Anda di halaman 1dari 10

4

TERLANJUR TERLEPAS

Nuri sengaja tidak pamit. Ia tidak peduli pandangan orang. Biarlah orang menilai
bermacam-macam. Yang penting sore itu ia bisa bertemu Naya. Dibelokkan moncong
mobilnya memasuki jalan kecil menuju rumah Naya. Sebentar-bentar mobilnya goyang
menghindari lubang jalan yang terkelupas aspalnya. Dengan cekatan Nuri membanting stir,
kemudian menghentikan mobil di tepi kiri, agar truk dari depan bisa lewat.
Sopir truk tersenyum, sambil membunyikan klakson, sebagai ucapan terimakasih.
Nuri pun tersenyum, kemudian membalas juga dengan bunyi klakson. Begitu truk lewat
mobil Nuri berjalan perlahan. Namun, baru beberapa meter, tampak truk bemuatan kasur
ada di depannya. Matur nuwun Mbak Nuri! seru sopir saat melewati Nuri.
Sama-sama, Paklik. Balas Nuri sambil matanya mengamati depan takut ada truk
lagi. Jika jalan sudah dilebarkan kiri-kanan minimal setengah meter, baru aman untuk
simpangan mobil. Tapi masalahnya pelebaran itulah yang bikin ruwet. Sebagian besar
rumah penduduk sudah mepet dengan jalan. Tentu saja mereka tidak mau kalau rumah
mereka dibongkar. Terpaksa setiap kali ada mobil simpangan salah satunya harus berhenti
di tepi.
Semua orang ingin punya jalan yang lebar dan bagus. Tapi aneh, mereka sendiri
kalau membangun rumah terlalu mepet jalan, tanpa halaman. Jika ada tanah sisa diminta
sedikit saja untuk jalan, langsung protes. Malahan tidak sedikit yang angsung bawa parang.
Tak mau kompromi, merasa tanah itu adalah milik pribadinya. Tetapi jika tanah orang yang
terena, mereka berkomentar, Tanah untuk jalan saja tak boleh. Orang kok tak mau amal.
Tanah tak dibawah mati, kok pelit! Akhirnya jalan lebar hanya keinginan saja. Semua
orang tidak mau berkorban, anehnya orang lain diharuskan berkorban. Kapan manjunya,
kalau semua orang hanya menuntut dan menggantungkan orang lain?
Ini memang gara-gara perkembangan ekonomi yang terlalu melonjak cepat. Dulu
masyarakat hanya mengandalkan hidup dari bertani. Jalan yang semestinya dilewati sapi
dan kerbau, menjadi jalan truk, mobil pribadi dan sepeda motor. Sejak usaha kasur
mendatangkan keuntungan berlipat-lipat, semua orang mulai beralih kebidang perkasuran.
27

Dalam waktu beberapa tahun kemudian muncul pengusaha kapuk tiap desa. Sebagian orang
yang semula ngotot bertani sebagai sumber kehidupan, melihat peluang bisnis kasur yang
menjanjikan segera alih profesi. Sedangkan bertani dijadikan sekadar selingan pengisi
waktu senggang.
Memang tidak semua langsung ikut jadi pengusaha. Mula-mula mereka hanya jadi
buruh pengurai kapuk, tukang angkat, tukang jahit dan pembuatan kasur. Lama-lama
kepandaian mereka bertabah. Ketrampilan dan modal tersedia. Maka mereka ikut-ikutan
berdagang randu dan jualan kasur antar desa. Bahkan sebagian merambah hingga keluar
Jawa. Berawal dari usaha itu sebagian dari mereka jadi pengusaha.
Uang ternyata mampu mengubah pola hidup mereka. Ada-ada saja kesibukan yang
mereka kerjakan. Dampaknya, tingkat pendapatan meningkat secara fantastis. Sayang
munculnya orang kaya baru ini seperti belum siap mental. Pola hidupnya ikut terpengaruh,
dengan kehidupan konsumerisme, ingin pamer, boros untk membangun prestise. Akibat
poola hidup yang demikian tanpa disadari, melahirkan anak-anak yang cenderung malas.
Hampir anak muda tidak mau sekolah, karena tanpa sekolah mereka mampu menghasilkan
uang. Sekolah dianggap membuang waktu sia-sia. Minuman, judi di tempat karaoke
dijadikan hiburan penghilang lelah.
Melihat penomena yang terbentang di desanya itu, tiba-tiba muncul pemikiran
untuk ditulis. Menarik juga sebagai bahan penelitian karya ilmiah, ujar Nuri, lega
mendapat ide yangberlian, tidak perlu jauh-jauh penelitiannya.
Mata Nuri hampir tidak seratus persen terpusat pada jalan. Sebentar-bentar Nuri
dibuat kagum. Beberapa rumah yang dulunya dari bamboo, kini telah berubah menjadi
rumah tembok bertingkat. Nuri menggelengkan kepala heran, betapa cepatnya perubahan.
Baru tiga tahun perubahannya drastis sekali. Nuri jadi ragu sendiri akan jalan yang dilewati
benar-benar jalan yang dulu atau bukan.
Nuri baru yakin tidak salah jalan, ketika sampai di penghujung desa. Saat matanya
membentur rumah sederhana berhalaman luas dan teduh asri. Beberapa pohon pisang dan
buah alpukat berjejar sebagai pagar pembatas dengan sawah. Melati, mawar tumbuh di
tanah penuh bunga putih dan merah. Beberapa pot bunga berjajar di depan pintu.
Mobil Nuri sudah dimatikan. Nuri sengaja tidak turun. Matanya seakan kurang
puas melepas kangen pada suasana itu. Sudah tiga tahun ia tidak berkunjung ke rumah
Naya. Pohon alpukat yang dulu kecil kini berbuah lebat mengkilat kecoklatan. Beberapa
tandan buah pisang menguning membungkuk ke tanah, yang sengaja dipelihara.
28

Seandainya aku dulu tidak terlalu lancang, tentu aku dapat bebas berteriak
memanggil Naya, memanjat buah alpukat. Sesalnya dalam hati, setiap kali mengingat
umpatannya pada Naya.
Setelah agak lama, akhirnya Nuri membuka pintu mobil. Terlihat pintu rumah
terbuka. Seorang perempuan setengah baya dengan mengenakan kebaya tersenyum ramah
menyambut kedatanganya.
Nuri membalas senyuman dengan anggukan ramah. Nuwun...., Bulik! sambil
matanya mencuri mengamati rumah. Bukan main. Decaknya dalam hati. Rumah joglo
itu telah ditata rapi. Dinding bambu diganti kayu dan sudah berlantai bata.
Monggo-monggo, Mbak Nuri. Sahut Bu Hanna hangat sambil menggenggam
tangan Nuri. Pantesan, sejak siang burung prenjak di pohon alpukat ramai sekali. Tidak
menyangka Mbak Nuri datang.
Ah, Bulik bisa saja!
Diutus Ibu, atau kebetulan lewat, Mbak?
Sengaja kemari Bulik, tidak disuruh Ibu. Jawab Nuri setengah kagok. Nayanya
ada, Bulik?
Nah, itu yang saya juga tidak tahu, Mbak. Tadi pagi pamitnya ada acara, apa itu
namanya, saya lupa. Makanya saya sendiri tadi yang mengambil kapuk, ke gudang. Lha,
mau nunggu, yang di tunggu tak jelas. Jelasnya. Sebentar Mbak Nuri...! katanya
kemudian masuk ke dalam.
Nuri hendak mencegah, tetapi Bu Hanna keburu masuk. Nuri tahu Bu Hanna akan
membuat minuman untuk dirinya. Wanita itu terlalu cantik, Pikir Nuri melamun seorang
diri. Tinggi semampai. Kulitnya kuning bersih, rambut digelung. Memikirkan perempuan
berkain kebaya itu mengingatkan Nuri kepada istri para priyayi yang dilihat dalam
kethoprak. Cantik dan anggun dan sederhana.
Nuri merogoh sakunya. Hand phaond berbunyi. Ibu! gerutunya. Hollo!
Eh, kamu kemana saja Sih. Masak Naik mobil kayak kesetanan begitu. Kamu itu
perempuan, Ndu? Mbok yang halus. Ibu itu kalau melihat kamu seperti itu, dada
ibusepertimau copot. Mbok jaga sedikit perasaan ibu,biar tidakselalu mengkhawatirkan
kamu! omel suara dari sebrang.
Iya, Bu.
Dimana kamu?
Di rumah Bu Hanna.
29

Oh,ngapai kamu di rumah Bu Hanna?


Udahlah Bu,Nantiaja certanya, Ok?
Iya, sudah. Hati-hati!
Makasih Bu. Ucapnya jarinya telah menutu HP.
Nuri jadi teringat lagi, akan Naya. Seandaainya lelaki itu memliki Hand phaond
mungkin tak begini sulitnya. Entah apa yang dipikirkan, lelaki itu, anti dengn Hand phaond.
Padahal tukan sayur, penjual es, mbakso sampai buruh matun sudah ber- Hand phaond,
dalam bertransaski. Tapi Naya sama sekali taktertarik dengan Hand phaond.
Apa karena tak punya uang untuk membeli, lalu Naya mengekspresikannya
dengan anti Hand phaond. Pikir Nuri membolak-balikkan pikirannya sendiri. Anehnya
Naya sangat menguasi semua program kopiuter. Meski ia tak memlikinya. Mengingat
semuai itu Nuri semakin mengakui, Naya memlikikecerdasanyangsangat ekstrim. Super
pandai. Seandainya Naya tidak harus berpaya-payah membantu orang tuanya mencari
nafkah, mungkin naya bisa mengantongi mendali olempiade internasional dalam semua
mata pelajaran. Sayang setiap kali ditawari untuk ikut team olempiade, alasannya sealu
tidak ada waktu. Ternyata Naya tidak ngin ibunya sendirin membuat kasur.
Naya dilaahirkandari keluarga berada, sekaligur keluarga terhormat. Menurut kabar
yang pernah didengar dan cerita ibunya, Bu Hanna menjadi bunga desa dan primadona di
SMA. Mungkin itu penyebab utama, Bu Hanna kawin muda, hingga tak lulus SMA.
Menurut beberapa orang, tidak sedikit pemuda yang ingin melamar Bu Hannna. Mereka
mundur secara teratur setelah tahu Bu Hanna sudah bertunangan dengan Sucipto anak
kepala desa yang terpandang. Hari pesta perkawinan keduanya sangat ditunggu-tnggu
orang kampung, seperti layaknya masyakat dunia menantikan peta perkawinan Pangeran
William dan Kate.
Pasangan tampan dan cantik itu akhirnya menikah. Sedangkan rumah telah tersedia
tinggal menatat sesuai dengan selera. Cipto tanpan dan perkasa rajin bekerja dan jujur
membuat ekonomi keluarga semakin bertambah sejahtera. Sayangnya saat itu anak sebagai
pengikat dan bukti cinta belum juga kuncung datang. Naya baru lahir tuju tahun setelah
pernikahan. Tidak sedikit masyarakatyang menjadian Cipto sebagai pengeran penganti
otangtuanya jika pensiun. Karena itu hampir tidak pernah mengenal lelah keduanya
mengumulkan modal untuk mencalonkan sebagai kepala desa.
Saat Mbah Sujarwo, orang tua Pak Cipto pensiun. Cipto belum bersedia maju
sebagai calon. Ia merasa belum siap. Terpaksa masyarakat memlih calon lain. Namun,
30

kepala desa yang baru tidak mampu memuaskan pikiran mereka. Maka masyarakat masih
berharap memiliki kepala desa baik hati seperti Mbah Jarwo. Setelah berlalu delapan
tahun, masa bakti kepala desa penganti Mbah Jarwo selesai, mereka mendesak Pak Cipto
ikut maju menjadi calon kepala desa. Karena desakkan datang dari berbagai kalangan,
meski Pak Cipto merasa sudah puas dengan apa yang dicapainya, terpaksa maju. Beberapa
modal yang dimiliki direlakan untuk biaya persiapan pilkades. Untuk memenangkan
persaingan suara, biaya jadi membengkak. Pak Cipto terpaksa utang pada rentenir.
Sayang, masyarakat yang selama ini datang membujuknya, ternyata banyak yang
ingkar janji. Mereka hanya ingin mendapatkan uang. Semakin banyak calon kepala desa
yang ikut maju bersaing, berarti uang yang diperoleh banyak didapat. Akhinya Pak Cipto
kalah. Meski hanya terpaut sepuluh suara dari pihak pemenang.
Pak Cipto menerima dengan lapang dada. Selesai pencalonan rumah dan sawah
warisan dijual untuk menutup utang pada rentenir. Penjualan rumah dan sawah warisan
cukup untuk menutup utang kepada para rentenir. Namun Pak Cipto masih bingung. Modal
habis, sementara Naya mulai beranjak besar. Atas persetujuan Bu Hanna dan Mbah
Sujarwo, Pak Cipto nekat merantau ke luar negeri. Sementara Bu Hanna dan Naya ikut
mengungsi di rumah Mbah Sujarwo.
Dua tahun Pak Cipto di luar negeri, tidak mengenal istirahat. Kebetulan ia mendapat
bos yang baik hati dan dermawan. Selama itu pula tidak sedikit hasil yang diperoleh Pak
Cipto. Selain dapat membiayai anak istri, ketika pulang mampu membeli tegalan di pinggir
desa yang kini menjadi didirikan rumah sederhana itu.
Sejak itulah Pak Cipto bekerja pada keluarga Nuri. Kelincahan Pak Cip memasarkan kasur di berbagai daerah, membuat usaha Pak Hartoyo, ayah Nuri mengalami kemajuan
yang pesat. Pak Cipto sendiri mampu membeli sawah, meski tidak seluas sawah warisan
yang pernah dijualnya dan memperbaiki rumah.
Seandainya Tuhan memberikan umur panjang, mungkin Pak Cipto sekarang sudah
kaya. Sebab tidak sedikit orang yang dulunya sebagai pedagang kasur menjadi pengusaha.
Nuri menghentikan lamunan, ketika Bu Hanna keluar membawa baki berisi dua minuman
dan makanan kecil.
Yaah, Bulik! Seperti tamu agung saja! tergurnya meliht Bu Hanna membawa
napan, minuman dan makanan kecil.

31

Enggak, apa-apa Mbak Nuri. Kebelulan saya tadi mencabut ketela di belakang
rumah. E... tenyata gembur setelah direbus Mbak. Sambungnya dengan tersenyum. Tak
apa-apa to, Mbak Nuri makan ketela. Biar sekali-kali mencicipi ketela?
Weeelah. Kayak siapa saya ini, Buliiikkk?

Apa memang ketelanya hanya ini,

takut saya habiskan, Bulik? balas Nuri, menghilangkan ketegangan. Kebetulan saya
sudah lama ingin makan ketela rebus, sekarang disuguhi. Ini namanya pucuk dicinta ulam
tiba sambng Nuri diplomatis.
Bu Hanna tertawa mendengar gurauan Nuri. Mbak Nuri ini bisa saja. Jangan
khawatir Mbak, di belakang rumah masih banyak, kok.
Nuri langsung mengambil. Saat menggigit, dari pintu terdengar salam. Keduanya
menoleh ketika Naya masuk. Setelah menyalami ibunya, Naya mengulurkan tangan
menyalami Nuri. Nah, Asyar dulu, nanti temui Mbak Nuri! Kasihan sudah lama
menunggu. Tegur Bu Hanna.
Sudah sholat, kok, Bu, di masjid seberang tadi. Kebetulan motor Sanita bocor.
Jadi terpaksa nemani mencari tukang tambal. Sambung Naya sambil mengambil ketela.
Sebentar Mbak, saya ganti baju sudah tengik baunya, nih! Naya menggeloyor masuk.
Lho, kok, Mbak Nuri tidak ikut kegiatan seperti Naya?
Anu, Bulik, saya ada kegiatan lain. Saya mau ikut seorang diri. Tapi sampai saat
ini belum ada ide yang mau saya tulis!
Memang tidak semua siswa ikut?
Enggak Bulik. Yang ikut baru kelompok Naya.
Oh, pantas, kok, Naya seperti ambisi banget.
Weh...weh... Ibu jangan buka rahasilah! potong Naya begitu kembali dari dalam.
Nah, temani Mbak Nuri, Ibu mau menyelesaiakan kasur!
Kan, ibu sudah dapat tiga kasur. Nanti saya mana Bu, kalau ibu yang borong
semua!
Ehh, kamu boleh ambil upahnya. Ini bonus untukmu. Temani dulu Mbak Nuri!
sambung Bu Hanna masuk ke dalam.
Kok tumben, datang kemari. Ada yang penting, Mbak? tanya Naya formal.
Ngganggu, ya, kedatanganku!
Enggak, tuh. Lagi pula saya juga baru datang! Ada apa Mbak?
Itu, untuk besok. Kalau nilaiku dan nilai Sanita sama, aku ingin kamu memilihku!
tegas Nuri.
32

Lho, mana bisa begitu, Mbak? Kan belum final. Masih ada nilai tari dan
menyanyi.
Makanya, kalau nilai itu juga sama, kata Pak Setyo, kan kamu yang memutuskan.
Pokoknya kalau nilainya sama nanti, aku tidak terima kalau kamu milih Sanita. Titik!
Sudah, aku hanya perlu ngomong itu aja, kok! Nuri berdiri kemudian melangkah masuk ke
rumah belakang untuk berpamitan dengan Bu Hanna.
Bu Hanna minta maaf terlanjur berlepotan dengan kapuk. Nuri tersenyum kemudian
melangkah keluar. Di halaman Naya menunggu. Mau alpukat Mbak Nuri? Kalau mau
tak panjatkan. Manis, lho, Mbak alpukatnya?
Sebenarnya Nuri ingin sekali. Tetapi gengsinya lebih tinggi. Makasih, aku hanya
butuh itu saja! Nuri langsung masuk mobil meninggalkan Naya yang masih bingung.
Naya tersenyum kecut, melihat ulah Nuri. Ia yakin, Nuri mencintainya. Nasib saja
yang mengatakan lain. Namun, Naya tidak mau berandai-andai dengan masa lalu. Sebab
hidup ini berjuang untuk masa nanti.

Biarlah masa lalu orang tuanya, sebagai cermin.

Kesalahan orang tuanya akan dijadikan pijakan perjuangan di masa depan.


Di tengah perjalanan Nuri masih keki. Naya akan memilih Sanita sebagai
pendamping dalam Duta Wisata nanti. Naya sudah terbelenggu cinta pada Sanita. Kalau
aku bisa nyantet, cewek itu sudah kusantet pikirnya. Pokoknya aku harus menang.
Sampai di rumah Nuri tidak mau menyerah begitu saja. Iyu Sriyati yang tinggal di
samping rumahnya, disandera. Sriyati perempuan umur empat puhan tahun itu mantan rol
ayon-ayoan (pemain ketoprak) sejak anaknya masuk SMP

tidak main ketoprak

lagi,lantaran anaknya sering diolok-olok kawanyan di sekolah. Sejak itu Sriyati banting setir
ikut membuat kasur daripada nganggur.
Iyu, pokoknya Yu Sri, malam ini tidak boleh membuat kasur. Dua hari lagi aku
ujian menari. Karena itu Yu Sri harus mengajari aku menari lagi! Nanti kuganti upahnya
sama dengan upah Yu Sri membuat kasur. Desaknya tanpa basa-basi, sehingga yang diajak
bicara gelagepan tak tahu ujung pangkalnya.
Ya, Allah. Mau gitu saja, kok, buat aku deg-degan, to! Ngomong sejak tadi, kan
tidak membuatku was-was! Kukira ada apa-apa. Bocah, kok, senangnya buat orang
panik! protes Sri mantan ayon-ayon ketoprak itu tersenyum lega.
Habis kalau tidak gitu, Yu Sri mesti banyak alasan! Balas Nurisambil tersenyum
menang bisa memaksa mantan ledek ketoprak yangmasih kelihatan cantik itu.

33

Iyu Sri terseyum. Membuat Nuri semakin iri dengan kecantikannya. Memang
antara Yu Sri dan Bulik Hanna, cantikan Bulik Hanna. Cantingknya Bulik Hanna alami dan
tanpak wajah kepriyayiannya. Iya, tapi aku bisanya hanya membawakan tari serimpi saja.
Kalau tari modern seperti sekarang enggak bisa. Lho?
Justru itu yang akan dilombakaan, Yu!
Mendengar perdebatan itu Bu Nasri mendekat Kamu itu mau jadi apa. to, Nur. Ya
nari, ya mau menulis. Semua diingini. Mau jadi dokterlah, jadi pengusaha. Eeeeh....
sekarang mau jadi penari. Keinginan itu mbok iya satu saja yang pasti. Semakin banyak
keinginan, itu membuat hidup ini serba sulit. Tegur Bu Nasri.
Mungkin gara-gara terlalu banyak keinginan itu, kamu sudah mulai linglung. Sore
tadi mondar-mandir di gudang kapuk seperti orang tidak waras. Habis itu pergi membawa
mobil tanpa pamit. Sekarang menyandera Sriyati. Embuh.....embuh...! Aku kok malah ikut
bingung melihat ulahmu, Nur! Bu Nasri kemudian pergi meninggalkan Nuri.
Sebentar kemudian, Bu Nasri mendengar gamelan. Karena penasaran, Bu Nasri
kembali melihat Nuri. Ternyata saat dijenguk, Iyu Sri dan anaknya sudah konsentrasi
pada gerakan tari. Sebentar-bentar Sriyati menegur membetulkan gerakan Nuri..
Meski hanya dua malam berlatih menari, Nuri semakin percaya diri. Penampilannya
dalam membawakan tari serimpi, membuat Sanita tebelalak kaget. Sanita benar-benar tidak
menyangka Nuri begitu luwes menari serimpi. Padahal kesempatan satu-satunya untuk
mengalahkan Nuri hanya pada tarian. Ya, sudah, kalau aku kalah. Semoga penelitianku
bersama Naya dan Renasuci, berhasil! hiburnya dalam hati.
Ketika Pak Setyo mempersilahkan dirinya menunjukkan kebolehan menari serimpi,
Sanita enggan. Toh, akhirnya Nuri yang terpilih Heh,... masak calon Putri Duta Wisata
begitu! tegur Pak Setyo. Ayo maju. Kamu sepertinya takut sekali dengan Nuri?
Sanita maju dengan setengah hati. Meskipun begitu saat alunan musik terdengar,
refleknya bergerak. Sanita menari dengan perasaan tenang terbawa alunan gemalan. Hal
itu membuat para juri bingung memberi nilai. Kedua-duanya sama-sama bagus.
Naya yang harus mementukan pilihan jika nilai kedua cewek itu sama. Untuk
memilih Nuri, ia khawatir dirinya kurang bebas. Sedangkan untuk memilih Sanita, Nuri
pasti akan melaksanakan ancamannya.
Ah, biarlah apa yang terjadi,terjadilah. Jika aku terpaksa memilih, hanya Sanita
yang tahu akan diriku. Senadianya nanti aku dan ibu dikeluarkan dari pabriknya, akan
kamiterima. Toh, pekerjaan membuat kasur bukan hanya pada orang tua Nuri saja.
34

Beberapa bos kasur lain banyak yang memintanya menjadi pekerja. Tetapi hubungan
keluarga dengan Bu Nasri yang selama ini berjalan seperti saudara tidak boleh putus garagara hal sepele. Mengingat itu balik lagi pikiran nanya penuh was-was. Matanya kembali
memperhatikan ruangan. Pak Setya memanggil Sanita kembali, untuk melantungkan
gending ( lagu) Jawa.
Setelah istirahat sejenak, Sanita maju untuk melantunkan tembang mocopat
Dhandang Gulo. Suaranya tinggi mengalun meliuk-liuk menggema, kemudian menurun
rendah, mengalahkan suara sinden profesional. Naya berharap, Sanita bisa mengalahkan
Nuri, tanpa harus dirinya yang memilih. Maka ketika Nuri kedepan, doa Naya agar nuri tak
mampu menembang. Teti harapan itu pudar. Nuri ternyata sangat mahir menembang, meski
suaranya, tidak merdu dan seindah tembang yang dibawakan Sanita.
Guru-guru yang menjadi juri, lega. Akhirnya mereka bisa menentukan pilihan
sebagai wakil sekolah secara tepat. Keputusan itu diterima Nuri dengan gentle. Ia segera
menyalami Sanita. Kamu hebat! ucapnya menggenggam tangan Sanita penuh kehangatan. Meski aku sudah mati-matian berlatih, aku tak bisa mengunggulimu. Aku salut
padamu, San! Pesanku, berjuanglah sampai titik darah penghabisan. Bawa nama sekolah
kita, sampai ke Jakarta.
Trims, Nur. Kamu juga tidak kalah hebat. Aku hampir putus asa tadi. Ternyata
tarianmu begitu memikat! balas Sanita memeluk Nuri.
Setelah itu, Nuri kembali ke kelas. Rasa sesal tidak lagi bersemayam di dadanya.
Biarlah semua lepas, sebab terlanjur kulepas. Naya. Dan kesempatan Duta Wisata. Tetapi
untuk karya tulis, akan kugenggam dengan kuat agar tidak lepas.
.

35

36