Anda di halaman 1dari 10

ONTOLOGI

Marion, S.Pd.,
Email: marion@pnsmail.go.id

ABSTRAK. Filsafat ilmu merupakan satu di antara banyak cabang


filsafat. Filsafat ilmu lahir dari upaya menjawab tiga jenis pertanyaan,
yang satu di antaranya disebut sebagai landasan ontologis filsafat.
Ontologi mempelajari apa yang ada atau hakikat yang ada, baik kongkrit
maupun abstrak. Ontologi berperan melahirkan aliran-aliran dalam
filsafat, yaitu (1) Monoisme, (2) Dualisme, (3) Pluralisme, (4) Nihilisme
dan (5) Agnotisisme. Ontologi matematika melahirkan tiga aliran dalam
memahami hakikat matematika, yaitu (1) aliran logistik, (2) aliran
intuisionis, dan (3) aliran formalis. Memahami ontologi matematika
sekolah akan memperkuat arah pencapaian tujuan pendidikan matematika
dan memberi landasan lebih kuat bagi siswa dalam meningkatkan makna
dan kegunaan matematika dalam kehidupan.
Kata Kunci: filsafat ilmu, ontologi, matematika, matematika sekolah

1. Pendahuluan
Filsafat secara etimilogi berasal dari bahasa Arab yaitu Falsafah. Kata ini
berpadanan dengan kata philos berarti cinta dan logos berarti kebijaksanaan
dalam bahasa

Yunani.

Dengan demikian Filsafat dapat diartikan mencintai

kebijaksanaan. Filsuf adalah sebutan untuk orang yang ahli filsafat. Seorang filsuf
adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Sedangkan secara terminologi memiliki arti beragam sesuai kecenderungan
pemikiran filsuf yang mengungkapkannya. Dari banyak terminologi pengertian
filsafat yang diungkapkan para ahli dapat dijelaskan bahwa filsafat hakikatnya
adalah upaya pemikiran manusia untuk mengetahui hakikat atau kebenaran segala
sesuatu yang ada.
Ada tiga cabang utama kajian filsafat, yaitu (1) logika, mengkaji apa yang
disebut benar dan apa yang disebut salah; (2) etika, mengkaji apa yang baik dan

1|Ontologi by Marion

apa yang buruk; (3) estetika, mengkaji apa yang indah dan apa yang jelek. Ketiga
cabang utama ini selanjutnya berkembang menjadi banyak cabang filsafat, satu di
antaranya adalah filsafat ilmu.
Filsafat ilmu, menurut Suriasumantri(2007, 33-34) merupakan telaah filsafat
yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu: (1)
Kelompok pertanyaan yang sering disebut landasan ontologis ilmu pengetahuan,
yaitu pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang dikaji oleh ilmu pengetahuan, (2)
Kelompok pertanyaan yang disebut landasan epistemologis ilmu pengetahuan,
yaitu pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana cara mendapatkan ilmu
pengetahuan, dan (3) Kelompok pertanyaan yang disebut landasan axiologis
pengetahuan, yaitu pertanyaan-pertanyaan seputar untuk apa ilmu pengetahuan
tersebut dipergunakan.
Untuk menjawab apa yang dikaji ilmu pengetahuan (ontologi), maka
muncul berbagai macam pendapat dan aliran filsafat. Aliran-aliran ini memacu
perkembangan filsafat lebih jauh dan menjadi landasan berkembangnya ilmu
pengetahuan modern seperti saat ini. Satu di antara bidang kajian filsafat tersebut
adalah bidang ilmu pendidikan khususnya pendidikan matematika.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dalam kajian ini penulis
mencoba membahas permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1) Apa yang yang dimaksud dengan ontologi?
2) Bagaimana ontologi melahirkan aliran-aliran filsafat dan

memacu

perkembangan ilmu pengetahuan?


3) Bagaimana peran filsafat ilmu, khususnya ontologi ilmu pendidikan
matematika dalam pembelajaran di kelas?
Tujuan penulisan kajian ini adalah (1) memahami pengertian ontologi ilmu
pengetahuan, (2) memahami aliran-aliran filsafat dalam memacu perkembangan
landasan ontologis ilmu pengetahuan, dan (3) memahami peran landasan
ontologis ilmu pendidikan dalam pembelajaran matematika.
Selanjutnya penulisan kajian ini diharapkan dapat bermanfaat, khususnya
bagi guru, yaitu sebagai bahan memperkaya landasan berfikir

untuk

meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Bagi siswa juga diharapkan


bermanfaat khususnya dalam memperkuat landasan berfikir memahami ilmu
pengetahuan dalam hal ini matematika.

2|Ontologi by Marion

2. Pengertian Ontologi
Ontologi merupakan kajian utama filsafat, di samping epistemologi dan
axiologi. Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani yaitu On/Ontos = ada, dan
Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut
istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun
rohani/abstrak (Bakhtiar, 2004).
Suriasumantri (2007), menulis ontologi membahas tentang apa yang ingin
kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian
mengenai teori tentang ada. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaanpertanyaan (a) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah? (b) bagaimana wujud yang
hakiki dari obyek tersebut, dan (c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan
daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang
membuahkan pengetahuan.
Pendapat lain diungkapkan oleh Soetriono dan Hanafie (2007), bahwa
ontologi merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud
yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari
pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek
ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang
menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan
alam kenyataan dan keberadaan.
Dari beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa ontologi
dapat didefinisikan sebagai kajian filsafat tentang hakikat segala sesuatu yang ada,
baik kongkrit maupun abstrak.
Hakikat yang ada ini dapat diartikan sebagai ada individu, ada umum, ada
terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan
metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada, yaitu
Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta dan Pengatur serta Penentu alam semesta.
Secara formal ontologi mengkaji hakikat seluruh realitas. Hakikat kenyataan
atau realitas bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang, yaitu (1)
kuantitatif, dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?;
3|Ontologi by Marion

dan (2) kualitatif, dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut


memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya batu berwarna hitam, bunga berbau
harum atau gula terasa manis.
3. Aliran-Aliran Filsafat

Dalam mempelajari ontologi muncul beberapa pertanyaan yang kemudian


melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Dari masing-masing pertanyaan
menimbulkan beberapa sudut pandang mengenai ontologi. Pertanyaan itu berupa
Apakah yang ada itu? (What is being?), Bagaimanakah yang ada itu? (How is
being?), dan Dimanakah yang ada itu? (Where is being?).
Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, lahirlah 5 (lima) aliran dalam
filsafat, yaitu:
3.1 Aliran Monoisme.
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin dua.
Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi
ataupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan
berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan
dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Plato adalah tokoh filsuf yang
bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide
merupakan kenyataan yang sebenarnya.
Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran yaitu aliran materialisme
dan aliran idealisme. Aliran materialisme menganggap bahwa yang asal itu materi
bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan Naturalisme. Menurut aliran
ini zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Seperti dijelaskan
Rapar dalam Soetriono & Hanafie (2007), bahwa materialisme menolak hal-hal
yang tidak kelihatan. Bagi mereka, yang ada sesungguhnya adalah keberadaan
yang semata-mata bersifat material atau sama sekali tergantung pada material.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Ia
berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya bagi kehidupan.
Kemudian Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu adalah
udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan.

4|Ontologi by Marion

Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atomatom yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom
itulah yang merupakan asal kejadian alam.
Sedangkan aliran idealisme menganggap bahwa hakikat kenyataan yang
beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu
sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Ditegaskan oleh Rapar dalam
Soetriono & Hanafie (2007), bahwa bagi aliran ini, segala sesuatu yang tampak
dan terwujud nyata dalam alam indrawi hanya merupakan gambaran atau
bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada di dunia idea.

3.2 Aliran Dualisme


Aliran dualisme adalah aliran yang memadukan antara dua paham yang
saling bertentangan antara materialisme dan idealisme. Menurut aliran ini materi
maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Paham yang serba dua aliran ini
berpendapat bahwa di dalam dunia ini selalu dihadapkan pada dua pengertian,
yaitu yang ada sebagai potensi atau disebut juag materi (hule) dan yang ada
secara terwujud atau disebut juga bentuk (eidos).
3.3 Aliran Pluralisme
Aliran Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap
macam bentuk itu semuanya nyata. Kenyataan alam ini tersusun dari banyak
unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno
adalah Anaxagoras dan Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada
itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.
Sedangkan tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M), yang
mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang
bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan lepas dari akal yang mengenal.
3.4 Aliran Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada.
Aliran yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme
diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang
5|Ontologi by Marion

nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada
pandangan Gorgias (485-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang
realitas, yaitu: (1) tidak ada sesuatupun yang eksis, (2) bila sesuatu itu ada, maka
ia tidak dapat diketahui, dan (3) sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak
akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M). Dalam
pandangannya dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata
manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di
mana ia hidup.
3.5 Aliran Agnostisisme
Aliran ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat
benda, baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata agnostisisme berasal dari
bahasa Yunani Agnostos. Dalam bahasa Inggris berpadanan dengan kata unknown
artinya tidak diketahui, tidak dikenal. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum
dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya
kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Tokoh aliran ini adalah Soren
Kierkegaar (1813-1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat
Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah hidup sebagai
suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak
dapat dijabarkan ke dalam sesuatu orang lain. Selanjutnya ada Martin Heidegger
(1889-1976 M), yang mengatakan bahwa satu-satunya yang ada itu ialah manusia,
karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri dan Jean Paul
Sartre (1905-1980 M), yang mengatakan bahwa manusia selalu menyangkal.
Hakikat beradanya manusia bukan entre (ada), melainkan a entre (akan atau
sedang). Jadi, agnostisisme adalah paham pengingkaran/penyangkalan terhadap
kemampuan manusia mengetahui hakikat benda, baik materi maupun ruhani.

4. Ontologi Pendidikan Matematika


4.1 Hakikat Matematika

6|Ontologi by Marion

Untuk menjawab pertanyaan apa matematika itu?, Russeffendi


(1980:148) mengungkapkan bahwa matematika berasal dari perkataan Latin
mathematika yang berarti mempelajari
belajar atau berfikir.

atau mathenein yang berarti

Jadi matematika dapat diartikan pengetahuan yang

didapat dengan berpikir (bernalar). Russeffendi(1980:23) juga menyebutkan


bahwa matematika adalah ilmu berfikir deduktif, karena matematika
matematika terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan,
definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil di mana dalil-dalil setelah
dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum.
Dalam

Bahan

Belajar

Mandiri

yang

diterbitkan

Universitas

Pendidikan Indonesia (UPI) disebutkan beberapa pendapat ahli dalam


menjawab pertanyaan apa itu matematika, di antaranya James dan James
(1976) menyebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika, tentang
bentuk, susunan, besarab dan konsep-konsep yang saling berhubungan.
Senada dengan itu,

Reys - dkk (1984) mengatakan matematika adalah

telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni,
suatu bahasa dan suatu alat. Selanjutnya Kline (1973) menegaskan
matematika itu bukan pengetahuan menyendiri, melainkan pengetahuan yang
ada untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan
sosial, ekonomi dan alam.
Dengan demikian untuk menjawab apa pengertian matematika itu
dapat kita katakan bahwa matematika adalah sarana berfikir untuk
memperoleh pengetahuan, sebagai alat untuk membantu pemecahan masalah,
sebagai bahasa yang melayani perkembangan ilmu pengetahuan baik sosial,
ekonomi maupun ilmu alam, dan bersifat terstruktur karena adanya saling
keterkaitan antar konsep di dalamnya.
Pengertian ini mencakup pengertian yang diungkapkan berbagai aliran
filsafat khusus mengenai ontologi dalam mempelajari matematika, yaitu (1)
aliran logistik yang dipelopori oleh Immanuel Kant(1724 1804) yang
mengatakan bahwa matematika merupakan cara logis (logistik) yang salah
atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris; (2) aliran
intuisionis yang dipelopori oleh Jan Brouwer (1881 1966) mengatakan
7|Ontologi by Marion

bahwa matematika bersifat intuisionis; (3) aliran formalis yang dipelopori


oleh David Hilbert (1862 1943) mengatakan bahwa matematika merupakan
pengetahuan tentang struktur formal dari lambang. Kaum formalis
menekankan pada aspek formal dari matematika sebagai bahasa lambang dan
mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa
lambang. Maksudnya, matematika bersifat logis karena berfungsi sebagai
sarana berfikir. Matematika bersifat intuisi karena hakekat sebuah bilangan
harus dapat dibentuk melalui kegiatan intuitif dalam berhitung dan
menghitung. Terakhir matematika juga bersifat formal karena merupakan
abstraksi yang ditulis dalam bahasa lambang.
4.2 Pendidikan Matematika
Dengan memahami ontologi (hakikat) matematika sebagaimana
dijelaskan di atas, pendidikan matematika di sekolah seyogyanya diarahkan
kepada peningkatan kemampuan bernalar (berfikir) dan pemecahan masalah.
Hal ini seperti tertuang dalam tujuan pembelajaran matematika (Depdiknas,
2006) yaitu (1) memahami konsep matematika, (2) mengembangkan
penalaran, (3) mengmbangkan kemampuan pemecahan masalah, (4)
mengembangkan kemampuan komunikasi matematis, dan (5) memiliki sikap
menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.
Di samping itu, pendidikan matematika di sekolah juga harus
mempertimbangkan tahapan perkembangan peserta didik. Sehubungan
dengan ini perlu difahami ontologi matematika sekolah, di antaranya
karakteristik matematika sekolah. Menurut Sumardyono(2004:43) ada 4
(empat) karakteristik matematika sekolah yang sekaligus membedakannya
dengan matematika sebagai ilmu pengetahuan, yaitu (1) penyajian, (2) pola
fikir, (3) keterbatasan semesta, dan (4) tingkat keabstrakan.
Penyajian matematika sekolah tidak harus diawali dengan teorema dan
definisi tetapi harus disesuaikan dengan tingkat intelektual siswa. Hal ini
diperlukan agar pembelajaran matematika bermakna dan bermanfaat bagi
siswa. Untuk ini pembelajaran matematika dimulai hal-hal yang bersifat
kongkrit kemudian secara bertahap menuju ke arah yang lebih formal dan

8|Ontologi by Marion

abstrak. Berikutnya pola fikir dikembangkan mulai dari pola fikir induktif
untuk anak Sekolah Dasar kemudian secara bertahap mengarah kepada
penekanan pola fikir deduktif pada siswa Sekolah Lanjutan dan Menengah.
Perluasan semesta pembicaraan matematika juga dilakukan secara bertahap,
semakin meningkat intelektualitas siswa maka semakin luas semesta
pembicaraannya. Demikian juga tingkat keabstrakan matematika, dimulai
dengan memperkenalkan benda-benda kongkrit pada siswa SD kemudian
bertahap kepada situasi formal dan abstrak kepada siswa SMP dan SMA.
Dengan demikian, pendidikan matematika dimulai dengan memahami
ontologi matematika sekolah, satu di antaranya adalah memahami
karakteristik

matematika

sekolah

yang

disesuaikan

dengan

tingkat

perkembangan intelektual peserta didik.

4.3 Peran Filsafat Ilmu dalam Pembelajaran Matematika


Sehubungan penjelasan di atas, dapat difahami bahwa filsafat ilmu
memiliki peran jelas dalam pembelajaran matematika. Satu di antara peran
tesebut adalah peran ontologis, yaitu filsafat ilmu menjelaskan hakikat
matematika dan pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika di kelas adalah mempelajari fakta-fakta,
konsep, prinsip dan prosedur matematika. Dengan memahami hakikat apa
yang dipelajari dalam matematika, siswa diharapkan dapat memiliki landasan
yang kuat dalam memahami dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, fakta bahwa dalam kehidupan sehari-hari banyak digunakan
bangun-bangun segitiga. Ini melahirkan konsep segitiga dan selanjutnya
ditemukan prinsip-prinsip dalam segitiga, misal jumlah sudut dalamnya 180o
dan teorema Pythagoras yang berlaku pada segitiga siku-siku. Pengetahuan
ini mempermudah pemecahan masalah sehari-hari, misalnya dalam membuat
konstruksi gedung atau bangunan.

5. Penutup

9|Ontologi by Marion

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa simpulan, di antaranya:


1) Ontologi merupakan kajian filsafat ilmu yang membahas tentang hakikat
segala sesuatu yang ada, baik kongkrit maupun abstrak.
2) Aliran-aliran filsafat mengenai ontologi terdiri dari (1) Monoisme, meliputi
materialisme dan idealisme, (2) Dualisme, (3) Pluralisme, (4) Nihilisme dan (5)
Agnostosisme. Sedangkan aliran filsafat mengenai ontologi matematika terdiri
dari (1) aliran logistik, (2) aliran intuisionis dan (3) aliran formalis.
3) Peran filsafat ilmu dalam pembelajaran matematika di antaranya adalah peran
ontologis, yaitu memperjelas hakikat mamatika dan pembelajaran matematika.
Guru matematika memiliki peran penting dalam membelajarkan hakikat
matematika sehingga diharapkan siswa memiliki pemahamanan matematika
yang bermakna dan berguna bagi kehidupannya kelak.

Daftar Pustaka
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Muhadjir, Noeng. 2001. Filsafat Ilmu. Yogjakarta:Rake Sarasin.
Rakhmadanti,

Suci.

Ontologi,

Epistemologi

dan

Aksiologi.

Online:

http://cacink252.blogspot.com/2013/05/ontologi-epistemologi-danaksiologi.html, diakses pada 27 September 2013


Soetriono & Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta:
Andi.
Suriasumantri, Jujun.S. 2007. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta:Pustaka Sinar Harapan
Sumardyono. 2004. Karakteristik Matematika dan Implikasinya dalam
Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: PPPPTK Matematika
__________. Model Pembelajaran. Online http://file.upi.edu/Direktori/DUALMODES/MODEL_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA/HAKIKAT_MAT
EMATIKA.pdf pada tanggal 26 Desember 2013.

10 | O n t o l o g i b y M a r i o n