Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Program magang mahasiswa merupakan kegiatan mahasiswa untuk
belajar dari pengalaman kerja praktis di suatu instansi. Termasuk dalam
pengalaman praktis pemagangan merupakan identifikasi permasalahan, analisis
dan penyelesaian permasalahan, serta penerapan Ilmu dan Teknologi, khususnya
bidang Kesehatan Masyarakat.
Program

magang

mahasiswa

ini

dipandang

perlu

untuk

lebih

mendekatkan dunia Perguruan Tinggi dengan dunia kerja serta adanya keterkaitan
dan kesepadanan antara teori dan praktek di lapangan. Untuk hal tersebut,
Jurusan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat akan melakukan
penyesuaian-penyesuaian materi perkuliahan dengan perkembangan dunia kerja
yang mendukung perluasan wawasan serta keMangkuraan individu mahasiswa
(Panduan dan Jurnal Magang Epidemiologi FKM Unhas, 2009).
Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan selama ini merupakan bagian
yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, karena kesehatan sangat
terkait dan dipengaruhi oleh aspek demografi/kependudukan, serta keadaan dan
perkemabangan lingkungan fisik maupun biologi. Di dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat, telah diupayakan perilaku proaktif masyarakat
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah terjadinya penyakit

dengan melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan masyarakat. (Profil Kesehatan Indonesia, 2000).
Status kesehatan menjadi salah satu indikator tingkat kesejahteraan suatu
masyarakat. Berbagai faktor dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat,
antara lain faktor atau program dan pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat
(gaya hidup/life style), faktor keturunan dan lingkungan. Menurut HL. Blum,
faktor yang paling dominan dan sangat mempengaruhi derajat kesehatan manusia
adalah faktor lingkungan manusia itu sendiri.
Pengendalian yang berbasis data-data yang tidak akurat cenderung tidak
menyelesaikan permasalahan yang ada. Untuk itulah Praktikum Surveilans perlu
dilakukan agar terbentuk kebiasaan dan keMangkuraan untuk menjadikan datadata

sebagai

sebuah

informasi

dalam

menyusun

kegiatan-kegiatan

penanggulangan dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan surveilans mencakup


penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Penyakit ISPA dan Hipertensi
Lansia masing-masing merupakan jenis penyakit yang tergolong sebagai penyakit
menular dan penyakit tidak menular, dimana berdasarkan data 10 besar penyakit
terbanyak di Puskesmas Makkasau tahun 2008 diketahui bahwa kedua penyakit
ini merupakan penyakit yang menempati urutan pertama dan ketiga terbanyak
(Data Sekunder PKM Makkasau, 2008).
WHO memperkirakan angka kejadian ISPA di Negara berkembang
berkisar 30-70 kali lebih tinggi dari Negara maju dan diduga 20% dari bayi yang
lahir di Negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 25-30% dari

kematian anak disebabkan oleh ISPA. Di Amerika, ISPA merupakan peringkat


keenam dari semua penyebab kematian dan peringkat pertama dari seluruh
penyakit infeksi. Angka kematian disebabkan Pneumonia mencapai 25% di
Spanyol dan 12% atau 25-30 per 100.000 penduduk di Inggris dan Amerika
(Ridwan Amiruddin, 2005).
Adapun data mengenai angka kejadian penyakit Hipertensi Lansia
berdasarkan data WHO dari 50% penderita Hipertensi Lansia yang diketahui
hanya 25% yang mendapat pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati dengan
baik (adequately treated cases). Padahal Hipertensi Lansia merupakan penyebab
utama penyakit jantung, otak, syaraf, kerusakan hati dan ginjal sehingga
membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini merupakan beban yang besar baik
untuk keluarga, masyarakat maupun negara. Di negara maju, pengendalian
Hipertensi Lansia juga belum memuaskan, bahkan di banyak negara pengendalian
tekanan darah hanya 8% karena menyangkut banyak faktor baik dari penderita,
tenaga kesehatan, obat-obatan maupun pelayanan kesehatan. Di banyak negara
saat ini, prevalensi Hipertensi Lansia meningkat sejalan dengan perubahan gaya
hidup seperti merokok, obesitas, inaktivitas fisik, dan stres psikososial. Hipertensi
Lansia sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (public health problem) dan
akan menjadi masalah yang lebih besar jika tidak ditanggulangi sejak dini.
Salah satu upaya untuk menanggulangi penyakit baik penyakit menular
maupun penyakit tidak menular terutama dalam menekan angka prevalensi,
disamping pengobatan juga perlu dilaksanakan kegiatan surveilans epidemiologi

yang kegiatannya meliputi pengamatan, pencatatan dan pelaporan, pemantauan,


dan evaluasi yang dilakukan oleh petugas kesehatan bekerja sama dengan petugas
surveilans, dimana dengan menlaksanakan sistem surveilans yang rutin
diharapkan dapat menurunkan angka prevalensi penyakit. Untuk itu maka
surveilans penyakit ISPA dan penyakit Hipertensi Lansia kemudian akan dibahas
pada laporan ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan urutan dalam latar belakang masalah yang telah dijelaskan
sebelumnya memberi dasar bagi peserta magang untuk merumuskan pertanyaan
sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran umum pelaksanaan surveilans dan distribusi
epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008?
2. Bagaimana gambaran epidemiologi penyakit ISPA (Infeksi Saluran
Pernapasan Atas) menurut orang, waktu, dan tempat di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008?
3. Bagaimana gambaran epidemiologi penyakit ISPA Tekanan Darah Tinggi
(Hipertensi Lansia) menurut orang, waktu, dan tempat di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar Tahun 2008?
4. Bagaimana gambaran pelaksanaan surveilans penyakit ISPA (Infeksi
Saluran Pernapasan Atas) dan Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia)

meliputi kegiatan pengumpulan data, pencatatan, analisis, pelaporan dan


diseminasi di Puskesmas Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008?
C. Tujuan Magang
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran umum pelaksanaan surveilans dan
distribusi epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular di
Puskesmas Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran umum proses pelaksanaan surveilans
Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular di Puskesmas Makkasau
Kota Makassar Tahun 2006-2008?
b. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit ISPA (Infeksi Saluran
Pernapasan Atas) menurut orang, waktu, dan tempat di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008?
c. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit ISPA, Tekanan Darah
Tinggi (Hipertensi Lansia) menurut orang, waktu, dan tempat di
Puskesmas Makkasau Kota Makassar Tahun 2008?
c. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan surveilans penyakit ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Atas) dan Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi
Lansia) berdasarkan astribut di Puskesmas Makkasau Kota Makassar
Tahun 2006-2008?
D. Manfaat Magang
1. Manfaat Ilmiah
Diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan dapat
menjadi bahan bacaan bagi peserta Magang Surveilans Penyakit Mnular dan
Penyakit Tidak Menular selanjutnya.
2. Manfaat Praktis

Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pelaksana atau


penanggung jawab program kesehatan di Puskesmas Makkasau Kota
Makassar Tahun 2006-2008 dalam perencanaan upaya penanggulangan
penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) dan Tekanan Darah Tinggi
(Hipertensi Lansia).
3. Manfaat Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat menimba pelajaran praktis dari lapangan dan
membandingkan dengan dunia kerja yang sesungguhnya, sehingga dapat
mempersiapkan diri dalam menghadapi kompetisi pendidikan. Serta
merupakan

pengalaman

berharga

dalam

memperluas

wawasan

dan

pengetahuan tentang surveilans penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan


Atas) dan Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia).

BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI
A. Keadaan Geografis
Puskesmas Makkasau terletak di sebelah Barat Kota Makassar tepatnya
Kelurahan Mangkura, Kecamatan Ujung Pandang. Luas wilayah kerja Puskesmas
Makkasau yaitu 2,63 km2 yang meliputi 10 kelurahan yaitu:
1. Kel. Baru mempunyai 3 RW dan 8 RT dengan luas: 0,21 km2
2. Kel. Bulogading mempunyai 4 RW dan 14 RT dengan luas: 0,23 km2
3. Kel. Lae-lae mempunyai 3 RW dan 10 RT dengan luas: 0,22 km2
4. Kel. Maloku mempunyai 4 RW dan 17 RT dengan luas: 0,20 km2
5. Kel. Losari mempunyai 3 RW dan 14 RT dengan luas: 0,27 km2
6. Kel. Sawerigading mempunyai 3 RW dan 11 RT dengan luas: 0,41 km2
7. Kel. Mangkura mempunyai 3 RW dan 9 RT dengan luas: 0,37 km2
8. Kel. Pisang Selatan mempunyai 4 RW dan 15 RT dengan luas: 0,18 km2
9. Kel. Lajangiru mempunyai 4 RW dan 20 RT dengan luas: 0,20 km2
10. Kel. Pisang Utara mempunyai 6 RW dan 23 RT dengan luas: 0,34 km2
Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Makkasau adalah sebagai
berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Wajo
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Makassar
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Mariso
- Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
(Sumber Data: Kantor Kecamatan Ujung Pandang, 2006)
B. Keadaan Demografis
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Makkasau sebanyak 27.929
jiwa dengan jumlah keseluruhan kelurahan ada 10 kelurahan. Dimana jumlah
penduduk laki-laki sebanyak 13.803 jiwa sedangkan jumlah penduduk wanita
sebanyak 14.126 jiwa. Berikut rincian data penduduk menurut kelurahan dan
Jenis Kelamin (tabel 1).
Tabel 1
Distribusi Penduduk Menurut Kelurahan dan Jenis Kelamin
Wilayah Kerja Puskesmas Makkasau
Tahun 2008

Jumlah Penduduk
No.

Kelurahan

Baru

Bulogading

Laki-Laki

Perempuan

Total

832

833

1665

1457

1487

2944

Lae-lae

794

713

1507

Maloku

1452

1563

3015

Losari

954

1145

2099

Sawerigading

807

825

1632

Mangkura

977

1027

2004

Pisang Selatan

1782

1839

3621

Lajangiru

2243

2216

4459

10

Pisang Utara

2505

2478

4983

Jumlah

13803

14126

27929

Sumber : Kantor Kecamatan Ujung Pandang Per Desember 2008

C. Status Kesehatan
Untuk mengukur status kesehatan masyarakat maka digunakan angka
morbiditas/angka kesakitan dan juga sarana danprasarana termasuk tenaga
kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Makkasau. Berdasarkan data
rekapitulasi sepuluh penyakit utama dan terbanyak yang diderita oleh masyarakat
yang berada di wilayah kerja Puskesmas Makkasau tahun 2008 dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 2
Sepuluh Penyakit Utama di Wilayah Kerja Puskesmas Makkasau
Tahun 2008
No

Jenis Penyakit

Jumlah

Penyakit saluran pernapasan bagian atas

15558

Penyakit rongga mulut

3860

Penyakit tekanan darah tinggi

3448

Penyakit kulit dan jaringan sub kutan

2902

Penyakit pada sistim otot & jaringan pengikat


( peny. Tulang,radang sendi termasuk reumatik )

2605

Peny.infeksi pada usus

1223

Kecelakaan dan keracunan

666

Penyakit mata dan adneksa

437

Diabetes Mellitus

349

10

Penyakit virus

319

Sumber : Profil PKM Makkasau 2008

1. Sarana/Fasilitas Kesehatan
Luas Gedung Puskesmas Makkasau 360 M2, dengan jumlah ruangan
sebanyak 13 buah dan kamar mandi/WC sebanyak 2 buah dan. Sarana
Kesehatan di Puskesmas Makkasau dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3
Jumlah Sarana/Fasilitas yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Makkasau
Tahun 2008
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Sarana
Ruang Kepala PKM
Ruang Tata Usaha
Aula
WC
Laboratorium
Ruang Perawatan Gigi
Ruang KIA/KB
Ruang Suntik
Gudang Obat

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

10
11
12
13

Apotik
Ruang Kartu
Ruang Periksa
Dapur

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Sumber : Profil PKM Makkasau 2008

2. Tenaga Kesehatan
Jumlah Tenaga Kesehatan yang dimiliki oleh Puskesmas Makkasau berjumlah
19 orang. Sedangkan jumlah Posyandu uang ada di wilayah Kerja Puskesmas
Makkasau sebanyak 18 buah, namun Posyandu yang aktif hanya 16 buah.
Jumlah kader Posyandu sebanyak 75 orang, namun jumlah kader yang aktif
hanya 54 orang. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Makkasau dapat dilihat pada
tabel 7 di bawah ini :
Tabel 4
Jumlah Tenaga Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Makkasau
Tahun 2008
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jenis Tenaga
Dokter Umum
Dokter Gigi
Perawat Gigi
Bidan
Sanitarian
Petugas Gizi
Petugas Laboratorium
Asisten Apoteker
Perawat
Jumlah

Jumlah
2 orang
2 orang
2 orang
4 orang
1 orang
1 orang
1 orang
1 orang
5 orang
19 orang

Sumber : Profil PKM Makkasau 2008

10

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Magang Epidemiologi


Program Magang Mahasiswa merupakan kegiatan mahasiswa untuk
belajar dari pengalaman kerja praktis di suatu institusi. Dengan adanya program
ini diharapkan dapat meningkatkan kompetisi lulusan dan menjadi tambahan
pengetahuan serta wawasan dunia kerja. Termasuk dalam pengalaman praktis
pemagangan

adalah

melakukan

identifikasi

permasalahan,

analisis

dan

penyelesaian permasalahan, serta penerapan Ilmu dan Teknologi, khususnya


bidang Kesehatan Masyarakat.
Program

Magang

mahasiswa

ini

dipandang

perlu

untuk

lebih

mendekatkan dunia Perguruan Tinggi dengan dunia kerja serta adanya keterkaitan
dan kesepadanan antara teori dan praktek di lapangan. Untuk hal tersebut, Jurusan
Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat telah melakukan penyesuaianpenyesuaian materi perkuliahan dengah perkembangan dunia kerja yang dapat
mendukung perluasan wawasan serta ke Mangkuraan individu mahasiswa
(Panduan & Jurnal Magang Epidemiologi FKM Unhas, 2009)
Berikut ini adalah Manajemen Magang Jurusan Epidemiologi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin:

11

a. Pimpinan adalah Pimpinan Jurusan epidemiologi Fakultas Kesehatan


Masyarakat Universitas Hasanuddin yang terdiri dari Ketua dan atau
Sekretaris Jurusan.
b. Pengelola adalah Pengelola Magang yang ditunjuk oleh pimpinan untuk
mengelola kegiatan magang mahasiswa Jurusan Epidemiologi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Umiversitas Hasanuddin berdasarkan surat
keputusan resmi.
c. Dosen Pembimbing adalah Dosen Jurusan Epidemiologi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yang ditunjuk dengan
surat keputusan resmi untuk membimbing, membina serta memberikan
pengarahan kepada mahasiswa magang.
d. Pemimbing Institusi adalah seorang pembimbing dari tempat mahasiswa
magang yang telah diminta kesediaannya secara resmi oleh pengelola dan
bersedia untuk memberikan arahan dan membina mahasiswa peserta
magang selama kegiatan magang di tempat magang.
e. Peserta Magang adalah mahasiswa yang telah memenuhi syarat dan
terdaftar sebagai peserta Mata Kuliah Magang Jurusan Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Panduan dan
Jurnal Magang Epidemiologi FKM Unhas, 2009)

12

B. Tinjauan Umum Tentang Surveilans Epidemiologi


1. Pengertian Surveilans Epidemiologi
Surveilans epidemiologi adalah penugumpulan dan pengamatan secara
sistematik dan berkesinambungan dengan analisa dan interpretasi data
kesehatan dalam proses menjelaskan dan memonitoring, dengan kata lain
surveilans epidemiologi merupakan kegiatan pengamatan secara teratur dan
terus-menerus terhadap semua aspek kejadian penyakit dan kematian akibat
penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya dalam suatu
masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan.
Dengan demikian data surveilans dapat dipakai baik untuk menentukan
prioritas kegiatan kesehatan masayarakat maupun untuk menilai efektivitas
kegiatan (Noor, 2002).
Istilah surveilans digunakan untuk dua hal yang agak berbeda. Pertama,
surveilans dapat diartikan sebagai pengawasan secara terus-menerus terhadap
faktor penyebab kejadian dan sebaran penyakit, dan yang berkaitan dengan
keadaan sehat atau sakit. Kegiatan surveilans ini meliputi pengumpulan,
analisis, penafsiran, dan penyebaran data yang terkait, serta dianggap sangat
berguna untuk penanggulangan dan pencegahan secara efektif. Definisi yang
demikian luas itu mirip dengan surveilans pada sistem informasi kesehatan
rutin, dan karena itu keduanya dapat dianggap berperan bersama-sama.
Kegunaan kedua yaitu menyangkut sistem pelaporan khusus yang
diadakan untuk menanggulangi masalah kesehatan utama atau penyakit,

13

misalnya penyebaran penyakit menahun suatu bencana alam. Sistem


surveilans ini sering dikelola dalam jangka waktu yang terbatas dan
terintegrasi secara erat dengan pengelolaan program intervensi kesehatan. Bila
informasi tentang insidens sangat dibutuhkan dengan segera, sedangkan
sistem informasi rutin tidak dapat diandalkan maka sistem ini dapat digunakan
(Vaughan, 1993).
Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terus menerus atas
distribusi, dan kecenderungan suatu penyakit melalui pengumpulan data yang
sistematis agar dapat ditentukan penanggulangannya yang secepat-cepatnya
(Gunawan, 2000).
Menurut hasil pertemuan Teknik Worked Health Assemblling tahun 1968,
batasan pengertian surveilans adalah mengawasi secara seksama serta
waspada secara terus-menerus terhadap distribusi, penyebaran penyakit
menular infeksi dan faktor-faktor yang terkait, guna pengawasan yang efektif.
Menurut WHO sendiri bahwa surveilans adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interpretasi data secara terus menerus serta
penyebaran informasi pada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil
tindakan.
Dari pengertian di atas, terdapat 6 komponen penting arti surveilans
yaitu:
a.Pengumpulan/pencatatan kejadian yang dapat dipercaya
b. Pengolahan data untuk memberi informasi atau keterangan yang berarti

14

c.Analisis dan intervensi data untuk kepentingan kegiatan


d. Penyebarluasan data (informasi)/umpan balik
e.Evaluasi/penilaian hasil kegiatan
f. Perencanaan dan penanggulangan khusus dan program pelaksanaannya.
2. Tujuan Surveilans
Tujuan utama surveilans epidemiologi adalah untuk memperoleh
gambaran kejadian morbiditas dan mortalitas serta kejadian peristiwa vital
secara teratur, sehingga dapat digunakan dalam berbagai kepentingan
perencanaan serta tindakan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.
Secara rinci tujuan tersebut dapat meliputi hal-hal berikut ini:
a.Identifikasi, investigasi dan penanggulangan situasi luar biasa atau wabah
yang terjadi dalam masyarakat sedini mungkin.
b. Identifikasi kelompok penduduk tertentu dengan risiko tinggi
c.Untuk penentuan kejadian dengan prioritas penanggulangannya
d. Untuk bahan evaluasi antara input pada berbagai program kesehatan
dengan hasil luarannya berupa insidensi dan prevalensi kejadian dalam
masyarakat.
e.Pembuatan policy dan kebijakan pemberantasan penyakit
3. Komponen Surveilans
Komponen dari surveilans yaitu:
a.Pengumpulan/pencatatan kejadian (data) yang dapat dipercaya.
b. Pengelola data untuk dapat memberikan keterangan yang berarti.

15

c.Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan.


d. Perencanaan penanggulangan khusus dan program pelaksanaannya.
e.Evaluasi/penilaian hasil kegiatan.
4. Kegiatan Pokok Pelaksanaan Surveilans
a. Pengumpulan data
Pada tahap pengumpulan data dilakukan pencatatan insidensi
terhadap population at risk. Pencatatan insidensi dibuat berdasarkan
laporan rumah sakit, puskesmas, dan sarana pelayanan kesehatan lain serta
laporan petugas surveilans di lapangan, laporan masyarakat, dan petugas
kesehatan lain yang dilakukan melalui survei khusus;dan pencatatan
jumlah populasi berisiko terhadap penyakit yang sedang diamati. Teknik
pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan.
Tujuan pengumpulan data adalah menentukan kelompok high risk,
menentukan jenis penyakit dan karakteristik (penyebabnya), menentukan
reservoir atau transmisi, serta pencatatan kejadian penyakit dan KLB.
Pengumpulan data dilakukan baik melalui kegiatan yang bersifat rutin
maupun khusus, adapun kegiatan-kegiatan yang dimaksud antara lain:
1. Kegiatan yang bersifat rutin :
a) Laporan rutin penyakit tertentu, baik penyakit menular maupun
tidak menular atau berbagai kejadiann yang berhubungan dengan
kesehatan secara umum.

16

b) Pencatatan dan pelaporan khusus kejadian penyakit tertentu


dalam masyarakat yang terbatas pada kejadian yang mempunyai
dampak berat pada masyarakat.
c) Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan jenis penyakit yang wajib
dilaporkan (penyakit karantina, penyakit berpotensi wabah,
penyakit yang jarang dijumpai seperti SARS) di setiap negara.
d) Surveilans ekologi dan lingkungan khususnya vektor penyakit
menular, pengamatan terhadap pencamaran lingkungan, udara,
tanah, air dan lain- lain.
e) Pengamatan dan pengawasan terhadap pemakaian bahan tertentu
seperti insektisida, vaksin, obat-obat keras/berbahaya dan lainlain.
f) Pencatatan dan pelaporan peristiwa vital yang meliputi kelahiran,
perkawinan, perceraian dan kematian.
2. Kegiatan yang bersifat khusus :
a) Pelaksanaan survei berkala untuk berbagai hal tertentu.
b) Pengamatan khusus terhadap kejadian luar biasa ( KLB ) dan
penelitian aktif tertentu.
c) Pengamatan khusus oleh dokter praktek, pengamatan di klinik
dan lain-lain.

17

b. Pengelolaan data
Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah
(row data) yang masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah
dianalisis. Data yang terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel, bentuk
grafik maupun bentuk peta atau bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut
harus dapat memberikan keterangan yang berarti.
c. Analisis dan Interpretasi Data
Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan
dilakukan interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan
tentang situasi yang ada dalam masyarakat.
d. Penyebarluasan Data dan Keterangan termasuk Umpan Balik

Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan


yang cukup jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan,
selanjutnya

dapat

disebarluaskan

kepada

semua

pihak

yang

berkepentingan, agar informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai mana


mestinya.
e. Evaluasi
Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat
digunakan untuk perencanaan, penanggulangan khusus serta program
pelaksanaannya, untuk kegiatan tindak lanjut (follow up), untuk
melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan pelaksanaan

18

program, serta untuk kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil


kegiatan.
5. Atribut (sifat) Sistem Surveilans
a. Kesederhanaan (simplicity), menyangkut struktur dan kemudahan
operasionalnya.
b. Fleksibel (flexibility), dapat beradaptasi/menyesuaikan diri dengan
perubahan informasi yang diperlukan atau perubahan pelaksanaan tanpa
harus merubah seluruh alur system yang sudah ada.
c. Dapat diterima (acceptability), merupakan refleksi dari individu atau
perorangan dan organisasi atau unit untuk ikut serta dalam system
surveilans.
d. Sensivitas (Sensivity), sensivitas dapat dilihat terhadap dua tingkatan :
1) Pada tindakan laporan kasus, proporsi dari masalah kesehatan yang
dapat diketahui oleh system surveilans dapat diamati dan dinilai
dengan ukuran tertentu.
2) Sistem dapat dinilai terhadap keMangkuraannya untuk mengetahui
epidemic dan tingkat kebenarannya dalam menentukan masalah
kesehatan terhadap masalah yang sebenarnya ada dalam masyarakat..
e. Nilai ramal positif (predictive value positive), adalah proporsi dari
penduduk yang dapat diidentifikasi sebagai kasus, yang dapat dinilai oleh
system surveilans tersebut yang sesungguhnya mempunyai masalah

19

kesehatan. Dan seberapa nilai kebenaran tersebut dapat dihasilkan oleh


system surveilans.
f. Representative, system dikatakan representative bila secara benar dapat
menggambarkan :
1) Kejadian dari masalah kesehatan sepanjang waktu
2) Distribusi masalah tersebut menurut tempat dan orang
g. Ketepatan waktu (timeliness), dapat dinilai dari waktu yang diperlukan
untuk mengikuti alur system tersebut atau ketepatan waktu dalam
memberikan informasi yang memerlukan tindakan segera.
6. Jenis Surveilans Epidemiologi
Terdapat lima jenis dari surveilans yaitu sebagai berikut :
a) Surveilans pasif, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari laporan
bulanan sarana pelayanan di daerah.
b) Surveilans aktif, yaitu pengumpulan data yang dilakukan secara
langsung untuk mempelajari penyakit tertentu dalam waktu yang relatif
singkat dan dilakukan oleh petugas kesehatan secara teratur seminggu
sekali atau dua minggu sekali untuk mencatat ada atau tidaknya kasus
baru penyakit tertentu.
c) Surveilans menyeluruh, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dalam
batas waktu tertentu diberbagai bidang agar dapat mewakili populasi
yang diteliti dalam sebuah negara.

20

d) Surveilans sentinel, yaitu pengumpulan data yang dilakukan terbatas


pada bidang-bidang tertentu. Survei ini tidak dapat digunakan dalam
sebuah populasi karena dianggap tidak mewakili sebuah

kelompok

populasi, akan tetapi dapat digunakan untuk memonitor tren penyakit


dan dalam mengumpulkan informasi yang lebih terperinci.
e) Surveilans berdasarkan kondisi masyarakat, sarana dan prasarana
serta laboratorium kesehatan termasuk pelaporan yang dilakukan oleh
masyarakat, fasilitas kesehatan dan laboratorium secara berturut-turut.
7. Sumber Data Surveilans
Terdapat 10 sumber utama atau jenis data yang relevan untuk surveilans
penyakit yaitu:
a. Laporan penyakit (LB1)
b. Laporan kematian (LB 4)
c. Laporan wabah
d. Laporan laboratorium
e. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
f. Laporan penyelidikan wabah
g. Survai khusus
h. Informasi tentang hewan sumber penularan dan vector
i. Data demografi
j. Data lingkungan

21

8. Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangannya


Surveilans merupakan dasar ilmiah guna perencanaan, pelaksanaan, dan
penelitian suatu usaha pemberantasan penyakit. Surveilans epidemiologi pada
umumnya digunakan untuk:
a. Mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi suatu penyakit
b. Untuk menentukan penyakit mana yang diperioritaskan untuk diobati
dan diberantas
c. Untuk meramalkan terjadinya wabah
d. Untuk menilai dan memantau pelaksanaan program pemberantasan
penyakit menular, dan program-program kesehatan lainnya seperti
program mengatasi kecelakaan, program kesehatan gigi, program gizi,
dan lain-lain
e. Untuk mengetahui jangkauan dari pelayanan kesehatan.
9. Kegunaan Surveilans Epidemiologi
Surveilans epidemiologi mempunyai beberapa kegunaan utama yaitu
sebagai berikut:
a) Dapat mendeteksi kecenderungan (trend) perubahan kejadian penyakit
tertentu dan kejadian luar biasa (KLB) atau epidemik.
b) Dapat merangsang dan mendorong untuk diadakan pengamatan
epidemiologi

tentang

adanya

kemungkinan

pencegahan

dan

penanggulangannya.

22

c) Dapat mengidentifikasi faktor risiko dan untuk mengenali kelompok


risiko tinggi (misalnya menurut usia dan pekerjaan), wilayah geografi
yang banyak memiliki masalah, dan variasi dari waktu ke waktu
(misalnya musiman, dan tahun ke tahun). Hal ini juga membantu
perencanaan program yang berkaitan dengan kejadian penyakit.
d) Dapat memperhitungkan kemungkinan adanya efek atau pengaruh upaya
penanggulangan penyakit atau gangguan kesehatan.
e) Dapat memberikan pebaikan dibidang klinik bagi pelaksanaan
pelayanan ( Health Care Provider ) yang juga merupakan bagian dari
unsur pokok sistem surveilans.
f) Untuk mengenali wabah dan memastikan bahwa penanggulangan yang
sedang berlangsung berhasil dengan efektif.
g) Untuk memantau pelaksanaan dan keefektifan program penanggulangan
khusus dengan jalan membandingkan besarnya masalah antara sebelum
dan sesudah pelaksanaan program.
h) Untuk membantu perencanaan program kesehatan dengan jalan
menunjukkan jenis penyakit dan masalah kesehatan yang penting
sehingga berguna untuk mengadakan intervensi khusus. Hal ini juga
membantu menentukan prioritas.
i) Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai vektor dan dinamika
penyakit menular.

23

10. Bentuk Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi


Pelaksanaan surveilans dalam suatu wilayah secara garis besar dapat
dilakukan dengan dua cara yakni surveilans pasif dan aktif. Surveilans pasif
atau disebut juga pengumpulan keterangan tentang kejadian penyakit dalam
masyarakat yang dilakukan oleh unit surveilans mulai dari tingkat puskesmas
sampai ke tingkat nasional. Dalam hal ini sejumlah penyakit tertentu secara
teratur dilaporkan baik melalui rumah sakit maupun melalui puskesmas atau
institusi pelayanan kesehatan lainnya. Data yang terkumpul kemudian
dianalisis dan disebarluaskan serta dilakukan pengamatan khusus bila ada
kejadian yang bersifat luar biasa.
Surveilans aktif merupakan pengumpulan data terhadap satu atau lebih
penyakit tertentu pada suatu masa waktu tertentu yang dilakukan secara
teratur oleh petugas kesehatan yang telah ditugaskan untuk hal tersebut.
Bentuk surveilans aktif ini biasanya dilakukan bila ada penyakit baru
yang diketemukan, atau suatu bentuk penularan dalam masyarakat yang
sedang dalam pengamatan, atau bila ada perkiraan peningkatan risiko
penduduk karena perubahan musim, begitu pula bila adanya penyakit yang
baru muncul pada suatu daerah geografis atau suatu kelompok populasi
tertentu. Juga dilakukan pada masa transisi dari suatu penyakit yang baru saja
dibasmi dari suatu wilayah data populasi tertentu, maupun penyakit yang
sebelumnya sudah berada di bawah tingkat penanggulangan (under control)

24

tetapi kemudian mulai memperlihatkan peningkatan jumlah kasus yang berarti


atau insidensi yang meninggi.
11. Alat Bantu Pelaksanaan Surveilans
a) Laboratorium untuk diagnosis pasti
b) Sistem pelaporan yang aktif.
c) Tenaga ahli untuk keperluan:
1) Diagnosis.
2) Analisis dan interpretasi data.
3) Perencanaan dan evaluasi.
(Diktat Kuliah Surveilans Kesmas)

C. Tinjauan Umum tentang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)


1. Pengertian ISPA
ISPA merupakan penyakit infeksi saluran nafas yang secara anatomi
dibedakan atas saluran nafas atas mulai dari hidung sampai dengan faring dan
saluran nafas bawah mulai dari laring sampai dengan alveoli beserta
adnexanya, akibat invasi infecting agents yang mengakibatkan reaksi
inflamasi saluran nafas yang terlibat. Hingga saat ini telah dikenal lebih dari
300 jenis bakteri dan virus sebagai penyebab ISPA (Silalahi, 2004).
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah
ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections

25

(ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan
akut, dengan pengertian sebagai berikut:
a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli
beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan
pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas,
saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan
organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru
termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk
beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat
berlangsung lebih dari 14 hari (Levi Silalahi, 2004)
2. Etiologi ISPA
Walaupun penyebab ISPA beranekaragam namun penyebab terbanyak
adalah infeksi virus dan bakteri. Penyebab infeksi ini dapat sendirian atau
bersama-sama secara simultan. Penyebab ISPA akibat infeksi virus berkisar
90-95% terutama ISPA Atas. ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus
dan riketsia. Bakteri penyebeb ISPA antara lain dari genus Streptokokus,
Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofillus, Bordetella dan Korinobakterium.
Virus penyebeb ISPA antara lain adalah golongan Mikosovirus, Adenovirus,
Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus.

26

ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA


bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri dan virus. ISPA bagian bawah
yang disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi linis yang
berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya.
Adapun faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA antara lain
BBLR, malnutrisi, polusi udara dalam ruangan, tidak mendapatkan ASI
penuh, padat hunian, imunisasi tidak lengkap dan defesiensi vitamin A.
3. Faktor Risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA
Penyakit ISPA dipengaruhi oleh beberapa Faktor risiko berikut :
a.Faktor yang berkaitan dengan daya tahan tubuh (host) seperti umur, Jenis
kelamin, status gizi, imunisasi, dan asupan vitamin A.
b. Faktor Lingkungan seperti perumahan (ventilas, lantai, dan kamarisasi),
kepadatan hunian, kebiasaan merokok, pendidikan Ibu, dan sosial
ekonomi.
c.Agent seperti bakteri, virus dan jamur (Muluki M, 2003)
D. Tinjauan Umum tentang Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia)
1. Definisi Hipertensi Lansia
Sampai saat ini belum ada definisi yang tepat mengenai Hipertensi
Lansia karena tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Hipertensi
Lansia dan normotensi. Yang telah dibuktikan adalah peningkatan tekanan
darah akan menaikkan mortalitas dan morbiditas. Secara teoritis, Hipertensi
Lansia didefinisikan sebagai suatu tingkat tekanan darah tertentu, yaitu di atas
tingkat tekanan darah tersebut dengan memberikan pengobatan akan

27

menghasilkan lebih banyak manfaat dibandingkan dengan tidak memberikan


pengobatan (E. Susalit, E.J. Kapojos, H.R. Lubis).
Menurut WHO (1978), batas tekanan darah yang masih dianggap normal
adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau di atas 160/95
mmHg dinyatakan sebagai Hipertensi Lansia. Batasan tersebut tidak
membedakan usia dan jenis kelamin.
Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia) adalah suatu peningkatan
tekanan darah di dalam arteri. Secara umum, Hipertensi Lansia merupakan
suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam
arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal
jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal
2. Jenis Hipertensi Lansia
a. Berdasarkan Penyebabnya:
1) Hipertensi Lansia primer atau esensial adalah Hipertensi Lansia yang
tidak/belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 %
dari seluruh Hipertensi Lansia).
2) Hipertensi

Lansia

sekunder

adalah

Hipertensi

Lansia

yang

disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.


Jika penyebabnya diketahui, maka disebut Hipertensi Lansia sekunder.
Pada sekitar 5-10% penderita Hipertensi Lansia, penyebabnya adalah
penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan
hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

28

Penyebab Hipertensi Lansia lainnya yang jarang adalah feokromositoma,


yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin
(adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
b. Berdasarkan gangguan Tekanan Darah:
1) Sistolik
2) Diastolik
Klasifikasi tekanan darah tinggi menurut World Health Organization
(WHO), organisasi kesehatan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) adalah sebagai berikut : tekanan darah normal, jika sistolik kurang
atau sama dengan 140 mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90
mmHg. Tekanan darah perbatasan, di mana sistolik 141-149 mmHg dan
diastolik 91-94 mmHg. Tekanan darah tinggi atau Hipertensi Lansia, yaitu
jika sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan diastolik lebih
besar atau sama dengan 95 mmHg.
c. Berdasarkan berat ringannya peningkatan Tekanan Darah terbagi menjadi,
Ringan, Sedang dan Berat.
3. Faktor Resiko Hipertensi Lansia
a. Keturunan
b. Usia : > 40 tahun
c. Berat Badan : gemuk > kurus
d. Konsumsi Garam
e. Ras : kulit hitam > kulit putih

29

f. Pola makan dan gaya hidup


g. Aktivitas olahraga
h. Sex : wanita > lelaki
i. Rokok
j. Pil KB
4. Kode Hipertensi Lansia berdasarkan ICD
a. I10 Essential (primary) hypertension
b. I11 Hypertensive heart disease:
I11.0 Hypertensive heart disease with (congestive) heart failure
I11.9 Hypertensive heart disease without (congestive) heart failure
c. I12 Hypertensive renal disease
I12.0 Hypertensive renal disease with renal failure
I12.9 Hypertensive renal disease without renal failure
d. I13 Hypertensive heart and renal disease
I13.0 Hypertensive heart and renal disease with (congestive) heart
failure
I13.1 Hypertensive heart and renal disease with renal failure
I13.2 Hypertensive heart and renal disease with both (congestive) heart
failure and renal failure
I13.9 Hypertensive heart and renal disease, unspecified
e. I15 Secondary Hypertension
I15.0 Renovascular hypertension

30

I15.1 Hypertension secondary to other renal disorders


I15.2 Hypertension secondary to endocrine disorders
I15.8 Other secondary hypertension
I15.9 Secondary hypertension, unspecified
5. Klasifikasi Tekanan Darah pada Dewasa
Kategori
normal
normal tinggi
stadium 1
(Hipertensi
Lansia
ringan)
stadium 2
(Hipertensi
Lansia
sedang)
stadium 3
(Hipertensi Lansia berat)
stadium 4
(Hipertensi
Lansia
maligna)

Tekanan
Darah
Sistolik
dibawah 130 mmhg
130-139 mmhg

Tekanan
Darah
Diastolik
dibawah 85 mmhg
85-89 mmhg

140-159 mmhg

90-99 mmhg

160-179 mmhg

100-109 mmhg

180-209 mmhg

110-119 mmhg

210 mmhg atau lebih

120 mmhg atau lebih

BAB IV
METODE MAGANG EPIDEMIOLOGI

A. Jenis Praktikum Magang Surveilans Epidemiologi


Jenis praktikum magang ini adalah praktik survei khusus dengan
pendekatan deskriptif, dimaksudkan untuk melihat gambaran mengenai proses

31

pelaksanaan surveilans epidemiologi berdasarkan orang (umur, jenis kelamin


dan), waktu kejadian (bulan dan tahun) dan tempat kejadian (batas kelurahan
wilayah kerja puskesmas). Di mana data yang diambil berupa data rutin dari
Puskesmas Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008.
B. Lokasi Magang Surveilans Epidemiologi
Magang surveilans epidemiologi penyakit menular dan penyakit tidak
menular ini dilaksanakan di Puskesmas Makkasau Kota Makassar Provinsi
Sulawesi Selatan yang terletak di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar
dengan wilayah kerja mencakup sepuluh kelurahan yaitu kelurahan Pisang Utara,
Bulogading, Lae-lae, Maloku, Losari, Sawerigading, Mangkura, Pisang Selatan,
Lajangiru, Baru.
C. Waktu Magang Surveilans Epidemiologi
Kegiatan magang ini dilaksanakan di Puskesmas Makkasau Kota
Makassar mulai tanggal 5 19 Januari tahun 2009.

D. Pengumpulan Data
1. Tujuan
Data yang dikumpulkan bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan surveilans
epidemiologi di Puskesmas Makkasau Kota Makassar tahun 2006-2008.
2. Jenis Pengumpulan Data

32

Data dikumpulkan dengan wawancara dan pemeriksaan dokumen Laporan


Bulanan Data Penyakit (LB1) dan Laporan Bulanan P2 ISPA di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar tahun 2006-2008.
E. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan komputerisasi. Pengolahan
data yang dilakukan secara manual yaitu dengan merekap data laporan bulanan
Puskesmas Makkasau Kota Makassar tahun 2006-2008. Pengolahan data yang
dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan Microsoft Office Excel
2003 kemudian dianalisis dalam bentuk table, grafik dan narasi.
F. Penyajian Data
Data yang telah diolah dan dianalisis lebih lanjut akan disajikan dalam
bentuk tabel sederhana/tabel frekuensi (one-way tabulation), grafik, serta narasi
mengenai gambaran pelaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi khususnya
kasus ISPA dan Gastritis tahun 2006-2008.

33

BAB V
HASIL MAGANG EPIDEMIOLOGI
A. Hasil Pelaksanaan Magang Surveilans Epidemiologi
1. Gambaran Umum Pelaksanaan Suveilans di Puskesmas Makkasau Kota
Makassar Tahun 2006-2008
Pelaksanaan surveilans epidemiologi di Puskesmas Makkasau Kota
Makassar yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan petugas
surveilans Ibu Sustiana, SKM dan petugas surveilans ISPA yaitu Ibu
Musdalifa sehingga diperoleh gambaran sebagai berikut:
a. Pencatatan dan Pengumpulan Data
Berdasarkan hasil praktikum surveilans yang dilakukan di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar diketahui bahwa kegiatan pencatatan dan
pengumpulan data telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan
format dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan mulai tahun
2006. Setiap pasien yang berkunjung ke Puskesmas Makkasau Kota
Makassar dicatat dalam Buku Registrasi kemudian ditransfer pada
Laporan Bulanan penderita. Kami mengamati bahwa petugas sangat
dimudahkan dalam pengumpulan data mengenai setiap pasien yang
berkunjung, dimana dengan adanya buku ini keadaan pasien dan
seluruh anggota keluarga mereka dapat tergambar dengan jelas dan
lengkap.

34

b. Kompilasi Data
Kompilasi data yang dilaksanakan oleh petugas surveilans di
Puskesmas Makkasau Kota Makassar dilakukan dengan membuat
tabel-tabel dan disajikan dalam bentuk grafik.
c. Pengolahan dan Analisis data
Pengolahan data di Puskesmas Makkasau Kota Makassar masih
dilakukan secara manual dimana belum semuanya dianalisis dengan
menggunakan komputer. Adapun data yang ditampilkan berupa
distribusi penyakit berdasarkan umur, jenis kelamin, bulan, tahun dan
batas kelurahan (tempat) per bulan selama satu tahun khususnya untuk
25 penyakit terbanyak. Sementara untuk analisis, petugas di
Puskesmas
pengetahuan

tidak

melakukannya,

khususnya

mengenai

terkait
sistem

dengan

keterbatasan

komputerisasi

data,

meskipun pada Puskesmas Makkasau telah tersedia satu unit


komputer.
d. Interpretasi Data
Dari hasil pengamatan yang dilaksanakan selama magang, kami
melihat bahwa data-data yang telah diinput hanya sebatas ditampilkan
dalam bentuk tabel belum diolah dan diinterpretasikan secara
maksimal.

35

e. Pelaporan
Pada kegiatan pelaporan dapat dilihat bahwa kegiatannya dilaksanakan
dengan cukup baik, baik dari segi kelengkapan, kebenaran dan
ketepatannya karena kegiatan pelaporan ke Dinas Kesehatan Kota
Makassar yakni setiap tanggal 10 pada bulan berjalan berupa laporan
mingguan, bulanan dan triwulan untuk penyakit menular maupun
penyakit tidak menular di Puskesmas Makkasau Kota Makassar.
f. Evaluasi
Pihak

Puskesmas

tidak

melakukan

kegiatan

evaluasi

karena

menganggap bahwa tugas mereka yakni melakukan pelaporan ke


pihak Dinas Kesehatan Kota Makassar dimana kemudian mereka
menyerahkan sepenuhnya ke pihak Dinkes untuk melakukan evaluasi
dan mengelurkan kebijakan.
g. Penyebarluasan Informasi (Disseminasi)
Disseminasi data di Puskesmas Makkasau Kota Makassar telah ada
ditandai dengan pelaporan data ke Dinas Kesehatan, informasiinformasi yang disampaikan dalam seminar atau pertemuan ilmiah dan
juga dimanfaatkan oleh berbagai pihak seperti mahasiswa untuk
kepentingan

penelitian

dalam upaya

penanggulangan

masalah

kesehatan.

36

2. Gambaran Epidemiologi Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan


Atas) pada Balita menurut Orang, Waktu dan Tempat di Puskesmas
Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008.
a) Menurut Orang
Distribusi penderita penyakit ISPA pada Balita menurut orang yaitu
berdasarkan umur dan jenis kelamin, dimana pada kedua grafik dapat kita
amati bahwa jumlah penderita ISPA terbanyak pada tiga tahun terakhir
adalah balita antara umur 1-4 tahun dan berjenis kelamin perempuan.
1) Umur

Grafik 1
Distribusi Penderita ISPA pada Balita Menurut Golongan Umur
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2006-2008

37

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2006-2008


Berdasarkan grafik di atas dapat kita simpulkan bahwa selama 3 tahun
terakhir yakni mulai tahun 2006 sampai dengan 2008 peningkatan
jumlah penderita ISPA khususnya pada Balita golongan umur yang
terbanyak adalah mereka yang berusia antara 1 4 tahun.
2) Jenis Kelamin

Grafik 2
Distribusi Penderita ISPA pada Balita Menurut Jenis Kelamin
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2006-2008

38

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2006-2008


Kemudian berdasarkan grafik di atas dapat pula disimpulkan bahwa
anak-anak balita yang berjenis kelamin perempuan lebih rentan
terhadap penyakit ISPA sebab pada tiga tahun terakhir frekuensi
penderita dengan jenis kelamin perempuan selalu lebih banyak
dibandingkan mereka yang berjenis kelamin laki-laki.

39

b) Menurut Waktu
1) Bulan

No.

Tabel 8
Distribusi Penderita ISPA pada Balita Menurut Jenis Kelamin
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2006-2008

Bulan

2006
n
%

Tahun
2007
n
%

2008
n
%

Jumlah
%
10.1
9
5.37
5.28
8.37
7.83
9.28
7.46
10.4
6

Januari

52 15.95

12

2.95

48 13.11

112

2
3
4
5
6
7

Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli

23 7.06
22 6.75
53 16.26
45 13.80
39 11.96
15 4.60

9
12
13
12
38
37

2.21
2.95
3.19
2.95
9.34
9.09

27
24
26
29
25
30

7.38
6.56
7.10
7.92
6.83
8.20

59
58
92
86
102
82

Agustus

28

8.59

55 13.51

32

8.74

115

12

3.68

58 14.25

25

6.83

95

8.64

10

3.07

64 15.72

34

7.92

108

9.83

2.76

59

14.5

32

8.74

100

9.10

18

5.52

38

9.34

34

9.29

90

8.19

9
10
11
12

Septemb
er
Oktober
Novemb
er
Desemb
er

32
40
36
100
100
100 1099
6
7
6
Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2006-2008
Total

100

Berdasarkan tabel di atas dapat diamati bahwa distribusi jumlah


penderita menurut bulan selama tahun 2006-2008 yakni pada tahun
2006 jumlah penderita terbanyak adalah pada bulan April yaitu
sebanyak 53 penderita, kemudian pada tahun 2007 jumlah penderita
terbanyak yaitu pada bulan Oktober yaitu sebanyak 64 orang, dan

40

terakhir pada tahun 2008 penderita terbanyak adalah pada bulan


Januari yakni sebanyak 48 penderita.

41

Grafik 3
Distribusi Penderita ISPA pada Balita Menurut Bulan
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2006-2008

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2006-2008


2) Tahun

Grafik 4
Distribusi Penderita ISPA pada Balita Menurut Tahun
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2006-2008

42

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2006-2008


Berdasarkan grafik Pie diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah
penderita ISPA pada Balita terdistribusi paling banyak pada tahun
2007 yaitu sebanyak 407 orang atau sekitar 37% dari total 1099
penderita selama tiga tahun terakhir.
c) Menurut Tempat (Batas Wilayah Kelurahan)
Grafik 5
Distribusi Penderita ISPA pada Balita Menurut Kelurahan (Wilayah Kerja)
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2006-2008

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2006-2008


Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa distribusi penderita
ISPA pada Balita menurut tempat (Batas Kelurahan) terbanyak pada tiga
tahun terakhir adalah pada Kelurahan Mallimongan, yaitu sebanyak 141

43

penderita pada tahun 2006, kemudian sebanyak 153 pada tahun 2007, dan
pada tahun 2008 sebanyak 100 orang penderita.
3. Gambaran Epidemiologi Penyakit Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi
Lansia) menurut Orang dan Waktu di Puskesmas Makkasau Kota
Makassar Tahun 2008.
a) Menurut Orang
Grafik 6
Distribusi Penderita Hipertensi Menurut Golongan Umur
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2008

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2008


Berdasarkan grafik di atas dapat kita ketahui bahwa distribusi penderita
Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia) menurut orang yaitu golongan

44

umur adalah mereka dengan golongan umur 20-44 tahun yaitu sebanyak
252 orang dari total 1088 penderita pada tahun 2008.
b) Menurut Waktu
Tabel 9
Distribusi Penderita Hipertensi Menurut Bulan
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2008

Jumlah Penderita
n
%
1 Januari
96
8.82
2 Februari
89
8.18
3 Maret
107
9.83
4 April
79
7.26
5 Mei
99
9.10
6 Juni
116
10.66
7 Juli
94
8.64
8 Agustus
59
5.42
9 September
87
8.00
10 Oktober
70
6.43
11 November
99
9.10
12 Desember
93
8.55
Total
1088
100.00
Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2008

No.

Bulan

Grafik 7
Distribusi Penderita Hipertensi Menurut Bulan
Di Puskesmas Tarakan Kota Makassar
Tahun 2008

Sumber: Data Sekunder PKM Makkasau tahun 2008

45

Berdasarkan tabel dan grafik di atas dapat kita ketahui bahwa distribusi
penderta Hipertensi Lansia menurut Bulan pada tahun 2008 yang
terbanyak adalah pada bulan Juni yaitu sebanyak 116 orang atau sekitar
10,66% dari total 1088 penderita.

B. Pembahasan
1. Pelaksanaan Surveilans Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan
Atas) pada Balita dan Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia) di
Puskesmas Makkasau Tahun 2006-2008 Berdasarkan Atribut
a. Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan dari Sistem Surveilans ISPA dan Hipertensi Lansia pada
Puskesmas ini mencakup sistem pencatatan dan pelaporan yang jelas
dimana khusus untuk kegiatan surveilans Penyakit Menular ISPA pada
Balita terdiri dari dua jenis laporan yaitu Laporan Bulanan Data Kesakitan
(LB1) dan Laporan Bulanan P2 ISPA sedangkan untuk kegiatan surveilans
Penyakit Tidak Menular Hipertensi Lansia petugas menggunakan Laporan
Penyakit (LB 1) baik Bulanan maupun Triwulan.
b. Fleksibilitas
Fleksibitas adalah perkiraan terbaik secara retrospektif dengan mengamati
bagaimana sistem tersebut menghadapi kebutuhan baru. Sistem Surveilans
ISPA dan Hipertensi Lansia pada Puskesmas Makkasau tergolong cukup

46

fleksibel karena Mangkura menyesuaikan diri terhadap perubahan


informasi yang dibutuhkan.
c. Akseptabilitas
Sistem

surveilans

ISPA

pada

Puskesmas

Makkasau

memiliki

akseptabilitas yang tinggi, hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi
tenaga pelaksana surveilans, tingkat kelengkapan hasil wawancara,
kelengkapan bentuk laporan (LB 1 dan LB P2 ISPA), dan ketepatan waktu
pelaporan yang mencapai 90 %, namun untuk surveilans penyakit
Hipertensi Lansia masih kurang oleh karena jenis laporan yang digunakan
tidak mencakup distribusi kasus berdasarkan orang, waktu dan tempat
secara lengkap seperti halnya pada surveilans ISPA.
d. Sensitivitas
Sensitivitas merupakan tingkat keMangkuraan suatu sistem surveilans
untuk mendapatkan/menjaring data informasi yang akurat. Hal ini dapat
dinilai dari tingkat pelaporan kasus, proporsi kasus yang Mangkura
dideteksi oleh sistem surveilans. Sistem Surveilans ISPA Balita pada
Puskesmas ini sudah cukup baik dimana pengumpulan informasi untuk
menentukan

frekuensi

keadaan/peristiwa

dalam

komunitas

yang

dilaporkan terklasifikasi secara tepat.


e. Nilai prediksi positif
Untuk proporsi orang-orang yang diidentifikasi sebagai kasus yang
sesungguhnya, dalam mendapatkan data tentang Surveilans ISPA dan

47

Hipertensi Lansia di Puskesmas Makkasau, dapat dengan mudah


didapatkan dan diidentifikasi sebagai kasus dimana diagnosis ditegakkan
berdasarkan ICD 10 yang kemudian dicatat dalam Buku Registrasi dan
Buku Family Folder dimana setiap pasien yang datang berkunjung
masing-masing memiliki buku tersebut.
f. Kerepresentatifan
Kerepresentatifan yaitu suatu sistem dinilai dapat menguraikan dengan
tepat berbagai kejadian/peristiwa kesehatan atau penyakit sepanjang waktu
termasuk penyebarannya dalam populasi menurut waktu dan tempat.
Sistem Surveilans ISPA Balita dan Hipertensi Lansia pada Puskesmas
Makkasau sangat representatif dimana data mengenai kasus diuraikan
dengan tepat dan jelas menurut waktu dan tempat dalam buku rekapitulasi
penyakit.
g. Ketepatan waktu
Dapat dinilai dalam hal tersedianya informasi untuk penanggulangan
penyakit baik yang bersifat upaya yang sesegera mungkin maupun yang
bersifat perencanaan jangka panjang. Ketepatan pelaporan Sistem
Surveilans ISPA Balita dan Hipertensi Lansia dalam LB1 pada Puskesmas
Makkasau Puskesmas dari segi waktu pelaporan berdasarkan hasil
wawancara dengan petugas surveilans telah mencapai sekitar 90% dari
target. Data ini juga selalu tersedia dengan cepat dan tepat waktu.

48

2. Distribusi Epidemiologi Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan


Atas) di Puskesmas Makkasau Kota Makassar Tahun 2006-2008.
a. Menurut Orang
Berdasarkan grafik 1 di atas seperti yang telah diuraikan sebelumnya
bahwa selama 3 tahun terakhir yakni mulai tahun 2006 sampai dengan
2008 peningkatan jumlah penderita ISPA khususnya pada Balita golongan
umur yang terbanyak adalah mereka yang berusia antara 1 4 tahun. Hal
ini mungkin disebabkan karena balita berusia antara 1 4 tahun mulai
banyak melakukan aktivitas bermain di luar rumah dibandingkan mereka
yang berusia 1 sampai 12 bulan atau kurang dari satu tahun, sehingga
peluang atau risiko untuk terserang penyakit ISPA jauh lebih besar.
Kemudian berdasarkan grafik 2 ternyata anak-anak balita yang berjenis
kelamin perempuan lebih rentan terhadap penyakit ISPA sebab pada tiga
tahun terakhir frekuensi penderita dengan jenis kelamin perempuan selalu
lebih banyak dibandingkan mereka yang berjenis kelamin laki-laki.
Namun hal ini dapat pula dikarenakan karena proporsi balita berjenis
kelamin perempuan ternyata lebih besar dibandingkan mereka yang
berjenis kelamin laki-laki.
b. Menurut Waktu
Berdasarkan tabel 8 dan grafik 3 dapat disimpulkan bahwa distribusi
jumlah penderita menurut bulan selama tahun 2006-2008 yakni pada
tahun 2006 jumlah penderita terbanyak adalah pada bulan April yaitu

49

sebanyak 53 penderita, kemudian pada tahun 2007 jumlah penderita


terbanyak yaitu pada bulan Oktober yaitu sebanyak 64 orang, dan terakhir
pada tahun 2008 penderita terbanyak adalah pada bulan Januari yakni
sebanyak 48 penderita. Dari data tersebut maka kita dapat menarik sebuah
kesimpulan bahwa pengaruh musim yang diwakili oleh bulan selama tiga
tahun terakhir bukan merupakan faktor yang berpengaruh secara
bermakna sebab pada tiga tahun terakhir jumlah penderita meningkat pada
bulan-bulan yang berbeda. Dimana pada tahun 2007 merupakan tahun
dimana jumlah

penderita ISPA mencapai angka yang

tertinggi

dibandingkan pada tahun 2006 maupun tahun 2008.


c. Menurut Tempat
Berdasarkan grafik 5 seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa
distribusi penderita ISPA pada Balita menurut tempat (Batas Kelurahan)
terbanyak pada tiga tahun terakhir adalah pada Kelurahan Mallimongan,
yaitu sebanyak 141 penderita pada tahun 2006, kemudian sebanyak 153
pada tahun 2007, dan pada tahun 2008 sebanyak 100 orang penderita. Hal
ini dikarenakan proporsi penduduk di wilayah Mallimongan lebih besar
dan wilayah kelurahan Mallimongan merupakan wilayah yang lebih luas
dibandingkan 3 kelurahan lainnya.

50

3. Distribusi Epidemiologi Penyakit Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi


Lansia) di Puskesmas Makkasau Kota Makassar Tahun 2008.
a. Menurut Orang
Berdasarkan grafik 6 dapat kita ketahui bahwa distribusi penderita
Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia) menurut orang yaitu golongan
umur adalah mereka dengan golongan umur 20-44 tahun yaitu sebanyak
252 orang dari total 1088 penderita pada tahun 2008. Hal ini dikarenakan
pada usia tersebut merupakan usia produktif sehingga memiliki kegiatan
yang lebih banyak di luar rumah sehingga memungkinkan mereka untuk
mengkonsumsi makanan-makanan yang tergolong makanan cepat saji
yang berisiko menyebabkan penumpukan lemak dan akhirnya menderita
tekanan darah tinggi (Hipertensi Lansia).
b. Menurut Waktu
Berdasarkan tabel 9 dan grafik 7 dapat kita ketahui bahwa distribusi
penderita Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi Lansia) menurut Bulan pada
tahun 2008 yang terbanyak adalah pada bulan Juni yaitu sebanyak 116
orang atau sekitar 10,66% dari total 1088 penderita. Namun pada penyakit
tidak menular seperti Hipertensi Lansia hubungan antara variabel waktu
dan banyaknya jumlah penderita tidak memiliki hubungan yang bermakna
sebab pada berdasarkan data yang diperoleh pada angka yang ditunjukkan
ternyata tidak jauh berbeda pada bulan-bulan lainnya dibandingkan pada
bulan Juni tersebut.

51

C. Keterbatasan Praktik Magang


Adapun keterbatasan yang dialami selama pelaksanaan magang antara lain
sebagai berikut:
1. Data mengenai penyakit tidak menular yakni penyakit Tekanan Darah
Tinggi (Hipertensi Lansia) tidak lengkap oleh karena data yang tersedia
hanya pada lembar Laporan Bulanan (LB1) pada tahun 2008 sedangkan
untuk tahun 2006-2007 tidak tersedia.
2. Kegiatan surveilans khususnya pada proses pengumpulan data dan
pencatatan untuk penyakit tidak menular yakni penyakit Tekanan Darah
Tinggi (Hipertensi Lansia) tergolong tidak lengkap karena tidak mencakup
mengenai distribusi atau penyebaran penderita berdasarkan asal tempat
tinggal sehingga analisis mengenai distribusi penderita menurut tempat sulit
dilakukan.

52

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan surveilans di Puskesmas Makkasau Kota Makassar telah
dilaksanakan dengan maksimal oleh petugas survailans, mulai dari kegiatan
pencatatan dan pengumpulan data, kompilasi data, pengolahan dan analisis
data, interpretasi data, pelaporan, evaluasi, penyebarluasan informasi
(disseminasi). Meskipun kegiatan evaluasi belum dilakukan dan kegiatan
pengolahan data hanya dilakukan secara sederhana dan hasilnya ditampilkan
dalam bentuk tabel dan grafik, adapun analisis data belum dilakukan secara
sempurna oleh karena keterbatasan atau masih kurangnya pengetahuan
mengenai sistem komputerisasi yang dimiliki oleh petugas.
2. Kegiatan pelaporan data dibuat dalam bentuk laporan bulanan, triwulan, dan
tahunan selanjutnya dilaporkan kepada pihak Dinas Kesehatan. Adapun untuk
laporan bulanan dilaporkan pada tanggal 10 tiap bulan berjalan.
3. Berdasarkan data sekunder Puskesmas Makkasau mengenai data 10 penyakit
terbanyak pada tahun 2008 diketahui bahwa ISPA dan Hipertensi Lansia
masing-masing menempati urutan pertama dan ketiga, untuk itu laporan
magang ini kemudian membahas mengenai kegiatan surveilans pada kedua
penyakit tersebut, yang mana masing-masing merupakan penyakit menular
dan penyakit tidak menular.
B. Saran

53

1. Petugas surveilans di sebuah puskesmas sebaiknya ditambah jumlahnya atau


paling tidak ditingkatkan pengetahuannya tentang pengolahan data. Untuk itu
diperlukannya kegiatan evaluasi untuk mengetahui kinerja pelaksanaan
surveilans yang telah ada sehingga dapat dilakukan pemantapan dalam
menunjang peningkatan pelaksanaan kegiatan surveilans.
2. Pengolahan data dan kompilasi data sebaiknya menggunakan sistem
komputerisasi sehingga dapat lebih memudahkan petugas surveilans dalam
menganalisis data penyakit berdasarkan orang, waktu dan tempat.

54