Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

HIPERTENSI URGENSI, VERTIGO, DAN HIPERTENSI


HEART DISEASE

PEMBIMBING :
dr. Afdhalun A. Hakim, Sp.JP, FIHA, FAsCC

DISUSUN OLEH :
Meita Kusumo Putri, S. Ked
NIM : 030.10.174

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


RUMAH SAKIT OTORITA BATAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 26 OKTOBER 2014 3 JANUARI 2015
0

LEMBAR PENGESAHAN
Nama mahasiswa

: Meita Kusumo Putri, S. Ked

NIM

: 030.10.174

Bagian

: Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Trisakti

Periode

: 26 Oktober 2014 3 Januari Agustus 2015

Judul

: Hipertensi urgency dan hipertensi heart disease

Pembimbing

: dr. Afdhalun A. Hakim, Sp.JP, FIHA, FAsCC

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal :


Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Penyakit Dalam di Rumah Sakit Otorita Batam.

Batam, Desember 2014

dr. Afdhalun A. Hakim, Sp.JP, FIHA, FAsCC

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala nikmat,
rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
Hipertensi urgency dan hipertensi heart disease dengan baik dan tepat waktu.
Laporan kasus ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di Rumah Sakit Otorita Batam periode 26
Oktober 2014 3 Januari 2015. Di samping itu, laporan kasus ini ditujukan untuk menambah
pengetahuan bagi kita semua tentang hipertensi urgency dan hiperteni heart disease.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya
kepada dr. Afdhalun A. Hakim, Sp.JP, FIHA, FAsCC selaku pembimbing dalam penyusunan
laporan kasus ini, serta kepada dokterdokter pembimbing lain yang telah membimbing
penulis selama di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Otorita Batam.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada rekanrekan anggota Kepaniteraan Klinik
Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Otorita Batam serta berbagai pihak yang telah memberi
dukungan dan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput
dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan, kritik maupun
saran yang membangun. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya,
semoga tugas ini dapat memberikan tambahan informasi bagi kita semua.

Batam, November 2014


Penulis

Meita Kusumo Putri

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ................................................................................

..........

Kata pengantar ..........................................................................................

..........

Daftar isi ..................................................................................................

..........

BAB I

Pendahuluan ..................................................................................

BAB II

Laporan Kasus ................................................................

BAB III

Analisa Kasus ......................................................................

BAB IV

Kesimpulan .......................................................................... ..........

..........

18

BAB I
PENDAHULUAN

Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat. Hasil Survei Kesehatan


Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk menderita
hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun 2004. Semakin meningkatnya kasus
hipertensi yang terjadi di dunia dapat menyebabkan semakin seringnya terjadi komplikasi
lebih lanjut yang dapat mengancam jiwa.1
Diperkirakan sekitar 1 % dari pasien hipertensi akan mengalami krisis hipertensi.
Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak sistolik
180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik 120 mmHg yang membutuhkan
penanggulangan segera. Krisis hipertensi dibagi menjadi dua kategori, yaitu hipertensi
emergensi dan hipertensi urgensi. Hipertensi emergensi adalah peningkatan secara mendadak
tekanan darah sistolik 180 mmHg atau tekanan darah diastolik 120 mmHg disertai
dengan adanya kerusakan target organ akut atau progresif sehingga membutuhkan penurunan
tekanan darah segera. Hipertensi urgensi adalah peningkatan secara mendadak tekanan darah
sistolik 180 mmHg atau tekanan darah diastolik 120 mmHg tanpa gejala yang berat atau
kerusakan target organ progresif dimana kondisi ini membutuhkan penurunan tekanan darah
dalam beberapa jam. 2
Secara epidemiologis, kejadian krisis hipertensi paralel dengan distribusi hipertensi
primer dalam komunitas, dan lebih tinggi pada mereka orang African-American dan usia
lebih tua, dimana pria terkena 2 kali lebih sering dibandingkan wanita. Kebanyakan dari
pasien yang mengalami krisis hipertensi ialah mereka yang sudah terdiagnosis memiliki
hipertensi primer dan banyak diantaranya sudah diberikan terapi antihipertensi dengan
kontrol tekanan darah yang tidak adekuat. Pada beberapa penelitian yang ada menunjukkan
bahwa pasien dengan krisis hipertensi memiliki peluang yang lebih besar untuk menderita
gangguan somatoform,stroke serta penyakit jantung hipertensi dan atau penyakit jantung
koroner. Kurangnya tenaga dokter, kegagalan untuk memberikan terapi antihipertensi lebih
awal, serta ketidaksesuaian dalam memberikan terapi antihipertensi menjadi faktor resiko
yang cukup besar untuk terjadinya hipertensi emergensi. Hal inilah yang menyebabkan
semakin tingginya kejadian krisis hipertensi yang terjadi pada pasien-pasien hipertensi. 1,2

BAB II
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN

Nama
Jenis kelamin
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Status pernikahan
Hari, dan tanggal masuk RS
Ruang perawatan

: Tn. A.
: Laki-laki
: 79 Tahun
: Islam
: SMA
: Pensiun PNS
: Menikah
: Kamis, 11 Desember 2014, pukul 20.00 WIB
: Bangsal Melati

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara auto-anamnesa kepada pasien dan allo-anamnesa kepada anak kandung
pasien pada Kamis, 12 Desember 2014, pukul 06.30 WIB.
Keluhan Utama
Nyeri kepala sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang pasien laki-lak berusia 79 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala sejak 3 jam
sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala bersifat berdenyut, timbul secara mendadak saat
berubah posisi dari berbaring ke posisi duduk yang disertai tengkuk terasa berat. pasien
sedang ingin berubah posisi dari berbaring ke posisi duduk yang disertai dengan tengkuk
terasa berat. Selain mengeluhkan nyeri kepala, pasien juga mengeluh adanya pusing yang
bersifat berputar, seakan-akan lingkungan sekitar ikut bergerak, berlangsung dalam beberapa
menit. Pasien mengaku masih sanggup berjalan dan tidak mengeluhkan rasa seperti ingin
terjatuh. Keluhan pusing berputar seperti ini sudah sering berulang, namun serangan ini
dirasa paling hebat dibandingkan biasanya. Keluhan mual, muntah, gangguan pendengaran,
pandangan kabur, penglihata ganda, penurunan kesadaran hingga pingsan, sesak napas, nyeri
dada, rasa jantung berdebar, ataupun keringat dingin saat serangan pusing berputar disangkal.
Buang air kecil lancar, volume urine banyak, tidak tersendat-sendat, dan tidak terasa nyeri.
6

Nafsu makan baik, tidak ada penurunan berat badan, keluhan demam, batuk ataupun riwayat
batuk lama disangkal. Keluhan mudah merasa lapar, haus, atau kesemutan pada ujung-ujung
jari juga disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Didapatkan riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu, dengan tekanan sistolik rerata
pasien adalah 140-150 mmHg, tidak terkontrol teratur dengan pengobatan. Riwayat diabetes
mellitus, asma, penyakit jantung, ginjal disangkal. Riwayat sesak napas atau nyeri dada
terdahulu disangkal. Riwayat keluar cairan dari dalam telinga, telinga berdengung disangkal.
Riwayat trauma, atau cedera terutama pada bagian kepala juga disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, ginjal, asma, dan keganasan
dalam keluarga disangkal.
Riwayat Kebiasaan
Terdapat riwayat merokok aktif saat usia muda selama 15 tahun, dengan jumlah 6 batang
per hari. Pasien menjaga pola makan dengan cukup baik, pasien mengurangi makan makanan
yang asin dan berlemak sejak mengetahui mengalami hipertensi sejak 5 tahun yang lalu.
Riwayat Pengobatan
Pasien meminum obat penurun tekanan darah, berupa captopril, namun tidak rutin
diminum dan jarang kontrol ke dokter. Pasien sering minum obat mertigo bila keluhan pusing
berputar kambuh.

III. PEMERIKSAAN FISIK (12 DESEMBER 2014)


Pemeriksaan Umum
1. Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

2. Kesadaran

: Compos mentis

3. Tanda vital
a. Tekanan darah

: 170/100 mmHg
di IGD : 220/110 mmHg

b. Nadi

: 54x/menit, ireguler, isi cukup, ekual.


di IGD : 78x/menit

c. Pernapasan

: 16x/menit
di IGD : 18x/menit

d. Suhu

: 36,4oC
di IGD : 36,6oC

4. Antropometri
a. BB
: 50 kg
b. TB
: 160 cm
c. BMI
: 19,53
d. Lingkar pinggang : Status Generalis
1. Kepala dan wajah
Kepala
Wajah

: Normosefali
: Simetris

2. Mata
Palpebra

: Tidak tampak oedem pada kedua palpebra

Konjunctiva

: Tidak tampak pucat pada kedua konjunctiva

Sklera

: Tidak tampak ikterik pada kedua sklera

Pupil

: Bulat, isokor, diameter 3 mm / 3 mm,

Refleks cahaya

: Langsung

: Ada pada kedua mata

Tidak langsung : Ada pada kedua mata


Lensa

: Jernih

Pergerakan bola mata : Baik ke segala arah


3. Telinga
Bentuk

: Normotia aurikula dekstra dan sinistra

Liang telinga

: Lapang pada kedua liang telinga


8

Serumen

: Tidak ada pada kedua telinga

Cairan

: Tidak ada pada kedua telinga

Membran timpani

: Tidak dilakukan pemeriksaan

4. Hidung
Bentuk

: Bentuk normal dan tidak ada kelainan

Kavum nasi

: Lapang / lapang

Sekret

: Tidak ada pada kedua lubang hidung

Mukosa hiperemis

: (-) / (-)

Konka edema

: (-) / (-)

5. Mulut
Bibir

: Tidak tampak pucat, kering, ataupun sianosis

Palatum

: tak tampak kelainan

Gigi geligi

: tak tampak kelainan

Lidah

: tak tampak kelainan

Tonsil

: T1 T1

Faring

: tak tampak kelainan

6. Leher
a. Deviasi trakea

: (-)

b. Kelenjar Tiroid

: Tak teraba membesar

c. Kelenjar getah bening leher : Tak teraba membesar


d. Tekanan Vena Jugularis : 5 + 2 cmH2O
7. Thorax
a. Paru
Inspeksi

: Bentuk thoraks simetris, tidak ada pernapasan yang tertinggal,


tipe pernapasan abdominothorakal, tidak tampak retraksi

Palpasi

: Vokal fremitus sama kuat kanan dan kiri

Perkusi

: Sonor dikedua lapang paru

Auskultasi

: Suara napas vesikuler kanan dan kiri simetris, tidak


didapatkan ronkhi atau wheezing pada kedua lapang paru.

b. Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis tak teraba, tak teraba pulsasi abnormal

Perkusi

: - Batas paru dan kanan jantung berada setinggi ICS III-V linea
sternalis dekstra dengan suara redup
9

Batas paru dan kiri jantung berada setinggi ICS V 1 cm


lateral dari linea midclavicularis sinistra dengan suara redup

Batas atas jantung berada setinggi ICS II linea parasternalis


sinistra dengan suara redup

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II normal, irama ireguler, tidak terdengar


split, murmur, ataupun gallop.

8. Abdomen
Inspeksi

: Perut tampak datar, gerakan peristaltik usus (-)

Palpasi

: Supel, tidak terdapat nyeri tekan diseluruh kuadran abdomen,


hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba ballottement ginjal,
turgor kulit baik.

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapang kuadran abdomen, tidak terdapat


nyeri ketok costo-vertebra angle.

Auskultasi

: Bising usus (+) dengan frekuensi 3x/meni

9. Ekstremitas
Ekstremitas atas

Dekstra

Sinistra

Akral

Hangat

Hangat

Tonus otot

Normal

Normal

Trofi otot

Eutrofi

Eutrofi

Capillary refill time

<2 detik

<2 detik

Lain-lain

Oedem (-)

Oedem pitting (-)

Dekstra

Sinistra

Akral

Hangat

Hangat

Tonus otot

Normal

Normal

Trofi otot

Eutrofi

Eutrofi

Capillary refill time

<2 detik

<2 detik

Lain-lain

Oedem (-)

Oedem (-)

Ekstremitas bawah

10. Status neurologis


-

N. Kranialis
Motorik

Sensorik
Refleks fisiologis

: tidak ada kelainan


: 5555 5555
5555 5555
: baik

Biceps

(+)

(+)

Triceps

(+)

(+)
10

IV.

Patella

(+)

(+)

Achilles

(+)

(+)

Hofmann-Trommer

(-)

(-)

Babinsky

(-)

(-)

Chaddock

(-)

(-)

Gordon

(-)

(-)

Refleks patologis

Uji keseimbangan dan koordinasi


Romberg test
: Normal
Finger to finger
: Normal
Finger to nose
: Normal
Dix Hall Pike
: Negatif

RESUME
Seorang pasien laki-lak berusia 79 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala sejak 3 jam
sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala bersifat berdenyut, timbul secara mendadak saat
berubah posisi dari berbaring ke posisi duduk yang disertai tengkuk terasa berat. Didapatkan
juga keluhan pusing berputar, seakan-akan lingkungan sekitar ikut bergerak, berlangsung
dalam beberapa menit. Keluhan mual, muntah, gangguan pendengaran, pandangan kabur,
penglihata ganda, penurunan kesadaran hingga pingsan, sesak napas, nyeri dada, rasa jantung
berdebar, ataupun keringat dingin saat serangan pusing berputar disangkal. Buang air kecil
lancar, volume urine banyak, tidak tersendat-sendat, dan tidak terasa nyeri. Nafsu makan
baik, tidak ada penurunan berat badan, keluhan demam, batuk ataupun riwayat batuk lama
disangkal. Keluhan mudah merasa lapar, haus, atau kesemutan pada ujung-ujung jari juga
disangkal.
Didapatkan riwayat hipertensi tidak terkontrol. Riwayat diabetes mellitus, sesak atau
nyeri dada terdahulu, trauma disangkal. Pada pemeriksaan tanda vital, tekanan darah
meningkat. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan kardiomegali. Pada pemeriksaan rontgen
toraks, didapatkan kardiomegali (boot shape).

V.

DIAGNOSIS
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang maka diagnosis
kerja yang ditegakkan ialah hipertensi urgencsi vertigo, HHD.
11

VI.

TATALAKSANA
1. Medikamentosa
1)
2)
3)
4)

Amlodipine 1 x 5 mg
Captopril 1 x 5 mg
Mertigo 3 x 6 mg
Vometa 2 x 10 mg

2. Non medikamentosa
Edukasi :

VII.

Meminum obat antihipertensi secara teratur, dan kontrol rutin apabila terdapat

keluhan dan obat telah habis.


Rutin mengecek tekanan darah.
Membatasi konsumsi garam berlebih, maksimal 2-3 gram/hari.
Mengurangi makan makanan yang berlemak.

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad functionam
Ad sanationam

: Ad bonam
: Ad bonam
: Dubia ad bonam

12

VIII. FOLLOW UP HARIAN


1. RABU, 11 DESEMBER 2014 SAAT MASUK DI IGD
Keluhan utama :
Nyeri kepala sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit
Riwayat penyakit sekarang :
S

Nyeri kepala sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit. Pandangan kabur (-) Sesak napas
(-) Nyeri dada (-) BAK lancar, tidak ada gangguan BAK, mual dan muntah (-). Pusing
berputar (+)
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat hipertensi (+), DM (-), Asma (-)
Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital

Tekanan darah : 220/110 mmHg


Nadi

: 78x/menit

Pernapasan

: 18x/menit

Suhu

: 36,4oC

Pemeriksaan fisik :
Kepala

: Konjunctiva pucat : -/-

Leher

: Tak tampak kelainan

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

O
Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -

- -

Motorik 5 5
5 5

13

Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan
Hb
Eritrosit

Satuan
Darah Lengkap
13,2
g/dl
4,34
106/uL

Hematokrit
Leukosit
Trombosit
LED
MCV
MCH
MCHC
RDW-CV
Golongan Darah

38,3
2,96
86
10
88,2
30,4
34,5
12,9
A+

Basofil
Eosinofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Ureum
Kreatinin
Natrium
Kalium
Chlor
GD Sewaktu

Hasil

%
103/uL
103/uL
mm/jam
fL
pg
g/dL
%

Hitung Jenis Leukosit


0,3
%
2,7
%
38,2
%
46,3
%
12,5
%
Kimia Darah
35,4
mg/dL
1,29
mg/dL
Elektrolit
142
meq/l
3,7
meq/l
107
meq/l
Gula Darah
85
mg/dl

Nilai Rujukan
11,0 16,5
3,8 5,8
35,0 50,0
4 11
150 450
80,0 97,9
26,5 33,5
31,5 35,0
10,0 15,0

01
05
46 -75
17 48
4 10
10 50
0,7 1,2
135 147
3,5 5,0
94 111
70 140

2. Pemeriksaan rontgen toraks

14

Deskri
psi :
Fot
o

Thoraks posisi PA

15

Tak tampak deviasi trakea


Sinus, diafragma, dan pleura baik
Pulmo
:
Corakan bronkovaskuler dan hilus baik, tidak tampak kesuraman di kedua
paru
Cor :
CTR 18,4/26,5 x 100% = 69,43%
Batas kiri jantung melebihi 2/3 hemithoraks kiri dengan gambaran boot
shape
Batas kanan jantung tidak melebihi 1/3 hemithoraks kanan
Tulang-tulang dan soft tissue baik
Kesan :
- Pulmo : tak tampak kelainan

16

- Cor : Cardiomegali
3. Pemeriksaan EKG

Deskripsi EKG :

Irama dasar

Heart (QRS) rate : 70x/menit

: Sinus aritmia

17

Aksis

: Normoaxis

Gelombang P

: Normal (Durasi 0,08 detik, voltase 0,2 mV, tegak di lead II,

terbalik di AVR)

Interval PR

Kompleks QRS : SVES (kompleks QRS menyempit)

Segmen ST

Gelombang T : T inverted (-)

Gelombang Q : Q patologis (-)

RVH (-) LVH voltage (-) LVH strain (-)

: Normal (0,20 detik)

: ST elevasi (-) ST depresi (-)

Kesan EKG :
Sinus aritmia dengan SVES
A

Hipertensi urgency, Vertigo, HHD


Amlodipine 1 x 5 mg
Captopril 1 x 5 mg
Mertigo 3 x 6 mg
Vometa 2 x 10 mg

18

2. JUMAT, 13 DESEMBER 2014


S

Pusing kepala berputar (+) Mual (-) Muntah (-) Sesak napas (-) Nyeri dada (-) Jantung

berdebar-debar (-)
O Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital

Tekanan darah : 160/70 mmHg


Nadi

: 50x/menit, reguler, isi cukup, ekual.

Pernapasan

: 16x/menit

Suhu

: 36,6oC

Pemeriksaan fisik :
Kepala

: Konjunctiva pucat -/- Sklera ikterik -/-

Leher

: Tidak teraba pembesaran KGB, JVP 5 + 2 cmH2O

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -

Motorik 5 5
5 5

19

Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan EKG

20

Deskripsi EKG :

Irama dasar

Heart (QRS) rate : 46x/menit

Aksis

: Normoaxis

Gelombang P

: Normal (Durasi 0,08 detik, voltase 0,2 mV, tegak di lead II,

: Sinus bradikardi

terbalik di AVR)

Interval PR

Kompleks QRS : 0,08 detik

Segmen ST

Gelombang T : T inverted (-)

Gelombang Q : Q patologis (-)

: Normal (0,20 detik)

: ST elevasi (-) ST depresi (-)

Kesan EKG :
Sinus bradikardi
A

Hipertensi urgency, Vertigo, HHD


Amlodipine 1 x 5 mg
Captopril 1 x 5 mg
Mertigo 3 x 6 mg
Vometa 2 x 10 mg

21

3. SABTU, 14 DESEMBER 2014


S

Pusing kepala berputar berkurang, Mual (-) Muntah (-) Sesak napas (-) Nyeri dada (-)
Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit ringan
Tanda vital

Tekanan darah : 150/90 mmHg


Nadi

: 54x/menit, reguler, isi cukup, ekual.

Pernapasan

: 16x/menit

Suhu

: 36,5oC

Pemeriksaan fisik :
O

Kepala

: Konjunctiva pucat -/- Sklera ikterik -/-

Leher

: Tidak teraba pembesaran KGB, JVP 5 + 2 cmH2O

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -

Motorik 5 5
5 5
Hipertensi urgency, Vertigo, HHD
Amlodipine 1 x 5 mg
Captopril 1 x 5 mg
Mertigo 3 x 6 mg
Vometa 2 x 10 mg

22

4. MINGGU, 15 DESEMBER 2014


S

Pusing kepala berputar (-) Mual (-) Muntah (-) Sesak napas (-) Nyeri dada (-)
Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit ringan
Tanda vital

Tekanan darah : 140/90 mmHg


Nadi

: 56x/menit, reguler, isi cukup, ekual.

Pernapasan

: 16x/menit

Suhu

: 36,5oC

Pemeriksaan fisik :
Kepala

: Konjunctiva pucat -/- Sklera ikterik -/-

Leher

: Tidak teraba pembesaran KGB, JVP 5 + 2 cmH2O

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -

Motorik 5 5
5 5

23

Pemeriksaan Penunjang :
2. Pemeriksaan EKG

24

Deskripsi EKG :

Irama dasar

Heart (QRS) rate : 56x/menit

Aksis

: Sinus bradikardi

: Left axis deviation (Lead I dominan positif, lead aVF dominan

negatif)

Gelombang P

: Normal (Durasi 0,08 detik, voltase 0,2 mV, tegak di lead II,

terbalik di AVR)

Interval PR

Kompleks QRS : 0,08 detik

Segmen ST

Gelombang T : T inverted (-)

Gelombang Q : Q patologis (-)

: Normal (0,20 detik)

: ST elevasi (-) ST depresi (-)

Kesan EKG :
Sinus bradikardi
A Hipertensi urgency, HHD
Amlodipine 1 x 5 mg
P
Captopril 1 x 5 mg

25

5. SENIN, 16 DESEMBER 2014


S

Tidak ada keluhan [Pusing kepala berputar (-) Mual (-) Muntah (-) Sesak napas (-)
Nyeri dada (-)]
Keadaan umum :
Compos mentis, tampak sakit ringan
Tanda vital

Tekanan darah : 150/80 mmHg


Nadi

: 60x/menit

Pernapasan

: 18x/menit

Suhu

: 36,5oC

Pemeriksaan fisik :
O

Kepala

: Konjunctiva pucat -/- Sklera ikterik -/-

Leher

: Tidak teraba pembesaran KGB, JVP 5 + 2 cmH2O

Toraks

: S1 normal, S2 normal, irama reguler, murmur (-), gallop (-)


Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Tampak datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, oedem ekstremitas -

A
P

Motorik 5 5
5 5
Hipertensi urgency, HHD
Amlodipine 1 x 5 mg
Captopril 1 x 5 mg

26

BAB III
ANALISA KASUS
Pasien pada kasus ini didiagnosis dengan hipertensi urgensi, vertigo, dan hypertensive
heart disease. Adapun penegakkan diagnosis pada pasien adalah:
1. Hipertensi urgensi
1. Anamnesis
Pasien berjenis kelamin laki-laki dan berusia 79 tahun. Secara epidemiologis, jenis
kelamin laki-laki memiliki angka kejadian kejadian krisis hipertensi 2x lebih sering
dibandingkan pada wanita.1 Dan insiden krisis hipertensi semakin meningkat sesuai dengan
penambahan usia, dimana pasien ini termasuk dalam usia lanjut.
Pasien pertama kali datang ke IGD dengan keluhan nyeri kepala sejak 3 jam sebelum
masuk rumah sakit. Nyeri kepala bersifat berdenyut, timbul secara mendadak saat berubah
posisi dari berbaring ke posisi duduk yang disertai tengkuk terasa berat. Keluhan nyeri
kepala, dibedakan menjadi nyeri kepala primer dan sekunder, dimana berdasarkan
International Headache Society (ICH) Tahun 2013, nyeri kepala sekunder terutama akibat
krisis hipertensi tanpa hipertensi ensefalopati, memenuhi kriteria nyeri kepala berupa:3
Sedang berlangsung krisis hipertensi
Berlangsung setidaknya dua dari kriteria berikut :
- Memberat saat sedang berlangsung krisis hipertensi
- Nyeri kepala memenuhi setidaknya 1 dari karakteristik gejala berikut :
Lokasi bilateral
Bersifat berdenyut
Dicetuskan oleh aktivitas fisik
Pada pasien ini, nyeri kepala pasien bersifat berdenyut dan dicetuskan oleh aktivitas
berupa perubahan posisi dari berbaring ke duduk dan berlangsung saat kondisi krisis
hipertensi, sehingga memenuhi karakteristik nyeri kepala pada hipertensi urgensi. Keluhan
tengkuk memberat terjadi karena adanya spasme otot sebagai respon untuk mengurangi
vasokonstriksi pembuluh darah berlebih pada kondisi hipertensi.
Keluhan mual, muntah, gangguan pendengaran, pandangan kabur, penglihatan ganda,
penurunan kesadaran hingga pingsan, sesak napas, nyeri dada, rasa jantung berdebar, ataupun
keringat dingin saat serangan pusing berputar disangkal. Buang air kecil lancar, volume urine
banyak, tidak tersendat-sendat, dan tidak terasa nyeri. Nafsu makan baik, tidak ada penurunan
berat badan, keluhan demam, batuk ataupun riwayat batuk lama disangkal. Keluhan mudah
merasa lapar, haus, atau kesemutan pada ujung-ujung jari juga disangkal.
Keluhan-keluhan tersebut ditanyakan dalam anamnesis untuk menyingkirkan
kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menyebabkan nyeri kepala, dan yang terpenting
27

adalah memikirkan kemungkinan adanya target organ damage atau tidak pada kasus krisis
hipertensi ini, khususnya pada hipertensi emergensi, dimana pada hipertensi emergensi,
peningkatan tekanan darah secara mendadak disertai dengan target organ damage. Pada
kasus ini, keluhan-keluhan yang mengarah pada kerusakan target masing-masing organ
disangkal oleh pasien sehingga memperkuat diagnosis kearah hipertensi urgensi.
Pada anamnesis riwayat penyakit dahulu, pasien mengatakan ada riwayat hipertensi
sejak 5 tahun yang lalu dan tidak terkontrol teratur dengan pengobatan, dengan tekanan darah
sistolik rata-rata adalah 130-140 mmHg. Hal ini merupakan salah satu faktor resiko
terjadinya krisis hipertensi. Dan pasien mengaku tidak terdapat riwayat trauma kepala,
ataupun riwayat keluhan sesak napas atau nyeri dada terdahulu.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah saat pertama kali masuk ke IGD
adalah 220/110 mmHg, sehingga kasus ini termasuk dalam krisis hipertensi, dimana
pengertian krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak
sistolik 180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik 120 mmHg yang membutuhkan
penanggulangan segera. Pada pemeriksaan fisik, tidak ditemukan adanya kelainan, kecuali
pada pemeriksaan fisik toraks didapatkan pergeseran apeks jantung ke lateral yang
menandakan adanya kardiomegali yang pada dasarnya mendukung diagnosis hypertensive
heart disease. Pada pemeriksaan neurologis, tidak ditemukan adanya kelainan, terutama
kelainan-kelainan yang mengarah pada stroke sebagai gambaran target organ damage pada
hipertensi emergensi, sehingga semakin memperkuat penegakkan hipertensi urgensi tanpa
adanya target organ damage berdasarkan hasil pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan
neurologis.
3. Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan penunjang, secara garis besar tidak ditemukan kelainan yang
mengarah pada target organ damage, dimana hasil laboratorium dalam batas normal, foto
toraks didapatkan gambaran bootshape yang pada dasarnya mendukung diagnosis
hypertensive heart disease, dan pada pemeriksaan EKG tidak ada gambaran T inverted, ST
elevasi, ataupun ST depresi yang menggambarkan iskemia atau infark miokard infark yang
dapat menjadi salah satu target organ damage pada hipertensi emergensi.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien kasus
ini dinyatakan mengalami hipertensi urgensi atas dasar peningkatan tekanan darah hingga
mencapai 220/110 mmHg (tekanan darah sistolik 180 mmHg dan diastolik 110 mmHg)
tanpa disertai target organ damage.

28

Sehingga, prinsip penatalaksanaan pada pasien ini adalah menurunkan tekanan darah
dengan pengurangan MAP sebanyak 2025% dalam waktu 24 sampai 48 jam, dengan
penggunaan obat antihipertensi oral.4,5 Pada pasien ini, dimana tekanan darah adalah 220/110
mmHg, dengan MAP 146 mmHg, sehingga target tekanan darah yang ingin dicapai dari 25%
MAP (MAP 109,5 mmHg) adalah sekitar 150/90 mmHg. Dalam kasus ini, obat antihipertensi
oral yang diberikan adalah captopril yang merupakan golongan ACE inhibitor, yaitu
menghambat enzim angiotensin coverting enzyme sehingga terjadi penurunan kadar
angiotensin II. Selain captopril, pasien juga diberikan amlodipin yang merupakan golongan
calcium channel blocker (CCB). Pemberian CCB pada pasien ini dikarenakan telah terjadi
LVH (left ventricle hypertrophy), bertujuan untuk mengurangi kontraktilitas jantung sehingga
beban ventrikel kiri untuk memompa cardiac output berkurang sehingga mencegah kerusakan
fungsi ventrikel kiri yang lebih lanjut.
Pasien dirawat inap oleh karena perlu dilakukan pengawasan penurunan tekanan
darah dalam 24 jam pertama, meskipun dengan hanya pemberian obat oral. Pada hari kedua
perawatan (Kamis, 12 Desember 2014), tekanan darah turun menjadi 170/100 mmHg, namun
belum mencapai target yang diinginkan. Pada hari perawatan ketiga sampai kelima, tekanan
darah pasien belum mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Sedangkan pada hari
terakhir perawatan, tekanan darah pasien adalah 150/80 mmHg sehingga pasien boleh
dipulangkan.
2. Vertigo
Pasien mengeluh adanya pusing. Pasien dengan keluhan pusing, pertama kali harus
dibedakan karakteristik atau sifat pusing yang dikeluhkan berdasarkan 4 kategori utama, yaitu
vertigo, disequilibrum, presyncope, dan lightheadedness (lihat tabel 1).6 Dalam kasus ini,
pasien mengeluhkan pusing yang bersifat berputar, seakan-akan lingkungan sekitar ikut
bergerak, pasien mengaku masih sanggup berjalan dan tidak mengeluhkan rasa seperti ingin
terjatuh. menandakan bahwa karakteristik keluhan pusing pada pasien ini termasuk dalam
golongan vertigo. Pasien juga memiliki riwayat vertigo berulang. Meskipun pada
pemeriksaan keseimbangan dan koordinasi tidak menunjukan adanya kelainan, hal ini tetap
tidak dapat menyingkirkan vertigo.

29

Penatalaksaan

vertigo pada pasien

ini adalah diberikan obat

mertigo, serta

vometa. Tujuan

pemberian vometa

adalah untuk mengatasi efek samping dari obat mertigo yang dapat menyebabkan mual dan
muntah.
3. Hypertensive heart disease
Ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Pada anamnesis,
didapatkan riwayat tekanan darah tinggi kronis, yaitu berlangsung selama 5 tahun,
terlebih hipertensi pasien ini tidak terkontrol. Pada pemeriksaan fisik, tekanan darah
pasien meningkat hingga 220/110 mmHg, dan dari pemeriksaan toraks, didapatkan
pergeseran ictus cordis pada palpasi, serta pada perkusi didapatkan pergeseran batas kiri
jantung kearah lateral yang menandakan adanya kardiomegali. Hal ini diperkuat dengan
pemeriksaan rontgen toraks, dengan CTR 69%, disertai pelebaran batas kiri jantung
yang melebihi 2/3 hemitoraks kiri dengan gambaran bootshape.

30

BAB IV
KESIMPULAN

Seorang pasien laki-lak berusia 79 tahun datang dengan keluhan nyeri kepala sejak 3 jam
sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala bersifat berdenyut, timbul secara mendadak saat
berubah posisi dari berbaring ke posisi duduk yang disertai tengkuk terasa berat. Didapatkan
juga keluhan pusing berputar, seakan-akan lingkungan sekitar ikut bergerak, berlangsung
dalam beberapa menit. Keluhan mual, muntah, gangguan pendengaran, pandangan kabur,
penglihata ganda, penurunan kesadaran hingga pingsan, sesak napas, nyeri dada, rasa jantung
berdebar, ataupun keringat dingin saat serangan pusing berputar disangkal. Buang air kecil
lancar, volume urine banyak, tidak tersendat-sendat, dan tidak terasa nyeri. Nafsu makan
baik, tidak ada penurunan berat badan, keluhan demam, batuk ataupun riwayat batuk lama
disangkal. Keluhan mudah merasa lapar, haus, atau kesemutan pada ujung-ujung jari juga
disangkal. Didapatkan riwayat hipertensi tidak terkontrol. Riwayat diabetes mellitus, sesak
atau nyeri dada terdahulu, trauma disangkal. Pada pemeriksaan tanda vital, tekanan darah
meningkat. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan kardiomegali. Pada pemeriksaan rontgen
toraks, didapatkan kardiomegali (boot shape). Tatalaksana yang diberikan secara nonmedikamentosa dan medikamentosa. Prognosis pasien ini diharapkan ad bonam.

31

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahajeng E, Tuminah S. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Maj


Kedokteran Indonesia 2009, 59:580-587.
2. Varon J, Marik P.E. Clinical Review: The Management of Hypertensive Crisis.
Critical Care 2003,7:374-384.
3. Olesen J, Pascual J. The international classification of headache disorders. United
Kingdom: International Headache Society (ICH); 2013; p.4,749-50.
4. Cline D.M, Amin A. Drug Treatment For Hypertensive Emergencies. EMCREG 2008,
1:1-11.
5. 2013 ESH/ESC Guidelines For The Management of Arterial Hypertension. Journal of
Hypertension 2013, 31:1281-1357.
6. Post RE. Dickerson LM. Dizziness: A diagnostic approach. USA: American Family
Physician J; Vol.82 (4); 2010; p.1-8.

32