Anda di halaman 1dari 8

BAB III

DASAR TEORI

3.1 Klasifikasi Cadangan


Cadangan (Reserve) menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
adalah endapan mineral atau batubara yang telah diketahui ukuran, bentuk,
sebaran, kuantitas dan kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum,
lingkungan dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan.
Cadangan juga dibagi kedalam beberapa kategori antara lain;
1. Cadangan Tereka/Terduga/Terkira (Infered/ Prosible reserve)
Perhitungannya hanya didasarkan pada data dan informasi dan geologi
serta percontoh dari singkapan yang ada ;kesalahan perhitungan
berkisar 40%-60%.
2. Cadangan Terunjuk/Terindikasi (Indicated/ probable reserve)
Perhitungannya kecuali didasarkan pada data dan informasi yang lebih
rinci juga dilengkapi dengan data pengeboran ini geologi yang jaraknya
atau strukturnya kurang bagus.
3. Cadangan Terukur/ Teruji (measured/proven reserve)
Perhitungannya diperoleh berdasarkan data pemercontohan untuk
sistematis dari pengeboran inti yang rapat (25-50 m untuk endapan ;
100-250 m untuk endapan lempung); kesalahannya maksimum 20%.
4. Cadangan Tertambang (mineable reserve)
Yaitu cadangan terukur yang dapat ditambang secara ekonomis.
Satuannya m3/ton.

26

27

5. Cadangan Terperoleh (recoverable reserve)


Cadangan tertambang sesudah dikurangi kehilangan (losses) atau
produksi tambang yang dapat dijual. Satuannya m3/ton.
3.2 Metode Perhitungan Cadangan
Metode perhitungan cadangan terdiri dari beberapa jenis diantaranya:
a. Metoda Trianguler
Layout dari segitiga-segitiga

Prisma-prisma trianguler

Volume = 1/3(t1 + t2 + t3) S


S = luas segitiga 123
t1 , t2 , t3 = ketebalan endapan pada masing-masing titik

28

Jumlah volume seluruh prisma trianguler sama dengan volume


seluruh blok. Di dalam perhitungan cadangan, metoda trianguler dapat
dianggap sebagai metoda standard. Meskipun demikian kesalahan yang
muncul di dalam penggunaan metoda ini perlu diperhatikan, sebab
terjadinya kesalahan tersebut adalah akibat dari cara mengelompokkan
segitiga-segitiga prisma di dalam suatu poligon.

Gambar 3.1 Prisma-prisma Trianguler

Ada dua cara untuk mengkonstruksi prisma-prisma trianguler dari


prisma empat persegi panjang. Kesalahan relatif dari volume suatu blok
yang dibatasi oleh empat lubang bor dengan ketebalan t1 , t2 , t3 , dan t4
dapat dijelaskan sebagai berikut :
Volume dari prisma dapat dihitung dari V1 dengan prisma-prisma
trianguler ABD dan BDC atau V2 dengan prisma-prisma trianguler ABC
dan ADC.

b. Metode Daerah Pengaruh

29

= titik bor/sumur uji

= daerah pengaruh/daerah yang diarsir

30

Gambar 3.2 Konstruksi daerah pengaruh pada segitiga tumpul

c.

Metoda Penampang

(1) Rumus Luas Rata-Rata (Mean Area)

Rumus luas rata-rata dipakai untuk endapan yang mempunyai penampang


yang uniform.
(2) Rumus Prismoida

31

(3) Rumus Kerucut Terpancung

(4) Rumus Obelisk

32

Rumus ini merupakan suatu modifikasi dari rumus Prismoida dengan


mensubstitusi:

Rumus obelisk dipakai untuk endapan yang membaji


d. Metoda Isoline
Metoda ini dipakai untuk digunakan pada endapan bijih dimana
ketebalan dan kadar mengecil dari tengah ke tepi endapan.

Gambar 3.3 Metode Isoline


Volume dapat dihitung dengan cara menghitung luas daerah yang
terdapat di dalam batas kontur, kemudian mempergunakan prosedurprosedur yang umum dikenal.

33

Kadar rata-rata dapat dihitung dengan cara membuat peta kontur,


kemudian mengadakan weighting dari masing-masing luas daerah dengan
contour grade.

go = kadar minimum dari bijih


g = interval kadar yang konstan antara dua kontur
Ao = luas endapan dengan kadar go dan lebih tinggi
A1 = luas endapan bijih dengan kadar go + g dan lebih tinggi
A2 = luas endapan bijih dengan kadar go + 2g dan lebih tinggi, dst.
Bila kondisi mineralisasi tidak teratur maka akan muncul masalah. Hal ini
dapat dijelaskan melalui contoh berikut ini.

Di dalam hal ini :