Anda di halaman 1dari 9

TUGAS KIMIA KOORDINASI

SENYAWA KOMPLEKS RADIOLANTANIDA LUTESIUM-177


(177Lu) - DI-n-BUTIL DITIOKARBAMAT UNTUK RADIOPERUNUT
DI INDUSTRI

Disusun Oleh :

Octavia Uriastanti
4311412064

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

SENYAWA KOMPLEKS RADIOLANTANIDA LUTESIUM-177 (177Lu) - DI-nBUTIL DITIOKARBAMAT UNTUK RADIOPERUNUT DI INDUSTRI
Octavia Uriastanti
Gedung D4 Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Semarang
Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Indonesia
uriastantioctavia@ymail.com, 085741977495

Abstrak
Penggunaan radioisotop unsur tanah jarang atau lantanida dengan umur paro
pendek menjadi perhatian di bidang industri, khususnya radioisotop pemancar
gamma energi rendah. Radioisotop lutesium- 177 ( Lu) mempunyai umur paro 6,7
hari, pemancar gamma dengan energi maksimum 113 keV (6,4%) dan 208 keV
(11%) yang cocok digunakan untuk perunut radioaktif di bidang industri. Sintesis
senyawa kompleks menggunakan ligan golongan ditiokarbamat (-NC(=S)-S-)
dengan suatu ion logam lantanida akan membentuk senyawa kompleks khelat yang
netral dengan kemampuan mengikat logam yang kuat.
177

A. Pendahuluan
Radioisotop 177Lu selama ini banyak dimanfaatkan untuk terapi atau
pengobatan gangguan fungsi organ tubuh manusia, karena radioisotop tersebut
mempunyai karakteristik yang ideal yaitu umur paro pendek 6,7 hari, mengemisikan
energi sinar beta, Emaks 497 keV (78,6 %), 384 keV (9,1 %) dan 176 keV (12,2 %) (1).
Terapi tumor dengan antibodi bertanda 177Lu merupakan aplikasi dari radioisotop ini,
terapi perlakuan terhadap metastase tulang juga menggunakan senyawa kompleks
177Lu- DMSA (dimercarto succinic acid) (2). Keunggulan yang dimiliki oleh
radioisotop 177Lu adalah kegunaannya di segala bidang kebutuhan manusia, yaitu
selain bidang kesehatan juga dapat dikembangkan untuk bidang industri. Radioisotop
177Lu selain memancarkan partikel beta juga dapat meluruh menjadi unsur 177Hf yang
bersifat stabil dengan memancarkan sinar gamma dengan energy maksimum E = 0,113
MeV (6,4 %) dan 0,208 MeV (11%), sehingga dapat diaplikasikan untuk perunut
radioaktif di bidang industri.
Untuk diaplikasikan sebagai perunut raduoaktif, 177Lu dikomplekskan dengan
ligan di-nbutilditiokarbamat. Selama ini radioisotop yang sering digunakan pada
aplikasi di bidang industri seperti lokalisasi water flooding, evaluasi kapasitas produksi
sumur minyak dan penentuan kebocoran pipa di bawah tanah, adalah senyawa organik
bertanda 131I, seperti C2H5 131I (etil-iodida) atau CH3 131I (metil-iodida) dengan
umur paro radioisotope 131I adalah 8 hari dan memancarkan sinar gamma dengan
E=0,364 MeV (1,3). Akan tetapi senyawa organik yang mengandung gugus metil atau

etil mempunyai kelemahan dalam hal cara menentukan efisiensi ekstraksi pemisahan
sebagai pengompleks. Oleh karena itu perlu dikembangkan senyawa organik yang dapat
memberikan efisiensi ekstraksi lebih tinggi, seperti kompleks dengan ligan dalam
bentuk senyawa organik yang mempunyai gugus alkil lebih panjang. Salah satu ligan
pengompleks tersebut adalah di-nbutilditiokarbamat yang mengandung gugus butil.
Dengan menggunakan senyawa kompleks radiolantanida lutesium-177 (177lu) di-n-butil ditiokarbamat, maka tidak akan terlalu membahayakan makhluk hidup dan
lingkungan sekitar karena waktu paruh yang pendek. Selain itu sinar gamma yang
dimunculkan cukup rendah. Ligan di-nbutil ditiokarbamat juga membantu efesiensi
ekstraksi pemisahan saat dikomplekskan dengan 177Lu.

B. Pembahasan
Senyawa kompleks memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari - hari.
Aplikasi senyawa ini meliputi bidang kesehatan, farmasi, industri, dan lingkungan.
Manusia setiap hari senantiasa memerlukan oksigen untuk bernapas. Proses pengikatan
oksigen oleh Fe menjadi senyawa kompleks dalam tubuh merupakan salah satu contoh
aplikasi senyawa kompleks dalam keseharian. Senyawa kompleks terbentuk akibat
terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara suatu atom atau ion logam dengan suatu
ligan ( ion atau molekul netral ). Logam yang dapat membentuk kompleks biasanya
merupakan logam transisi, alkali, atau alkali tanah. Studi pembentukan kompleks
menjadi hal yang menarik untuk dipelajari karena kompleks yang terbentuk
dimungkinkan memberi banyak manfaat, misalnya untuk ekstraksi dan penanganan
keracunan logam berat.
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion logam
pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebasnya
kepada ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan kepada ion logam pusat
menghasilkan ikatan kovalen koordinasi sehingga senyawa kompleks juga disebut
senyawa koordinasi. Senyawa-senyawa kompleks memiliki bilangan koordinasi dan
struktur bermacam-macam. Mulai dari bilangan koordinasi dua sampai delapan dengan
struktur linear, tetrahedral, segi empat planar, trigonal bipiramidal dan oktahedral.

Namun kenyataan menunjukkan bilangan koordinasi yang banyak dijumpai adalah


enam dengan struktur pada umumnya oktahedral. (Iis Siti Jahro)
Lutesium pertama kali ditemukan pada tahun 1907 oleh Baron Carl Auer von
Welsbach, Georges Urbain, dan Charles James saat masing-masing dari mereka
melakukan penelitian di tempat yang berbeda.[2]Mereka meneliti mineral yang diduga
murni terdiri dari iterbium, tetapi pada akhirnya diketahui bahwa mineral tersebut juga
merupakan kombinasi dari lutesium dan beberapa unsur kimia lain.[4]
Lutesium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang Lu dan nomor atom 71.[2][3] Lutesium merupakan logam berwarna campuran
antara putih dan perak yang tahan terhadap korosidan termasuk hasil bumi yang langka.
[4]

Lutesium merupakan logam terkeras dan terpadat dalam golongan lantanida yang

terletak pada kolom terakhir dari golongan tersebut pada tabel periodic. Massa atom
lutesium cukup besar bila dibandingkan dengan ukurannya, sehingga lutesium
memiliki titik didihdan titik lebur yang tinggi.[4] Sebenarnya elektron unsur lutesium
tidak sepenuhnya mengisi orbital d, tetapi tetap digolongkan ke dalam lantanida karena
memiliki ciri-ciri fisik dan kimiawi yang sangat mirip dengan 14 unsur kimia golongan
lantanida lainnya.
Lutesium memiliki 59 isotop, namun hanya ada dua isotop yang stabil, yaitu Lu175 dan Lu-176.[2][4] 97,41% dari total lutesium yang ditemukan di muka bumi
merupakan Lu-175, sedangkan hanya 2,59% yang merupakan Lu-176.[2][4][6] Meskipun
kurang berlimpah dan bersifatradioaktif, unsur Lu-176 mampu bertahan selama
4x1010 tahun. 33 radioisotop telah dikarakterisasi salah satunya Lu-177, dengan yang
paling stabil yang terdapat di alam 176Lu, dan isotop buatan 174Lu dengan waktu paruh
3,31 tahun, dan 173Lu dengan waktu paruh 1,37 tahun. Semua isotop radioaktif yang
tersisa mempunyai waktu paruh yang kurang dari 9 hari, dan mayoritasnya mempunyai
waktu paruh kurang dari 1 jam. Lu-177 sendiri memilki waktu paruh 6,7 hari. Isotop
dari lutesium telah diketahui mempunyai rentang berat atom antara 149.973 (150Lu)
sampai 183.961 (184Lu).
Pembuatan Lu-177 dapat dilakukan denganmetode langsung dan tidak langsung.
Cara langsung dilakukan dengan mengiradiasi Lu-176 diperkaya di reaktor melalui
penangkapan elektron. Akan tetapi, metode langsung mempunyai kelemahan yaitu
adanya radioisotop pengotor berupa Lu-177m dengan waktu paruh 160 hari [Bentor,

2012]. Adanya radioisotop Lu-177m akan mengganggu kualitas produk Lu-177 yang
dihasilkan. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan pembuatan Lu-177 secara
tidak langsung dengan mengiradiasi Yb diperkaya. Jalur pembuatan Lu-177 secara tidak
langsung ditampilkan pada Gambar 1.

Ditiokarbamat adalah senyawa ligan yang terbentuk sebagai hasil reaksi


antara amina sekunder dengan karbon disulfida pada suasana basa pada suhu sekitar 500
C (Stary dan Irving, 1964). Hasil sintesis ligan dialkilditiokarbamat ini mempunyai
karateristik yang khas, yaitu kristal yang berwarna kuning.
mempunyai

beberapa

persenyawaan

dietilamoniumditiokarbamat,

antara

dipropilditiokarbamat,

lain

Ligan ditiokarbamat
dietilditiokarbamat,

dibutilditiokarbamat

dan

dibenzilditiokarbamat. Ditiokarbamat merupakan suatu senyawa yang dihasilkan dari


reaksi amina dan karbon disulfida. Untuk kegunaan komersial, ditiokarbamat dibedakan
dalam tiga katagori yaitu : garam ditiokarbamat, ester ditiokarbamat, dan
tiuramdisulfida ditiokarbamat. Pada umumnya ditiokarbamat terdekomposisi dengan
mudah oleh asam mineral encer panas, menghasilkan karbon disulfida dan amina. Ligan
dialkilditiokarbamat merupakan suatu ligan yang mempunyai 2 atom sulfur yang
bertindak sebagai donor elektron. Ligan ini dapat disintesis berdasarkan reaksi antara
suatu amina sekunder dengan karbon disulfida. Dengan R adalah gugus alkil, sehingga
untuk mensintesis garam amonium dibutilditiokarbamat, maka sebagai amina sekunder
digunakan dibutilamin (Snell dan Effrey, 1976) dengan reaksi sebagai berikut :

Gambar 2. Reaksi Sintesis Ligan Dialkilditiokarbamat


Ligan dibutilditiokarbamat dapat disintesis dengan cepat berdasarkan reaksi
antara dibutilamin dengan karbon disulfida (Snell dan Effrey, 1976). Ligan
dibutilditiokarbamat pada umumnya berbentuk garam natrium dibutilditiokarbamat atau
amonium dibutilditiokarbamat yang berbentuk kristal dan berwarna putih kekuningan.
Ligan ini mudah larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organik, sedangkan
bentuk asam bebasnya yaitu asam dibutilditiokarbamat yang merupakan asam lemah,
mudah larut dalam pelarut organik (Starry dan Irving, 1964).

Gambar 3. Reaksi Sintesis Ammonium di-nbutilditiokarbamat


Senyawa amonium di-nbutilditiokarbamat berbentuk Kristal berwarna putih yang
mudah larut dalam pelarut organik seperti metanol, kloroform, benzene, heksan, etil
asetat, etanol dan sedikit larut dalam air (20 ppm), meleleh pada suhu 42OC sampai
44OC. Pada titik lelehnya di-n-butil-ditio-karbamat terdekomposisi yang ditandai
dengan perubahan warna, dari warna putih berubah menjadi bening kekuningan (10).
Ligan dibutilditiokarbamat dapat disintesis dengan cepat berdasarkan reaksi
antara dibutilamin dengan karbon disulfida. Dengan reaksi sebagai berikut:

Ditiokarbamat dapat bereaksi dengan ion logam membentuk kompleks yang mudah
larut dalam pelarut organik, melalui ikatan antara atom S dengan logam. Hal ini terjadi
karena ditiokarbamat mempunyai dua pasang elektron bebas yang bertindak sebagai

donor elektron. Ligan dibutilditiokarbamat merupakan salah satu dari ligan


ditiokarbamat yang mempunyai dua atom sulfur yang bertindak sebagai donor electron.
Senyawa ditiokarbamat merupakan suatu bahan yang amat berpotensi dalam
bidang pertanian, industri dan pengobatan. Penggunaan senyawa ditiokarbamat ini
bergantung kepada sifat pengkelat ligan ditiokarbamat terhadap ion logam (Awang dkk,
2006). Sintesis senyawa kompleks ditiokarbamat dengan logam lantanida masih sangat
jarang dijumpai, karena masih membutuhkan perhatian bahkan penelitian lebih lanjut.
Hal ini disebabkan oleh kemampuan logam lantanida yang lemah untuk berikatan
dengan ligan ditiokarbamat (Cavell dkk, 1979).
Berdasarkan Teori Pearson (Pearsons Hard-Soft, Acid-Base Theory), logam
lantanida termasuk kedalam golongan asam keras, sedangkan ligan ditiokarbamat
tergolong basa lunak, sehingga jika direaksikan maka akan sulit membentuk kompleks
(Pearson, 1987 dalam Shyang, 2009). Oleh karena itu, untuk memudahkan terjadinya
pembentukan kompleks, maka ditambahkan di-nbutil digunakan untuk dapat
menurunkan sifat kekerasan dari logam lantanida (Shyang, 2009).
Senyawa di-n-butilditiokarbamat dapat membentuk kompleks dengan sejumlah
unsur terutama golongan lantanida (4-7), sehingga ligan di-n-butilditiokarbamat bisa
dijadikan pilihan untuk sintesis senyawa kompleks bertanda radioisotop 177Lu sebagai
radioisotop perunut di bidang industri. Kelebihan dari ligan yang mengandung gugus
alkil panjang seperti butil adalah efisiensi ektraksi ke dalam fase organik lebih tinggi
dibandingkan dengan ligan yang mengandung gugus alkil yang lebih pendek seperti etil
atau metil. Semakin panjang rantai alkil maka sifatnya semakin non polar, sehingga
kompleks yang terbentuk makin mudah terekstraksi ke fase organik. Unsur-unsur
lantanida dapat membentuk senyawa kompleks yang netral dengan ligan di-nbutilditiokarbamat dan dapat larut dengan baik dalam fase organic atau minyak (8).

Gambar 4. Struktur Senyawa kompleks Lu-dinbutilditiokarbamat

C. Kesimpulan
Kromatografi Gas adalah proses pemisahan campuran menjadi komponenkomponennya dengan menggunakan gas sebagai fase gerak yang melewati suatu lapisan
serapan (sorben) yang diam. Kadar etanol dalam sampel dapat dihitung berdasarkan
persamaan regresi kurva kalibrasi standar etanol dan area peak. Kadar etanol sampel
anker yaitu 4.49% ( < 4.9% pada label kemasan).
D. Daftar Pustaka
Anonim. 1999. Etanol . Didownload

di http://sribd.com// pada 15 Desember 2014.

Anonim. 2012. Analisis Kromatografi Gas. Didownload di http://scribd.com// pada 17


Desember 2014.
Arfiyah. 2012. Laporan Praktikum GC. Didownload di http://academia.edu.com// pada
17 Desember 2014
Sumar Hendayana. 1994. Kimia Analisis Instrumen. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Yuneka. 2000. Teknik Kromatografi. Jakarta : PT Kalman Pustaka.