Anda di halaman 1dari 3

H.

FORMAT DATA PENGAMATAN

1. Percobaan Encoder
Tabel 5. Tabel
aran

D0
1
0
0
0
0
0
0
0

D1
0
1
0
0
0
0
0
0

D2
D3
D4
D5
D6
D7
X
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
0
1
1
Encoder dan Hasil Pengukuran Tegangan (Volt)

Y
0
0
1
1
0
0
1
1

Z
0
1
0
1
0
1
0
1

Keben

2.Percobaan Decoder
Tabel 5. Tabel Kebenaran Decoder dan Hasil Pengukuran Tegangan (Volt)

I.

ANALISIS
Percobaan ini terbagi menjadi dua, yaitu percobaan rangkain Encoder dan
rangkaian Decoder. Adapun Encoder yang diuji adalah line 8 to 3. Praktikan
menggunakan tiga buah input gerbang OR, yaitu Ic 7432. Karena rangkaian
encoder membutuhkan empat input masukan dari masing-masing gerbang OR,
maka untuk mensiasati input pada Ic, praktikan menghubungkan dua output (3 dan
6) dari 4 input (pin 1, 2, 4 dan 5) untuk membentuk empat input rangkaian encoder
di masing-masing gerbang OR tersebut. Ketiga gerbang OR pada pin 7 terhubung
dengan ground dan pin 14 masing-masingnya juga terhubung dengan power supply
sebesar 5 V.

Hasil percobaan menunjukkan kesesuaian dengan teori, dimana

prinsip kerja encoder menterjemahkan salah satu inputnya menjadi urutan bit-bit
biner. Dari beberapa input line, hanya salah satu dari input-input

tersebut

diaktifkan pada waktu tertentu, yang selanjutnya akan menghasilkan kode output nbit dari input yang lebih banyak yaitu 2n. Misal, jika input D1 yang di aktifkan atau
dalam mondisi high, maka outputnya pada XYZ yang aktif adalah output Z ditandai

dengan nyala lampu. Hal ini sesuai karena output D1 yang bernilai 1 terbaca pada
serangkaian alat menghasilkan nilai 1. Pada masukan gerbang OR ada symbol
negasi (o) yang merupakan symbol komplemen. Sehingga, tegangan yang terukur
pada Vz adalah 4.36 V, sedangkan Vx dan Vy yang dalam kondisi low atau lampu
tidak menyala bernilai 0.16 V. . Jika dibandingkan dengan hasil simulasi rangkaian,
nilai tegangan yang ada tidak tepat 5 V (hasil percobaan kurang dari 5 V)
kemungkinan dikarenakan kondisi alat atau noisy di beberapa bagian tertentu.
Dapat disimpulkan, encoder menjadi rangkaian pengubah suatu pesan bermakna
(misal decimal) menjadi satu sandi tertentu (misal biner).
Pada percobaan kedua, praktikan melakukan pengujian tabel kebenaran dari
rangkaian Decoder. Rangkaian decoder yang dibuat oleh praktikan tidak dapat
menyatakan hasil yang benar untuk tabel kebenaran Decoder.
Pada percobaan ini praktikan tak lepas dari kesulitan dan kekurangan.
Dengan beberapa kali pengulangan merakit rangkaian pada percobaan kedua,
praktikan masih belum terlalu teliti dalam memasang kabel pada pin-pin setiap Ic
karena rangkaian terbilang cukup rumit. Hal ini membutuhkan kerjasama yang baik
dengan rekan kerja karena akan lebih efisien dan efektif jika salah seorang
merangkai dan yang satunya menyebutkan hubungan rangkaian. Pemeriksaan
secara seksama saat proses merangkai juga perlu agar tidak membuang waktu dan
memastikan bahwa rangkaian telah benar posisinya satu sama lain. Keterbatasan Ic
yang ada juga menjadikan praktikum kali ini tidak begitu efektif karena pada
simulasi dan saat percobaan berlangsung rangkaian yang ada sedikit berbeda
sehingga praktikan masih ragu dalam menentukan dan mengamati hasil percobaan.
Selain itu, keterbatasan kabel menjadikan waktu yang dibutuhkan praktikan
menjadi cukup lama dalam menyelesaikan percobaan kedua. Sehingga praktikan
bekerjasama dengan kelompok selanjutnya untuk menyusun bersama dengan alat
dan kabel seadanya. Beruntung, kedua percobaan terselesaikan dan hasil yang
didapat sesuai dengan yang diinginkan dan tak jauh dari hasil teoritis.

J.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa praktikan ambil dalam percobaan kali ini adalah sebagai
berikut.

Dapat dibuktikan bahwa prinsip kerja encoder adalah memiliki input banyak
dalam bentuk line input dan memiliki output sedikit dalam format bilangan

biner. Line 8 to 3
Dapat dibuktikan bahwa prinsip kerja decoder adalah membalikkan encoding
dengan menerima input input biner dan mengaktifkan salah satu outputnya
sesuai dengan urutan biner tersebut. Line 3 to 8

K. REFERENSI
Kleitz, William. 2012. Digital Electronics 9th Ed.. New Jersey: Pearson Education,
Inc.
Tokheim, Roger. 2006. Elektronika Digital. Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga.
Widodo, Thomas Sri.2007. Teknik Digital Digital Prinsip dan Aplikasi. Yogyakarta:
Graha Ilmu.