Anda di halaman 1dari 14

SILASE

MAKALAH BAHAN PAKAN DAN PEMBERIAN RANSUM

Oleh:
Kelas: G
Kelompok: 4
INDRIYANI RAHAYU
HELMI NURSIFAH
ELVAN OCTA SUTIRA

200110130183
200110130184
200110130186

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2015

I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Ketersediaan pakan hijauan yang cukup dengan nutrisi yang baik dan

berkesinambungan sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok,


pertumbuhan dan produksi ternak ruminansia merupakan faktor yang sangat
penting

dalam

keberhasilan

pengembangan

ternak

ruminansia.

Hijauan

merupakan pakan utama ternak ruminansia tersedia secara melimpah pada musim
hujan namun demikian akan menurun produksinya pada musim kemarau.
Pemenuhan kebutuhan hijauan merupakan hal yang selalu menjadi masalah
terutama di wilayah Nusa Tenggara Barat, hal ini disebabkan karena lahan
peternakan yang sudah mulai sempit serta faktor iklim dimana produksi
hijauannya pada musim hujan tinggi dan melimpah namun akan terjadi penurunan
produksi pada musim kemarau sehingga keadaan ini menyulitkan peternak untuk
memenuhi kebutuhan ternak mereka.
Melihat kondisi dan masalah di atas maka perlu dilakukan sebuah terobosan
yaitu dengan cara teknologi konservasi (pengawetan). Teknologi ini bertujuan
untuk mengawetkan kelebihan hijauan pada musim hujan sehingga kebutuhan
ternak ruminansia dapat terpenuhi pada musim kemarau.
Salah satu konservasi yang sudah dikenal yaitu teknologi silase dimana
teknologi ini bertujuan untuk mengawetkan hijauan serta mencegah kehilangan
nutrisi hijauan melalui proses fermentasi mikroba secara anaerob. Pengawetan ini
memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan teknologi konservasi yang lain.
kelebihan silase diantaranya yaitu hijauan tidak mudah rusak oleh hujan pada

waktu dipanen, tidak banyak daun yang terbuang, silase umumnya lebih mudah
dicerna dibandingkan hay dan karoten dalam hijauan lebih terjaga dengan dibuat
silase dibanding hay.
1.2.

Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan silase.

Bagaimana cara membuat silase.

1.3.

Maksud dan Tujuan

Untuk mengetahui apa yng dimaksud dengan silase.

Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan silase.

II
PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian Silase

Silase adalah makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi


hijauan pakan dengan kandungan air yang tinggi. Silase adalah pakan yang telah
diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan, limbah
industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar /
kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah tempat
yang tertutup rapat kedap udara, yang biasa disebut dengan Silo, selama sekitar
tiga minggu.
Tujuan pembuatan silase adalah 1). Memanfaatkan hijauan pada kondisi
pertumbuhan yang tertinggi baik dari segi kualitas maupun kuantitas, 2).
Menyediakan hijauan pakan yang berkualitas tinggi bagi ternak ruminansia dan
3). Mempertahankan atau meningkatkan produksi.
Tempaeratur yang baik untuk silase berkisar 270C hingga 350C. pada
temperature tersebut, kualitas silase yang dihasilkan sangat baik. Kualitas tersebut
dapat diketahui secara organoleptik, yaitu: mempunyai tekstur segar, berwarna
kehijau-hijauan, tidak berbau busuk, disukai ternak, tidak berjamur, tidak
menggumpal.

2.2.

Prinsip dasar fermentasi silase

2.2.1. Respirasi
Sebelum sel-sel di dalam tumbuhan mati atau tidak mendapatkan
oksigen, maka mereka melakukan respirasi untuk membentuk energi yang di

butuhkan dalam aktivitas normalnya. Respirasi ini merupakan konversi


karbohidrat menjadi energi.
Respirasi ini di bermanfaat untuk menghabiskan oksigen yang
terkandung, beberapa saat setelah bahan di masukan dalam silo. Namun
respirasi ini mengkonsumsi karbohidrat dan menimbulkan panas, sehingga
waktunya harus sangat di batasi, seperti reaksi dibawah ini :
C2H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + panas.
Respirasi yang berkelamaan di dalam bahan baku silase, dapat mengurangi
kadar karbohidrat, yang pada ahirnya bisa menggagalkan proses fermentasi.
Pengurangan kadar oksigen yang berada di dalam bahan baku silase, saat
berada pada ruang yang kedap udara yg disebut dengan Silo, adalah cara
terbaik meminimumkan masa respirasi ini.

2.2.2. Fermentasi
Setelah kadar oksigen habis , maka proses fermentasi di mulai.
Fermentasi adalah menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase sampai
dengan kadar pH dimana tidak ada lagi organisme yang dapat hidup dan
berfungsi di dalam silo. Penurunan kadar pH ini dilakukan oleh lactic
acid ( asam laktat ) yang di hasilkan oleh bakteri Lactobacillus. Lactobasillus
itu sendiri sudah berada didalam bahan baku silase, dan dia akan tumbuh dan
berkembang dengan cepat sampai bahan baku terfermentasi. Bakteri ini akan
mengkonsumsi karbohidrat untuk kebutuhan energinya dan mengeluarkan
asam laktat. Bakteri ini akan terus memproduksi asam laktat dan menurunkan
kadar pH di dalam bahan baku silase sampai pada tahap kadar pH yang
rendah, dimana tidak lagi memungkinkan bakteri ini beraktivitas, sehingga

silo berada pada keadaan stagnant, atau tidak ada lagi perubahan yang terjadi,
dan bahan baku silase berada pada keadaan yang tetap. Keadaan inilah yang
di sebut keadaan terfermentasi, dimana bahan baku berada dalam keadaan
tetap , yang disebut dengan menjadi awet. Pada keadaan ini maka silase dapat
di simpan bertahun-tahun selama tidak ada oksigen yang menyentuhnya.

2.3.

Tahap atau fase fermentasi silase

Fase I

Fase II

Fase III

Fase IV

Fase V

Fase VI

Respirasi sel,

Produksi

Pembentukan

Pembentukan

Penyimpana

Dekomposisi

produksi CO2,

asam asetat,

asam laktat

asam laktat

n material

aerob saat

panas dan air

asam laktat

silo dibuka

dan etanol
Perubahan

32,20C

28,90C

28,90C

5,0

4,0

7,0

suhu 20,60C
Perubahan pH
6,0 6,5
Bakteri asam

Bakteri asam

Bakteri asam

Aktivitas ragi

asetat asam

laktat

laktat

dan jamur

4 hari

21 hari

laktat
Umur silase 1

2 hari

hari
2.4.

Bahan yang digunakan

2.4.1. Rumput gajah

Rumput gajah merupakan keluarga rumput-rumputan (graminae) yang


telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (ruminansia)
yang alamiah di Asia Tenggara. Rumput ini biasanya dipanen dengan cara
membabat seluruh pohonnya lalu diberikan langsung (cut and carry) sebagai
pakan hijauan untuk kerbau dan sapi atau dapat juga dijadikan persediaan
pakan melalui proses pengawetan pakan hijauan dengan cara silase dan hay.
Di Indonesia, rumput gajah merupakan tanaman hijauan utama pakan ternak.
Rumput gajah secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak,
berakar dalam, dan tinggi dengan rimpang yang pendek. Tinggi batang
tanaman ini dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan
diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas /
buku.
Rumput gajah tumbuh berbentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1
meter. Rumput gajah mempunyai produksi bahan kering 40 ton/ ha/ thn,
dengan kandungannya yaitu protein kasar 13,5%, lemak 3,4%, NDF 64,28%,
abu 15,8 %, Ca 0,13%, dan fosfor 0,37%. Rumput gajah pada umur 43 hari
sampai dengan 56 hari mengandung air 82,5 (%), protein 9,3 (%), lemak 2,1
(%), serat kasar 32,9 (%), BETN 42,8 (%), Abu 15,2 (%), Ca 0,52 (%), dan
fosfor 0,31 (%).
Rumput gajah merupakan salah satu

dari banyak rumput tropis yang

digunakan sebagai silase. Faktor-faktor yang mendukung sehingga rumput


gajah banyak dikomsumsi oleh ternak ruminansia dan mempunyai palatabilitas
yang cukup tinggi dan mudah dikembangkan dengan

waktu pemotongan

berulang yang tidak terlalu lama, yaitu 4-5 minggu pada musim hujan dan 6-7
minggu pada musim kemarau.

2.4.2. Rumput Raja


Rumput raja adalah jenis rumput baru yang belum banyak dikenal, yang
merupakan hasil persilangan antara pennisetum purpereum (rumput gajah)
dengan pennisetum tydoides, rumput ini mudah ditanam, dapat tumbuh dari
dataran rendah hingga dataran tinggi, menyukai tanah subur dan curah hujan
yang merata sepanjang tahun. Produksi rumput ini jauh lebih tinggi
dibandingkan rumput lainnya.
Kandungan nutrien rumput Raja adalah BK 21,21%, TDN 53,89 PK
9,20%, Ca 0,37%, P 0,39%, sedangkan limbah media tanam jamur merang:
BK 92,73%, TDN 46,212%, PK 11,74%, Ca 10,9%, P 0,235%.
2.4.3. Stater (molases)
Molases merupakan hasil samping pada industri pengolahan gula dengan
wujud bentuk cair. Molases merupakan sumber energi yang esensial dengan
kandungan gula didalamnya. Oleh karena itu, molasses telah banyak
dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak dengan kandungan nutrisi
atau zat gizi yang cukup baik. Molasses memiliki kandungan protein kasar
3,1%; serat kasar 0,6 %; BETN 83,5 %; lemak kasar 0,9 %; dan abu 11,9 %.
Kadar air dalam cairan molasses yaitu 15 25 % dan cairan tersebut berwarna
hitam serta berupa sirup manis. Dalam pembuatan silase molases digunakan
sebagai stater (aditif).
Telah dilakukan pengujian pada pengaruh penambahan additive yang
berbeda terhadap kualitas fisik dan derajat keasaman silase rumput raja.

Additive yang digunkana adalah molases, dedak jagung, gula merah dan gula
pasir dan ada pula yang tidak di tambhakan aditive.
Penambahan jenis additif seperti dedak jagung, dedak padi, gula merah,
molasses dan gula pasir menghasilkan warna coklat muda dan coklat tua.
Penambahan additif ini bertujuan untuk mempercepat proses anaerob sehingga
bakteri penghahasil asam laktat memanfaatkan karbohidrat mudah larut ini
untuk menurunkan pH silase sehingga menjadikan warna silase rumput Raja
menjadi warna coklat muda dan coklat tua. Silase rumput Raja (Pennisetum
purphureophoides) tanpa penambahan additif menghasilkan warna agak
kehitaman. Silase berubah warna menjadi kehitaman hal ini disebabkan karena
pada saat silase dimasukkan kedalam silo, jaringan tanaman masih hidup dan
melakukan respirasi secara aktif dan menghasilkan air, CO2 dan panas.
Menyatakan bahwa respirasi terjadi pada awal pembuatan silase yang akan
menghasilkan CO2, air dan panas, jika proses ini terjadi terlalu lama maka
temperatur di dalam silo akan tinggi sehingga akan merusak warna hijauan.
Penambahan additif dedak jagung, gula merah dan molasses tidak
menghasilkan jamur namun pada gula pasir menghasilkan sedikit jamur.
McDonald (1981) menyatakan bahwa salah satu tujuan penambahan
akselerator dalam proses ensilase adalah untuk menghambat pertumbuhan
jamur tertentu. Jika dibandingkan dengan silase rumput Raja (Pennisetum
purphureophoides) tanpa additif menghasilkan jamur yang cukup hal ini
disebabkankan karena proses anaerobik terjadi secara lambat untuk
menghasilkan bakteri penghasil asam laktat serta kandungan nutrisi dari bahan
additif tersebut.

Penambahan molases memberikan bau asam dan lebih baik dibandingkan


dengan jenis additif yang lain (dedak jagung, gula merah dan gula pasir) hal ini
disebabkan karena molasses mengandung karbohidrat (sukrosa) yang
merupakan golongan disakarida. Mikroba akan menghasilkan asam laktat yang
menyebabkan pH rendah dan bau asam yang dihasilkan berasal dari bakteri
asam laktat tersebut. Sementara pada silase tanpa penambahan additif
menghasilkan bau yang busuk karena bakteri asam laktat kurang mendapatkan
karbohidrat mudah larut untuk memproduksi asam laktat sehingga bakteri
yang dihasilkan yaitu bakteri Clostridium. Bakteri ini akan memecah asam
amino

menjadi

ammonia,

asam

organic,

asam

Bakteri Clostridium akan tumbuh subur pada pH 5.


2.5.

Proses Pembuatan Silase


Alat:

Golok

Nampan

Talenan

Timbangan

Vakum

Bahan:

2 kg rumput gajah

2 kg rumput raja

3% molases dari total rumput raja dan rumput gajah

amine

dan

CO2.

Prosesdur:

Cacah rumput gajah dan rumput raja 3-5 cm.

Timbang 3% molases dari total bahan.

Campurkan rumput gajah, rumput raja dan molases, lalu aduk hingga rata.

Masukan campuran rumput gajah, rumput raja dan molases, yang telah di
aduk hingga rata ke dalam plastik putih.

Lalu gunakan vakum untuk mengeluarkan udara yang ada dalam plastik.

Masukan ke dalam kantung hitam untuk menjegah silase terkena cahaya


matahari langsung.

Dan simpan silase di tempat yang aman serta tidak terkena sinar matahari
langsung.

2.6.

Pengaruh Penambahan Dedak Padi dan Lactobacillus planlarum


lBL-2 dalam Pembuatan Silase Rumput Gajah
Penggunaan aditif dedak padi pada pembuatan silase dengan berbagai

level dedak dengan penambahan Lactobacillus

plantarum I BL-2 106 cfir/g

hijauan memberikan pengaruh terhadap beberapa parameter kualitas silase. Level


dedak padi memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap penunman pH
silase, kandungan total asam (DP 5o/o), % ADF dan % NDF (DP 3%)
dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan antara level dedak padi DP l% dan DP
5% tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap beberapa parameter
kualitas silase yaitu bahan organik, abu, bahan kering, srn^.r panen, % rusah
jumlah koloni bakteri asam laktat akhir dan asam laktat. trvel dedak dalam

aplikasi pernbuatan silase dapat berpengaruh terhadap kualitas silase dan dapat
digunakan sebagai tambahan mulai l%w/w sampai5%w/w.
2.7.

III
KESIMPULAN

Silase adalah makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi


hijauan pakan dengan kandungan air yang tinggi. Tujuan pembuatan silase adalah
1). Memanfaatkan hijauan pada kondisi pertumbuhan yang tertinggi baik dari segi
kualitas maupun kuantitas, 2). Menyediakan hijauan pakan yang berkualitas tinggi
bagi ternak ruminansia dan 3). Mempertahankan atau meningkatkan produksi.
Cara pembuatan silase, cacah rumput gajah dan rumput raja 3-5 cm,
timbang 3% molases dari total bahan, campurkan rumput gajah, rumput raja dan
molases, lalu aduk hingga rata, masukan campuran rumput gajah, rumput raja dan
molases, yang telah di aduk hingga rata ke dalam plastik putih, lalu gunakan
vakum untuk mengeluarkan udara yang ada dalam plastik, masukan ke dalam
kantung hitam untuk menjegah silase terkena cahaya matahari langsung dan
simpan silase di tempat yang aman serta tidak terkena sinar matahari langsung.

DAFTAR PUSTAKA

Hartati, Erna. 2010. Bahan Ajar Mandiri Teknologi Pengolahan Pakan. Fakultas
Peternakan

Universitas Nusa Cendana Kupang

Hidayat, Nur. April 2014. Karakteristik dan Kulitas Silase Rumput Raja
Menggunkana Berbagai Sumber dan Tingkat Penambahan Karbohidrat
Fermentable. Vol 14 No.1
Ridwan, R, dkk. Desember 2005. Pengaruh Penambahan Dedak Padi dan
Lactobacillus Plantarum 1BL-2 dalam Pembuatan Silase Rumput Gajah.
Vol, 28 No.3.
Rismunandar, 1989. Mendayagunakan Tanaman Rumput. CetakanKe-III. PT
Sinar Baru: Bandung
Siregar, S.B. 1996. Pengawetan Pakan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Taufikurrahman. Maret 2014. Pengaruh Penambahan Additive yang Berbeda
Terhadap Kualitas Fisik dan Derajat ke Asaman Silase Rumput Raja.
Uhudubdullah.blogspot.com/2014/03/ pengaruh-penambahan-aditive
Widyastuti, Y. 2008. Fermentasi Silase dan Manfaat Probiotik Silase bagi
Rouminansia. Media

Peternakan. 31 (3) : 225-232.

Zailzar, L., Sujono, Suyatno dan A. Yani. 2011. Peningkatan Kualitas Dan
Ketersediaan Pakan Untuk Mengatasi Kesulitan di Musim Kemarau Pada
Kelompok Peternak Sapi Perah. Jurnal Dedikasi Vol. 8