Anda di halaman 1dari 7

ivancavich@gmail.

com
ACARA II
UJI FORMALIN
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum

: Untuk mengetahui ada tidaknya formalin dalam makanan.

Hari, Tanggal

: Kamis, 8 Desember 2011

Tempat Praktikum

: Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA,


Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini adalah salah satu zat tambahan makanan
yang dilarang. Meskipun sebagian banyak orang sudah mengetahui terutama produsen bahwa zat ini
berbahaya jika digunakan sebagai pengawet, namun penggunaannya bukannya menurun namun malah
semakin meningkat dengan alasan harganya yang relatif murah disbanding pengawet yang tidak dilarang
dan dengan kelebihan. Formalin sebenarnya bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan
merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Memang orang yang mengkonsumsi bahan
pangan (makanan) seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan dan bahkan permen, yang berformalin dalam
beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Tapi efek dari bahan pangan (makanan) berformalin baru
bisa terasa beberapa tahun kemudian. Formalin dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran
pencernaan dan saluran pernafasan. Di dalam format terutama di hati dan sel darah merah. Pemakaian
pada makanan dapat mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut
disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau kegagalan peredaran darah
(Effendi,2009).

Efek berbahaya dari suatu bahan toksik tidak selalu ditunjukkan dengan sudah jatuhnya
korban. Selama ini belum ada korban kematian karena memakan ikan ber formalin. Formalin
yang ditambahkan dalam ikan tidak akan memberikan efek pada tubuh dalam jangka pendek.
Efek negatif formalin yang digunakan dalam pangan bersifat menahun, apabila tercemar dalam
jumlah banyak. Gangguan kesehatan formalin yang ringan adalah rasa terbakar pada
tenggorokan dan sakit kepala. Belum ada antidot untuk menetralisir racun formalin (Adiseno,
2005). Suatu bahan toksik yang masuk tubuh akan mengikuti sirkulasi darah, tereliminasi dan

terabsorbsi pada sel reseptor (Donatus, 2001). Salah satu organ yang terkena dampak paparan
ikan ber formalin adalah ginjal. Fungsi utama ginjal adalah menyingkirkan buangan metabolisme
normal, mengekskresi xenobiotik dan metabolitnya dan fungsi non ekskretori. Urin adalah jalur
utama ekskresi toksikan sehingga ginjal mempunyai volume aliran darah yang tinggi,
mengkonsentrasikan toksikan pada filtrat, membawa toksikan melalui sel tubulus. Glomerolus
berfungsi sebagai filtrasi, merupakan saringan makro melekul yang selektif, sedangkan tubulus
proksimal berfungsi untuk menyerap makromolekul, juga memiliki pompa natrium K-NaATPase yang berfungsi untuk transpor aktif ion natrium keluar sel (Jonqueira dan
Carneiro,1980). Menurut Hole (1993) bila tekanan darah menurun, tekanan hidrostatik pada
glomerulus juga menurun sehingga terjadi nekrosis tubulus. Epitel tubulus terutama tubulus
proksimal sangat peka terhadap eskemia. Iskemia ringan menyebabkan rusaknya sel tubulus,
iskemia berat dan lama menyebabkan semua unsur dalam korteks ginjal dan sel tubulus rusak.
Ikan nila digunakan untuk mendapatkan gambaran kerusakan ginjal mencit akibat paparan ikan
ber formalin 0.2 ppm dan 0.5 ppm/oral/3bulan.
Baru-baru ini kita dihenyakkan lagi oleh pemberitaan soal makanan yang mengandung
formalin. Bahkan lebih mengagetkan lagi, zat pengawet mayat ini juga dimanfaatkan industri
untuk campuran produk kebutuhan sehari-hari yang biasa kita konsumsi. Sebenarnya berapa
batas toleransi Formaldehida (formalin adalah nama dagang zat ini) yang dapat diterima tubuh
manusia kita dengan aman? Dalam bentuk air minum, menurut International Programme on
Chemical Safety (IPCS), adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan
adalah 0,2 mg. Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk
orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Berdasarkan standar Eropa, kata Drs
Bambang Eru Wibowo, peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),
kandungan formalin yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1
mg/liter).
Sementara itu, berdasarkan hasil uji klinis, kata peneliti di Departemen Ilmu dan
Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor Nuri Andarwulan, dosis toleransi tubuhmanusia pada
pemakaian secara terus-menerus (Recommended Dietary Daily Allowances/RDDA) untuk
formalin sebesar 0,2 miligram per kilogram berat badan. Misalnya berat badan seseorang 50
kilogram, maka tubuh orang tersebut masih bisa mentoleransi sebesar 50 dikali 0,2 yaitu 10
miligram formalin secara terus-menerus. Sedangkan standar United State Environmental

Protection Agency/USEPA untuk batas toleransi formalin di udara, tercatat sebatas 0.016 ppm.
Sedangkan untuk pasta gigi dan produk shampo menurut peraturan pemerintah di negara-negara
Uni

Eropa

(EU

Cosmetic

Directive)

dan

ASEAN

(ASEAN

Cosmetic

Directive)

memperbolehkan penggunaan formaldehida di dalam pasta gigi sebesar 0.1 % dan untuk produk
shampoo dan sabun masing-masing sebesar 0.2 %. Peraturan ini sejalan dengan ketentuan yang
ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan makanan (BPOM) di Indonesia (Keputusan Kepala
Badan Pengawas Obat & Makanan RI No HK.00.05.4.1745, Lampiran III "Daftar zat pengawet
yang diizinkan digunakan dalam Kosmetik dengan persyaratan..." no 38 : Formaldehid dan
paraformaldehid).
Berbagai standar menyatakan batas toleransi formalin di dalam tubuh tapi Nuri
Andarwulan bersikeras menyatakan pemakaian formalin dan pengawet berbahaya tidak dapat
ditoleransi, meski metabolisme tubuh manusia masih mampu menyerap bahan berbahaya pada
dosis tertentu. Ahli bahan berbahaya dari Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Riswiyanto mengatakan keberadaan formalin di dalam
bahan makanan berbahaya bagi kesehatan, karena pada dasarnya formalin bukan pengawet
makanan. Bahkan keberadaan formalin dalam permen adalah hal yang aneh. Karena sebenarnya
pengawetan permen cukup menggunakan gula yang memang banyak digunakan sebagai bahan
dasar permen. Glukosa dan sukrosa adalah bahan pengawet yang lazim digunakan dalam
makanan, ungkapnya.
Formalin diklasifikasikan Badan Penelitian Lingkungan Hidup AS (United State
Environmental Protection Agency/USEPA) sebagai probable human carcinogen, karena buktibukti yang cukup berkaitan antara formalin dengan kanker pada manusia. Terbukti juga
menyebabkan penyakit, asma dan kulit, kata Riswiyanto. Melihat begitu besar dampak buruk
formalin pada kesehatan manusia, maka Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
meminta pemerintah untuk menerapkan sanksi tegas terhadap pelanggaran ambang batas
penggunaan formalin. Hal itu disampaikan Indah Sukmaningsih, pengurus harian Yayasan
Lembaga Konsumen Indonesia. Sanksi tersebut tentunya masih berpatokan pada undang-undang
tentang pangan, yang menyatakan pelaku yang sengaja menggunakan formalin dapat diancam
hukuman lima tahun kurungan dan atau denda Rp 600 juta. Sementara itu untuk menjerat pelaku
dimungkinkan menggunakan UU Perlindungan Konsumen yang menerapkan sanksi 15 tahun
penjara serta ganti rugi Rp2 miliar, namun demikian untuk menjerat melalui UU ini harus ada

pengaduan konsumen dan bukti fisik akibat mengkonsumsi bahan berbahaya tersebut. Ia juga
menyarankan adanya keterlibatan pemerintah daerah masing-masing dan mengusulkan kontrol
peredaran formalin di masyarakat dilakukan sama dengan perlakuan terhadap obat-obatan.
Misalnya menggunakan resep untuk dapat membeli formalin. Supaya mudah pengawasan
peredarannya.
Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan :
- Jika terhirup
Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit
kepala, kanker paru-paru.
- Jika terkena kulit
Kemerahan, gatal, kulit terbakar
- Jika terkena mata
Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan
- Jika tertelan
Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung,
kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.
Mendeteksi Formalin secara phisik
- Ayam potong berwarna putih bersih, awet dan tidak mudah busuk
- Bakso yang tidak rusak sampai 5 hari pada suhu kamar dan memiliki tekstur
yang sangat
kenyal
- Ikan basah yang tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar, insang berwarna
merah tua
dan tidak cemerlang, bau menyengat khas formalin.
- Ikan asin yang tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar, warna
ikan bersih
dan cerah, namun tidak berbau khas ikan asin.
- Tahu yang biasanya berbentuk bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet hingga
lebih dari

3 hari, bahkan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, bau menyengat khas
formalin.
- Mie Basah biasanya lebih awet sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat
celcius), bau
menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.
C. ALAT DAN BAHAN
Alat
- Gelas beaker 250mL
- Gelas beaker 1000 mL
- Penangas air
- Pipet tetets
- Pipet volume
- Rubber bulb

Bahan
-

Sampel makanan yang akan diuji : tahu, cilok, mie, cumi.

Aquades

Larutan asam kromatofat

Formalin (sebagai standar)

D. SKEMA KERJA
E. HASIL PENGAMATAN
No
Perlakuan
Hasil pengamatan
1
Untuk pembuatan asam kromatofat, Setelah asam kromatofat dilarutkan dalam
dilakukan penimbangan sebanyak asam asetat 10% asam kromatofat larut dan
2,5 gram asam kromatofat dan membentuk

larutan

berwarna

hijau

kemudian dilarutkan dalam asam kecoklatan (hijau lumut)


asetat 10% (yang dibuat dengan
mengencerkan asam asetat glasial 10
2

mL ke dalam labu takar 100mL)


Sebanyak
500
mL
aquades Aquades yang akan digunakan dididihkan
dididihkan
1000mL.

dalam

gelas

beaker sampai suhu 100oC, proses pendidihan ini


membutuhkan waktu 30 menit.

Air mendidih dimasukkan dalam Setelah ditambahkan air mendidih, tidak


sampel yang akan diuji

terjadi perubahan warna larutan (tetap


bening

dengan

sampel

makanan

di

dalamnya)
Sampel ditambahkan dengan asam Setelah ditambahkan asam kromatofat,
kromatofat

warna larutan sampel uji sama dengan


warna larutan asam kromatofat dan tidak
terjadi perubahan warna lainnya. Setelah
sampel diaduk dan dihancurkan sampai
larut belum juga terjadi perubahan warna
(warna

tetap

seperti

warna

asam

kromatofat)
Sampel uji dimasukkan dalam gelas Setelah dimasukkan dalam air mendidih,
beaker yang berisi air yang mendidih sampel tidak juga menunjukkan perubahan
(air tersebut masih dipanaskan dalam apapun.

penangas air)
Untuk standar ke dalam gelas beaker Formalin yang dimasukkan dalam beaker
250mL dimasukkan 50 mL formalin, merupakan larutan tidak berwarna dan
kemudian

ke

dalma

formalin memiliki

ditambahkan asam kromatofat.

bau

ditambahkan

menyengat.

asam

kromatofat,

Setelah
warna

larutan hampir sama dengan warna larutan


asam kromatofat (hijau kecoklatan) dimana
setelah diaduk lebih lama warna larutan
menjadi sedikit merah seperti warna teh.
Namun hasil ini menunjukkan bahwa hasil
analisis tidak berhasil karena seharusnya
terjadi perubahan warna larutan menjadi
merah

muda

menunjukkan
(berhasil).
F. ANALISIS DATA
Perasamaan reaksi:

hingga
bahwa

ungu

yang

pengujian

positif

G. PEMBAHASAN
H. PENUTUP