Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

KELUARGA
I.

Konsep Teori Keluarga


A. Definisi keluarga
Menurut Duvall keluarga

merupakan

sekumpulan

orang

yang

dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk


meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan
perkembangan fisik, mental,emosional dan social dari tiap anggota.
Menurut Suprajitno (2004), keluarga adalah terdapatnya ikatan
perkawinan dan hubungan darah yang tinggal bersama dalam satu atap dengan
peran masing-masing serta keterikatan dan tinggal disuatu tempat dibawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan dan terorganisasi serta
mempunyai tujuan dibawah asuhan kepala keluarga.
Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang peranannya sangat penting
untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluarga inilah pendidikan
kepada individu dimulai dan dari keluarga inilah akan tercipta tatanan
masyarakat yang baik, sehingga untuk membangun suatu kebudayaan maka
seyogyanya dimulai dari keluarga. Keluarga adalah sebagai unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Setiadi,2008).
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998) dalam Mubarak, dkk (2006)
keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah
suatu kelompok atau unit terkecil yang mempunyai hubungan erat karena
hubungan darah atau dengan cara perkawinan atau adopsi, yang didalamnya
memiliki perannya masing-masing serta.

B. Struktur keluarga

Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi


keluarga dimasyarakat. Ada beberapa struktur keluarga yang ada di Indonesia
yang terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah :
a. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah.
b. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.
c. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu.
d. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ayah.
e. Keluarga Kawin
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan
beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya
hubungan suami atau istri.
C. Tipe keluarga
Menurut Setiadi (2008), tipe keluarga dikelompokkan menjadi dua, yaitu
pengelompokkan secara tradisional dan modern.
Secara tradisional
a. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari

1.

ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau
keluarga.
b. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah anggota
keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek,
paman-bibi).
2.
Secara modern
a. Traditional Nuclear, keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) tinggal dalam 1
rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan,
satu atau keluarga dapat bekerja diluar rumah.
b. Reconstituted Nuclear, pembentukan baru dari keluarga inti melalui
perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam suatu ikatan perkawinan
lamanya maupun hasil dari perkawinan baru,satu/atau keduanya dapat
bekerja diluar rumah.

c. Niddle Age/Aging Couple, Suami sebagai pencari uang,istri dirumah/atau


kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah
karena sekolah/perkawinan/meniti karier.
d. Dyadic Nuclear, Suami istri yang sudah beruur dan tidak mempunyai anak
yang keduanya atau salah satu bekerja di luar rumah.
e. Single Parent, Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian
pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar rumah.
f. Dual Carrier, Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.
g. Commuter Married, Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal
terpisah pada jarak tertentu. Keduanya saling mencari pada waktu-waktu
tertentu.
h. Single Adult, Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak
adanya keinginan untuk kawin.
i. Three Generation, Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
j. Institusional, Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu
panti-panti.
k. Comunal, Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogamy
dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
l. Group Marriage, Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya
di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan
yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
m. Unmaried Parent and Child, Ibu dan anak dimana perkawinan tidak
dikehendaki anaknya diadopsi.
D. Peran keluarga
Menurut Effendy (2012), peranan dalam keluarga adalah sebagai berikut.
1. Peranan ayah: sebagai suami dari istri, ayah dari anak, sebagai pencari
nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai anggota dari
kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Peranan ibu: sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, mengurus rumah
tangga, pengasuh dan pendidik anaknya, perlindungan dan salah satu
kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari
nafkah tambahan dalam keluarga.
3. Peranan anak: anak melaksanakan peranan psikosoial sesuai dengan
tingkat perkembangannya baik fisik, mental, dan spiritual.
E. Fungsi keluarga

Secara umum fungsi keluarga menurut Friedman (1998) adalah sebagai


berikut:
Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang utama

1.

untuk mengajarkan segala sesuat untuk mempersiapkan anggota keluarga


berdampingan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk
2.

perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.


Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (Sociallization and social
placement function) adalah fungsi mengembangkan dari tempat melatih
anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk

3.

berdampingan dengan orang lain di luar rumah.


Fungsi reproduksi (the reproduction function), yaitu keluarga berfungsi

4.

untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.


Fungsi ekonomi (the economic function), yaitu keluarga berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk

5.

memenuhi kebutuhan keluarga.


Fungsi perawatan kesehatan (dalam Padila, 2012), yaitu selain keluarga
menyediakan makanan, pakaian, dan rumah, keluarga juga berfungsi
melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik untuk mencegah
terjadinya gangguan maupun merawat anggota yang sakit. Keluarga juga
menentukan kapan anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
memerlukan bantuan atau pertolongan tenaga professional. Kemampuan
ini sangat mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga.

F. Tugas keluarga
Berubahnya

tahap

perkembangan

keluarga

diikuti

dengan

perubahan tugas perkembangan keluarga dengan berpedoman pada fungsi


yang dimiliki keluarga. Gambaran tugas perkembangan keluarga dapat
dilihat sesuai tahap perkembangannya.
Tugas perkembangan keluarga sesuai tahap perkembangan
Tahap perkembangan
Tugas perkembangan (utama)
1. Keluarga baru menikah
Membina hubungan intim yang memuaskan
Membina hubungan dengan keluarga lain ,

2. Keluarga dengan anak baru lahir

teman, dan kelompok sosial


Mendiskusikan rencana memiliki anak
Mempersiapkan menjadi orang tua
Adaptasi dengan perubahan adanya anggota

keluarga,

interaksi

keluarga,

hubungan

seksual, dan kegiatan


Mempertahankan hubungan dalam rangka
3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah

memuaskan pasangannya
Memenuhi kebutuhan anggota keluarga misal
kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa
aman.
Membantu anak bersosialisasi
Beradaptasi dengan anak yang baru lahir,
sementara kebutuhan anak yang lain (tua)
juga harus terpenuhi
Mempertahankan hubungan yang sehat, baik
di dalam atau luar keluarga (keluarga lain dan
lingkungannsekitar)
Pembagian waktu untuk individu, pasangan
dan anak (biasanya keluarga mempunyai
tingkat kerepotan yang tinggi)
Pembagian tanggung jawab

anggota

keluarga
Merencanakan kegiatan dan waktu untuk
menstimulasi
4. Keluarga dengan anak usia sekolah

pertumbuhan

perkembangan anak
Membantu sosialisasi
lingkungan

luar

rumah,

anak

dan
terhadap

sekolah,

dan

lingkungan lebih luas (yang tidak kurang


diperoleh dari sekolah atau masyarakat)
Mempertahankan keintiman pasanga
Memenuhi kebutuhan yang meningkat,
termasuk biaya kehidupan dan kesehatan
5. Keluarga dengan anak remaja

anggota keluarga
Memberikan kebebasab yang seimbang dan
bertanggung

jawab

mengingant

remaja

adalah seorang dewasa muda dan mulai


memiliki otonomi
Mempertahankan hubungan intim dalam
keluarga
Mempertahankan

komunikasi

terbuka

anatara anak dan orang tua. Hindarkan


terjadinya

perdebatan,

kecurigaan,

dan

permusuhan.
Mempersiapkan perubahan sistem peran dan

6.

peraturan

(anggota)

memenuhi

kebutuhan

keluarga

untuk

tumbuh-kembang

anggota keluarga
Keluarga mulai melepas anak sebagai Memperluas jaringan keluarga dan keluarga
dewasa muda

inti menjadi keluarga besar


Mempertahankan keintiman pasangan
Membantu anak untuk mandiri sebagai
keluarga baru di masyarakat
Penataan kembali peran orang tua dan

7. Keluarga usia pertengahan

kegiatan di rumah
Mempertahankan kesehatan individu dan
pasangan usia pertengahan
Mempertahankan hubungan yang serasi dan

8. Keluarga usia tua

meuaskan dengan anak-anaknya dan sebaya


Meningkatkan keakraban pasangan
Mempertahankan suasana kehidupan rumah
tangga

yang

saling

menyenangkan

pasangannya
Adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi
: kehilangan pasangan, kekuatan fisik, dan
penghasilan keluarga
Mmpertahankan keakraban pasangan dan
saling merawat
Melakukan life review masa lalu
Menurut Effendy (2012) ,pada dasarnya tugas keluarga ada tujuh tugas pokok
sebagai berikut :
Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

masing-masing.
Sosialisasi antar anggota keluarga.
Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.

Pendapat

lain

mengenai

tugas

keluarga

dalam

bidang

kesehatan

dikemukakan oleh Mubarak (2006), adalah sebagai berikut:


1. Mengenal masalah kesehatan keluarga, keluarga perlu mengenal keadaan
kesehatan dan perubahan-peruahan yang dialami anggota keluarga,
kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan
karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti.
2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, tugas ini merupakan
upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai
dengan keadaan keluarga, tindakan yang dilakukan oleh keluarga
diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi bahkan diatasi.
3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit, anggota keluarga
yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh perawatan
keluarga agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4. Mempertahankan suasana rumah yang sehat, kondisi rumah haruslah dapat
menjadikan lambang kesenangan, keindahan, dan ketentraman serta dapat
menunjang derajat kesehatan bagi anggota keluarga.
5. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat, keluarga atau
anggota keluarga harus dapat memanfaatkan sumber fasilitas kesehatan
yang ada di sekitar agar apabila mengalami masalah dengan penyakit
keluarga dapat berkonsultasi dan meminta bantuan.
G. Ciri-ciri keluarga
Menurut Effendy (2012) ciri-ciri keluarga meliputi :
1.
Diikat dalam satu tali perkawinan
2.
Ada hubungan darah
3.
Ada ikatan batin
4.
Ada tanggung jawab masing-masing keluarga
5.
Ada pengambilan keputusan
6.
Kerjasama diantara anggota keluarga
7.
Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
8.
Tinggal dalam satu rumah
II.

Asuhan Keperawatan Keluarga


Tahapan dari proses keperawatan keluarga meliputi :
A. Pengkajian
Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan
informasi secara terus menerus tentang keluarga yang dibinanya. Agar
diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan keluarga,
perawat diharapkan menggunakan bahasa ibu (yang digunakan sehari-hari),

lugas, dan sederhana. Pada kegiatan pengkajian ada beberapa tahap yang
1.

diperlukan, yaitu :
Membina hubungan yang baik. Hubungan yang baik antara perawat klien
(keluarga) merupakan modal utama pelaksanaan ashan keperawatan.
Hubungan tersebut dapat dibentuk dengan menerapkan komunikasi terapeutik
yang merupakan strategi perawat untuk memberikan bantuan kepada klien
untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya. Beberapa hal yang perlu
dilakukan:
a. Diawali dnegan perawat memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah
b. Menjelaskan tujuan kunjungan
c. Meyakinkan keluarga bahwa kehadiran perawat adalah untuk membantu
keluarga menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di keluarga
d. Menjelaskan luas kesanggupan bantuan perawat yang dapat dilakukan
e. Menjelaskan kepada keluarga siapa tim kesehatan lain yang menjadi

2.

jaringan perawat
Pengkajian awal. Pengkajian ini terfokus sesuai data yang diperoleh dari unit

3.

pelayanan kesehatan
Pengkajian lanjutan (tahap kedua). Pengkajian lanjutan adalah tahap
pengkajian untuk memperoleh data yang lebih lengkap sesuai masalah
kesehatan keluarga yang berorientasi pada pengkajian awal. Di sini perawat
perlu mengungkapkan keadaan keluarga hingga penyebab dari masalah
kesehatan yang paling mendasar.
Pengumpulan data (informasi) dari keluarga dapat menggunakan metode
wawancara, observasi fasilitas dalam rumah, pemeriksaan fisik pada setiap
anggota keluarga, dengan menggunakan data sekunder (contoh: hasil
laboratorium, hasil foto rontgen, dan sebagainya). Dalam pengumpulan data
yang perlu dikaji adalah :
a. Data umum
Identitas kepala keluarga
1) Nama kepala keluarga (KK)
2) Umur
3) Pekerjaan kepala keluarga
4) Pendidikan kepala keluarga
5) Alamat dan nomor telepon
6) Komposisi Keluarga
Nam

Umu

Se

Hub

dengan KK

Pendidika
n

Pekerjaan

Keterangan

7) Genogram, genogram harus menyangkut minimal 3 generasi, harus


tertera nama, umur, kondisi kesehatan tiap keterangan gambar.
8) Tipe keluarga, menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala
atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
9) Suku Bangsa, mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta
mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.
10) Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yg
dapat mempengaruhi kesehatan.
11) Status sosial ekonomi keluarga, status sosial ekonomi keluarga meliputi
rata-rata penghasilan seluruh anggota keluarga, jenis pengeluaran
keluarga tiap bulan, tabungan khusus kesehatan, barang (harta benda)
yang dimilki keluarga (perabot, transportasi).
12) Aktivitas rekreasi keluarga, rekreasi keluarga tidak hanya di lihat kapan
saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi
tertentu namun dengan menonton televisi dan mendengarkan radio juga
merupakan aktivitas rekreasi.
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini, tahap perkembangan keluarga
ditentukan dengan anak tertua dari keluarga ini. Contohnya: Keluarga
bapak A mempunyai 2 orang anak, anak pertama berumur 7 tahun dan
anak kedua berumur 4 tahun, maka keluarga bapak A berada pada
tahapan perkembangan keluarga dengan usia anak sekolah.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan
mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta
kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga inti, menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada
keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat
kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian biasa digunakan
terhadap pencegahan penyakit (status imunisasi), sumber pelayanan
kesehatan yang biasa digunakan keluarga serta pengalaman-pengalaman
terhadap pelayanan kesehatan.
4) Riwayat keluarga sebelumnya, dijelaskan mengenai riwayat kesehatan
pada keluarga dari pihak suami dan istri.
c. Pengkajian lingkungan

1) Karakteristik rumah, karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat


luas rumah, kondisi dalam dan luar rumah, kebersihan rumah, ventilasi
rumah, saluran pembuangan air limbah (SPAL), air bersih, pengelolaan
sampah, kepemilikan rumah, kamar mandi, dan denah rumah
2) Karateristik tetangga dan komunitas RW, menjelaskan mengenai
karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat, yang meliputi
apakah ingin tinggal dengan satu suku saja, aturan dan kesepakatan
penduduk setempat serta budaya setempat yang mempengaruhi
kesehatan.
3) Mobilitas geografis keluarga, mobilitas geografis keluarga ditentukan
dengan kebiasaan keluarga berpindah tempat serta dampak pindah rumah
terhadap kondisi keluarga (apakah menyebabkan stres)
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat, menjelaskan
mengenai

waktu

digunakan

keluarga

untuk

berkumpul

serta

perkumpulan keluarga yang ada sejauhmana interaksinya dengan


masyarakat.
5) Sistem pendukung keluarga, yang termasuk pada sistem pendukung
keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas
yang

dimiliki

keluarga

untuk

menunjang

kesehatan.

Fasilitas

mencangkup fasilitas fisik, fasilitas psikologi atau dukungan dari


anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari masyarakat
setempat.
d. Struktur Keluarga
1) Pola komunikasi keluarga, menjelaskan mengenai cara berkomunikasi
antara anggota keluarga serta cara keluarga memecahkan masalah
2) Struktur kekuatan keluarga, kemampuan anggota keluarga
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah perilaku.
3) Struktur peran, menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga
baik secara formal maupun informal.
4) Nilai atau norma keluarga, menjelaskan mengenai nilai dan norma yang
dianut oleh keluarga, yang berhubungan dengan kesehatan.
e. Fungsi Keluarga
1) Fungsi afektif, hal yang perlu dikaji adalah gambaran diri anggota
keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan
keluarga, terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan

tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan


sikap saling menghargai.
2) Fungsi sosialisasi, hal yang perlu dikaji adalah bagaimana interaksi atau
hubungan dalam keluarga, sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin,
norma, budaya dan perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan, menjelaskan sejauh mana keluarga
menyediakan makanan, pakaian, perlindungan serta merawat anggota
keluarga yg sakit, sejauh mana pengetahuan keluarga mengenai sehatsakit.

Kesanggupan

keluarga

didalam

melaksanakan

perawatan

kesehatan dapat dilihat dari kemampuan keluarga melaksanakan 5 tugas


kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan,
mengambil keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan
terhadap anggota yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat
meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat.
Hal-hal yang di kaji sejauhmana keluarga melakukan pemenuhan tugas
perawatan keluarga adalah:
a) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan,
yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga mengetahui mengenai
fakta2 dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan
gejala, faktor penyebab dan mempengaruhinya serta persepsi keluarga
terhadap masalah.
b) Untuk mengetahui

kemampuan

keluarga

mengambil

keputusan

mengenai tindakan kesehatan yg tepat,


c) Mengetahui sejauh mana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya
(sifat, penyebaran,komplikasi,prognosa dan cara perawatannya)
d) Untuk mengetahui Sejauh mana kemampuan keluarga memelihara
lingkungan rumah yang sehat,
e) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga menggunakan
fasilitas /pelayanan kesehatan di masyarakat
f) Apakah Fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga
4) Fungsi reproduksi
Hal yang perlu di kaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah:
a) Berapa juamlah anak
b) Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga
c) Metode apa yang di gunakan keluarga dalam upaya mengendalikan
jumlsh anggota keluarga

5) Fungsi Ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah:
a) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan
b) Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat
dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga
f. Stress dan Koping keluarga
1) Stresor jangka pendek dan panjang
a) Stresor jangka pendek yaitu stesor yang di alami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang lebih 6 bulan.
b) Stresor jangka panjang yaitu stresor yang di alami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 Bulan
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor, hal yang perlu
dikaji adalah sejauh mana keluarga berespon terhadap situasi /stressor
3) Strategi koping yang di gunakan, strategi koping apa yang digunakan
keluarga bila menghadapi permasalahan
g. Pemeriksaan Fisik, pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota
keluarga. Metode yang di gunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda
dengan pemeriksaan fisik klinik.
h. Harapan Keluarga, pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan
keluarga terhadap masalah kesehatan keluarga dan terhadap petugas
kesehatan yang ada.
B. Diagnosa Keperawatan
1.
Analisa data dibuat dalam bentuk matriks seperti tabel berikut.
No

Data
Diagnosis keperawatan
Data subjektif:
Gangguan rasa nyaman, nyeri
- Keluarga mengatakan anak A
haid pada keluarga Bapak S
mengalami nyeri haid yang
khususnya anak A berhubungan
berlangsung 1-2 hari
dengan ketidakmampuan keluarga
- Keluarga
mengatakan
tidak
merawat anggota keluarga yang
diobati apapun tetapi terkadang
mengalami nyeri haid
diberikan feminax 1 butir sehari
-

bila terasa nyeri


Anak A mengatakan bila haid,
badan terasa malas beraktivitas,
perut mulas, pegal, merasa lelah

dan inginnya marah-marah


Anak A mengatakan kadang
mendapatkan haid 2 kali sebulan

Keluarga mengatakan tidak tahu


penyebab, akibat, cara perawatan

nyeri haid
Data objektif :
- Anak A tampak malas
- Nyeri bila ditekan pada abdomen
Diagnosa keperawatan keluarga yang dikembangkan adalah diagnosis
tunggal yang hampir serupa dengan diagnosis keperwatan sakit. Diagnosis
keperawatan keluarga terdiri dari tiga komponen yaitu masalah, etiologi, serta
tanda dan gejala. Etiologi untuk diagnosis keperawatan keluarga adalah salah satu
dari lima tugas keluarga yang paling dominan menmyebabkan masalah
keperawatan tersebut. Diagnosis keperawatan keluarga dapat bersifat potensial,
risiko, atau aktual.
a. Diagnosa Keperawatan Keluarga Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
Diagnosis gangguan, digunakan bila sudah timbul gangguan/masalah
kesehatan di keluarga, didukung dengan adanya beberapa data maladaptif.
Perrumusan diagnosis keperawatan keluarga nyata/gangguan, terdiri dari
problem(P), etiologi(E) dan symptom/sign(S).
b. Diagnosa Keperawatan Keluarga Risiko (ancaman kesehatan)
Diagnosis ancaman, digunakan bila belum terdapat paparan masalah
kesehatan, namun sudah ditemukan beberapa data maladaptif yang
memungkinkan timbulnya gangguan. Perumusan diagnosis keperawatan
keluarga risiko, terdiri dari problem (P), etiologi(E) dan symptom/sign (S).
Misalnya lingkungan rumah yang kurang bersih, pola makan yang tidak
adekuat, stimulasi tumbuh kembang yang tidak adekuat.
c. Diagnosa Keperawatan Keluarga Sejahtera/Potensial
Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera sehingga kesehatan
keluarga dapat di tingkatkan. Belum ada data maladaptif perumusan diagnosis
keperawatan keluarga potensial terdiri dari komponen problem (P) saja atau
problem dan symtom tanpa komponen etiologi (E).
Penilaian (skoring) diagnosa keperawatan
Skoring dilakukan perawat apabila diagnosa keperawatan yang dirumuskan
lebih dari satu dengan menggunakan skala yang dirumuskan oleh Bailon dan
Maglaya (1978), dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Tentukan skorenya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat

2. Selanjutnya skore yang diperoleh dibagi skore tertinggi dan kemudian


dikalikan dengan bobot
3. Jumlahkan skore untuk semua kriteria (skore maximal adalah 5)
Berikut ini, scoring diagnosa keperawatan keluarga
No

Kriteria

Sifat masalah

2.

3.

4.

Score

Bobot
1

Tidak/kurang sehat

Ancaman kesehatan

Keadaan sejahtera
Kemungkinan masalah dapat diubah

Mudah

Sebagian

Tidak dapat
Potensial masalah untuk dicegah

Tinggi

Cukup

Rendah
Menonjolnya masalah

Masalah berat harus segera ditangani

Ada masalah, tetapi tidak perlu ditangani

Masalah tidak dirasakan

Prioritas masalah
Penyusunan prioritas diagnosa keperawatan didasarkan pada diagnosa
keperawatan yang mempunyai skore tertinggi dan disusun berurutan sampai ke
skore terendah. Namun, perawat perlu mempertimbangkan juga persepsi keluarga
terhadap masalah keperawatan mana yang perlu diatasi segera. Penentuan
prioritas sesuai kriteria skala dengan pertimbangan pembenaran yang beralasan
seperti berikut ini :
1.

Sifat masalah, prioritas masalah utama diberikan pada tidak atau kurang sehat

2.
3.

karena perlu tindakan segera dan biasanya disadari anggota keluarga.


Kemungkinan masalah dapat diubah
Potensial masalah untuk dicegah

4.

Menonjolnya masalah, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana


keluarga menilai masalah keperawatan tersebut.
C. Intervensi
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, perawat menyusun rencana
asuhan keperawatan keluarga (family nursing care) dalam bentuk
perencanaan keperawatan keluarga (family care plan). Rencana tindakan

1.

keperawatan terhadap keluarga, meliputi kegiatan yang bertujuan :


Menstimulus kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan

2.
3.
4.

kebutuhan kesehatan.
Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat
Memberikan kepercayaan diri selama merawat anggota keluarga yang sakit
Membantu keluarga untuk memelihara (memodifikasi) lingkungan yang

5.

dapat meningkatkan kesehatan keluarga


Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
disekitarnya
Hal yang penting diperhatikan perawat dalam menyusun rencana asuhan

1.

keperawatan keluarga yaitu :


Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah dan mempunyai jangka waktu yang

2.

sesuai dengan kondisi keluarga


Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan diobservasi panca

3.

indera perawat dengan objektif


Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang dimiliki
oleh keluarga dan mengarah ke kemandirian klien sehingga tingkat
ketergantungan dapat diminimalisasi
Berikut ini, contoh rencana asuhan keperawatan keluarga
Diagnosa

Tujuan

keperawatan
Gangguan rasa Tujuan umum:
nyaman,

nyeri Setelah dilakukan

haid

pada tindakan

keluarga
S

Bapak keperawatan

khususnya selama 6 minggu

Anak
berhubungan
dengan

A diharapkan nyeri
haid berkurang

Kriteria

Standar

Rencana

Evaluasi

Evaluasi

Intervensi

ketidakmampuan
keluarga merawat
anggota keluarga
yang mengalami
nyeri haid
Tujuan

khusus:

setelah pertemuan
6x45

menit

keluarga mampu :
1.

mengenal
masalah nyeri
haid dengan:
a. menjelaskan
apa

yang

dimaksud

Respon

Haid

verbal

peristiwa

dengan

meluruhnya

keluargapenge

lapisan

rtian haid.

endometrium

Anjurkan

nyeri haid

adalah Diskusikan

yang

banyak keluarga

mengandung

unutk

pembbuluh

mengungkap

darah

kembali
pengertian

b. menjelaskan
tanda/gejala
haid

Respon

Menyebutkan

verbal

dari

tanda/gejala
yang

haid
Diskusikan

8 tanda/gejala
yang biasanya

terjadi terjadi

pada

sebelum haid: anak L.


malas

Anjurkan

beraktivitas,

keluarga

lemas, mudah untuk


lelah,

emosi menyebutkan

labil,

kram kembali

perut,

nyeri tanda/gejala

kepala,

sebelum haid

pingsan, sakit
pada
c. menjelaskan

Respon

payudara
Menyebutkan

penyebab

verbal

nyeri haid

Diskusikan

dari

4 bersama

penyebab

keluarga

nyeri

haid: penyebab

hormon,

nyeri haid

posisi rahim, Motivasi


faktor

psikis keluarga

seperti cemas

untuk
mengulang
kembali
penyebab
nyeri haid
Jelaskan
kembali
tentang

hal-

hal yang telah


2.

didiskusikan
Identifikasi

mengambil

Respon

Menyebutkan

keputusan

verbal

akibat

bila akibat

nyeri

untuk

nyeri

haid haid

yang

mengatasi

tidak

diatasi lalu.

masalah nyeri

seperti

syol, Motivasi

TD/RR

keluarga

meningkat

unutk

haid:
a. menjelaskan
akibat

yang

terjadi

bila

nyeri

haid

mengungkapk
an
akibat

kembali
nyeri

tidak diatasi

haid bila tidak


Respon

Keputusan

diatasi
Diskusikan

verbal

keluarga

dengan

unnutk

untuk

keluarga

mencegah

mengatasi

tentang

nyeri

haid

nyeri

haid rentangan

agar

tidak

agar

tidak nyeri

b. mengambil
keputusan

yang

bertambah

bertambah

dialami

parah

berat

remaja untuk
mengambil
keputusan
Gali pendapat
keluarga
bagaimana
cara
mengatasi
nyeri haid
Motivasi
keluarga
untuk
memutuskan
mengatasi
nyeri

3.

haid

merawat

Respon

Cara

secara tepat
Gali

keluarga

verbal

perawatan

pengetahuan

nyeri haid:

keluarga

dengan nyeri:
a. menjelaskan
cara
perawatan
nyeri haid

1. kompres

dalam

dengan air mengatasi


hangat
2. mandi
hanagat
3. minum

nyeri haid
air

Diskusikan
dengan

hangat
4. kurangi

keluarga cara
perawatan

makanan
beragam
5. posisi
menunggin
g
6. minum air
putih

nyeri haid
Motivasi
keluarga
untuk
mengungkap
kan kembali
apa

yang

telah
b. mendemontra
sikan

Respon

cara psikomotor

Keluarga

disampaikan
Demontrasika

mendemontra

cara

perawatan

sikan kembali perawatan

nyeri haid

cara

nyeri

perawatan

seperti tehnik

nyeri

haid nafas

haid
dalam,

seperti tehnik relaksasi, obat


nafas

dalam, tradisional

relaksasi, obat Motivasi


tradisional

keluarga

Keluarga

untuk

dapat menilali redemontasi


keberhasilan

Beri

pelaksanaan

positif

pujian
atas

tindakan yang upaya


dilakukan

keluarga

dengan

dalam menilai

menggunakan

keberhasilan

self

control terapi

yang

modalitas

disediakan

yang

dengan

dilakukan

mengobservas
i

adanya

penurunan
denyut

nadi,

penurunan
4.

keluarga

Respon

skala nyeri
Menciptakan

Diskusikan

mampu

verbal

suasana

dengan

memodifikasi

rumah

yang keluarga

lingkungan

tenang,

tentang

dalam

kembangkan

lingkungan

perawatan

komunikasi

dan

nyeri haid

yang terbuka, komunikasi


menyediakan
waktu

efektif

dan untuk

menjadi

mengurangi

pendengar

nyeri haid.

yang
5.

yang

baik

keluarga

Respon

bagi remaja
Menjelaskan

mampu

verbal

manfaat

pengetahuan

memanfaatka

fasilitas

keluarga

kesehatan

tentang

pelayanan

Klarifikasi

kesehatan bila

yang

nyeri

digunakan

fasilitas

unutk

kesehatan.

mengatasi

Diskusikan

haid

berlanjut:
a. menyebutkan
manfaat
fasilitas
kesehatan

dapat manfaat

nyeri bila haid dengan


berkanjut

keluarga
tentang
manfaat
pelayanan
kesehatan

Anjurkan
keluarga
unutk periksa
ke pelayanan
kesehatan bila
Kunjugan
b. memanfaatka
n

Respon

fasilitas psikomotor

keluarga

1 kali sebulan
ke dengan

fasilitas

jumlah

pelayanan

kesehatan bila banyak

kesehatan

haid lebih dari nyeri hebat


satu

dan

kali Tanyakan

sebulan

perasaan
keluarga
setelah
mengunjungi
fasilitas
kesehatan

D. Implementasi
Pada tahap ini, perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan pada
keluarga sebaiknya tidak bekerja sendiri, tetapi perlu melibatkan secara
terintegrasi semua profesi kesehatan yang menjadi tim perawatan kesehatan
di rumah. Peran perawat yang dilaksanakan dalam tahap implementasi ini
adalah sebagai koordinator. Namun, bila keluarga tidak mampu atau tidak
memungkinkan, perawat juga dapat mengambil peran sebagai pelaksana
asuhan keperawatan.
Yang perlu diperhatikan bahwa pada tahap implementasi perawat perlu
melakukan

kontrak

sebelumnya

(saat

mensosialisasikan

diagnosa

keperawatan) meliputi kapan dilaksanakan, berapa lama waktu yang


dibutuhkan, materi/topik yang didiskusikan, siapa yang melaksanakan,
anggota keluarga yang perlu mendapat informasi (sasaran langsung
implementasi) dan peralatan yang perlu disiapkan keluarga (bila perlu).

Kegiatan ini bertujuan agar keluarga dan perawat mempunyai kesiapan secara
fisik dan psikis saat pelaksanaan asuhan keperawatan dilaksanakan.
Langkah lebih lanjut adalah pelaksanaan implementasi sesuai dengan
rencana dengan didahului perawat mengingatkan keluarga bahwa akan
dilakukan implementasi sesuai kontrak sebelumnya. Dan implementasi
keperawatan sebaiknya dapat dilakukan oleh klien atau keluarga dengan
bantuan minimal dari perawat atau anggota tim kesehatan lainnya.
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil
implementasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilannya. Bila evaluasi tidak berhasil atau berhasil sebagian, perlu
disusun rencana keperawatan yang baru. Perlu diperhatikan juga bahwa
evaluasi perlu dilakukan beberapa kali dengan melibatkan keluarga sehingga
perlu pula direncanakan waktu yang sesuai dengan kesediaan keluarga.
Evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP yang operasionalnya
dengan pengertian Subjektif, Objektif, Analisis dan Planning/perencanaan
selanjutnya. Pada tahap ini ada 2 (dua) evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh
1.

perawat meliputi:
Evaluasi formatif/respons, bertujuan untuk menilai hasil implementasi
secadra bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan berdasarkan kontrak

2.

pelaksanaan
Evaluasi sumatif/hasil akhir, bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap
pencapaian diagnosis keperawatan, apakah rencana diteruskan, diteruskan
sebagian, diteruskan dengan perubahan intervensi atau dihentikan