Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Banyaknya permintaan obat oleh konsumen mengalami peningkatan tiap tahunnya,
sehingga kebutuhan akan produk obat juga meningkat. Terlebih lagi, saat ini konsumen
menginginkan obat yang berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau mengingat keadaan
perekonomian Indonesia yang tidak stabil. Banyaknya jenis obat yang beredar dipasaran
memiliki karakteristik dan kualitas yang beragam. Obat-obat ini diproduksi untuk
menghasilkan suatu formulasi yang memiliki persyaratan mutu/kualitas yang baik dalam hal
keamanan, efektivitas, akseptabilitas, dan stabilitas dari produk obat yang diproduksi. Untuk
menghasilkan suatu formula yang baik perlu dilakukan seleksi bahan obat, sehingga nantinya
obat yang dihasilkan memiliki mutu terapiobat yang rasional, antara lain the right amount of
the medicine, to the right suspending form, given at the right time, dan to the right patients.
Gel merupakan sistem nsemi padat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel
kadang-kadang disebut jeli. Jika massa gel terdiri dari jaringan kecil yang terpisah , gel
digolongkan sebagai sistem dua fase (misalnya gel alumunium hidroksida). Dalam sistem 2
fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang
dinyatakan sebagai magma (magma bentonit). Baik gel maupun magma dapat berupa
tiksotropik, membentuk semi padat jika dibiarkan dan akan menjadi cair jika terjadi
pengocokan, gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misalnya karbomer)
atau dari gom alam (misalnya tragakan). Sediaan tragakan juga disebut mucilago. Gel dapat
digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal atau dimasukkan ke lubang tubuh.
(Departemen Kesehatan RI.1995)

1.2. Tujuan
a. Menyusun rancangan formula, pembuatan, evaluasi dari sediaan gel piroksikam
b. Mendiskusikan rancangan formula dan pembuatan berdasarkan karakteristik kimia
fisika dari komponennya
c. Membuat dan mengevaluasi sediaan gel piroksikam
d. Mempresentasikan hasil analisa dan evaluasi

1.3. Manfaat
Dengan dibuatnya gel piroksikam ini diharapkan mampu membantu masyarakat dalam
mengatasi inflamasi dan juga diharapkan praktikum ini bermanfaat di dunia kefarmasian

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Basis gel (Lachman,1994)

Ada 2 macam basis gel yaitu gel hidrofobik dan gel hidrofilik
a. Gel hidrofobik (oleogel) adalah sediaan dengan basis yang biasanya
mengandung parafin cair dengan polietilen atau minyak lemak membentuk gel
dan silika koloidal atau alumunium atau sabun seng
b. Gel hidrofilik (hidrogel) adalah sediaan dengan basis yang biasanya
mengandung air, gliserol atau propilenglikol membentuk gel dengan gelling
agent (pembentuk gel) yang sesuai seperti tragakan, pati, derivat selulosa,
polimer karboksivinil dan magnesium alumunium silikat.
2.2.
Karakteristik gel (Lachman, 1994)
- Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik adalah inert, aman
dan tidak bereaksi dengan komponen lain
- Pemilihan bahan pembenuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik
selama penyimpanan tetapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau
daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan tube atau selama
penggunaan topikal
- Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang
diharapkan
- Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tingggi atau BM besar
dapat menghasilkan gel yang sulit dikeluarkan atau digunakan
- Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga pembentukan gel
terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh polimer seperti MC, HPMC
dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental
dan pada peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel. Fenomena
pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut
thermogelation.
2.3.

NSAID/AINS

Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat
enolat. AINS mampu menghambat sintesis mediator nyeri protaglandin dan sangat
bermanfaat sebagai anti nyeri. AINS mampu menghambat sintesis mediator inflamasi melalui
aktivitas hambaan COX. Dari berbagai uji klinik pada penderita osteoarthritis ditunjukkan
bahwa AINS baik yang selektif maupun nonselektif menghambat aktivitas COX 2 berkhasita
dalam mengurangi nyeri rematik. (Kumar,2011)
Makin lebih selektif suatu AINS menghambat COX 1 makin berkurangkhasiatnya sebgai
antiinflamasi dan sebaliknya dengan sediaan yang makin lebih selektif menghambat COX 2.
Penggunaan COX2 sebagai obat analgetika tunggal akan menunjukkan efek mengatap. Waktu
paruh dalam plasma lebih bdari 45 jam sehingga dapat diberikan hanya sekali sehari.
Absorbsi berlangsung cepat dilambung, terikat 99% pada protein plasma. Kira-kira sama
dengan cairan sinovia. Efek samping tersering adalah pusing, nyeri kepala, dan eritema kulit.
Piroksikam tidak dianjurkan diberikan kepada wanita hamil, pasien tukak lambung dan

pasien yang sedang minum antikoagulan. Indikasi piroksikam hanya untuk penyakit inflamasi
sendi misalnya arthritis momatoid, osteoarthritis, sponditis. Dosis 10-20 mg sehari.
(Syarif,2007)
2.4.

Piroksikam (Martindale,2009)

Piroksikam adalah derivat oksikam golongan asam enolat. Piroksikam digunakan sebagai
analgesik, antiinflamasi, antipiretik dan digunakan pada penyembuhan rhematoid arthritis
dengan gangguan rematik lainnya. Juga memiliki efek urikosurik dan telah digunakan pada
pengobatan asam urat akut. Dalam sediaan topikal yang berupa gel atau salep.
Penggunaannya dengan dioleskan pada kulit yang luka 3-4 kali sehari. Cara kerjanya dengan
menghambat sistem enzim sintesis prostaglandin.

Mekanisme inflamasi