Anda di halaman 1dari 6

Artikel ini menganai beberapa tokoh dunia ilmuwan jenius yang

dianggap bodoh pada saat bersekolah. Belajar dari biografi tokoh


ilmuwan legendaris dunia yang diilustrasikan sebagai anak-anak yang
bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka
bersekolah di SD kelas rendah, namun menjadi ilmuwan ternama
dikemudian hari.
Dua per lima populasi dunia hanya memakai otak kiri. Otak kiri berperan
dalam kemampuan baca, tulis, hitung, dan fungsi kognitif lainnya sebagai
bentuk berpikir serial. Hanya seperlima populasi dunia yang memanfaatkan otak
kanan sebagai bentuk berpikir paraler, lebih holistik (menyeluruh), kreatif,
intuitif, dan imajinatif. Para pemikir otak kanan inilah yang karya-karyanya
banyak membantu perkembangan zaman dan membuat kemudahan bagi
banyak orang. Namun banyak orang ternama yang telah mengukir namanya
yang abadi dalam sejarah justru dianggap bodoh waktu masih kecil.
Menjadi kreatif di zaman modern saat ini sudah menjadi sebuah kewajiban.
Suatu negara tentu akan menghadapi banyak masalah jika negara tersebut
kurang memberdayakan sumber daya manusianya untuk bisa menjadi
kreatif. Menjadi kreatif itu luas maknanya. Kreatif dalam berkarya, kreatif dalam
berpikir bahkan berkreatif dalam menyelesaikan masalah.
Dalam belajar sains, IPA atau matematika, guru dan siswa seharusnya perlu
mengenal latar belakang dari ilmuwan dan bagaimana mereka bisa menciptakan
konsep
ilmu
atau
suatu
rumus.
Dalam realita bahwa umumnya guru dan siswa juga mengenal konsep dan
rumus dan proses pembelajaran kerap kali bercorak membahas rumus dan soalsoal saja.
Sangat tepat rasanya kalau guru dan siswa juga mengenal proses kreatif
para ilmuwan (seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Charles
Darwin dan lain-lain) dalam menemukan suatu fenomena lewat membaca buku
biografi mereka.

1. Albert Einstein

Albert Einstein dikenal sebagai salah satu ilmuan terbesar di planet bumi.
Padahal waktu kecil, tanda-tanda kegeniusannya belum terlihat. Bahkan prestasi
di sekolahnya sangat jelek. Guru disekolahnya pun meminta orang tua einstein
untuk mengeluarkannya dari sekolah, karena dia terlalu bodoh untuk belajar.
Menurut gurunya, ia hanya menghabiskan waktu dan energi percuma untuk
mendidik Enstein. Pihak sekolah juga menyarankan agar Enstein dicarikan
pekerjaan sebagai buruh secepat mungkin.
Untungnya, ibu Enstein tidak mengikuti saran dari sekolah, ibunya justru
membelikan Enstein biola. Enstein sangant suka memainkan alat musik itu
sampai ia sangat menguasainya. Menurut Enstein, musik merupakan kunci
kecerdasan Enstein yang luar biasa tersebut. Salah satu teman Enstein
mengatakan kalau Enstein banyak menyelesaikan masalah fisika dan persamaan
matematikanya yang membingungkan saat melakukan improvisasi dengan
biolanya. Berkat kemampuan imajinasinya, Enstein dapat mengembangkan ilmu
pengetahuan dan membuat banyak orang jadi terinspirasi untuk mewujudkan
impiannya.
Cara berbicaranya pada masa kecil tidak begitu menarik. Kemampuan
berbahasa atau berbicaranya sangat lambat. Melihat kondisi itu orang tuanya
sangat prihatin sehingga ia berkonsultasi dengan dokter.
Karena kemampuan berbicaranya yang lambat membuatnya pernah gagal
di sekolah dan kepala sekolah menyarankan agar ia keluar dari sekolah. Tentu
saja ia memberontak kepada sekolah yang mengusirnya dan menganggapnya
sebagai anak yang sangat bodoh.
Pada masa kecil, Einstein adalah anak yang baik dan ia punya karakter suka
menolong, karakter ini membuatnya makin cerdas. Kemampuan berbahasanya
memang lebih rendah dibandingkan kemampuan numerika atau matematika.
Ia tidak pernah gagal dalam mata pelajaran matematika. Sebelum ia
berumur lima belas tahun ia telah menguasai kalkulus diferensial dan integral
yang dipelajarinya secara otodidak.
Saat di sekolah dasar, dia berada di atas kemampuan rata-rata kelas,
namun ia memiliki kegemaran untuk memecahkan masalah rumit dalam
aritmatika terapan.
Orang tuanya ikut mendukung minat Einstein dalam matematika. Ia
membelikan buku-buku teks sehingga ia bisa menguasai pelajaran angka-angka
selama liburan musim panas.

2. Thomas Alfa Edison

Ia belajar bagaimana cara menemukan lampu. Sebelum lampu pertamanya


menyala ia melakukan 5.000 eksperimen yang selalu berakhir dengan
kegagalan. Namun cara berpikir yang dimiliki oleh Thomas Alfa Edison sangatlah
positif dan tahan banting, ini membawanya kepada kreativitas tingkat tinggi.
Guru Thomas Alpha Edison, penemu listrik, menyebutnya anak dungu.
Namun kemudian si anak dungu menjadikan bumi terang pada malam hari. Ia
mencoba 5000 lebih eksperimen berbeda tanpa hasil. Tapi, pada percobaannya
yang ke-10 000, tiba-tiba cahaya muncul. Si anak dungu berhasil!
Suatu hari, seorang anak berusia 4 tahun yang telinganya sedikit kurang
dan tak pintar di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari
gurunya.
Ibunya
membaca
kertas
tersebut:
"Tommy pelajar yang sangat bodoh di sekolah, kami minta ibu
untuk memberitahunya supaya tidak perlu datang lagi ke sekolah ini."
Si-ibu menangis membaca surat dari sekolah itu, namun hatinya berkata,
Anak aku Tommy bukan anak bodoh, biar aku sendiri yang mendidik dan
mengajar dia. Siapa yang menyangka bahwa anak kecil yang telinganya sedikit
kurang dan bodoh hingga diminta D.O. ini, akhirnya menjadi seorang ilmuwan
genius? Siapa yang mengira ketika dewasa Edison muncul sebagai ilmuwan
terkemuka dunia yang menciptakan lampu, ponograf dan kamera? Jawabannya
adalah ibunya! Ibunya Nancy Edison tidak menyerah begitu saja dengan
pendapat pihak sekolah bahawa anaknya bodoh, dia sebaliknya mendidik sendiri
Thomas untuk menjadi seorang ilmuwan yang paling genius. Tanpanya, mungkin
hingga kini kita masih bergelut dengan gelap.
Sebelumnya, Nancy pernah menjadi guru di sekolah, namun ia tidak lama
mengajar di sana. Di balik semua rahasia kesuksesan Nancy dalam mendidik
Thomas Alva Edison, ternyata ia sangat mendedikasikan seluruh waktunya bagi
pendidikan
anaknya.
Ia
juga
tidak
memaksakan
kehendak, tetapi
mengembangkan pengalaman dan mencari berbagai cara yang menarik untuk
menggugah rasa ingin tahun dan keinginan Thomas Alva Edison untuk belajar
sendiri.
Selama menjadi guru bagi Thomas Alva Edison, Nancy menanamkan
kebiasaan pada anaknya supaya senang mempelajari sesuatu dan membaca
buku-buku yg ada. Dari semua yang dipelajarinya, Thomas Alva Edison
menerapkan pelajaran tersebut dengan cara bereksperimen di laboratorium
kecilnya.
Thomas Alva Edison tinggal di laboratoriumnya, dan ia hanya tidur selama 4
jam sehari. Bahkan, ia hanya mengonsumsi makanan yang dibawakan oleh
asistennya ke laboratorium. Thomas Alva Edison melakukan percobaan secara
terus-menerus hingga penemuan-penemuannya menjadi sempurna.

3. Isaac Newton

Lahir di Woolsthorpe-Lincolnshire, Inggris. Ia adalah seorang fisikawan,


matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog yang berasal
dari Inggris.
Ayahnya yang juga bernama Isaac Newton meninggal tiga bulan sebelum
kelahiran Newton. Newton dilahirkan secara prematur. Ketika Newton berumur
tiga tahun, ibunya menikah kembali dan meninggalkan Newton di bawah asuhan
neneknya.
Waktu di sekolah, Isaac Newton punya reputasi sebagai anak yang suka
melamun. Bahkan gurunya sering mengomeli kalau ia malas dan kurang
memperhatikan. Sang guru bahkan tidak menyangka kalau Isaac Newton akan
berhasil nantinya.
Anak-anak yang lebih pintar di sekolah Newton kecil boleh duduk di depan,
dan yang kurang pintar duduk di belakang. Newton kecil duduk di belakang.
Karena kelihatannya Newton kecil tidak suka sekolah, ibunya pun
memindahkannya dari sekolah di usia 14 tahun, dan membawanya pulang ke
rumah. Newton sangat suka bermain-main dan mengamati segala sesuatu.
Misalnya ia suka membuat jam air, dan salah satu mainannya adalah kincir angin
dan ia suka mengamatinya serta membuatnya. Di malam hari, ia membuat
lentera untuk diterbangkan bersama layang-layangnya. Sampai-sampai orangorang di desanya menyangka itu adalah iblis di langit. Walau akhirnya mereka
mengetahui kalau itu salah satu mainan Isaac Newton.
Tak disangka kemampuan observasi Newton yang hebat mampu
mengembangkan ilmu pengetahuan dan diturunkan dari satu generasi ke
generasi selanjutnya.
Newton memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan
kemudian dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia
akhirnya menjadi anak terpandai di sekolahnya.
Saat bersekolah di Grantham dia tinggal di kost milik apoteker lokal (William
Clarke). Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge (usia 19), Newton
sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne Storer. Namun

Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran dan kisah cintanya menjadi


semakin tidak menentu dan putus begitu saja.
Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia
menjadi petani saja, bagaimanapun Newton tidak menyukai pekerjaan barunya.
Kepala sekolah Kings School kemudian meyakinkan ibunya untuk mengirim
Newton kembali ke sekolah sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya.
Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang
memuaskan.
Newton diterima di Trinity College Universitas Cambridge (sebagai
mahasiswa yang belajar sambil bekerja untuk mengatasi masalah keuangannya).
Pada saat itu, kurikulum universitas didasarkan pada ajaran Aristoteles, namun
Newton lebih memilih untuk membaca gagasan-gagasan filsuf modern yang
lebih maju seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan
Kepler.
Ia kemudian menemukan teorema binomial umum dan mulai
mengembangkan teori matematika yang pada akhirnya berkembang menjadi
kalkulus.

4. Charles Darwin

Lahir tanggal 12 Februari 1809 di Shropshire, Inggris. Ia anak ke-lima Robert


Waring Darwin. Ia belajar sesuai dengan kurikulum berbahasa Yunani Klasik. Ia
tidak memperlihatkan prestasi yang bagus secara akademik.
Kemudian ia mengambil jurusan kedokteran tetapi tidak banyak
memperoleh kemajuan. Untuk itu ia melakukan usaha lain agar bisa maju.
Ayahnya menyarankan Darwin untuk menjadi pendeta dan belajar di Christs
College untuk belajar teologi.

Tetapi ia juga tidak memperoleh kemajuan, ia malah senang berburu dan


permainan menembak. Ternyata Darwin mempunyai minat dalam mengkoleksi
tanaman, serangga, dan benda-benda geologi. Ia tertarik dengan bakat berburu
sepupunya William Darwin.
Darwin mengembangkan minatnya dalam serangga dan spesies langka.
Naluri ilmiah Darwin didorong oleh Alan Sedgewick, seorang ahli bumi, dan juga
didorong oleh John Stevens Henslow, seorang professor botany.
Darwin kemudian menjadi naturalist (pencinta alam) dan ikut melakukan
ekspedisi dengan HMS Beagle. Tim ekspedisi HMS Beagle berlayar dan
mengunjungi banyak negeri di lautan Pasifik Selatan sebelum kembali ke Inggris
melalui Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan, dalam rangka mengelilingi dunia.
Darwin juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Thomas Malthus, dengan
bukunya "Essay on the Principle of PopulationI". Buku tersebut mengatakan
bahwa populasi seharusnya bertambah sesuai dengan batas persediaan
makanan, kalau tidak maka akan terjadi persaingan untuk memperebutkan
makanan.
Setelah membaca buku ini, Darwin memfokuskan teorinya bahwa "The
diversity of species centered on the gaining of food food being necessary both
to survive and to breed"- semua jenis spesies terfokus dalam memenuhi
kebutuhan makanan dan makanan berguna untuk kelangsungan hidup dan untuk
berkembang biak.