Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Upaya

kesehatan

olahraga

adalah

upaya

kesehatan

yang

memanfaatkan aktivitas fisik dan atau olahraga untuk meningkatkan derajat


kesehatan. Aktivitas fisik dan atau olahraga merupakan sebagian kebutuhan
pokok dalam kehidupan sehari-hari karena dapat meningkatkan kebugaran
yang diperlukan dalam melakukan tugas. 1
Dengan majunya dunia teknologi memudahkan semua kegiatan
sehingga

menyebabkan

kita

kurang

bergerak

(hypokinetic),

seperti

penggunaan remote kontrol, komputer, lift, dan tangga berjalan, tanpa


diimbangi dengan aktivitas fisik yang akan menimbulkan penyakit akibat
kurang gerak. 1
Gaya hidup duduk terus-menerus dalam bekerja (sedentary) dan
kurang gerak ditambah dengan adanya faktor resiko, berupa merokok, pola
makan yang tidak sehat dapat menyebabkan penyakit tidak menular, seperti
penyakit jantung, pembuluh darah, penyakit tekanan darah tinggi, penyakit
kencing manis, berat badan lebih, osteoporosis, kanker usus, depresi, dan
kecemasan. 1
Studi WHO pada faktor-faktor resiko menyatakan bahwa gaya hidup
duduk terus-menerus dalam bekerja adalah 1 dari 10 penyebab kematian dan
kecacatan di dunia. Lebih dari dua juta kematian setiap tahun disebabkan oleh

kurangnya bergerak/aktivitas fisik. Pada kebanyakan negara di seluruh dunia


antara 60% hingga 85% orang dewasa tidak cukup beraktivitas fisik untuk
memelihara fisik mereka. 1
Menurut penelitian yang bekerja sama dengan WHO tahun 1999,
menyatakan bahwa penyakit tidak menular atau degeneratif merupakan
penyebab 60% kematian dan 43% beban penyakit global. 1
Tahun 2020 diperkirakan penyakit tidak menular menjadi penyebab
73% kematian dan 60% beban penyakit global. Demikian juga hasil Survey
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), proporsi penyakit kardiovaskuler
meningkat dari tahun ke tahun sebagai akibat kematian; 5,9% tahun 1975,
9,1% tahun 1986, dan 19% pada tahun 1995. 1
Di berbagai negara maju dan berkembang, lebih dari 25 tahun terakhir
penyakit tidak menular tersebut menjadi penyebab kematian nomor satu. 1
Hasil penelitian Dede Kusmana tahun 2002 memperlihatkan bahwa
orang yang mempunyai gaya hidup : tidak merokok, berolahraga secara
teratur, dan melakukan kerja fisik, ternyata berpeluang lima kali lebih tinggi
terhindar dari penyakit jantung dan stroke dari pada yang bergaya hidup
sebaliknya. 1
Selanjutnya menurut Manoefris Kasim, tahun 2002, menambahkan
bahwa faktor kegemukan, kurang gerak, riwayat keluarga terkena penyakit
kardiovaskuler, serta penyakit diabetes mempunyai resiko terkena penyakit
jantung koroner empat kali lebih tinggi dibanding yang tidak menderita
diabetes. 1

Agar masyarakat terhindar dari penyakit-penyakit tersebut, WHO


dalam memperingati Hari Kesehatan Sedunia ke-54, 7 April 2002 menetapkan
tema Fit For Health yang berkembang menjadi Move For Health
diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi Bergerak Agar Sehat dan
Bugar. Oleh karena itu kegiatan aktivitas fisik/latihan fisik dan atau olahraga
perlu menjadi gerakan masyarakat. 1
Dalam penelitian ini, kami berharap dapat memberikan gambaran
yang lebih nyata mengenai karakteristik pusat-pusat kebugaran jasmani
(physical fitness) yang ada di masyarakat pada umumnya, khususnya peserta
fitness pada tempat-tempat fitness di Makassar yang menjadi responden kami
dalam penelitian ini.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan
masalah dari penelitian kami adalah :
1. Bagaimana karakteristik para peserta pusat kebugaran jasmani (physical
fitness) di Makassar?
2. Bagaimana distribusi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap latihan
kebugaran jasmani pada peserta fitness di Makassar?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik peserta pusat
kebugaran jasmani di Makassar.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.

Untuk mengetahui distribusi faktor-faktor demografi (umur, sex,


pekerjaan,

pendidikan)

yang

berpengaruh

terhadap

latihan

kebugaran jasmani pada peserta fitness di Makassar.


2.

Untuk mengetahui distribusi faktor-faktor habituasi atau kebiasaan


(makanan, merokok) yang berpengaruh terhadap latihan kebugaran
jasmani pada peserta fitness di Makassar.

3.

Untuk mengetahui distribusi faktor-faktor fitness (motivasi,


frekuensi, durasi, jenis latihan, olahraga lain) yang berpengaruh
terhadap latihan kebugaran jasmani pada peserta fitness di
Makassar.

4.

Untuk mengetahui distribusi faktor perilaku yang berpengaruh


terhadap latihan kebugaran jasmani pada peserta fitness di
Makassar.

5.

Untuk mengetahui distribusi faktor pengetahuan yang berpengaruh


terhadap latihan kebugaran jasmani pada peserta fitness di
Makassar.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Sebagai informasi yang berharga bagi masyarakat di lokasi penelitian dalam
usaha meningkatkan kualitas hidup sehat.
2. Sebagai sumber informasi yang diharapkan dapat memperkaya khasanah
ilmu pengetahuan khususnya mengenai upaya peningkatan kesehatan serta
dapat menjadi bahan bacaan ataupun penelitian bagi peneliti selanjutnya.
3. Sebagai pengalaman yang berharga dalam rangka menambah wawasan
keilmuan dan pengembangan diri peneliti khususnya di bidang penelitian
lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian 1
1. Bergerak/aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan
pengeluaran tenaga dan energi (pembakaran kalori).
2. Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur,
yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani.
3. Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
4. Bugar adalah kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari
tanpa menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang berlebihan.

2.2 Komponen Kebugaran Jasmani 1


Kebugaran jasmani sangat penting dalam menunjang aktivitas
kehidupan sehari-hari, akan tetapi nilai kebugaran jasmani tiap-tiap orang
berbeda-beda sesuai dengan tugas/profesi masing-masing.
Kebugaran

jasmani

terdiri

dari

komponen-komponen

yang

dikelompokkan menjadi kelompok yang berhubungan dengan kesehatan


(Health Related Physical Fitness) dan kelompok yang berhubungan dengan
keterampilan (Skill Related Physical Fitness).

Dalam referensi hanya dijelaskan komponen kebugaran jasmani yang


berkaitan dengan kesehatan.
1. Komposisi tubuh
a. Adalah persentase (%) lemak dari berat badan total Indeks Massa
Tubuh (IMT).
b. Lemak cepat meningkat setelah berumur 30 tahun dan cenderung
menurun setelah berumur 60 tahun.
c. Memberi bentuk tubuh.
d. Pengukuran : skinfold callipers, IMT
IMT = (berat badan dalam kg : tinggi badan dalam m2)
e. Obesitas pada anak-anak disebabkan oleh : hiperplasi dan
hipertrofi sel adiposit serta input berlebihan.
f. Obesitas pada orang dewasa oleh : hiperplasi dan hipertrofi sel
adiposit serta output yang kurang.
2. Kelenturan/fleksibilitas tubuh
a. Adalah luas bidang gerak yang maksimal pada persendian, tanpa
dipengaruhi oleh suatu paksaan atau tekanan.
b. Dipengaruhi oleh :

Jenis sendi.

Struktur tulang.

Jaringan sekitar sendi, otot, tendon dan ligamen.

c. Wanita (terutama ibu hamil) lebih lentur dari laki-laki.


d. Anak-anak lebih besar dari orang dewasa.

e. Puncak kelenturan terjadi pada akhir masa pubertas.


f. Penting pada setiap gerak tubuh karena meningkatkan efisiensi
kerja otot.
g. Dapat mengurangi cedera (orang yang kelenturannya tidak baik
cenderung mudah mengalami cedera).
h. Pengukuran : duduk tegak depan (Sit and Reach Test) dengan
flexometer.
3. Kekuatan otot
a. Adalah kontraksi maksimal yang dihasilkan otot, merupakan
kemampuan untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu
tahanan.
b. Laki-laki kira-kira 25% lebih besar dari wanita (testosteron
merupakan anabolik steroid).
c. Diukur dengan dinamometer.
4. Daya tahan jantung paru
a. Kemampuan jantung, paru dan pembuluh darah untuk berfungsi
secara optimal pada waktu kerja dalam mengambil O2 secara
maksimal (VO2 maks) dan menyalurkannya ke seluruh tubuh
terutama jaringan aktif sehingga dapat digunakan untuk proses
metabolisme tubuh.
b. Kemampuan otot-otot besar untuk melakukan pekerjaan cukup
berat dalam waktu lama secara terus-menerus.
c. Merupakan komponen kebugaran jasmani terpenting.

d. Pengukuran : test lari 2,4 km (12 menit), Bangku Harvard test,


Ergocycles test.
5. Daya tahan otot
a. Merupakan kemampuan untuk kontraksi sub maksimal secara
berulang-ulang atau untuk berkontraksi terus-menerus dalam suatu
waktu tertentu.
b. Mengatasi kelelahan.
c. Pengukuran : push up test, sit up test.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani


1. Umur 1
Kebugaran jasmani anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada
usia 25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional
dari seluruh tubuh, kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila rajin
berolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya.
2. Jenis kelamin 1
Sampai pubertas biasanya kebugaran jasmani anak laki-laki hampir sama
dengan anak perempuan, tapi setelah pubertas anak-anak laki-laki biasanya
mempunyai nilai yang jauh lebih besar.
3. Genetik 1
Berpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas,
haemoglobin/sel darah dan serat otot.

4. Makanan 1
Daya tahan yang tinggi bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat (60-70%).
Diet tinggi protein terutama untuk memperbesar otot dan untuk olahraga
yang memerlukan kekuatan otot yang besar.
5. Merokok 1
Kadar CO yang terhisap akan mengurangi nilai VO 2 maks, yang
berpengaruh terhadap daya tahan, selain itu menurut penelitian Perkins
dan Sexton, nicotine yang ada, dapat memperbesar pengeluaran energi dan
mengurangi nafsu makan.
6. Motivasi 2,3
Motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu kekuatan dalam diri seorang
individu yang memaksa individu tersebut untuk melakukan suatu aksi.
Kekuatan yang memaksa itu terjadi karena adanya suatu kebutuhan yang
belum terpenuhi dan baik secara sadar maupun tidak ia akan mencoba
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Atau motivasi dapat diartikan
sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat
persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik
yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik)
maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Contoh : seorang pria yang mengikuti latihan fitness karena dia tahu
bahwa berolahraga dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat. (Sehat
inilah kondisi yang diinginkan oleh pria itu, caranya dengan berolahraga,
dan usaha yang dilakukannya adalah dengan fitness).

10

7. Frekuensi latihan 4,5


Frekuensi adalah kekerapan dalam satu minggu. Untuk latihan
kardiovaskular yang aman bagi pemula adalah menggunakan alat-alat
seperti treadmill, sepeda statis, atau cross trainer dengan frekuensi latihan
masing-masing 2 4 kali seminggu.
8. Durasi latihan 4,5
Durasi adalah lamanya dalam tiap sesi. Durasi total latihan bisa dilakukan
minimal 45 90 menit per sesi (setiap kedatangan).
9. Jenis latihan 6,7
Olah tubuh dalam fitness terbagi menjadi beberapa jenis latihan, yaitu :
1. Latihan beban
Penggunaan beban sebagai alat bantu untuk meningkatkan kontraksi
otot dapat termasuk dalam latihan beban.
2. Latihan kardio
Latihan ini lebih untuk meningkatkan detak jantung tanpa penggunaan
beban.
10. Olahraga lain 8
Olahraga merupakan salah satu cara yang penting untuk menjaga
kesehatan. Olahraga yang baik adalah olahraga yang membawa kebaikan,
yaitu yang dilakukan secara teratur, pertengahan, dan tidak berlebihan.
Diantara olahraga yang memungkinkan seseorang melakukannya, yaitu :
berjalan, lompat tali, jogging/berlari, bulutangkis, berenang, tenis
meja/lapangan, bersepeda, dan lain-lain.

11

11. Pekerjaan 9
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh
manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas
atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan
sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi.
12. Pendidikan 10
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
13. Perilaku 11
Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia
dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi,
dan atau genetika.
14. Pengetahuan 12
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari
oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi,
hipotesis, konsep, teori, prinsip, dan prosedur yang benar atau berguna.

12

2.4 Jenis-Jenis Latihan Fitness


Fitness merupakan salah satu jenis olah tubuh yang berguna untuk
kesehatan. Olah tubuh dalam fitness terbagi menjadi beberapa jenis latihan
yang memiliki kegunaan masing-masing, yaitu : 6,7
1. Latihan beban
2. Latihan kardio
Latihan Beban
Penggunaan beban sebagai alat bantu untuk meningkatkan kontraksi
otot dapat termasuk dalam latihan beban. Otot yang menerima beban akan
mengalami tekanan hingga mencapai titik kelelahan tertentu. Latihan beban
sendiri dapat digolongkan berdasarkan beban yang digunakan seperti : 6
1. Beban tubuh : menggunakan tubuh sendiri sebagai beban baik secara
sebagian maupun beban tubuh secara keseluruhan.
2. Beban bebas : menggunakan pemberat bebas seperti barbell ataupun
dumbbell.
3. Beban alat : menggunakan alat mekanik ataupun elektronik yang
dihubungkan dengan pemberat. Tujuan penggunaan alat ini umumnya
sebagai penyokong yang memudahkan pengguna dalam mengontrol
pemberat tersebut.
Latihan beban juga dapat dibedakan berdasarkan otot yang akan dilatih, yaitu:
1. Otot bahu : secara medis dikenal sebagai otot deltoid dan trapezius. Jenis
latihan beban yang digunakan meliputi : barbell press, dumbbell press,
upright row. 13,14,15

13

2. Otot dada : secara medis dikenal sebagai otot pectoral. Jenis latihan
beban yang digunakan meliputi : push up, bench press, incline press,
decline press, dipping. 6,13,15
3. Otot punggung : secara medis dikenal sebagai otot lattisimus. Jenis latihan
beban yang digunakan meliputi : pull up, chin up, bench row, deadlift,
barbell row, cable row, lat pulldown. 6,13,15
4. Otot perut : secara medis dikenal sebagai otot abdomen. Jenis latihan
beban yang digunakan meliputi : sit up, crunch, hanging leg raises. 6,15
Latihan Kardio
Kardio berarti adalah jantung. Latihan ini lebih untuk meningkatkan
detak jantung tanpa penggunaan beban. Pada umumnya, latihan ini digunakan
untuk menurunkan berat badan ataupun sekedar menjaga kesehatan. Jenis
latihan kardio sangat bervariasi mulai dari jogging, renang, bersepeda, hingga
aerobik. 6
Latihan aerobik untuk daya tahan (endurance) jantung-paru. Latihan
ini menekankan pada ketahanan dan kebugaran kardiovaskuler. Jenis ini
menuntut pergerakan yang terus-menerus dalam waktu lama dan melibatkan
seluruh sistem kardiovaskuler seperti jantung, paru-paru, dan pembuluh
darah. Tujuan utama dari jenis latihan ini adalah pengiriman oksigen secara
efisien. Dengan pengkondisian aerobik yang terus meningkat, paru-paru bisa
menghirup oksigen dengan lebih baik. Demikian juga dengan jantung dan
pembuluh darah yang mengirimkan oksigen ke bagian otot. 16,17

14

Jalan cepat, lari, bersepeda (stasioner maupun sepeda biasa), dan


berenang merupakan contoh latihan yang melibatkan hampir semua otot
utama, sehingga dapat memacu kerja jantung. Jika waktu anda terbatas, maka
cobalah untuk melaksanakannya dengan intensitas cukup tinggi setiap kali
anda punya waktu. Intensitas latihan dapat ditingkatkan dengan cara
meningkatkan

kecepatan

lari/bersepeda/berenang,

meskipun

cara

ini

mengandung resiko yang besar terhadap kemungkinan cedera otot dan sendi.
Untuk mencegah timbulnya cedera, diperlukan pemanasan (warming-up)
yang sangat optimal. Pilihan lainnya adalah dengan memilah latihan
menjadi dua bagian, sebagian dilaksanakan pagi hari dan sebagian lagi
dilaksanakan sore/malam hari. 17

2.5 Manfaat Fitness


Manfaat fitness secara garis besar, antara lain : 15,18
Mengurangi resiko hypertensi (darah tinggi)
Mengurangi resiko serangan jantung
Meningkatkan kwalitas hidup penderita diabetes
Membantu mencegah serangan stroke
Membantu mencegah terjadinya osteoporosis
Membantu mengurangi berat badan bagi yang kegemukan/obesitas
Membentuk tubuh/body menjadi lebih baik

15

BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Dasar Pemikiran Variabel Penelitian


Telah

dipaparkan

sebelumnya

bahwa

penelitian

ini

untuk

menggambarkan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap latihan


kebugaran jasmani pada peserta fitness di Makassar. Dari tujuan penelitian
tersebut terdapat variabel dependen dan variabel independen. Variabel
dependen adalah peserta fitness. Variabel independen yang akan diteliti
adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap latihan kebugaran jasmani
pada peserta fitness. Dari tinjauan pustaka, telah disebutkan faktor-faktor
yang mempengaruhi kebugaran jasmani. Faktor-faktor tersebut kami
masukkan sebagai variabel dalam penelitian ini. Tetapi tidak semua kami
masukkan dalam penelitian. Adapun variabel-variabel yang kami masukkan
dalam penelitian ini adalah :
a. Umur
Variabel umur untuk mengetahui rata-rata umur peserta yang
mengikuti latihan fitness di pusat kebugaran jasmani (fitness center).
Secara teknis, cukup mudah mendapatkan data dengan menanyakan pada
responden melalui lembar kuesioner.
b. Jenis kelamin

16

Variabel jenis kelamin untuk mengetahui apakah laki-laki atau


perempuan yang lebih banyak mengikuti latihan fitness di pusat kebugaran
jasmani (fitness center). Variabel ini dapat diketahui dengan cara
menanyakan pada responden melalui kuesioner.
c. Makanan
Variabel ini merupakan variabel independen yang diteliti disebabkan
variabel ini dapat diketahui dengan menanyakan menu subjek yang
dikonsumsi setiap hari dan apakah subjek mengkonsumsi fast food atau
tidak. Variabel ini dapat diketahui dengan cara menanyakan pada
responden melalui kuesioner.
d. Merokok
Variabel merokok dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian ini
untuk memperoleh informasi apakah peserta fitness juga menghisap
tembakau secara aktif.

Data cukup mudah untuk diperoleh melalui

jawaban pertanyaan kuesioner.


e. Motivasi
Variabel motivasi dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian ini
untuk memperoleh informasi mengenai dorongan pada subjek sehingga
subjek ingin mengikuti latihan kebugaran jasmani. Data cukup mudah
untuk diperoleh melalui jawaban pertanyaan kuesioner.
f. Frekuensi latihan
Variabel frekuensi latihan dimasukkan sebagai variabel dalam
penelitian ini untuk memperoleh informasi mengenai berapa kali subjek

17

melakukan fitness dalam seminggu atau sebulan. Data cukup mudah untuk
diperoleh melalui jawaban pertanyaan kuesioner.
g. Durasi latihan
Variabel durasi latihan dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian
ini untuk memperoleh informasi mengenai berapa lama subjek melakukan
fitness dalam satu kali latihan. Data cukup mudah untuk diperoleh melalui
jawaban pertanyaan kuesioner.
h. Jenis latihan
Variabel jenis latihan dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian
ini untuk memperoleh gambaran mengenai jenis latihan apa yang sering
dilakukan peserta pada pusat kebugaran jasmani. Data cukup mudah untuk
diperoleh melalui jawaban pertanyaan kuesioner.
i. Olahraga lain
Variabel olahraga dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian ini
untuk memperoleh informasi mengenai aktivitas olahraga rutin subjek
yang dilakukan selain fitness. Data cukup mudah untuk diperoleh melalui
jawaban pertanyaan kuesioner.
j. Pekerjaan
Variabel pekerjaan dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian ini
untuk memperoleh informasi tentang profesi-profesi apa saja yang banyak
mengikuti latihan fitness di pusat kebugaran jasmani. Data cukup mudah
untuk diperoleh melalui jawaban pertanyaan kuesioner.
k. Pendidikan

18

Variabel ini merupakan variabel independen yang diteliti disebabkan


variabel ini dapat diketahui dengan menanyakan latar belakang pendidikan
responden yang mengikuti latihan fitness di pusat kebugaran jasmani. Data
cukup mudah untuk diperoleh melalui jawaban pertanyaan kuesioner.
l. Perilaku
Variabel perilaku dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian ini
untuk memperoleh informasi mengenai perilaku subjek yang dilakukan
pada tempat kebugaran jasmani. Data cukup mudah untuk diperoleh
melalui jawaban pertanyaan kuesioner.
m. Pengetahuan
Variabel pengetahuan dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian
ini untuk memperoleh informasi mengenai segala sesuatu yang diketahui
responden tentang tempat kebugaran jasmani. Data cukup mudah untuk
diperoleh melalui jawaban pertanyaan kuesioner.

Adapun faktor yang tidak kami masukkan dalam penelitian ini adalah
faktor genetik. Faktor genetik tidak kami teliti dalam penelitian ini dengan
pertimbangan waktu dan biaya penelitian.

19

3.2 Kerangka Konsep


Berdasarkan rasionalisasi variabel penelitian di atas, maka disusunlah
suatu kerangka konsep dari penelitian ini :
GENETIK

UMUR
JENIS KELAMIN
MAKANAN
MEROKOK
MOTIVASI
FREKUENSI LATIHAN

PESERTA
FITNESS

DURASI LATIHAN
JENIS LATIHAN
OLAHRAGA LAIN
PEKERJAAN
PENDIDIKAN
PERILAKU
PENGETAHUAN
Keterangan :
: Variabel independen
: Variabel dependen

: Variabel yang diteliti


: Variabel yang tidak diteliti

Gambar 3.2 Bagan Kerangka Konsep

20

3.3 Definisi Operasional


3.3.1

Variabel Dependen : Peserta Fitness


Definisi : subjek yang mengikuti latihan fitness di pusat
kebugaran jasmani (fitness center).
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan lamanya subjek mengikuti
latihan fitness, yaitu :
1. < 1 minggu
2. 1 2 minggu
3. > 2 minggu

3.3.2

Variabel Independen : Umur


Definisi : waktu antara tanggal kelahiran subjek sampai subjek
tercatat mengikuti latihan fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan rata-rata umur subjek
yang mengikuti latihan fitness, yaitu :
1. < 20 tahun
2. 20 30 tahun
3. 31 40 tahun

21

4. 41 50 tahun
5. > 50 tahun
3.3.3

Variabel Independen : Jenis Kelamin


Definisi : Sex seseorang yang tercatat pada suatu tempat
fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan jenis kelamin subjek,
yaitu :
1. Laki-laki
2. Perempuan

3.3.4

Variabel Independen : Makanan


Definisi : Menu subjek yang dikonsumsi setiap hari dan
apakah subjek mengkonsumsi fast food.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil ukur : Klasifikasi berdasarkan frekuensi subjek
mengkonsumsi makanan setiap hari, yaitu :
1. 1 kali sehari
2. 2 3 kali sehari
3. > 3 kali sehari

22

3.3.5

Variabel Independen : Merokok


Definisi : subjek yang menghisap tembakau secara aktif.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan jumlah tembakau yang
dihisap subjek setiap hari, yaitu :
1. < bungkus sehari
2. - 1 bungkus sehari
3. > 1 bungkus sehari

3.3.6

Variabel Independen : Motivasi


Definisi : Dorongan pada subjek sehingga subjek ingin
melakukan atau mengikuti fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan motivasi subjek dalam
mengikuti fitness, yaitu :
1. Ikut-ikutan
2. Coba-coba
3. Membentuk otot
4. Lain-lain

23

3.3.7

Variabel Independen : Frekuensi Latihan


Definisi : berapa kali subjek melakukan fitness dalam
seminggu.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan berapa kali subjek
melakukan fitness dalam seminggu, yaitu :
1. 1 x dalam seminggu
2. 2 4 x dalam seminggu
3. > 4 x dalam seminggu

3.3.8

Variabel Independen : Durasi Latihan


Definisi : berapa lama subjek melakukan fitness dalam satu
kali latihan atau setiap kali datang ke tempat fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan lamanya waktu yang
subjek butuhkan untuk melakukan fitness dalam satu kali
latihan, yaitu :
1. < 45 menit
2. 45 90 menit

24

3. > 90 menit
3.3.9

Variabel Independen : Jenis Latihan


Definisi : aktivitas olah tubuh yang dilakukan oleh subjek
dalam suatu latihan fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan jenis latihan yang
dilakukan subjek dalam suatu latihan fitness, yaitu :
1. Latihan dengan menggunakan beban
2. Latihan tanpa menggunakan beban

3.3.10 Variabel Independen : Olahraga Lain


Definisi : aktivitas olahraga rutin subjek yang dilakukan selain
fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan jenis olahraga rutin yang
subjek lakukan selain fitness, yaitu :
1. Tidak berolahraga
2. Olahraga ringan : senam, jogging
3. Olahraga sedang : bersepeda, bulutangkis, berenang
4. Olahraga berat : sepakbola, voli, basket

25

3.3.11 Variabel Independen : Pekerjaan


Definisi : profesi subjek yang tercatat pada suatu tempat
fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan profesi subjek, yaitu :
1. PNS/TNI/POLRI

5. Buruh harian

2. Pelajar/Mahasiswa

6. Ibu rumah tangga

3. Karyawan swasta

7. Tidak ada kegiatan lain

4. Wiraswasta
3.3.12 Variabel Independen : Pendidikan
Definisi : asal perguruan atau sekolah subjek yang tercatat
pada suatu tempat fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan jenjang pendidikan
subjek, yaitu :
1. Tidak pernah sekolah

4. SMA/Sederajat

2. SD

5. Perguruan Tinggi

3. SMP/Sederajat

26

3.3.13 Variabel Independen : Perilaku


Definisi : segala sesuatu yang dilakukan subjek di tempat
fitness.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil ukur : Klasifikasi berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner,
yaitu :
1. Kurang : jika subjek menjawab ya < 2 pertanyaan
2. Cukup : jika subjek menjawab ya 2-3 pertanyaan
3. Baik : jika subjek menjawab ya 4 pertanyaan
3.3.14 Variabel Independen : Pengetahuan
Definisi : segala sesuatu yang diketahui subjek yang berkenaan
dengan kebugaran jasmani.
Alat Ukur : Kuesioner.
Cara Ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada
kuesioner.
Hasil Ukur : Klasifikasi berdasarkan pengetahuan yang
diketahui subjek tentang kebugaran jasmani, yaitu :
1. Kurang : jika subjek menjawab benar < 2 pertanyaan
2. Cukup : jika subjek menjawab benar 2-3 pertanyaan
3. Baik : jika subjek menjawab benar 4 pertanyaan

27

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah penelitian deskriptif
dengan menggunakan data primer berupa kuesioner. Penelitian deskriptif ini
bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai faktor-faktor
yang yang berpengaruh terhadap latihan kebugaran jasmani pada peserta
fitness di Makassar. Sehingga dengan demikian dapat diketahui gambaran
faktor-faktor tersebut untuk menambah pengetahuan bagi instansi terkait dan
peneliti.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian


4.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada tempat-tempat fitness di
Makassar.
4.2.2

Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada tanggal 26 Januari 8 Februari
2009.

28

4.3 Populasi dan Sampel


4.3.1

Populasi
(i) Populasi Target : Semua peserta yang terdaftar pada beberapa
tempat fitness di Makassar yang masuk dalam lokasi penelitian
ini.
(ii) Populasi Terjangkau : Semua peserta yang terdaftar pada beberapa
tempat fitness di Makassar yang masuk dalam lokasi penelitian
ini dan hadir pada waktu penelitian dilakukan.

4.3.2 Sampel
Sebagian dari populasi terjangkau yang memenuhi kriteria
seleksi.
4.3.3 Besar Sampel
Estimasi jumlah sampel penelitian yang dikumpulkan dihitung
menurut rumus : 19

n = Z2p.q
d2
Keterangan :
n = besarnya sampel
p = proporsi variabel yang dikehendaki
q =1p
Z = simpangan rata-rata distribusi normal standar pada derajat
kemaknaan

29

d = kesalahan sampling yang masih dapat ditoleransi


Maka, n = (1,960)2 x 0,15 x 0,85
(0,1)2
n = 49 (besar sampel)
4.3.4 Kriteria Seleksi
4.3.4.1 Kriteria Inklusi :
(i)

Bersedia

ikut

serta

dalam

penelitian

ini

yang

dinyatakan secara lisan.


(ii)

Peserta fitness yang telah mengikuti fitness selama


minimal 1 minggu.

4.3.4.2 Kriteria Eksklusi :


(i)

Responden yang tidak hadir pada waktu penelitian.

(ii)

Responden yang menolak untuk menjadi sampel


penelitian.

(iii) Responden yang tidak mengisi kuesioner secara


lengkap.
4.3.5 Teknik Pengumpulan Sampling
Sampel diambil dengan cara simple random sampling dari
responden yang memenuhi kriteria seleksi, hingga memenuhi jumlah
sampel yang diperlukan dalam penelitian. Pada teknik ini terlebih
dahulu diadakan penghitungan pada jumlah subjek pada populasi yang
akan diambil sebagai sampel, lalu tiap subjek diberikan nomor urut

30

(sampling frame) dan sebagian dari sampel dipilih dengan


menggunakan bantuan tabel random.
4.4 Data dan Instrumen
4.4.1

Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer yang berasal dari kuesioner yang dibagikan kepada sampel
yang telah diberikan penjelasan sebelumnya.

4.4.2

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian dengan menggunakan kuesioner yang
berisikan pertanyaan yang di desain khusus untuk penelitian ini.
Alasan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data adalah:
a. Untuk memperoleh informasi yang relevan untuk penelitian ini.
b. Untuk memperoleh informasi atau data yang valid dan reliable.

4.4.3

Cara Pengukuran
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang
dibuat untuk studi ini meliputi data yaitu : nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, alamat, dan disertai
pertanyaan yang harus diisi responden dengan benar dan sebelumnya
telah dijelaskan cara pengisiannya.

4.5 Manajemen Data


4.5.1

Pengumpulan Data

31

Data yang dikumpulkan merupakan data primer yaitu yang


diperoleh dari sampel kuesioner setelah diberikan penjelasan
mengenai tata cara pengisiannya. Kuesioner yang dibagikan berupa
pertanyaan yang ada hubungannya dengan faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap latihan kebugaran jasmani. Sampel harus
mengisi semua pertanyaan yang ada dalam kuesioner.
4.5.2

Pengeditan Data
Kuesioner yang didapati tidak lengkap akan dikeluarkan dari
penelitian.

4.5.3

Analisis Data
Perhitungan statistika dilakukan dengan menggunakan
program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) for
Windows 16.00 (SPSS Inc).

4.5.4

Penyajian Data
Data akan disajikan dalam tabel dan narasi.

4.6 Etika Penelitian


4.6.1

Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti membuat


izin tertulis dan diserahkan ke Kepala Kantor Kesatuan Bangsa
Pemerintahan Kotamadya Makassar.

4.6.2

Subjek yang akan diukur dengan data primer terlebih dahulu


diberikan penjelasan tentang prosedur penelitian dan sebelumnya

32

setiap subjek menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian


secara lisan.
4.6.3

Identitas yang diberikan oleh subjek penelitian akan dijaga


kerahasiaannya oleh peneliti.
BAB V
PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


5.1.1

Tempat Penelitian

Aurum Gym
Aurum Gym berdiri pada tahun 2000 tepatnya di Jln. Gn.
Bulukunyi No.2 Makassar dan berdiri di atas tanah dengan luas
tanah 12 x 12 meter. Pada tempat fitness ini memiliki 1 orang
instruktur dan mempunyai 60 peserta dimana terdiri dari 40
peserta laki-laki dan 20 peserta wanita.

Diamond Fitness Center


Diamond Fitness Center berdiri pada tahun 2003 tepatnya
di Jln. A.P. Pettarani ruko bisnis center no. 22-23 makassar dan
berdiri di atas tanah dengan luas tanah 16 x 10 meter yang
terdiri dari 3 lantai. Pada tempat fitness ini memiliki 13 orang
instruktur dan mempunyai 200 peserta dimana terdiri dari 50
peserta laki-laki dan 150 peserta wanita.

Kelvin Gym

33

Kelvin Gym berdiri pada tahun 2005 tepatnya di Jln. Batua


Raya No.32 Makassar dan berdiri di atas tanah dengan luas
tanah 10 x 15 meter. Pada tempat fitness ini memiliki 1 orang
instruktur dan mempunyai 50 peserta dimana terdiri dari 50
peserta yang semuanya laki-laki.

Bugar Fitness Center


Bugar Fitness Center berdiri pada tahun 2002 tepatnya di
Jln. Karunrung No.9 Makassar dan berdiri di atas tanah dengan
luas tanah 11 x 10 meter. Pada tempat fitness ini memiliki 3
orang instruktur dan mempunyai 50 peserta yang semuanya
wanita.

5.1.2

Fasilitas alat tempat fitness

Bentpress

Incline

Decline

Barbell shrugs

Pulldowns

T-Bar rows

Smith

Shoulder press

Sepeda stasioner

Treadmill

34

35

5.2 Hasil Penelitian


Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode kuesioner di
tempat fitness, selama 2 minggu terhitung mulai tanggal 26 Januari sampai 8
Februari 2009. Penelitian dimulai dengan mengadakan survei ulang terhadap
jumlah populasi, kemudian total populasi yang didapatkan yaitu 360 orang
pada 4 tempat fitness, dimana :
Kuesioner yang dibagi

: 180 lembar

Kuesioner yang kembali

: 148 lembar

Yang lengkap

Tidak lengkap

Kuesioner tidak kembali

: 103 lembar
: 45 lembar

: 32 lembar

Kuesioner diberikan kepada sampel dengan memberikan penjelasan


sebelumnya. Kuesioner ini kemudian dibawa pulang dan diisi di rumah.
Keesokan harinya, dikumpulkan kembali kepada peneliti.
Setelah terpilih 103 orang dari populasi tersebut yang memenuhi
kriteria seleksi sebagai sampling frame, lalu dipilihlah 49 sampel yang sesuai
dengan estimasi jumlah sampel yang dibutuhkan dengan menggunakan teknik
simple ramdom sampling. Setelah data sampel di input pada SPSS 16.0 for
Windows, kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel beserta
penjelasan.
Dari hasil penelitian ini, data yang diperoleh setelah diolah disajikan
pada tabel-tabel beserta penjelasan di bawah ini :

36

37

Tabel 5.2.1 : Distribusi Faktor - Faktor Demografi


Variabel
Jumlah
n

Jenis Kelamin
Laki laki
Perempuan

29
20

59.2
40.8

Umur
< 21 tahun
21 30 tahun
31 40 tahun
41 50 tahun
> 50 tahun

4
26
12
5
2

8.2
53.1
24.5
10.2
4.1

Pendidikan
Tidak Pernah Sekolah
SD
SMP/Sederajat
SMA/Sederajat
Perguruan Tinggi

1
22
26

2.0
44.9
53.1

Pekerjaan
PNS/TNI/POLRI
Pelajar/Mahasiswa
Karyawan Swasta
Wiraswasta
Buruh Harian
Ibu Rumah Tangga

4
12
11
9
2
11

8.2
24.5
22.4
18.4
4.1
22.4

Sumber : Data Primer


Dari tabel 5.2.1 diperoleh data bahwa responden yang berjenis kelamin
laki-laki yang mengikuti latihan fitness jumlahnya tidak terlalu berbeda jauh dari
responden yang berjenis kelamin perempuan. Lebih dari 60% responden yang
mengikuti latihan fitness berumur < 30 tahun. Lebih dari 50% responden yang
mengikuti latihan fitness memiliki tingkat pendidikan terakhir perguruan tinggi.
Sekitar 25% responden yang mengikuti latihan fitness berprofesi sebagai
pelajar/mahasiswa.

38

Tabel 5.2.2 : Distribusi Faktor - Faktor Kebiasaan,


Perilaku, dan Pengetahuan
Variabel
Jumlah
n

Makanan
1 x sehari
2-3 x sehari
> 3 x sehari

4
34
11

8.2
69.4
22.4

Merokok
Tidak Merokok
< bungkus sehari
- 1 bungkus sehari
> 1 bungkus sehari

32
8
3
6

65.3
16.3
6.1
12.2

Perilaku
Kurang
Cukup
Baik

1
35
13

2.0
71.4
26.5

Pengetahuan
Kurang
Cukup
Baik

1
46
2

2.0
93.9
4.1

Sumber : Data Primer


Pada tabel 5.2.2 diperoleh data bahwa hampir 70% responden yang
mengikuti latihan fitness mempunyai pola makan yang teratur yaitu 2 3 x sehari.
65% responden yang mengikuti latihan fitness tidak merokok. Sekitar 70%
responden yang mengikuti latihan fitness memiliki prilaku yang cukup sedangkan
hampir 100% responden yang mengikuti latihan fitness memiliki pengetahuan
yang cukup tentang kebugaran jasmani.

39

Tabel 5.2.3 : Distribusi Faktor-Faktor Fitness


Variabel
Jumlah
n

Motivasi
Ikut-Ikutan
Coba-Coba
Membentuk Otot
Lain-Lain

1
27
21

2.0
55.1
42.9

Frekuensi Latihan
1 x dalam seminggu
2 4 x dlm seminggu
> 4 x dalam seminggu

18
31

36.7
63.3

Durasi Latihan
< 45 menit
45 90 menit
> 90 menit

5
26
18

10.2
53.1
36.7

Jenis Latihan
Dengan Beban
Tanpa Beban

35
14

71.4
28.6

19
9

38.8
18.4

12

24.5

18.4

Olahraga Lain
Tidak berolahraga
Olahraga ringan (senam
dan jogging)
Olahraga sedang (Bersepeda, bulutangkis,
berenang)
Olahraga berat (sepakbola, voli, basket)
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.2.3 diperoleh data bahwa lebih dari 50% responden yang
mengikuti latihan fitness mempunyai motivasi dalam mengikuti latihan fitness
adalah untuk membentuk otot, dimana frekuensi latihan > 4 x dalam seminggu
dengan durasi latihan 45 90 menit. Dan lebih dari 70% responden yang
mengikuti latihan fitness lebih banyak melakukan latihan dengan menggunakan

40

beban. Sedangkan hampir 40% responden yang mengikuti latihan fitness tidak
mempunyai aktivitas olahraga lain selain mengikuti fitness.

41

BAB VI
PEMBAHASAN

Telah dilakukan penelitian tentang peserta fitness di makassar pada bulan


Januari sampai Februari 2009 juga telah dilakukan peninjauan secara langsung ke
wilayah penelitian.

6.1

Umur
Hasil penelitian yang didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai umur 20 30 tahun lebih banyak mengikuti fitness dari pada
umur < 20 tahun dan > 30 tahun. Penelitian ini sesuai dengan data
Departemen Kesehatan Republik Indonesia,1 mengatakan bahwa kebugaran
jasmani anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada umur 25
30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional dari
seluruh tubuh. Menurut Sharkey (2003) yang dikutip oleh Pramudyanto, 20
efek usia terhadap kebugaran aerobik dengan penurunan 8% hingga 10%
per dekade untuk individu yang tidak aktif tanpa memperhitungkan tingkat
kebugaran awal mereka. Bagi yang memutuskan untuk tetap aktif dapat
menghentikan setengah penurunan tersebut (4 hingga 5% per dekade) dan
yang terlibat dalam latihan fitness dapat menghentikan setengahnya lagi
(2,5% per dekade). Potensi untuk meningkatkan kebugaran aerobik dengan
latihan

memiliki

keterbatasan

walaupun

kebanyakan

penelitian

mengkonfirmasikan potensi untuk meningkat 15% hingga 25% (lebih besar

42

lagi dengan berkurangnya lemak tubuh), hanya remaja saja yang memiliki
harapan untuk meningkatkan kebugaran hingga lebih dari 30%.

6.2

Jenis Kelamin
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai jenis kelamin laki-laki lebih benyak mengikuti fitness dari pada
perempuan. Ini sesuai dengan data Departemen Kesehatan Republik
Indonesia,1 mengatakan bahwa sampai pubertas biasanya kebugaran jasmani
anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan, tapi setelah pubertas
anak-anak laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih besar. Hal
yang sama dikemukakan oleh Sharkey (2003) yang dikutip oleh
Pramudyanto,20 bahwa sebelum puber anak laki-laki dan perempuan
memiliki kebugaran aerobik yang sedikit berbeda, tetapi setelah itu anak
perempuan jauh tertinggal. Rata-rata wanita muda memiliki kebugaran
aerobik antara 15% hingga 25% lebih kecil dari pada pria muda tergantung
pada tingkat aktivitas mereka.

6.3

Makanan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai pola makan 2 3 x sehari lebih banyak mengikuti fitness. Dari
data Departemen Kesehatan Republik Indonesia,1 diketahui bahwa daya
tahan tubuh akan meningkat bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat (60 70

43

%). Diet tinggi protein mempunyai tujuan untuk memperbesar otot dan
untuk olahraga juga memerlukan kekuatan otot yang besar.

6.4

Merokok
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang tidak
merokok lebih banyak mengikuti fitness. Hubungan merokok dengan
kebugaran, menurut data Departemen Kesehatan Republik Indonesia,1
bahwa kadar CO yang terhisap akan mengurangi nilai VO2 maks, yang
berpengaruh terhadap daya tahan, selain itu menurut penelitian Perkins dan
Sexton, nicotine yang ada, dapat memperbesar pengeluaran energi dan
mengurangi nafsu makan. Menurut National Center for Chronic Disease
Prevention and Health Promotion yang dikutip oleh Nkristan, 21 lebih dari
440.000 orang Amerika meninggal tiap tahunnya karena penyakit yang
diakibatkan merokok (termasuk sakit pencernaan dan pernafasan). 59% pria
Eropa Timur adalah perokok. Yang menarik adalah, pria yang berkecukupan
secara ekonomi di negara maju, cenderung menjauhi rokok. Perokok di
Amerika yang punya masa pendidikan 9 11 tahun (35,4%) jumlahnya
lebih tinggi dibandingkan mereka dengan masa pendidikan di atas 16 tahun
(11,6%). Kesimpulan dari statistik tersebut adalah, semakin maju tingkat
pendidikan seseorang, semakin kecil kemungkinan seseorang menjadi
perokok.

44

6.5

Motivasi
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai motivasi untuk membentuk otot lebih banyak mengikuti latihan
fitness. Dari penelitian Pramudyanto, 20 dikatakan bahwa motivasi amat
bervariatif didorong oleh kebutuhan yang dirasakan. Kesenjangan ini
menimbulkan permasalahan dalam proses berlatih di sebuah perkumpulan
olahraga. Motivasi tinggi yang dimiliki orang dalam melakukan kegiatan
akan mendapatkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan orang yang
rendah motivasinya dalam melakukan kegiatan. Oleh karena itu motivasi
merupakan peranan yang amat penting untuk mencapai keberhasilan.
Semakin sadar orang untuk melakukan latihan kebugaran, itu dapat dilihat
dengan semakin maraknya kegiatan aktivitas fisik jenis kebugaran serta
menjamurnya klub kebugaran yang ramai dikunjungi orang-orang. Namun
pada kenyataannya tidak semua member memiliki motivasi yang sama
untuk berprestasi. Motivasi amat bervariatif, didorong oleh kebutuhan yang
dirasakan.

6.6

Frekuensi Latihan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai frekuensi latihan > 4 x dalam seminggu dalam mengikuti
fitness. Ini sesuai dengan pernyataan Nusdwinuringtyas, 4 bahwa frekuensi 3
kali perminggu dikatakan sama baiknya dengan lima kali per minggu,

45

dengan catatan jeda antara 2 latihan tidak melebihi 2 hari. Hal yang sama
juga

dikemukakan

dalam

penelitian

Pramudyanto, 20

bahwa

untuk

mendapatkan hasil yang optimal aktivitas aerobik dilakukan 3 5 kali per


minggu (lebih baik dua hari sekali).

6.7

Durasi Latihan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai durasi latihan 45 90 menit dalam mengikuti fitness. Ini sesuai
dengan pernyataan Nusdwinuringtyas,4 bahwa durasi total latihan bisa
dilakukan minimal 45 90 menit per sesi (setiap kedatangan). Menurut Len
(1997) yang dikutip oleh Pramudyanto, 20 waktu atau lamanya latihan
sebaiknya secara bertahap ditingkatkan antara 20 60 menit.

6.8

Jenis Latihan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dalam melakukan latihan
fitness, lebih banyak peserta fitness yang melakukan jenis latihan dengan
menggunakan beban. Dari penelitian Pramudyanto,20 dikatakan bahwa tubuh
akan menyesuaikan pada kekhususan jenis latihan yang dipilih. Bila ingin
lari maraton, maka harus berlatih jarak jauh. Kalau ingin membentuk otototot, maka harus latihan beban yang keras. Ini sesuai dengan teori yang
didapat bahwa penggunaan beban sebagai alat bantu dapat meningkatkan
kontraksi otot.6 Menurut Len (1997) yang dikutip oleh Pramudyanto, 20

46

bahwa otot-otot yang kuat dapat melindungi persendian yang dikelilinginya


dan mengurangi kemungkinan terjadinya cedera karena aktivitas fisik.

6.9

Olahraga Lain
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang tidak
mempunyai kegiatan olahraga lain selain fitness lebih banyak mengikuti
fitness. Menurut Sharkey (2003) yang dikutip oleh Pramudyanto, 20 aktivitas
yang tidak berlebihan menghasilkan kebugaran diatas rata-rata dan
keuntungan kesehatan ekstra, dan latihan sistematik yang panjang
membantu mencapai potensi. Ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Asih Devi Ratna,8 bahwa olahraga yang baik adalah olahraga yang
membawa kebaikan, yaitu yang dilakukan secara teratur, pertengahan, dan
tidak berlebihan.

6.10 Pekerjaan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai pekerjaan pelajar/mahasiswa lebih banyak mengikuti fitness.

6.11 Pendidikan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta fitness yang
mempunyai pendidikan terakhir perguruan tinggi lebih banyak mengikuti
fitness.

47

6.12 Perilaku
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta yang mengikuti latihan
fitness mempunyai perilaku yang cukup. Dari penelitian Pramudyanto, 20
dikatakan bahwa aspek kejiwaan member seperti sikap mental, kepribadian,
motivasi, konsentrasi, kecemasan, dan lain-lain kadang-kadang kurang
mendapat perhatian dari pembina dan pengelola serta pelatih olahraga
padahal faktor psikologis ini memegang peranan sangat penting, contohnya
salah satu unsur khususnya motivasi adalah sebagai penggerak dan pengarah
setiap perilaku member.

6.13 Pengetahuan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peserta yang mengikuti latihan
fitness mempunyai pengetahuan yang cukup.

48

BAB VII
PENUTUP

7.1

Kesimpulan
Kelompok subjek yang paling banyak mengikuti fitness pada setiap
variabel independen, yaitu :
7.1.1 Menurut faktor-faktor demografi yang terbanyak adalah jenis
kelamin laki-laki, umur 21 30 tahun, pendidikan terakhir perguruan
tinggi dan pekerjaan pelajar/mahasiswa.
7.1.2 Menurut faktor-faktor habituasi atau kebiasaan makanan dan
merokok maka yang terbanyak adalah responden yang memiliki pola
makan 2 -3 x sehari, dan tidak memiliki kebiasaan merokok.
7.1.3 Menurut faktor-faktor fitness responden yang terbanyak memiliki
motivasi untuk membentuk otot dimana frekuensi latihan > 4 x
dalam seminggu dengan durasi latihan 45 90 menit dimana
sebagian besar responden melakukan latihan fitness dengan
menggunakan beban, dan tanpa melakukan olahraga lain selain
fitness.
7.1.4 Menurut distribusi faktor perilaku yang terbanyak adalah peserta
fitness yang memiliki perilaku cukup.
7.1.5 Menurut distribusi faktor pengetahuan yang terbanyak adalah peserta
fitness yang memiliki pengetahuan cukup.

49

7.2

Saran
7.2.1 Kepala Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat Provinsi Sulawesi
Selatan diharapkan agar mengadakan penyuluhan tentang usaha
meningkatkan kualitas hidup sehat kepada masyarakat khususnya
peserta fitness.
7.2.2 Diharapkan masyarakat mampu memilih faktor-faktor yang mana
dapat mempengaruhi suatu tingkat kesehatan seseorang.
7.2.3 Diharapkan adanya penelitian selanjutnya yang bersifat analitik
untuk mencari hubungan peserta fitness dengan faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap latihan kebugaran jasmani.

50

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan. Panduan Kesehatan Olahraga Bagi Petugas


Kesehatan. [online]. November 2002. [cited Januari 2009]; [15 screens].
Available from : http://www.depkes.go.id
2. Zein A. Memotivasi Diri Sendiri. [online]. Desember 2003. [cited Januari
2009]; [4 screens]. Available from : http://www.wgaul.com
3. Pawziyah. Motivasi. [online]. Januari 2009. [cited Januari 2009]; [8
screens]. Available from : http://pawziyah.wordpress.com
4. Nusdwinuringtyas Nury. Menakar Denyut Jantung Menakar Bugar.
[online]. Januari 2009. [cited Januari 2009]; [4 screens]. Available from :
http://www.wikimu.com/News/Home.aspx
5. Anonim. Latihan Fitness Untuk Pemula. [online]. Juli 2002. [cited Januari
2009];

[2

screens].

Available

from

http://cybernews.cbn.net.id/cbprtl/cybernews/index.htm
6. Anonim. Fitness. . [online]. Februari 2008. [cited Januari 2009]; [1
screen]. Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Fitness
7. Anonim. Apa Dan Bagaimana Fitness Yang Baik. [online]. Juni 2004.
[cited

Januari

2009];

[2

screens].

Available

from

http://cybernews.cbn.net.id/cbprtl/cybernews/index.htm
8. Asih Devi Ratna. Pola Hidup Sehat : Fisik. [online]. [cited Januari 2009];
[6 screens]. Available from : http://www.imc-malaysia.org

51

9. Anonim. Pekerjaan. [online]. Oktober 2008. [cited Januari 2009]; [1


screen]. Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan
10. Anonim. Pendidikan. [online]. Januari 2009. [cited Januari 2009]; [5
screens]. Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
11. Anonim. Perilaku Manusia. [online]. November 2008. [cited Januari
2009];

[1

screen].

Available

from

http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_manusia
12. Anonim. Pengetahuan. [online]. Maret 2008. [cited Januari 2009]; [1
screen]. Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan
13. Anonim. Tips Memilih Jenis Latihan Beban Untuk Pembentukan Tubuh.
[online]. Januari 2009. [cited Januari 2009]; [5 screens]. Available from :
http://jepretanhape.wordpress.com
14. Anonim. Tips Latihan. [online]. [cited Januari 2009]; [2 screens].
Available from : http://www.binaraga.net/index.php
15. Anonim. Latihan Fitness. [online]. Mei 2008. [cited Januari 2009]; [13
screens]. Available from : http://fitnessindonesia.blogspot.com
16. Anonim. Olahraga Apa Yang Pas Buat Anda. [online]. Januari 2008. [cited
Januari

2009];

[3

screens].

Available

from

http://www.kompas.com/index.php
17. Anonim. Kebugaran Jasmani. [online]. Juli 2008. [cited Januari 2009]; [2
screens].

Available

from

http://www.crayonpedia.org/mw/Kebugaran_jasmani

52

18. Anonim. Dragon Fitness Center. [online]. Desember 2008. [cited Januari
2009]; [1 screen]. Available from : http://www.blogger.com
19. Sastroasmoro Sudigdo, Ismael Sofyan. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian
Klinis. Jakarta : CV. Sagung Seto. 2008. p313.
20. Pramudyanto Anjar. Motivasi Melakukan Latihan Kebugaran Aerobik
Pada Member Grand Sport Fitness & Spa Grand Candi Hotel Semarang.
Semarang : Penelitian Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
2006. p16-17,27-31.
21. Nkristan. All About Rokok. [online]. Juni 2008. [cited Maret 2009]; [18
screens]. Available from : http://www.kaskus.us/come_inside.php

53