Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

(UU KPKPU) Pasal 1 butir (1)

menyebutkan bahwa :
Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan
hakim pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
Pengertian kepailitan menurut Henry C. Black diartikan sebagai kondisi
seorang pedagang yang bersembunyi atau melakukan tindakan tertentu yang
cenderung untuk mengelabui pihak kreditornya.1 Menurut Ensiklopedia Ekonomi
Keuangan Perdagangan, pailit adalah seseorang yang oleh suatu pengadilan
dinyatakan bangkrut dan yang aktivanya atau warisannya telah diperuntukkan
untuk membayar hutang-hutangnya.2
Mengenai syarat untuk dapat dinyatakan pailit, Pasal 2 ayat (1) UU KPKPU
menyebutkan bahwa Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak
membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih,
dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri
1 Munir Fuady,Hukum Pailit dalam Teori dan Praktek, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002,
hlm.7.
2 Ibid, hlm. 8.
1

maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya. Memperhatikan ketentuan di


atas, dapat diketahui bahwa syarat untuk dapat dinyatakan pailit melalui putusan
pengadilan adalah :3
1. Terdapat minimal 2 orang kreditor;
2. Debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu utang;
3. Utang tersebut telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
Mekanisme yang terdapat dalam UU KPKPU adalah proses persidangan
untuk menyelesaikan masalah utang piutang secara adil, terbuka, cepat dan efektif.
Untuk melaksanakan mekanisme penyelesaian yang ditawarkan undang-undang maka
proses acara pemeriksaan yang digunakan lebih cepat karena adanya pembatasan
waktu proses pemeriksaan kepailitan dan dengan sistem pembuktian yang digunakan
adalah pembuktian secara sederhana.
Pembuktian secara sederhana lazim disebut dengan pembuktian secara sumir.
Hal ini diatur dalam UU KPKPU yang menyatakan, bahwa permohonan pernyataan
pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara
sederhana, yakni adanya fakta dua atau lebih Kreditor dan fakta utang yang telah
jatuh waktu dan tidak dibayar. Hanya saja sangat disayangkan, bahwa UU KPKPU ini
tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai bagaimana pembuktian sederhana
itu dilakukan dalam memeriksa permohonan pailit. Hal inilah yang membuka ruang
3 Man S. Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni,
Bandung, 2006, hlm. 88-89

perbedaan di antara para hakim dalam menafsirkan pengertian pembuktian sederhana


dalam menyelesaikan permohonan kepailitan. Dengan melihat kenyataan tersebut
diatas

maka

penulis

IMPLEMENTASI

tertarik
SISTEM

untuk

membuat

PEMBUKTIAN

makalah

dengan

SEDERHANA

judul:

DALAM

PERKARA KEPAILITAN
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan
masalah yang akan menjadi dasar dalam penyusunan makalah. Adapun perumusan
masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana implementasi asas pembuktian sederhana dalam praktik Peradilan
Niaga dihubungkan dengan Pasal 8 ayat (4) UU KPKPU?
2. Adakah kendala atau hambatan yang dihadapi mengenai penerapan asas
pembuktian sederhana dalam perkara kepailitan yang dihadapi oleh Pengadilan
Niaga?

BAB II
PEMBUKTIAN SEDERHANA SEBAGAI SYARAT DIKABULKANNYA
PERKARA KEPAILITAN DI PENGADILAN NIAGA
A. Pembuktian Sederhana Berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Pada dasarnya pembuktian sederhana terkait dengan permohonan pailit telah
diatur berdasarkan Pasal 8 ayat (4) UU KPKPU yang menyebutkan bahwa:

Permohonan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang
terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah terpenuhi.
Jika diperhatikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 8 ayat (4) UndangUndang Kepailitan dan PKPU, jelas bahwa yang dimaksudkan dengan pembuktian
sederhana adalah pembuktian sederhana mengenai :4
1. Eksistensi dari satu utang debitor yang dimohonkan kepailitan, yang telah
jatuh tempo;
2. Eksistensi dari dua atau lebih kreditur dari debitor yang dimohonkan
kepailitan.
Untuk memutus suatu permohonan pernyataan pailit tidak hanya harus
memenuhi prasyarat pernyataan pailit dalam Pasal 2 ayat (1) UU KPKPU, akan tetapi
harus pula terpenuhi asas pembuktian sederhana dalam Pasal 8 ayat (4) UU KPKPU.
Perlu dijelaskan bahwa keberadaan Pasal 8 ayat (4) UU KPKPU hanyalah bertujuan
mewajibkan hakim untuk tidak menolak permohonan pernyataan pailit apabila dalam
perkara itu dapat dibuktikan secara sederhana fakta dan keadaannya, yaitu fakta dan
keadaan yang merupakan syarat-syarat kepailitan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang.5 Akan tetapi tidak berarti bahwa apabila ternyata
dalam perkara yang diajukan permohonan pernyataan pailitnya itu tidak dapat
4 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm.134.

dibuktikan secara sederhana fakta dan keadaannya, maka majelis Hakim Pengadilan
Niaga atau Majelis Hakim Kasasi wajib menolak untuk memeriksa perkara itu
sebagai perkara kepailitan karena perkara yang demikian itu merupakan kewenangan
pengadilan negeri dalam hal ini pengadilan perdata biasa. Oleh karena itu baik
Majelis Hakim Pengadilan Niaga maupun Majelis Hakim Kasasi wajib tetap
memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit itu, sedangkan fakta dan
keadaan yang tidak dapat dibuktikan secara sederhana tetap menjadi tanggung
jawabnya dan bukan karena kenyataan yang demikian itu majelis hakim kepailitan
harus terlebih dahulu mempersilahkan para pihak untuk meminta putusan Pengadilan
Negeri yang dalam hal ini adalah pengadilan perdata biasa terkait dengan fakta dan
keadaan pokok perkaranya.6
Pembuktian sederhana menurut UU KPKPU merupakan kombinasi
pelaksanaan dari prinsip dasar kepailitan, yaitu prinsip: concursus creditorum (para
kreditor harus bertindak secara bersama-sama), prinsip paritas creditorium
(kesetaraan kedudukan para kreditor), pari passu prorata parte ( harta debitor
merupakan jaminan bersama bagi kreditor dan dibagi secara proporsional berdasarkan
besar kecilnya piutang) dan prinsip structured creditors (kreditor didahulukan
berdasarkan urutan kelas kreditor).7

5 Sutan Remy Sjahdeni, Hukum Kepailitan Memahami Undang-Undang No.37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan, Grafiti, Jakarta, 2008, hlm. 149.
6 Ibid, hlm. 150.

Dalam pembuktian sederhana terdapat 3 (tiga) hal yang harus dibuktikan


yaitu:
1. Kebenaran adanya dua kreditor atau lebih yang mempunyai hubungan hukum
dengan debitor ,
2. Kebenaran adanya minimal salah salah satu utang yang belum dibayar lunas,
serta
3. Utang tersebut telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
Ketiga syarat tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, satu
syarat saja tidak terpenuhi maka pemeriksaan dengan pembuktian secara sederhana
tidak dapat dilaksanakan.

B. Pengadilan Niaga Merupakan Pengadilan Khusus Untuk Memeriksa Dan


Memutuskan Perkara Kepailitan.
Dengan diundangkannya Undang-undang No. 4 Tahun 1998 Tentang
Kepailitan,

yang

mengubah

dan

menambah

Peraturan

Kepailitan

(Faillissementsverordening) Staatsblad 1905 No. 217 jo. Staatsblad 1906 No. 348,
dibentuk Pengadilan Niaga. Undang-undang No. 4 Tahun 1998 mengatur mengenai
Pengadilan Niaga dalam Bab III, Pasal 280-289. Terakhir, Undang-Undang No. 37
7Widiarso, Pembuktian Sederhana dalam Perkara Kepailitan,
http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s2-2010-arwakhudin, Diakses
pada Rabu, tanggal 27 Juli 2011 pukul 22:40 WIB

Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diatur
dalam Pasal 300-303.
Berdasarkan Pasal 300 UU No.37 Tahun 2004 jo Pasal 280 ayat (1) UU No.4
tahun 1998 dibentuk suatu pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum
yaitu Pengadilan Niaga, yang menurut ketentuan dalam Pasal 280 ayat (2)
mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan memutus permohonan pernyataan
pailit dan penundaan pembayaran utang serta berwenang pula memeriksa dan
memutus perkara lain dalam bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan
peraturan pemerintah.8
Dasar hukum keberadaan Pengadilan Niaga adalah Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang No. 1 tahun 1998 jo Undang-Undang No. 4 tahun 1998
tentang Kepailitan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini merupakan
perubahan dan penyempurnaan terhadap Undang-Undang tentang Kepailitan
Staatsblad tahun 1905 Nomor 217 juncto Staatsblad Tahun 1906 Nomor 348.
Keberadaan Pengadilan Niaga tidak dapat hanya didasarkan kepada UndangUndang No. 4 tahun 1998, atau Undang-Undang yang tepisah-pisah seperti yang
terjadi saat ini. Penempatan Pengadilan Niaga dalam sistem hukum dan proses
beracara harus jelas dan tegas. Kemungkinan perluasan lingkup Pengadilan Niaga
membutuhkan landasan hukum atau dasar penetapan perluasan kewenangannya.
8 Lee A Weng, Tinjauan Pasal demi Pasal (Faillissments-Verordening) S.1905 No.217 jo S.1906
No.348 Jis Perpu No.1 Tahun 1998 dan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998, hlm. 82.

Perluasan kompetensi Pengadilan Niaga semestinya ditujukan untuk


membantu penyelesaian atau pemutusan secara cepat agar tidak menghambat roda
perekonomian dan perdagangan.
Pemeriksaan perkara di Pengadilan Niaga dapat dilakukan oleh hakim tetap,
yaitu para hakim yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah
Agung untuk menjadi hakim Pengadilan Niaga; dan hakim Ad Hoc yaitu hakim ahli
yang diangkat dengan Keputusan Presiden. Menurut Pasal 283 ayat (1) UU No. 4
Tahun 1998, persyaratan untuk menjadi hakim Pengadilan Niaga adalah:9
1. Berpengalaman sebagai hakim di lingkungan peradilan umum.
2. Mempunyai dedikasi dan pengetahuan di bidang masalah-masalah yang
menjadi lingkup kewenangan Pengadilan Niaga.
3. Mempunyai sikap yang baik yaitu haruslah berwibawa, jujur, adil dan
berkelakuan tidak tercela.
4. Telah mengikuti dan telah berhasil mengikuti program pelatihan khusus
sebagai hakim pada Pengadilan Niaga.
Dengan adanya sistem beracara di Pengadilan Niaga yang tidak mengenal
banding, maka permasalahan yang dihadapi adalah berkaitan dengan karir hakim.
Dengan tidak adanya banding pada perkara Kepailitan dan PKPU, maka akan sulit
bagi hakim niaga mencapai karir hakim tertinggi. Kondisi saat ini adalah apabila
Hakim Niaga ingin mejadi hakim agung maka harus menjalani karir sebagai hakim

9 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan.

tinggi terlebih dahulu. Hal itu berarti meninggalkan karir sebagai hakim Niaga,
sehingga profesionalisme yang telah dirintis dan ditekuni harus ditinggalkan selama
menjadi hakim tinggi. Bila hal ini terjadi, maka Pengadilan Niaga akan didukung oleh
sumber daya manusia yang kurang berkualitas dan kurang professional. Penyebab
lemahnya kinerja Pengadilan Niaga dalam menyelesaikan perkara-perkara niaga.
BAB III
IMPLEMENTASI ASAS PEMBUKTIAN SEDERHANA DALAM PRAKTEK
PERADILAN NIAGA SERTA KENDALA ATAU HAMBATAN YANG
DIHADAPI
A. Implementasi Asas Pembuktian Sederhana Dalam Praktek Peradilan Niaga
Dihubungkan Dengan Pasal 8 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang KPKPU.
Dalam penyelesaian suatu kasus kepailitan, dianut suatu asas pembuktian
sederhana. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari hukum kepailitan yaitu untuk
kepentingan dunia usaha dalam menyelesaikan masalah utang-piutang secara adil,
cepat, terbuka dan efektif. Dengan dianutnya asas pembuktian sederhana seyogyanya
salah satu tujuan dari hukum kepailitan yaitu cepat dapat tercapai. Kecepatan dalam
menyelesaikan suatu kasus kepailitan sangat penting, mengingat adanya pembatasan
waktu pengucapan putusan Pengadilan maksimal 60 (enam puluh) hari sejak tanggal
permohonan pernyataan pailit didaftarkan.
Dalam kenyataannya, implementasi asas pembuktian sederhana dalam
praktek peradilan niaga sering terjadi inkonsistensi dalam putusan Majelis Hakim
Pengadilan Niaga dan Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa kasus-

10

kasus permohonan pailit, terutama dalam mengartikan terbukti secara sederhana


(sumir) tersebut. Dalam suatu kasus, Pengadilan Niaga memberikan putusan bahwa
sudah terbukti secara sederhana, tetapi setelah dilimpahkan ke Mahkamah Agung
ternyata dibatalkan dan dinyatakan bahwa tidak terbukti secara sederhana atau
sebaliknya, kadang di Pengadilan tingkat pertama suatu fakta atau keadaan adanya
utang tidak terbukti secara sederhana, namun di tingkat Mahkamah Agung
dinyatakan sudah terbukti secara sederhana. 10
Mengenai hal tersebut dapat dilihat dalam kasus TPI sebagai termohon pailit.
Permohonan pailit TPI berdasarkan keputusan pengadilan Negeri yang diajukan oleh
Pemohon secara sederhana telah terpenuhi dalam pasal 2 ayat (1). Termohon
mempunyai kreditur lebih dari satu yaitu Crown Capital Global Limited dan Asian
Venture Finance Limited. Dalam kasus tersebut, permohon tidak membayar lunas
sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih kepada Crown Capital
Global Limited (CCGL) yang berdiri di British Virgin Island yang mengaku
memiliki subordinated bond (surat utang) senilai 53 juta dollar AS dan Asian Venture
Finance Limited (AVFL) yang berdiri di British Virgin Island yang mengaku
memiliki piutang ke TPI sebesar 10.350.000 dollar AS.

10 Victorianus M.H.R. Anda Puang, Penerapan Asas Pembuktian Sederhana Dalam Penjatuhan
Putusan Pailit, Tesis, http://library.usu.ac.id/download/fh/06003483.pdf, Abstrak.

11

Menurut Pengadilan Niaga, tuduhan kepailitan dikabulkan dengan alasan


didasarkan pada asumsi Majelis Hakim bahwa TPI tidak bisa memenuhi kewajiban
membayar utang obligasi jangka panjang (sub ordinated bond) senilai USD53 juta
kepada Crown Capital Global Limited (CCGL). Sementara dalam kenyataannya yang
terjadi adalah :
1. Pada 1996, TPI yang masih dipegang Presiden Direktur Siti Hardiyanti Rukmana
alias Mbak Tutut mengeluarkan sub ordinated bond (Sub Bond) sebesar USD53
juta.
2. Utang dalam bentuk sub ordinated bond tersebut dibuat sebagai rekayasa untuk
mengelabui publik atas pinjaman dari BIA. Marx menjelaskan, rekayasa terjadi
karena ditemukan fakta bahwa uang dari Peregrine Fixed Income Ltd masuk ke
rekening TPI pada 26 Desember 1996. Namun, selang sehari tepatnya 27
Desember 1996, uang tersebut langsung ditransfer kembali ke rekening Peregrine
Fixed Income Ltd. Setelah utang-utang itu dilunasi oleh manajemen baru TPI,
dokumen- dokumen asli Sub Bond masih disimpan pemilik lama yang kemudian
diduga diambil secara tidak sah oleh Shadik Wahono (yang saat ini menjabat
sebagai Direktur Utama PT Cipta Marga Nusaphala Persada)
3.

Terjadi transaksi Sub Bond antara Filago Ltd dengan CCGL dengan
menggunakan promissory note (surat perjanjian utang) sehingga tidak ada proses
pembayaran. Semua transaksi pengalihan Sub Bond berada di luar kendali TPI

12

setelah Sub Bond berpindah tangan, sehingga apabila CCGL menagih hutang dari
Sub Bond, jelas-jelas illegal.
Melihat laporan CCGL, pihak Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
mengabulkan permohonan tuntutan dari CCGL untuk memailitkan TPI pada 14
Oktober 2009. Pihak kuasa hukum PT TPI mencoba memberi klarifikasi yang
sejujurnya disertai dengan bukt-bukti otentik melalui segala macam transaksi yang
tercatat di buku ATM Bank BNI 46 yang menjadi ATM basis bagi perusahaan TPI.
Dikatakan Marx Andriyan, bahwa pada tahun 1993 telah ditandatangani Perjanjian
yang piutang antara TPI dengan Brunei Investment Agency (BIA) sebesar USD50
juta. Atas instruki pemilik lama, dana dari BIA tidak ditransfer ke rekening TPI tapi
ke rekening pribadi pemilik lama, utang piutang antara TPI dengan Brunei Investment
Agency (BIA) sebesar USD50 juta. Atas instruki pemilik lama, dana dari BIA tidak
ditransfer ke rekening TPI tapi ke rekening pribadi pemilik lama. Dalam laporan
keuangan TPI juga tidak pernah tercatat utang TPI dalam bentuk Sub Bond senilai
USD53 juta. Berdasarkan hasil audit laporan keuangan TPI yang dilakukan kantor
akuntan publik dipastikan bahwa di dalam neraca TPI 2007 dan 2008 juga tidak
tercatat adanya kreditur maupun tagihan dari CCGL. Seharusnya utang-utang obligasi
jangka panjang tercatat di dalam pembukuan. Bahkan,kata Marx, pada 2007, MNC
sebagai pemilik saham 75 persen di TPI mencatatkan diri sebagai perusahaan terbuka
(PT MNC Tbk).
Merasa tidak bersalah, PT TPI kemudian meminta peninjauan ulang atas
masalah ini. Sesuai prosedur, TPI membawa masalah ini ke tingkat Mahkamah Agung

13

(MA). Setelah melakukan tahap verifikasi (pencocokan piutang), ditemukan banyak


kekeliruan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yaitu Maryana
selaku ketua majelis hakim dengan dua anggotanya, Sugeng Riyono dan Syarifuddin.
Beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh majelis hakim terdahulu :
1. Ketentuan yang mengharuskan jumlah kreditur yang mengajukan pailit haruslah
lebih dari dua. Tapi, dalam masalah ini, hanya ada satu kreditur Crown Capital
Global Limited (CCGL). Sementara, kreditur lain yang disebutkan yakni Asian
Venture Finance Limited, dinilai perusahaan buatan atau fiktif, yang tidak bisa
dimasukan dalam kategori kreditur. Intinya, perusahaan yang mengajukan pailit itu
cuma ada satu,
2. Menjelaskan jika transaksi yang dilakukan atas obligasi jangka panjang (sub
ordinated bond) senilai USD53 juta tersebut bukanlah transaksi yang sederhana.
Sedangkan dalam peraturan tentang kepailitan jelas diungkapkan bahwa transaksi
yang dapat diajukan pailit adalah transaksi yang sederhana.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, maka TPI menganggap bahwa putusan PN
Niaga Jakpus sangat tidak berdasar dan merasa sangat dirugikan oleh perusahaan
kecil yang domisili hukum dan alamatnya tidak jelas. Hal ini sangat menganggu
kelangsungan hidup perusahaan (going concern) dan menimbulkan keresahan di
kalangan karyawan serta pihak ketiga yang mempunyai hubungan kerja dengan TPI
dan pada akhirnya dapat menganggu pelayanan TPI kepada masyarakat melalui
siarannya.

14

TPI akhirnya melakukan kasasi untuk permohonan peninjauan kembali kasus


tersebut kepada Mahkamah Agung. Dari kasus tersebut, diperlihatkan bagaimana
proses peradilan Indonesia berjalan. Setelah proses verifikasi oleh Mahkamah Agung,
kesalahan-kesalahan yang belum teridentifikasi oleh Pengadilan Niaga mulai
Nampak. Sedikit demi sedikit bukti pembayaran tagihan utang oleh TPI dimunculkan
dalam setiap persidangan kasasi. Dalam laporan keuangan tersebut dikatakan, bahwa
surat utang (obligasi) milik TPI sebesar US$53 juta yang jatuh tempo pada tanggal 24
Desember 2006 telah berhasil dibayar. Lagipula, ada masalah lain yang lebih
kompleks tentang keberadaan surat-surat utang itu. Dengan meninjau kekeliruankekeliruan tersebut, akhirnya Mahkamah Agung memutus kasus tersebut dan
menyatakan bahwa TPI tidak pailit. Karena dalam hukum nasional, kedudukan
Mahkamah Agung adalah kedudukan tertinggi, maka keputusan ini tidak dapat
diganggu gugat dan PT TPI resmi tidak pailit.
Dapat disimpulkan terdapat kekeliruan hakim pengadilan Niaga dalam
memutus kasus pailit TPI adalah menjelaskan jika transaksi yang dilakukan atas
obligasi jangka panjang (sub ordinated bond) senilai USD53 juta tersebut bukanlah
transaksi yang sederhana. Dalam peraturan tentang kepailitan jelas diungkapkan
bahwa transaksi yang dapat diajukan pailit adalah transaksi yang sederhana. Namun
dapat di anulir oleh Mahkamah Agung dalam upaya Hukum kasasi, dimana Majelis
hakim Memutus TPI tidak jadi dipailitkan karena pembuktiannya tidak sedehana
tetapi sangat rumit dan kompleks.

15

B. Kendala Atau Hambatan Yang Dihadapi Mengenai Penerapan Asas


Pembuktian Sederhana Dalam Perkara Kepailitan Yang Dihadapi Oleh
Pengadilan Niaga
Hambatan-hambatan yang sering dihadapi dalam penerapan asas pembuktian
sederhana dalam praktik di Pengadilan Niaga adalah adanya perbedaan cara pandang
yang melahirkan perbedaan putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga, baik yang
setingkat maupun dengan tingkat di atasnya dalam memeriksa kasus-kasus
permohonan kepailitan. Perbedaan tersebut dikarenakan tidak adanya kesamaan
Majelis Hakim dalam mengartikan sesuatu, misalnya pengertian utang, pengertian
utang jatuh waktu dan pengertian kreditor.
Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pengadilan Niaga dalam
mengatasi kendala atau hambatan dalam penerapan asas pembuktian sederhana dalam
penjatuhan putusan pailit selama ini adalah dengan memanggil Saksi Ahli. Saksi Ahli
adalah orang yang memiliki pengetahuan khusus di bidang tertentu. Tujuan
pengangkatan seorang ahli tidak lain adalah untuk menghindari Hakim salah atau
keliru dalam mengambil kesimpulan atau keputusan yang benar dan adil, seperti
yang tercantum dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU
mewajibkan bantuan seorang ahli hukum. Adapun dasar yang menjadi pertimbangan
ketentuan tersebut adalah di dalam suatu proses kepailitan memerlukan pengetahuan
tentang hukum dan kecakapan teknis, perlu kedua pihak yang bersengketa dibantu
oleh seorang atau beberapa ahli yang memiliki kemampuan teknis, agar segala
sesuatunya berjalan dengan layak dan wajar.
Dalam perkara ini, berlaku penangguhan eksekusi karena hasil putusan yang
saling tumpang tindih atau kontradiksi antar lembaga yang mengadili. Terdapat
kenyataan bahwa gugatan tingkat perdata saling berjalan beriringan dengan gugatan
pada tingkat Pengadilan Niaga. Dalam putusan tidak dijelaskan secara tersurat mana
gugatan yang didahulukan daripada yang lainnya, tetapi tampak bahwa gugatan pada
tingkat Pengadilan Niaga akibat hukumnya dianggap lebih dapat dilaksanakan
terlebih dahulu, daripada gugatan tingkat perdata.

16

Adanya kontradiksi dalam kasus kepailitan tentu saja mempunyai dampak


bagi dunia peradilan di Indonesia. Adanya ketidakjelasan wewenang ini dapat
menyebabkan tidak adanya kepastian hukum serta ketidakjelasan dalam masyarakat
yang dapat berakibat hilangnya kepercayaan masayarakat terhadap lembaga
peradilan. Oleh karena itu, untuk menghindari hal-hal tersebut terulang kembali harus
ada kepastian hukum serta kepastian wewenang antar lembaga peradilan di Indonesia
sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih antar lembaga peradilan. Apabila ada
kewenangan yang jelas maka kinerja dari setiap lembaga peradilan ini dapat
maksimal dan demikian diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga
peradilan khususnya peradilan niaga dapat terus meningkat.
BAB IV
SIMPULAN
Dari identifikasi masalah dan pembahasan pada Bab III dapat ditarik simpulan
sebagai berikut:
1. Implementasi Asas Pembuktian Sederhana Dalam Praktek Peradilan Niaga belum
sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 8 ayat (4) Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004 karena ada banyak persoalan yang sangat pelik menyangkut proses
kepailitan, pembuktiannya tidak sederhana tetapi sangat rumit dan kompleks
sehingga sering terjadi inkonsistensi dalam putusan Majelis Hakim Pengadilan
Niaga dan Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam memeriksa kasus-kasus
permohonan pailit, terutama dalam mengartikan terbukti secara sederhana (sumir)
tersebut.
2. Kendala atau hambatan yang sering dihadapi mengenai penerapan asas
pembuktian sederhana dalam praktik di Pengadilan Niaga adalah adanya
perbedaan cara pandang yang melahirkan perbedaan putusan Majelis Hakim

17

Pengadilan Niaga, baik yang setingkat maupun dengan tingkat di atasnya dalam
memeriksa kasus-kasus permohonan kepailitan.