Anda di halaman 1dari 6

TUGAS AUDITING II

KASUS PADA PT. KIMIA FARMA

Disusun oleh:
Fatimah Alfritta 120110120163
Zaydah Salsabila 120110120194

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS PADJAJARAN
2015

A. Profil Perusahaan
1. Sejarah Singkat
Kalbe Farma didirikan pada 10 September 1966, oleh 6 bersaudara, yaitu Khouw
Lip Tjoen, Khouw Lip Hiang, Khouw Lip Swan, Boenjamin Setiawan, Maria
Karmila, F. Bing Aryanto. Kalbe Farma telah jauh berkembang dari awal mulanya
sebagai usaha farmasi yang dikelola di garasi rumah pendirinya di wilayah Jakarta
Utara. Selama lebih dari 40 tahun sejarah Kalbe, pengembangan usaha telah
gencar dilakukan melalui akuisisi strategis terhadap perusahaan-perusahaan
farmasi lainnya, membangun produk yang unggul, dan menjangkau pasar
internasional dalam rangka transformasi Kalbe menjadi perusahaan produk
kesehatan serta nutrisi yang terintegrasi dengan daya inovasi, strategi pemasaran,
pengembangan merek, distribusi, kekuatan keuangan, keahlian riset dan
pengembangan serta produksi yang sulit ditandingi dalam mewujudkan misinya
untuk meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik. Saat ini, Kalbe
adalah salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara yang sahamnya
telah dicatat di bursa efek dengan nilai kapitalisasi pasar di atas US$1 miliar dan
penjualan melebihi Rp7 triliun. Posisi kas yang sangat baik saat ini juga
memberikan fleksibilitas yang luas dalam pengembangan usaha Kalbe di masa
mendatang. Pada tahun 1992, melalui Yayasan Pendidikan Kalbe, Kalbe Farma
mendirikan STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Kalbe, yang akhirnya pada
tahun 2009 berubah nama menjadi Institut Teknologi dan Bisnis Kalbe.
2. Visi dan Misi
Visi
Menjadi Perusahaan yang dominan dalam bidang kesehatan di Indonesia
dan memiliki eksistensi di pasar global dengan merek dagang yang kuat,
didasarkan oleh manajemen, ilmu dan teknologi yang unggul.
Misi
- Meningkatkan Kesehatan untuk Kehidupan yang Lebih Baik
- Sebagai perusahaan farmasi terbesar ketiga di Asia Tenggara, Kalbe Farma
memiliki nilai-nilai perusahaan yang diterapkan yaitu:
o Memberikan Pelayanan Terbaik kepada Pelanggan
o Gigih untuk Mencapai yang Terbaik
o Kerjasama yang Kokoh
o Inovasi
o Lincah
o Integritas
3. Budaya Perusahaan

Kalbe Farma memiliki lima nilai budaya yang disebut sebagai Panca Sradha
Kalbe. Nilai-nilai tersebut adalah:
1. Kepercayaan adalah perekat hubungan
2. Kesadaran penuh adalah dasar setiap tindakan
3. Inovasi adalah kunci keerhasilan
4. Bertekad menjadi yang terbaik
5. Saling keterkaitan adalah panduan hidup
4. Produk Perusahaan
Kalbe telah berhasil memposisikan merek-mereknya sebagai pemimpin di dalam
masing-masing kategori terapi dan segmen industri tidak hanya di Indonesia
namun juga di berbagai pasar internasional, dengan produk-produk kesehatan dan
obat-obatan yang telah senantiasa menjadi andalan keluarga seperti Promag,
Mixagrip, Woods, Komix, Prenagen, dan Extra Joss.
B. Latar Belakang Masalah
Adanya kesalahan penyajian yang berkaitan dengan penjualan adalah dengan
dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan
pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada
dalam daftar harga persediaan digelembungkan. Berdasarkan penyelidikan Bapepam,
disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah
mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut,
tanpa adanya ikut campur di dalam permasalahannya. Kementerian BUMN
menghentikan proses divestasi saham milik Pemerintah di PT KAEF setelah melihat
adanya indikasi penggelembungan keuntungan dalam laporan keuangan pada tahun
2002. Dimana tindakan ini terbukti melanggar Peraturan Bapepam No.VIII.G.7
tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan poin 2 Khusus huruf m Perubahan
Akuntansi dan Kesalahan Mendasar: Kesalahan mendasar mungkin timbul dari
kesalahan perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi,
kesalahan interpretasi fakta dan kecurangan atau kelalaian. Dampak perubahan
kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar harus diperlakukan secara
retrospektif dengan melakukan penyajian kembali untuk periode yang telah disajikan
sebelumnya dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian
sebagai suatu penyesuaian pada saldo laba awal periode. Pengecualian dilakukan
apabila dianggap tidak praktis atau secara khusus diatur lain dalam ketentuan masa
transisi penerapan standar akuntansi keuangan baru.

C. Landasan Hukum
Sehubungan dengan temuan tersebut, maka sesuai dengan Pasal 102 Undang-undang
Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal jo Pasal 61 Peraturan Pemerintah Nomor
45 tahun 1995 jo Pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal maka PT Kimia Farma (Persero)
Tbk. dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu sebesar Rp. 500.000.000,(lima ratus juta rupiah).
Sesuai Pasal 5 huruf n Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, maka:
1. Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 Juni 2002
diwajibkan membayar sejumlah Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) untuk
disetor ke Kas Negara, karena melakukan kegiatan praktek penggelembungan atas
laporan keuangan per 31 Desember 2001.
2. Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor
PT Kimia Farma (Persero) Tbk. diwajibkan membayar sejumlah Rp.
100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk disetor ke Kas Negara, karena atas risiko
audit yang tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang
dilakukan oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah
melakukan prosedur audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur kesengajaan. Tetapi, KAP HTM
tetap diwajibkan membayar denda karena dianggap telah gagal menerapkan
Persyaratan Profesional yang disyaratkan di SPAP SA Seksi 110 Tanggung
Jawab & Fungsi Auditor Independen, paragraf 04 Persyaratan Profesional, dimana
disebutkan bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari auditor independen
adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai
auditor independen.
D. Dampak Terhadap Profesi Akuntansi
Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen tidak
terlepas dari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut memberikan
informasi yang menyebabkan pemakai laporan keuangan tidak menerima informasi
yang fair. Akuntan sudah melanggar etika profesinya. Kejadian manipulasi pencatatan
laporan keuangan yang menyebabkan dampak yang luas terhadap aktivitas bisnis
yang tidak fair membuat pemerintah campur tangan untuk membuat aturan yang baru
yang mengatur profesi akuntan dengan maksud mencegah adanya praktik-praktik
yang akan melanggar etika oleh para akuntan publik

E. Keterkaitan Akuntan Terhadap Skandal PT Kimia Farma Tbk


Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan pemeriksaan atau penyidikan
baik atas manajemen lama direksi PT Kimia Farma Tbk. ataupun terhadap akuntan
publik Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan publik (Hans Tuanakotta
dan Mustofa) harus bertanggung jawab, karena akuntan publik ini juga yang
mengaudit Kimia Farma tahun buku 31 Desember 2001 dan dengan yang interim 30
Juni tahun 2002.
Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan pencatatan
atas laporan keuangan. Tapi setelah audit interim 2002 akuntan publik Hans
Tuanakotta Mustofa (HTM) menemukan kesalahan pencatatan alas laporan keuangan.
Sehingga Bapepam sebagai lembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan
Direktorat Akuntansi dan Jasa Penilai Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan yang
mempunyai kewenangan untuk mengawasi para akuntan publik untuk mencari buktibukti atas keterlibatan akuntan publik dalam kesalahan pencatatan laporan keuangan
pada PT. Kimia Farma Tbk. untuk tahun buku 2001.
Namun dalam hal ini seharusnya akuntan publik bertindak secara independen karena
mereka

adalah

pihak

yang

bertugas

memeriksa

dan

melaporkan

adanya

ketidakwajaran dalam pencatatan laporan keuangan. Dalam UU Pasar Modal 1995


disebutkan apabila di temukan adanya kesalahan, selambat-lambamya dalam tiga hari
kerja, akuntan publik harus sudah melaporkannya ke Bapepam. Dan apabila
temuannya tersebut tidak dilaporkan maka auditor tersebut dapat dikenai pidana,
karena ada ketentuan yang mengatur bahwa setiap profesi akuntan itu wajib
melaporkan temuan kalau ada emiten yang melakukan pelanggaran peraturan pasar
modal. Sehingga perlu dilakukan penyajian kembali laporan keuangan PT. Kimia
Farma Tbk. dikarenakan adanya kesalahan pencatatan yang mendasar, akan tetapi
kebanyakan auditor mengatakan bahwa mereka telah mengaudit sesuai dengan
standar profesional akuntan publik. Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut
bersalah dalam manipulasi laporan keuangan, karena sebagai auditor independen
akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) seharusnya mengetahui laporanlaporan yang diauditnya itu apakah berdasarkan laporan fiktif atau tidak.
F. Kesimpulan
Setiap auditor independen yang melakukan jasa audit terhadap kliennya dituntut untuk
melaksanakan kegiatannya sesuai dengan prosedur yang ditetapkan sebelumnya yang
berlandaskan pada SPAP. Memiliki kompetensi serta sikap kecermatan dan kehatihatian profesional merupakan salah satu kewajiban etis yang harus dimiliki oleh

profesi akuntan. Hal tersebut untuk mendukung kualitas audit yang dihasilkan auditor
agar tidak terjadi lolosnya salah saji material yang kemudian akan menyesatkan para
pemakai

laporan

keuangan

auditan

atau

pun

akan

ketidakpercayaan publik terhadap jasa audit yang kompeten.

menciptakan

dampak