Anda di halaman 1dari 12

Isolator listrik adalah bahan yang tidak bisa atau sulit melakukan

perpindahan muatan listrik. Dalam bahan isolator valensi


elektronnya terikat kuat pada atom-atomnya. Bahan-bahan ini
dipergunakan dalam alat-alat elektronika sebagai isolator, atau
penghambat mengalirnya arus listrik. Isolator berguna pula sebagai
penopang beban atau pemisah antara konduktor tanpa membuat adanya
arus mengalir ke luar atau atara konduktor. Istilah ini juga dipergunakan
untuk menamai alat yang digunakan untuk menyangga kabel transmisi
listrik pada tiang listrik.
Beberapa bahan, seperti kaca, kertas, atau Teflon merupakan bahan
isolator yang sangat bagus. Beberapa bahan sintetis masih cukup bagus
dipergunakan sebagai isolator kabel. Contohnya plastik atau karet. Bahanbahan ini dipilih sebagai isolator kabel karena lebih mudah dibentuk /
diproses sementara masih bisa menyumbat aliran listrik pada voltase
menengah (ratusan, mungkin ribuan volt).

Isolator Saluran Udara


1. Bahan-bahan Isolasi
Bahan isolasi yang biasa dipergunakan pada isolator saluran udara yang
dioperasikan pada tegangan tinggi (di atas 1 kV) adalah bahan porselin,
bahan gelas serta bahan polymer (composite).
1.1 Bahan Porselin (keramik)
Porselin terbuat dari tanah liat china (china clay) yang terdapat di alam
dalam bentuk alumunium silikat. Bahan tersebut dicampur kaolin, felspar
dan quarts. Kemudian campuran ini dipanaskan dalam tungku yang
suhunya dapat diatur. Bahan porselin dibakar sampai keras, halus
mengkilat dan bebas dari lubang-lubang.
Untuk mendapatkan sifat-sifat listrik dan sifat mekanis yang baik, harus
dipilih suhu pemrosesan bahan isolasi yang sesuai, karena jika bahan
isolasi diproses pada suhu yang agak rendah, sifat mekanisnya baik,
tetapi bahan tetap berlubang-lubang. Sedangkan jika diproses pada suhu
yang tinggi, lubang-lubangnya berkurang tetapi bahan menjadi rapuh.
Isolator porselin yang baik secara mekanis mempunyai kuat dielektrik
kira-kira 60 kV/cm, kuat tekan dan kuat tariknya masing-masing 70.000
kg/cm2 dan 500 kg/cm2.
Beberapa kelebihan isolator porselin/keramik antara lain:
1. Stabil, adanya ikatan ionik yang kuat antaratom yang menyusun
keramik, seperti silikon dan oksigen dalam silica dan silicates,
membuatnya strukturnya sangat stabil dan biasanya tidak mengalami
degradasi karena pengaruh lingkungan. Ini berarti bahwa isolator keramik
tidak akan rusak oleh pengaruh UV, kelembaban, aktivitas elektrik, dsb.
2. Mempunyai kekuatan mekanik yang baik, merupakan ciri alami bahwa
bahan keramik mempunyai sifat mekanik yang kuat, sehingga pada

pemakaian isolator porselin sebagai terminal kabel, bushing, dan arrester


surja tidak memerlukan material lain untuk meyokongnya.
3. Harganya relatif murah, penyusun porselin seperti clay, feldspar dan
quartz harganya relatif murah dan persediaannya berlimpah.
4. Tahan lama, proses pembuatan porselin yang terdiri dari beberapa
proses seperti pencetakan dan pembakaran dalam mengurangi kadar air
menyebabkan porselin mempunyai sifat awet.
Di samping kelebihan-kelebihan di atas, isolator porselin mempunyai
beberapa kekurangan, yaitu:
1. Mudah pecah, isolator porselin rentan pecah pada saat dibawa maupun
saat instalasi. Vandalisme merupakan faktor utama yang yang
menyebabkan isolator pecah.
2. Berat, salah satu sifat dari keramik adalah mempunyai massa yang
berat. Oleh karenanya, pada isolator porselin berukuran besar dan berat
biasanya mahal karena biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman dan
instalasi.
3. Berlubang akibat pembuatan kurang sempurna, berdasarkan
pengalaman isolator porselin yang berlubang dapat meyebabkan
terjadinya tembus internal (internal dielectric breakdown).
4. Bentuk geometri kompleks, porselin mempunyai relatif mempunyai
karakteristik jarak rayap yang kecil, oleh karenanya untuk
memperpanjang jarak rayap tidak dilakukan dengan memperbesar
diameter atau memperpanjang isolator melainkan mendesain isolator
dengan membuat shed-shed. Hal ini membuat bentuknya menjadi
kompleks.
5. Mudah terpolusi, permukaan porselin bersifat hidrophilik, yang berarti
bahwa permukaan porselin mudah untuk menangkap air, sehingga pada
kondisi lingkungan yang berpolusi mudah untuk terbentuk lapisan
konduktif di permukaannya. Hal ini yang dapat menyebabkan kegagalan
isolasi yaitu flashover.
1.2 Bahan Gelas
Selain bahan porselin, bahan gelas juga banyak digunakan sebagai
isolator pasangan luar (outdoor insulator) atau isolator saluran udara
(overhead insulator), karena bahan gelas mempunyai kelebihan-kelebihan
sebagai berikut:
1. Kuat dielektriknya tinggi, sekitar 140 kV/cm
2. Koefesien muainya rendah
3. Mudah didesain (karena kuat dielektrikanya tinggi)
4. Kuat tekannya lebih besar daripada porselin
5. Karena sifatnya yang tembus pandang, adanya keretakan,
ketidakmurnian bahan, adanya gelembung udara dan pecahnya isolator
mudah diketahui
6. Bahan hampir merata (homogen)

Selain keuntungan-keuntungan yang dimilikinya, isolator gelas juga


mempunyai kerugian sebagai berikut:
1. Uap air mudah mengembun pada permukaannya.
Oleh karena itu debu dan kotoran akan mudah mengumpul pada
permukaannya, kejadian ini akan memudahkan mengalirnya arus bocor
serta terjadinya flashover
2. Untuk dipergunakan pada sistem tegangan yang tinggi, gelas tidak
dapat dicor dalam bentuk yang tidak beraturan, karena pendinginan yang
tidak teratur akan menimbulkan tekanan dari dalam.
3. Mudah pecah, sama seperti bahan porselin, bahan gelas mempunyai
sifat yang mudah pecah pula. Vandalisme merupakan penyebab utama
pecahnya isolator gelas (misal ditembak).
1.3 Bahan Polimer (Composite)
Bahan polimer telah dipakai selama kurang lebih 50 tahun dan mengalami
perkembangan pesat dibanding bahan lainnya. Menurut R. Hackam, pada
tahun 1940 telah dipakai bisphenol epoxy resin untuk isolator dalam,
cycloaliphatic epoxy untuk isolator luar (1950). Selanjutnya terjadi
perkembangan pesat dalam pemakaian polimer untuk bahan isolator dan
dibuat untuk skala komersial. Ethylene Propylene Rubber (EPR) dibuat
oleh Ceraver, Francis (1975), Ohio Brass, USA (1976), Sedivar, USA
(1977), dan Lapp, USA (1980). Silicone Rubber (SIR) dibuat oleh
Rosenthal, Jerman (1976) dan Reliable, USA (1983), serta penggunaan
cycloaliphatic epoxy pada jaringan transmisi di United Kingdom (1977).
Isolator komposit (composite insulator) telah digunakan di beberapa
negara lebih dari tiga dekade sebagai alternatif pengganti isolator porselin
dan gelas. Isolator komposit menunjukkan performansi yang bagus pada
beberapa kondisi, terutama untuk daerah berpolusi.
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh isolator polimer:
1. Ringan, kepadatan material polimer lebih rendah dibandingkan keramik
maupun gelas, hal ini menyebabkan isolator polimer ringan, sehingga
mudah dalam penanganan maupun instalasi.
2. Bentuk geometri sederhana, karena mempunyai karakteristik jarak
rayap yang relatif besar menyebabkan desain isolator polimer sederhana.
3. Tahan terhadap polusi, karena bahan polimer mempunyai sifat
hidrophobik (menolak air) yang baik. Sehingga air atau kotoran lainnya
akan sukar menempel pada permukaannya meskipun dioperasikan pada
kondisi lingkungan yang berpolusi maka isolator polimer mempunyai
ketahanan tegangan lewat-denyar yang baik.
4. Waktu pembuatan lebih singkat dibandingkan dengan isolator porselin,
namun tidak mengurangi performansinya.
5. Tidak terdapat lubang karena pembuatan, karena sifat polimer yang
berbeda dengan porselin dalam hal pembuatannya. Sehingga
memungkinkan tidak terjadinya tembus internal.

Sedangkan kekurangan yang dimilki oleh isolator polimer adalah:


1. Penuaan/degradasi pada permukaannya (surface ageing), stress yang
disebabkan antara lain karena korona, radiasi UV atau zat kimia dapat
menyebabkan reaksi kimia pada permukaan polimer. Sehingga dapat
merusak permukaan polimer (penuaan) yang dapat menghilangkan sifat
hidrofobiknya,
2. Mahal, bahan penyusun polimer lebih mahal dibandingkan dengan
porselin maupun gelas.
3. Kekuatan mekaniknya kecil, isolasi polimer biasanya tidak mampu
untuk menyokong dirinya sendiri. Oleh karenanya dalam instalasi
dibutuhkan peralatan lain seperti jacket (oversheath) sebagai
penyokongnya.
4. Kompabilitas material, produk polimer menpunyai interface lebih dari
satu sumbu bergantung pada fungsi dan desainnya. Apabila terdapat
banyak interface menyebabkan pengaruh penting pada perekatnya. Oleh
karenya harus diketahui dengan jelas sebelum menggunakan isolator
polimer, sebab dapat menimbulkan korosi atau retakan apabila
formulasinya tidak sesuai.
2 Klasifikasi Isolator Saluran Udara
Menurut penggunaan dan konstruksinya, isolator pasangan luar (outdoor
insulator) atau isolator saluran udara (overhead insulator) diklasifikasikan
menjadi: isolator pasak (pin type insulator), isolator piring (suspension
insulator), isolator batang panjang (long rod insulator), isolator pos
saluran (line post insulator) dan isolator pos pin (pin post insulator).
2.1 Isolator Pasak (Pin Type Insulator)
Isolator jenis ini adalah yang pertama kali dirancang untuk menopang
penghantar saluran. Desain dari isolator ini ditunjukkan pada gambar 2.1.
Garis patah-patah AB menunjukkan jarak rayap isolator.
Jarak rayap isolator dapat diperpanjang dengan membuat sebuah atau
lebih pelindung hujan (rain shed), pelindung hujan ini disebut juag
petticoats atau skirt. Pelindung hujan dibuat sedemikian rupa agar pada
waktu isolator basah masih terdapat jarak rayap yang kering.
Untuk pemakaian tegangan yang makin tinggi, dibutuhkan bahan isolasi
yang makin tebal, akan tetapi dalam praktek tidak dapat dibuat isolator
tunggal yang sangat tebal. Oleh karena itu dibuat isolator pasak yang
terdiri dari beberapa 7bagian disambungkan satu sama lain dengan
mempergunakan perekat semen.
A
B
Gambar 2.1 Isolator Pasak Tunggal

Isolator jenis pasak dapat dipergunakan sampai 80 kV. Desain isolator


pasak yang terdiri dari beberapa bagian dapat dilihat pada gambar 2.2
sebagai berikut:
Gambar 2.2
Isolator pasak terdiri dari dua bagian
2.2 Isolator Piring (Suspension Insulator)
Untuk tegangan saluran yang tinggi, isolator pasak yang dibutuhkan
menjadi lebih berat, desainnya rumit dan harganya mahal. Penggantian
isolator yang rusak mahal, oleh karenanya isolator pasak menjadi tidak
ekonomis bila digunakan pada sistem tegangan yang tinggi.
Pada sistem saluran udara tegangan tinggi, jenis isolator yang banyak
dipergunakan adalah isolator piring. Sejumlah isolator piring dihubunghubungkan secara seri dengan mempergunakan sambungan logam,
membentuk satu rentengan. Sedangkan penghantar saluran dipegang
oleh isolator yang terbawah.
Keuntungan-keuntungan mempergunakan isolator piring adalah:
1. Tiap isolator piring dirancang untuk tegangan yang tidak terlalu tinggi,
jadi dengan menghubungkan sejumlah isolator, dapat dirancang suatu
rentengan isolator sesuai dengan kebutuhan
2. Jika salah satu atau beberapa isolator dalam rentengan rusak, dapat
dilakukan penggantian dengan mudah dan biaya murah
3. Rentengan isolator bersifat lentur, hal ini dapat mengurangi pengaruh
tarikan mekanis.
4. Jika rentengan isolator dipasang pada menara baja, pengarub petir
pada penghantar akan berkurang karena letak kawat penghantar lebih
rendah daripada palang (cross arm) yang diketanahkan
5. Jika beban mekanisnya naik, misalnya karena tegangan saluran
transmisi ditinggikan, dapat dipergunakan saluran ganda atau menambah
jumlah isolator dalam rentengan
Sebuah isolator piring terdiri dari sebuah pirigan porselin atau gelas yang
bagian bawahnya berlekuk-lekuk untuk memperbesar jarak rayap. Pada
bagian atas piringan disemenkan sebuah tutup (cap) yang terbuat dari
besi cor yang telah digalvanisasikan, sedangkan pada rongga bagian
bawah disemenkan sebuah pasak baja yang telah digalvanisasikan.
Isolator piring dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan cara
menghubung-hubungkan tiap isolator. Saat ini jenis isolator piring yang
banyak dipergunakan adalah jenis Clevis dan jenis Ball and Socket, seperti
terlihat pada gambar 2.3.

(i) (ii)
Gambar 2.3
(i) Isolator piring jenis Clevis
(ii) Isolator piring jenis Ball and Socket
2.3 Isolator Batang Panjang (Long-rod Insulator)
Isolator batang panjang berbentuk seperti yang ditunjukkan pada gambar
2.4.
Gambar 2.4
Isolator batang panjang
Isolator jenis ini terdiri atas silinder porselin dengan kerutan-kerutan dan
ujung-ujungnya diperkuat dengan dua tutup logam yang disemenkan.
Diameter silinder porselin dipilih menurut kekuatan mekanis yang
dibutuhkan, kuat tariknya sekitar 130-140 kg/cm2.
Pemakaian isolator batang panjang menghemat logam jika dibandingkan
dengan isolator rentengan isolator piring, juga lebih ringan. Oleh karena
isolator batang panjang mempunyai rusuk yang sederhana, maka kotoran
yang melekat pada permukaan isolator mudah dicuci oleh hujan, sehingga
isolator jenis ini sesuai untuk daerah-daerah yang berpolusi.
Kekurangan utama dari isolator panjang adalah adanya kemungkinan
timbulnya kerusakan yang menyeluruh oleh busur api atau oleh adanya
pukulan mekanis dari luar. Dalam kasus seperti ini, isolator piring tidak
akan rusak seluruhnya, bahkan adanya keretakan-keretakan pada isolator
tidak akan membuat isolator jatuh berkeping-keping, rentengan isolator
masih dapat menahan beban mekanis untuk jangka waktu yang agak
lama (meskipun isolator sudah rusak secara listrik).
2.4 Isolator Pos Saluran (Line Post Insulator)
Isolator jenis ini terbuat dari porselin yang bagian bawahnya diberi tutup
(cap) besi cor yang disemenkan pada porselin serta pasak baja yang
disekrupkan padanya. Karena jenis ini dipakai sendiri (tidak dalam
gandengan) serta kekuatan mekanisnya rendah, maka isolator pos
saluarantidak dibuat dalam ukuran yang besar. Konstruksi isolator pos
saluran terlihat pada gambar 2.5 berikut:
Gambar 2.5 Isolator pos saluran
2.5 Isolator Pos Pin (Pin Post Iinsulator)
Isolator pos pin digunakan pada daerah yang membutuhkan keandalan
yang tinggi. Bentuk dari isolator jenis pos pin ditunjukkan pada gambar
2.6

Gambar 2.6
Isolator pos pin
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh isolator pos pin, antara lain:
1. Bebas dari cacat, karena semen dan tangkai besi (metal flange)
dipasang di sisi luar porselin, sehingga tidak menyebabkan pemuaian.
2. Bebas dari kerusakan akibat lewat-denyar (puncture), kuat medan
listrik pada isolator pos pin seragam dan lebih rendah dibandingkan
dengan isolator pasak (pin type insulator). Oleh karena badan isolatornya
tidak bocor, maka lewat-denyar yang terjadi di luar porselin meskipun
terjadi tegangan impuls secara tiba-tiba. Demikian pula pada inti isolator,
terbebas dari puncture..
3. Mempunyai sifat antikontaminasi yang baik, isolator pos pin
mempunyai sifat antikontaminasi yang baik dibandingkan isolator jenis
lain, karena:
mempunyai jarak rayap (creepage distance) yang terlindungi besar
hingga 50% dari total jarak rayap.
mempunyai bentuk profil yang baik, karena mampu meneteskan
kontaminan dari tubuhnya
memepunyai jarak celah udara (air gap) yang besar antara bagian dalam
sirip dengan permukaan isolator, sehingga dapat menghindari terjadinya
jembatan air yang terkontaminasi.
4. Tahan terhahap busur api, arus berupa busur api yang mengalir akibat
lewat denyar akibat polusi dapat menyebabkan kerusakan pada
permukaan
isolator. Isolator pos pin bersifat mampu menahan busur api hingga circuit
breaker memutus aliran daya
3 Karakteristik Isolator
3.1 Karakteristik Elektrik
Isolator terdiri dari bahan isolasi yang diapit oleh elektroda-elektroda.
Dengan demikian, maka isolator terdiri dari sejumlah kapasitansi. Karena
kapasitansi ini, maka distribusi tegangan pada sebuah rentengan isolator
menjadi tidak seragam. Potensial pada ujung yang terkena tegangan
(ujung yang memegang kawat penghantar) adalah paling besar.
Karakteristik elektrik suatu isolator dinilai dari tegangan lewat-denyar
yang terdiri dari tegangan-tegangan lewat-denyar frekuensi rendah,
impuls dan tembus merusak (puncture).
Tegangan lewat-denyar frekuensi rendah kering (dry power frequency
flashover voltage) adalah tegangan lewat-denyar yang terjadi bila

tegangan diterapkan di antara kedua elektroda isolator yang bersih dan


kering permukaannya, nilainya konstan serta merupakan nilai dasar dari
karakteristik isolator.
Tegangan lewat-denyar frekuensi rendah basah (wet power frequency
flashover voltage) adalah tegangan lewat-denyar yang terjadi bila
tegangan diterapkan di antara dua elektroda isolator yang basah karena
hujan atau sengaja dibasahi.
Tegangan lewat-denyar impuls (impuls flashover voltage) adalah
tegangan lewat-denyar yang terjadi bila tegangan impuls dengan
gelombang standar diterapkan. Menurut standar IEC besarnya gelombang
impuls standar adalah 1,2 x 50ms. Karakteristik impuls terbagi atas
polaritas positif dan negatif. Biasanya, tegangan dengan polaritas positif
yang dipakai (memberikan nilai lewat-denyar lebih rendah). Untuk
polaritas positif, tegangan lewat-denyar badah dan kering sama.
Tegangan tembus (puncture) merupakan tembus yang menyebabkan
perusakan bahan isolasinya. Sedangkan perusakan bagian isolator yang
disebabkan oleh pemanasan lebih tidak dikategorikan sebagai puncture.
3.2 Karakteristik Mekanis
Isolator harus memiliki kekuatan mekanis guna memikul beban mekanis
penghantar yang diisolasikannya. Bahan isolasi, sebagai bagian utama
sebuah isolator, mempunyai sifat sebagai besi cor, dengan kuat tekan
(compressive strength) yang besar dan kuat tarik (tensile strength) yang
lebih kecil, Untuk porselin, kuat 400-900 kg/cm2, sedangkan kuat
tekannya 10 kali lebih besar.
Gaya tarik terhadap isolator yang telah dipasang relatif besar, sehingga
kekuatan bahan isolasi dan gaian-bagian yang disemenkan padanya harus
dibuat lebih besar dari kekuatan bagian-bagian logamnya.
4 Kegagalan Isolator
Secara garis besar isolator tegangan tinggi mempunyai dua fungsi, yaitu
fungsi mekanik dan elektrik. Secara mekanik, isolator berfungsi untuk
mendukung atau menahan konduktor pada tegangan tinggi, sedangkan
secara elektrik isolator berfungsi sebagai pemisah, yaitu untuk mencegah
mengalirnya arus dari penghantar ke tanah atau ke menara penopang
saluran udara. Pada saluran transimisi atau distribusi kegagalan isolasi
dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
Isolator pecah, disebabkan pemuaian yang tidak merata dan konstraksi
yang terjadi di dalam semen, baja, dan bahan porselin. Kegagalan ini juga
bisa disebabkan pergantian musim yang mencolok dan pemanasan lebih.

Bahan isolasi berlubang-lubang. Lubang terjadi karena bahan porselin


diproses pada suhu rendah hingga mudah menyerap air. Kejadian ini
menurunkan kekuatan isolasi dan arus merembes melalui isolator.
Ketidakmurnian bahan isolasi. Di tempat yang mengalami
ketidakmurnian bahan isolasi pun akan terjadi kebocoran.
Bahan tidak dapat mengkilap, sehingga air akan tetap tinggal padanya,
lalu menyebabkan penimbunan debu dan kotoran membentuk lapisan
yang bersifat menghantar dan memperpendek jarak rayap (creepagedistance).
Tekanan secara mekanis, misalnya karena penumpukkan isolator. Jika
bahannya kurang kuat dapat menyebabkan isolator pecah.
Tembus dan lewat-denyar (flashover). Lewat-denyar, yaitu pelepasan
muatan destruktif (bersifat merusak) yang melintasi pada seluruh bagian
permukaan isolator. Pelepasan muatan ini disebabkan pembebanan
medan listrik pada permukaan isolator melebihi harga ketahanan
elektriknya. Lewat-denyar menimbulkan pemanasan dan ini dapat
merusak isolator. Penyebabnya: pengotoran permukaan isolator, surja
hubung dan surja petir. Sedangkan tembus (puncture) adalah pelepasan
muatan disruptif pada bagian isolasi isolator, khusus terjadi pada isolasi
padat saja.
5 Parameter Isolator
Parameter isolator merupakan parameter-parameter yang terdapat pada
isolator itu sendiri yang mempengaruhi sifat kerjanya, apabila dipasang
pada daerah yang berpolusi.
Dalam kondisi berpolusi, nilai tahanan permukaan sangat dipengaruhi
oleh resistivitas timbunan kotoran yang menempel pada permukaan
isolator, sehingga untuk menjaga agar nilai tahanan permukaan tetap
tinggi dengan memperpanjang jarak rayap tidak cukup. Bangunan isolator
akan mempengaruhi laju penimbunan kotoran, kapasitas penyimpanan air
pada permukaan dan mempengaruhi laju pencucian sendiri oleh hujan.
IEC Publikasi 36 memberikan saran untuk mempertimbangkan parameterparameter dalam pemakaian isolator di daerah polusi, sebagai berikut:
Faktor bentuk (Form Factor FF)
Faktor profil
Perbandingan jarak dua shed berurutan dengan panjang shed
bergantung (the ratio of shed interval to shed overhang), dan
Sudut kemiringan shed.

Beberapa peneliti menambahkan sifat kerja isolator yang akan dipasang


pada daerah berpolusi, yaitu panjang jarak rayap isolator (creepage
distance), diameter isolator dan konfigurasi rentengan isolator.
Pengertian parameter-parameter isolator tersebut dapat diterangkan
dengan menggunakan gambar 2.7.
p1+p2+s
= jarak bocor terpendek
ld1 + ld2
= l (panjang jarak rayap)
Gambar 2.7 Parameter pada isolator gantung jenis cap and pim
5.1 Faktor bentuk
Faktor bentuk isolator dapat ditentukan dengan rumus berikut:
.(2.1)
di mana:
FF
: faktor bentuk
L
: panjang jarak rayap diukur dari salah satu elektroda
D(l)
: diameter isolator pada jarak rayap sama dengan l
Pada prakteknya, besarnya faktor bentuk isolator ditentukan dengan cara
grafis.
5.2 Faktor profil
Faktor profil merupakan perbandingan antara jarak bocor terpendek
dengan panjang jarak rayap yang diukur di antara dua titik yang
dipisahkan oleh jarak. Dari gambar 2.7 besar faktor profil dapat
dinyatakan oleh persamaan berikut:
(2.2)
5.3 Perbandingan jarak dua shed berurutan dengan panjang shed
bergantung
(The ratio of shed interval to shed overhang)
Pada gambar 2.7 perbandingan jarak dua shed berurutan dengan panjang
shed bergantung adalah
s/p1.(2.3)

5.4 Sudut kemiringan shed


Pada gambar 2.7 sudut kemiringan shed ditunjukkan oleh sudut yang
diberi tanda a.
5.5 Panjang jarak rayap isolator
Panjang jarak rayap isolator adalah panjang jarak yang diukur dari salah
satu elektroda menyusuri bentuk permukaan isolator hingga elektroda
yang lain. Dengan demikian jarak rayap yang besar mempunyai tahanan
permukaan yang tinggi. Dari gambar 2.7 panjang jarak rayapnya adalah:
l = ld1 + ld2..(2.4)
5.6 Diameter isolator
Untuk menyelidiki pengaruh diamater isolator terhadap sifat kerja isolator
yang terkena polusi, I. Kimoto melakukan percobaan pada sejumlah
isolator dari berbagai tipe. Kimoto juga melakukan percobaan untuk
mengetahui hubungan antara jumlah isolator dalam suatu rentengan
isolator dengan besarnya tegangan ketahanan. I. Kimoto menyimpulkan
bahwa untuk rentegan vertikal, efek pencucian oleh hujan lebih efektif
pada isolator dengan diameter lebih kecil. Sedangkan untuk konfigurasi
rentengan horisontal, efek pencucian oleh hujan hampir tidak terpengaruh
oleh ukuran diameter dan kedalaman ketiak isolator.
5.5 Konfigurasi rentengan isolator
Rentengan isolator dapat disusun dalam konfigurasi yang umum, yaitu
konfigurasi rentengan vertikal (suspension string), konfigurasi rentengan
horisontal (tension string) dan konfigurasi rentengan miring/Vee (Vee
string).
Konfigurasi rentengan isolator ternyata mempengaruhi sifat kerja isolator
yang dipasang di daerah berpolusi. Hal ini didasarkan pada pengalaman
pada suatu sistem hantaran udara 500 kV, polusi telah menyebabkan
terjadinya lewat-denyar lebih dari 75 kali untuk konfigurasi rentengan
vertikal, sedangkan untuk konfigurasi rentengan Vee dan horisontal tidak
terjadi lewat-denyar. Kejadian ini juga terjadi pada sistem hantaran udara
135 dan 220 kV di lembah Latrobe, Australia, pada saluran-saluran
tersebut telah terjadi 25 kali lewat-denyar dalam selang waktu tiga bulan.
Semuanya terjadi pada konfigurasi rentengan vertikal.
I. Kimoto melakukan pengukuran dalam waktu yang lama, yaitu dengan
jalan memasang isolator di udara terbuka dalam waktu yang lama,
dengan hasil sebagai berikut:
Rentengan horisontal menghasilkan kepadatan timbunan garam yang
lebih kecil daripada rentengan vertikal. Hasil pengukuran menunjukkan
bahwa kepadatan timbunan garam pada rentengan horisontal 6 50% dari
kepadatan timbunan garam pada rentengan vertikal.

Kepadatan rentengan Vee 6 80% dari kepadatan timbunan garam


rentengan vertikal.