Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

MASYARAKAT MADANI DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Makhmud Syafei M.Ag., M.Pd.I.

disusun oleh :
1. Henny Mulyani
2. Setia Akbar
3. Wini Welani

(1200630)
(1204159)
(1200527)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MANAJEMEN BISNIS


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah swt Tuhan semesta alam yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan tugas
makalah yang dengan judul Masyarakat Madani dalam Perspektif Islam
yang disusun sebagai tugas pada mata kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam,
tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Sholawat beserta salam selalu terpanjatkan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia dari zaman kebodohan
menuju zaman ilmu pengetahuan.
Penyusun sangat menyadari bahwa dalam penyusunan karya sederhana ini
masih banyak sekali kekurangan. Maka, kritik dan saran yang bersifat konstruktif
sangat di butuhkan. Dan terakhir, semoga karya sederhana ini dapat
memperlengkap khazanah pengetahuan bagi setiap yang membaca.

Bandung, 22 Februari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1.

Latar Belakang Masalah............................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3.

Tujuan penulisan.......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1

Pengertian Masyarakat Madani.................................................................3

2.2

Karakteristik Masyarakat Madani.............................................................6

2.3

Masyarakat Madani Dalam Pandangan Islam...........................................8

BAB III STUDI KASUS.......................................................................................16


3.1

Kasus.......................................................................................................16

3.2

Pembahasan dan Solusi...........................................................................16

BAB IV PENUTUP..............................................................................................18
4.1

Kesimpulan..............................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah


Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera

sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan makmur


bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem kenegaraan
muncul, seperti demokrasi. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai
tanpa mengoptimalkan kualitassumber daya manusia.Hal ini terlaksana apabila
semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang menjadikan manusia
sebagai subjek. Pengembangan masyarakat sebagai sebuah kajian keilmuan dapat
menyentuh keberadaan manusia yang berperadaban. Pengembanganmasyarakat

merupakan sebuah proses yang dapat merubah watak, sikap dan prilaku
masyarakat ke arah pembangunan yang dicita-citakan.
Indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat tergantung
pada situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya.Akhir-akhir ini
masyarakat Indonesia mencuatkan suatu kemakmuran yang didambakan yaitu
terwujudnya masyarakat madani. Munculnya istilah masyarakat madani pada era
reformasi ini, tidak terlepas dari kondisi politik negara yang berlangsung selama
ini. Sejak Indonesia merdeka, masyarakat belum merasakan makna kemerdekaan
yang sesungguhnya.Pemerintah atau penguasa belum banyak member kesempatan
bagi semua lapisan masyarakat mengembangkan potensinya secara maksimal.
Bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat madani, asalkan
semua potensi sumber daya manusia mendapat kesempatan berkembang dan
dikembangkan. Mewujudkan masyarakat madani banyak tantangan yang harus
dilalui.Untuk itu perlu adanya strategi peningkatan peran dan fungsi masyarakat
dalam mengangkat martabat manusia menuju masyarakat madani itu sendiri.
Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal
bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang menghiasi
masyarakat ideal ini. Seperti, pelaksanaan amar maruf nahi munkar yang sejalan
dengan petunjuk Ilahi, maupun persatuan yang kesatuan yang ditunjuk oleh ayat
sebelumnya (lihat, QS. Ali Imran [3]: 105). Adapun cara pelaksanaan amar maruf
nahi mungkar yang direstui Ilahi adalah dengan hikmah, nasehat, dan tutur kata
yang baik sebagaimana yang tercermin dalam QS an-Nahl [16]: 125. Dalam
rangka membangun masyarakat madani modern, meneladani Nabi bukan hanya
penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan saat berhubungan
dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti menjaga persatuan
umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain, berlaku adil
kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur
lainnya.
Kita juga harus meneladani sikap kaum Muslim awal yang tidak
mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka tidak meninggalkan
dunia untuk akhiratnya dan tidak meninggalkan akhirat untuk dunianya. Mereka

bersikap seimbang (tawassuth) dalam mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat.


Jika sikap yang melekat pada masyarakat Madinah mampu diteladani umat Islam
saat ini, maka kebangkitan Islam hanya menunggu waktu saja.
1.2.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah makalah ini adalah :


1. Bagaimana pengertian masyarakat madani
2. Bagaimana karekteristik masyarakat madani
3. Bagaimana masyarakat madani dalam pandangan islam
1.3.

Tujuan penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :


1. Untuk mengetahui pengertian masyarakat madani
2. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat madani
3. Untuk mengetahui masyarakat madani dalam pandangan islam

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Masyarakat Madani
Masyarakat madani atau civil society secara umum bisa diartikan sebagai
suatu masyarakat atau institusi sosial yang memiliki ciri-ciri antara lain:
kemandirian, toleransi, keswadayaan, kerelaan menolong satu sama lain, dan
menjunjung tinggi norma dan etika yang disepakati secara bersama-sama (Din
Syamsudin, 1998 :12). Sebenarnya masyarakat madani secara substansial sudah
ada sejak zaman Aristoteles, yakni suatu masyarakat yang dipimpin dan tunduk
pada hukum. penguasa, rakyat dan siapapun harus taat dan patuh pada hukum
yang telah dibuat secara bersama-sama. Bagi Aristoteles, siapapun bisa memimpin
negara secara bergiliran dengan syarat ia bisa berbuat adil. Dan keadilan baru bisa
ditegakkan apabila setiap tindakan didasarkan pada hukum. Jadi hukum
merupakan ikatan moral yang bisa membimbing manusia agar senantiasa berbuat
adil.
Dalam mendefinisikan masyarakat madani ini sangat tergantung pada
kondisi sosio-kultural suatu bangsa, karena bagaimanapun konsep masyarakat
madani merupakan bangunan yang lahir dari sejarah pergulatan bangsa Eropa
Barat. Sebagai titik tolak, disini akan dikemukakan beberapa definisi masyarakat
dari berbagai pakar di berbagai negara yang menganalisa dan mengkaji fenomena
masyarakat madani ini
1. Menurut Zbigniew Rau, masyarakat madani merupakan suatu masyarakat
yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu
dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain guna
mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul di antara
hubungan-hubungan yang merupakan hasil komitmen keluarga dan
hubungan-hubungan yang menyangkut kewajiban mereka terhadap negara.
Lebih tegasnya terdapat ruang hidup dalam kehidupan sehari-hari serta
memberikan integritas sistem nilai yang harus ada dalam masyarakat
madani, yakni individualisme, pasar dan pluralisme.

2. Menurut Han Sung-joo, masyarakat madani merupakan sebuah kerangka


hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu,
perkumpulan sukarela yang terbebas dari negara, suatu ruang pablik yang
mampu mengartikulasikan isu-isu politik, gerakan warga negara yang
mampu mengendalikan diri dan independen, yang secara bersama-sama
mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas dan solidaritas
yang terbentuk serta pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalamnya.
3. Menurut Kim Sunhyuk, masyarakat madani adalah suatu satuan yang
terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya
dan gerakan-gerakan dalam masyarakat yang secara relatif otonom dari
negara, yang merupakan satuan-satuan dasar dari reproduksi dan
masyarakat politik yang mampu melakukan kegiatan politik dalam ruang
publik, guna menyatakan kepedulian mereka dan memajukan kepentingankepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan pengelolaan
yang mandiri.
Dari berbagai batasan di atas, jelas merupakan suatu analisa dari kajian
kontekstual terhadap performa yang diinginkan dalam mewujudkan masyarakat
madani. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan penekanan dalam mensyaratkan
idealisme masyarakat madani. Akan tetapi secara global dari ketiga batasan di atas
dapat ditarik benang emas, bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani
adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri
dihadapan penguasa dan negara, memiliki ruang publik dalam mengemukakan
pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat menyalurkan
aspirasi dan kepentingan publik.
Menurut Rahardjo (1996) masyarakat madani identik dengan cita-cita
Islam membangun ummah. Masyarakat madani adalah suatu ruang (real)
partisipasi masyarakat melalui perkumpulan-perkumpulan sukarela (voluntary
association) melalui organisai-organisasi massa. Masyarakat madani dan negara
bergantung mana yang dianggap primer dan mana yang sekunder. Sepertinya
menurut pendapat tersebut, hak berserikat merupakan prinsip dalam kehidupan
bermasyarakat.

Kelompok-kelompok masyarakat tercipta tiada lain untuk terjadi integrasi


dalam membangun manyarakat yang berperadaban. Sementara itu secara filosofis
Yusuf (1998) memandang masyarakat madani membangun kehidupan masyarakat
beradab yang ditegakkan di atas akhlakul karimah, masyarakat yang adil, terbuka
dan demokratis dengan landasan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah
SWT. Kualitas manusia bertaqwa secara essensial adalah manusia yang
memelihara hubungan dengan Allah SWT (habl min Allah) dan hubungannya
dengan sesama manusia (habl min al-nas). Akhlakul karimah dapat terwujud
manakala masing-masing individu dan kelompok masyarakat terjadi saling
membelajarkan atau berperan sebagai pembawa kearah kebenaran yang digariskan
oleh Allah. Karena Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum manakala mereka
tidak berbuat ke arah perbaikan yang dikehendakinya.
Masyarakat madani jika dipahami secara sepintas merupakan format
kehidupan sosial yang mengedepankan semangat demokratis dan menjunjung
tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Dalam masyarakat madani, warga negara
bekerjasama membangun ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas
kemanusiaan yang bersifat non-govermental untuk mencapai kebaikan bersama.
Karena

itu,

tekanan

sentral

masyarakat

madani

adalah

terletak

pada

independensinya terhadap negara. Masyarakat madani berkeinginan membangun


hubungan yang konsultatif bukan konfrontatif antara warga negara dan negara.
Masyarakat madani juga tidak hanya bersikap dan berperilaku sebagai citizen
yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati equal right,
memperlakukan semua warga negara sebagai pemegang hak kebebasan yang
sama.
Disinilah kemudian, masyarakat madani menjadi alternative pemecahan,
dengan pemberdayaan dan penguatan daya kontrol masyarakat terhadap
kebijakan-kebijakan pemerintah yang pada akhirnya nanti terwujud kekuatan
masyarakat sipil yang mampu merealisasikan dan mampu menegakkan konsep
hidup yang demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia.Masyarakat
madani dipercaya sebagai alternatif paling tepat bagi demokratisasi, terutama di
negara yang demokrasinya mengalami ganjalan akibat kuatnya hegemoni negara.

Tidak hanya itu, masyarakat madani kemudian juga dipakai sebagai cara pandang
untuk memahami universalitas fenomena demokrasi di berbagai negara.
2.2 Karakteristik Masyarakat Madani
Karakteristik ini yang merupakan prasyarat untuk merealisasikan wacana
masyarakat madani tidak bisa dipisahkan satu sama lain, dan merupakan satu
kesatuan yang terintegral dan menjadi dasar serta nilai bagi masyarakat. Adapun
karakteristiknya, menurut Arendt dan Habermas, antara lain :
1. Free Public Sphere, adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam
mengemukan pendapat. Pada ruang publik yang bebaslah individu dalam
posisinya yang setara mampu melakukan transaksi-transaksi wacana dan
praksis politik tanpa mengalami distorsi dan kekhawatiran. Sebagai sebuah
prasyarat, maka untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat
madani dalam sebuah tatanan masyarakat, maka free publik sphere
menjadi salah satu bagian yang harus diperhatikan. Karena dengan
menafikan adanya ruang publik yang bebas dalam tatanan masyarakat
madani, maka akan memungkinkan terjadinya pembungkaman kebebasan
warga Negara dalam menyalurkan aspirasinya yang berkenaan dengan
kepentingan umum oleh penguasa yang tiranik dan otoriter.
2. Demokratis, merupakan suatu entitas yang menjadi penegak wacana
masyarakat madani, dimana dalam menjalani kehidupan, warga negara
memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktivitas kesehariannya,
termasuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
3. Toleran, merupakan sikap yang dikembangankan dalam masyarakat
madani untuk menunjukan sikap saling menghargai dan menghormati
aktivitas yang dilakukan oleh orang lain.
4. Pluralisme, adalah pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan
keadaban. Bahkan pluralisme adalah suatu keharusan bagi keselamatan
umat manusia antara lain melalui mekanisme pengawasan dan
pengimbangan,
5. Keadilan Sosial, dimaksudkan adanya keseimbangan dan pembagian yang
proporsional terhadap hak dan kewajiban setiap warga Negara yang
mencakup seluruh aspek kehidupan.

Selain itu karakteristik masyarakat madani menurut Al-Farobi yaitu :


1. Masyarakat

egaliter,

masyarakat

egaliter

atau

masyarakat

yang

mengemban nilai egalitarianisme yaitu masyarakat yang mengakui adanya


kesetaraan dalam posisi di masyarakat dari sisi hak dan kewajiban tanpa
memandang suku, keturunan, ras, agama, dan sebagainya.
2. Penghargaan, bahwa dalam masyarakat madani adanya penghargaan
kepada orang berdasarkan prestise, bukan kesukuan, keturunan, ras, dan
sebagainya.
3. Keterbukaan (partisipasi seluru anggota masyarakat aktif), sebagai ciri
masyarakat madani adalah kerendahan hati untuk tidak merasa selalu
benar, kemudian kesediaan untuk mendengarkan pendapat orang lain
untuk diambil dan diikuti mana yang terbaik.
4. Penegakkan hukum dan keadilan, hukum ditegakkan pada siapapun dan
kapanpun, walupun terhadap keluarga sendiri, karena manusia sama
didepan hukum.
5. Toleransi dan pluralisme, tak lain adalah wujud civility yaitu sikap
kewajiban pribadi dan sosial yang bersedia melihat diri sendiri tidak selalu
benar, karena pluralism dan toleransi merupakan wujud dari ikatan
keadaban ( Bond of civility), dalam arti masing-masing pribadi dan
kelompok dalam lingkunga yang lebih luas, memandang yang lain dengan
penghargaaN, betapapun perbedaan yang ada tanpa saling memaksakan
kehendak, pendapat atau pandangan sendiri.
6. Musyawarah dan demokrasi, merupakan unsur asasi pembentukan
masyarakat madani. Nur cholis madjid menyatakan, maasyarakat madani
merupakan masyarakat demokratis yang terbangun dengan menegakkan
musyawarah, karena musywarah merupakan interpretasi positif berbagai
individu dalam masyarakat yang saling memberikan hak untuk
menyatakan pendapat, dan mengakui adanya kewajiban mendengar
pendapat orang lain.

2.3 Masyarakat Madani Dalam Pandangan Islam


Dalam perspektif Islam, civil society lebih mengacu kepada penciptaan
peradaban. Kata al-din, yang umumnya diterjemahkan sebagai agama, berkaitan
dengan terma at-tamaddun atau peradaban. Keduanya menyatu ke dalam
pengertian al-madinah yang arti harfiahnya adalah kota. Dengan demikian,
masyarakat madani mengandung tiga hal, yakni: agama, peradaban, dan
perkotaan. Dari konsep ini tercermin bahwa agama merupakan sumbernya,
peradaban sebagai prosesnya, dan masyarakat kota adalah hasilnya.
Secara etimologis, madinah adalah derivasi dari kosakata Arab yang
mempunyai dua pengertian. Pertama, madinah berarti kota atau disebut dengan
"masyarakat kota. Kedua, masyarakat berperadaban karena madinah adalah
juga derivasi dari kata tamaddun atau madaniyah yang berarti peradaban, yang
dalam bahasa Inggris dikenal sebagai civility dan civilization. Kata sifat dari kata
madinah adalah madani (Sanaky, 2002:30).
Adapun secara terminologis, masyarakat madani adalah komunitas Muslim
pertama di kota Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasul Allah SAW dan
diikuti oleh keempat al-Khulafa al-Rasyidin. Masyarakat madani yang dibangun
pada zaman Nabi Muhammad SAW tersebut identik dengan civil society, karena
secara sosio-kultural mengandung substansi keadaban atau civility. Model
masyarakat ini sering dijadikan model masyarakat modern, sebagaimana yang
diakui oleh seorang sosiolog Barat, Robert N. Bellah, dalam bukunya The Beyond
of Belief (1976). Bellah, dalam laporan penelitiannya terhadap agama-agama
besar di dunia, mengakui bahwa masyarakat yang dipimpin Rasul Allah SAW itu
merupakan masyarakat yang sangat modern untuk zaman dan tempatnya, karena
masyarakat Islam kala itu telah melakukan lompatan jauh ke depan dengan
kecanggihan tata sosial dan pembangunan sistem politiknya (Hatta, 2001:1).
Nabi Muhammad SAW melakukan penataan negara tersebut, dengan cara:
pertama, membangun infrastruktur negara dengan masjid sebagai simbol dan
perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses
persaudaraan antara dua komunitas yang berbeda, yaitu Quraisy dan Yatsrib, serta
komunitas Muhajirin dan Anshar dalam bingkai solidaritas keagamaan. Ketiga,

membuat nota kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan komunitas lain,


sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui
Piagam Madinah. Keempat, merancang sistem negara melalui konsep jihad fi
sabilillah (berjuang di jalan Allah).
Dengan dasar ini, negara dan masyarakat Madinah yang dibangun oleh
Nabi Muhammad SAW merupakan negara dan masyarakat yang kuat dan solid.
Peristiwa hijrah telah menciptakan keberagaman penduduk Madinah. Penduduk
Madinah tidak terdiri dari Suku Aus, Khazraj dan Yahudi saja, tetapi juga
Muhajirin Quraisy dan suku-suku Arab lain. Nabi SAW menghadapi realitas
pluralitas, karena dalam struktur masyarakat Madinah yang baru dibangun
terdapat beragam agama, yaitu: Islam, Yahudi, Kristen, Sabiin, dan Majusi
ditambah ada pula yang tidak beragama (atheis) dan bertuhan banyak (polytheis).
Struktur masyarakat yang pluralistik ini dibangun oleh Nabi SAW di atas pondasi
ikatan iman dan akidah yang nilainya lebih tinggi dari solidaritas kesukuan
(ashabiyah) dan afiliasi-afiliasi lainnya.
Selain itu, masyarakat pada saat itu terbagi ke dalam beberapa kelompok
yang didasarkan atas ikatan keimanan, yaitu: mu'minun, munafiqun, kuffar,
musyrikun, dan Yahudi. Dengan kata lain, masyarakat Madinah pada saat itu
merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang majemuk atau plural.
Kemajemukan masyarakat Madinah diawali dengan membanjirnya kaum
Muhajirin dari Makkah, hingga kemudian mengakibatkan munculnya persoalanpersoalan ekonomi dan kemasyarakatan yang harus diantisipasi dengan baik.
Dalam konteks itu, sosialisasi sistem persaudaraan menjadi kebutuhan mendesak
yang harus diwujudkan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nabi Muhammad SAW bersama
semua unsur penduduk madinah secara konkret meletakkan dasar-dasar
masyarakat Madinah yang mengatur kehidupan dan hubungan antarkomunitas,
yang merupakan komponen masyarakat majemuk di Madinah. Kesepakatan hidup
bersama yang dituangkan dalam suatu dokumen yang dikenal sebagai Piagam
Madinah (Mitsaq al-Madinah) dianggap sebagai konstitusi tertulis pertama dalam
sejarah manusia. Piagam ini tidak hanya sangat maju pada masanya, tetapi juga

10

menjadi satu-satunya dokumen penting dalam perkembangan konstitusional dan


hukum di dunia.
Dalam

dokumen

itulah

umat

manusia

untuk

pertama

kalinya

diperkenalkan, antara lain, kepada wawasan kebebasan, terutama di bidang agama


dan ekonomi, serta tanggung jawab sosial dan politik, khususnya pertahanan
secara bersama. Dalam piagam tersebut juga ditempatkan hak-hak individu, yaitu
kebebasan memeluk agama, persatuan dan kesatuan, persaudaraan (al-ukhuwwah)
antaragama, perdamaian, toleransi, keadilan (al-'adalah), tidak membeda-bedakan
(anti diskriminasi), dan menghargai kemajemukan.
Dengan

kemajemukan

tersebut,

Nabi

Muhammad

SAW mampu

mempersatukan mereka. Fakta ini didasarkan pada: pertama, mereka hidup dalam
wilayah Madinah sebagai tempat untuk hidup dan bekerja bersama. Kedua,
mereka bersedia dipersatukan dalam satu umat untuk mewujudkan kerukunan dan
kemaslahatan secara bersama-sama. Ketiga, mereka menerima Muhammad SAW
sebagai pemimpin tertinggi dan pemegang otoritas politik yang legal dalam
kehidupan. Otoritas tersebut juga dilengkapi dengan institusi peraturan yang
disebut Piagam Madinah yang berlaku atas seluruh individu dan setiap kelompok.
Dalam konstitusi Piagam Madinah, secara umum masyarakat berada dalam
satu ikatan yang disebut ummah. Yaitu suatu masyarakat yang terdiri dari berbagai
kelompok sosial yang disatukan dengan ikatan sosial dan kemanusiaan yang
membuat mereka bersatu menjadi ummah wahidah. Oleh karena itu, perbedaan
agama bukan merupakan penghambat dalam mencipatakan suasana persaudaraan
dan damai dalam masyarakat plural.
Muhammad Abduh dalam tafsirnya, al-Manar, mengakui bahwa agama
bukanlah satu-satunya faktor ikatan sosial dalam suatu umat, melainkan ada faktor
universal yang dapat mendukung terwujudnya suatu umat, yaitu unsur
kemanusiaan. Karenanya unsur kemanusiaan sangat dominan dalam kehidupan
manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk politik. Demikian juga Muhammad
Imarah, dalam karyanya berjudul Mafhum al-Ummah fi Hadharat al-Islam,
menyatakan bahwa umat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah
merupakan umat yang sekaligus bersifat agama dan politik (Bahri, 2001).

11

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa umat yang dibentuk Nabi


Muhammad SAW di kota Madinah bersifat terbuka, karena Nabi mampu
menghimpun semua komunitas atau golongan penduduk Madinah, baik golongan
yang menerima risalah tauhid beliau maupun yang menolak.
Perbedaan akidah atau agama di antara mereka tidak menjadi alasan untuk
tidak bersatu-padu dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena
itu, gagasan dan praktik membentuk satu umat dari berbagai golongan dan unsur
sosial pada masa itu merupakan sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan
oleh kelompok masyarakat manapun sehingga seorang penulis Barat, Thomas W
Arnold menganggapnya sebagai awal dari kehidupan berbangsa dalam Islam, atau
merupakan kesatuan politik dalam bentuk baru yang disatukan oleh Piagam
Madinah (Mitsaq al-Madinah).
Konstitusi Piagam Madinah, yang berjumIah 47 pasal itu (Sukardja,
1995:47-57), secara formal mengatur hubungan sosial antarkomponen dalam
masyarakat. Pertama, antar sesama Muslim. Bahwa sesama Muslim itu satu umat
walaupun mereka berbeda suku. Kedua, hubungan antara komunitas Muslim
dengan non-Muslim didasarkan pada prinsip bertetangga yang baik, saling
membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela mereka yang teraniaya,
saling menasihati, dan menghormati kebebasan beragama. Dari Piagam Madinah
ini, setidaknya ada dua nilai dasar yang tertuang sebagai dasar atau fundamental
dalam mendirikan dan membangun negara Madinah. Pertama, prinsip
kesederajatan dan keadilan (al-musawah wa al-adalah). Kedua, inklusivisme atau
keterbukaan. Kedua prinsip ini, ditanamkan dalam bentuk beberapa nilai humanis
universal lainnya, seperti konsistensi (iltizam), seimbang (tawazun), moderat
(tawassut), dan toleransi (tasamuh). Kesemuanya menjadi landasan ideal sekaligus
operasional dalam menjalin hubungan sosial-kemasyarakatan yang mencakup
semua aspek kehidupan, baik politik, ekonomi maupun hukum.
Pada masa awal Nabi SAW membangun Madinah, peran kelompokkelompok masyarakat cukup besar dalam pengambilan keputusan, sebagaimana
tercermin dalam Piagam Madinah. Tetapi seiring dengan semakin banyaknya
wahyu yang turun, sistem negara Madinah masa Nabi kemudian berkembang

12

menjadi sistem teokrasi. Negara, dalam hal ini dimanifestasikan dalam figur
Nabi SAW yang memiliki kekuasaan amat besar, baik kekuasaan eksekutif,
legislatif maupun yudikatif. Segala sesuatu pada dasarnya dikembalikan kepada
Nabi SAW, dan ketaatan umat kepada Nabi SAW pun semakin mutlak sehingga
tidak ada kemandirian lembaga masyarakat berhadapan dengan negara.
Meskipun demikian, berbeda dengan umumnya penguasa dengan
kekuasaan besar yang cenderung despotik (sewenang-wenang), Nabi SAW justru
meletakkan nilai-nilai dan norma-norma keadilan, persamaan, persaudaraan, dan
kemajemukan yang menjadi dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,
di samping mendukung keterlibatan masyarakat (sahabat) dalam pengambilan
keputusan secara musyawarah.
Pada masa al-Khulafa al-Rasyidun, sistem negara tidak lagi berbentuk
teokrasi melainkan nomokrasi, yaitu prinsip ketuhanan yang diwujudkan dalam
bentuk supremasi syariat. Namun peran masyarakat menjadi lebih besar, di mana
hal itu mengindikasikan mulai terbangunnya masyarakat madani. Mereka
melakukan kontrol terhadap pemerintah, dan rekrutmen kepemimpinan pun yang
didasarkan pada kapasitas individual. Tetapi, setelah masa al-Khulafa alRasyidun, situasi mulai berubah, peran masyarakat mengalami penyusutan,
rekrutmen pimpinan tidak lagi berdasarkan pilihan rakyat (umat), melainkan atas
dasar keturunan. Lembaga keulamaan merupakan satu-satunya lembaga
masyarakat madani yang masih relatif independen. Pada masa kekhilafahan, yakni
dari masa al-Khulafa al-Rasyidun sampai menjelang runtuhnya Dinasti Ustmani
akhir abad ke-19, umat Islam telah memiliki struktur religio-politik (politik
berbasis agama) yang mapan, yakni lembaga legislatif dipegang oleh ulama.
Mereka memiliki kemandirian dalam berijtihad dan menetapkan hukum.
Dari pandangan ini, tercermin bahwa sebenarnya masyarakat madani yang
bernilai peradaban itu dibangun setelah Nabi Muhammad SAW melakukan
reformasi dan transformasi pada individu yang berdimensi akidah, ibadah, dan
akhlak. Dalam praktiknya, iman dan moralitaslah yang menjadi landasan dasar
bagi Piagam Madinah. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai tersebut menjadi dasar bagi
semua aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, dan hukum pada masa Nabi SAW.

13

Posisi Piagam Madinah adalah sebagai kontrak sosial antara Nabi


Muhammad SAW dengan penduduk Madinah yang terdiri dari pendatang Quraisy,
kaum lokal Yastrib, dan orang-orang yang menyatakan siap berjuang bersama
mereka. Posisi Rasul SAW adalah sebagai pimpinan yang mereka akui bersama,
dan telah meletakkan Islam sebagai landasan bermasyarakat dan bernegara. Itulah
sebabnya penjanjian tersebut, dalam konteks teori politik, disebut sebagai Piagam
Madinah atau Konstitusi Madinah. Di dalamnya, terdapat pasal-pasal yang
menjadi hukum dasar sebuah negara kota yang kemudian disebut Madinah (alMadinah al-Munawarah atau Madinah al-Nabi). Nilai-nilai yang tercermin dalam
masyarakat Madinah saat itu pastilah nilai-nilai Islami yang tertuang di dalam
Piagam Madinah.
Kontrak sosial yang dilakukan Nabi SAW itu dinilai identik dengan teori
Social Contract dari Thomas Hobbes, berupa perjanjian masyarakat yang
menyatakan sumber kekuasaan pemerintah adalah perjanjian masyarakat.
Pemerintah memiliki kekuasaan, karena adanya perjanjian masyarakat untuk
mengurus mereka. Teori Social Contract J.J. Rousseau bahwa otoritas rakyat dan
perjanjian politik harus dilaksanakan untuk menentukan masa depan rakyat serta
menghancurkan monopoli yang dilakukan oleh kaum elite yang berkuasa atas
nama kepentingan rakyat, juga identik dengan teori Nabi Muhammad SAW ketika
membangun ekonomi dengan membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum
kapitalis.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat Madinah yang
dibangun Nabi SAW itu sebenarnya identik dengan civil society, karena secara
sosio-kultural mengandung substansi keadaban atau peradaban. Nabi SAW
menjadikan masyarakat Madinah pada saat itu sebagai classless society
(masyarakat tanpa kelas), yakni tidak membedakan antara si kaya dan si miskin,
pimpinan dan bawahandi mana seluruhnya sama dan sejajar di hadapan hukum.
Dari uraian di atas, secara terminologis masyarakat madani yang
berkembang dalam konteks Indonesia setidaknya berada dalam dua pandangan,
yakni: masyarakat Madinah dan masyarakat sipil (civil society). Keduanya
tampak berbeda, tetapi sama. Berbeda, karena memang secara historis keduanya

14

mewakili budaya yang berbeda, yakni masyarakat Madinah yang mewakili


historis peradaban Islam. Sedangkan masyarakat sipil adalah hasil dari peradaban
Barat, seperti telah dipaparkan di atas. Perbedaan lainnya, masyarakat Madinah
menjadi tipe ideal yang sangat sempurna, karena komunitas masyarakat dipimpin
langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Apabila masyarakat madani diasosiasikan sebagai penguat peran
masyarakat sipil, maka masyarakat madani hanya bertahan di era empat alKhulafa al-Rasyidun. Setelah itu, masyarakat Islam kembali kepada masa
monarki, di mana penguasaan negara (state power) kembali menjadi besar, dan
peran masyarakat (society participation) menjadi kecil. Oleh sebab itu, ketiga
prinsip yang dikemukakan di atas, dapat dikatakan sebagai elemen penting
terbentuknya masyarakat madani, yaitu masyarakat yang memegang teguh
ideologi yang benar, berakhlak mulia, bersifat mandiri secara kultural-politikekonomi, memiliki pemerintahan sipil, memiliki prinsip kesederajatan dan
keadilan, serta prinsip keterbukaan.
Timbul pertanyaan, nilai substansial seperti apakah yang dapat mewakili
kecenderungan masyarakat Madinah? Apabila dikaji secara umum, setidaknya
nilai subtansial dari semangat Islam dalam pemberdayaan masyarakat mencakup
tiga pilar utama, yakni: musyawarah (syura), keadilan (adl), dan persaudaraan
(ukhuwwah). Sedangkan masyarakat sipil (civil society) bermula dari semangat
dan pergumulan pemikiran masyarakat Barat untuk mengurangi peranan negara
(state) dalam kehidupan masyarakat.
Seperti diketahui bahwa pada abad pertengahan masyarakat Barat dikuasai
oleh dua kekuatan yang sangat dominan, yakni gereja dan kerajaan-kerajaan.
Sehingga para sejarahwan Barat menyebutnya sebagai Abad Kegelapan (the Dark
Ages). Selanjutnya, muncul gerakan perlawanan dari para ilmuwan yang
menghadirkan gerakan sekularisme dan humanisme, di mana mereka menyatakan
lepas dari keyakinan gereja, dan manusia dianggap sebagai pusat segalanya
(antrophosentris).
Dengan demikian, ada konsep baru yang ditawarkan Nabi SAW bahwa
negara itu melampaui batas-batas wilayah geografis. Negara itu lebih cocok

15

dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan (basic values of humanity), sebab yang


menjadi dasar utama kewarganegaraannya bukan nasionalisme, suku, ras atau
pertalian darah. Tetapi manusia dapat memilih konsep hidup tertentu atau akidah
tertentu. Manusia secara bebas dan merdeka menentukan pilihan akidahnya, tanpa
ada tekanan dan paksaan dari pihak mana pun dan oleh siapa pun. Negara baru
yang dibangun Nabi SAW adalah negara ideologi yang didasarkan pada asas
kemanusiaan yang terbuka, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. alBaqarah:256.


Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar dari jalan yang sesat.
Dengan demikian, konsep negara yang ditawarkan Nabi SAW benar-benar
baru dan orisinil, karena negara menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Di dalam Q.S. al-Saba:15, Allah SWT mengilustrasikan profil masyarakat ideal
sebagai berikut:

"Sebuah negeri yang aman sentosa dan masyarakatnya terampuni dosanya."

16

BAB III
STUDI KASUS
3.1 Kasus
Fenomena seks bebas merupakan fenomena yang tidak pernah habis dari dulu
hingga sekarang, bahkan nampaknya isu tersebut semakin memburuk di
masyarakat. Indonesia yang pada dasarnya memiliki nilai-nilai budaya yang luhur
seakan terkikis begitu saja. Hal tersebut dikikis oleh beberapa faktor, yang salah
satunya adalah semakin tumbuhnya budaya asing dikalangan remaja saat ini.
Beberapa pekan yang lalu tepatnya saat saat perayaan hari Valentine pada
tanggal 14 Februari, masyarakat dihebohkan dengan berita mengenai penjualan
coklat yang berhadiah kondom. Secara tidak langsung hal tersebut mengajarkan
remaja untuk melakukan seks bebas, karena belum tentu konsumen yang membeli
cokelat tersebut adalah pasangan suami istri.
Branding Valentin juga membuat remaja lupa diri, keidentikan dengan hari
kasih sayang sangat efektif dalam menggerus sendi sendi keyakinan yang dimiliki
seorang remaja, mulai dari keyakinan budaya Indonesia maupun keyakinan dalam
beragama.
Jika hal ini dibiarkan maka akan berdampak kepada kehancuran moral dan
peradaban dimasyarakat sebagai contoh adalah maraknya anak-anak remaja yang
sudah tidak perawan, tingginya tingkat aborsi, bahkan tidak menutup
kemungkinan akan menambah tinggi tingkat bunuh diri dan kriminalitas.
3.2 Pembahasan dan Solusi
Permasalahan diatas menjadi isu yang sangat penting untuk dikaji dan dicari
solusi, pasalnya dengan lunturnya etika dan moral serta nilai-nilai luhur pada diri
masyarakat tidak akan menciptakan masyarakat madani yang berarti masyarakat
yang memiliki peradaban yang baik.
Untuk menyikapi hal tersebut, para remaja harus dibentengi oleh nilai-nilai
religious dari ajaran agama agar mereka tidak terkontaminasi gaya hidup dan

17

budaya asing yang buruk. Penguatan moralitas pun tidak bisa dilepaskan dari
nilai-nilai yang terkandung dalam agama.
Jika nilai-nilai kearifan local dan agama disatukan dalam pendidikan formal
maka akan semakin menguatkan pembentukan moral yang akhirnya akan
menghasilkan pribadi-pribadi yang baik. Kemudian peran serta orangtua dalam
memberikan contoh baik dan bimbingan kepada anak-anak akan menambah
kekuatan membentuk pribadi yang seutuhnya

18

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari pemaparan diatas maka kesimpulan dalam makalah ini adalah :
1.

Masyarakat madani Masyarakat madani atau civil society secara umum bisa
diartikan sebagai suatu masyarakat atau institusi sosial yang memiliki ciri-ciri
antara lain: kemandirian, toleransi, keswadayaan, kerelaan menolong satu sama
lain, dan menjunjung tinggi norma dan etika yang disepakati secara bersama-

sama
2. Karakteristiknya masyarakat madani adalah Free Public Sphere, demokratis,
toleran, pluralisme, dan keadilan Sosial.
3. Masyarakat madani dalam perspekif Islam adalah peradaban. Masyarakat
madani mengandung tiga hal, yakni: agama, peradaban, dan perkotaan. Dari
konsep ini tercermin bahwa agama merupakan sumbernya, peradaban sebagai
prosesnya, dan masyarakat kota adalah hasilnya.

19

DAFTAR PUSTAKA

Suito, Deny. 2006. Membangun Masyarakat Madani. Centre For Moderate


Muslim Indonesia: Jakarta.
Mansur, Hamdan. 2004. Materi Instrusional Pendidikan Agama Islam. Depag RI:
Jakarta.
Suharto, Edi. 2002. Masyarakat Madani: Aktualisasi Profesionalisme Community
Workers Dalam Mewujudkan Masyarakat Yang Berkeadilan. STKS
Bandung: Bandung.
Sosrosoediro, Endang Rudiatin. 2007. Dari Civil Society Ke Civil Religion. MUI:
Jakarta.
Sutianto, Anen. 2004. Reaktualisasi Masyarakat Madani Dalam Kehidupan.
Pikiran Rakyat: Bandung.
Suryana, A. Toto, dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Tiga Mutiara: Bandung
Sudarsono. 1992. Pokok-pokok Hukum Islam. Rineka Cipta: Jakarta.
Din Syamsuddin. 1999. Etika Agama dalam membangun Masyarakat Madani.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hatta, Ahmad. 2001. Peradaban yang Bagaimana? Rincian Misi Negara Tauhid
Madinah. http: // rully-indrawan.tripod.com pada tanggal 29 September
2013.
Rahardjo,M. Dawam. 1996. Masyarakat Madani: Agama , Kelas Menengah dan
Perubahan Sosial. Jakarta: LP3ES. 1999. cet. ke.1.
Sanaky, Hujair A.H. 2002. Paradigma Pendidikan Islam : Membangun Masyarakat
Madani Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insani Press.

http://ingridelvina.blog.uns.ac.id/2014/10/27/makalah-masyarakat-madani/
(diakses pada 22 Februari 2015)
http://www.tempo.co/read/news/2014/06/02/058581828/Warga-LaporkanPerusak-Rumah-Ibadah-di-Sleman (Diakses pada 22 Februari 2015)
https://yamanekociel.wordpress.com/2013/12/29/contoh-makalah-tentangmasyarakat-madani/