Anda di halaman 1dari 5

META TEORI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DI INDONESIA

Meta teori akuntansi keuangan adalah suatu proses penyusunan teori akuntansi
keuangan yang memetakan proses penyusunan teori akuntansi keuangan. Meta
teori akuntansi keuangan menggunakan pendekatan deduksi dalam proses
penalarannya. Karakteristik lingkungan sosial profesi akuntansi yang mendasari
perkembangan akuntansi di Indonesia dapat dilihat dari beberapa aspek seperti
yang dipaparkan oleh Colditz dan Gibbins diatas, yaitu:
1. Lingkungan sosial yang membentuk akuntansi adalah dunia usaha. Dunia
usaha erat sekali hubungannya dengan keadaan perekonomian suatu
negara. Hal lain yang berpengaruh terhadap akuntansi adalah sistem politik.
Di negara sosialis, sistem harga dan laba bukan merupakan faktor yang
mengatur alokasi sumber-sumber ekonomi. Pemerintah mengatur alokasi
sumber-sumber ekonomi berdasarkan keputusankeputusan politik. Dunia
usaha dalam negara sosialis beroperasi berdasarkan keputusan-keputusan
politik, sehingga pertimbangan cost menjadi hal yang sekunder
2. Sistem hukum yang berpengaruh terhadap akuntansi adalah undang-undang
perpajakan. Sistem perpajakan yang menerapkan prinsip pengenaan pajak
dengan didasari filosofi "pajak adalah kewajiban rakyat", mewajibkan wajib
pajak untuk menyelenggarakan akuntansi yang baik untuk menghitung hasil
usahanya, karena pengenaan pajak ditentukan oleh wajib pajak itu sendiri.
Pemerintah hanya berperan untuk memeriksa apakah jumlah pajak yang
ditentukan dan dilaporkan wajib pajak tersebut telah sesuai dengan undangundang. Dalam sistem perpajakan seperti ini akuntansi akan tumbuh dan
berkembang dengan baik dan akan dapat memberikan kontribusi kepada
wajib pajak untuk menentukan hasil usaha yang dikenakan pajak.
3. Adat istiadat masyarakat dipengaruhi sistem nilai yang berlaku di masyarakat.
Dalam masyarakat yang menerapkan sistem nilai dengan mengedepankan
"kejujuran individu", akuntansi merupakan alat yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat sebagai penyampai pertanggung jawaban kekayaan kepada yang
berhak. Di dalam masyarakat yang menganggap ketidakjujuran sebagai hal
yang biasa-biasa saja dalam usaha, akuntansi akan menjadi alat untuk
"menipu", sehingga akan sulit berkembang dengan baik. Masyarakat tidak
akan percaya dengan laporan yang dihasilkan akuntansi, jika mereka
mengetahui bahwa praktek-praktek usaha (bisnis) yang dijalankan pengusaha
penuh dengan tipu daya, muslihat licik, sogok dan biaya siluman lainnya.
Akuntansi akan tumbuh subur dalam lingkungan bisnis terbuka dan
transparan. Oleh karena itu, bisa dipahami bila profesi ini berkembang sejalan
dengan perkembangan pasar modal dan sistem perpajakan yang menjadikan
transparansi sebagai titik perhatian.
4. Lingkungan masyarakat yang memerlukan jasa profesi akuntansi
membutuhkan jaminan profesional yaitu menyangkut mengenai mutu jasa
yang digunakannya. Dengan demikian memaksa profesi akuntansi untuk
mengatur dirinya sendiri yaitu dengan menerapkan standar etika yang tinggi
bagi setiap anggota profesi yang melayani lingkungan masyarakatnya.
Dengan penerapan standar etika yang tinggi, profesi ini akan mendapatkan
kepercayaan yang penuh dari masyarakat untuk memberikan kontribusi
berupa penyediaan informasi akuntansi kepada masyarakat pengguna
(users).

5. Dengan dibentuknya BAPEPAM, pemerintah memerlukan profesi akuntansi


sebagai salah satu alat kontrol sosial terhadap perusahaan yang go public.
KONVERGENSI SAK DI MASA GLOBALISASI
Kecenderungan meningkatnya globalisasi di bidang ekonomi semakin tampak
dengan adanya kesepakatan antar negara dalam satu region tertentu, seperti
European Union (EU), North American Free Trade Agreement (NAFTA), Asia Pacific
Economic 12 Cooperation (APEC). Indonesia sendiri merupakan salah satu dari
delapan belas negara anggota APEC. Globalisasi bidang ekonomi juga tampak
dengan munculnya fenomena krisis nilai tukar di sebagian negara Asia, termasuk
Indonesia yang dimulai pada tahun 1997. Sementara itu Christopher Nobes dan
Robert Parker (1995:11) menjelaskan adanya tujuh faktor yang menyebabkan
perbedaan penting yang berskala internasional dalam perkembangan sistem dan
praktik akuntansi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah (1) sistem hukum, (2)
pemilik dana, (3) pengaruh sistem perpajakan, dan (4) kemantapan profesi akuntan,
(5) inflasi, (6) teori akuntansi dan (7) accidents of history.
Pengertian Konvergensi
Konvergensi dalam standar akuntansi dan dalam konteks standar internasional
berarti nantinya ditujukan hanya akan ada satu standar. Konvergensi yang
ditawarkan IASB (sebelumnya IASC) adalah menginginkan seluruh negara
anggotanya agar standar akuntansi yang dikeluarkan oleh badan penyusun standar
nasional konvergen dengan IFRS. Definisi convergence yang diinginkan IASB
adalah the same word by word in English. Jadi, idealnya langsung menggunakan
bahasa Inggris sebagai bahasa pengaturan.
Konvergensi Standar Akuntansi Internasional
Upaya mewujudkan satu standar akuntansi Internasional tidak mudah. Jalan yang
dilalui sangat panjang. Adopsi dan implementasi IFRS di masing-masing negara
menghadapi beberapa masalah, diantaranya:
Penterjemahan Standar Internasional
Permasalah ini timbul karena para penterjemah mengalami kesulitan dalam
memahami arti sebenarnya istilah-istilah dalam teks bahasa Inggris tersebut.
Secara lebih detail, kesulitan dalam penerjemahan itu meliputi empat hal.
Pertama, penggunaan kalimat bahasa Inggris yang panjang. Kedua,
ketidakkonsistenan dalam penggunaan istilah. Ketiga, penggunaan istilah
yang sama untuk menerangkan konsep yang berbeda. Dan terakhir,
penggunaan istilah yang tidak terdapat padanannya dalam terjemahan.
Sebagai contoh, penggunaan kata "shall" dan "should" dalam IFRS.
Ketidaksesuaian antara Standar Internasional dan Hukum Nasional
Masalah utama lainnya adalah ketidaksesuaian antara standar internasional
dengan hukum nasional. Paling tidak ada dua masalah. Pertama, pada
beberapa negara standar akuntansi termasuk sebagai bagian hukum
nasional, sehingga standar akuntansi ditulis dengan bahasa hukum. Kedua,
ada transaksi-transaksi yang diatur oleh hukum nasional berbeda dengan

yang diatur oleh standar akuntansi internasional. Transaksi ini tergantung dari
jenis suatu perusahaan, apakah berbentuk Perseroan Terbatas, Koperasi,
atau yang lain.
Struktur dan Kompleksitas Standar Internasional
Masalah selanjutnya adalah adanya kekhawatiran bahwa standar
internasional akan menjadi kompleks, dan rules-based approach. Penerapan
standar sebaiknya menggunakan principles-based approach. Dengan
pendekatan ini maka standar hanya mengatur prinsip-prinsip pengakuan,
pengukuran, dan pencatatan suatu transaksi. Dengan demikian, standar yang
dihasilkan tidak kompleks.
Frekuensi Perubahan dan Kompleksitas Standar Internasional
Kompleksitas standar akuntansi juga berpengaruh. Suatu standar akuntansi
yang kompleks akan menyulitkan pengguna standar untuk memahaminya.
Maka, perlu membuat standar yang mudah dipahami dan diterapkan.Ada
beberapa nilai utama yang menjadi hambatan standarisasi akuntansi
internasional yaitu:
Perbedaan latar belakang nasional dan tradisi
Perbedaan kebutuhan dari berbagai lingkungan ekonomi
Tantangan standarisasi terhadap kedaulatan nasional
Penyusunan standar akuntansi internasional.
Standarisasi internasional menciptakan banyak standar yang kompleks dan
mahal
Perusahaan nasional harus menanggapi tekanan-tekanan nasional, sosial,
politik dan ekonomi yang terus meningkat, sehingga sulit menyesuaikan diri
dengan kewajiban-kewajiban internasional tersebut.
Mengenai penerapan standar-standar akuntansi internasional di perusahaanperusahaan kecil dan besar, nasional dan multinasional, manufaktur dan jasa,
dicurigai ada maksud tersembunyi dari semua penyusun dan penganjur
standar internasional bahwa standar mereka harus berlaku sekomprehensif
mungkin. Dengan demikian, penerimaan standar akuntansi internasional
sejauh yang telah terjadi dan yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang
tidak lama lagi sangat terpusat pada perusahaan-perusahaan yang aktif
beroperasi diluar batas nasional.
Tingkatan Konvergensi tiap-tiap negara terhadap IFRS dibedakan menjadi
lima tingkat, yaitu:
a. Full Adoption (mengadopsi secara keseluruhan)
b. Adapted (mengadopsi sesuai kondisi negara)
c. Piecemeal (mengadopsi sebagian)
d. Referenced (mengacu dengan bahasa yang disusun sendiri)
e. Not Adoption at All (sama sekali tidak mengadopsi)
Konvergensi Standar Internasional pada Standar Akuntansi Indonesia
IAI selaku penyusun standar akuntansi di Indonesia juga tidak tinggal diam
dalam menghadapi perubahan-perubahan yang turut berimplikasi kepada
dunia akuntansi dan menuntut adanya transparansi di segala bidang. Salah
satu prasarana penting untuk mewujudkan transparansi tersebut adalah

1.
2.
3.
4.
5.

standar akuntansi keuangan. Oleh karena itu SAK terus disempurnakan agar
sejalan dengan perkembangan dunia usaha.
Konvergensi Standar Teori Akuntansi yang dilakukan di Indonesia:
Pada saat Konvensi Nasional Akuntansi V di Yogyakarta, akhir tahun 2004,
isu ini sudah dibahas secara panjang dan hangat, tetapi DSAK belum dapat
memutuskan dari kelima tingkatan di atas, tingkatan mana yang akan
digunakan. Selain itu, kapan waktu untuk melaksanakan adopsi juga belum
dapat ditentukan.
Keputusan adopsi IFRS akan ditentukan pada tahun 2008.
Keputusan yang diambil DSAK saat ini adalah mendekatkan PSAK dengan
IAS/IFRS.
Untuk melakukan pendekatan
ini, DSAK membuat dua strategi. Strategi
pertama dilakukan secara selektif
(strategi
selektif).
Strategi
ini
dilakukan dengan tiga target. Target pertama adalah
mengidentifikasi
standar-standar yang paling penting untuk diadopsi seluruhnya. Selain itu,
pada target pertama ini juga sudah ditentukan batasan
waktu
tertentu
dalam penerapan standar yang akan diadopsi. Target selanjutnya
adalah
melakukan adopsi standar-standar selebihnya yang belum diadopsi sambil
merevisi standar yang telah ada. Ini berarti bahwa setelah target
kedua
selesai maka seluruh PSAK akan sesuai dengan IFRS. Untuk
itu, target
terakhir, yaitu melakukan konvergensi proses penyusunan standar dengan
IASB. Strategi kedua DSAK adalah dengan melakukan dual standard.
Strategi kedua ini dilakukan dengan menerjemahkan seluruh IFRS secara
sekaligus dan menetapkan waktupenerapannya bagi listed companies.
Sedangkan bagi non listed companies tetap menggunakan PSAK yang ada.
Ada lima masalah yang harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan
Konvergensi yaitu:
Konvergensi standar dan proses konvergensi itu sendiri.
Ketersedian dana.
Ketersediaan sumber daya lain.
Ketentuan perundang-undangan di Indonesia.
Sosialisasi standar dan peluang moral hazard.

Rangkuman Materi Kuliah


TEORI AKUNTANSI

META TEORI
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DI INDONESIA
(Menuju Konvergensi SAK Di Masa Globalisasi)

Oleh:

Raditya Shinta H
125020300111096

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Brawijaya Malang
2015