dimetilanilina)
Timah(II) klorida mereduksi hijau diazina yang berwarna biru menjadi safranina yang
berwarna merah, maka perubahan warna adalah biru lembayung merah. Reagensia
ini berguna untuk menguji terhadap timah dalam campuran sulfide-sulfida dari stibium
dan timah, yang diperoleh pada analisis kualitatif rutin. Larutan sulfide-sulfida itu dalam
asam klorida direduksi dengan kawat besi, bubuk alumunium atau magnesium, dan
setetes larutan yang telah direduksi ini dipakai untuk uji.
Campurkan 1 tetes larutan uji di atas lempeng bercak dengan 1 ml reagensia. Warna
berubah dari biru menjadi lembayung atau merah. Dianjurkan untuk melakukan uji
blanko.
Kepekaan: 2 g Sn. Batas konsentrasi: 1 dalam 250.000.
Reagensia terdiri dari larutan air hijau diazina 0,01persen.
27

9. Reagensia 4-metil-1,2-dimerkaptobenzena (atau ditiol)


Endapan merah bila dipanaskan dengan garam-garam timah(II) dalam larutan asam. Zatzat yang berikut mengganggu; perak, timbel, merkurium, cadmium, arsenic dan stibium
(endapan kuning); tembaga, nikel, kobalt (endapan hitam); bismuth (endapan merah); zatzat organic koloid (kanji, dan sebagainya); fosfat dan nitrit. Konsentrasi asam klorida dari
larutan tak boleh melampui 15 persen.
Taruh 2 tetes larutan uji, asamkan dengan asam klorida encer, dalam sebuah krus mikro
dan tambahkan 3 tetes reagensia. Panaskan (jangan diatas 60C): terbentuk warna atau
endapan merah.
Batas konsentrasi: 1 dalam 500.000.
Reagensia dibuat dengan melarutkan 0,2 g 4-metil-1,2-dimerkaptobenzena dalam 100 ml
larutan natrium hidroksida 1 persen, dan menambahkan 0,3-0,5 g asam tioglikolat.
Reagensia harus dibuang jika terbentuk endapan putih sulfide itu.

2.2.5

TIMAH (IV)

Reaksi ion timah (iv)


1. Hidrogen Sulfida, terbentuk endapan kuning timah (IV) sulfide
Sn4+ + 2 H2S SnS2 + 4 H+
2. Larutan NaOH , endapan putih seperti gelatin yaitu timah (IV)
hidroksida
Sn4+ + 4 OH- SnS2 + 4 H+
3. Larutan merkurium (II) klorida, tidak ada endapan
4. Logam besi , mereduksi ion timah (IV) menjadi timah (II)
Sn4+ + Fe Fe2+ + Sn2+

28

NO
1.

2.

KATION
Cu2+

PERLAKUAN
+ H2S

REAKSI
Cu2+ + H2S
CuS + 2H+

PERUBAHAN
Endapan hitam,
tembaga (II) sulfide

+ Larutan
Amonia NH3

2Cu2+ + SO42- +

Endapan biru
tembaga sulfat

2NH3 + 2H2O

2.1

Cu(OH)2.CuSO4 +
2NH4+
3.

4.

+ Larutan
NaOH

Cu2+ + 2OH-

Endapan
dipanaskan

Cu(OH)2 CuO

+ Larutan KI

2Cu2+ + 5I- 2Cui Endapan Putih


Tembaga (I) Iodida,
+ I3tetapi larutan warna
kecoklatan karena
terbentuk iontriodida
2I3 + S2O3 3I + I3- tereduksi menjadi
I- larutan tidak
S4O62berwarna

+ Natrium
tiosulfat pada I35.

6.

Endapan Biru
Tembaga (II)
Hidroksida

Cu(OH)2

+ H2O

+Kalium
Sianida KCN

Cu2+

Endapan Terurai

2Cu(CN)2

Endapan Putih

2CuCN + (CN)2

Tembaga (I) Sianida

2CN-

Tembaga (II) Oksida


warna Hitam

Endapan Kuning
Tembaga (II) Sianida

Cu(CN)2

2+

+Kalium
Heksasianoferat
(II)

2Cu + [Fe(CN)6]

Endapan
+Larutan NH3

Cu2[Fe(CN)6] +

4-

Cu2[Fe(CN)6]

8NH3
2[Cu(NH3)4]2- +

dan gas Sianogen


Endapan Coklat
Kemerahan
Tembaga (II)
Heksasianoferat dlm
suasana asam atau
netral
Ion Tembaga
tetraamina warna
biru tua

[Fe(CN)6]4Endapan
+Larutan NaOH

Cu[Fe(CN)6] +
4OH- 2Cu(OH)2
+ [Fe(CN)6]4-

Endapan Biru
Tembaga (II)
Hidroksida

29

TABEL REAKSI UMUM DAN SPESIFIK KATION GOLONGAN II

BAB III
30

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan kelarutannya di dalam amonium polisulfida, golongan kation ke dua dibagi
menjadi dua sub golongan, tembaga dan arsenic. Unsur yang termasuk dalam sub golongan
tembaga diantaranya Merkurium II, Bismut III, Tembaga II, dan Cadmium II. Subgolongan
tembaga akan tidak larut pada ammonium polisulfida. Sedangkan Subgolongan Arsenik akan
larut pada ammonium polisulfida seperti Arsenik III, Arsenik V, Stibium III, Stibium V, Timah
II, dan Timah IV. Kation Golongan 2 akan mengendap tidak sempurna pada HCl, dan akan
membentuk endapan dengan berbagai warna bila direaksikan dengan H2S.

DAFTAR PUSTAKA
31

Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.Jakarta: Kalman
Media Pustaka

32