Anda di halaman 1dari 15

1.

DEFINISI
Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah
berhentinya

kehamilan

sebelum

usia

kehamilan

20

minggu

yang

mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum


38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran
prematur. Aborsi adalah pengeluaran buah kehamilan secara sengaja
sebelum janin viable ( < 22 minggu atau berat janit < 500 gram) bukan
semata untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga
bisa karena sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu.
Diperkirakan diseluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kasus
aborsi tidak aman, 70 ribu perempuan meninggal akibat aborsi tidak aman
dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. 95% (19 dari
20 kasus aborsi tidak aman) dintaranya bahkan terjadi di negara
berkembang.
Di Indonesia setiap tahunnya terjadi kurang lebih 2 juta kasus
aborsi, artinya 43 kasus/100 kelahiran hidup (sensus 2000). Angka tersebut
memberikan gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup
besar (Wijono 2000). Suatu hal yang dapat kita tengarai, kematian akibat
infeksi aborsi ini justru banyak terjadi di negara-negara dimana aborsi
dilarang keras oleh undang-undang. (RS Efarina Etaham, 2008)
2. KLASIFIKASI
Aborsi ada dua macam yaitu :
A. Aborsi provokatus medisinalis karena alasan kesehatan ibu hamil
tersebut tidak dapat melanjutkan kehamilannya. Misalnya sakit
jantung, karena jika kehamilannya dilanjutkan terjadi penambahan
beban kerja jantung sehingga sangat berbahaya bagi jiwanya. Dalam
hal ini keselamatan ibu yang diutamakan. Penyakit lain yaitu
tuberculosis paru berat, asma, diabetes melitus, gagal ginjal,
hipertensi, penyakit hati menahun (JNPK-KR, 1999). Tentunya untuk
melaksanakan tindakan inipun harus ada inform choice dan inform
consent terlebih dahulu.
B. Aborsi provokatus kriminalis seperti contoh kasus diatas, tindakan
pengosongan rahim dari buah kehamilan yang dilakukan dengan
sengaja bukan karena alasan medis, tetapi alasan lain biasanya

karena hamil diluar nikah, atau terjadi pada pasangan yang menikah
karena

gagal

kontrasepsi

maupun

karena

tidak

mengingini

kehamilannya.
Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan
aborsi:
A. Spontaneous abortion : gugur kandungan yang disebabkan oleh
trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.
B. Induced abortion atau procured abortion : pengguguran kandungan
yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah:
a. Therapeutic abortion : pengguguran yang dilakukan karena
kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau
rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
b. Eugenic abortion : pengguguran yang dilakukan terhadap
janin yang cacat.
c. Elective abortion : pengguguran yang dilakukan untuk alasanalasan lain.
Dalam bahasa sehari-hari, istilah "keguguran" biasanya digunakan
untuk spontaneous abortion, sementara "aborsi" digunakan untuk
induced abortion.
3. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya abortus yaitu :
A. Faktor genetic
Ada banyak sebab genetik yang berhubungan dengan abortus.
Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip
dari embrio. Data ini berdasarkan pada 50% kejadian abortus pada
trimester pertama merupakan kelainan sitogenetik yang berupa
aneuploidi yang bisa disebabkan oleh kejadian nondisjuction meiosis
atau poliploidi dari fertilas abnormal dan separuh dari abortus kerana
kelainan sitogenetik pada trimester pertama berupa trisomi autosom.
Triplodi ditemukan pada 16% kejadian abortus di mana terjadi
fertilisasi ovum normal oleh 2 sperma (dispermi). Insiden trisomi
meningkat dengan bertambahnya usia. Trisomi (30% dari seluruh
trisomi) adalah penyebab terbanyak abortus spontan diikuti dengan
sindroma Turner (20-25%) dan Sindroma Down atau trisomi 21 yang
sepertiganya

bisa

bertahan

sehingga

lahir.3 Selain

kelainan

sitogenetik, kelainan lain seperti fertilisasi abnormal iaitu dalam

bentuk tetraploidi dan triploid dapat dihubungkan dengan abortus


absolut.
Kelainan dari struktur kromosom juga adalah salah satu
penyebab kelainan sitogenetik yang berakibat aborsi dan kelainan ini
sering

diturunkan

oleh

ibu

memandangkan

kelainan

struktur

kromoson pada pria berdampak pada rendahnya konsentrasi sperma,


infertelitas dan faktor lainnya yang bisa mengurangi peluang
kehamilan.
Selain itu, gen yang abnormal akibat mutasi gen bisa
mengganggu proses impantasi dan mengakibatkan abortus seperti
mytotic dystrophy yg berakibat pada kombinasi gen yang abnormal
dan gangguan fungsi uterus. Gangguan genetik seperti Sindroma
Marfan, Sindroma Ehlers-Danlos, hemosistenuri dan pseusoxantoma
elasticum merupakan gangguan jaringan ikat yang bisa berakibat
abortus. Kelainan hematologik seperti pada penderita sickle cell
anemia, disfibronogemi, defisiensi faktor XIII mengakibatkan abortus
dengan mengakibatkan mikroinfak pada plasenta.
B. Faktor anatomi
Defek anatomi diketahui dapat menjadi penyebab komplikasi
obstetrik terutamanya abortus. Pada perempuan dengan riwayat
abortus, ditemukan anomali uterus pada 27% pasien. Penyebab
terbanyak abortus kerana kelainan anatomik uterus adalah septum
uterus akibat daripada kelainan duktus Mulleri (40-80%), dan uterus
bicornis atau uterus unicornis (10-30%). Mioma uteri juga bisa
mengakibatkan abortus berulang dan infertilitas akibat dari gangguan
passage

dan

kontraktilitas

uterus.

Sindroma

Asherman

bisa

mengakibatkan abortus dengan mengganggu tempat impalntasi serta


pasokan darah pada permukaan endometrium. Kelainan kogenital
arteri uterina yang membahayakan aliran darah endometrium dapat
juga berpengaruh. Selain itu, kelainan yang didapat misalnya adhesi
intrauterin (synechia), leimioma, dan endometriosis mengakibatkan
komplikasi anomali pada uterus dan dapat mengakibatkan abortus.
Selain kelainan yang disebut di atas, serviks inkompeten juga
telah terbukti dapat meyebabkan abortus terutama pada kasus

abortus spontan. Pada kelainan ini, dilatasi serviks yang silent dapat
terjadi antara minggu gestasi 16-28 minggu. Wanita dengan serviks
inkompeten selalu memiliki dilatasi serviks yang signifikan yaitu 2cm
atau lebih dengan memperlihatkan gejala

yang minimal. Apabila

dilatasi mencapai 4 cm atau lebih, maka kontraksi uterus yang aktif


dan pecahnya membran amnion akan terjadi dan mengakibatkan
ekspulsi konsepsi dalam rahim. faktor-faktor

yang mengakibatkan

serviks inkompeten adalah kehamilan berulang, operasi serviks


sebelumnya, riwayat cedera serviks, pajanan pada dietilstilbestrol,
dan abnormalitas anatomi pada serviks.
Sebelum kehamilan atau pada kehamilan trimester pertama,
tidak ada metoda yang bisa digunakan untuk mengetahui bila serviks
akan inkompeten namun, setelah 14-16 minggu, USG baru dapat
digunakan untuk menilai anatomi segmen uterus bahagian bawah
dan serviks untuk melihat pendataran dan pemendekan abnormal
serviks yang sesuai dengan inkompeten serviks.
C. Faktor endokrin
Ovulasi, implantasi dan kehamilan dini sangat bergantung
pada koordinasi sistem pengaturan hormonal martenal yang baik.
Perhatian langsung pada sistem humoral secara keseluruhan, fase
luteal, dan gambaran hormon setelah konsepsi terutamanya kadar
progesteron sangat penting dalam mengantisipasi abortus.
Pada diabetes mellitus, perempuan dengan kadar HbA1c yang
tinggi pada trimester yang pertama akan berisiko untuk mengalami
abortus dan malformasi janin. IDDM dengan kontrol yang tidak
adekuat berisiko 2-3 kali lipat untuk abortus.
Kadar progesteron yang rendah
resptivitas

endometrium

terhadap

juga

implantasi

mempengaruhi
embrio.

Kadar

progenteron yang rendah diketahui dapat mengakibatkan abortus


terutamanya pada kehamilan 7 minggu di mana trofoblast harus
menghasilkan

cukup

steroid

untuk

menunjang

kehamilan.

Pengangkatan korpus luteum pada usia 7 minggu akan berakibat


abortus dan jika diberikan progesteron pada pada pasien ini, maka
kehamilan dapat diselamatkan.

Penelitian pada perempuan yang mengalami abortus berulang,


didapatkan 17% kejadian defek luteal iaitu kurangnya progesteron
pada fase luteal. Namum pada saat ini, masih blum ada metode yang
bisa terpercaya untuk mendiagnosa kelainan ini.
Faktor humoral terhadap imunitas desidua juga berperan pada
kelangsungan kehamilan. Perubahan endometrium menjadi desidua
mengubah semua sel pada mukosa uterus. Perubahan morfologi dan
fungsional ini mendukung proses implantasi, proses migrasi trofoblas,
dan mencegah invasi yang berlebihan pada jaringan ibu. Di sini
interaksi antara trofoblas ekstravillus dan infiltrasi leukosit pada
mukosa uterus berperan penting di mana sebahagian besar leukosit
adalah large granular cell, dan makrofag dengan sedikit sel T dan sel
B. Sel NK dijumpai dalam jumlah yang banyak terutama pada
endometrium yang terpapar progesteron. Perannya adalah pada
trimester 1 adalah akan terjadi peningkatan sel NK untuk membunuh
sel target dengan sedikit atau tiada ekspresi HLA. Trofoblast
ekstravillous tidak bisa dihancurkan oleh sel NK kerana sifatnya yang
cepat menghasilkan HLA1 sehingga terjadinya invasi optimal untuk
plasentasi yang optimal oleh trofoblas extravillous. Maka, gangguan
pada sistem ini akan berpengaruh pada kelangsungan kehamilan.
Selain itu, hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, dan sindrom
polikistik ovarium dapat merupakan faktor kontribusi pada keguguran
dengan menggangu balans humoral yang penting pada kelangsungan
kehamilan.
D. Faktor infeksi
Ada pelbagai teori untuk menjelaskan keterkaitan infeksi
dengan kejadian abortus. Antaranya adalah adanya metabolik toksik,
endotoksin, eksotoksin, dan sitokin yang berdampak langsung pada
janin dan unit fetoplasenta. Infeksi janin yang bisa berakibat kematian
janin dan cacat berat sehingga janin sulit untuk bertahan hidup.
Infeksi plasenta akan berakibat insufisiensi plasenta dan bisa
berlanjut kematian janin. Infeksi kronis endometrium dari penyebaran
kuman genetalia bawah yang bisa mengganggu proses implantasi.
Amnionitis oleh kuman gram positif dan gram negatif juga bisa

mengakibatkan abortus. Infeki virus pada kehamilan awal dapat


mengakibatkan perubahan genetik dan anatomik embrio misalnya
pada infeksi rubela, parvovirus, CMV, HSV, koksakie virus, dan
varisella zoster.
Di sini adalah beberapa jenis organisme yang bisa berdampak
pada kejadian abortus:
Bakteria: listeria monositogenes, klamidia trakomatis,
ureaplasma urealitikum, mikoplasma hominis, bakterial

vaginosis.
Virus: CMV, HSV, HIV dan parvovirus.
Parasit: toksoplasma gondii, plasmodium falsifarum.
Spirokaeta: treponema pallidum.

E. Faktor imunologi
Beberapa

penyakit

berhubungan

erat

dengan

kejadian

abortus. Antaranya adalah SLE dan Antiphospholipid Antibodies


(aPA). ApA adalah antibodi spesifik yang ditemukan pada ibu yang
menderita SLE. Peluang terjadinya pengakhiran kehamilan pada
trimester 2 dan 3 pada SLE adalah 75%. Menurut penelitian, sebagian
besar abortus berhubungan dengan adanya aPA yang merupakan
antibodi yang akan berikatan dengan sisi negatif dari phosfolipid.
Selain SLE, antiphosfolipid syndrome (APS) dapat ditemukan pada
preemklamsia, IUGR, dan prematuritas. Dari international consensus
workshop pada tahun 1998, klasifikasi APS adalah:

trombosis vaskular (satu atau lebih episode trombosis arteri,


venosa atau kapiler yang dibuktikan dengan gambaran
Doppler, dan histopatologi)

komplikasi kehamilan (3 atau lebih abortus dengan sebab


yang tidak jelas, tanpa kelainan anatomik, genetik atau
hurmonal/ satu atau lebih kematian janin di mana gambaran
sonografi normal/ satu atau lebih persalinan prematur dengan

gambaran janin normal dan berhubungan dengan preeklamsia


berat,atau insufisiensi plasenta yang berat)

kriteria laboratorium (IgG dan atau IgM dengan kadar yang


sedang atau tinggi pada 2 kali atau lebih dengan pemeriksaan
jarak lebih dari 1 atau sama dengan 6 minggu)

antobodi fosfolipid (pemanjangan koagulasi fospholipid, aPTT,


PT, dan CT, kegagalan untuk memperbaikinya dengan
pertambahan dengan plasma platlet normal dan adanya
perbaikan nilai tes dengan pertambahan fosfolipid).

aPA ditemukan 20% pada perempuan yang mengalami


abortus dan lebih dari 33% pada perempuan yang mengalami
SLE. Pada kejadian abotus berulang, ditemukan infark
plasenta yang luas akibat adanya atherosis dan oklusi
vaskular.

F. Faktor trauma
Trauma abdominal yang berat dapat menyebabkan terjadinya
abortus yang yang diakibatkan karena adanya

perdarahan,

gangguan sirkulasi maternoplasental, dan infeksi. Namun secara


statistik,

hanya sedikit insiden abortus yang disebabkan karena

trauma .
G. Faktor nutrisi dan lingkungan
Diperkirakan 1-10% malformasi janin adalah akibat dari
paparan obat, bahan kimia atau radiasi yang umumnya akan berakhir
dengan abortus. faktor-faktor yang terbukti berhubungan dengan
peningkatan insiden abortus adalah merokok, alkohol dan kafein.
Merokok telah dipastikan dapat meningkatkan risiko abortus
euploid. Pada wanita yang merokok lebih dari 14 batang per hari,
risiko abortus adalah 2 kali lipat dari risiko pada wanita yang tidak
merokok. Rokok mengandung ratusan unsur toksik antara lain nikotin
yang mempunyai sifat vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi
uteroplasenta. Karbon monoksida juga menurukan pasokan oksigen

ibu dan janin dan dapat mamacu neurotoksin. Meminum alkohol pada
8 minggu pertama kehamilan dapat meningkatkan risiko abortus
spontan dan anomali fetus. Kadar abortus meningkat 2 kali lipat pada
wanita yang mengkonsumsi alkohol 2 kali seminggu dan 3 kali lipat
pada konsumsi tiap-tiap hari dibandingkan dengan wanita yang tidak
minum.
Mengkonsumsi kafein sekurangnya 5 gelas kopi perhari atau
500mg caffiene satu hari dapat sedikit menambah risiko abortus dan
pada mereka yang meminum lebih dari ini, risikonya meningkat
secara linier dengan tiap jumlah tambahan gelas kopi. Pada penelitian
lain, wanita hamil yang mempunyai level paraxantine (metabolit
kafine), risiko abortus spontan adalah 2 kali lipat daripada kontrol.
H. Faktor kontrasepsi berencana
Kontrasepsi oral atau agen spermicidal yang digunakan pada
salep dan jeli kontrasepsi tidak berhubungan dengan risiko abortus.
Namun, jika pada kontrasepsi yang menggunakan IUD, intrauterine
device gagal untuk mencegah kehamilan, risiko aborsi khususnya
aborsi septik akan meningkat dengan signifikan.
4. PATOFISIOLOGI
(Terlampir)
5. MANIFESTASI KLINIS
Gejala abortus berupa amenorea, sakit perut kram, dan mulesmules. Perdarahan pervaginam bisa sedikit atau banyak dilihat dari pads
atau tampon yang telah dipakai, dan biasanya berupa darah beku tanpa atau
desertai dengan keluarnya fetus atau jaringan. Ini penting untuk melihat
progress abortus. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus
provokatus sering terjadi infeksi yang dilihat dari demam, nadi cepat,
perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan,dan
luekositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi
didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan
dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari
seharusnya. Pada pemeriksaan USG, ditemukan kantung gestasional yang
tidak utuh lagi dan tiada tanda-tanda kehidupan dari janin.
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis abortus ditegakkan berdasarkan :
A. Anamnesis

3 gejala utama (postabortion triad) pada abortus adalah nyeri di


perut bagian bawah terutamanya di bagian suprapubik yang bisa
menjalar ke punggung,bokong dan perineum, perdarahan pervaginam
dan demam yang tidak tinggi. Gejala ini terutamanya khas pada abortus
dengan hasil konsepsi yang masih tertingal di dalam rahim. Selain itu,
ditanyakan adanya amenore pada masa reproduksi kurang 20 minggu
dari HPHT. Perdarahan pervaginam dapat tanpa atau disertai jaringan
hasil konsepsi. Bentuk jaringan yang keluar juga ditanya apakah berupa
jaringan yang lengkap seperti janin atau tidak atau seperti anggur. Rasa
sakit atau keram bawah perut biasanya di daerah atas simpisis.
Riwayat penyakit sekarang seperti IDDM yang tidak terkontrol,
tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, trauma, merokok, mengambil
alkohol dan riwayat infeksi traktus genitalis harus diperhatikan. Riwayat
kepergian ke tempat endemik malaria dan pengambilan narkoba malalui
jarum suntik dan seks bebas dapat menambah curiga abortus akibat
infeksi.
B. Pemeriksaan Fisis
Bercak darah diperhatikan banyak, sedang atau sedikit. Palpasi
abdomen dapat memberikan idea keberadaan hasil konsepsi dalam
abdomen dengan pemeriksaan bimanual. Yang dinilai adalah uterus
membesar sesuai usia gestasi, dan konsistensinya. Pada pemeriksaan
pelvis, dengan menggunakan spekulum keadaan serviks dapat dinilai
samaada terbuka atau tertutup , ditemukan atau tidak sisa hasil konsepsi
di dalam uterus yang dapat menonjol keluar, atau didapatkan di liang
vagina.
Pemeriksaan fisik pada kehamilan muda dapat dilihat dari table di
bawah ini:
Perdarahan

Serviks

Uterus

Bercak

Tertutup

Sesuai dengan Kram

sedikit

hingga sedang

usia gestasi

Gejala dan tanda

bawah,
lunak

Diagnosis

perut

Abortus

uterus

immines

Tertutup/terbuka

Lebih kecil dari

Sedikit/tanpa

usia gestasi

nyeri

Abortus komplit
perut

bawah,riwayat
ekspulsi

hasil

konsepsi
Sedang

Terbuka

sehingga masif

Sesuai dengan Kram atau nyeri

Abortus

usia kehamilan

insipien

perut

bawah,

belum

terjadi

ekspulsi

hasil

konsepsi
Kram atau nyeri

Abortus

perut

incomplit

bawah,

ekspulsi
sebahagian hasil
konsepsi
Terbuka

Lunak

dan Mual/muntah,

lebih besar dari kram


usia gestasi

Abortus mola

perut

bawah, sindroma
mirip PEB, tidak
ada janin, keluar
jaringan

seperti

anggur

C. Pemeriksaan Penunjang
D. Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit,
waktu

bekuan,

waktu

perdarahan,

trombosit,

dan

GDS.

Pada

pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil
konsepsi dalam uterus.
E. Diagnosis banding.
a. kehamilan ektopik tertanggu
b. perdarahan anovular pada wanita yang tidak hamil
c. abortus mola hidatidosa
d. polip endoserviks
e. karsinoma serviks

7. PENATALAKSANAAN
A. Abortus Imminens.
Pada abortus imminens, tidak perlu pengobatan khusus atau tirah
baring total dan pasien dilarang dari melakukan aktivitas fisik berlebihan
ataupun hubungan seksual. Jika terjadi perdarahan berhenti, asuhan
antenatal diteruskan seperti biasa dan penilaian lanjutan dilakukan jika
perdarahan terjadi lagi. Pada kasus yang perdarahan terus berlansung,
kondisi janin dinilai dan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain
dilakukan dengan segera. Pada perdarahan berlanjut khususnya pada
uterus yang lebih besar dari yang diharapkan, harus dicurigai kehamilan
ganda atau mola.
B. Abortus insipiens.
Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi uterus
dilakukan dengan aspirasi vakum manual. Jika evakuasi tidak dapat
segera dilakukan maka, Ergometrin 0,2 mg IM atau Misopristol 400mcg
per oral dapat diberikan. Kemudian persediaan untuk pengeluaran hasil
konsepsi dari uterus dilakukan dengan segera.
Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu, ekpulsi spontan hasil
konsepsi ditunggu, kemudian sisa-sisa hasil konsepsi dievakuasi. Jika
perlu, infus 20 unit oxytoxin dalam 500cc cairan IV (garam fisiologik atau
larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit diberikan
untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. Setelah penanganan, kondisi
ibu tetap dipantau.
C. Abortus inkomplit.
Jika perdarahan tidak beberapa banyak dan kehamilan kurang dari
16 minggu, evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam
ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.
Jika perdarahan berhenti, Ergometrin 0,2 mg IV atau misoprostol 400mcg
per oral diberikan.
Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung, dan usia kehamilan
kurang dari 16 minggu, hasil konsepsi dievakuasi dengan aspirasi vakum
manual. Evakuasi vakum tajam hanya digunakan jika tidak tersedia
aspirasi vakum manual (AVM). Jika evakuasi belum dapat dilakukan
dengan segera, Ergometrin 0,2mg IM atau Misoprostol 400mcg per oral
dapat diberikan.

Jika kehamilan lebih dari 16 minggu, infus oksitosin 20 unit diberikan


dalam 500ml cairan IV (garam fisiologik atau RL) dengan kecepatan 40
tetes per menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi. Jika perlu
Misoprostol 200mcg pervaginam diberikan setiap 4 jam sampai terjadi
ekspulsi hasil konsepsi. Hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus
segera dievakuasi.
D. Abortus komplit.
Pada kasus ini, evakuasi tidak perlu dilakukan lagi. Observasi untuk
melihat adanya perdarahan yang banyak perlu diteruskan dan kondisi ibu
setelah penanganan tetap dibuat. Apabila terdapat anemia sedang, tablet
sulfas ferrosus 600mg/hari selama 2 minggu diberikan, jika anemia berat
diberikan transfusi darah. Seterusnya lanjutkan dengan konseling asuhan
pascakeguguran dan pemantauan lanjut jika perlu.
E. Abortus septik/infeksius.
Pengelolaan pasien pada abortus septik harus mempertimbangkan
keseimbangan cairan tubuh dan perlunya pemberian antibiotika yang
mencukupi sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas kuman yang
diambil dari darah dan cairan flour yang keluar pervaginam. Untuk tahap
pertama dapat diberikan Penisillin 4x 1juta unit atau ampicillin 4x 1gram
ditambah gentamisin 2x80mg dan metronidazol 2x1gram. Selanjutnya,
antibiotik dilanjutkan dengan hasil kultur.
Tindakan kuretase dilaksanakan bila tubuh dalam keadaan membaik
minimal 6 jam setelah antibiotika adekuat telah diberikan. Pada saat
tindakan, uterus harus dilindungi dengan uterotonik untuk mengelakkan
komplikasi. Antibiotik harus dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam dan
bila dalam waktu 2 hari pemberian tidak memberikan respons harus
diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai dah kuat. Apabila ditakutkan
terjadi tetanus, injeksi ATS harus diberikan dan irigasi kanalis
vagina/uterus dibuat dengan larutan peroksida H2O2. Histerektomi harus
dibuat secepatnya jika indikasi.
F. Pemantauan pascaabortus.
Sebelum ibu diperbolehkan pulang, diberitahu bahwa abortus
spontan hal yang biasa terjadi dan terjadi pada paling sedikit 15% dari
seluruh

kehamilan

yang

diketahui

secara

klinis.

Kemungkinan

keberhasilan untuk kehamilan berikutnya adalah cerah kecuali jika

terdapat sepsis atau adanya penyebab abortus yang dapat mempunyai


efek samping pada kehamilan berikut.
Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0,5 cc IM.
Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang
ke rumah. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang
menyebabkan anemia berat atau infeksi. Pasien dianjurkan istirahat
selama 1 sampai 2 hari. Pasien dianjurkan kembali ke dokter bila pasien
mengalami kram demam yang memburuk atau nyeri setelah perdarahan
baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.13 Tujuan perawatan untuk
mengatasi anemia dan infeksi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga
terdekat pasien menandatangani surat persetujuan tindakan.
8. KOMPLIKASI
A. Perforasi
Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa
selalu ada kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus, yang
dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke
kandung kencing. Oleh sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih
dahulu dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi
serviks tidak boleh digunakan tekanan berlebihan. Kerokan kuret
dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi penarikan kuret ke luar
dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih besar. Bahaya perforasi
ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi perforasi atau diduga
terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama dengan
mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu,
turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan
meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan
laparatomi percobaan dengan segera.
B. Luka pada serviks uteri
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka
dapat timbul sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila
terjadi luka pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera
timbul ialah perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada
serviks dan vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan
timbulnya inkompeten cerviks.
C. Pelekatan pada kavum teri

Melakukan

kerokan

secara

sempurna

memerlukan

pengalaman. Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi


jaringan miometrium jangan sampai terkerok, karena hal itu dapat
mengakibatkan terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa
tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila
pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa jaringan tidak begitu
lembut lagi.
D. Perdarahan
Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada moa
hidatidosa terdapat bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu
hendaknya dilakukan transfusi darah dan sesudah itu, dimasukkan
tampon kasa ke dalam uterus dan vagina.
E. Infeksi
Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka
bahaya infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat
menyebar ke seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan
kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain
infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa
terjadi kehamilan lagi.
F. Lain-lain
Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian
NaCl hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga
peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejalagejala konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan,
atau

hipofibrinogenemia.

Sedangkan

komplikasi

yang

dapat

ditimbulkan pada pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa


enek, muntah, dan diare.
Komplikasi yang dapat timbul pada janin : Sesuai dengan
tujuan dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan, maka
nasib janin pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar
meninggal. Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal
dilakukan dan janin kemungkinan besar mengalami cacat fisik.
DAFTAR PUSTAKA
1. G Cunningham, KJ. Leveno, SL. Bloom. Abortion in William
Obstetrics, 22nd edition. Mc-Graw Hill, 2005

2. McPhee S, Obsterics and obstretrics disoders,Current medical


diagnosis and treatment, 2009 edition, Mc Graw Hill, 2008
3. Sarwono prawiroharhdjo.Perdarahan pada kehamilan muda dalam
Ilmu Kandungan, edisi 2008
4. Saifuddin A.
Perdarahan pada kehamilan muda dalam Buku
Panduan

Praktis

Neonatal,Yayasan

Pelayanan
Bina

Kesehatan

Pustaka

Sarwono

Maternal

dan

Prawirohardjo,

Jakarta,2006 Hal M9-M17


5. Standard Pelayanan Medis Ilmu Kebidanan dan Kandungan, RS
Efarina Etaham, 2008, ms 33-35
6. Cunningham, Gary, F. dkk. 2006. Obstetri Williams Vol. 2. Jakarta:
EGC, 951-964.
7. Manuaba, dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC, 697683.
8. Saifuddin, Abdul Bahri. 2008. Pelayanan Kesehatan Maternal
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
145-148.
9. Varney, Helen, dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta:
EGC, 604-605.
10. Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta:
EGC, 447-449.
11.Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 246.