Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Masalah kerusakan lingkungan hidup manusia dibumi telah diketahui secara


umum dan berdampak merugikan kesehatan ibu dan bayi sehingga mengakibatkan
kematian. Masalah kebidanan komunitas terdiri dari kematian ibu dan bayi,
kehamilan remaja, unsafe abortion, berat badan lahir rendah ( BBLR ), tingkat
kesuburan, asuhan antenatal care ( ANC ), yang kurang dikomunitas, pertolongan
persalinan non - kesehatan, sindrom pra - menstruasi, perilaku dan sosial budaya
yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan komunitas. Penting bagi bidan untuk
memberi pelayanan yang komprehensif dan menyeluruh kepada semua lapisan
masyarakat. Bidan dapat mengetahui kebutuhan pelayanan kebidanan.
Pelaksanaan pelayanan kebidanan komunitas didasarkan pada empat konsep
utama dalam pelayanan kebidanan, yaitu manusia, masyarakat / lingkungan,
kesehatan dan pelayanan kebidanan yang mengacu pada konsep paradigma
kebidanan dan paradigma sehat sehingga diharapkan tercapainya taraf
kesejahteraan hidup masyarakat.
Namun dalam kebidanan Komunitas terdapat juga issue kesehatan yang
menjadi sebuah masalah kebidanan di Komunitas yang dijumpai dalam kebidanan
komunitas dan menjadi salah satu peran tugas dan tanggung jawab bidan dalam
menangani masalah tersebut diantaranya kematian ibu dan bayi.
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting
dan strategis terutama dalam penurunan Angka Kematian Ibu ( AKI ) dan Angka
Kesakitan dan Kematian Bayi ( AKB ). Bidan memberikan pelayanan kebidanan
yang berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada aspek pencegahan, promosi
dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama - sama
dengan tenaga kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang
membutuhkannya, kapan dan dimanapun dia berada. Untuk menjamin kualitas
tersebut diperlukan suatu standar profesi sebagai acuan untuk melakukan segala
tindakan dan asuhan yang diberikan dalam seluruh aspek pengabdian profesinya

kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik dari aspek input, proses dan
output.
Angka Kematian Ibu ( AKI ) di Indonesia diperkirakan 248 / 100.000
kelahiran hidup ( SDKI 2007 ). Itu artinya jika diperkirakan setiap tahun ada lima
juta ibu yang melahirkan maka setiap tahun pula ada sebanyak 18.000 ibu yang
meninggal dunia atau 2 orang ibu setiap satu jam. Dan tiga penyebab utama
kematian ini adalah pendarahan ( 28% ), eklampsia ( 24% ) dan infeksi ( 11% ).
Berdasarkan data itu pula, Angka Kematian Ibu Indonesia menempati peringkat
tertinggi di Asia Tenggara.
Persoalan terpenting lainya adalah persoalan kelangsungan hidup anak. Dari
18 juta balita yang ada di Indonesia saat ini, paling tidak 5 juta diantaranya
menderita kekurangan gizi dan 1,7 juta lainnya mengalami gizi buruk.
Penyebabnya adalah faktor kemiskinan dan faktor lain adalah budaya dan
ketidaktahuan. Hal ini pula yang menyebabkan tingginya Angka Kematian Bayi
( AKB ) di Indonesia. Berdasarkan Human Development Report tahun 2007, AKB
Indonesia bertengger pada posisi 43,5 / 1000 kelahiran hidup, dan itu artinya dari
5 juta bayi yang lahir, 217 ribu diantaranya meninggal dunia atau sekitar 650 anak
setiap harinya.
1.2.

Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian kebidanan komunitas?
2. Apakah tujuan pelayanan kebidanan komunitas?
3. Apa saja masalah - masalah kebidanan komunitas tentang kematian ibu
dan bayi?

1.3.

Tujuan
Dalam pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Definisi Kebidanan Komunitas.
2. Tujuan pelayanan Kebidanan Komunitas.
3. Masalah kematian ibu dan bayi dalam Kebidanan Komunitas

BAB II
2

PEMBAHASAN
2.1.

Definisi Kebidanan Komunitas


Kebidanan komunitas adalah memberikan asuhan kebidanan pada masyarakat

baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang terfokus pada pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ), Keluarga Berencana ( KB ), kesehatan
reproduksi termasuk usia wanita adiyuswa secara paripurna. Hubungan hubungan individual dalam sebuah komunitas akan membangun dan mendukung
terbentuknya suatu sistem kepercayaan atau keyakinan baik tentang arti keluarga,
konsep sehat maupun sakit sehingga diperlukan bidan di masyarakat. Kebidanan
komunitas merupakan konsep dasar bidan melayani keluarga dan masyarakat yang
mencakup bidan sebagai penyedia layanan dan komunitas sebagai sasaran yang
dipengaruhi oleh IPTEK dan lingkungan.
Komunitas digambarkan sebagai sebuah lingkungan fisik dimana seorang
tinggal beserta aspek - aspek sosialnya. Hubungan - hubungan individual dalam
sebuah komunitas akan membangun dan mendukung terbentuknya suatu sistem
kepercayaan atau keyakinan baik tentang arti keluarga, konsep sehat maupun
sakit.
2.2.

Tujuan Kebidanan Komunitas


Pelayanan kebidanan komunitas adalah bagian dari upaya kesehatan

keluarga. Kesehatan keluarga merupakan salah satu kegiatan dari upaya kesehatan
di masyarakat yang ditujukan kepada keluarga. Penyelenggaraan kesehatan
keluarga bertujuan untuk mewujudkan keluarga kecil, sehat, bahagia, dan
sejahtera. Kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Jadi tujuan dari pelayanan kebidanan komunitas adalah meningkatkan
kesehatan ibu dan anak balita di dalam keluarga sehingga terwujud keluarga sehat
sejahtera dalam komunitas tertentu. Sebagai bidan yang bekerja di komunitas
maka bidan harus memahami perannya di komunitas, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Sebagai Pendidik.
Sebagai Pelaksana ( Provider ).
Sebagai Pengelola.
Sebagai Peneliti.
3

5.
6.
7.
8.
2.3.

Sebagai Pemberdaya.
Sebagai Pembela Klien ( Advokat ).
Sebagai Kolaborator.
Sebagai Perencana
Masalah Kebidanan di Komunitas tentang Kematian Ibu

Sebagai seorang bidan yang bekerja di komunitas, harus mengetahui dan


memahami beberapa pokok permasalahan yang terjadi di komunitas, diantaranya
kematian ibu dan bayi. Angka Kematian Ibu ( AKI ) dan Angka Kematian Bayi

AKB ) merupakan indikator penting untuk menilai tingkat kesejahteraan suatu


negara dan status kesehatan masyarakat. Keselamatan dan kesejahteraan
perempuan dan anak sangat penting tidak saja bagi pemenuhan hak hidup sehat
bagi mereka, tapi juga dalam mengatasi masalah ekonomi, sosial dan tantangan
pembangunan.
Kematian ibu adalah kematian perempuan selama masa kehamilan, atau
dalam 42 minggu hari setelah persalinan dari setiap penyebab yang berhubungan
dengan dan atau diperburuk oleh kehamilan atau penangannya, tetapi bukan
karena kecelakaan.
Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu selama masa kehamilan
atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia dan lokasi
kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh
kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau incidental
( faktor kebetulan ).
Kematian ibu adalah kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil,
bersalin dan masa nifas ( dalam 42 hari ) setelah persalinan. Jumlah kematian ibu
melahirkan di Indonesia mencapai angka 307 / 100.000 kelahiran.
Angka Kematian Ibu ( AKI ) merupakan tolak ukur keberhasilan kesehatan
ibu, yang manjadi indikator terpenting untuk menilai kualitas pelayanan obstetri
dan ginekologi di suatu wilayah. Menurut SDKI tahun 2007, AKI di Indonesia
tahun 2007 sebesar 248 / 100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI
menurut SDKI tahun 2003 sebesar 307 / 100.000 kelahiran hidup, AKI tersebut
sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target MDGs 2015 yaitu sebesar
102 / 100.000 kelahiran hidup. Sehingga masih memerlukan kerja keras dari

semua komponen untuk mencapai target tersebut. Bidan sebagai tenaga kesehatan
dalam tatanan pelayanan kebidanan komunitas di lini terdepan, mempunyai
peranan penting dalam penurunan AKI yang dinilai masih tinggi.
Angka kematian ibu dikatakan masih tinggi karena:
1. Jumlah kematian ibu yang meninggal mulai saat hamil hingga 6 minggu
setelah persalinan per 100.000 persalinan tinggi.
2. Angka kematian ibu tinggi adalah angka kematian yang melebihi dari
angka target nasional.
3. Tingginya angka kematian, berarti rendahnya standar kesehatan dan
kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan, dan mencerminkan besarnya
masalah kesehatan.
Berdasarkan penyebab kematian ibu bisa dibedakan menjadi langsung dan
tidak langsung.
1. Penyebab Langsung
Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena hamil
dan bersalin, diantaranya:
a. Perdarahan
Perdarahan merupakan penyebab tertinggi kematian ibu. Perdarahan
pada ibu dapat terjadi baik pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas.
Tanda - tanda perdarahan yang perlu kita kenali, yaitu:
Mengeluarkan darah dari jalan lahir > 500 cc atau kira kira 2 gelas.
Ibu bisa juga mengamati bila keluar darah hingga menembus
pakaian dan tak kunjung berhenti dengan warna darah merah segar.
Hati - hati bila perdarahan disertai salah satu atau lebih keluhan
seperti rasa mau pingsan, mata berkunang - kunang atau
penglihatan kabur, keluhan pusing kepala, kesemutan, telapak
tangan dan kaki menjadi pucat dan dingin. Nafas menjadi sesak
atau tersengal sengal.
Macam macam perdarahan:
Perdarahan pada Masa Kehamilan
Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan. Aborsi itu sendiri dibagi menjadi dua,
yaitu aborsi spontan dan aborsi buatan. Aborsi spontan adalah
5

aborsi yang terjadi secara alami tanpa adanya upaya - upaya dari
luar ( buatan ) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Sedangkan
aborsi buatan adalah yang terjadi akibat adanya upaya - upaya
tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan. Abortus Provakatus
( induced abortion ).
Abortus memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan
terhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita.
Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi
seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan
aborsi salah satunya kematian mendadak karena perdarahan hebat.
Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi
pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir ( OUI ).
Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian fundus uteri.
Plasenta previa adalah suatu kesulitan kehamilan yang terjadi pada
trimesters kedua dan ketiga kehamilan. Dapat mengakibatkan
kematian bagi ibu dan janin. Ini adalah salah satu penyebab
pendarahan vaginal yang paling banyak pada trimester kedua dan
ketiga.
Angka kematian maternal karena plasenta previa cukup tinggi.
Bayi yang lahir dengan plasenta previa cederung memiliki berat
badan yang rendah dibandingkan bayi yang lahir tanpa plasenta
previa. Resiko kematian neonatal juga tinggi pada bayi dengan
plasenta previa, dibanding dengan bayi tanpa plasenta previa. Pada
tahun 2006 dari total 4.409 kasus plasenta previa didapati 36 orang
ibu meninggal akibat plasenta previa.
Solusio Plasenta
Solusio plasenta ialah terlepasnya plasenta yang letaknya
normal pada corpus uteri sebelum lahirnya janin, biasanya terjadi
pada trimester ketiga. Jika penanganan solusio plasenta tidak
benar,maka dapat berakibat pada janin maupun ibunya.

Trauma fisik pada saat kehamilan


Trauma fisik pada saat kehamilan dapat menyebabkan
perdarahan pada ibu hamil. Trauma fisik yang terjadi pada
kehamilan muda dapat berakhir menjadi abortus. Jika tidak segera
ditangani dengan baik maka akan menyebabkan kematian pada ibu
maupun pada janin.
Perdarahan pada Masa Persalinan
Proses persalinan yang tidak aman ditolong dukun.
Usia ibu terlalu muda ( kurang dari 20 tahun ) ibu yang hamil
usia muda kondisi alat kandungan belum siap sehingga mudah
terjadi perdarahan.
Ibu terlalu tua ( lebih dari 35 tahun ). Kondisi fisik ibu bila
tidak

terjaga

kesehatannya

akan

beresiko

terhadap

kemungkinan perdarahan.
Melahirkan anak dengan jarak terlalu dekat, kurang dari 2
tahun.
Terlalu sering melahirkan, misalnya ibu yang melahirkan lebih
dari 3 kali.
Kondisi kesehatan ibu akibat penyakit kronis dan anemia
( kurang darah ) dan gizi yang buruk.
Gangguan pembekuan darah.
Gangguan Kontraksi Uterus ( atonia uteri ).
Akibat kontraksi rahim yang tidak adekuat,dapat menyebabkan
perdarahan saat proses persalinan. Sehingga apabila tidak ditangani
dengan baik dapat berakibat fatal pada ibu atau janin.
Perdarahan pada Masa Nifas
Kontraksi rahim yang tidak adekuat ( inersia uteri ).
Luka jahitan jalan lahir yang terbuka.
Praktek Budaya masyarakat yang merugikan ibu, seperti pijat
daerah perut ke dukun, dengan tujuan memulihkan posisi alat
kandungan.
b. Pre Eklampsia dan Eklampsi
Pre eklampsia adalah salah satu kondisi medis dengan Gejala
hipertensi saat kehamilan, beberapa ibu mempunyai resiko Pre eklampsia
saat Kehamilan, dengan tanda tingginya tekanan darah yang lebih dari 140

/ 90 mmHg, tungkai bawah bengkok berlebihan dan adanya protein dalam


urin ( Proteinuria ). Preeklampsia merupakan penyebab kematian nomer
dua terhadap Ibu Hamil setelah pendarahan.
c. Infeksi
Infeksi dapat terjadi pada masa kehamilan,persalinan dan masa
nifas.Pada masa nifas Infeksi terjadi karena luka jalan lahir pasca
persalinan biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Apabila ibu
mengalami infeksi maka dan tidak ditangani dengan baik, maka dapat
membahayakan nyawa ibu.
d. Partus Lama / Peralinan Macet
2. Penyebab tidak langsung
a. Pendidikan Ibu - Ibu Terutama yang Ada di Pedesaan Masih
Rendah
Pendidikan ibu berpengaruh pada sikap dan perilaku dalam pencapaian
akses informasi yang terkait dalam pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan ibu. Masih banyak ibu dengan pendidikan rendah terutama yang
tinggal di pedesaan yang menganggap bahwa kehamilan dan persalinan
adalah kodrat wanita yang harus dijalani sewajarnya tanpa memerlukan
perlakuan khusus ( pemeriksaan dan perawatan ).

b. Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia yang Mengutamakan


Bapak Dibandingkan Ibu
Contohnya adalah budaya Indonesia mengutamakan kepala keluarga
untuk mendapat makanan bergizi, dan ibu hamil hanya sisanya.
c. Terlalu dalam Melahirkan
Yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak.
d. Terlambat
Yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke
tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan
kesehatan.
Terlambat mengambil keputusan sering dijumpai pada masyarakat
kita, bahwa pengambil keputusan bukan di tangan ibu, tetapi pada

suami atau orang tua, bahkan pada orang yang dianggap penting
bagi keluarga. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam
penentuan tindakan yang akan dilakukan dalam kasus kebidanan
yang membutuhkan penanganan segera. Keputusan yang diambil
tidak jarang didasari atas pertimbangan factor sosial budaya dan
faktor ekonomi.
Terlambat dalam

pengiriman

ke

tempat

rujukan

adalah

keterlambatan ini paling sering terjadi akibat factor penolong (


pemberi layanan di tingkat dasar ).
Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan adalah keterlambatan
dalam mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan masalah di
tingkat layanan rujukan. Kurangnya sumber daya yang memadai,
sarana dan prasarana yang tidak mendukung dan kualitas layanan
di tingkat rujukan, merupakan factor penyebab terlambatnya upaya
penyelamatan kesehatan ibu.

2.4.

Penanganan Kematian Ibu di Kebidanan Komunitas


Pendekatan yang dikembangkan untuk menurunkan angka kematian ibu

disebut Making Pregnancy Safer ( MPS ), yang mengandung 3 pesan kunci, yaitu:
1.

Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih.

2.

Setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapat pelayanan yang


adekuat ( memadai ).

3.

Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan


kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI, yaitu:

1.

Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, meliputi:


a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
b. Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai
standar.
c. Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan
komplikasi keguguran.
d. Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor.

2.

Peningkatan

kapasitas

manajemen

pengelola

program,

melalui

peningkatan kemampuan pengelola program, agar mampu melaksanakan,


merencanakan dan mengevaluasi kegiatan sesuai kondisi daerah.
3.

Sosialisasi dan advokasi, melalui penyusunan hasil informasi cakupan


program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai
substansi untuk sosialisasi dan advokasi.
2.5. Masalah Kebidanan Komunitas tentang Kematian Bayi
1.
Kematian Bayi
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai
bayi belum berusia tepat 1 tahun. Angka kematian bayi ( AKB ) mencapai
35 / 1.000 kelahiran hidup. Definisi lain, yaitu kematian bayi adalah kematian
yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun.
Menurut SDKI tahun 2003, AKB sebesar 35 / 1000 kelahiran hidup.
Sedangkan berdasarkan perhitungan BPS tahun 2007 sebesar 27 / 1000
kelahiran hidup. Adapun target AKB pada MDGs 2015 sebesar 17 / 1000
kelahiran hidup.
2.

Penyebab Kematian Bayi


Penyebab kematian bayi meliputi:
a. Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas
secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir,
umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat
hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat,
atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah
persalinan.
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera
bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh
hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor
-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi
lahir. Akibat - akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan
bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan

10

pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan


membatasi gejala - gejala lanjut yang mungkin timbul.
b. Infeksi
Sepsis neonatorum adalah suatu infeksi berat yang menyebar ke
seluruh tubuh bayi baru lahir sampai 1 bulan atau 4 minggu pertama,
ditandai dengan gejala-gejala sistemik dan bakteremia. Sepsis merupakan
respon sistemik terhadap infeksi oleh bakteri, virus, jamur, dan protozoa.
Sedangkan bakteremia adalah ditemukannya bakteri dalam kultur darah.
85% neonatus dengan infeksi awal terjadi dalam 24 jam, 5% pada 24
-48 jam, dan sedikit yang terjadi antara 48 jam 6 hari. Sepsis yang baru
timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan
oleh infeksi nosokomial ( infeksi yang didapat di rumah sakit ). Onset lebih
cepat pada bayi prematur. Sepsis neonatorum disebut juga sepsis, atau
septikemi neonatal.
c. Hipotermi
Suhu normal pada neonatus berkisar antara 36oC - 37,50oC pada suhu
ketiak. Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36oC atau kedua kaki dan
tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi
sudah mengalami hipotermia sedang ( suhu 32oC - < 36o C ). Disebut
hipotermia berat bila suhu tubuh < 32o C. Untuk mengukur suhu tubuh
pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah ( low reading
termometer ) sampai 25oC. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia
dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Yang menjadi prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah
meningkatnya konsumsi oksigen ( terjadi hipoksia ), terjadinya metabolik
asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya
simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak
dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan
meningkatkan intake kalori.
d. BBLR

11

Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang
dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat
bayi yang ditimbang dalam 1 ( satu ) jam setelah lahir.
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur.
Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain - lain. Faktor plasenta
seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga
merupakan penyebab terjadinya BBLR.
e. Trauma persalinan
Pada saat persalinan, perlukaan, atau trauma kelahiran kadang - kadang
tidak dapat dihindarkan dan lebih sering ditemukan pada persalinan yang
terganggu oleh salah satu sebab. Penanganan persalinan secara sempurna
dapat mengurangi frekuensi peristiwa tersebut.
Insidensi trauma lahir diperkirakan sebesar 2 - 7 per 1000 kelahiran
hidup. Walaupun insiden telah menurun pada tahun-tahun belakangan ini,
sebagian karena kemajuan di bidang teknik dan penilaian obstetrik, trauma
lahir masih merupakan permasalahan penting, karena walaupun hanya
trauma yang bersifat sementara sering tampak nyata oleh orang tua dan
menimbulkan cemas serta keraguan yang memerlukan pembicaraan
bersifat suportif dan informatif. Beberapa trauma pada awalnya dapat
bersifat laten, tetapi kemudian akan menimbulkan penyakit atau akibat sisa
yang berat. Trauma lahir juga merupakan salah satu faktor penyebab
utama dari kematian perinatal. Di Indonesia angka kematian perinatal
adalah 44 per 1000 krlahiran hidup, dan 9,7% diantaranya sebagai akibat
dari trauma lahir.
f. Penyebab lain meliputi pemberian makan secara dini, pengetahuan
yang kurang tentang perawatan bayi, tradisi ( masyarakat tidak percaya
3.

pada tenaga kesehatan ), serta sistem rujukan yang kurang efektif.


Penanganan Kematian Bayi
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kematian bayi, yaitu:
a. Peningkatan kegiatan imunisasi pada bayi.
b. Peningkatan ASI Eksklusif, status gizi, deteksi dini, dan pemantauan
tumbuh kembang.
c. Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi.

12

d. Program Manajemen Tumbuh Kembang Balita Sakit dan Manajemen


Tumbuh Kembang Balita Muda.
e. Pertolongan persalinan dan penatalaksanaan bayi baru lahir dengan
tepat.
f. Diharapkan

keluarga

memiliki

pengetahuan,

pemahaman

dan

perawatan pasca persalinan sesuai standar kesehatan.


g. Program ASUH.
h. Keberadaan bidan desa.
i. Perawatan neonatal dasar.
Departemen umum Departemen Kesehatan RI menurut Menkes adalah
menurunkan angka kematian bayi dan 33 / 1000 menjadi 26 / 1000 kelahiran
hidup. Demikian pula, prevalensi gizi kurang pada balita ditekan dari 25,8%
menjadi 20%, umur harapan hidup. Dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun.
Untuk mencapai target tersebut telah disiapkan Departemen Kesehatan dalam
empat strategi pokok, yakni:
a. Penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan.
b. Mendekatkan akses keluarga miskin daan rentan terhadap layanan
kesehatan berkualitas.
c. Meningkatkan surveilence.
d. Meningkatkan pembiayaan dibidang kesehatan.

13

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Kebidanan komunitas adalah memberikan asuhan kebidanan pada masyarakat

baik individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang terfokus pada pelayanan
kesehatan ibu dan anak ( KIA ) secara paripurna. Namun dalam kebidann
Komunitas terdapat juga issue kesehatan yang menajdi sebuah masalah kebidanan
di Komunitas yang dijumpai dalam kebidan komunitas dan menjadi salah satu
peran tugas dan tanggung jawab bidan dalam menangani masalah tsebut
diantaranya kematian ibu dan bayi.
3.2.

Saran
Secara professional, bidan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya,

partnership dengan perempuan untuk kelancaran untuk memberi support pada


masyarakat. Bidan juga lebih memperhatikan pada issue kematian ibu dan bayi
dalam kebidanan komunitas.

14