Anda di halaman 1dari 11

Keistimewaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Oleh: Badrul Tamam


Segala Puji Bagi Allah, Dzat yang senantiasa mecurahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita. Shalawat
dan Salam untuk Nabi dan utusan-Nya, Muhammad bin Abdillah beserta keluarga, dan para sahabatNya.
Saudaraku, Ikhwatal Iman yang Dirahmati Allah!
Seorang muslim dituntut untuk senantiasa taat dan bersemangat untuk mentazkiyah (menyucikan)
jiwanya. Dan untuk tujuan tazkiyah ini disyariatkan macam-macam ibadah dan ketaatan. Seberapa
ibadah yang dilakukan seseorang seperti itu pula dia menyucian jiwanya. Dan ketika jauh dari ibadah
maka dia jauh pula dari kesucian diri. Oleh karenanya, ahlu thaah (orang yang banyak melakukan
ketaatan) adalah orang paling lembut hatinya dan paling banyak berbuat baik. Sebaliknya ahli maksiat
paling keras hatinya dan banyak membuat kerusakan.
Puasa adalah bagian dari ibadah-ibadah tersebut yang mampu membersihkan hati dari kotorankotorannya dan menyembuhkan hati dari berbagai penyakitnya. Oleh karena itu, bulan Ramadhan
adalah musim untuk menyucikan diri dan hari-harinya untuk membersihkan hati.
Itulah faidah yang berharga yang akan dipetik oleh seorang shaim (orang yang berpuasa), agar ketika
ia selesai berpuasa, hadir dengan hati yang baru dan kondisi yang lain.
Puasa enam hari di bulan Syawal, setelah puasa Ramadhan adalah kesempatan yang mahal, karena
orang yang berpuasa ini berpindah kepada ibadah yang lain sesudah rampung dari puasa Ramadhan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan kepada umatnya tentang keutamaan puasa
enam hari di bulan Syawal dan menganjurkan mereka untuk melaksanakannya dengan bahasa yang
menarik untuk berpuasa di hari-hari tersebut.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, dia
seperti berpuasa setahun penuh." (HR. Muslim dan lainnya)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, "Para ulama menjelaskan maksud seperti berpuasa setahun
penuh, karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Ramadhan senilai sepuluh bulan,
sedangkan enam hari senilai dua bulan."
Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah menukil dari Ibnul Mubarak: "Dikatakan, berpuasa enam hari di
bulan Syawal yang bersambung dengan puasa Ramadhan adalah satu keutamaan yang sama, oleh
karenanya baginya pahala puasa setahun penuh."
. . . Puasa enam hari di bulan Syawal menjadi bukti kecintaan seorang hamba kepada ketaatan dan
kegemaran untuk menyambung amal-amal shalih. . .
Saudaraku, Seiman yang Berbahagia!
Puasa enam hari sesudah Ramadhan adalah bentuk syukur seorang shaim kepada Rabbnya karena
telah memberinya taufiq untuk berpuasa Ramadhan dan meningkatkan amal kebaikan. Puasa ini juga
menjadi bukti kecintaannya kepada ketaatan dan kegemaran untuk menyambung amal-amal shalih.
Ibnu Rajab rahimahullah juga berkata: "Menyikapi nikmat taufiq untuk berpuasa di bulan Ramadhan
dengan melakukan kemaksiatan sesudahnya, termasuk di antara perbuatan orang yang mengganti
nikmat Allah dengan kekufuran."
Saudaraku yang Dirahmati Allah!
Ketaatan tidak memiliki musim tertentu, yang kemudian, jika berlalu musimnya, orang kembali
melakukan maksiat. Bahkan musim ketaatan berlanjut sepanjang hidup hamba, tidak mengenal selesai
sehingga ia masuk liang lahat.
Dikatakan kepada Bisyr al-Haafi rahimahullah: "Suatu kaum beribadah dan bersungguh-sungguh
pada bulan Ramadhan, lalu beliau berkata: Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak
Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shalih itu beribadah dan bersungguhsungguh sepanjang tahun."
. . . Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah kecuali pada bulan Ramadhan.
Sesungguhnya orang shalih itu beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun. . .
(Bisyr al-Haafi)
Saudaraku yang mulia!
Menyambung puasa Ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal memiliki banyak faidah dan
Barakahnya akan diperoleh oleh para shaimin. Berikut ini beberapa faidah yang disebutkan oleh alHafidz Ibnu Rajab rahimahullah:
1. Puasa enam hari di bulan Syawal sesudah Ramadhan melengkapi pahala puasa setahun penuh.
2. Sesungguhnya puasa di bulan Syawal dan Sya'ban seperti shalat sunnah rawatib sebelum dan
sesudah shalat fardlu. Shalat sunnah tersebut menyempurnakan shalat fardlu yang mengalami
kesalahan dan kekurangan. Karena amal-amal fardlu disempurnakan dengan amal sunnah pada hari

kiamat. Dan mayoritas orang, puasa fardlunya mengalami kekurangan dan kesalahan, makanya ia
membutuhkan amal-amal yang melengkapinya.
3. Membiasakan puasa sesudah puasa Ramadhan menjadi tanda diterimanya puasa Ramadhan. Karena
ketika Allah subhanahu wa Ta'ala menerima ibadah hamba, Dia memberikan taufiq padanya untuk
menjalankan amal shalih sesudahnya, sebagaimana yang dikatakan sebagaian ulama salaf: "Pahala
amal kebaikan adalah amal kebaikan sesudahnya. Siapa yang beramal kebaikan kemudian
mengikutinya dengan kebaikan yang lain sesudahnya merupakan tanda diterimanya amal kebaikan
yang pertama. Sebagaimana orang yang melakukan amal kebaikan kemudian mengikutinya dengan
keburukan menjadi tanda ditolaknya amal baik tersebut dan tidak diterima.
. . . Pahala amal kebaikan adalah amal kebaikan sesudahnya. Siapa yang beramal kebaikan
kemudian mengikutinya dengan kebaikan yang lain sesudahnya merupakan tanda diterimanya amal
kebaikan yang pertama. . .
4. Puasa Ramadhan menghapuskan dosa yang telah lalu. Para shaimin disempurnakan pahalanya pada
hari Iedul Fitri, hari bebas, maka kembali berpuasa sesudah hari fitri bentuk rasa syukur akan nikmat
ini, tiada nikmat yang lebih besar daripada ampunan dosa.
Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika shalat, beliau berdiri hingga bengkak kedua kakinya.
'Aisyah berkata: "Ya Rasulallah, engkau masih melakukan ini, padahal Allah sudah mengampuni dosa
" ! Ya Aisyah,
engkau yang telah lalu dan akan datang?" Beliau menjawab:
tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur." (HR. Muslim)
Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu menyukuri puasa Ramadhan dengan
menampakkan dzikir pada-Nya, dan bentuk syukur lainnya, Allah berfirman:

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)
Di antara bentuk syukur hamba kepada Tuhannya atas taufiq dan pertolongan yang diberikan-Nya
sehingga dia bisa berpuasa Ramadhan serta ampunan atas dosa-dosanya, dia berpuasa sesudah itu.
Sebagian ulama salaf jika bisa melaksanakan qiyamullail (shalat malam), maka di pagi harinya ia
berpuasa sebagai bentuk syukur atas taufiq Allah bisa melaksanakan qiyamullail.
Wuhaib ibnul Warad ditanya tentang pahala amal shalih seperti thawaf dan lainnya. Beliau menjawab:
"Janganlah engkau bertanya tentang pahalanya, tetapi tanyalah bagaimana bersyukur kepada Dzat
yang telah memberikan taufiq dan pertolongan untuk melakukan amal shalih ini.
Setiap nikmat, baik dien maupun dunia, dari Allah untuk hamba-Nya, menuntut disyukuri. Kemudian
taufiq bisa mensyukuri nikmat merupakan nikmat yang lain yang juga menuntut disyukuri. Kemudian
nikmat taufiq bisa mensyukuri yang kedua adalah nikmat yang lain yang juga menuntut disyukuri.
Begitulah seterusnya sehingga hamba tidak mampu untuk bersyukur kepada seluruh nikmat-nikmat
Allah. Dan hakikat syukur adalah pengakuan diri tidak mampu bersyukur.
Amal-amal yang dijalankan hamba untuk bertaqarrub kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak
terputus dengan selesainya Ramadhan, tapi tetap berlaku sesudah Ramadhan, selama dia masih hidup.
Allah Taala berfirman,

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr: 99)
Amal ibadah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selalu kontinyu. Aisyah radliyallah 'anha pernah
ditanya, "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghususkan hari-hari tertentu (untuk
beramal)?" Beliau menjawab: "Tidak, amal ibadah beliau kontinyu."
Beliau berkata lagi, "Nabi tidak menambah dari 11 rakaat pada bulan Ramadhan dan selainnya."
Sering Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengganti wirid yang ditinggalkannya pada bulan
Ramadhan di bulan Syawal.
Pada satu tahun beliau shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan i'tikaf di akhir bulan Ramadhan,
kemudian beliau menggantinya di awal Ramadhan."
Fatwa Seputar Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal
Lajnah Daimah ditanya, "apakah puasa enam hari pasca Ramadhan harus langsung sesudah hari Iedul
Fitri?, Atau bolehkah dilaksanakan beberapa hari di bulan syawal sesudah hari Ied tanpa berurutan?
Jawab: "Tidak harus langsung sesudah Iedul Fitri. Tapi boleh dia memulainya selang sehari atau
beberapa hari sesudah Ied, dengan berurutan atau terputus-putus pada bulan syawal sesuai
kemampuannya. Masalah ini sangat longgar. Tidak wajib tapi sunnah." (Fatawa Lajnah Daimah:
10/391 no. 3475).
_________________
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya: "Saya telah memulai puasa enam hari di
bulan Syawal, tapi saya tak mampu menyempurnakannya karena beberapa kesibukan dan pekerjaan,

masih ada dua hari lagi. Apa yang harus saya lakukan Ya Syaikh? Apa saya harus menggantinya? Dan
apakah saya berdosa?"
Jawab: "Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan ibadah yang dianjurkan, tidak wajib. Engkau
mendapatkan pahala dari puasa yang telah engkau jalankan, semoga saja engkau mendapatkan
pahalanya secara penuh jika penghalangnya adalah sebab syar'i, berdasarkan sabda Nabi shallallahu
'alaihi wasallam,

"Jika seorang hamba sakit atau bersafar, Allah pasti mencatat untuknya pahala amal yang biasa
dilaksanakannya di waktu sehat dan muqim (tidak safar)." (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya). Tidak
ada kewajiban qadla' atasmu dari puasa yang engkau tinggalkan. Semoga Allah memberikan taufiqNya kepadamu." (Majmu' Fatawa Samahah Syaikh Abdul Aziz bin Bazz: 5/270)
Penutup
Saudaraku, tadi adalah fatwa-fatwa yang berkaitan dengan puasa enam hari di Bulan Syawal. Bagi
seorang muslim hendaknya selalu menambah amal-amal shalihnya yang mendekatkan dirinya kepada
Allah Ta'ala yang dengannya seorang hamba akan meraih ridhaNya.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan kepada anda dari perkataan Ibnu Rajab tentang sebagian faidah
yang akan diunduh seorang muslim dari puasa enam hari di bulan Syawal, -dan ini merupakan tabiat
hakiki seorang muslim sejati-, ia senantiasa semangat untuk mendapatkan hal yang berguna untuk
dien (agama) dan dunianya.
Sesungguhnya kesempatan berlalu begitu cepat, bagi seorang muslim harus benar-benar
memperhatikannya agar mendapatkan pahala yang banyak. Hendaknya dia senantiasa memohon
kepada Allah agar memberinya taufiq untuk bisa taat kepada-Nya.
Allahlah pelindung orang yang senantiasa meminta tolong kepada-Nya dan berpegang teguh dengan
dien-Nya. Dan semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga, dan para sahabatnya. (PurWD/voa-islam.com)
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2011/09/06/16018/keistimewaan-puasa-enamhari-di-bulan-syawal/#sthash.SsFfHz9p.dpuf

Bolehkah Berpuasa Sunnah Syawal Sebelum Membayar Puasa


Ramadhan?
SOAL: Apabila seorang wanita hendak berpuasa sunnah enam hari dari bulan Syawal sementara dia
masih punya hutang puasa Ramadlan dan belum mengadlanya, apakah dia boleh langsung
melaksanakan puasa Sunnah tersebut baru kemudian melaksanakan qadla atau harus mengadla puasa
Ramadlannya dahulu?
Disi Nur Sakina Bekasi
JAWAB:
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah,
keluarga, dan para sahabatnya.
Secara global, para ulama berselisih pendapat tentang bolehnya berpuasa sunnah sebelum selesai
melaksanakan qadla Ramadlan dalam dua pendapat.
Pertama, boleh berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan. Ini merupakan pendapat
Jumhur, baik bolehnya secara global ataupun makruh. Madzab Hanafi membolehkan untuk langsung
berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan karena puasa qadla tidak wajib untuk
disegerakan, bahkan kewajibannya sangat luas (lapang), dan ini merupakan satu riwayat dari Ahmad.
Sedangkan madhab Maliki dan Syafii berpendapat: boleh tapi makruh. Sebabnya, karena
menyibukkan diri dengan amal sunnah dari yang qadla berupa mengakhirkan yang wajib.
Kedua, haram berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan. Ini merupakan pendapat
madhab Hambali.
Yang shahih dari dua pendapat ini adalah yang menyatakan bolehnya berpuasa Sunnah enam hari di
bulan syawal sebelum membayar puasa Ramadlan. Karena waktu (kesempatan) qadla (membayar
puasa Ramadlan) luas. Sedangkan pendapat yang tidak membolehkan dan menyatakan tidak sah
membutuhkan dalil, dan tidak ada satu dalilpun yang bisa dijadikan sandaran untuk hal itu. Sementara
dalil yang ada menunjukkan bolehnya untuk melaksanakan puasa sunnah sebelum puasa qadla, yaitu
firman Allah Taala, . . . Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 185) dan hadits Aisyah radliyallaahu 'anha, Aku

memiliki hutang puasa Ramadlan, tetapi aku tidak sanggup menggantinya kecuali pada bulan
Syaban. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan tidak diragukan lagi bahwa Aiysah radliyallaahu 'anha melaksanakan puasa sunnah di sela-sela
tahun itu, dan pastinya perbuatan Aisyah itu diketahui oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Ini
berarti beliau menyetujuinya.
Sedangkan persoalan yang berkaitan dengan puasa enam hari di bulan Syawal sebelum selesai
melaksanakan qadla Ramadlan, di kalangan ulama, terdapat dua pendapat:
Pertama, keutamaan puasa di bulan syawal tidak bisa diraih kecuali oleh orang yang sudah
menyelesaikan hutang puasa Ramadlan yang pernah ditinggalkannya karena udzur. Mereka berdalil
dengan sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan
Syawal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun. (HR. Muslim dari Abu Ayyub al-Anshari)
Dan seseorang disebut telah berpuasa Ramadlan jika telah menyelesaikan jumlah hari di bulan
tersebut. Imam al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj (3/457) menjelaskan keutamaan puasa enam hari
di bulan Syawal diraih dengan puasa Ramadlan, yaitu keseluruhannya. Jika tidak maka keutamaan
tersebut tidak akan diraih.
Ibnu Muflih dalam kitabnya Al-Furu (3/108) berkata, Keutamaan puasanya (enam hari dari bulan
Syawal) ditujukan bagi orang yang melaksanakan puasa tersebut dan telah mengqadla puasa
Ramadlan, dan tidak puasanya di bulan Ramadlan itu dikarenakan udzur. . . . Dan sejumlah ulama
kontemporer juga berpendapat demikian seperti Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Muhammad
al-Utsaimin rahimahumallaah.
Kedua, bahwa keutamaan puasa enam hari dari bulan Syawal bisa diraih bagi siapa yang
melaksanakannya sebelum mangadla puasa yang ditinggalkannya di bulan Ramadlan karena ada
udzur. Karena orang yang tidak berpuasa beberapa hari di bulan Ramadlan dikarenakan udzur bisa
dibenarkan kalau dia telah berpuasa Ramadlan. Lalu apabila dia mengiringinya dengan puasa enam
hari dari bulan Syawal sebelum melaksanakan qadla, maka dia mendapatkan pahala yang dijanjikan
oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam.
Al-Bajirami dalam Hasyiyahnya menukil tentang bantahan terhadap pendapat yang mengatakan tidak
akan diperoleh pahala puasa enam hari dari bulan Syawal oleh orang yang mendahulukan puasa
tersebut atas puasa qadla dengan hujjah bahwa sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam Lalu
diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal. Beliau beralasan bahwa kata tabiyah
mengikuti bisa bermakna taqdiriyah, artinya kalau puasa tesebut dilaksanakan sesudah
melaksanakan puasa di bulan Ramadlan (walau masih memiliki hutang karena udzur), maka berpuasa
enam hari di bulan syawal disebut telah mengikuti.
Ada sejumlah ulama kontemporer yang condong kepada pendapat kedua, seperti Syaikh Abu Malik
Kamal bin al-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnahnya. Setelah beliau menukilkan pendapat
ulama yang melarang untuk mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal sebelum mengadla
puasa Ramadlan yang ditinggalkannya karena udzur, beliau mengatakan, Kecuali bila dikatakan
sabdanya: kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, terucap secara umum,
dan tidak memiliki konteks mafhum sama sekali, maka ketika itu boleh melaksanakan puasa enam
hari di blan syawal tersebut sebelum melaksanakan puasa qadlan Ramadlan. Terutama apabila bulan
syawal terasa sempit bagi seseorang jika harus mengadla terlebih dahulu. (Shahih Fiqih Sunnah, Abu
Malik Kamal Salim, Pustaka al-Tazkia, Jakarta: 3/182)
. . . Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan keutamaan khusus untuk bulan ini yang akan hilang
dengan berlalunya bulan Syawal. . .
Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih juga termasuk yang lebih condong untuk membolehkan.
Beliau menjelaskan, bahwa makna didapatkannya keutamaan tersebut tidak tergantung dengan selesai
dari melaksanakan qadla sebelum melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Karena kelanjutan
puasa bulan Ramadlan untuk puasa sepuluh bulan sesudahnya bisa diraih dengan menyempurnakan
pelaksanaan amal fardlu baik dengan langsung atau diqadla. Dan Allah sendiri telah melapangkan
dalam masalah qadla melalui firman-Nya,

. . . Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari
yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)

Pendapat yang shahih: boleh berpuasa Sunnah enam hari di bulan syawal sebelum membayar puasa
Ramadlan. Karena waktu (kesempatan) qadla (membayar puasa Ramadlan) luas.

Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal merupakan keutamaan khusus untuk bulan ini yang akan
hilang dengan berlalunya bulan Syawal. Namun demikian mendahulukan puasa fardlu untuk
mengangkat beban kewajiban itu lebih utama daripada menyibukkan dengan amal sunnah. Tapi siapa
yang berpuasa enam hari di bulan Syawal lalu baru melaksanakan puasa qadla sesudahnya, maka dia
mendapatkan keutamaan puasa tersebut karena tidak ada dalil khusus yang meniadakan hilangnya
keutamaan tersebut. wallahu alam [voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2011/09/03/15998/bolehkahberpuasa-sunnah-syawal-sebelum-membayar-puasa-ramadhan/;#sthash.8KuDT2Bn.dpuf

Hukum Bersalaman Antara Guru dan Murid SMA-nya yang


Lain Jenis
Pertanyaan:
Ada seorang Ibu guru yg mengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Bandung. Menurut
penuturannya, di sekolahannya tersebut diterapkan kebiasaan bagi siswa-siswinya apabila bertemu
teman atau guru, mereka mengamalkan 5 S, yaitu: senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Yang jadi
masalah adalah apabila siswa yang laki-laki jika bertemu tidak hanya 5 S tapi disertai pula dengan
jabat tangan dengan ibu guru tadi, padahal dalam usia anak SMU sudah masuk akil baligh. Apakah
dibolehkan tindakan mereka dalam kacamata agama Islam, dasar hukum yang dipakai apa?
Sri Wulandari - di Bandung
Jawaban Oleh: Ust. Badrul Tamam
Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah,
keluarga dan para sahabatnya.
Bagi setiap muslim atau muslimah wajib tunduk kepada ketetapan Islam, baik yang dirasa sesuai
dengan kebiasaannya atau tidak. Karena Inti dari makna Islam adalah tunduk dan menyerah kepada
katetapan Allah Ta'ala. Sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak beriman salah
seorang kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa."
Dalam hubungan pergaulan laki-laki dan perempuan, Islam telah memiliki satu aturan yg menjadi
bagian dari syariatnya. Di mana kaum muslimin wajib menerima dan menjalankannya secara
keseluruhan, sesuai dengan kemampuannya.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu."
(QS. al-Baqarah: 208)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah." (QS.
al-Taghabun: 16)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, Apabila aku melarang sesuatu, tinggalkanlah. Dan
apabila aku memerintahkan kepada sesuatu, lakukanlah semampu kamu." (HR Bukhari dan Muslim)
Berjabat tangan adalah sesuatu yang baik dan bagian dari kesopanan. Bahkan orang yang tidak mau
berjabat tangan ketika bertemu atau hadir di suatu pertemuan, biasanya, dianggap sebagai orang
sombong dan kurang beradab.
Menurut Imam An-Nawawi, berjabat tangan (salaman) telah disepakati sebagai bagian dari sunnah
ketika bertemu. Ibn Batthal juga menjelaskan, Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik
menurut umumnya ulama. (Syarh Shahih Al-Bukhari Ibn Batthal, 71/50).

Menurut Imam An-Nawawi, berjabat tangan (salaman) telah disepakati sebagai


bagian dari sunnah ketika bertemu.
Dalam beberapa riwayat, jabat tangan juga diamalkan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
di antaranya:
Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah jabat tangan itu dilakukan diantara para sahabat
Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Anas menjawab: Ya. (HR. Al-Bukhari, 5908).
Abdullah bin Hisyam mengatakan: Kami pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
sementara beliau memegang tangan Umar bin Al-Khattab. (HR. Al-Bukhari 5909).
Kaab bin Malik mengatakan: Aku masuk masjid, tiba-tiba di dalam masjid ada Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berlari menyambutku, menjabat tanganku dan
memberikan ucapan selamat kepadaku. (HR. Al-Bukhari 4156).
Ibn Batthal: Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik menurut umumnya ulama.
Keutamaan Berjabat Tangan
Berjabat tangan dengan sesama saudara seiman memiliki banyak keutamaan, antara lain:
Pertama, orang yang berjabat tangan akan diampuni dosanya.
Dari Al Barra, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu
kemudian berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya selama belum berpisah. (Shahih
Abu Daud, 4343).
Dari Hudzifah bin Al-Yaman, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya seorang
mukmin jika bertemu dengan mukmin yang lain, kemudian dia memberi salam dan menjabat
tangannya maka dosa-dosa keduanya akan saling berguguran sebagaimana daun-daun pohon
berguguran. (Diriwayatkan oleh Al Mundziri dalam At Targhib dan dishahihkan Syaikh Al Albani
dalam As Shahihah, 525).
Kedua, Berjabat tangan bisa menjadi sebab hilangkannya kebencian dalam hati.
Lakukanlah jabat tangan, karena jabat tangan bisa menghilangkan permusuhan. Tetapi hadis ini
didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (Ad Dhaifah, 1766)
Lakukanlah jabat tangan, itu akan menghilangkan kedengkian dalam hati kalian. (HR. Imam Malik
dalam Al-Muwatha dan didhaifkan oleh Syaikh Al-Albani)
Terdapat beberapa hadis dalam masalah ini, namun semuanya tidak lepas dari cacat. Terlepas dari
hadis di atas, telah terbukti dalam realita bahwa berjabat tangan memiliki pengaruh dalam
menghilangkan kedengkian hati dan permusuhan.
Ketiga, Berjabat tangan merupakan ciri orang-orang yang hatinya lembut.
Ketika penduduk Yaman datang, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Penduduk Yaman telah
datang, mereka adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada kalian. Anas bin Malik
radhiyallahu anhu berkomentar tentang sifat mereka: Mereka adalah orang yang pertama kali
mengajak untuk berjabat tangan. (HR. Ahmad 3/212 & dishahihkan Syaikh Al Albani, As Shahihah,
527).
Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa penduduk Yaman adalah orang yang hatinya
lebih lembut dari pada para sahabat. Di antara kelebihan mereka adalah bersegera untuk mengajak
jabat tangan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa penjelasan di atas berlaku untuk jabat tangan yang
dilakukan antara sesama laki-laki atau sesama wanita.
Sedangkan berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahram hukumnya
adalah haram, dalilnya sangat jelas, antara lain :
1. Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menegaskan :

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami
hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zananya adalah
mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya
adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan
atau didustakan.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (8/457) mengatakan: Bahwa setiap anak Adam
ditakdirkan untuk melakukan perbuatan zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina
sesungguhnya, yaitu memasukkan kemaluan ke dalam kemaluan. Di antara mereka ada yang zinanya
tidak sungguhan, dengan melihat hal-hal yang haram, atau mendengarkan sesuatu yang mengarahkan
pada perzinaan dan usaha-usaha untuk mewujudkan zina, atau dengan bersentuhan tangan, atau
menyentuh wanita asing dengan tangannya, atau menciumnya
Sedangkan pada (16/316), An-Nawawi menjelaskan: Hadits ini menerangkan bahwa haramnya
memegang dan menyentuh selain mahram karena hal itu adalah pengantar untuk melakukan zina
kemaluan.
Hadits ini menerangkan bahwa haramnya memegang dan menyentuh selain mahram karena hal itu
adalah pengantar untuk melakukan zina kemaluan.
(Imam An-Nawawi)
Ibn Hibban memasukkan hadis ini dalam kitab Shahih-nya. Beliau meletakkan hadis ini di bawah
judul: Bab Penggunaan istilah zina untuk tangan yang menyentuh sesuatu yang tidak halal. (Shahih
Ibn Hibban, 10/269).
Dalam kesempatan yang lain, Ibnu Hibban memberikan judul: Bab, digunakan istilah zina untuk
anggota badan yang melakukan suatu perbuatan yang merupakan cabang dari perzinaan. (Shahih Ibn
Hibban, 10/367).
Penamaan judul Bab dalam kitab shahihnya (yang dilakukan Ibn Hibban) di sini menunjukkan bahwa
beliau memahami bahwa kasus pelanggaran yang dilakukan anggota tubuh yang mengantarkan zina
adalah bentuk perbuatan zina. Karena penamaan judul bab para penulis hadis adalah pernyataan
pendapat beliau.
Al Jash-shas mengatakan: Digunakan istilah zina untuk kasus ini dalam bentuk majaz (bukan zina
sesungguhnya dengan kemaluan, -pen). (Ahkam Al-Quran, 3/96).
Kesimpulannya, istilah zina bisa digunakan untuk semua anggota badan yang melakukan
pelanggaran, karena perbuatan tersebut merupakan pengantar terjadinya perzinaan. Sedangkan zina
yang hakiki adalah zina kemaluan.
2. Hadits Maqil bin Yasar radhyiallahu anhu :

Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya
daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Ar-Ruyani dalam Musnad-nya no.1282,
Ath-Thabrani 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman no. 4544 dan dishahihkan oleh
Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226).
Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram adalah dosa besar
(Nashihati lin-Nisa' hal.123).
Berkata Asy-Syinqithy dalam Adwa` Al-Bayan (6/603): Tidak ada keraguan bahwa fitnah yang
ditimbulkan akibat menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram lebih besar dan lebih kuat
dibanding fitnah memandang.
Berkata Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali Al-Makky Al-Haitami (Az-Zawajir 2/4) bahwa:
Dalam hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan selain mahram adalah
termasuk dosa besar.
Dalam hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan selain mahram
adalah termasuk dosa besar.
(Abu Abbas al-Haitami)
3. Hadits Amimah bintu Raqiqoh radhiyallahu anha, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi
wasallam bersabda :

"Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita. (HR. Malik 1775, Ahmad 6/357,
Ibnu Majah 2874, An-Nasa'i 7/149, dan lainnya).

Hadits ini dihasankan oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bari 12/204, dan dishahihkan oleh Syeikh AlAlbani dalam Ash-Shahihah no. 529 dan Syeikh Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa
Fii Ash-Shahihain).
Berkata Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (12/243): "Dalam sabda beliau 'aku tidak pernah berjabat
tangan dengan wanita' ada dalil tentang tidak bolehnya seorang lelaki bersentuhan dengan perempuan
yang tidak halal baginya (bukan mahramnya-pent.) dan menyentuh tangannya dan berjabat tangan
dengannya.
4. Hadits Aisyah radhiyallahu anha dalam riwayat Shahihain, beliau berkata:

Demi Allah tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyentuh
tangan wanita dalam berbaiat, beliau hanya membaiat mereka dengan ucapan".
Berkata Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (13/16): Dalam hadits ini menjelaskan
bahwa baiat wanita dengan ucapan, bukan dengan menyentuh tangan.
Berkata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (4/60): Hadits ini sebagai dalil bahwa baiat wanita dengan
ucapan tanpa dengan menyentuh tangan.
Jadi baiat terhadap wanita dilakukan dengan ucapan tidak dengan menyentuh tangan. Adapun asal
dalam berbaiat adalah dengan cara menyentuh tangan sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam membaiat para shahabatnya dengan cara menyentuh tangannya. Hal ini menunjukkan
haramnya menyentuh/berjabat tangan kepada selain mahram dalam berbaiat, apalagi bila hal itu
dilakukan bukan dengan alasan baiat tentu dosanya lebih besar lagi.
Kesimpulan
Bahwa kebiasaan yang diterapkan di sekolah Menengah Atas di bandung tersebut, jabat tangan antara
laki-laki dan wanita yang bukan mahram adalah tidak benar dan tertentangan dengan ajaran Islam.
Karenanya harus ditinggalkan. Dan perlu diketahui bahwa apa yang dilarang Islam itu karena di
dalamnya terdapat keburukan. Dan betapa banyak perzinahan atau munculnya niatan zina dalam diri
seseorang, baik laki-laki atau wanita diawali dari bersentuhannya kulit antar lawan jenis seperti
berjabat tangan. Wallahu Ta'ala A'lam. (PurWD/voa-islam)
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2011/06/09/15226/hukumbersalaman-antara-guru-dan-murid-smanya-yang-lain-jenis/#sthash.8ZPcGA59.dpuf

Bolehkah Menikah Jarak Jauh Melalui Telpon?


?

Pertanyaan:
Ustadz ....saya sedang bekerja jadi TKW di Honkong. Masa kontrak saya masih 2 tahunan. Sementara
saya punya kenalan di Solo. Kami berdua sudah saling cinta dan berjanji langsung akan menikah
setelah kontrak saya habis. Masalahnya, sudah dua bulan ini saya sudah gak sabar dan was-was. Saya
termasuk orang pencemburu. Karena itu, agar menenangkan kami berdua, kami mengusulkan untuk
menikah melalui telepon. Setidaknya meski kami tdak bertemu, kami bisa tenang dan sudah syah
sebagai suami-istri. Bolehkan saya lakukan hal seperti ini dalam Islam?

Iqlimah
Jawaban:
Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A:
Proses pernikahan dalam Islam mempunyai aturan-aturan yang ketat. Sebuah akad pernikahan yang
syah harus terpenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Rukunnya adalah ijab dan qabul, sedang syaratnya
adalah ijin dari wali perempuan dan kehadiran dua orang saksi. Ini semuanya harus dilakukan dengan
jelas dan transparan, sehingga tidak ada unsur penipuan dan pengelabuhan. Oleh karena itu calon
suami atau wakilnya harus hadir di tempat, begitu juga wali perempuan atau wakilnya harus hadir di
tempat, dan kedua saksipun harus hadir di tempat untuk menyaksikan akad pernikahan.
Ketika seseorang menikah lewat telpon, maka banyak hal yang tidak bisa terpenuhi dalam akad nikah
lewat telpon tadi, diantaranya: tidak adanya dua saksi, tidak adanya wali perempuan, dan tidak
ketemunya calon penganten ataupun wakilnya. Ini yang menyebabkan akad pernikahan tersebut
menjadi tidak syah.
Seandainya dia menghadirkan dua saksi dan wali perempuan dalam akad ini, tetap saja akad
pernikahan tidak syah. Karena kedua saksi tersebut tidak menyaksikan apa-apa kecuali orang yang
sedang menelpon, begitu juga wali perempuan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Suara yang ada
ditelpun itu belum tentu suara calon suami atau istri. Ringkasnya bahwa akad pernikahan melalui
telpon berpotensi untuk salah, atau rentan terjadinya penipuan dan manipulasi.
Disarankan siapa saja yang ingin menikah jarak jauh, untuk mewakilkan kepada orang yang
dipercaya. Seandainya dia sebagai perempuan yang bekerja di luar negeri, maka cukup walinya
sebagai wakil darinya untuk menikahkan dengan lelaki yang diinginkannya, dan harus ada dua saksi
yang hadir. Bagi seorang laki-laki yang ingin menikah dengan perempuan jarak jauh, maka
hendaknya dia mewakilkan dirinya kepada orang yang dipercaya, seperti adik, kakak, atau saudaranya
dengan dihadiri wali perempuan dan kedua saksi. Seandainya ada laki-laki dan perempuan yang ingin
menikah di luar negri dan jauh dari wali perempuan, maka wali tersebut bisa mewakilkan kepada
orang yang dipercayai. Wakil dari wali tersebut beserta kedua saksi harus hadir di dalam akad
pernikahan. Semua proses pemberian kuasa untuk mewakili hendaknya disertai dengan bukti-bukti
dari instasi resmi terkait, supaya tidak disalah gunakan. Wallahu Alam
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2011/03/03/13597/bolehkahmenikah-jarak-jauh-melalui-telpon/#sthash.0cYtZ4uB.dpuf

Status Ayah dan Ibu Rasulullah, Muslim atau Kafir?


Assalamu alaikum Wr. Wb.
Beberapa hari lalu ada seorang kawan yang ikut satu jamaah dakwah mendatangi saya. Dia
membawakan keterangan bahwa Ayah dan Ibu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah
muslim. Bahkan ia mengatakan, orang yang meyakini keduanya meninggal sebagai musyrik dan kafir
terancam akidahnya, dia bisa kafir. Mohon penjelasan tentang status kedua orang tua Nabi shallallahu
'alaihi wasallam?
Pak Yono Bekasi Utara
Waalaikumus Salam Wr. Wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah,
keluarga dan para sahabatnya.
Kedua orang tua Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bernama Abdullah dan Aminah. Keduanya
meninggal sebagai musyrik sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dilarang memintakan ampun
dan memohonkan rahmat untuk keduanya.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, berkata: Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang
yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, Aku telah meminta izin
kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak
mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia
mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada
kematian.
Dalam riwayat lain yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Masud bahwa kisah
ini menjadi sebab turunnya firman Allah,




Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah)
bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah

jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. (QS.
Al-Taubah: 113) dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini
merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat: Al-Hakim dalam Mustadrak:
2/336 beliau mengatakan, Shahih sesuai syarat keduanya Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam
Dalail al-Nubuwah: 1/189)
Dan terdapat tambahan keterangan dalam al-Mujam al-Kabir milik al-Thabrani rahimahullaah,
bahwa Jibril 'alaihis salam berkata kepada beliau,

Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya. (Lihat juga
Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)
Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), meninggal di luar Islam
dan berada di neraka.
Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), meninggal di luar Islam dan
berada di neraka.

Sedangkan riwayat yang menunjukkan bahwa ayah beliau (Abdullah) meninggal sebagai musyrik dan
berada di neraka adalah hadits yang diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Di manakah bapakku? Beliau menjawab, Di neraka.
Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanggilnya dan bersabda:

Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.


Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal
di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa
menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302)
Maka hadits-hadits yang shahih di atas sangat jelas menyebutkan bahwa kedua orang tua Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam meninggal sebagai musyrik dan kafir, keduanya berada di neraka.
Kenabian dan kerasulan beliau tidak bisa menyelamatkan keduanya dari neraka sehingga dilarang
memintakan ampun untuk keduanya. Karena itu kita wajib meyakini kabar-kabar yang berasal dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini dan membenarkannya.
Adapun hujah-hujah yang dijadikan sandaran orang yang berpendapat keduanya adalah mukmin dan
meninggal di atas Islam sehingga mereka berada di surga adalah hujah yang lemah yang bertentangan
dengan hadits-hadits shahih yang telah disebutkan di atas.
. . hujah-hujah yang dijadikan sandaran keduanya adalah mukmin dan meninggal di atas Islam sehingga
mereka berada di surga adalah hujah yang lemah yang bertentangan dengan hadits-hadits shahih

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya telah menyebutkan beberapa hadits yang mereka jadikan sandaran,
namun beliau menyatakan hadits tersebut sebagai hadits gharib/asing dan konteksnya sangat aneh.
Dan hadits yang paling aneh dan munkar adalah apa yang diriwayatkan al-Khatib al-Baghdadi dalam
al-Saabiq wa al-Laahiq dengan sanad yang majhul, dari Aisyah dalam sebuah kisah bahwa Allah
telah menghidupkan ibunya, lalu ia beriman kemudian kembali meninggal. (Ditinjau dari sanadnya,
hadits ini dhaif sehingga tidak bisa dijadikan sandaran keyakinan. Ditambah lagi dia bertentangan
dengan hadits Muslim yang shahih di atas)
Keterangan serupa juga diriwayatkan al-Suhaili dalam al-Raudh, dengan sanad yang di dalamnya
terdapat sekumpulan perawi yang majhul (tidak dikenal): Bahwa Allah telah menghidupkan kembali
bapak dan ibunya, lalu keduanya beriman.
Al-Hafidz Ibnu Dahiyyah mengatakan, Hadits ini adalah maudhu (palsu), Al-Quran dan sunnah
telah membantahnya. Lalu beliau menyebutkan firman Allah Taala,

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga
apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya
saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di
dalam kekafiran. (QS. Al-Nisa: 18)
Imam al-Qurthubi mengingkari kesimpulan Ibnu Dahiyah di atas, bahwa secara syari dan aqli
memungkinkan Allah untuk menghidupkan lagi keduanya. Beliau berpendapat, kehidupan ini adalah
kehidupan yang baru sebagaimana kembalinya matahari setelah terbenam sehingga Ali bisa
melaksanakan shalat Ashar. Beliau juga menguatkan kesimpulannya dengan keterangan yang pernah
beliau dengar bahwa Allah menghidupkan kembali paman Nabi (Abu Thalib), lalu dia beriman
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Namun, pendapat ini (yang beliau sebutkan dalam alTadzkirah, hal. 17) adalah tidak benar dan bertentangan dengan hadits shahih riwayat Muslim dari

Anas di atas yang menyebutkan bahwa bapaknya berada di neraka dan juga hadits yang melarang
beliau dari memintakan ampun untuk ibunya.
Sedangkan pendapat beliau, pernah mendengar keterangan bahwa Allah menghidupkan kembali
pamannya, Abu Thalib, adalah jauh dari benar. Karena di dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Abu
Said disebutkan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan syafaat untuknya di sisi Allah
sementara dia (Abu Thalib) berada di neraka dengan dijadikan bara api di bawah telapak kakinya
seketika itu otaknya mendidih.
Dan dalam Shahihain disebutkan, dari Al-Numan bin Basyir radhiyallahu 'anhu secara marfu,
Bahwa penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, yakni di bawah telapak
kakinya diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Kalau begini keadaan Abu Thalib,
bagaimana bisa ia disebut beriman?. Wallahu alam.
Bahwa penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, yakni di bawah telapak kakinya
diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya.
Kalau begini keadaan Abu Thalib, bagaimana bisa ia disebut beriman?.

Penutup
Dari uraian di atas, ada beberapa point yang bisa kami simpulkan, sebagai berikut:
1. Larangan Allah terhadap Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memintakan ampun bagi
ibunya, karena ibunya meninggal di atas kekufuran sehingga jelas tempat tinggalnya di neraka. Begitu
juga beliau dilarang memintakan ampun untuk bapaknya, karena dia juga meninggal di atas kekafiran
dan bertempat di neraka.
2. Status keduanya yang kafir dan musyrik disandarkan kepada riwayat-rriwayat yang shahih, salah
satunya yang disebutkan Imam Muslim dalam Shahihnya.
3. Pendapat orang yang mengatakan bahwa bapak-ibu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang berada
di neraka dinasakh (dihapus) dengan hadits Aisah yang diriwayatkan al-Khatib, tidak dapat diterima.
Karena hadits tersebut dhaif dan juga bertentangan dengan hadits shahih lainnya.
4. Pendapat yang mengatakan bahwa ayah-ibu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di surga
bertentangan dengan sunnah shahihah yang sangat jelas dan gamlang yang menerangkan keduanya
berada di neraka dan tidak boleh dimohonkan ampun untuk keduanya. Wallahu Taala alam.
5. Karena itu, siapa yang mengatakan bahwa keduanya sebagai orang kafir atau musyrik sehingga
tempat tinggal mereka di neraka telah sesuai dengan dalil-dalil shahih. Maka orang yang menuduh
orang yang memiliki keyakinan seperti ini sebagai orang yang lancang terhadap Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dan akidahnya terancam batal adalah orang bodoh dan jahil. Ucapannya tidak perlu
diperhitungkan karena bertentangan dengan hadits shahih.
6. Kami sarankan kepada orang yang memiliki keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi shallallahu
'alaihi wasallam adalah orang mukmin agar segera bertaubat, karena pendapatnya bertentangan
dengan dalil-dalil shahih dan berlawanan dengan pendapat para ulama. (PurWD/voa-islam.com)
Oleh: Ust. Badrul Tamam
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2011/02/17/13367/status-ayah-danibu-rasulullah-muslim-atau-kafir/#sthash.m4IsPjJQ.dpuf