Anda di halaman 1dari 10

Laporan Tugas

Faktor dan Strategi dalam pembaharuan


pendidikan dan pengajaran
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah belajar dan pembelajaran
Yang dibina oleh bapak syaad patmanthara

Disusun Oleh :
Chrisdianto Agus Rahayu
(120533431003)
Off A

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PRODI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA
Februari, 2013

Factor factor yang mesti diperhatikan


dalam pembaharuan pendidikan dan
pengajaran
1. Guru
Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar
mengajar. Oleh karena itu, guru harus betul-betul membawa
siswanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Guru harus
mempengaruhi siswanya. Guru harus berpandangan luas dan
kritreria bagi seorang guru ialah harus memiliki kewibawaan.
Kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting untuk
dimiliki oleh seorang guru. Guru yang mempunyai kewibawaan
berarti mempunyai kesungguhan, suatu kekuatan, sesuatu yang
dapat memberikan kesan dan pengaruh.
Pengetahuan,
teknik
mengajar,
juga
pengalamanpengalaman tidaklah cukup untuk mempengaruhi seseorang. Ini
adalah misteri dalam mengajar, dan sama dengan misteri yang
terdapat di dalam proses penyembuhan. Seni lebih dari sekedar
pengetahuan atau ketrampilan ; seni itu melandasi kemampuan
untuk penampilan diri.
Dengan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa untuk
mengadakan pembaharuan dalam pendidikan , kita harus
meningkatkan profesionalisme guru.
2. Siswa
Siswa merupakan objek utama dalam proses belajar mengajar.
Siswa didik oleh pengalaman belajar mereka, dan kualitas
pendidikannya
bergantung
pada
pengalamannya,
kualitas
pengalaman pengalaman, sikap- sikaap, termasuk sikap-sikapnya
pada pendidikan. Dan belajar dipengaruhi oleh orang yang
dikaguminya.
Di dalam hal ini murid-murid tidak berbeda dengan manusia
lain. Dalam kenyataanya, pengalaman murid di luar akademis sering
sama pentingnya atau malah lebih penting di dalam rangka
pengaruh pendidikan dan intelektual yang dipelajarinya dalam
kurikulum regular.
Oleh karena itu, dalam melakukan pembaharuan pendidikan,
kita harus memperhatikannya dari segi murid karena murid itu
merupakan objek yang akan diharapkan.
3. Fasilitas
Di atas kita telah membicarakan masalah siswa, dan kita sekarang
berbicara tentang masalah fasilitas. Proses belajar mengajar akan
berjalan lancar kalau ditunjang oleh sarana yang lengkap.

Tahun dua puluhan proses belajar mengajar berbeda dengan


system sekarang, yang sudah menggunakan banyak alat modern
untuk melangsungkan proses belajar mengajar.
Oleh Karena masalah fasilitas merupakan masalah yang
esensial dalam pendidikan, maka dalam pembaharuan pendidikan
kita harus serempak pula memperbaharui mulai dari gedung
sekolah sampai kepada masalah yang paling dominan, yaitu alat
peraga (sebagai penjelasan dalam menyampaikan pendidikan).
4. Program/tujuan/rencana
Dalam proses belajar mengajar kita harus mempunyai tujuan yang
jelas. Kita harus meneliti apa tujuan pendidikan nasional kita, apa
pula tujuan institusionalnya, kurikulernya sampai kepada tujuan
yang sangat spesifik sekali (TIK).
Dalam pembaharuan pendidikan tidak akan berhasil kalau
mengesampingkan
masalah
tujuan.
Sebaliknya
dengan
memperjelas tujuan akan lebih mudahlah kepada apa yang akan
kita lakukan.
5. Kurikulum
Kurikulum dalam arti yang luas ialah : Yang meliputi seluruh
program dan kehidupan dalam sekolah , Kurikulum sekolah dapat
dipandang sebagai bagian dari kehidupan. Oleh karena itu,
kurikulum berpengaruh sekali kepada maju mundurnya pendidikan.
Kurikulum itu tidak statis, tetapi dinamis dan senantiasa dipengaruhi
oleh perubahan-perubahan dalam factor- factor yang mendasarinya.
Apabila kita mengadakan pembaharuan dalam pendidikan,
kita harus memperhatikan kurikulum yang sudah dirumuskaan.
Kalau pendidikan diperbaharui,
maka sudah barang tentu
(otomatis) kurikulumnya harus berubah . Kita tidak bisa
mengadakan pembaharuan tanpa perubahan pada kurikulum.

Strategi pembaharuan pendidikan dan


pengajaran
A. Strategi empiris-rasional
Asumsi dasar dalam strategi ini adalah bahwa manusia mampu
memakai akalnya dan akan bertindak dengan cara-cara yang rasional.
Oleh
karena
itu,
tugas
inventor
yang
utama
adalah
mendemonstrasikan pembaharuan tertentu melalui metode terbaik
yang sohih (valid) dalam rangka memberi tambahan faedah bagi yang
mengadopsinya.

Strategi ini didasarkan atas suatu pandangan yang optimistik, yang


dapat ditemukan di seluruh dunia Barat, dan ini merupakan dasar bagi
praktek liberal dan riset empiris maupun pendidikan umum.
Ada beberapa strategti empiris rasional yang merupakan dasar
seperti yang diketengahkan oleh Bennis, Benne, dan Chin:
1) Riset dasar dan persebaran pengetahuan melalui pendidikan umum.
Strategi pembaharuan ini merupakan strategi yang paling umum di
dunia Barat. Asumsi dasarnya ialah bahwa pembaharuan besar
kemungkinanya akan terjadi melalui perbuatan orang-orang, dan
orang-orang
itu
akan
memperbaharuinya
segera
setelah
pemahaman dasar mereka berubah.
2) Pemilihan dan penetapan personel
Sering sekali kesukaran dalam menjamin keberhasilan tugas
pembaharuan dipandang sebagai kesalahan personel. Strategi
khusus dalam memilih personel untuk suatu tugas tertentu dapat
dilakukan dengan penataran yang ilmiah melalui testing yang
dikembangkan secara ilmiah untuk mengetahui potensi dan bakat
personel.
3) Sistem analis dan konsultan suatu masalah besar. Dalam
pendekatan ini semua bawaan (feature), input dan output dianalisis.
Penerapan teknologi pendidikan terhadap pengembangan kurikulum
sangat dipengaruhi oleh ajaran (school of thought) ini. Pendekatan
tersebut didasarkan atas equilibrium model yang mengubah suatu
system dari beberapa system yang kurang menjadi suatu system
yang harmonis.
4) Riset terapan dan sistem-sistem mata rantai untuk difusi hasil-hasi
riset.
Sistem ini telah di pakai untuk mengembangkan pelayanan dan
perluasan dari pejabat-pejabat propinsi dan para pekerja yang di
tugaskan pada pusat-pusat peragaan atau institusi-institusi
pertanian di AS, dari sinilah ide dari pengubah yang cakap
berkembang .
Percobaan yang sama dalam bidang pendidikan telah diadakan di
AS dengan mengaitkan kegiatan riset terapan dengan penelitian
dasar pada suatu pihak dan dengan orang-orang yang sedang
bekerja dan berpraktek pada pihak lain.
Menanggapi pendekatan ini Bennis, Benne, dan Chin
berkomentar : Persoalan tentang bagaimana untuk mendapatkan
percobaan yang baik dan bagaimana menempatkan suatu
pembaharuan dalam sistem sekolah yang telah berjalan dan jelimet
biasanya tidak termasuk ke dalam strategi yang sentral. Dasar
rasional yang mendukungnya ialah bahwa jika suatu pembaharuan

dapat menunjukkan bahwa ia dapat diterima sesuai dengan apa


yang dikehendaki, maka konsumen akan mengadopsinya
5) Pemikiran kaum utopis sebagai suatu strategi perubahan
Pendekatan ini lahir dari studi masa depan pendidikan seperti studi
Eropa tahun 2000. Pada dasarnya pendekatan ini beralaskan
pengetahuan masa sekarang, berusaha untuk meramal masa
depan. Dengan kata lain, masa depan akan didasarkan atas trend
atau tendensi yang dapat di observasi sekarang ini.
Asumsi dasar yang mendukung strategi empiris-rasional ialah bahwa riset
itu netral dan objektif. Cara (mode) riset ilmu sosial ini diambil dari
ilmu-ilmu murni. Mode ini menetapkan peneliti sebagai seorang
observatori.
Karena strategi menurut definisi tidak mencakup persoalan nilai dan
ideologi, dan memandang suatu kedudukan sebagai sesuatu yang
objektif, proses pembaharuan dapat dibatasi sebagai suatu proses
penggunaan pengetahuan. Jika pengetahuan diterima dan digunakan
dengan cara yang sederhana dan langsung ini, ia akan menimbulkan
dampak yang hebat. Pengetahuan ini hendaknya dipraktekkan dengan
bijaksana sehingga tidak mengarah kepada paksaan.
Definisi dan uraian di atas dapat dikatakan agak sempit, dan tentu
saja bukan satu-satunya basis bagi strategi empiris-rasional.
B. Strategi normative-reedukatif
Strategi ini didasarkan atas tulisan-tulisan Sigmund Freud, Jhon Dewey,
Kurt Lewin, dan lain-lain. Dalam hal ini yang menjadi pusat kepentingan
ialah
persoalan
mengenai
bagaimana
klien
memahami
permasalahannya. Masalah pembaharuan bukan perkara mengisi
(supplying) informasi teknis yang memadai, tetapi lebih merupakan
perkara pengubahan (changing) sikap, skill, nilai-nilai dan hubunganhubungan manusia. Perubahan sikap justru sama perlunya dengan
perubahan produk-produk. Menerima sistem nilai klien berarti
mengurangi manipulasi dari luar. Pembaharuan dibatasi sehingga
kekuatan yang bersifat mengaktifkan di dalam sistem dapat diubah.
Asumsi tentang motivasi ini berbeda dengan asumsi-asumsi yang
mendasari strategi empiris rasional. Bennis, Benne, dan Chin
berkomentar tentang hal ini: Strategi ini didasarkan atas asumsi
bahwa motivasi manusia berbeda dengan strategi-strategi yang
mendasari strategi empiris-rasional, rasionalitas dan inteligensi
manusia tidak dikesampingkan. Pola-pola perbuatan dan praktek
didukung oleh sikap dan sistem nilai dari tiap-tiap individu, pandanganpandangan normative yang menyokong konmitmen-konmitmen

mereka. Perubahan pola dalam suatu praktek atau perbuatan, sesuai


dengan pandangan ini, akan terjadi hanya bila orang-orang yang
terlibat diajak mengubah orientasi-orientasi normatif mereka pada
pola-pola lama dan mengembangkan konmitmen kepada pola-pola
yang baru. Perubahan-perubahan dalam orientasi normatif meliputi
perubahan dalam sikap, nilai, skill dan hubungan-hubungan yang
berarti, tidak saja perubahan-perubahan dalam pengetahuan informasi
atau alasan-alasan intelektual bagi perubahan dan praktek
Intelegensi lebih merupakan (norma) sosial ketimbang (norma)
individu secara sempit. Orang dibimbing dalam perbuatan perbuatan
mereka secara sosial melalui pemberian dana (funded) dan
mengomunikasikan maksud-maksud norma-norma dan institusiinstitusi. Singkatnya melalui budaya normatif. Pada tingkat personal /
pribadi, orang dikendalikan oleh maksud-maksud yang datang dari
dalam diri , kebiasan dan nilai-nilai. Perubahan bukan saja dalam
kelengkapan yang menyangkut informasi yang rasional dari manusia,
tetapi juga pada tingkat personal, kebiasaan kebiasan dan nilai-nilai,
seperti pada halnya tingkat sosial budaya merupakan perubahanperubahan dalam struktur normatif dalam aturan-aturan dan
hubungan-hubungan yang diinstitusionalisasikan seperti halnya dalam
orientasi-orientasi kognitif dan perseptual. Dalam strategi normativereedukatif, seseorang agen pengubah bekerja bersama-sama dengan
kliennya. Dia mendasarkan pekerjaannya atas ilmu-ilmu behavioral,
dan tugasnya yang utama adalah mengidentifikasi dan mengorek ke
luar nilai dari klien itu, bersama-sama dengan nilai-nilai yang
dimilikinya, dan dengan jalan bekerja melalui konflik-konflik nilai secara
spesifik.
Bennis, Benne, dan Chin menekankan keterlibatan klien dalam
pembaharuan. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa agen
pengubah mesti belajar secara bersekongkol dengan klien untuk
memecahkan problema -problema yang dihadapi klien itu. Unsur-unsur
yang ada di bawah sadar (nonconscious) mesti di bawa kedalam
kesadaran dengan mengunakan metode-metode serta konsep-konsep
ilmu behavioral. Kedua strategi ini meliputi :
1)

Pengembangan kemampuan memecahkan problema dari suatu


sistem, tekananya disini adalah pada potensi sistem klien untuk
mengembangkan dan melembagakan struktur-struktur dan prosesproses pemecahan masalah mereka.
2) Pelaksanaan serta pemeliharaan pertumbuhan di dalam diri orangorang yang menjalankan sistem itu untuk di ubah. Disini tekanannya
adalah pada diri sendiri (person) sebagai unit dasar dalam setiap

organisasi sosial. Hal ini didasarkan atas keyakinan bahwa person


akan snggup melakukan perbuatan yang kreatif jika kondisi-kondisi
dibuat menguntungkan. Akhir-akhir ini tekanan telah diletakkan
pada kebebasan kreatifitas dalam person, grup dan organisasi
untuk berusaha mempercepat perubahan dalam kehidupan modern.
Kedua pendekatan ini diyakini dapat membangkitkan kreatifitas dalam
system manusia, dan tidak harus didatangkan dari luar, seperti yang
disangkakan dalam pendekatan empiris-rasional.
Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak di pandang sebagai suatu
hubungan antara pengetahuan dan Sesuatu (atau seseorang) yang
akan berubah (seperti dalam strategi empiris rasional). Sebaliknya,
proses tersebut di pandang sebagai suatu dialog yang melibatkan
seorang klien dan seorang agen pengubah .
Strategi-strategi normatif reedukatif yang didasarkan atas suatu
pemahaman idealistis akan amat memuaskan manusia dengan suatu
asumsi optimistic akan kemungkinan-kemungkinan (possibilities) bagi
perubahan-perubahan yang penuh arti yang dimulai oleh induividu dan
melalui individu . keefektifan strategi ini antara lain didasarkan atas
asumsi berikut:
1. Perubahan-perubahan mulai dengan individu dan sikapnya, dan
bukan dengan struktur sosial tempat dia hidup. Bahayanya mungkin
bahwa klien dengan mudah menerima status quo
dari
lingkungannya, dan bahwa tipe pembaharuan yang terjadi hanya
merupakan perubahan perubahan kecil saja di dalam suatu
rancangan tertentu (yang di anggap benar).
2. Seorang agen pengubah dapat bekerja dalam suatu value vaccum.
Bahyanya ialah bahwa dia bisa saja memainkan suatu peran social
enginner. Akan tetapi, dalam beberapa pendekatan nilai dari agen
pengubah itu dibuat jelas (explicit).
3. Perubahan-perubahan dapat terjadi tanpa suatu perubahan dalam
kekuasan atau sesudah itu diikuti oleh perubahan dalam hubunganhubungan kekuasan di antara individu-individu dan kelompokkelompok .
4. Dasar-dasar bagi perubahan yang berarti dalam consensus antara
interest group yang berbeda dalam sistem itu.
C. Strategi kebijakan administrative
Kewajiban (imposition) kekuasan ialah mengubah kondisi yang
didalamnya orang lain bertindak dengan jalan membatasi alternatifalternatif atau dengan jalan menghasilkan konsekuensi-konsekuensi dari
tindakan mereka. Sistem pendidikan di Eropa telah berkembang dan

teratur dibawah strategi ini, yang pimpinan-pimpinannya yang otoriter


diterima sebagai satu-satunya gaya pimpinan. Akan tetapi, sampai sejauh
mana strategi ini di angggap benar, belum dapat dipastikan. Dapatlah
dianggap sebagai suatu hipotesis bahwa pendekatan empiris dan rasional
dan pendekatan normative-reedukatif pada umumnya mencerminkan
sistem-sistem nilai yang pada umumnya dianut dalam beberapa bagian
budaya kita sekarang ini. Strategi- strategi kebijakan adminstratif masih
masih sangat sering digunakn, baik untuk kontrol maupun untuk
pembentukan kembali sistem-sistem kependidikan.
Tentang pendekatn ini Bennis, Benne, dan Chin mengatakan :
Pendekatn kebijakan administrative bukanlah penggunaan kekuasan
dalam pengertian pengaruh oleh satu orang atas orang lain atau oleh satu
kelompok atas kelompok lain, yang membedakan keluarga strategi ini dari
strategi-strategi yang sudah didiskusikan. Kekuasan merupakan suatu
bahan (ingredient) dari seluruh tindakan manusia. Mereka cenderung
melihat perbedaan strategi-srategi ini dalam unsur-unsur kekuasaan
tempat strategi-strategi perubahan itu bergantung, dan cara-cara
kekuasan dibentuk dan dipakai dalam proses pengefektifan pengubahan.
Lebih jauh Bennis, Benne, dan Chin menegaskan, stategi empirisrasional juga bergantung dapa kekuasan. Informasi atau pengetahuan
baru berada dalam kekuasan potensial dirinya sendiri, Arus informasi
datang dari orang yang memberi tahu kepada orang yang belum tahu.
Strategi normative-reedukatif tidak menolak pentingnya pengetahuan
sebagai suatu sumber kekuasan. Akan tetapi, pada umumnya strategi
kebijakn administratif menekankan kekuasan politik legal, administrative
dan ekonomis sebagai suatu sumber utama dari seluruh kekuasan.
Strategi yang bersifat paksaan lainnya menekankan kekuasan
moral,
sentiment
,
kesalehan,
dan
rasa
malu
sebagai
legimitasi(pengesahan).
Sistem pendidikan telah biasa menggunakan strategi kebijakan
administratif dalam berbagai cara. Undang-undang telah meluluskan
aktivitas aktivitas tertentu atau menjamin aktivitas-aktivitas lainya,
interaksi sosial dikontrol oleh aturan-aturan sekolah, kekuasan ekonomi
digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu misalnya , sebagai dukungan
terhadap satu bagian dari suatu kurikulum dan tidak terhadap bagian
yang lain.
Lebih spesifik lagi Bennis, Benne, dan Chin mengetengahkan sub
strategi berikut:
1. Strategi tanpa kekerasan (non violence strategy)

Strategi ini dikembangkan oleh mahaasiswa-mahasiswa, dan telah


dipakai oleh sekolah-sekolah sebagai salah satu strategi utama untuk
mengubah kondisi-kondisi.
2. Gunakan lembaga-lembaga politik untuk mencapai perubahan
Dalam pendidikan, kekuasan politik telah merupakan peristiwa yang
sangat sering kita temukan, khususnya bila pendapat-pendapat (suara)
mayoritas telah digunakan untuk memperkenalkan perubahanperubahan dalam sistem itu.
Sistem kependidikan yang masih mempercayai proses administrattif
dan legal sebagai satu-satunya basis bagi pembaharuan itu mengalami
kesukaran-kesukaran
dalam
memperoleh
pekerjaan
yang
sesungguhnya dalam sistem itu. Proses reedukasi orang-orang yang
harus bertindak dengan cara-cara yang berbeda jika ingin
pembaharuan efektif, harus diusahakan. Pembaharuan selalu menuntut
pengetahuan baru, keahlian-keahlian baru , sikap-sikap baru, dan
orientasi-orientasi nilai yang baru. Pembaharuan bisa saja menuntut
perubahan norma-norma, peranan-peranan , dan hubungan-hubungan.
Ini tak dapat dihubungkan dengan cara-cara yang memaksa.
Ada perbedaan yang jelas dalam proses perumusan, adopsi, dan
implementasi (pelaksaanan ) pembaharuan.
3. Perubahan melalui rekomendasi dan manipulasi elit-elit kekuasan
Pembaharuan tak dapat dicapai melalui konsensus tetapi akan selalu
dicapai melalui konflik-konflik dan redistribusi kekuasaan.
Strategi gabungan politik administrative
Dalam pendidikan, strategi yang bersifat memaksa telah digunakan
untuk beberapa tujuan. Penggunan prosedur-prosedur pemilihan, baik
untuk para guru maupun untuk para siswa, sebagian dapat dipandang
sebagai suatu strategi administratif. Sistem pengajaran (pemberian
pujian atau hadiah) dan hukuman bagi para guru juga bagi para siswa
merupakan variasi lain dari strategi semacam ini. Pemberian tujangan
(seperti beasiswa) dan juga pengalokasian kembali sumber-sumber,
mempunyai efek ke kekuasan yang bersifat menekan (memaksa) pada
tingkah laku dan dalam proses belajar-mengajar.
Ada satu perbedan yang jelas antara strategi politik administratif
dan strategi-strategi yang digambarkan diatas. perbedaan-perbedaan
ideologi dan nilai-nilai di antara interest groups telah diperlihatkan
melalui kekuasan yang terbuka. Perubahan-perubahan yang nyata

terlihat bagi suatu redistribusi kekuasan, dan posisi subjektif dari setiap
titik pandangan tidak disembunyikan.
Seperti telah diuraikan diatas, pendekatan yang spesifik terhadap
pembaharuan tak dapat digambarkan baik sebagai empiris rasional
maupun normatif-reedukatif, atau sebagai politik administratif, tetapi
sedikit banyak cenderung sebagai yang di pengaruhi oleh ketiga
strategi itu.