Anda di halaman 1dari 4

1.

a. Perubahan apa yang terjadi pada mencit yang mendapat suntikan Diazepam dan
Valium?
Pada mencit yang diberi suntikan Diazepam secara per oral terjadi perubahan yakni pada
pernafasannya yang semakin cepat pada menit ke-15 hingga menit ke-30 namun menjadi normal
kembali pada menit ke-45. Pada mecit ini tidak terjadi kejang namun mengalami efek sedasi
yang menyebabkan mencit tidur sejak menit ke-15 hingga menit ke-45.
Pada mencit yang diberi suntikan Valian secara intra peritoneal terjadi perubahan yang
hampir sama dengan perubahan yang terjadi pada mencit yang disuntik dengan Diazepam.
Namun, pada mencit ini efek sedasi yang dialami lebih besar sehingga mencit lebih banyak tidur
dari menit ke-15 hingga menit ke-45.
b. Bagaimana pergerakan/aktivitas kedua kelompok binatang percobaan?
Pada mencit yang disuntik dengan Diazepam, meskipun mengalami efek sedasi sejak
menit ke-15 namun mencit masih dapat melakukan aktivitas atau pergerakan saat diberi
rangsangan agar bergerak. Sedangkan pada mencit yang disuntik dengan Valium, efek sedasi
yang lebih besar dibandingkan dengan penyuntikan Diazepam menyebabkan aktivitas mencit
sangat jarang terjadi bahkan meskipun diberi rangsangan agar bergerak.
c. Adakah perbedaan yang nyata pada kedua kelompok?
Ada. Mencit yang diberi suntikan valium mengalami efek sedasi yang lebih besar
dibandingkan dengan mencit yang diberi suntikan Diazepam.
2.
Apakah kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini bila dihubungkan dengan
penggunaan klinis Diazepam dan Valium?
Diazepam dan Valium termasuk kelompok obat benzodiazepine yang mempengaruhi
system saraf otak dan memberikan efek penenang. Obat ini digunakan untuk mengatasi serangan
kecemasan, insomnia, kejang-kejang, serta sebagai obat bius pra operasi.
Kedua jenis obat ini bekerja sebagai obat anti konvulsi yang digunakan untuk mengatasi
efek konvulsi berupa kejang dan penggunaan pada terapi akut status epileptikus.
3.

Apabila ada mencit yang mati dari kelompok ini, apakah penyebab kematiannya?

Ada. Mencit yang mati ada pada kelompok I yang diberi suntikan aquades kemudian
setelah 45 menit diberi suntikan kafein. Penyebab kematiannya karena terjadinya efek konvulsi
berupa kejang yang diakibatkan pemberian kafein. Efek konvulsi berupa kejang yang tidak
diatasi dengan pemberian obat anti konvulsi menyebabkan kematian pada mencit kelompok I.
4.

a. Bagaimana perubahan mencit-mencit dari kelompok I, II dan III?

Kelompok I : Pada pemberian suntikan aquades, mencit tidak mengalami efek konvulsi
berupa kejang, pernapasannya berjalan dengan normal, tidak ada efek sedasi juga tidak
mengalami kematian dari menit ke-15 hingga menit ke-45. Pada menit ke-15 setelah pemberian
kafein terjadi efek konvulsi berupa kejang pada mencit yang menyebabkan mencit mati.
Kelompok II : Pada pemberian suntikan Valium, mencit tidak mengalami efek konvulsi,
namun mengalami efek sedasi atau tidur sejak menit ke-15 hingga menit ke-45. Pernapasan
mencit menjadi cepat pada menit ke-15 hingga menit ke-30 namun berangsur menjadi normal
pada menit ke-45. Setelah pemberian suntikan kafein, pernapasan mencit menjadi normal, tidak
terjadi efek konvulsi berupa kejang, efek sedasi berupa tidur menjadi berkurang dan mencit
mulai melakukan aktivitas atau pergerakan.
Keompok III : : Pada pemberian suntikan Diazepam, mencit tidak mengalami efek konvulsi,
namun mengalami efek sedasi atau tidur sejak menit ke-15 hingga menit ke-45. Pernapasan
mencit menjadi cepat pada menit ke-15 hingga menit ke-30 namun berangsur menjadi normal
pada menit ke-45. Setelah pemberian suntikan kafein, pernapasan mencit menjadi normal, tidak
terjadi efek konvulsi berupa kejang, efek sedasi berupa tidur menjadi berkurang dan mencit
mulai melakukan aktivitas atau pergerakan
b. Apakah ada perbedaan yang nyata dari ketiga kelompok tersebut?
Ya ada.
c. Bila ada, apa sebabnya? Jelaskan!
Pada kelompok satu saat mencit hanya diberi aquades mencit tidak mengalami kejang, sedasi
atau apapun, mencit dapat melakukan aktivitas atau pergerakan dengan normal, namun pada saat
diberi kafein, mencit menjadi kejang-kejang dan akhirnya mati. Hal ini dikarenakan kafein
sendiri bersifat konvulsi dan tidak ada obat antikonvulsi yang diberikan kepada mencit tersebut.
Sedangkan pada kelompok mencit dua dan tiga, mencit mengalami sedasi karena di beri obat
antikonvulsi, mencit lemas tidak bergerak. Saat diberi obat konvulsi atau kafein, mencit dapat
bergerak kembali karena obat konvulsi bereaksi dengan obat antikonvulsi..

Pembahasan
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis obat-obat yang
menimbulkan efek konvulsan dan anti konvulsan. Dalam percobaan ini digunakan binatang
percobaan yaitu mencit. Cara kerjanya yaitu binatang percobaan atau mencit ditimbang terlebih
dahulu,kemudian di bagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah obat yang digunakan.
Di sini kelompok kami membaginya dalam tiga kelompok. Pertama, pada mencit kelompok satu
di beri aquades, kelompok dua diberi valium secara intra peritoneal dan pada kelompok tiga
diberi diazepam secara per oral. Kemudian mencit ketiga kelompok tersebut diamati

perubahannya selama 3 x 15 menit. Selanjutnya ketiga kelompok akan diberi suntikan kafein dan
diamati selama 15 menit.
Berdasarkan pengamatan kami mendapatkan hasil bahwa pada mencit kelompok pertama tidak
mengalami sedasi, kejang atau pun mati dan keadaan pernapasannya normal, sedangkan pada
mencit kelompok kedua yang diberi valium kami mendapatkan hasil bahwa mencit tidak
mengalami kejang atau pun sampai mati tetapi mencit tersebut mengalami sedasi dan keadaan
pernapasannya cepat, dan pada mencit kelompok ke tiga yang diberi diazepam keadaan mencit
yaitu tidak mengalami kejang dan mati tetapi mencit mengalami sedasi dan pernapasannya cepat.
Pemberian diazepam sebagai obat antikonvulsi merupakan relaksan otot yang bekerja sentral
khususnya refleks polisinaptik disumsum tulang belakang dan mengurangi aktivitas neuron
sistem retikular dimesenfalon, dan juga dapat digunakan untuk mengatasi kejang. Efek
sampingnya, menimbulkan rasa kantuk, berkurangnya daya konsentrasi dan waktu reaksi.
Karena hal inilah, mencit kelompok III mengalami efek sedasi berupa rasa kantuk yang
menyebabkan mencit tidur sehingga aktivitasnya berkurang. Sedangkan Valium adalah zat kimia
yang biasa dipakai sebagai obat penenang. Efek dari valium yaitu Tekanan darah rendah
(hipotensi), lemah, lemas, penurunan frekuensi napas hingga henti napas dan gangguan jumlah
komponen darah. Hal ini menjadi alasan mengapa mencit pada kelompok II terlihat lemas dan
mengalami efek sedasi berupa rasa kantuk dan tidur. Efek sedasi yang lebih besar dibandingkan
dengan penyuntikan Diazepan dikarenakan cara penyuntikan yang dilakukan secara intra
peritoneal. Penyuntikan semacam ini menyebabkan obat dapat langsung diserap tubuh dan
diterima reseptor sehingga efek obat bekerja lebih baik. Sedangkan apabila disuntikkan secara
per oral, obat masih harus melalui beberapa barier yang menyebabkan jumlah obat menurun
sehingga ketika diterima reseptor, efeknya akan berkurang. Selain itu, kuantitas atau jumlah obat
yang disuntikkan jug mempengaruhi.
Setelah 3 x 15 menit, ketiga kelompok mencit tersebut diberi suntikan kafein. Dan setelah
diamati selama 15 menit kami mendapatkan hasil bahwa pada mencit kelompok pertama, mencit
mengalami kejang, pernapasannya cepat dan akhirnya mati. Pada mencit kelompok ke dua
mencit mengalami sedasi dan pernapasannya normal, mencit tidak mengalami kejang atau pun
mati. Pada mencit kelopok ketiga mencit tidak mengalami kejang, sedasi atu pun mati dan
pernapasan mencit dalam keadaan normal. Kafein, ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal
dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan. Karena hal inilah,
mencit kelompok I mengalami efek konvulsi berupa kejang dan bahkan menyebabkan kematian karena
efek konvulsi tidak ditanggulangi dengan pemberian obat antikonvulsi. Sedangkan pada kelompok II dan
III mencit kembali menjadi aktif dan normal karena pemberian kafein sebagai obat yang memberi efek
konvulsi dapat mengimbangi efek dari pemberian obat antikonvulsi yang diberikan sebelumnya.

Kesimpulan

Dari percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa;


1. Diazepam dan Valium adalah jenis obat antikonvulsan yang berfungsi untuk mengatasi efek
konvulsi berupa kejang. Namun memiliki efek samping berupa tekanan darah rendah (hipotensi),
lemah, lemas, penurunan frekuensi napas hingga henti napas dan gangguan jumlah komponen darah.

2. Kafein adalah jenis obat konvulsi yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan
diuretic ringan yang dapat menimbulkan kejang pada mencit.