Anda di halaman 1dari 13

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH REGOSOL

KELABU UNTUK KEMIRINGAN LERENG YANG BERBEDA


Garup Lambang Goro
Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang
Abstract
The objective of the research is to determine the effect of rainfall intensity and land slope
on grey regosol soil. The experiment was conduct by measuring oil erosion generated by
various, rainfall intensity on a certain slope, and the various of land slope on the constant
rainfall. In this condition, the relationship between both of the rainfall intensity and land
slope to the rate of erosion could be found. The research was carried out in the
laboratory, used small plot box of 1 x 1m2 and 10 cm depth. The soil is filled in the box,
and the rainfall is generated from rainfall simulator. The eroded soil is collected in the
measurement glass installed on the lower part of the box. The intensity used are 30, 40,
50 and 60 mm/hour and the hill slope are: 2,50, 50, 100, 150, 200, 250,and 300. The result
showed that: (1) the increasing of land slope up to 300 in the intensity rate of 30 mm/hour
make the erosion rate increase 47,51 times, of the initial rate. (2) the increasing of
rainfall intensity up to 60 mm/hour in the 2,50 of slope make the erosion rate increas 1,73
times of the initial rate. (3) the relationship between land slope to the slope factor S (Sf) =
0,0055 S2 + 0,0686 S 0,0803.
Key words : rainfall intensity, grey regosol soil, land slope.
PENDAHULUAN
Tanah merupakan media utama dimana
manusia bisa mendapatkan kebutuhan
sandang, papan, pangan dan tempat untuk
berbagai kegiatan, maka kita harus menjaga
kelestariannya. Tanah bisa terwujud melalui
proses sampai dengan berjuta-juta tahun
lamanya, untuk itu mengingatkan pada kita
semua jangan sampai menelantarkan tanah
dan merusak keadaan tanah dengan
berbagai tindakan yang tidak tepat seperti
penggundulan hutan dan lain sebagainya
(Sutedjo dan Kartasaputra, 1991 ), begitu
juga hujan dengan intensitas yang cukup
besar dan ditunjang dengan kemiringan
lereng yang cukup bisa berakibat pada
peningkatan jumlah erosi tanah.
Tanah adalah sebagai sumber daya yang
banyak digunakan oleh manusia, maka
tanah yang mendapat perlakuan tidak tepat
akan mengalami erosi, yang mana erosi
ditimbulkan sebagai akibat dari bekerjanya
gaya- gaya yang berasal dari air hujan,

86

angin, dan sebagainya. Erosi adalah


peristiwa pindahnya atau terangkutnya
tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu
tempat ke tempat lain oleh media alami.
Menurut suripin (2001), erosi merupakan
proses alamiah yang sulit untuk dihilangkan
sama sekali atau tingkat erosinya nol,
khususnya
untuk
lahan-lahan
yang
diusahakan untuk pertanian. Tindakan yang
harus dilakukan adalah mengusahakan
supaya erosi yang terjadi masih dibawah
ambang batas maksimum (soil loss
tolerance ), yaitu dengan cara melakukan
pengolahan tanah dengan baik dan
penambahan organik serta pembuatan teras
sering, supaya erosi yang terjadi tidak
melebihi laju pembentukan tanah.
Factor factor yang mempengaruhi erosi
tanah meliputi: hujan, angin, limpasan
permukaan, jenis tanah, kemiringan lereng,
jenis penutup tanah baik oleh vegetasi
maupun lainnya (Rahim (2000), factor
factor tersebut diatas dapat digolongkan ke

dalam tiga kelompok yaitu kelompok


energy, kepekaan tanah (erodibilitas) dan
proteksi (Morgan 1985).

Persamaan
yang
digunakan
adalah
universal Soil loss Equation yaitu:
A=RxKxLxSxCxP
(1)

Erosi bisa terjadi apabila intensitas hujan


yang turun lebih tinggi dibanding
kemampuan tanah untuk menyerap air
hujan ( Wudianto 2000 ). Pada daerah
tropika basah seperti Indonesia, hujan
merupakan penyebab utama terjadinya
erosi, dengan pukulan air hujan yang
langsung jatuh ke permukaan tanah,
agrergat yang berukuran besar akan hancur
menjadi partikel yang lebih kecil dan
terlempar besama percikan air, yang akan
terangkut bersama aliran permukaan. Pada
tanah yang berlereng, air hujan yang turun
akan lebih banyak berupa aliran
permukaan, yang seterusnya air akan
mengalir dengan cepat dan menghancurkan
serta membawa tanah bagian atas (top soil)
yang umumnya tanah subur (Brady, N, dan
Buckman H, 1982).

Parameternya adalah erosivitas (R),


erodibilitas (K), panjang kemiringan
lereng(LS), karena dalam penelitian kali ini
dititik beratkan pada tanah bero (tidak ada
tanamannya dan tanpa pengelolaan), maka
nilai faktor pengelolaan tanaman dan lahan
(C dan P) dianggap 1 (satu).

Sampel penelitian ini diambil dari daerah


desa Glagah, kabupaten Klaten, di sekitar
lokasi yang diteliti pada daerah tersebut
terdapat beberapa titik pendangkalan
sungai-sungai kecil yang disebabkan oleh
endapan tanah dari bagian hulu. Hal ini
menunjukkan tanah di bagian atas telah
terjadi erosi. Penelitian dilakukan di
laboraturium dengan menggunakan alat
rainfall simulator sebagai masukan energi
peng-erosi dan dengan menggunakan jenis
tanah regosol kelabu sebagai media yang
menerima proses erosi.
METODE PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah menentukan
pengaruh intensitas hujan dan kemiringan
lereng terhadap laju kehilangan tanah pada
tanah regosol kelabu, yang dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan alat
rainfall simulator dan alat bantu lainnya,
maka rancangan yang dipakai dalam
penelitian ini adalah dengan 2 perlakuan
(intensitas hujan dan kemiringan lereng),
masing-masing dilakukan 3 kali ulang.

Cara yang perlu dilakukan untuk mengukur


parameter tersebut adalah sebagai berikut.
Pengukuran intensitas hujan buatan
Pengukuran ini dilakukan dengan cara
coba-coba, butiran air hujan yang jatuh
ditampung pada alat container, selanjutnya
dari data tersebut dimasukkan ke dalam
rumus intensitas hujan yang terdapat pada
panduan alat rainfall Simulator yaitu: I =
(volume/ luas container x waktu) x 600.
Percobaan dilakukan berulang ulang
sampai didapat intensitas hujan yang dicari
(intensitas 30 mm/jam, 40mm/jam, 50
mm/jam, dan 60 mm/jam).
Pengukuran besar dan jumlah butiran
hujan
Pengukuran dilakukan dengan melewatkan
kertas saring yang sudah dilapisi methyline
blue tepat dibawah alat rainfall simulator,
jika kertas sudah kering dilakukan
pengukuran besar butiran hujan dan
jumlahnya. Dengan cara mengalikan
volume butiran hujan, jumlah dan berat
jenisnya akan didapat massa (m) hujan
buatan.
Pengukuran besarnya energi kinetik
hujan
Setelah didapat nilai intensitas hujan,
selanjutnya dicari nilai energy kinetic
Ek = 11,87 + 8,73 log I

(2)

sebagai pembanding digunakan rumus;


Ek = m v2

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH GOSOL(Garup L.G. )

(3)

87

Pengukuran untuk nilai M, O, S, dan P


Intuk mencari nilai M, O, S, dan P
dilakukan dengan cara menguji sampel
tanah, pengujian yang dilakukan adalah
mencari kadar air, berat isi tanah, grain
zise,
bahan
organik,
permeabilitas,
hidrometer, spesifik grafitas, sehingga akan
didapat nilai K, atau dengan cara
mengeplotkan nilai-nilai tersebut pada
nomograf erodibilitas.
Pengukuran LS (panjang kemiringan
lereng)
Panjang lereng ditetapkan satu meter,
sedang kemiringan lereng diatur sesuai
yang dicari yaitu 2,50, 50, 100, 150, 200, 250,
dan 300. Dengan diketahui panjang dan
kemiringan lereng, maka nilai LS dapat
dicari dengan menggunakan rumus;
LS = [(9L/22)z (0,065 + 0,0456S +
(4)
0,006541S2 )]

88

Pengukuran besarnya laju kehilangan


tanah (erosi)
Pengukuran besarnya erosi dilakukan
dengan cara sampel tanah dimasukkan ke
dalam petak kayu ukuran 100 cm x 100 cm
x 10 cm pada posisi tepat di bawah alat
rainfall simulator, kemiringan diatur sesuai
yang dicari, selanjutnya benda uji diberi
hujan buatan dengan intensitas hujan yang
dikehendaki. Tanah akan tererosi dan hasil
erosi ditampung dalam gelas ukur dengan
dicatat waktunya, setiap percobaan diambil
air 2 liter sampai 3 kali. Hasil erosi tanah
yang tercampur dengan air kemudian
disaring, selanjutnya dioven dan ditimbang
untuk diketahui beratnya.
Lebih lanjut secara garis besar alur
penelitian bisa dilihat pada bagan alir di
bawah ini.

Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 13 No. 2 Agustus 2008: 86-98

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH GOSOL(Garup L.G. )

89

HASIL
Pengukuran dilakukan untuk lima benda uji dengan hasil seperti dalam Tabel 1-.9).

No.
TABUNG
T-1
T-2
T-3
T-4
T-5

No.
CAWAN

C-1
C-2
C-3
C-4
C-5

Tabel 1.
Hasil Pengukuran Berat Isi Tanah Basah (m)
BERAT (gr)
VOLUME
TNH+TAB
408.45
406
401.02
407.31
387.46

CAWAN
(gram)
15.56
15.35
15.74
15.56
15.51

TABUNG
49.1
49.85
49.99
49.3
49.78

TANAH
359.35
356.15
351.03
358.01
337.68

TANAH (cm3)
282.74
282.74
282.74
282.74
282.74
rata-rata :

TANAH
(gram/cm3)
1.27
1.26
1.24
1.27
1.19
1.25

Tabel 2.
Hasil Pengukuran Kadar Air
BERAT
CAWAN + CAWAN +
TANAH
AIR
T.BASAH T.KERING KERING (gram)
(gram)
(gram)
(gram)
39.47
36.61
36.61
2.86
38.56
36.18
36.18
2.38
44.26
41.57
41.57
2.69
45.99
42.6
42.60
3.39
47.32
43.97
43.97
3.35
rata-rata :
Diambil :

KADAR
AIR
(%)
13.59
11.43
10.41
12.54
11.77
11.95
12.00

Tabel 3.
Hasil Pengukuran Analisa Ayak
Diameter
saringan
(mm)
4,750
2,360
1,180
0,600
0,300
0,150
0,075

90

Berat tertahan
(gram)
28.7
46.59
75.19
72.74
43.22
28.7
33.91

% berat tertahan
5.74
9.32
15.04
14.55
8.64
5.74
6.78

Komulatif
prosen tertahan
5.74
15.06
30.1
44.64
53.29
59.03
65.81

Prosen lolos
94.26
84.94
69.9
55.36
46.71
40.97
34.19

Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 13 No. 2 Agustus 2008: 86-98

Tabel 4.
Hasil Analisa Pengukuran Hidrometer
Analisa Hydrometer
Hydrometer no.

: 152H

Berat contoh tanah

: 50 gr

Dispersing agent
Zero corection
miniscus corection

: NaSo4 4%
: 3 strip
: 1 strip

Gs
a
% lolos 0.075 mm

: 2.72
: 0.986
: 34.19%

Waktu

Temp

Ra

Rc

Lolos

41.5
36.5
31.5
26.5
21.0
18.5
17.5
16.5
15.5
14.5
12.5
11.5
9.5
7.5

(%)
27.98
24.61
21.24
17.87
14.16
12.47
11.8
11.12
10.45
9.78
8.43
7.75
6.41
5.06

menit
0.5
1
2
4
9
16
25
36
49
60
120
240
480
1440

C
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28
28

42.0
37.0
32.0
27.0
21.5
19.0
18.0
17.0
16.0
16.0
13.0
12.0
10.0
8.0

43.0
38.0
33.0
28.0
22.5
20.0
19.0
18.0
17.0
16.0
14.0
13.0
11.0
9.0

9.2
10.1
10.9
11.7
12.6
13.0
13.2
13.3
13.5
13.7
14.0
14.2
14.5
14.8

L/t
18.400
10.100
5.450
2.925
1.400
0.813
0.528
0.369
0.276
0.228
0.117
0.059
0.030
0.010

0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122
0.0122

(mm)
0.052
0.039
0.028
0.021
0.014
0.011
0.009
0.007
0.006
0.006
0.004
0.003
0.002
0.001

Tabel 5.
Hasil Uji Permeabilitas
Percobaan

KT(cm/mnt)

K20(cm/mnt)

K20(cm/jam)

0.1293

0.1052

6.31

0.1295

0.1054

6.32

0.1296

0.1055

6.33

0.1305

0.1051

6.31

Rata-rata

0.1297

0.1053

6.32

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH GOSOL(Garup L.G. )

91

Tabel 6.
Hasil uji Specific Gravity
No. picnometer

Berat picnometer

(gr)

30.030

30.100

Berat picnometer + tanah

(gr)

37.830

37.880

Berat picnometer + tanah + air

(gr)

85.180

85.200

Temperatur tanah + air

28.000

28.000

0.998

0.998

Faktor koreksi 1
Berat picnometer + air

(gr)

80.260

80.260

Temperatur air

28.000

28.000

Faktor koreksi 2

0.998

0.998

Spesific gravity

2.689

2.749

Spesific gravity rat-rata

2.72

Tabel 7.
Hasil Pengukuran Jumlah Diameter Butiran Hujan
INTENSITAS HUJAN
DIAMETER BUTIRAN HUJAN
(mm/jam)
1mm 2mm 3mm 4mm 5mm
I 30 - 1
57
67
85
25
13
I 30 - 2
55
63
87
23
9
rata-rata
56
65
86
24
11
I 40 - 1
65
75
88
79
16
I 40 - 2
67
71
92
77
20
rata-rata
66
73
90
78
18
I 50 - 1
71
83
97
89
55
I 50 - 2
73
81
95
89
53
rata-rata
72
82
96
89
54
I 60 - 1
79
96
105
97
90
I 60 - 2
81
92
103
99
88
rata-rata
80
94
104
98
89

92

6mm
7
9
8
14
12
13
30
30
30
54
58
56

Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 13 No. 2 Agustus 2008: 86-98

Percobaan

I 30 - 1
I 30 - 2

Tabel 8.
Hasil Pengukuran Intensitas Hujan
luas container Waktu Volume
Intensitas
(cm2)
(menit)
(ml)
(mm/jam)
I=(V/(A*t)*600
41.26
10
20.64
30.01
41.26
10
20.8
30.25

intensitas
rata-rata
(mm/jam)
30.13

I 40 - 1
I 40 - 2

41.26
41.26

10
10

27.6
27.52

40.13
40.02

40.08

I 50 - 1
I 50 - 2

41.26
41.26

10
10

34.4
33.9

50.02
49.3

49.66

I 60 - 1
I 60 - 2

41.26
41.26

10
10

41.2
41.2

59.91
59.91

59.91

Tabel 9.
Nilai Erosi Hasil Percobaan - Vol. Air 6 liter
Kemiringan
Erosi Tanah (gram/m2)
Lereng
(derajad)

I 30
(mm/jam)

I 40
(mm/jam)

I 50
(mm/jam)

I 60
(mm/jam)

2,50

8.49

11.34

13.18

14.66

5,00

15.51

20.72

25.21

26.71

46.74

62.42

75.92

85.56

15,00

97.24

129.16

156.84

177.96

20,00

169.48

224.68

273.32

311.68

25,0

269.96

356.84

432.48

498.00

30,0

403.40

533.00

645.72

743.88

10,0

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH GOSOL(Garup L.G. )

93

merupakan hasil uji laboratorium dengan


menggunakan alat rainfall simulator.

PEMBAHASAN
Semakin besar energi kinetik hujan semakin
besar pula tanah yang tererosi, Tabel 10

Intensitas
(mm/jam)
30
40
50
60

Tabel 10.
Energi Kinetik Hujan
Energi kinetik
Ek = 11.87+8.73 Log I
(joule/m2/mm)
24.765
25.856
26.702
27.393

Hasil uji pada tabel 10 menunjukkan bahwa


intensitas hujan 30 mm/jam menghasilkan
energi kinetik sebesar 24.765 joule/m2/mm,
dan
pada
intensitas
50mm/jam
menghasilkan
26.702
joule/m2/mm,
sehingga setiap penambahan intensitas 10
mm/jam bertambah pula energi kinetiknya
yang bersifat menurun. Hasil perhitungan
pada Tabel 10 menyatakan bahwa ke dua
rumus yang digunakan memberikan hasil
yang tidak jauh berbeda.

Kemiringan
Lereng
(_0)
2.5
5
10
15
20
25
30

Telah disinggung di muka, bahwa


penambahan
intensitas
hujan
akan
menambah besar energi kinetik hujan,
begitu juga setiap penambahan kemiringan
lereng juga akan memperbesar laju
kehilangan tanah. Tabel 11 merupakan hasil
uji laboratorium yang mengkaitkan
intensitas hujan dengan kemiringan lereng
terhadap besarnya erosi.

Tabel 11.
Nilai Erosi Hasil Uji Laboratorium
Hasil Erosi (gram/m2)
I30
I40
I50
(mm/jam)
(mm/jam)
(mm/jam)
8.49
11.34
13.80
15.51
20.74
25.21
46.74
62.42
75.92
97.24
129.16
156.84
169.48
224.68
273.32
269.96
356.84
432.48
403.40
533.00
645.72

Erosi hasil pengujian laboratorium pada


Tabel 12 dan Gambar 2 berikut
menunjukkan dengan adanya pertambahan

94

Energi kinetik
Ek = 1/2 mv2
(joule/m2/mm)
24.97
25.9
26.95
27.45

I60
(mm/jam)
14.66
26.71
85.56
177.96
311.68
498.00
743.88

nilai intensitas hujan akan memperbesar


nilai erosinya.

Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 13 No. 2 Agustus 2008: 86-98

Kemiringan
Lereng
2,50
2,50
2,50
2,50

Tabel 12.
Pengaruh Intensitas Hujan Terhadap Erosi
Intensitas
Erosi
Faktor tingkat
2
(mm/jam)
(gr/m )
Pertambahan
30
8.49
1.00
40
11.34
1.34
50
13.80
1.63
60
14.66
1.73

Gambar 2.
Hubungan Intensitas Hujan Dengan Erosi
(pada kemiringan lereng 2,50)
Besar
kemiringan
lereng
akan
mempengaruhi laju kecepatan aliran
permukaan, semakin curam suatu lereng
semakin
cepat
alirannya,
sehingga
kesempatan air untuk meresap ke dalam
tanah lebih kecil dan akan memperbesar

aliran
permukaan,
yang
berakibat
menambah besarnya erosi. Pada Gambar 13
dan Gambar 3 memperlihatkan adanya
pertambahan erosi yang diakibatkan oleh
pertambahan kemiringan lereng.

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH GOSOL(Garup L.G. )

95

Tabel 13.
Pengaruh Kemiringan Lereng Terhadap Erosi
Kemiringan
Erosi
Faktor Tingkat
2
Lereng
(gr/m )
Pertambahan
2,50

8.49

1.00

15.51

1.83

10,00

46.74

5.51

15,00

5,0

97.24

11.45

20,0

169.48

19.96

25,0

269.96

31.80

30,00

403.40

47.51

Gambar 3.
Hubungan Kemiringan Lereng Dengan Erosi
(pada intensitas hujan 30 mm/jam)
Faktor panjang dan kemiringan lereng
merupakan penyumbang laju kehilangan
tanah, dengan bertambahnya panjangkemiringan lereng, maka bertambah pula
besar erosi yang terjadi. Berikut ini
disajikan Tabel 14 dan Gambar 4 hasil
hitungan faktor kemiringan lereng terhadap
hasil erosi terukur.

96

Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 13 No. 2 Agustus 2008: 86-98

Lereng
(%)
4.37
8.75
17.63
26.79
36.40
46.63
57.74

Tabel 14.
Nilai Faktor Kemiringan Lereng
Faktor Kemiringan Lereng (Sr)
I30
I40
I50
I60
0.38
0.38
0.40
0.35
0.93
0.94
0.97
0.85
2.76
2.80
2.88
2.67
5.67
5.75
5.90
5.38
9.78
9.90
10.17
9.02
15.39
15.55
15.95
13.86
22.80
22.62
23.53
19.72

Sr rata-rata
0.38
0.92
2.78
5.68
9.72
15.19
22.17

Gambar 4.
Hubungan Kemiringan Lereng Dengan Nilai Faktor Kemiringan Lereng(Sr)
(untuk kemiringan lereng minimal 4,37% atau 2,50)
Dari hasil perhitungan didapat nilai factor
kemiringan lereng (Sr) dengan persamaan
Sr = 0.0055 S2 + 0.0686 S 0.0803 dengan
R2 = 0.99. Sr adalah faktor kemiringan
lereng dan S adalah kemiringan lereng.
SIMPULAN
Penyelesaian dan pembahasan penelitian ini
lebih banyak menggunakan Persamaan
Umum Kehilangan Tanah (PUKT) atau
USLE. Hal ini untuk mencari pengaruh

intensitas hujan dan kemiringan lereng


terhadap erosi yang terjadi.
Pada uji intensitas hujan I30 mm/jam
didapat 30.13 mm/jam, I40 didapat
40.08mm/jam, I50 didapat 49.66 mm/jam,
dan I60 didapat 59.91 mm/jam. Intensitas
hujan meningkat dari I30 sampai dengan I60
pada kemiringan lereng 2,50 atau 4,37%,
didapat kenaikan jumlah erosi 1.73 kali
kondisi awal.

KAJIAN PENGARUH INTENSITAS HUJAN PADA JENIS TANAH GOSOL(Garup L.G. )

97

Kemiringan lereng meningkat dari 2,50


dampai dengan 300 pada I30, maka jumlah
erosi meningkat 47.51 kali kondisi awal.
Pada penelitian ini juga didapat hubungan
antara kemiringan lereng dan factor
lerengnya (Sr) dengan persamaan Sr =
0.0055 S2 + 0.0686 S 0.0803 (berlaku
untuk intensitas hujan sampai dengan 60
mm/jam dan kemiringan lereng sampai
dengan 300 atau 57,74%.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada Universitas Gajah
Mada Yogyakarta khususnya kepala
laboratorium hidrolika, sivitas akademika
Program Magister Teknik Sipil, Universitas
Diponegoro Semarang yang telah banyak
membantu dan memberikan arahan
sehingga penelitian ini dapat berjalan sesuai
rencana.

98

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,

1998. Introduction Manual


Rainfall Simulator. England: .
Armfield Ltd, Hampshire.
Brady, N, dan Buckman H, 1982. Ilmu
Tanah. Jakarta: Bhatara Karya
Aksara.
Morgan R,P,C, (1985), Soil Erosion and
Consevation, Longman Scientific
& Teknical, London.
Rahim, S, 2000. Pengendalian Erosi Tanah
dalam
rangka
Pelestarian
Lingkungan Hidup. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Sutedjo, M dan Kartasapoetra, A,G, 1991,
Teknologi Konsevasi Tanah dan
Air, PT, Bina Aksara, Jakarta.
Suripin, 2001. Pelestarian Sumber Daya
Tanah dan Air. Yogyakarta: Andi.
Wudianto, R, 2000. Mencegaj Erosi.
Jakarta: Penebar swadaya.

Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 13 No. 2 Agustus 2008: 86-98