Anda di halaman 1dari 70

REDUKSI KETERGANTUNGAN

DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN PENDIDIKAN NASIONAL


MEWUJUDKAN GENERASI EMAS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Landasan Kependidikan


Semester 1 Dosen Pengampu. Dr. Catharina Tri Anni

Oleh :
SITI AROFAH
/ NIM. 0102514035
AGUS SAEFUDIN / NIM. 0102514057
SUYATNO
/ NIM. 0102514068

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PEDIDIKAN
KONSENTRASI KEPENGAWASAN SEKOLAH
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
DESEMBER
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan banyak kenikmatan, utamanya nikmat iman, sehat, sempat dan
diberi kekuatan tetap setia mengabdi pada bidang pendidikan untuk berperan
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa
naskah Makalah Kelompok Bab 14 Dependency Theory in Comparative Education
yang kami breakdown menjadi makalah dengan judul Reduksi Ketergantungan
dalam pemberdayaan Pendidikan Nasional Mewujudkan Generasi Emas dapat
diselesaikan dengan baik dan sebagai bahan diskusi serta berbagi bagi kemajuan
pendidikan di tanah air tercinta Indonesia ini. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas kelompok mata kuliah Landasan Kependidikan dengan dosen
pengampu Dr. Catharina Tri Anni.
Banyak bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak dalam penyusunan
makalah ini, untuk itu disampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. Catharina Tri Anni yang telah memberikan bimbingan dan banyak ilmu
tentang landasan kependidikan kepada kami;
2. Teman-teman mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan (Kepengawasan Sekolah)
Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang yang merupakan mitra
diskusi dan berbagi pengalaman yang luar biasa, bersama kami mempunyai
mimpi untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi;
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang mendukung kami
dalam menyelesaikan makalah ini.
Semoga semua kebaikan yang telah diberikan mendapatkan imbalan pahala yang
berlipat dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Penulis menyadari makalah ini masih banyak terdapat kekurangan untuk
itu saran demi perbaikan sangat dinantikan. Penulis berharap semoga makalah ini
membawa manfaat dan dapat menjadi media dalam berbagi bagi kemajuan
pendidikan di Indonesia. Amin.

Semarang, Desember 2014


Kelompok Bab 14
1. Siti Arofah
/ NIM. 0102514035
2. Agus Saefudin / NIM. 0102514057
3. Suyatno
/ NIM. 0102514068

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................


Kata Pengantar ...................................................................................
Daftar Isi .............................................................................................
Daftar Gambar ....................................................................................
Abstrak ...............................................................................................

Halaman
i
ii
iii
iv
v

BAB I

PENDAHULUAN ...................................................................
A. Latar Belakang ............................................................
B. Rumusan Masalah ......................................................
C. Tujuan .........................................................................
D. Manfaat ......................................................................

1
1
7
7
7

BAB II

KAJIAN TEORI .......................................................................


A. Teori Ketergantungan ..................................................
B. Penerapan Teori Ketergantungan ................................
C. Generasi Emas Indonesia .............................................
D. Kerangka Berfikir ........................................................

9
9
13
16
18

BAB III

PEMBAHASAN .................................................................
A. Mewujudkan Generasi Emas Melalui Reduksi
Ketergantungan ...........................................................
B. Praksis Pendidikan Nasional yang dapat Mewujudkan
Generasi Emas .............................................................
1. Pergerakan Ki Hajar Dewantara .............................
2. Pendidikan Karakter ..............................................
3. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education)
4. Pendidikan untuk Mewujudkan Generasi Emas
C. Hambatan yang Dihadapi Pendidikan Nasional dalam
Rangka Mewujudkan Generasi Emas ...........................
D. Solusi untuk Menghadapi Hambatan yang Dihadapi
Pendidikan Nasional dalam Rangka Mewujudkan
Generasi Emas .............................................................

19

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN .......................................................


A. Simpulan .....................................................................
B. Saran ...........................................................................

62
62
63

Daftar Pustaka

iii

19
28
30
34
39
50
53

57

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.

Gambar 2.

Kerangka Berfikir Reduksi Ketergantungan Dalam Upaya


Pemberdayaan Pendidikan Nasional Untuk Mewujudkan
Generasi Emas .......................................................................

Nilai-nilai Karakter Berlandaskan Budaya Bangsa ..........

iv

18
57

ABSTRAK
REDUKSI KETERGANTUNGAN DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN
PENDIDIKAN NASIONAL MEWUJUDKAN GENERASI EMAS
Oleh: Siti Arofah, Agus Saefudin, dan Suyatno

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah memberikan penjelasan tentang: (1)
upaya mewujudkan generasi emas Indonesia dengan mereduksi ketergantungan
terhadap negara maju dengan memberdayakan pendidikan nasional, (2) praksis
pendidikan nasional yang dapat mewujudkan generasi emas Indonesia (3)
hambatan yang dihadapi oleh pendidikan nasional dalam rangka mewujudkan
generasi emas, dan (4) solusi bagi hambatan-hambatan yang dihadapi oleh
pendidikan nasional dalam rangka mewujudkan generasi emas.
Mewujudkan generasi emas Indonesia dengan mereduksi ketergantungan
terhadap negara maju dilakukan dengan memberdayakan pendidikan nasional
pendidikan yang berjati diri dan berkarakter kebangsaan yang kuat. Praksis
pendidikan nasional yang dapat mewujudkan generasi emas Indonesia
diantaranya adalah: (1) penerapan prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara ing
ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani, (2) penerapan
pendidikan karakter meliputi: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif,
mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaaan, cinta tanah air,
menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca,
peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab, serta (3) penerapan
pendidikan kecakapan hidup (life skill education).
Hambatan yang dihadapi oleh pendidikan nasional dalam rangka
mewujudkan generasi emas diantaranya adalah: tantangan diri sendiri, tantangan
dari dalam negeri, dan tantangan global. Solusi bagi hambatan-hambatan yang
dihadapi oleh pendidikan nasional dalam rangka mewujudkan generasi emas
dimulai dengan memandang belajar secara benar. Guru dalam melakukan
kegiatan pembelajaran berlandaskan pada empat pilar pendidikan menurut
UNESCO, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, dan
learning to be. Guru menanamkan karakter kewirausahaan pada peserta didik
yang mengandung unsur eksplorasi rasa ingin tahu/inquiry, fleksibilitas berpikir,
kreativitas, kemampuan berinovasi, tidak takut pada resiko dan memprioritaskan
praktek di lapangan

Kata Kunci: reduksi ketergantungan, pendidikan nasional, generasi emas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional Indonesia adalah
pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan
zaman. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka

mencerdaskan

kehidupan

bangsa,

bertujuan

untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman


dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Lebih lanjut disebutkan bahwa ada 6
(enam) prinsip penyelenggaraan pendidikan, yaitu:
a. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
b. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistem terbuka dan multimakna.
c. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

d. Pendidikan

diselenggarakan

dengan

memberi

keteladanan,

membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik


dalam proses pembelajaran.
e. Pendidikan

diselenggarakan

dengan

mengembangkan

budaya

membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.


f. Pendidikan

diselenggarakan

dengan

memberdayakan

semua

komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan


dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Dari dasar legal formal ini jelas terlihat bahwa pendidikan nasional
Indonesia berdaulat penuh dan bermuara pada mewujudkan manusia
paripurna yang biasa disebut sebagi manusia seutuhnya. Manusia
seutuhnya adalah manusia yang berkepribadian utuh yang dapat
menyeleraskan, menyeimbangkan, dan menyerasikan aspek manusia
sebagai makhluk individu, sosial, religius, bagian dari alam semesta, bagian
dari bangsa-bangsa lain, dan kebutuhan untuk mengejar kemajuan lahir
maupun kebahagiaan batin. Dengan demikian pendidikan bukan hanya
mengasah kecerdasan intelektual semata, tetapi juga kecerdasan
emosional dan spiritual. Lulusan paripurna yang tangguh seperti inilah
yang senantiasa diupayakan untuk dicapai oleh pendidikan nasional.
Pemerintah Indonesia telah mencangkan program Generasi Emas
Indonesia 2045 pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2012
oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan ketika itu Muhammad Nuh.
Generasi emas adalah generasi bangsa yang kreatif, inovatif, produktif,
mampu berpikir orde tinggi, berkarakter, cinta dan bangga menjadi bangsa
Indonesia. Tepat pada tahun 2045 kedepan, Indonesia secara matematis
100 tahun terlepas dari belenggu penjajah. Ditahun tersebut Indonesia
mengharap memiliki gold generation yang dapat membangun bangsa
kearah yang lebih baik. Tahun 2012 ini hingga 2035 adalah masa menanam
generasi emas tersebut. Oleh karenanya, dalam kurun waktu tersebut
pemerintah dan segenap masyarakat terus menggalakkan program

pendidikan. Salah satu bukti keseriusan pemerintah ialah dengan


penerapan Kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 tak hanya aspek
kognitif (transfer keilmuan) yang dikejar. Pemerintah juga mulai
menekankan pentingnya pendidikan karakter (aspek afektif). Revolusi
mental menjadi penting, sebab akhir-akhir ini nilai-nilai keluhuran bangsa
semakin luntur. Aspek yang tak kalah juga harus mendapat perhatian ialah
aspek psikomotorik. Keseimbangan antara 3 komponen ini adalah modal
dasar dalam rangka menyongsong generasi emas indonesia 2045.
Ketercapaian

penguasaan

akademik,

karakter

yang santun

dan

keterampilan yang mumpuni merupakan faktor kunci untuk menghasilkan


manusia Indonesia yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang
kompetitif. Dengan demikian harapan pemerintah untuk menjadikan
Indonesia sebagai negara yang menempati posisi 12 besar dunia pada 2025
dan 8 (delapan) besar dunia pada 2045 dalam pertumbuhan ekonomi
dapat tercapai.
Generasi emas hanya mungkin dicapai melalui pendidikan yang
berkualitas. Pendidikan merupakan sebuah proses untuk membentuk
manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, mampu berpikir
secara saintifik dan filosofis tetapi mampu mengembangkan potensi
spiritualnya. Pendidikan seharusnya bukan semata-mata mengajarkan
ilmu pengetahuan dan keterampilan namun juga mampu mengembangkan
nilai-nilai religius pada peserta didik sehingga secara terus-menerus dapat
melakukan pencerahan di dalam kalbunya. Pendidikan berkualitas hanya
mungkin terjadi jika guru-guru juga berkualitas. Pendidikan tanpa guru,
ibarat kebun tanpa pemiliknya. Guru, memiliki peran yang sangat strategis
bagi dunia pendidikan. Karena dari semua komponen pendidikan yang ada
seperti kurikulum, sarana prasarana, metode pengajaran, guru, siswa,
orangtua dan lingkungan, yang paling menentukan adalah guru. Ada
sebuah ungkapan bahwa have good teachers, will have good nations. Guru

memiliki kedudukan yang sangat mulia, dari merekalah tercipta generasi


emas dengan peradaban manusia yang gemilang.
Tantangan pendidikan di era informasi saat ini, mengharuskan guru
untuk lebih kreatif, inovatif dan inspiratif dalam mendesain kegiatan
pembelajaran yang bermutu untuk menyongsong generasi emas Indonesia
Tahun 2045. Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, guru
menjadi kunci utama keberhasilan sumber daya manusia yang tidak hanya
produktif tetapi juga unggul dan religius. Ini juga tidak terlepas dari upaya
pemerintah untuk bersinergi mencerdaskan anak bangsa. Peran guru yang
tidak hanya mengajar, termaktub dalam UU No. 14 tahun 2005 yang
menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Sedangkan hakikat guru menurut Ki Hajar Dewantara adalah ing ngarso
sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yakni di depan
menjadi contoh jika di tengah membangkitkan hasrat belajar dan jika di
belakang memberikan dorongan.
Guru mempunyai peran yang strategis dalam upaya peningkatan
mutu pendidikan nasional bagi kehidupan bangsa dan negara. Hal yang
substantif dari peran guru dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan
memberikan teladan kepada para siswanya dalam pendidikan karakter.
Sosok guru di manapun akan menjadi teladan bagi peserta didik,
karenanya mereka memandang bahwa ia adalah kompas penunjuk jalan
apabila tersesat. Seorang guru perlu menanamkan akhlak yang baik bagi
muridnya, hal ini dapat dilakukan secara terus menerus seperti
mengucapkam salam, menanamkan nilai-nilai kejujuran, berdoa di setiap
memulai dan mengakhiri pekerjaan, membiasakan senyum, pembudayaan
sikap santun, bersikap baik di dalam maupun di luar sekolah. Terlebih
urgensi perubahan kurikulum 2013 lebih menitikberatkan pada

pembentukan sikap dan karakter yang baik pada setiap proses


pembelajaran.
Generasi emas Indonesia diharapkan mencerminkan manusia
paripurna yang memiliki pengetahuan luas dan menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan dengan spirit religiusitas yang tinggi. Generasi emas
diharapkan akan dapat membawa bangsa dan negara menjadi lebih
beradab dan meningkat harkat hidup dan kesejahteraannya. Pendidikan
nasional harus terus menerus ditingkatkan dari waktu ke waktu seiring
perkembangan ilmun pengetahuan, teknologi dan seni. Pembangunan
pendidikan diarahkan untuk mendukung pencapaikan tujuan berbangsa,
yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Indonesia sebagai bagian dari masyarakat bangsa di dunia dalam
melaksanakan pendidikan di segala bidang tidak dapat depaskan dari
pengaruh dan pergaulan dengan bangsa-bangsa asing. Ditinjau dari teori
ketergantungan maka sebagai negara berkembang sampai dengan saat ini
kita masih tergantung pada negara-negara donor yang menanamkan
investasi untuk membantu pembangunan. Hubungan internasional pada
akhirnya menjadikan ketergantungan negara kita atas negara-negara
maju. Pendidikan sebagai salah satu aspek pembangunan pun tidak dapat
dilepaskan dari ketergantungan kita atas negara maju termasuk di
dalamnya muatan mata pelajaran yang dipelajari juga dipengaruhi oleh
kemajuan negara asing, terutama dalam bidang teknologi modern (high
technology), sains, bahkan ilmu-ilmu sosial dan ilmu terapan lainnya.
Implikasi dari ini semua menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran
wajib dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi di samping bahasa asing
lain yang banyak digunakan di Indonesia, seperti bahasa Jepang, mandarin,
arab, dan korea.

Ketergantungan sebagai konsekuensi atas hubungan internasional


dan pembangunan negara berkembang yang belum dapat lepas dari
negara maju sampai dengan saat ini belum mampu mewujudkan
kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga negara Indonesia. Teori
ketergantungan (dependency theory) menolak premis dan asumsi-asumsi
yang diajukan oleh teori modernisasi yang menyatakan bahwa faktorfaktor non material sebagai penyebab kemiskinan, khususnya dunia ide
atau alam pikiran. Teori ketergantungan dilandasi oleh strukturalisme yang
beranggapan bahwa kemiskinan yang terdapat di negara-negara Dunia
Ketiga yang mengkhususkan diri pada produksi pertanian adalah akibat
dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif, dimana yang
kuat (negara pusat/negara maju) melakukan eksploitasi terhadap yang
lemah (negara-negara pinggiran/berkembang) sehingga surplus dari
negara-negara Dunia Ketiga (negara pinggiran) beralih kenegara-negara
industri maju (negara Pusat).
Berdasarkan teori ketergantungan maka untuk mencapai kemajuan
dan kesejahteraan yang adil dan merata bagi seluruh warga negara sudah
seharusnya suatu negara harus berdaulat penuh dalam segenap aspek
kehidupan berbangsa termasuk dalam pembangunan yang dilaksanakan.
Reduksi terhadap ketergantungan penuh atas negara maju dalam
pembangunan termasuk pendidikan merupakan keniscayaan untuk
mewujudkan pembangunan yang menyejahterakan. Dari uraian di atas,
menarik untuk kita kaji bagaimana reduksi terhadap ketergantungan atas
negara maju dalam pembangunan terutama pendidikan nasional menjadi
urgen dan strategis untuk mewujudkan generasi emas yang dicita-citakan
untuk kemajuan negara tercinta Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana

mewujudkan

generasi

emas

melalui

reduksi

ketergantungan terhadap negara maju ?


2. Bagaimana praksis pendidikan nasional yang dapat mewujudkan
generasi emas ?
3. Apa saja hambatan yang dihadapi pendidikan nasional dalam rangka
mewujudkan generasi emas ?
4. Apa saja solusi bagi hambatan-hambatan yang dihadapi pendidikan
nasional dalam rangka mewujudkan generasi emas ?

C. Tujuan Penulisan
1. Memberikan penjelasan tentang upaya mewujudkan generasi emas
Indonesia dengan mereduksi ketergantungan terhadap negara maju
dengan memberdayakan pendidikan nasional.
2. Memberikan penjelasan praksis pendidikan nasional yang dapat
mewujudkan generasi emas Indonesia.
3. Memberikan penjelasan hambatan yang dihadapi oleh pendidikan
nasional dalam rangka mewujudkan generasi emas.
4. Memberikan penjelasan solusi bagi hambatan-hambatan yang
dihadapi oleh pendidikan nasional dalam rangka mewujudkan generasi
emas.

D. Manfaat
1. Bagi stakeholder pendidikan diharapkan dapat memahami bahwa
untuk mewujudkan generasi emas Indonesia melalui pendidikan
diperlukan upaya yang serius dengan mereduksi ketergantungan
terhadap negara maju dan lebih memberdayakan pendidikan nasional
dengan segala potensi sumber daya yang ada.
2. Bagi kepala sekolah diharapkan dapat memiliki pemahaman tentang
peran penting sekolah sebagai lembaga resmi pendidikan formal di

Indonesia agar dapat melayani secara prima dalam praksis


pembelajaran yang bermakna dan menghasilkan lulusan paripurna
sebagai generasi emas yang pada akhirnya akan menjadi pemimpin dan
pelaksana pembangunan.
3. Bagi guru diharapkan dapat memahami peran strategis dan tugas mulia
yang diemban untuk mewujudkan generasi emas Indonesia yang
diharapkan dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan sehingga
kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara maksimal untuk menggali
dan mengoptimalkan potensi siswa sebagai pembelajar agar dapat
menjadi manusia paripurna yang memiliki kecerdasan intelektual,
kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang tinggi sehingga dapat
mewujudkan masyarakat madani Indonesia yang damai, sejahtera dan
berkeadilan.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Teori Ketergantungan
Teori ketergantungan berusaha menjelaskan rintangan-rintangan
yang dihadapi dalam pembangunan daerah-daerah dan Negara-negara miskin
dan istilah Dependency Theory dipinjam oleh penulis (Harold J. Noah dan
Max A Eckstein, 1988) dan digunakan dalam bidang pendidikan secara luas
dan juga dipakai oleh para pekerja penelitian dalam studi tentang Pendidikan
Komparasi secara khusus. Teori ketergantungan menentang kondisi dunia
saat ini yang dianggap sebagai hasil dari dominasi negara-negara kaya
terhadap negara-negara miskin serta dominasi dari kelompok-kelompok dan
kepentingan-kepentingan penguasa terhadap kelompok-kelompok yang tidak
memiliki kekuasaan dalam suatu negara.
Ada empat istilah yang menjadi konsep teori utama dari teori
ketergantungan, yaitu kelompok Negara-negara maju
negara

dunia

ketiga/Negara-negara

pinggiran

(center), Negara-

(periphery),

dalam

kendali/dominasi (hegemoni), dan reproduksi (reproduction). Keempat istiliah


tersebut dipakai untuk menjelaskan istilah yang saat ini dikenal sebagai
Wallerstein atau suatu kekaisaran dunia terkait penggunaan kekuatan
unilateral oleh Negara central/maju terhadap Negara-negara dunia
ketiga/pinggiran dengan cara memaksa negara-negara dunia ketiga tersebut
untuk mereproduksi secara sistematik nilai-nilai yang dipakai oleh Negaranegara maju. Dunia pendidikan merupakan obyek yang berperan aktif dalam
mereproduksi nilai-nilai tersebut di mana para siswa diarahkan untuk
mereproduksi nilai-nilai, tingkah laku dan ketrampilan yang disesuaikan untuk
melayani kebutuhan kelompok Negara-negara maju. Hal ini menunjukkan
bahwa penjajahan masih terus berlangsung namun bentuknya berbeda
dengan penjajahan klasik, kolonialisasi saat ini menjelma dalam bentuk yang

10

lebih canggih, menyebar luas, tak terlihat namun menimbulkan dampak yang
luar biasa yaitu penjajahan pikiran dan mental.
Universitas

dan

Yayasan-yayasan

pendidikan,

badan-badan

pembangunan nasional maupun multilateral, para penerbit buku, serta


organisasi-organisasi media masa, bahkan masyarakat industri

yang

memproduksi barang-barang mulai dari kendaraan sampai alat tulis hingga


susu

formula

untuk

bayi

semua

dianggap

sebagai

alat

para

penguasa/penjajah. Para penjajah telah mengubah penjajahan fisik menjadi


penjajahan mental.
Di setiap Negara, terjadi eksploitasi Negara-negara maju terhadap
Negara-negara dunia ketiga untuk menggunakan sekolah sebagaitempat
untuk mereproduksi serangkaian nilai-nilai dan system stratifikasi yang
menandakan masih berlangsungnya dominasi Negara-negara maju. Ada
disiplin ilmu yang dianggap layak untuk diminati dan mendapatkan status
yang legal di mata Negara-negara maju (TOEFL, IBT, dsb) sedangkan disiplin
ilmu pengetahuan lainnya diabaikan, tidak diperhatikan bahkan dipaksakan
untuk dihapus. Tujuan Negara-negara maju untuk mengendalikan pikiran
negara-negara miskin sebagian besar telah tercapai. Rakyat (pendapat ini
ditentang) tidak menyadari bahwa mereka sedang hidup dalam dunia
gagasan-gasan dan nilai-nilai yang diciptakan untuk membuat mereka terusmenerus dalam perbudakan. Mereka juga tidak mengerti peran penting yang
dimainkan sekolah-sekolah dalam memproduksi perbudakan pikiran. Dan
memang, kejeniusan dari kesuksesan system tersebut terletak pada keahlian
dari sistim tersebut untuk memperdaya mereka yang bersedia melayani dan
mempercayai bahwa mereka dalam keadaan bebas padahal mereka
sebenarnya sedang diperbudak.
Kritik yang paling keras tertuju pada kurikulum, kumpulan
pengetahuan yang dipilih dan ditransfer kepada para siswa. Negara-negara
dunia ketiga, dikatakan, telah dipaksa atau terpikat untuk mengkopi
kurikulum Negara-negara maju. Jadi meskipun telah terbebas dari penjajahan,

11

ketimpangan antara apa yang diajarkan dan apa yang dibutuhkan oleh para
siswa di sekolah terus berlanjut. Contoh, pemanfaatan ilmu pertanian,
pertanian berskala kecil, manajemen rumahtangga serta kesehatan diabaikan
sebaliknya, perhatian malah diarahkan pada materi-materi akademik yang
sifatnya abstrak/tidak aplikatif. Bahasa para penjajah masih digunakan
sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan pengajaran, komunikasi, dan
administrasi yang mengakibatkan penjajahan semakin berkelanjutan.
Hingga pada akhirnya, teori ketergantungan secara alami membayangi
teori reproduksi yang merupakan bagian dari ilmu sosiologi baru. Ilmu ini
menganggap bahwa struktur dan isi dari ilmu pengetahuan dipandang sebagai
suatu bentuk property, kekuasaan, dan gengsi. Ada suatu dinamika yang
mengarahkan keyakinan masyarakat secara alamiah bahwa ilmu pengetahuan
yang paling hebat yang harus dikuasai oleh umat manusia adalah ilmu
pengetahuan yang dimiliki Negara-negara industri, keyakinan ini ditanamkan
pada Negara-negara lemah yang sangat tergantung pada Negara industri,
sehingga kedudukan Negara-negara lemah menjadi semakin direndahkan,
mengangkat superioritas serta memperluas pemasaran pengetahuan dan
produk-produk pengetahuan itu di Negara-negara lemah. Hal ini merupakan
proses reproduksi yang didefiniskan perpanjangan dominasi suatu kelompok
terhadap kelompok lainnya baik itu melalui dimensi ruang dan waktu.
Terjemahan dari apa yang mulai disebut sebagai sebuah teori yang
menjelaskan masalah-masalah permbangunan ekonomi hingga bidang
pendidikan telah banyak berkembang. Diantaranya Teori Konflik Neo
Marxist, analisis ideology, studi tentang dinamika lembaga social dan aspekaspek teori pengkondisian psikologi telah di satukan untuk membentuk
pandangan dunia yang mengedepankan rencana pendirian sekolah sebagai
alat di mana Negara penguasa menjalankan nilai-nilai pada kelompok pekerja
supaya bias mempertahankan status quo, dan hal ini secara dramatis
dipraktekkan dalam Negara-negara di mana pendidkan disejajarkan dengan
penjajahan internal.

12

Feire mengembangkan teori bahwa para terjajah bisa dibentuk


menjadi penjajah seperti halnya setiap orang yang mempunyai keingina untuk
menjadi majikan. Prospek perkembangan kebebasan yang sebenarnya dan
otonomi individu buruk.

Bowles and Gritis sependapat dengan Feire

berpendapat bahwa sekolah mendisiplinkan siswa dalam pengabdian mereka


melayani struktur kekuasaan yang muncul yang bisa dicapai melaui
grading/angka-angka yang menunjukkan kualitas, lomba-lomba, hadiahhadiah serta hukuman yang merendahkan. Sistem pendidikan tidak
memanusiakan manusia dengan cara merusak keaslian seseorang yang
dibawa sejak lahir dan kreativitas seseorang.
Bourdieu dan Passeron menyampaikan bahwa system pendidikan
menekankan pada terjadinya konflik yang bahkan diasumsikan lebih
mengancam

pencapaian

mutu

pendidikan.

Pengetahuan

ditentukan/dipaksakan oleh sekolah dan ketentuan/paksaan tersebut


merupakan suatu bentuk kekerasan yang lakukan oleh kelompok yang kuat
(guru, administrator, dan para pemuka masyarakat) tehadap kelompok yang
lemah

(siswa,

menggunakan

kata-kata

berbahasa

Perancis

yang

dideskripsikan secara buruk dalam proses pembelajaran. Perencanaan


pendidikan disalahkan sebagai alat yang secara eksplisit memperluas dan
mengintensifkan ketergantungan.
Dari beberapa teori tentang dependesi, kita bisa menyimpulkan
Bahwa:
1. Teori

ketergantungan

dianggap

bisa

diterapkan

secara

global,

pendekatannya obyektif untuk memahami bagaimana Negara-negara


miskin telah diperdaya dan dijadikan korban oleh penggunaan kekuasaan
yang tidak terarah.
2. Teori ketergantungan memandang struktur dan isi pendidikan sebagai alat
yang penting di mana Negara maju mengendalika pemikiran Negaranegara pinggiran, mereproduksi kondisi tersebut supaya bias tetap survive
dan maju.

13

3. Teori ketergantungan dianggap menunjukkan bahwa proses pengendalian


pikiran sangat kuat bahkan orang tua dan warganegara tidak mampu
mengenali pendidikan terbaik yang seperti apa yang diminati anak-anak
mereka, dan tidak berdaya untuk membuat pilihan-pilihan secara mandiri
dalam menghadapi dominasi ideology yang tidak terbendung.
4. Para ahli teori ketergantungan cenderung menghindar bahwa kita bsa
melihat kearah reformasi pendidikan dalam berbagai tingkatan
pentingdemi perbaikan Negara dari semua aspek: penghancuran yang
radikal dank eras terhadap kekuatan Negara-negara maju yang dominan
diperlukan.
5. Teori ketergantungan menegaskan bahwa Negara-negara dunia ketiga
mewakili pria baik yang dijadikan korban, dan mereka yang menjadi
Negara maju dipandang sebagai laki-laki baik yang mengorbankan orang
lain.
6. Teori

dependensi

mengklaim

bahwa

semakin

besar

tingkat

ketergantungan suatu Negara maka akan semakin besar kesulitankesulitan yang akan dihadapi oleh Negara itu dalam mendiirikan lembagalembaga pendidikan dan social yang efektif.

B. Penerapan Teori Ketergantungan


Pandangan Altbach tentang universitas di Negara-negara dunia ketiga
jika dikaitkan dengan konsep hubungan antara Negara-negara pinggiran
(periphery) dengan Negara-negara maju (central):
1. Bisa

diklasifikasikan

sebagai

kelompok

dependen

(mengalamai

ketergantungan) baik sebagai pencipta maupun distributor ilmu


pengetahuan.
2. ketiga tidak mendapatkan keuntungan sedikitpun dalam jaringan ilmu
pengetahuan internasional.
3. Dianggap pasif karena berperan sebagai agen yang melayani Negaranegara industri untuk mempertahankan posisinya di dunia.

14

4. Konsep center-pheripery diterapkan di dunia universitas


Pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan
generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi
tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pendidikan adalah suatu proses
dimana suatu bangsa atau Negara membina dan mengembangkan kesadaran
diri diantara individu-individu. Disamping itu pendidikan adalah suatu hal
yang benar-benar ditanamkan selain menempa fisik,mental dan moral bagi
individu-individu,agar mereka menjadi manusia yang berbudaya sehingga
diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan
Allah Tuhan Semesta Alam, sebagai mahluk yang sempurna dan terpilih
sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara
yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara. Dalam konteks modern dan
kontemporer, isitilah pendidikan senantiasa diletakkan dalam kerangka
kegiatan dan tugas yang ditujukan bagi sebuah angkatan atau generasi yang
sedang ada dalam masa-masa pertumbuhan. Oleh karena itu pendidikan lebih
mengarahkan dirinya pada pembentukan dan pendewasaan pengembangan
kepribadian manusia yang mengutamakan proses pengembangan dan
pembentukan diri secara terus menerus (on going formation).
Proses pembentukan diri terus-menerus ini terjadi dalam kerangka
ruang dan waktu. Pendidikan dengan demikian mengacu pada setiap bentuk
pengembangan dan pembentukan diri yang sifanya prosesual,yaitu sebuah
kesinambungan yang terus-menerus yang tertata rapi dan terorganisasi,
berupa kegiatan yang terarah dan tertuju pada strukturasi dan konsolidasi
kepribadian serta kehidupan rasional yang menyertainya,secara personal,
komuniter,mondial, dan sebagainya. Pendidikan menyangkut diri manusia.
Manusia membutuhkan pendidikan yang bermutu dalam kehidupannya.
Dalam Undang-undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 1 dinyatakan bahwa pendidikan merupakan
usaha sadar dan terencana untuk meuwujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

15

untuk

memiliki

kekuatan

spiritual

keagamaan,

pengendalian

diri,

kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan


dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya Pasal 3 menyatakan
bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa,bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Pendidikan adalah pemberdayaan bagi manusia didik dalam
menghadapi dinamika kehidupan baik masa kini maupun masa yang akan
datang, maka pemahaman tentang kemanusiaan secara utuh merupakan
keniscayaan. Sebaliknya, jika pengertian dan pemahaman terhadap
pendidikan kurang tepat tentu akan melahirkan konsep dan praktik
pendidikan yang juga kurang proporsional. Pendidikan merupakan upaya
memberdayakan peserta didik sebagai generasi emas untuk menjadi manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu yang menjunjung tinggi dan memegang dengan
teguh norma dan nilai sebagai berikut:
1. Norma agama dan kemanusiaan untuk menjalani kehidupan sehari-hari
sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa,mahluk individu,maupun sosial;
2. Norma persatuan bangsa untuk membentuk karakter bangsa dalam rangka
memelihara keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. Norma kerakyatan dan demokrasi untuk membentuk manusia yang
memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kerakyatan dan demokrasi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara;
4. Nilai-nilai keadilan sosial untuk menjamin terselenggaranya pendidikan
yang merata dan bermutu bagi seluruh bangsa serta menjamin
penghapusan segala bentuk deskriminasi dan bias gender serta
terlaksananya pendidikan untuk semua dalam rangka mewujudkan
masyarakat berkeadilan sosial. (Rencana Strategis Kemeterian Pendidikan

16

Nasional 2010-2014) Dengan demikian melalui proses pendidikan, peserta


didik dituntun menjadi manusia yang makin beradab dan berakhlak.
Adalah keliru apabila peserta didik yang diberi pendidikan justru menjadi
manusia yang tidak beradab dan tidak berakhlak.

C. Generasi Emas Indonesia


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada sambutan Peringatan Hari
Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2012 menyatakan bahwa tema Hari
Pendidikan Nasional Tahun 2012 adalah Bangkitnya Generasi Emas
Indonesia. Karena pada periode tahun 2010 sampai 2035 bangsa kita
dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa potensi sumber daya manusia berupa
populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Jika kesempatan emas yang
baru pertama kalinya terjadi sejak Indonesia merdeka tersebut dapat kita
kelola dan manfaatkan dengan baik, populasi usia produktif yang jumlahnya
luar biasa tersebut insya Allah akan menjadi bonus demografi (demographic
dividend) yang sangat berharga. Generasi emas sebagai generasi penerus
bangsa yang akan menentukan masa depan dan int depan diri dan
bangsegritas bangsa Indonesia. Generasi emas adalah generasi yang
memandang masa depan diri dan bangsanya,merupakan hal yang pertama
dan utama. Generasi emas adalag generasi muda yang penuh optimisme dan
gairah untuk maju dengan sikap dan pola pikir yang berlandaskan moral yang
kokoh dan benar. Generasi emas adalah generasi dengan visi ke depan yang
cemerlang,kompetensi

yang

memadai,

dan

dengan

karakter

yang

kokoh,kecerdasan yang tinggi, dan kompetitif, merupakan produk pendidikan


yang diidam-idamkan. Peserta didik dalam setiap jenjang, jenis, dan jalur
pendidikan merupakan individu yang sedang dalam masa-masa pertumbuhan
dan perkembangan,sedang dalam proses pengembangan dan pembentukan
diri secara terus menerus untuk menjadi generasi emas yaitu insan yang
bekarakter, cerdas dan kompetitif.

17

Mengingat peliknya masalah lapangan pekerjaan seperti tidak


imbangnya jumlah pelamar kerja dan lowongan kerja, banyaknya lulusan
terdidik yang tidak terserap ke lapanga kerja, jumlah pengangguran terdidik
yang semakin meningkat, maka dibutukan suatu disiplin ilmu yang yang
diterapkan dalm institusi pendidikan yang mampu membentuk, menanamkan
semangat/jiwa dan bersikap wirausaha supaya menghasilkan lulusan yang
terampil sebagai pencipta lapangan pekerjaan. Kewirausahaan berasal dari
kata wira yang berarti pejuang, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah
berani dan berwatak agung, serta kata usaha yang bermakna perbuatan amal,
bekerja, dan berbuat sesuatu.Richard Chantilon (1975) mendefinisikan
kewirausahaan sebagai bekerja sendiri, lebih menenkankan pada bagaimana
seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian. Menurut Harvey
Leibenstein (1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk
menciptakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk.
Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan adalah pendidikan yang
menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi kearah pembentukan kecakapan
hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum yang dikembangkan
di sekolah. Kerangka pengembangan kewirausahaan di kalangan pendidik
sangat penting karena pendidik adalah agent of change yang diharapkan
mampu menanamkan cirri-ciri, sifat, dan watak serta jiwa kewirausahaan bagi
peserta didiknya dan bagi diri pendidik sendiri karena akan membentuk
manusia yang berorientasi kerja yang lebih efisien, kreatif, inovatif, produktif,
dan mandiri. Mien Uno (Agus Bastian 2012) mengatakan bahwa untuk
menjadi calon wirausahawan yang handal dibutuhkan karakter unggul yang
meliputi: pengenalan terhadap diri sendiri (self awareness), kreatif, mampu
berpikir kritis, mampu memecahkan persoalan, dapat berkomunikasi, mampu
membawa diri di berbagai lingkungan, menghargai waktu, empati, mau
berbagi dengan orang lain, mampu mengatasi stress, bisa mengendalikan
emosi, dan mampu membuat keputusan.

18

D. Kerangka Berfikir
Penerapan pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari teori
ketergantungan

karena

sebagai

negara

berkembang

membutuhkan

hubungan internasional dalam pelaksanaan pembangunan di segala bidang.


Indonesia sebagai negara berkembang masih tergantung negara maju selaku
negara donor yang memberikan pinjaman modal untuk pembangunan, serta
dalam transfer ilmu pengetahuan dam teknologi. Reduksi terhadap
ketergantungan negara maju harus dilakukan agar kita dapat mandiri dan
berdaulat untuk membangun bangsa dan negara. Praksis pendidikan nasional
yang diyakini dapat mewujudkan generasi emas Indonesia diantaranya:
pergerakan Ki Hajar Dewantara, penerapan pendidikan karakter, dan
kecakapan hidup. Diagram kerangka berfikir reduksi ketergantungan dalam
upaya pemberdayaan pendidikan nasional untuk mewujudkan generasi emas
ditunjukkan oleh gambar 1 berikut.
Praksis Pendidikan
Nasional
Pergerakan
Ki Hajar
Dewantara
Teori
Ketergantungan
Pendidikan
Karakter

Generasi Emas
Indonesia

Pendidikan
Kecakapan Hidup
(Life Skill)

Gambar 1. Kerangka Berfikir Reduksi Ketergantungan Dalam Upaya Pemberdayaan


Pendidikan Nasional Untuk Mewujudkan Generasi Emas

19

BAB III
PEMBAHASAN

A. Mewujudkan Generasi Emas Melalui Reduksi Ketergantungan


Kemunculan teori ketergantungan (dependency theory) merupakan
perbaikan sekaligus antitesis dari kegagalan teori pembangunan maupun
modernisasi dalam tugasnya mengungkap jawaban kelemahan dua kelompok
di dunia, yaitu negara maju (negara pusat) dengan negara berkembang (negara
pinggiran). Teori ketergantungan muncul di Amerika Latin yang menjadi
kekuatan reaktif dari kegagalan yang dilakukan teori modernisasi. Dalam
konsep berpikir teori ketergantungan, pembagian kerja secara internasional
mengakibatkan ketidakadilan dan keterbelakangan bagi negara-negara
berkembang. Dari sini pertanyaan yang muncul adalah mengapa pembagian
kerja internasional harus diterapkan jika ternyata tidak menguntungkan
semua negara ? Teori modernisasi menjawab masalah ini dengan menuding
kesalahan pada negara-negara berkembang dalam melakukan modernisasi
dirinya. Hubungan internasional dalam kontak dagang justru membantu
negara-negara berkembang melalui pemberian modal, pendidikan, dan
transfer teknologi. Teori ketergantungan menolak jawaban yang diberikan
oleh teori modernisasi ini. Teori ketergantungan yang bersifat struktural ini
berpendapat bahwa kemiskinan yang dialami negara dunia ketiga (negara
pertanian) yang merupakan negara berkembang akibat dari struktur
perekonomian dunia yang eksploitatif, dimana yang kuat melakukan
penghisapan terhadap yang lemah. Surplus yang seharusnya dinikmati negara
dunia ketiga justeru mengalir deras kepada negara-negara industri maju.
Perkembangan teori ketergantungan selanjutnya sangat terkait dengan
upaya memahami lingkar hubungan makro antar berbagai negara dalam
proses pembangunan masyarakat. Analisis teori ketergantungan cukup
futuristik untuk membahas globalisasi yang mencakup organisai perdagangan

20

nasional (World Trade Organization) yang mengatur produksi perusahaanperusahaan Multy National Corporation (MNC). Bahwa sebenarnya telah
terjalin hubungan yang tidak adil antara negara berkembang dengan negara
maju. Meskipun kelihatannya negara maju memberi suntikan dana dalam
bentuk utang kepada negara berkembang, tetapi sebetulnya telah mencekik
mereka

perlahan-lahan

dengan

membuat

tata

hubungan

ekonomi

internasional yang eksploitatif.


Pendidikan sebagai bagian dari pembangunan masyarakat tidak daapat
dipisahkan

dari

arah

perubahan

yang menggejala

seiring dengan

perkembangan jaman dan hubungan internasional. Dinamika orientasi


pendidikan selalu berjalan beriringan dengan konsteks wilayah sosial-politik
yang menauinginya sehingga pada praktik pendidikan terjadi perbedaan yang
menajam antar negara. Negara maju dengan segala keberhasilan
peradabannya tentunya sydah menghantarkan orientasi pndidikan yang
menjadi satelit acuan penting bagi aktivitas pendidikan di negara berkembang.
Sementara itu demi mengejar ketertinggalan, negara berkembang mencoba
menyesuaikan perpaduan hukum perkembangan masyarakat dengan
penerapan sistem pendidikannya. Pendidikan harus mampu melakukan
analisis kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak
yang dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi
perubahan jaman. Pembahasan dan analisis mengenai perubahan sosial dan
pendidikan tidak perna lepas dari modernisasi. Kata atau istilah modernisasi
mempunyai banyak definisi namun tetap ada satu kepastian bahwa
pengembangan aplikasi teknologi manusia menjadi muara kelahiran
modernisasi.
Suatu cara untuk menggambarkan hubungan perubahan dunia
pendidikan dengan tumbuh kembangnya modernisasi perlu berangkat dari
konsep deferensiasi. Dengan berkembangnya deferensiasi sosial, secara
perlahan-lahan akan megubah fungsi dan sistem pendidikan agar berjalan
sejajar dengan kecenderungan sosial tersebut. Proses yang mempengaruhi

21

tubuh pendidikan dapat digambarkan dengan pegamatan komparatif antara


masyarakat modern dengan tradisional. Pada masyarakat tradisional proses
pendidikan menyatu dengan fungsi-fungsi lain yang kesemuanya diperankan
oleh institusi keluarga, sedangkaan pada masarakat modern proses pendidikan
lebih banyak dipengaruhi oleh institusi di luar keluarga. Meskipun terdapat
prbedaan karakter pendidikan yang cukup tajam dalam kedua tipe masyarakat
tersebut, namun pada dasarnya masih tersimpan kemiripan fungsi pendidikan,
yaitu

sama-sama

bertanggung

jawab

mentransmisikan

sekaligus

mentransformasikan perangkat-perangkat nilai budaya pada generasi


penerusnya. Dengan demikian, keduanya sama-sama menopang proses
sosialisasi dan menyiapkan seseorang untuk peran-peran baru.

Letak

perbedaannya, tanpa banyak perubahan di dalam fungsi pendidikan menjadi


semakin besar dan kompleks. Menurut Faisal dan Yasik (1985) alur
perkembangan diferensiasi pendidikan dapat diterangkan dalam 4 (empat)
tingkatan, sebagai berikut:
1. Pendidikan pada masyarakat sederhana yang belum mengenal tulisan.
Dalam kehidupan masyarakatnya mengembangkan pendidikan secara
informal yang berfungsi untuk memberikan bekal keterampilanketerampilan mata pecaharian dan memperkenalkan pola tingkah laku
yang sesuai dengan niai serta norma masyarakat setempat. Pada tingkatan
ini, peran sebagai siswa dan guru secara murni ditentukan oleh ukuranukuran askriptif. Anak-anak menjadi siswa dilatarbelakangi oleh faktor usia
mereka, sementara guru disimbolkan sebagai representasi orang tua yang
memiliki derajat karisma serta kewibawaan untuk mendidik kaum-kaum
muda. Spesifikasi peran para guru itu, juga ditentukan oleh jenis kelamin
(yang wanita mengajarkan memasak sementara para laki-laki mengajarkan
berburu).
2. Pada tingkatan yang lebih maju, sebagian proses sosialisasi teridentifikasi
keluar dari batas keluarga, diserahkan kepada semua pemuda di
masyarakat dengan bimbingan para orang tua yang berpengalaman atau

22

berkeahlian. Kurikulum pendidikan bukan semata-mata kumpulan dari


latihan memperoleh keterampilan namun ditekankan juga soal-soal
metafisik dan budi pekerti. Mengenai siapa yang berperan sebagai guru
sudah mulai memperyimbangkan bakat dan pengalaman berguru yang
pernah diperoleh. Dalam hubungan ini, sang guru bukanlah orang yang
memiliki spesialisasi khusus sperti halnya spesialisasi-spesialisasi sekarang
ini, namun para siswa dapat belajar banyak mengenai nilai-nilai kehidupan
sebab guru dipandang sebagai sumber segala macam pengetahuan.
3. Dengan berkembangnya diferensiasi di masyarakat itu sendiri maka
meningkat pula upaya seleksi sosial. Beberapa keluaga atau kelompok
meningkat menjadi semakin kuat dalam segi kekuasaan maupun kekuatan
ekonominya dibandingkan warga masyarakat yang lain. Mereka yang telah
menempati posisi kuat itu, secara formal membatasi akses mengenyam
pendidikan bagi seluruh warga masyarakat. Pertimbangan utama dalam
menentukan siapa-siapa yang menjadi siswa terletak pada latar belakang
kelas atau keturunan seseorang. Sedangkan seleksi para guru disamping
disyaratkan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, juga
diperhitungkan faktor kecerdasan dan bakatnya. Dari segi kurikulum sudah
diperhitungkan kebutuhan-kebutuhan perkembangan zaman dengan
memfokuskan perhatian pendidikan pada budi pekerti, hukum, teologi,
kesenian serta bahasa. Guru masih berperan sebagai figur yang menguasai
segala hal daripada sebagai spesialis dari suatu cabang pelajaran tertentu.
4. Pada tingkatan berikutnya hubungan antara pendidikan dengan
masyarakat menjadi kian rumit dan semakin kompleks. Sejalan dengan
arus industrialisasi dan kecenderungan diferensiasi sosial, maka
spesialisasi peranan menjadi ciri istimewa masyarakat pada tingkaatan
keempat ini. Di sini pendidikan sudah berjejang-jenjang begitu rupa, dan
kualifikasi para pengajar sudah tersebar ke dalam bidang keahlian yang
beragam pula. Dalam hubungan ini, sekolah mendapat beban-beban baru,

23

yaitu sebagai pusat pengajaran bagi masyarakat luas, sebaggai media


seleksi sosial, serta berperan pula sebagai lapangan pekerjaan.
Pesatnya arus diferensiasi serta spesialisasi selama dekade-dekade terakhir
memicu beberapa perubahan dalam formasi pendidikan. Hal itu terjadi
sebagai akibat dari mendesaknya permintaan masyarakat akan tersedianya
tenaga-tenaga spesialis yang akan menopang bergulirnya roda kehidupan
masarakat yang tengah bertumpu pada kekuatan industri produk massal.
Dalam perkembangan ini, sistem pendidikan beranjak pesat menjadi institusi
yang mempunyai kedudukan penting terutama dalam menopang perubahan
sosial ekonomi. Pendidikan berkembang menjadi jembatan pretise dan status,
selain juga tampil sebagai faktor utama mobilitas sosial, bak vertikal maupun
horizontal, baik intra maupun antar genarasi. Dengan demikian, pendidikan
adalah kunci emas untuk melaksanakan pembangunan dan pemberdayaan
warga negara agar dapat mencapai tujuan bernegara, membangun peradaban
melalui generasi unggul.
Pendidikan nasional Indonesia dalam pelaksanaannya perlu menelaah
pesan yang senantiasa relevan di segala zaman dari tokoh pendidikan kita, Ki
Hajar Dewantoro. Pesannya, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso,
tut wuri handayani yang berarti : di depan memberikan teladan, di tengah
memberikan bimbingan, dan di belakang memberikan dorongan kepada
generasi muda kita. Pendidikan merupakan sebuah proses untuk membentuk
manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, mampu berpikir secara
saintifik dan filosofis tetapi mampu mengembangkan potensi spiritualnya.
Pendidikan seharusnya bukan semata-mata mengajarkan ilmu pengetahuan
dan keterampilan namun juga mampu mengembangkan nilai-nilai religius
pada peserta didik sehingga secara terus-menerus dapat melakukan
pencerahan di dalam kalbunya. Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah
membentuk karakter manusia seutuhnya agar menjadi manusia yang
bertaqwa,

menjadi

individu-individu

yang

muttaqin

dalam

rangka

24

melaksanakan tugas kemanusiaan sebagai pemimpin di muka bumi untuk


mewujudkan peradaban yang bermartabat dan kedamaian.
Pendidikan adalah sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan
kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan. Pendidikan mempunyai peran
utama dalam menyiapkan generasi yang cerdas, yang memiliki tingkat
kesejahteraan tinggi dengan tetap memegang teguh harkat dan martabat, baik
sebagai individu maupun bangsa. Dengan memperhatikan bahwa sejak 2010
sampai 2035, kita memiliki populasi usia produktif yang sangat luar biasa
besarnya. Jumlah itu pun akan menurun setelah 2035. Bonus demografi ini
merupakan kesempatan emas untuk menyiapkan generasi emas yang akan
menjadikan bangsa dan negara Indonesia sebagai negara maju dan sejahtera
sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri. Masa 30-an tahun tersebut
tidaklah lama, kalau kita berbicara tentang generasi dan nasib bangsa. Karena
itu, saatnya sekarang ini kita harus segera melakukan investasi besar-besaran
di bidang sumber daya manusia.
Dalam era globalisasi yang menisbikan sekat geografis dan kenyataan
pembangunan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu
hidup tanpa bantuan dengan negara lain maka karakter bangsa harus
ditanamkan secara kuat pada seluruh warga negara terlebih pada siswa
sekolah yang tengah bertumbuh dan belajar. Hubungan bilateral dan
multilateral antar bangsa merupakan keniscayaan sebagai konsekuensi dari
kehidupan masyarakat dunia. Kemajuan Ilmu pengetahuan, teknologi
termasuk komputer dan informatika, serta perkembangan seni dan budaya
menuntut setiap bangsa di dunia terutama negara berkembang untuk selalu
meningkatkan sistem pendidikan agar tidak jauh tertinggal dari negara maju.
Pendidikan suatu negara juga tidak mungkin dapat dilepaskan dari kemajuan
dan perkembangan jaman. Dengan demikian pendidikan memiliki sifat
dinamis. Pendidikan nasional Indonesia tidak mungkin sepenuhnya dapat
lepas dari pengaruh perkembangan global ini. Ditinjau dari teori

25

ketergantungan memiliki arti bahwa kita sebagai bagian dari masyarakat dunia
tidak mungkin dapat hidup sendiri.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dinamis juga
harus diikuti dengan baik agar kita tidak tertinggal dan terbelakang. Ilmu-ilmu
pengetahuan, teknologi, seni dan budaya yang dipelajari dalam kurikulum
sekolah juga harus senantiasa mengikuti perkembangan jaman. Hal ini
menuntut kepada stakeholder pendidikan untuk selalu belajar sepanjang
hayat (long life education) agar sumber daya manusia semakin meningkat
kualitasnya sehingga dapat menghadapi tantangan jaman yang selalu berubah.
Kenyataan pembangunan juga menunjukkan bahwa kita masih tergantung dari
negara maju yang merupakan negara donor dalam pembangunan nasional.
Hubungan antar negara dalam segala bidang terutama pembangunan
ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa juga tidak dapat
dilepaskan dengan negara lain. Dengan demikian, bahasa Inggris sebagai
bahasa komunikasi internasional juga menjadi mata pelajaran wajib bagi
seluruh siswa mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga tinggi.
Di tengah perkembangan dan ketidakmungkinan terlepas dari
pergaulan dengan bangsa-bangsa di dunia maka pendidikan nasional
Indonesia harus memiliki jati diri dan karakter yang kuat. Dunia pendidikan
harus mampu membangun peradaban khas Indonesia untuk memberikan
kontribusi dalam membangun peradaban baru dunia. Ibarat warna cahaya
putih yang kalau diurai terdiri atas beberapa spektrum cahaya, salah satu
spektrum itulah spektrum khas peradaban Indonesia. Sebagai bangsa besar,
dengan modalitas yang sangat luar biasa, baik sumber daya manusia, sumber
daya alam, sumber daya kultural, maupun pengalaman dan kesempatan.
Dengan memperhatikan segenap potensi dan kekayaan alam yang ada
sesungguhnya Indonesia adalah negara besar dan melalui pendidikan harkat
dan martabat bangsa dapat senantiasa ditingatkan. Sumber daya manusia
pada era global memiliki peran penting dalam membangun kemajuan bagi
bangsa dan negara. Hal ini berarti pendidikan merupakan pilar utama untuk

26

mewujudkan generasi emas yang tangguh, yaitu generasi paripurna yang


memiliki kecerdasan intelektual tinggi dan kecerdasan emosional serta
spiritual yang kuat sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan
bagi dirinya, keluarga, lingkungan dan pada tataran yang luas seluruh warga
negara Indonesia.
Pendidikan nasional yang berjati diri dan berkarakter kuat diharapkan
dapat mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana amanah UUD 1945, yaitu:
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan

umum,

mencerdaskan

kehidupan

bangsa,

dan

ikut

melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


abadi dan keadilan sosial. Pembangunan bangsa Indonesia dengan demikian
bukan hanya untuk kesejahteraan warga negaranya saja tetapi mempunyai
peran dalam membangun ketertiban dunia. Reduksi ketergantungan
Indonesia terhadap negara-negara donor dipandang penting untuk
membangun kedaulatan secara penuh dalam berbagai aspek pembangunan,
meningkatkan harkat dan martabat bangsa dalam pergaulan internasional.
Reduksi ketergantungan dalam pembangunan pendidikan di Indonesia
dalam banyak hal prinsip telah dilaksanakan, misalnya:
1. Sebagian besar guru pada sekolah-sekolah di semua jenjang adalah warga
negara Indonesia asli. Hal ini menunjukkan bahwa kita berdaulat penuh
dalalm mendidik anak bangsa.
2. Bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar resmi dalam kegiatan
pembelajaran.
3. Buku dan modul pembelajaran disusun dalam Bahasa Indonesia sehingga
siswa lebih mudah dalam memahami isi materi pembelajaran.
4. Banyak strategi pembelajaran yang khas Indonesia diterapkan dalam
kegiatan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal pedagogik
guru-guru dapat mengembangkan, menginovasi dan mengkreasi strategi
pembelajaran yang lebih dapat diterima siswa dalam kegiatan
pembelajaran yang berangkat dari budaya dan kearifan lokall.

27

5. Muatan mata pelajaran tentang nasionalisme, budaya dan kearifan lokal


diajarkan kepada siswa untuk membangun karakter bangsa yang kuat dan
bermartabat. Budaya lokal dan bahasa ibu pada tiap daerah diajarkan
sebagai mata pelajaran muatan lokal sebagai upaya melestarikan dan
mengembangkan kearifan lokal dan sosial.
6. Media pembelajaran dan alat bantu pembelajaran banyak yang dibuat dan
dikembangkan merupakan karya asli ataupun pengembangan secara
mandiri ataupun kelompok kerja guru-guru Indonesia.
Dengan memperhatikan contoh-contoh di atas maka sesungguhnya
pendidikan di Indonesia secara operasional dan teknis telah dapat
dilaksanakan dengan mengandalkan sumber daya bangsa sendiri dan terlepas
dari ketergantungan akan negara maju.
Praktik pendidikan juga masih memilliki ketergantungan pada negara
maju dalam beberapa aspek yang sampai saat ini kita belum memungkinkan
untuk lepas, yaitu:
1. Mata pelajaran Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran wajib dari
jenjang pendidikan dasar, menengah hingga tinggi. Hal ini dikarenakan
Bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan palling banyak
dipergunakan dalam hubungan dengan negara-negara lain di dunia
sehingga mempelajari dan menguasainya merupakan prasyarat untuk
berkembang.
2. Ilmu-illmu pengetahuan alam dan sosial yang diajarkan sebagian besar
masih berkiblat pada teori-teori yang berasal dari negara maju. Mata
pelajaran sains baik Fisika, Kimia, Biologi dan juga Matematika masih
bergantung dari teori yang berasal dari negara maju. Demikian juga dalam
kajian-kajian illmu sosial masih banyak yang mengacu pada teori yang
berasal dari negara maju.
3. Ilmu-illmu teknologi dan rekayasa, teknik informatika dan komputer, illmu
kimia, kedokteran, dan ilmu-illmu terapan hampir semuanya berasal dari

28

negara maju dan kita tinggal mempelajari dan menerapkannya dalam


kegiatan pembelajaran.
4. Teknologi mutakhir baik otomotif, komputer dan perangkat elektronika
dan sebagian besar perangkat modern (high technology) hampir semuanya
juga berasal dari negara maju.
Dari contoh di atas kita juga dapat melihat bahwa sampai dengan saat ini kita
belum mampu mandiri dallam isi mata pellajaran yang berhubungan dengan
ilmu-ilmu terapan dan teknollogi modern terhadap negara maju. Disadari
sepenuhnya bahwa selama kita belum dapat mandiri dan masih tergantung
dengan bangsa lain dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
maka selama itu pula kita tidak dapat lepas dari ketergantungan terhadap
negara maju. Pembangunan pendidikan ke depan perlu memikirkan dan
mengupayakan secara maksimal segenap potensi yang ada agar terjadi alih
teknologi bahkan diharapkan cendikiawan kita mampu membangun tradisi
belajar dan riset untuk membangun peradaban yang lebih baik bagi bangsa
kita. Generasi emas ke depan harus dibekali dengan karakter nasionalisme
yang kuat dan dibangun budaya belajar dan masyarakat berbudaya ilmu
pengetahuan agar selalu meningkatkan diri dan terbentuk budaya riset dalam
seluruh ilmu pengetahuan. Kemajuan pendidikan yang diimbangi dengan
kemajuan ilmu pengetahuan diyakini dapat mengantarkan bangsa menuju
pada kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga negara dan terwujud
peradaban baru yang lebih damai dan membawa kebaikan bagi semua.

B. Praksis Pendidikan Nasional yang dapat Mewujudkan Generasi Emas


Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional bab I, pasal I ayat (1)
menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mengembangkan potensi siswa untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

29

Pandangan klasik tentang pendidikan pada umumnya dikatakan


sebagai pranata yang dapat dijalankan pada tiga fungsi sekaligus; Pertama,
menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu
dalam masyarakat di masa depan. Kedua, mentransfer atau memindahkan
pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan, dan Ketiga,
mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan
masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat
dan peradaban.
Awal dari praksis pendidikan dimulai dari keyakinan, bahwa manusia
tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan orang
lain. Dari sejak seorang bayi lahir pada hakikatnya ia memerlukan perlakuan
dan bantuan orang lain. Tanpa bantuan ibu atau orang dewasa lain yang
mengasuhnya, bayi itu tidak akan dapat memilki kecakapan hidup yang
bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya kelak. Dari perspektif filosofis,
keyakinan itu mengisyaratkan adanya pusat perhatian yang utama: manusia
(human) dengan segala potensi kemanusiaannya (humanities) yang masih
memerlukan proses pendidikan. Dengan berlandaskan pada keyakinan seperti
ini berarti bahwa pendidikan haruslah diupayakan untuk membimbing,
membantu, atau memperbaiki tingkah laku manusia ke arah tingkah laku yang
selaras dengan norma-norma yang berlaku secara umum.
Mendidik manusia menjadi manusia yang berkualitas baik bukanlah
pekerjaan mudah, memerlukan pemahaman yang seksama pada hekekat
kemanusiaan dan hakikat pendidikan. Pendidikan nasional kita mempunyai
suatu keinginan mewujudkan generasi emas, dari sebelum kemerdekaan
upaya-upaya ini sudah dilaksanakan, upaya upaya ini dapat kita dalam
catatanan sejarah bangsa Indonesia. Gerakan gerakan praksis pendidikan di
Indonesia dapat kita lihat dari perkembangan sejarah Indonesia. Pergerakan
itu antara lain :

30

1. Pergerakan Ki Hajar Dewantara


Konsepsi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara diantaranya
adalah mendidik yaitu memanusiakan manusia dalam hal ini berarti
membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka
tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis). Dalam konsep
pendidikan Ki Hajar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu
sistem Pengajaran dan Pendidikan yang harus bersinergis satu sama
lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah
(kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan
manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil
keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Sehingga ajaran yang
dicetuskan oleh Bapak Pendidikan kita yaitu Bapak Ki Hajar Dewantara
sangatlah penting untuk kita ulas dan ingat kembali.
Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada
tanggal 3 Juli 1922, bertujuan mengganti sistem pendidikan dan
pengajaran Belanda dengan sistem baru berdasarkan kebudayaan sendiri.
Untuk mewujudkan cita-citanya itu, maka diterapkan asas-asas pendidikan
dan dasar-dasar. Asas pendidikan ini dikenal dengan asas 1922, sebagai
berikut:
a. Pasal pertama: Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan
mengingati tertibnya persatuan, dalam perikehidupan umum. Tertib
dan damai itulah tujuan kita yang tertinggi. Tidak akan ada ketertiban
jika tidak ada kedamaian. Sebaliknya tidak ada kedamaian selama
orang dirintangi dalam mengembangkan hidupnya yang wajar.
Tumbuh menurut kodrat merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan
yang wajar, mengutamakan perkembangan diri menurut kodratnya.
Oleh karenanya Ki Hadjar Dewantara menolak faham pendidikan
dalam arti dengan sengaja membentuk watak anak melalui paksaan
dan hukuman. Cara yang demikian disebut Sistem Among.

31

b. Pasal kedua: Dalam sistem ini maka pelajaran berarti mendidik anak
menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan
merdeka tenaganya. Dengan demikian seorang guru atau pamong
tidak hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, tetapi
juga harus mendidik kepada siswa untuk mencari sendiri pengetahuan
itu dan memakainya untuk amal keperluan umum. Hal ini
menunjukkan bahwa ajaran Ki Hadjar Dewantara mengutamakan
kemandirian pada diri peserta didik, yang dengannya peserta didik
akan memiliki karakter mandiri.
c. Pasal ketiga: tentang zaman yang akan datang, rakyat kita ada di dalam
kebingungan. Sering kita tertipu oleh keadaan, yang kita pandang
perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa
asing, yang sulit didapatnya dengan alat penghidupan kita sendiri.
Demikianlah acapkali kita merusak sendiri kedamaian hidup kita. Lagi
pula kita sering mementingkan pengajaran menuju terlepasnya
pikiran, padahal pengajaran itu membawa kita kepada gelombang
penghidupan yang tidak merdeka dan memisahkan orang-orang yang
terpelajar dengan rakyatnya. Dalam zaman kebingungan ini
seharusnyalah keadaan kita sendiri, kita pakai sebagai penunjuk jalan,
untuk mencari penghidupan baru, yang selaras dengan kodrat kita dan
akan memberi kedamaian dalam hidup kita. Pasal ini juga merupakan
bagian penting dalam membangun karakter anak bangsa untuk
menjadi manusia yang tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa yang
beradab.
d. Pasal keempat: Dasar kerakyatan. Pengajaran yang hanya terdapat
pada sebagian kecil rakyat Indonesia tidak berfaedah untuk bangsa,
maka seharusnyalah golongan rakyat yang terbesar mendapat
pengajaran secukupnya. Hal ini mengandung pengertian, bahwa
memajukan pengajaran untuk rakyat umum atau kuantitas pendidikan

32

lebih baik daripada meninggikan pengajaran (kualitas) jikalau


meninggikan pengajaran dapat mengurangi tersebarnya pengajaran.
e. Pasal kelima: Untuk dapat berusaha menurut asas dengan bebas dan
leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Walaupun
kita tidak menolak bantuan dari orang lain, akan tetapi kalau bantuan
itu akan mengurangi kemerdekaan kita lahir atau batin haruslah
ditolak. Ini adalah wujud nyata karakter kemandirian.
f. Pasal keenam: Keharusan untuk membelanjai diri sendiri segala usaha
Taman Siswa. Usaha ini terkenal dengan Zelbedruiping-systeem. Hal
semacam ini amat sukar, karena untuk dapat membelanjai diri sendiri
tanpa menerima bantuan orang lain diperlukan keharusan untuk
hidup sederhana. Ajaran ini merekomendasikan kepada kita untuk
hidup sederhana, atau dengan kata lain, hidup sederhana sebagai
bentuk karakter positif perlu terus ditradisikan.
g. Pasal ketujuh: Dengan tidak terikat lahir atau batin, serta kesucian
hati, berminat kita berdekatan dengan Sang Anak. Kita tidak
meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri untuk berhamba
kepada Sang Anak. Dengan kata lain, keikhlasan lahir dan batin
untuk mengorbankan segala kepentingan kita kepada selamat
bahagianya anak didik.
Selain asas-asas tersebut, Taman Siswa juga memiliki dasar-dasar
pendidikan sebagai lanjutan cita-cita Ki Hadjar Dewantara yaitu terkenal
dengan sebutan Panca Darma, yaitu: (1) Kodrat alam, (2) Kemerdekaan,
(3) Kebudayaan, (4) Kebangsaan, dan (5) Kemanusiaan (Muchamad
Tauchid dan Ki Suratman, 1988: 16).
Kodrat alam mengandung pengertian pada hakekatnya manusia
sebagai makhluk tidak dapat terlepas dari kehendak hukum kodrat alam.
Manusia akan mengalami kebahagiaan jika dapat menyatukan diri dengan
kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan. Dasar
kemerdekaan mengandung arti, kemerdekaan sebagai karunia Tuhan

33

kepada semua makhluk manusia yang memberikan kepadanya hak untuk


mengatur dirinya sendiri, dengan selalu mengingat syarat-syarat tertib
damainya hidup bersama (masyarakat). Dasar kebudayaan mengandung
pengertian, membawa kebudayaan kebangsaan itu kearah kemajuan
dunia dan kepentingan hidup rakyat, lahir dan batin.
Dasar kebangsaan memiliki maksud, tidak boleh bertentangan
dengan kemanusiaan, malahan harus menjadi bentuk dan fitrah
kemanusiaan yang nyata. Oleh karena itu tidak mengandung arti
permusuhan dengan bangsa lain, melainkan mengandung rasa satu
dengan bangsa sendiri, rasa satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam
kehendak menuju kepada kebahagiaan hidup lahir serta batin seluruh
bangsa. Dasar kemanusiaan mempunyai maksud bahwa darma tiap-tiap
manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang berarti kemajuan
manusia lahir dan batin yang setinggi-tingginya yang dapat dilihat pada
kesucian hati seseorang serta adanya rasa cinta kasih terhadap sesama
manusia dan terhadap makhluk Tuhan seluruhnya, yang bersifat
keyakinan adanya hukum kemajuan yang meliputi alam semesta.
Dalam

pelaksanaan

pendidikan,

Ki

Hadjar

Dewantara

menggunakan Sistem Among sebagai perwujudan konsepsi beliau


dalam menempatkan anak sebagai sentral proses pendidikan. Dalam
Sistem Among, maka setiap pamong sebagai pemimpin dalam proses
pendidikan diwajibkan bersikap: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya
mangun karsa, dan Tutwuri handayani (MLPTS, 1992: 19-20). Ing ngarsa
berarti di depan, atau orang yang lebih berpengalaman dan atau lebih
berpengatahuan. Sedangkan tuladha berarti memberi contoh, memberi
teladan (Ki Muchammad Said Reksohadiprodjo, 1989: 47). Jadi ing ngarsa
sung tuladha mengandung makna, sebagai among atau pendidik adalah
orang yang lebih berpengetahuan dan berpengalaman, hendaknya
mampu menjadi contoh yang baik atau dapat dijadikan sebagai central
figure bagi siswa.

34

Mangun karsa berarti membina kehendak, kemauan dan hasrat


untuk mengabdikan diri kepada kepentingan umum, kepada cita-cita yang
luhur. Sedangkan ing madya berarti di tengah-tengah, yang berarti dalam
pergaulan dan hubungannya sehari-hari secara harmonis dan terbuka. Jadi
ing madya mangun karsa mengandung makna bahwa pamong atau
pendidik sebagai pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan
minat, hasrat dan kemauan anak didik untuk dapat kreatif dan berkarya,
guna mengabdikan diri kepada cita-cita yang luhur dan ideal. Tutwuri
berarti mengikuti dari belakang dengan penuh perhatian dan penuh
tanggung jawab berdasarkan cinta dan kasih sayang yang bebas dari
pamrih dan jauh dari sifat authoritative, possessive, protective dan
permissive yang sewenang-wenang. Sedangkan handayani berarti
memberi kebebasan, kesempatan dengan perhatian dan bimbingan yang
memungkinkan anak didik atas inisiatif sendiri dan pengalaman sendiri,
supaya mereka berkembang menurut garis kodrat pribadinya.
Sistem pendidikan yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara juga
merupakan warisan luhur yang patut diimplementasikan dalam
mewujudkan generasi emas. Jika para pendidik sadar bahwa dengan
mengimplementasikan: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun
karsa, dan Tutwuri handayani, merupakan salah satu langkah dalam
mewujudkan generasi emas.

2. Pendidikan Karakter
Terdapat berbagai rumusan dlam memaknai karakter maupun
pendidikan karakter Rumusan tersebut antara lain:
a. Character is the combination of personal qualities that make each
person unique. Teachers, parents, and community members help
children build positive characterqualities. For example, the six pillars of
character are trustworthiness, respect,responsibility, fairness, caring,
and citizenship. Character deals with how people think and behave

35

related to issues such as right and wrong, justice and equity, and other
areas of human conduct (www.eduscapes.com).
b. Character is attribute or a quality that defines a person. This means that
you are defined by a certain set of habits, qualities or attitudes and
these form the basis upon which you character is judged
(www.indianchild.com)
c. Character education is the development of knowledge, skills, and
abilities that encourage children and young adults to make informed
and responsible choices (www.eduscapes.com).
d. Character education is the deliberate effort to help people understand,
care

about,

and

act

www.goodcharacter.com).

upon

core

ethical

values

(Lickona,

Lebih lanjut Lickona mengemukakan:

When we think about the kind of character we want for our children,
its clear that we want them to be able to judge what is right, care
deeply about what is right, and then do what they believe to be right
even in the face of pressure from without and temptation from within.
e. Character education is the development of knowledge, skills, and
abilities that enable the learner to make informed and responsible
choices. It involves a shared educational commitment that emphasizes
the responsibilities and rewards of productive living in a global a diverse
society (www.urbanext.illinois.edu)
f. Character education is an umbrella term loosely used to describe the
teaching of children in a manner that will help them develop variously
as moral, civic, good,mannered, behaved, non-bullying, healthy,
critical, successful, traditional, compliant and/ or socially-acceptable
beings (wikipedia.com)
g. Character education (CE) is everything you do that influences the
character of the kids you (Elkin & Sweet, 2004)
Dari berbagai pendapat tersebut secara sederhana dapat
dirumuskan bahwa pada dasanya karakter menyangkut kualitas diri dan

36

keyakinan seseorang yang akan melandasi perilaku Sedangkan pendidikan


karakter adalah upaya meningkatkan pengetahuan, ketrampilan maupun
sikap yang dibutuhkan agar seseorang berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
luhur, norma, etika, maupun aturan yang berlaku.
Pendidikan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3). Hanya
dalam kenyatan, justru banyak warga negara yang tidak berakhlak mulia
(sejenis korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan kekerasan), kurang mandiri
(konsumtif), tidak bertanggung jawab, dan kasus lain yang justru
bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Dari contoh Beberapa
kasus di atas menunjukkan bahwa pendidikan kita belum mampu
membangun karakter bangsa. Praksis pendidikan yang terjadi di kelaskelas tidak lebih dari latihan-latihan skolastik, seperti mengenal,
membandingkan, melatih, dan menghapal, yakni kemampuan kognitif
yang sangat sederhana, di tingkat paling rendah (Winarno Surachmad,
dkk.: 2003: 114).
Secara lebih ekstrim Helena Asri Sinawang (2008), mengatakan
bahwa kecenderungan yang muncul, pendidikan dipersempit menjadi
"persekolahan" yang kemudian dipersempit lagi dengan "pengajaran".
Selanjutnya "pengajaran" dipersempit kembali dengan "pengajaran di
ruang kelas" dan semakin sempit menjadi penyampaian materi kurikulum
yang hanya berorientasi pada pencapaian target sempit ujian nasional
(UN). Penyempitan seperti ini hanya mengarah pada aspek kognitif dan
intelektual. Sedangkan unsur fundamental yang berakar pada nilai moral
dari pendidikan itu sendiri terlupakan. Akibatnya pendidikan hanya
menghasilkan manusia yang skolastik dan pandai secara intelektual namun
kurang memiliki karakter utuh sebagai pribadi. Apa yang salah dengan

37

pendidikan sehingga setelah lebih dari enampuluh tahun Indonesia


merdeka, pendidikan nasional belum mampu berfungsi menunjang
tumbuhnya bangsa yang berkarakter? Selama masalah pendidikan
dibiarkan mengelinding bebas, sehingga siapapun boleh dan berhak
mengulas masalah pendidikan dengan versinya masing-masing tanpa
landasan falsafah yang memadai, maka potret pendidikan kita akan
semakin carut-marut.
Pendidikan karakter di Indonesia dimulai sejak tahun ajaran 2011,
seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan
berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. Ada 18 nilai-nilai dalam
pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh
Diknas. 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:
a. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang
dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup
rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang
yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,
pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.
e. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.

38

f. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil
baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
g. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
h. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain.
i.

Rasa Ingin Tahu


Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih
mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan
didengar.

j.

Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.

k. Cinta Tanah Air


Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan
kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
l.

Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain.

m. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain.

39

n. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain.
o. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebajikan bagi dirinya.
p. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain
dan masyarakat yang membutuhkan.
r. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan
Yang

Maha

Esa.

(http://rumahinspirasi.com/18-nilai-dalam-

pendidikan-karakter-bangsa/)

3. Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skilll Education)


Secara historis pendidikan sudah ada sejak manusia ada dimuka
bumi ini. Ketika kehidupan masih sederhana, orang tua mendidik anaknya,
atau anak belajar kepada orang tuanya atau orang lain yang lebih dewasa
di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan
badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari lingkungannya atau alam
sekitarnya. Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai
kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi

40

tugas-tugas kehidupan, mecari solusi untuk memecahkan dan mengatasi


problem yang dihadapi sehari-hari.
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka
sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian dan
pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Maka dalam sejarah
pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian
utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi demi generasi
sejalan dengan tuntutan kemajuan masyrakat. Menurut keyakinan kita,
sejarah pembentukan masyarakat dimulai sejak keluarga Adam dan Hawa
sebagai unit kecil dari masyarakat besar umat manusia dimuka bumi ini.
Dalam keluarga Adam itulah telah dimulai proses kependidikan umat
manusia, meskipun dalam ruang lingkup terbatas sesuai dengan
kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya.
a. Landasan Historis Pendidikan Kecakapan Hidup
Selanjutnya, dasar minimal dari usaha mempertahankan hidup
manusia terletak pada orientasi manusia kearah tiga hubungan, yaitu:
1) Hubungan manusia dengan yang maha pencipta yaitu Tuhan
sekalian alam.
2) Hubungan dengan sesama manusia. Dalam keluarga Adam,
hubungan tersebut terbatas pada hubungan anggota keluarga.
3) Hubungan dengan alam sekitar yang terdiri dari berbagai unsur
kehidupan, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan kekuatan
alamiah yang ada.
Dari

tiga

prinsip

hubungan

inilah,

kemudian

manusia

mengembangakan proses pertumbuhan kebudayaannya. Proses ini


yang mendorong manusia kearah kemajuan hidup sejalan dengan
tuntutan yang semakin meningkat. Manusia sebagai makhluk Tuhan,
telah dikaruniai Allah kemampuan-kemampuan dasar yang bersifat
rohaniah

dan

jasmaniah, agar

mempertahankan

hidup

serta

dengannya manusia mampu


memajukan

kesejahteraanya.

41

Kemampuan dasar manusia tersebut dalam sepanjang sejarah


pertumbuhannya merupakan modal dasar untuk mengembangkan
kehidupannya disegala bidang.
Sarana utama yang dibutuhkan untuk mengembangkan
kehidupan manusia tidak lain adalah pendidikan, dalam dimensi yang
setara dengan tingkat daya cipta, daya rasa dan daya karsa masyarakat
serta anggota-anggotanya.Oleh karena itu antara manusia dan
tuntutan hidupnya saling berpacu berkat dari dorongan ketiga daya
tersebut., maka pendidikan menjadi semakin penting. Bahkan boleh
dikata pendidikan merupakan kunci dari segala bentuk kemajuan
hidup umat manusia sepanjang sejarah.
Pendidikan berkembang dari yang sederhana (primitive) yang
berlangsung dari zaman dimana manusia masih berada dalam ruang
lingkup kehidupan yang serba sederhana. Tujuan-tujuan pun amat
terbatas pada hal-hal yang bersifat survival (pertahan hidup dari
ancaman alam sekitar). Yaitu keterampilan membuat alat-alat untuk
mencari dan memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidup, beserta
pemeliharaanya, serta disesuaikan dengan kebutuhannya. Akan tetapi
ketika manusia telah dapat membentuk masyarakat yang semakin
berbudaya dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi, maka
pendidikan ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan,
melainkan kepada pengembangan kemapuan-kemampuan teoritis
dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah,3 atau lebih
jelasnya masalah kehidupan dan fenomena alam kemudian
diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan.
Persoalan pendidikan pada hakekatnya merupakan persoalan
yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia dan
mengalami perubahan serta perkembangan sesuai dengan kehidupan
tersebut baik secara teori maupun secara konsep operasionalnya.
Pendidikan merupakan salah satu unsur dari aspek sosial budaya yang

42

berperan sangat strategis dalam pembinaan suatu keluarga,


masyarakat, atau bangsa. Kestrategisan peranan ini pada intinya
merupakan suatu ikhtiar yang dilaksanakan secara sadar, sistematis,
terarah dan terpadu untuk memanusiakan peserta didik serta
menjadikan mereka sebagai khalifah dimuka bumi dengan berbekal
kecakapan hidup. Manusia sebagai makhluk Tuhan, telah dikaruniai
Allah kemampuan-kemampuan dasar yang bersifat rohaniah dan
jasmaniah, agar dengannya manusia mampu mempertahankan hidup
serta memajukan kesejahteraanya. Kemampuan dasar manusia
tersebut dalam sepanjang sejarah pertumbuhannya merupakan modal
dasar untuk mengembangkan kehidupannya disegala bidang.

b. Landasan Filosofis Pendidikan Kecakapan Hidup


Pendidikan berjalan pada setiap saat dan disegala tempat.
Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa akan mengalami
proses pendidikan, lewat apa yang dijumpainya atau apa yang
dikerjakannya. Walau tidak ada pendidikan yang sengaja diberikan,
secara alamiah setiap orang akan terus belajar dari lingkungannya.
Pendidikan sebagai suatu sistem pada dasarnya merupakan sistemasi
dari proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu secara filosofis
pendidikan diartikan sebagai suatu proses perolehan pengalaman
belajar yang berguna bagi peserta didik, sehingga siap digunakan
untuk

memecahkan

problem

kehidupan

yang

dihadapinya.

Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga


mengilhami mereka ketika menghadapi problem dalam kehidupan
sesungguhnya. Selama ini strategi pembelajaran dalam pendidikan
formal didominasi oleh faham strukturalisme, obejektivisme,
behavioristik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurhadi dan Agus
Gerrad Senduk bahwa dalam pembelajaran pendidikan formal hanya
bertujuan siswa mengingat informasi yang faktual. Buku tek dirancang,

43

siswa membaca atau diberi informasi, selanjutnya terjadi proses


memorisasi. Tujuan-tujuan pembelajaran dirumuskan secara jelas
untuk keperluan merekam informasi. Pembelajaran dilaksanakan
dengan mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Aktivitas belajar
mengikuti buku teks. Tujuan pembelajaran menekankan pada
penambahan pengetahuan, dan seseorang dikatakan telah belajar
apabila ia mampu mengungkapkan kembali apa yang telah
dipelajarinya.
Menurut faham konstruktivistik berbeda dengan faham klasik,
pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) siswa sendiri yang
sedang belajar.5 Atau dengan kata lain, manusia membangun atau
menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi arti pada
pengetahuan sesuai dengan pengalamnnya. Pengetahuan itu rekaan
dan tidak stabil, oleh karena itu pengetahuan adalah konstruksi
manusia dan secara konstan manusia mengalami pengalamanpengalaman baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil. Oleh
karena itu pemahan yang kita peroleh senantiasa bersifat tentatif dan
tidak lengkap, pemahaman kita akan semakin mendalam dan kuat jika
diuji melalui pengalaman-pengalaman baru.
Dalam proses pembelajaran dan arahan guru hanya
merupakan bahan yang harus diolah dan dirumuskan oleh siswa
sendiri. Tanpa siswa sendiri aktif mengelola, mempelajari dan
mencerna ia tidak akan menjadi tahu. Maka dalam hal ini pendidikan
atau pengajaran harus membantu anak didik aktif belajar sendiri. Dan
pengetahuan juga bisa dibentuk secara sosial (bersama). Vygotsky
mengatakan bahwa pengetahuan anak dibentuk dalam kerjasama
dengan teman lain. Hal ini terutama berlaku pada pembelajaran
bahasa. Orang akan hanya bisa lebih maju dalam bidang bahasa bila ia
belajar bersama orang lain. Maka, Vygotsky menekankan pentingnya
dalam kerja sama, studi kelompok. Dalam studi kelompok itu siswa

44

dapat saling mengoreksi, mengungkapkan gagasan, dan saling


meneguhkan.
Peran guru atau pendidik dalam aliran konstuktivisme ini
adalah sebagai fasilitator atau moderator. Tugasnya adalah
merangsang, membantu siswa untuk mau belajar sendiri, dan
merumuskan pengertiannya. Guru juga mengevaluasi apakah gagasan
siswa itu sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak, sedangkan tugas
siswa adalah aktif belajar dan mencerna. Dengan dasar itu,
pembelajaran,

pendidikan

harus

dikemas

menjadi

proses

mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses


pembelajaran siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui
keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat
kegiatan, bukan guru. Bentuk pembelajaran yang ideal adalah
pembelajaran siswa yang aktif dan kritis. Siswa tidak kosong, tetapi
sudah punya pengertian awal tertentu yang harus dibatu untuk
berkembang. Maka modelnya adalah model dialogal, model
konsistensi, model mencari bersama antara siswa dan guru. Maka,
model pembelajaran yang baik adalah model demokratis dan dialogis.
Siswa dapat mengungkapkan gagasannya, dapat mengkritik pendapat
guru yang dianggap tidak tepat, dapat mengungkapkan jalan
pikirannya yang lain dari guru. Guru tidak menjadi diktator yang hanya
menekankan satu nilai satu jalan keluar, tetapi lebih demokratis. Maka
model pendidikan yang membuat siswa bisu (budaya bisu) tidak
zamannya lagi. Pendidikan yang benar harus membebaskan siswa
tidak dijadikan penurut dan jadi robot, tetapi menjadi pribadi yang
dapat berpikir, memilih, dan menentukan sikap.
Landasan berfikir konstruktivisme agak berbeda dengan
pandangan kaum objektivis dalam hal tujuan pembelajaran. Kaum
objektivis lebih menekankan pada hasil pembelajaran yang berupa
pengetahuan.

Dalam

pandangan

konstruktivistik

starategi

45

memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa


memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu menurut faham
konstruktivisme tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut
dengan cara:
1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
2) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya
sendiri, dan
3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri
dalam belajar.
Pada

dasarnya

dalam

pandangan

konstruktivisme,

pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman, maka


dalam hal ini ada empat konsep dasar Jean Piaget yang dapat
diaplikasikan pada pendidikan dalam berbagai bentuk dan bidang
studi, yang berimplikasi pada organisasi lingkungan pendidikan, isi
kurikulum, dan urutan-urutannya, metode mengajar, dan evaluasi.
Keempat konsep dasar tersebut adalah: (1) Skemata, (2) Asimilasi, (3)
Akomodasi, dan (4) Ekuilibrium.
1) Skemata
Manusia

selalu

berusaha

menyesuaikan

diri

dengan

lingkungannya. Manusia cenderung mengorganisasikan tingkah


laku dan pikirannya. Secara sederhana skemata dapat dipandang
sebagai kumpulan konsep atau katagori yang digunakan individu
ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Skemata ini
berfungsi melakukan adaptasi dengan lingkungan dan menata
lingkungan itu secara intelektual. Dalam hal ini Jean Piaget
mengatakan bahwa skemata orang dewasa berkembang mulai
skemata anak melalui proses adaptasi sampai pada penataan atau
organisai. Dengan demikian, skemata adalah struktur kognitif
yang selalu berkembang dan berubah. Proses yang menyebabkan
adanya perubahan itu adalah asimilasi dan akomodasi.

46

2) Asimilasi
Asimilasi dimaksudkan sebagai suatu proses kognitif dan
penyerapan pengalaman baru, dimana seseorang memadukan
stimulus atau persepsi kedalam skemata atau prilaku yang telah
ada. Pada dasarnya asimilasi tidak mengubah skemata, tetapi
mempengaruhi atau memungkinkan pertumbuhan skemata.
Dengan demikian, asimilasi adalah proses kognitif individu dalam
usahanya untuk mengadaptasi diri dengan lingkungannya.
Asimilasi terjadi secara kontinyu, berlangsung terus menerus
dalam perkembangan kehidupan intelektual anak.
3) Akomodasi
Akomodasi

adalah

suatu

proses

struktur

kognitif

yang

berlangsung sesuai dengan pengalaman baru. Proses kognitif


tersebut

menghasilkan

terbentukya

skemata

baru

dan

berubahnya skemata lama. Jadi pada hakikatnya akomodasi


menyebabkan

terjadinya

perubahan

atau

pengembangan

skemata. Sebelum terjadi akomodasi, ketika anak menerima


stimulus yang baru, struktur mentalnya menjadi goyah, beru
seterusnya asimilasi dan akomodasi terjadi secara terus mnerus.
Dengan demikian skemata berkembang sepanjang waktu
bersama-sama dengan bertambahnya pengalaman.
4) Equilibrium (keseimbangan)
Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan, individu berusaha
untuk mencapai struktur mental yang stabil. Stabil dalam artian
bahwa terjadi keseimbangan antara proses asimilasi dan roses
akomodasi. Seandainya hanya terjadi asimilasi secara kontinyu,
maka yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata
yang global dan tidak mampu melihat perbedaan-perbedaan
antara berbagai hal.

47

Dari faham konstruktivistik, proses pendidikan menekankan


pada perkembangan intelektual yang dihasilkan dari interaksi antara
individu

dengan

lingkungannya,

sehingga

kemudian

melalui

pengalaman tersebut pengetahuan akan tumbuh dan akan


berkembang. Pendidikan sebagai sebuah sistem, pada dasarnya
merupakan sistemasi dari proses pengalaman pendidikan. Oleh karena
itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses perolehan
pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik, dan pengalaman
tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki
peserta didik sehingga siap digunakan untuk memecahkan problem
kehidupan yang dihadapinya. Dengan alasan tersebutlah faham
konstruktivime ini dijadikan landasan filosofis dalam pengembangan
pendidikan kecakapan hidup (Life Skill).

c. Landasan Yuridis Pendidikan Kecakapan Hidup


Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia,
mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan
dengan perubahan global serta perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, bangsa Indonesia melalui DPR dan Presiden pada tanggal 11
Juni 2003 telah mensahkan Undang-undang sistem pendidikan
nasional yang baru, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas
Nomor 2 Tahun 1989. Undang-undang sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003
yang terdiri dari 22 Bab dan 77 pasal tersebut merupakan salah satu
aplikasi dari tuntutan reformasi.
Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undangundang sisdiknas yang baru tersebut antara lain adalah demokratisasi
dan desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan
globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan
peserta didik. Sehingga kemudian sistem pendidikan nasional
diharapkan mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,

48

peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan


untuk menghadapi tantangan sesuai degan tuntutan perubahan
kehidupan lokal, nasional, dan global.
Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberi
bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta
didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan
mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya yaitu
dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya dimasa
yang akan datang. Karena kecakapan hidup merupakan kemampuan,
kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk
menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia, serta mampu
memecahkan persoalan hidup dan kehidupan tanpa adanya tekanan.
Salah satu tujuan dari pendidikan kecakapan hidup adalah
memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan
pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan
berbasis luas, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di
lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber
daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen
berbasis sekolah, dengan mendorong peningkatan kemandirian
sekolah, partisipasi dari stakeholders.
Penyelenggaraan
mendorong

pendidikan

pemberdayaan

kecakapan

masyarakat

dengan

hidup,

harus

memperluas

partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang meliputi peran serta


perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dan organisasi
kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
pelayanan pendidikan (pasal 54 ayat 1). Masyarakat tersebut dapat
berperanan sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil
pendidikan (pasal 54 ayat 2).14 Oleh karena itu masyarakat berhak
menyelenggarakan pendidikan yang berbasis masyarakat, dengan
mengembangkan

dan

melaksanakan

kurikulum

dan

evaluasi

49

pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan


standard nasional pendidikan (pasal 55 ayat 1 dan 2).
Dari landasan yuridis tersebut jelas kiranya bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab, sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari
pendidikan kecakapan hidup.
Secara

eksplisit

pendidikan

kecakapan

hidup

mampu

memberikan manfaat pribadi bagi peserta didik dan manfaat sosial


bagi masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan kecakapan hidup
dapat meningkatkan kualitas berpikir, kualitas kalbu, dan kualitas fisik.
Peningkatan

kualitas

tersebut

pada

gilirannya

akan

dapat

meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya


karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani,
peluang,

pengembangan

diri,

kemampuan

kompetitif,

dan

kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat, pendidikan kecakapan hidup


dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan
indikator-indikator

adanya:

peningkatan

kesejahteraan

sosial,

pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalahmasalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis
mampu memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa
dan seni.

50

4. Pendidikan untuk Mewujudkan Generasi Emas


Kita semua menyadari, bahwa hanya melalui pendidikan bangsa
kita menjadi maju dan dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa lain,baik
dalam bidang sains dan teknologi maupun ekonomi. Peran pendidikan
penting juga dalam membangun peradaban bangsa yang berdasarkan atas
jati diri dan karakter bangsa. Apapun persoalan bangsa yang dihadapi
komitmen kita untuk melaksanakan pembangunan pendidikan sesuai
dengan amanat konstitusi dan berbagai peraturan perundangan-undangan
yang berlaku tetap dipegang. Komitmen ini direalisasikan dalam berbagai
kebijakan dan program yang diarahkan untuk mencapai tujuan
meningkatnya kualitas sumber daya manusia demi tercapainya kemajuan
bangsa dan negara di masa depan, sebagaimana yang kita cita-citakan
bersama. Ini menjadi bagian penting yang menentukan perkembangan
pendidikan di Indonesia.
Pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa
mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan
untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pendidikan
adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan
mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu. Disamping itu
pendidikan adalah suatu hal yang benar-benar ditanamkan selain
menempa fisik,mental dan moral bagi individu-individu,agar mereka
menjadi manusia yang berbudaya sehingga diharapkan mampu memenuhi
tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta
Alam,sebagai mahluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifah-Nya di
muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan
bermanfaat bagi suatu negara. Dalam konteks modern dan kontemporer,
isitilah pendidikan senantiasa diletakkan dalam kerangka kegiatan dan
tugas yang ditujukan bagi sebuah angkatan atau generasi yang sedang ada
dalam masa-masa pertumbuhan. Oleh karena itu pendidikan lebih
mengarahkan

dirinya

pada

pembentukan

dan

pendewasaan

51

pengembangan kepribadian manusia yang mengutamakan proses


pengembangan dan pembentukan diri secara terus menerus (on going
formation).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada sambutan Peringatan
Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2012 menyatakan bahwa
tema Hari Pendidikan Nasional Tahun 2012 adalah Bangkitnya Generasi
Emas Indonesia. Karena pada periode tahun 2010 sampai 2035 bangsa
kita dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa potensi sumber daya manusia
berupa populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Jika kesempatan
emas yang baru pertama kalinya terjadi sejak Indonesia merdeka tersebut
dapat kita kelola dan manfaatkan dengan baik, populasi usia produktif yang
jumlahnya luar biasa tersebut insya Allah akan menjadi bonus demografi
(demographic dividend) yang sangat berharga. Di sinilah peran strategis
pembangunan bidang pendidikan untuk mewujudkan hal itu menjadi
sangat penting. (Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan: Sambutan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Peringatan Hari Pendidikan
Nasional 2012,Rabu,2 Mei 2012).
Genarasi ini disebut sebagai generasi emas karena merupakan
generasi penerus bangsa yang pada periode tersebut adalah sangat
produktif, sangat berharga dan sangat bernilai, sehingga perlu dikelola dan
dimanfaatkan dengan baik agar berkualitas menjadi insan yang
berkarakter, insan yang cerdas, dan insan yang kompetitif, serta menjadi
bonus demografi. Generasi emas sebagai generasi penerus bangsa yang
akan menentukan masa depan dan int depan diri dan bangsegritas bangsa
Indonesia. Generasi emas adalah generasi yang memandang masa depan
diri dan bangsanya,merupakan hal yang pertama dan utama. Generasi
emas adalag generasi muda yang penuh optimisme dan gairah untuk maju
dengan sikap dan pola pikir yang berlandaskan moral yang kokoh dan
benar. Generasi emas adalah generasi dengan visi ke depan yang
cemerlang,kompetensi yang memadai, dan dengan karakter yang kokoh,

52

kecerdasan yang tinggi, dan kompetitif,merupakan produk pendidikan


yang diidam-idamkan. Peserta didik dalam setiap jenjang,jenis,dan jalur
pendidikan merupakan individu yang sedang dalam masa-masa
pertumbuhan dan perkembangan,sedang dalam proses pengembangan
dan pembentukan diri secara terus menerus untuk menjadi generasi emas
yaitu insan yang bekarakter, cerdas dan kompetitif. Proses pembentukan
diri terus-menerus (on going formation) ini terjadi dalam kerangka ruang
dan waktu, melalui proses pendidikan bermutu.
Dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas Indonesia
diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan, yaitu
mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas,maju,mandiri,dan
modern, serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa.Keberhasilan
dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada
pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan. Dalam
konteks demikian,pembangunan pendidikan itu mencakup berbagai
dimensi yang sangat luas,yaitu dimensi sosial, budaya, ekonomi dan politik.
Pendidikan merupakan upaya memberdayakan peserta didik sebagai
generasi emas untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yaitu yang
menjunjung tinggi dan memegang dengan teguh norma dan nilai sebagai
berikut:
1) Norma agama dan kemanusiaan untuk menjalani kehidupan seharihari sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa,mahluk individu,maupun
sosial;
2) Norma persatuan bangsa untuk membentuk karakter bangsa dalam
rangka memelihara keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
3) Norma kerakyatan dan demokrasi untuk membentuk manusia yang
memahami

dan

demokrasi

dalam

bernegara; dan

menerapkan
kehidupan

prinsip-prinsip

kerakyatan

dan

bermasyarakat,berbangsa,dan

53

4) Nilai-nilai

keadilan

sosial

untuk

menjamin

terselenggaranya

pendidikan yang merata dan bermutu bagi seluruh bangsa serta


menjamin penghapusan segala bentuk deskriminasi dan bias gender
serta terlaksananya pendidikan untuk semua dalam rangka
mewujudkan masyarakat berkeadilan sosial.
(Rencana Strategis Kemeterian Pendidikan Nasional 2010-2014)

C. Hambatan yang Dihadapi Pendidikan Nasional dalam Rangka Mewujudkan


Generasi Emas
1. Tantangan Diri Sendiri
Gunnar Myrdal menyebut kita sebagai negara yang lembek (soft state)
dalam pengertian pemimpinpemimpin dan masyarakatnya tidak mampu
mengambil sikap yang tegas dan jelas terhadap suatu persoalan. Mochtar
Lubis (1977) dalam buku Manusia Indonesia merangkum sifatsifat jelek
orang Indonesia seperti suka jalan pintas, pemalas, dan hipokrit. Membaca
buku Lubis yang sangat keras ini seakan menemukan kebenaran dalam
realitas seharihari. Adam Schwatz menyebut kita sebagai Nation in
Waiting. Max Line menambahkan dalam bukunya Bangsa Yang Belum
Selesai. Negeri jiran Malaysia menyebut tenaga kerja Indonesia disana
sebagai Indon dalam makna yang merendahkan. Yang paling berat
diantara semuanya adalah kecilnya rasa percaya diri dan mulai hilangnya
harapan dari dada rakyat Indonesia, terutama ketika berhadapan dengan
bangsabangsa asing. Kita mulai merasa bahwa Indonesia tidak akan bisa
menjadi negara besar yang setara dengan Amerika Serikat, Cina, Jepang,
maupun India. Kita masih berkutat pada persoalan remeh-remeh yang
menguras tenaga, biaya, dan pikiran anakanak bangsa.
2. Tantangan Dalam Negeri
Berbeda dengan tantangan pertama yang bersifat kultural, tantangan
kedua ini lebih merupakan persoalan struktural, kebijakan-kebijakan yang
diambil oleh negara/pemerintah.

54

a. Korupsi adalah tantangan terberat. Praktik korupsi terjadi di semua


level dan sektor. Dari level pusat hingga ke desadesa. Dari sektor
formal hingga non formal, ekonomi hingga non ekonomi, dan sektor
sektor yang kita pandang selama ini misalnya jauh dari korupsi seperti
lembagalembaga keagamaan. Kita sudah memiliki aparat kepolisian,
kejaksaan, dan kehakiman untuk memberantasnya. Itu tidak cukup.
Kita bangun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk itu.
b. Kemiskinan masih tinggi. Angka pertumbuhan ekonomi tidak
berbanding lurus dengan dengan kesejahteraan masyarakat. Ini
berarti kue pertumbuhan ekonomi hanya tersirkulasi di kalangan elit
ekonomi saja. Rasio Gini terus meningkat yang mengindikasikan
semakin lebarnya jurang ketimpangan sosial. Pendidikan nasional yang
belum diarahkan untuk menjadi instrumen kesejahteraan. Dengan
alokasi 20% APBN, seharusnya pendidikan kita tidak mengalami
hambatan yang berarti untuk mendidik rakyat Indonesia dengan tepat
sehingga mereka dapat menjadi individu produktif yang menciptakan
kesejahteraan.
c. Birokrasi yang hingga kini belum direformasi secara sungguhsungguh.
Inefisiensi dan inefektivitas adalah gejala pokok birokrasi kita.
Kewirausahaan yang kurang didukung oleh policy negara/pemerintah.
Kecilnya jumlah pengusaha di Indonesia berbanding lurus dengan
output ekonomi yang dihasilkan dan lapangan pekerjaan baru yang
diciptakan.
d. Konglomerasi menghalangi potensipotensi muda untuk menjadi
pengusaha yang mandiri dan sejati.
e. Konflik sosial yang semakin menggejala di tengah masyarakat karena
abainya negara. Pertikaian kelompok sosial keagamaan semakin
menggerogoti

wibawa

berbangsa dan bernegara.

Pancasila

sebagai

perekat

kehidupan

55

f. Mafia hukum yang beroperasi dibalik temboktembok hukum kita,


mengabaikan rasa keadilan, merusak tatanan dan moral aparat
hukum, dan berimplikasi pada meluasnya perilaku korup.
g. Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia,
menghasilkan manusia robot. Kami katakan demikian karena
pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain
tidak seimbang.
h. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang
antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa
(afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi
adalah disintegrasi. Apalagi pemerintah sedang gencar-gencarnya
mengembangkan sekolah kejuruan/vokasional seolah-olah pendidikan
dianggap sebagai pabrik yang menciptakan manusia siap pakai. Dan
siap pakai di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang
dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan
teknologi, dalam hal ini manusia dipandang sama seperti bahan atau
komponen pendukung industri. Selain itu, sistem pendidikan yang topdown (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire
(seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya
bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para
peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apaapa. Guru sebagai pemberi pengarahan. Otak murid dipandang
sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer
kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan
tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang
disampaikan guru. Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan
murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak membebaskan
karena sangat menindas para murid. Freire mengatakan bahwa
dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah
anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya

56

berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai


pengetahuan apa-apa. Model pendidikan yang demikian menjadikan
manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi
kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya.
Manusia sebagai objek ( wujud dari dehumanisasi) merupakan
fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi,
menyebabkan manusia tercabut dari akar-akar budayanya (seperti di
dunia Timur/Asia). Lembaga pendidikan belum dianggap sebagai
sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan
tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus
juga mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya
dan situasi masyarakat lain.

3. Tantangan Global
Dunia berkembang semakin kencang dan berlari. Hegemoni Amerika
Serikat yang sangat kuat pada abad XX dan awal abad XXI terlihat semakin
pudar dengan naiknya Cina sebagai superpower baru. Tak butuh waktu
lama bagi Cina. Sejak dipimpin oleh Deng Xio-ping tahun 1978, Cina
mengambil langkah radikal dengan berpihak pada kapitalisme (tanpa
demokrasi). Dalam waktu kurang dari tiga dekade, Cina berhasil menggeser
Jepang sebagai ekonomi terbesar nomor dua di dunia setelah Amerika
Serikat. Cina menyebutnya sebagai Sosialisme ala Cina, dimana
kapitalisme diberi tempat tapi politik dikontrol sepenuhnya oleh Partai
Komunis Cina. Diprediksi oleh banyak ahli, Cina akan mampu menggeser
posisi ekonomi Amerika Serikat sebelum tahun 2050. Kini pengaruh Cina
semakin masuk karena kebutuhannya yang tinggi terhadap pasokan
sumberdaya alam mentah seperti gas, kayu, dan material lainnya untuk
memenuhi industri Cina yang sedang berkembang pesat. Kita hanya
menjual alam, tanpa mampu menjual hasil teknologi, buah dari
industrialisasi.

57

D. Solusi untuk Mengatasi Hambatan yang Dihadapi Pendidikan Nasional dalam


Rangka Mewujudkan Generasi Emas
1. Belajar hendaknya di pandang sebagai:
a. suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik
b. sarana

untuk

menumbuh-kembangkan

seluruh

potensi

dan

kemampuan serta meningkatkan mutu atau prestasi yang ipeserta


didik
c. memanusiakan peserta didik
d. mengedepankan keseimbangan pada penguasaan kognitif, afektif dan
ketrampilan siswa.
e. Proses yang menyenangkan, melayani semua jenis/tipe pembelajar,
f. Mengembangkan proses berpikir ilmah
g. Pemberdayaan siswa sebagai makhluk sosial sehingga perlu
mengutamakan strategi pembelajaran cooperative learning.
h. Sarana

bagi

pendidik

untuk

proses

terbentuknya

teraplikasikannya pendidikan karakter pada siswa diantaranya:

Gambar 2. Nilai-nilai Karakter Berlandaskan Budaya Bangsa

dan

58

2. Guru dalam melakukan pembelajaran harus mampu mengubah strategi


pembelajaran yang berlandaskan berlandaskan paradigma learning yang
ada dalam empat visi pendidikan menuju abad ke-21 versi UNESCO.
Keempat visi pendidikan ini sangat jelas berdasarkan pada paradigma
learning yaitu learning to know, learning to do, learning to live together,
dan learning to be. Paradigma belajar yang oleh UNESCO dipandang
sebagai pendekatan belajar yang perlu diterapkan untuk menyiapkan
generasi muda memasuki abad ke-21. Proses pembelajaran yang
mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of inquiry
memungkinkan peserta didik untuk terus belajar dan mampu memperoleh
pengetahuan baru. Karena itu hakikat dari Learning to Know adalah
proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menguasai teknik
memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh
pengetahuan. Dalam belajar mengutamakan proses pembelajaran yang
memungkinkan peserta didik terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji.
Ini berarti pendidikan berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional
sehingga leaner berani menyatakan pendapat dan bersikap kritis serta
memiliki semangat membaca, mengkaji dan meneliti yang tinggi. Model
pendekatan belajar seperti ini dapatlah dihasilkan lulusan yang memiliki
kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi dan dengan sendirinya
akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika pada learning to
know, sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi sehingga tercapainya keseimbangan dalam penguasaan IPTEK.
Pada learning to do, sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda
untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. Learning to do
(belajar berbuat/hidup), aspek yang dicapai dalam visi ini adalah
keterampilan seorang peserta didik dalam menyelesaikan problem
keseharian

yang

berkaitan

dengan

kehidupan.

Pendidikan

dan

pembelajaran diarahkan pada how to solve the problem. Pendekatan


belajar ini,mengandung makna atau berimplikasi pada pembelajaran yang

59

berorientasi pada paradigma pemecahan masalah yang memungkinkan


peserta didik berkesempatan mengintegrasikan pemahaman konsep,
penguasaan keterampilan teknis dan intelektual, untuk memecahkan
masalah dan dapat berlanjut kepada inovasi danimprovisasi. Paradigma
belajar

berdasarkan pemecahan masalah (problem-based learning)

berfokus pada penyajian suatu permasalahan, dan menawarkan


kebebasan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Melalui
pembelajaran ini peserta didik diharapkan untuk terlibat dalam proses
penelitian

yang

mengharuskan

peserta

didik

mengidentifikasi

permasalahan-permasalahan, mengumpulkan data dan menggunakan


data tersebut untuk pemecahan masalah. Peserta didik akan terlibat
sangat intensif, sehingga motivasi untuk terus belajar dan terus mencari
tahu menjadi meningkat.
3. Peran guru berubah dari guru atau ahli menjadi fasilitator atau
pembimbing. Problem-based learning mempunyai lima asumsi utama,
yaitu: Permasalahan sebagai pemandu, Permasalahan menjadi kerangka
berpikir bagi peserta didik dalam mengerjakan tugas, Permasalahan
sebagai kesatuan dan alat evaluasi,

Permasalahan sebagai contoh,

Permasalahan sebagai sarana yang menfasilitasi terjadinya proses.


Fokusnya pada kemampuan berpikir kritis dalam hubungannya dengan
permasalahan. Permasalahan menjadi alat untuk melatih peserta didik
dalam bernalar dan berpikir kritis. Permasalahan sebagai stimulus dalam
aktivitas belajar Fokusnya pada pengembangan keterampilan pemecahan
masalah dari kasus-kasus serupa. Pendidikan tidak hanya membekali
peserta didik untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta
memecahkan masalah,melainkan kemampuan untuk hidup bersama
dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, pengertian, dan
tanpa prasangka. Pendidikan diarahkan dalam pembentukan peserta didik
yang berkesadaran bahwa kita ini hidup dalam sebuah dunia yang global
bersama banyak manusia dari berbagai bahasa dan latar belakang

60

etnik,agama dan budaya. Disinilah pentingnya pilar ketiga yaitu learning


to live together (belajar hidup bersama). Pendidikan untuk mencapai
tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan terdapat
saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dengan
pendidikan yang menggunakan pendekatan tradisional,melainkan perlu
menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relatif lama. Dalam
hubungan ini,prinsip relevansi sosial dan moral sangat tepat. Suatu prinsip
yang memerlukan suasana belajar yang secara inherently mengandung
nilai-nilai toleransi saling ketergantungan, kerjasama, dan tenggang rasa.
Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk
mencapai tujuan bersama. Tiga pilar yaitu learning to know, learning to do,
dan learning to live together ditujukan bagi lahirnya peserta didik yang
mampu mencari informasi dan/atau menemukan ilmu pengetahuan,yang
mampu melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah, dan mampu
bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleran terhadap perbedaan. Hasil
akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya, menerima
dirinya,

mengarahkan

dirinya,mengambil

keputusan

dan

mengaktualisasikan dirinya. Manusia yang mandiri yang memiliki


kemantapan emosional, intelektual, moral, spiritual, yang dapat
mengendalikan dirinya, konsisten dan memiliki rasa empati atau dalam
kamus psikologi disebut memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan
intelektual, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual. Inilah makna
learning to be, yaitu muara akhir dari tiga pilar belajar. Pada masa
sekarang ini learning to be menjadi sangat penting karena masyarakat
modern saat ini sedang dilanda krisis kepribadian. Oleh karena itu melalui
learning to be sebagai muara akhir dari tiga pilar belajar akan mampu
membantu peserta didik dimasa depannya bisa tumbuh dan berkembang
menjadi pribadi yang mantap dan mandiri,memiliki harga diri.

61

4. Pendidikan berbasis kewirausahaan


Para peseta didik perlu dibekali dengan pendidikan kemampuan wira
usaha yang handal yang meliputi diantaranya kemampuan soft skills yaitu
kemampuan untuk bertingkah-laku secara personal dan interpersonal yang
dapat mengembangkan dan memaksimalkan kinerja seseorang yang
tercermin dalam kepribadian, sikap dan perilaku yang dapat diterima
dalam kehidupan masyarakat; mata pelajaran dan pembentukan karakter
kewirausahaan pada peserta didik yang mengandung unsur eksplorasi rasa
ingin

tahu/inquiry,

fleksibilitas

berpikir,

kreativitas,

kemampuan

berinovasi, tidak takut pada resiko dan memprioritaskan praktek di


lapangan.

62

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
1. Mewujudkan generasi emas Indonesia dengan mereduksi ketergantungan
terhadap negara maju dilakukan dengan memberdayakan pendidikan
nasional pendidikan yang berjati diri dan berkarakter kebangsaan yang
kuat. Reduksi ketergantungan dalam pembangunan pendidikan di
Indonesia dalam banyak hal prinsip telah dilaksanakan, misalnya: sebagian
besar guru adalah warga negara asli Indonesia, diterapkannya Bahasa
Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan pembelajaran, buku
dan modul disusun dalam Bahasa Indonesia, diterapkannya strategi
pembelajaran khas Indonesia, diajarkannya muatan mata pelajaran
tentang nasionalisme, budaya dan kearifan lokal, serta media dan alat
pembelajaran yang dibuat dan dikembangkan oleh guru sendiri.
2. Praksis pendidikan nasional yang dapat mewujudkan generasi emas
Indonesia diantaranya adalah: (1) penerapan prinsip pendidikan Ki Hajar
Dewantara ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri
handayani, (2) penerapan pendidikan karakter meliputi: religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,
semangat kebangsaaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/
komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan tanggung jawab, serta (3) penerapan pendidikan kecakapan
hidup (life skill education).
3. hambatan yang dihadapi oleh pendidikan nasional dalam rangka
mewujudkan generasi emas diantaranya adalah: tantangan diri sendiri,
tantangan dari dalam negeri, dan tantangan global.
4. solusi bagi hambatan-hambatan yang dihadapi oleh pendidikan nasional
dalam rangka mewujudkan generasi emas dimulai dengan memandang

63

belajar sebagai: (1) suatu proses perubahan tingkah laku, (2)


menumbuhkembangkan seluruh potensi peserta didik, (3) memanusiakan
manusia, (4) mengedepankan keseimbangan kognitif, afektif, dan
psikomotorik, (5) proses yang menyenangkan, (6) mengembangkan proses
berpikir ilmiah, (7) pemberdayaan siswa sebagai makhuluk sosial, dan (8)
sarana bagi pendidik untuk proses terbentuknya dan teraplikasikannya
pendidikan karakter bagi siswa. Guru dalam melakukan kegiatan
pembelajaran berlandaskan pada empat pilar pendidikan menurut
UNESCO, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together,
dan learning to be. Guru menanamkan karakter kewirausahaan pada
peserta didik yang mengandung unsur eksplorasi rasa ingin tahu/inquiry,
fleksibilitas berpikir, kreativitas, kemampuan berinovasi, tidak takut pada
resiko dan memprioritaskan praktek di lapangan.

B. Saran
1. Pemerintah selaku penentu regulasi sistem pendidikan yang diterapkan di
seluruh wilayah Indonesia sudah seyogyanya mengeluarkan kebijakan
pendidikan

yang

memberdayakan

pendidikan

nasional

dengan

mengoptimalkan segenap potensi dan sumber daya yang dimiliki Indonesia


sehingga kita dapat mereduksi ketergantungan yang sangat terhadap
negara maju.
2. Kepala sekolah hendaknya memiliki visi dan misi manajmenen dan
kepemimpinan pendidikan yang efektif dengan senantiasa memberikan
pelayanan prima bagi seluruh siswa sehingga siswa merasa senang belajar
dan dapat mengoptimalkan segenap potensi diri yang dimilikinya.
3. Guru selaku ujung tombak pelaksanaan pembangunan pendidikan
hendaknya memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan
tugas profesionalnya mendidik siswa sehingga kegiatan pembelajaran yang
dilaksanakan akan mempunyai makna, menyenangkan, dan inovatif yang
pada akhirnya dapat mewujudkan lulusan paripurna yang memiliki

64

kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual yang


tinggi. Generasi muda yang saat ini tengah menempuh pendidikan pra
sekolah, pendidikan dasar dan menengah saat ini pada akhirnya akan
menjadi generasi penerus embangunan dan pemimpin masa depan. Guru
mempunyai peran penting dan strategis dalam melaksanakan pendidikan
dan pembelajaran berkualitas yang akan menentukan keberhasilan
mewujudkan

generasi

emas

Indonesia

yang

diharapkan

dapat

mewujudkan tujuan bernegara, mewujudkan perdaban tinggi yang damai,


sejahtera dan berkeadalian bagi seluruh rakyat Indonesia.
4. Bagi orang tua hendaknya lebih mengasihi dan menyayangi anaknya
dengan secara aktif dalam mendidik anaknya secara baik karena
pendidikan keluarga mempunyai peran yang utama dalam mewujudkan
generasi emas Indonesia. Kepedulian orang tua terhadap anak akan
berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam menempuh pembelajaran
di sekolah.
5. Bagi masyarakat hendaknya mendukung pembangunan pendidikan
dengan memberikan lingkungan yang kondusif dan menyenangkan serta
memberi pengaruh yang positif bagi pengembangan segenap potensi siswa
yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat. Lingkungan
masyarakat turut mempengaruhi perilaku belajar siswa yang menjadi
warganya sehingga apabila semua warga masyarakat memiliki kepedulian
yang tinggi dalam keberhasilan pendidikan warganya maka yakinlah bahwa
generasi emas Indonesia akan segera terwujud secara nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohamad. 2009. Pendidikan Nasional untuk Pembangunan Nasional: Menuju


Bangsa Indonesia yang Mandiri dan Berdaya Saing Tinggi. Bandung: PT.
Imperial Bhakti Utama.
Depdiknas. 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun
2005-2009. Menuju Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang
2025. Jakarta: Depdiknas
Depdiknas. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014.
Jakarta:Kemendiknas.
Djati Sidi, Indra. 2003. Menuju Masyarakat Belajar:Menggagas Paradigma Baru
Pendidikan. Jakarta: Paramadina
Koesoema A, Doni. 2007. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global. Jakarta:Grasindo
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis
Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryadi, Ace dan Budimansyah, Dasim. 2004. Pendidikan Nasional Menuju
Masyarakat Indonesia Baru. Bandung: Ganesindo.Tilaar, H.A.R. 2002.
Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru. Jakarta: Grasindo.
Tilaar, H.A.R. 2009. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Zuchdi, Darmiyati. 2009. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.