Anda di halaman 1dari 14

EKSPRESI MATERI GENETIKA :

KONTROL GENETIK TERHADAP RESPON IMUN

RESUME
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Genetika Lanjut
Yang Dibina oleh Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd

Disusun Oleh:
OFFERING D
NURIL MAGHFIROH

(140341807614)

RACHMAYANI ARDIANSYAH

(140341807566)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
MARET 2015

KONTROL GENETIK TERHADAP RESPON IMUN


Ketika subtansi asing (antigen) memasuki aliran darah manusia, maka
tubuh manusia atau mamalia akan memicu mekanisme pertahanan yang disebut
respon imun, yang menghasilkan protein yang disebut dengan antibodi. Antibodi
akan mengikat antigen secara spesifik. Ada sekuen DNA yang mengkode susunan
antobodi yang dihasilkan oleh sistem imun diferensiasi sel-sel penghasil antibodi
dengan terjadinya penyusunan kembali set baru genom (rearrangements genome).
Komponen Sistem Imun
Terdapat tiga tipe sel darah putih yang berperan dalam respon imun pada
vertebrata. Yaitu:
a. Limfosit B (disebut sel B karena diproduksi di dalam sumsum tulang (bone
marrow))
b. Limfosit T (disebut sel T karena di produksi dalam kelenjar timus)
c. Makrofag.
Antibodi disintesis oleh Limfosit B dan disekresikan pada membrane
permukaan sel B. Selama respon imun humeral, antibodi-antibodi mengikat
antigen bebas dalam sistem sirkulasi dan mengaglutinasi antigen-antigen tersebut.
Komplek antobodi-antigen yang dihasilkan kemudian dicerna dan di degradasi
oleh makrofag.

Gambar 1. Mekanisme Kerja Antibodi

Struktur Antibodi
Antibodi merupakan kelas protein yang disebut
dengan

Immunoglobulin.

Masing-masing

antibodi

merupakan tetramer yang berisi 4 polipeptida. dua rantai


terang yang identik, dan dua rantai berat yang identik
digabungkan oleh ikatan disulfida. Rantai terang berisi
220 asam amino, dan rantai berat berisi 440-450 asam
amino. Setiap rantai memiliki daerah variabel sekuen
asam amino berselang seling diantara antibody spesifik
untuk antigen yang berbeda
Daerah protein yang membawa fungsi khusus

Gambar 2. Struktur
Antibodi

disebut Domain. Masing masing antibodi memiliki dua sisi pengikatan antigen
atau domain, masing-masing membentuk daerah variabel yang terdiri dari satu
rantai terang dan satu rantai berat. Daerah konstan berisi dua rantai berat yang
berinteraksi untuk membentuk domain ketiga disebut efektor function domain,
yang bertanggung jawab untuk interaksi dari antibodi dengan komponen lain
sistem imun.
Terdapat 5 kelas antibodi (IgM, IgD, IgM, IgE, dan IgA). Kelima kelas
antibodi fungsinya ditentukan oleh sturktur dari rantai berat daerah konstan.
Contohnya: IgD antibodi biasanya menyisakan ikatan di permukaan sel dan
disekretkan di aliran darah. Rantai terang memiliki dua tipe lamda dan kappa.
Antibodi memiliki pengikatan antigen yang spesifik sebagai penentu daerah
variabel dari empat rantai tetapi fungsinya berbeda.
Rantai Terang Kappa
Sintesis kappa dikontrol oleh 3 segmen gen yang berbeda. 1) V k segmen
gen, mengkode N0 terminal 95 asam amino daerah variabel, 2) J k segmen gen,
mengkode, 13 asam amino terakhir dari daerah variabel. 3) C k segmen gen
mengkode C-terminal daerah konstan. Selama perkembangan Limfosit B, gen
khusus rantai terang kappa akan diekspresikan di dalam sel yang dirakit dari satu
segmen Lk - Vk satu Jk segmen dan satu Ck segmen oleh proses rekombinasi
somatik.

Rantai Terang Lambda


Gen Rantai terang lamda juga dirakit dari segmen yang terpisah selama
limfosit B berkembang. 5% antibodi tikus yang memiliki rantai terang lambda.
40% dari antibodi pada manusia yang memiliki rantai terang lambda.
Rantai Berat
Informasi genetik untuk antibodi rantai berat di organisasi ke dalam LhVh, Jh, dan Ch. segmen gen beranalog dengan rantai terang kappa, tetapi ada satu
penambahan segmen gen yang disebut dengan D untuk keanekaragaman
diversity yang mengkode 12-13 asam amino dari daerah variabel. Daerah
variabel dari rantai berat mengkode 3 segmen gen yang terpisah yang harus
bergabung selama limfosit B berkembang.
Keanekaragaman Antibodi: Jalur Alternatif Splicing Transkripsi
Diferensiasi limfosit B berlangsung saat pemrosesan splicing RNA,
limfosit B tertentu yang telah matang menghasilkan antibodi IgM dan IgD.
Antibodi-antibodi tersebut hanya berbeda pada fungsi efektor domainnya,
sedangkan sisi pelekatan domain antigennya identik, yang ditentukan oleh
kesamaan segmen gen yang menyatu misalnya VKJK atau (VJ) dan VHDJH.
Tahap selanjutnya dari sintesis antibodi adalah tahap produksi antibodi
terikat membran dan bentuk antibodi yang disekresikan. Antibodi pertama yang
tampak pada perkembangan limfosit B adalah molekul IgM terikat membran,
selanjutnya sel-sel tersebut di switch untuk memproduksi bentuk IgM yang
disekresi.
Sekuen pengkode (ekson) segmen gen CH diinterupsi oleh sekuen gen
nonkoding (intron). Segmen gen CH mengandung 4-6 ekson dan 3-5 intron. Dalam
antibodi terikat membran, rantai berat daerah konstan dihasilkan melalui splicing
semua ekson bersama-sama. Dua ekson terakhir mengkode ekor hidrofobik pada
rantai berat terikat membran. Selama sintesis bentuk terikat membran, ekson C H
kelima disambungkan pada kodon 20 dari ujung ekson keempat.

Signal Sekuen Mengkode Penyusunan Kembali Gen


Sekuen sinyal mengontrol V-J, V-D dan penggabungan D-J mengandung 7
pasang basa (heptamer) dan 9 pasang basa (nanomer) panjang sekuens dipisahkan
oleh spacer pembeda namun panjangnya spesifik. Untuk penggabungan Vk-Jk
spacer pada sekuen sinyal Vk adalah 12 pasang panjang nukleotida, sedangkan
pada Jk adalah 22 pasang panjang nukleotida. Sekuen heptamer dan nanomer
berlokasi setelah segmen gen Vk komplementer (kecuali satu pasangan basa)
dengan segmen gen

Jk sebelumnya. Sekuen sinyal memiliki potensi untuk

struktur stem and loop yang membawa gen Vk dan Jk untuk bergabung.
Penggabungan hanya akan terjadi ketika sekuen sinyal mengandung 12 pasang
basa spacer dan yang lainnya mengandung 22 pasang basa spacer
Keragaman Antibodi: Tempat Bergabung dan Mutasi Somatik
Adanya keanekaragaman sekuen asam amino pada molekul antibodi dengan
sekuen segmen gen yang diprediksi mengkode antibodi tersebut menunjukkan
bahwa terdapat lebih banyak variasi sekuen asam amino pada V-J junction
dibanding dengan prediksi melalui sekuen nukleotida. Banyaknya keragaman ini
ditunjukkan melalui variasi dalam tapak rekombinasi selama penggabungan V-J.
Contoh adanya interaksi alternasi tapak penggabungan segmen gen Vk dan
segmen gen Jk pada tikus.
Selama segmen gen VK41 dan J5 bergabung, menunjukkan rekombinasi yang
berlangsung antara empat posisi nukleotida yang berdekatan di situs junction.
Selama asam amino 96 bergabung di daerah rantai antibodi yang terlibat dalam
ikatan antigen. Dengan demikian, penggunaan situs alternatif selama peristiwa
rekombinasi yang terlibat dalam kumpulan gen antibodi dewasa menyediakan
sebuah mekanisme tambahan untuk menghasilkan keanekaragaman antibodi.
Regulasi dari Transkripsi: Sebuah jaringan-Khusus
Dalam kasus gen rantai berat nampak bahwa proses penataan kembali
membawa promotor yang terletak di upstream dari segmen gen LH - VH
berpengaruh ke berbagai elemen enhancher yang terletak di intron antara segmen
gen JH dan segmen gen CH. Setiap segmen gen LV - VH mengandung promotor
upstream. Namun, sebelum peristiwa penataan kembali genomik yang mengarah

pada sintesis rantai berat, enhancher ini terdiri dari lebih 100.000 pasang
nukleotida. Enhancher ini dapat langsung mengaktifkan transkripsi dari promotor
yang terletak di upstream dari segmen gen LH - VH. Enhancher yang terlibat dalam
aktivasi sintesis rantai berat adalah jaringan tertentu; yang akan mengaktifkan
transkripsi hanya terdapat dalam limfosit dan tidak memiliki efek pada sel yang
berasal dari jaringan lain.
Pemilihan Klonal
Seleksi klonal merupakan mekanisme yang
dilakukan oleh suatu organisme untuk melalukan
inisiasi sintesis antibodi spesifik terhadap antigen
yang belum pernah diketahui sebelumnya. Semua
antibodi dihasilkan oleh limfosit B tunggal yang
mempunyai spesifikasi sisi pelekatan antigen
yang sama, tetapi sel tersebut akan mengalami
penyusunan genomik yang berbeda sehingga
menghasilkan produksi antibodi yang berbeda
pula. Teori seleksi klonal menyatakan bahwa
pengikatan antigen asing khusus pada suatu
antibodi

di

permukaan

limfosit

akan

merangsang terjadinya pembelahan sel, untuk


menghasilkan sejumlah besar sel limfosit B
(tiruan dari sel yang identik) sehingga akan
Gambar 3. Diagram skematik
dari peran seleksi klonal pada
respon imun

ada banyak limfosit B yang mengenali antigen


tersebut.

Penyimpangan pada Alel


Masing-masing limfosit B hanya membuat satu jenis antibodi. Sel mamalia
berupa diploid; mereka membawa dua set informasi kode genetik untuk masingmasing rantai antibodi. Tetapi, hanya satu genom produktif yang menyusun
kembali sekuen pengkode rantai ringan dan satu genom produktif yang menyusun
kembali sekuen pengkode rantai berat yang terjadi pada masing-masing limfosit

B. Fenomena ini disebut dengan penyimpangan pada alel karena satu alel
menyimpang dari yg diekspresikan.
Variasi Reseptor Sel T
Limfosit T memperantarai respon imun seluler. Sel-sel T mengenali
antigen pada permukaan sel dan membunuh sel yang membawa antigen. Sel-sel T
menghasilkan membran-terikat reseptor yang sangat mirip dengan antibodi yang
diproduksi oleh limfosit B. Selain itu, keragaman spesifisitas reseptor sel T yang
diproduksi oleh penyusunan ulang genom analog dengan mereka yang terlibat
dalam produksi antibodi. Reseptor sel T terdiri atas dua rantai polipeptida, dan
, masing-masing dikodekan oleh L-V, D, J, dan segmen gen C seperti rantai
antibodi. - dan -polipeptida, seperti rantai antibodi, mengandung daerah
variabel yang membentuk situs pengikatan antigen dan daerah konstan agar
pembawa berita reseptor ada di permukaan sel (Gambar 4a).

Gambar 4. Diagram menunjukkan (a) struktur dari reseptor sel T berlabuh di


membran sel dan (b) daerah dari protein reseptor dan yang dikodekan oleh L-V,
D, J dan segmen gen C

Daerah variabel dari reseptor sel T dikode oleh beberapa segmen gen L-V,
D, dan J; daerah konstan dikode oleh sejumlah kecil segmen gen C. Gen reseptor
sel T disusun oleh penyusunan kembali genom yang terjadi selama dferensiasi
oleh limfosit T oleh stem sel seperti pada kasus gen antibodi pada perkembangan
limfosit beta. Protein reseptor alpha dan beta, dikode oleh segmen gen yang
berbaris pada kelompok pada masing-masing kromosom 14 dan 7.

Struktur dari kelompok gen reseptor sel T pada manusia sangat mirip
dengan tikus. Organisasi alur penyakit pada segmen gen yang mengkode beta
polipeptida reseptor sel T ditunjukkan pada gambar 5a. Organisasi fungsional
penyusunan kembali beta polipeptida gen ditunjukkan pada gambar 5b. Urutan
pensinyalan heptamer dan nonamer yang sangat mirip tersebut sama pada kontrol
penyusunan kembali gen antibodi yang juga hadir secara esensial pada lokasi
yang sama pada kelompok gen reseptor sel T. Kehadiran kedua kelompok gen
memberi kesan bahwa mekanisme yang sama pada penggabungan segmen gen
yang dipekerjakan selama penyusunan kembali, baik gen antibodi maupun gen
reseptor sel T. Ada kemungkinan bahwa variabilitas pada reseptor sel T agak
kurang daripada antibodi. Daerah variabel gen reseptor sel T dikode oleh sekitar
30 segmen gen V, sedangkan ada sekitar 300 segmen gen V baik pada rantai
ringan Kappa maupun rantai berat antibodi.

Gambar 5. Organisasi lokus kompleks tikus yang mengkode polipeptida reseptor


beta sel T

Major Histocompability Complex (MHC)


Sejumlah besar komponen dari respon imun seperti halnya antigen
transplantasi yang secara garis besar bertanggung jawab untuk rejeksi jaringan
asing pada proses transplantasi yang dikontrol oleh multigen kompleks disebut
dengan Major Histocompability Complex (MHC). Pada manusia, protein MHC
dikode oleh lokus HLA (Human Leukocyte Antigen) pada kromosom 6. Pada
tikus, lokus MHC ditetapkan H-2 (histocompatibility lokus 2) yang terletak pada
kromosom 17. Baik tikus maupun manusia, lokus MHC sangat besar (> 2 x 10 6
pasang nukleotida) dan mengandung sejumlah besar gen. Gen-gen MHC sangat
polimorfik karena banyaknya alel dari gen individu yang biasanya memisahkan
dalam populasi tertentu.

Gen-gen MHC mengkode tiga kelas yang berbeda dari protein yang
terlibat dalam berbagai aspek dari respon imun. Struktur lokus MHC manusia
(HLA) dan lokasi relatif gen yang menyandikan kelas yang berbeda dari antigen
histokompatibilitas ditunjukkan pada Gambar 6. Protein MHC kelas I
merupakan antigen yang bertanggung jawab untuk rejeksi jaringan asing pada
transplan jaringan dan organ. Seperti diilustrasikan dalam Gambar 6, antigen
memainkan peran kunci dalam pengenalan dan kerusakan sel yang membawa
antigen asing oleh limfosit T sitotoksik. Sebuah reseptor T tunggal sel mengenali
antigen asing dan antigen histokompatibilitas kelas I selama respon imun sel T
sitotoksik.
Gen MHC kelas II mengkode polipeptida yang terletak dekat pada
permukaan limfosit B dan makrofag. Protein MHC kelas II menyediakan tipe
khusus T limfosit yang disebut "sel T helper" dengan kapasitas untuk pengenalan
diri dan memfasilitasi komunikasi antara berbagai jenis sel yang terlibat dalam
respon imun. Akhirnya, gen MHC kelas III mengkode protein komplemen yang
berinteraksi dengan kompleks antigen-antibodi dan menginduksi lisis sel.
Antigen MHC kelas I dan kelas II yang berada di membran sel memiliki
struktur yang sangat mirip dengan struktur reseptor sel T (lihat Gambar 6).
Namun, keragaman antigen MHC jauh lebih sedikit dibandingkan dengan antibodi
dan reseptor sel T, dan tidak ada penyusunan kembali genom yang terlibat dalam
kontrol genetik keragaman antigen MHC.

Gambar 6. Organisasi MHC (HLA) pada kromosom 6 manusia

Perubahan Genetik Dalam Diferensiasi Kekebalan Sel Vertebrata


Di Mamalia, sistem kekebalan tubuh terdiri dari beberapa jenis sel yang
berasal dari stem sel yang berada di dalam sumsum tulang yang berbeda. Stem sel
menghasilkan berbagai jenis sel imun serta prekursor sel-sel imun tubuh. Dua
kelas yang penting dari sel-sel kekebalan tubuh berpartisipasi langsung dalam
perang melawan menyerang patogen.
1. Sel plasma B menghasilkan dan mengeluarkan protein yang disebut
imunoglobulin, juga dikenal sebagai antibodi
2. Sel T pembunuh memproduksi protein bertindak sebagai reseptor untuk
berbagai zat.
Antibodi sel B dan reseptor sel T mampu mengenali molekul-molekul lain,
misalnya bahan asing yang diperkenalkan oleh patogen melalui mekanisme lock
and keys. Molekul Asing yang disebut antigen, adalah key yang cocok dan tepat
dengan lock yang dibentuk oleh antibodi sel B atau reseptor sel T.

Gambar 7. Struktur molekul antibodi

Rantai ringan dan berat paada antibody dikode oleh lokus yang berbeda
dalam genom. Pada manusia, ada dua lokus rantai pendek, lokus kappa () pada
kromosom 2 dan lokus lambda () pada kromosom 22, dan ada satu rantai berat
lokus, terletak pada kromosom 14. Setiap dari lokus ini terdiri dari serangkaian
gen segmen yang panjang.
Kappa polipeptida dikodekan oleh tiga jenis gen segmen:
1. segmen gen Lk Vk, yang mengkode peptida utama dan amino terminal 95
daerah asam amino rantai ringan kappa; peptida utama akan dihapus dari rantai
ringan kappa oleh pembelahan kemudian membawa polipeptida yang baru
melalui membran endoplasma dalam sintesis antibodi sel plasma.
2. Jk segmen gen, yang mengkode asam amino terakhir 13 daerah rantai ringan
kappa; simbol Jk digunakan untuk segmen gen ini karena peptida itu encode

bergabung amino-terminal peptida yang dikodekan oleh segmen Lk Vk untuk


peptida karboksi-terminal yang dikodekan oleh jenis segmen gen berikutnya.
3. Ck gen segmen, yang mengkode wilayah konstan rantai ringan kappa.
Dalam manusia, lokus kappa berisi 76 L k Vk segmen gen (walaupun hanya
40 fungsional), lima Jk gen segmen, dan segmen gen Ck tunggal. Jk segmen gen
terletak antara segmen gen Lk Vk dan Ck gen segmen. Dalam sel grem-line,
segmen Jk lima dipisahkan dari segmen Lk Vk dengan urutan panjang noncoding,
dan dari segmen gen Ck oleh panjang urutan noncoding kira-kira 2 kb (gambar 8).
Selama pengembangan sel B, rantai ringan kappa gen yang akan dinyatakan
dikumpulkan dari segmen satu Lk Vk, satu Jk segmen, dan segmen Ck tunggal oleh
proses somatik rekombinasi. Salah satu dari 40 fungsional L k Vk gen segmen
dapat bergabung dengan salah satu dari lima segmen Jk dalam proses ini; DNA
antara segmen bergabung (gambar 9). peristiwa bergabung disebut recombination
signal sequence (RSS), yang berdekatan dengan masing-masing segmen gen.
Situs ini terdiri dari 7 atau 9 panjang basa dipisahkan oleh spacer panjang 12 atau
23 pasangan basa. Rekombinasi mengaktifkan gen protein 1 dan 2 (RAG1 dan
RAG2) merupakan komponen penting dari kompleks ini; bersama-sama,
mengontrol kekhasan peristiwa rekombinasi.

Gambar 8. Genetik control pada antibodi rantai ringan kappa manusia

Gambar 9. Model penggambungan Lk Vk-Jk

Bersatunya Lk Vk dan Jk oleh peristiwa rekombinasi dari rantai ringan


kappa. Seluruh urutan DNA Lk Vk-Jk, pemotongan noncoding Ck di lokus kappa
kemudian dipindahkan. Urutan noncoding antara segmen Lk Vk Jk menyatu dan
segmen C akan dihapus selama pemrosesan RNA, seperti intron, dan dihasilkan
mRNA diterjemahkan polipeptida. Jumlah total fungsional rantai ringan kappa
yang dapat diproduksi oleh mekanisme ini adalah 40 (jumlah fungsional Lk Vk gen
segmen) 5 (jumlah segmen gen Jk) 1 (jumlah segmen gen Ck). Dengan cara yang
sama, rekombinasi gen segmen dapat membuat 120 lambda rantai ringan dan
6600 rantai berat yang berbeda. kumpulan Kombinatorial semua rantai ini
menjadikannya mungkin bagi manusia untuk menghasilkan 320 (200+120) 6600
-2,112,000 antibodi yang berbeda.

DAFTAR RUJUKAN
Gardner, E.J., Snustad, D. P. dan Simmons, M. J. 1991. Principles of Genetics,
Eigth Edition. Canada: John Wiley and Sons, Inc.
Snustad, D. Peter dan Michael J. Simmons. 2012. Principle of Genetiks Sixth
Edition. United State of America. Aptara Inc.

Pertanyaan dan Jawaban


Rachmayani ardiansyah
1. Bagaimanakah mekanisme pembentukan antibodi dengan susunan
beranekaragam?
Jawab: Keragaman susunan antibodi dihasilkan melalui penggabungan
kelompok besar segmen gen V, D, dan J, serta penggunaan alternatif posisi
rekombinasi posisi selama penggabungan. Sedangkan mekanisme lain yang
harus terlibat dalam menghasilkan keragamanan antibodi yaitu dengan
membandingkan

sekuen-sekuen pasangan nukleotida dari gen-gen yang

diekspresikan dengan sekuen segmen-segmen gen germ line, serta sekuensekuen asam amino yang sebenarnya dari rantai antibodi dengan sekuensekuen asam amino yang diprediksikan dari sekuen-sekuen nukleotida gen.
2. Apa saja segmen gen yang mengkode kappa polypeptide, dan bagaimana
proses fusi segment anti bodi kappa pada manusia?
Jawab: Kappa polipeptida dikodekan oleh tiga jenis gen segmen:
a. segmen gen Lk Vk, yang mengkode peptida utama dan amino terminal 95
daerah asam amino rantai ringan kappa; peptida utama akan dihapus dari
rantai ringan kappa oleh pembelahan kemudian membawa polipeptida
yang baru melalui membran endoplasma dalam sintesis antibodi sel
plasma.
b. Jk segmen gen, yang mengkode asam amino terakhir 13 daerah rantai
ringan kappa; simbol Jk digunakan untuk segmen gen ini karena peptida itu
encode bergabung amino-terminal peptida yang dikodekan oleh segmen L k
Vk untuk peptida karboksi-terminal yang dikodekan oleh jenis segmen gen
berikutnya.
c. Ck gen segmen, yang mengkode wilayah konstan rantai ringan kappa.
Lokus kappa berisi 76 Lk Vk segmen gen (walaupun hanya 40 fungsional),
lima Jk gen segmen, dan segmen gen Ck tunggal. Jk segmen gen terletak antara
segmen gen Lk Vk dan Ck gen segmen. Dalam sel grem-line, segmen Jk lima
dipisahkan dari segmen Lk Vk dengan urutan panjang noncoding, dan dari
segmen gen Ck oleh panjang urutan noncoding kira-kira 2 kb (gambar 2).
Selama pengembangan sel B, rantai ringan kappa gen yang akan dinyatakan
dikumpulkan dari segmen satu Lk Vk, satu Jk segmen, dan segmen Ck tunggal

oleh proses somatik rekombinasi. Salah satu dari 40 fungsional L k Vk gen


segmen dapat bergabung dengan salah satu dari lima segmen J k dalam proses
ini; DNA antara segmen bergabung (gambar 3). peristiwa bergabung disebut
recombination signal sequence (RSS), yang berdekatan dengan masing-masing
segmen gen. Situs ini terdiri dari 7 atau 9 panjang basa dipisahkan oleh spacer
panjang 12 atau 23 pasangan basa. Rekombinasi mengaktifkan gen protein 1
dan 2 (RAG1 dan RAG2) merupakan komponen penting dari kompleks ini;
bersama-sama, mengontrol kekhasan peristiwa rekombinasi.
Nuril Maghfiroh
1.

Bagaimanakah perbedaan dari rantai berat dan rantai ringan?


Jawab: Gen rantai ringan lambda dirakit dari segmen terpisah selama
perkembangan limfosit B. Sedangkan Rantai Berat proses pengkodean
informasi genetik diatur dalam LH - VH, JH, dan CH yang serupa dengan rantai
ringan kappa. Tetapi ada satu segmen gen tambahan, yang disebut D

(keragaman), yang mengkode 2-13 asam amino pada wilayah variasi.


1. Mengapa organisme melakukan seleksi klonal?
Jawab: Sel yang berperan dalam reaksi kekebalan, sel limfosit, hanya dapat
mengikat satu jenis antigen. Bila antigen masuk ke dalam tubuh ia diikat oleh
reseptor pada permukaan limfosit yang cocok, dan sel limfosit itu akan
mengalami proliferasi dan membentuk satu clone. Sebagian dari sel clone ini
akan mengeluarkan antibodi dan sebagian lain akan menyebar melalui aliran
darah dan limfe ke dalam jaringan tubuh sebagai cadangan sel yang sensitif
terhadap antigen itu (memory cells). Antigen yang sama apabila masuk ke
dalam tubuh untuk kedua kalinya akan bertemu dengan sel cadangan ini dan
mengakibatkan terbentuknya antibodi yang lebih cepat dan lebih banyak.