Anda di halaman 1dari 20

ERGONOMI

Ergonomik

berasal

dari

Bahasa

Yunani,

yaitu Ergon dan Nomos. Ergon memiliki

arti

kerja

dan Nomos memiliki arti hukum; jadi pengertian Ergonomik itu sendiri secara garis besar adalah Studi
tentang manusia untuk menciptakan system kerja yang lebih sehat, aman dan nyaman (Arif, 2009).
Konsep ergonomi serta keselamatan kesehatan kerja merupakan konsep penting untuk diterapkan
dalam suatu industri, khususnya dalam perancangan stasiun kerjanya. Kecenderungan yang ada saat ini
adalah, pada industri skala kecil menengah. Konsep tersebut kurang begitu diperhatikan, sehingga dapat
menimbulkan resiko kerja baik dari segi bahaya kondisi lingkungan fisik, sikap dan cara kerja
(Laksmiwaty, 2009).
Tujuan penerapan ergonomi adalah untuk peningkatan kualitas kehidupan yang lebih baik. Dengan
penerapan ergonomi ini, maka akan tercipta lingkungan kerja aman, sehat dan nyaman sehingga kerja
menjadi lebih produktif dan efisien serta adanya jaminan kualitas kerja (Tim Ergoinstitute, 2008).
Read more: http://juliusthh07.blogspot.com/2010/06/ergonomi-dan-kesehatan.html#ixzz2gCCWb3Pz

TIM DAN SISTEM KERJA


Seiring dengan makin kompleksnya pelayanan kedokteran gigi, profesi di bidang ini turut ikut
berkembang. Bila dahulu cukup hanya dokter gigi saja yang memberikan pelayanan, kini di negaranegara maju seperti Amerika Serikat, pelayanan diberikan oleh sebuah tim yang terdiri dari Dentist,
Dental Hygienist, Dental Assistant, dan Dental Technician. Dentist adalah dokter gigi yang memberikan
pelayanan kedokteran gigi.Dental Hygienist bertugas mengisi Rekam Medis, serta melakukan
tindakan Preventive

Dentistry seperti

membersihkan

karang

gigi

secara

mandiri. Dental

Assistant bertugas sebagai asisten yang membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan,
mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta
mengatur cahaya lampu selama suatu prosedur perawatan sedang dilakukan. Dental Technician berkerja
di Laboratorium, membuat protesa dan alat bantu yang akan dipasang di mulut pasien. Di Indonesia
kondisinya sedikit berbeda, hanya dikenal 2 profesi kesehatan gigi diluar dokter gigi yaitu Perawat Gigi
dan Tekniker Gigi. Perawat Gigi bertugas seperti Dental Assistant dan Dental Hygienist, sedangkan
Tekniker Gigi bertugas sama seperti Dental Technician. Pada saat suatu pelayanan kedokteran gigi

dilakukan hanya akan ada 2 orang yang berada disekitar pasien yaitu Dokter Gigi dan Perawat Gigi.
Tugas kedua orang ini berbeda namun saling mendukung, ini kemudian melahirkan istilah Four Handed
Dentistry. Konsep Four Handed Dentistry telah diadopsi oleh para produser pembuatan dental unit,
sehingga saat ini seluruh dental unit yang dibuat selalu dilengkapi dengan sisi Dental Asistant disebelah
kiri pasien. Oleh karena itulah konsep Four Handed Dentistry menjadi dasar dalam desain tata letak
penempatan alat kedokteran gigi.

JALUR KERJA DAN PERGERAKAN


Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona kerja disekitar Dental
Unit yang disebut Clock Concept. Bila kepala pasien dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang
kepala pasien, maka arah jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4
disebut Assistens Zone, arah jam 4 sampai jam 8 disebut Transfer Zone, kemudian dari arah jam 8 sampai
jam 11 disebutOperators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi Clock Concep (Nusanti,
2000). Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat Gigi serta tidak terlihat
oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi
Instrumen Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat
pergerakan Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan Semprotan Air/Angin dan
Penghisap Ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap.

Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan
tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi Selain
pergerakan yang terjadi di seputar Dental Unit, pergerakan lain yang perlu diperhatikan ketika membuat
desain tata letak alat adalah pergerakan Dokter Gigi, Pasien, dan Perawat Gigi di dalam ruangan maupun
antar ruangan. Jarak antar peralatan serta dengan dinding bangunan perlu diperhitungkan untuk memberi
ruang bagi pergerakan Dokter Gigi, Perawat Gigi, dan Pasien ketika masuk atau keluar Ruang Perawatan,
mengambil sesuatu dari Dental Cabinet, serta pergerakan untuk keperluan sterilisasi. Pergerakan dalam
Ruang Pemeriksaan (Kilpatrick, 1974).

TATA LETAK PENEMPATAN ALAT

Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis,
yaitu menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas
maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga
kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis,
banyak faktor lain yang merupakan unsur ergonomis seperti desain warna, pencahaaan, suhu, kebisingan,
dan kualitas udara ruangan, serta desain peralatan yang digunakan. Ruang Periksa adalah ruang utama
dalam praktek dokter gigi, tata letak peralatan dalam ruangan ini berorientasi memberi kemudahan dan
kenyamanan bagi Dokter Gigi, Perawat Gigi, berserta Pasiennya ketika proses perawatan dilakukan.
Ukuran minimal Ruang
Perawatan untuk satu Dental Unit adalah 2,5 X 3,5 Meter, dalam ruangan ini dapat dimasukan satu
buah Dental Unit, Mobile Cabinet, serta dua buah Dental Stool. Unsur penunjang lain dapat turut
dimasukan seperti audio-video atau televisi untuk hiburan pasien yang sedang dirawat.

Perhatian pertama dalam mendesain penempatan peralatan adalah terhadapDental Unit. Alat ini
bukan kursi statis tetapi dapat direbahkan dan dinaik-turunkan. Pada saat posisi rebah panjang Dental
Unit adalah sekitar 1,8-2 Meter. Di belakangDental Unit diperlukan ruang sebesar 1 Meter
untuk Operators Zone dan Static Zone, oleh karena itu jarak ideal antara ujung bawah Dental
Unit dengan dinding belakang atauDental Cabinet yang diletakkan di belakang adalah 3 Meter; sementara
jarak antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding depan minimal 0,5 Meter. Dental Unitumumnya
memiliki lebar 0,9 Meter, bila Tray dalam kondisi terbuka keluar maka lebar keseluruhan umumnya 1,5
Cm. Jarak dari tiap sisi minimal 0,8 Meter untuk pergerakan diOperators Zone dan Asistants
Zone. Mobile Cabinet sebagai tempat menyimpan bahan dan alat yang akan digunakan pada saat
perawatan diletakan di Static Zone. Zona ini tidak akan terlihat oleh pasien dan terletak
dianatara Operators Zone dan Assistant Zone sehingga baik Dokter Gigi maupun Perawat Gigi akan
dengan mudah mengambil bahan maupun alat yang diperlukan dalam perawatan. Bila Mobile
Cabinet lebih dari satu, maka Mobile Cabinet kedua diletakan di Operators Zone.
Alat besar terakhir yang berada di Ruang Perawatan adalah Dental Cabinetsebagai tempat
penyimpanan utama bahan maupun alat kedokteran gigi. Umumnya berbentuk bufet setengah badan
seperti Kitchen Cabinet dengan ketebalan 0,6-0,8 Meter. Bila hanya satu sisi, lemari ini ditempatkan
di Static Zone, sedangkan bila berbentuk L, ditempatkan di Static Zone dan Assistants Zone.
Keberadaan Dental Cabinet akan menambah luas ruangan yang diperlukan untuk menempatkannya.

ERGONOMICAL AGENT
Ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis tentang manusia bersama-sama dengan ilmu-ilmu
teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari menusia terhadap
pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja. Ergonomi
merupakan pertemuan dari berbagai lapangan ilmu seperti antropologi, biometrika, faal kerja, higeine
perusahaan dan kesehatan kerja, perencanaan kerja, riset terpakai, dan cybernetika. Namun kekhususan
utamanya adalah perencanaan dari cara bekerja yang lebih baik meliputi tata kerja dan peralatannya.
Ergonomi dapat mengurangi beban kerja. Dengan evaluasi fisiologis, psikologis atau cara tak langsung,
beban kerja dapat diukur dan dinjurkan modifikasi yang sesuai antara kapasitas kerja dengan beban kerja
dan beban tambahan. Tujuan utamanya adalah untuk menjamin kesehatan kerja dan meningkatkan
produktivitas.
1. Disain tempat kerja: gambaran dasar untuk kenyamanan, produktifitas dan keamanan.
a. Rancangan dan arus lalulintas.
b. Pencahayaan.
c. Temperatur, kelembaban dan ventilasi
d. Mobilisasi (aktifitas kerja).
e. Fasilitas sanitasi dan drainase (tempat pembuangan limbah cair dan padat).
Proses dan disain perlengkapan untuk fungsi dan keamanan. Disain tempat dan alat kerja akan
mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan produktifitas dalam bekerja. Misalnya:

Posisi duduk pada saat membuat klamer, menekuk kawat, menggerinda, melakukan sand blasting,
melakukan pemolesan, dan lain-lain.

Gambar 1. A. Posisi pada saat melakukan sand blasting

B. Posisi pada saat melakukan

pemolesan denture

Posisi saat melakukan pengepresan, saat mengangkat handpress dan kuvet,


saat mengangkat panci, dan lain-lain.

Gambar 2. Posisi pada saat melakukan pengepresan

3. Fungsi dan tugas: fungsi dan tugas orang dengan pekerjaan yang pantas. Misalnya: Karyawan dibagian
pengecoran logam, pengepressan harus punya spesifikasi tertentu misalnya berat dan tinggi badan
ideal,
dan lain-lain.

Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda-tanda suatu sistem kerja yang tidak
ergonomik:
1.

Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan

2.

Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan

3.

Pekerja sering melakukan kesalahan (human error)

4.

Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang

5.

Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja

6.

Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang

7.

Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok

8.

Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup

9.

Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan

10. Komitmen kerja yang rendah


11. Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian
terhadap pekerjaan bahkan keapatisan

KELELAHAN / FATIQUE
Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan,dalam hal ini kita harus
waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai
berikut :
1. Kelelahan fisik: Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan
diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah
istirahat dan tidur yang cukup.
2. Kelelahan yang patologis: Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul
tiba-tiba dan berat gejalanya.
3. Psikologis dan emotional fatique: Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan
sejenis mekanisme melarikan diri dari kenyataan pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan
motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.

UPAYA MENGURANGI KELELAHAN


Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas ketahanan,
akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi :
1.

Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia.

2.

Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising

3.

Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang.

4.

Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor.

5.

Tempo kegiatan tidak harus terus menerus

6.

Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan.

7.

Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja.

8.

Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja.

9.

Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja

10. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya; Pekerja remaja, Wanita hamil dan
menyusui, Pekerja yang telah berumur, Pekerja shift, dan Migrant.

MUSCULOSKELETAL
Kondisi pekerjaan utama dari dokter gigi telah dijelaskan dalam literatur pada dekade ke-6. Di antara
mereka, gangguan muskuloskeletal memiliki insiden tertinggi pada kelompok kerja. (Gambar 1)

Gambar 1. Insiden kondisi kerja utama di dokter


gigi (setelah Murphy) 11.

Kondisi ini dijelaskan dalam literatur di bawah beberapa nama yang merujuk baik untuk definisi mereka
seperti itu, atau untuk karakter kumulatif mereka atau untuk menentukan penyebab sebagai berikut:
1. Kerja terkait gangguan muskuloskeletal (WR-MSD);
2. Karena tugas yang berulang (RSI) Kondisi;
3. Trauma dengan efek kumulatif (CTD).
Nama di mana mereka digambarkan tidak penting, karena mereka semua mengacu pada semua gangguan
tentang tulang, otot, sendi dan saraf - untuk kondisi yang mempengaruhi misalnya tulang punggung,
sindrom carpal tunnel, dll Tendinitis

Faktor yang mendukung dari MSD :


1. Gerakan berulang-ulang: mereka merujuk pada gerakan yang sama atau suksesi gerakan yang dibuat
secara berkala atau terus-menerus untuk jangka waktu yang panjang. Mereka dikaitkan dengan tingkat
presisi yang tinggi, dan dilakukan pada wilayah yang sangat terbatas.
2. Posisi tidak nyaman (operator dan posisi yang tidak benar pasien): posisi postural persyaratan otot
minimal untuk semua tingkat (posisi netral), baik dalam posisi berdiri atau bekerja dalam satu duduk.
Postur yang berbeda dari yang satu ini menyiratkan suatu strain otot meningkat hingga tingkat tertentu.
3. Waktu yang lama kegiatan yang lebih dari gerakan berulang atau postur tidak nyaman dipertahankan.
4. Kurangnya istirahat dalam aktivitas atau istirahat tidak teratur (kurangnya relaksasi otot).
5. Gerakan kuat yang terkait dengan tangan menggenggam instrumen.
6. Getaran - mereka dapat mempengaruhi bagian tertentu dari tubuh, misalnya tangan, ketika
menggunakan
peralatan mekanik yang menghasilkan getaran lokal. Getaran dapat juga diberikan pada para pekerja
seluruh tubuh, misalnya dengan peralatan pneumatik pengeboran.
7. Lingkungan sekitarnya tidak nyaman - misalnya peningkatan suhu dan kelembaban, kebisingan yang
berlebihan, petir tidak benar.
8. Karena organisasi yang salah dari kegiatan ini (misalnya tekanan waktu, jawaban atas kecemasan
pasien
dll) stres.

TOLAK UKUR DALAM MENGURANGI GANGGUAN KERJA

Gambar 2. Standar dimensi ergonomis tubuh


dokter gigi dalam kaitannya dengan tubuh pasien.

Gerakan dokter gigi dalam kantor gigi dan gerakan-gerakan khusus dia / dia bisa membuat selama
prosedur gigi (akses ke instrumen, penyesuaian sumber cahaya, perubahan posisi kerja, dll) yang
diperhitungkan dari sudut pandang ergonomis . Posisi pasien dan organisasi dari instrumen dan peralatan
yang

didirikan

dalam

rangka

untuk

mempertahankan

posisi

kerja

yang

benar.

Postur kerja yang benar adalah titik awal dari semua penentuan ergonomis lainnya. Oleh karena itu, kursi
gigi masa depan akan harus menyediakan kenyamanan dokter kebutuhan selama kegiatan itu. Pengukuran
utama yang diperlukan untuk melaksanakan untuk setiap komponen dari kursi adalah: permukaan
pesawat, punggung dan kaki kursi. Kami juga dapat membangun ruang maksimum dokter gigi akses di
kursi gigi (Total lengan menyebar diperlukan untuk menyesuaikan instrumen kerja / sumber cahaya).
Penelitian ergonomis mendirikan posisi yang benar tubuh dokter gigi harus memiliki saat bekerja: kursi
harus disesuaikan sedemikian rupa kaki harus bersandar pada lantai (sudut yang dibentuk antara paha dan
bagian bawah kaki harus minimum 90o), kolom tulang belakang harus lurus seperti itu mungkin, lordosis
fisiologis dari kolom tulang belakang lumbal harus dijaga dan bahu harus membentuk garis, tegak lurus
lurus di lantai bersama dengan pinggul. Siku harus di samping tubuh, membungkuk untuk 90o. (Gambar
2)

PERATURAN DAN STANDAR PERALATAN OPERASI GIGI


Identifikasi banyak pekerjaan yang berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal (kebanyakan
terkait dengan postur kerja dan antarmuka manusia-peralatan) menyebabkan pembentukan ISO 6385 dan
ISO 11226. Mereka menetapkan kriteria pada orientasi dalam merancang peralatan yang digunakan dalam
praktek gigi. Hal ini juga berisi beberapa "Prinsip Panduan Umum", mewakili pilihan aspek relevan.

Standar ISO 6385 "Prinsip Ergonomi Peralatan Merancang" berisi petunjuk penting berikut:
1. Merancang ruang kerja dan peralatan;
2. Merancang dalam hubungannya dengan kekuatan, postur otot dan gerakan tubuh;
3. Merancang lingkungan kerja.
Standar ISO 11226 "Ergonomi - penilaian postur statis bekerja" memiliki orientasi sebagai
berikut:
1. Untuk mempertahankan postur santai;
2. Untuk alternatif postur kerja (kerja yang dinamis);
3. Untuk praktek olahraga dan latihan untuk memperkuat otot korset.

HIPERSENSITIVITAS GIGI
Hipersentivitas gigi, sensitivitas dentin atau hipersensitivitas sering digunakan untuk
mendeskripsikan kondisi klinis dari respon berlebihan dari stimulus exogen.
Stimulus exogen termasuk thermal, taktil, atau perubahan osmotik. Yang mana
stimulus ekstrim dapat membuat semua gigi sakit. Kata hipersensitivitas berarti respon
sakit pada stimulus tidak normal yang berhubungan dengan nyeri (Garg,2010). Nyeri
sering di deskripsikan sebagai sensori tidak menyenangkan dan pengalaman
emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sebenarnya atau
berpotensi terjadi kerusakan jaringan (Garg,2010)
Hipersensitivitas dentin terjadi karena terbukanya dentin yang pada umumnya
disebabkan karena resesi gingiva akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi

dan erosi. Pada umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit atau ngilu
apabila terjadi kontak dengan rangsangan dari luar seperti panas dingin, dehidrasi
(hembusan udara), asam, maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde, pinset, dan
lain-lain. Bagi penderita rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan, dimana secara tidak
langsung akan menimbulkan masalah lain seperti terganggunya pembersihan gigi dan
mulut, sehingga kebersihan mulut kurang sempurna yang akhirnya akan menyebabkan
kelainan periodontal. Untuk mencegah terjadinya kelainan lebih lanjut maka
hipersensitivitas dentin perlu dirawat.(Prijantijo, 1996).
Reaksi hipersensitifitas pada gigi sering dikaitkan dengan teori hidrodinamik. Teori
hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah proses penerusan perpindahan cairan
dentin ke tubulus dentin, yang mana merupakan perpindahan ke salah satu arah yaitu
ke arah luar (permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan menstimulasi nervus sensoris
pada dentin atau pulpa. Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi sebagai respon
terhadap perubahan temperatur, tekanan, atau mekanik yang menghasilkan deformasi
mekanis pada odontoblas dan saraf di dekatnya (Ingle, 2002) . Teori hidrodinamik
menjelaskan reaksi rasa sakit pulpa terhadap panas, dingin, pemotongan dentin,
dan probing dentin. Panas mengembangkan cairan dentin, sedang dingin mengerutkan
cairan dentin, memotong tubuli dentin memungkinkan cairan dentin keluar, dan
melakukan probing pada permukaan dentin yang dipotong atau terbuka dapat merusak
bentuk tubuli dan menyebabkan gerakan cairan. Semua rangsangan ini mengakibatkan
gerakan cairan dentin dan menggiatkan ujung saraf.(Grossman, 1988).
Pada dasarnya dentin bersifat sensitif karena secara struktural mengandung serabut
saraf yang berjalan dalam tubulus dari arah pulpa. Namun kesensitifan ini tidak
menimbulkan masalah karena adanya jaringan lain yang melindungi dentin yaitu

tubulus, enamel, dan ginggiva. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa tubulus


dentin pada pesien dengan dentin hypersensitivity ditemukan lebih banyak
dan berkembang dibandingkan dengan orang normal.Hasil ini selaras dengan hipotesis
bahwa rasa nyeri dimediasi oleh mekanisme hidrodinamik. (Orchardson and Gillam,
2006).

Erosi gigi dapat meningkatkan sensitivitas dari dentin sehingga gigi lebih sensitif saat
terpapar rangsangan, terutama rangsangan suhu. Keadaan ini sering disebut
hipersensitivitas dentin yang semakin hari semakin sering dijumpai.
Hipersensitivitas dentin ini dapat diketahui dari intensitas nyeri yang
dihasilkan. Semakin berat hipersensitivitas dentin yang terjadi, semakin berat
pula intensitas nyeri yang dihasilkan.(Mitchell, 2004).
Gigi sensitif diakibatkan oleh terbukanya lapisan dentin. Ketika lapisan dentin terbuka,
rangsang termal akan mudah terdeteksi, sehingga akan membuat gigi terasa linu ketika
makan/ minum dengan suhu yang dingin. Beberapa perawatan gigi ada juga yang
mengakhibatkan gigi sensitif. Di antaranya pemutihan gigi, pembersihan karang gigi /
skeling, perawatan kawat gigi, dan penambalan gigi (Ardyan, 2010). Penambalan gigi
harus dilakukan dengan prosedur yang tepat, selain itu menjaga kebersihan mulut
tetaplah penting. Gigi yang telah ditambal dan tidak dijaga kebersihannya
memungkinkan terjadinya karies sekunder. Karies sekunder ini merupakan karies
kompleks yang terbentuk setelah karies primer. Karies sekunder akan berakhibat
terbukanya lapisan dentin lebih dalam menuju pulpa, sehingga rangsang termal akan
lebih mudah masuk ke ujung saraf di pulpa, akhibatnya sensitifitas gigi akan meningkat.
( David, 2008 ).

Patofisiologi
Terdapat tiga teori mengenai terjadinya karies yaitu teori asidogenik (teori kemoparasiter
Miller), teori proteolitik, dan teori proteolisis kelasi.
1. Teori Asidogarik
Miller (1882) menyatakan bahwa kerusakan gigi adalah proses kemoparasiter yang terdiri atas
dua tahap, yaitu dekalsifikasi email sehingga terjadi kerusakan total email dan dekalsifikasi
dentin pada tahap awal diikuti oleh pelarutan residunya yang telah melunak. Asam yang
dihasilkan oleh bakteri asidogenik dalam proses fermentasi karbohidrat dapat mendekalsifikasi
dentin, menurut teori ini, karbohidrat, mikroorganisme, asam, dan plak gigi berperan dalam
proses pembentukan karies.
2. Teori Proteolitik
Gottlieb (1944) mempostulasikan bahwa karies merupakan suatu proses proteolisis bahan
organik dalam jaringan keras gigi oleh produk bakteri. Dalam teori ini dikatakan
mikroorganisme menginvasi jalan organik seperti lamela email dan sarung batang email
(enamel rod sheath), serta merusak bagian-bagian organik ini. Proteolisis juga disertai
pembentukan asam. Pigmentasikuning merupakan ciri karies yang disebabkan produksi

pigmen oleh bakteri proteolitik. Teori proteolitik ini menjelaskan terjadinya karies dentin
dengan email yang masih baik.
Manley dan Hardwick (1951) menggabungkan teori proteolitik dan teori asidogenik.
Menurut mereka teori-teori tersebut dapat berjalan sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Teori ini menyatakan bahwa bakteri dapat membentuk asam dari substrat karbohidrat, dan
bakteri tertentu dapat merusak protein jika tidak ada karbohidrat, karena itu terdapat dua tipe
lesi karies. Pada tipe I, bakteri menginvasi lamela email, menyerang email dan dentin sebelum
tampak adanya gejala klinis karies. Pada tipe II, tidak ada lamela email, hanya terdapat
perubahan pada email sebelum terjadi invasi mikroorganisme. Perubahan email ini terjadi
akibat dekalsifikasi email oleh asam yang dibentuk oleh bakteri dalam plak gigi di atas email.
Lesi awal ini disebut juga chalky enamel.
3. Teori Proteolisis Kelasi
Teori ini diformulasikan oleh Schatz (1955). Kelasi adalah suatu pembentukan
kompleks logam melalui ikatan kovalen koordinat yang menghasilkan suatu kelat. Teori ini
menyatakan bahwa serangan bakteri pada email dimulai oleh mikroorganisme yang
keratinolitik dan terdiri atas perusakan protein serta komponen organik email lainnya, terutama
keratin. Ini menyebabkan pembentukan zat-zat yang dapat membentuk kelat dan larut dengan
komponen mineral gigi sehingga terjadi dekalsifikasi email pada pH netral atau basa.
Manifestasi Klinis
Gambaran klinis karies email yaitu:
1. Lesi dini atau lesi bercak putih/coklat (karies insipien)
2. Lesi lanjut (lesi yang telah mengalami kavitasi)
Gejala paling dini karies email secara makroskopik adalah suatu bercak putih. Bercak
ini jelas terlihat pada gigi cabutan yang kering yang tampak sebagai suatu lesi kecil, opak dan
merupakan daerah berwarna putih, terletak sedikit ke arah serviks dari titik kontak. Warna
tampak berbeda dibandingkan email di sekitarnya yang masih sehat. Pada tahap ini, deteksi
dengan sonde tidak dapat dilakukan karena email yang mengelilinginya masih keras dan

mengkilap. Kadang-kadang lesi tampak coklat karena materi yang terserap ke dalam poriporinya.
Baik bercak putih maupun coklat bisa bertahan bertahun-tahun lamanya karena perkembangan
lesi tersebut dapat dicegah. Jika lesi email sempat berkembang, permukaan yang semula utuh
akan pecah (kavitasi) dan akan terbentuk lubang (kavitas).
Pada saat pemeriksaan diperlukan pencahayaan yang baik. Gigi harus bersih dan kering,
sehingga kotoran dan karang gigi harus dibersihkan dahulu. Gigi yang sudah kering harus
diisolasi dengan gulungan kapas agar tidak basah oleh saliva. Gigi harus betul-betul kering dan
pengeringan biasanya dengan penyemprotan secara perlahan-lahan.
Untuk menemukan tanda awal karies diperlukan penglihatan yang tajam. Biasanya
pemeriksaan dilakukan dengan sonde tajam sampai terasa menyangkut. Sebaiknya hal ini
jangan dilakukan karena sonde tajam akan merusak lesi karies yang masih baru dan bakteri
akan terbawa dalam lesi sehingga kariesnya menyebar.
Pemeriksaan Penunjang
Radiograf bite wing diperlukan dalam penegakkan diagnosis. Pada teknik ini sinar diarahkan
tegak lurus terhadap sumbu gigi dan menyinggung titik kontak. Film diletakkan di sebelah
lingual gigi posterior. Pasien menahan posisi tersebut dengan menggigit pegangan filmnya. Tiap
daerah yang mungkin diserang kariesharus dinilai secara tersendiri.
Diagnosis
Berdasarkan pola klinisnya, Nikiforuk membagi karies menjadi 3 golongan yaitu menurut
morfologi, dinamika, dan keparahan.
Yang termasuk golongan morfologi adalah karies pit dan fisur, kariespermukaan
halus, karies akar atau karies sementum, dan karies email linier. Karies pit dan fisur tipe
primer terbentuk di permukaan oklusal molar dan premolar, permukaan bukal dan lingual
molar dan permukaan lingual insisivus maksila. Pit dan fisur yang berdinding tinggi dan terjal
serta berdasar sempit paling rentan terhadap karies. Pit dan fisur kadang dianggap kelainan
perkembangan, terutama karena email pada tempat yang dalam sering sangat tipis, bahkan
terkadang tidak ada sehingga dentin terpapar. Pit dan fisur pada proses awal karies tampak

coklat atau hitam, terasa agak lembut. Email yang berbatasan dengan pit dan fisur tersebut
mungkin terlihat opak putih kebiruan karena proses di bawahnya. Proses ini terjadi melalui
penyebaran lateral kariespada batas dentin dan email, sehingga dapat terbentuk lubang yang
besar di bawah email.
Karies permukaan halus timbul pada permukaan proksimal gigi dan sepertiga gingival
permukaan bukal dan lingual. Karies ini jarang timbul pada bagian lain, kecuali pada gigi yang
malformasi atau malposisi. Karies ini biasanya diawali dengan pembentukan plak. Karies
proksimal biasanya timbul tepat di bawah titik kontak dan awalnya tampak opaksitas putih
samar pada email tanpa diskontinuitas permukaan email. Pada beberapa kasus dapat tampak
sebagai daerah berpigmentasi kuning atau coklat dan berbatas tegas. Tempat putih kapur ini
kemudian menjadi agak kasar karena dekalsifikasi superfisial. Dengan penetrasi karies ke
email, email di sekitar lesi menjadi putih kebiruan. Karies yang cepat menyebar umumnya
mempunyai tempat penetrasi kecil, sedang yang lambat biasanya membentuk lubang terbuka
yang dangkal.
Karies servikal terdapat pada permukaan bukal, lingual, atau labial. Lesi kariesservikal adalah
kavitas berbentuk bulan sabit, bermula sebagai daerah putih agak kasar yang kemudian
berlubang. Karies ini hampir selalu berupa lubang terbuka dan tidak menunjukkan titik
penetrasi sempit seperti pada karies pitdan fisur Karies ini tidak mempunyai predileksi pada
gigi tertentu.
Hal penting pada proses perkembangan karies di email adalah perembesan asam ke dalam
substansinya. Secara klinis tahapan tersebut dibagi menjadi beberapa fase, yaitu lesi dini,
remineralisasi, dan kavitasi.
Lesi karies email berbentuk kerucut dengan puncak di permukaan luar pada daerah pit dan
fisur, sedangkan pada karies permukaan halus, puncak kerucut mengarah ke batas dentinemail (dentino-enamel junction). MenurutFeyersjkov, bentuk ini mengikuti arah prisma
email.
Penelitian histologi menunjukkan bahwa karies tidak hanya proses demineralisasi yang
progresif tapi juga suatu proses perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Dengan
menggunakan mikroskop cahaya, radiografi mikro, mikroskop elektron transmisi, dan
remineralisasi dapat didefinisikan sebagai suatu penempatan mineral anorganik di daerah yang

sebelumnya telah kehilangan mineral tersebut. Karies gigi diwarnai oleh periode perusakan dan
perbaikan, Untungnya gigi terbenam dalam saliva, yaitu cairan yang berpotensi menimbulkan
remineralisasi. Namun jika terjadi kavitasi, remineralisasi tak dapat menambal lubangnya.

Jika lesi berkembang terus zona permukaan akhirnya akan pecah dan membentuk kavitas.
Sehingga sekarang plak akan terbentuk dalam kavitas dan terlindung dari usaha pembersihan
seperti menyikat gigi. Karena itu suatu lesi vang telah mengalami kavitasi berkembang lebih
cepat, dapat terhenti walaupun masih menetap dan mengalami remineralisasi sebagian. Hal ini
terutama bila terjadi perubahan diet, mikroorganisme yang kariogenik mengalami kekurangan
substrat yang dibutuhkan, atau lesi berada pada permukaan yang mudah dibersihkan.
Seperti halnya pada karies di email perubahan awal disebabkan bukan oleh bakteri tetapi
akibat difusi asam ke dalam jaringan. Sekali email telah berhasil dipenetrasi oleh bakteri, maka
dentin akan terbuka bagi serangan bakteri secara langsung.
Menurut dinamikanya, karies terdiri
atas karies insipien, karies rampan,karies terhenti, karies sekunder, dan karies radiasi.
Manifestasi paling awal karies email insipien adalah timbulnya area dekalsifikasi di bawah
plak gigi yang mirip dengan permukaan kapur yang licin.
Karies rampan adalah kerusakan beberapa gigi secara cepat dan sering melibatkan permukaan
gigi yang biasanya bebas karies. Terutama dijumpai pada gigi susu bayi yang selalu menghisap
dot bergula, juga dapat dijumpai pada remaja yang sering makan kudapan kariogenik dan
minuman manis, serta pada penderita xerostomia.
Karies terhenti adalah suatu lesi yang tidak berkembang. Dijumpai jika lingkungan oral berubah
dari yang memungkinkan timbul karies menjadi keadaan yang cenderung
menghentikan karies.
Berdasarkan keparahan atau kecepatan berkembangnya, karies dikatakan ringan bila terkena
pada daerah yang sangat rentan, misalnya permukaan oklusal gigi molar permanen, dikatakan
moderat bila terkena pada permukaan oklusal dan proksimal gigi posterior,dan dikatakan parah
jika menyerang gigi anterior, daerah yang biasanya bebas karies.

Karies bisa juga digolongkan berdasarkan kronologi, yaitu karies susu botol
dan karies adolesen. Juga terdapat klasifikasi secara klinis yang
membagikaries menjadi karies akut dan kronik.
Penatalaksanaan
Setelah diagnosis karies ditegakkan, maka ada dua cara pendekatan yang mungkin ditempuh,
yaitu :
o Menggunakan usaha preventif untuk mencoba menghentikan penyakit
o Membuang jaringan yang rusak dan menggantikannya dengan restorasi disertai usaha
pencegahan terhadap rekurensinya.
Kedua pendekatan di atas dipertimbangkan berdasarkan informasi diagnostik yang bisa
diperoleh.
Usaha-usaha pencegahan yang dilakukan berkaitan dengan peran karbohidrat di antaranya
adalah:
o Menurunkan konsumsi sukrosa
o Mengubah bentuk fisik makanan yang dikonsumsi, misalnya dengan menghindari makanan
yang lengket.
Perawatan invasid dari jaringan keras gigi

Tidak seperti karies, keausan pada gigi merupakan proses irreversible. Manajemen harus
mempunyai tujuan untuk mempertahankan gigi fungsional yang nyaman dan penampilan yang
baik, untukitu pencegahan dan pemantauan harus ditekankan untuk tahap awal, menghindari
restorasi sampai diperlukan. Restorasi dibutuhkan hanya ketika pasien khawatir terhadap
penampilan, atau gigi menjadi sensitif. Atau dokter gigi menjadi khawatir terhadap perubahan
fisik seperti perubahan dimensi vertikal oklusal, atau terbukanya pulpa. Jika restorasi
ditempatkan ketika keausan masih berlangsung, terutama erosi, restorasi tersebut dapat
mempercepat daripada memperlambat laju keausan gigi disekitarnya. Pada kasus lanjut, crown
dibutuhkan.1
Perawatan Atrisi

Pada atrisi, perawatan tidak perlu dilakukan apabila pembentukan dentin sekunder seimbang
dengan terjadinya atrisi. Ketika mahkota sudah aus dan mencapai margin gingiva, gigi tiruan
dapat dibuat untuk meningkatkan fungsi.2
Perawatan Abrasi
Pada abrasi membutuhkan eliminasi kebiasaan dan restorasi apabila fungsi dan faktor estetik
menjadi masalah. Abrasi berhubungan dengan maloklusi yang dapat membutuhkan rehabilitasi
oklusal dan evaluasi periodontal secara komplit. Alat night-guard dapat mengurangi abrasi pada
pasien yang mempunyai kebiasaan bruxism.3
Perawatan Erosi
Area erosi dapat menjadisensitif dan harus derstorasi dengan conventional operative procedure.4
Dokter gigi mengganti gigi yang erosi dengan material restorasi. Jika erosinya ekstensif, harus
dibuat crown.5
Perawatan Abfraksi
Restorasi abfraksi membutuhkan kombinasi restorasi kedokteran gigi adhesive dan terapi
penyesuaian oklusi. Perawatan restorasi mengisi struktur akar yang terbuka dengan komposit
yang dibonding, sementara penyesuaian oklusi mengurangi gaya-gaya lateral yang menyebabkan
momen lateral terjadi secara berulang. Tanpa adanya penyesuaian oklusi, akan mengalami
kerusakan seperti abfraksi.6
1 Kidd, et al. Pickards Manual of Operative Dentistry. USA: Oxford University Press. 8 th ed. 2003. P 27.
2 Eversole, Lewis R. Clinical Outline of Oral Phatotogy. USA: PMPH-USA. 4 th ed. 2011. P 574
3 Eversole, Lewis R. Clinical Outline of Oral Phatotogy. USA: PMPH-USA. 4 th ed. 2011. P 575
4 Eversole, Lewis R. Clinical Outline of Oral Phatotogy. USA: PMPH-USA. 4 th ed. 2011. P 576
5 Kunnamo. Based Medicine Guidelines. Finland: Duodecaim Medical Publication. 2005. P 256
6 Grippo. Abfractions; A New Clacification of Hard Tissue Lesions of The Teeth. J Esthet Dent 1991. 3(1): 14-19