Anda di halaman 1dari 27

BAB III

TINJAUAN PERENCANAAN PROYEK


A. Uraian Umum
Perencanaan konstruksi yang baik sangat menentukan keberhasilan dan
kesuksesan suatu perusahaan dalam menyelesaikan proyek sesuai spesifikasi
owner. Membuat rencana proyek adalah hal pertama yang harus dilakukan ketika
melakukan setiap jenis proyek.
Perencanaan dikatakan matang

apabila

perencanaan

tersebut

lebih

memperhatikan aspek biaya, waktu, tenaga, dan dengan ketentuan tidak


melupakan segi estetika dan arsitektural dari bangunan tersebut. Sehingga
perencanaan proyek berguna dalam menghemat waktu, uang dan mengatasi
kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya tetapi tidak menurunkan
mutu yang diinginkan. Perancangan bangunan memerlukan tahap awal
pelaksanaan proyek.
Perencanaan konstruksi (planning) dapat dikelompokan menjadi dua tahap
yaitu, yang pertama perencanaan atau planning dalam garis manajemen konsultan
dan perencanaan yang kedua dalam garis manajemen kontraktor. Perencanaan
yang ditangani oleh konsultan mencakup perencanaan fisik struktur secara
terperinci sampai pada perencanaan anggaran biaya dan durasi pekerjaan.
Perencanaan yang ditangani oleh kontraktor mencakup perencanaan metode
pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran dalam pelaksanaan dan perencanaan
administrasi lapangan maupun perusahaan.
Perencanaan mencakup penentuan berbagai cara yang memungkinkan
kemudian menentukan salah satu cara yang tepat dengan mempertimbangkan
semua kendala yang mungkin ditimbulkan. Bentuk perencanaan dapat berupa
perencanaan

prosedur,

perencanaan

metode

kerja,

perencanaan

standar

pengukuran hasil perencanaan anggaran biaya, perencaaan program (rencana


kegiatan beserta jadwal). Dalam bab ini akan dibahas tentang tinjauan
perencanaan yang dilakukan sebelum pelaksanaan dimulai.

1.

Tahap-tahap perencanaan pembangunan suatu proyek, antara lain:


Tahap Perancangan

Keterlibatan antara pemilik proyek beserta yang terlibat didalamnya seperti


ketelibatan pemilik proyek dengan general kontraktor ataupun general kontraktor
dengan sub kontraktornya. Tahapan ini terdiri dari membuat konsepan maupun
gambar gambar sketsa atau merupakan out line dari bangunan berikut dengan
biaya proyek. Gambar gambar tersebut dikembangkan lebih rinci kembali untuk
dapat dipakai sebagai dasar pembahasan berikutnya.
2.

Tahap Perencanaan
Ketika lahan yang di inginkan sudah ada, luasan yang diperlukan sudah ada,

tahapan selanjutnya terdiri dari uraian lanjutan dari gambar-gambar sketsa yang
telah dibuat pada saat perancangan tersebut dikembangkan kembali menjadi
gambar dasar dengan skala yang lebih besar. Gambar-gambar ini kemudian
dikembangkan menjadi gambar-gambar detail yang telah dilengkapi dengan
urutan kerja dan syarat-syarat serta perhitungan anggaran biaya bangunan.
a. Studi Kelayakan
Pada studi kelayakan, berfungsi untuk meyakinkan pemilik proyek
(owner) bahwa proyek yang diusulkan layak untuk dilaksanakan.Pihak
yang terlibat aktif dalam perencanaan/Planning adalah pemilik proyek
dan

dapat

dibantu

oleh

konsultan

perencana.

Kegiatan

yang

dilaksanakan:
1) Menyusun rancangan proyek secara kasar dan mengestimasi biaya
yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
2) Mendiskusikan manfaat yang akan diperoleh jika proyek tersebut
dilaksanakan, baik manfaat langsung (manfaat ekonomis) maupun
manfaat tidak langsung (fungsi sosial).
3) Menyusun analisis kelayakan proyek, baik secara ekonomis maupun
finansial.
4) Menganalisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi apabila
proyek tersebut dilaksanakan.
b. Breafing
Hal yang akan direncanakan adalah sesuai dengan keinginan pihak
owner, oleh karena itu diperlukan tahap breafing/penjelasan. Pada tahap
ini owner akan menjelaskan fungsi dan biaya proyek, sehingga konsultan

perencana dapat secara tepat menafsirkan keinginan pemilik proyek dan


membuat taksiran biaya. Kegiatan yang dilaksanakan:
1) Menyusun rencana kerja dan menunjuk pada perencana tenaga ahli.
2) Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi dan
lapangan, merencanakan rancangan, taksiran biaya, dan persyaratan
mutu.
3) Mempersiapkan ruang lingkup kerja, jadwal waktu, taksiran biaya
dan implikasinya, serta rencana pelaksanaan.
4) Mengecek dan mempersiapkan kesehatan dan keselamatan kerja,
serta kelengkapan APD.
Perencanaan teknis dan perencanaan non teknis sangat diperlukan pada
setiap pekerjaan pembangunan agar tercapai hasil yang berkualitas, biaya
yang optimal, dan waktu yang cepat.
c. Perencanaan teknis
Perencanaan teknis merupakan syarat yang paling mutlak dalam
perencanaan pekerjaan pembangunan. Persyaratan teknis pada proyek
adalah:
1) Gambar kerja
Gambar rencana dari pekerjaan yang akan dilaksanakan secara
lengkap yang dapat memberikan informasi sedetail mungkin
sehingga tidak terjadi keraguan-raguan dalam pelaksanaannya,
meliputi:
(a) Gambar situasi, denah dan tampak
(b) Gambar potongan melintang dan memanjang
(c) Gambar detail struktur berupa penulangan beton
(d) Gambar mekanikal dan elektrikal yang berisi gambar denah
serta lokasi penempatan peralatan-peralatan seperti pipa air,
saluran listrik dan penempatan lampu jalan.
2) Spesifikasi teknis
Spesifikasi teknik adalah uraian terperinci dari suatu pekerjaan
yang memuat secara jelas keinginan dari pemilik proyek terhadap
bangunan yang akan dilaksanakan. Spefisikasi teknis ini memuat
antara lain uraian bagian pekerjaan, persyaratan bahan bangunan
yang akan digunakan, ukuran detail dari suatu bangunan, cara

pengujian, serta peraturan normalisasi yang digunakan sehingga


hasil pekerjaan sesuai dengan mutu yang diharapkan.
d. Perencanaan non teknis
Perencanaan non teknis terdiri dari jadwal proyek (time schedule),
sumber daya yang dibutuhkan dan control pelaksanaan.
1) Jadwal Proyek (time schedule)
Jadwal dibuat untuk mengetahui kemajuan/progress tahapan
pekerjaan sehingga pelaksanaan pekerjaan pembangunan lebih
terkontrol.Jadwal proyek mencakup volume pekerjaan, jenis
pekerjaan, dan waktu pelaksanaan. Fungsi dari penjadwalan
pekerjaan adalah sebagai berikut:
a) Untuk mengetahui kapan suatu pekerjaan dapat dimulai dan
kapan harus selesai
b) Untuk mengkoordinasi pemesanan barang yang akan dipakai
agar datang tepat saat dibutuhkan
c) Untuk mengatur jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada
waktu tertentu, agar dapat dipersiapkan jika dibutuhkan tenaga
kerja yang banyak
d) Untuk mengontrol apakah pekerjaan telah dilaksanakan tepat
waktu.
2) Sumber daya yang dibutuhkan oleh sebuah proyek konstruksi:
Perencanaan ini mengatur 5 unsur sumber daya yang sangat
dibutuhkan oleh sebuah proyek konstruksi, yaitu:
a) Sumber daya manusia (man) yaitu perlu direncanakan dengan
baik apakah diperlukan tenaga ahli khusus untuk masalah
tertentu, serta untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang perlu
disiapkan.
b) Sumber daya peralatan (Machines) yaitu Peralatan didata sesuai
kebutuhan, baik peralatan yang biasa maupun peralatan khusus
yang perlu disiapkan dari jauh hari. Direncanakan juga untuk
peralatan apakah akan dibeli atau disewa.
c) Sumber daya keuangan (money) yaitu Direncanakan dengan
baik system pembayaran yang akan dilakukan.

d) Sumber daya bahan (Material) yaitu Bahan perlu direncanakan


dengan baik sesuai keperluan saat pengerjaan, sehingga saat
dibutuhkan material tersebut ada dan tidak membuang waktu
pelaksanaan.
e) Sumber daya matode (method) yaitu metode konstruksi yang
digunakan pada pelaksanaan pembangunan.
3.

Pembuatan Gambar-Gambar Detail


Tahap ini merupakan pembuatan gambar detail yang menjelaskan secara rinci

pekerjaan kontruksi disamping sebagai dasar pelaksanaan juga dipakai sebagai


dokumen lelang. Gambar-gambar detail ini dibuat oleh konsultan perancana.
4.

Pembuatan Uraian Pekerjaan


Uraian kerja dan syarat-syarat ini mencakup semua aspek antara lain material,

peralatan, tenaga kerja mapun mutu pekerjaan. Rangkaian pelaksanaan pekerjaan


harus direncanakan dengan matang dan dibuat metode pelaksanaan.

5.

Perhitungan Anggaran Biaya


Perhitungan biaya-biaya yang diperlukan untuk tiap pekerjaan dalam suatu

proyek konstruksi disebut rancangan anggaran biaya. RAB memuat analisa harga
satuan pekerjaan struktur yang dihitung secara konvesional. Hal ini berfungsi
untuk estimasi cost untuk kontsruksi secara terperinci. Pemilik proyek, konsultan,
maupun kontraktor akan sangat terbantu dengan adanya RAB dimana akan
menjadi dasar dan pelaksanaan pekerjaan baik saat pembelian material maupun
saat pelaksanaan sedang berlangsung. Kesulitan pembiayaan juga dapat terbantu
dan disederhanakan jika kita mempunyai detail RAB dan anggaran biaya
merupakan perhitungan banyaknya biaya yang dibutuhkan untuk bahan, upah dan
biaya lain yang berhubungan dengan proyek.
Anggaran biaya merupakan perhitungan banyaknya biaya yang dibutuhkan
untuk bahan, upah dan biaya lain yang berhubungan dengan proyek. Perencanaan
Proyek Pembangunan Gedung Bank Yudha Bhakti meliputi :

a.

Perencanaan pekerjaan Tanah dan Pondasi

b.

Perencanaan pekerjaan Struktur Bawah

c.

Perencanaan pekerjaan Struktur Atas


Perencanaan-perencanaan pekerjaan tersebut saling terkait dan harus mampu

mewujudkan bangunan yang diinginkan serta struktur yang kuat yang menjamin
keamanan dan kenyamanan pemakainya
Pertimbangan segi fungsi dapat dilihat dari fasilitas yang tersedia yang
akhirnya menentukan besaran dan bentuk bangunan. Pertimbangan atas segi
keindahan dapat dilihat dari design struktur dan jenis material finishing.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut tidak lepas dari keinginan pemilik proyek
(owner).

Pengumpulan Data :
1.
2.
3.

Tujuan Fungsional
Peraturan/Spesifikasi
Geometri Struktur

Pra Rencana :
Asumsi dimensi elemen struktur

Analisis Struktur

Revisi

Perencanaan Elemen Elemen


Struktur

CEK

Gambar Gambar
Rencana dan Hitungan
Biaya Bangunan

Asumsi OK dan Hasil Optimal

Pelaksanaan Konstruksi

Gambar 7. Flowchart Perencanaan Suatu Proyek


(Sumber : Analisa Penulis, 2015)

a. Pengumpulan Data
Tahapan ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengumpulan
semua bentuk data yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek kontruksi. Datadata seperti tujuan fungsional, peraturan/standar proyek, geometri struktur dan
lainnya sebagai data acuan dalam perencanaan proyek kontruksi.

b. Pra-Rencana
Tahapan ini merupakan uraian lanjutan dari kegiatan pemgumpulan data,
data yang telah dikumpulkan menjadi acuan dalam perencanaan proyek. Data

tersebut digunakan untuk asumsi perencanaan dimensi elemen-elemen struktur


dari tujuan atau fungsi gedung tersebut.
c. Analisa Struktur
Analisa struktur dilakukan setelah asumsi dimensi struktur gedung
bertingkat selesai. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui asumsi dimensi yang
ditentukan apakah telah memenuhi standar perencanaan gedung dan aman untuk
dirikan.
d. Perencanaan Elemen-elemen Struktur
Tahap ini merupakan tahapan lanjutan dari analisa struktur. Perencanaan
elemen struktur dilakukan sesuai dengan hasil analisa struktur dan dilakukan
perencanaan struktur yang aman dan ekonomis. Perencanaan struktur akan
dilakukan pengecekan berulang hingga struktur dinyatakan aman dan ekonomis,
jika tidak akan dilakukan tahap analisa ulang jika iya maka akan berlanjut pada
tahap gambar rencana dan rencana biaya.
e. Gambar Rencana dan Hitung Biaya
Membuat gambar rencana dilakukan untuk mengetahui bentuk atau wujud
dari suatu bangunan yang akan direalisasikan sekaligus untuk mengetahui
jumlah material yang digunakan dalam bangunan dan dapat diketahui pula
perkiraan biaya pembangunan gedung.
f. Pelaksana Konstruksi
Pelaksanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau
badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pelaksanaan jasa
konstruksi yang mampu menyelenggarakan kegiatannya untuk mewujudkan
suatu hasil perencanaan menjadi bentuk bangunan atau bentuk fisik lain,
termasuk di dalamnya pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan
fungsi layanan dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan
pembangunan (engineering, procurement and construction) serta model
penggabungan perencanaan dan pembangunan (design and build).
B. Tinjauan Perencanaan Arsitektual
Perencanaan arsitektural adalah tahap awal dari perancangan bangunan
termasuk perancangan didalamnya perancangan interior, eksterior, landscape, dan
utilitas. Dalam tahap desain arsitektural ini akan ditentukan bentuk, dimensi

ruang, dan tata letak/layout bangunan yang disesuaikan dengan fungsi bangunan
tersebut.

Gambar 8. Arsitektural Gedung Bank Yudha Bhakti


(Sumber : Data Proyek, 2015)

Pertimbangan segi fungsi dapat dilihat dari fasilitas yang tersedia yang
akhirnya menentukan besaran dan bentuk bangunan. Pertimbangan atas segi
keindahan dapat dilihat dari desain struktur dan jenis material finishing.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut tidak lepas dari keinginan pemilik proyek.
C. Tinjauan Perencanaan Struktur Bawah
Struktur bawah atau Sub Structure merupakan bagian struktur yang
mempunyai fungsi meneruskan beban ke dalam tanah pendukung. Perencanaan
struktur bagian bawah harus benar-benar optimal, sehingga keseimbangan struktur
secara keseluruhan dapat terjamin dengan baik dan sekaligus ekonomis. Selain itu
beban seluruh struktur harus dapat ditahan oleh lapisan tanah yang kuat agar tidak
terjadi penurunan diluar batas ketentuan, yang dapat mengakibatkan kehancuran
atau kegagalan struktur, oleh karena itu, ketepatan pemilihan struktur merupakan
sesuatu yang penting karena menyangkut faktor resiko dan efisiensi kerja, baik
waktu maupun biaya.
Perencanaan Struktur bagian bawah pada proyek Gedung Bank Yudha Bhakti
meliputi perencanaan berupa :

1.

Pondasi
Pondasi adalah suatu kontruksi pada bagian dasar struktur/bangunan yang

berfungsi meneruskan beban dari bagian atas struktur/bangunan (Upper


Structure) kelapisan tanah bawahnya, tanpa mengakibatkan keruntuhan geser
tanah dan penurunan (settlement) tanah/pondasi yang berlebihan.
Karena itu pemilihan jenis pondasi sesuai dengan kondisi tanahnya juga
merupakan hal penting. Faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan
jenis pondasi yang akan digunakan, antara lain :
a.
Fungsi bangunan
b.
Beban yang bekerja pada bangunan
c.
Kondisi tanah dibawah bangunan
d.
Faktor Ekonomi
e.
Peralatan dan teknologi yang tersedia
f.
Keadaan disekitar lokasi bangunan
Hal yang juga penting berkaitan dengan pondasi adalah apa yang disebut
soil investigation , atau penyelidikan tanah. Pondasi harus diletakkan pada
lapisan tanah yang cukup keras dan padat.
Untuk mengetahui letak/kedalaman tanah keras dan besar tegangan tanah/
daya dukung tanah, maka perlu diadakan penyelidikan tanah, yaitu dengan
cara:
a. Pemboran (drilling): dari lubang hasil pemboran (bore holes) diketahui
contoh-contoh lapisan tanah yang kemudian dikirim ke laboraturium
mekanika tanah.
b. Percobaan penetrasi (penetration test) : yaitu dengan menggunakan alat
yang disebut sondir static penetrometer. Ujungnya berupa conus yang
ditekan masuk kedalam tanah, dan secara otomatis dapat dibaca hasil
sondir tegangan tanah (kg/cm2).
Adapun spesifikasi pondasi yang digunakan pada proyek Gedung Bank
Yudha Bhakti meliputi:
a. Jenis pondasi
: Tiang Pancang
b. Ukuran
: (400 x 400) mm
c. Supplier
: PT. KIKI
Pile Foundation / Pondasi Tiang Pancang
Pondasi tiang pancang, beban, bobot disalurkan dengan mekanisme
pergeseran antara tanah dan pondasi (tiang), dan dukungan dari lapisan tanah
keras pada kedalaman tertentu. Pile adalah komponen penerus beban yang

berbentuk panjang dan vertikal. Pile dapat terbuat dari bahan kayu, besi/baja.
beton atau kombinasi diantaranya, tergantung dari berat beban yang dipikul.
Pile digunakan dengan pertimbangan:
- Beban yang dipikul sangat besar
- Penggunaan jenis pondasi yang lain dinilai tidak ekonomis
- Kondisi air tanah yang bervariasi dan perlu dipertimbangkan
- Apabila dikemudian akan dibangun saluran dalam tanah/canal
- Digunakan pada konstruksi bangunan dipelabuhan atau daerah air
lainnya.
2. Pile Cap
Pile cap berfungsi sebagai penghubung antara kolom dan pondasi di
bawahnya, juga berfungsi meratakan beban dari kolom untuk kemudian
dilimpahkan pada pondasi tiang pancang sedemikian rupa sehingga diperoleh
keseimbangan beban yang terima oleh pondasi tersebut. Urutan pelaksanaan
pembesian Pile Cap adalah sebagai berikut :
a. Persiapan
- Siapkan gambar kerja beserta Bar Bending Schedule (BBS).
- Siapkan material besi lengkap dengan ukuran yang diperlukan.
- Siapkan peralatan yang diperlukan seperti bar bending,bar cutter, gegep,
dll.
- Pastikan lahan sudah siap untuk di install.
- Potong besi sesuai dengan panjang yang dibutuhkan, sesuai dengan
ukuran yang telah ditentukan.
- Bentuklah besi beton yang telah dipotong sesuai dengan gambar kerja
yang telah disetujui. Pastikan bahwa jarak tekukan harus sesuai dengan
yang telah diisyaratkan.
b. Pemasangan
- Untuk mengetahui jarak besi satu dengan yang lainnya, maka lantai
kerja harus di-marking terlebih dahulu dengan menggunakan kapur
tulis.
- Pemasangan besi dimulai dari lapisan bawah terlebih dahulu dan
dilanjutkan dengan cakar ayam.
- Setelah bagian bawah selesai dipasang, dilanjutkan dengan lapisan
atasnya.
- Besi di ikat sebaik mungkin.
- Pemasangan beton decking pada daerah dinding.

Pile Cap yang digunakan pada proyek ini terbuat dari beton bertulang
dengan mutu beton fc K-350/30 MPa. Untuk pile cap yang diambil harus
memenuhi persyaratan teknis dan ekonomis.
Tabel 1. Spesifikasi Pile Cap yang digunakan

Tipe Pile

Ukuran (mm)

Cap
P5
P9
P11

3100 x 3100 x 1000


3800 x 3800 x 1200
6200 x 3800 x 1200
(Sumber : Data Proyek, 2015)

3. Tie Beam
Tie Beam adalah bentuk lain dari sloof. Pada pondasi setempat dari plat
beton bertulang (foot plate) ,antara foot plate yang satu dengan yang lain
akan dihubungkan dengan balok beton bertulang Tie beam adalah balok
penghubung antara pile cap, yang berfungsi :
a. Sebagai balok pengikat antar pile cap.
b. Meratakan gaya beban bangunan.
c. Balok penahan gaya reaksi tanah.
d. Bila ada penurunan pada bagian bangunan, maka penurunan akan sama.
e. Peningkatan kekuatan antar pile cap.
Tabel 2. Tipe tie beam

Tipe tie beam

Ukuran

B1B
B1B
B2

400 x 800 mm
200 x 500 mm
200 x 300 mm

( Sumber : pulau intan, 2015)

Tie beam yang digunakan pada proyek ini terbuat dari beton bertulang
dengan mutu beton beton fc30 Mpa. Untuk tie beam yang diambil harus
memenuhi persyaratan teknis dan ekonomis.
D. Tinjauan Perencanaan Struktur Atas
Struktur atas (upper structure) adalah bagian dari struktur yang berfungsi
menerima beban mati, beban hidup, berat sendiri struktur dan beban-beban
lainya yang direncanakan. Selain itu, struktur bangunan atas harus mampu
menjamin segi keamanan dan kenyamanan serta ekonomis.

Beban-beban yang digunakan dalam bangunan ini harus mampu


mempunyai kriteria perencanaan antara lain kuat, tahan api (untuk struktur
utama), awet dalam jangka waktu umur rencana, mudah didapat dan
diaplikasikan,

ekonomis

(kualitas

baik,

harga

rendah

serta

mudah

pemeliharaannya). Bahan kontruksi yang memenuhi kriteria tersebut adalah


beton bertulang. Struktur bangunan ini tersusun atas beberapa elemen yang
memiliki fungsi berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Pekerjaan struktur atas di proyek pembangunan

Gedung Bank Yudha

Bhakti, terdapat empat pekerjaan utama yaitu:


1. Kolom (column)
2. Balok (beam)
3. Pelat lantai (slab)
4. Dinding Geser (Shear Wall)
1. Perencanaan Kolom
Kolom merupakan struktur utama dari bangunan yang berfungsi untuk
memikul beban vertikal, beban horisontal maupun beban momen baik
yang berasal dari beban tetap maupun beban sementara. Besarnya beban
bangunan tersebut juga menentukan dimensi kolom. Semakin besar
bebannya, maka bisa semakin besar dimensi kolom yang digunakan.
Beban tersebut antara lain beban mati berupa beban berat sendiri, beban
akibat balok dan plat lantai serta beban hidup. Selain itu kolom juga
memikul momen akibat beban lateral bangunan.
Untuk kolom pada bangunan sederhana bentuk kolom ada dua jenis yaitu
kolom utama dan kolom praktis.
a. Kolom Utama
Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang fungsi
utamanya menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah
tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar dimensi balok
untuk menompang lantai tidak begitubesar, dan apabila jarak antara kolom
dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus dihitung.
Sedangkan dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2

biasanya dipakai ukuran 20/20, dengan tulangan pokok 8 d12 mm, danbegel
d 8-10cm ( 8 d 12 maksudnya jumlah besi beton diameter 12mm 8 buah, 8
10 cm adalah begel diameter 8 dengan jarak 10 cm).
b. Kolom Praktis
Adalah kolom yang berfungsi membantu kolom utama dan juga sebagai
pengikat dinding agardinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter,atau
pada pertemuan pasangan bata, (sudut-sudut).Dimensi kolom praktis 15/15
dengantulangan beton 4 d 10 begel d 8-20.
Kekuatan balok dihitung berdasarkan anggapan sebagai berikut :
1) Distribusi regangan linier di seluruh tebal beton.
2) Tidak ada selip antara beton dan tulangan baja yang berarti regangan
pada baja sama dengan regangan pada beton yang mengelilinginya.
3) Regangan beton maksimum yang diijinkan pada keadaan runtuh
adalah 0,003.
Keruntuhan kolom dapat terjadi bila tulangan baja lelehnya karena tarik,
atau terjadi kehancuran pada beton yang tertekan, ada 3 kondisi keruntuhan,
yaitu:
1) Keruntuhan bahan dengan suatu lendutan kesamping yang tidak
berarti, yang biasanya terjadi pada kolom-kolom pendek tetapi dapat
pula terjadi pada suatu kolom dengan suatu rasio kelangsinga sedang
apabila terdapat momen ujung yang besar.
2) Keruntuhan diperhebat oleh lendutan kesamping dan momen
tambahan, type keruntuhan biasanya terjadi pada kolom-kolom
sedang.
3) Keruntuhan goyang yang terjadi pada kolom-kolom langsing dan
mungkin didahului oleh lendutan yang berlebihan.
Dimensi kolom yang dirancang bervariasi menurut beban yang diterima.
Perencanaan kolom yang direncanakan pada proyek Gedung Bank Yudha
Bhakti.
Tabel 3. Dimensi Kolom
Lantai

Pit Lift
Basement

Tipe

CT
CL
C0

Ukuran

Tulangan

Tulangan

(mm)

Pokok

Beigel

350x150
250x150
900x900

10D10
8D10
20D25

D10-150

Lantai 1

Lantai 2

Lantai 3

Lantai 4

Lantai 5

Lantai 6

Lantai 7

Lantai 8
Lantai

C0B
C0C
C1
C1B
C1C
C2
C2B
C2C
C3
C3B
C3C
C4
C4B
C4C
CS
C5
C5B
C5C
C6
C6B
C6C
C7
C7B

900x900
900x900
800x800
800x800
800x800
800x800
800x800
800x800
800x800
800x800
800x800
700x700
700x700
700x700
700x700
700x700
700x700
700x700
700x700
700x700
700x700
600x600
600x600

28D25
32D25
20D22
20D22
24D22
20D22
20D22
24D22
20D22
20D22
24D22
20D19
20D19
24D19
20D19
20D19
20D19
24D19
20D19
20D19
24D19
16D19
16D19

D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150
D10-150

C7C

600x600

16D19

D10-150

C8
C8B
C8C

600x600
600x600
600x600

16D19
16D19
16D19

D10-150
D10-150
D10-150

C8

500x500

16D13

D10-150

Atap
Sumber: (Drawing Detail Ukuran Tulangan Kolom, 2015)

a.
b.
c.
d.

Mutu beton
Selimut beton
Mutu Baja Tulangan
Nilai Slump beton

: K-350/30 MPa
: 75 mm
: Ulir (U50 / Fy = 500 Mpa)
: 12 2 cm

Semakin ke atas ukuran dimensi kolom akan semakin kecil, selain itu jumlah
tulangan kolom juga akan semakin dikit. Tulangan menggunakan baja ulir.
Sambungan tulangan kolom dilakukan apabila panjang tulangan kolom tidak
lagi mencukupi. Sambungan diusahakan pada posisi dimana kolom menerima
gaya momen lebih kecil. Sambungan tulangan kolom dilakukan apabila panjang
tulangan kolom tidak lagi mencukupi. Sambungan diusahakan pada posisi
dimana kolom menerima gaya momen lebih kecil.

2.

Perencanaan Balok
Perencanaan balok digunakan untuk menahan gayalintang, normal, momen

dan puntir yang mungkin bekerja pada balok tersebut. Balok berfungsi sebagai :
a.

Memikul beban yang diterima plat dan meneruskan beban ke kolom.

b.

Penghubung antar kolom yang satu dengan yang lain.

c.

Membagi plat menjadi segmen-segmen yang lebih kecil.


Balok anak berfungsi untuk mengurangi lendutan pada plat dan

meneruskan beban dari plat ke balok induk. Dimensi balok induk pada bangunan
ini sangat bervariasi tergantung dari besar kecilnya beban dan luas plat yang
dipikul oleh balok induk dan disesuaikan dengan perencanaan arsitekturnya.
Spesifikasi balok sebagai berikut :
Tabel 4. Dimensi Balok

Tipe

Ukuran
Tumpuan

B1B

B2B

BA2

BA1

B1B

BA2

400x800

400x700

400x600

400x600

200x500

200x500

Lapangan

400x800

400x700

400x600

400x600

200x500

200x500

Tulangan Pokok
Tumpuan

Lapangan

7D25,

3D25,

4D10,

4D10,

5D25
6D19,

5D25
3D19,

4D10,

4D10,

3D19
6D22,

5D19
3D22,

2D10,

2D10,

3D22
5D19,

5D22
3D19,

2D10,

2D10,

3D19
6D19,

5D19
2D19,

2D10,

2D10,

3D19
4D19,

4D19
2D19,

2D10,

2D10,

3D19

3D19

Tulangan Beigel
Tumpuan

Lapangan

D10-75

D10-150

D10-100 D10-200

D10-75

D10-150

D10-100

D10-200

D10-75

D10-150

D10-150

D10-200

Sumber: (Drawing Detail Ukuran Tulangan Balok, 2015)

a.
b.
c.
d.

Mutu beton
Selimut beton
Mutu Besi
Nilai Slump beton

: K-350/30 MPa
: 75 mm
: Ulir (U50 / Fy = 500 Mpa)
: 12 2 cm

3. Perencanaan Pelat Lantai


Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, jadi
merupakan lantai tingkat. Plat lantai direncanakan mampu menahan beban mati
dan beban hidup pada waktu pelaksanaan konstruksi maupun pada waktu
gedung dioperasikan. Plat lantai ini didukung oleh balok-balok yang bertumpu
pada kolom-kolom bangunan. Ketebalan plat lantai ditentukan oleh :
a. Besar lendutan yang diijinkan
b. Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung
c. Bahan konstruksi dan plat lantai
Berdasarkan aksi strukturalnya, pelat dibedakan menjadi empat (Szilard,
1974):
1) Pelat kaku
Pelat kaku merupakan pelat tipis yang memilikki ketegaran lentur
(flexural rigidity), dan memikul beban dengan aksi dua dimensi, terutama
dengan momen dalam (lentur dan puntir) dan gaya geser transversal, yang
umumnya sama dengan balok. Pelat yang dimaksud dalam bidang teknik
adalah pelat kaku, kecuali jika dinyatakan lain.
2) Membran
Membran merupakan pelat tipis tanpa ketegaran lentur dan memikul beban
lateral dengan gaya geser aksial dan gaya geser terpusat. Aksi pemikul beban
ini dapat didekati dengan jaringan kabel yang tegang karena ketebalannya
yang sangat tipis membuat daya tahan momennya dapat diabaikan.
3) Pelat flexibel
Pelat flexibel merupakan gabungan pelat kaku dan membran dan memikul
beban luar dengan gabungan aksi momen dalam, gaya geser transversal dan
gaya geser terpusat, serta gaya aksial. Struktur ini sering dipakai dalam

industri ruang angkasa karena perbandingan berat dengan bebannya


menguntungkan.

4) Pelat tebal
Pelat tebal merupakan pelat yang kondisi tegangan dalamnya menyerupai
kondisi kontinu tiga dimensi Perencanaan plat lantai harus memasukkan
beban mati dan hidup dengan dikalikan koefisien angka keamanan.
Fungsi plat lantai dalam konstruksi antara lain adalah :
a.

Sebagai lantai untuk kendaraan

b.

Sebagai diafragma untuk kestabilan konstuksi.

c.

Menahan beban diatasnya, seperti Beban kendaraan


(mobil), Beban Material atau Kendaraan lainnya.

d.

Menyalurkan beban ke balok di bawah.


Konstruksi pelat lantai pada Proyek Pembangunan Gedung Bank Yudha

Bhakti memiliki karakteristik sebagai berikut :


a. Tebal Pelat
Basement
Lantai 1 8

: 200 mm
: 120 mm

b. Mutu beton

: K-350/30 MPa

c. Nilai Slump beton


: 12 2 cm
d. Jenis Pelat
Wiremesh ( M7 150)
Wiremesh ( M10 150)
4. Perencanaan Shearwall
Shearwall (Dinding Geser) digunakan sebagai bagian struktur yang
memperkaku bangunan, terutama untuk menahan gaya lateral, seperti tiupan
angin atau goncangan gempa bumi.
Fungsi Shear Wall pada Gedung secara Umum :
1. Memperkokoh Gedung.

Dengan struktur dinding Beton bertulang, maka Dinding bukan hanya sebagai
penyekat ruangan tetapi berfungsi juga sebagai Struktur Bangunan yang ikut
memikul gaya2 beban yang bekerja pada Balok dan kolom sekitarnya.

2. Meredam Goncangan akibat Gempa.


Secara Geografis Negara kita pada umumnya dan daratan Flores pada
khususnya adalah tempat yang sangat rentan terhadap Gempa, Dengan
Dinding sistem Shearwall maka gaya gempa yang terjadi akan direduksi,
sehingga mampu mengurangi akibat yang terjadi pada bentuk bangunan yang
ada.
3. Mengurangi Biaya Perawatan Gedung.
Dengan semakin Kokohnya Gedung yang menggunakan Shearwall, maka
kerusakan-kerusakan yang timbul akibat guncangan Gedung akibat Gempa
bisa di minimalisir sehingga akan mengurangi biaya perawatan yang
seharusnya dikeluarkan apabila gedung tidak menggunakan jenis dinding ini.
4. Daya Pikul Beban disekitar dinding mampu ditingkatkan.
Dengan dinding jenis Shearwall maka kemampuan lantai beton diatasnya
untuk menerima beban semakin naik, besarnya kekuatan lantai akan
berbanding lurus dengan ketebalan shearwall itu sendiri.
5. Umur Pakai Gedung semakin lama.
Pada proyek Pembangunan Gedung Bank Yudha Bhakti ini Kontruksi
Shearwall ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.
b.

Tipe Shearwall
Tebal dinding

: SW1

c.

Mutu beton

: K-350/30 MPa

d.
e.

Mutu Besi
Nilai Slump beton

: Ulir (U50 / Fy = 500 Mpa)


: 12 2 cm

: 250 mm

E. Tinjauan Perencanaan Mekanikal dan Elektrikal

Perencanaan mekanikal dan elektrikal sebagai kelengkapan fasilitas


yang harus dipenuhi sebagai fungsi gedung untuk perkantoran. Instalasi
tersebut merupakan hal penting dan menjadi kebutuhan primer. Pekerjaan
mekanikal dan elektrikal meliputi :
1. Conveyor
Sistem pengangkutan berupa muatan material biji besi dengan kapasitas
yang cukup besar yang terhubung dengan chute dan transfer tower.
2. Chute
Sistem Pengarah keluarnya material dari conveyor agar keluarnya material
terarah dan discharge ini juga sebagai loading chute conveyor yang lain.
3. Transfer tower
Perencanaan transfer tower untuk menyokong conveyor agar elevasinya
dapat lebih tinggi dari tempat jatuhnya material.
4. Cable Tray
Cable tray merupakan dudukan kabel dalam system elektrikal.
5. Pulling Cable
Perencanaan elektrikal berupa tempat kumpulan kabel yang berguna untuk
penarikan kabel.
6. Field Device
Perencanaan sistem perangkat elektrikal di lapangan yang membentuk
sebuah jaringan distribusi elektrikal.
7. Lighting / Instalasi Penerangan
Perencanaan terhadap tata letak kabel-kabel pada struktur, kabel ditanam
dalam plat/balok atau diletakan di luar plat/balok. Perencanaan terhadap tata
latak lampu-lampu pada ruangan atau bagian lain termasuk jenis lampu yang
digunakan.
8. Tata Suara
Perencanaan terhadap tata letak kabel-kabel pada struktur, kabel ditanam
dalam plat/balok atau diletakan di luar plat/balok. Perencanaan terhadap tata
latak lampu-lampu pada ruangan atau bagian lain termasuk jenis lampu yang
digunakan.
9. Penangkal Petir

Perencanaan peletakan penangkal petir yaitu direncanakan dipasang pada


ujung-ujung atap yang tinggi dan diperkirakan sebagai tujuan arah petir.

10. Sistem Komunikasi (telepon)


Sistem jaringan komunikasi yang ada adalah berupa jaringan telepon,
wireless, serta koneksi internet.
11. Sistem Fire Alarm dan hydrant
Pemasangan fire alarm sebagai standar keamanan

pada setip lantai

gedung dan pemasangan instalasi hydrant bertujuan untuk mengantisipasi dan


merupakan penanggulangan pertama bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
12. Sistem Pekerjaan Plumbing (air bersih, air kotor, air hujan, air
limbah)
Perencanaan terhadap letak pipa-pipa pada struktur, pipa ditanaman dalam
plat atau diletakan di luar kolom/balok. Sistem pekerjaan plumbing dikerjakan
sebelum proses pengecoran.
13. MATV (Master Antena Television)
Perencanaan terhadap MATV (Master Antena Television) diletakkan pada
atas gedung.
14. Genset
Perencanaan peletakan genset yaitu direncanakan dipasang pada setiap
lantai yang letaknya berada di setiap sudut ruangan yang tidak dapat
mengganggu aktivitas orang bekerja.
15. Instalasi Pemadam Kebakaran
Perencanaan instalasi pemadam kebakaran yang baik harus mampu
memberikan peringatan dini tentang adanya kebakaran dan melakukan
pemadaman api dan evakuasi dalam waktu singkat. Namun tak jarang, kondisi
normal menyebabkan pengguna lalai untuk memperhatikan managemen
pengaturan, kesiapan, utilisasi dan kelayakannya
16. Tata udara
Perencanaan tata udara harus memperhatikan hal sebagai berikut :
a. Kenyamanan.
b. Paket peralatan pengkondisian udara.

c.
d.
e.
f.
g.
h.
17.

Peralatan paket air sejuk jenis sentrifugal atau rotari.


Peralatan pendingin unitari (unitary cooling equipment).
Psychometric.
Sistem.
Terminal.
VAC (Ventilating and air conditioning = ventilasi & pengkondisian udara).
Sewage Treatment Plant
Sewage Treatment Plant merupakan bangunan instalasi sistem pengolah

limbah rumah tangga atau limbah cair domestik termasuk limbah dari dapur,
air bekas, air kotor, limbah maupun kotoran.
Limbah yang mengandung logam berat akan mendapat perlakuan khusus,
bukan termasuk dalam limbah domestik.
Tujuan dari system pengolahan limbah cair domestik adalah agar limbah
tidak mengandung zat pencemar lingkungan, sehingga layak buang sesuai
dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
Selanjutnya, bila kita telaah pengertian STP (Sewage Treatment Plant)
kata demi kata, sewage artinya kotoran atau limbah, Treatment artinya
perawatan, dan plant artinya Bangunan atau instansi atau tempat, Maka
Sewage Treatment Plant atau sering disingkat STP ini adalah Proses
Pengolahan Limbah di suatu Bangunan atau Instansi. STP ini Tidak jauh
berbeda dengan Septik Tank. STP biasanya digunakan di suatu bangunan
yang besar, sementara septink tank identik dengan rumahan.
Didalam STP terdapat bagian-bagian utama. STP mempunyai beberapa
Chamber yang setiap chamber memiliki fungsinya tersendiri. Ada yang
disebut sistem Aerasi atau system back wash. Pada intinya system ini
merupakan

pemberian

gelembung

udara

yang

dimaksudkan

untuk

menghidupkan bakteri yang terdapat didalammnya. Bakteri ini berfungsi


untuk menghancurkan sewage yang berbentuk keras. Bakteri pengurai ini
menghancurkan sewage hingga di akhir output STP berupa limbah yang
berbentuk air bening.
Sewage Treatment plant ini biasanya digunakan di hotel, gedung
bertingkat dan sebagainya. Hasil-hasil buangan dari Sewage Treatment Plant
seperti minyak dan lemak dari buangan dapur harus dipisahkan dahulu
minyak dan lemaknya dari air sebelum masuk ke bak bak pengolahan.

Demikian juga dengan hasil buangan laundry, idealnya harus melalui


pretreatment dahulu yaitu koagulasi, flokulasi, netralisasi, dan sedimentasi.
Untuk itu diperlukan chemical atau bahan kimia yang sesuai dengan fungsi
masing masing.
Hasil dari buangan WC atau Toilet diperlukan penghancur untuk benda benda
kasar dan kemudian disaring, baru hasil buangan tersebut masuk ke dalam
bak-bak pengolahan sehingga effluent dari prosess pengolahan sewage ini
dapat dibuang ke saluran kota dengan kualitas yang disyaratkan, bahkan dapat
di recycling untuk penyiraman tanaman.
Bagian-bagian STP
1. Motor dan mesin blower
2.

Control Panel

3.

Pompa-pompa

4.

Peralatan sedimentasi

5.

Water level control (WLC) dan Elektroda

18. Ground Water Tank


Kebutuhan air yang cukup besar dan kurangnya pasokan air yang memadai
menjadi alasan dibutuhkannya sistem penyimpan air tambahan, salah satunya
adalah dengan tower water tank (menara tangki air) dan ground tank (tangki
bawah tanah). Untuk alasan estetika/ keindahan dan biaya, biasanya banyak
orang lebih memilih menggunakan ground tank, karena letaknya yang tidak
kelihatan (terpendam di bawah tanah) dan dari segi pembuatan juga relatif
lebih murah jika dibandingkan tower water tank karena tidak perlu struktur
kolom dan balok.
Mekanisme kerjanya adalah sumber air dari sumur dipompa keatas,
kemudian disimpan di ground tank. Lalu dari ground tank ini akan dipompa
lagi ke water tank di atap (ukuran kecil), baru diedarkan ke saluran-saluran air
dibawahnya.
Campuran beton yang dipakai dalam pembuatan ground tank harus tepat
dan kedap air (water proof).

19. Lift
Didalam perencanaan instalasi Lift, yang harus di perhatikan :
a. Pola lalu lintas orang dan barang disekitar dan didalam gedung harus
diperhatikan
b. Lift penumpang barang dan kebakaran harus terpisah.
c. Cara penanggulangan jika terjadi keadaan darurat.
F. Tinjauan Perencanaan Pembebanan
Analisis pembebanan merupakan hal yang pertama kali harus dihitung
dalam melakukan desain pada perencanaan struktur. Analisis pembebanan,
bisa didapatkan gaya-gaya dalam ultimate seperti momen ultimate (M U),
geser ultimate (VU), Torsi, dan gaya aksial. Dari gaya dalam yang telah
didapatkan, dapat dilakukan desain penampang struktur untuk menahan gayagaya dalam tersebut. SK-SNI 2002, dikenal istilah kuat rencana yang
merupakan kekuatan yang direncanakan untuk dapat memikul beban-beban
gaya dalam terfaktor ultimate. Metoda LRFD, kuat rencana ini dihitung dari
kuat nominal yang direduksi oleh suatu faktor keamanan sehingga beban
yang terjadi tidak lebih besar dari kapasitas penampang yang ada.
Pembebanan pada Proyek pembangunan Gedung Bank Yudha Bhakti ,
direncanakan untuk memikul beban hidup dan beban mati. Perencanaan
pembebanan untuk masing-masing lantai adalah berbeda tergantung dari
fungsi lantai tersebut. Bangunan Gedung Bank Yudha Bhakti ini memiliki
bagian-bagian yang memiliki fungsi yang berbeda-beda, maka dalam
pembebanannya, dapat dilakukan pembagian-pembagian. Peraturan yang
digunakan dalam perencanaan pembebanan, yaitu peraturan dari Buku
Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung 1987. Untuk
perencanaan penampang beton dan baja digunakan Peraturan Beton Indonesia
1971, SNI 2002 dan ASTM. Berdasarkan arah dari beban, maka dapat
dikelompokan dua macam beban, yaitu:
1. Beban Vertikal
Beban vertikal dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu beban mati dan beban
hidup. Beban mati adalah berat dari semua bagian bangunan gedung yang bersifat
tetap, termasuk peralatan tetap yang tidak terpisahkan dari gedung. Beban hidup
adalah berat semua beban yang terjadi akibat penggunaan dari gedung tersebut,

termasuk peralatan yang sering berpindah posisi sehingga mengakibatkan


perubahan pada pembebanan yang ada.
Tabel 5. Besar Beban Mati untuk Material Bangunan

Specific Gravity (Kg/m3)


2200
2400
7850
1000
1600

Material
Beton tanpa tulangan
Beton bertulang
Baja
Kayu
Pasir

(Sumber: Buku pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 1987)

Tabel 5 menjelaskan material bangunan yang digunakan dalam proyek


pembangunan Gedung Bank Yudha Bhakti dan termasuk beban mati dalam
pembebanan.
Tabel 6. Besar Beban Mati untuk Komponen Bangunan

Komponen
Mortar ( per 1 m)
Batu bata
Tegel semen
Langit-langit (tidak termasuk penggantung)
Struktur penggantung langit-langit
Keramik (tidak termasuk mortar)
Struktur atap baja

Berat Satuan ( Kg/m2)


21
250
10
11
7
24
10 + 0,8 L

(Sumber: Buku pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 1987)

Tabel 6 menjelaskan material komponen bangunan yang digunakan dalam


proyek pembangunan Gedung Bank Yudha Bhakti dan termasuk beban mati dalam
pembebanan.
Tabel 7. Besar Beban Hidup untuk Struktur Bangunan

Ruang
Tangga, bordes tangga
Lantai pabrik, bengkel, perpustakaan, toko buku, ruang
mesin
Lantai dan tangga rumah tinggal
Lantai sekolah, kantor, toko, restoran, hotel
Lantai ruang olahraga

Beban(Kg/m2)
300
400
200
250
400

Lantai gedung bertingkat


Lantai bawah

800

Lantai tingkat lainnya

400

Balkon yang menjorok keluar (minimum)

300

(Sumber: Buku pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 1987)

Tabel 7 menjelaskan struktur

bangunan yang digunakan dalam proyek

pembangunan Gedung Bank Yudha Bhakti dan termasuk beban hidup dalam
pembebanan.
2. Beban Horisontal
Beban horisontal adalah beban yang bekerja dalam arah lateral dari
bangunan, ada dua beban yang bekerja secara lateral yaitu:
a. Beban angin, yaitu semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian
gedung yang disebabkan oleh selisih dari tekanan udara.
b. Beban gempa, yaitu semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung
atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat
gempa tersebut. Pengaruh gempa pada gedung dicari dengan menggunakan
analisis dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah
gaya-gaya didalam struktur yang terjadi akibat adanya gerakan tanah akibat
gempa.
3. Beban Khusus
Beban khusus adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian
gedung yang terjadi akibat adanya selisih suhu, pengangkatan dan pemasangan,
penurunan pondasi, susut, gaya-gaya tambahan yang berasal dari beban hidup
seperti gaya sentrifugal dan gaya dinamis yang berasal dari mesin-mesin, serta
pengaruh-pengaruh khusus lainnya.
4. Beban angin
yaitu semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang
disebabkan oleh selisih dari tekanan udara.
5. Beban gempa
Yaitu semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian
gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa tersebut. Jika

pengaruh gempa pada gedung dicari dengan menggunakan analisis

dinamik

maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya - gaya didalam
struktur yang terjadi akibat adanya gerakan tanah akibat gempa.