Anda di halaman 1dari 9

13

DAUN-DAUN KERING
Hari pertama tahun ajaran baru, biasanya dijadikan hari mejeng para siswa. Cewekcewek rata-rata berpenampilan semodis mungkin. Pokoknya mereka berlomba untuk tampil
beda. Ada yang potong rambut. Ada yang memamerkan asesoris antik, model mutakhir.
Ada pula yang ganti penampilan dengan mengenakan jilbab. Pokoknya macam-macam
gaya mereka.
Sementara para cowok unjuk rambut panjang. Biasanya mereka wajib potong bros
alias cekak, model satpam. Mumpung ada kesempatan mereka sengaja tidak memotong
rambut, menunggu teguran. Warna rambut banyak yang terkena model cat pewarna. Merah
seperti rambut jagung. Begitu juga motor, mereka tak kalah dalam memodifikasi agar lebih
maco.
Lain lagi dengan Nuri. Selama liburan panjang, Nuri tinggal di Jakarta bersama
tantenya. Ia baru pulang dari Jakarta malam hari menjelang masuk sekolah. Begitu juga
Sanita, bersama keluarga, ikut resepsi pernikahan kakak sepupu di Bali. Ketika ayah dan
ibunya pulang, Sanita ditinggal. Karena itu pada hari pertama masuk Sanita bagi oleh-oleh
souvenir dari Bali di kelasnya. Sementara Nuri di kelasnya juga melakukan hal yang sama.
Berbeda dengan Nuri dan Sanita. Rena cukup bahagia meski tidak berlibur keluar
kota. Aji Yudo hampir dua malam sekali menyambangi dirinya. Saking asyiknya dengan
Yudo, Rena tak mengacuhkan kabar Naya. Agar Aji Yudo tidak cemburu dalam hati
kecilnya potongan-potongan cinta kadang menyatu merindukan Naya bersamanya seperti
dulu lagi.
Selesai kerja bakti membersihkan kelas, Nuri sengaja karya wisata ke kelas Sanita.
Ia ingin mengajak cewek itu ke rumah Naya. Sayang Sanita sudah kabur dari kelas. Nuri
langsung balik haluan menuju kantin sekolah. Biasanya Sanita paling senang makan soto
ayam. Tak salah dugaan Nuri. Di kantin, Sanita serius menghadapi mangkuk soto.
E..kamu, pagi-pagi udah membaca soto! Baca buku, dong, biar nanti kalau dipilih
menjadi duta wisata menang. Bukan seperti tahun kemarin sekali maju propinsi langsung
KO. Juara harapan. Padahal yang namanya juara, ya, nomor satu. Semprot Nuri.
96

Sanita tersenyum, Gabung, yuk! Aku tak sempat sarapan. Semalam baru datang!
sambutnya gembira. Tak menggubris omelan Nari.
Nuri membanting pantat di samping Sanita. Tangannya merebut kerupuk di tangan
Sanita. Eh, kamu sukanya ngerebut. Ambil tuh, masih satu gambreng!
Enakan ngerebut! langsung menggigit kerupak. Sambil mengunyah mulutnya
terbuka kembali. San, sudah ketemu sama Naya?
Belum, tuh..? jawabnya dengan mulut penuh soto. Kamu sudah?
Belum. Ke mana, sih, anak itu? Sejak tadi tak nongol. Pulang sekolah kita ke sana,
yuk? desaknya sudah terlalu kangen.
Wee, tahunya begini aku tak bawa motor, katanya. Kebetulan dirinya juga
membelikan oleh-oleh istimewa khusus buat Naya.
Nuri dan Sanita yag sejak liburan di luar kota, sama sekali tidak mengetahui kabar
kepindahan Naya. Apalagi selama liburan keduanya tidak sempat membuka facebook,
sehinga kabar apapun tidak diketahui, termasuk kepindahan Naya yang

baru hangat

dibicarakan, tidak diketahuinya.


Memang Rena, Sanita dan Nuri, pernah mengetahui keinginan Naya pindah
sekolah. Maka ketika mendengar kabar kepindahan Naya, Nuri dan Sanita menganggap
bukan berita baru.
Waktu kesehatan Naya belum pulih, ia memang pernah mengatakan kepada mereka
untuk pindah sekolah. Naya mengaku belum berani bersepeda, kerena masih trauma.
Sementara untuk naik angkutan biayanya terlalu memberatkan orang tua. Agar tetap
sekolah, ia ingin pindah ke MA di desanya saja. Selain dekat biayanya jauh lebih murah.
Keinginan Naya waktu itu sempat membuat Nuri, Sanita dan Rena repot. Secara
diam-diam ketiga cewek itu mengadakan munas rahasia untuk mencegah agar Naya tidak
pindah sekolah. Munas rahasia itu menghasilkan tiga kesepakatan. Satu, mereka sepakat
mengurangi uang saku untuk membayar uang sekolah Naya, jika alasan pindah itu garagara biaya. Dua, mereka sepakat untuk memberi motivasi, jika Naya merasa belum pulih
kesehatannya. Ketiga, mereka sepakat tidak lagi memperebutkan cinta Naya.
Waktu di Jakarta Nuri diberitahu ibunya, bila Bu Hanna sudah membayar utang
pada ibunya. Menurut ibunya, Bu Hanna mendapat uang ganti rugi dari orang yang punya
truk. Berarti biaya tidak lagi menjadi masalah buat Naya. Kata Nuri pada Sanita.

97

Kalau begitu, batal, dong, kesepakatan pertama? kata Sanita masih ingat hasil
munasnya.
Nuri mengangguk. Mungkin bukan hanya yang pertama saja, yang batal. Keputusan dua juga tidak terpakai. Sebab Naya sudah naik sepeda saat berangkat sekolah tadi.
Sekarang yang masih berlaku tinggal yang ketiga. Kalian setuju ? Tegas Nuri, ditanggapi
dengan anggukan Sanita
Meskipun akhinya Nuri dan Sanita mendapat pertanyaan dari kawan-kawannya,
Sanita dan Nuri selalu menjawab Itu hanya gosip!
Kepindahan Naya tersebar. Setelah Devi Astuti, ketua OSIS, sedang di kantor
wakasek kesiswaan untuk laporan MOS. Secara kebetulan ia melihat rapor dan surat
pengantar kepindahan Naya. Untuk meyakinkan apa yang dilihat Dewi menanyalan
langung pada Pak Setyo.
Naya jadi pindah ke MA, Pak? tebak Devi pada Pak Setyo.
Itu dulu, karena merasa keberatan sekolah di sini. Tetapi pihak sekolah memberi
keringanan, sehingga Naya tidak jadi pindah. Tetapi saat ini sekolah terpaksa merelakan
Naya pindah. Setelah dipertimbangkan, kepindahan Naya ke sekolah yang lebih baik dari
sekolah kita.
Wuah, tambah hebat tuh, Pak?
Kebetulan ibu Naya menikah dengan seorang pengusaha. Orangnya baik dan
sayang pada Naya.
Kapan Naya meninggalkan sekolah ini, Pak?
Iya, kemarin. Tadi yang mengurus ke mari Pak Ir. Setto, ayah tirinya! Sekarang
Naya sudah di Semarang. Jelas pak Setyo. Kenapa, pacarmu, Dev?
Tidak, Pak. Terlanjur saya pasang untuk mengisi acara dalam MOS nanti!
Oh... gumam Pak Setyo dengan tersenyum
Devi segara kembali ke kantor OSIS. Dihapusnya nama Naya dari jadwal MOS.
Naya sedianya memberikan materi tentang pengalaman sebagai siswa teladan dan duta
wisata. Karena itu Naya diganti Sanita dan Nuri.
Saat Nuri sedang asyik berencana ke rumah Naya. Devi datang mendekat. Cari
cewek penting ternyata tidak gampang. Di kelas Nuri tak ada. Cari di kelas Sanita juga
tidak ada. Tahunya nangkrong di sini. Maaf, kusela sebentar pembicaraannya, iya? kata
Devi yang cerewet tetapi baik hati itu nimbrung di dekat mereka.

98

Penting banget kayaknya. Kok, ketua OSIS cari kami?


Sangat! Tidak sekedar penting!
Memang ada apa?
Ini kalian baca dulu! perintah Devi menyerahkan panduan MOS, pada Sanita dan
Nuri. Sementara tangan Devi meraih mengangkat botol Sprite milik Nuri. Aku habiskan
Iya, Nur!
E... kok kami dipasang. Yang paling cocok memberikan materi ini, kan, Naya?
kata Nuri tak mau.
Memangnya Naya, kenapa? Dia kan sudah sehat?
E..., Non. Semestinya, kan, nona-nona yang mengabari aku sejak kemarin-kemarin
kalau Naya pindah!
Dev. Itu hanya isu. Dan itu sudah ketinggalan. Basi. Tahu enggak?
Wuah, kalau begitu, kalian yang kurang info, nih! Barusan aku menghadap Pak Setyo,
kulihat rapor dan surat pengantar kepindahan Naya. Kata Pak Setyo Naya pindah ke
Semarang. Ikut bapak tirinya! Devi tidak peduli kedua lawan bicaranya tercengang.
Enak nasib Naya sekarang. Kata Pak Setyo ayah tirinya seorang pengusaha besar,
baik hati lagi. Makanya Non, kalian harus menggantikan, Naya. Sebab acaranya tinggal
besok pagi.
Nuri terdiam membisu. Pikirannya bercampur aduk menjadi satu. Marah, menyesal,
sakit hati dan kangen pada Naya. Begitu juga Sanita. Sekarang Naya ada di kantor
Wakasek?
Naya sudah di Semarang, Non? Yang menguru ayah dan sopirnya saja! Jadi kalian
siap mengisi materi besok pagi? ulang Devi tidak mampu menangkap perasaan kedua
sahabatnya.
Apa urusanku dengan materi itu?
Sama, aku juga tidak sanggup!
Lho kalau begitu, kalian harus menghadap Pak Setyo. Semua ini atas
perintahnya.
Peduli amat! Kalau aku mau dikeluarkan, kebetulan. Aku juga sudah tak kerasan
sekolah di sini. Bantah keduanya langsung angkat kaki.
Devi terbengong. Ia heran melihat kedua sahabatnya tiba-tiba menjadi pemarah.
Belum sampai ia berpikir panjang, Bu Muji menagih dibayar. Karena uangnya akan

99

digunakan untuk pengembalian pembeli lain. Sial! dengusnya. Minum sprite seperempat
botol, harganya mahal.
Baksonya dua, kerupuk empat dan sate telurnya dua. Kemudian Sprite dua! kata
Bu Muji terburu-buru.
Maaf Bu, terpaksa saya utang. Saya tidak membawa dompet! Lagipula saya ke
mari tidak untuk jajan. Jawab Devi gregetan mau menerkam kedua sahabatnya..
Sekolah pulang pagi untuk kelas XI dan kelas XII. Sanita langsung pulang tanpa
nongkrong jual tampang. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah, untuk menuntaskan segala
resahnya.
San, itu

di meja belajarmu ada surat untukmu! ujar ibunya ketika melihat

anaknya pulang. Oh, iya kemarin, Naya ke mari. Tetapi tidak mau duduk setelah tahu
kamu masih di Bali. Surat itu baru saja diantar pak pos.
Ya, Bu, jawabnya singkat, terus menuju kamar. Tas yang tak tahu apa-apa
dibanting di ujung dipan. Matanya melirik mencari gunting. Sanita tak sabar lagi, amplop
disobek begitu saja.
Buat
Dindaku Sanita
Di peraduan
San, kemarin aku datang ke rumahmu. Sayang kamunya masih di Bali. Jadinya
aku kecewa berat. Padahal untuk melangkah ke rumahmu sudah kusiapkan seluruh
keberanianku, dan kubuang rendah diriku.
San kamu baik-baik saja, kan? Sungguh sangat menyesal tak bisa menemuimu.
Sebab ketika aku ingin mengulang datang ke rumah lagi, keberanianku sudah tak tersisa.
Terus terang aku takut kecewa, bila kamu tidak membawa oleh-oleh buatku. Sebab selama
ini terlalu melambung hatiku, dengan sejuta kebaikan dan perhatian yang kau taburkan
padaku. Karena tak kuat menahan sejuta resah dan gejolak terpaksa kutulis surat ini
sebagai pengganti kehadiranku.
Sanita, masihkah engkau sudi membaca suratku? Terus terang aku pernah
berharap engkau sudi menjadi kekasihku. Meski semua itu sudah berlalu. Tidak salah
kalau aku minta maaf dan terimakasih yang tak terhingga atas segala yang telah kau
korbankan untukku. Aku pamit. Meski berat dan tersiksa berpisah jauh denganmu, tapi itu
lebih baik untukmu dan untukku. Sebab dekatpun hatimu telah menjauh dariku. Karena itu

100

anganku selama ini terpaksa kupangkas habis. Sebab aku merasakan sesuatu yang
berubah atas dirimu padaku sejak kesehatanku pulih. Meski aku tersiksa atas perubahan
itu, aku tak kuasa untuk protes.
Sanita yang tercinta. Sejak kamu menjauhiku, terus terang aku merasa sangat kecil
dan tak berarti di depanmu. Itulah alasan yang sebenarnya, aku berniat pindah ke MA di
kampungku. Aku tidak kuat kau acuhkan. Semoga dengan kepergianku ini, engkau
berbahagia. Karena tidak harus menaruh rasa kasihan padaku.
San, aku pernah berharap engkau menjadi pendampingku. Karena aku terlalu jauh
mencintaimu, hingga aku lupa siapa aku. Walau aku tidak berani bersumpah, kuberharap
mampu mengubur dalam-dalam, agar tidak menodai dirimu.
Sekali lagi, maafkan aku atas segala kelancangan ini. Dan kuharap engkau sudi
menyisakan sepotong cinta untukku.
Sanita tak mampu lagi membaca surat di tangannya. Matanya telah gelap tertutup
air mata. Dadanya sesak hingga sulit bernafas. Ia menyesal atas sumpahnya pada Nuri dan
Rena. Di raihnya HP, kemudian dipencet nomor Nuri, untuk menuntaskan segala derita.
Sanita ingin meminta Nuri bertanggung jawab atas kepindahan Naya. Sayang dari dari
operator terdengar sambungan. Nomor yang Anda hubingi sudah tidak aktif!.
Sial! makinya melempar HP, tak kuat menahan tubuhnya. Sanita rebah menelungkupkan wajah pada bantal. Mulutnya mendesis memanggili Naya.
Di tempat lain, Nuri tak kalah sewot dan sedih. Dibanting pintu mobil sekuat tenaga
sebagai pelepas kesal. Tanpa tengok kiri kanan, tak peduli ada papa dan mama. Kaki
mengarah pada kamar dengan tegas. Di depan pintu kakinya berhenti, seperti menghadapi
kemacetan. Mama membawa surat untuknya. Diraihnya surat itu kemudian dibawa
tenggelam dalam kamar. Nayaaa? desisnya penasaran.
Nuri khawatir surat Naya itu akan mentertawakan dirinya. Nuri ragu untuk
membuka dan membacanya. Tiba-tiba ia merasakan keangkuhan Naya setelah menjadi
anak orang kaya. Setelah lama menimbang akhirnya dibuka juga surat itu.
Yang Terhormat
Mbak Nuri Fatikah Esawangi
Di Lubuk Hatiku
Assalamualaikum, wr.wb.

101

Di atas sajadah yang kusam dan untaian tasbih yang tak genap lagi, kucoba untuk khusuk
memanggil nama Tuhan. Sayang semua gagal. Bukan Tuhan yang kupanggili, tetapi
namamu yang terucap ketika wajahmu yang datang membayang. Kupejamkan mata untuk
menyingkirkan bayangmu. Kutelan air ludah tuk membasahi kerongkongan agar aku bisa
kembali khusuk pada Tuhan. Tetapi sia-sia. Bayangmu merebut menguasai segala ingatku.
Aku tersesat, menjadi hamba durhaka. Karena telah menduakan cinta pada-Nya.
Mbak Nuri. Engkau percaya atau tidak, itulah yang kurasakan selama ini. Terlalu tinggi
anganku. Terlalu jauh harapanku. Terlalu dalam cintaku padamu. Membuat aku lupa
sebagai hamba Tuhan. Sebab dalam setiap langkah dan napasku tak terpisah akan dirimu.
Mbak Nuri, (sebenarnya aku ingin melanjutkan dengan kaliamat yang kucintai, hanya
aku tak mau melukai hatimu). Di atas sajadah yang kusam dan tasbih yang telah
kusingkirkan kupanggili namamu denga air mata penderitaan. Aku sadar sesadarsadarnya akan sia-sia sepanjang usia. Terlalu jauh jembatan yang memisahkan kita untuk
kutiti. Terlalu tinggi gunung yang harus kudaki. Tapi untuk menepis aku juga tak kuasa.
Mbak Nuri yang kuhormati. Pernah aku bersumpah untuk menaklukkan cintamu. Pernah
kubersumpah tak akan menikah jika tidak denganmu. Dengan segala upaya ingin aku
mewujudkan sumpahku.Namun, musibah datang tiba-tiba, hingga melenyapkan segalanya.
Mbak Nuri. Aku putus asa. Tak ada lagi yang yang mampu kugapai. Maka ketika ada
tawaran pindah ke Semarang, langsung kusambut dengan penuh harap. Karena hanya ini
yang bisa kuperbuat untuk membalas budi baikmu yang telah kau tebarkan selama ini.
Begitu juga denganku, meski aku tidak akan mampu menghapus bayangmu, paling tidak
aku tidak menghalangi langkahmu.
Mbak Nuri aku minta pamit. Doamu kuharapkan. Aku berjanji hanya akan menikah jika
bertemu dengan gadis sepertimu. cantiknya, cerdasnya dan kebaikan hatinya, meski bukan
dari keluarga berada. Dan akan kuabadikan namamu bila saat putri kami lahir. Nuri
Fatikhah Esawangi agar aku dapat mengabadikan namamu sampai akhir hayatku.

102

Kuharap Mbak Nuri sudi memaafkan

segala kelancanganku dan terimakasih atas

segalanya.
Wassalam
Dari lelaki yang selalu merepotkanmu.
Nuri menjerit penuh sesal. Ia tidak mau menerima begitu saja. Dipeluknya surat
Naya erat-erat dengan tersedu sedan. Ia tidak percaya dengan itu semua. Nuri melompat
dari dipan. Diraihnya celana jeans dan kaus hitam. Tergesa-gesa Nuri berdiri di depan
cermin, menghapus air mata dan memoles wajahnya dengan bedak
Sebentar kemudian Nuri sudah di belakang setir. Mobilnya meluncur ke rumah
Naya. Jalan kecil menuju rumah Naya membuatnya tak sabar. Beberapa truk pengangkut
kasur seperti ingin dilompati begitu saja. Mobil meliuk dan membelok dengan kasar, sekan
jalan itu milik pribadinya.
Di halaman rumah Bu Hanna, Nuri baru percaya. Halaman yang biasa rapi bersih
dan asri ditututupi daun-daun kering berserakan. Bunga melati dan mawar mengering mati.
Pot bunga di depan pintu terguling, tanda rumah itu tiada berpenghuni lagi. Dari belakang
setir Nuri menangis. Ditatapnya daun-daun kering yang berserakan disapu angin. Naya, di
mana kamu? Kembalilah kekasihku, aku menunggumu!

TAMAT

103

104