Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Mekanika merupakan cabang ilmu fisika mengenai gaya yang bekerja pada benda, baik
benda yang diam (statika) maupun benda yang bergerak (kinematika dan dinamika).
Mekanika dibagi menjadi dua yaitu mekanika klasik dan mekanika kuantum. Mekanika
klasik menitikberatkan pada benda-benda yang bergerak dengan kecepatan jauh dibawah
kecepatan cahaya, sedangkan mekanika kuantum menitikberatkan pada benda-benda yang
bergerak mendekati kecepatan cahaya.
Munculnya mekanika kuantum yaitu ketika mekanika klasik tidak dapat menjelaskan
fenomena mikroskopis atom-atom yang menunjukkan sifat-sifat seperti cahaya dan kegagalan
dalam menjelaskan gejala-gejala subatomik. Dasar dari mekanika kuantum yaitu bahwa
energi itu tidak kontinyu, tetapi diskrit atau berupa kuanta. Konsep ini bertentangan dengan
mekanika klasik yang berasumsi bahwa energi itu berkesinambungan. Oleh sebab itu,
dibutuhkan adanya cara pandang yang berbeda untuk menjelaskan fenomena tersebut.
I.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui sejarah dan perkembangan teori mekanika kuantum
2. Mengetahui eksperimen yang mendasari perkembangan mekanika kuantum
3. Mengetahui bukti dari mekanika kuantum

Kegagalan Mekanika Klasik dan Lahirnya mekanika Kuantum

Page 1

II.
II.1

PEMBAHASAN

Sejarah Awal dan Perkembangan Teori Mekanika Kuantum

Mekanika klasik berawal ketika Aristoteles mengemukakan mengenai cabang mekanika


yang berhubungan dengan timbal balik antara gerak dan gaya yaitu bidang dinamika.
Aristoteles mengemukakan suatu pendapat tentang sifat dari berbagai benda dan memberikan
alasan untuk berbagai sifat tersebut dalam daya intrinsik khusus dari benda itu sendiri.
Kemudian banyak para ilmuwan lain yang mengikuti langkahnya, seperti Galileo yang
menganggap beberapa penemuan Aristoteles keliru yaitu benda yang lebih berat jatuh lebih
cepat daripada benda yang lebih ringan. Menurut Galileo, baik benda berat maupun ringan
jatuh pada kecepatan yang sama kecuali sampai batas mereka berkurang kecepatannya akibat
pergeseran udara. Penemuan Galileo yang lainnya yaitu mengenai hukum kelembaman
(inersia). Selain itu, Isaac Newton juga meneliti tentang mekanika. Bergeraknya suatu benda
yang berada disekitar didasarkan pada tiga hukum fundamental, yaitu hukum inersia Galileo,
hukum kedua Newton dan hukum gravitasi. Di akhir abad ke-19 merupakan masa puncak
dari fisika klasik, saat itu fisika klasik mempunyai dua cabang utama yaitu :
1. Mekanika klasik Newtonian yang dicirikan oleh adanya partikel sebagai sesuatu yang
berada di dalam ruang, dan secara sederhana dapat dikatakan sebagai adanya batas yang
jelas antara materi dan sesuatu di luar atau lingkungannya.
2. Teori medan elektomagnetik Maxwellian yang dicirikan oleh kuantitas medan dari
gelombang yang menyebar di dalam ruang bagai kabut dengan ketebalan yang berbeda
dan menipis sampai akhirnya benar-benar lenyap.
Di abad ke-19 muncul teori fisika kuantum, yang bermula ketika mekanika klasik tidak
dapat menjelaskan mengenai dinamika benda mikroskopik seperti atom. Selain itu mekanika
klasik juga tidak dapat menjelaskan spektrum radiasi benda hitam, efek fotolistrik, efek
compton, dan difraksi elektron. Lahirnya mekanika kuantum tidak terlepas dari
perkembangan-perkembangan teori atom. Mekanika kuantum bukan untuk menghapus teori
atau hukum sebelumnya, melainkan untuk menyempurnakan teori atau hukum tersebut.
Tahun 1900, Max Planck memperkenalkan ide bahwa energi dapat dibagi-bagi menjadi
beberapa kuanta. Ide ini secara khusus digunakan untuk menjelaskan sebaran intensitas
radiasi yang dipancarkan oleh benda hitam. Teori klasik pada saat itu tidak dapat menjelaskan
mengapa cahaya selain cahaya tampak juga dipancarkan. Hal tersebut menunjukan bahwa
untuk meradiasikan gelombang elektromagnetik benda tidak perlu terlalu panas, bahkan pada
Kegagalan Mekanika Klasik dan Lahirnya mekanika Kuantum

Page 2

suhu kamar pun benda tetap dapat memancarkan gelombang elektromagnetik. Sifat yang
diamati dari radiasi benda hitam ini tidak dapat diterangkan oleh teori-teori mekanika yang
berkembang pada saat itu. Akhirnya Planck menurunkan persamaan yang dapat menerangkan
radiasi spektrum sebagai fungsi temperatur dari benda yang meradiasikannya dan
menganggap bahwa radiasi ini dipancarkan tidak dalam bentuk kontinu tetapi dalam bentuk
paket-paket energi yang disebut kuanta. Planck juga tidak menjelaskan mengenai
keterkaitannya dengan teori klasik yaitu bahwa cahaya diradiasikan dalam bentuk gelombang
bukan dalam bentuk partikel yang membuat teori tersebut tidak dapat menjelaskan fenomena
radiasi benda hitam ini.
Tahun 1905, Albert Einstein menjelaskan tentang efek fotolistrik dengan didasari oleh
pendapat Planck dan menyimpulkan bahwa energi cahaya datang dalam bentuk kuanta yang
disebut foton, sebuah istilah yang dikemukakan oleh Gilbert & Lewis pada tahun 1926.
Menurut Einstein, foton tunggal dapat memberikan energi yang bervariasi, dengan kata lain
dapat mentransfer energi lebih atau energi sisa, tetapi hanya untuk frekuensi foton tersebut.
Foton Einstein dapat dikatakan memiliki frekuensi yang bervariasi dengan adanya energi,
sehingga partikel tersebut menimbulkan cahaya. Einstein berhasil menjelaskan bahwa untuk
membuat elektron terpancar dari permukaan logam diperlukan cahaya yang menumbuk.
Cahaya tersebut harus memiliki frekuensi melebihi batas frekuensi dari logam tersebut. Efek
fotolistrik tidak bergantung pada intensitas cahaya yang ditembakan seperti pada mekanika
klasik, tetapi hanya bergantung pada frekuensi. Teori kuantum yang menyatakan bahwa
cahaya yang teradiasi dalam bentuk paket-paket energi secara terpisah dan diserap oleh
elektron secara individual berhasil menjelaskan efek fotolistrik dengan baik yaitu pada
intensitas cahaya yang lemah pun bisa memancarkan elektron dari logam asalkan frekuensi
cahaya yang diberikan melebihi frekuensi ambang dari logam yang di sinari.
Tahun 1913, Neils Bohr mencoba menjelaskan garis-garis spektrum dari atom hidrogen
dengan menggunakan teori kuantisasi. Teori ini dikemukakan untuk mendapat gambaran
yang lebis jelas tentang struktur atomik yang terdapat dalam benda. Niels Bohr pada saat itu
memecahkan permasalahan substansial dengan mengaplikasikan kuanta diskrit untuk orbit
elektron dan solusi inilah yang kemudian menjadi model atom Bohr. Teori dasar Bohr yaitu
bahwa elektron hanya dapat berputar mengelilingi atom dengan orbit tertentu yang berupa
spectral line. Bohr menjelaskan bahwa orbit dari elektron dapat dijelaskan dengan
menggunakan momentum angular.

Kegagalan Mekanika Klasik dan Lahirnya mekanika Kuantum

Page 3

Kegagalan Mekanika Klasik dan Lahirnya mekanika Kuantum

Page 4

dimana adalah panjang gelombang, R adalah konstanta Rydberg dan n adalah jumlah orbital
antara elektron yang dapat berpindah. Model atom Bohr menjelaskan elektron sebagai
partikel di dalam orbit melingkar. Niels Bohr menjelaskan bahwa antara gelombang dan
partikel adalah hal yang berbeda, tetapi merupakan unsur terpenting dari cahaya. Seluruhnya
merupakan bagian dari formulasi radiasi elektromagnetik yang dapat menjelaskan hal-hal
yang bersifat mikroskopik yang terdapat di alam ini. Niels Bohr juga menjelaskan bahwa
konsep gelombang dan partikel sama dengan konsep posisi dan momentum. Namun, ternyata
teori Bohr tidak dapat menjelaskan mengapa garis spektral tertentu dapat berintensitas lebih
tinggi dari yang lainnya. Selain itu, Niels Bohr juga tidak dapat menjelaskan mengenai hasil
pengamatan bahwa banyak garis spektral yang sesungguhnya terdiri dari garis-garis terpisah
yang panjang gelombangnya sedikit berbeda, serta tidak dapat menjelaskan bagaimana
interaksi antara atom-atom penyusun ini dapat menyusun kumpulan makroskopis yang
memiliki sifat fisika dan kimia seperti saat ini. Walaupun teori Bohr tidak terbukti secara
eksperimen, namun hal ini dapat merubah paradigma para ilmuwan saat itu tentang gejala
atomik dengan memakai pendekatan yang lebih umum.
Tahun 1924, Louis de Broglie menyatakan teorinya tentang gelombang materi dengan
menyatakan bahwa partikel dapat menunjukan sifat gelombang dan sebalikanya. Beliau juga
menjelaskan perhitungan matematis dari penemuan Bohr dan teorema dualisme gelombang
partikel dengan partikel subatomik yang memiliki gelombang dan partikel simultan. De
Broglie menjelaskan model atom Bohr dengan menjelaskan elektron dalam orbital dan inti
yang memiliki gelombang. Kemudian berdasarkan pemikiran de Broglie, mekanika kuantum
modern lahir pada tahun 1925 yaitu ketika Werner Heisenberg dan Max Born
mengembangkan mekanika matriks. Heisenberg menjelaskan mekanika kuantum dalam orbit
elektron, karena Bohr tidak dapat menjelaskan hubungan dengan orbit tersebut. Heisenberg
merumuskan prinsip ketidaktentuannya pada tahun 1927. Heisenberg mendeskripsikan
mekanika kuantum secara matematis yaitu dengan menggunakan osilator anharmonik yang
merupakan salah satu rumusan dari Heisenberg yaitu prinsip ketidaktentuan dua variabel
yang nilainya tidak nol.
Selain itu, Erwin Schrodinger pada tahun 1925 menganalisis bagaimana elektron
memiliki gelombang yang mengelilingi inti, dengan menganalogikan orbit yang mengelilingi
planet. Schrodinger menganggap bahwa elektron sebagai gelombang dan memiliki fungsi

yang unik. Unsur dalam persamaan Schrodinger tentang fungsi gelombang dalam elektron
disebut juga Bilangan Kuantum. Tahun 1926 Schrodinger menganalisis persamaan matriks
Heisenberg dengan fungsi gelombang yang dibuatnya untuk memprediksi perilaku elektron.
II.2

Eksperimen yang Mendasari Perkembangan Mekanika Kuantum

Berikut ini adalah eksperimeneksperimen yang mendasari perkembangan mekanika


kuantum, yaitu:
1) Thomas Young (1805), dengan eksperimen celah ganda yang mendemonstrasikan sifat
gelombang cahaya
2) Henri Becquerel (1896), menemukan radioaktivitas
3) Joseph John Thomson (1897), dengan eksperimen sinar katoda (menemukan elektron
dan muatan negatifnya)
4) Penelitian radiasi benda hitam antara 1850 sampai 1900 yang tidak dapat dijelaskan
tanpa menggunakan konsep kuantum
5) Albert Einstein (1905), menjelaskan tentang efek foto listrik dengan menggunakan
konsep foton dan partikel cahaya dengan energi terkuantisasi
6) Robert Millikan (1909), membuktikan bahwa muatan listrik terjadi dalam kuanta
(seluruh inti) dengan menggunakan eksperimen tetes oli
7) Ernest Rutherford (1911), menggagalkan model puding plum atom yang menyarankan
bahwa muatan positif dan massa atom tersebar merata dengan menggunakan percobaan
lempengan emas
8) Otto Stern dan Walther Gerlach (1920), mendemonstrasikan sifat kuantisasi partikel
spin yang dikenal dengan eksperimen Stern-Gerlach
9) Clinton Davisson dan Lester Germer (1927), mendemonstrasikan sifat gelombang dari
elektron melalui percobaan difraksi electron
10) Clyde L. Cowan dan Frederick Reines (1955), menjelaskan keberadaan neutrino dalam
eksperimen neutrino
11) Clauss Jonsson (1961), dengan eksperimen celah ganda menggunakan elektron
12) Efek Hall kuantum yang ditemukan oleh Klaus von Klitzing pada tahun 1980
II.3 Bukti dari Mekanika Kuantum
Mekanika kuantum sangat berguna untuk menjelaskan mengenai atom dan partikel
subatomik seperti proton, neutron, dan elektron yang tidak mematuhi hukum-hukum fisika
klasik. Atom biasanya digambarkan seperti sebuah sistem, dimana elektron yang bermuatan
negatif beredar di sekitar inti atom yang bermuatan positif. Menurut mekanika kuantum,
ketika sebuah elektron berpindah dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang
lebih rendah, misalnya dari kulit atom ke-2 ke kulit atom ke-1, maka akan memancarkan atau

melepaskan energi yang berupa sebuah partikel cahaya yang disebut dengan foton. Energi
yang dilepaskan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
E=hf
dimana:

E adalah energi (J)


h adalah tetapan Planck, h=6.63 x 10-34 (Js)
f adalah frekuensi cahaya (Hz)

Telah dibuktikan bahwa garis-garis spektrum dari atom yang diionisasi tidak kontinyu dalam
spektrometer massa, hanya pada frekuensi atau panjang gelombang tertentu saja garis-garis
spektrum dapat dilihat. Hal inilah yang merupakan salah satu bukti dari teori mekanika
kuantum.

III.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan pada makalah ini, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dasar lahirnya mekanika kuantum yaitu ketika mekanika klasik tidak dapat menjelaskan
fenomena mikroskopis atom-atom yang menunjukkan sifat-sifat seperti cahaya dan
kegagalan dalam menjelaskan gejala-gejala subatomik.
2. Tahun 1900, Max Planck memperkenalkan ide bahwa energi dapat dibagi-bagi menjadi
beberapa paket atau kuanta yang secara khusus digunakan untuk menjelaskan sebaran
intensitas radiasi yang dipancarkan oleh benda hitam.
3. Tahun 1905, Albert Enistein menjelaskan tentang efek fotolistrik dengan menyimpulkan
bahwa energi cahaya datang dalam bentuk kuanta yang disebut foton.
4. Tahun 1913, Neils Bohr menjelaskan garis-garis spektrum dari atom hidrogen dengan
menggunakan teori kuantisasi.
5. Tahun 1924, Louis de Broglie menyatakan teorinya tentang gelombang benda.

6. Tahun 1925, Erwin Schrodinger menganalisis bagaimana elektron memiliki gelombang


yang mengelilingi inti.
7. Tahun 1926 Schrodinger menganalisis persamaan matriks Heisenberg dengan fungsi
gelombang yang dibuatnya untuk memprediksi perilaku elektron.
8. Salah satu bukti dari teori mekanika kuantum yaitu telah dibuktikan bahwa garis-garis
spektrum dari atom yang diionisasi tidak kontinyu dalam spektrometer massa, hanya
pada frekuensi atau panjang gelombang tertentu saja garis-garis spektrum dapat dilihat.

Anda mungkin juga menyukai